Anda di halaman 1dari 53

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN HIV-AIDS (HUMAN

IMMUNODEFICIENCY VIRUS-ACQUIRED
IMMUNODEFICIENCY SYNDROM)

MAKALAH

oleh:
Kelompok 11

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


UNIVERSITAS JEMBER
2016
ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN HIV-AIDS (HUMAN
IMMUNODEFICIENCY VIRUS-ACQUIRED
IMMUNODEFICIENCY SYNDROM)

MAKALAH

disusun guna menyelesaikan tugas mata kuliah Keperawatan Medikal


dengan dosen pengampu Ns. Baskoro Setioputro, S.Kep., M.Kep.

oleh:
Musrifah NIM 142310101088
Rini Sulistyowati NIM 142310101092
Ika Adelia Susanti NIM 142310101093

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


UNIVERSITAS JEMBER
2016

2
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat


serta hidayah-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah
mengenai Asuhan Keperawatan Pada Pasien Hiv-Aids (Human
Immunodeficiency Virus-Acquired Immunodeficiency Syndrom) dengan
tepat waktu. Makalah ini disusun guna memenuhi tugas mata kuliah
Keperawatan Medikal Program Studi Ilmu Keperawatan Universitas
Jember.Penyusunan makalah ini tentu tidak lepas dari kontribusi dan
bantuan berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis menyampaikan terima
kasih kepada:
1. Ns. Lantin Sulistyorini, M.Kes selaku Ketua Program Studi Ilmu
Keperawatan Universitas Jember;
2. Ns. Jon Hafan Sutawardana, M.Kep., Sp.Kep.MB, selaku
Penanggungjawab matakuliah Keperawatan Medikal Program
Studi Ilmu Keperawatan Universitas Jember;
3. Ns. Baskoro Setioputro, S.Kep., M.Kep. selaku dosen pengampu
matakuliah Keperawatan Medikal Program Studi Ilmu
Keperawatan Universitas Jember; dan
4. semua pihak yang telah membantu hingga terselesaikannya tugas
ini.
Kami menyadari dalam menyelesaikan tugas ini banyak kekurangan
dari teknik penulisan dan kelengkapan materi yang jauh dari sempurna.
Kami juga menerima kritik dan saran yang membangun sebagai bentuk
pembelajaran agar meminimalisir kesalahan dalam tugas berikutnya.
Semoga dengan terselesaikan tugas ini dapat memberikan manfaat bagi
kita semua.

Jember, November
2016

3
4
DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL ..............................................................................


i
HALAMAN JUDUL .................................................................................
ii
KATA PENGANTAR ................................................................................
iii
DAFTAR ISI ..............................................................................................
iv
BAB 1. Pendahuluan
1.1 Latar Belakang .............................................................................
......................................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah .........................................................................
......................................................................................................1
1.3 Tujuan............................................................................................
......................................................................................................2
1.4 Implikasi Keperawatan..................................................................
......................................................................................................2
BAB 2. Tinjauan Pustaka
2.1 Pengertian HIV-AIDS....................................................................
......................................................................................................4
2.2 Epidemiologi HIV-AIDS...............................................................
......................................................................................................4
2.3 Etiologi HIV-AIDS........................................................................
......................................................................................................6
2.4 Klasifikasi HIV-AIDS....................................................................
......................................................................................................7
2.5 Manifestasi Klinis HIV-AIDS........................................................
9
2.6 Patofisiologi HIV-AIDS.................................................................
12
2.7 Komplikasi dan Prognosis HIV-AIDS...........................................
13

5
2.8 Pemeriksaan Penunjang HIV-AIDS...............................................
16
2.9 Penatalaksanaan Medis HIV-AIDS................................................
17
2.10......................................................................................................C
ara Pencegahan Terjadinya HIV-AIDS..........................................
22
BAB 3. PATHWAY HIV-AIDS..................................................................
27
BAB 4. ASUHAN KEPERAWATAN
4.1 Pengakajian.....................................................................................
29
4.2 Diagnosa Keperawatan...................................................................
33
4.3 Intervensi Keperawatan..................................................................
34
4.4 Implementasi Keperawatan.............................................................
42
4.5 Evaluasi...........................................................................................
46

BAB 5. Penutup
5.1Kesimpulan .....................................................................................
........................................................................................................... 49
5.2 Saran ..............................................................................................
........................................................................................................... 49
DAFTAR PUSTAKA

6
BAB 1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) merupakan suatu
penyakit retrovirus yang disebabkan oleh HIV dan ditandai dengan imunosupresi
berat yang menimbulkan infeksi oportunistik, neoplasma sekunder dan
menisfetasi neurologis (Kumay,2007). HIV/AIDS merupakan salah satu penyakit
yang mengancam hidup manusia. Saat ini tidak ada negara yang terbebas dari
HIV/AIDS. Epidemiologi HIV pertama diidentifikasi pada tahun 1983. Derajat
kesakitan dan kematian yang disebabkan oleh HIV dan dampak global dari infeksi
HIV terhadap sumber daya penyedia kesehatan dan ekonomi sudah meluas dan
terus berkembang. HIV telah menginfeksi 50-60 juta orang dan menyebabkan
kematian pada orang dewasa dan anak-anak lebih dari 22 juta orang. Lebih dari 42
juta orang hidup dengan infeksi HIV dan AIDS, yang kira-kira 70% berada di
Afrika dan 20% berada di Asia, dan hampir 3 juta orang meninggal setiap tahun.
Penyakit ini sangat berbahaya karena sekitar setengah dari 5 juta kasus baru setiap
tahun terjadi pada dewasa muda, yaitu 15 24 tahun (Abbas, 2007).
HIV/AIDS dimata dunia dipandang sebagai penyakit yang mematikan,
menjijikkan dan menakutkan sehingga banyak orang takut akan penyakit tersebut,
termasuk untuk merawat orang dengan penyakit HIV/AIDS. Perawat merupakan
faktor yang mempunyai peran penting pada perawatan pasien dengan HIV/AIDS
khususnya dalam memfasilitasi dan mengarahkan koping pasien yang konstruktif
agar pasien dapat beradaptasi dengan sakitnya dan pemberian dukungan sosial,
berupa dukungan emosional, perawatan pasien, dan pemberian informasi kepada
pasien. Pada makalah ini, kelompok memaparkan tentang asuhan keperawatan
pada pasien dengan HIV/AIDS.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang di atas, maka penulis menetapkan beberapa
rumusan masalah, di antaranya adalah sebagai berikut.
1.2.1 Apa definisi HIV/AIDS?
1.2.2 Bagaimana epidemiologi HIV/AIDS?
1.2.3 Apa saja etiologi HIV/AIDS?
1.2.4 Bagaimana klasifikasi dari HIV/AIDS?
1.2.5 Apa saja tanda dan gejala HIV/AIDS?
1.2.6 Bagaimana patofisiologi HIV/AIDS?
1.2.7 Apa saja komplikasi dan prognosis HIV/AIDS?
1.2.8 Bagaimana Pemeriksaan Penunjang HIV/AIDS?
1.2.9 Bagaimana Penatalaksanaan Medis HIV/AIDS?
1.2.10 Bagaimana cara mencegah terjadinya HIV/AIDS?
1.2.11 Bagaimana pathway HIV/AIDS?
1.2.12 Bagaimana asuhan keperawatan NANDA dan NIC NOC pada
pasien HIV/AIDS?

1.3 Tujuan
1.3.1 Tujuan Umum
Untuk mengetahui asuhan keperawatan dan tindakan keperawatan pada
pasien dengan HIV/AIDS.
1.3.2 Tujuan Khusus
1 Mengetahui konsep dasar dari HIV/AIDS (definisi, etiologi,
epidemiologi, tanda dan gejala, komplikasi, prognosis, patofisiologi,
pengobatan, penatalaksanaan medis, dan pencegahan).
2 Mengetahui asuhan keperawatan pasien dengan HIV/AIDS
(Pengkajian, Diagnosa, Intervensi, Implementasi, Evaluasi).

1.4 Implikasi Keperawatan


HIV/AIDS merupakan penyakit yang banyak ditemui di lapangan tempat
perawat bekerja. Dalam menangani dan merawat pasien dengan HIV/AIDS
perawat memiliki peranan penting, baik dalam perawatan secara fisiologis
maupun psikologis dan sosial. Perawat harus mampu menangani permasalahan
pada pasien dengan HIV/AIDS meskipun penyakit tersebut mudah menular
melalui cairan tubuh, perawat tidak perlu mengalami ketakutan yang amat besar
karena perawat dapat melakukan tindakan sesuai dengan standar operasional
prosedur keperawatan. Sebagai perawat, profesionalitas diuji saat menangani
permasalahan contohnya seperti penyakit HIV/AIDS.
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian HIV-AIDS


HIV (Human Immunodeficiency Virus) merupakan retrovirus bersifat
limfotropik khas yang menginfeksi sel-sel dari sistem kekebalan tubuh,
menghancurkan atau merusak sel darah putih spesifik yang disebut limfosit T-
helper atau limfosit pembawa faktor T4 (CD4). Virus ini diklasifikasikan
dalam famili Retroviridae, subfamili Lentiviridae, genus Lentivirus.10,17
Selama infeksi berlangsung, sistem kekebalan tubuh menjadi lemah dan orang
menjadi lebih rentan terhadap infeksi (Smeltzer, 2001). Tingkat HIV dalam
tubuh dan timbulnya berbagai infeksi tertentu merupakan indikator bahwa
infeksi HIV telah berkembang menjadi AIDS (Acquired Imunnodeficiency
Syndrome). Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) merupakan suatu
penyakit retrovirus yang disebabkan oleh HIV dan ditandai dengan imunosupresi
berat yang menimbulkan infeksi oportunistik, neoplasma sekunder dan
menisfetasi neurologis. HIV telah ditetapkan sebagai agens penyebab acquired
Immune Deficiency Syndrom (AIDS) (Kumay,2007).

Gambar 2.1 Virus HIV

2.2 Epidemiologi HIV-AIDS


Pada Kasus HIV/AIDS pertama di dunia dilaporkan pada tahun 1981.
Menurut UNAIDS, salah satu bagian dari WHO yang mengurus tentang
AIDS menyebutkan bahwa perkiraan jumlah penderita yang terinfeksi
HIV/AIDS di seluruh dunia sampai dengan akhir tahun 2010 mencapai 34 juta.
Dilihat dari tahun 1997 hingga tahun 2011 jumlah penderita HIV/AIDS
mengalami peningkatan hingga 21%. Pada tahun 2011, UNAIDS
memperkirakan jumlah penderita baru yang terinfeksi HIV/AIDS sebanyak
2,5 juta. Jumlah orang yang meninggal karena alasan yang terkait AIDS pada
tahun 2010 mencapai 1,8 juta, menurun dibandingkan pada pertengahan
tahun 2000 yang mencapai puncaknya yaitu sebanyak 2,2 juta.

