Anda di halaman 1dari 44

MAKALAH LEMBAGA PERTANIAN TERHADAP PEMBANGUNAN PERTANIAN

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Pembangunan memang tidak pernah selesai. Amerika dan Jepang yang sudah
merasa menjadi Negara paling hebat dalam segala bidang pun sampai saat ini
masih sibuk dengan rencana-rencana pembangunan proyek baru maupun proyek-
proyek pembangunan lain yang harus dibuat karena munculnya macam-macam
masalah akibat pembangunan masa lampau. Misalnya pelbagai pembangunan
untuk menanggulangi pencemaran setempat maupun pencemaran dunia secara
gloal. Bagaimana membangun usaha pertanian tanpa bahan kimia penyebab
pencemaran dan lain-lain. Maka Indonesia pun terasa sanat ketinggalan dalam
bidang pembangunan
Pembangunan pertanian nasional mencatat bahwa dalam upaya pemberdayaan
masyarakat terutama petani kecil, pemerintah telah menerapkan berbagai sistem
kelembagaan dan kemitraan dikarenakan tingkat kesejahteraan petani terus
menurun sejalan dengan persoalan-persoalan klasik yang dialaminya, sekaligus
menjadi bagian dan dilema dari sebuah kegiatan usahatani di tingkat produsen
pertanian. Tingkat keuntungan kegiatan usahatani selama ini lebih banyak dinikmati
oleh para pedagang dan pelaku usahatani lainnya di hilir (Sumodiningrat, 2000).
Oleh karena itu, diperlukan kelembagaan pertanian yang mampu memberikan
kekuatan bagi petani (posisi tawar yang tinggi). Kelembagaan pertanian dalam hal
ini mampu memberikan jawaban atas permasalahan di atas. Penguatan posisi tawar
petani melalui kelembagaan merupakan suatu kebutuhan yang sangat mendesak
dan mutlak diperlukan oleh petani, agar mereka dapat bersaing dalam
melaksanakan kegiatan usahatani dan dapat meningkatkan kesejahteraan hidupnya
(Suhud, 2005).
Lembaga yang dibuat dan telah diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, mulai
dari yang dibiayai dan dibina secara penuh oleh pemerintah, lembaga kerjasama
pemerintah dan pihak swasta, sampai pada lembaga yang didanai oleh pihak
swasta. Lembaga-lembaga tersebut telah berjalan dan mengalami masa pasang
dan masa surut, sesuai dengan keberadaannya, tujuan pembentukannya,
kemampuan personal pengelolanya, maupun manfaatnya pada masyarakat.
Untuk pembangunan, pembinaan dan operasional lembaga-lembaga tersebut,
pemerintah telah mengeluarkan dana pembangunan yang cukup banyak. Tetapi
dalam perjalanannya dan bukti yang nyata sampai saat ini, tidak banyak lembaga
tersebut yang bertahan. Ada yang maju, tetapi tidak bertahan, ada yang maju-
mundur, ada yang mati sama sekali dan ada juga yang hanya tinggal plang merek
dan susunan pengurus, tanpa aktivitas.
Fenomena yang berkembang sekarang dan dianggap sebagai suatu hal yang
lumrah, adalah munculnya lembaga-lembaga baru yang lengkap dengan plang
merek dan susunan pengurus pada saat akan datangnya bantuan proyek dari
pemerintah. Dan yang paling lumrah lagi, semua lembaga tersebut hilang lenyap
setelah dana bantuan atau dana proyek habis. Alhasil, tidak banyak manfaat
lembaga yang didirikan bagi masyarakat. Padahal tujuan pembentukannya
adalah untuk mempercepat proses peningkatan ekonomi masyarakat. Sementara
setiap tahun pemerintah selalu memberikan penghargaan kepada pengurus-
pegurus lembaga tersebut yang berhasil

Batasan masalah
1. pengertian kelembagaan
2. prinsip dasar kelembagaan pertanian
3. sejarah kelembagaan pertanian di Indonesia
4. Jenis-jenis kelembagaan pertanian
5. Pembanguan pertanian dan kelembagaan di Indonesia
6. Strategi kelembagaan dalam pembangunan pertanian di NTT
7. Peranan kelembagaan dalam pembangunan pertanian di NTT

1. Pengertian Kelembagaan
Salah satu arti lembaga dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah: "pola
perilaku manusia yang mapan. terdiri atas interaksi sosial berstruktur di suatu
kerangka nilai yang relevant Sedangkan kelembagaan adalah segala sesuatu yang
berkaitan dengan lembaga. Terdapat tiga kata kunci yakni sosial, nilai {norms), dan
perilaku {behaviours). Suatu institusi atau kelembagaan dapat berbentuk organisasi
atau sebaliknya. Bidang kelembagaan kurang memiliki popularitas seperti bidang
keilmuan yang mampu menggugah perhatian seluruh lapisan masyarakat .
Ada berbagai definisi kelembagaan yang disampaikan oleh ahli dari berbagai
bidang:
a. Lembaga adalah aturan di dalam suatu kelompok masyarakat atau organisasi
yang menfasilitasi koordinasi antar anggotanya untuk membantu mereka dengan
harapan di mana setiap orang dapat bekerjasama atau berhubungan satu dengan
yang lain untuk mencapai tujuan bersama yang diinginkan (Ruttan dan Hayami,
1984)
b. Lembaga aturan dan rambu-rambu sebagai panduan yang dipakai oleh para
anggota suatu kelompok masyarakat untuk mengatur hubungan yang saling
mengikat atau saling tergantung satu sama lain. Penataan institusi (institutional
arrangements) dapat ditentukan oleh beberapa unsur: aturan operasional untuk
pengaturan pemanfaatan sumber daya, aturan kolektif untuk menentukan,
menegakan hokum atau aturan itu sendiri dan untuk merubah aturan operasional
serta mengatur hubungan kewenangan organisasi (Ostrom, 1985; 1986).
c. Lembaga adalah suatu himpunan atau tatanan normanorma dan tingkah laku
yang bisa berlaku dalam suatu periode tertentu untuk melayani tujuan kolektif yang
akan menjadi nilai bersama. Institusi ditekankan pada norma-norma prilaku, nilai
budaya dan adat istiadat (Uphoff, 1986).
d. Lembaga adalah sekumpulan batasan atau faktor pengendali yang mengatur
hubungan perilaku antar anggota atau antar kelompok. Dengan definisi ini
kebanyakan organisasi umumnya adalah institusi karena organisasi umumnya
mempunyai aturan yang mengatur hubungan antar anggota maupuna dengan
orang lain di luar organisasi itu (Nabli dan Nugent, 1989).
e. Lembaga adalah aturan main di dalam suatu kelompok sosial dan sangat
dipengaruhi oleh faktor-faktor ekonomi, sosial dan politik. Institusi dapat berupa
aturan formal atau dalam bentuk kode etik informal yang disepakati bersama. North
membedakan antara institusi dari organisasi dan mengatakan bahwa institusi
adalah aturan main sedangkan organisasi adalah pemainnya (North, 1990).
f. Lembaga mencakup penataan institusi (institutional arrangement) untuk
memadukan organisasi dan institusi. Penataan institusi adalah suatu penataan
hubungan antara unit-unit ekonomi yang mengatur cara unit-unit ini apakah dapat
bekerjasama dan atau berkompetisi. Dalam pendekatan ini organisasi adalah suatu
pertanyaan mengenai aktor atau pelaku ekonomi di mana ada kontrak atau
transaski yang dilakukan dan tujuan utama kontrak adalah mengurangi biaya
transaksi (Williamson, 1985).
Umumnya definisi lembaga mencakup konsep pola perilaku sosial yang sudah
mengakar dan berlangsung terus menerus atau berulang. Dalam hal ini sangat
penting diperhatikan bahwa perilaku sosial tidak membatasi lembaga pada
peraturan yang mengatur perilaku tersebut atau mewajibkan orang atau organisasi
untuk harus berpikir positif ke arah norma-norma yang menjelaskan perilaku
mereka tetapi juga pemahaman akan lembaga ini memusatkan perhatian pada
pengertian mengapa orang berprilaku atau bertindak sesuai dengan atau
bertentangan dengan peraturan yang ada. Merangkum dari berbagai pengertian
yang dikemukakan sebelumnya, maka yang dimaksud kelembagaan adalah:suatu
tatanan dan pola hubungan antara anggota masyarakat atau organisasi yang saling
mengikat yang dapat menentukan bentuk hubungan antar manusia atau antara
organisasi yang diwadahi dalam suatu organisasi atau jaringan dan ditentukan oleh
faktor-faktor pembatas dan pengikat berupa norma, kode etik aturan formal
maupun informal untuk pengendalian prilaku sosial serta insentif untuk
bekerjasama dan mencapai tujuan bersama.

2. Prinsip-prinsip dasar lembaga pertanian


Lembaga di pedesaan lahir untuk memenuhi kebutuhan sosial masyarakatnya.
Sifatnya tidak linier, namun cenderung merupakan kebutuhan individu anggotanya,
berupa : kebutuhan fisik, kebutuhan rasa aman, kebutuhan hubungan sosial,
pengakuan, dan pengembangan pengakuan. Manfaat utama lembaga adalah
mewadahi kebutuhan salah satu sisi kehidupan sosial masyarakat, dan sebagai
kontrol sosial, sehingga setiap orang dapat mengatur perilakunya menurut
kehendak masyarakat (Elizabeth dan Darwis, 2003).
Prinsip-prinsip yang harus dipenuhi oleh suatu kelembagaan petani agar tetap eksis
dan berkelanjutan adalah :
a. Prinsip otonomi (spesifik lokal).
Pengertian prinsip otonomi disini dapat dibagi kedalam dua bentuk yaitu :
1. Otonomi individu.
Pada tingkat rendah, makna dari prinsip otonomi adalah mengacu pada individu
sebagai perwujudan dari hasrat untuk bebas yang melekat pada diri manusia
sebagai salah satu anugerah paling berharga dari sang pencipta (Basri, 2005).
Kebebasan inilah yang memungkinkan individu-individu menjadi otonom sehingga
mereka dapat mengaktualisasikan segala potensi terbaik yang ada di dalam dirinya
secara optimal. Individu-individu yang otonom ini selanjutnya akan membentuk
komunitas yuang otonom, dan akhirnya bangsa yang mandiri serta unggul
(Syahyuti, 2007).
2. Otonomi desa (spesifik lokal).
Pengembangan kelembagaan di pedesaan disesuaikan dengan potensi desa itu
sendiri (spesifik lokal). Pedesaan di Indonesia, disamping bervariasi dalam
kemajemukan sistem, nilai, dan budaya; juga memiliki latar belakang sejarah yang
cukup panjang dan beragam pula. Kelembagaan, termasuk organisasi, dan
perangkat-perangkat aturan dan hukum memerlukan penyesuaian sehingga
peluang bagi setiap warga masyarakat untuk bertindak sebagai subjek dalam
pembangunan yang berintikan gerakan dapat tumbuh di semua bidang
kehidupannya. Disamping itu, harus juga memperhatikann elemen-elemen tatanan
Yang hidup di desa, baik yang berupa elemen lunak (soft element) seperti manusia
dengan sistem nilai, kelembagaan, dan teknostrukturnya, maupun yang berupa
elemen keras (hard element) seperti lingkungan alam dan sumberdayanya,
merupakan identitas dinamis yang senantias menyesuaikan diri atau tumbuh dan
berkembang (Syahyuti, 2007).
b. Prinsip pemberdayaan.
Pemberdayaan mengupayakan bagaiamana individu, kelompok, atau komunitas
berusaha mengontrol kehidupan mereka sendiri dan mengusahakan untuk
membentuk masa depan sesuai dengan keinginan mereka. Inti utama
pemberdayaan adalah tercapainya kemandirian (Payne, 1997).
Pemberdayaan berarti mempersiapkan masyarakat desa untuk untuk memperkuat
diri dan kelompok mereka dalam berbagai hal, mulai dari soal kelembagaan,
kepemimpinan, sosial ekonomi, dan politik dengan menggunakan basis kebudayaan
mereka sendiri (Taylor dan Mckenzie, 1992).
Pada proses pemberdayaan, ada dua prinsip dasar yang harus dipedomani
(Saptana, dkk, 2003) yaitu :
1. Menciptakan ruang atau peluang bagi masyarakat untuk mengembangkan
dirinya secara mandiri dan menurut cara yang dipilihnya sendiri.
2. Mengupayakan agar masyarakat memiliki kemampuan untuk memanfaatkan
ruang atau peluang yang tercipta tersebut.
Kebijakan ini diterjemahkan misalnya di bidang ekonomi berupa peningkatan
aksesibilitas masyarakat terhadap faktor-faktor produksi dan pasar, sedangkan di
bidang sosial politik berupa tersedianya berbagai pilihan bagi masyarakat untuk
menyalurkan aspirasinya.
Pemberdayaan dan pengembangan kelembagaan di pedesaan , meliputi :
a. Pola pengembangan pertanian berdasarkan luas dan intensifikasi lahan,
perluasan kesempatan kerja dan berusaha yang dapat memperluas penghasilan.
b. Perbaikan dan penyempurnaan keterbatasan pelayanan sosial (pendidikan, gizi,
kesehatan, dan lain-lain).
c. Program memperkuat prasarana kelembagaan dan keterampilan mengelola
kebutuhan pedesaan.
Untuk keberhasilannya diperlukan kerjasama antara : administrasi lokal, pemerintah
lokal, kelembagaan/organisasi yang beranggotakan masyarakat lokal, kerjasama
usaha, pelayanan dan bisnis swasta (tiga pilar kelembagaan) yang dapat
diintegrasikan ke dalam pasar baik lokal, regional dan global (Uphoff, 1992).
Pemberdayaan kelembagaan menuntut perubahan operasional tiga pilar
kelembagaan:
a. Kelembagaan lokal tradisional yang hidup dan eksisi dalam komunitas (voluntary
sector).
b. Kelembagaan pasar (private sector) yang dijiwai ideologi ekonomi terbuka.
c. Kelembagaan sistem politik atau pengambilan keputusan di tingkat publik (public
sector).
Ketiga pilar yang menopang kehidupan dan kelembagaan masyarakat di pedesaan
tersebut perlu mereformasikan diri dan bersinergis agar sesuai dengan kebutuhan
yang selalu mengalami perkembangan. Inilah yang dimaksud dengan tranformasi
kelembagaan sebagai upaya pemberdayaannya, yang dilakukan tidak hanya secara
internal, namun juga tata hubungan dari keseluruhan kelembagaan tersebut.
Disisi lain, pemberdayaan kelembagaan pada masa depan perlu diarahkan agar
berorientasi pada : a). Pengusahaan komoditas (pangan/non pangan) yang paling
menguntungkan, b). Skala usaha ekonomis dan teknologi padat karya, c). Win-win
mutualy dengan kemitraan yang kolehial, d). Tercipta interdependensi hulu-hilir, e).
Modal berkembang dan kredit melembaga (bank, koperasi, petani), f). Koperatif,
kompetitif dan transparan melalui sistem informasi bisnis, g). Memanfaatkan
peluang di setiap subsistem agribisnis, serta h). Dukungan SDM yang
berpendidikan, rasional, mandiri, informatif, komunikatif, dan partisipatif (inovatif).
Beberapa kunci dalam pengembangan kelembagaan untuk pemberdayaan adalah
adanya akses kepada informasi, sikap inklusif dan partisipasi, akuntabilitas, dan
pengembangan organisasi lokal.
c. Prinsip kemandirian lokal.
Pendekatan pembangunan melalui cara pandang kemandirian lokal mengisyaratkan
bahwa semua tahapan dalam proses pemberdayaan harus dilakukan secara
desentralisasi. Upaya pemberdayaan yang berbasis pada pendekatan desentralisasi
akan menumbuhkan kondisi otonom, dimana setiap komponen akan tetap eksis
dengan berbagai keragaman (diversity) yang dikandungnya (Amien, 2005).
Kegagalan pengembangan kelembagaan petani selama ini salah satunya akibat
mengabaikan kelembagaan lokal yang hidup di pedesaan, karena dianggap tidak
memiliki jiwa ekonomi yang memadai. Ciri kelembagaan pada masyarakat
tradisional adalah dimana aktivitas ekonomi melekat pada kelembagaan
kekerabatan dan komunitas. Pemenuhan ekonomi merupakan tanggungjawab
kelompok-kelompok komunal genealogis. Ciri utama kelembagaan tradisional
adalah sedikit kelembagaan, namun banyak fungsi. Beda halnya dengan pada
masyarakat modern yang dicirikan oleh munculnya banyak kelembagaan dengan
fungsi-fungsi yang spesifik dan sempit-sempit (Saptana, dkk, 2003).
Kemandirian lokal menunjukkan bahwa pembangunan lebih tepat bila dilihat
sebagai proses adaptasi-kreatif suatu tatanan masyarakat dari pada sebagai
serangkaian upaya mekanistis yang mengacu pada satu rencana yang disusun
secara sistematis. Kemandirian lokal juga menegaskan bahwa organisasi
seharusnya dikelola dengan lebih mengedepankan partisipasi dan dialog
dibandingkan semangat pengendalian yang ketat sebagaimana dipraktekkan
selama ini (Amien, 2005).

