Anda di halaman 1dari 26

BAB I

PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Sejalan dengan berlangsungnya waktu, sumber daya manusia yang terus bertambah
ini akan menyebabkan suatu peristiwa kebutuhan sumber daya alam yang semakin
meningkat. Salah satu dari kebutuhan yang sangat penting di dunia ini adalah sumber
energi listrik, Di mana pada jaman modern ini bisa dikatakan bahwa segala sesuatu selalu
berhubungan dengan yang namanya listrik. Tidak dapat dipungkiri bahwa semakin
sulitnya menyalurkan energi listrik ini dalam jumlah banyak, terbukti adanya jadwal
pemadaman listrik secara bergilir untuk beberapa wilayah guna mengurangi pemakaian
listrik.

Di negara Indonesia sedang dalam proses pemenuhan kebutuhan dari pasokan


listrik, sehingga para ilmuwan dan pihak pemerintah sedang menjalankan suatu solusi
dimana akan membangun Pembangkit Listrik dengan bahan baku yang tidak hanya
minyak. Kita tahu bahwa Pembangkit listrik yang jumlahnya sangat banyak di Indonesia
dan mungkin seluruh dunia ialah menggunakan bahan bakar solar, mengingat bahwa
ironisnya solar merupakan SDM yang tidak dapat diperbaharui dan mulai sedikit
keberadaannya.

Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG) merupakan salah satu pembangkit listrik
yang memanfaatkan bahan bakar gas. Dalam proses menghasilkan energi listrik,
Pembangkit Listrik Tenaga Gas memiliki beberapa komponen utama antara lain
Kompresor, Turbin Gas, Combuster, dan Generator. Semua komponen tersebut
terintegrasi menjadi satu kesatuan sistem unit yang bekerja untuk dapat menghasilkan
listrik. Dalam proses produksinya, unit PLTG sangat dipengaruhi oleh evaluasi kinerja
dari setiap komponen komponen yang terlibat di dalam unit PLTG tersebut.

Dari pernyataan diatas, sehingga penulis akan menjelaskan tentang Pembangkit


Listrik Tenaga Gas secara detail di bab selanjutnya.

1.2. Rumusan masalah


Berdasarkan latar belakang di atas dapat diberikan perumusan masalah sebagai
berikut:
1. Sejarah awal mula Pembangkit Listrik Tenaga Gas

1 1
2. Definisi PLTG
3. Harga Listrik yang Dihasilkan PLTG
4. Prinsip Kerja dari PLTG
5. Siklus PLTG
6. Instrumentasi dan Sistem Proteksi PLTG
7. Operasi PLTG
8. Sistem Kelistrikan PLTG
9. Single Line Diagram PLTG
10. Layout PLTG
11. Kelebihan dan kekurangan PLTG ?

1.2. Tujuan Penulisan


Dari rumusan masalah diatas, dapat disimpulkan bahwa tujuan pembuatan
makalah ini agar dapat mengetahui :
1. Sejarah awal mula Pembangkit Listrik Tenaga Gas
2. Definisi PLTG
3. Harga Listrik yang Dihasilkan PLTG
4. Prinsip Kerja dari PLTG
5. Siklus PLTG
6. Instrumentasi dan Sistem Proteksi PLTG
7. Operasi PLTG
8. Sistem Kelistrikan PLTG
9. Single Line Diagram PLTG
10. Layout PLTG
11. Kelebihan dan kekurangan PLTG ?

1.4. Manfaat Penulisan


Penulisan tugas besar ini, supaya penulis dan pembaca bisa lebih memahami
tentang pembangkit listrik tenaga gas, beserta sistem operasi dari PLTG.

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Sejarah awal mula Pembangkit Listrik Tenaga Gas


Teknologi transmisi dan distribusi jaringan listrik hampir tidak mengalami
perubahan selama 100 tahun. Sementara teknologi lain seperti media digital pribadi dan
energi yang terdistribusi sudah sangat berkembang, dan perkembangan tersebut gagal
diikuti oleh teknologi jaringan listrik. Pada sisi transmisi, yang menjadi permasalahan
adalah cukupkah transmisi yang ada untuk mengalirkan listrik yang bersumber dari
energi terbarukan ke dalam jaringan transmisi dan distribusi. Karena banyak sumber
energi terbarukan yang terletak di lokasi yang sangat jauh dari pusat beban. Untuk saat
ini, ada beberapa teknologi jaringan listrik yang bisa dipertimbangkan para pengembang
jaringan, yaitu HVDC dan kabel berteknologi nano. High Voltage Direct Current
(HVDC), meski bukan merupakan konsep baru, tetapi di Amerika Serikat menjadi
perhatian seiring dengan banyaknya energi listrik yang bersumber dari energi terbarukan
yang harus dikirimkan kepada beban.

