Deteksi Dini Melanoma Maligna
BAB I
PENDAHULUAN
1.1.Pendahuluan
Melanoma maligna adalah jenis kanker kulit yang berasal melanosit.
Meskipun sel-sel penghasil pigmen ini ditemukan terutama di lapisan basal kulit,
mereka juga berada di saluran pencernaan, mata, telinga, dan membran mukosa
mulut dan alat kelamin. Angka kejadian melanoma maligna pada dasawarsa
terakhir ini cenderung meningkat pesat. Gejala atau tanda yang patut dicurigai
sebagai tanda keganasan suatu lesi berpigmen adalah perubahan warna seperti
lebih terang atau lebih gelap, gatal, perubahan bentuk menjadi tidak teratur atau
nevus bertambah luas serta bertambah tebal. Pertumbuhan horizontal dan vertikal,
permukaan tidak rata, dan akhirnya pembentukan tukak.1
Melanoma ditemukan pada semua usia, mulai masa pubertas, dengan
insiden tertinggi sekitar usia 40 tahun. Sering ditemukan pada penduduk daerah
tropik. Separuh dari melanoma terdapat di telapak kaki, yaitu pada pinggir dan
lengkung telapak kaki pada orang yang biasa tidak beralas kaki, selebihnya
terdapat di seluruh permukaan kulit.1
Penyebabnya tidak diketahui walaupun peran kausal sinal ultraviolet
matahari ada, terutama pada masa usia muda. Rangsang kronik mungkin berperan
pada melanoma di telapak kaki. Melanoma adalah penyebab utama kematian
kanker kulit yang berhubungan dengan seluruh dunia.2
Deteksi dini melanoma sangat penting untuk prognosis pasien dan
kelangsungan hidup. Sebuah penelitian terbaru pada sistem stadium berbasis bukti
untuk melanoma menemukan bahwa ketebalan tumor dan ulserasi dua prediktor
independen yang paling kuat bertahan hidup dalam kasus penyakit lokal. Biopsi
kulit diikuti dengan pemeriksaan histopatologi tetap standar emas dalam
mendiagnosis melanoma. Pedoman saat ini menyarankan eksisi biopsi dengan
lesi klinis yang dicurigai melanoma dengan margin 1 mm sampai 2 mm.2
Pembimbing : Dr. Albiner Simarmata Sp.B(K)ONK
Deteksi Dini Melanoma Maligna
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Kulit
Kulit adalah organ tubuh yang terletak paling luar dan membatasinya dari
lingkungan hidup manusia. Luas kulit orang dewasa 1.5 m dengan berat kira-kira
15% berat badan. Kulit merupakan organ yang esensial dan vital serta merupakan
cermin kesehatan dan kehidupan.
Secara embriologis kulit berasal dari dua lapis yang berbeda, lapisan luar
adalah epidermis yang merupakan lapisan epitel berasal dari ektoderm sedangkan
lapisan dalam yang berasal dari mesoderm adalah dermis atau korium yang
merupakan suatu lapisan jaringan ikat. Pembagian kilit secara garis besar tersusun
atas tiga lapisan utama, yaitu lapisan epidermis, lapisan dermis dan lapisan
subkutis (hipodermis). Tidak ada garis tegas yang memisahkan dermis dan
subkutis, subkutis ditandai dengan adanya jaringan ikat longgar dan adanya sel
dan jaringan lemak.
Fungsi Utama kulit adalah Proteksi, Absorbsi, Ekskresi, Persepsi,
Pengaturan
Suhu tubuh (termoregulasi),
pembentukan
vitamin
D, dan
Keratinisasi.
EPIDERMIS
Epidermis adalah lapisan luar kulit yang tipis dan avaskuler. Terdiri dari
epitel berlapis gepeng bertanduk, mengandung sel melanosit, Langerhans dan
merkel. Tebal epidermis berbeda-beda pada berbagai tempat di tubuh, paling tebal
pada telapak tangan dan kaki. Ketebalan epidermis hanya sekitar 5 % dari seluruh
ketebalan kulit. Terjadi regenerasi setiap 4-6 minggu. Epidermis terdiri atas lima
lapisan (dari lapisan yang paling atas sampai yang terdalam) :
1. Stratum Korneum: adalah lapisan kulit yang paling luar yang terdiri atas
beberapa lapis sel gepeng yang mati, tidak berinti dan protoplasmanya
berubah jadi keratin
Pembimbing : Dr. Albiner Simarmata Sp.B(K)ONK
Deteksi Dini Melanoma Maligna
2. Stratum Lusidum: Berupa garis translusen, biasanya terdapat pada kulit tebal
telapak kaki dan telapak tangan. Tidak tampak pada kulit tipis.
