Anda di halaman 1dari 23

HAMA-HAMA TANAMAN PANGAN, HORTIKULTURA, PERKEBUNAN

(Laporan Praktikum Pengendalian Hama Tanaman)

Oleh

Ibnu Widodo
1514121078
Kelompok 5

JURUSAN AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
2017
I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk dan kebutuhan manusia akan


bahan pangan dan hortikultura, maka pertanian tradisional di Indonesia mulai
berkembang dan lebih dipuerhatikan lagi perkembangannya. Tanaman pangan
merupakan jenisjenis tanaman yang mengandung karbohidrat,yang merupakan
sumber pangan bagi manusia,sedangkan tanaman hortikultura merupakan tanaman
sayur-sayuran dan buah-buahan yang mengandung protein dan lainnya.

Hama merupakan suatu organisme yang mengganggu tanaman,merusak tanaman


dan menimbulkan kerugian secara ekonomi,membuat produksi suatu tanaman
berkurang dan dapat juga menimbulkan kematian pada tanaman,serangga hama
mempunyai bagian tubuh yang utama yaitu caput, abdomen ,dan thorax.
Serangga hama merupakan organisme yang dapat mengganggu pertumbuhan
tanaman dan mengakibatkan kerusakan dan kerugian ekonomi. Hama dari jenis
serangga dan penyakit merupakan kendala yang dihadapi oleh setiap para petani
yang selalu mengganggu perkembangan tanaman budidaya dan hasil produksi
pertanian. Hama dan penyakit tersebut merusak bagian suatu tanaman, sehingga
tanaman akan layu dan bahkan mati.

Serangga (disebut pula Insecta) adalah kelompok utama dari hewan beruas
(Arthropoda) yang berkaki enam. Karena itulah mereka disebut pula Hexapoda.
Serangga ditemukan di hampir semua lingkungan kecuali di lautan. Kajian
mengenai peri kehidupan serangga disebut entomologi. dan ahli tentang ilmu
serangga disebut entomologis.

Serangga dibagi menjadi 32 ordo atau kelompok. Urutan terbesar serangga adalah
kumbang (Coleoptera) dengan 125 keluarga yang berbeda dan sekitar 500.000
spesies yang berbeda. 5.000 spesies bangsa capung (Odonata), 20.000 spesies
bangsa belalang (Orthoptera), 170.000 spesies bangsa kupu-kupu dan ngengat
(Lepidoptera), 120.000 bangsa lalat dan kerabatnya (Diptera), 82.000 spesies
bangsa kepik (Hemiptera), dan 110.000 spesies bangsa semut dan lebah
(Hymenoptera).

1.2 Tujuan Praktikum

Pada praktikum ini tujuannya yaitu sebagai berikut:


1. Mengetahui jenis hama penting pada tanaman pangan (padi, kedelai, jagung),
hortikutlura (kubis/sawi, nanas, pisang), perkebunan (kelapa/sawit, kakao,
kopi).
2. Mengetahui gejala kerusakan, bioekologi dan cara pengendalian hama
tanaman pangan, hortikultura, dan perkebunan.
II. TINJAUAN PUSTAKA

Hama merupakan organisme pengganggu tanaman dan mengakibatkan kerusakan


serta kerugian ekonomi. Selain itu hama juga sangat mempengaruhi dan membuat
produksi suatu tanaman sangat berkurang dan dapat juga menimbulkan kematian
pada tanaman yang diserangnya. Hama dari jenis serangga dan penyakit
merupakan kendala yang dihadapi oleh setiap para petani yang selalu
mengganggu perkembangan tanaman budidaya dan hasil produksi pertanian, hama
jenis serangga ini mempunyai bagian tubuh yang utama yaitu caput, abdomen
,dan thorax (Harianto, 2009).