Gambar 2.2 Penderita HIV kasus baru dan kematian akibat AIDS di Dunia

Di Indonesia, jumlah penderita HIV/AIDS terus meningkat dari tahun


ke tahun tetapi jumlah kasus baru yang terinfeksi HIV/AIDS relatif stabil bahkan
cenderung menurun. Menurut Laporan HIV-AIDS Triwulan II Tahun 2012,
didapatkan jumlah kasus baru HIV pada triwulan kedua (April-Juni 2012)
sebanyak 3.892 kasus dan jumlah kasus kumulatif HIV pada Januari 1987- Juni
2012 sebanyak 86.762 kasus. Sedangkan kasus baru AIDS pada triwulan
kedua (April-Juni 2012) sebanyak 1.673 kasus dan jumlah kasus kumulatif
AIDS pada Januari 1987- Juni 2012 sebanyak 32.103 kasus. Pada kasus baru
HIV, Provinsi Jawa Tengah menduduki peringkat ke 7 se-Indonesia dan
pada kasus baru AIDS, Provinsi Jawa Tengah menduduki peringkat ke 2 se-
Indonesia. Kasus HIV menurut usia pada Januari-Juni 2012 terbanyak pada
25-49 tahun. Pada kasus AIDS, terbanyak pada usia 30-39 tahun. Jenis
kelamin pada kasus HIV adalah 12 laki-laki sebanyak 57% dan wanita
sebanyak 43%. Jenis kelamin pada kasus AIDS adalah laki-laki sebanyak
61,8% dan perempuan sebanyak 38,1%. Jadi dapat disimpulkan, kasus HIV
dan AIDS menurut jenis kelamin lebih banyak pada laki-laki. Pada tahun
2012 angka kematian AIDS mengalami penurunan menjadi 0,9%
dibandingkan dengan tahun 2011.

Gambar 2.3 Jumlah Kasus HIV/AIDS tahun 2003-Juni 2012

2.3 Klasifiasi HIV-AIDS


Klasifikasi HIV/AIDS pada orang dewasa menurut CDC (Centers for
Disease Control) dibagi atas empat tahap, yakni:
1. Infeksi HIV akut
Tahap ini disebut juga sebagai infeksi primer HIV. Keluhan muncul setelah
2-4 minggu terinfeksi. Keluhan yang muncul berupa demam, ruam merah
pada kulit, nyeri telan, badan lesu, dan limfadenopati. Pada tahap ini,
diagnosis jarang dapat ditegakkan karena keluhan menyerupai banyak
penyakit lainnya dan hasil tes serologi standar masih negatif (Murtiastutik,
2008).
2. Infeksi Seropositif HIV Asimtomatis
Pada tahap ini, tes serologi sudah menunjukkan hasil positif tetapi gejala
asimtomatis. Pada orang dewasa, fase ini berlangsung lama dan penderita bisa
tidak mengalami keluhan apapun selama sepuluh tahun atau lebih. Berbeda
dengan anak- anak, fase ini lebih cepat dilalui (Murtiastutik, 2008).
3. Persisten Generalized Lymphadenopathy (PGL) Pada fase ini ditemukan
pembesaran kelenjar limfe sedikitnya di dua tempat selain limfonodi
inguinal. Pembesaran ini terjadi karena jaringan limfe berfungsi sebagai
tempat penampungan utama HIV. PGL terjadi pada sepertiga orang yang
terinfeksi HIV asimtomatis. Pembesaran menetap, menyeluruh, simetri, dan
tidak nyeri tekan (Murtiastutik, 2008).
4. AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome) Hampir semua orang yang
terinfeksi HIV, yang tidak mendapat pengobatan, akan berkembang menjadi
AIDS. Progresivitas infeksi HIV bergantung pada karakteristik virus dan
hospes. Usia kurang dari lima tahun atau lebih dari 40 tahun, infeksi yang
menyertai, dan faktor genetik merupakan faktor penyebab peningkatan
progresivitas. Bersamaan dengan progresifitas dan penurunan sistem imun,
penderita HIV lebih rentan terhadap infeksi. Beberapa penderita mengalami
gejala konstitusional, seperti demam dan penurunan berat badan, yang tidak
jelas penyebabnya. Beberapa penderita lain mengalami diare kronis dengan
penurunan berat badan. Penderita yang mengalami infeksi oportunistik dan
tidak mendapat pengobatan anti retrovirus biasanya akan meninggal kurang
dari dua tahun kemudian (Murtiastutik, 2008).
Setelah terjadi infeksi HIV ada masa dimana pemeriksaan serologis
antibodu HIV masih menunjukkan hasil negative, sementara virus sebenarnya
telah ada dalam jumlah banyak. Pada masa ini, yang disebut window period
(periode jendela), orang yang telah terinfeksi ini sudah dapat menularkan kepada
orang lain walaupun pemeriksaan anti bodi HIV hasilnya negative, periode ini
berlangsung selama 3-12 minggu. Sebenarnya telah ada pemeriksaan
laboratorium yang dapat mendeteksi , yaitu pemeriksaan kadar antigen p24 yang
meningkat bermakna. Tetapi pemeriksaan ini mahal dan masih terbatas yang dapat
melaksanakannya.

2.4 Etiologi HIV-AIDS


Penyebab AIDS adalah sejenis virus yang tergolong Retrovirus yang
disebut Human Immunodeficiency Virus (HIV). Virus ini pertama kali diisolasi
oleh Montagnier dan kawan-kawan di Prancis pada tahu 1983 dengan nama
Lymphadenopathy Associated Virus (LAV), sedangkan Gallo di Amerika Serikat
pada tahun 1984 mengisolasi (HIV) III. Kemudian atas kesepakatan internasional
pada tahun 1986 nama Virus dirubah menjadi HIV. Human Immunodeficiency
Virus adalah sejenis Retrovirus RNA. Dalam bentunknya yang asli merupakan
partikel yang inert, tidak dapat berkembang atau melukai sampai ia masuk ke sel
target. Sel target virus ini terutama sel lymfosut T, karena ia mempunyai reseptor
untuk virus HIV yang disebut CD-4.Didalam sel Lymfosit T, virus dapat
berkembang dan seperti retrovirus yang lain, dapat tetap hidup lama dalam sel
dalam keadaan inaktif. Walaupun demikian virus dalam tubuh pengidap HIV
selalu dianggap infeksius yang setiap saat dapat aktif dan dapat ditularkan selama
hidup penderita tersebut.
Secara mortologis HIV terdiri atas 2 bagian besar yaitu bagian inti (core)
dan bagian selubung (envelop). Bagian ini berbentuk silindris tersusun atas dua
untaian RNA (Ribonucleic Acid). Enzim reverce transcriptase dan beberapa jenis
protein. Bagian selubung terdiri atas lipid dang liprotein (gp 41 dan gp 120). Gp
120 berhubungan dengan reseptor lymfosit (T4) yang rentan. Karena bagian luar
virus (lemak) tidak tahan panas, bahan kimia , maka HIV termasuk virus sensitis
terhadap pengaruh berbagai desinfektan seperti eter, asetor, alcohol, jodium
hipoklorit dan sebagainya, tetapi relative resisten terhadap radiasi dan sinae
ultraviolet. Virus HIV hidup dalam darah, saliva, semen, air mata dan mudah mati
diluar tubuh. HIV dapat juga ditemukan dalam sel monosit, makrotag dan sel glia
jaringan otak (Siregar, 2008).
Jenis Virus RNA dalm Proses replikasinya haru membuat sebuah salinan
Deoxyribo Nuclleic Acid (DNA) dari RNA yang ada di dalam virus. Gen DNA
tersebut yang memungkinkan virus untuk bereplikasi. Seperti halnya virus yang
lain, HIV hanya dapat bereplikasi di dalam sel induk. Di dalam inti vrus juga
terdapat enzim-enzim yang digunakan untuk membuat salinan RNA, yang
diperlukan untuk replikasi HIV yakni antarai lain reverse transcriptase, integrase
dan protease. RNA diliputi oleh kapsul berbentuk kerucut terdiri atas sekitar 200
kopi p24 protein virus. Dikenal dua tipe HIV yaitu HIV -1 yang ditemukan pada
tahun 1983 dan HIV- 2 ditemukan pada tahun 1986. Pada pasien AIDS di Afrika
Barat. HIV-1 dan HIV-2 mempunyai struktur yang hampir sama tetapi mempunyai
perbedaan struktur genom. HIV-1 mempunyai gen vpu tetapi tidak punya vpx,
sedangkan HIV-2 sebalinya, peberbedaan Struktur genom ini walaupun sedikit,
diperkirakan mempunyai peranan dalam menentukan patogenenitas dan
perbedaan perjalanan penyakit diantara kedua tipe HIV. Karena HIV-1 yang lebih
sering ditemukan , maka penelitian-penelitian klinis dan laboratoris lebih sering
dilakuakan terhadap HIV-1. Jumlah limfosit T penting untuk menentukan
progresifitas penyakit infeksi HIV ke AIDS. Sel T yang terinfeksi tidak akan
berfungsi lagi dan akhirnya mati. Infeksi HIV ditandai dengan adanya penurunan
drastis sel T dari darah tepi (Fajar, 2013).

