Anda di halaman 1dari 11

PAPER INDIVIDU

EVALUASI KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP


FASILITAS PENDUKUNG PEJALAN KAKI (TROTOAR) DI KOTA GORONTALO

MATA KULIAH
KEBIJAKAN PUBLIK II
DOSEN : PROF. DR. SOESILO ZAUHAR, M. S.

OLEH : IRFAN MAULANA


(145030100111040)

JURUSAN ILMU ADMINISTRASI PUBLIK


FAKULTAS ILMU ADMINISTRASI
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2107
Irfan MaulanaMATA KULIAH KEBIJAKAN PUBLIK II
Kelas B Dosen : Prof. Dr. Soesilo Zauhar, M.S

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI...................................................................................................................1
PENDAHULUAN...........................................................................................................2
KOTA GORONTALO.....................................................................................................4
EVALUASI KEBIJAKAN TROTOAR............................................................................4
KESIMPULAN DAN SARAN........................................................................................9

1
Irfan MaulanaMATA KULIAH KEBIJAKAN PUBLIK II
Kelas B Dosen : Prof. Dr. Soesilo Zauhar, M.S

PENDAHULUAN
Kota adalah tempat yang sangat kompleks, dimana didalamnya terdapat
beragam fungsi, tempat, dan berbagai elemen kota yang saling mendukung satu sama
lain. Di dalam sebuah kota, manusia dapat melakukan aktivitas individu, melakukan
mobilitas, dan bersosialisasi antar sesamanya. Hal itu menjadikan manusialah yang
menjadi elemen yang paling penting dalam sebuah kota. Dalam rangka merespon hal
tersebut, fasilitas di dalam kota haruslah dapat mendukung kegiatan yang dilakukan
oleh manusia tersebut, terutama untuk aktivitas mobilisasi agar pergerakan manusia
menjadi lebih cepat, tak ada hambatan dan terjamin keamanannya. Hal ini berarti
dalam mobilisasinya untuk melakukan aktivitas sehari-hari, manusia memerlukan
sarana berupa ruang publik yang perlu disediakan oleh pemerintah sebagai pelayan
publik. Ruang publik diartikan sebagai suatu fasilitas kota yang mampu mendukung
mobilisasi manusia.

Ruang publik yang dimaksud dalam hal ini adalah sebuah ruang terbuka
dimana akses masuknya tidak dibatasi dan juga penggunaannya dapat berupa
sesuatu yang bebas. Ruang publik dalam konteks ini adalah trotoar yang menjadi
sarana bagi manusia untuk melakukan mobilitas dengan cara berjalan kaki. Untuk itu
perlu kiranya untuk melakukan perencanaan ruang publik dalam kota yang terarah dan
tepat sasaran. Perencanaan ruang publik berupa trotoar ini haruslah menjadi suatu
pertimbangan penting dalam suatu perencanaan kota. Karena ruang terbuka ataupun
ruang publik yang berada di dalam suatu kota dapat menentukan perkembangan suatu
kawasan kota baik itu perkembangan yang mengarah pada arah yang positif maupun
sebaliknya.

Dalam paper kali ini, kota Gorontalo menjadi bahasan utama untuk evaluasi
kebijakan ruang terbuka (trotoar). Sebagai suatu provinsi yang baru, Gorontalo
senantiasa melakukan pembangunan di wilayahnya. Salah satu pembangunan yang
efeknya paling dapat dirasakan bagi masyarakat Kota Gorontalo adalah bertambahnya
fasilitas publik sperti pembuatan taman kota, jalan raya, jembatan, trotoar dan
beberapa pembangunan lainnya di bidang ekonomi maupun budaya.

Beberapa pembangunan ini menimbulkan pengaruh yang cukup besar pada


keadaan sosial ekonomi serta budaya masyarakat Kota Gorontalo terutama terhadap
mobilisasinya atau perpindahan sesorang dari satu tempat ke tempat lain. Salah satu

2
Irfan MaulanaMATA KULIAH KEBIJAKAN PUBLIK II
Kelas B Dosen : Prof. Dr. Soesilo Zauhar, M.S

contohnya adalah trotoar Kota Gprontalo yang menjadi tempat untuk pejalan kaki di
kota tersebut. Masyarakat Kota Gorontalo dari orang tua hingga anak SD pun sama-
sama menggunakan trotoar sebagai sarana yang disediakan oleh pemerintah untuk
pejalan kaki. Sarana yang disediakan oleh pemerintah ini perlu untuk ditinjau ulang
agar mampu menghasilkan suatu outcome yang dapat dinilai ketepatannya dan
kemanfaatannya.