Mengenal kerusakan pada tanaman yang disebabkan oleh berbagai pengganggu


akan sangat membantu dalam diagnosis. Diagnosis merupakan proses yang sangat
penting. Hasil diagnosis akan menentukan keberhasilan suatu pengelolaan
penyakit tanaman. Kegagalan suatu diagnosis akan menyebabkan kegagalan
dalam tahap pengendalian. Sebagai contah klasik dikemukakan oleh Fry (1982)
pada pertanaman bit gula dipinggiran kota New York terjadi masalah kekerdilan
tanaman. Dugaan awal kekerdilan tersebut disebabkan oleh karena kekurangan
hara. Namun ternyata aplikasi pemupukan tidak menyelesaikan masalah.
Konsultasi dengan ahli penyakit tanaman menyimpulkan bahwa tanaman
terserang oleh nematoda Heterodera schachtii. Dengan demikian diagnosis yang
baik harus memiliki efektivitas yang tinggi. Disamping itu diagnosis juga harus
cepat. Keterlambatan hasil diagnosis karena berbagai hal dapat menyebabkan
penyakit sudah berkembang pesat, sehingga hasil tidak dapat diselamatkan.
Disamping efektif dan cepat, diagnosis juga harus murah. Biaya diagnosis yang
mahal tidak akan terjangkau oleh petani kecil, sehingga mereka enggan pergi ke
klinik untuk memeriksakan tanaman. Ganguan merupakan suatu proses interaksi
anatara berbagai factor yang mempengaruhi. Hasil proses interaksi tersebut dapat
dilihat dengan adanya kerusakan pada tanaman, Karena tanaman yang terganggu
oleh pengganggu tertentu sering menunjukkan kerusakan akan tertentu pula.
Beberapa jenis hama tidak hanya memakan bagian tubuh tanaman tetapi juga
mengeluarkan substansi tertentu yang berpengaruh terhadap pertumbuhan
tanaman. Beberapa jenis hama yang lain akan meninggalkan bebas aktivitas yang
khas (Wardoyo, 1988).

Banyak macam patogen tumbuhan dan tidak sedikit diantaranya yang mempunyai
arti ekonomi penting. Setiap macam tanaman dapat diserang oleh banyak macam
patogen tumbuhan, begitu pula satu macam patogen ada kemungkinan dapat
menyerang sampai berpuluh-puluh tanaman. Sering pula terjadi, bahwa patogen
tumbuhan tertentu dapat menyerang satu macam organ tanaman atau ada pula
yang menyerang berbagai macam organ tanaman. Sebagai akibat dari reaksi
tersebut maka suatu kerusakan tertentu akan tampak pada tanaman.
Perkembangan selanjutnya, bagian pathogen atau pathogen itu sendiri dapat
menampakkan diri pada permukaan tanaman inang yang abnormal. Abnormalitas
atau perubahan-perubahan yang ditunjukkan oleh tanaman sakit sebagai akibat
adanya serangan agensia penyakit-penyakit (pathogen) tersebut disebut gejala,
sedangkan pengenal yang ditunjukkan oleh selain reaksi tanaman inang disebut
tanda. Contoh tanda penyakit misalnya miselium jamur, spora atau konidi jamur,
badan buah jamur, mildew, sklerosium, koloni baketri yang berupa lendir, dan
sejenisnya (Syarief, 1993).

Parasit yang menyebabkan penyakit pada tanaman pada umumnya membentuk


bagian vegetatifnya di dalam jaringan tanaman sehingga tidak tampak dari luar.
Tetapi walaupun demikian ia membentuk bagian reproduktifnya pada permukaan
tanaman yang diserangnya atau hanya sebagian tampak pada permukaan tersebut.
Selan itu sering pula pembentukan propagul dalam bentuk istirahat pada
permukaan tanaman ( Diyasti, 2010 ).
III. METODOLOGI PRAKTIKUM

3.1 Alat dan Bahan

Pada praktikum ini alat yang digunakan pada percobaan kali ini adalah alat tulis
seperti pena, kertas A4 dan kamera.

Sedangkan bahan yang digunakan pada praktikum adalah spesimen hama dari
tanaman pangan, seperti walang sangit, belalang kembara dan keong mas, dan
penghisap polong kedelai. Hama pada tanaman hortikultura seperti kepik hiaju,
ulat crop, ulat daun, ulat gulung, dan Aphis sp.. Hama pada tanaman perkebunan,
kumbang, ulat api, penggerek batang tebu, dan Helopeltis spp.

3.2 Cara Kerja

Prosedur kerja pada praktikum ini yaitu:


1 Diamati dan diperhatikan tipe atau ciri hama dari masing-masing komoditas.
2 Dibedakan antara satu hama dengan hama yang lain.
3 Ditulis nama hama, bioekologi dan cara pengen
4 dalian lalu difoto.
IV.HASIL DAN PEMBAHASAN

I.1 Hasil Praktikum

Berdasarkan Praktikum yang telah dilaksanakan didapat data sebagai berikut:


No Gambar Deskripsi Gejala
.
1. Belalang kumbara ( Locusta migratoria )

Gejala : daun yang diserang menjadi bolong-


bolong dan terkadang hingga menyisakan
tulang daun saja

2. Keong mas ( Pomacea canaliculata)

Gejala : Keong mas memakan tanaman padi


muda, sehingga tanaman padi habis

3. Kepik hijau ( Nezara viridula )

Gejala : pada polong muda menyebabkan


polong menjadi kosong dan kempis, dan
pada polong dewasa menyebabkan biji
keriput dan berbintik hitam akhirnya biji
menjadi busuk
4. Kumbang ( Oryctes rhinoceros )

Gejala : terlihat pada daun kelapa seperti


bekas guntingan seperti huruf V

5. Uret ( Phyllophaga hellen )

Gejala : tanaman menjadi layu dan dapat


rebah atau mati

6. Pada serangan berat, bagian dalam batang


tebu hancur dimakan oleh larva PBR. Larva
masuk ke dalam batang dengan membuat
lorong gerekan dari pelepah daun. Bila
populasi hama tinggi, juga dapat
menyebabkan kematian pada tanaman tua.