2.5 Manifestasi Klinis HIV-AIDS


Sindroma HIV akut adalah istilah untuk tahap awal infeksi HIV. Gejalanya
meliputi demam, lemas, nafsu makan turun, sakit tenggorokan (nyeri saat
menelan), batuk, nyeri persendian, diare, pembengkakkan kelenjar getah bening,
bercak kemerahan pada kulit (makula / ruam). Diagnosis AIDS dapat ditegakkan
apabila menunjukkan tes HIV positif dan sekurang-kurangnya didapatkan 2 gejala
mayor dan 1 gejala minor (Siregar, 2004).
a Gejala Mayor
1 Berat badan turun >10% dalam 1 bulan
2 Diare kronik >1 bulan
3 Demam berkepanjangan >1 bulan
4 Penurunan kesadaran
5 Demensia / HIV ensefalopati
b Gejala Minor
1 Batuk menetap >1 bulan
2 Dermatitis generalisata (peradangan kulit yang menyebabkan gatal)
3 Herpes Zooster multisegmental dan berulang
Herpes zoster biasanya menyebabkan ruam lepuh yang mengikuti jalan
saraf yang memanjang dari sumsum tulang belakang (dikenal sebagai
pola dermatomal). Walaupun sering kali sakit, herpes zoster biasanya
jinak; biasanya dapat terjadi selama tiga sampai empat minggu tanpa
menyebabkan masalah serius atau masalah jangka panjang, Namun,
terkadang, penyakit ini dapat menjadi rumit dengan kambuhan,
kerusakan organ tubuh dan pola dermatomal ganda.
Herpes zoster telah menjadi lebih umum di antara orang yang hidup
dengan HIV, terutama di kalangan anak muda dengan HIV
dibandingkan dengan orang yang dicocokkan dengan usia yang sama
dari populasi umum. Pada beberapa tahun setelah tersedianya
kombinasi terapi antiretroviral, studi tidak menunjukkan bahwa risiko
herpes zoster menurun. Faktanya, beberapa peneliti menyarankan
bahwa insidensi ini mungkin meningkat karena Odha hidup lebih lama
dan karena herpes zoster dapat menjadi efek samping dari sindrom
pemulihan kekebalan tubuh yang terjadi di antara orang dengan CD4
yang rendah yang menanggapi dengan baik terhadap antiretroviral.
4 Kandidiasis orofaringeal (penyakit jamur pada rongga mulut dan
kerongkongan)
Candidiasis oral (thrush) adalah infeksi pada mulut dan atau
kerongkongan yang disebabkan oleh jamur. Candidiasis oral kadang-
kadang dapat terjadi tanpa gejala, gejala yang paling umum adalah rasa
tidak enak dan terbakar ada mulut serta perubahan rasa. Candidiasis
oral tergolong dalam mucocutaneous candidiasis. Mucocutaneous
candidiasis pada infeksi HIV terdiri atas tiga bentuk antara lain:
oropharyngeal, esophageal, dan vulvovaginal. Oropharyngeal
candidiasis (OPC) adalah manifestasi yang pertama kali muncul dari
infeksi HIV dan secara umum terdapat pada mayoritas penderita HIV
yang tidak diobati. Pada beberapa bulan sampai tahun setelah
terinfeksi virus HIV muncul infeksi oportunistik berupa orofaringeal
candidiasis yang mungkin merupakan suatu tanda atau indikasi dari
kehadiran/munculnya virus HIV, walaupun pada umumnya tidak
berhubungan dengan keadaan umum pasien. OPC secara klinis adalah
penting untuk mencurigai adanya infeksi virus HIV. OPC pada
penderita AIDS tidak berespons dengan pengobatan atau dengan upaya
peningkatan gizi (pemberian gizi yang adekuat) dan dapat menyebar ke
esophagus
5 Herpes simpleks kronis progresif
Herpes simpleks berkenaan dengan sekelompok virus yang menulari
manusia. Serupa dengan herpes zoster, herpes simpleks menyebabkan
luka-luka yang sangat sakit pada kulit. Gejala pertama biasanya gatal-
gatal dan kesemutan/perasaan geli, diikuti dengan lepuh yang
membuka dan menjadi sangat sakit. Infeksi ini dapat dorman (tidak
aktif) dalam sel saraf selama beberapa waktu. Namun tiba-tiba infeksi
menjadi aktif kembali. Herpes dapat aktif tanpa gejala atau tanda
kasatmata. Herpes simpleks tidak termasuk infeksi yang
mendefinisikan AIDS. Namun orang yang terinfeksi HIV dan herpes
simpleks bersamaan lebih mungkin mengalami jangkitan herpes lebih
sering. Jangkitan ini dapat lebih berat dan bertahan lebih lama
dibandingkan dengan orang tidak terinfeksi HIV.
6 Limfadenopati generalisata (pembesaran di semua kelenjar limfa)
Limfadenopati berarti penyakit pada kelenjar atau aliran getah bening
(sistem limfatik). Biasanya, penyakit tersebut terlihat sebagai kelenjar
getah bening menjadi bengkak, sering tanpa rasa sakit. Pembengkakan
kelenjar itu disebabkan oleh reaksi sistem kekebalan tubuh terhadap
berbagai infeksi, yaitu HIV.
7 Infeksi jamur berulang pada alat kelamin wanita
Kandidiasis vagina merupakan keputihan yang disebabkan oleh jamur
Candida albicans. Pada keadaan normal, jamur ini terdapat di kulit
maupun di dalam liang kemaluan perempuan. Tetapi pada keadaan
tertentu, jamur ini meluas sedemikian rupa sehingga menimbulkan
keputihan.
Gejalanya berupa keputihan berwarna putih seperti susu, bergumpal,
disertai rasa gatal panas dan kemerahan pada kelamin dan di
sekitarnya.
8 Retinitis virus sitomegalo
Virus sitomegalia (cytomegalovirus/CMV) adalah virus yang dapat
mengakibatkan infeksi oportunistik . Virus ini sangat umum. Sistem
kekebalan tubuh yang sehat mengendalikan virus ini, sehingga tidak
mengakibatkan penyakit.
Waktu pertahanan kekebalan menjadi lemah, CMV dapat menyerang
beberapa bagian tubuh. Kelemahan tersebut dapat disebabkan oleh
berbagai penyakit termasuk HIV. Terapi antiretroviral (ART) sudah
mengurangi angka penyakit CMV pada Odha secara bermakna.
Namun, kurang lebih 5% Odha masih mengalami penyakit CMV.
Beberapa tes HIV adalah Full Blood Count (FBC), pemeriksaan fungsi hati,
pemeriksaan fungsi ginjal : Ureum dan Creatinin, analisa urin, pemeriksaan feses
lengkap. Pemeriksaan Penunjang adalah tes antibody terhadap HIV, Viral load,
CD4/CD8.

2.6 Patofisiologi HIVAIDS


HIV tergolong ke dalam kelompok virus yang dikenal sebagai retrovirus
yang menunjukan bahwa virus tersebut membawa materi genetiknya dalam asam
ribonukleat (RNA) dan bukan dalam deoksiribonukleat (DNA). Virion HIV
(partikel virus yang lengkap dibungkus oleh selubung pelindung) mengandung
RNA dalam inti berbentuk peluru yang terpancung di mana p24 merupakan
komponen structural yang utama. Tombol (knob) yang menonjol lewat dinding
virus terdiri atas protein gp120 yang terkait pada protein gp41. Bagian yang
secara selektif berikatan dengan sel-sel CD4 positif adalah gp120 dari HIV. Sel
CD4 positif mencakup monosit, makropag dan limfosit T4 helper (dinamakan sel-
sel CD4 + jika dikaitkan dengan infeksi HIV).
Limfosit T4 helper ini merupakan sel yang paling banyak diantara ketiga
sel di atas. Sesudah terikat dengan membran sel T4 helper HIV akan
menginjeksikan dua utas benang RNA yang identik ke dalam sel T4 helper,
dengan menggunakan enzim yang dikenal sebagai reverse transcriptase HIV akan
melakukan pemrograman ulang materi genetic dari sel T4 yang terinfeksi untuk
membuat double stranded DNA (DNA utau ganda). DNA ini akan disatukan ke
dalam nucleus sel T4 sebagai sebuah provirus dan kemudian infeksi yang
permanen (Brunner & Suddart2002).
Siklus replikasi HIV dibatasi dalam stadium ini sampai sel yang terinfeksi
diaktifkan. Aktivitas sel yang terinfeksi dapat dilaksanakan oleh antigen, mitogen,
sitogen (TNF alfa atau interleukin I) atau produk gen virus seperti :
CMV(cytomegalovirus), virus Epstein Barr, herpes simplek dan hepatitis. Sebagai
akibatnya pada sel T4 yang terifeksi diaktifkan, replikasi serta pembentukan tunas
HIV akan terjadi dan sel T4 dihancurkan. HIV yang baru ini kemudian dilepas ke
dalam plasma darah dan menginfeksi CD4+ lainnya. Jika fungsi limfosit T4
terganggu mikroorganisme yang biasanya tidak menimbulkan penyakit akan
memiliki kesempatan untuk menginvasi dan menyebabkan sakit yang serius.
Infeksi dan malignansi yang timbul sebagai akibat dari gangguan sistem imun
dinamakan infeksi oportunistik (Brunner & Suddart2002). Infeksi monosit dan
makrofag berlangsung secara persisten dan tidak mengakibatkan kematian sel
yang bermakna, tetapi sel sel ini menjadi reservoir bagi HIV sehingga virus
tersebut dapat tersembunyi dari sistem imun dan terangkut ke seluruh tubuh lewat
sistem ini untuk menginfeksi berbagai jaringan tubuh (Brunner & Suddart2002).

2.7 Komplikasi dan Prognosis


Menurut Arif Mansjoer (2000), komplikasi yang dapat terjadi pada
penderit HIV/AIDS adalah:
a Pneumonia pneumocystis (PCP)
Pneumocystis pneumonia (PCP) merupakan penyakit oportunistik pada
infeksi HIV (human immunodefi ciency virus) yang disebabkan oleh
Pneumocystis jiroveci. Infeksi Pneumocystis pneumonia terjadi bila kadar
CD4 penderita kurang dari 200 sel/mm3. Profi laksis diberikan bila kadar
CD4 pada penderita HIV kurang dari 200 sel/mm3. Obat yang digunakan
untuk pengobatan PCP antara lain trimetoprim-sulfametoksazol,
primakuin, klindamisin, atavaquon, pentamidin.
b Tuberculosis (TBC)
Sistem kekebalan tubuh bertugas untuk melawan infeksi yang menyerang
tubuh. Usaha menyerang infeksi ini dapat melemahkan sistem kekebalan,
dan menyebabkan jumlah CD4 menurun, walaupun biasanya setelah
sembuh, CD4-nya naik lagi. Tetapi bila sistem kekebalan seorang Odha
harus melawan infeksi lain, serangannya terhadap HIV berkurang, dan
viral load juga akan naik. TB dianggap IO, tetapi penyakit akibat TB
dapat muncul dengan jumlah CD4 yang tinggi termasuk pada orang
dengan HIV.
c Esofagitis
Esofagitis adalah peradangan pada kerongkongan (esofagus), yaitu jalur
makanan dari mulut ke lambung. Pada individu yang terinfeksi HIV,
penyakit ini terjadi karena infeksi jamur (jamurkandidiasis) atau virus
(herpes simpleks-1 atau virus sitomegalo). Ia pun dapat disebabkan oleh
mikobakteria, meskipun kasusnya langka.
d Diare
Diare kronis yang tidak dapat dijelaskan pada infeksi HIV dapat terjadi
karena berbagai penyebab; antara lain infeksi bakteri dan parasit yang
umum (seperti Salmonella, Shigella, Listeria, Kampilobakter, dan
Escherichia coli), serta infeksi oportunistik yang tidak umum dan virus
(seperti kriptosporidiosis, mikrosporidiosis, Mycobacterium avium
complex, dan virus sitomegalo (CMV) yang merupakan penyebab
kolitis).
Pada beberapa kasus, diare terjadi sebagai efek samping dari obat-obatan
yang digunakan untuk menangani HIV, atau efek samping dari infeksi
utama (primer) dari HIV itu sendiri. Selain itu, diare dapat juga
merupakan efek samping dari antibiotik yang digunakan untuk
menangani bakteri diare (misalnya pada Clostridium difficile). Pada
stadium akhir infeksi HIV, diare diperkirakan merupakan petunjuk
terjadinya perubahan cara saluran pencernaan menyerap nutrisi, serta
mungkin merupakan komponen penting dalam sistem pembuangan yang
berhubungan dengan HIV.
e Tksoplasmositis
Infeksi HIV dapat menimbulkan beragam kelainan tingkah laku karena
gangguan pada syaraf (neuropsychiatric sequelae), yang disebabkan oleh
infeksi organisma atas sistem syaraf yang telah menjadi rentan, atau
sebagai akibat langsung dari penyakit itu sendiri.
Toksoplasmositis adalah penyakit yang disebabkan oleh parasit bersel-
satu, yang disebut Toxoplasma gondii. Parasit ini biasanya menginfeksi
otak dan menyebabkan radang otak akut (toksoplasma ensefalitis),
namun ia juga dapat menginfeksi dan menyebabkan penyakit pada mata
dan paru-paru. Meningitis kriptokokal adalah infeksi meninges
(membran yang menutupi otak dan sumsum tulang belakang) oleh jamur
Cryptococcus neoformans. Hal ini dapat menyebabkan demam, sakit
kepala, lelah, mual, dan muntah. Pasien juga mungkin mengalami sawan
dan kebingungan, yang jika tidak ditangani dapat mematikan.
f Leukoensefalopati multifocal prigesif
Leukoensefalopati multifocal prigesif adalah penyakit demielinasi, yaitu
penyakit yang menghancurkan selubung syaraf (mielin) yang menutupi
serabut sel syaraf (akson). sehingga merusak penghantaran impuls syaraf.
Ia disebabkan oleh virus JC. yang 70Vo populasinya terdapat di tubuh
manusia dalam kondisi laten. dan meny'ebabkan penyakit hanya ketika
sistem kekebalan sangat lemah. sebagaimana,yang teriadi pada pasien
AIDS. Penyakit ini berkembang cepat (progresif) dan menyebar
(multilokal). sehingga biasam amenyebabkan kematian dalam waktu
sebulan setelah diagnosis.
g Sarcoma Kaposi
Sarcoma Sarkoma Kaposi adalah tumor yang paling umum menyerang
pasien yang terinfeksi HIV. Kemunculan tumor ini pada sejumlah
pemuda homoseksual tahun l98l adalah salah satu pertanda pertama
wabah AIDS. Penyakit ini disebabkan oleh virus dari subfamily
gammaherpesvirinae, yaitu virus herpes manusia-8 yang.iuga.disebut
virus herpes Sarkoma Kaposi (KSHV). Penyakit ini sering muncnl di
kulit dalam bentuk bintik keungu-unguan. tetapi dapat menverang organ
lain. terutama mulut. saluran pencemaan. dan paru-paru.
h Kanker getah bening
Kanker getah bening adalah kanker yang menverang sel darah putih dan
terkumpul dalam kelenjar getah bening. misalnya seperti limfbda Burkitt
(Burkitt'.s lymphomct) atau sejenisnya (Burkitt'.s-like lymphoma).
difussi large B-cell Ivmphoma (DLBCL), dan limfoma sistem syaraf
pusat primer, lebih sering muncul pada pasien yang terinfeksi HIV.
Kanker ini seringkali merupakan perkiraan kondisi (prognosis) yang
buruk. Pada beberapa kasus. limfoma adalah tanda utama AIDS. l-idfbma
ini sebagian besar disebabkan oleh virus Epstein-Ban atau virus herpes
Sarkoma Kaposi.Kanker leher rahim pada wanita yang terkena HIV
dianggap tanda utama AIDS. Kanker ini disebabkan oleh virus papiloma
manusia.
i Kanker leher rahim (pada wanita yang terkena HIV).
Kanker serviks adalah kanker yang muncul pada leher rahim wanita.
Hampir seluruh kanker Rahim sdisebabkan oleh infeksi Hman Papillona
Virus( HPV).

