Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pengembangkan pertanian lahan pasang surut di masa yang akan datang merupakan
pilihan strategis dalam menghadapi tantangan peningkatan produksi pertanian yang
semakin komplek terutama untuk mengimbangi penciutan lahan subur maupun pelestarian
swasembada pangan khususnya padi, jagung dan kedelai.
Indonesia saat ini tidak lagi punya banyak pilihan dalam rangka mewujudkan
ketahanan pangan nasional selain memanfaatkan lahan-lahan marginal yang masih tersedia
dan memungkinkan untuk dikelola sebagai lahan produksi pangan, karena upaya
peningkatan produktivitas sudah semakin sulit secara teknis agronomis dilakukan dan juga
semakin tidak ekonomis untuk diusahakan.
Selain itu, untuk mewujudkan ketahan pangan nasional memerlukan tambahan luas
lahan pertanian sehingga pemerintah melakukan intensifikasi penggunaan lahan-lahan
marginal. Upaya pemberdayaan lahan marginal dipicu kebutuhan nasional untuk
meningkatkan produksi pangan agar dapat berswasembada beras (Sadono 2008).
Kebutuhan peningkatan produksi padi dilakukan karena didorong pertumbuhan
penduduk dan peningkatan kesejahteraan masyarakat di Indonesia yang merupakan negara
agraris. Program pembangunan pertanian hakekatnya adalah rangkaian upaya untuk
memfasilitasi, melayani, dan mendorong berkembangnya sistem agrobisnis, serta usaha-
usaha agrobisnis berdaya saing, berkerakyatan, berkelanjutan, serta desentralistis untuk
meningkatkan ketahanan pangan dan kesejahteraan rakyat (Sukadi 2007).
Pemberdayaan lahan marginal seperti lahan basah untuk pertanian merupakan
bagian dari pembangunan nasional. Pengertian lahan basah berdasarkan konvensi Ramsar
adalah daerah-daerah rawa, payau, lahan gambut, dan perairan tetap atau sementara dengan
air tergenang atau mengalir baik tawar, payau, atau asin termasuk wilayah perairan laut
dengan kedalaman tidak lebih dari 6 m pada waktu surut (Triana 2012).
Lahan basah memiliki karakter khusus yang identik dengan air. Oleh karena itu,
sistem penataan lahan dan penentuan jenis komoditas di lahan basah sangat bergantung
pada tipe lahan dan kondisi airnya (Najiyati et al. 2005).
Luas lahan basah di Indonesia diperkirakan 20,6 juta ha atau sekitar 10,8 dari luas
daratan Indonesia (Rahmawaty et al. 2014). Pada umumnya lahan basah dikelola menjadi
areal pertanian ataupun perkebunan. Sebagian besar lahan basah dimanfaatkan masyarakat
untuk budi daya tanaman perkebunan seperti kelapa sawit, karet, disusul tanaman pangan
meliputi padi, jagung, selanjutnya tanaman hortikultura buah (Masganti et al. 2014).
Sekitar 9,53 juta lahan basah di Indonesia berpotensi untuk lahan pertanian, dengan
rincian 6 juta ha berpotensi untuk tanaman pangan dan 4,186 juta ha telah direklamasi
untuk berbagai penggunaan terutama transmigrasi (Dakhyar et al. 2012). Luasnya lahan
basah yang telah dimanfaatkan sebagai lahan pertanian dan pemukiman menjadikan lahan
ini dapat mengalami kerusakan jika tidak dikelola dengan tepat dan terpadu.
Penggunaan lahan basah harus direncanakan dan dirancang secara cermat dengan
asas tata guna lahan berperspektif jangka panjang (Hardjoamidjojo & Setiawan 2001).
Lahan basah menjadi sangat peka terhadap perubahan yang dilakukan manusia
karena lahan basah memiliki peran penting bagi kehidupan manusia dan margasatwa lain.
Fungsi lahan basah tidak hanya untuk sumber air minum dan habitat beraneka ragam
makhluk, tapi memiliki fungsi ekologis seperti pengendali banjir, pencegah intrusi air laut,
erosi, pencemaran, dan pengendali iklim global (Hardjoamidjojo & Setiawan 2001).
Peningkatan daya dukung lahan basah untuk pertanian harus menerapkan sistem
usahatani berkelanjutan. Sistem usahatani berkelanjutan merupakan tujuan penerapan
pengelolaan lahan basah terpadu.
Dengan demikian, kehati-hatian dan pengelolaan tepat guna sangat diperlukan
dalam pengelolaan lahan basah.
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Lahan Basah


