BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Latar belakang dari pembuatan makalah ini adalah untuk mengetahui bagaimana
teknik pemeriksaan histerosalphingografi (HSG). Selain itu akan dijelaskan tentang kriteriakriteria gambar yang terlihat pada pemeriksaan ini.
Apabila banyaknya pasangan infertil di Indonesia dapat diperhitungkan dari
banyaknya wanita yang pernah kawin dan tidak mempunyai anak yang masih hidup, maka
menurut sensus penduduk terdapat 12% baik di desa maupun di kota, kira-kira 3 juta
pasangan infertil di seluruh Indonesia. infertilitas biasanya
didefinisikan sebagai
ketidakmampuan untuk menjadi hamil dalam satu tahun setelah secara teratur menjalani
hubungan intim tanpa kontrasepsi. dengan meningkatnya penggunaan teknik-teknik modern
reimplatasi tuba,terapi farmakologis yang dapat menginduksi perkembangan folikel dan
ovulasi serta fertilisasi in vitro,peran pencitraan diagnostik dalam diagnosis dan manajemen
pasien dengan infertilitas telah menjadi
semakin penting. Histerosalpingografi adalah
modalitas pencitraan sebagai pilihan untuk menyingkirkan kelainan anatomi yang
menyebabkan ketidaksuburan.
Sejak rubin dan carey melakukan histerosalpingografi untuk pertama kalinya, banyak
pembahuruan telah terjadi dalam hal peralatan dan media kontras yang dipakai. Prinsip
pemeriksaannya dengan penyuntikan media kontras yang akan melimpah ke dalam cavum
peritonium kalau tubanya paten, dan penilaiannya dilakukan secara radiografik. Kebolehan
histerosalpingografi memang tidak dapat disangkal,tetapi hanya dapat dilakukan di rumah
sakit.
Meskipun pada awalnya dilakukan sebagai prosedur diagnostik, HSG juga mungkin
memiliki
khasiat
terapeutik.
Tidak
jarang,
wanita
yang
baru
menjalani
histerosalpingografi (HSG) menjadi hamil. Khasiat terapeutik ini,kalau memang ada
dapat diterangkan karena pemeriksaannya dapat membilas sumbatan sumbatan intratuba
yang ringan, melepaskan adhesih atau perlengketan peritubal,simulasi dari mukosa silia
atau media kontras (yodium)
yang berkhasiat bakteriostatik sehingga memperbaiki
kualitas lender serviks. Efek terapeutik ini dapat terjadi pada pemakaian kedua jenis
kontras baik larut minyak maupun media larut dalm air. Namun pemakaian kontras larut
dalam minyak seperti lipiodol ultrafluid dapat menyebabkan kehamilan lebih banyak
dibandingan dengan pemakaian kontras yang cair.waktu yang optimum untuk melakukan
HSG adalah hari ke 9-10 sesudah haid mulai pada saat itu biasanya haid sudah berhenti
dan selaput lender uterus biasanya bersifat tenang. Apabila masih ada perdarahan,dengan
sendirinya HSG tak boleh dilakukan karena ada kemungkinan masuknya kontras ke
dalam pembuluh darah baik. Selama histerosalpingografim,kontras diletakan melalui pipa
tipis yang dimasukan melalui vagina ke dalam rahim. karena rahim dan saluran tuba
terpacing bersama - sama,pewarna akan mengalir ke dalam saluran tuba. Berdasarkan Latar
Belakang Di Atas, Penulis Tertarik Untuk Mengangkat Suatu Kasus Tentang: Teknik
Pemeriksaan Radiografi HSG Pada Kasus infertilitas Di Instalasi Radiologi RSUD.
1.2 Rumusan Masalah
1.
Bagaimana anatomi dan fisiologi pemeriksaan HSG?
1. Bagaimana teknik pemeriksaan HSG pada kasus infertilitas di instalasi radilogi
RSUD Blambangan?
2. Apa saja criteria gambar yang terlihat pada teknik pemeriksaan HSG dengan
kasus infertilitas tersebut di instalasi radilogi RSUD Blamabangan?
1.3 Tujuan Penulisan
1) Untuk mengetahui teknik pemeriksaan HSG foto dengan kasus kemandulan di
instalasi radiologi RSUD Blambangan.