Sektor distribusi menghadapi masalah yang lain lagi, meteran dan laju beban yang
bisa timbul dengan adanya pembangkit-pembangkit listrik energi terbarukan skala kecil.
Artinya, dibutuhkan sistem jaringan listrik yang cerdas. Untuk mengatur dan
mengendalikan listrik masuk ke dalamnya, peralatan pengatur interaktif, pengawasan
jaringan, fasilitas penyimpanan energi dan sistem yang bisa memberikan respon adanya
permintaan perlu diterapkan. Meng-upgrade infrastruktur transmisi dan distribusi tidak
murah dan tidak bisa dapat dilakukan dalam waktu dekat. Menurut Electric Power
Research Institute, biaya yang diperlukan untuk upgrading jaringan dengan teknologi
cerdas sebesar US$ 100 milyar. Penyedia listrik dan jaringan akan membayar mahal
untuk upgrading tersebut, sama halnya dengan para pelanggannya yang akan membayar
lebih mahal. Tetapi, walau bagaimanapun, besarnya biaya yang dibutuhkan untuk
upgrade sebanding dengan dampak ekonomi yang akan terjadi jika terjadi kegagalan
jaringan listrik. Sebagai contoh, di tahun 2003 sebagian wilayah utara Amerika Serikat
mengalami black out dan kerugian yang dialami sekitar US$ 6 milyar hanya untuk
beberapa hari.

Bersamaan dengan ini, akhirnya tenaga listrik dibangkitkan di pusatpusat listrik


(power station) dan menambah pembangkit PLTG, kemudian disalurkan melalui saluran

3
transmisi setelah terlebih dahulu dinaikkan tegannya oleh transformator penaik tegangan
yang berada di pusat listrik. Saluran tegangan tinggi di Indonesia mempunyai tegangan
150 kV yang disebut sebagai Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) dan tegangan 500
3
kV yang disebut sebagai Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET).

2.2. Definisi PLTG


Pembangkit listrik tenaga gas (PLTG) merupakan sebuah pembangkit energi
listrik yang menggunakan peralatan/mesin turbin gas sebagai penggerak generatornya.
Turbin gas dirancang dan dibuat dengan prinsip kerja yang sederhana dimana energi
panas yang dihasilkan dari proses pembakaran bahan bakar diubah menjadi energi
mekanis dan selanjutnya diubah menjadi energi listrik atau energi lainnya sesuai dengan
kebutuhannya. Sistem PLTG menggunakan prinsip siklus Brayton yang dibagi atas siklus
terbuka dan siklus tertutup. Pada siklus terbuka, fluida kerja adalah udara atmosfer dan
pengeluaran panas di atmosfer karena gas buang dari turbin dibuang ke atmosfer. Adapun
kekurangan dari turbin gas adalah sifat korosif pada material yang digunakan untuk
komponen-komponen turbinnya karena harus bekerja pada temperature tinggi dan
adanya unsur kimia bahan bakar minyak yang korosif (sulfur, vanadium dll), tetapi
dalam perkembangannya pengetahuan material yang terus berkembang hal tersebut
mulai dapat dikurangi meskipun tidak dapat secara keseluruhan dihilangkan. Dengan
tingkat efisiensi yang rendah hal ini merupakan salah satu dari kekurangan sebuah turbin
gas juga dan pada perkembangannya untuk menaikkan efisiensi dapat diatur/diperbaiki
temperature kerja siklus dengan menggunakan material turbin yang mampu bekerja pada
temperature tinggi dan dapat juga untuk menaikkan efisiensinya dengan menggabungkan
antara pembangkit turbin gas dengan pembangkit turbin uap dan hal ini biasa disebut
dengan combined cycle.

2.3. Harga Listrik yang Dihasilkan PLTG


Kementerian menerbitkan Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral
Nomor 3 Tahun 2015 tentang Prosedur Pembelian Tenaga Listrik dan Harga Patokan
Pembelian Tenaga Listrik dari PLTU Mulut Tambang, PLTU Batubara, PLTG/PLTMG,
dan PLTA oleh PT PLN (Persero). Sesuai ketentuan Pasal 6 Permen ESDM No. 3 Tahun
2015, untuk memudahkan pelaksanaan negosiasi antara PT PLN (Persero) dengan
pengembang, Menteri menetapkan harga patokan tertinggi. Harga patokan tertinggi

4
pembelian listrik dari PLTG/PLTMG berkapasitas 100 MW ditetapkan sebesar 7,31 cent
dollar AS per kWh.