3. Stratum Granulosum: Ditandai oleh 3-5 lapis sel poligonal gepeng yang
intinya ditengah dan sitoplasma terisi oleh granula basofilik kasar yang
dinamakan granula keratohialin.
4. Stratum Spinosum. Terdapat berkas-berkas filament yang dinamakan
tonofibril, dianggap filamen-filamen tersebut memegang peranan penting
untuk mempertahankan kohesi sel dan melindungi terhadap efek abrasi.
Epidermis pada tempat yang terus mengalami gesekan dan tekanan
mempunyai stratum spinosum dengan lebih banyak tonofibril. Stratum basale
dan stratum spinosum disebut sebagai lapisan Malfigi. Terdapat sel
Langerhans.
5. Stratum Basale (Stratum Germinativum). Terdapat aktifitas mitosis yang hebat
dan bertanggung jawab dalam pembaharuan sel epidermis secara konstan.
Epidermis diperbaharui setiap 28 hari untuk migrasi ke permukaan, hal ini
tergantung letak, usia dan faktor lain. Lapisan ini terdiri atas dua jenis sel
yaitu:
a. Sel-sel yang berbentuk kolumnar
b. Sel Pembentuk melanin (melanosit) atau clear cell, merupakan sel
berwarna muda dengan sitoplasma basofilik dan inti gelap, dan
mengandung
butir
pigmen
(melanosomes).
Melanosit
menghasilkan pigmen coklat melanin yang jumlahnya menentukan
berbagai corak warna coklat di kulit berbagai ras. Selain ditentukan
secara herediter, kandungan melanin juga dapat ditingkatkan secara
singkat oleh pajanan berkas sinar ultraviolet dari matahari. Melanin
tambahan ini menyebabkan timbulnya warna coklat, melaksanakan
fungsi protektif, yaitu menyerap berkas sinar ultraviolet yang
berbahaya.
Fungsi Epidermis : Proteksi barier, organisasi sel, sintesis vitamin D dan sitokin,
pembelahan dan mobilisasi sel, pigmentasi (melanosit) dan pengenalan alergen
(sel Langerhans)
Pembimbing : Dr. Albiner Simarmata Sp.B(K)ONK
Deteksi Dini Melanoma Maligna
DERMIS
Merupakan bagian yang paling penting di kulit yang sering dianggap
sebagai True Skin. Terdiri atas lapisan elastik dan fibrosa padat dengan elemen
selular dan folikel rambut
Dermis terdiri dari dua lapisan :
a. Lapisan papiler, yaitu bagian yang menonjol ke epidermis berisi
ujung serabut saraf dan pembuluh darah
b. Lapisan retikuler, yaitu bagian bawahnya yang menonjol ke
subkutan, yang terdiri atas serabut penunjang
Serabut-serabut kolagen menebal dan sintesa kolagen berkurang dengan
bertambahnya usia. Serabut elastin jumlahnya terus meningkat dan menebal,
Pada usia lanjut kolagen saling bersilangan dalam jumlah besar dan serabut elastin
berkurang menyebabkan kulit terjadi kehilangan kelemasannya dan tampak
mempunyai banyak keriput.
Dermis mempunyai banyak jaringan pembuluh darah. Dermis juga
mengandung beberapa derivat epidermis yaitu folikel rambut, kelenjar sebasea
dan kelenjar keringat. Kualitas kulit tergantung banyak tidaknya derivat epidermis
di dalam dermis.
Fungsi Dermis : struktur penunjang, suplai nutrisi, dan respon inflamasi.
Pembimbing : Dr. Albiner Simarmata Sp.B(K)ONK
Deteksi Dini Melanoma Maligna
Gambar 1. Anatomi Kulit
SUBKUTIS
Merupakan lapisan di bawah dermis atau hipodermis yang terdiri dari
lapisan lemak. Lapisan ini terdapat jaringan ikat yang menghubungkan kulit
secara longgar dengan jaringan di bawahnya. Jumlah dan ukurannya berbeda-beda
menurut daerah di tubuh dan keadaan nutrisi individu. Berfungsi menunjang
suplai darah ke dermis untuk regenerasi.
Fungsi Subkutis / hipodermis : melekat ke struktur dasar, isolasi panas, cadangan
kalori, kontrol bentuk tubuh.