2) Untuk mengetahui penatalaksanaan pemeriksaan HSG foto pada kasus infertilitas
di instalasi radiologi RSUD Blamabangan.
1.4 Manfaat Penulisan
1) Bagi Penulis
Penulis dapat menambah wawasan pengetahuan tentang teknik pemeriksaan HSG
foto pada kasus infertilitas di instalasi radiologi RSUD Blamabangan. .
2) Bagi Akademi
Menambah khasanah ilmu pengetahuan tentang pemeriksaan HSG foto pada
kasus infertilitas di instalasi radiologi RSUD Blamabangan.
Bagi Rumah Sakit
3) Dapat menjadi masukkan bagi rumah sakit dalam pelaksanaan pemeriksaan HSG
foto pada kasus infertilitas di instalasi radiologi RSUD Blamabangan.
1.5 Sistematika Penulisan
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Pemeriksaan HSG
Histerosalpingografi (HSG) merupakan suatu untuk pemeriksaan dasar untuk
mengetahui anatomi dan fisiologi alat genital wanita, melihat bayangan rongga rahim dan
bentuk tuba fallopi. Biasanya dilakukan untuk mengetahui penyebab terjadinya infertilitas .
2.2 Anatomi dan Fisiologi
2.2.1 Uterus :
a. Terdapat dalam rongga panggul, bentuknya seperti buah peer, panjang 6,5 cm
6 cm dan tebal 2,5 cm 4 cm. Uterus terletak di belakang kandung kencing
dan di depan rectum. Uterus terdiri dari fundus uteri yang merupakan bagian
terbesar, dan ismus uteri yang menghubungkan korpus dan serviks. Kanalis
servikalis berbentuk spindle, panjangnya 2 cm 3 cm. Biasanya pada
nullipara ostium uteri eksterna terbuka hanya 0,5 cm. Beberapa posisi uterus
,antara lain: Antefleksi, rofleksi, teversi, dan retroversi .
b. Rahim retrofleksi merupakan salah satu bentuk anatomi yang normal, dimana
rahim melengkung ke belakang ke arah punggung, sementara rahim biasanya
(antefleksi) tegak ke atas atau melengkung ke depan. Kondisi ini terdapat pada
20% wanita.
2.2.2
Saluran telur (tuba uterina):
1. Merupakan saluran membranosa yang mempunyai panjang kira-kira 10 12 cm.
Terdiri dari 4 bagian yaitu:
1.
Pars interstisialis, yaitu bagian yang menempel pada dinding uterus .
2.
Pars ismika, merupakan bagian medial yang menyempit seluruhnya .
3.
Pars ampularis, bagian yang berbentuk saluran agak lebar .
4.
Infundibulum, bagian ujung tuba yang terbuka kearah abdomen dan
mempunyai fimbria.
2.2.3 Ovarium:
1. Terletak dalam fosa ovarika, terdapat dua buah di kanan dan kiri dengan
mesovarium menggantung di bagian belakang ligamentum latum. Ukuran
normal ovarium, panjang 2,5 5 cm, lebar 1,5 3 cm dan tebal 0,6 1,5 cm.
2.3
Patologi Indikasi Pemerikasaan Dan Kontra Indikasi
2.3.1 Patologi Dan Indikasi pemeriksaan dari suatu pemeriksaan HSG adalah
antara
lain
sebagai
berikut:
1. Sterilisasi primer dan sekunder.
2. Infertilitas primer dan sekunder.
3. Menentukan lokasi IUD,apakah intrauterine atau tidak ( translokasi IUD).
4. Pendarahan pervagina minimal, akibat mioma, polip adenomatous uteri.
5. Abortus habitualis trisemester II yang dicurigai akibat inkompetensi
cerviks.
6. Kelainan bawaan uterus, misalnya unicornis, bicornis, uterus septus, dll.
7. Tumor cavum uteri.
8. Hidrosalping, yaitu salah satu bentuk peradangan kronik pada salping dan
sering akhir dari pyosalping dengan resorbsi eksudat purulan diganti
dengan cairan jernih.
