Anda di halaman 1dari 6

10 AMALAN MENURUT 4 IMAM MAZHAB

PENDIDIKAN AGAMA ISLAM


Pembina : Ibu Jazimah

Oleh:
1. Desy Purnamasari (150523605333)
2. Dicky Ardyan Tri Putra (150523601321)
3. Farid Nur Ikhsan (150523607251)
4. Fergiharto Surya Hutama (150523607259)
5. Fairusa Putri Prastowo (150523602882)

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS TEKNIK
JURUSAN TEKNIK SIPIL

A. Keluar Sesuatu Dari Dua Jalan Dalam Membatalkan Wudhu


Keluar sesuatu dari dua jalan (qubul dan dubur), seperti buang air kecil, buang air
besar, keluar madzi, (air kuning encer) yang biasanya keluar dari qubul ketika seseorang
merasakan nikmat. Pendapat dari empat mazhab yaitu:
1. Hanafi berpendapat apapun yang keluar dari qubul dan dubur, membatalkan wudhu, baik
yang biasa maupun yang tidak biasa.
2. Maliki berpendapat bahwa mani yang biasa keluar tampa rasa nikmat tidak diwajibkan
mandi, dan hanya membatalkan wudhu. Adapun batu kecil, ulat, cacing darah dan nanah yang
keluar dari qubul dan dubur tidak membatalkan wudhu dengan ketentuan.
3. Syafii berpendapat keluar mani tidak sampai membatalkan wudhu, apakah keluarnya rasa
nikmat atau tidak namun, wajib mandi.
4. Hambali bependapat bahwa apabila seseorang terus menerus berhadas , seperti air kencing
terus menerus menetes, tidak membatalkan wudhu, asal setiap sholat melakukan wudhu.

B. Tidur Dalam Membatalkan Wudhu

1. Hanafi berpendapat bahwa tidur tidak membatalkan wudhu, akan tetapi tidur dapat
membatalkan wudhu dalam tiga hal. Yakni:
a) tidur dengan berbaring miring;
b) tidur telentang diatass punggungnya;
c) tidur diatas salah satu pahanya.
2. Maliki berpendapat tidur dapat membatalkan wudhu, apabila seseorang tidur nyenyak,
baik sebentar maupun lama maupun sebentar, baik tidur dalam keadaan berbaring atau sujud
atau duduk.
3. Syafii berpendapat tidur dapat membatalkan wudhu apabila orang yang yang tidur itu
tidak duduk mantap diatas tempatnya.
4. Hambali berpendapat bahwa wudhu seseorang dapat batal dalam keadaan bagaimanapun
juga, kecuali apabila tidurnya itu sebentar menurut ukuran urf, sedanngkan orang itu dalam
keadaan duduk atau berdiri.