VASKULARISASI KULIT
Arteri yang memberi nutrisi pada kulit membentuk pleksus terletak antara
lapisan papiler dan retikuler dermis, yaitu pleksus yang terletak di bagian atas
dermis (pleksus superfisial) dan yang terletak di subkutis (pleksus profunda).2
2.2. Melanoma Maligna
2.2.1 Defenisi
Melanoma maligna adalah jenis kanker kulit ganas yang berasal dari
melanosit, sel penghasil melanin, yang biasanya berlokasi di kulit tetapi juga
ditemukan di saluran pencernaan, mata, telinga, membran mukosa mulut dan alat
kelamin.4
Pembimbing : Dr. Albiner Simarmata Sp.B(K)ONK
Deteksi Dini Melanoma Maligna
2.2.2 Epidemiologi
Insiden melanoma maligna itu sendiri berbeda-beda di tiap negara, dengan
insiden tertinggi terjadi di Australia dan Selandia baru. The American Cancer
Society memperkirakan bahwa 76.100 kasus melanoma kulit didiagnosis di
Amerika Serikat pada tahun 2014. pada pria 43.890 kasus dan wanita 32.210
kasus. Insiden melanoma meningkat 5-7% per tahun, Meskipun melanoma
menyumbang hanya sekitar 5% dari kanker kulit, ia bertanggung jawab untuk 3
kali lebih banyak kematian setiap tahun sebagai kanker kulit. Melanoma adalah
lebih umum pada orang kulit putih daripada kulit hitam dan Asia. Orang kulit
putih dengan kulit gelap juga memiliki risiko lebih rendah terkena melanoma
dibandingkan mereka yang memiliki kulit terang. Melanoma adalah sedikit lebih
umum pada pria dibandingkan pada wanita (1,2: 1). Melanoma dapat terjadi pada
semua usia, meskipun anak-anak muda dari usia 10 tahun jarang, Usia rata-rata
saat diagnosis adalah 57 tahun, dan 75% pada usia 70 tahun.5
2.2.3 Etiologi
Etiologinya belum diketahui secara pasti. Namun ada beberapa faktor
resiko yang dapat menyebabkan melanoma maligna. Yang dimaksud dengan
faktor resiko itu sendiri adalah segala sesuatu yang meningkatkan kesempatan
seseorang mendapat suatu penyakit, termasuk didalamnya yaitu kanker, dalam hal
ini adalah melanoma. Namun, memilki sebuah faktor resiko atau bahkan
beberapa, bukan berarti
bahwa orang tersebut akan terkena suatu penyakit
tersebut. Identifikasi faktor resiko terhadap melanoma maligna adalah penting
untuk usaha pencegahan dan deteksi dini yang dilakukan. Faktor resiko melanoma
maligna diantaranya yaitu:
a. Tahi lalat ( Nevus )
nevus merupakan salah satu tumor jinak pada melanosit. Nevus
tersebut dapat timbul sejak lahir atau saat masa kanak-kanak, bisa juga
saat remaja. Selain faktor keganasan pada umumnya ialah iritasi yang
berulang pada nevus. Melanoma biasanya muncul dalam nevus yang telah
Pembimbing : Dr. Albiner Simarmata Sp.B(K)ONK
Deteksi Dini Melanoma Maligna
ada sebelumnya atau muncul pada kulit yang sehat, Sebuah melanoma
ganas berkembang di kulit yang sehat dikatakan muncul de novo.
Gambar 2. Nevus dermal
Salah satu tipe nevus yang dapat berubah menjadi melanoma yaitu
dysplastic nevus atau tahi lalat atipik. Nevus displastik sedikit seperti
nevus normal biasa, namun juga terlihat seperti melanoma. Nevus
displastik ini seringkali merupakan faktor keluarga. Jika seseorang
memiliki seorang anggota keluarga yang mempunyai displastik nevus
maka sekitar 50% kemungkinan nevus tersebut akan berkembang.
Gambar 3. Nevi displastik (perhatikan bahwa bagian yang kiri memiliki
penampilan klinis dari melanoma ganas tetapi ditemukan untuk menjadi nevus
displastik pada patologi akhir).
Pembimbing : Dr. Albiner Simarmata Sp.B(K)ONK
Deteksi Dini Melanoma Maligna
Gambar 4. Melanoma maligna
b. Faktor keluarga
Resiko akan menjadi lebih besar pada mereka yang memiliki
keluarga yang didiagnosa melanoma pada hubungan keluarga primer,
seperti ayah, ibu, kakak, adek atau anak. Sekitar 10% seseorang dengan
melanoma memiliki sejarah keluarga yang menderita penyakit yang sama.
c. Paparan sinar ultraviolet
Paparan sinar ultraviolet (UV) merupakan faktor risiko utama
untuk sebagian besar melanoma. Ultraviolet A (UVA), panjang gelombang
320-400 nm, dan B ultraviolet (UVB), 290-320 nm, berpotensi bersifat
karsinogenik
dan benar-benar dapat
bekerja dalam menginduksi
melanoma. Sinar UV merusak DNA dari sel-sel kulit serta pertumbuhan
sel kulit. Orang dengan pajanan sinar ultraviolet yang berlebihan memiliki
resiko yang lebih besar dibandingkan dengan yang tidak. Hal ini dikaitkan
juga dengan faktor lingkungan, yaitu tinggal dilokasi dekat dengan garis
ekuator, orang yang memiliki kebiasaan rekreasi outdoor atau orang yang
memiliki pekerjaan yang mengharuskannya terpajan sinar matahari lebih
banyak, seperti pelaut, petani, dll.
d. Usia
Melanoma dapat terjadi pada semua usia, meskipun anak-anak muda dari
usia 10 tahun jarang, Usia rata-rata saat diagnosis adalah 57 tahun, dan
75% pada usia 70 tahun.