7. Gejala serangan umumnya mengakibatkan


daun kelapa sawit habis dengan sangat cepat
dan berbentuk seperti melidi. Tanaman tidak
dapat menghasilkan tandan selama 2-3
tahun.

8. Ulat penggulung ( Erionata thrax )

Gejala : terdapat gulungan daun dan bekas


gerekan pada daun yang dimakan oleh ulat
9. Walang sangit ( Leptocoriza acuta )

Gejala : Malai yang diisap menjadi hampa


dan berwarna coklat kehitaman

10. Penghisap buah kakao ( Helopeltis sp.)

Gejala : Serangan pada buah muda


menyebabkan buah mati, sedangkan pada
buah tua menyebabkan bentuk buah
abnormal

11 Penghisap polong kedelai ( Riptortus


linearis )

Gejala : polong akan tampak bintik-bintik


hitam dan kemudian polong akan kosong.

4.2 Pembahasan
4.2.1 Walang Sangit
Walang sangit juga mempunyai inang alternative yang berupa tanaman rumput-
rumputan antara lain Panicum spp; Andropogon sorgum; Digitaria
consanguinaria; Eleusine coracoma; Setaria italica; Cyperus polystachys,
Paspalum spp; dan Pennisetum typhoideum . Walang sangit (Leptocorisa
oratorius) mengalami metamorfosis sederhana yang perkembangannya dimulai
dari stadia telur, nimfa dan imago Walang sangit dewasa meletakkan telur pada
bagian atas daun tanaman khususnya pada area daun bendera tanaman padi. Lama
periode bertelur 57 hari dengan total produksi terlur per induk 200 butir. Lama
stadia telur 7 hari, terdapat lima instar pertumbuhan nimpa yang total lamanya +
19 hari. Lama preoviposition 21 hari, sehingga lama satu siklus hidup hama
walang sangit 46 hari(Borror,1992).

a. Pengendalian Secara Kultur Teknik


Sampai sekarang belum ada varietas padi yang tahan terhadap hama walang
sangit. Berdasarkan cara hidup walang sangit, tanam serempak dalam satu
hamparan merupakan cara pengendalian yang sangat dianjurkan. Setelah ada
tanaman padi berbunga walang sangit akan segera pindah dari rumput-rumputan
atau tanaman sekitar sawah ke pertanaman padi yang pertama kali berbunga.
Sehingga jika pertanaman tidak serempak pertanaman yang berbunga paling awal
akan diserang lebih dahulu dan tempat berkembang biak . Pertanaman yang paling
lambat tanam akan mendapatkan serangan yang relatif lebih berat karena walang
sangit sudah berkembang biak pada pertanaman yang berbunga lebih dahulu.
Dianjurkan beda tanam dalam satu hamparan tidak lebih dari 2,5 bulan.
Plot-plot kecil ditanam lebih awal dari pertanaman sekitarnya dapat digunakan
sebagai tanaman perangkap. Setelah tanaman perangkap berbunga walang sangit
akan tertarik pada plot tanaman perangkan dan dilakukan pemberantasan sehingga
pertanaman utama relatif berkurang populasi walang sangitnya.

b. Pengendalian Secara Biologi


Potensi agens hayati pengendali hama walang sangit masih sangat sedikit diteliti.
Beberapa penelitian telah dilakukan terutama pemanfaatan parasitoid dan jamur
masih skala rumah kasa atau semi lapang. Parasitoid yang mulai diteliti adalah O.
malayensis sedangkan jenis jamurnya adalan Beauveria sp dan Metharizum sp.

c. Pengendalian Dengan Menggunakan Perilaku Serangga


Walang sangit tertarik oleh senyawa (bebauan) yang dikandung tanaman
Lycopodium sp dan Ceratophylum sp. Hal ini dapat dimanfaatkan untuk menarik
hama walang sangit dan kemudian secara fisik dimatikan. Bau bangkai binatang
terutama bangkai kepiting juga efektif untuk menarik hama walang sangit.

d. Pengendalian Kimiawi
Pengendalian kimiawi dilakukan pada padi setelah berbunga sampai masak susu,
ambang kendali untuk walang sangit adalah enam ekor /m2. Banyak insektisida
yang cukup efektif terutama yang berbentuk cair atau tepung sedangkan yang
berbentuk granula tidak dapat dianjurkan untuk mengendalikan walang sangit.
Insektida anjuran untuk tanaman padi yang cukup efektif terhadap walang sangit
adalah yang berbahan aktif fipronil, metolkarb, propoksur, BPMC dan MIPC
(Borror,1992).