2.4. Cara Kerja PLTG

Gambar 2.1 Skema PLTG

Apabila kita berbicara tentang PLTG maka kita harus berpikir tentang open cycle.
Pada open cycle dimulai dari pemompaan bahan bakar dan pemasukan udara dari intake air
filter menuju combuster. Di combuster campuran bahan bakar dan udara disemprotkan oleh
nozzle sehingga di ruang bakar terjadi pembakaran. Pembakaran tadi akan memutar turbin
gas yang selanjutnya akan memutar generator yang akan menghasilkan energi listrik.
Udara dengan tekanan atmosfir ditarik masuk ke dalam compressor melalui katup, udara
ditekan masuk ke dalam compressor. Udara ditekan masuk ke dalam combustor dengan
tekanan 250 Psi dicampur dengan bahan bakar dan di bakar dalam ruang bakar dengan
temperatur 2000 30000F. Gas hasil pembakaran yang merupakan energi termal dengan
temperature dan tekanan yang tinggi yang suhunya kira-kira 9000 oC . Dari energi panas
yang dihasilkan inilah kemudian akan dimanfaatkan untuk memutar turbin dimana
didalam sudu-sudu gerak dan sudu-sudu diam turbin, gas panas tersebut temperature dan
tekanan mengalami penurunan dan proses ini biasa disebut dengan proses ekspansi.
Selanjutnya energi mekanis yang dihasilkan oleh turbin digunakan untuk memutar

5
generator hingga menghasilkan energi listrik. Siklus kerja dari PLTG biasa dsebut
dengan siklus Brayton. Siklus tersebut dapat digambarkan sebagai berikut :

Gambar 2.2 Diagram siklus Brayton

Siklus seperti gambar, terdapat empat langkah:

Langkah 1-2 : Udara luar dihisap dan ditekan di dalam kompresor, menghasilkan udara
bertekanan (langkah kompresi)
Langkah 2-3 : Udara bertekanan dari kompresor dicampur dengan bahan bakar, terjadi
reaksi pembakaran yang menghasilkan gas panas (langkah pemberian panas)
Langkah 3-4 : Gas panas hasil pembakaran dialirkan untuk memutar turbin (langkah
ekspansi)
Langkah 4-1 : Gas panas dari turbin dibuang ke udara luar (langkah pembuangan)

Selanjutnya energi mekanis yang dihasilkan oleh turbin digunakan untuk memutar
generator hingga menghasilkan energi listrik.

6
Ada beberapa macam siklus kerja turbin gas sebagai berikut:
1. Turbin gas siklus terbuka (open cycle)
Seperti pada proses kerja turbin gas diatas, dimana gas panas yang diekspansi
didalam turbin akan menghasilkan gas bekas (flue gas) dengan temperature yang
masih cukup tinggi dan tekanan diatas sedikit dari tekanan atmosfir, selanjutnya gas
bekas ini dibuang atau dialirkan ke udara luar, yang ditunjukkan seperti pada gambar
2.3.

Gambar 2.3 Turbin Gas siklus terbuka

2. Turbin gas siklus tertutup (closed cycle)


Seperti pada proses kerja turbin gas diatas, dimana gas panas yang diekspansi
didalam turbin akan menghasilkan gas bekas (flue gas) dengan temperature yang
masih cukup tinggi dan tekanan diatas sedikit dari tekanan atmosfir, selanjutnya gas
bekas ini dialirkan ke kedalam penukar panas (heat rejected) untuk didinginkan
dengan menggunakan media pendingin air atau udara hingga temperaturnya turun
dan dialirkan lagi kedalam sisi masuk (suction) kompresor untuk dikompresi lagi,
yang ditunjukkan seperti pada Gambar 2.4.

7
Gambar 2.4 Turbin gas siklus tertutup

3. Turbin gas siklus terbuka dilengkapi dengan regenerator


Seperti pada kedua proses kerja turbin gas diatas, dimana gas panas yang diekspansi
didalam turbin akan menghasilkan gas bekas (flue gas) dengan temperature yang
masih cukup tinggi dan tekanan diatas sedikit dari tekanan atmosfir, selanjutnya gas
bekas (flue gas) ini dialirkan kedalam heat exchanger yang dikenal dengan istilah
regenerator dimana didalamnya gas bekas ini digunakan untuk memanaskan udara
keluar kompresor sebelum digunakan sebagai udara pembakaran didalam ruang
bakar (combustion chamber), seperti ditunjukkan pada gambar 2.5.