Pembimbing : Dr. Albiner Simarmata Sp.B(K)ONK
Deteksi Dini Melanoma Maligna
e. Xeroderma pigmentosum (XP)
adalah
langka,
penyakit
keturunan
yang
mempengaruhi
kemampuan sel-sel kulit untuk memperbaiki kerusakan DNA mereka.
Orang dengan XP memiliki risiko tinggi melanoma dan kanker kulit
lainnya ketika mereka masih muda, terutama pada daerah yang terpapar
sinar matahari kulit mereka.
f. Orang dengan sistem kekebalan yang lemah (dari penyakit tertentu atau
perawatan medis) lebih mungkin untuk mengembangkan berbagai jenis
kanker kulit, termasuk melanoma. Misalnya, orang yang mendapatkan
transplantasi organ biasanya diberikan obat-obatan yang melemahkan
sistem kekebalan tubuh mereka untuk membantu mencegah mereka dari
menolak organ baru. Hal ini meningkatkan risiko mereka terserang
melanoma.
g. Riwayat terkena melanoma maligna
Orang yang pernah terkena melanoma akan memiliki resiko lebih
tinggi untuk terkena melanoma kembali atau residif.2,6
2.2.4 Patofisiologi
Patofisiologi terjadinya melanoma maligna belum diketahui dengan jelas.
Diperkirakan terjadinya perubahan melanosit normal menjadi sel melanoma
(melanomagenesis) melibatkan proses rumit yang secara progresif mengakibatkan
mutasi genetik melalui percepatan terhadap proliferasi, diferensiasi dan kematian
serta pengaruh efek karsinogenik radiasi ultraviolet. Perkembangan dari
melanoma adalah multifaktor, dimana banyak hal yang berhubungan dengan
perkembangan dan pertumbuhannya, dan tampaknya berhubungan dengan faktor
resiko yang multipel pula; termasuk eksposur sinar matahari berlebih, moles yang
tumbuh, riwayat keluarga akan melanoma, nevus yang berubah-ubah dan tidak
sembuh, dan yang terpenting usia yang lanjut.5
Pembimbing : Dr. Albiner Simarmata Sp.B(K)ONK
Deteksi Dini Melanoma Maligna
2.2.5. Manifestasi klinis
Secara Klinis, melanoma maligna ada 3 macam tipe, yaitu:
1.
Bentuk superfisial merupakan yang paling ditemukan, umumnya kelainan
berupa bercak dengan ukuran beberapa mm sampai beberapa cm dengan
warna yang bervariasi seperti kehitaman , kecoklatan, putih, biru , tak
teratur, berbatas tegas dengan sedikit penonjolan di atas kulit. Bentuk dini
dapat berubah dalam hal :
a. Ukuran : umumnya membesar
b. Warna : lebih gelap/pucat
c. Gatal, iritasi dan nyeri
d. Infeksi dengan cairan seropurulen
e. Perdarahan, ulserasi atau krusta
Gambar 5. bentuk superfisial
2.
Bentuk nodular Dapat terjadi pada semua umur, namun lebih sering pada
individu berusia 60 tahun ke atas. Melanoma ini bermanifestasi sebagai
papul coklat kemerahan atau biru hingga kehitaman dengan batas tegas
serta mempunyai bentuk :
a. Bentuk yang terbatas di epidermal dengan licin
b. Nodus yang menonjol di permukaan kulit dengan bentuk yang
tidak teratur
c. Bentuk yang disertai ulserasi
Pembimbing : Dr. Albiner Simarmata Sp.B(K)ONK
10
Deteksi Dini Melanoma Maligna
Gambar 6. Bentuk nodular
3.
Lentigo maligna melanoma biasanya timbul pada orang tua dalam area
yang terpapar ke sinar matahari, seperti pada wajah dan leher.
Karakteristik invasinya ke kulit berupa macula hiperpigmentasi coklat tua
sampai hitam atau timbul nodul yang biru kehitaman.3,7
Gambar 7. Bentuk Lentigo maligna melanoma
2.2.6 Klasifikasi
Klasifikasi melanoma merupakan salah satu proses yang digunakan untuk
mengetahui seberapa jauh sel-sel kanker tersebut telah bermetastase. Deskripsi
klasifikasi tersebut meliputi ukuran, dan apakah tumor tersebut telah menyebar ke
organ lain.