Lahan basah adalah istilah kolektif tentang ekosistem yang pembentukannya
dikuasai air, dan proses serta cirinya terutama dikendalikan air. Suatu lahan basah adalah
suatu tempat yang cukup basah selama waktu cukup panjang bagi pengembangan vegetasi
dan organisme lain yang teradaptasi khusus (Maltby, 1986). Lahan basah ditakrifkan
(define) berdasarkan tiga parameter, yaitu hidrologi, vegetasi hidrofitik, dan tanah hidrik
(Cassel, 1997).
Lahan basah mencakup suatu rentangan luas habitat pedalaman, pantai, dan marin
yang memiliki sejumlah tampakan sama. Konvensi Ramsar 1971 menakrifkan lahan basah
yang penting secara internasional sebagai berikut (Dugan, 1990).
Lahan basah adalah wilayah rawa, lahan gambut, dan air, baik alami maupun
buatan, bersifat tetap atau sementara, berair ladung (stagnant, static) atau mengalir yang
bersifat tawar, payau, atau asin, mencakup wilayah air marin yang di dalamnya pada waktu
surut tidak lebih daripada enam meter.
Konvensi Ramsar memilahkan lahan basah berdasarkan ciri biologi dan fisik dasar
menjadi 30 kategori lahan basah alami dan 9 kategori lahan basah buatan. Ketigapuluh
kategori lahan basah alami dipilahkan lebih lanjut menjadi 13 kategori berair asin dan 17
kategori berair tawar. Lahan basah buatan mencakup waduk, lahan sawah, jejaring irigasi,
dan lahan akuakultur (perkolaman tawar dan tambak). Untuk meringkus tinjauan,
penggolongan lahan basah alami boleh dikurangi menjadi 7 satuan bentang lahan
(landscape) yang seluruhnya merupakan komponen penting bagi penetapan kerangka
perencanaan konservasi lahan basah. Ketujuh satuan bentang lahan tersebut adalah estuari,
pantai terbuka, dataran banjir, rawa air tawar, danau, lahan gambut, dan hutan rawa (Dugan,
1990).
2.2 Permasalahan Lahan Basah
Di dunia sampai sekarang masih banyak kontroversi dalam mencerapi lahan basah.
Akibat kontroversi yang berkepanjangan, kebijakan menangani lahan basah tidak jelas,
nasib lahan basah tidak menentu, dan kerusakan lahan basah tidak tertanggulangi.
Sesungguhnya, lahan basah merupakan komponen penting beraneka ekosistem karena
berfungsi menyimpan air banjir, memperbaiki mutu air, dan menyediakan habitat bagi
margasatwa (Cassel, 1997).
Dalam kenyataan lahan basah dapat menyediakan sederetan barang dan jasa penting
bagi manusia dalam penggunaan langsung dan tidak langsung, kesejahteraan margasatwa,
dan pemeliharaan mutu lingkungan. Proses biofisik yang menjadi gantungan penyediaan
barang dan jasa, juga menopang fungsi dan struktur ekosistem. Namun demikian,
kenyataan penting tersebut tidak tercerapi oleh masyarakat umum, termasuk para
pemimpinnya. Kegandaan gatra (aspect) yang mengisyaratkan bahwa kelestarian lahan
basah memerlukan pengimbangan cermat antara produksi dan konservasi, luput dari
perhatian. Akibatnya, pemeliharaan lahan basah alami di kebanyakan negara memperoleh
prioritas rendah. Sikap masa bodoh dan ketidakperdulian akan konservasi, membuat
konversi lahan basah terus berlanjut dengan alasan menggunakan lahan basah secara lebih
baik (Dugan, 1990; Maltby & Immirzi, 1996).
Konvensi Ramsar belum diikuti secara luas oleh bangsa-banqsa. Sampai sekarang
baru 55 negara yang meratifikasinya untuk memajukan kerjasama internasional dalam
konservasi lahan basah. Jumlah ini masih kurang daripada sepertiga jum1ah bangsa di
dunia. Bagian dunia yang perwakilannya paling lemah ialah Amerika Latin, Asia, dan
Afrika (Dugan, 1990). Negara-negara sedang berkembang atau miskin seharusnya paling
berkepentingan memelihara lahan basah, baik sebagai ekosistem, sumberdaya, maupun
kimah (asset) nasional.
Tidak ada catatan tentang nasib lahan basah di Indonesia. kemungkinan seluruh
lahan basah di Indonesia masih utuh karena terkonservasi baik, atau karena kita
menerapkan kriteria evaluasi yang berbeda. Kalau kita semata-mata menggunakan
kriterium keuntungan jangka pendek tanpa menimbang kerugian jangka panjang, sudah
barang tentu kita dapat mengatakan lahan basah kita masih utuh.
Di Amerika Serikat salahguna (misuse) lahan basah yang menjurus ke perusakan
didorong oleh penerbitan suatu undang-undanq US Federal Swamp Land Act tahun 1849-
1850 dan 1860. Pada waktu itu pengatusan lahan basah dipandang sebaqai suatu ikhtiar
progresif yang dilandasi semangat kemasyarakatan demi memajukan kesehatan dan
kesejahteraan masyarakat (Dugan, 1990). Kesalahan cerapan ini bertahan selama lebih
daripada seabad dan baru dapat disingkirkan oleh Konvensi Ramsar 1971. Kepedulian
masyarakat dunia terhadap keselamatan lahan basah lambat laun tumbuh.
Berbagai ketentuan dan peraturan perundnng-undangan diterbitkan nntuk
melindungi lahan basah terhadap perambahan yang merusak. Sebagai contoh, sejak tahun
1975 lahan basah di Amerika Serikat menurut hukum, dimasukkan dalam air negara
(waters of the USA) dan dengan demikian segala kegiatan yang diadakan di dalam kawasan
lahan basah memerlukan izin Army Corps of Engineers. Pada bulan Mei 1977 Presiden
Carter menerbitkan Executive Order No. 11990 tentang Priorities of Wetlands yang
memerintahkan konservasi lahan basah suatu prioritas bagi semua badan federal dan
menyediakan dana bagi menjalankan perintah tersebut. The Clean Water Act of 1977
memberikan pengendalian lebih ketat atas kegiatan yang menyangkut lahan basah (Maltby,
1986).
Meskipun boleh dikatakan lambat sekali, Soil Science Society of America
memperlihatkan kepeduliannya mengenai masalah lahan basah dengan membentuk
Division S-10 Wetland Soils pada tahun 1993. Divisi ini khusus mewadahi pemikiran dan
perhatian terhadap penelitian dan publikasi tentang lahan basah.
Indonesia mempunyai peraturan penundang-undangan yang mengatur penggunaan
1ahan, antara lain UU RI No. 5 Th. 1967 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Kehutanan,
UU RI No. 5 Th. 1990 tentang Konsenvasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya,
Keppres RI No. 32 Th. 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung, dan yang terbaru UU
RI No. 23 Th. 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. Peraturan-peraturan tersebut
tidak mengatur lahan basah secara khusus, akan tetapi mencakupnya sebagai bagian dari
lahan secara umum atau pencakupannya tertafsirkan secara tersirat. Berbeda dengan
peraturan-peraturan tadi yang berkonsep konservasi, terbit Keppres RI No. 82 Th. 1995
yang jnstru berkonsep konvensi lahan, khususnya lahan gambut dan lahan basah lain yang
berasosiasi. Penerbitan Keppres ini nempertajam kontroversi antara konversi dan
konsenvasi di Indonesia.

