Anda di halaman 1dari 60

PEMANFAATAN CO2 untuk PEMBUATAN

METANOL

Disusun oleh :
1. Jessica (1400610019)
2. Muhammad Hilmy Hakeem (1400610013)
3. Rena Nadia Permata Asry (1400610029)

Pembimbing :
1. Dr. Sholeh Mamun
2.Petrick Gideon Effendi ST M.Sc

Department of Chemical and Green Process Engineering, Surya University


Gedung 01 Scientia Business Park
Jl. Boulevard Gading Serpong Blok O/1 Summarecon Serpong, Tangerang,
Banten-Indonesia
15810
Lembar Pengesahan

Pemanfaatan CO2 untuk Pembuatan Metanol

Di ajukan sebagai salah satu persyaratan untuk memenuhin mini riset teknik kimia I
Fakultas Clean Energy and Climate Change
Department of Chemical and Green Process Engineering Surya University

Di ajukan oleh :
1. Jessica (1400610019)
2. Muhammad Hilmy Hakeem (1400610013)
3. Rena Nadia Permata Asry (1400610029)
Menyetujui,

Pembimbing I Pembimbing II

Petrick Gideon Effendi ST M.Sc Dr. Sholeh Mamun


Abstrak

CO2 kini telah menjadi pusat masalah global warming yaitu emisi gas rumah kaca, banyak
peneliti melakukan percobaan untuk mengurangi gas CO2 ini, dimulai dengan CO2 capture
hingga pemanfaatan CO2 ini ke metanol. Untuk itu tujuan kami adalah agar dapat mengetahui
pemanfaatan emisi gas ini serta dijadikan acuan bagi peneliti untuk melakukan proses ini.

Dalam proses konversi CO2 ke metanol ini melalui reaktor sintesis metanol memerlukan bahan
baku CO2 murni dengan hidrogen (H2) atau air (H2O). CO2 dan H2 dalam hal ini, kami
menggunakan proses sintesis metanol langsung, sedangkan CO2 dan H2O dalam hal ini, kami
menggunakan proses fotosintesis buatan dengan bantuan sinar matahari (sinar UV).

Secara singkatnya, dalam proses pemanfaatan CO2 ke metanol, dibutuhkan katalis yang tepat,
khususnya nanokatalis, dengan bahan bakunya CO2 dan H2 yang lebih efisiensi dalam
kebutuhan energi dan listrik serta proses pemanfaatan CO2 dan H2 yang kami gunakan adalah
proses sintesis metanol secara langsung.

Kata kunci: CO2, sintesis metanol, fotosintesis buatan, H2, H20


Abstract

Nowadays, CO2 have become one of the biggest source of the greenhouse effect, which further
leads to the global warming. Many researchers have done the research on this subject, that is,
to reduce the concentration of CO2 in the atmosphere through the carbon capture system or the
production of methanol with CO2 as the raw material. Thus, this research objective is to find
how the emission of CO2 can be beneficial for us and so that it may become the reference
material for the other researchers to do this conversion process.

The conversion process from CO2 to methanol needs pure CO2 and hydrogen (H2) or water
(H2O). For the CO2 and H2 reaction, we use the direct synthesis methanol process, and for CO2
and H2O reaction, we use the artificial photosynthesis process with the help of sunlight (UV
light)

In short, to undergo an optimal conversion process from CO2 to methanol, we have to find the
right catalyst, particularly nanocatalyst, with the raw material of CO2 and H2 because it has
more efficiency in energy consumption. So, the process that we choose in the conversion of
CO2 and H2 to methanol is the direct synthesis methanol process.
Keywords: CO2, methanol synthesis, artificial photosynthesis, H2, H2O
Kata Pengantar

Puji Syukur kami panjatkan kepada Tuhan yang Maha Esa atas segala berkat dan rahmatNya
yang telah dilimpahkan kepada kami sehingga mampu menyelesaikan makalah studi kajian
literatur ini yang berjudul Pemanfaatan CO2 untuk Pembuatan Metanol. Makalah ini
diajukan guna untuk memenuhi salah satu tugas riset dalam semester pendek.

Dalam kesempatan ini, kami mengucapkan terima kasih kepada:

1. Bpk. Yalun Arifin, selaku kepala dosen Chemical Engineering, yang memberikan
kami ijin untuk melakukan riset ini.
2. Bpk. Sholeh Mamun, selaku dosen pembimbing kami, yang telah memberikan
ilmunya untuk mempermudah kami menyelesaikan makalah ini.
3. Bpk. Petrick Gideon Effendi, selaku dosen pembimbing kami, yang telah membantu
kami membenarkan kesalahan yang kami buat dalam makalah ini.
4. Orang tua kami yang telah memberikan dukungannya baik secara materi maupun
moral.
5. Teman-teman dalam satu kelompok yang telah membantu dalam penyusunan makalah.

Kami menyadari bahwa makalah yang kami buat ini masih banyak kekurangan dan belum
sempurna, untuk itu kami sangat mengharapkan kritik dan saran khususnya dosen pembimbing
kami yang bersifat membangun, agar makalah yang kami buat ini berguna dan memberikan
wawasan yang luas bagi pembaca serta peneliti selanjutnya dimasa depan, untuk itu kami
menyelesaikan makalah ini demi tercapainya Indonesia Jaya.

Tangerang, 10 Maret 2015

Penyusun
Daftar Isi

Abstrak . i

Kata Pengantar .............. iii

Daftar Isi iv

Daftar Simbol vii

Daftar Tabel .. ix

Daftar Gambar ... x

BAB I. Pendahuluan . 1

1.1 Latar Belakang . 1

1.2 Permasalahan ... 3

1.3 Tujuan .. 3

BAB II. Kajian Literatur 5

2.1 Metode Pembuatan Metanol dari karbon dioksida dan hidrogen . 5

2.1.1 Two Step Methanol Synthesis Process .. 5

2.1.2 Direct Methanol Synthesis Process 6

2.1.4 Efisiensi Energi dan Ekonomi pada kedua metode 6

2.1.3 Konklusi . 15

2.2 Penggunaan katalis dalam proses sintesis metanol ... 15

2.2.1 Nanokatalis . 16

2.2.2 Organokatalis .. 17

2.2.3 Konklusi .. 18

2.3 Metode Pembuatan Metanol dari karbon dioksida dan air 19


BAB III. Proses Pembuatan 21

3.1 Direct Synthesis Methanol . 21

3.1.1 Dekripsi Alat dan Mekanismenya ... 21

1. Flash Separator . 21

2. Compressor 22

3. Reactor .. 24

4. Cooling Tower ... 25

5. Distillation Column 25

6. Power Distribution System . 28

7. PSA (Pressure Swing Adsorption) . 29

8. Relief Valve 30

9. Heat Exchanger .. 31

3.1.2 Proses Produksi Metanol dengan Bahan Baku CO2 dan H2 .. 31

3.1.3 Process Flow Diagram .. 35

3.2 Photocatalytic CO2 Conversion to Methanol .. 36

3.2.1 Dekripsi Alat dan Mekanismenya .... 36

1. Mixer Recycle ... 36

2.Heater . 36

3.Reactor 36

4.Cooler .. 36

5. Separator . 37

6. Distillation Tower ... 37

3.2.2 Proses Produksi Metanol dengan bahan baku CO2 dan H2O . 37

3.2.3 Process Flow Diagram 40


3.3 Perbandingan Efisiensi Energi dan Ekonomi .. 40

BAB IV. Kesimpulan . 44

Daftar Pustaka 45
Daftar Simbol

CO2 Karbon Dioksida

H2 Hidrogen

H2O Air

N2 Nitrogen

CH4 Metana

CFC CloroFluorCarbon

H2CO3 Asam Karbonat

CO Karbon Monoksida

CH3OH Metanol

DME Dimetil Eter

CCS Carbon, Capture, and Storage

RWGS Reverse Water Gas Shift

Cu/ZnO Katalis Tembaga/Zink Oksida

ZrO2 Zirkonium Oksida

NPV Net Present Value

CEPCI Chemical Engineering Plant Cost Index

LHV Lower Heating Value

HHV Higher Heating Value

PSA Pressure Swing Adsorption

CuO/ZnO/Al2O3 Tembaga Oksida/Zink Oksida/Aluminium Oksida

MgH2 Magnesium Hidrida

NHC N-heterocyclic carbenes


C6H12O6 Glukosa

TiO2 Titanium Dioksida

Sinar UV Sinar Ultra Violet

Mn2+ Ion Mangan

Al3+ Ion Aluminium

Na+ Ion Natrium

PBR/FBR Packed Bed Reactor/Fixed Bed Reactor

CWR Cooling Water Return

PLN Perusahaan Listrik Negara

CH3OCH3 Dimetil Eter

MeOH Metanol
Daftar Tabel

Tabel 1. Perhitungan biaya modal untuk proses 2 tahap sintesis metanol . 7

Tabel 2. Perhitungan biaya modal untuk proses sintesis metanol langsung .. 8

Tabel 3. Biaya operasi tahunan untuk kedua proses sintesis metanol 9

Tabel 4. Permintaan Hidrogen untuk kedua proses sintesis metanol . 10

Tabel 5. Harga total produksi CO2 oleh kedua proses ... 11

Tabel 6. Jumlah dan harga metanol serta oksigen .. 12

Tabel 7. Jumlah yang diperlukan untuk produksi 1 kg metanol . 13

Tabel 8. Nilai-nilai setiap komponen reaktan dan produk .. 14

Tabel 9. Reaksi yang terjadi dalam reaktor sintesis metanol pertama 32

Tabel 10. Reaksi yang terjadi dalam reaktor sintesis metanol kedua . 33

Tabel 11. Kelebihan dan Kekurangan pada kedua metode . 42


Daftar Gambar

Gambar 1. Grafik Emisi CO2 pada tahun 2004 2010 . 2


Gambar 2. Diagram Flash Separator . 21
Gambar 3. Kompresor Sentrifugal Single Stage 22
Gambar 4. Letak Diffuser pada Kompresor .. 23
Gambar 5. Letak Guide Vane pada Kompresor 23
Gambar 6. Multitubular Fixed-Bed Reactor .. 24
Gambar 7. Mekanisme Cooling Tower .. 25
Gambar 8. Diagram Kolom Distilasi .. 26
Gambar 9. Mekanisme Kondensor .. 27
Gambar 10. Mekanisme PSA .. 29
Gambar 11. Komposisi Alat pada Relief Valve .. 30
Gambar 12. Lamella Heat Exchanger .. 31
Gambar 13. Proses Skema Diagram Alur pada Direct Synthesis Methanol 35
Gambar 14. Process Flow Diagram pada Direct Synthesis Methanol . 35
Gambar 15. Mekanisme Separator ... 37
Gambar 16. Mekanisme Kolom Distilasi .. 37
Gambar 17. Diagram Skematik Proses Pembuatan Metanol dengan
Fotosintesis Buatan . 38
Gambar 18. Process Flow Diagram pada Photocatalytic CO2 .. 40
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Udara yang terdapat pada atmosfer bumi utamanya terdiri dari Oksigen (O2) = 21%
volume, Nitrogen (N2) = 78% volume dan sisanya 1% terdiri dari bermacam-macam gas
diantaranya : Argon (Ar) = 0.94% volume dan karbon dioksida (CO2). Karbondioksida (CO2)
adalah salah satu senyawa alami berbasis karbon terbanyak di atmosfir atau paling tidak
terbanyak diantara gas rumah kaca lainnya seperti metana (CH4) dan klorofluorokarbon (CFC).
CO2 ini juga merupakan suatu gas penting yang dalam kadar normal bermanfaat dalam
kehidupan manusia. Kadar yang lebih dari normal akan sangat beresiko bagi kehidupan. Perlu
diketahui bahwa kadar normal CO2 yang terkandung dalam udara segar (yaitu udara di
permukaan laut) adalah 0,036%-0,039%, tergantung pada lokasinya. Jadi kadar di atas angka
tersebut sudah harus kita waspadai. Kadar 0,1-0,5% membuat konsentrasi terganggu. Dan 0,5%
adalah batas aman internasional yang telah ditetapkan. Kadar 1% membuat kita bernafas lebih
cepat, tapi kita tidak menyadarinya. Kadar 2% membuat kita bernafas lebih cepat lagi, dan cepat
lelah, serta pusing. Kadar 3% membuat kita bernafas 2 kali lebih cepat, pusing, sakit kepala,
detak jantung meningkat, tekanan darah naik, bahkan pendengaran terganggu. Pada kadar 4%
ke atas, kita sudah memasuki tahap keracunan, di mana gejalanya berkembang menjadi sesak
nafas, gangguan penglihatan dan pada akhirnya kehilangan kesadaran. Sejak revolusi industri
250 tahun yang lalu hingga sekarang, CO2 terus meningkat di dalam jumlah. Bisa dilihat di
tabel berikut dari tahun 2004 hingga 2010.
Gambar 1. Grafik Emisi CO2 pada tahun 2004 - 2010

Gas rumah kaca inilah, termasuk CO2, yang menyebabkan naiknya suhu permukaan
bumi atau yang dikenal secara umum sebagai Global Warming. Global Warming adalah isu
yang paling sering dibicarakan dalam berbagai kalangan di dunia.