Klasifikasi oleh The American joint Comitee on Cancer (AJCC)
merupakan klasifikasi yang paling banyak dan paling sering dipakai, dan memiliki
klasifikasi T, sebagai keterangan tentang ketebalan tumor, klasifikasi N, sebagi
keterangan keterlibatan kelenjar limfe, dan M sebagai keterangan ada tidaknya
metastase. Keterangan lebih jelas pada tabel berikut.
Pembimbing : Dr. Albiner Simarmata Sp.B(K)ONK
11
Deteksi Dini Melanoma Maligna
Primary tumor (T)
TX
Primary tumor cannot be assessed (ie, curettaged or severely regressed melanoma)
T0
No evidence of primary tumor
Tis
Melanoma in situ
T1
Melanoma 1.0 mm in thickness
T1a: Without ulceration and mitoses < 1/mm 2
T1b: With ulceration or mitoses 1/mm 2
T2
Melanomas 1.01-2.0 mm in thickness
T3
T2a: Without ulceration
T2b: With ulceration
Melanomas 2.01-4.0 mm in thickness
T4
T3a: Without ulceration
T3b: With ulceration
Melanomas > 4.0 mm in thickness
T4a: Without ulceration
T4b: With ulceration
Regional lymph nodes (N)
NX
Patients in whom the regional nodes cannot be assessed (ie, previously removed for another reason)
N0
No regional metastases detected
N1-3 Regional metastases based upon number of metastatic nodes and presence or absence of intralymphatic metastases (in transit or
satellite metastases)
N1
1 lymph node
N2
N1a: Micrometastases
N1b: Macrometastases
2 or 3 lymph nodes
N3
N2a: Micrometastases
N2b: Macrometastases
N2c: In-transit met(s)/satellite(s) without metastatic lymph nodes
4 metastatic lymph nodes, or matted lymph nodes, or in-transit met(s)/satellite(s) with metastatic lymph node(s)
Distant metastasis (M)
M0
No detectable evidence of distant metastases
M1a
Metastases to skin, subcutaneous, or distant lymph nodes, normal serum lactate dehydrogenase (LDH) level
M1b
Lung metastases, normal LDH level
M1c
Metastases to all other visceral sites or distant metastases to any site combined with an elevated serum LDH level
Pembimbing : Dr. Albiner Simarmata Sp.B(K)ONK
12
Deteksi Dini Melanoma Maligna
5-Year
Stage
TNM Classification
Histologic/Clinical Features
Survival
Rate, %
Tis N0 M0
Intraepithelial/in situ melanoma
100
IA
T1a N0 M0
1 mm without ulceration and level II/III
>95
IB
T1b N0 M0
1 mm with ulceration or level IV/V
89-91
T2a N0 M0
1.01-2 mm without ulceration
T2b N0 M0
1.01-2 mm with ulceration
T3a N0 M0
2.01-4 mm without ulceration
T3b N0 M0
2.01-4 mm with ulceration
T4a N0 M0
>4 mm without ulceration
IIC
T4b N0 M0
>4 mm with ulceration
45
IIIA
T1-4a N1a M0
Single regional nodal micrometastasis, nonulcerated primary
63-69
T1-4a N2a M0
2-3 microscopic positive regional nodes, nonulcerated primary
T1-4bN1a M0
Single regional nodal micrometastasis, ulcerated primary
T1-4bN2a M0
2-3 microscopic regional nodes, nonulcerated primary
T1-4a N1b M0
Single regional nodal macrometastasis, nonulcerated primary
T1-4a N2b M0
2-3 macroscopic regional nodes, no ulceration of primary
IIA
IIB
IIIB
T1-4a/b N2c M0
IIIC
77-79
63-67
46-53
In-transit met(s)* and/or satellite lesion(s) without metastatic lymph nodes
30-50
24-29
T1-4b N2a M0
Single macroscopic regional node, ulcerated primary
T1-4b N2b M0
2-3 macroscopic metastatic regional nodes, ulcerated primary
Any T N3 M0
4 or more metastatic nodes, matted nodes/gross extracapsular extension, or intransit met(s)/satellite lesion(s) and metastatic nodes
IV
Any T any N M1a
Distant skin, subcutaneous, or nodal mets with normal LDH levels
Any T any N M1b
Lung mets with normal LDH
Any T any N M1c
All other visceral mets with normal LDH or any distant mets with elevated LDH
7-19
Klasifikasi menurut CLARK
Tingkat I
seluruhnya terdapat dalam epidermis, ia sering dinamai melanoma
in situ karena lamina basalis utuh
Pembimbing : Dr. Albiner Simarmata Sp.B(K)ONK
13
Deteksi Dini Melanoma Maligna
Tingkat II : invasi sel melanoma sampai dengan lapisan papilaris dermis
(dermis superfisial), tetapi tidak melewati
Tingkat III : Sel melanoma mengisi papila dermis dan meluas sampai
dermis papiler dan retikuler.