Peninjauan ulang dalam hal ini saya menyebutnya evaluasi. Evaluasi perlu
dilakukan terhadap suatu kebijakan. Mengingat suatu evaluasi pada dasarnya
ditujukan untuk menilai sejauh mana keefektifan kebijakan publik agar nantinya bisa
dipertanggungjawabkan dan sejauh mana tujuan dicapai. Evaluasi diperlukan untuk
melihat kesenjangan antara harapan dengan kenyataan yang merupakan sumber dari
adanya masalah publik. Adapun pendapat dari Wibawa (1994 : 73) bahwa evaluasi
kebijakan bersifat deskriptif dan analitis sekaligus, di satu pihak evaluator berusaha
menggambarkan apa yang telah terjadi, dan dipihak lain ia menjelaskan mengapa hal
itu terjadi. Dalam hal ini evaluator mengamati apa yang berlangsung sebelum dan
sesudah kebijakan diimplementasikan.

Dalam paper ini, evaluasi trotoar di Kota Gorontalo dimaksudkan agar bisa
memberikan informasi kepada publik terkait keadaan dan pengguanaannya. Hal ini
sesuai dengan pendapat dari Umar (2005 : 11) yang mengatakan bahwa evaluasi
seharusnya menghasilkan informasi penting yang berguna, misalnya sebagai umpan
balik (feedback) bagi formulasi atau implementasi strategi.

Lebih jelasnya Dunn (2003 : 610) berpendapat bahwa evaluasi memainkan


sejumlah fungsi utama dalam analisis kebijakan, diantaranya sebagai berikut:

1. Evaluasi memberi informasi yang valid dan dapat dipercaya mengenai kinerja
kebijakan, yaitu sebarapa jauh kebutuhan, nilai dan kesempatan telah dapat
dicapai melalui tindakan-tindakan publik. Dalam hal ini evaluasi mengungkapkan
seberapa jauh tujuantujuan tertentu.
2. Evaluasi memberi sumbangan pada klarifikasi dan kritik terhadap nilai-nilai yang
mendasari pemilihan tujuan dan target. Nilai diperjelas dengan mendefinisikan dan
mengoperasikan tujuan dan target. Nilai juga dikritik dengan menanyakan secara
sistematis kepantasan tujuan dan target dalam hubungan dengan masalah yang
dituju.

3
Irfan MaulanaMATA KULIAH KEBIJAKAN PUBLIK II
Kelas B Dosen : Prof. Dr. Soesilo Zauhar, M.S

Dari penjelasan diatas, saya menangkap bahwasannya evaluasi kebijakan


merupakan kegiatan untuk menilai keberhasilan dan kegagalan pelaksanaan suatu
kebijakan publik sehingga menghasilkan suatu informasi yang berguna untuk
kebijakan publik dimasa mendatang.

KOTA GORONTALO
Kota Gorontalo yang merupakan Ibu Kota Provinsi Gorontalo yang berbatasan
langsung dengan daerah Kabupaten Gorontalo, Kabupaten Bone Bolango, dan Teluk
Tomini. Sebelumnya Gorontalo termasuk Provinsi Sulawesi Utara hingga munculnya
pemekaran wilayah yang berkenaan dengan otonomi daerah di Era Reformasi,
Gorontalo pun mekar menjadi Provinsi sendiri berdasarkan Undang-Undang Nomor 38
Tahun 2000, tertanggal 22 Desember 2000 dan menjadi Provinsi ke-32 di Indonesia.
Gorontalo Secara administratif Kota Gorontalo sejak tahun 2004 sampai dengan tahun
2010 terbagi menjadi 6 kecamatan dan 49 kelurahan dengan luas wilayah sekitar
79.03 km2. Pada tahun 2011 sampai dengan sekarang, jumlah kecamatan di Kota
Gorontalo menjadi 9 kecamatan dan 50 kelurahan1.