1. Tuba non paten yaitu tuba yang oklusi sehingga sprema tidak bisa
mencapai ampula untuk membuahi ovum.
2.3.2 Kontra Indikasi Dari Pemeriksaan HSG
1. Pendarahan pervagina yang berat
2. Infeksi organ genital baik bagian dalam maupun luar
3. Menstruasi
4. Hamil
2.4 Persiapan Pasien
2.4.1
1.
2.
3.
4.
Persiapan pasien sebelum dilakukan pemeriksaan adalah sebagai
berikut :
Pasien melakukan perjanjian.
Pasien menandatangani formulir pernyataan.
Pasien di beri tahukan beberapa persiapan,diantaranya :
Pasien dilarang coitus (melakukan hubungan suami istri) sebelum dilakukan
pemeriksaan agar tidak mengganggu pemeriksaan supaya rahim dalam keadaan
bersih tidak terdapat sperma.
5. Pemeriksaan HSG dilakukan pada hari 9 12, dilihat dari siklus haiddan
dihitung dari hari pertama haid.
6. Pemeriksaan dilakukan setelah semua persiapan dilakukan dengan baik.
7. Pasien diberikan satu tablet spasium dan langsung diminum sebelum
pemeriksaan.
8. Pasien ganti baju diruang ganti pasien.
9. Lalu supine diatas meja pemeriksaan dan kaki diatas standfoot.
10. Tiga puluh menit sebelum pemeriksaan pasien disuntikkan valium intra
musculer.
2.5 Bahan Kontras yang digunakan
Bahan kontras yang sering digunakan adalah zat kontras yang larut dalam air
yaitu urografin 60% (meglumin diatrizoate 60% atau sodium diatrizoate 10%).
Bahan kontras ini sifatnya encer, memberikan opasitas yang memuaskan dan mudah
masuk ke dalam tuba dan menimbulkan pelimpahan kontras ke dalam rongga
peritoneum dengan segera. Pada tahun-tahun terakhir ini dipakai juga bahan kontras
lipiodol ultrafluid yang juga dipakai untuk pemeriksaan limfografi, sialografi,
fistulografi, dan saluran-saluran yang halus. Kekurangan lipiodol adalah bahwa
reasorpsi kembali berlangsung lama sekali jika kontras ini masuk kedalam rongga
peritoneum .
Jumlah bahan kontras yang digunakan berbeda-beda, tergantung pasien, tetapi
biasanya mendekati 10 ml .Kontras larut minyak sekarang sudah banyak
ditinggalkan, karena komplikasi yang ditimbulkannya yaitu :
Emboly
paru
1. Granuloma pada permukaan peritoneum
2. Fibrosis peritoneum
- Penyerapan lebih lama Bahan kontras lain yang juga sering dipakai dan memberikan
hasil sama seperti urografin, misalnya hipaque 50% (sodium diatrizoate), endografin
(meglumine iodipamide), diaginol viscous (sodium acetrizoate plus polyvinyl
pyrolidone), isopaque (metrizoate), lipiodol ultrafluid, dan sebagainya .
2.5
Alat Dan Bahan
Alat dan bahan untuk pemeriksaan HSG set terdiri atas bahan-bahan steril dan
unsteril, yang terdiri dari:
Pesawat R dengan flouroscopy
Peralatan proteksi radiasi
Steril
Sonde uterus
Speculum vagina
Tenaculum (portio tang)
Conus dgn ukuran S,M,L
Sarung tangan steril (hand scoon)
Kain kassa steril
Kanula injection dan syring
Un Steril :
. Lampu sorot
. Bengkok
. Foot stand
2.6
Tekhnik Pemeriksaan
1. Plan Foto
Teknik pemotretan
Pasien supine diatas meja pemeriksaan
Atur posisi pasien agar pelvis simetris
Sentrasi kurang dari 2,5 cm garis tengah antara kedua sias atau 2 inchi di atas symphisis
pubis
Sinar diarahkan tegak lurus film
2. Pemasangan Alat dan Pemasukan Bahan Kontras
Pasien tidur supine di atas meja pemeriksaan, bagian bokong pasien diberi alas.