Tingkat IV : Invasi sel melanoma sampai dengan lapisan retikularis dermis.
Tingkat V
: Invasi sel melanoma sampai dengan jaringan subkutan
Gambar 8. Klasifikasi menurut CLARK
Klasifikasi menurut kedalaman (ketebalan) Tumor menurut Breslow:
Golongan I
: Kedalaman (ketebalan) tumor <0,76 mm
Golongan II
: Kedalaman (ketebalan) tumor 0,76-1,5 mm
Golongan III : Kedalaman (ketebalan) tumor >1,5 mm.5,7
2.2.7 Deteksi Dini Melanoma maligna dan Diagnosis
Karena deteksi dini keganasan di kulit merupakan hal yang sangat penting
maka akan di uraikan beberapa patokan yang penting untuk di pakai sebagai
pegangan, agar apabila melihat pertumbuhan di kulit timbul rasa kecurigaan
terhadap pertumbuhan ganas, untuk mendeteksi dini keganasan memang sulit,
oleh karena itu di perlukan pengalaman dan melihat secara teliti,
deteksi dini melanoma maligna juga dapat dilakukan baik oleh diri sendiri
dan juga oleh petugas kesehatan. Tujuan utama dari deteksi dini ini adalah untuk
mengenali melanoma maligna sedini mungkin ketika masih datar dan dapat
disembuhkan.
1. Oleh Diri Sendiri (Self Examination)
Pembimbing : Dr. Albiner Simarmata Sp.B(K)ONK
14
Deteksi Dini Melanoma Maligna
Dilakukan dengan pemeriksaan rutin terhadap diri sendiri. Saat
pertama kali dilakukan, pemeriksaan ini mungkin akan memakan waktu yang
lama dan terlihat merepotkan, namun bila telah dilakukan berkali-kali maka
akan semakin terlatih dan hal itu berarti waktu yang digunakan akan semakin
pendek.
Pemeriksaan ini, harus dilakukan langkah demi langkah seperti yang
akan ditunjukkan dalam gambar berikut dan dilakukan dalam keadaan tidak
mengenakan baju. Untuk lokasi-lokasi tertentu yang sulit dilakuakn evaluasi
sendiri, maka pertolongan keluarga atau teman dekat sangat membantu. Pasien
harus berkonsultasi secepatnya pada dokter umum atau dokter spesialis jika
menemukan adanya perubahan yang signifikan pada lesi-lesi tertentu di tubuh
mereka.
Pembimbing : Dr. Albiner Simarmata Sp.B(K)ONK
15
Deteksi Dini Melanoma Maligna
Pembimbing : Dr. Albiner Simarmata Sp.B(K)ONK
16
Deteksi Dini Melanoma Maligna
Pembimbing : Dr. Albiner Simarmata Sp.B(K)ONK
17
Deteksi Dini Melanoma Maligna
2. Petugas kesehatan ( Dokter )
penemuan dini
melanoma harus ditingkatkan bila penderita melaporkan
adanya lesi berpigmen baru atau adanya tahi lalat yang berubah. Kecurigaan
akan keganasan hendaknya sudah timbul bila
Pembimbing : Dr. Albiner Simarmata Sp.B(K)ONK
18
Deteksi Dini Melanoma Maligna
a. Secara anamnesis terdapat :
Rasa gatal/nyeri
Perubahan warna ( gelap, pucat dan terang )
Ukurannya membesar.
Pelebarannya tak merata kesamping
Permukaan tak rata
Trauma
Perdarahan ( walaupun karena trauma ringan)
Ulserasi/infeksi yang sukar sembuh
b. Secara objektif ditemukan :
Tidak berambut
Warna : suram atau sama dengan kulit normal
Permukaan tidak rata, cekung di tengah dengan pinggir agak
menonjol
Penyebaran warna tidak homogen
Skuamasi halus atau krusta yang melekat bila diangkat timbul
perdarahan
Perabaan berbeda sesuai dengan keadaan, dapat keras, kenyal,
terasa nyeri.
Dari anamnesa yang dilakukan, diharapkan diketahui informasi tentang
keluhan umum pasien, dan riwayat perjalanan keluhan umum tersebut. Perubahan
sifat dari nevus merupakan keluhan umum yang paling sering ditemukan pada
pasien dengan melanoma, dan hal ini merupakan peringatan awal melanoma.