2.8 Pemeriksaan Penunjang


Human Immunodefeciency Virus dapat di isolasi dari cairan-cairan yang
berperan dalam penularan AIDS seperti darah, semen dan cairan serviks atau
vagina. Diagnosa adanya infeksi dengan HIV ditegakkan di laboratoruim dengan
ditemukannya antibodi yang khusus terhadap virus tersebut.
a Untuk pemeriksaan pertama biasanya digunakan Rapid tes untuk melakukan
uji tapis. Saat ini tes yang cukup sensitif dan juga memiliki spesifitas yang
tinggi. Hasil yang positif akan diperiksa ulang dengan menggunakan tes yang
memiliki prinsip dasar tes yang berbeda untuk meminimalkan adanya hasil
positif palsu yaitu ELISA. Rapid Tes hasilnya bisa dilihat dalam waktu kurang
lebih 20 menit.
b Enzyme Linked Immunosorbent Assay (ELISA), bereaksi terhadap adanya
antibody dalam serum dengan memperlihatkan warna yang lebih jelas apabila
terdeteksi jumlah virus yang lebih besar. Biasanya hasil uji ELISA mungkin
masih akan negatif 6 sampai 12 minggu setela pasien terinfeksi. Karena hasil
positif palsu dapat menimbulkan dampak psikologis yang besar, maka hasil uji
ELISA yang positif diulang dan apabila keduanya positif maka dilakukan uji
yang lebih spesifik yaitu Western Blot.
c Western Blot merupakan elektroporesis gel poliakrilamid yang digunakan
untuk mendeteksi rantai protein yang spesifik terhadap DNA. Jika tidak ada
rantai protein yang ditemukan berarti tes negatif. Sedangkan bila hampir atau
semua rantai protein ditemukan berarti western blot positif. Tes ini harus
diulangi lagi setelah 2 minggu dengan sampel yang sama. Jika western blot
tetap tidak bisa disimpulkan maka tes western blot harus diulangi lagi setelah
6 bulan. Jika tes tetap negatif maka pasien dianggap HIV negatif.
d PCR (Polymerase Chain Reaction) Untuk DNA dan RNA virus HIV sangat
sensitive dan spesifik untuk infeksi HIV. Tes ini sering digunakan bila tes yang
lain tidak jelas. (Nursalam, 2007).

2.9 Penatalaksanaan Medis HIV AIDS


Penatalaksanaan HIV/AIDS di UPIPI (Nasronudin, 2007).
a Penatalaksanaan Umum
Istirahat, dukungan nutrisi yang memadai berbasis makronutrien dan
mikronutrien untuk penderita HIV&AIDS, konseling termasuk
pendekatan psikologis dan psikososial, membiasakan gaya hidup sehat
antara lain membiasakan senam seperti yang dilakukan di UPIPI.
b Penatalaksanaan Khusus
Pemberian antiretroviral therapy (ART) kombinasi, terapi infeksi
sekunder sesuai jenis infeksi yang ditemukan, terapi malignansi.
Terapi menurut WHO (2006) yaitu Terapi Antiretroviral (ARV).
Pemberian ARV tidak serta merta segera diberikan begitu saja pada penderita
yang dicurigai, tetapi perlu menempuh langkah-langkah yang arif dan bijaksana,
serta mempertimbangkan berbagai faktor, dokter telah memberikan penjelasan
tentang manfaat, efek samping, resistensi dan tata cara penggunaan ARV,
kesanggupan dan kepatuhan penderita mengkonsumsi obat dalam waktu yang
tidak terbatas, serta saat yang tepat untuk memulai terapi ARV (Nasronudin,
2007).
Rekomendasi memulai terapi antiretroviral penderita dewasa menurut
WHO (2006).
Stadium Pemeriksaan CD4 tidak Pemeriksaan CD4 dapat
Klinis WHO dapat dilakukan dilakukan
I ARV belum Terapi bila CD4 <200 sel/ mm3
direkomendasikan
II ARV belum Mulai terapi bila CD4
direkomendasikan <200 sel/ mm3
III Mulai terapi ARV Pertimbangkan terapi bila
CD4 <350 <200 sel/ mm3 acd dan
mulai ARV sebelum CD4
turun <200 sel/ mm3
IV Mulai terapi ARV Terapi
tanpa
mempertimbangkan
jumlah CD4
Menurut Duarsa Wirya, 2009, belum ada penyembuhan untuk penyakit
HIV/IDS, tetapi apabila telah terinfeksi virus ini maka perlu dilakukan:
a. Pengendalian infeksi opurtunistik
Tujuan pemberian pengendali infeksi opurtunistik adalah untuk
menghilangkan, mengendalikan, dan memulihkan infeksi
opurtunistik,nnasokomial, atau sepsis. Tidakan pengendalian infeksi yang
aman untuk mencegah kontaminasi bakteri dan komplikasi penyebab
sepsis harus dipertahankan bagi pasien dilingkungan perawatan kritis.
b. Terapi AZT (Azidotimidin)
Terapi ini sebagai obat antiviral AZT yang efektif terhadap AIDS, obat ini
menghambat replikasi antiviral Human Immunodeficiency Virus (HIV)
dengan menghambat enzim pembalik traskriptase. AZT tersedia untuk
pasien AIDS yang jumlah sel T4 nya <>3 . Sekarang, AZT tersedia untuk
pasien dengan Human Immunodeficiency Virus (HIV) positif
asimptomatik dan sel T4 > 500 mm3.
c. Terapi antiviral baru
Beberapa antiviral baru yang meningkatkan aktivitas system imun dengan
menghambat replikasi virus atau memutuskan rantai reproduksi virus pada
prosesnya. Obat-obat ini adalah:
1) Didanosine
2) Ribavirin
3) Diedoxycytidin
d. Vaksin dan rekonstruksi virus
Upaya rekonstruksi imun dan vaksin dengan agen tersebut seperti
interferon, maka perawat unit khusus perawatan kritis dapat menggunakan
keahlian dibidang proses keperawatan dan penelitian untuk menunjang
pemahaman dan keberhasilan terapi AIDS (Duarsa, 2003).
Pengobatan
Secara umum pengobatannya dapat dibagi menjadi dua yaitu:
1 Pre exposure prophylaxis (PrPP) untuk pasangan HIV negative
Trials diantara pasangan serodiskordan telah menunjukkan bahwaobat
antiretroviral yang diambil oleh pasangan HIV negative dapat efektif
dalam mencegah penularan HIV dari pasangan HIV positif. Hal ini dikenal
sebagai profilaksis pra-pajanan (PrPP). WHO merekomendasikan bahwa
Negara-negara melaksanakan proyek percontohan pada PrPP untuk
pasangan serodiskordan dan pria serta wanita transgender yang
berhubungan seks dengan laki-laki sebelum keputusan dibuat tentang
kemungkinan penggunaan yang lebih luas dari PrPP (Kemenkes RI, 2011).
2 Post Exposure Prophylaxis untuk HIV (PEP)
Post exposure prophylaxis (PEP) adalah penggunaan obat ARV
dalam waktu 72 jam dari paparan HIV untuk mencegah infeksi. PEP sering
dianjurkan untuk petugas kesehatan seperti risiko terkena jarum suntik di
tempat kerja. PEP meliputi konseling, perawatan pertolongan pertama, tes
HIV, dan tergantung pada tingkat risiko. Postexposure prophylaxis (PEP)
adalah sebuah program dari beberapa obat antiviral, yang dikonsumsi
beberapa kali setiap harinya, paling kurang 30 hari, untuk mencegah
seseorang menjadi terinfeksi dengan HIV sesudah terinfeksi, baik melalui
serangan seksual maupun terinfeksi pada saat melakukan pekerjaan
(Kemenkes RI, 2011)..
Dihubungankan dengan permulaan pengunaan dari PEP, maka
suatu pengujian HIV harus dijalani untuk menetapkan status orang yang
bersangkutan. Informasi dan bimbingan perlu diberikan untuk
memungkinkan orang tersebut mengerti obatobatan, keperluan untuk
mentaati, kebutuhan untuk mempraktekan hubungan seks yang aman dan
memperbaharui pengujian HIV. Antiretrovirals direkomendasikan untuk
PEP termasuk AZT dan 3TC yang digunakan dalam kombinasi. CDC telah
memperingatkan mengenai pengunaan dari Nevirapine sebagai bagian dari
PEP yang berhutang pada bahaya akan kerusakan pada hati. Sesudah
terkena infeksi yang potensial ke HIV, pengobatan PEP perlu dimulai
sekurangnya selama 72 jam, sekalipun terdapat bukti untuk mengusulkan
bahwa lebih awal seseorang memulai pengobatan, maka keuntungannya
pun akan menjadi lebih besar. PEP tidak merekomen dasikan proses
terinfeksi secara biasa ke HIV/AIDS sebagaimana hal ini tidak efektif
100%; hal tersebut dapat memberikan efek samping yang hebat dan
mendorong perilaku seksual yang tidak aman.
Obatobatan Antiretroviral (ARV) bukanlah suatu pengobatan
untuk HIV/AIDS tetapi cukup memperpanjang hidup dari mereka yang
mengidap HIV. Pada tempat yang kurang baik pengaturannya permulaan
dari pengobatan ARV biasanya secara medis direkomendasikan ketika
jumlah sel CD4 dari orang yang mengidap HIV/AIDS adalah 200 atau
lebih rendah. Untuk lebih efektif, maka suatu kombinasi dari tiga atau
lebih ARV dikonsumsi, secara umum ini adalah mengenai terapi
Antiretroviral yang sangat aktif (HAART). Kombinasi dari ARV berikut
ini dapat mengunakan:
a. Nucleoside Analogue Reverse Transcriptase Inhibitors (NRTI'),
mentargetkan pencegahan protein reverse transcriptase HIV dalam
mencegah perpindahan dari viral RNA menjadi viral DNA (contohnya
AZT, ddl, ddC & 3TC).
b. Nonnucleoside Reverse Transcriptase Inhibitors (NNRTI's)
Non-Nucleoside Reverse-Transcriptase Inhibitor (NNRTI)
diperkenalkan pada tahun 1998. Gangguan kulit dan hepar merupakan
efek samping utama pada pemberian NNRTI. Obat ini akan berikatan
dengan enzim reverse transcriptase sehingga dapat memperlambat
kecepatan sintesis DNA HIV atau menghambat replikasi virus. NNRTI
memperlambat reproduksi dari HIV dengan bercampur dengan reverse
transcriptase, suatu enzim viral yang penting. Enzim tersebut sangat
esensial untuk HIV dalam memasukan materi turunan kedalam sel
sel. Obatobatan NNRTI termasuk: Nevirapine, delavirdine
(Rescripta), efavirenza (Sustiva).
c. Protease Inhibitors (PI) mengtargetkan protein protease HIV dan
menahannya sehingga suatu virus baru tidak dapat berkumpul pada sel
tuan rumah dan dilepaskan. Inhibitor protease bekerja berdasarkan
pengenalan rangkaian asam amino dan pembelahan protein HIV. Agen
ini berguna mencegah pembelahan sel yang terinfeksi HIV sehingga
menghambat pembentukan virion baru. Inhibitor protease memiliki
aktivitas yang poten terhadap HIV dan pengobatan dengan agen ini
menurunkan insidens kematian pasien terinfeksi HIV. Erupsi obat yang
terjadi pada penggunaan inhibitor protease sekitar 5% (Kemenkes RI,
2011).