2.3 Strategi Pengembangan Teknologi untuk Pengelolaan Lahan Basah Suboptimal

Sejak awal konstitusi Indonesia mengamanahkan bahwa pembangunan iptek adalah


untuk memajukan peradaban serta kesejahteraan umat manusia dengan menjunjung tinggi
nilai-nilai agama dan (menjaga) persatuan bangsa. Oleh sebab itu, sesuai amanah konstitusi,
maka semua kegiatan riset dan pengembangan harusnya bermuara pada tersedianya
teknologi yang relevan dengan realita kebutuhan dan/atau dapat menjadi solusi bagi
persoalan nyata, sehingga teknologi yang dihasilkan tersebut lebih berpeluang untuk
digunakan.
Edgerton (2006) mengungkapkan bahwa: History is changed when we put into in
the technology that counts, not only the famous spectacular technologies but also the low
and ubiquitous ones.
Pernyataan Edgerton tersebut menekankan bahwa untuk mengubah sejarah
bukanlah persoalan kecanggihan teknologi yang dikembangkan, tetapi lebih ditentukan oleh
apakah teknologi yang dihasilkan digunakan atau tidak digunakan dalam kegiatan produktif
untuk menghasilkan barang ataupun jasa. Dalam konteks ini, kebutuhan teknologi untuk
pengelolaan lahan-lahan suboptimal di Indonesia saat ini bukanlah teknologi super canggih,
tetapi lebih merupakan teknologi-teknologi yang secara teknis sangat dibutuhkan dan
secara finansial terjangkau oleh petani, peternak, atau pembudidaya ikan.
Selain teknologi yang secara langsung dibutuhkan oleh petani atau komponen
masyarakat lainnya yang menggunakan lahan sebagai basis kegiatan produktifnya,
teknologi untuk menghasilkan produk dan/atau sarana produksi juga patut untuk
dikembangkan. Teknologi dimaksud termasuk teknologi untuk menghasilkan benih unggul;
pupuk yang efektif, efisien, dan ekologis; bahan kimia atau organik dan (mikro)organisme
untuk pengendalian hama dan patogen tanaman, ternak, dan ikan; hormon dan zat pengatur
tumbuh; serta alat dan mesin budidaya dan pengolahan hasil pertanian. Khusus untuk
pengelolaan lahan-lahan suboptimal, maka semua teknologi ini harus disesuaikan dengan
kondisi lahan, agroklimat, kapasitas dan preferensi pengguna potensialnya, serta kondisi
sosiokultural setempat.
Ada dua alur pokok yang saling komplementer dalam pengelolaan lahan suboptimal
agar bisa dijadikan lahan pertanian yang produktif, yakni:
[1] Perbaikan sifat fisika, kimia, dan biologi tanah serta tata air agar lebih optimal
[2] Peningkatan daya adaptasi tanaman, ternak, atau ikan terhadap karakteristik lahan dan
kondisi agroklimat yang tidak optimal.
Secara umum ada empat pra-syarat untuk keberhasilan proses difusi teknologi,
yakni: [1] Teknologi yang dikembangkan secara teknis relevan dengan kebutuhan
pengguna; [2] Selain relevan secara teknis, teknologi yang ditawarkan harus sepadan
dengan kapasitas absorpsi (calon) pengguna yang disasar; [3] Teknologi yang ditawarkan
mampu bersaing dengan teknologi serupa yang tersedia di pasar; dan [4] Aplikasi teknologi
yang ditawarkan akan lebih menguntungkan dibandingkan dengan praktek bisnis yang saat
ini dilakukan.