Posisi pasien litotomi (cytoscopic position), lutut fleksi. sebelum dilakukan pemasangan alat
HSG, pasien diberitahukan tentang pemasangan alat dengan maksud agar pasien mengerti
dan tidak takut.
Lampu sorot diarahkan kebagian genetalia untuk membantu penerangan.
Bagian genetalia eksterna dibersihkan dengan betadine menggunakan kassa steril.
Speculum dimasukkan ke liang vagina secara perlahan-lahan.
Cervix dibersihkan dengan betadine menggunakan kassa steril dan alat forceps/tenaculum.
Untuk mengetahui arah dan dalamnya cavum uteri digunakan sonde uterus.
Portio dijepit dengan menggunakan tenaculum agar bagian dalam cervix dapat terbuka.
Conus dipasang pada alat canulla injection yang telah dihubungkan dengan syiringe yang
berisi bahan kontras kemudian dimasukkan melalui liang vegina sehingga conus masuk ke
dalam osteum uteri oksterna (ke dalam cervix).
Tenaculum dan alat salphingograf di fixasi, agar kontras media yang akan dimasukkan tidak
bocor.
Speculum dilepas perlahan-lahan
Pasien dalam keadaan supine digeser ketengah meja pemeriksaan, kedua tungkai bawah
pasien diposisikan lurus.
Kemudian fluoroscopy pada bagian pelvis dan bahan kontras disuntikkan hingga
terlihat spill pada kedua belah sisi.
3. Proyeksi AP
Posisi pasien : supine diatas meja pemeriksaan dengan kedua tungkai lurus, pelvis rapat pada
meja pemeriksaan, kedua tangan diatas kepala, meja pemeriksaan diposisikan trendelenberg.
Bahan kontras : disuntikkan 2-5 cc
Central ray : pada symphisis pubis
Kriteria gambar : gambar yang tampak adalahpengisian bahan kontras ke dalam tube
fallopi, tampak gambaran corpus uteri dan spill padaperitoneal cavity (rongga peritoneal).
4.
Proyeksi Oblique Kanan
Posisi pasien : supine, tungkai bawah kanan lurus,panggul bagian kiri diangkat kira-kira 45
derajat, panggul bagian kanan merapat ke meja pemeriksaan, kedua tangan di atas kepala,
meja pemeriksaan diposisikan trendalenbarg.
Central ray : diarahkan pada pertengahan antara SIAS dan sympisis pubis bagian kanan, lalu
di eksposi.
Kriteria gambar : gambar yang tampak adalah tampak pada pengisian bahan kontras
pada cavum uteri, tube uterine, dan spill pada rongga peritoneum
5. Proyeksi Oblique Kiri
Posisi pasien : supine, tungkai bawah kiri lurus, panggul bagian kanan diangkat kira-kira 45,
panggul bagian kiri merapat ke meja pemeriksaan , kedua tangan diatas kepala, posisi meja
trendelenberg.
Central
ray :
diarahkan
pada
pertengahan
pubis.
pengisian
antara
SIAS
dengan
sympisis
Kriteria gambar : yang tampak adalah
bahan
kontras
pada cavum
uteri, tidak
spill
tube
uterus
kanan dan kiri serta spill di sekitar fimbrae.
6. Post Void/Post Mixi
Pembersihan bahan kontras, posisi sama dengan plan foto, setelah pasien miksi
Kriteria gambar
Daerah pelvis mencakup vesica urinaria
bagian
Daerah uterus (pintu panggul atas terlihat di pertengahan film)
Tampak sisa kontras, sebagian telah kosong
BAB III
HASIL PEMERIKSAAN
3. Ilustrasi kasus Seorang pasien datang ke instalasi radiologi RSUD Blambangan .
-
Nama
Umur
Jenis kelamin
Tanggal Foto
Nomor Foto
:
:
: Perempuan
:
:
Klinis
3.1 Pemeriksaan yang dilakukan dalam kasus infertilitas
1. Pemeriksaan pasien datang ke poli kandungan RSUD Blambangan riwayat
kehamilan (bila pernah), siklus haid, dan sebagainya.