2.10 Pencegahan HIV-AIDS


Tindakan-tindakan untuk mencegah penularan HIV AIDS jika seseorang
belum terinfeksi HIV/AIDS, yaitu (Direktorat Jendral Pemberantasan Penyakit
Menular Dan Penyehatan Lingkungan Departemen RI, 2003 yaitu:
a Pahami HIV/AIDS dan ajarkan pada orang lain
Memahami HIV AIDS dan bagaimana virus ini ditularkan merupakan
dasar untuk melakukan tindakan pencegahan.
b Hindarkan hubungan seksual diluar nikah
Usahakan hanya berhubungan dengan satu orang pasangan,tidak
berhubungan dengan orang lain. Hubungan seks dengan sembarang orang
akan menjadikan pelaku seks bebas ini sangat beresiko terinfeksi HIV,
oleh karena itu mengetahui status HIV/AIDS patner seks sangatlah
penting.
c Gunakan jarum suntik yang baru dan steril
Penyebaran paling cepat HIV AIDS adalah melalui penggunaan jarum
suntik secara bergantian dengan orang yang memiliki status HIV positif,
penularan melalui jarum suntik sering terjadi pada IDU ( Injection Drug
User).
d Gunakan kondom berkualitas
Penggunaan kondom saat berhubungan seks cukup efektif mencegah
penularan HIV AIDS melalui seks.
e Lakukan sirkumsisi
Penelitian pada tahun 2006 oleh National Institutes of Health (NIH)
menunjukkan bahwa pria yang melakukan khitan memiliki resiko 53%
lebih kecil daripada mereka yang tidak melakukan sirkumsisi.
f Lakukan tes HIV secara berkala
Jika seseorang tergolong dalam resiko tinggi, sebaiknya melakukan tes
HIV secara teratur, minimal 1 tahun sekali.
Untuk meminimalkan potensi penyebaran HIV dari pengguna NAPZA
suntik ke masyarakat umum perlu dilaksanakan beberapa upaya seperti
penggunaan alat suntik yang steril, detoksifikasi dan mencari pengganti suntikan,
pendidikan menyeluruh mengenai dampak buruk NAPZA dan HIV/AIDS,
mengurangi peredaran NAPZA, kampanye pemakaian kondom dan meningkatkan
akses masyarakat terhadap kondom, dan peningkatan peran aktif masyarakat
dalam pemberantasan NAPZA serta menerima bekas pengguna NAPZA yang
telah sembuh tanpa diskriminasi (Besral, 2004).
Selain itu ada pencegahan jangka pendek dan jangka panjang (Siregar,
2004) yaitu:
a Upaya Pencegahan AIDS Jangka Pendek
Upaya pencegahan AIDS jangka pendek adalah dengan KIE, memberikan
informasi kepada kelompok resiko tinggi bagaimana pola penyebaran virus
AIDS (HIV), sehingga dapat diketahui langkah-langkah pencegahannya.
Ada 3 pola penyebaran virus HIV melalui hubungan seksual, melaui darah,
dan melalui ibu yang terinfeksi HIV kepada bayinya.
1 Pencegahan Infeksi HIV Melalui Hubungan Seksual
HIV terdapat pada semua cairan tubuh penderita tetapi yang terbukti
berperan dalam penularan AIDS adalah mani, cairan vagina dan darah.
HIV dapat menyebar melalui hubungan seksual pria ke wanita, dari
wanita ke pria dan dari pria ke pria. Setelah mengetahui cara
penyebaran HIV melaui hubungan seksual maka upaya pencegahan
adalah dengan cara :
a) Tidak melakukan hubungan seksual. Walaupun cara ini sangat
efektif, namun tidak mungkin dilaksanakan sebab seks merupakan
kebutuhan biologis.
b) Melakukan hubungan seksual hanya dengan seorang mitra seksual
yang setia dan tidak terinfeksi HIV (homogami)
c) Mengurangi jumlah mitra seksual sesedikit mungkin
d) Hindari hubungan seksual dengan kelompok rediko tinggi tertular
AIDS.
e) Tidak melakukan hubungan anogenital.
f) Gunakan kondom mulai dari awal sampai akhir hubungan seksual
dengan kelompok resiko tinggi tertular AIDS dan pengidap HIV.
2 Pencegahan Infeksi HIV Melalui Darah
Darah merupakan media yang cocok untuk hidup virus AIDS. Penularan
AIDS melalui darah terjadi dengan :
a) Transfusi darah yang mengandung HIV.
b) Jarum suntik atau alat tusuk lainnya (akupuntur, tato, tindik) bekas
pakai orang yang mengidap HIV tanpa disterilkan dengan baik.
c) Pisau cukur, gunting kuku atau sikat gigi bekas pakai orang yang
mengidap virus HIV.
Langkah-langkah untuk mencegah terjadinya penularan melalui darah
adalah:
a) Darah yang digunakan untuk community diusahakan bebas HIV
dengan jalan memeriksa darah donor. Hal ini masih belum dapat
dilaksanakan sebab memerlukan biaya yang tingi serta peralatan
canggih karena prevalensi HIV di Indonesia masih rendah, maka
pemeriksaan donor darah hanya dengan uji petik.
b) Menghimbau kelompok resiko tinggi tertular AIDS untuk tidak
menjadi donor darah. Apabila terpaksa karena menolak, menjadi
donor menyalahi kode etik, maka darah yang dicurigai harus di
buang.
c) Jarum suntik dan alat tusuk yang lain harus disterilisasikan secara
baku setiap kali habis dipakai.
d) Semua alat yang tercemar dengan cairan tubuh penderita AIDS harus
disterillisasikan secara baku.
e) Kelompok penyalahgunaan narkotik harus menghentikan kebiasaan
penyuntikan obat ke dalam badannya serta menghentikan kebiasaan
mengunakan jarum suntik bersama.
f) Gunakan jarum suntik sekali pakai (disposable)
g) Membakar semua alat bekas pakai pengidap HIV.
3 Pencegahan Infeksi HIV Melalui Ibu
Ibu hamil yang mengidap HIV dapat memindahkan virus tersebut kepada
janinnya. Penularan dapat terjadi pada waktu bayi di dalam kandungan,
pada waktu persalinan dan sesudah bayi di lahirkan. Upaya untuk
mencegah agar tidak terjadi penularan hanya dengan himbauan agar ibu
yang terinfeksi HIV tidak hamil. Upaya yang perlu untuk mencegah
terjadinya penularan HIV dari ibu ke bayi, meliputi (Gondo, 2011):
1. Mencegah terjadinya penularan HIV pada
perempuan usia reproduksi
2. Mencegah kehamilan yang tidak direncanakan pada ibu HIV
positif
3. Mencegah terjadinya penularan HIV dari ibu hamil HIV positif ke
bayi yang dikandungnya. Bentuk intervensi berupa:
a) Pelayanan kesehatan ibu dan anak yang komprehensif
b)Layanan konseling dan tes HIVsecara sukarela (VCT)
c) Pemberian obat antiretrovirus (ARV)
d)Konseling tentang HIV dan makanan bayi, serta pemberian
makanan bayi
e) Persalinan yang aman.
4. Memberikan dukungan psikologis, sosial dan perawatan kepada
ibu HIV positif beserta bayi dan keluarganya.
5. Tidak memberikan ASI kepada bayi yang lahir dari ibu yang
mengalami HIV
6. Melakukan teknik persalinan yang aman yaitu dengan teknik
persalinan caesar.
b Upaya pencegahan AIDS jangka panjang
Penyebaran AIDS di Indonesia (Asia Pasifik) sebagian besar adalah
karena hubungan seksual, terutama dengan orang asing. Kasus AIDS
yang menimpa orang Indonesia adalah mereka yang pernah ke luar
negeri dan mengadakan hubungan seksual dengan orang asing. Upaya
jangka panjang yang harus kita lakukan untuk mencegah merajalelanya
AIDS adalah merubah sikap dan perilaku masyarakat dengan kegiatan
yang meningkatkan norma-norma agama maupun Oommun sehingga
masyarakat dapat berperilaku seksual yang bertanggung jawab. Yang
dimaksud dengan perilaku seksual yang bertanggung jawab adalah:
1. Tidak melakukan hubungan seksual sama sekali.
2. Hanya melakukan hubungan seksual dengan mitra seksual yang
setia dan tidak terinfeksi HIV (monogamy).
3. Menghindari hubungan seksual dengan wanita-wanita tuna susila.
4. Menghindari hubungan seksual dengan orang yang mempunyai
lebih dari satu mitra seksual.
5. Mengurangi jumlah mitra seksual sesedikit mungkin.
6. Mengurangi jumlah mitra seksual sesedikit mungkin
7. Hindari hubungan seksual dengan kelompok resiko tinggi tertular
AIDS.
8. Tidak melakukan hubungan anogenital.
9. Gunakan kondom mulai dari awal sampai akhir hubungan seksual.
Kegiatan tersebut dapat berupa dialog antara tokoh-tokoh agama,
penyebarluasan informasi tentang AIDS dengan bahasa agama, melalui penataran
P4 dan lain-lain yang bertujuan untuk mempertebal iman serta norma-norma
agama menuju perilaku seksual yang bertanggung jawab. Dengan perilaku seksual
yang bertanggung jawab diharapkan mampu mencegah penyebaran penyakit
AIDS di Indonesia.
BAB 3. PATHWAY HIV-AIDS