Senyawa CO2 dapat dihasilkan dari berbagai macam sumber, diantaranya sistem
respirasi makhluk hidup, ataupun hasil reaksi pembakaran dari senyawa hidrokarbon (terutama
yang berasal dari fossil fuel seperti bensin dan gas alam) yang sebagian besar berasal dari
kendaraan bermotor dan kegiatan industri. Karena itulah bertambahnya jumlah kendaraan
bermotor dan pabrik berhubungan langsung dengan meningkatnya konsentrasi karbondioksida
pada atmosfer.

Berkurangnya luas hutan di dunia juga mempengaruhi peningkatan konsentrasi


karbondioksida pada atmosfer. Hal ini dikarenakan, dengan tidak adanya pepohonan maka satu-
satunya jalan untuk mengurangi konsentrasi CO2 secara alami pun hilang. Meskipun CO2 dapat
larut dalam air, namun reaksinya dengan air (H2O) menghasilkan senyawa yang bersifat asam
yaitu H2CO3 (Asam Karbonat) yang bersifat korosif.
Namun, selain berdampak negatif pada lingkungan, ada juga beberapa manfaat CO2
yang bisa dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari ataupun dalam skala industri, diantaranya
melibatkan karbondioksida dalam produksi metanol, urea, polimer ataupun penggunaan CO2
dalam Enchanced Oil Recovery dan masih banyak lagi. Dengan meningkatkan pemanfaatan
CO2 dalam industri tersebut maka konsentrasi karbondioksida pada atmosfer pun dapat
dikurangi dan produknya pun dapat bermanfaat kembali bagi manusia.

1.2 Permasalahan
Efek rumah kaca adalah masalah terbesar yang disebabkan oleh karbondioksida.
Dengan meningkatnya konsentrasi CO2 pada atmosfir panas berupa energi yang telah masuk
dan dipantulkan kembali dari permukaan bumi tidak dapat menembus lapisan atmosfer karena
tertahan oleh CO2 dan gas rumah kaca lainnya. Pada akhirnya panas tersebut dikembalikan ke
permukaan bumi dan meningkatkan suhu permukaan bumi (Global Warming). Inilah yang
disebut efek rumah kaca.

Sebenarnya pada level konsentrasi CO2 tertentu, efek rumah kaca dibutuhkan untuk
menstabilkan suhu permukaan bumi agar perbedaan suhu antara siang dan malam tidak terlalu
jauh. Namun jika konsentrasi CO2 terlalu tinggi, efek ini justru menjadi permanen dan
menyebabkan suhu permukaan bumi meningkat setiap tahunnya. Hal ini berikutnya
menyebabkan naiknya permukaan air laut karena kenaikan suhu yang terjadi di kutub utara dan
selatan, dan juga perubahan cuaca yang semakin tidak menentu.

Karbondioksida ini memiliki banyak dampak yang buruk terhadap manusia. Hal ini
karena karbon dioksida adalah gas terbanyak kedua. Konsentrasi karbondioksida yang
meningkat pada air laut pun dapat menyebabkan kadar asam pada air laut meningkat, dan dapat
mengganggu ekosistem di dasar laut. Hal ini juga dapat menyebabkan hujan asam yang bersifat
korosif karena kadar asam yang tinggi. Pada konsentrasi tertentu, CO2 juga dapat bersifat racun
(toxic) yang berbahaya bagi makhluk hidup, termasuk manusia.

1.3 Tujuan

Tujuan dari riset ini adalah untuk mengetahui pemanfaatan dari karbondioksida dan juga
proses untuk mengubah CO2 menjadi produk tertentu. Dengan fokus penelitian yaitu mengubah
CO2 menjadi CH3OH (metanol) dan juga menentukan proses produksi paling efektif yang dapat
digunakan untuk memperoleh hasil yang maksimal.Semakin banyak orang menyadari akan
dampak emisi karbondioksida ini maka dengan adanya makalah ini kami jadikan sebagai acuan
bagaimana pemanfaatan emisi karbondioksida ini menjadi suatu hal yang murah, efisien dan
hasilnya juga ramah lingkungan.
BAB II

KAJIAN LITERATUR

2.1 Metode Pembuatan Metanol dari karbon dioksida (CO2) dan hidrogen (H2)
Metanol merupakan salah satu komponen yang lebih sering digunakan dalam industri
kimia. Dalam hal ini, sintesis methanol bisa dikatakan sebagai proses hijau jika reaktan
utamanya adalah CO2 dan H2, reaksi kimianya sebagai berikut:

(1) CO + 2H2 CH3OH (CO2 diubah menjadi CO melalui RWGS)


(2) CO2 + 3H2 CH3OH + H2O

Dari reaksi kimia tersebut, dapat disimpulkan bahwa produk dari reaksi tersebut adalah metanol
dan air sehingga meminimalisir produk yang tidak diinginkan seperti DME (Dimethyl Eter) ,
metana, dll. CO2 bisa disediakan dengan adanya teknologi CCS (Carbon Capture and Storage),
dan hidrogen dapat diproduksi melalui elektrolisis air. Metode pembuatan metanol di bagi
menjadi dua cara yaitu : direct methanol synthesis process dan two step methanol synthesis
process.

2.1.1 Two Step Methanol Synthesis Process

Tahap pertama dari proses CO2 menjadi CO melalui RWGS (Reverse Water Gas
Shift) dengan reaksi:

CO2 + H2 CO + H2O

Reaksi ini merupakan reaksi endotermik, oleh karena itu konversi CO2 meningkat pada
suhu yang lebih tinggi.

Lalu masuk dalam reaktor pertama yaitu water cooled reactor. Aplikasi katalis sangat
penting dalam proses ini karena katalis ini harus cocok untuk memastikan konversi yang
sangat selektif untuk dekat dengan keseimbangan, sehingga menghasilkan konversi
fraksional CO2 sekitar 60%, lalu produk dari reaktor pertama yang didinginkan masuk
dalam reaktor kedua, di reaktor kedua terjadi sintesis methanol, dalam reaktor kedua
terdapat katalis Cu/ZnO yang diperkaya juga dengan ZrO2 untuk mencapai konversi
CO2 ke methanol yang lebih tinggi. Lalu dilanjutkan dengan 3 kolom distilasi. Kolom
pertama digunakan untuk memisahkan gas-gas terlarut yang diperoleh sebagai gas
distilat dan menjalani pembakaran secara bersamaan dan dibersihkan dari synthesis loop.
Energi yang dilepaskan selama pembakaran digunakan untuk memasok jumlah yang
diperlukan energi untuk reaktor RWGS. Lalu CO2 yang dihasilkan dari pembakaran
dapat dipisahkan dengan menggunakan post-combustion carbon capture. CO2 yang
dipisahkan dapat digunakan lagi sebagai bahan awalnya. Dua kolom terakhir digunakan
untuk memisahkan metanol dan air. Metanol yang diperoleh sangat murni.

2.1.2 Direct Methanol Synthesis Process

Campuran karbon dioksida dan hidrogen dengan rasio 1:3, lalu secara langsung
masuk dalam reaktor pertama untuk proses sintesis methanol, katalis yang digunakan
adalah Cu/ZnO yang diolah dengan ZrO2 untuk memastikan konversi yang tepat dari
reaktan, kemudian didinginkan. Mayoritas dalam fase gas yang dihasilkan didaur ulang
kembali ke reaktor pertama sementara bagian ke dua disampaikan ke reaktor kedua
untuk tambahan sintesis methanol, produk dari reaktor kedua juga didinginkan lalu
dilanjutkan dengan tiga kolom distilasi. Sebelum memasuki 3 kolom distilasi terdapat
unit PSA (Pressure Swing Adsorption) untuk memperoleh kembali H2. H2 ini dapat
digunakan lagi dalam sintesis methanol karena konsumsi H2 dalam proses ini sangat
tinggi. Proses yang terjadi dalam 3 kolom distilasi sama dengan proses yang terjadi
dalam two step synthesis methanol.

2.1.3 Efisiensi Energi dan Ekonomi pada kedua metode

1. Efisiensi Ekonomi

Biaya utama dalam proses produksi metanol ini dari kedua metode
tersebut adalah produksi hidrogen, dalam kasus ini, hidrogen diproduksi melalui
elektrolisis air, dan memerlukan sejumlah besar tenaga listrik yang diperlukan
untuk tujuan itu. Proses produksi metanol juga dapat dikombinasikan dengan
beberapa teknologi penangkap CO2, sejumlah besar oksigen yang dihasilkan dari
produksi hidrogen melalui elektrolisis air. Oksigen ini bisa digunakan untuk
proses pembakaran (combustion), hanya CO2 dan air sebagai gas buangnya, air
dapat dipisahkan dengan mudah dan CO2 murni dapat diperoleh untuk produksi
metanol. Teknologi ini dikenal sebagai teknologi oxy-fuel.
Efisiensi perbandingan ekonomi antara kedua metode produksi
metanol dari CO2 ini didasarkan pada NPV (Net Present Value). Net Present
Value adalah salah satu metode yang digunakan untuk menentukan efisiensi
ekonomi. Metode ini memberikan beberapa parameter yang sangat penting, yang
dapat digunakan untuk perbandingan dua proses.

1.1 Biaya Modal

Biaya modal menggunakan beberapa parameter dan indeks.


Persamaan yang digunakan untuk tujuan ini adalah

C = nE Co (S / nSo)f

Dimana C adalah biaya unit proses, n adalah jumlah unit, E adalah


biaya eksponen skala untuk nomor yang berbeda tapi dari unit berukuran
sama, Co adalah biaya unit referensi, S adalah kapasitas unit proses, So
adalah kapasitas unit proses referensi, dan f adalah faktor biaya scaling.

Biaya unit proses yang diambil dari literatur yang berbeda, oleh
karena itu CEPCI (Chemical Engineering Plant Cost Index) harus
diperhitungkan. Dalam hal ini nilai indeks CEPCI untuk 2013 dan 2014
belum tersedia, dalam arti belum mencapai final. Untuk itu nilai indeks
yang diambil sebagai nilai sekarang adalah 2012.

Kedua proses produksi metanol dibagi menjadi beberapa bagian


dan total biaya modal diwakili oleh jumlah biaya masing-masing bagian.
Perhitungan biaya modal untuk proses sintesis metanol langsung dan dua
tahap dapat dilihat masing-masing pada tabel 1 dan 2.

Tabel 1. Perhitungan biaya modal untuk 2 tahap sintesis metanol.

Proses/unit Skala parameter S So Co Referensi/ Co n f E C


(m$) Tahun (m$) (m$)
Elektrolisis MW berdasarkan 259.9 220 33.00 [17]/2010 35.02 2 0.67 0.9 45.93
Air LHV
RWGS CO (kg/s) 4.6 2 7.00 [17]/2010 7.43 3 0.67 0.9 17.29
Reaktor MeOH (ton/hari) 607.6 5000 81.96 [13]/2005 102.30 1 0.67 0.9 24.93
metanol
Distilasi MeOH (ton/hari) 607.6 5292 19.20 [18]/2008 21.36 1 0.67 0.9 5.01
metanol
PSA H2 (kg/h) 55.6 23 0.02 [19]/2001 0.03 3 0.67 0.9 0.07
Unit MW berdasarkan 19.7 20 12.82 [20]/2010 13.61 1 0.67 0.9 13.61
pembakaran LHV
Harga 0.85
kompresor
Total harga 84.18
kapital

Tabel 2. Perhitungan biaya modal untuk sintesis metanol langsung

Proses/unit Skala parameter S So Co Referensi/ Co n f E C


(m$) Tahun (m$) (m$)
Elektrolisis Air MW berdasarkan 309.3 220 33.00 [17]/2010 35.02 2 0.67 0.9 51.61
LHV
Reaktor metanol 1 MeOH (ton/hari) 420.9 5000 81.96 [13]/2005 102.30 1 0.67 0.9 19.49
Reaktor metanol 2 MeOH (ton/hari) 318.7 5000 81.96 [13]/2005 102.30 1 0.67 0.9 16.18
Distilasi methanol MeOH (ton/hari) 690.2 5292 19.20 [18]/2008 21.36 1 0.67 0.9 5.46
PSA H2 (kg/h) 210.0 23 0.02 [19]/2001 0.03 9 0.67 0.9 0.19
Harga kompresor 0.45
Total harga kapital 72.94

Dari data diatas, kita dapat menghitung biaya unit proses tersebut, ambil
contoh kita menghitung biaya unit proses untuk elektrolisis air pada 2
tahap sintesis metanol

C = nE Co (S / nSo)f (dalam rumus ini digunakan Co karena CEPCI


diperhitungkan), jadi dimasukkan saja angka-angka tersebut dari data
diatas:

C = 2 0.9 x 35.02 x (259.9 / 2 x 220)0.67

C = 2 0.9 x 35.02 x 0.702


C = 1.87 x 35.02 x 0.702

C = 45.93 m$

Maka didapatkan biaya unit proses tersebut, dengan menghitung masing-


masing biaya unit proses tersebut, kita dapat menjumlahkan total biaya
unit proses tersebut menjadi total harga kapitalnya.