C. Bersentuhan Laki-laki dan Perempuan Dalam Membatalkan Wudhu

1. Hanafi berpendapat bahwa persentuhan laki-laki dan perempuan tidak membatalkan


wudhu.
2. Maliki berpendapat bahwa seseorang menyentuh orang lain dengan tangannya atau dengan
anggota badan lainnya, maka wudhunya batal dengan beberapa syarat.
a) Sudah baligh;
b) Merasakan kenikmatan/rangsangan sesudah terjadi sentuhan sengaja atau tidak.
3. Syafii berpendapat kulit lawan jenis yang bukan mahram membatalkan wudhu secara
mutlak.
4. Hambali berpendapat bahwa menyentuh itu dapat membatalkan wudhu secara mutlak,
baik sentuhan dengan telapak tangan maupun dengan belakangnya.
D. Kewajiban Membaca Al-Fatihah Dalam Sholat
1. IMAM HANAFI
Membaca surat Al-fatihah dalam sholat fardhu tidak diharuskan, dan membaca bacaan
apa saja dari Al-Quran itu boleh. Berdasarkan Al-Quran surat Al-Muzammil ayat 26.
2. IMAM SYAFII
Mazhab As-syafiiyah mewajibkan makmum dalam sholat jamaah untuk membaca
surat Al-fatihah sendiri meskipun dalam sholat jahriyah (yang dikeraskan bacaan imamnya).
Tidak cukup hanya mendengaran bacaan imam saja
3. IMAM MALIKI
Imam Malik berpendapat, bahwa makmum wajib membaca fatihah pada sholat sir dan
tidak wajib pada shalat jahar.
4. IMAM HAMBALI
Wajib membaca Al-fatihah pada setiap rakaat, dan sesudahnya disunahkan membaca
surat Al-Quran pada dua rakaat yang pertama. Dan pada sholat subuh, serta dua rakaat
pertama pada sholat magrib dan isya disunahkan membacanya ddengan nayring. Basmalah
merupakan bagian dari surat, tetapi cara membacanya harus pelan-pelan dan tidak boleh
dengan keras.Qunut hanya pada sholat witir bukan pada sholat-sholat lainnya. Sedangkan
menyilangkan dua tangan disunatkan bagi lelaki dan wanita, hanya yang paling utama adalah
meletakkan tangannya yang kanan pada belakang telapak tangannya yang kiri, dan
meletakkan dibawah pusar. (Mughniyah: 2001).

E. Penentuan Awal Puasa


1. Imam Hanafi
a) Jika seandainya langit cerah, wajib yang melihat itu semuanya/orang banyak (melihat
bulan). Dan orang tersebut mengatakan ashadu dan bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah
b) Dan kalau seandainya cuaca tidak cerah (mendung/berkabut), maka cukup satu orang yang
adil, berakal, baliqh (kesaksian). Dan tidak perlu mengucap ashadu.
2. Imam Maliki
a) Yang melihat hilal itu orang banyak, maka wajib puasa, sekalipun orang yang melihat hilal
itu tidak semuanya adil.
b) Bahwa yang melihat hilal itu 2 orang yang adil.
c) Kalau yang melihat hilal hanya 1 orang (laki-laki), maka yang wajib puasa hanya dia
sendiri.
3. Imam Syafii
a) Melihat oleh orang yang adil, walaupun hanya 1 orang (baik laki-laki / perempuan) dan
wajib mengucap ashadu.
b) Kalau yang melihat hilal itu orang yang tidak adil (baik laki-laki / perempuan) maka puasa
wajib hanya bagi dirinya.
4. Imam Hambali
Apabila hilal itu dilihat (perkadaan) 1 orang mukallaf (laki-laki/perempuan,
merdeka/hamba) yang adil, baik adil secara zhahir maupun secara batin. Baik cuaca cerah
/mendung dan mengucapkam ashadu.
kesimpulan hukum bahwa permulaan puasa itu harus berdasarkan atas rukyat bila
cuaca cerah; dan atas dasar istikmal (menggenapkan jumlah bilangan bulan Sya'ban) bila
cuaca buruk, misalnya karena mendung sehingga tidak memungkinkan dilakukan rukyat.

F. WAKTU NIAT PUASA


1.Imam maliki berpendapat, disyaratkan sahnya niat, pada malam hari, dan boleh berniat
pada terbit fajar.
2.Imam syafiI dan ahmad bin hambali mengatakan, disyaratkan untuk puasa
ramadhan/puasa yang lain (seperti puasa qadha, nadzar). Maka dia harus menetapkan niat
puasa pada waktu malam hari.
3.Menurut hanafi, bagi orang yang berpuasa, lebih afdhal berniat pada terbit fajar jika
memungkinkan, atau pada malam harI.
4. Menurut Hambali Tidak beda dari Syafi'iyah, mazhabini mengharuskan niat dilakukan
pada malam hari, untuk semupa jenis puasawajib. Adapun puasa sunnah, berbeda dari
Syafi'iyah, niat bisa dilakukanwalaupun telah lewat waktu Dhuhur (dengan syarat belum
makan/minum sedikitpunsejak fajar).