Virus HIV masuk ke dalam tubuh


manusia

Menginfeksi sel yang mempunyai molekul CD4 (Limfosit T4,


Monosit, Sel Dendrit, Sel Langerhaens)

Mengikat molekul CD4

Sel limfosit T4 hancur


Dilakukan pemeriksaan dan
divonis (+) HIV/AIDS Imunitas tubuh menurun

Dijauhi oleh masyarakat

Hambatan Isolasi
Sosial

Suhu
Respon
Infeksi Oportunistik tubuh
mediator
Hipertermi
meningkat
inflamasi

Sistem pernafasan Sistem pencernaan Sistem Integumen Perubahan


Sistem
Kurang terpapar
neurologis
persepsi terhadap
informasi
Infeksi jamur penyakit
Peradangan pada Infeksi flora Peradangan
jalan nafas pada mulut normal di usus Infeksi sistem saraf
pada kulit
pusat dan tepi
Ansietas
Banyak sekret di Infeksi meluas ke Peristaltik usus Timbul lesi atau
jalan nafas kerongkongan meningkat bercak putih
Penurunan
Kurang
Obstruksi jalan nafas kesadaran, kejang
Pengetahuan
Sulit menelan Diare
oleh sekret, sesak Timbul dan
Rasanyeri kepala
Timbul
Gatal dan bersisik
perasaan malu
Anoreksia pada kulit Nyeri Akut
Diare lama dan
Bersihan Jalan
berulang
Nafas Tidak Efektif
Intake menurun, Kerusakan
nutrisi tidak Integritas Kulit Citra
Risiko Gangguan
Pola Nafas terpenuhi, BB
Ketidakseimbangan Kerusakan
Tubuh memori
Tidak Efektif menurun
Elektrolit

Ketidakseimbangan
nutrisi: kurang dari
Tubuh
BAB 4. ASUHAN KEPERAWATAN

Kasus
Tn. A (28 tahun) bekerja sebagai wiraswasta, baru menikah dua tahun lalu
namun belum memiliki keturunan, Tn. A dirawat diruang Mawar dan mengeluh
karena sesak nafas dan diare sebulan yang tak kunjung sembuh meskipun sudah
berobat ke dokter. Tn.A terlihat cemas dan mengatakan bahwa diare yang
dialaminya 3 hari ini semakin parah dan mengalami diare cair kurang-lebih 15
kali dalam sehari dan berat badan turun 8 Kg dalam satu bulan, Tn.A tampak
sangat kurus, sariawan pada mulut tidak sembuh selama satu bulan lebih
meskipun sudah diberi obat oleh dokter, Tn.A merasa tidak nafsu makan akhir-
akhir ini. Hasil foto thoraxnya ditemukan pneumonia pada paru sinistra dan
dekstra serta efusi pleura pada bagian kanan, hasil laboratorium sebagai berikut:
Hb 11 gr/dL, leukosit 20.000, trombosit 160.000, LED 30 mm, Na 8 mmol/L, K
2,8 mmol/L, protein 3,5. Hasil pemeriksaan tekanan darah 120/80 mmHg, nadi
120x/menit, RR 28x/menit, suhu 39,02 C, konjungtiva anemis, sclera ikterik,
terdapat bunyi ronchi pada paru kanan dan kiri, bunyi wheezing pada paru kanan.
Diagnose dokter setelah dilihat dari data subyektif dan data obyektif dengan data
penunjang hasil lab darah dan Rapid tes yaitu HIV-AIDS.

4.1 Pengkajian
I. Identitas Pasien
a. Nama Lengkap : Tn. A
b. Umur : 28 tahun
c. Jenis Kelamin : Laki-laki
d. Agama : Islam
e. Suku/Bangsa : Jawa/ Indonesia
f. Alamat : xxxxxx
g. Nomor Registrasi : 21112016
h. Diagnosa Medis : HIV-AIDS

II. Status Kesehatan


a. Alasan MRS
Tn. A datang ke rumah sakit dengan keluhan sesak dafas dan diare yang
terus menerus. Diare yang dialami Tn. A lebih 15 kali dalam sehari dan
berat badan turun 8 Kg dalam satu bulan. Sebelum di bawa ke rumah sakit,
Tn. A sempat berobat ke dokter namun kondisinya tetap saja seperti saat
ini. Tn.A tampak sangat kurus, sariawan pada mulut tidak sembuh selama
satu bulan lebih meskipun sudah diberi obat oleh dokter.
b. Keluhan Utama
Sesak Nafas
c. Riwayat Kesehatan Sekarang
Sejak satu bulan yang lalu Tn. A mengalami sesak nafas, diare dan
sariawan yang tidak kunjung sembuh diare yang dialami Tn A semakin
parah sejak 3 hari sebelum masuk rumah sakit yaitu frekuensi buang air
besarnya sampai mencapai 15 kali dalam sehari dan berat badan turun 8
Kg dalam satu bulan. Hasil foto thoraxnya ditemukan pneumonia pada
paru sinistra dan dekstra serta efusi pleura pada bagian kanan.
d. Riwayat Kesehatan Dahulu
Pasien tidak memiliki riwayat penyakit yang serius hanya penyakit biasa
seperti batuk, pilek dan demam.
e. Riwayat Penyakit Keluarga
Keluarga pasien tidak pernah memiliki riwayat penyakit keluarga
III. Pemeriksaan fisik
a Inspeksi
1 Sclera ikterik
2 Terlihat terdapat pernafasan cuping hidung
3 Terdapat stomatitis pada mulut
4 Tidak ada jejas
5 Persebaran warna kulit merata
6 Persebaran rambut merata
7 Kulit kering
b. Palpasi
1) Tidak ada nyeri tekan
2) Tidak ada benjolan
3) konjungtiva anemis
4) tidak ada krepitasi
5) turgor kulit tidak elastis
c. Perkusi
1) suara paru ICS 1-6 dekstra redup
2) suara paru ICS 1-6 sinistra redup
3) letak jantung ICS 2-4 dekstra
4) suara abdomen hipertimpani
d. Aukultasi
1) Terdapat bunyi ronchi pada paru dekstra dan sinistra, bunyi wheezing
pada paru dekstra.
2) Peristaltik usus meningkat
Analisa Data
No Data Etiologi Masalah
1. Ds : Banyak sekret di Ketidakefektifan
Klien mengeluh sesak jalan nafas bersihan jalan nafas
nafas
Do: Obstruksi jalan nafas
a Terdapat bunyi ronchi pada
paru kanan dan kiri, bunyi Bersihan jalan nafas
wheezing pada paru kanan tidak efektif
b Klien datang sesak nafas
c Hasil foto thoraxnya
ditemukan pneumonia
pada paru sinistra dan
dekstra
d RR 28x/menit
2. Ds: Diare Kekurangan volume
Klien mengatakan bahwa cairan
diare yang dialaminya sudah 3 Cairan aktif banyak
hari ini semakin parah dan yang ke luar
mengalami diare cair kurang-
lebih 15 kali dalam sehari Kekurangan volume
Do: cairan
Tn.A tampak sangat kurus,
sariawan pada mulut tidak
sembuh selama satu bulan
3. Ds: Infeksi oportunistik Hipertermi
Do:
Suhu 39,02 Respon Mediator
Infeksi oportunistik inflamasi

Suhu tubuh
meningkat

Hipertermi
4. Ds: Diare Ketidakseimbangan
Klien mengatakan nutrisi kurang dari
bahwa diare yang BB menurun kebutuhan tubuh
dialaminya sudah 3
hari ini semakin parah Ketidakseimbangan
dan mengalami diare nutrisi kurang dari
cair kurang-lebih 15 kebutuhan tubuh
kali dalam sehari
Do:
a Berat badan turun 8 Kg
dalam satu bulan
b Tn.A tampak sangat kurus,
sariawan pada mulut tidak
sembuh selama satu bulan
5. Ds: - Penurunan derajat Ansietas
Do: kesehatan
a Klien terlihat cemas
b nadi 120x/menit
Perubahan persepsi
c RR 28x/menit
terhadap penyakit