Perubahan tersebut diantaranya peningkatan dalam hal diameter, tinggi atau batas
yang asimetris pada suatu lesi berpigmen memberikan data 80% pada pasien saat
melanoma ditegakkan.Dari perjalanan penyakit tersebut juga ditanyakan awal
mulanya lesi pada kulit tersebut muncul, dan kapan terjadi perubahan pada lesi
tersebut. Tentang tanda dan gejala melanoma, seperti adanya perdarahan, gatal,
Pembimbing : Dr. Albiner Simarmata Sp.B(K)ONK
19
Deteksi Dini Melanoma Maligna
ulserasi dan nyeri pada lesi. Pada anamnesa tersebut juga ditanyakan tentang
adanya faktor-faktor resiko pada pasien.
Pemeriksaan fisik
Yang perlu dilakukan saat pemeriksaan fisik ini yaitu memperhatikan lebih
detail dengan inspeksi, palpasi dan bila perlu inspeksi dengan bantuan kaca
pembesar. Hal ini dilakukan untuk mengetahui ukuran, bentuk, warna dan tekstur
dari nevus tersangka dan mencari adanya perdarahan atau ulserasi. Pemeriksaan
terhadap kelenjar limfe yang berada dekat dengan lesi juga perlu dilakukan.
ABCDE sistem ( Asymmetry, Border, Colour, Diameter, Envolving)
Berguna dalam mendiagnosa melanoma maligna serta untuk meningkatkan
kewaspadaan individu terhadap penyakit keganasan ini.
Asymmetry
Jika kita melipat lesi menjadi dua, maka tiap-tiap bagian tidak
sesuai
Border
Batasnya tidak tegas atau kabur
Color
Ciri melanoma tidak memiliki satu warna yang solid
melainkan campuran yang terdiri dari coklat kekuningan,
coklat dan hitam, juga bisa tampak merah, biru atau putih.
Diameter
Meskipun melanoma biasanya lebih besar dari 6 mm, ketika
dilakukan pemeriksaan mereka bisa lebih kecil dari
seharusnya . Sehingga harus diperhatikan perubahan tahi lalat
dibanding yang lainnya atau berubah menjadi gatal atau
berdarah ketika diameternya lebih kecil dari 6 mm
Evolving
Setiap perubahan dalam ukuran, bentuk, warna, tingginya
atau cirri-ciri lain atau ada gejala baru seperti mudah
berdarah, gatal dan berkrusta harus dicurigai keganasan
Gambar 10. The ABCDEs of Melanoma
Pembimbing : Dr. Albiner Simarmata Sp.B(K)ONK
20
Deteksi Dini Melanoma Maligna
Pemeriksaan Histopatologi
Kriteria standar untuk diagnosa melanoma maligna adalah dengan
pemeriksaan histopatologi dengan cara biopsi dari lesi kulit tersangka. Macammacam tehnik biopsi itu sendiri ada 3 macam, yaitu shave biopsy, punch biopsy
dan incisional and excisional biopsies. Biopsi secara eksisi merupakan pilihan
cara biopsi yang direkomendasikan untuk pemeriksaan melanoma maligna. Pada
tehnik ini, tumor diambil secara keseluruhan untuk kemudian sebagian sampel
digunakan untuk pemeriksaan histologi.
Biopsi secara eksisi dengan batas yang kecil dari batas tumor dipilih untuk
memastikan informasi tentang ketebalan tumor, adanya ulserasi, tahap invasi
tumor secara antomis, adanya mitosis, adanya regresi, adanya invasi terhadap
pembuluh limfe dan pembuluh darah, dan untuk melihat respon host terhadap
tumor itu sendiri. Pada umumnya batas kulit yang diambil yaitu sekitar 1-3 mm
sekitar lesi.2,3,5,6
Gambar 11. Eksisi biopsi
2.2.8
Penatalaksanaan
Pembedahan
Pembedahan merupakan terapi utama dari melanoma maligna, yang
hampir 100% efektif pada masa-masa awal tumor. Pembedahan ini, dilakukan
dengan cara eksisi luas dan dalam dengan pinggir sayatan yang direkomendasikan
sesuai tabel berikut:
Pembimbing : Dr. Albiner Simarmata Sp.B(K)ONK
21
Deteksi Dini Melanoma Maligna
Termasuk dalam penatalaksanaan pembedahan melanoma maligna ini
adalah Elective Lymphonode dissection (ELND), yaitu deseksi kelenjar limfonodi
tanpa dilakukan biopsi sebelumnya. Diseksi ini dilakukan untuk tumor dengan
kedalaman 1-4 mm dan tidak pada melanoma stage I. Hal ini disebabkan karena
sebanyak 40% kasus pada pasien melanoma dengan ketebalan 1-4 mm.