Dari hasil perhitungan diatas, didapatkan total harga kapital untuk


proses 2 tahap sintesis metanol adalah 84.18 m$, dan untuk proses
sintesis metanol langsung adalah 72.94 m$, maka dapat disimpulkan
bahwa biaya modal investasi untuk sintesis metanol langsung lebih
hemat dibanding dengan 2 tahap sintesis metanol.

1.2 Biaya Operasional dan harga reaktan

Biaya operasi biasanya dihitung selama satu tahun produksi dan


terkait dengan konsumsi energi, penggunaan katalis, harga reaktan, dan
bahan baku. Bagian pertama dari biaya operasi adalah konsumsi listrik
untuk kompresor, dan produksi hidrogen. Biaya operasi tahunan untuk
kedua proses dapat dilihat dalam tabel 3.

Tabel 3. Biaya operasi tahunan untuk kedua proses sintesis metanol.

Harga Jumlah Biaya operasi


(M)
2 tahap Konsumsi 31.84 U/ kompresi U/ hidrogen 34.9
sintesis listrik /MWh 1.939 MW 259.9 MW
metanol Katalis 56.8 /m3 0.133 E06 0.5
metanol metanol m3
Sintesis Konsumsi 31.84 U/ kompresi U/ hidrogen 41.2
metanol listrik /MWh 1.070 MW 309.3 MW
langsung Katalis 56.8 /m3 0.152 E06 0.6
metanol metanol m3

Bagian kedua dari biaya operasional adalah harga reaktan dan bahan
baku. Dalam kedua sintesis metanol, reaktan utamanya adalah hidrogen
dan karbon dioksida, sementara dalam proses two step synthesis
methanol, gas alam dianggap sebagai bahan baku.

Jumlah yang dibutuhkan hidrogen untuk kedua proses dapat dilihat di


tabel 4.

Tabel 4. Permintaan hidrogen untuk kedua proses

Sintesis metanol 2 tahap sintesis metanol


langsung
F H2 (kg/h) jmlh proses 6000 4920
masuk hidrogen
PSA H2 (kg/h) jmlh 189 50
regenerasi hidrogen dari
PSA
Jmlh bersih (kg/h) 5811 4870

Hal ini dapat dilihat bahwa sejumlah besar hidrogen diperlukan untuk
sintesis metanol langsung, sebab jumlah proses yang dibutuhkan
hidrogen dalam sintesis metanol langsung selain dari PSA adalah 5811
kg/h, untuk memenuhi kebutuhan tersebut diperlukan biaya yang besar
untuk proses elekrolisis air. Sedangkan pada proses 2 tahap sintesis
metanol hanya diperlukan 4870 kg/h.

Dari sisi lain, jumlah yang dibutuhkan karbon dioksida untuk kedua
proses dapat dilihat di tabel 5.

Tabel 5. Harga total produksi karbon dioksida untuk kedua proses

Sintesis metanol 2 tahap sintesis


langsung metanol
F CO2 (kg/h) jmlh CO2 yang 44,000 44,000
memasuki proses
C CO2 (kg/h) jmlh CO2 yang 2989 6439
mengalami pembakaran
Harga penangkapan CO2 1357 1243
(/h)
Nilai pajak karbon (/h) 591 541
Biaya tahunan (M) 3.2 2.9

Seperti disebutkan diatas, bahwa dalam proses two step synthesis


methanol, gas alam digunakan untuk mendapatkan jumlah yang
dibutuhkan energi untuk reaktor RWGS. Ini berarti gas alam juga
dianggap sebagai reaktan untuk proses itu. Harga yang dihitung adalah
0.149 V/kg gas alam. Jumlah yang dibutuhkan adalah sekitar 900 kg/h,
sesuai dengan biaya tahunan sebesar 0.566 MV.

Akhirnya, total biaya operasional dapat dihitung, Biaya


operasional untuk proses two step synthesis methanol adalah Ot = 38.93
M, dan biaya operational untuk proses direct synthesis methanol adalah
Ot = 45.16 M. Nilai biaya pemeliharaan 5% dari biaya modal (Mt) untuk
proses dua tahap dan secara langsung masing-masing adalah 4.617 MV
dan 3.625 MV.

1.3 Harga Produk

Produk utama dari kedua proses tersebut adalah metanol. Produk


sampingan oksigen yang dihasilkan dari elektrolisis air sangat penting.
Harga metanol terus meningkat sejak 2009, harga metanol saat 0.390
V/kg diperhitungkan untuk menghitung keuntungan total dari produksi
metanol. Seperti yang telah disebutkan, proses sampingan dari proses
elektrolisis air adalah oksigen. Harga oksigen dipertimbangkan untuk
menghitung NPV = 0.085 V/kg oksigen. Jumlah dan harga metanol serta
oksigen dapat dilihat di tabel 6.

Tabel 6. Jumlah dan harga metanol serta oksigen untuk kedua proses

Metanol Oksigen
Xmet (kg/h) Harga XH2 (kg/h) XO2 (kg/h) Harga
jlmh metanol (M/a) jmlh bersih H2 jmlh (M/a)
yg diproduksi bersih O2
yang yang
diproduksi diproduksi
Sintesis metanol 28,757 46.90 5790 46,320 16.44
langsung
2 tahap sintesis 25,320 41.29 4864 38,917 13.83
metanol

1.4 Net Present Value

Parameter terakhir yang diperlukan untuk perhitungan net present


value adalah laba tahunan. Untuk menghitung net present value, laba
tahunan dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut:

Ap = Pm + Po Ot Mt

Ap adalah laba tahunan, Pm adalah harga dari jumlah total metanol yang
dihasilkan, Po adalah harga dari jumlah total oksigen yang dihasilkan, Mt
adalah biaya pemeliharaan, dan Ot adalah biaya operasi total.

Dari rumus tersebut, dapat menghitung laba tahunan pada two step
synthesis methanol. Dari tabel diatas (tabel 6) yang telah disebutkan
bahwa harga dari jumlah total metanol dan oksigen masing-masing
adalah 41.29 M dan 13.83 M, selain itu telah disebutkan juga biaya
pemeliharaannya 4.617 M, dan biaya operasi totalnya adalah 38.93 M.
Maka laba tahunan pada two step synthesis methanol adalah

Ap = 41.29 M + 13.83 M 38.93 M 4.617 M

Ap = 11.57 M

Untuk menghitung laba tahunan pada direct synthesis methanol,


didapatkan harga dari jumlah total metanol dan oksigen masing-masing
adalah 46.90 M dan 16.44 M, selain itu didapatkan juga biaya
pemeliharaannya 3.625 M dan biaya operasi totalnya adalah 45.16 M.
Maka laba tahunan pada direct synthesis methanol adalah

Ap = 46.90 M + 16.44 M - 45.16 M - 3.625 M

Ap = 14.56 M
Dari perhitungan diatas, dapat disimpulkan bahwa sintesis metanol
langsung lebih menguntungkan.

2. Efisiensi Energi

Sumber energi utama untuk proses ini adalah listrik. Kedua reaktan
diperoleh dengan menggunakan listrik dan itu akan sangat berguna untuk
menghitung listrik yang diperlukan per 1 kg metanol yang diproduksi. Selain
itu, 0.914 kWh listrik yang diperlukan untuk menangkap 1 kg karbon dioksida
selama proses post-combustion. Dengan menggunakan data ini, perhitungan
dapat dilakukan untuk berapa banyak listrik yang dibutuhkan untuk
memproduksi 1 kg metanol, dapat dilihat di tabel 7.

Tabel 7. Tenaga listrik yang diperlukan untuk memproduksi 1 kg metanol

Sintesis metanol 2 tahap sintesis


langsung metanol
Tenaga listrik yg Penangkapan CO2 7.956 7.275
dibutuhkan (MW)
Produksi H2 (MW) 309.3 259.9
Kompresor (MW) 1.070 1.939
Total (MW) 318.326 269.114
Produksi metanol (kg/h) 28,757 25,320
Emet (kWh/kg) listrik yg 11.07 10.63
dibutuhkan u/
memproduksi 1 kg
metanol

Aspek lain dari efisiensi energi adalah penggunaan LHV (Lower Heating
Value) dan HHV (Higher Heating Value). LHV digunakan untuk
membandingkan proses efisiensi, yang mewakili total panas yang dilepaskan
selama pembakaran dikurangi dengan panas dari vaporisasi air. Rasio antara
LHV dari reaktan dan produk didefinisikan sebagai efisiensi gas dingin.
Efisiensi gas dingin secara keseluruhan berdasarkan lebih rendah dan tinggi
nilai-nilai pemanasan untuk kedua proses, dapat dilihat di tabel 8.
Tabel 8. Nilai-nilai setiap komponen reaktan dan produk

2 tahap sintesis metanol Sintesis metanol langsung


Reaktan HHV (MJ) 740,580 823,999
Reaktan LHV(MJ) 629,311 697,087
Produk HHV (MJ) 574,379 655,624
Produk LHV (MJ) 504,056 572,417

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, LHV digunakan untuk


menentukan efisiensi gas dingin dan untuk tujuan tersebut, persamaan yang
digunakan adalah

Efisiensi gas dingin = (LHV)p / (LHV)r

Dimana (LHV)p adalah nilai LHV pada produk dan (LHV)r adalah nilai LHV
pada reaktan.

Dari persamaan tersebut dapat dihitung efisiensi gas dingin pada proses
two step methanol synthesis, dari tabel 8 telah disebutkan bahwa produk
LHVnya adalah 504,056 MJ dan reaktan LHVnya adalah 629,311 MJ. Maka
efisiensi gas dinginnya:

EGD = 504, 056 MJ / 629,311 MJ

EGD = 0.801 MJ

Maka rata-rata LHV pada proses two step synthesis methanol adalah 0.801 x
100% = 80.1%.

Untuk menghitung efisiensi gas dingin pada proses direct synthesis


methanol, didapatkan produk LHVnya adalah 572,417 MJ, dan reaktan
LHVnya adalah 697,087 MJ. Maka efisiensi gas dinginnya:

EGD = 572,417 MJ / 697,087 MJ

EGD = 0.82 MJ

Maka rata-rata LHV pada proses direct synthesis methanol adalah 0.82 x 100%
= 82%.
Dapat disimpulkan bahwa proses sintesis metanol langsung lebih hemat
energi dan proses termodinamikanya juga lebih efisien.

2.1.4 Konklusi

Dari kesimpulan diatas, maka sintesis methanol langsung (direct methanol


synthesis) menghasilkan produk metanol yang lebih besar, memiliki efisiensi energi
yang lebih tinggi, proses termodinamikanya yang lebih efisien dan ekonomis serta
menguntungkan dibandingkan dengan proses 2 tahap sintesis methanol (two step
methanol synthesis), namun konsumsi hidrogen dalam proses sintesis methanol
langsung (direct methanol synthesis) lebih tinggi dibandingkan dengan proses 2 tahap
sintesis metanol (two step methanol synthesis) sehingga biaya investasi pun menjadi
tinggi. Jikalau konsumsi listrik serta hidrogen ini dapat diperoleh melalui teknologi
energi terbarukan, tentunya proses sintesis metanol langsung (direct methanol synthesis)
akan lebih efisien.

2.2 Penggunaan katalis dalam proses sintesis methanol

Katalis adalah suatu zat yang mempercepat laju reaksi reaksi kimia pada suhu tertentu,
tanpa mengalami perubahan atau terpakai oleh reaksi itu sendiri. Suatu katalis berperan dalam
reaksi tapi bukan sebagai pereaksi ataupun produk. Katalis sangat penting dalam proses
methanol, karena jika tidak ada penggunaan katalis dalam proses sintesis metanol maka akan
dibutuhkan energi yang besar serta konsumsi listrik yang sangat tinggi dikarenakan proses
sintesis methanol yang terlalu lama. Dalam proses sintesis metanol diperlukan kinerja katalis
yang tinggi, aktif serta selektif. Penggunaan katalis dalam sintesis methanol dibagi dua yaitu :
nanokatalis dan organokatalis.