4.2.2 Penghisap Polong Kedelai


Siklus hidup R. linearis meliputi stadium telur, nimfa yang terdiri atas lima instar,
dan stadium imago. Imago berbadan panjang dan berwarna kuning kecokelatan
dengan garis putih kekuningan di sepanjang sisi badannya. Imago datang pertama
kali di pertanaman kedelai saat tanaman mulai berbunga dengan meletakkan telur
satu per satu pada permukaan atas dan bawah daun. Seekor imago betina mampu
bertelur hingga 70 butir selama 4 47 hari. Imago jantan dan betina dapat
dibedakan dari bentuk perutnya, yaitu imago jantan ramping dengan panjang 11
13 mm dan betina agak gemuk dengan panjang 1314 mm. Telur R. linearis
berbentuk bulat dengan bagian tengah agak cekung, ratarata berdiameter 1,20 mm.
Telur berwarna biru keabuan kemudian berubah menjadi cokelat suram. Setelah
67 hari, telur menetas dan membentuk nimfa instar I selama 3 hari. Pada stadium
nimfa, R. linearis berganti kulit (moulting) lima kali. Setiap berganti kulit terlihat
perbedaan bentuk, warna, ukuran, dan umur. Rata-rata panjang tubuh nimfa instar
I adalah 2,60 mm, instar II 4,20 mm, instar III 6 mm, instar IV 7 mm, dan instar V
9,90 mm. Nimfa maupun imago mampu menyebabkan kerusakan pada polong
kedelai dengan cara mengisap cairan biji di dalam polong dengan menusukkan
stiletnya. Tingkat kerusakan akibat R. linearis bervariasi, bergantung pada tahap
perkembangan polong dan biji. Tingkat kerusakan biji dipengaruhi pula oleh letak
dan jumlah tusukan pada biji (Pracaya,1993).

Pengendalian
Tanam serempak dengan selisih waktu kurang dari 10 hari; (2) Pergiliran atau
rotasi tanaman yang baik adalah bila jenis tanaman pada suatu musim berbeda
dengan jenis tanaman yang ditanam pada suatu musim berikutnya dan jenis
tanaman tersebut bukan merupakan inang hama tanaman yang ditanam pada
musim sebelumnya. Dengan pemutusan ketersediaan inang pada musim kedua,
populasi hama yang sudah meningkat pada musim pertama dapat ditekan; (3)
Cendawan entomopatogen Lecanicillium lecanii mampu menginfeksi telur, nimfa
dan kepik coklat Riptortus linearis dengan tingkat mortalitas yang sangat tinggi
dan dapat mencapai 50%; (4) Tanaman perangkap Sesbania rostrata di pematang
dapat mengurangi serangan hama pengisap polong kedelai. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa jika populasi hama pengisap polong cukup tinggi,
keberadaan Sesbania dapat menekan populasi hama pengisap polong pada
tanaman kedelai hingga 35%; (5) Semprot dengan insektisida bila populasi
mencapai ambang kendali (klorfluazuron, betasiflutrin, sipermetrin, alfametrin,
carbosulfan, sihalotrin, sipermetrin) (Pracaya,1993).