Terapi Adjuvant
Karena pengobatan definitive dari melanoma kulit adalah dengan pembedahan,
maka
terapi
medikamentosa
diberikan
sebagai
terapi
tambahan
dan
penatalaksanaan pada pasien melanoma stadium lanjut. Pasien yang memiliki
melanoma dengan tebal lebih dari 4 mm atau metastase ke limfonodi dengan
pemberian terapi adjuvant dapat meningkatkan angka ketahanan hidup. Pemberian
interferon alpha 2b (IFN) menambah lamanya ketahanan hidup dan ketahanan
terhadap terjadinya rekurensi Melanoma, sehingga oleh Food and Drug
Administration (FDA) mengajurkan IFN sebagai terapi tambahan setelah eksisi
pada pasien dengan resiko recurrent.
Terapi adjuvan lain selain IFN yaitu Kemoterapi dengan macamnya yaitu:
Dacarbazine (DTIC), baik diberikan sendiri maupun kombinasi bersama
Carmustine (BCNU) dan Cisplastin.
Cisplastin, vinblastin, dan DTIC
Temozolomide merupakan obat baru yang mekanisme kerjanya mirip
DTIC, tetapi bisa diberikan per oral.1,8
2.2.9
Prognosis
Perlu diketahui bahwa faktor yang mempengaruhi prognosis adalah
Pembimbing : Dr. Albiner Simarmata Sp.B(K)ONK
22
Deteksi Dini Melanoma Maligna
a.
Tumor primer : daerah tertentu ( badan lebih buruk dari anggota
badan)
b.
Stadium
c.
Organ yang telah di infiltrasi ( metastasis tulang dan hati lebih
buruk)
d.
Jenis kelamin ( wanita lebih baik daripada laki laki)
e.
Kondisi hospes jika fisik lemah dan imunitas menurun maka
prognosisnya buruk.3
BAB III
KESIMPULAN
Melanoma maligna adalah jenis kanker kulit ganas yang berasal dari
melanosit, sel penghasil melanin, yang biasanya berlokasi di kulit tetapi juga
ditemukan di saluran pencernaan, mata, telinga, membran mukosa mulut dan alat
kelamin. Insiden melanoma maligna itu sendiri berbeda-beda di tiap negara
Melanoma adalah lebih umum pada orang kulit putih daripada kulit hitam dan
Pembimbing : Dr. Albiner Simarmata Sp.B(K)ONK
23
Deteksi Dini Melanoma Maligna
Asia. Melanoma adalah sedikit lebih umum pada pria dibandingkan pada wanita
(1,2: 1). Melanoma dapat terjadi pada semua usia, meskipun anak-anak muda dari
usia 10 tahun jarang. Etiologinya belum diketahui secara pasti. Namun ada
beberapa faktor resiko yang dapat menyebabkan melanoma maligna. Secara klinis
melanoma maligna ada 3 tipe yaitu bentuk superficial,nodular dan lentigo
melanoma maligna dengan kelainan berupa bercak dengan ukuran beberapa mm
sampai beberapa cm dengan warna ukuran yang bervariasi serta adanya iritasi
yang berulang pada daerah bercak makula atau nevus tersebut. Deteksi dini
keganasan di kulit merupakan hal yang sangat penting untuk prognosis pasien dan
kelangsungan hidup baik pemeriksaan oleh diri sendiri maupun oleh dokter,
penegakkan diagnosa adalah dengan eksisi biosi, terapi pembedahan serta terapi
adjuvan umumnya dilakukan untuk penatalaksanaan melanoma maligna.
DAFTAR PUSTAKA
1. Wim de Jong dan R. Sjamsuhidajat. 2005. Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi 2.
Jakarta : EGC hal 332-334
2. Richard L Edman. 2000. Prevention and Early Detection of Malignant
Melanoma
http://www.aafp.org/afp/2000/1115/p2277.html#
(diakses
tanggal 14-04-2015).
3. Djuanda A.2011. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Edisi 6. Jakarta:FKUI.
hal.3-4, 237-238.
Pembimbing : Dr. Albiner Simarmata Sp.B(K)ONK
24
Deteksi Dini Melanoma Maligna
4. Leah springer, PA-C.2013. Early diagnosis of malignant melanoma.
http://www.clinicaladvisor.com/early-diagnosis-of-malignantmelanoma/article/305429/ (diakses tanggal 14-04-2015).
5. W Tan, Winston. 2011. Melanoma maligna medscape
http://emedicine.medscape.com/article/280245-overview.(diakses tanggal
14-04-2015)
6. Robert J Friedman. 1965. Early Detection of Malignant Melanoma:The
Role of Physician Examination and Self-Examinationof the Skin.
7. Sabiston, David.C. 1995. Buku Ajar Bedah. Edisi 2. Jakarta : EGC hal
360-362.
8. American Cancer Society. Cancer Facts & Figures 2015. Atlanta, Ga:
2015.
Pembimbing : Dr. Albiner Simarmata Sp.B(K)ONK
25