2.2.1 Nanokatalis

Nanokatalis adalah katalis yang berukuran 1-100 nm. Secara umum


nanokatalis dibagi menjadi dua yaitu : top down dan bottom up. Dua jenis nanokatalis
ini dibagi menjadi dua jenis karena cara yang berbeda. Untuk jenis yang pertama (top
Down), untuk top down menggunakan cara mekanik lebih tepatnya dengan cara
penggerusan. Sedangkan jenis yang kedua (bottom up) menggunakan reaksi kimia,
kristalisasi, atau proses presipitasi yang meliputi 3 cara yaitu simple heating,
penumbuhan dalam zeolit, dan penumbuhan dalam silika. Nanokatalis dengan katalis
sebenarnya memiliki perbedaan yaitu untuk nanokatalis memiliki ukuran diameter yang
lebih kecil daripada katalis. Tetapi untuk nanokatalis lebih baik daripada katalis
homogen dan heterogen hal ini di sebabkan memiliki ukuran yang lebih luas. Karena
ukuran nya yang lebih luas dapat mempercepat reaksi kimia lebih cepat dibandingkan
dengan katalis biasa. Contoh nanokatalis misalnya, nanokatalis CuO/ZnO/Al2O3 untuk
mengubah metanol menjadi gas hidrogen untuk bahan bakar kendaraan fuel cell atau
nanokatalis nikel untuk memperbaiki sifat serapan material magnesium hidrida (MgH2).
Tetapi dalam pembuatan nanokatalis terdapat kendala yaitu tidaklah mudah dan murah.
Dikatakan tidak mudah dikarenakan melibatkan reaksi kimia yang sulit dan juga
sulitnya dalam mensintesis nanokatalis. Selain itu juga pada dua jenis nanokatalis juga
terlihat tidak mudah. Dikarenakan pada jenis top down menggunakan cara mekanik atau
penggerusan hanya dengan material bersifat amorf bukan dengan material yang
berbahan liat yang sebagian besar bahan dasar pembuatan nanokatalis. Begitu pula pada
metode simple heating dan penumbuhan dalam silika yang menghasilkan produk yang
sangat sedikit. Selain sedikitnya produk yang dihasilkan, pemanasan untuk memecah
komponen-komponen material menjadi berskala nano juga menjadi lebih lama sehingga
energi yang dibutuhkan untuk pembuatan nanokatalis pun lebih besar.

Kesulitan dalam pembuatan nanokatalis terdapat pada proses pengikatan media


kontinu pada material yang akan diubah menjadi nanokatalis, proses pemecahan
material oleh media kontinu, serta pada proses pemisahan kembali media kontinu
kepada produk nanokatalis yang telah dihasilkan. Tujuan dari suatu eksperimen di
bidang katalis tentu saja terarah pada dihasilkannya suatu katalis dengan metode yang
mudah, murah, dan efisien, tetapi dihasilkan produk sebanyak mungkin. Hal inilah yang
menjadi kendala karena sampai saat ini belum ditemukan metode pembuatan
nanokatalis yang murah, mudah, dan efisien. Hal ini tentu akan menjadi tantangan bagi
para ilmuwan kimia. Nanokatalis adalah katalis yang berpotensi sangat besar dalam
menghasilkan produk yang banyak. Tetapi kendalanya adalah pembuatannya yang sulit
dan juga diperoleh nano katalis yang mudah murah serta efisien, sehigga harus dicari
salah satu media kontinu yang dapat berikatan cepat dengan material sebagai bahan
dasar nanokatalis. Selain pada sintesis yang sulit faktor lainnya yang menyebabkan para
ilmuwan mengembangkan nanokatalis karena bahan nanokatalis dari bahan logam berat.

Nanokatalis sangat berpotensial untuk digunakan pada reaksi apapun dan di


manapun untuk menghasilkan reaksi yang lebih cepat atau reaksi pada suhu yang lebih
rendah. Termasuk pada industri minyak, cat, dan kosmetik. Terkait penggunaan
nanokatalis di Indonesia, masih minim karena hal ini masih merupakan hal yang baru.
Penggunaannya baru sebatas pada reaksi-reaksi pembuatan energi alternatif dan belum
diupayakan pada reaksi-reaksi yang merupakan sumber energi utama. Selain itu, metode
pembuatan nanokatalis yang saat ini dikembangkan di Indonesia belumlah cukup
ekonomis dan efisien jika kita pandang pada aspek bahwa pencapaian produk haruslah
mudah, murah, dan efisien.

2.2.2 Organokatalis

Metanol didapatkan dari bahan karbondioksida yang telah di proses sehingga


bisa menghasilkan metanol. Hal tersebut sudah di buktikan oleh Ilmuwan dari Institut
Bioengineering dan Nanoteknologi (IBN) Singapura. Karbondioksida yang di gunakan
untuk menghasilkan metanol tersebut didapat dengan sedikit memanfaatkan energi.
Menurut sejumlah ilmuwan IBN mengatakan bahwa dengan menggunakan katalis
organo atau disebut juga organokatalis untuk mengaktifkan karbondiosida pada sebuah
proses ringan yang tidak beracun untuk menghasilkan metanol.

Organokatalis adalah katalis yang terdiri dari unsur-unsur non logam yang
ditemukan dalam senyawa organik. Organokatalis yang digunakan adalah NHC, NHC
(N-heterocyclic carbenes) seperti Imes adalah bentuk organokatalisis yang stabil dan
mudah disimpan. NHC tidak mengandung logam berat berbahaya dan mudah untuk di
produksi dengan tidak mengeluarkan biaya yang besar. Sehingga para ilmuwan
menggunakan NHC untuk mengubah karbondioksida menjadi metanol. Menggunakan
NHC karena NHC justru stabil, bahkan dalam kondisi adanya oksigen. Oleh karena itu,
reaksi NHC dengan karbon dioksida bisa terjadi dalam suhu kamar di udara yang kering.

Hidrosilane, kombinasi silika dan hidrogen, ditambahkan ke NHC sebagai


bahan aktivasi karbon dioksida, dan produk dari hasil reaksi bahan tersebut diubah
menjadi metanol dengan cara menambahkan air melalui hidrolisis.

Menurut Yugen Zhang Ph.D. ketua tim IBN dan Kepala Riset Ilmuwan
menjelaskan Hidrosilane memberikan hidrogen, yang mengikat karbon dioksida dalam
reaksi reduksi. Reduksi karbon dioksida ini secara efisien dikatalisis oleh NHC bahkan
pada suku kamar. Metanol bisa dengan mudah diperoleh dari produk reaksi karbon
dioksida. Berdasarkan hasil riset kami sebelumnya terhadap NHC juga memperlihatkan
aplikasinya yang beragam sebagai antioksidan yang kuat untuk memerangi penyakit
degeneratif, dan sama efektifnya sebagai katalis dalam mengubah gula menjadi bahan
bakar alternatif. Sekarang ini kami telah memperlihatkan NHC bisa juga diterapkan dan
berhasil untuk mengubah karbon dioksida menjadi metanol, yang membantu untuk
mengurangi gas yang sangat melimpah di lingkungan.

Selama ini, berbagai upaya untuk mengurangi gas karbon dioksida menjadi
produk yang bermanfaat selalu membutuhkan input energi yang lebih besar serta waktu
reaksi yang lebih panjang. Selain itu, mereka juga butuh transisi katalis logam, yang
ternyata tidak stabil dalam kondisi adanya oksigen serta berbiaya sangat mahal.

2.2.3 Konklusi

Jika dibandingkan keduanya bisa diihat bahwa keduanya membutuhkan katalis


yang mudah,murah dan juga efisien. Jika dibandingkan keduanya lebih baik yang mana,
tidak bisa dibuktikan karena di seluruh negara termasuk Indonesia masih meggunakan
nanokatalis yang dicari apakah sudah murah, mudah dan efisien. Walaupun akhirnya
pembuatannya pun masih sulit. Sedangkan untuk organokatalis yang dikategorikan
masih baru bisa dikatakan lebih ramah lingkungan. Tetapi untuk lebihnya belum bisa
dibuktikan karena masih baru untuk dipublikasikan. Jadi untuk membandingkan
keduanya masih dikategorikan sulit karena salah satu jenis katalis nya masih baru untuk
di publikasikan.
2.3 Pembuatan Metanol dengan bahan baku karbondioksida (CO2) dan air (H20)

Tidak seperti produksi methanol yang sebelumnya sudah dibahas, yaitu dengan
melakukan reaksi hidrogenisasi karbondioksida. Pembuatan methanol dari bahan baku CO2 dan
air (H2O) menggunakan sinar UV (Ultraviolet) dari cahaya matahari. Reaksi kimia yang
berlangsung adalah sebagai berikut:

2CO2 + 4H2O 2CH3OH + 3O2

Reaksi ini disebut reaksi artificial photosynthesis atau fotosintesis buatan, karena mirip
dengan reaksi fotosintesis yang terjadi pada tumbuhan. Selain karena keduanya sama-sama
menggunakan karbondioksida (CO2) dan air (H2O), reaksi-reaksi tersebut juga sama-sama
menggunakan sinar UV yang telah disebutkan sebelumnya. Yang membedakan kedua reaksi
ini adalah produk yang dihasilkan; fotosintesis pada daun menghasilkan glukosa (C6H12O6)
sementara; artificial photosynthesis menghasilkan methanol (CH3OH).

Pada dasarnya, proses pembuatan metanol dengan bahan baku karbondioksida dan air
merupakan sebuah usaha untuk meniru reakssi fotosintesis alami yang terjadi pada daun.
Namun keseluruhan proses fotosinstesis alami masih belum bisa dibuat tiruannya, hal ini
dikarenakan reaksi tersebut membutuhkan visible light absorber (penangkap cahaya) dan
katalis tertentu. Visible light absorber yang efisien seperti klorofil pada daun dibutuhkan untuk
reaksi ini, begitu pula katalis untuk memecah ikatan molekul air (H2O) yang pada proses
fotosintesis alami menggunakan katalis berupa protein berstruktur kompleks dengan susunan
ion mangan (Mn2+) yang belum bisa dibuat di laboratorium.

Oleh karena itu dibutuhkan katalis yang efektif, sustainable, dan masih tinggi
ketersediaannya di bumi. Titanium dioksida (TiO2) adalah salah satu pilihan ini karena dapat
berperan dalam oksidasi H2O yaitu dengan menjadi fotokatalis sekaligus berperan dalam
reduksi CO2 (dilarutkan di dalam NaOHaq). Namun dalam reaksi ini persentase karbondioksida
yang dikonversi ke metanol hanya sebesar 6% dan akan membutuhkan bahan baku dalam
jumlah yang cukup besar untuk produksi skala industri.

Katalis lain yang dapat digunakan adalah nano-structured wall catalyst, yaitu katalis
berbentuk dinding yang tersusun dari kumpulan molekul TiO3 dengan ion aluminum III (Al3+)
dan natrium (Na+). Katalis ini dipasang pada dinding reaktor dan akan menghasilkan metanol,
air, dan molekul oksigen. Oksigen molekular (O2) tersebut kemudian dialirkan melalui gas
collector, sementara metanol dan air dipisahkan dengan proses distilasi. Air ini kemudian
dialirkan kembali untuk bahan baku reaksi berikutnya. Persentase karbondioksida yang
dikonversi menjadi metanol adalah sebesar 97% dan dapat mengurangi CO2 pada atmosfer
sebesar 25%.
BAB III

PROSES PEMBUATAN

3.1 Direct Synthesis Methanol Process

3.1.1 Dekripsi Alat dan mekanismenya

1. Flash Separator

1.1 Dekripsi

Tabung bertekanan yang


digunakan untuk memisahkan
fluida sumur menjadi air dan gas
(tiga fasa) atau cairan dan gas (dua
fasa) yang menggunakan prinsip
separasi flash pada tekanan dan
temperatur tetap. Ada dua macam
proses dari pembentukan gas
(vapour) dari hidrokarbon cair
yang bertekanan. Proses tersebut
Gambar 2. Diagram Flash separator.
adalah Flash Separation dan
Differential Separation. Dalam hal ini produk yang diinginkan adalah
fasa cair yaitu metanol, sehingga proses yang digunakan dalam
pembuatan metanol ini adalah Differential Separation.