4.2.3 Belalang Kumbara


Daur hidup Valanga nigricornis termasuk pada kelompok metamorfosis tidak
sempurna. Pada kondisi laboratorium (temperatur 28 C dan kelembapan 80 %
RH) daur hidup dapat mencapai 6,5 bulan sampai 8,5 bulan. Fekunditas rata-
ratanya mencapai 158 butir. Keadaan yang ramai dan padat akan memperlambat
proses kematangan gonad dan akan mengurangi fekunditas . Metamorfosa
sederhana (paurometabola) dengan perkembangan melalui tiga stadia yaitu telur,
nimfa, dan dewasa (imago). Bentuk nimfa dan dewasa terutama dibedakan pada
bentuk dan ukuran sayap serta ukuran tubuhnya. Umumnya belalang V.
Nigricornis bertelur pada awal musim kemarau. Telur dimasukkan ke dalam tanah
sedalam 5-8 cm. Telur tersebut di bungkus dengan assa busa yang kemudian
mengering dan memadat, bewarna cokelat dengan panjang 2-3 cm. Lama
penetasan 12-15 hari. Telur bewarna cokelat kekuningan, berbentuk sosis, dengan
diameter berkisar 1mm. Nimfa yang baru menetas, bewarna kuning kehijauan
dengan bercak hitam. Nimfa tersebut keluar dari tanah, lalu naik ke tanaman
jagung dan menghabisi daging daun jagung . Nimfa mengalami lima kali instar,
lamanya 48-57 hari. Nimfa yang beru menetas panjangnya berkisar 8 mm dan
lebar 3 mm, warna mula-mula putih dan berubah menjadi merah orange atau
merah bata. Nimfa yang sempurna panjangnya 35 mm dan lebar 28 mm. Nimfa
dan dewasa fase gregarius sangat berbahaya bagi tanaman gandum, jagung, beras,
panicum, sorgum, alfalfa, kacang polong, kacang panjang, kedelai, cengkeh,
kentang, tembakau, kubis, ketimun, semangka, melon, dan jenis labu lainnya,
kapas, rami, sayuran, tanaman buah yang masih muda, tanaman hutan, dan
tanaman rempah, padang rumput ternak. Setelah menjadi imago, belalang ini akan
terbang mencari makanan ke tempat lain. Perkawinan di lakukan di atas pohon
setelah kawin betina terbang ke tanah mencarri tempat bertelur. Bila ada angin,
belalang kayu bisa terbang sejauh 3km-4km. Tanah untuk bertelur dipilih tanah
gembur dan terbuka, tidak penuh dengan tanaman. V.nigricornis berantena
pendek, protonum tidak memanjang ke belakang, tarsi beruas tiga buah, femur
kaki belakang membesar, ovipositor pendek. Metamorfosa sederhana yaitu telur-
nimfa-dewasa(Pracaya,1993).

Belalang kumbara memiliki tipe alat mulut mandibulata (Mengigit dan


mengunyah) dan tanaman inangnya yaitu jagung, singkong, dll. Populasi belalang
kembara yang sangat tinggi dapat menimbulkan kerusakan tanaman holtikultura
(padi, jagung dan sayur-sayuran) sampai dengan tanaman kelapa sawit. Gejalanya
tanaman khususnya pada bagian daun akan dimakan dimulai dari bagian pinggir
dan jika dalam keadaan parah maka yang tersisa hanya tulang daunnya saja.
Pengendalian
Pengendalian Hayati : Agens hayati M. anisopliae var. acridium, B. bassiana,
Enthomophaga sp.dan Nosuma locustae di beberapa negara terbukti dapat
digunakan padasaat populasi belum meningkat(Nyoman,1998).

Pola Tanam : Didaerah pengembangan tanaman pangan yang menjadi ancaman


hama belalang kembara perlu dipertimbangkan pola tanam dengan tanaman
alternatif yang tidak atau kurang disukai belalang dengan sistem tumpang sari atau
diversifikasi.Pada areal yang sudah terserang belalang dan musim tanam belum
terlambat, diupayakan segera pena naman kembali dengan tanaman yang tidak
disukai belalang seperti, kedelai, kacang hijau, ubi kayu, ubi jalar, kacang
panjang, tomat, atau tanaman yang kurang disukai belalang seperti kacang tanah,
petsai, kubis, dan sawi(Nyoman,1998).

Mekanis: Melakukan gerakan masal sesuai stadia populasi:Stadia telur. Untuk


mengetahui lokasi telur maka dilakukan pemantauan lokasi dan waktu hinggap
kelompok belalang dewasa secara intensif. Pada areal atau lokasi bekas serangan
yang diketahui terdapat populasi telur, dilakukan pengumpulan kelompok telur
melalui pengolahan tanah sedalam 10 cm, kelompok telur diambil dan
dimusnahkan, kemudian lahan segera ditanami kembali dengan tanaman yang
tidak disukai belalang. Stadia nimfa. Setelah dua minggu sejak hinggapnya
kelompok belalang kembara mulai dilakukan pemantauan terhadap kemungkinan
adanya nimfa. Nimfa dikendalikan dengan cara memukul, menjaring, membakar
atau menggunakan perangkap lainnya. Menghalau nimfa ke suatu tempat yang
sudah disiapkan di tempat terbuka untuk kemudian dimatikan. Nimfa yang sudah
ada di tempat terbuka apabila memungkinkan juga dapat dilakukan pembakaran
namun harus hati-hati agar api tidak merembet ke tempat lain. Pengendalian nimfa
berperan penting dalam menekan perkembangan belalang(Pracaya,1993).
Kimiawi : Dalam keadaan populasi tinggi, perlu segera diupayakan penurunan
populasi. Apabila cara-cara lain sudah ditempuh tetapi populasi masih tetap tinggi
maka insektisida yang efektif dan diijinkan dapat diaplikasikan.
Jenis insektisida yang dapat digunakan untuk mengendalikan belalang adalah jenis
yang berbahan aktif organofosfat seperti fenitrothion(Pracaya,1993).