3. Sejarah Lembaga Pertanian


Awal perkembangan sumberdaya manusia dimulai dari peran Kebun Raya Bogor
yang telah berdiri sejak tahun 1817. Fungsi Kebun Raya yang semula untuk
mengembangkan ilmu pengetahuan di bidang botani tropis kemudian berkembang
untuk studi pertanian rakyat bagi bumi putera dan perkebunan milik bangsa Eropa.
Pada tahun 1876, Kebun Raya membangun Kebun Budidaya Tanaman (Kultuurtuin)
di Cikeumeuh Bogor dengan mandat untuk melaksanakan 3 fungsi, yaitu:
penelitian, pendidikan, dan penyuluhan. Disamping membangun kebun percobaan
dengan fungsi penelitian, juga dibangun kebun-kebun percontohan dan sekolah
pertanian sebagai bagian dari fungsi penyuluhan dan pendidikan pertanian.
Dengan berdirinya Departemen Pertanian (Departemen Van Landbouw, 1905)
penyelenggaraan pendidikan dan penyuluhan pertanian bagi rakyat pribumi
menjadi lebih mantap dan profesional setelah mendapat dukungan dan persetujuan
dari Departemen Pendidikan, Agama, dan Kerajinan pada tahun 1900. Secara
berturut-turut berkembang cabang pendidikan pertanian, seperti Sekolah
Hortikultura (1900), Sekolah Pertanian (1903), Sekolah Dokter Hewan (1907),
Culture School (1913), Lanbouw Bedriff School (1922), dan Middlebare Boschbauw
School pada tahun 1938.
Setelah Indonesia merdeka, pengembangan SDM pertanian diupayakan lebih serius
lagi dibawah pembinaan Kementerian Kemakmuran (1945-1950). Lembaga
Kementerian Kemakmuran mengalami reorganisasi menjadi Kementerian Pertanian
(1950-1960) dan kemudian menjadi Departemen Pertanian hingga saat ini. Agar
penyelenggaraan pengembangan SDM pertanian dapat lebih memenuhi kebutuhan
pembangunan pertanian, maka Kementerian/Departemen Pertanian membentuk
lembaga pendidikan dan penyuluhan pertanian di tingkat pusat yang langsung
berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Menteri Pertanian.
Pada awalnya kegiatan pendidikan dan latihan di lingkungan Departemen Pertanian
diselenggarakan oleh masing-masing unit Eselon I Departemen Pertanian. Keadaan
ini menyebabkan terciptanya aparat pendidikan pertanian yang satu sama lain
bekerja secara terpisah dan kurang sesuai dengan keperluan pembangunan
pertanian.
Dengan adanya Keputusan Menteri Pertanian Nomor 88/Kpts/Org/2/1972 yang
merupakan pelaksanaan dari Keputusan Presiden Nomor 8 Tahun 1972 menetapkan
garis-garis kebijaksanaan pendidikan dalam sektor pertanian sehingga dapat
memperbaiki keadaan tersebut. Salah satu kebijaksanaan yang penting dalam
Keputusan tersebut adalah ditetapkannya nama Badan Pembinaan Pendidikan dan
Latihan Pertanian (BPPLP) sebagai penanggung jawab dalam penyelenggaraan
pendidikan di lingkungan Departemen Pertanian. Sedangkan pendidikan pertanian
itu dilaksanakan melalui sekolah-sekolah pertanian proyeksi baru yang bersifat
polivalen di SPMA, SNAKMA dan SUPM Budidaya sebagai satu kelompok Sekolah
Pertanian Pembangunan (SPP).
Sejak tahun 1968-1974 terjadi penggabungan departemen atau sebagian
departemen lain menggabungkan kedalam Departemen Pertanian, sehingga
susunan organisasi Departemen Pertanian menjadi:
- Menteri Pertanian;
- Sekretaris Jenderal;
- Direktorat Jenderal Pertanian;
- Direktorat Jenderal Kehutanan;
- Direktorat Jenderal Peternakan;
- Direktorat Jenderal Perikanan;
- Direktorat Jenderal Perkebunan;
- BIMAS;
Susunan Organisasi Departemen Pertanian ini berlaku sampai dengan Tahun 1974,
kemudian muncul ketetapan baru yaitu Keputusan Presiden Nomor 44 Tahun 1974
tentang Pokok-pokok Organisasi Departemen dan Keputusan Presiden nomor 45
Tahun 1974 tentang Susunan Organisasi Departemen.
Dalam Keputusan Presiden Nomor 45 Tahun 1974 diputuskan bahwa pada
Departemen Pertanian dibentuk dua unit eselon I baru, yaitu :
- Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian; dan
- Badan Pendidikan, Latihan dan Penyuluhan Pertanian.
Dengan demikian Badan Pembinaan Pendidikan dan Latihan Pertanian (BPPLP)
barulah menjadi Badan Pendidikan, Latihan dan Penyuluhan Pertanian (BPLPP),
sejak tahun 1974 dengan salah satu tupoksinya menyelenggarakan penyuluhan
pertanian di tingkat pusat maupun di tingkat daerah dilaksanakan oleh BPLPP.
Berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian Nomor OT.210/706/Kpts/9/1983, Badan
Pendidikan, Latihan dan Penyuluhan Pertanian mempunyai tugas membina dan
mengkoordinasikan kegiatan pendidikan, latihan dan penyuluhan pertanian yang
berada dibawah dan bertanggung jawab langsung kepada Menteri Pertanian.
Sesuai dengan perubahan struktur organisasi melalui Keputusan Menteri Pertanian
Nomor 560/Kpts/OT.210/8/1990, nama Badan Pendidikan, Latihan dan Penyuluhan
Pertanian berubah menjadi Badan Pendidikan dan Latihan Pertanian dengan tugas
pokok mengkoordinasikan, membina dan melaksanakan pendidikan dan pelatihan
pertanian serta merumuskan metodologi penyuluhan berdasarkan kebijaksanaan
Menteri dan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Selanjutnya tugas Badan Pendidikan dan Latihan Pertanian disempurnakan kembali
melalui Keputusan Menteri Pertanian Nomor 96/Kpts/OT.210/2/1994, dengan tugas
dan fungsi mengkoordinasikan, membina dan melaksanakan pendidikan dan
pelatihan pertanian dalam rangka pelaksanaan tugas pokok departemen
berdasarkan kebijaksanaan menteri dan peraturan perundang-undangan yang
berlaku. Berdasarkan Keputusan Menteri tersebut Badan Diklat Pertanian terdiri dari
:
1. Sekretariat Badan Diklat Pertanian;
2. Pusat Pembinaan dan Pendidikan Pertanian;
3. Pusat Pendidikan dan Latihan Pegawai;
4. Pusat Pendidikan dan Latihan Penyuluhan Pertanian dan
Operasionalisasi pelaksanaan kegiatan diklat pertanian dilaksanakan oleh jenis Unit
Pelaksana Teknis (UPT) Badan Diklat Pertanian dengan jumlah 61 UPT yang terdiri
dari :
1. Sekolah Tinggi Perikanan (STP);
2. Akademi Penyuluhan Pertanian (APP);
3. Sekolah Pertanian Pembangunan (SPP);
4. Balai Penataran dan Latihan Pegawai (BPLP);
5. Balai Latihan Pegawai Pertanian (BLPP);
6. Balai Keterampilan Penangkapan Ikan (BKPI);
7. Balai Pendidikan dan Pelatihan Fungsional Pertanian (BPPFP);
8. Balai Metodologi Informasi Pertanian BMIP), dan
9. Balai Informasi Pertanian (BIP).
Mulai tahun 1994/1995, pengelolaan BIP dialihkan kepada Badan Litbang
Pertanian.
Perubahan/ penyempurnaan organisasi tersebut merupakan antisipasi pengaruh-
pengaruh atas perkembangan program pembangunan pertanian khususnya
pembangunan nasional pada umumnya. Diharapkan dengan organisasi yang ada
dapat dijadikan suatu perangkat kebijaksanaan dalam pembinaan dan
pengembangan sumberdaya manusia, aparatur pemerintahan yang dilaksanakan
untuk :
1. meningkatkan penguasaan kualitas ilmu pengetahuan dan teknologi pertanian
yang berorientasi agrbisnis dan agroindustri; serta
2. meningkatkan penguasaan kualitas pengetahuan keterampilan disertai dengan
pembinaan semangat kerja, disiplin, tanggung jawab moral, etika dan mental sehat
dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Pada tahun 1998 dengan Keputusan Menteri Pertanian Nomor
1016/Kpts/OT.210/2/1998 Badan Pendidikan dan Latihan Pertanian dirubah menjadi
Badan Pendidikan dan Pelatihan Pertanian. Dengan perubahan tersebut tugas dan
fungsi dari Badan menjadi Badan Pendidikan dan Pelatihan Pertanian tugas
menyelenggarakan pengkajian dan perumusan rencana pengembangan sumber
daya manusia pertanian dan pelaksanaan pendidikan dan pelatihan pertanian serta
pembinaan penyuluhan pertanian dalam rangka menunjang pelaksanaan tugas
departemen berdasarkan kebijaksanaan Menteri dan peraturan perundang-
undangan yang berlaku. Dalam melaksanakan tersebut, Badan Pendidikan dan
Pelatihan Pertanian menyelenggarakan fungsi :
a. pengkajian dan perencanaan pengembangan sumber daya manusia pertanian,
dan
b. pembinaan penyelenggaraan kegiatan pendidikan dan pelatihan pegawai
pertanian,
Dengan berkembangnya tugas-tugas urusan pemerintah maupun pembangunan
pertanian, maka kelembagaan Badan Diklat Pertanian juga berkembang dan
namanya berubah menjadi Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian
dan Penyuluhan Pertanian berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian Nomor
160/Kpts/OT.210/12/2000. Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia dan
Penyuluhan Pertanian mempunyai tugas melaksanakan pengembangan dan
Pendayaan sumber daya manusia dan penyuluhan pertanian berdasarkan Menteri
dan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Dalam melaksanakan tugas
tersebut Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia dan Penyuluhan Pertanian
menyelenggarakan fungsi :
a. perumusan kebijaksanaan dan perencanaan pengembangan sumber daya
manusia dan penyuluhan pertanian;
b. pengkajian dan penyediaan informasi sumber daya manusia dan penyuluhan
pertanian;
c. pengelolaan pendidikan dan pelatihan pertanian;
d. evaluasi kebijaksanaan dan pelaksanaan pengembangan sumber daya
manusia dan penyuluhan pertanian;
e. pelaksanaan administrasi badan.
4. Jenis-Jenis Lembaga Pertanian
Koperasi adalah badan usaha yang beranggotakan orang-seorang atau badan
hukum koperasi dengan melandaskan kegiatannya berdasarkan prinsip koperasi
dan kegiatan perkoperasian yang bersifat terpadu menuju tercapainya cita-cita
bersama.
Visi pemerintah dalam bidang Koperasi dan UMKM : " Terwujudnya Koperasi dan
Usaha Mikro Kecil Menengah yang Berkualitas dalam rangka meningkatkan
Kesejahteraan dan Berkeadilan Bagi Anggota dan Masyarakat Nusa Tenggara Timur
".
Tujuan Pemberdayaan Koperasi dan UMKM di Provinsi Nusa Tenggara Timur :
1. Meningkatkan Kesejahteraan Ekonomi Anggota Koperasi dan UMKM;
2. Memberikan Pelayanan dan Pembinaan dalam rangka peningkatan Sumber Daya
Manusia Koperasi dan UMKM yang terampil.
Strategi Pemberdayaan Koperasi dan UMKM :
1. Strategi Peningkatan akses Koperasi dan UMKM kepada Sumber Daya Produktif;
2. Strategi Pengembangan Kewirausahaan dan Keunggulan Kompetitif Koperasi dan
UMKM;
3. Strategi Pengembangan Kelembagaan Koperasi.
Arah Kebijakan Pemberdayaan Koperasi dan UMKM :
1. Mengembangkan Koperasi dan UMKM yang diarahkan untuk :
2. Memberikan kontribusi yang signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi;
3. Penciptaan lapangan kerja;
Peningkatan daya saing Memperkuat Kelembagaan dengan menerapkan prinsip
prinsip tata kepemerintahan yang baik terutama untuk :
1. Memperluas akses kepada sumber permodalan khususnya perbankan;
2. Memperbaiki lingkungan usaha dan menyederhanakan prosedur perizinan;
3. Memperluas dan meningkatkan kualitas institusi pendukung yang menjalankan
fungsi intermediasi sebagai penyedia jasa pengembangan usaha, teknologi,
manajemen, pemasaran dan informasi
4. Mengembangkan Koperasi dan UMKM untuk semakin berperan sebagai penyedia
barang dan jasa, maju, berdaya saing khususnya untuk memenuhi kebutuhan
masyarakat.
5. Membangun Koperasi yang diarahkan pada upaya-upaya :
6. Membenahi dan memperkuat tatanan kelembagaan dan organisasi Koperasi;
7. Meningkatkan pemahaman, kepedulian dan dukungan pemangku kepentingan
(stakeholder) Kepada Koperasi;
8. Meningkatkan kemandirian Koperasi.
Jumlah Koperasi dan Jumlah Anggota Koperasi di Provinsi NTT
Periode 31 Desember 2009
No Kabupaten/ Kota Aktif
(unit) Tidak Aktif
(Unit) Total Koperasi (Unit) Anggota
Laki-laki Perempuan Jumlah
1. Kota Kupang 304 102 406 24.892 19.615 44.507
2. kab. Kupang 98 60 158 21.015 7.005 28.020
3. Timor Tengah Selatan 71 16 87 25.152 9.927 35.079
4. Timor Tengah Utara 58 5 63 9.444 4.181 13.625
5. Belu 93 30 123 27.174 15.114 42.288
6. Alor 72 10 82 9.525 8.126 17.651
7. Lembata 33 9 42 16.312 11.471 27.783
8. Flores Timur 68 24 92 18.638 8.288 26.926
9. Sikka 86 14 100 48.332 18.512 66.844
10. Ende 72 9 81 18.449 7.365 25.814
11. Ngada 44 6 50 8.766 15.079 23.845
12. Nagekeo 24 5 29 12.907 1.780 14.687
13. Manggarai 45 1 46 18.580 2.605 21.185
14. Manggarai Timur 10 1 11 6.341 4.850 11.191
15. Manggarai Barat 33 3 36 6.100 3.317 9.417
16. Sumba Timur 89 7 96 11.962 7.873 19.835
17. Sumba Tengah 3 - 3 72 53 125
18. Sumba Barat 39 9 48 16.594 6.835 23.429
19. Sumba Barat Daya 24 1 25 2.414 515 2.929
20. Rote Ndao 71 18 89 5.743 2.020 7.763
21. Sabu Raijua 6 - 6 243 21 264
22. Provinsi 56 9 65 2.765 215 2.980
Jumlah 1.399 339 1.738 311.420 154.767 466.187
Sumber : Dinas Koperasi Provinsi NTT Tahun 2011
Modal Sendiri, Modal Luar, Volume Usaha dan SHU Koperasi di Provinsi NTT
Periode 31 Desember 2009
No Kabupaten / Kota Modal Sendiri
(Rp) Modal Luar
(Rp) Volume Usaha
(Rp) SHU
(Rp)
1. Kota Kupang 47.038.046.136 65.110.111.000 116.601.887.580 9.951.588.000
2. kab. Kupang 12.951.885.000 23.155.925.000 21.770.805.000 2.558.995.000
3. Timor Tengah Selatan 52.388.450.000 12.734.565.000 15.525.335.000
2.510.122.000
4. Timor Tengah Utara 4.987.575.000 9.614.560.000 14.717.869.000 1.495.335.000
5. Belu 3.755.990.000 9.977.560.000 13.097.450.000 1.398.490.000
6. Alor 4.395.155.000 10.134.970.000 4.553.875.000 879.335.000
7. Lembata 7.554.459.039 18.036.270.000 29.367.850.186 2.805.975.000
8. Flores Timur 14.875.919.390 44.071.415.000 49.097.312.817 4.739.919.995
9. Sikka 77.227.940.000 29.757.735.000 138.752.233.000 10.078.225.000
10. Ende 23.406.048.676 13.488.980.000 32.908.373.259 3.909.840.000
11. Ngada 14.998.860.000 13.487.760.000 20.885.765.000 3.565.205.000
12. Nagekeo 14.831.830.720 8.598.250.000 18.526.776.175 2.908.605.000
13. Manggarai 9.451.598.506 13.935.175.000 18.147.565.000 3.798.950.000
14. Manggarai Timur 2.043.982.652 4.735.675.000 8.986.345.000 2.139.515.000
15. Manggarai Barat 3.989.980.000 5.077.985.000 11.809.910.000 2.765.900.000
16. Sumba Timur 9.365.755.000 12.416.075.000 12.016.075.113 1.358.126.782
17. Sumba Tengah 756.450.000 776.275.000 177.560.000 39.775.000
18. Sumba Barat 4.736.870.000 8.836.980.000 2.109.675.000 349.890.000
19. Sumba Barat Daya 1.269.375.000 2.522.435.000 1.452.278.355 68.955.000
20. Rote Ndao 5.426.977.000 8.935.595.000 5.802.214.233 353.935.370
21. Sabu Raijua 155.755.000 435.885.000 875.000.000 155.000
22. Provinsi 16.039.850.000 18.696.285.000 23.654.865.000 1.760.975.000
Jumlah 331.648.752.119 334.536.466.000 560.837.019.718 59.437.812.147

SAMPAI saat ini jumlah Usaha Mikro Kecil dan Menegah (UMKM) di Propinsi Nusa
Tenggara Timur (NTT) sebanyak 735.023 unit. Kebanyakan UMKM menggeluti
bidang pertanian, peternakan, perikanan dan kehutanan. Hal itu disampaikan
Kepala Dinas Koperasi dan UMKM NTT, Paulus R Tadung, S.H, melalui Kepala Bidang
Bina Usaha Koperasi, Alexander Sanu, S.E, M.Si, ketika membawakan materi pada
Rapat Koordinasi (Rakor) Pengembangan Usaha Koperasi dengan Lembaga
Keagamaan di Hotel Maya, Jalan Sumatera No 1, Kupang, Selasa (29/9/2009).
Menurut Sanu, semua UMKM itu tersebar di daerah perkotaan. "Dari jumlah itu,
paling banyak UMKM menggeluti usaha di bidang pertanian, peternakan, perikanan
dan kehutanan. Hanya beberapa UMKM yang geluti usaha kelistrikan, gas dan air
bersih," ujar Sanu. Dia menjelaskan, saat ini, pemerintah NTT sudah bertekad
menjadikan NTT sebagai propinsi koperasi. Artinya, koperasi akan menjadi pilar
pembangunan ekonomi mulai dari daerah hingga propinsi. Untuk itu, pemerintah
kabupaten/kota pun diharapkan menyeragamkan tekad untuk menyukseskan hal
ini. Dikatakannya, program koperasi UMKM meliputi penciptaan iklim usaha kecil
dan menengah yang kondusif, mengembangkan kewirausahaan dan keunggulan
kompetitif UMKM, selain itu program pengembangan sistem untuk mendukung
UMKM dan pemberdayaan usaha-usaha yang berskala mikro. "Kami juga terus
berupaya mengembangkan koperasi terutama pembenahan kelembagaan sehingga
terciptanya manajemen yang baik dan handal," tandasnya. Lebih lanjut, ia
mengatakan, keberadaan UMKM di daerah ini menyerap tenaga kerja cukup banyak.
Dari data yang dimiliki, tenaga kerja yang terserap itu sebanyak 1.319.848 orang.
Jumlah itu tersebar pada tujuh bidang pada UMKM. Tujuh bidang itu, yakni pertama,
bidang pertanian, peternakan, perikanan dan kehutanan. Kedua, bidang
pertambangan dan penggalian. Ketiga bidang industri pengolahan. Keempat listrik,
gas dan air bersih. Kelima, bidang perdagangan, berikutnya hotel dan restoran serta
terakhir bidang keuangan dan persewaan.
Pengembangan UMKM itu, lanjutnya, tidak terlepas dari dunia perkoperasian.
Karena itu dengan spirit baru yang diusung Pemerintah Propinsi NTT, pihaknya
mengimplemntasi skala prioritas usaha koperasi yang meliputi pengembangan
ternak sapi, jagung, dan rumput laut. "Khusus pola pengembangan ternak sapi,
kami terapkan pola bagi hasil antara peternak, penggemukan/paronisasi. Hal yang
sama pula diikuti oleh jagung dan rumput laut yang juga dikelola oleh koperasi,"
ujarnya.