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, sebagai suatu provinsi yang baru,
Gorontalo senantiasa melakukan pembangunan di wilayahnya. Menyinggung hal yang
terkait dengan pembangunan, sebagai Ibu Kota, tentu perlu memiliki fasilitas publik
yang mampu mendukung aktivitas manusia didalamnya. Fasilitas publik tersebut
dalam hal ini adalah berupa trotoar. Ketika kita berbicara trotoar di Kota Gorontalo,
maka sesuai dengan kebinamargaan, hal ini tak akan pernah lepas dari peningkatan
aksesibiltas untuk mendukung pengembangan wilayah dan kelancaran mobilitas
dalam rangka memenuhi kebutuhan manusia.

EVALUASI KEBIJAKAN TROTOAR


Trotoar merupakan salah satu fasilitas publik yang mampu menjamin
aksesibilitas dalam suatu kota. Hal ini diarahkan untuk memudahkan dalam mencapai
tujuan, menyangkut kenyamanan, keamanan dan memperpendek waktu tempuh
(travel time). Sesuai UU Nomor 38 Tahun 2003 tentang Jalan, dengan memperhatikan
jalan sebagai prasarana distribusi barang dan jasa merupakan urat nadi kehidupan

1 http://www.gorontaloprov.go.id/profil/geografis-iklim

4
Irfan MaulanaMATA KULIAH KEBIJAKAN PUBLIK II
Kelas B Dosen : Prof. Dr. Soesilo Zauhar, M.S

masyarakat, bangsa, dan negara, maka perlu dibahas pula terkait dengan pembatas
jalan yakni trotoar.

Untuk mengevaluasi kebijakan pemerintah terkait Trotoar yang ada di Kota


Gorontalo, maka ditentukan langkah dalam evaluasi kebijakan dari sisi praktis yang
dikemukakan oleh Nugroho (2009 : 541) yakni antara lain :

1. Mengidentifikasi tujuan program yang akan dievaluasi.


2. Analisis terhadap masalah.
3. Deskripssi dan standarisasi kegiatan
4. Pengukuran terhadap tingkatan perubahan yang terjadi
5. Menentukan apakah perubahan yang diamati merupakan akibat dari kegiatan
tersebut atau karena penyebab lain.
6. Beberapa indikator untuk menentukan keberhasilan suatu dampak.

Dari langkah-langkah tersebut, didapat tujuan program yang akan dievaluasi


adalah tentang semua bangunan yang disediakan untuk pejalan kaki guna
memberikan pelayanan kepada pejalan kaki sehingga dapat meningkatkan
kelancaran, keamanan dan kenyamanan pejalan kaki. Selanjutnya adalah analisis
terhadap masalah. Masalah bisa kita temukan ketika saya memaparkan keadaan
trotoar di Kota Gorontalo. Berikut adalah pemaparannya.

Berikut merupakan titik utama yang menjadi sampel trotoar di Kota Gorontalo :

5
Irfan MaulanaMATA KULIAH KEBIJAKAN PUBLIK II
Kelas B Dosen : Prof. Dr. Soesilo Zauhar, M.S

Gambar 1. Peta Kota Gorontalo2

Tabel 1. Hasil pengamatan trotoar di beberapa titik utama Kota Gorontalo

Kondisi Trotoar :
1. Trotoar sempit dan
jarang difungsikan
pejalan kaki.
2. Trotoar begitu
mepet ke arah jalan
raya.

Gambar 2. Jl. Ahmad Yani (Masjid Agung Baiturrahim)3

Kondisi Trotoar :
1. Trotoar hampir tak
ada sehingga tak
ada ruang bagi
pejalan kaki.
2. Spot Kota Gorontalo
yakni bundaran
Saronde tidak
didukung dengan
fasilitas untuk
pejalan kaki.
Gambar 3. Jl. Prof. Dr. H. B. Jassin (Bundaran Saronde)4

2 Google Maps 3D. https://www.google.co.id/maps/place/Gorontalo,


+Kota+Gorontalo,+Gorontalo/@ 0.5541163,123.0347005,5842m/data=!
3m1!1e3!4m5!3m4!1s0x32792b4799e5e75d:0x6dcc4d0923155967!8m2!
3d0.5435442!4d123.0567693