1.2 Mekanisme Kerja

Alat ini digunakan pada tahap lanjut dari proses pemisahan


secara kilat (flash) dari separator. Differential Separation terjadi bila
tekanan pada sistem diturunkan dengan cairan dan gas dipisahkan dari
kontaknya dan membiarkan gas keluar dari solusinya. Proses ini
menghasilkan banyak cairan dan sedikit gas. (sumber : Surface
Facilities Training Program, Oil Handling Facilities. Medco Energi.
Indonesia.hal. 27)
2. Compressor

2.1 Dekripsi

Mesin atau alat mekanik yang berfungsi untuk meningkatkan


tekanan atau memampatkan fluida gas atau udara. Kompresor yang
dipakai dalam proses pembuatan metanol adalah kompresor
sentrifugal (Centrifugal Compressor). Pada Centrifugal
Compressor menggunakan putaran lempengan logam dalam
sebuah tempat khusus untuk mendorong udara ke dalam saluran
intake kompresor dengan meningkatkan tekanan pada udara
tersebut.

Kompresor sentrifugal
menggunakan peralatan
mekanik untuk
memberikan energi kepada
fluida gas/udara, sehingga
dapat mengalir dari suatu
tempat ke tempat lain secara
kontinyu. Kompresor Gambar 3.

sentrifugal termasuk dalam


kelompok kompresor dinamik dengan prinsip kerja
mengkonversikan energi kecepatan gas/udara yang dibangkitkan
oleh aksi/gerakan impeller yang berputar dari energi mekanik unit
penggerak menjadi energi potensial (tekanan) di dalam diffuser.

2.2 Mekanisme Kerja

Kompresor yang bekerja dengan memberikan tambahan


energi pada udara atau gas melalui gaya sentrifugal yang diberikan
oleh impelernya. Gas dihisap kedalam kompresor melalui saluran
hisap kemudian diteruskan kedalam Diafragma yang berfungsi
sebagai pengarah aliran dan selanjutnya masuk kedalam impeller,
kemudian impeller memberikan pusaran dengan kecepatan yang
sangat tinggi. Akibat dari putaran yang tinggi tersebut maka gas
akan terlempar keluar dari
impeller karena adanya gaya
sentrifugal yang terjadi,
Kemudian tekanan dan
kecepatan dari gas akan naik
setelah gas lepas dari ujung
impeller. Gas diperlambat Gambar 4. Letak Diffuser pada kompresor
kompresor
dalam suatu saluran yang
disebut diffuser, yang ternyata lebih mudah dan efisien untuk
mempercepat aliran dibandingkan memperlambat. Karena dengan
diperlambat aliran cenderung tersebar dengan tidak terarah. Akibat
dari aliran tidak terarah akan
menyebabkan adanya
kecenderungan timbulnya
aliran turbulen dan arus steady,
yaitu merubah energi kinetik
menjadi energi panas dari
energi-energi tekanan. Oleh
karena itu diperlukan Guide
Gambar 5. Letak Guide Vane
Vane. Guide vane ditempatkan pada kompresor kompresor
pada bagian depan eye impeller
pertama pada bagian suction (inlet channel). Fungsi utama guide
vane adalah mengarahkan aliran agar gas dapat masuk impeller
dengan distribusi yang merata.
3. Reactor

Reaktor adalah suatu alat proses tempat di mana terjadinya suatu


reaksi berlangsung, baik itu reaksi kimia atau nuklir dan bukan secara fisika.
Reaktor dibagi menjadi dua yaitu :
Reaktor kimia dan Reaktor nuklir.
Perbedaan dari kedua reaktor ini
terdapat pada ada atau tidaknya
perubahan massa. Untuk sintesis
metanol langsung ini di gunakan reaktor
kimia. Dalam reaktor kimia dibagi
menjadi 3 berdasarkan proses nya.
Gambar 6. Multitubular fixed-bed reactor
Diantaranya adalah : Reaktor batch,
Reaktor kontinu, Reaktor semi-batch. Pada sintesis metanol langsung proses
reaktor kimia yang digunakan adalah reaktor semi-batch. Reaktor semi-batch
dibagi kembali menjadi 5 reaktor yaitu : Reaktor PBR (Packed Bed Reactor)
/ Fixed Bed Reactor , Reaktor FBR (Fluidized Bed Reactor), Spray Tower,
Packed Column, Bubble Tank. Reaktor semi-batch yang digunakan adalah
Reaktor PBR, karena pada PBR ini beroperasi pada reaktor gas-cair dengan
katalis padat, Reaktor PBR terdiri dari satu atau lebih tubes packed dengan partikel
katalis dan beroperasi pada posisi vertikal serta beroperasi adiabatis.

Secara umumnya, untuk metanol sintesis digunakan multitubular fixed-bed


reactor.
4. Cooling Tower

4.1 Dekripsi

Sistem pendingin liquid (biasanya air) yang operasinya


terkadang ditambah
refrigerant (media
pendingin) dan kipas
untuk mempercepat
proses perpindahan
panas, kemudian
disalurkan ke alat
pendingin.

4.2 Mekanisme kerja


Gambar 7. Mekanisme Cooling Tower

Air panas yang


disirkulasikan ke bagian atas Cooling Tower kemudian dijatuhkan
ke bawah menyebar dengan pipa distribusi, Cooling Tower
dilengkapi dengan kipas (fan) untuk mempercepat pendinginan
sehingga transfer panas terjadi. Seiring jatuhnya air ke bawah dan
terkena udara dari kipas (fan) maka terjadi perpindahan panas. Ini
terjadi secara continue sehingga urutannya (air masuk ke Cooling
Tower -> air digunakan ke alat -> air kembali lagi ke Cooling Tower),
proses ini sering disebut Cooling Water Return (CWR).

5. Distillation Column

5.1 Dekripsi

Pemisahan cair uap cair antara 2 komponen / lebih


berdasarkan perbedaan titik didih.
5.2 Mekanisme kerja

Rentang titik didih antara bahan tersebut harus agak jauh


karena jika terlalu dekat titik didihnya akan sulit untuk dipisahkan
dan didapatkan distilat (fraksi yang ingin didapatkan dari campuran,
letaknya di atas pada bagian kolom distilasi). Feed masuk melewati
bagian tengah biasanya, Feed masih mengandung banyak
komponen
dan ingin
dipisahkan.
Panas
dihasilkan
dari Boiler
yang
diletakkan
dibawah,
sehingga uap
Gambar 8. Diagram kolom distilasi
panas mengalir
dari bawah ke atas dan komponen Feed dari atas ke bawah,
sehingga ditengah-tengah pada Tray (sekat antara kolom-kolom di
Distillation Column) dan terjadi kontak antara kedua fase, karena
terkena panas yang mendekati titik didih dari komponen maka
salah satu fraksi komponen ada yang menguap keatas dan diatas
ada condensor untuk mengembunkan dari uap menjadi liquid,
liquid inilah yang disebut sebagai distilat. Untuk permurnian yang
tinggi maka pada kolom distilat ditambah aliran Recycle yang
dikembalikan lagi ke Distillation Column untuk dimurnikan lagi.
Fraksi lain yang belum mencapai titik didih akan jatuh kebawah
dan ditampung di Bottom Column (disebut sebagai residu/fraksi
yang tidak diinginkan), karena fraksi yang jatuh kebawah ini
kemungkinan masih mengandung fraksi yang diinginkan, maka
pada Bottom Column ditambah recycle yang dihubungkan dengan
Reboiler untuk ikut pemanasan lagi.
5.2.1 Condensor

5.2.1.1 Dekripsi

Kondensor adalah alat untuk mengurangi gas


atau uap ke cair. Dalam distilasi, kondensor mengubah
uap menjadi cair. Semua kondensor bekerja dengan
menghilangkan panas dari gas atau uap.

5.2.1.2 Mekanisme Kerja

Kondensor atau
pendingin yang
digunakan
menggunakan
pendingin air dimana
air yang masuk
berasal dari bawah
dan keluar di atas,
karena jika airnya
berasal (masuk) dari
Gambar 9. Mekanisme kondensor
atas maka air dalam
pendingin atau kondensor tidak akan memenuhi isi
pendingin sehingga tidak dapat digunakan untuk
mendinginkan uap yang mengalir lewat kondensor
tersebut. Oleh karena itu pendingin atau kondensor air
masuknya harus dari bawah sehingga pendingin atau
kondensor akan terisi dengan air maka dapat digunakan
untuk mendinginkan komponen zat yang melewati
kondensor tersebut dari berwujud uap menjadi
berwujud cair.

5.2.2 Boiler

5.2.2.1 Dekripsi

Bejana bertekanan dengan bentuk dan ukuran


yang didesain untuk menghasilkan uap panas atau
steam. Steam dengan tekanan tertentu kemudian
digunakan untuk mengalirkan panas ke suatu proses.

5.2.2.2 Mekanisme Kerja

Untuk boiler bisa digunakan drum yang


berbahan stainless steel dengan kapasitas 200 liter.
Untuk boiler dengan ukuran lebih besar membutuhkan
kolom destilasi dengan ukuran yang lebih besar pula.
Boiler sebaiknya diisi tidak lebih dari 4/5 bagian untuk
memberikan ruang bagi terbentuknya uap. Posisi drum
sebaiknya tidur (bukan berdiri) pada tungku untuk
memberikan permukaan yang lebih luas bagi
terbentuknya uap. Pada saat perakitan sebaiknya di
design pula saluran untuk memasukkan mash (hasil
fermentasi) dan saluran keluarannya. Ada baiknya
menempatkan safety relief valve dan pressure gauge
pada bagian atas boiler untuk keadaan darurat seperti
kenaikan tekanan karena terjadi sumbatan (ada juga
alat seperti ini yang otomatis membuang uap pada
tekanan tertentu). Pemanas untuk boiler; gas, kayu
bakar, batu bara,electrical heater element, harus
menghasilkan panas yang stabil.

6. Power Distribution System

Kebutuhan tenaga listrik meliputi kebutuhan untuk penggerak motor


alat-alat proses dan utilitas, menjalankan alat-alat kontrol dan penerangan pabrik.
Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, digunakan listrik dari PLN sebesar 2,26
MVA dan sebagai cadangan digunakan pembangkit listrik dari emergency diesel
generator.
7. PSA (Pressure Swing Adsorption)

7.1 Dekripsi

Salah satu teknologi yang digunakan untuk memisahkan beberapa


jenis gas dari campuran gas sesuai dengan jenis karakteristik molekuler
dan afinitas dari bahan adsorben.

7.2 Mekanisme Kerja


Adsorber beroperasi
secara bergantian antara
adsorpsi dan regenerasi. Feed
gas mengalir melalui adsorber
dari bawah ke
atas. Impurities (air,
hidrokarbon berat/ringan,
CO2, CO dan N2 ) akan
diadsorpsi secara selektif. Gambar 10. Mekanisme PSA
H2 dengan kemurnian tinggi
akan mengalir ke line produk.
Proses regenerasi meliputi empat tahap yaitu: penurunan
tekanan, penurunan tekanan lanjutan dengan membuat tekanan ke arah
berlawanan dengan arah feed, purge H2 murni (melepas impurities),
menaikkan tekanan menuju tekanan adsorpsi.
Selanjutnya produk H2 dari adsorber akan disaring ke produk
filter dan padatan-padatan akan tertahan disini, kemudian gas H2
didinginkan sampai temperatur 400C oleh produk cooler sebelum
disalurkan ke unit lain. H2 ini bisa disalurkan kembali ke unit reaktor
sintesis metanol.
8. Relief Valve

8.1 Dekripsi

Salah satu jenis valve yang berfungsi untuk mengontrol atau


membatasi tekanan dengan cara mengarahkan/mengalihkan aliran
kedalam jalur tambahan yang jauh dari jalur aliran utama.

8.2 Mekanisme Kerja

Jika tekanan yang memasuki


input relief valve yang melebihi batas
tekanan yang telah disesuaikan dalam
relief valve tersebut maka valve akan
membuka paksa jalur
alternative/pilihan/jalur buang untuk
mengalihkan tekanan tersebut. Relief
valve antara jalur outlet dan jalur inlet,
mengembalikan tekanan outlet kembali
ke inlet yang berbeda ruang/sekat pada
sebuah pompa.