UMKM di NTT
-------------------------------------------------------------------------------------------
Jenis UMKM Jumlah (unit)
-------------------------------------------------------------------------------------------
Pertanian, Peternakan, Perikanan dan Kehutanan 576.710
Industri Pengolahan 79.874
Perdagangan, Hotel dan Restoran 70.397
Bangunan 3.874
Pertambangan dan Penggalian 2.398
Keuangan dan Jasa Persewaan 1.380
Listik, Air dan Gas 390
-----------------------------------------------------------------------------------------
Jumlah 735.023
-----------------------------------------------------------------------------------------
Sumber: Dinas Koperasi dan UMKM
Dapatkan artikel ini di URL:
http://202.146.4.119/36293/Koperasi Gandeng Lembaga Agama
a. KUD
Koperasi Unit Desa (KUD) merupakan salah satu pilar perekonomian yang berperan
penting dalam pembangunan perekonomian nasional. Namun, sejak dikeluarkan
Inpres No. 18 Tahun 1998, KUD tidak lagi menjadi koperasi tunggal di tingkat
kecamatan. Program-program pemerintah untuk membangun masyarakat
pedesaan, seperti distribusi pupuk, benih, dan pengadaan gabah, yang awalnya
dilakukan melalui KUD selanjutnya diserahkan pada mekanisme pasar.
Hal inilah yang kemudian mengakibatkan lebih dari 5.400 KUD di Indonesia secara
umum mengalami penurunan kinerja dan tidak sedikit yang hanya tinggal papan
nama. Meskipun demikian, tidak sedikit pula KUD yang bertahan, bahkan
berkembang.
Mengembalikan peran kunci KUD, merupakan konsekuensi tuntutan pembangunan
ekonomi kerakyatan. Hal ini sejalan dengan prinsip-prinsip dan nilai-nilai koperasi
untuk menyejahterakan anggota serta masyarakat pedesaan, termasuk membantu
berbagai program pemerintah dalam pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Revitalisasi KUD
Koperasi dan koperasi unit desa (KUD) mempunyai sejarah yang panjang dan saling
berkaitan. Koperasi sudah ada sejak kolonial Belanda. Pada tahun 50-an muncul
jenis-jenis koperasi pertanian, seperti koperasi pertanian (koperta), koperasi desa,
koperasi kopra, dan koperasi karet. Selanjutnya, pada tahun 70-an kopera-si-
koperasi itu disatukan dalam KUD.
Berdasarkan Inpres No 4/1973, KUD adalah koperasi pertanian. Kemudian pada
1978, dengan Inpres No 2/1978, diubah menjadi koperasi pedesaan. KUD adalah
satu-satunya koperasi di pedesaan. Inpres No 4/1984 mengukuhkan kembali KUD
sebagai organisasi koperasi tunggal (kecuali ada izin dari menteri). KUD
dikembangkan akibat kegagalan Bimas Gotong Royong untuk melibatkan petani
secara efektif dalam program peningkatan produksi beras. Di wilayah unit desa,
satu kesatuan sawah dengan irigasi teknis yang meliputi areal 600-1.000 ha,
dibentuk KUD yang berfungsi sebagai sarana penopang wilayah unit desa bersama
BRI unit desa dengan menyalurkan sarana produksi, yang nantinya akan
dikembangkan sebagai penyalur, kredit, pemasaran hasil pertanian, dan lain-lain.
Pada 1998, melalui Inpres No. 18/1998, pemerintah mencabut Inpres No. 4/1984
yang menghapus legitimasi KUD sebagai organisasi koperasi tunggal di tingkat
pedesaan dan dengan demikian berfungsi sebagai palu godam yang meruntuhkan
banyak KUD. Banyak KUD yang tidak sukses melaksanakan pengadaan pangan
kemudian ditambah dengan penghapusan subsidi pupuk. Banyak KUD yang juga
gags! melaksanakanpenyaluran pupuk. Pengadaan pangan dan penyaluran pupuk
tersebut kemudian diambil alih oleh Bulog, LSM, dan swasta. Setelah itu, keluar
kebijakan pemerintah yang meliberalisasikan koperasi. Dengan bebas masyarakat
mendirikan koperasi dengan hanya izin dari dinas koperasi tingkat kabupaten dan
mendapatkan insentif kredit lunak. Alhasil, banyak koperasi yang tumbuh hanya
karena akan mendapat fasilitas pemerintah, tanpa kegiatan alias koperasi papan
nama.
Akhir-akhir ini pemerintah mengembangkan berbagai program yang tidak lagi
menggunakan KUD, tetapi membentuk kelompok masyarakat penerima
bantuan/prog-ram seperti kelompok tani, gapoktan (gabungan kelompok tani), dan
LKMA (lembaga keuangan mikro agribisnis). Harapannya, gapoktan tersebut akan
berkembang menjadi koperasi.
Kenyataannya belum seperti yang diharapkan. Kelompok tani yang dibentuk
sebagai akibat adanya program pemerintah biasanya tidak permanen. Begitu
program selesai kelompok tani tersebut berakhir. Dan bila ada program pemerintah
dari departemen yang berbeda, biasanya dibentuk kelompok tani baru. Keadaan ini
berlangsung terus, sehingga tidak berkembang kelompok tani menjadi koperasi.
Departemen Dalam Negeri mengembangkan lembaga ekonomi di pedesaan berupa
BUMD (badan usaha milik desa), namun perkembangannya belum bisa melembaga
secara nasional

Potensi
Oleh karena itu, timbul pemikiran bagaimana mengembangkan KUD menjadi
koperasi yang benar, dengan memadukan keberadaan kelompok tani/gapoktan dan
KUD. Hal ini didasarkan pada kenyataan, KUD mempunyai potensi atau kekuatan
yang dapat dijadikan modal untuk lebih dikembangkan. Potensi dan kekuatan KUD
adalah punya infrastruktur (gedung dan perlengkapan usaha) yang memadai.
Namun, perlu disadari. KUD juga mempunyai kelemahan, yakni dikembangkan
sebagai koperasi pedesaan dengan keanggcgaan yang mencakup seluruhpenduduk
pedesaan dengan latar belakang ekonomi yang sangat keterogen, sehingga nasib
petani, yang akan diangkat melalui koperasi, dianggap kurang mendapat perhatian
atau kurang fokus. Bahkan, karena keanggotaan berlansgung secara otomatis,
partisipasi anggota menjadi kurang dan kadang dapat diabaikan sama sekali.
Dengana adanya kekosongan kelembagaan sosial ekonomi petani sebagai akibat
terabaikannya KUD di satu sisi dan tidak berkembangnya kelompok tani sebagai
embrio koperasi di sisi lain, perlu dibangun kelembagaan sosial ekonomi petani
yang kuat, yakni merevitalisasi KUD. Salah satu upaya merevitalisasi KUD adalah
mereformasi KUD dan merumuskan kebijakan pemerintah untuk membangkitkan
kembali KUD.
Reformasi tersebut, pertama, KUD mempunyai satu atau beberapa core business
komoditas tertentu yang dapat dikelola secara penuh. Misalnya, padi, perikanan,
peternakan, dan perkebunan. Kedua, core business tersebut diupayakan terintegrasi
secara vertikal, sehingga mempunyai kegiatan pada subsistem agrobisnis hulu, hilir,
pemasaran dan penunjang. Ketiga, anggota koperasi adalah petani yang sesuai
dengan core business KUD yang dapat diwakili oleh kelompok tani dan atau
gapoktan. Keempat, memanfaatkan kelompok tani/gapoktan sebagai organisasi
koperasi yang dibentuk secara bottom-up.
Untuk lebih kuatnya kelembagaan koperasi atau KUD, yang diharapkan dapat
berperan sebagai lembaga ekonomi yang mampu memfasilitasi dan melindungi
petani anggota, diperlukan dukungan pemerintah daerah, melalui dinas-dinas
terkait dan bekerja sama, dengan perguruan (inggi. Pembinaan kelembagaan
ekonomi pedesaan dapat dilakukan dengan pemberdayaan KUD menjadi lembaga
dengan paradigma baru, yang mampu melindungi dan memfasilitasi usaha petani
dalam sistem agrobisnis dari hulu hingga hilir.
b. Kelompok Usaha Agribisnis Terpadu(Kuat)
KUAT merupakan suatu rekayasa kelembagaan agribisnis yang bersifat partisipatif
di pedesaan. Pelayanan KUAT meliputi:
(i) Pembinaan kelompok tani dalam penerapan inovasi pertanian progesif;
(ii) Pelayanan kebutuhan modal dan pemupukan modal;
(iii) Pelayanan sarana produksi dan pemasaran hasil;
(iv) Pengembangan usaha dan sistem agribisnis.

Model ini telah diadopsi oleh program nasional P3T di 22 provinsi dan ternyata
berhasil dalam meningkatkan produktivitas padi melalui inovasi teknologi varietas
dan manajemen usahatani. Lembaga KUAT ini merupakan evolusi dari model KUM
yang mampu berkembang dan berkelanjutan. Diharapkan model kelembagaan ini
dapat digunakan secara luas sebagai wadah dalam pengembangan sistem dan
usaha agribisnis.
c. Insus
Peranan intensifikasi pertanian di tingkat usahatani mutlak diperlukan untuk
peningkatan produksi dan pelestarian swasembada pangan. Untuk meningkatkan
keberhasilan, pola intensifikasi terus dikembangkan mutunya dari intensifikasi
umum menjadi intensifikasi khusus.
Pengertian INSUS sebenarnya adalah intensifikasi pertanian yang dilaksanakan oleh
kelompok petani dalam satu hamparan minimum 25 Ha, guna memanfaatkan
potensi lahan usahataninya secara optimal dengan menerapkan teknologi anjuran.
Perbedaan inmum ialah petani pelaksana intensifikasi belu terkodinir secara
berkelompok. Sedangkan istilah supra insus tidaklah lain adalah pola insus yang
lebih memantapkan lagi kerjasama petani dalam kelompoknya. Supra insus
sebenarnya merupakan rekayasa teknis, sosial dan ekonomi yang diterapakan atas
dasar pendekatan wilayah dalam satu unit Himpunan supra insus yang luas
arealnya mencapai 25.000 Ha.
d. Bimbingan Masal (BIMAS)
Diawali dengan kegiatan Demonstrasi Masal oleh IPB di Karawang pada 1964/65-
1965/1966, sejak 1966 pemerintah menetapkan kebi-jakan Bimbingan Masal
(BIMAS). Dalam organisasi BIMAS tersebut Perguruan Tinggi terlibat secara aktif,
meskipun keberadaan mahasiswa sebagai tenaga penyuluh bersifat sementara
(selama satu musim).
e. Program Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan (PUAP)
Program Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan diluncurkan Departemen
Pertanian sejak tahun 2008 melibatkan instansi terkait lingkup pertanian untuk
mengawal, mendampingi, memonitoring dan mengevaluasi untuk terus menerus
melakukan perbaikan dalam hal aplikasi dan pelaksanaannya di lapangan. Salah
satu tujuan program ini adalah meningkatkan fungsi kelembagaan ekonomi petani
menjadi jejaring atau mitra lembaga keuangan dalam rangka akses ke permodalan.
Penyuluh Pertanian
Kepustakaan tentang penyuluhan pertanian, selalu dinyatakan bahwa penyuluhan
pertanian didefinisikan seba-gai sistem pendidikan non-formal (luar-sekolah) untuk
petani dan keluarganya (Soejitno, 1968; Wiriaatmadja, 1973; Hamundu, 1997).
Definisi tersebut mengandung pengertian bahwa:
1. Petani dan keluarganya merupakan sasaran-didik atau obyek penyuluhan
pertanian.
2. Obyek penyuluhan pertanian hanya terbatas pada petani dan keluarganya.
Terhadap pemahaman seperti itu, seiring dengan kemajuan teknologi informasi dan
pergeseran paradigma pembangunan pertanian, nampaknya sudah saatnya
dilakukan telaahan ulang, Pertama, proses pendidikan (belajar mengajar) yang
berlang-sung dalam kegiatan penyuluhan pertanian seharusnya meru-pakan proses
pendidikan orang dewasa (adult education/ andragogie) yang berlangsung secara
horizontal/lateral, ber-beda dengan paedagogie yang prosesnya berlangsung
vertikal. Dalam pendidikan orang dewasa, keberhasilan pendidikan tidak diukur
dari seberapa banyak terjadi transfer ilmu (pengetahuan, sikap dan ketrampilan)
melainkan diukur dari sebarapa jauh terjadi dialog antara peserta-didik dengan
fasilitatornya.
Karena itu, pemahaman penyuluhan pertanian yang menem-patkan petani dan
keluarganya sebagai obyek penyuluhan, sudah tidak tepat lagi. Di samping itu,
sejalan dengan kema-juan teknologi informasi yang memungkinkan petani memper-
oleh informasi/inovasi dari banyak pihak selain penyuluh, kenyataan menunjukkan
bahwa dalam banyak kasus, posisi penyuluh tidak selalu di atas sebagai pihak
yang lebih tahu, lebih-pintar atau lebih-berkuasa. Sejak dua-puluh tahun terakhir,
terutama di wilayah yang telah maju dan terbuka, hubungan penyuluh dan
petani dalam proses penyuluhan telah bergeser dari hubungan guru dengan
murid menjadi hubungan dua pihak yang sejajar, saling berbagi pengalaman,
dalam kegiatan belajar-bersama.
Kedua,, kelambanan penyuluhan pertanian seringkali tidak disebabkan oleh perilaku
kelompok akar rumput (grass-roots), tetapi justru lebih banyak ditentukan oleh
perilaku, kebijakan dan komitmen lapis atas untuk benar-benar
membantu/melayani (masyarakat) petani agar mereka lebih sejahtera.
Di samping itu, keberhasilan penyuluhan-pertanian tidak hanya tergantung pada
efektivitas komunikasi antara penyuluh dan petani beserta keluarganya, tetapi
sering lebih ditentukan oleh perilaku/kegiatan stakeholders pertanian yang lain,
seperti: produsen sarana produksi, penyalur kredit usaha-tani, peneliti, akademisi,
aktivis LSM, dll. yang selain sebagai agent of development sekaligus juga turut
menikmati manfaat kegiatan penyuluhan pertanian. Berkaitan dengan kenyataan
ini, Departemen Pertanian (2002) telah melakukan revisi ter-hadap definisi
penyuluhan pertanian dengan menyebutkan bahwa penyuluhan pertanian tidak
hanya terbatas diperuntuk-kan bagi petani dan keluarganya, tetapi juga bagi
masyarakat pertanian yang lain
Berbicara tentang sasaran atau obyek penyuluhan pertanian, Mardikanto (1996)
telah menggantinya dengan istilah penerima manfaat (beneficiaries) yang terdir
dari:
a. Sasaran-utama, yang terdiri dari petani dan keluarga-nya.
b. Sasaran-penentu, yang terdiri: aparat birokrasi peme-rintah yang memegang
otoritas penentu kebijakan pembangunan dan penyuluhan pertanian.
c. Sasaran-pendukung yang terdiri dari: pelaku bisnis pertanian (produsen sarana
dan peralatan produksi, penyedia kredit usahatani, pedagang/penyalur sarana dan
peralatan pertanian, pengolah dan pemasar produk perta-nian), peneliti, aktivis
organisasi profesi, LSM, media masa, pers, budayawan, dll.
Terkait dengan telaahan ulang terhadap sasaran penyu luhan pertanian di atas,
akan membawa implikasi yang luas terhadap:
Penghayatan setiap insan penyuluh terhadap pendekatan, strategi, dan metoda
penyuluhan yang partisipatip, yang membawa konsekuensi terhadap perubahan
perilaku penyuluh (baik yang berstatus pegawai negeri, aktivis LSM,
pedagang/karyawan produsen sarana-produksi dan peralatan pertanian, serta
petugas penyalur kredit usahatani) untuk lebih menghargai petani sebagai mitra-
kerja dan bukannya terus menerus menempatkannya sebagai obyek kegiatan/bisnis
mereka.
Perubahan kegiatan penyuluhan pertanian yang tidak lagi diarahkan terpusat
kepada petani dan keluarganya, tetapi juga terhadap masyarakat pertanian yang
lain sebagai stakeholders pembangunan pertanian.
Dalam banyak kasus, kegiatan penyuluhan bagi para pe-nentu kebijakan
pembangunan dan penyuluhan pertanian yang selama ini tidak pernah disentuh
karena dinilai sebagai pemegang otoritas yang selalu benar, terasa lebih penting
untuk dikembangkan.
Pentingnya beragam bentuk kegiatan penyuluhan pertani-an yang tidak hanya
ditujukan bagi petani dan keluarga-nya, seperti: pertemuan ilmiah dengan kalangan
akademisi di perguruan tinggi, sekolah lapang bersama para peneliti, temu-usaha
dengan para pelaku bisnis pertanian, pameran dan demonstrasi (cara dan hasil).