Gambar 2.5 Turbin gas siklus terbuka dengan regenerator

4. Turbin gas siklus terbuka dilengkapi dengan intercooler, regenerator dan reheater
Pada siklus ini baik kompresor maupun turbin gas masing-masing terdiri dari 2 (dua)
bagian yang terpisah dan biasa disebut dengan kompresor tekanan rendah dan

8
kompresor tekanan tinggi serta turbin gas tekanan rendah dan turbin gas tekanan
tinggi. Aliran udara dan gas-gas yang dihasilkan dapat dijelaskan sebagai berikut,
mula-mula udara atmosfir masuk kedalam kompresor tekanan rendah untuk
dikompresi, dari udara tekan yang dihasilkan dialirkan kedalam intercooler untuk
didinginkan hingga menghasilkan temperature dan kelembaban serta tekanan yang
diinginkan dengan menggunakan media pendingin air atau media pendingin lainnya,
dari sini udara tersebut dialirkan ke dalam kompresor tekanan tinggi untuk
dikompresi lagi hingga menghasilkan temperature yang tinggi dan tekanan dengan
kepadatan yang lebih tinggi.
Dari keluaran kompresor tekanan tinggi udara tersebut dialirkan kedalam regenerator
untuk mendapatkan temperature yang lebih tinggi lagi yang bertujuan untuk
memudahkan terjadinya proses pembakaran dengan melalui media pemanas gas
bekas/buang (flue gas) yang memanfaatkan gas bekas hasil dari turbin tekanan
rendah. Selanjutnya udara keluaran dari regenerator dialirkan kedalam ruang bakar
utama (primary combustionchamber) yang menghasilkan proses pembakaran dan dari
proses ini dihasilkan gas panas yang digunakan untuk memutar turbin tekanan tinggi,
hasil ekspansi gas panas dari turbin tekanan tinggi ini berupa gas bekas (flue gas)
dialirkan kedalam ruang bakar kedua (secondary combustion chamber) dan biasa
disebut juga dengan reheater chamber yang selanjutnya gas bekas tersebut digunakan
untuk udara pembakaran didalamnya yang mampu menghasilkan gas panas lagi dan
digunakan untuk memutar turbin tekanan rendah, siklustersebut diatas seperti
ditunjukkan pada Gambar 2.6.

Gambar 2.6 Turbin gas siklus terbuka dengan intercooler, regenerator dan reheater

9
Dari ketiga terakhir siklus turbin gas diatas secara keseluruhan dimaksudkan untuk
menghasilkan sebuah pusat listrik tenaga gas (PLTG) dengan tingkat efisiensi yang
diharapkan lebih tinggi dari turbin gas siklus terbuka. Adapun sebagai pendukung pusat
listrik tenaga gas ini digunakan untuk beberapa alat bantu (auxiliary equipments) untuk
membantu proses siklus turbin gas berjalan dengan baik, seperti:
1) Sistem pelumas (lube oil system).
2) Sistem bahan bakar (fuel system).
3) Sistem pendingin (cooler system).
4) Sistem udara kontrol (air control system).
5) Sistem hidrolik (hydraulic system).
6) Sistem udara tekan (air pressure system).
7) Sistem udara pengkabutan (atomizing air system).

2.5. Instrumensasi dan Sistem Proteksi PLTG

A. Transfer Pump
Transfer pump berfungsi untuk memindahkan fluida yang berupa HSD oil dari tank
menuju ruang bakar.

B. Kompresor Utama
Kompresor utama adalah kompesor aksial yang berguna untuk memasok udara
bertekanan ke dalam ruang bakar yang sesuai dengan kebutuhan. Kapasitas
kompresor harus cukup besar karena pasokan udara lebih (excess air) untuk turbin
gas dapat mencapai 350 %. Disamping untuk mendapatkan pembakaran yang
sempurna, udara lebih ini digunakan untuk pendingin dan menurunkan suhu gas hasil
pembakaran.

C. Inlet Guide Vanes (IGV)


Pada kompresor berkapasitas besar, diisi udara masuk kompresor, yaitu pada inlet
guide vanes dipasang variabel IGV, sedangkan pada kompresor berukuran kecil
umumnya dipasang Fixed Guide Vanes. Variabel IGV berfungsi untuk mengatur
volume udara yang dikompresikan sesuai dengan kebutuhan atau beban turbin. Pada
saat Start Up, IGV juga berfungsi untuk mengurangi surge. Pada saat stop dan selama
start up, IGV tertutup ( pada unit tertentu, posisi IGV 34-48% ), kemudian secara

10
bertahap membuka seiring dengan meningkatnya beban turbin. Pada beban turbin
tertentu, IGV terbuka penuh (83-92%). Selama stop normal IGV perlahan-lahan
ditutup bersamaan dengan turunnya beban, sedangkan pada stop emergency, IGV
tertutup bersamaan dengan tertutupnya katup bahan bakar.