Pada saat debit cairan mengisi


cup dan tekanan pada discharge Gambar 11. Komposisi pada Relief Valve
(outlet) mengalami peningkatan
tekanan, maka akan menjadi tekanan bagi seal hingga memungkinkan
cairan bergerak melalui jalur kea rah inlet pompa. Hal ini semacam
menekan kekuatan pegas yang pengaturannya dengan memutar sekrup
pegas sebagi pengatur tekanan relief yang dibutuhkan. Ketika relief valve
tetap terbuka dan cairan diresirkulasi dalam beberapa lama , energi
gerakan cairan (fluida) dan gesekan fluida akan menyebabkan
peningkatan suhu cairan.
9. Heat Exchanger

9.1 Dekripsi

Suatu alat yang memungkinkan perpindahan panas dan bisa


berfungsi sebagai pemanas maupun sebagai pendingin. Heat Exchanger
yang digunakan dalam proses ini adalah Lamella Heat Exchanger.

9.2 Mekanisme Kerja

Dua fluida yang berbeda


temperature, yang satu dialirkan
dalam tube dan yang lainnya dalam
shell hingga bersentuhan secara
tidak langsung, sehingga panas
dari fluida yang temperaturnya
lebih tinggi berpindah ke fluida
yang temperaturnya lebih rendah.
Hasil dari proses ini adalah fluida
panas yang masuk akan menjadi
lebih dingin dan fluida dingin yang
Gambar 12. Lamella Heat Exchanger
masuk akan menjadi lebih panas.

3.1.2 Proses produksi metanol dengan bahan baku CO2 dan H2

CO2 yang sudah dicapture masuk kedalam compressor (B1) yang berfungsi
untuk meningkatkan tekanan pada gas CO2, setelah itu masuk ke heat exchanger (B2)
untuk meningkatkan suhu gas CO2, sementara H2 dihasilkan dari elektrolisis air,
seperti pada reaksi kimia tersebut:

2H20 2H2 + O2

Dalam hal ini diperlukan listrik untuk menguraikan H20 menjadi hidrogen dan
oksigen, dengan mengalirkan arus listrik, maka H20 akan terpecah menjadi dua atom
H2 dan satu atom O2 seperti pada reaksi diatas. Karena hidrogen lebih ringan daripada
air, hidrogen akan bergerak menuju ke permukaan air, maka hidrogen tersebut dapat
dipisahkan.

CO2 yang sudah dipanaskan bersamaan dengan H2 yang sudah dipisahkan


menuju ke compressor (B9), dimana disini terjadi peningkatan tekanan pada gas
tersebut karena dalam reaktor dibutuhkan tekanan yang tinggi untuk memaksimalkan
proses sintesis metanol tersebut.

Setelah ditingkatkan tekanan dari gas-gas tersebut, masuklah menuju reaktor


pertama untuk proses sintesis metanol, dalam reaktor ini terjadi sintesis CO2 menuju
metanol dibantu dengan katalis. Katalis yang dipakai dalam proses ini adalah Cu/ZnO
yang diolah dengan ZrO2 untuk memastikan konversi yang tepat. Katalis ini dalam
bentuk padat yang berada di dalam reaktor. Dalam reaktor ini terjadi konversi CO2 ke
metanol seperti pada reaksi kimia tersebut:

CO2 + 3H2 CH3OH + H20

namun dalam hal ini ada kemungkinan reaksi yang terjadi selain konversi CO2 tersebut,
dapat dilihat ditabel berikut:

Tabel 9. Reaksi yang terjadi dalam reaktor sintesis metanol pertama.

Konversi Fraksi Reaktan


Reaksi
0.142800 CO2
CO2 + 3H2 CH3OH + H20
0.000340 CH3OH
2CH3OH CH3OCH3 + H20

CO2 + 4H2 CH4 + 2H20 0.000085 CO2

CO2 + H2 CO + H20 0.065100 CO2

Dari tabel diatas maka produk dari reaktor sintesis pertama terdapat metanol
mentah yang masih mengandung berbagai gas yang tidak diinginkan (CO, CH4,
CH3OCH3). Karena produk yang dihasilkan dari reaktor tersebut sangat panas
(mencapai 2000C) maka didinginkan melalui cooling tower (B19), dalam cooling tower
ini menggunakan medium air untuk mendinginkan fase cair (metanol) hingga suhu
normal (berkisar 30-40oC), lalu selanjutnya aliran dari cooling tower (B19) menuju ke
heat exchanger (B22), dalam hal ini temperatur metanol mentah dan gas yang tidak
diinginkan tersebut didinginkan hingga 5-10oC, setelah itu masuk kedalam flash
separator (B14). Dalam flash separator terjadi pemisahan fase gas dan cair, fase gas
yang telah dipisahkan ini dialirkan menuju ke compressor (B20) sebelum memasuki ke
unit PSA (Pressure Swing Adsorption) untuk memperoleh kembali H2.

Dalam compressor (B20) yang berisikan produk sampingan ini memasuki


kembali ke cooling tower (B19) untuk mendinginkan fase tersebut, aliran gas buangan
dari cooling tower ini menuju ke kompresor (B10) untuk diturunkan tekanannya agar
dapat diproses daur ulang. Kemudian terdapat 3 feed yang akan masuk kedalam reaktor,
3 feed tersebut adalah : karbondioksida, hidrogen, dan gas buang ( CH4, CO, CH3OCH3).
Sehingga proses ini terjadi secara continuous, dan didalam reaktor sintesis metanol ini
juga terjadi konversi metana, karbon monoksida, serta eter menuju metanol.

Selain itu aliran dari compressor (B20) juga memasuki tambahan sintesis
metanol, yaitu reaktor kedua yang sebelumnya telah didinginkan oleh Cooling Tower
(B13), dalam reaktor kedua, ada kemungkinan reaksi yang bisa terjadi selain konversi
CO2 ke metanol, kemungkinan reaksi ini dapat dilihat di tabel berikut

Tabel 10. Reaksi yang terjadi dalam reaktor sintesis metanol kedua.

Konversi Fraksi Reaktan


Reaksi
0.142800 CO2
CO2 + 3H2 CH3OH + H20
0.000340 CH3OH
2CH3OH CH3OCH3 + H20

CO2 + 4H2 CH4 + 2H20 0.000085 CO2

CO2 + H2 CO + H20 0.065100 CO2

CO + 2H2 CH3OH - CO

CH4 + O2 CH3OH - CH4


lalu hasil produk dari reaktor tersebut kembali didinginkan, lalu memasuki ke heat
exchanger (B15) untuk membuat suhunya diturunkan, setelah suhu diturunkan, aliran
yang beragam fase gas dan cair ini memasuki flash separator untuk memisahkan
metanol dengan produk sampingan sehingga menghasilkan metanol mentah.

Lalu metanol mentah yang telah dipisahkan ini terlebih dahulu diturunkan
tekanannya melalui relief valve (B21) yang berfungsi untuk menurunkan tekanan,
karena tekanan yang dihasilkan dari flash separator cukup tinggi sehingga perlu
diturunkan sampai tekanan normal, setelah itu dilanjutkan dengan 3 kolom distilasi.
Kolom pertama digunakan untuk memisahkan gas-gas terlarut yang diperoleh sebagai
gas distilat dan menjalani pembakaran secara bersamaan dan dibersihkan dari synthesis
loop. Lalu CO2 yang dihasilkan dari pembakaran dapat dipisahkan dengan
menggunakan post-combustion carbon capture. CO2 yang dipisahkan dapat digunakan
lagi sebagai bahan awalnya. Dua kolom terakhir digunakan untuk memisahkan metanol
dan air.

Pada dua kolom distilasi ini mengandalkan perbedaan titik didih. Titik didih air
adalah 100oC sedangkan titik didih metanol adalah 64,7oC. Perbedaan titik didih ini
cukup besar, sehingga mudah dipisahkan. Panas dihasilkan dari boiler yang diletakkan
dibawah sehingga uap panas mengalir dari bawah ke atas, dan terjadi kontak antara air
dan metanol, karena terkena panas hingga 64,7oC (diusahakan untuk stabil suhunya),
metanol pun menguap sedangkan air tetap didalam kolom distilasi karena pada
temperatur tersebut air belum menguap. Akibatnya air akan tetap berada dalam fasa cair
dan tidak ikut menguap bersama metanol. Hal ini karena tekanan uap air belum
mencapai tekanan atmosfer. Uap metanol akan bergerak ke atas dan melalui kondensor.
Pada kondensor dialirkan air secara terus menerus yang berfungsi sebagai pendingin,
sehingga pada kondensor ini terjadi peristiwa kondensasi atau pengembunan dimana
uap metanol yang didinginkan sehingga mengembun dan menjadi cairan kembali.

Untuk pemurnian metanol yang tinggi, maka produk pada kolom distilasi kedua
kembali dipisahkan dalam kolom distilasi ketiga. Proses dalam kolom distilasi ketiga
sama dengan yang kedua, mengandalkan perbedaan titik didih, dimana metanol terlebih
dahulu menguap dan masuk kedalam kondesor yang berada diatas kolom distilasi, lalu
dalam kondensor ini terjadi pengembunan, uap metanol kini kembali menjadi cair, dan
menghasilkan kemurnian mencapai 99,8%.
3.1.3 Process Flow Diagram

Gambar 13. Proses Skema Diagram Alur pada Direct Synthesis Methanol
Gambar 14. Process Flow Diagram pada Direct Synthesis Methanol

3.2 Photocatalytic CO2 to methanol (with CO2 and H20)

3.2.1 Dekripsi Alat dan mekanismenya

1. Mixer Recycle
1.1 Deskripsi
Mixer adalah unit operasi untuk mencampur dua bahan atau lebih
yang bersifat heterogen satu sama lain agar bersifat lebih homogen untuk
memudahkan proses selanjutnya dalam sebuah rangkaian proses produksi.
1.2 Mekanisme
Mixer recycle menerima feed yaitu H2O dan CO2. H2O yang didapat
tidak hanya dari aliran dari luar system tapi juga air yang didapat dari proses
recycle dari air yang telah digunakan.
Gambar 14. Process Flow Diagram pada Direct Synthesis Methanol
2. Heater
2.1 Deskripsi
Heater adalah unit operasi untuk memanaskan suhu campuran pada
suhu tertentu dan juga mengubah wujud campuran dari cair ke gas agar
reaksi dapat berlangsung lebih optimal.
2.2 Mekanisme
Heater menerima feed dari luar dan kemudian dipanaskan. Energi
yang digunakan diperoleh dari uap dari steam turbine.
3. Reaktor
Reaktor adalah tempat berlangsungnya reaksi utama yaitu reaksi kimia
dalam sebuah proses produksi. Pada proses produksi metanol dari H2O dan CO2
reaktor yang digunakan adalah reactor khusus yang dinding bagian dalamnya
tersusun dari katalis untuk reaksi artificial photosynthesis ini. Katalis ini
termasuk nanokatalis yaitu kumpulan molekul TiO3 dengan ion aluminum III
(Al3+) dan natrium (Na+).
4. Cooler
4.1 Deskripsi
Cooler adalah unit operasi untuk mendinginkan campuran pada suhu
tertentu dan juga mengubah wujud campuran dari gas ke cair agar dapat
menyesuaikan dengan proses selanjutnya.
4.2 Mekanisme
Cooler menerima feed dari luar dan kemudian didinginkan dengan
metode water-cooler yaitu dengan mengalirkan feed melalui chilled water
atau air yang sudah didinginkan.
5. Separator
5.1 Deskripsi
Separator yang digunakan adalah vapor-liquid
separator yang digunakan untuk memisahkan uap
(vapor) dan cairan (liquid)
5.2 Mekanisme
Vapor-liquid separator menerima feed yang
masuk melalui feed inlet kemudian inlet diffuser
memisahkan kedua campuran, cairan akan langsung
mengalir kebawah, sementara uap akan melalui de- Gambar 15. Mekanisme Separator
entrainment mesh pad untuk menangkap cairan dan menurunkannya lagi ke
dasar separator.
6. Distillation Tower
Distillation tower digunakan untuk
memisahkan produk dari feed dengan menggunakan
metode distilasi sehingga masing- masing produk
akan tertinggal pada masing-masing kolom fraksi
sesuai dengan titik didihnya. Produk berupa gas
yang terdapat pada puncak menara distilasi
(overhead product) dialirkan menuju condenser agar
dapat dialirkan kembali menuju menara distilasi
(reflux) ataupun dialirkan sebagai produk akhir
menuju storage. Sementara cairan yang ada pada
dasar menara kemudian dialirkan menuju reboiler
dan kembali menjadi uap dan melakukan proses Gambar 16. Mekanisme Kolom Distilasi

distilasi atau dialirkan sebagai produk akhir menuju storage.