Prinsip-prinsip penyuluhan pertanian


Mathews menyatakan bahwa: Prinsip adalah suatu pernyataan tentang
kebijaksanaan yang dijadikan pedoman dalam pengambilan keputusan dan
melaksanakan kegiatan secara konsisten. Karena itu, prinsip akan berlaku umum,
dapat diterima secara umum, dan telah diyakini kebenarannya dari berbagai peng-
amatan dalam kondisi yang beragam. Dengan demikian prinsip dapat dijadikan
sebagai landasan pokok yang benar, bagi pelaksanaan kegiatan yang akan
dilaksanakan.
Meskipun prinsip biasanya diterapkan dalam dunia akademis, Leagans(1961)
menilai bahwa setiap penyuluh dalam melaksanakan kegiatannya harus berpegang
teguh pada prinsip-prinsip penyuluhan. Tanpa berpegang pada prinsip-prinsip yang
sudah disepakati, seorang penyuluh (apalagi administrator penyuluhan) tidak
mungkin dapat melaksanakan pekerjaannya dengan baik.
Bertolak dari pemahaman penyuluhan sebagai salah satu sistem pendidikan, maka
penyuluhan memiliki prinsip-prinsip:
Mengerjakan, artinya, kegiatan penyuluhan harus seba-nyak mungkin melibatkan
masyarakat untuk mengerjakan/ menerapkan sesuatu. Karena melalui
mengerjakan mereka akan mengalami proses belajar (baik dengan menggunakan
pikiran, perasaan, dan ketrampilannya) yang akan terus diingat untuk jangka waktu
yang lebih lama.
Akibat, artinya, kegiatan penyuluhan harus memberikan akibat atau pengaruh
yang baik atau bermanfaat.
Sebab, perasaan senang/puas atau tidak senang/kecewa akan mempengaruhi
semangatnya untuk mengikuti kegiatan belajar/penyuluhan dimasa-masa
mendatang.
Asosiasi, artinya, setiap kegiatan penyuluhan harus dikait-kan dengan kegiatan
lainnya. Sebab, setiap orang cende-rung untuk mengaitkan/menghubungkan
kegiatannya dengan kegiatan/peristiwa yang lainnya. Misalnya, dengan melihat
cangkul orang ingat penyuluhan tentang persiapan lahan yang baik; melihat
tanaman yang kerdil/subur, akan mengingatkannya kepada usahaa-usaha
pemupukan.
Minat dan Kebutuhan, artinya, penyuluhan akan efektif jika selalu mengacu
kepada minat dan kebutuhan masya-rakat. Mengenai hal ini, harus dikaji secara
mendalam: apa yang benar-benar menjadi minat dan kebutuhan yang dapat
menyenangkan setiap individu maupun segenap warga masyarakatnya, kebutuhan
apa saja yang dapat dipenyui sesuai dengan tersedianya sumberdaya, serta minat
dan kebutuhan mana yang perlu mendapat prioritas untuk dipenuhi terlebih dahulu.
Organisasi masyarakat bawah, artinya penyuluhan akan efektif jika mampu
melibatkan/menyentuk organisasi masyarakat bawah, sejak dari setiap
keluarga/kekerabatan.
Keragaman budaya, artinya, penyuluhan harus memperha-tikan adanya
keragaman budaya. Perencanaan penyuluhan harus selalu disesuaikan dengan
budaya lokal yang beragam. Di lain pihak, perencanaan penyuluhan yang seragam
untuk setiap wilayah seringkali akan menemui hambatan yang bersumber pada
keragaman budayanya.
Perubahan budaya, artinya setiap kegiatan penyuluhan akan mengakibatkan
perubahan budaya. Kegiatan penyuluhan harus dilaksanakan dengan bijak dan hati-
hati agar perubahan yang terjadi tidak menimbulkan kejutan-kejutan budaya.
Karena itu, setiap penyuluh perlu untuk terlebih dahulu memperhatikan nilai-nilai
budaya lokal seperti tabu, kebiasaan-kebiasaan, dll.
Kerjasama dan partisipasi, artinya penyuluhan hanya akan efektif jika mampu
menggerakkan partisipasi masyarakat untuk selalu bekerjasama dalam
melaksanakan program-program penyuluhan yang telah dirancang.
Demokrasi dalam penerapan ilmu, artinya dalam penyu-luhan harus selalu
memberikan kesempatan kepada masyarakatnya untuk menawar setiap ilmu
alternatif yang ingin diterapkan. Yang dimaksud demokrasi di sini, bukan terbatas
pada tawar-menawar tentang ilmu alternatif saja, tetapi juga dalam penggunaan
metoda penyuluhan, serta proses pengambilan keputusan yang akan dilakukan oleh
masyarakat sasarannya.
Belajar sambil bekerja, artinya dalam kegiatan penyuluh-an harus diupayakan
agar masyarakat dapat belajar sambil bekerja atau belajar dari pengalaman
tentang segala sesuatu yang ia kerjakan. Dengan kata lain, penyuluhan tidak hanya
sekadar menyampaikan informasi atau konsep-konsep teoritis, tetapi harus
memberikan kesempatan kepada masyarakat sasaran untuk mencoba atau
memperoleh pangalaman melalui pelaksanaan kegiatan secara nyata. Penggunaan
metoda yang sesuai, artinya penyuluhan harus dilakukan dengan penerapan
metoda yang selalu disesuaikan dengan kondisi (lingkungan fisik, kemampuan
ekonomi, dan nilai sosialbudaya) sasarannya. Dengan kata lain, tidak satupun
metoda yang dapat diterapkan di semua kondisi sasaran dengan efektif dan efisien.
Kepemimpinan, artinya, penyuluh tidak melakukan kegi-atan-kegiatan yang hanya
bertujuan untuk kepenting-an/kepuasannya sendiri, dan harus mampu
mengembang-kan kepemimpinan.
Dalam hubungan ini, penyuluh sebaiknya mampu menum-buhkan pemimpin-
pemimpin lokal atau memanfaatkan pemimpin lokal yang telah ada untuk
membantu kegiatan penyuluhannya.
Spesialis yang terlatih, artinya, penyuluh harus benar-benar orang yang telah
memperoleh latihan khusus tentang segala sesuatu yang sesuai dengan fungsinya
sebagai penyuluh.
Penyuluh-penyuluh yang disiapkan untuk menangani kegiatan-kegiatan khusus akan
lebih efektif dibanding yang disiapkan untuk melakukan beragam kegiatan
(meskipun masih berkaitan dengan kegiatan pertanian).
Segenap keluarga, artinya, penyuluh harus memperhatikan keluarga sebagai satu
kesatuan dari unit sosial. Dalam hal ini, terkandung pengertian-pengertian:
Penyuluhan harus dapat mempengaruhi segenap ang-gota keluarga,
Setiap anggota keluarga memiliki peran/pengaruh dalam setiap pengambilan
keputusan,
Penyuluhan harus mampu mengembangkan pemaham-an bersama
Penyuluhan mengajarkan pengelolaan keuangan kelu-arga
Penyuluhan mendorong keseimbangan antara kebutuh-an keluarga dan kebutuhan
usahatani,
Penyuluhan harus mampu mendidik anggota keluarga yang masih muda,
Penyuluhan harus mengembangkan kegiatan-kegiatan keluarga, memperkokoh
kesatuan keluarga, baik yang menyangkut masalah sosial, ekonomi, maupun
budaya
Mengembangkan pelayanan keluarga terhadap masya-rakatnya.
Kepuasan, artinya, penyuluhan harus mampu mewujudkan tercapainya kepuasan.
Adanya kepuasan, akan sangat menentukan keikutsertaan sasaran pada program-
program penyuluhan selanjutnya.

Falsafah Penyuluhan Pertanian


Meskipun telah lama dipahami bahwa penyuluhan merupakan proses pendidikan,
tetapi dalam sejarah penyuluh-an pertanian di Indonesia, terutama selama periode
pemerin-tahan Orde Baru, kegiatan penyuluhan lebih banyak dilakukan dengan
pendekatan kekuasaan melalui kegiatan yang berupa pemaksaan, sehingga muncul
gurauan: dipaksa, terpaksa, akhirnya terbiasa.
Terhadap kenyataan seperti itu, Soewardi (1986) telah mengingat kepada semua
insan penyuluhan kembali untuk menghayati makna penyuluhan sebagai proses
pendidika. Diakui, penyuluhan melalui pendidikan akan memakan waktu lebih lama
untuk mengubah perilaku masyarakat, tetapi perubahan perilaku yang terjadi akan
berlangsung lebih kekal. Sebaliknya, meskipun penyuluhan melalui pemaksaan
dapat lebih cepat dan mudah dilakukan, tetapi perubahan perilaku tersebut akan
segera hilang, manakala faktor pemaksanya sudah dihentikan.
Dalam khasanah kepustakaan penyuluhan pertanian, banyak kita jumpai beragam
falsafah penyuluhan pertanian. Berkaitan dengan itu, Ensminger (1962) mencatat
adanya 11 (sebelas) rumusan tentang falsafah penyuluhan.
Di Amerika Serikat juga telah lama dikembangkan falsafah 3-T: teach, truth, and
trust (pendidikan, kebenaran dan keperca-yaan/keyakinan). Artinya, penyuluhan
merupakan kegiatan pendidikan untuk menyampaikan kebenaran-kebenaran yang
telah diyakini. Dengan kata lain, dalam penyuluhan pertanian, petani dididik untuk
menerapkan setiap informasi (baru) yang telah diuji kebenarannya dan telah
diyakini akan dapat memberikan manfaat (ekonomi maupun non ekonomi) bagi
perbaikan kesejahteraannya.
Karena itu, ia mengemukakan bahwa: falsafah penyuluhan adalah: bekerja bersama
masyarakat untuk membantunya agar mereka dapat meningkatkan harkatnya
sebagai manusia (helping people to help themselves). Dari pendapat tersebut,
terkandung pengertian bahwa:
a. Penyuluh harus bekerjasama dengan masyarakat, dan bukannya bekerja untuk
masyarakat. Kehadiran penyuluh bukan sebagai penentu atau pemaksa, tetapi ia
harus mampu menciptakan suasana dialogis dengan masyarakat dan mampu
menumbuhkan, mengge-rakkan, serta memelihara partisipasi masyarakat.
b. Penyuluhan tidak boleh menciptakan ketergantungan, tetapi harus mampu
mendorong semakin terciptanya krea-tivitas dan kemandirian masyarakat agar
semakin memiliki kemampuan untuk berswakarsa, swadaya, swadana, dan
swakelola bagi terselenggaranya kegiatan-kegiatan guna tercapainya tujuan,
harapan, dan keinginan-keinginan masyarakat sasarannya.
c. Penyuluhan yang dilaksanakan, harus selalu mengacu kepada terwujudnya
kesejahteraan ekonomi masyarakat dan peningkatan harkatnya sebagai
manusia.Dari kalangan pakar Indonesia, tercatat:
Mengacu kepada pemahaman tentang penyuluhan sebagai proses pendidikan, di
Indonesia dikenal adanya falsa-fah pendidikan yang dikemukakan oleh Ki Hajar
Dewantoro yang berbunyi:
Ing ngarso sung tulodo, mampu memberikan contoh atau taladan bagi
masyarakat sasarannya;
Ing madyo mangun karso, mampu menumbuhkan inisyatif dan mendorong
kreativitas, serta semangat dan motivasi untuk selalu belajar dan mencoba;
Tut wuri handayani, mau menghargai dan mengikuti ke-inginan-keinginan serta
upaya yang dilakukan masyarakat petaninya, sepanjang tidak
menyimpang/meninggalkan acuan yang ada, demi tercapainya tujuan perbaikan
kese-jahteraan hidupnya.
Dalam pengertian di atas, perlu dipahami bahwa, petani bukanlah orang bodoh dan
karena itu tidaklah pantas untuk tetap dibiarkan atau bahkan dibuat hidup dalam
kemiskinan dan penderitaan. Petani haruslah dilihat seba-gai manusia biasa yang
memiliki potensi untuk mengem-bangkan kemampuannya dan memiliki keinginan
dan harapan untuk terlepas dari kemiskinan dan penderitaan yang tidak mereka
kehendaki.
Karena itu, pelaksanaan penyuluhan pertanian harus mampu tidak saja mengem-
bangkan potensi petani tetapi juga harus mau memberikan peluang kepada
kekuatannya sendiri untuk mengembang-kan potensinya supaya terlepas dari
kemiskinan dan kebodohan. Dengan demikian, penyuluhan pertanian harus
didukung oleh kegiatan lain yang dapat menjadikan petani (yang selama ini bodoh
dan miskin itu) sebagai petani-petani tangguh. Petani tangguh bukanlah petani
yang dengan penuh kesabaran sanggup tahan hidup dalam kebodohan dan
penderitaan, tetapi petani yang terus menerus mampu mengem bangkan potensi
yang dimilikinya untuk dengan kreatif berswakarsa dan berswadayaa dalam
meningkatkan produkti-vitas dan pendapatannya demi perbaikan kesejahteraan
keluar-ga dan masyarakatnya.

Sehubungan dengan falsafah penyuluhan pertanian yang berlandaskan pada


falsafah Pancasila, Soetrisno (1989) minta agar juga mengkaitkannya dengan motto
bangsa yang: Bhineka Tunggal Ika yang membawa konsekuensi pada:
Perubahan administrasi penyuluhan dari yang bersifat regulatif sentralistis
menjadi fasilitatif partisipatif, dan
Pentingnya kemauan penyuluh untuk memahami budaya lokal yang seringkali
juga mewarnai local agriclutural practices.
Pemahaman seperti itu, mengandung pengertian bahwa:
a. Administrasi penyuluhan tidak selalu dibatasi oleh per-aturan-peraturan dari
pusat yang kaku, karena hal ini seringkali menjadikan petani tidak memperoleh
keleluasa-an mengembangkan potensi yang dimilikinya. Demikian juga halnya
dengan administrasi yang terlalu sentralistis seringkali tidak mampu secara cepat
mengantisipasi per-masalahan-permasalahan yang timbul di daerah-daerah, karena
masih menunggu petunjuk/restu dari pusat.
Padahal, dalam setiap permasalahan yang dihadapi, peng-ambilan keputusan yang
dilakukan oleh petani seringkali berdasarkan pertimbangan bagaimana untuk dapat
menyelamatkan keluarganya. Dalam kasus-kasus seperti itu, seharusnya
penyuluh diberi kewenangan untuk secepatnya pula mengambil inisyatifnya sendiri.
Di lain pihak, administrasi yang terlalu regulatif seringkali sangat membatasi
kemerdekaan petani untuk mengambil keputusan bagi usahataninya.
b. Penyuluh, selain memberikan ilmunya kepada petani, ia harus mau belajar
tentang ngelmunya petani yang se-ringkali dianggap tidak rasional (karena yang
oleh penyuluh dianggap rasional adalah yang sudah
menjadi petunjuk pusat). Padahal, praktek-praktek usahatani yang berkembang dari
budaya lokal seringkali juga sangat rasional, karena telah mengalami proses trial
and error dan teruji oleh waktu.
Lingkup Kegiatan Penyuluhan Pertanian
Lingkup kegiatan penyuluh sebagai agen pembaruan dalam 7 (tujuh) kegiatan
pokok, yaitu:
a. Penyadaran, yaitu kegiatan-kegiatan yang dilakukan untuk menyadarkan
masyarakat tentang keberadaannya, baik keberadaannya sebagai individu dan
anggota masya-rakat, maupun kondisi lingkungannya yang menyangkut lingkungan
fisik/teknis, sosial-budaya, ekonomi, dan politik.
Proses penyadaran seperti itulah yang dimaksudkan oleh Freire sebagai tugas
utama dari setiap kegiatan pendidikan, termasuk di dalamnya penyuluhan.
b. Menunjukkan adanya masalah, yaitu kondisi yang tidak diinginkan yang
kaitannya dengan: keadaan sumberdaya (alam, manusia, sarana-prasarana,
kelembagaan, buda-ya, dan aksesibilitas), lingkungan fisik/teknis, sosial-budaya dan
politis, termasuk dalam upaya menunjukkan masalah tersebut, adalah faktor-faktor
penyebab terjadinya masalah, terutama yang menyangkut kelemhan internal dan
ancaman eksternalnya.
c. Membantu pemecahan masalah, sejak analisis akar-masalah, analisis alternatif
peme-cahan masalah, serta pilihan alternatip pemecahan terbaik yang dapat
dilakukan se-suai dengan kondisi internal (kekuatan, kelemahan) maupun kondisi
eklsternal (pelu-ang dan ancaman) yang dihadapi.
d. Menunjukkan pentingnya perubahan, yang sedang dan akan terjadi di
lingkungannya, baik lingkungan organisasi dan masyarakat (lokal, nasional, regional
dan global)
Karena kondisi lingkungan (internal dan eksternal) terus mengalami perubahan
yang semakin cepat, maka masyarakat juga harus disiapkan untuk mengantisipasi
perubah-an-perubahan tersebut melalu kegiatan perubahan yang terencana
e. Melakukan pengujian dan demonstrasi, sebagai bagian dan implementasi
perubahan terencana yang berhasil dirumuskan. Kegiatan uji-coba dan demonstrasi
ini sangat diperlukan, karena tidak semua inovasi selalu cocok (secara: teknis,
ekonomis, sosial-budaya, dan politik/kebijakan) dengan kondisi masyarakatnya. Di
samping itu, uji-coba juga diperlukan untuk memperoleh gambaran tentang
beragam alternatip yang paling bermanfaat dengan resiko atau korbanan yang
terkecil.
f. Memproduksi dan publikasi informasi, baik yang berasdal dari luar (penelitian,
kebijakan, produsen/pelaku bisnis, dll) maupun yang berasal dari dalam
(pengalaman, indegenuous technology, maupun kearifan tradisional dan nilai-nilai
adat yang lain)
Sesuai dengan perkembangan teknologi, produk dan media publikasi yang
digunakan perlu disesuaikan dengan karakteristik (calon) penerima manfaat
penyuluhannya
g. Melaksanakan pemberdayaan/penguatan kapasitas.
Yang dimaksud dengan pemberdayaan disini adalah pemberian kesempatan kepada
kelompok grassroot untuk bersuara dan menentukan sendiri pilihan-pilihannya
(voice and choice) kaitannya dengan: aksesibilitas informasi, keterlibatan dalam
pemenuhan kebutuhan serta partisipasi dalam keseluruhan proses pembangunan,
bertanggung-gugat (akuntabilitas publik), dan penguatan kapasitas lokal.
Sedang yang dimaksud dengan penguatan kapasitas, menyangkut penguatan
kapasitas indiividu, kelembagaan-lokal, masyarakat, serta pengembnangan jejaring
dan kemitraan-kerja.

Tujuan Penyuluhan
Pembangunan apapun pengertian yang diberikan terhadapnya, selalu merujuk pada
upaya perbaikan, terutama perbaikan pada mutu-hidup manusia, baik secara fisik,
mental, ekonomi maupun sosial-budayanya.
Terkait dengan pemahaman tersebut, tujuan penyuluhan pertanian diarahkan pada
terwujudnya perbaikan teknis bertani (better farming), perbaikan usahatani (better
business), dan perbaikan kehidupan petani dan masyarakatnya (better living)
Dari pembangunan pertanian yang telah dilaksanakan di Indonesia selama tiga-
dasawarsa terakhir, menunjukkan bahwa, untuk mencapai ketiga bentuk perbaikan
yang disebutkan di atas masih memerlukan perbaikan-perbaikan lain yang
menyangkut (Deptan, 2002):
Perbaikan kelembagaan pertanian (better organization) demi terjalinnya
kerjasama dan kemitraan antar stakeholders. Sebagai contoh, dapat disampaikan
pengalaman pelak-sanaan Intensifikasi Khusus (INSUS), di mana inovasi-sosial yang
dilakukan melalui usahatani berkelompok mampu menembus kemandekan kenaikan
produktiivitas (leveling off) yang dicapai melalui inovasi-teknis.
Perbaikan kehidupan masyarakat (better community), yang tercermin dalam
perbaikan pendapatan, stabilitas keamanan dan politik, yang sangat diperlukan bagi
terlaksananya pembangunan pertanian yang merupakan sub-sistem pembangunan
masyarakat (community devel-opment)
Tentang hal ini, pengalaman menunjukkan bahwa pembangunan pertanian tidak
dapat berlangsung seperti diharapkan, manakala petani tidak memiliki cukup dana
yang didukung oleh stabilitas politik dan keamanan serta pembangunan bidang dan
sektor kehidupan yang lain. Sebaliknya, pembangunan pertanian menjadi tidak
berarti manakala tidak memberikan perbaikan kepada kehidupan masyarakatnya.
Perbaikan usaha dan lingkungan hidup (better enviroment) demi kelangsungan
usahataninya.
Tentang hal ini, pengalaman menunjukkan bahwa penggunaan pupuk dan pestisida
secara berlebihan dan tidak seimbang telah berpengaruh negatip terhadap produk-
tivitas dan pendapatan petani, secara kerusakan lingkungan-hidup yang lain, yang
dikhawatirkan akan mengancam keberlanjutan (sustainability) pembangunan
pertanian itu sendiri.

