UROSEPSIS
EPIDEMIOLOGI
Urosepsis disebabkan oleh invasi mikroorganisme yang berasal
dari saluran kemih yang kemudian menimbulkan respon kompleks
melalui sintesis mediator endogen yang selanjutnya menimbulkan
berbagai respon klinis. Kejadian sepsis di AS berkisar 750.000
kasus/tahun dan mengakibatkan 250.000 kematian/tahun. 50% kasus
sepsis bermula dari saluran kemih.
Urosepsis disebabkan oleh bakteri gram negatif (seperti
Escherichia coli, 52%; Enterobacteriaceae, 22%; Pseudomonas
aeruginosa, 4%), bakteri gram positif (seperti Enterococcus Sp, 5%;
Staphylococcus aureus, 10%).
PATOFISIOLOGI
Secara garis besar kejadian sepsis dapat disimpulkan dengan
rangkaian proses:
Perfusi yang buruk pada kulit dan organ internal dengan
berkurangnya gradien oksigen arteri vena, akumulasi laktat
(asisdosis metabolik) dan anoksia
Aktivasi komplemen dan kaskade pembekuan darah
Aktivasi limfosit B dan T
Aktivasi netrofil sehingga meningkatkan aktivitas kemotaksis
Meningkatnya permeabilitas kapiler (sindrom kebocoran
kapiler), hemokonsentrasi, berkurangnya volume darah dalam
sirkulasi
Akumulasi netrofil pada paru yang melepaskan protease dan
oksigen radikal bebas yang akan mengubah permeabilitas
alveolar-kapiler sehingga meningkatkan transudasi cairan, ion,
dan protein kedalam ruang intersitial dan pada akhirnya terjadi
acute respiratory distress syndrome (ARDS)
Depresi myocard, hipotensi
Percepatan apoptosis sel limfosit dan sel-sel epitel saluran
perccerna
Disseminated intravascular coagulation (DIC)
Kegagalan fungsi hepar, ginjal dan paru-paru.
SISTEM KLASIFIKASI
Penggolongan menjadi penting untuk evaluasi prognosis
pasien, beratnya sepsis dan untuk menilai keberhasilan terapi atau
pendekatan terapi terbaru. Klasifikasi ini berupa :
1. Kriteria I : terdapat bukti infeksi (kultur darah yang positif) atau
secara klinis terduga infeksi.
2. Kriteria II : terpenuhinya kriteria systemic inflammatory
response syndrome (SIRS)
Suhu tubuh 38C atau 36C
Nadi 90 kali/menit
Frekuensi pernapasan 20 kali/menit
Leukosit 12x109 /l atau 4 x109/l
Alkalosis respiratori PaCO2 32 mmHg
Netrofil immature > 10%
3. Kriteria III : Multiple organ dysfunction syndrome (MODS)
Cardiovascular : tekanan darah sistolik 90 mmHg, atau
mean arterial blood pressure 70 mmHg setelah
dilakukan resusistasi cairan yang adekuat
Ginjal : produksi urin < 0,5 ml/kgBB per jam setelah
dilakukan resusistasi cairan
Pernapasan : PaO2 75 mmHg atau rasio PaO 2/FiO2
250
Hematologi : angka trombosit <80x109 atau terjadi
penurunan angka trombosit sebanyak 50% dibandingkan
3 hari sebelumnya
Asidosis metabolik : pH 7,30 atau base deficit 5
mm/l, level laktat dalam plasma > 1,5 kali diatas
normal
Otak : somnolen, bingung, melawan/marah, koma
Berdasarkan kriteria di atas, secara klinis sepsis dapat dapat dibedakan
menjadi tiga stadium.
FAKTOR RISIKO UROSEPSIS
Faktor predisposisi untuk terjadinya urosepsis meliputi usia
lanjut, diabetes mellitus, keganasan, cachexia, immunodefesiensi,
radioterapi, terapi sitostatik, uropathy obrtuktif (striktur uretra, BPH)
kanker prostat, urolitiasis, penyakit inflamasi (pyelonefritis, prostatitis
akut, epididimitis, abses ginjal, abses paranefrik), dan infeksi
nosokomial pasca pemasangan kateter, endoskopi atau biopsi prostat.
PROSEDUR DIAGNOSIS (LABORATORIUM)
Setelah
melakukan
pemeriksaan
laboratorium
maka,
pemeriksaan terhadap fokal infeksi wajib dilakukan dengan melakukan
anlisa terhadap urin, sekret purulen ataupun abses.
MIKROBIOLOGI
Analisa pada minimal dua kali kultur darah (aerob dan anaerob)
pada saat yang bersamaan dengan sampel darah vena merupakan
suatu keharusan. Bakterimia sendiri dapat terjadi dengan derajat yang
sangat rendah (10 mikroorganisme/ml), sehingga kultur darah ulang
mungkin dibutuhkan (>50% kasus severe sepsis dengan hasil kultur
negatif). Kultur darah paling baik diambil ketika suhu tubuh meningkat.
Jika antibiotik telah diberikan maka, maka kultur dapat diambil sebelum
pemberian antibiotik berikutnya.
MANAJEMEN
Tujuan utama terapi urosepsis :
a.
b.
c.
d.
e.
f.
Stabilisasi hemodinamik
Meningkatkan saturasi oksigen dan penggunaan oksigen
Mencukupkan saturasi oksigen
Meningkatkan fungsi organ (jantung, paru, hepar, ginjal)
Terapi antibiotik untuk sepsis
Eradikasi sumber infeksi
Prinsip resusistasi mencakup airway dan breating dan
optimalisasi perfusi. Intubasi dan ventilasi mekanik mungkin dibutuhkan.
Dukungan oksigen dibutuhkan namun pemberian oksigen yang
berlebihan jangka panjang tidak dianjurkan. Optimalisasi perfusi
jaringan dengan resusistasi cairan untuk memperbaiki tekanan
pengisian sirkulasi. Agen vasokatif seperti norepinefrin atau dopamin
dapat diberikan untuk mendukung tekanan darah yang adekuat. Namun
demikian pemberian dosis rendah dopamin untuk proteksi ginjal tidak
dianjurkan oleh para ahli. Prinsip lain dari resusitasi adalah optimalisasi
deliveri oksigen, penggunaan kotikosteroid,
mempertahankan kadar gula darah <150 mg/dl.
koreksi
koagulopati,