4.2.4 Keong Mas


Cangkang berbentukbulat sempurna. Berwama dengan sisi samping seluk tubuh
coklat dan mengalami gradasi menjadi semakin tua pada bagian di sekitar pusat
cangkang. Dinding cangkang muda dan pucat. Dinding cangkang tipis dengan
sangat tebal terutama pada bagian di tepi mulut permukaannya yang halus. Sulur
tinggi dan runcing. cangkang. Sulur rendah, biasanya terkikis. Seluk Seluk 5-6.
Sutura mendatar terutama pada sutura yang berjumlah 5. Seluk tubuh sangat bulat.
Sutura terlihat menghubungkan antara seluk tubuh dan sulur. Seluk sedikit
melekuk (berkanal dangkal). Pusat cangkang tubuh membahu. Pusat berbentuk
celah. Mulut berbentuk celah. Bentuk mulut cangkang membulat cangkang
lonjong dengan bagian atasnya yang dengan bagian atas yang mendatar atau
sedikit menaik. mendatar. Warna bagian dalam mulut cangkang sama Warna
dinding bagian dalam mulut cangkang kuning dengan warna bagian luar
cangkang. Tepi mulut dan pada bagian tepinya berwarna jingga. Tepi mulut
cangkang dan kolumela tidak menebal. Tepi mulut cangkang menerus dengan
jeda.

4.2.5 Ulat Api


Setotoshea asigna merupakan salah satu jenis ulat api yang kerap menyerang
kelapa sawit. Bahkan dalam satu literatur disebutkan sebagai salah satu jenis ulat
api terpenting pada tanaman kelapa sawit di Indonesia (Sudharto, 2001). Larva
dari Setotoshea asigna memiliki warna hijau kekuningan dengan bercak-bercak
yang unik dipunggungnya. Panjang larva 30-36mm dan lebarnya 14mm.T elur
diletakkan berderet 3-4 baris pada permukaan bawah daun. Stadia larva
berlangsung selama 50 hari dan terbagi menjadi 7-9 instar. Untuk stadia
kepompong selama 35-40 hari. Seekor ngengat betina mampu bertelur sebanyak
300-400 butir telur dan akan menetas setelah 4-8hari setelah diletakkan ( Sudharto
2001 ). Kepompong umumnya berada sedikit dibawah permukaan tanah. 5-10 ulat
per pelepah merupakan populasi kritis hama tersebut di lapangan dan harus segera
diambil tindakan pengendalian. Tipe mulut ular api ini yaitu mandibulata (Lubis,
2008).

Gejala serangan umumnya mengakibatkan daun kelapa sawit habis dengan sangat
cepat dan berbentuk seperti melidi. Tanaman tidak dapat menghasilkan tandan
selama 2-3 tahun jika serangan yang terjadi sangat berat. Umumnya gejala
serangan dimulai dari daun bagian bawah hingga akhirnya helaian daun berlubang
habis dan bagian yang tersisa hanya tulang daun saja. Ulat ini sangat rakus,
Seekor larva mampu memakan 300-500cm daun sawit per hari.

Pengendalian
Metode Penyemprotan
Untuk mengendalikan ulat api yang berkembang biak di kelapa sawit, anda bisa
menyemprotkan insektisida CYPERIN 250 EC memakai alat mist blower. Takaran
yang digunakan adalah dosis konsentrasi : 2 ml/1 liter air atau 0,5-1 liter per
hektar. Opsi lain anda bisa memakai alat fogging dengan dosis 250 ml Cyperin
250 EC yang dicampur 5 liter solar. Selanjutnya, konsentrasi ini bisa diaplikasikan
pada kebun kelapa sawit seluas 1-2 hektar.

Metode Injeksi
Metode injeksi dilakukan dengan menyuntikkan cairan tertentu pada tanaman
kelapa sawit. Untuk mengatasi hama ulat api, anda bisa menerapkan metode ini.
Yaitu dengan menyuntikkan insektisida CHEPATE 75 SP - Nufarm prod. Adapun
dosis yang dipakai sebanyak 15 ml untuk setiap pohon kelapa sawit.