Di samping itu, satu hal lagi yang menyangkut pentingnya perbaikan aksesibilitas
petani dan stakeholders yang lain (better accesibility), baik terhadap sumber
inovasi, input usahatani (kredit, sarana produksi, alat dan mesin pertanian), pasar
dan jaminan harga, serta pengambilan keputusan politik.
Hal ini terutama dilandasi oleh petani-petani kecil yang merupakan pelaku-utama
pembangunan pertanian di Indonesia pada umumnya termasuk golongan ekonomi-
lemah, yang lemah dalam hal permodalan, penguasaan dan penerapan teknologi,
dan seringkali juga lemah semangatnya untuk maju, karena seringkali dijadikan
obyek pemaksaan oleh birokrasi maupun penyuluhnya sendiri.
Lebih lanjut, World Bank (2002) mensyaratkan hal-hal yang perlu diperhatikan untuk
terjaminnya pembangunan berkelanjutan (sustainable development) yang
menyangkut:
a. Perbaikan modal finansial, berupa perencanaan ekonomi-makro dan pengelolaan
fiska
b. Perbaikan modal fisik, berupa prasarana, bangunan, mesin, dan juga pelabuhan.
c. Perbiakan modal SDM, berupa perbaikan kesehatan dan pendidikan yang relevan
dengan pasar-kerja
d. Pengemabngan modal-sosial, yang menyangkut: ketram-pilan dan kemampuan
masya-rakat, kelembagaan, kemi-traan, dan norma hubungan sosial yang lain.
e. Pengelolaan sumberdaya alam, baik yang bersifat komer-sial maupun non-
komersial bagi perbaikan kehidupan manusia termasuk: air-bersih, energi, serat,
pengelolaan limbah, stabilitas iklim, dan beragam layanan penun-jangnya.
Tantangan, Peluang, Masalah dan Kendala
Menurut Direktorat mutu dan standardisasi ditjen pengolahan dan pemasaran hasil
pertanian-Deptan (2008), untuk mencapai tujuan akan dihadapkan pada tantangan,
peluang, masalah dan kendala dalam pelaksanaan Penyuluhan Pertanian.
Tantangan
Tantangan dalam pelaksanaan Penyuluhan Pertanian harus dijadikan motivasi dalam
peningkatan kemampuan penyuluh. Merupakan kemampuan yang perlu dimiliki dan
situasi kondisi kondusif yang perlu diciptakan bagi kelancaran proses pelaksanaan
dan keberhasilan pencapaian tujuan. Kemampuan dan situasi kondisi ters
t berupa sumber daya riil yang tadinya masih berupa sumber daya potensial, serta
situasi kondisi eksternal dan internal organisasi berupa sumber daya manusia,
sumber daya alam, dan sumberdaya buatan yang terdiri dari sumberdaya alat,
bahan, dana, teknologi, manajemen dan informasi, termasuk potensi pasar lokal,
inter-insuler, regional dan internasional. Tantangan ini harus dihadapi dan
diwujudkan secara konsepsional, berencana dan terarah dengan penuh kecermatan,
perhitungan dan kehatihatian karena variabel yang berpengaruh terhadapnya peka
terhadap perubahan situasi kondisi, kebijaksanaan pemerintah dan Ipoleksosbud
yang terus bergerak secara dinamis.
Peluang
Peluang merupakan faktor eksternal pendukung kemampuan intenal berupa sumber
daya riil dan potensial yang dimiliki unit kerja yang harus dimobilisasi dan
dimanfaatkan secara optimal untuk memecahkan masalah, menyesuaikan diri
dengan kendala dan mengatasi tantangan. Faktor eksternal pendukung berupa
sumber daya alam, potensi dan jaringan pemasaran dalam luar negeri,
kebijaksanaan pemerintah, situasi dan perkembangan ipoleksosbud, serta sumber
daya yang berada dalam kewenangan pihak terkait yaitu pelaku usaha, koperasi,
asosiasi, perbankan, instansi pemerintah, lembaga ekonomi dan sosial, swasta dan
BUMN.
Masalah
Masalah adalah penyebab keadaan yang tidak memuaskan atau keadaan yang
memerlukan atau keadaaan yang memerlukan perbaikan, yang menimbulkan
rangsangan untuk kita berpikir dan berbuat untuk mengatasi atau
menghilangkannya. Masalah ini harus dihadapi dan dipecahkan untuk menjamin
dan memeperlancar tercapainya tujuan. Masalah ini akan terus berputar tanpa
henti, bahkan terus meningkat secara dinamis, baik jenis, volume dan
kompleksitasnya, sejalan dan berkolrelasi positif dengan tingkat kemajuan
pencapaian tujuan. Setiap phase penyelesaian suatu kegiatan atau pencapaian
tujuan pada tingkatan tertentu akan menimbulkan keadaan baru dalam upaya
memutar roda pembangunan yang akan terus bergulir tanpa titik akhir. Masalah
berada dalam batas kewenangan dan kemampuan organisasi atau unit kerja untun
mengatasinya dengan jalan mengerahkan dan memanfaatkan secara optimal dan
terintegrasi segala sumber daya yang dimiliki dan dapat dikuasai.
Kendala
Kendala adalah hambatan konstrait yang terdiri dari situasi kondisi nyata yang
bersifat alami atau artifical yang tidak dapat dielakan tetapi perlu untuk
dimanfaatkan dengan jalan menyesuaikan diri bagi kendala yang bersifat alami, dan
dengan KIS (Koordinasi Informasi dan Sinkronisasi) bagi kendala yang bersifat
buatan dan pengaturan manusia. Kendala yang berada diluar batas kewenangan
dan kemampuan unit kerja kita untuk mengatasinya sehingga mutlak perlu
bekerjasama dengan pihak yang memiliki kewenangan dan kemampuan yang
berkaitan dengan kendala yang kita hadapi, dalam suasana koordinasi yang baik
dan kerjasama yang saling menguntungkan.
Keempat aspek teknis, sosial, ekonomi dan manajemen serta keempat hal dalam
situasi kondisi berupa tantangan, peluang, masalah, dan kendala secara terus
menerus berinteraksi, saling mempengaruhi dan saling mempunyai ketergantungan
antara aspek teknis, sosial, ekonomi dan manajemen.
Penyuluh di NTT
Kepala Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan Provinsi Nusa Tenggara Timur Ir
Nico Bala Nuhan mengatakan, sebanyak 42 dari 186 balai penyuluh pertanian di
Provinsi NTT dalam kondisi rusak berat.
"Sisanya, sebanyak 144 lainnya masih bisa dimanfaatkan para penyuluh untuk
melakukan bimbingan kepada kelompok tani di provinsi tersebut," katanya di
Kupang, Kamis (8/7).
Jika mengacu pada kebijakan satu kecamatan satu balai penyuluhan pertanian
(BPP), katanya, maka masih banyak balai penyuluh pertanian (BPP) yang perlu
dibangun. Hanya, menurut dia, langkah paling mendesak adalah merevitalisasi
fungsi BPP yang masih baik di 144 lokasi, agar para penyuluh bisa memainkan
peran berkaitan dengan program penyuluhan.
Apalagi, lanjut dia, saat ini pemerintah provinsi menjadikan NTT sebagai daerah
penghasil jagung untuk memenuhi kebutuhan nasional. Dia mengatakan, saat ini
jumlah tenaga penyuluh pertanian pun masih terbatas, jika dibandingkan dengan
jumlah desa yang mencapai hampir 3.000.
Penyuluh berstatus pegawai negeri sipil (PNS) sebanyak 1.237 orang ditambah 49
calon PNS 1.044 penyuluh berstatus honorer dan 120 penyuluh swadaya.
Sedangkan jumlah kelompok tani terdiri atas pemula sebanyak 10.254 kelompok,
kelas lanjutan 1.777 kelompok, 126 kelompok madya dan hanya satu kelompok
utama. Bahkan, sebanyak 1.928 kelompok tani, belum dikukuhkan.
Guna menggalang upaya meningkatkan produksi pangan, lanjut dia, maka
penyelenggaraan penyuluhan terus ditata, sembari meningkatkan partisipasi petani
sebagai pelaku utama dalam sistem penyuluhan, mengembangkan usaha
berorientasi agribisnis, meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani.
Bala Nuhan mengatakan, penyuluh pertanian telah memainkan peranan untuk
pengembangan keanekaragaman komoditas pangan. Untuk padi misalnya, produksi
tahun ini sekitar 700.000 ton, jagung sekitar 700.000 ton, singkong hampir
1.000.000 ton, ubi jalar sekitar 100.000 ton, kacang kedelai sekitar tiga ton, kacang
tanah 25.000 ton dan kacang hijau sekitar 20.000 ton.
Pengembangan padi, kata dia, dilakukan di sejumlah kabupaten yakni Manggarai,
Manggarai Barat, Manggarai Timur, Sumba Barat Daya dan Nagekeo dengan
produksi rata-rata 3,6 ton per hektare untuk padi sawah dan 2,1 ton per hektare
untuk padi ladang, sementara pengembangan jagung dilakukan di Kabupaten Timor
Tengah Selatan, Kupang, Timor Tengah Utara, Sumba Barat Daya dan Sumba Timur.
Sedangkan pengembangan komoditas pangan lain, dilakukan merata 20 kabupaten
yang ada di provinsi kepulauan tersebut. Dia juga mengungkapkan, angka konsumsi
pangan pokok per kapita per bulan penduduk NTT untuk beras mencapai 8,54 kg,
jagung 2,96 kg, singkong 2,31 kg dan ubi jalar 0,16 kg per kapita per bulan.
Pengembangan pangan lokal terus dilakukan, guna mengurangi ketergantungan
terhadap beras.
4. Pembangunan Pertanian dan Kelembagaan di Indonesia
Tujuan akhir pembangunan, entah pembangunan apa saja pastilah demi tingkat
kesejahteraan dan peningkatan taraf hidup manusia. Lebih jauh lagi hakikat
pembangunan adalah memanusiawikan manusia yaitu supaya matang dalam
kedewasaannya, dinamis dan sanggup mengatasi segala tantangan lingkungan.
Dalam hal ini maka hakikat pembangunan pertanian bermuara pada manusia
sebagai pelaksana dan penggunannya.
Hakikat pembangunan adalah memanusiawikan manusia yaitu supaya matang
dalam kedewasaannya, dinamis dan sanggup mengatasi segala tantangan
lingkungan, ini berarti masyarakat pedesaan harus didudukan sebagai subyek dan
dikembangkan kesubyekannya sebagai manusia utuh. Kedudukan sebagai subyek
inilah yang melahirkan pendekatan pembangunan pertanian sebagai suatu totalitas
bukan sekedar membangun aspek pertanian padi, koperasi, perkebunan dan
sekitarnya.
Cita-cita membangun manusia seutuhnya sudah diformulasikan dalam Garis Besar
Haluan Negara (GBHN) dan segenap kelengkapan administrasi dan aparat
pelaksananya. Namun kenyataan di lapangan sering lain. Misalnya banyak KUD
sampai tahun 1985 sekedar berstastus pelaksana program pengadaan atau
pembelian beras dan penyalur saprotan, bukan wadah untuk membina
kewiraswataan petani anggota KUD. Bahkan pada saat-saat tertentu KUD yang
seharusnya mengangkat harga dasar gabah pada kenyataanya hanya menagakat
harga tengkulak yang menjual beras atau gabah kepada KUD, sementara petani
tetap menjual gabahnya kepada tengkulak dengan harga rendah. Hal ini dapat
terjadi akibat sasaran pembangunan itu lepas dari konteksnya ketika mengejar
target sektoral/subsektoral, dan pada saat itu KUD mendapat julukan Koperasi
berkacamata kuda atau pembangunan dari atas artinya yang dilihat dan dikerjakan
hanya yang berada di depannya dan yang diperintaholeh kusirnya. Tetapi tidak bisa
dipungkiri bahwa pembangunan dari atas memang sudah menghailkan proyek
maupun hasil pembangunan raksasanya misanya menyangkut bidang KUD, Bimas,
Inmas, Insus, KIK (Kredit Investasi Kecil), KMPK (Kredit Modal Kerja Permanen),
macam-macam proyek Inpres, Banpres dan lain-lain. Sekali lagi tak disa diingakari
bahwa hasilnya memang nyata dan bermanfaat. Indonesia menjadi
berswasemabada beras , devisa dari sektor pembangunan dan industri meningkat
terus. Akan tetapi harus diakui pula munculnya tembok-tembok birokrasi, korupsi,
tertinggalnya atu sisi meskipun pada sisi lain meskipun pada sisi lain menagalami
kesuksesan, misalnya produksi meninkat namun pemasaran dan pengolahannya
menemui jalan buntu. Dari kondidi ini, khususnya menyangkut masalah-masalah
yang timbul oleh cara pembangunan diatas, amsih dituntut diteruskan cara
pembangunan tersebut agar bisa mengatasi masalah yang muncul. Sebabnya
hanya pemerintahlah yang bisa menembus tembok-tembok birokrasi, korupsi dan
masalah lainnya yang muncul oleh adanya pendekatan dari atas.
Pendekatan pembangunan dari bawah, untuk bisa mencapai hakiakt pembangnan
subyek petani pun harus menggunakan peratara pendekatan dari atas. Tanpa
komando dari atas maka usaha-usaha lemabaga swadaya masyarakat (LSM) tak
akan dibukakan pintu. Kehadirannya malah bisa dicurigai mau menyaingi KUD, PPL,
PKK, Kelompok Tani dan lain-lain, lebih celaka lagi kalau kegiatan penyuluhan,
pembinaan, dan latihannya malah dituduh mau merongrong para pamong dan
program masyrakat setempat. Susahnya tuduhan dan kecurigaan ini sering
ditopengi dengan isu-isu SARA misalnya kristenisasi, antek cina, jawanisasi dan
lainnya.
Saat ini orang sudah ketinggalan kalau mau melaksanakan penmbangnan hanya
dengan pendekatan dari bawah saja. Sebab sistem dan struktur pembanguan
pedesaaan/masyarakat desa dari atas itu sudah berdiri kukuh, meskipun itu
berarti berliku-liku, banyak rintanagan, dan banyak yang harus diperbaiki. Namun
jelas, setiap orang harus melewati struktur ini dan sedapat mungkin
memanfaatkannya.
Peta Bumi Dan Mekanisme Pembangunan
Kkompleksan maslah pemabangunan pedesaan itu bisa digambarkan secara
sederhana seperti gambar terlampir. Petani dan desanya digambarkan menyatu dan
berada ditangah sebagai pusat sasaran maupun pelaksana pembangunan

Mekanisme Pembangunan

5. Strategi kelembagaan dalam pembangunan pertanian di NTT


1. Pembangunan pertanian perlu diarahkan pada pengembangan komoditas
unggulan berdasarkan keunggulan komparatif melalui pendekatan kawasan yang
terintegrasi dengan pembangunan pedesaan.
2. Pembangunan pertanian harus mendahulukan kesejahteraan petani dalam arti
luas dengan menumbuh kembangkan partisipasi petani melalui system
kelembagaan yang mandiri sehingga petani dapat akses terhadap teknologi, modal,
dan pasar
3. Peningkatan dan pengembangan inovasi teknologi untuk menghasilkan
produktivitas dan kualitas produk usatani dan agroindustri spesifik lokasi perlu
dikembangkan untuk meningkatkan keunggulan komparatif dan kompetitif
komoditas peratanian Indonesia.
4. Peningkatan nilai tambah pertanian melalui pengembangan agroindustry skala
kecil di pedesaan dengan mengembangkan usaha-usaha agroindustri rumah tangga
dengan menitik beratkan peran wanita.
5. Peningkatan peran fasilitasi pemerintah dalam mempromosikan produk-produk
pertanian di pasar internasional.
6. Mengembangkan system transfer pengetahuan dan ketrampilan petani pada
setiap pusat pertumbuhan agribisnis melalui sekolah pertanian lapang dengan
system klinik agribisnis
7. Perlu adanya pola kemitraan (contract farming) yang saling menguntungkan
antara kelembagaan petani dengan agribisnis skala besar dengan system
pengawasan yang ketat dari pemerintah
8. Perlu adanya perlindungan petani kecil melalui peraturan pemerintah khususnya
yang berkaitan dengan perdagangan internasional komoditas pertanian.
9. Peningkatan dukungan kebijakan makro ekonomi baik fiskal maupun moneter
seperti kemudahan kredit bagi petani, pembangunan irigasi maupun pasar, dll.
10. Peningkatan peran serta perguruan tinggi dalam pembangunan agribisnis
11. Peningkatan koordinasi pembangunan agribisnis antar wilayah dan antar sektor
pendukungnya.