2.3.1 Perbaikan Sifat Fisika, Kimia, dan Biologi Tanah


Seperti telah dijelaskan pada awal artikel ini, lahan suboptimal memiliki
karakteristik sifat fisik, kimia, dan biologi yang beragam. Upaya perbaikan untuk
mengelola lahan suboptimal menjadi optimal membutuhkan teknik pengelolaan yang tepat
sesuai dengan karakteristiknya. Melalui penerapan iptek yang benar, maka lahan
suboptimal dengan tingkat kesuburan alami yang rendah dapat dijadikan areal pertanian
produktif.
Pengembangan lahan suboptimal untuk usaha pertanian umumnya dihadapkan dengan
beberapa persoalan terkait sifat fisik, kimia dan biologi tanah, diantaranya kadar liat atau
bahan organik tinggi (Lakitan dan Gofar, 2013)
kemasaman tanah yang tinggi, keracunan Fe dan Al, serta kahat unsur hara seperti
N, P, K, Ca dan Mg. Berbagai teknologi unggulan di lahan rawa yang telah dihasilkan oleh
berbagai perguruan tinggi dan lembaga litbang diantaranya adalah penataan lahan,
pengelolaan air, pengelolaan tanaman, pengelolaan bahan ameliorasi dan hara, serta
pengendalian gulma.
Penggunaan ameliorant antara lain berupa kapur (kalsit, dolomit, dan kapur oksida),
garam, sekam padi, abu serbuk kayu gergajian, biomasa gulma, dan limbah pertanian;
sedangkan pengelolaan hara dengan cara pemberian pupuk hayati, pupuk N, P dan K,
terbukti mampu meningkatkan hasil padi, palawija dan sayuran. Intensitas dan
produktivitas yang rendah pada lahan rawa dapat ditingkatkan dengan penerapan teknologi
pola tanam terpadu dengan pemilihan varietas padi dan palawija serta sayuran yang teruji
(Alihamsyah et al., 2004).
Pemanfatan lahan rawa untuk pertanian menyebabkan perubahan sifat kimia dan
biologi tanah. Penelitian Gofar (2007) di lahan rawa lebak Sumatera Selatan menunjukkan
bahwa perbedaan tipe penggunaan lahan berpengaruh nyata terhadap penurunan pH tanah,
kadar C-organik, N-total, P-total dan populasi mikroba menguntungkan dalam tanah.
Beberapa penyebab yang mengakibatkan perbedaan tersebut antara lain: [1] lama
pengusahaan lahan, [2] intensitas pengolahan, jenis pupuk serta dosis pupuk yang
digunakan, [3] jenis tanaman yang diusahakan, [4] aktivitas organisme tanah, dan [5]
kondisi awal lahan yang diusahakan. Bahan organik merupakan penyangga biologis yang
mempunyai fungsi dalam memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah sehingga dapat
menyediakan unsur hara dalam jumlah berimbang bagi tanaman. Tanah dengan kandungan
bahan organik yang tinggi akan meningkatkan perkembangan mikroba tanah dan
menyumbangkan unsur hara seperti N dan P sehingga tersedia bagi tanaman.
Penggunaan kompos merupakan pilihan dalam mendukung peningkatan
produktivitas padi gogo di lahan kering seperti Ultisol dan padi sawah pada Inseptisol rawa
lebak. Aplikasi kompos dapat memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah, baik pada
lahan kering maupun rawa. Nilai hara kompos yang beragam dan tergolong rendah dapat
ditingkatkan jika diperkaya dengan pupuk hayati. Perlakuan pupuk kompos diperkaya
dengan pupuk hayati (penambat nitrogen, pelarut fosfat dan kalium, pemacu tumbuh)
menghasilkan bobot gabah kering panen, jumlah gabah per malai, dan produksi padi lebih
baik dibandingkan pada perlakuan pupuk anorganik pada Ultisol (Gofar dan Marsi, 2013)
dan pada Inseptisol lebak (Gofar et al., 2013).
Peningkatan produktivitas lahan suboptimal dapat dilakukan dengan pemanfaatan
mikroba tanah, baik yang hidup bebas di dalam tanah maupun yang bersimbiosis dengan
tanaman. Fitri dan Gofar (2010) melaporkan bahwa konsorsium bakteri endofitik pemacu
tumbuh hasil isolasi dari jaringan tanaman padi dengan populasi 107 spk mL-1 mampu
meningkatkan hasil tanaman padi pada tanah asal pasang surut.