3 Google Maps 3D.


https://www.google.co.id/maps/place/Masjid+Agung+Baiturrahim/@0.53642
48,123.0618763,801m/data=!3m1!1e3!4m5!3m4!
1s0x0:0x1e745fadbafcef78!8m2!3d0.5378501!4d123.0603075

6
Irfan MaulanaMATA KULIAH KEBIJAKAN PUBLIK II
Kelas B Dosen : Prof. Dr. Soesilo Zauhar, M.S

Kondisi Trotoar :
1. Trotoar sempit
dan hampir tak
ada sama sekali
karena
dialihfungsikan
menjadi
warung-warung
kecil.
2. Kondisi pasar
yang Gambar 4. Jl. Pattimura (Pasar Sentral)5
seharusnya
para pejalan
kaki difasilitasi
dengan baik,
namun tidak
untuk hal ini.

4 Google Maps 3D.


https://www.google.co.id/maps/place/Bundaran+Tugu+Saronde/@0.535603
9,123.0518078,2925m/data=!3m1!1e3!4m8!1m2!2m1!
1sbundaran+saronde!3m4!1s0x0:0xe3673a61757fbd53!8m2!3d0.5421415!
4d123.0614716

5 Google Maps 3D.


https://www.google.co.id/maps/place/PASAR+SENTRAL+KOTA+GORONTALO/
@0.5447815,123.0584946,801m/data=!3m1!1e3!4m5!3m4!
1s0x0:0x285af05d4107530f!8m2!3d0.5457167!4d123.0595672

7
Irfan MaulanaMATA KULIAH KEBIJAKAN PUBLIK II
Kelas B Dosen : Prof. Dr. Soesilo Zauhar, M.S

Kondisi Trotoar :
1. Trotoar sempit dan
hampir tak ada.
Hanya terdapat
pada sisi kiri jalan
saja.
2. Kondisi tempat
perbelanjaan
menjadi terkesan
sulit dicapai dengan
berjalan kaki.
Gambar 5. Jl. Sultan Botutihe (Belakang Mall Gorontalo)6

Dari sekian pengamatan gambar kondisi trotoar di Kota Gorontalo yang telah
disajikan diatas, maka jelaslah permasalahan yang kita miliki saat ini. Trotoar adalah
jalur pejalan kaki yang terletak pada Daerah Milik Jalan, diberi lapisan permukaan,
diberi elevasi yang lebih tinggi dari permukaan perkerasan jalan, dan pada umumnya
sejajar dengan jalur lalu lintas kendaraan7. Lalu, kemanakah trotoar yang seharusnya
dimiliki oleh sang pejalan kaki?

Pada dasarnya, trotoar disediakan sebagai jalur pejalan kaki. Jalur pejalan kaki
adalah jalur yang disediakan untuk pejalan kaki guna memberikan pelayanan kepada
pejalan kaki sehingga dapat meningkatkan kelancaran, keamanan dan kenyamanan
pejalan kaki tersebut8. Hal tersebut muncul karena adanya ketentuan-ketentuan umum
yang telah disepakati pemerintah sebelumnya. Penanganan bidang jalan dan
jembatan, dibagi berdasar tanggung jawab. Kewenangan penanganan, yaitu jalan
nasional/negara ditangani oleh Kementerian PU di bawah Direktorat Jenderal Bina

6 Google Maps 3D.


https://www.google.co.id/maps/place/Mall+Gorontalo/@0.5364248,123.0618
763,801m/data=!3m1!1e3!4m5!3m4!1s0x0:0x79e25905adc0f87!8m2!
3d0.5374853!4d123.0623138

7 Departemen Pekerjaan Umum Direktorat Jenderal Bina Marga Standar Perencanaan Geometri untuk
Jalan Perkotaan, Januari 1988.

8 Ibid.

8
Irfan MaulanaMATA KULIAH KEBIJAKAN PUBLIK II
Kelas B Dosen : Prof. Dr. Soesilo Zauhar, M.S

Marga melalui Balai Jalan Nasional. Jalan provinsi pada pemerintah provinsi dan jalan
kabupaten/kota ditangani oleh pemerintah kabupaten/kota.