6. Peranan Kelembagaan Dalam Pembagunan Pertanian di NTT


Kelembagaan pertanian yang dalam hal ini mampu memberikan jawaban atas
permasalahan yang terjadi. Penguatan posisi tawar petani melalui kelembagaan
merupakan suatu kebutuhan yang sangat mendesak dan mutlak diperlukan oleh
petani, agar mereka dapat bersaing dalam melaksanakan kegiatan usahatani dan
dapat meningkatkan kesejahteraan hidupnya. Peningkatan posisi tawar petani pada
dasarnya adalah untuk dapat meningkatkan akses masyarakat pedesaan dalam
kegiatan ekonomi yang adil, sehingga bentuk kesenjangan dan kerugian yang
dialami oleh para petani dapat dihindarkan. Pengembangan masyarakat petani
melalui Koperasi ataupun kelembagaan pertanian/kelompok tani merupakan suatu
upaya pemberdayaan terencana yang dilakukan secara sadar dan sungguh-sungguh
melalui usaha bersama petani untuk memperbaiki keragaan sistem perekonomian
masyarakat pedesaan.
Arah pemberdayaan petani akan disesuaikan dengan kesepakatan yang telah
dirumuskan bersama. Dengan partisipasi yang tinggi terhadap koperasi, diharapkan
rasa ikut memiliki dari masyarakat atas semua kegiatan yang dilakasanakan
koperasi akan juga tinggi. Karena di dalam koperasi terdapat nilai dan prinsip
berdasarkan asas kekeluargaan dan gotong royong dan merupakan landasan
koperasi itu sendiri.
Maka dapat disimpulkan, bahwa salah satu bentuk kelembagaan yang ideal di
pedesaan adalah koperasi atau kelompok tani, dimana tujuan awal pembentukan
dari koperasi atau kelompok tani ini adalah untuk meningkatkan produksi pertanian
dan meningkatkan kesejahteraan petani. Pemberdayaan petani dalam kelembagaan
koperasi, merupakan suatu bentuk alternatif dari model pembangunan masyarakat
pedesaan untuk dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang sebagian
besar bermatapencarian sebagai petani atau buruh tani. Koperasi dalam hal ini
memberikan jaminan keuntungan bagi anggota baik dari segi sosial dan ekonomi,
selain itu yang utama adalah peningkatan posisi tawar petani dapat ditingkatkan
sehingga mereka mempunyai kekuatan untuk menentukan harga produk
pertaniannya sehingga dapat tercapainya kesehjahteraan dan peningkatan taraf
hidup sesuai konsep pembangunan di NTT
Disamping itu, koperasi dalam jangka panjang akan memberikan pengetahuan dan
pendidikan yang akan membangun petani-petani yang berorientasi pasar, serta
dengan koperasi juga akan membangun petani dan masyarakat pedesaan yang
memiliki kualitas sumberdaya manusia unggulan yang mencakup pada peningkatan
ke-ahli-an dan keterampilan (bisnis dan organisasi), pengetahuan, dan
pengembangan jiwa kewirausahaan petani itu sendiri. Sehingga dengan demikian,
pemberdayaan ekonomi lokal yang berbasis pada pembangunan pertanian di
perdesaan dapat berjalan dengan baik.
Untuk meningkatkan kinerja petani di pedesaan maka perlu dikembalikan peranan
KUD, yang merupakan salah satu bagian pembangunan ekonomi kerakyatan. Hal ini
sejalan dengan prinsip-prinsip dan nilai-nilai koperasi untuk menyejahterakan
anggota serta masyarakat pedesaan dan membantu berbagai program pemerintah
dalam pemberdayaan ekonomi masyarakat. Untuk itu, dibutuhkan reformasi KUD
sebagai lembaga ekonomi berparadigma baru yang mampu melindungi dan
memfasilitasi usaha anggota dalam sistem bisnis."
Empat poin tentang revitalisasi KUD yang perlu diperhatiakan:
a) Perlunya peninjauan kembali Inpres No. 18 Tahun 1998 tentang pembinaan
KUD.agar peran KUD dapat lebih diperhatikan.
b) Dilibatkannya kembali KUD dalam penyaluran sarana produksi, pengadaan
pangan, dan program pengembangan ekonomi masyarakat pedesaan.
c) Peningkatan kualitas sumber daya manusia dalam manajemen KUD melalui
pendidikan perkoperasian, pelatihan, dan pendampingan.
d) Mereformasi kelembagaan KUD dengan mengintegrasikan kelompok tani dan
gabungan kelompok tani sebagai salah satu organ dalam struktur KUD. Dengan
demikian, KUD akan menjadi lembaga ekonomi rakyat pedesaan yang mandiri dan
tangguh.
Rekomendasi
Langkah pertama yang cukup baik adalah meninjau kembali secara hati-hati
hubungan antara tujuan program dan rancangannya. Tujuan biasanya ditentukan
dalam arena politik, dan tidak selalu realistis dalam hubungannya dengan
berlimpahnya sumber daya suatu daerah, termasuk kapasitas administrasinya.
Dalam hirarki tujuan, sebagian diantaranya termasu relative sederhana, seperti
prasarana dasar, dan yang lainnya tergolong kompleks, seperti pembangunan desa,
suatu perubahan pada pola-pola perilaku dari kelompok yang lebih besar atau
perbaikan kebijakan. Walaupun beberapa tujuan klihatannya sederhana (misalnya,
peningkatan produksi suatu tanaman), pencapaiannya membutuhkan banyak
masukan yaitu bibit, pupuk, jalan, pemasaran dan sebuah proyek dengan banyak
komponen. Rancangan program harus berbeda antara tujuan pokok dan tujuan
tambahan, tujuan pokok bisa saja berupa pembukaan wilayah yang tadinya
terbelakang, memerlukan investasi dalam bdang angkutan, pertanian, dan
pelatihan yang terkait, ini adalah inti dari program yang akan meliputi sebagian
besar manfaatnya. Tujuan tambahan dengan relevansi yang terbatas dibandingkan
denagan tujuan inti dapat berupa tercapainya pendaftaran tertentu pada sekolah-
sekolah. Ikut sertanya pada program dari program yang menyangkut tujuan
tambahan, akan bergantung pada apakah tujuan itu layak dalam lingkungan
kelembagaan tersebut. Penyediaan sekolah-sekolah mempunyai pengaruh yang
memperkuat pencapaian tujuan utama yakni kebutuhan pendidikan keluarga di
suatu kawasan yang baru.
Ketika sebuah proyek atau program yang secara potensial diinginkan nampak tidak
layak setelah dipertimbangkannya aspek politik, ekonomi, kelembagaan, dan
teknik, maka pemecahannya adalah mengurangi kompleksitasnya yaitu dengan:
a. Membagi program ke dalam komponen-komponen terpisah atau sub-proyek yang
dapat dilaksanakan dan dioperasikan secara sendiri-sendiri untk meminimalkan
kebutuhan atau koordinasi.
b. Membagi program ke dalam beberapa fase dari waktu ke waktu, suatu
pendekatan yang mempersoalkan urutan optimal dari berbagai komponen.
c. Menggunakan program atau proyek percontohan kalau pendekatan terbaik belum
jelas sejak awal.
d. Menggunakan paket-peaket minimum, pemecahan ini berarti merendahkan
target dan membutuhkan suatu upaya special unutk menentukan komponen-
komponen manakah yang pokok dan harus dipertahankan dan yang manakah yang
merupakan tambahan dan bisa ditinggalkan.
e. Memanfaatkan kekuatan yang ada sector utama atau kelembagaan yang kuat
dan mengelompokkan komponen tambahan agar dapat dilaksanakan
Program pengembangan kelembagaan itu sendiri dirancang dengan pemikiran
penuh tentang totalitas, yang mempermudah program itu terjebak dalam hal yang
komprehensif. Program dimulai dengan sebuah analisa lengkap lembaga-lembaga
yang terlibat, dan pemecahan-pemecahan yang diusulkan melalui suatu paket
tindakan yang kalau berhasil akan menciptakan suatu kelembagaan yang tangguh.
Namun pendekatan semacam itu tidak berjalan. Prinsip-prinsip selektivitas yang
baru didiskusikan harus diterapkan, terutama pada pengambangan kelembagaan.
Suatu upaya komprehensif untuk mengatsi semua masalah yang didapi oleh sebuah
kelembagaan, tidak dapat diharapkan mencapai hasil-hasil akhir pada waktu yang
ditentukan. Sebaliknya, bebrpa aspek dapat diidentifikasi, dimana kemajuan
tergolong layak dengan tingkat operasi umum dari kelembagaan yang ada dan
program dapat berkosentrasi dalam aspek-aspek itu pada suatu urun waktu yang
wajar, katakanlah tiga tahun. Setelah itu, kemajuan-kemajuan yang telah tercapai
akan mempunayi pengaruh utama pada bagian-bagian lain dari kelembagaan. Pada
titik itu sebuah program baru dapat dirancang denag mempertimbangkan
kenyataan-kenyataan baru termasuk perubahan-perubahan personalia tapi yang
memfokuskan pada sejumlah tujuan lain yang terbatas. Ringkasnya, sifat
komprenhensif dalam hal kelmbagaan dan sebuah pendekatan parsial, kumulatif
dan sangat berfokus patut diikuti. Proses pembangunan untuk kebanyakan Negara
akan terus merupakan proses yang lamban dan bahkan lebin lamban dari yang
diduga. Analisa kita memastiakn bahwa sumber daya keuangan adalah perlu tapi
belum cukup untuk mendorong pembangunan.
Kesimpulan dan Saran
1. Kesimpulan
a. Perlu adanya evaluasi kembali terhadap lembaga-lembaga pertanian yang telah
berjalan sejauh ini.
b. Perlu adanya bimbingan khusus untuk para petani, agar memahami lembaga.
c. Perlu meningkatkan kembali kinerja pa5ra penyuluh pertanian guna
mengintensifikasi produk-produk pertanian.
d. Diperlukan pemimpin yang tidak hanya bersifat vokasional tetapi berjiwa besar
untuk menjalankan suatu strutur kelembagaan.
e. Perlu adanya kerjasam antara pemerintah dan petani dalam menjalankan
struktur kelembagaan dalam hal ini, koperasi unit desa, Gabungan Kelompok Tani,
INSUS, BIMAS, dan Program Unit Desa Terpadu.
f. Menjalankan program-program utama sesuai perencanaan guna mendapatkan
hasil yan maksimal.
g. Membagi program ke dalam komponen-komponen terpisah atau sub-proyek yang
dapat dilaksanakan dan dioperasikan secara sendiri-sendiri untk meminimalkan
kebutuhan atau koordinasi.
h. Membagi program ke dalam beberapa fase dari waktu ke waktu, suatu
pendekatan yang mempersoalkan urutan optimal dari berbagai komponen.
i. Menggunakan program atau proyek percontohan kalau pendekatan terbaik belum
jelas sejak awal.
j. Menggunakan paket-peaket minimum, pemecahan ini berarti merendahkan target
dan membutuhkan suatu upaya special unutk menentukan komponen-komponen
manakah yang pokok dan harus dipertahankan dan yang manakah yang merupakan
tambahan dan bisa ditinggalkan.
k. Memanfaatkan kekuatan yang ada sector utama atau kelembagaan yang kuat
dan mengelompokkan komponen tambahan agar dapat dilaksanakan.

2. Saran

Daftar Pustaka
http//www.kelembagaan pertanian.com

http//www.lembaga tani.com

Pengantar Ilmu Pertanian


|||
Ilmu-ilmu pertanian sebagai ilmu empirik
Budidaya tanaman dan pemeliharaan hewan berasal dari pengalaman
Pengalaman dihimpun menjadi ilmu terapan (caranya dapat diterangkan dengan
ilmu dasar)
Pengetahuan tentang alam biologi, kimia, fisika
Ilmu pertanian yang berkaitan dengan perilaku manusia diterangkan oleh ilmu
ekonomi dan ilmu sosial.

2.Tanaman pertanian
Tanaman sebagai penghasil bahan pangan, sandang, bahan bangunan, bahan bakar
dan lain-lain
Tanaman pertanian dalam arti luas adalah segala tanaman yang digunakan oleh
manusia untuk tujuan apapun, sehingga mempunyai makna yang berguna secara
ekonomi maupun kehidupan manusia

3.Pengertian pertanian
Salah satu sektor perekonomia adalah pertanian yang merupakan penerapan akal
dan karya manusia melalui pengendalian proses produksi biologis tumbuh-
tumbuhan dan hewan, sehingga lebih bermanfaat bagi manusia
tanaman dapat diibaratkan sebagai pabrik primer karena dengan memakai bahan
dasar langsung dari alam dapat mengasilkan bahan organik yang bermanfaat bagi
manusia baik langsung maupun tidak langsung

4.Perkembangan pertanian
Perkembangan pertanian berhubungan erat dengan perkembangan dari setiap
kondisi masyarakatnya,
- Primitif, masih dengan sistem berburu untuk mengumpulkan hasil hutan
- Masyarakat yang sudah lebih maju misalnya, didapatkannya api berpengaruh
terhadap
perkembangan pertanian
- Setelah mengenal manajemen sederhana, juga berpengaruh dalam usaha
peningkatan
kualitas tanaman dan hewan, dimulai dari penjinakan, seleksi sampai ke adaptasi

5.Sistem pertanian di Indonesia


Berdasarkan tingkat efisiensi yang diterapkan, ada beberapa sistem :
Sistem ladang: belum berkembang, pengelolaan sangat sedikit, produktivitasnya
tergantung humus awal
Sistem tegal pekarangan : di lahan kering, pengelolaannya masih rendah, terdapat
tanaman campuran,baik tahunan maupun musiman
Sistem sawah : teknik budidaya tinggi, sistem pengelolaan yang sudah baik ( tanah,
air dan tanaman ), stabilitas kesuburan lebih baik
Sistem perkebunan : khusus tanaman perkebunan yang menghasilkan bahan-bahan
yang dapat diekspor, tingkat manajemen sudah maju
Sejarah pertanian
Kegiatan pertanian (budidaya tanaman dan atau ternak ) merupakan salah satu
kegiatan yang paling awal dikenal peradaban manusia dan mengubah total bentuk
kebudayaan. Pertanian telah dikenal manusia sejak zaman kebudayaan batu muda
(neolitikum), perunggu dan megalitikum
Pertanian pertama kali berkembang dari kebudayaan didaerah bulan sabit yang
subur di Timur tengah yang meliputi sungai Tigris dan Eufrat terus ke barat hingga
Suriah dan Yordania sekarang. Zaman Mesopotamia yang merupakan awal
perkembangan kebudayaan, merupakan zaman yang turut menentukan sistem
pertanian kuno. Pengetahuan tentang pertanian kuno dimanapun tidak lebih banyak
daripada di Mesir. Teknologi pengolahan tanah dapat dilacak lewat perbaikan
cangkul, bajak, arit

Di Indonesia
Sudah dikenal sejak zaman prasejarah, dibuktikan dengan penemuan-penemuan
peninggalan Pada awal sejarah Tarumanegara di Jawa Barat, kegiatan pertanian dan
peternakan sudah di purbakala bersamaan dengan ditemukannya manusia tertua
budidayakan secara baik, bahkan pada zaman kejayaan Sriwijaya, hasil-hasil
pertanian telah di perdagangkan sampai ke Madagaskar hingga menarik kehadiran
orang Eropa untuk berdagang rempah-rempah (Belanda dengan VOC nya 1602)
inggris mendirikan Kebun Raya Bogor (1817) Kebijakan Tanam Paksa
Zaman Jepang adalah kehancuran pertanian Indonesia
1947 Plan Kasimo
1958 gagasan intensifikasi produksi pada sentra-sentra seluas 1000 ha disebut
Padi Sentra
1966 Bimas, Inmas
1978 Insus, menghasilkan swa sembada beras pada 1984
1990 penurunan pertanian
1998 krisis beras dalam negeri
11 Juni 2005 Revitallisasi Pertanian

ARTI PENTING PERTANIAN

PERTANIAN MERUPAKAN SEKTOR EKONOMI YANG UTAMA DI NEGARA-NEGARA


BERKEMBANG. PERANAN ATAU KONTRIBUSI SEKTOR PERTANIAN DALAM
PEMBANGUNAN EKONOMI SUATU NEGARA MENDUDUKI POSISI YANG SANGAT VITAL.
HAL INI DISEBABKAN KARENA :

1.SEKTOR PERTANIAN MERUPAKAN SUMBER PERSEDIAAN BAHAN MAKANAN DAN


BAHAN MENTAH YANG DIBUTUHKAN OLEH SUATU NEGARA
2.TEKANAN DEMOGRAFIS YANG BESAR DINEGARA BERKEMBANG SERING DISERTAI
DENGAN MENINGKATNYA PENDAPATAN YANG MENYEBABKAN KEBUTUHAN JUGA
MENINGKAT. JIKA KEBUTUHAN INI TIDAK TERPENUHI MAKA KEKURANGANNYA HARUS
DIIMPOR, YANG BERARTI MENGURANGI FOREIGN EXCHANGE YANG DIBUTUHKAN
UNTUK INPUT PEMBANGUNAN.
3.SEKTOR PERTANIAN HARUS DAPAT MENYEDIAKAN FAKTOR-FAKTOR YANG
DIBUTUHKAN UNTUK EKSPANSI KE SEKTOR-SEKKTOR LAIN TERUTAMA INDUSTRI.
BIASANYA BERWUJUD MODAL, TENAGA KERJA DAN BAHAN MENTAH.
4.SEKTOR PERTANIAN MERUPAKAN BASIS DARI HUBUNGAN-HUBUNGAN PASAR YANG
PENTING YANG DAPAT MENCIPTAKAN SPREAD EFFECT DALAM PROSES
PEMBANGUNAN.
5.SEKTOR INI DAPAT JUGA MENCIPTAKAN FORWARD DAN BACKWARD LINKAGE YANG
BILA DISERTAI DENGAN KONDISI YANG TEPAT DAPAT MEMBERI SUMBANGAN YANG
BESAR UNTUK PEMBANGUNAN

KHUSUS INDONESIA
1.MEMILIKI LUAS LAHAN DAN AGRO KLIMAT YANG SANGAT POTENSIAL UNTUK
DIKEMBANGKAN SEBAGAI USAHA PERTANIAN
2.DIKENAL SEBAGAI PENGHASIL BERAGAM PRODUK PERTANIAN YANG SANGAT
DIBUTUHKAN DAN LAKU DI PASAR DUNIA
3.SUMBANGAN PERTANIAN TERHADAP SERAPAN TENAGA KERJA, PENDAPATAN
NASIONAL DAN DEVISA JUGA MASIH CUKUP TINGGI
4.SALAH SATU TOLOK UKUR KEBERHASILAN PEMBANGUNAN PERTANIAN ADALAH
TERCAPAINYA PENINGKATAN PENDAPATAN MASYARAKAT YANG HIDUP DI PEDESAAN.
TAPI KENYATAAN MENUNJUKKAN BAHWA KEBERHASILAN PEMBANGUNGAN
PERTANIAN TIDAK SELALU DAPAT MENCIPTAKAN PERLUASAN LAPANGAN KERJA DAN
KESEMPATAN KERJA TERUTAMA BAGI ANGKATAN KERJA BARU DI PEDESAAN.