2.3.2 Perbaikan Tata Air


Pengaturan tata air merupakan satu hal yang sangat penting dalam pengelolaan
lahan pertanian pada ekosistem rawa. Pengaturan tata air ini bukan hanya untuk
mengurangi atau menambah ketersediaan air permukaan, melainkan juga untuk mengurangi
kemasaman tanah, mencegah pemasaman tanah akibat teroksidasinya lapisan pirit,
mencegah bahaya salinitas, bahaya banjir, dan mencuci zat beracun yang terakumulasi di
zona perakaran tanaman (Suryadi et al., 2010).
Strategi pengendalian muka air ditujukan kepada aspek upaya penahanan muka air tanah
agar selalu di atas lapisan pirit dan pencucian lahan melalui sistem drainase terkendali.
Kondisi muka air yang diinginkan sangat tergantung kepada jenis tanaman, jenis tanah, dan
kondisi hidrologis wilayah setempat (Imanudin dan Susanto, 2008). Permasalahan dalam
budidaya tanaman non padi di lahan rawa adalah kelebihan air yang sangat mengganggu
pertumbuhan awal tanaman. Sementara itu, kalau penanaman ditunda, maka akan terjadi
kekurangan air pada fase generatif. Permasalahan status air ini dapat diatasi dengan
membangun sistem drainase yang tepat (Imanudin dan Tambas, 2002).

2.3.3 Pengembangan Jenis dan Varietas Adaptif


Suwignyo et al. (2010) telah mengumpulkan beberapa kultivar padi lokal rawa
lebak dari beberapa lokasi di Indonesia. Sumber genetik lokal ini akan menjadi sumber
plasma nutfah dalam program pemuliaan tanaman untuk menghasilkan varietas baru tahan
terendam berbahan genetik lokal, sehingga diharapkan akan dihasilkan galur/varietas
Pegagan-Sub1, Siam-Sub1, Rutti-Sub1, Payak Acan-Sub1, Serendah Kuning-Sub1, dan
sebagainya; sebagaimana yang telah dicontohkan di IRRI menghasilkan varietas Swarna-
Sub1, Samba Mahsuri-Sub1, dan BR11-Sub1. Perakitan varietas-varitas baru yang tahan
terendam sangat penting dilakukan dengan memperhatikan material genetik lokal rawa
lebak (Lakitan dan Gofar, 2013).
Pada tingkat nasional, dalam rangka penyediaan jenis varietas yang toleran terhadap
kondisi lahan rawa, telah dikembangkan beberapa varietas yang toleran untuk lahan rawa,
seperti varietas Inpara 1, Inpara 2, Inpara 3, Inpara 4, dan Inpara 5. Varietas Inpara 1 adalah
varietas yang cocok ditanam di daerah rawa lebak dan pasang surut. Apabila ditanam pada
kondisi lahan rawa lebak rata-rata dapat mencapai hasil 5,65 ton GKG/ha, sedangkan jika
ditanam pada kondisi lahan rawa pasang surut rata-rata hasilnya lebih rendah, yakni 4,45
ton GKG/ha). Varietas Inpara 1 memiliki toleransi keracunan Fe dan Al, agak tahan
terhadap serangan wereng batang coklat Biotipe 1 dan 2, serta tahan terhadap penyakit
hawar daun bakteri dan blas. Varietas Inpara 2 dan Inpara 3 juga direkomendasikan untuk
budidaya di lahan rawa lebak maupun pasang surut dengan rata-rata hasil relatif sebanding
dengan Varietas Inpara 1 (Balai Besar Penelitian Padi, 2010).
Lawit dan Manyapa merupakan nama varietas unggul kedelai adaptif pada lahan pasang
surut dan lahan sawah. Keistimewaan dari kedua varietas ini adalah pengujian
multilokasinya dilakukan di dua agroekologi, yaitu lahan pasang surut dan lahan sawah,
sehingga memiliki daya adaptasi yang luas. Di lahan pasang surut, kedua varietas ini dapat
ditanam di lahan dengan tipe luapan B, C, dan D, baik pada musim hujan maupun kemarau.
Pada lahan bertipe luapan C dan D, dapat ditanam pada musim hujan dan musim kemarau
tanpa pembuatan guludan. Pada musim hujan di lahan bertipe luapan B perlu dibuat
guludan untuk menghindari genangan pada saat pasang, karena genangan dapat merusak
perakaran akibat kurangnya oksigen dan akumulasi CO2 di daerah perakaran.