Berikut adalah ketentuan umum yang seharusnya tersedia dalam sebuah


trotoar yang nantinya akan digunkan oleh para pejalan kaki. Fasilitas pejalan kaki
harus direncanakan berdasarkan ketentuan-ketentuan sebagai berikut :

1. Pejalan kaki harus mencapai tujuan dengan jarak sedekat mungkin, aman dari lalu
lintas yang lain dan lancar.
2. Terjadinya kontinuitas fasilitas pejalan kaki, yang menghubungkan daerah yang
satu dengan yang lain.
3. Apabila jalur pejalan kaki memotong arus lalu lintas yang lain harus dilakukan
pengaturan lalu lintas, baik dengan lampu pengatur ataupun dengan marka
penyeberangan, atau tempat penyeberangan yang tidak sebidang. Jalur pejalan
kaki yang memotong jalur lalu lintas berupa penyeberangan (Zebra Cross), marka
jalan dengan lampu pengatur lalu lintas (Pelican Cross), jembatan penyeberangan
dan terowongan.
4. Fasilitas pejalan kaki harus dibuat pada ruas-ruas jalan di perkotaan atau pada
tempat-tempat dimana volume pejalan kaki memenuhi syarat atau
ketentuanketentuan untuk pembuatan fasilitas tersebut.
5. Jalur pejalan kaki sebaiknya ditempatkan sedemikian rupa dad jalur lalu lintas yang
lainnya, sehingga keamanan pejalan kaki lebih terjamin.
6. Dilengkapi dengan rambu atau pelengkap jalan lainnya, sehingga pejalan kaki
leluasa untuk berjalan, terutama bagi pejalan kaki yang tuna daksa.
7. Perencanaan jalur pejalan kaki dapat sejajar, tidak sejajar atau memotong jalur lalu
lintas yang ada.
8. Jalur pejalan kaki harus dibuat sedemikian rupa sehingga apabila hujan
permukaannya tidak licin, tidak terjadi genangan air serta disarankan untuk
dilengkapi dengan pohon-pohon peneduh.
9. Untuk menjaga keamanan dan keleluasaan pejalan kaki, harus dipasang kerb jalan
sehingga fasilitas pejalan kaki lebih tinggi dari permukan jalan9.

Hal yang perlu diperhatikan dalam menyikapi ketiadaan trotoar tersebut


bahwasannya para pejalan kaki berada pada posisi yang lemah jika mereka
bercampur dengan kendaraan. Hal itu akan membuat para pejalan kaki memperlambat
arus lalu lintas. Atas dasar itulah, salah satu tujuan utama dari manajemen lalu lintas
adalah berusaha untuk memisahkan pejalan kaki dari arus kendaraan bermotor, tanpa

9 Ibid.

9
Irfan MaulanaMATA KULIAH KEBIJAKAN PUBLIK II
Kelas B Dosen : Prof. Dr. Soesilo Zauhar, M.S

menimbulkan gangguan-gangguan yang besar terhadap aksesibilitas dengan


pembangunan trotoar. Untuk keamanan pejalan kaki maka trotoar ini harus dibuat
terpisah dari jalur lalu lintas kendaraan10.

KESIMPULAN DAN SARAN


Di Kota Gorontalo, keberadaan trotoar untuk pejalan kaki belum dijadikan
perhatian yang begitu berarti bagi pemerintah. Evaluasi terkait kebijkan pemerintah
terhadap trotoar dinilai masih sangat kurang. Hal tersebut terlihat dari kurangnya
fasilitas trotoar yang ada di Kota Gorontalo. Bahkan ketidakberadaan trotoar terjadi di
titik-titik utama perkotaan yang seharusnya tersedia trotoar bagi pejalan kaki.

Saran dari hasil evaluasi ini adalah pemerintah disarankan agar mampu
memberikan sarana yang mendukung mobilisasi manusia karena pembangunan hal ini
menimbulkan pengaruh yang cukup besar pada keadaan sosial ekonomi serta budaya
masyarakat Kota Gorontalo terutama terhadap tata kota.

10 Direktorat Jenderal Bina Marga, Pedoman Perencanaan Jalur Pejalan Kaki pada Jalan Umum.

10