DALAM SEJARAH PERKEMBANGAN BANGSA-BANGSA DI DUNIA, SELALU TERJADI


DILEMA DALAM PENENTUAN PRIORITAS PEMBANGUNAN, MEMILIH PERTANIAN ATAU
INDUSTRI.
PENGALAMAN MENUNJUKKAN BAHWA PEMBANGUNAN PERTANIAN DI NEGARA-
NEGARA DUNIA KETIGA (LESS DEVELOPING COUNTRY / LDC's ) TELAH
MENUNJUKKAN KONTRIBUSI YANG SANGAT PENTING KARENA :

1.SEBAGIAN BESAR PENDUDUK LDC's MASIH MENGGANTUNGKAN PENGHIDUPAN


PADA SEKTOR PERTANIAN
2.LDC's YANG UMUMNYA TERGOLONG NEGARA BERPENGHASILAN SEDANG ATAU
RENDAH ITU MASIH MENGHADAPI MASALAH PANGAN
3.KELANGKAAN PANGAN AKAN BERAKIBAT SELAIN MENGANGGU STABILITAS
EKONOMI, DAPAT JUGA DIJADIKAN SEBAGAI KOMODITAS POLITIK
4.KETIDAK MAMPUAN NEGARA-NEGARA LDC's UNTUK MENGEJAR DAN BERSAING
DENGAN NEGARA MAJU, KARENA :
KELANGKAAN MODAL UNTUK INVESTASI MAUPUN RISET
BERAKIBAT PADA KETIDAK EFISIENAN TEKNOLOGI YANG DITERAPKAN
ADANYA KEBIJAKAN PROTEKSI DARI NEGARA MAJU BERUPA : KEBIJAKAN TARIF DAN
BEA MASUK, PEMBATASAN JUMLAH KUOTA IMPOR, ADANYA KERJASAMA EKONOMI
DAN PERDAGANGAN ANTAR NEGARA MAJU
SEKTOR PERTANIAN TERNYATA MEMILIKI KETEGARAN YANG TINGGI MENGHADAPI
GEJOLAK PEREKONOMIAN DUNIA DIBANDING DENGAN SEKTOR YANG LAIN
SEKTOR PERTANIAN MEMILIKI FORWARD DAN BACKWARD LINKAGE DENGAN SEKTOR
INDUSTRI TERUTAMA PADA TAHAP AWAL PEMBANGUNAN INDUSTRI, YAITU SEBAGAI
PENYEDIA BAHAN MENTAH ATAU BAHAN BAKU, DAN PEMASOK TENAGA KERJA YANG
MURAH

DUKUNGAN PEMBANGUNAN PERTANIAN TERHADAP PEMBANGUNAN INDUSTRI


1.AKIBAT LANGSUNG DARI KEBERHASILAN PEMBANGUNAN PERTANIAN ADALAH
PENINGKATAN PRODUKSI (PANGAN,BAHAN MENTAH,BAHAN BAKU INDUSTRI) DAN
PENINGKATAN PENDAPATAN MASYARAKAT (PETANI)
2.PENINGKATAN PRODUKSI PANGAN, BAHAN MENTAH DAN BAHAN BAKU SECARA
BERSAMA-SAMA AKAN MENINGKATKAN NILAI EKSPOR DAN MENEKAN NILAI IMPOR,
YANG AKHIRNYA AKAN MENAMBAH DEVISA NEGARA YANG SANGAT DI BUTUHKAN
UNTUK MEMBELI BARANG-BARANG MODAL DARI LUAR NEGERI
3.KENAIKAN PENDAPATAN MASYARAKAT YANG DISEBABKAN OLEH KEBERHASILAN
PEMBANGUNAN PERTANIAN AKAN MEMBAWA AKIBAT LANJUTAN, YAITU :
MENINGKATNYA TABUNGAN MASYARAKAT, MENINGKATNYA
INVESTASI, KONSUMSI RUMAH TANGGA, KONSUMSI INPUT PERTANIAN (SARANA
4. PRODUKSI, PERALATAN DAN MESIN PERTANIAN) YANG SECARA BERSAMA-SAMA
AKAN MENINGKATKAN KONSUMSI PRODUK INDUSTRI DALAM NEGERI
5.SEMAKIN BERTAMBAHNYA CADANGAN DEVISA, MODAL PEMBANGUNAN YANG
BERASAL DARI TABUNGAN MASYARAKAT, AKAN SEMAKIN MENDORONG
PEMBANGUNAN INDUSTRI YANG DIDUKUNG OLEH TERSEDIANYA BAHAN MENTAH,
BAHAN BAKU DAN TENAGA KERJA YANG MURAH
6.PERTUMBUHAN PEMBANGUNAN INDUSTRI AKAN DAPAT DIHARAPKAN UNTUK
MENINGKATKAN JUMLAH DAN MUTU PRODUK INDUSTRI DALAM NEGERI SERTA
MENURUNNYA HARGA PRODUK YANG DIHASILKAN OLEH INDUSTRI DALAM NEGERI
7.JUMLAH PRODUKSI DALAM NEGERI YANG TERUS MENINGKAT MUTUNYA DAN
MURAH HARGA JUALNYA AKAN MEMPERKUAT DAYA SAING DI PASAR DOMESTIK
MAUPUN INTERNASIONAL

KELEMBAGAAN PERTANIAN

PENGERTIAN KELEMBAGAAN
DALAM ARTI SEMPIT
SEBATAS ENTITAS (KELOMPOK ORGANISASI) YAITU HIMPUNAN INDIVIDU YANG
SEPAKAT UNTUK MENETAPKAN DAN MENCAPAI TUJUAN BERSAMA
DALAM ARTI LUAS
MENCAKUP NILAI-NILAI, ATURAN, BUDAYA DLL
MACAM-MACAM KELEMBAGAAN SESUAI PENGERTIAN DIATAS :
KELEMBAGAAN PETANI : BERUPA KELOMPOK TANI, GABUNGAN KELOMPOK TANI DAN
KOPERASI
KELEMBAGAAN PEMERINTAH : BERBENTUK KELEMBAGAAN PENYULUHAN BAIK DI
TINGKAT NASIONAL, KABUPATEN/KOTA, KECAMATAN DAN DESA/KELURAHAN
KELEMBAGAAN SWASTA : BERGERAK DI BIDANG PENGADAAN SARANA PRODUKSI,
KEUANGAN DAN PENGANGKUTAN
KELEMBAGAAN LSM (LEMBAGA SWADAYA MASYARAKAT) : BERGERAK DI BIDANG
PENGUJIAN DAN PENYULUHAN

KEMITRAAN ANTAR LEMBAGA


DENGAN ADANYA BEBERAPA KELEMBAGAAN YANG DIKEMBANGKAN OLEH BANYAK
PIHAK, PERLU DIKEMBANGKAN KEMITRAAN ANTARA INSTANSI PEMERINTAH DAN
MASYARAKAT (PUBLC PRIVATE PARTNERSHIP), YAITU PERJANJIAN/KONTRAK
KERJASAMA ANTARA LEMBAGA PUBLIK DAN SEKTOR SWASTA YANG MEMUNGKINKAN
PARTISIPASI MASYARAKAT.
MELALUI KEMITRAAN SEMACAM INI, AKAN TERJADI KERJASAMA DAN PEMBAGIAN
PERAN DAN TANGGUNG JAWAB BERSAMA, BAIK DALAM PERENCANAAN DAN
PELAKSANAAN PEMBANGUNAN MAUPUN PEMBAGIAN RESIKO SERTA AKUNTABILITAS
PENYELENGGARAAN PEMBANGUNAN

MANFAAT DARI KEMITRAAN


1.PENGEMBANGAN METODE PERENCANAAN, PELAKSANAAN, MONITORING DAN
EVALUASI PROYEK-PROYEK PEMBANGUNAN
2.PENGHEMATAN BIAYA PROYEK
3.PERBAIKAN MUTU KINERJA, PEMANFAATAN INOVASI DAN PERBAIKAN TEHNIS &
MANAJEMEN
4.PEMANFAATAN SUMBERDAYA PERSONAL DAN SWASTA UNTUK MENGATASI
KENDALA YANG DIHADAPI SUMBERDAYA PUBLIK
5.TUMBUH DAN BERKEMBANGNYA AKSES TERHADAP SUMBERDAYA BARU YANG
DIMILIKI SWASTA

KEMITRAAN DAPAT DILAKUKAN UNTUK KEGIATAN-KEGIATAN :


KONSEPTUALISASI DAN KEASLIAN PROYEK
PERANCANGAN (DESIGN)
PERENCANAAN FINANSIAL DAN PEMBIAYAAN
KONSTRUKSI
OPERASIONAL
PEMELIHARAAN
PUNGUTAN
PENGELOLAAN PROGRAM

KELEMBAGAAN DAN KEARIFAN LOKAL


KEARIFAN LOKAL BANYAK MENGANDUNG UNSUR KHAS YANG BERSUMBER DARI
NORMA SPIRITUAL (AGAMA, KEPERCAYAAN) ATAU BELIEF, FALSAFAH HIDUP DAN
KEBIASAAN HIDUP (MORES) YANG BERKAITAN DENGAN SOPAN SANTUN MAUPUN
PEMANFAATAN SUMBERDAYA ALAM
CONTOH YANG PALING KUAT ADALAH YANG DIKENAL MASYARAKAT BALI SEBAGAI
TRI HITA KARANA YANG MENGANDUNG NILAI-NILAI KESEIMBANGAN KEHIDUPAN
MANUSIA DENGAN LINGKUNGANNYA.
SEIRING DENGAN DIKEMBANGKANNYA REVOLUSI HIJAU (1960), BANYAK DIBENTUK
OLEH PEMERINTAH BERAGAM KELEMBAGAAN PERTANIAN, SEPERTI : KELOMPOK
TANI, KELOMPOK PENDENGAR, KELOMPOK PETANI PEMAKAI AIR DAN KOPERASI YANG
MENJADIKAN KELEMBAGAAN LOKAL MENJADI LEMAH SEMENTARA LEMBAGA-
LEEMBAGA TERSEBUT TIDAK EFEKTIF. OLEH KARENA ITU DINILAI
PENTING UNTUK MENGHIDUPKAN KEMBALI KELEMBAGAAN TRADISIONAL DAN
KEARIFAN LOKAL

KELEMBAGAAN PEMBANGUNAN PERTANIAN


MENURUT MOSHER, DI SETIAP LOKALITAS USAHATANI DIPERLUKAN BEBERAPA
KELEMBAGAAN PERTANIAN, YAITU : KELEMBAGAAN PEMASARAN, KELEMBAGAAN
PENELITIAN DAN PENGUJIAN, KELEMBAGAAN PENYULUHAN, KELEMBAGAAN
PENYEDIA SARANA PRODUKSI, KELEMBAGAAN KEUANGAN (PENYEDIA KREDIT
PRODUKSI), KELEMBAGAAN PENGOLAHAN DAN PEMASARAN HASIL PERTANIAN DAN
KELEMBAGAAN TRANSPORTASI. KELEMBAGAAN DI TINGKAT LOKAL TERSEBUT HARUS
MEMPUNYAI AKSES DENGAN KELEMBAGAAN SERUPA DITINGKAT REGIONAL DAN
NASIONAL.

1.KELEMBAGAAN PENELITIAN DAN PENGUJIAN


DI TINGKAT LOKAL, KELEMBAGAAN INI DIKENAL SEBAGAI PETAK PENGUJIAN LOKAL
(LOCAL VERIFICATION TRIALS) YANG PELAKSANAANNYA DILAKUKAN OLEH
PENYULUH, PETANI MAJU DAN ATAU PEGIAT LEMBAGA SWADAYA MASYARAKAT
FUNGSI KELEMBAGAAN INI ANTARA LAIN MELAKUKAN PENGUJIAN TENTANG: --
EFEKTIVITAS SARANA PRODUKSI
-- ALTERNATIF TEHNIK BUDIDAYA TANAMAN
--EFEKTIVITAS PERALATAN / MESIN PERTANIAN

2.KELEMBAGAAN PENYULUHAN
SAMPAI DENGAN DASAWARSA 1970-AN,HANYA DILAKUKAN INSTANSI PEMERINTAH
SEJAK DILAKSANAKAN PROYEK PENYULUHAN TANAMAN PANGAN PADA 1976,
DIKEMBANGKAN BALAI PENYULUHAN PERTANIAN DI TINGKAT WILAYAH PEMBANTU
BUPATI
PERIODE 1995 2000, DITINGKAT KABUPATEN PERNAH DICOBA PENGEMBANGAN
KELEMBAGAAN PENYULUHAN PERTANIAN YANG TERPISAH DARI DINAS PERTANIAN,
YAITU BALAI INFORMASI DAN PENYULUHAN PERTANIAN (BIPP)
DENGAN KEBIJAKAN REVITALISASI PERTANIAN, DIUNDANGKAN UU NO 16 TAHUN
2007 TENTANG SISTEM PENYULUHAN PERTANIAN,PERIKANAN DAN KEHUTANAN

3.KELEMBAGAAN PENYEDIA SARANA PRODUKSI


DITINGKAT NASIONAL DAN PROPINSI, KABUPATEN DAN KECAMATAN DITANGANI
OLEH BUMN DAN SWASTA (PRODUSEN, DISTRIBUTOR,PENYALUR) SEDANG
DITINGKAT DESA / KELURAHAN DITANGANI SWASTA (PENGECER) DAN KUD

4.KELEMBAGAAN PENGOLAHAN DAN PEMASARAN HASIL


BUMN(BULOG), SWASTA DAN KOPERASI

5.KELEMBAGAAN KEUANGAN
BRI DAN SWASTA (PEDAGANG,TENGKULAK,PELEPAS UANG)

6.KELEMBAGAAN PENGANGKUTAN (TRANSPORTASI)


MASIH DITANGANI SWASTA

PERTANIAN SEBAGAI SISTEM AGRIBISNIS

PENGERTIAN
AGRIBISNIS ADALAH SEGALA KEGIATAN YANG BERHUBUNGAN DENGAN
PENGUSAHAAN TUMBUHAN DAN HEWAN (KOMODITAS PERTANIAN, PETERNAKAN,
PERIKANAN DAN KEHUTANAN) YANG BERORIENTASI PASAR DAN PEROLEHAN NILAI
TAMBAH
DALAM AGRIBISNIS TERDAPAT DUA KONSEP POKOK :
PERTAMA, AGRIBISNIS MERUPAKAN KONSEP DARI SUATU SISTEM YANG
INTEGRATIF DAN TERDIRI DARI BEBERAPA SUBSISTEM, YAITU :
1.SUB SISTEM PENGADAN SARANA PRODUKSI PERTANIAN
2.SUB SISTEM BUDIDAYA USAHA TANI
3.SUB SISTEM PENGOLAHAN DAN INDUSTRI HASIL PERTANIAN (AGROINDUSTRI)
4.SUB SISTEM PEMASARAN HASIL PERTANIAN
5.SUB SISTEM KELEMBAGAAN PENUNJANG PERTANIAN

KEDUA, AGRIBISNIS MERUPAKAN SUATU KONSEP YANG MENEMPATKAN KEGIATAN


PERTANIAN SEBAGAI SUATU KEGIATAN YANG UTUH DAN KOMPREHENSIF, SEKALIGUS
SEBAGAI SUATU KONSEP UNTUK DAPAT MENELAAH DAN MENJAWAB BERBAGAI
MASALAH, TANTANGAN DAN KENDALA YANG DIHADAPI

KEGIATAN PERTANIAN YANG DIPANDANG SEBAGAI SUATU KEGIATAN AGRIBISNIS


DINILAI MERUPAKAN CARA PANDANG YANG TEPAT DALAM MENGHADAPI BERBAGAI
PERKEMBANGAN YANG TERJADI SAAT INI DAN DIMASA YANG AKAN DATANG BAIK
DALAM LINGKUP NASIONAL MAUPUN INTERNASIONAL
JADI AGRIBISNIS MERUPAKAN CARA BARU UNTUK MEMANDANG PERTANIAN
DALAM KAITANNYA DENGAN PEREKONOMIAN NASIONAL, PERLU DILIHAT PERAN
INTERSEKTORAL DALAM SISTEM AGRIBISNIS, UNTUK MENDAPATKAN GAMBARAN
TENTANG PERAN SEKTOR PERTANIAN
DENGAN DEMIKIAN , DALAM PENDEKATAN AGRIBISNIS TERJADI REORIENTASI
PENANGANAN SEKTORAL MENJADI INTERSEKTORAL DAN DARI ORIENTASI PRODUKSI
MENJADI ORIENTASI BISNIS

PENGERTIAN AGRIBISNIS TERSEBUT MENGANDUNG DUA DIMENSI PENTING :


1.AGRIBISNIS MENGANDUNG PENGERTIAN FUNGSIONAL, YAITU SEBAGAI RANGKAIAN
FUNGSI-FUNGSI KEGIATAN PERUSAHAAN PERTANIAN
2.SISTEM AGRIBISNIS MENGANDUNG PENGERTIAN STRUKTURAL, YAITU SEBAGAI
KUMPULAN UNIT USAHA ATAU UNIT KEGIATAN DAN LEMBAGA LAIN YANG
MELAKSANAKAN FUNGSI-FUNGSI DARI MASING-MASING SUB SISTEM

SUB SISTEM AGRIBISNIS


SUB SISTEM PENGADAAN SARANA DAN PERALATAN
MASALAH YANG SERING DIHADAPI PETANI :
1.KELANGKAAN KETERSEDIAAN, BAIK YANG MENYANGKUT JENIS, MUTU DAN WAKTU
KETERSEDIAAN
2.TINGKAT HARGA YANG TERUS BERTAMBAH SEMENTARA PENDAPATAN PETANI
SEMAKIN TURUN
3.BELUM EFEKTIFNYA KELEMBAGAAN PETANI

SUB SISTEM BUDI DAYA


SEBAGAI PROSES PRODUKSI, SUB SISTEM BUDI DAYA MENEMPATI POSISI YANG
SANGAT STRATEGIS DALAM SISTEM AGRIBISNIS
SUB SISTEM BUDI DAYA MERUPAKAN PROSES CAMPUR TANGAN MANUSIA UNTUK
MENGELOLA BERAGAM SUMBAR DAYA AGAR DAPAT MENGHASILKAN PRODUK YANG
DAPAT DIMANFAATKAN DAN ATAU DIPERDAGANGKAN DEMI MEMPEROLEH
PENGHASILAN, PEMENUHAN KEBUTUHAN SERTA PERBAIKAN KEHIDUPAN KELUARGA
DAN MASYARAKATNYA
DALAM SUB SISTEM BUDI DAYA SESUATU YANG KELIHATANNYA TIDAK BERHARGA
YANG TERSEDIA DI ALAM DAPAT DIKELOLA UNTUK MENGHASILKAN PRODUK YANG
BERMANFAAT DAN MEMILIKI NILAI
BERKAITAN DENGAN PEMENUHAN KEBUTUHAN HIDUP MANUSIA, SUB SISTEM BUDI
DAYA SEMAKIN MENUNJUKKAN PERAN PENTINGNYA, DI TENGAH KEPRIHATINAN
DUNIA TERHADAP TERUS BERTAMBAHNYA JUMLAH PENDUDUK DAN SEMAKIN
TERBATASNYA SUMBERDAYA ALAM
SEBAGAI KOMODITAS POLITIK,, SUB SISTEM BUDI DAYA SEMAKIN MENUNJUKKAN
PERAN PENTINGNYA DALAM MENJAMIN DAN MEMELIHARA STABILITAS DAN
KETAHANAN KEAMANAN
SEBAGAI PROSES YANG MENGHASILKAN KOMODITAS YANG DIPERDAGANGKAN, SUB
SISTEM BUDI DAYA SEMAKIN MENUNJUKKAN PERAN PENTINGNYA DALAM :
1.PENINGKATAN PENDAPATAN PETANI
2.PENDAPATA ASLI DAERAH DAN PENDAPATAN NASIONAL YANG SANGAT PENTING
BAGI PEMBIAYAAN PEMBANGUNAN

SUB SISTEM PENGOLAHAN HASIL


PELUANG-PELUANG YANG DAPAT DILAKUKAN UNTUK PENINGKATAN PRODUKSI :
1.PEMBINAAN DAN REGULASI SISTEM PANEN
2.PERLUASAN PENGGUNAAN ALAT / MESIN PANEN DAN PASCA PANEN
3.PENGEMBANGAN DAN PENYEBAR LUASAN VARIETAS UNGGUL
4.PENGEMBANGAN PROTOTYPE ALAT / MESIN PANEN DAN PASCA PANEN

PENGOLAHAN HASIL ATAU YANG AKHIRNYA DIKENAL SEBAGAI AGROINDUSTRI


MERUPAKAN LANNGKAH YANG PERLU MENDAPAT PERHATIAN UNTUK TUJUAN-TUJUAN
: PERBAIKAN MUTU, PENGURANGAN KEHILANGAN, PENINGKATAN NILAI TAMBAH
PRODUK, PEMENUHAN SELERA PASAR YANG PADA AKHIRNYA AKAN MEMBERIKAN
TAMBAHAN PENGHASILAN BAGI PETANI

SUB SISTEM PEMASARAN HASIL


SUB SISTEM PEMASARAN DALAM SISTEM AGRIBISNIS MENEMPATI POSISI YANG
SANGAT PENTINGNYA
JAMINAN PEMASARAN PRODUK SANGAT DIPERLUKAN, TIDAK SAJA MENYANGKUT
KEPASTIAN PEMBELIAN, TETAPI JUGA KEPASTIAN JUMLAH DAN MUTU PERMINTAAN,
TINGKAT HARGA YANG MENARIK, WAKTU DAN TEMPAT PENYERAHAN PRODUK SERTA
WAKTU DAN SISTEM PEMBAYARAN
PENGEMBANGAN JEJARING DAN KEMITRAAN USAHA JUGA MENJADI AGENDA YANG
PERLU DIKEMBANGKAN DALAM PENGELOLAAN AGRIBISNIS

SUB SISTEM PENDUKUNG


1.PENELITIAN
2.PENYULUHAN
3.PEMBIAYAAN
4.PENGANGKUTAN
5.KONSTRUKSI
6.KELEMBAGAAN

UNSUR-UNSUR PERTANIAN

A. PROSES PRODUKSI
TUMBUH-TUMBUHAN ADALAH PABRIK PERTANIAN YANG PRIMER (POKOK).
TUMBUHAN MENGAMBIL CO2 DARI UDARA MELALUI DAUN DAN MENGAMBIL AIR DAN
UNSUR HARA DARI TANAH MELALUI AKAR. DARI SISNI DENGAN MENGGUNAKAN
ENERGI SINAR MATAHARI, DIHASILKAN BIJI, BUAH, SERAT, MINYAK, KAYU DAN
SEBAGAINYA.
PERTUMBUHAN TANAMAN DITENTUKAN OLEH FAKTOR GENETIK DAN FAKTOR
LINGKUNGAN (TERUTAMA ADALAH TEMPERATUR, ENERGI RADIASI, AIR, REAKSI
TANAH, KANDUNGAN UDARA DALAM TANAH, KANDUNGAN UNSUR HARA)
TERNAK DAN IKAN ADALAH PABRIK PERTANIAN SEKUNDER ATAU KEDUA.
TERGANTUNG JENISNYA, MEREKA MAKAN BERBAGAI JENIS TUMBUHAN DAN BAGIAN
TUMBUHAN. PABRIK KEDUA INI MERUBAH TUMBUHAN MENJADI PRODUKLAIN YANG
BERGUNA BAGI KEHIDUPAN MANUSIA : DAGING, SUSU, TELUR, KULIT, WOOL.