2.3.4 Tantangan Pengelolaan Lahan Suboptimal


Pengelolaan lahan suboptimal masih banyak menghadapi permasalahan. Selain
aspek fisik lahan seperti yang telah diungkapkan sebelumnya, permasalahan non fisik
antara lain rendahnya minat dan kemampuan enterpreneurship petani, lemahnya sistem
kelembagaan untuk memfasilitasi dan melindungi usahatani masyarakat, dan aplikasi
teknologi yang rendah terutama karena terkendala oleh kapasitas finansial petani yang tidak
memadai.
Dalam pengelolaan sumberdaya air, seringkali terjadi benturan kepentingan dalam
menentukan prioritas pemanfaatan air di lapangan, antara kepentingan transportasi,
pertanian, atau kegiatan lainnya. Dari aspek budidaya, kendala yang dihadapi adalah: [1]
persiapan lahan, pemakaian benih varitas unggul, penanaman (waktu tanam, cara tanam),
pemeliharaan, pemupukan, pengendalian hama, penyakit tanaman dan gulma yang belum
dilakukan dengan baik; [2] belum dilaksanakan integrasi dengan budidaya ternak (itik,
kerbau) dan ikan sehingga produktivitas lahan suboptimal masih rendah; [3] penanganan
panen dan pasca panen belum dilakukan dengan baik dan efisien sehingga persentase
kehilangan masih tinggi.
Aksesibilitas yang rendah akibat prasarana transportasi yang belum tersedia atau
dalam kondisi yang buruk juga menjadi tantangan dalam pengelolaan lahan suboptimal.
Terbatasnya aksesibilitas menyebabkan biaya angkut hasil produksi maupun sarana
produksi relatif mahal. Kurangnya infrastruktur penunjang dalam pembangunan pertanian
di lahan suboptimal akan berdampak pada rendahnya produktivitas dan kualitas produk
serta sulitnya pemasaran (Lakitan dan Gofar, 2013).
Faktor kendala lain adalah keterbatasan tenaga kerja, karena umumnya kepadatan
penduduk yang bermukim di lahan suboptmal sangat rendah. Akibatnya, pendapatan
penduduk dari pengusahaan komoditi pangan rendah, dan pada beberapa daerah hal
tersebut dapat mendorong terjadinya alih fungsi lahan tanaman pangan ke penggunaan lain,
diantaranya untuk perkebunan terutama kelapa sawit.
Daerah rawa memiliki potensi produk sampingan limbah pertanian yang potensial.
Limbah pertanian yang dominan adalah dari tanaman padi, rumput rawa, perkebunan sawit,
dan kotoran hewan yang sampai saat ini masih belum dimanfaatkan. Limbah ini berpotensi
dijadikan pupuk kompos sehingga ketergantungan menggunakan pupuk buatan dapat
dikurangi atau dimanfaatkan sebagai sumber energi untuk memenuhi kebutuhan rumah
tangga.
Pengembangan teknologi pengolahan merupakan salah satu alternatif
penganekaragaman produk sebagai penunjang agroindustri yang sesuai untuk tingkat
pedesaan dan meningkatkan nilai tambah komoditas di lahan suboptimal. Dengan lebih
beragamnya produk olahan diharapkan dapat mendukung program ketahanan pangan.
Dampak pengembangan agroindustri di pedesaan antara lain dapat mendorong tumbuhnya
usaha-usaha di bidang pengolahan pangan, bengkel peralatan dan meningkatkan status gizi
masyarakat (Antalina dan Umar, 2009).