4.2.5 Kumbang Badak dan Urer


Kumbang ini memiliki tubuh yang berukuran 40-50 mm, dengan tubuh berwarna
coklat kehitaman, dikepala terdapat bagian kecil yang menonjol serta menjulang
yang sebagai tanduk. Pada serangga betina, terdapat rambut halus pada bagian
perut. Untuk jantan sendiri tidak memiliki bulu halus pada perut. Kumbang
menyerang pupus tanaman kelapa yang masih belum membuka yang diawali dari
pangkal menuju kepucuk. Pada fase perkembangan larva sendiri sangat
dipengaruhi oleh klim serta ketersedian makan. Pengaruh faktor-faktor ini adalah
pada ukuran larva serta waktu yang diperlukan untuk mematangkan larva. Faktor-
faktor fisik yang dipengaruhi perkembangan larva kumbang ini ialah suhu,
kelembaban, serta intensitas cahaya. Larva tertarik pada amonia dan aseton, tetapi
menghindari asam asetat. Oryctes rhinoceros memiiliki tanaman inang tanaman
kelapa yang masih muda maupun dewasa. Tanaman tertentu atau masih dalam
kekerabatan dekat lebih sering diserang dan diajadikan inangnya. Pada satu
tanaman yang sama dapat diserang oleh satu atau lebih kumbang sedangkan pada
tanaman yang berada disekitarnya kemungkianan tidak diserang. Kumbang
dewasa biasanya aktif pada malam hari dan mulai menyerang juga pada saat itu.
Setelah kumbang menggerek kedalam batang tanaman dan meletakan telurnya,
maka kumbang akan memakan pelepah daun muda yang sedang berkembang.
Pengendalian kumbang tanduk secara konvensional dilakukan secara mekanis
yaitu dengan cara pengutipan/pengambilan dan menggunakan insektisida kimiawi.
Namun untuk cara kimiawi kurang tepat, hal tersebut disebabkan menimbulkan
pencemaran bagi lingkungan serta membuat kumbang berevolusi sehingga
resistensi. Selain dengan cara tesebut, pengendalian bisa dilakukan dengan
menggunakan musuh alami seperti Santalus parallelus dan Platymerys laevicollis
merupakan predator telur dan larva O. Rhinoceros, sedangkan Agrypnus sp.
(Purba, 2005).

Larva kumbang atau yang biasa disebut dengan urer yang menyerang pada bagian
batang dan akar tanaman. Inang urer ini adalah tanaman kehutanan, tanaman padi
dan palawija, terutama pada tanaman yang masih muda sehingga gejala yang
timbul akibat serangat uret yaitu layu kemudian mati. Pengendalian yag dapat
dilakukan yaitu dengan pengolahan tanah ataupun dengan penggunaan agensi
hayati seperti Beauveria bassiana dan Metarhizium anisopleae.

4.2.7 Penghisap Buah Kakao


Penghisap buah kakao (Helopeltis sp) merupakan serangga yang memiliki tipe
alat mulut haustelata dan biasanya menyerang tanaman kakao dengan cara
menghisap sari buah kakao, jambu mete, kapok, kina, rambutan dan teh.
Sedangkan gejala yang ditimbulkan oleh serangan hama ini yaitu pada bagian
tanaman yang terserang akan tampak adanya bekas tusukan dengan tanda berupa
noda kering yang berwarna coklat kemerahan hingga hitam dan bagian itu tersebut
sangatlah rapuh. Pada kerusakan yang terjadi pada pentil buah akan ditunjukkan
adanya bekas tusukan yang akan mengeluarkan gumpalan berupa getah dengan
warna kuning. Pada tunas-tunas muda, Kerusakan yang ditimbulkan berupa luka
yang panjang dan berwarna kuning kehitaman. Pada serangan tergolong berat,
pada pucuk tanaman akan mati dan tanaman mengalami stagnasi. Pengendalian
yang dapat dilakukan yaitu dengan kultur teknis , mekanis, secara biologi yaitu
dengan cara konservasi musuh alami seperti belalng sembah dan laba-laba serta
secara kimia dengan menggunakan pestisida (Wardoyo, 1988).

4.2.8 Ulat Penggulun Daun Pisang


Ulat penggulung daun (Erionota thrax) dengan tipe mulut mandibulata biasanya
terdapat pada daun pisang dengan gejala serangan yaitu terdapat gulungan pada
daun dengan cara memotong sebagian daun pisang lalu menggulungnya. Pada
kasus serangan yang parah dapat mengakibatkan daun akan habis dan hanya
tersisa tulang daun saja dengan berbagai gulungan-gulungan daun yang
menggantung. Untuk pengendalian yang tepat yaitu menggunakan teknis mekanis
dengan cara memotong gulungan daun lalu membakarnya. Pada teknis lain yaitu
menggunakan musuh alami seperti Casinaria sp. yaitu parasitoid larva.