IMPLIKASINYA :
PERTANIAN MEMERLUKAN TEMPAT YANG TERSEBAR LUAS
JENIS USAHATANI DAN POTENSI PRODUKSI PERTANIAN BERBEDA DARI SATU TEMPAT
KETEMPAT YANG LAIN
KEGIATAN DAN PRODUKSI PERTANIAN BERSIFAT MUSIMAN
SATU PERUBAHAN DALAM SETIAP TINDAKAN MEMERLUKAN PERUBAHAN JUGA
DALAM HAL LAIN
PERTANIAN MODERN SELALU BERUBAH

B. PETANI ATAU PENGUSAHA


PERBEDAAN UTAMA ANTARA TUMBUHAN DAN BINATANG LIAR DENGAN
PERTANIAN ADALAH ADANYA MANUSIA.ADA ATAU TIDAK ADA MANUSIA, SETIAP HARI
SINAR MATAHARI SELALU MENYINARI PERMUKAAN BUMI, SEMENTARA TANAMAN DAN
HEWAN TUMBUH DAN BERKEMBANG.MANUSIALAH YANG MENGATUR ATAU
MENGUSAHAKAN PERTUMBUHAN TANAMAN DAN HEWAN SERTA MEMETIK HASILNYA
UNTUK MEMENUHI KEBUTUHANNYA. MANUSIA INILAH YANG DISEBUT PETANI ATAU
PENGUSAHA PERTANIAN.

DALAM KEGIATANNYA PETANI MEMEGANG DUA PERANAN YAITU :


PETANI SEBAGAI PENGGARAP
PETANI SEBAGAI MANAJER
LEBIH DARI SEBAGAI PENGGARAP DAN MANAJER, PETANI ADALAH JUGA MANUSIA
YANG PENTING BAGI KELUARGA DAN MASYARAKATNYA (LOCAL COMMUNITY).
SEBAGAI MANUSIA, PETANI MEMILIKI KEMAMPUAN YANG PENTING BAGI
PEMBANGUNAN PERTANIAN, YAITU : BEKERJA, BELAJAR, BERPIKIR SECARA
IMAGINATIF DAN KREATIF SERTA BERASPIRASI (BERCITA-CITA). KEMAMPUAN INILAH
YANG MEMUNGKINKAN PETANI MENJADI PENGGARAP DAN MANAJER BAGI USAHA
TANINYA

C. TANAH TEMPAT USAHA


ADALAH TANAH DIMANA PETANI MELAKSANAKAN USAHATANINYA DENGAN
TUJUAN UNTUK MEMENUHI KEBUTUHAN HIDUPNYA.
DI NEGARA BERKEMBANG PADA UMUMNYA, USAHATANI DILAKSANAKAN DALAM
SKALA USAHA YANG KECIL KARENA LUAS KEPEMILIKAN TANAH YANG SEMPIT SEBAGI
AKIBAT DARI PERPECAHAN (FRAGMENTASI) TANAH KARENA BERTAMBAH BESARNYA
JUMLAH PENDUDUK DAN SISTEM WARISAN YANG BERLAKU.

D. PERUSAHAAN PERTANIAN (FARM BUSINESS)


ADALAH KEGIATAN USAHATANI YANG MERUPAKAN AKTIVITAS PERUSAHAAN
PERTANIAN DALAM ARTI PETANI DALAM MENGUSAHAKAN USAHATANINYA BERUSAHA
AGAR HASILNYA BANYAK ATAU MENINGKAT SEHINGGA SELAIN UNTUK MEMENUHI
KEBUTUHAN KONSUMSINYA JUGA DAPAT UNTUK MEMENUHI KEBUTUHAN
LAINNYA.SEMUA LANGKAH YANG DIKERJAKAN DIDASARKAN ATAS PERTIMBANGAN
UNTUNG RUGI.

TUGAS SEORANG PENGUSAHA PERTANIAN, ANTARA LAIN :


MEMPERHATIKAN PERKEMBANGAN HARGA HASIL BUMI
MENENTUKAN PILIHAN TENTANG USAHA YANG AKAN DIJALANKAN
MENGORGANISIR USAHA-USAHA PERTANIAN YANG AKAN DIPILIH DALAM
PERUSAHAANYA
MENENTUKAN METODE TATALAKSANANYA
MENGATUR PEMBELIAN BAHAN-BAHAN YANG DIPERLUKANPERUSAHAANYA
MENGATUR PENJUALAN HASIL USAHANYA

DITINJAU DARI PENGUSAHAANNYA, PERTANIAN DIBEDAKAN MENJADI :


PERTANIAN SUBSISTEN
PERTANIAN SETENGAH SUBSISTEN
PERTANIAN KOMERSIAL

PENATAAN PERTANAMAN (CROPPING SYSTEM)


PENATAAN PERTANAMAN ADALAH CARA PENGATURAN DAN PEMILIHAN JENIS
TANAMAN YANG DIUSAHAKAN PADA SEBIDANG TANAH TERTENTU SELAMA JANGKA
WAKTU TERTENTU.
PENATAAN TANAMAN BERGANDA (MULTIPLE CROPPING) PADA GARIS BESARNYA
DAPAT DIKELOMPOKKAN MENJADI DUA, YAITU :
1.PENATAAN BERGANDA SECARA TUNGGAL (MONO CULTUR), JENIS TANAMAN
MUSIMAN
2.PENATAAN BERGANDA SECARA CAMPURAN (CATCH CROPPING)
PENATAAN BERGANDA SECARA TUNGGAL
DIATAS TANAH TERTENTU DALAM WAKTU TERTENTU (SEPANJANG UMUR
TANAMAN) HANYA DITANAMI SATU JENIS TANAMAN. SETELAH PANEN, TANAH
TERSEBUT DITANAMI LAGI SECARA BERGILIRAN URUTAN (ROTASI)

VARIASI PENATAAN TUNGGAL :


1.BERGILIRAN SECARA BERURUTAN
PADA MUSIM HUJAN DITANAMI PADI DAN PADA MUSIM KEMARAU DITANAMI
PALAWIJA, PADI ATAU BERO TERGANTUNG PADA PENGAIRAN, IKLIM DAN SEBAGAINYA
2.BERGILIRAN SECARA URUTAN DAN GLEBAKAN
PETANI MEMBAGI TANAH SAWAHNYA MENJADI DUA UNTUK MENGURANGI
RESIKO,SEBAGIAN DIKELOLA SEBAGAI SAWAH AN SEBAGIAN SEBAGAI TEGAL
DENGAN TANAMAN YANG COCOK DENGAN SISTEM BERGILIR BERURUTAN. SETELAH
BEBERAPA TAHU BAGIAN YANG DIJADIKAN TEGAL DIJADIKAN SAWAH KEMBALI,
KARENA ITU DISEBUT GLEBAKAN
3.BERGILIRAN SECARA BERJAJAR ATAU PARALEL TAPI TIDAK MENGANUT SISTEM
GLEBAKAN
PADA MUSIM HUJAN SELURUH SAWAH DITANAMI PADI, TAPI PADA MUSIM KEMARAU
ADA YANG DIBIARKAN KOSONG,DITANAMI PADI GADU ATAU PALAWIJA

4.PENATAAN TANAMAN SECARA BERLADANG


SELAMA BEBERAPA TAHUN TERUS MENERUS DITANAMI PADI GOGO ATAU TEMBAKAU,
KEMUDIAN DIBELUKARKAN KEMBALI AGAR MENJADI SUBUR LAGI
5.PENATAAN TANAMAN SECARA GLEBAKAN DIATAS SAWAH TADAH HUJAN
SAWAH TADAH HUJAN YANG SETELAH BEBERAPA TAHUN TERUS MENERUS
DIGUNAKAN SEBAGAI SAWAH,DIRUBAH MENJADI TANAH TEGALAN YANG DITANAMI
PALAWIJA

PENATAAN BERGANDA SECARA CAMPURAN


MENANAM BEBERAPA JENIS ATAU VARIETAS SECARA BERCAMPUR DAN BERSAMA-
SAMA DIATAS SUATU BIDANG TANAH.

VARIASINYA :
1.PENANAMAN CAMPURAN SECARA ACAK-ACAKAN (MIXED CROPPING)
PENATAAN BERBAGAI JENIS TANAMAN SECARA BERSAMAAN DAN TIDAK TERATUR
SEHINGGA KURANG NAMPAK SEBAGAI PERGILIRAN TANAMAN (CONTOH :
PEKARANGAN)
2.PENATAAN PERTANAMAN SECARA TUMPANGSARI (INTERCROPPING)
PENANAMAN CAMPURAN DUA ATAU LEBIH VARIETAS DARI SATU JENIS TANAMAN.
MISALNYA PADI DENGAN KETAN
3.PENATAAN PERTANAMAN SELA
PENANAMAN DUA ATAU LEBIH TANAMAN YANG BELAINAN SIFAT, UMUR DAN
SEBAGAINYA. CONTOH : TANAMAN KACANG TANAH DISELA-SELA TANAMAN KETELA
POHON ATAU PADI GOGO DISELA-SELA KARET
4.TANAMAN SISIPAN
PENANAMAN DUA JENIS TANAMAN BERSAMA-SAMA DIATAS TANAH YANG SAMA TAPI
WAKTU TANAM DAN PEMUNGUTAN HASIL TIDAK SAMA. SERING JUGA DISEBUT
PERTANAMAN TUMPANG TINDIH ATAU PENETAAN SECARA PEMASANGAN GENTENG

http//www.jenis-jenis koperasi.com

http//www.strategi dan peranan lembaga tani.com

Kasiyanto, M. J.1997. Masalah dan Strategi Pembangunan Indonesia.PT. Pustaka


Pembangunan Swadaya masrakat.Jakarta

Subri, Mulyadi. 2002. Ekonomi Sumber Daya Manusia. Fajar Interpratama Offset.
Jakarta

PENGERTIAN KELEMBAGAAN PETANI

Kelembagaan petani merupakan lembaga yang ditumbuh kembangkan dari, oleh dan
untuk petani, yang dibentuk atas dasar sesamaan kepentingan, kesamaan kondisi
lingkungan social, ekonomi, dan sumberdaya, kesamaan komoditas dan keakraban
untuk meningkatkan dan mengembangkan usaha anggota yang dinamakan dengan
kelompok tani (poktan), gabungan kelompok tani (gapoktan), dan kelembagaan
petani lainnya. Penumbuhan dan pengembangan kelembagaan petani dilakukan
melalui pemberdayaan petani untuk mengubah pola fikir petani agar mau
meningkatkan usahataninya dan meningkatkan kemampuannya dalam melaksanakan
fungsinya sebagai :
1. Kelas belajar
2. Wahana kerjasama
3. Unit produksi
Sehingga mampu mengembangkan agribisnis dan menjadi kelembagaan petani yang
kuat dan mandiri.
Keragaan kelembagaan petani baik POKTAN maupun GAPOKTAN dan kelembagaan
ekonomi petani secara keseluruhan yaitu :
NO Bentuk kelembagaan Jumlah
1 Kelompok tani 369.958 kelompok
Jumlah petani sebagai anggota :
11.838.656 orang (44.84% dari
jumlah 26.400.000 KK tani, BPS
2013) rata-rata jumlah anggota
poktan 32 orang
2 GaBUNGAN Kelompok 53.234 Unit
Tani
3 Kelembagaan Ekonomi 17.140 Unit
Petani (Koptan,
BUMP)
Sumber : Ekstensia edisi 11 tahun 2015 diambil dari Bidang Pemberdayaan
Kelembagaan Petani dan Usahatani, Pusluh-BPPSDMP, Desember 2014
Untuk meningkatkan produksi menuju swasembada pengan
berkelanjutan , maka penyuluh menjadi unsur penting dalam
menggerakkan para petani, kelompok tani, gabungan kelompok tani
dan lembaga petani lainnya. Akan tetapi pada saat sekarang jumlah
penyuluh pertanian semakin berkurang. Berdasarkan data BPPSDMP
kementerian Pertanian tahun 2015 hanya sebanyak 39.336 orang
penyuluh pertanian, yang terdiri dari 27.561 Penuluh PNS dan
11.775 Tenaga Harian Lepas Tenaga Bantu Penyuluh Pertanian (THL-
THPP). UNtuk menanggulangi kekurangan tenaga penyuluh ini, telah
dilakukan pemberdayaan penyuluh pertanian swadaya.
Kelembagaan petani yang telah terbentuk memiliki beberapa
permasalahan antara lain yaitu :
1. Masih rendahnya kualitas dalam mengelola usahatani secara
efisien,
2. Rendahnya kemampuan dalam menjalin kerjasama dengan pelaku
agribisnis dan kelembagaan ekonomi pedesaan lainnya,
3. Masih lemahnya kapasitas kelembagaan petani dan kelembagaan
ekonomi petani (belum berbadah hukum),
4. Masih terbatasnya kases petani terhadap seumber pembiayaan/
ppermodalan dan pemasaran,
5. Masih terbatasnya akses petani terhadap IPTEK dan informasi.
Untuk mengtasi permasalahan kelembagaan petani tersebut dapat
dilakukan pemberdayaan petani melalui kegiatan pelatihan dan
penyuluhan. Upaya lainnya melalui pengembangan kelembagaan petani
yang diarahkan pada petani bertujuan meningkatan kemampuan
menjadi organisasi mandiri dalam bentuk Kelembagaan Ekonomi
Petani, sehingga mampu membangun sinergi antar petani dan antar
POKTAN untuk mencapai efisiensi usaha.

Beberapa kegiatan yang mendukung upaya peningkatan kemampuan atau


penguatan kelembagaan petani :
1. Diseminasi informasi dan teknologi pertanian
Untuk memberikan keyakinan kepada petani agar tidak ragu dalam
menerapkan teknologi pertanian, diperlukan kegiatan diseminasi
informasi dan teknologi, yang bertujuan untuk :
a)Meningkatkan Adopsi Inovasi teknologi hasil penelitian
pertanian dan pengkajian melalui kegiatan komunikasi, promosi dan
komersial
b) Penyebaran paket teknologi unggul yang dibutuhkan dan
menghasilkan nilai tambah bagi pengguna
c) Penyebaran materi penyuluhan baik melalui medi cetak maupun
elektronik.
Pelaksanaan deseminasi sinergi dengan kegiatan pelatihan di BP3K,
kunjungan penyuluh ke kelompok tani, rembug tani, kursus tani,
denfarm dan hari temu lapang.
2. Kursus Tani
Kursus tani bertujuan meningatkan kemampuan petani dalam
menerapkan teknologi sesuai dengan rekomendasi. Kegiatan kursus
tani ini disesuaikan dengan jadwal dan materi yang telah
disepakati dan disinergikan dengan kunjungan penyuluh ke kelompok
tani/P3A/GAPOKTAN/GP3A. Materi kursus tani antara lain materi
teknis (tanam dengan system Jajar Legowo, teknik peningatan
produksi dan produktivitas, pengolahan hasil dan pemasaran),
pengembangan jejaring dan kemitraan dalm agribisnis serta materi
lain yang secara spesifik dibutuhkan oleh petani
3. Demfarm
Demonstration Farming (Demfarm) merupakan salah satu metode
penyuluhan pertanian untuk memperlihatkan secara nyata, baik
"cara" maupun "hasil" dari penerapan suatu inovasi teknologi yang
telah teruji dan menguntungkan bagi para petani. Tujuan Denfarm
adalah sebagai sarana pembelajaran petani antara lain yaaitu
meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan sikap petani dalam
penerapan teknologi petani serta menumbuh kembangkan kelembagaan
petani dan petani swadaya.
4. Hari Temu Lapangan Petani (farm Field Day/FFD)
Hari temu lapang merupakan pertemuan petani dengan peneliti dan
penyuluh. Saling tukar menukar informasi tentang teknologi yang
dihasilan oleh para peneliti serta umpan baaliknya dari petani
dan disebar luaskan oleh penyuluh.
5. Pengembangan Jejaring dan Kemitraan Usaha
pengembangan jejaring dan kemitraan usaha merupakan upaya
pengembangan usaha kelompok tani/P3A/GAPOKTAN/GP3A, sehingga
memungkinkan tumbuh dan berkembang sistem agribisnis dengan
prinsip kesetaraan dan saling menguntungkan.