2.3.5 Menyeimbangkan Kepentingan Ekonomi dan Ekologi


Lahan suboptimal membutuhkan lebih banyak intervensi teknologi agar dapat
dijadikan lahan pertanian yang produktif. Upaya ini selain mahal secara ekonomi, sering
juga beresiko tinggi bagi lingkungan. Mudah untuk dipahami bahwa tidak seluruh bentang
lahan suboptimal dapat dan perlu dimanfaatkan untuk kepentingan ekonomi. Dengan
demikian maka tidak semua jengkal lahan suboptimal harus digunakan sebagai lahan
produksi; sebagian perlu tetap diperuntukan bagi kepentingan konservasi.
Kebutuhan lahan paling besar adalah untuk kepentingan pertanian. Berdasarkan
estimasi Schneider et al. (2011), pada tahun 2005, pertanian telah menggunakan sekitar 38
persen lahan secara global dan diprediksi akan menguasai separuh pada tahun 2030 dan
mencapai dua per tiga lahan dunia pada tahun 2070. Taksiran ini dilakukan dengan
memperhitungkan laju pertumbuhan penduduk yang diikuti dengan peningkatan kebutuhan
pangan dan energi. Peningkatan kebutuhan akan lahan ini juga akan terjadi di Indonesia
mengingat laju pertumbuhan penduduk Indonesia tidak berbeda jauh dengan rata-rata
pertumbuhan penduduk dunia.
Untuk memenuhi kebutuhan lahan sektor pertanian ini dan mempertimbangkan
kondisi sumberdaya lahan Indonesia, maka ekstensifikasi lahan pertanian akan merambah
ke lahan-lahan suboptimal. Menghadapi desakan ini, maka Indonesia tidak serta merta
semua lahan suboptimal yang masih belum dimanfaatkan, dibuka untuk kepentingan lahan
produksi pertanian. Pembangunan pertanian Indonesia harus dirancang agar dapat
berkelanjutan. Oleh sebab itu, perlu dijaga keseimbangan pengelolaan lahan antara untuk
kepentingan pertanian (ekonomi) dengan kepentingan konservasi (ekologi).

2.4 Prospek Pengembangan Penataan Lahan Sistem Surjan Di Lahan Rawa Pasang
Surut

2.4.1 Karakteristik Lahan Rawa Pasang Surut

Karakteristik tanah-tanah di lahan pasang surut sangat spesifik terkait dengan sifat
fisik lingkungannya, seperti kondisi hidrotopografinya yang datar atau berupa cekungan
(depresi), curah hujan tinggi, suhu tinggi, kelembaban tinggi, serta pengatusan (drainase)
dan tata airnya yang jelek. Agroekologi lahan pasang surut termasuk lahan basah (wetland)
yaitu selalu basah atau berair karena curah hujan yang tinggi (> 2.000 mm/tahun) atau
pengaruh luapan pasang surut dari laut atau sungai-sungai sekitarnya yang berlangsung
secara berkala.
Berdasarkan macam dan tingkat kendala yang diperkirakan dapat ditimbulkan oleh
faktor fisiko-kimia tanahnya, Widjaja Adhi et al.,. (1992) membagi lahan pasang surut ke
dalam empat tipologi utama, yaitu : lahan potensial, lahan sulfat masam, lahan gambut dan
lahan salin.
Selain dikelompokkan berdasarkan tipologinya, lahan pasang surut juga
dikelompokkan berdasarkan jangkauan air pasang yang dikenal dengan tipe luapan air.
Badan Litbang Pertanian membagi tipe luapan air lahan pasang surut berdasarkan pasang
siklus bulanan menjadi tipe luapan A, B, C dan D ( Ismail, et al, 1993).
Pengelompokan ini penting terutama untuk arahan penataan dan pemanfaatan lahan
maupun penentuan sistem pengelolaan air dan pola tanamnya. Lahan bertipe luapan A
selalu terluapi air pasang, baik pada musim hujan maupun musim kemarau, sedangkan
lahan bertipe luapan B hanya terluapi air pasang pada musim hujan saja. Lahan bertipe
luapan C tidak terluapi air pasang tetapi kedalaman muka air tanahnya kurang dari 50 cm,
sedangkan lahan bertipe luapan D adalah seperti tipe C hanya kedalaman air tanahnya lebih
dari 50 cm.