Ansietas

4.2 Diagnosa Keperawatan


1. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas b.d penumpukan sekret
2. Kekurangan volume cairan b.d kehilangan cairan aktif
3. Hipertermi b.d proses inflamasi
4. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d intake nutrisi
tidak adekuat
5. Ansietas b.d ancaman kematian
4.3 Intervensi Keperawatan
Perencanaan
No
Diagnosa Tujuan dan kriteria hasil Intervensi Rasional
1 Ketidakefektifan bersihan Setelah dilakukan Airway Suctioning (3160) Airway suction
jalan nafas berhubungan tindakan 1 Pastikan kebutuhan suctioning 1 perlancar jalan nafas
2 Auskultasi suara napas sebelum 2 mengetahui kelainan suara
dengan penumpukan secret keperawatan selama
dan sesudah suctioning nafas
(00031) 3 x 24 jam jalan
3 Informasikan pada klien dan 3 merasa nyaman dan
Domain 11. Keamanan napas klien efektif,
keluarga tentang suctioning mempermudah proses
atau Perlindungan dengan kriteria : 4 Meminta klien napas dalam
suction
Kelas 2. Cidera Fisik sebelum suctioning 4 mengurangi resiko nyeri
5 Berikan oksigen dengan kanul 5 membantu pernapasan saat
Status Respirasi :
nasal untuk memfasilitasi dilakukan suction
Patensi Jalan Nafas
6 mengurangi resiko infeksi
suctioning na-sotrakheal
:
6 Gunakan alat yang steril setiap nosocomial
1 Suara napas bersih 7 mengurangi resiko nyeri
melakukan tindakan
2 Tidak ada sianosis 8 mengetahui keseimbangan
7 Anjurkan klien napas dalam dan
3 Tidak sesak napas /
status pernapasan
istirahat setelah kateter
dispneu 9 mengurangi komplikasi dari
4 Irama napas dan dikeluarkan dari nasotrakheal
suction
8 Monitor status oksigen pasien
frekuensi napas dalam
9 Hentikan suction apabila klien me-
rentang normal
nunjukkan bradikardi
5 Klien tidak merasa ter-
cekik
6 Tidak gelisah
Airway manajemen ( 3140) Airway management:
7 Sputum berkurang
1 Posisikan klien untuk memaksi- 1 memaksimalkan ventilasi
2 membantu jalan nafas
malkan ventilasi
Status Respirasi : 3 mengurangi resiko obstruksi
2 Identifikasi pasien perlunya pema-
4 melancarkan jalan nafas.
Ventilasi
sangan jalan napas buatan 5 melancarkan jalan nafas.
1 Mendemonstrasikan ba- 3 Lakukan fisioterapi dada bila perlu 6 mengetahui kelainan suara
4 Keluarkan secret dengan batuk
tuk efektif tambahan
2 Suara nafas yang bersih atau suction 7 mengurangi obstruksi
3 Tidak ada sianosis 5 Auskultasi suara napas , catat
bronkus
4 Tidak ada dispneu
adanya suara nafas tambahan 8 melegakan nafas
(mam-pu bernafas 6 Kolaborasi pemberian 9 menyeimbangkan intake
10 mengetahui keseimbangan
dengan mudah) bronkodilator bila perlu
5 Tidak ada pursed lips 7 Berikan bronkodilator bila perlu status pernapasan pasien
8 Berikan oksigenasi
9 Atur intake cairan untuk
mengoptimalkan keseimbangan
10 Monitor respirasi dan status
oksigen
2 Kekurangan volume cairan Setelah dilakukan 1 Pertahankan catatan intake dan
1 Untuk mempertahankan volume
berhubungan dengan perawatan selama output yang akurat cairan dalam tubuh dan dalam
2 Monitor status hidrasi
kehilangan cairan aktif 3x24 jam volume batas normal
3 Monitor TTV
2 Mengetahui pasien mengalami
(00027) cairan dan elektrolit 4 Monitor masukan makanan/ cairan dehidrasi atau tidak
3 Mengetahui tanda-tanda vital
Domain 2. Nutrisi dalam batas normal dan hitung intake kalori harian
5 Kolaborasi dengan pemberian pasien agar bisa memutuskan
Kelas 5. Hidrasi Kriteria hasil :
a Mempertahankan cairan IV tindakan
6 Monitor status nutrisi 4 Untuk mempertahankan nutrisi
output urine sesuai usia
pada pasien
dan BB
5 Membantu untuk mengganti
b TTV dalam rentang
cairan yang hilang
normal
6 Mengetahui status nutrisi pasien
c Tidak ada tanda-tanda
dehidrasi, elastisitas
turgor kulit baik,
membran mukosa
lembab, rasa haus yang
tidak berlebihan
3 Hipertermi berhubungan Setelah dilakukan tindakan 1 Observasi tanda-tanda vital. 1 Dengan mengobservasi tanda-
dengan proses inflamasi kperawatan selama 1x24 2 Pemberian kompres hangat pada tanda vital klien perawat
(00007) jam diharapkan tidak terjadi pasien. dapmengetahui keadaan umum
Domain 11. Keamanan peningkatan suhu tubuh. 3 kolaborasi dengan minum per oral klien, serta dapat memantau
atau Perlindungan Kriteria hasil: suhu tubuh klien.
2 Dengan pemberian kompres
Kelas 6. Termoregulasi Hipertermi/peningkatan
hangat dapat menurunkan
suhu tubuh dapat teratasi demam pasieen.
3 pasien dengan hipertermi akan
dengan proses infeksi
memproduksi keringat yang
hilang.
berlebih yang dapat
mengakibatkan tubuh kehilangan
cairan yang banyak, sehingga
dengan memberikan minum
peroral dapat menggantikan
cairan yang hilang serta
menurunkan suhu tubuh.
4 Ketidakseimbangan nutrisi Setelah dilakukan Nutrition Management Nutrition Management
kurang dari kebutuhan tindakan perawatan 1 Kaji adanya alergi makanan 1. pasien tidak keracunan
2 Kolaborasi dengan ahli gizi untuk
tubuh berhubungan dengan selama 3 X 24 jam makanan
menentukan jumlah kalori dan
intake nutrisi tidak adekuat Nutrisi pasien 2. mengetahui asupan pas sesuai
nutrisi yang dibutuhkan pasien.
(00002) terpenuhi, dengan BB
3 Anjurkan pasien untuk
Domain 2. Nutrisi kriteria hasil : 3. meningkatkan nutrisi
meningkatkan intake Fe
Kelas 1. Makan 1 Adanya peningkatan berat 4 Anjurkan pasien untuk 4. meningkatkan nutrisi dan
badan sesuai dengan meningkatkan protein dan vitamin imun
tujuan C 5. meningkatkan tenaga
2 Berat badan ideal sesuai 5 Berikan substansi gula
6. melancarkan BAB
dengan tinggi badan 6 Yakinkan diet yang dimakan 7. gizi pasien seimbang
3 Mampu mengidentifikasi
mengandung tinggi serat untuk 8. meningkatkan pengetahuan
kebutuhan nutrisi
mencegah konstipasi pasien
4 Tidak ada tanda tanda
7 Berikan makanan yang terpilih
9. mengetahui intake seimbang
malnutrisi
( sudah dikonsultasikan dengan
5 Tidak terjadi penurunan 10. meningkatkan pengetahuan
ahli gizi)
berat badan yang berarti pasien
8 Ajarkan pasien bagaimana
11. mengetahui gizi seimbang
membuat catatan makanan harian.
9 Monitor jumlah nutrisi dan pasien
kandungan kalori
10 Berikan informasi tentang
Nutrition Monitoring
kebutuhan nutrisi
1. BB seimbang
11 Kaji kemampuan pasien untuk
2. mengetahui asupan gizi
mendapatkan nutrisi yang
kurang
dibutuhkan
3. meningkatkan aktivitas pasien
4. meningkatkan nafsu makan
Nutrition Monitoring
5. meningkatkan nafsu makan
1 BB pasien dalam batas normal
2 Monitor adanya penurunan berat 6. tidak mengganggu makan
badan pasien
3 Monitor tipe dan jumlah aktivitas
7. mengetahui status hidrasi
yang biasa dilakukan 8. mengetahui status hidrasi
4 Monitor interaksi anak atau
9. mengetahui status hidrasi
orangtua selama makan
10. agar dapat penanganan mual
5 Monitor lingkungan selama makan
6 Jadwalkan pengobatan dan 11. mengetahui status gizi pasien
tindakan tidak selama jam makan 12. meningkatkan nafsu makan
7 Monitor kulit kering dan
13. mengetahui status gizi
perubahan pigmentasi
14. mengetahui pasien lemah
8 Monitor turgor kulit
9 Monitor kekeringan, rambut 15. mengetahui status gizi pasein
kusam, dan mudah patah 16. mengetahui kelebihan cairan
10 Monitor mual dan muntah
17. mengetahui gangguan
11 Monitor kadar albumin, total
pencernaan
protein, Hb, dan kadar Ht
12 Monitor makanan kesukaan
13 Monitor pertumbuhan dan
perkembangan
14 Monitor pucat, kemerahan, dan
kekeringan jaringan konjungtiva
15 Monitor kalori dan intake
nuntrisi
16 Catat adanya edema,
hiperemik, hipertonik papila lidah
dan cavitas oral.
17 Catat jika lidah berwarna
magenta, scarlet
5 Ansietas berhubungan Setelah dilakukan 1 Gunakan pendekatan yang
1 Agar pasien tidak tambah cemas
2 Dengan mereka tahu proses
dengan ancaman kematian perawatan selama menenangkan.
2 Beritahu pada pasien segala perawatan dan pengobatan
(00146) 1x24 jam ansietas
sesuatu yang membuat pasien cemas pasien menjadi berkurang.
Domai 9. Koping atau dapat teratasi.
3 Dengan nafas dalam, pasien
cemas
Toleransi Stres Kriteria hasil :
3 Jelaskan prosedur kegiatan semua akan merasaan lebih tenang dan
Kelas 2. Respons Koping 1 Klien mampu 4 Bantu pasien untuk mengenal
mengurangi cemas..
mengindentifikasi dan situasi yang menimbulkan cemas.
5 Ajarkan nafas dalam pada pasien
mengungkapkan gejala
untuk mengurangi cemas dan
cemas
2 Menunjukkan teknik membuat lebih relaks.
untuk mengontrol cemas
3 TTV dalm batas normal
4 Postur tubuh, mimik dan
tingkat aktivitas
menunjukkan cemas
berkurang.
4.4 Implementasi
No No. Dx Hari/Tanggal/ Implementasi Paraf
Jam
Kep.
1 Dx. 1 senin/ 21. 1 Mempastikan kebutuhan suctioning Ika
2 Mengauskultasi suara nafas sebelum dan sesudah suction
November 16/
3 Menginfomasikan pada klien dan keluarga tentang
13.20
tentang suction
4 Meminta klien napas dalam sebelum suctioning
5 Memberikan O2 dengan kanul nasal untuk memfasilitasi
suctioning na-sotrakheal
6 Menggunakan alat yang steril setiap melakukan tindakan
7 Menganjurkan klien napas dalam dan istirahat setelah
kateter dikeluarkan dari nasotrakheal
8 Memonitor status oksigen klien
9 Menghentikan suction apa bila klien menunjukkan
bradikardi
Airway manajemen ( 3140)
1. Memposisikan klien untuk memaksi-malkan ventilasi
2. mengindentifikasi pasien perlunya pema-sangan jalan
napas buatan
3. Melakukan fisioterapi dada bila perlu
4. mengeluarkan secret dengan batuk atau suction
5. mengauskultasi suara napas , catat adanya suara nafas
tambahan
6. Berkolaborasi pemberian bronkodilator bila perlu
7. memberikan bronkodilator bila perl
8. memeerikan oksigenasi
9. mengatur tur intake cairan untuk mengoptimalkan
keseimbangan
10. memoonitor respirasi dan status oksigen