3.2.2 Proses produksi metanol dengan bahan baku CO2 dan H2O

Artificial photosynsthesis atau proses produksi MeOH (Metanol) dengan bahan


dasar karbondioksida (CO2) dan air (H2O) dapat dikatakan ramah lingkungan karena
produk yang dihasilkan hampir berguna seluruhnya, seperti oksigen molekular (O2) dan
air (H2O). Air yang digunakan membentuk siklus yang terus berputar dalam proses
produksi melalui proses recycle yaitu dengan mengembalikan air yang merupakan hasil
akhir proses menuju mixer bersama CO2.
Gambar 17. Diagram Skematik Proses Pembuatan Metanol dengan Fotosintesis Buatan.
Dengan persetujuan: Ekobenz Ltd

Seperti yang terlihat pada gambar diatas, feed (air (H2O) dan karbondioksida
(CO2)) dialirkan kedalam mixer, pada proses ini selain air yang dialirkan dari luar sistem,
ada juga yang didapat dari proses recycle yang juga masuk ke dalam mixer yang sama.
Mixer tersebut berguna untuk mencampur semua bahan baku menjadi campuran yang
kemudian dialirkan menuju reaktor.

Sebelum masuk ke dalam reaktor, campuran tersebut dialirkan melalui heater.


Hal ini dilakukan untuk menyesuaikan suhu campuran dengan suhu optimal agar reaksi
pada reaktor dapat berlangsung dengan optimal.

Campuran yang telah dipanaskan sebelumnya kemudian dialirkan kedalam


reaktor, katalis yang digunakan tersusun dari kumpulan molekul TiO3 dengan ion
aluminum III (Al3+) dan natrium (Na+). Katalis ini merupakan nanokatalis yang terletak
pada dinding bagian dalam reaktor. Pada reaktor inilah terjadi reaksi yang mengubah
H2O dan CO2 dengan bantuan katalis dan sinar UV menjadi MeOH (Metanol) dan
oksigen (O2). Oksigen yang didapat dari reaksi ini dialirkan ke penangkap gas untuk
digunakan dalam proses lainnya.

Metanol yang didapat dari reaksi dalam reaktor tadi kemudian dialirkan melalui
cooler. Cooler ini berguna untuk menurunkan suhu agar air dalam campuran tersebut
mengalami kondensasi dari wujud gas ke cair. Campuran metanol dan air ini kemudian
dialirkan menuju separator yang akan memisahkan kedua campuran tersebut.

Air (H2O) yang telah dipisahkan dari metanol kemudian dialirkan menuju purge
splitter dan recyle compressor. Keduanya merupakan unit untuk mendaur ulang air agar
dapat digunakan kembali. Air yang telah didaur ulang kemudian dialirkan kembali
menuju mixer bersama feed yang telah disebutkan pada awal pembahasan proses.

Sementara metanol yang didapat dari separator dialirkan menuju distillation


column yang dilengkapi dengan methanol condenser dan reboiler. Distillation column
menerima feed yaitu metanol yang masih tercampur air dan senyawa lainnya yang
kemudian melalui proses distilasi didapat metanol dengan tingkat kemurnian yang lebih
tinggi.

Metanol yang dihasilkan kemudian dialirkan melalui methanol condenser yang


berfungsi untuk mengubah wujud metanol dari gas ke cair. Dari sini didapat cairan sisa
yang dialirkan kembali ke dalam kolom distilasi dan terus mengalir turun ke dasar
kolom. Campuran di dasar kolom kemudian dialirkan ke dalam reboiler agar berubah
lagi ke wujud gas berupa uap (vapor) dan dikembalikan ke kolom distilasi dan terus
naik ke puncak kolom distilasi hingga melalui methanol condenser. Proses ini berulang
terus hingga didapat metanol dengan tingkat kemurnian tinggi.

Metanol yang didapat dari distillation tower tadi merupakan final product yang
kemudian dialirkan untuk disimpan dalam methanol storage.
3.2.3 Process Flow Diagram

Gambar 18. Process Flow Diagram pada Photocatalytic CO2

3.3 Perbandingan Efisiensi Energi dan Ekonomi

Dalam pemanfaatan CO2 untuk pembuatan metanol ada 2 bahan baku yang bisa dipakai,
yaitu karbon dioksida (CO2) dengan air (H2O) dan karbon dioksida (CO2) dengan hidrogen (H2).
Perbedaan dari proses pemanfaatan kedua bahan baku ini adalah penggunaan reaktornya.

Pada CO2 dan H2O menggunakan sinar UV dimana mengikuti proses fotosintesis pada
tumbuhan yang dibantu dengan katalis didalam reaktor khusus fotosintesis buatan, sehingga
pemanfaatan CO2 dan H2O ini dinamakan artificial photosynthesis.

Sedangkan pada CO2 dan H2 menggunakan katalis berbasis logam dan padat yang telah
di sediakan didalam reaktor, sehingga dapat mengkonversi satu molekul CO2 dengan tiga
molekul hidrogen untuk menghasilkan 1 molekul metanol.

Dari kedua metode tersebut telah dibuat perbandingan efisiensi ekonomi dan energi,
walaupun masih kekurangan data, namun masih dapat dibuat perbandingan untuk menentukan
metode yang lebih efisien dan efektif dalam skala besar. Yang pertama, produksi metanol yang
dihasilkan dari direct synthesis methanol adalah 28,757 kg/h sedangkan produksi metanol yang
dihasilkan dari photocatalytic CO2 adalah 1.528 kg CO2 yang menghasilkan 32,727 kg/h
metanol. Berarti 1 kg CO2 pada photocatalytic CO2 menghasilkan 21,418 kg/h metanol. Dilihat
dari perbedaan kedua bahan baku ini, dapat disimpulkan bahwa produksi metanol pada direct
synthesis methanol lebih tinggi dibandingkan dengan photocatalytic CO2, namun yang menjadi
kendala dalam photocatalytic CO2 adalah penggunaan sinar UV yang lebih efektif, karena
hanya panjang gelombang pada sinar UV yang sesuai dengan energi tersebut, dan untuk
memaksimalisasikan sinar UV adalah dengan memanfaatkan visible light yaitu sinar matahari.
Namun memanfaatkan sinar matahari masih sulit, karena diperlukan visible light absorber
(penyerapan cahaya tampak) untuk proses ini. Jika bisa menggunakan teknologi penangkapan
sinar matahari yang masih pada range visible light (khususnya sinar UV yang panjang
gelombangnya berkisar 1nm 400nm) tentunya akan lebih efektif untuk produksi metanol, dan
bisa menghasilkan produksi metanol yang lebih besar daripada metode direct synthesis
methanol.

Yang kedua adalah konsumsi listrik, dalam proses direct synthesis methanol ini total
tenaga listrik yang dibutuhkan untuk memproduksi metanol adalah 318.326 mWh, dan metanol
yang dihasilkan seperti yang telah disebutkan diatas adalah 28,757 kg/h. Maka listrik yang
dibutuhkan untuk memproduksi 1 kg metanol adalah 318.326 mWh = 318,326 kWh dibagi
dengan total produksi metanol yaitu 28,757 kg/h, maka dihasilkan 11.07 kWh/kg metanol.
Untuk photocatalytic CO2, total tenaga listrik yang dibutuhkan untuk memproduksi metanol
adalah 150 mWh, dan metanol yang dihasilkan adalah 21,418 kg/h. maka listrik yang
dibutuhkan untuk memproduksi 1 kg metanol adalah 150 mWh = 150,000 kWh dibagi dengan
total produksi metanol yaitu 21,418 kg/h, maka dihasilkan 7 kWh/kg metanol. Namun seperti
yang telah dibicarakan diatas bahwa kendalanya adalah pemanfaatan sinar UV yang
memerlukan kerja yang lebih optimum. Dengan pemanfaatan sinar UV yang maksimal tentunya
memerlukan energi yang lebih besar.

Yang ketiga adalah energi panas yang dikeluarkan, namun karena kekurangan data,
kami tidak bisa membuat perbandingan LHV dan HHV pada metanol untuk kedua metode ini.
namun CO2 yang mengalami pembakaran pada direct synthesis methanol adalah 2989 kg/h
sedangkan pada photocatalytic CO2 adalah 1375 kg/h. hal ini dapat disimpulkan bahwa
konsumsi CO2 yang masuk dalam pembakaran pada direct synthesis methanol lebih tinggi,
namun memberikan dampak yang besar dengan me-recycle CO2 ini sebagai feed.

Secara ringkasnya, kami belum bisa membandingkan kedua metode ini karena
kekurangan data, dan masih memerlukan data lebih untuk melihat kefektifan pada kedua
metode ini. untuk itu kami hanya bisa membuat kelebihan dan kekurangan pada masing-masig
metode. Dapat dilihat di tabel 11.

Tabel 11. Kelebihan dan Kekurangan pada kedua metode


Metode CO2 dan H2 CO2 dan H2O

(Direct Synthesis Methanol) (Photocatalytic CO2)

Kelebihan Jika tenaga listrik dapat Proses ini lebih atraktif


memenuhi tenaga yang karena memanfaatkan energi
dibutuhkan khususnya surya.
mendapatkan tenaga listrik
dari energi terbarukan
tentunya lebih efektif dan
efisisen.

Katalis dalam reaktor sintesis Jika sistem fotokatalitik ini


metanol ini memiliki dapat dikembangkan dengan
keaktifan yang sangat tinggi menggunakan pengantar
untuk mengkonversi CO2 dan (doping) pada katalis
H2 ini sehingga tentunya akan menarik
menghasilkan metanol yang karena dapat beroperasi pada
tinggi pula. suhu kamar dan akan
menjadi lebih ekonomis.

Proses ini juga bisa sangat


efisien dan menggunakan
reaktan yang mudah
didapatkan serta dapat
mentoleransi bahaya racun
bagi katalis kimia.

Kekurangan Membutuhkan daya listrik Membutuhkan


yang besar khususnya pada semikonduktor yang tepat
elektrolisis air untuk untuk mencapai efisiensi
memperoleh H2 dan yang tinggi.
keperluan listrik pada unit-
unit tertentu.
Membutuhkan energi yang Penggunaan katalis yang
besar untuk proses ini, karena tepat dengan memanfaatkan
semakin besar energi yang sinar UV dari sinar matahari
dibutuhkan semakin besar masih perlu improvement,
biaya investasinya, untuk itu karena katalis TiO3 hanya
perlu mencari solusi untuk bisa diektrasi oleh sinar UV
menghemat energi agar dapat dengan panjang gelombang
mengurangi biaya investasi berkisar 1nm 400nm.
yang besar tersebut. Sedangkan sinar UV hanya
9% dari spektrum sinar
matahari.

Perlu dikembangkan pada


penangkapan sinar UV
dengan menggunakan visible
light absorber (penangkapan
cahaya tampak).

Tantangan dalam proses ini


adalah sumber energi kimia
untuk mengkonversi
photocatalytic CO2 ke
metanol untuk mencapai
keefektifan yang tinggi.
Bab IV

Kesimpulan

Pemanfaatan CO2 untuk pembuatan metanol, memiiki 3 aspek yaitu : 1. Metode


pembuatan metanol dari karbondioksida dan hidrogen, 2. Penggunaan katalis dalam proses
sintesis metanol, dan 3. Metode pembuatan metanol dari karbondioksida dan air. Untuk metode
pembuatan metanol dari karbondioksida dan hidrogen dibagi menjadi 2 cara yaitu : direct
methanol synthesis process dan two step methanol synthesis process. Dari semua aspek itu
terlihat bahwa cara direct synthesis methanol process lebih efisien dibandingkan two step
methanol synthesis process. Karena, dilihat dari efisiensi energi dan efisiensi ekonomi.

Kemudian masuk kedalam aspek yang kedua yaitu penggunaan katalis. Katalis dibagi
menjadi 2 yaitu nano katalis dan organo katalis. Dalam nano katalis pun dibagi menjadi 2, dan
perbedaannya pun terdapat pada penggunaan cara nya. Arti Nanokatalis adalah katalis yang
berpotensi sangat besar dalam menghasilkan produk yang banyak. Kendalanya pun sedikit yaitu
pada pembuatannya bisa dikatakan sulit dan juga diperoleh nano katalis yang mudah murah
serta efisien. Sedangkan organokatalis adalah katalis yang terdiri dari unsur-unsur non logam
yang ditemukan dalam senyawa organik. Organokatalis yang digunakan adalah NHC, NHC (N-
heterocyclic carbenes) seperti Imes adalah bentuk organokatalisis yang stabil dan mudah
disimpan. Tapi perbedaannya adalah cukup signifikan sebenarnya lebih baik menggunakan
organokatalis karena lebih ramah lingkungan tetapi karena organokatalis ini belum terlalu
fanatik jadi belum bisa di bandingkan.