2.4.2 Luas Lahan dan Penyebarannya


Berdasarkan hasil delineasi menggunakan peta satuan lahan skala 1 : 250.000 yang
tersedia, Nugroho et al., (1992) memperkirakan luas lahan rawa di Indonesia, khususnya
Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Irian Jaya mencapai 33,4 juta ha. Sedangkan
sebelumnya, Driessen dan Soepraptohardjo (1974) memperkirakan luas lahan rawa
diseluruh Indonesia mencapai 39,4 juta ha. Dari luasan tersebut, lahan pasang surut
diperkirakan hanya seluas 20.06 juta ha, yang terdiri dari 2,07 juta ha lahan potensial, 6,7
juta ha lahan sulfat masam, 10,89 juta ha lahan gambut dan 0,44 juta ha lahan salin.
Dari luas lahan pasang surut tersebut, sekitar 9,53 juta hektar berpotensi untuk
dijadikan lahan pertanian, sedangkan yang berpotensi untuk areal tanaman pangan sekitar 6
juta hektar. Areal yang sudah direklamasi sekitar 4,186 juta hektar, sehingga masih tersedia
lahan sekitar 5,344 juta hektar yang dapat dikembangkan sebagai areal pertanian.
Dari lahan yang direklamasi, seluas 3.005.194 ha dilakukan oleh penduduk lokal
dan seluas 1.180.876 ha dilakukan oleh pemerintah yang utamanya untuk daerah
transmigrasi dan perkebunan. Pemanfaatan lahan yang direklamasi oleh pemerintah adalah
688.741 ha sebagai sawah dan 231.044 ha sebagai tegalan atau kebun, sedangkan 261.091
ha untuk keperluan lainnya (Direktorat Bina Rehabilitasi dan Pengembangan Lahan, 1995).

2.4.3 Sistem Surjan Ditinjau Dari Aspek Kimia Tanah


Sistem surjan dapat digunakan untuk tanaman padi, palawija, hortikultura dan
tanaman industri. Penataan lahan sistem surjan dapat menyebabkan terjadinya perubahan
sifat kimia tanah yang disebabkan oleh adanya pengambilan tanah yang digunakan untuk
membuat surjan yang berasal dari tanah disekitarnya sehingga menyebabkan tanah
terangkat ke atas.
Untuk tanah sulfat masam potensial, pengolahan tanah dan pembuatan guludan
sebaiknya dilakukan secara hati-hati dan bertahap. Surjan dapat dibuat secara bertahap dan
tanahnya diambil dari lapisan atas untuk menghindari terjadinya oksidasi pirit. Oksidasi
pirit akan membentuk asam sulfat, ion hidrogen dan Fe 3+. Apabila oksidasi pirit
berlangsung cepat maka akan terbentuk.

2.4.4 Keuntungan Penataan Lahan Sistem Surjan


Penataan lahan sistem surjan selain dapat meningkatkan produksi juga untuk
diversifikasi produksi, baik bersifat horizontal berupa hasil primer beragam komoditas
pertanian maupun bersifat vertikal berupa aneka hasil olahan. Hal ini sangat dimungkinkan
karena pengembangan sistem usahatani terpadu berbasis padi dengan berbagai komoditas
pertanian lain secara serasi dapat menghasilkan beragam hasil pertanian dan produk olahan.
Beragam tanaman hortikultura seperti jeruk, nenas dan aneka sayuran maupun tanaman
industri seperti kelapa, kopi, lada, dan jahe dapat tumbuh baik dan memberikan hasil tinggi
(Ismail et al., 1993 dan Alihamsyah et al., 2001).
Pemilihan komoditas pertanian perlu disesuaikan dengan pola pemanfaatan lahan
dan prospek pemasarannya. Hasil analisis usahatani eks-ante pada Ekspose Teknologi
Pertanian Lahan Pasang Surut di Barito Kuala tahun 2003 menunjukkan bahwa melalui
penerapan teknologi penataan lahan sistem surjan di lahan pasang surut sulfat masam cukup
layak secara ekonomi untuk dikembangkan.
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Lahan pasang surut di Indonesia, karena merupakan lahan marjinal dan rapuh
dengan berbagai masalah dan kendala pengembangan yang kompleks, maka reklamasi dan
pengelolaannya harus benar-benar dilakukan secara terencana, cermat, dan hati-hati melalui
penerapan teknologi reklamasi dan pengelolaan lahan yang tepat sesuai dengan
karakteristik fisiko-kimia lahannya. Agar pemanfaatannya untuk usaha agribisnis dapat
berkelanjutan dan berhasil baik, maka fokus utama pengembangannya adalah optimalisasi
pemanfaatan dan pelestarian sumberdaya lahan serta pengembangan infrastruktur dan
kelembagaan. Untuk itu, identifikasi dan karakterisasi wilayah mutlak perlu dilakukan
secara rinci, baik menyangkut aspek biofisik lahan dan sistem usahatani yang ada maupun
sosial ekonomi dan persepsi petani serta infrastruktur dan kelembagaan penunjang yang
ada.