2 Dx 2 senin/ 21 1 Mempertahankan catatan intake dan output yang akurat Ika


2 Memonitoronitor status hidrasi
November 16/
3 Memonitor TTV
14.00 4 memonitor masukan makanan/ cairan dan hitung intake kalori
harian
5 berkolaborasi dengan pemberian cairan IV
6 Memonitor status nutrisi
3 Dx 3 Senin/ 21 1 Mengobservasi tanda-tanda vital. Musrifah
2 Mememberikan kompres hangat pada pasien.
November 16/
3 berkolaborasi dengan minum per oral
14.10
4 Dx 4 Senin/ 20 Nutrition Management Musrifah
November. 16/ 1. mengkaji adanya alergi makanan
2. berkolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori dan
14.45
nutrisi yang dibutuhkan pasien.
3. Menganjurkan pasien untuk meningkatkan intake Fe
4. Menganjurkan pasien untuk meningkatkan protein dan vitamin C
5. Memerikan substansi gula
6. Menyakinkan diet yang dimakan mengandung tinggi serat untuk
mencegah konstipasi
7. Memerikan makanan yang terpilih ( sudah dikonsultasikan dengan ahli
gizi)
8. Mengajarkan pasien bagaimana membuat catatan makanan harian.
9. Memonitor jumlah nutrisi dan kandungan kalori
10. Memberikan informasi tentang kebutuhan nutrisi
11. mengkaji kemampuan pasien untuk mendapatkan nutrisi yang dibutuhkan

Nutrition Monitoring
12. Memantau BB pasien dalam batas normal
13. Memonitor adanya penurunan berat badan
14. Memonitor tipe dan jumlah aktivitas yang biasa dilakukan
15. Memonitor interaksi anak atau orangtua selama makan
16. Memonitor lingkungan selama makan
17. Menjadwalkan pengobatan dan tindakan tidak selama jam makan
18. Memonitor kulit kering dan perubahan pigmentasi
19. Memonitor turgor kulit
20. Memonitor kekeringan, rambut kusam, dan mudah patah
21. Memonitor mual dan muntah
22. Memonitor kadar albumin, total protein, Hb, dan kadar Ht
23. Memonitor makanan kesukaan
24. Memonitor pertumbuhan dan perkembangan
25. Memonitor pucat, kemerahan, dan kekeringan jaringan konjungtiva
26. Memonitor kalori dan intake nuntrisi
27. Mencatat adanya edema, hiperemik, hipertonik papila lidah dan cavitas
oral.
28. Catat jika lidah berwarna magenta, scarlet

5 Dx 5 Selasa/ 21 1. Menggunakan pendekatan yang menenangkan. Rini


2. Memberitahu pada pasien segala sesuatu yang membuat pasien cemas
November. 16/
3. Menjelaskan prosedur kegiatan semua
07.00 4. Membantu pasien untuk mengenal situasi yang menimbulkan cemas.
5. Mengajarkan nafas dalam pada pasien untuk mengurangi cemas dan membuat
lebih relaks.

4.5 Evaluasi
N TANGGAL/JAM DIAGNOSA EVALUASI SUMATIF NAMA DAN PARAF
O
21 Nopember Ketidakefektifan bersihan S: Pasien mengatakan lendir masih ada namun tidak Ika
1. 2016, pukul 15.00 jalan nafas berhubungan kental seperti sebelumnya.
WIB dengan penumpukan
sekret O: sekret tidak kental, pasien tampak sudah dapat
mengeluarkan sekret secara mandiri, sekret berwarna
kekuning-kuningan, jumlah secret setelah dilakukan
tindakan berkurang.

A: Masalah teratasi sebagian

P: Lanjutkan intervensi
2. 21 Nopember Kekurangan volume S : pasien mengatakan masih merasa lemas dan rasa Ika
2016, pukul 15.15 cairan berhubungan haus mulai berkurang
WIB dengan kehilangan cairan
aktif O : pasien tampak masih lemas, turgor kulit buruk,
elastisitas kulit berkurang, kulit pucat.

A :Masalah teratasi sebagian

P : Lanjutkan intervensi
3. 21 Nopember Hipertermi berhubungan S: pasien mengatakan panas pada badannya mulai Musrifah
2016, pukul 15.30 dengan proses inflamasi menghilang
WIB
O: suhu 38,4C

A: Masalah teratasi
P: Hentikan intervensi

4. 21 Nopember Ketidakseimbangan S : Pasien mengatakan badan lemas dan tidak Musrifah


2016, pukul 15.45 nutrisi kurang dari berenergi
WIB kebutuhan tubuh
berhubungan dengan O: BB turun sebanyak 8kg.
intake nutrisi tidak A: Masalah tidak teratasi
adekuat
P: Lanjutkan intervensi
5. 22 Nopember Ansietas berhubungan S: Pasien mengatakan sudah tau tentang penyakitnya Rini
2016, pukul 16.15 dengan ancaman
WIB kematian O: Cemas pada pasien tampak berkurang, pasien mulai
tenang

A: Masalah teratasi

P: Hentikan intervensi
BAB 5. PENUTUP

5.1 Kesimpulan
HIV (Human Immunodeficiency Virus) merupakan retrovirus bersifat
limfotropik khas yang menginfeksi sel-sel dari sistem kekebalan tubuh,
menghancurkan atau merusak sel darah putih spesifik yang disebut limfosit T-
helper atau limfosit pembawa faktor T4 (CD4). HIV dapat menyebabkan
infeksi oportunistik yang berat. Terapi menurut WHO (2006) yaitu Terapi
Antiretroviral (ARV). Pemberian ARV tidak serta merta segera diberikan begitu
saja pada penderita yang dicurigai, tetapi perlu menempuh langkah-langkah yang
arif dan bijaksana, serta mempertimbangkan berbagai faktor, dokter telah
memberikan penjelasan tentang manfaat, efek samping, resistensi dan tata cara
penggunaan ARV, kesanggupan dan kepatuhan penderita mengkonsumsi obat
dalam waktu yang tidak terbatas, serta saat yang tepat untuk memulai terapi ARV
(Nasronudin, 2007).

5.2 Saran
1. Untuk perawat
Perawat dalam melakukan asuhan keperawatan dan tindakan keperawatan
kepada pasien dengan HIV harus berhati-hati dan sesuai dengan SOP agar
keamanan pasien dan keamanan perawat terjaga. Selain masalah fisiologis
pada pasien, perawat juga harus mampu melakukan asuhan keperawatan
terhadap masalah psikologis dan social dari pasien.
2. Untuk masyarakat
Masyarakat dihimbau agar tetap waspada pada penyakit HIV, senantiasa
menjaga kesehatan dan menghindari faktor-faktor yang dapat
menyebabkan terinfeksi virus HIV. Masyarakat tidak perlu resah akan
banyaknya masalah kesehatan yaitu HIV karena HIV tidak akan menular
jika kita dapat menghindari faktor-faktor yang dapat menyebabkan infeksi
dari HIV tersebut. Masyarakat juga harus memberikan dukungan kepada
orang-orang yang terkena HIV karena mereka membutuhkan dorongan
dari orang sekitar selama hidupnya, bukan mengisolasi dan mengucilkan di
lingkungan tempat tinggal dan di masyarakat.

4.6
DAFTAR PUSTAKA

Besral, dkk. 2004. Potensi Penyebaran HIV Dari Pengguna NAPZA Suntik ke
Masyarakat Umum. Departemen Biostatika dan Kependudukan, FKM
UI. http://journal.ui.ac.id/health/article/download/313/309 (Diakses pada
16 januari 2014, pukul 15.00 wib).
Brooks Gf et all. 2005. Mikrobiologi Kedokteran. Ali Bahasa. Mudihardi E.
Kuntaman. Wasito EB et al. Jakarta: Salemba Medika.
Bulechek, G. M. Et all. 2004. Nursing Intervetions Classification (NIC). USA :
Mosby.
CDC, 1993. Revised Classification System for HIV Infection and Expanded
Surveillance Case Definition for AIDS Among Adolescents and Adults,
MMWR Morb Mortal Weekly Report; 41(51); 961-962.
Christine L. Mudge-Grout, 1992, Immunologic Disorders, Mosby Year Book, St.
Louis.
Doengoes, Marilynn, dkk, 2000, Rencana Asuhan Keperawatan ; Pedoman untuk
Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien, edisi 3, alih
bahasa : I Made Kariasa dan Ni Made S, EGC, Jakarta
Duarsa, Wirya. 2003. Penyakit Menular seksual Edisi Kedua. Jakarta: FKUI.
Fajar, Elizabeth. 2013. Hubungan Antara Stadium Klinis, Viral Load dan Jumlah
CD4 Pada Pasien Human Immunodeficiency Virus (HIV) Acquired
Immune Deficiency Syndrome (AIDS). Undip.ac.id. Online.
http://eprints.undip.ac.id/43845/3/ELIZABETH_FAJAR_P.P_G2A00916
3_bab_2_KTI.pdf (diakses pada tanggal 22 Nopember 2016)
Grimes, E.D, Grimes, R.M, and Hamelik, M, 1991, Infectious Diseases, Mosby
Year Book, Toronto.
Hermawati, Pian. 2011. Hubungan Persepsi ODHA Terhadap Stigma HIV/AIDS
Masyarakat dengan Interaksi Sosial ODHA. 34
Kementerian Kesehatan RI. 2013. Dirjen Pemberantasan Penyakit dan Penyehatan
Lingkungan. Laporan Triwulan 1.
Kumar, Vina, Cotran, et al. 2007. Buku Ajar Patologi Anatomi Edisi 7 Vol. 2.
Jakarta : EGC pp 367-378
Menteri Kesehatan. 2011. Pedoman Nasional Tata laksana Klinis Infeksi HIV dan
Terapi Antiretroviral Pada Orang Dewasa. Kemenkes RI Dirjen P2PL.
Murtiastutik D. 2008, HIV & AIDS In : Buku Ajar Infeksi Menular Seksual.
Surabaya : Airlangga University Press,pp. 211-231
Nursalam & Kurniawati. 2007. Asuhan Keperawatan pada Pasien Terinfeksi.
Jakarta: Salemba Medika.
Nasronudin. 2007. HIV & AIDS: Pendekatan Biologi Molekuler, Klinis dan
Sosial. Surabaya: Airlangga University Press.
Putri, Nurul Chairunisa Utami. 2010. AIDS dan Konsep Dasar Asuhan
Keperawatan. Jakarta Timur : Universitas Islam As-Syafiiyah.
http://roelcup.files.wordpress.com/2010/06/20-aids.pdf (Diakses pada 16
januari 2014, pukul 15.00 wib)
Siregar, Fazidah A. 2004. Pengenalan dan Pencegahan AIDS. Fakultas kesehatan
masyarakat USU. http://library.usu.ac.id/download/fkm/fkm-fazidah4.pdf
Siregar, R. S. 2008. Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS) dalam Atlas
Berwarna Saripati Penyakit Kulit, E/2
Smeltzer, Suzanne C.2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner &
Suddarth. Ed 8. Vol 3. Jakarta:EGC
UNAIDS,WHO (2008) AIDS Epidemic Update. (Diakses pada tanggal 19
November 2016), URL : http://www.who.int