G. Pelafalan Kalimat Takbir dalam Sholat

1. Syafii, Maliki dan Hambali sepakat bahwa mengucapkannya dalam bahasa Arab adalah
wajib, walaupun orang yang shalat itu adalah orang ajam (bukan orang Arab). (Mughniyah;
2001)
2. Hanafi : Sah mengucapkannya dengan bahasa apa saja, walau yang bersangkutan bisa
bahasa Arab. (Mughniyah;2001)

H. Sujud Dalam Shalat

1. Maliki, Syafii, dan Hanafi : yang wajib (menempel) hanya dahi, sedangkan yang lain-
lainnya adalah sunnah. (Mughniyah; 2001)
2. Hambali : yang diwajibkan itu semua anggota yang tujuh (dahi, dua telapak tangan, dua
lutut, dan ibu jari dua kaki) secara sempurna. Bahkan Hambali menambahi hidung, sehingga
menjadi delapan. (Mughniyah; 2001)
I. Melafalkan Niat
1. Menurut Imam Syafiiy (Syafiiyah) dan Imam Ahmad bin Hambal (Hanabilah) adalah
sunnah karena melafalkan niat dapat membantu untuk mengingatkan hati sehingga membuat
seseorang lebih khusyu dalam melaksanakan shalatnya.
Salah ucap tidak mempengaruhi niat dalam hati sepanjang niatnya itu masih benar.
Contohnya saat ingin shalat Ashar tetapi niatnya shalat Dzuhur, makanya yang dilihat
niatnya dalam mengerjakan solat bukan lafal yang diucapkan oleh mulut.
2. Sedangkan menurut Imam Malik (Malikiyah) tidak disyariatkan membaca niat shalat
sebelum takbiratul ihram kecuali bagi orang yang peragu terhadap niatnya sendiri.
Karena menurut Imam Malik niat shalat sebelum takbir itu menyalahi keutamaan shalat.
3. Berbeda lagi dengan pendapat Imam Abu Hannifah (Hanafiyah), membaca niat shalat
sebelum takbir menurut pengikut beliau adalah bidah, namun dianggap baik (istihsan)
melafalkan niat bagi orang yang peragu.

J. Membaca Qunut Disaat Shalat Subuh


1. Menurut Imam Abu Hanafiah Qunut itu disunnahkan pada shalat witir yang dilakukan
sebelum ruku. Sedangkan pada shalat Subuh, beliau tidak menganggapnya sebagai sunnah.
Sehingga bila seorang makmum shalat subuh dibelakang imam yang melakukan qunut,
hendaknya dia diam saja dan tidak mengikuti atau mengamini imam.
2. Menurut Imam Malik Qunut merupakan ibadah sunnah pada shalat subuh dan lebih afdhal
dilakukan sebelum ruku, tetapi dilakukan sesudahnya tetap dibolehkan. Menurut beliau
qunut dilakukan dengan sirr (tidak mengeraskan suara bacaan). Sehingga baik imam maupun
makmum melakukannya masing-masing.
3. Menurut Imam As-SyafiI ra qunut disunnahkan pada shalat subuh dan dilakukan sesudah
ruku pada rakaat kedua. Imam hendaknya berqunut dengan lafaz jama dengan mengeraskan
suaranya dengan diamini oleh makmum hingga lafaz (wa qini syarra maa qadhaita). Setelah
itu dibaca sirr (tidak dikeraskan) mulai lafaz (Fa innaka taqdhi ) dengan alas an bahawa
lafaz itu bukan doa melainkan pujian. Disunnahkan pula untuk mengangkat kedua tangan
namun tidak disunnahkan mengusap wajah sesudahnya. Menurut mahzab ini, bila qunut pada
shalat subuh tidak dilaksanakan, maka hendaknya melakukan sujud sahwi, termasuk nila
menjadi makmum dan imamnya bermahzab Al-Hanfiyah maka secara sendiri, makmum
melakukan sujud sahwi.
4. Menurut Imam Ahmad bin Hanbal qunut merupakan amaliyah sunnah yang dikerjakan
pada shalat witir yaitu dikerjakan setelah ruku. Sedangkan qunut pada shakat subuh tidak
dianggap sunnah oleh beliau.