4.2.9 Penggerek Batang Tebu

Hama penggerek batang (P. castanae Hubner) yang menyerang tanaman tebu ini
merupakan hama dengan tipe mulut mandibulata yang menyerang pada tanaman
yang berumur muda hingga tua. Unutk serangan pada tanaman muda akan
menimbulkan tanaman mati pucuk. Sedangkan pada kasus serangan berat, larva
PBR akan melumat habis batang tanaman tebu. Larva PBR akan masuk ke dalam
batang dengan membuat lubang seperti lorong gerekan dari pelepah daun. Jika
populasi hama semakin tinggi, maka dapat menimbulkan kematian pada tanaman
tua. Sehingga kerugian yang diciptakan mengakibatkan penurunan bobot batang,
serta menurunkan rendemen gula. Pengendalian hama penggerek batang tebu (P.
castanae Hubner.) yaitu dengan melakukan sanitasi kebun seperti dengan
memusnahkan sumber inoculum, eradikasi tanaman, dan dengan cara hayati yaitu
melepas musuh alami seperti Tumidiclava sp dan S. inferens (Diyasti, 2010).

4.2.10 Kepik Hijau


Kepik hijau (Nezara viridula) memiliki mulut dengan tipe haustelata terdiri atas
moncong (rostum) dan dilengkapi dengan alat pencucuk dan pengisap berupa
stylet dan kepik hijau ini sendiri serang menyerang tanaman hortikultura dengan
menyebabkan tanaman yang terserang terutama tanaman padi mengempis, karena
sari pada bulir padi dihisap. Penggunaan insektisida pada langkah pengendalian
lebih efektif bila serangan penggerek polong lebih dari 2 % atau jika ditemukan
sepasang populasi penghisap polong dewasa atau kepik hijau dewasa pada umut
45 hari setelah tanam. Pengendalian untuk Nezara viridula dengan cara pergiliran
tanaman, penanaman serempak, serta dilakukan pengamatan secara intensif
sebelum dilakukan pengendalian dengan menggunakan insektisida. (Sulistyo,
2009).
V. KESIMPULAN

Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan dapat disimpulkan sebagai berikut:

1. Gelaja serangan hama pada tanaman dapat diidentifikasikan berdasarkan tipe


mulut dari hama tersebut.
2. Pengendalian hama dapat dilakukan secara mekanik, pengendalian biologi
dengan musuh alami dan pengendalian secara kimiawi.
DAFTAR PUSTAKA

Diyasti, F. 2010. Waspada Penggerek Batang Tebu Raksasa. (di unduh 29


November 2010)

Endah, Joesi dkk. 2005. Pengantar Hama dan Penyakit Tanaman. Tangerang. PT.
Agro Media Pustaka.

Harianto, 2009. Pengenalan dan Pengendalian Hama-Penyakit Tanaman Kakao.


Pusat Penelitian Kopi dan Kakao.Jember.

PPKS, 2006. Budidaya Kelapa Sawit. Jl. Brigjen Katamso. Medan.

Purba. Y, Dkk. 2005. Hama-hama pada Kelapa Sawit. PPKS. Medan.

Setijo, P. 1996. Petunjuk Pengendalian dan Pemanfaatan Keongmas.


TrubusAgriwidia.Ungaran. 106 hal.

Sitompul, Stepanus S., 2005. Pengendalian Hama Belalang Kembara (Locusta


migratoria) dengan Menggunakan Gelombang Ultrasonik di Kalimantan
Barat. Suatu Penelitian Eksperimental Dengan Pendekatan Biofisika.
Disertasi. Program Pascasarjana Universitas Airlangga Surabaya.

Sudarsono, H., Rosma H., dan I Gede S. 2011. Hubungan Antara Curah Hujan
Dan Luas Serangan Belalang Kembara (Locusta migratoria manilensis
Meyen) Di Provinsi Lampung. Jurnal Hama dan Penyakit Tumbuhan
Tropika.11(1).95-101

Sulistyo, 2009. Hama Tanaman Pangan dan Perkebunan. Bumi Aksara, Jakarta.

Sulistyo, Basuki. 2003. Pengendalian Hama dan Penyakit Tanaman. Gramedia


Pustaka Utama. Jakarta.

Syarief, R. dan H. Halid. 1993. Teknologi Penyimpanan Pangan. Arcan, Jakarta.

Wardoyo, S. 1988. Hama Serangga Tanaman Coklat. Balai Penelitian


Perkebunan. Bogor.
LAMPIRAN