2. Pemeriksaan Fisik . Dokter melakukan pemeriksaan fisik secara umum
(tekanan darah, berat badan, tinggi badan) dan pemeriksaan fisik ginekologis
(kandungan).Dokter akan menilai organ genitalia eksterna (bagian luar) seperti
vulva, vagina dan mulut rahim, dan pada saat bersamaan akan dilakukan
pemeriksaan organ genitalia interna (bagian dalam) menilai kondisi rahim,
indung telur dan mencari adanya tumor kandungan.
3. Pemeriksaan Ultrasonografi (USG). Dilakukan untuk melihat anatomi
rahim, indung telur, saluran telur dan adanya massa (tumor) kandungan seperti
kista, mioma, polip dan sebagainya. Pemeriksaan USG idealnya dilakukan
menggunakan alat yang dimasukkan ke dalam vagina (transvaginal) atau jika
tidak ada dapat menggunakan USG transabdominal (melalui dinding perut
yang membutuhkan kondisi kandung kemih penuh guna memudahkan
pemeriksaan).
4. Pemeriksaan Histerosalpingografi (HSG). Tindakan ini dilakukan di bagian
radiologi, berfungsi untuk menilai rongga rahim dan saluran telur (tuba
falopii).Pemeriksaan dilakukan pada hari ke 9-11 siklus menstruasi. Pasien
sebaiknya tidak melakukan hubungan intim paling sedikit 2 hari sebelum
tindakan.
5. Pemeriksaan Histerosonografi (SIS). Pemeriksaan ini merupakan alternatif
bagi pemeriksaan HSG apabila terdapat reaksi alergi zat kontras, tidak adanya
peralatan rontgen atau pada pasien dengan riwayat hamil dan melahirkan
sebelumnya (infertilitas sekunder). Tindakan SIS mirip dengan Hidrotubasi.
6. Pemeriksaan Laboratorium, dalam kasus infertilitas penting dilakukan
pemeriksaan hormon reproduksi yaitu hormon FSH, LH, Estradiol, dan
Prolaktin pada hari ke 2-3 siklus haid dan hormon progesteron pada hari ke-21
siklus menstruasi. Bila terdapat riwayat keguguran berulang maka perlu
pemeriksaan mendeteksi adanya Sindroma Antifosfolipid (APS) dengan
memeriksa Antibodi Anticardiolipin (ACA) dan Lupus Antikoagulan. Jika
dicurigai kelainan Sindroma ovarium polikistik (PCOs) maka akan
ditambahkan pemeriksaan hormon insulin puasa, glukosa puasa dan
pemeriksaan kearah hiperandrogen.
BAB IV
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Histerosalpingografi (HSG) merupakan suatu pemeriksaan dasar untuk mengetahui
anatomi dan fisiologi alat genital wanita, melihat bayangan rongga rahim dan bentuk tuba
fallopi.
Biasanya
dilakukan
untuk
mencari
penyebab
infertilitas.
Bahan kontras yang sering digunakan oleh RSX adalah zat kontras yang larut dalam air
yaitu urografin 60% .Indikasi HSG yang paling sering ialah dalam ginekologi, baik
sterilitas primer maupun sekunder, untuk melihat potensi tuba
3.2 Saran
DAFTAR PUSTAKA
Bryan G J. et al. Hystero-salpingography, Diagnostic Radiography, Fourth Edition 1987: 351355
Hiramatsu Y, MD. Hysterosalpingography, The Asian-Oceanian Textbook of Radiology, First
Edition 2003: 845-848
Rasad S. Hysterosalpingography, Radiologi Diagnostik, Edisi Kedua, 2008: 321-324
Sutton D. Hysterosalpingoraphy, A Text Book of Radiology and Imaging, Fourth Edition
1987: 12461252
Meschan I, MA, MD. The Genital Sistem, An Atlas of Anatomy Basic to Radiology, Volume
2, 1975: 1075-1080
Daffner R H, MD. Gynecologic Imaging, Clinical Radiology, First Edition 1993: 260-262
Ballinger P W. et al. Female Radiography, Merills Atlas of Radiographic Positions and
Radiologic Procedures, Tenth Edition, 2003: 260-264
Ubeda B. et al. Hysterosalpingography: Spectrum of Normal Variant and Nonpatologic
Findings. AJR July 2001; 177: 131-135