Pada aspek ketiga yaitu metode pembuatan metanol dengan bahan baku yang berbeda.
Dengan melihat perbandingan efisiensi ekonomi dan energi membuktikan bahwa proses dengan
direct synthesis methanol process lebih efisien dan lebih hemat energi dibandingkan dengan
proses phtocatalytic CO2, selain itu karena minimnya informasi dan data pada photocatalytic
CO2 maka belum bisa dibandingkan dengan sintesis metanol langsung. Hal ini disebabkan
karena hanya ditemukan pada efisiensi ekonomi saja tidak untuk efisiensi energi.
Daftar Pustaka

Adebajo, Moses O. Frost, Ray. L. Recent Advances in Catalytic/Biocatalytic Conversion of


Greenhouse Methane and Carbon Dioxide to Methanol and Other Oxygenates. Brisbane:
Chemistry Discipline, Faculty of Science and Technology, Queensland University of
Technology.
Amrullah, Muhamad Wandy. Pramana, Wiliardy. Pratama, Ahmad Andriansyah. Cooling
Tower.
An, Xiaoqiang. Khraisheh, Majeda. Li, Kimfung. Park, Kyeong hyeon. Tang, Junwang. 2013.
A Critical Review of CO2 Photoconversion: Catalysts and Reactors. London: Department
of Chemical Engineering, University College London.
Angelini, Antonella. Aresta, Michele. Baran, Tomasz. Dibenedetto, Angela. Labuz,
Przemyslaw. Macyk, Wojciech. 2014. An Integrated Photocatalytic or Enzymatic System
for The Reduction of CO2 to Methanol in Bioglycerol-water. Frankfurt: Beilstein Journal
of Organic Chemistry.
Anicic, B. Goricanec, D. Trop, P. 2014. Comparison Between Two Method of Methanol
Production From Carbon Dioxide. Maribor: University of Maribor, Faculty of Chemistry
Engineering.
Aoki, K. Asahi, R. Morikawa, T. Ohwaki, T. Taga,Y. 2001. Visible-Light Photocatalysis in
Nitrogen-Doped Titanium Oxides.
Aoki, K. Asahi, R. Morikawa, T. Ohwaki, T. Suzuki, K. Taga,Y. Visible-Light Photocatalysis
in Nitrogen-Doped Titanium Dioxides.
Arab, Sofiane. Commenge, Jean-Marc. Falk, Laurent. Portha, Jean-Francois. 2014. Methanol
Synthesis from CO2 and H2 in Multi-tubular Fixed-bed Reactor and Multi-tubular Reactor
Filled with Monoliths. Nancy: Laboratoire Reactions et Genie Des Procedes.
Araujo, Ofelia F.Q. Machado, Camila F.R. Medeiros, Jose Luiz de. A Comparative Analysis of
Methanol Production Routes: Synthesis Gas Versus CO2 Hydrogenation. Rio De Janeiro:
Department of Chemical Engineering, Polytechnic School, University of Sao Paulo.
Arnold III, Ernest W. Sundaresan, Sankaran. Dynamic of Packed-Bed Reactor Loaded with
Oxide Catalysts. Princeton: Department of Chemical Engineering, Princeton University.
Bansode, Atul. Koppold, Clemens. Rohr, Phillip Rudolf von. Tidona, Bruno. Urakawa, Atsuhsi.
2013. CO2 Hydrogenation to Methanol at Pressures Up to 950 Bar. Zurich: Institute of
Process Engineering, ETH Zurich.
Benneker, Anne. Berg, Henk Van Den. Ham, Louis G.J. Van Der. Simmelink, Gideon. Timmer,
Jeremy. Weerden, Sander Van. 2012. Hydrogenation of Carbon Dioxide for Methanol
Production. Enschede: The Italian Association of Chemical Engineering Online.
Biedermann, Peter. Grube, Thomas. Hohlein, Bernd. Methanol as An Energy Carrier. Verlag:
Forschungszentrum Julich GmbH Zentralbibliothek.
Bill, Alain. 1998. Carbon Dioxide Hydrogenation to Methanol at Low Pressure and
Temperature. Lausanne: Ecole Polytechnique Federale De Lausanne.
Bonin, Julien. Robert, Marc. Routier, Mathilde. Selective and Efficient Photocatalytic CO2
Reduction to CO Using Visible Light and An Iron-Based Homogenous Catalysts. Paris:
Journal of The American Chemical Society.
Bozzano, Giulia. Leon-Garzon, Andres R. Manenti, Flavio. 2013. Energy-Process Integration
of the Gas-Cooled/Water-Cooled Fixed-Bed Reactor Network for Methanol Synthesis.
Milano: Politecnico di Milano, Dipartimento di Chimica, Materiali e Ingegneria Chimica.
Capek, L. Hospodkova, A. Lacny, Z. Koci, K. Krejcikova, S. Obalova, L. Solcova, O.
Zatloukalova, K. 2011. Wavelength Effect of Photocatalytic Reduction of CO2 by Ag/TiO2
Catalyst. Ostrava: Faculty of Metallurgy and Material Engineering, VSB-Technical
University of Ostrava.
Chen, Szu-Ying. Lin, Chin-Jung. Liou, Ya-Hsuan. Tsai, Meng-Che. 2012. Visible-light
Photocatalytic Conversion of CO2 to Methanol Using Dye-sensitized Mesoporous
Photocatalytic. Ilan: Department of Enviromental Engineering, National Ilan University.
Cieri, Silvia. Lima, Nadson Murilo Nascimento. Linan, Lamia Zuniga. Manenti, Flavio. Restelli,
Marco. Dynamic Simulation of the Lurgi-type Reactor for Methanol Synthesis. Milano:
Politechno di Milano.
Czech, Bozena. Nazimek, Dobieslaw. 2011. Artificial Photosynthesis CO2 Towards Methanol.
Department of Enviromental Chemistry, Faculty of Chemistry, Maria Curie-Sklodowska
University.
De, Bhudev Ranjan. Kumari, Valluri Durga. Lalitha, Kannekanti. Reddy, Police Anil Kumar.
Shubhamangala, Ballamoole. Srinivas, Basavaraju. Subrahmanyam, Machiraju. 2011.
Photocatalytic Reduction of CO2 Over Cu-TiO2/Molecular Sieve 5A Composite.
Hyderabad: Inorganic and Physical Chemistry Division, Indian Institute of Chemical
Technology.
Dedrick, Daniel E. Henao, Johnson, Terry A. Carlos A. Kim, Jiyong. Maravelias, Christos T.
Miller, James. E. Stechel, Ellen. B. 2011. Methanol Production from CO2 Using Solar-
thermal Energy: Process Development and Techno-economic Analysis.
Demirel, B. Ferdous, D. Processes to Produce Value Added Products From CO2.
Dwiasi, Dian Windy. Riyani, Kapti. Setyaningtyas, Tien. 2014. Fotoreduksi CO2 Hasil
Degradasi Limbah Cair Organik Menggunakan Fotokatalis TiO2-Zn. Purwokerto:
Fakultas Sains dan Teknik, Universitas Jenderal Soedirman.
Eigenberger, Gerhart. Fixed-Bed Reactors. Stuttgart: Institut fur Chemische Verfahrenstechnik,
Universitat Stuttgart
Elkadri, N.E. Miloua, F. Miloua R. Nawdali M. Saito, M. Toufik H. Toyir, J. 2009. Sustainable
Process For The Production of Methanol from CO2 and H2 Using Cu/ZnO-based
Multicomponent Catalyst. Taza: Equipe de Chimie Appliquee, Faculte Polydisciplinaire de
Taza.
Elkamel, Ali. Lohi, Ali. Marton, Chris. Zahedi, Gholam Reza. 2009. Optimal Fixed Bed
Reactor Network Configuration For The Efficient Recycling of CO2 Into Methanol.
Waterloo: Department of Chemical Engineering, University of Waterloo.
Fujishima, Akira. Rao, Tata N. Tryk, Donald A. 2000. Titanium Dioxide Photocatalyst. Tokyo:
Department of Applied Chemistry, School of Engineering, The University of Tokyo.
Fujitani, Tadahiro. Kanai,Yuki. Luo, Shengcheng. Saito, Masahiro. Takeuchi, Masami. Toyir,
Jamil. Watanabe, Taiki. Wu, Jingang. Methanol Synthesis from CO2 and H2 Over Cu/ZnO-
Based Multicomponent Catalyst. Ibaraki: RITE.
Ganesh, Ibram. 2011. Conversion of Carbon Dioxide to Methanol Using Solar EnergyA Brief
Review. Hyderabad: Centre for Photoelectrochemical Cells and Advanced Ceramics, ARCI.
Garcia, Hermenegildo. Macia-Agulo, Juan Antonio. Neatu, Stefan. 2014. Solar Light
Photocatalytic CO2 Reduction: General Considerations and Selected Bench-Mark
Photocatalysts. Valencia: International Journal of Molecular Sciences.
Goeppert, Alain. Olah, George A. Prakash, G.K. Surya. 2008. Chemical Recycling of
Canbondioxide to Methanol and Dimethyl Eter: From Greenhouse Gas to Renewable,
Environmentally Carbon eutra Fuels and Synthetic Hydrocarbons. The Journal of Organic
Chemistry.
Goettlicher, G. Haumann, D. Muench, W. 2012. Energy and Greenhouse Balance of
Photocatalytic CO2 Conversion to Methanol. Karlsruhe: EnBW Research & Innovation
department.
Graves, Chritopher Ronald. 2010. Recycling CO2 into Sustaiable Hdrocarbon Fuels:
Electrolysis of CO2 and H2O. Columbia University.
Gunlazuardi, Jarnuzi. Nasution, Hosna W. Purnama, Ezza. Riyani, Kapti. Slamet. 2009. Effect
of Copper Species in a Photocatalytic Synthesis of Methanol from Carbon Dioxide over
Copper-doped Titania Catalysts. Depok: Department of Chemical Engineering, University
of Indonesia
Heeger, Alan J. 2012. Solar Fuels and Artificial Photosynthesis. Santa Barbara: Department of
Chemistry and Biochemistry, University of California.
Helmi, Mohd Hatim. 2013. Photocatalytic Reduction of CO2 with Solvent on Alumina
Supported with TiO2. Faculty of Chemical and Natural Resources Engineering, University
Malaysia Pahang.
Huang, Chih-Hung. Tan, Chun-Sung. 2014. A Review: CO2 Utilization. Hsinchu: Department
of Chemical Engineering National Tsing Hua University.
Husin, Husni. Mairiza, Lia. Zuhra. 2007. Oksidasi Parsial Metana Menjadi Metanol dan
Formaldehida Menggunakan Katalis CuMoO3/SiO2 : Pengaruh Rasio Cu:Mo, Temperatur
Reaksi dan Waktu Tinggal. Darussalam: Laboratorium Teknik Reaksi Kimia dan Katalisis,
Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknik Universitas Syiah Kuala.
Hussain, Nor. A. Khan, Maksudur. R. Kui, Cheng. C. Synthesis and Characterization of
Photocatalyst for Conversion of CO2 to Methanol Under Visible Light Irradiation. Faculty
of Chemical Engineering and Natural Resource, University of Malaysia Pahang.
Ipek, Bahar. 2011. Photocatalytic Carbon Dioxide Reduction in Liquid Media. The Degree of
Master of Science in Chemical Engineering.
Joo, Oh-Shim. Camere Process for Carbon Dioxide Hydrogenation to Form Methanol. Seoul:
Catalysis Laboratory, Korea Institute of Science and Technology.
Jumina. Triono, Sugeng. Wahyuni, Endang Tri. 2012. A Study on the Photoreduction of Green
House CO2 Gas Catalyzed by TiO2 to Form Methane and Methanol. Jogjakarta: Chemistry
Department Faculty of Mathematic and Naturak Science, University of Gajah Mada.
Khairunnisa, Risa. Pembuatan Metanol dari Hidrogenasi Katalitik CO2.
http://ryessha.blogspot.com/2012/10/metanol.html. Diakses pada Tanggal 28 Januari 2015.
LG, Elsa Rama. Margaretha, Fitri. Marisa, Eva. 2012. Terminologi Kompresor.
Madeira, Luis M. Mendes, Adelio. Miguel, Carlos V. Soria, Miguel A. 2014. Direct CO2
Hydrogenation to Methane or Methanol from Post- Combustion Exhaust Streams- A
Thermodynamics Study. Porto: LEPABE, Chemical Engineering Department, Faculty of
Engineering, University of Porto.
Saman, Kungfu. 2009. CO2 Bisa diubah Menjadi Metanol.
http://nayu2.blogspot.com/2009/06/co2-bisa-diubah-menjadi-metanol.html. Diakses pada
tanggal 24 Januari 2015.
Tuyen, Minh. 2011. Electrochemical Reduction of CO2 to Methanol. The Department of
Chemical Engineering, Louisiana State University.