D. Combustion Chamber
Combustion Chamber adalah ruangan tempat proses terjadinya pembakaran. Ada
turbin gas yang mempunyai satu atau dua Combustion Chamber yang letaknya
terpisah dari casing turbin, akan tetapi yang lebih banyak dijumpai adalah memiliki
Combustion Chamber dengan beberapa buah Combustion basket, mengelilingi sisi
masuk (inlet) turbin. Di dalam Combustion Chamber dipasang komponen-komponen
untuk proses pembakaran beserta sarana penunjangnya, diantaranya: Fuel Nozzle,
Combustion Liner, Transition Piece, Igniter, Flame Detektor.

E. Turbin Gas
Turbin Gas berfungsi untuk membangkitkan energi mekanis dari sumber energi panas
yang dihasilkan pada proses pembakaran. Selanjutnya energi mekanis ini akan
digunakan untuk memutar generator listrik baik melalui perantaraan Load Gear atau
tidak, sehingga diperoleh energi listrik. Bagian-bagian utama Turbin Gas adalah:
Sudu Tetap, Sudu Jalan, Saluran Gas Buang, Saluran Udara Pendingin, Batalan,
Auxiallary Gear.

11
Gambar Turbin Gas
F. Load Gear
Load Gear atau main Gear adalah roda gigi penurun kecepatan putaran yang dipasang
diantara poros Turbin Compressor dengan poros Generator. Jaringan listrik di
Indonesia. Memilii frekwensi 50 Hz, sehngga putaran tertinggi generator adalah 3000
RPM, sedangkan putaran turbin ada yang 4800 RPM atau lebih.

G. Alat Bantu
Pada saat muai start up, belum tersedia udara untuk pembakaran. Udara pembakaran
disuplai oleh kompresor aksial, sedangkan kompresor aksial harus diputar oleh turbin
yang pada saat start up belum menghasilkan tenaga bahkan belum berputar. Oleh
karenanya, pada saat start up perlu ada tenaga penggerak lain yang dapat diperoleh dari :
Motor generator, Motor Listrik, Mesin Diesel

Peralatan pendukung PLTG


Berikut adalah peralatan pendukung yang digunakan dalam kinerja Pembangkit Listrik
Tenaga Gas (PLTG):
a) Air intake berfungsi mensuplai udara bersih ke dalam kompresor.
b) Blow off valve berfungsi mengurangi besarnya aliran udara yang masuk kedalam
kompressor utama atau membuang sebagian udari dari tingkat tertentu untuk
menghindari terjadi stall tekanan udara yang besar dan tiba-tiba terhadap suhu
kompresor yang menyebabkan patahnya suhu kompresor)
c) VIGV (Variavle Inlet Guide Fan) Berfungsi penyalaan awal atau start up. Campuran
bahan bakar dengan udara dapat menyala oleh percikan bunga api dari ignitor yang

12
terpasang di dekat fuel nozzle burner dan campuran bahan bakar menggunakan bahan
bakar propane atau LPG.
d) Lube oil system. Berfungsi memberikan pelumasan dan juga sebagai pendingin
bearing-bearing seperti beraring turbin, kompressor, generator. Memberikan minyak
pelumas ke jacking oil system, memberikan suplai minyak pelumas ke power oil
system. Sistem pelumas di dinginkan oleh pendingin siklus tertutup.
e) Hydraulic Rotor Varring. Rotor bearing system terdiri dari : DC pump, Manual
Pump, Constant pressure valve, pilot valve, hydraulic piston rotor barring. Rotor
barring beroperasi pada saat unit stand by dan unit shutdown (selesai operasi). Rotor
barring on < 1 rpm. Akibat yang timbul apabila rotor barring bermasalah ialah rotor
bengkok dan pada saat start up akan timbul vibrasi yang tinggi dan dapat
menyebabkan gas turbin trip.
f) Exhaust fan oil vapour. Berfungsi utama membuang gas-gas yang tidak terpakai yang
terbawa oleh minyak pelumas setelah melumasi bearing-bearing turbin, kompressor
dan generator. Fungsi lain adalah membuat vaccum di lube oil tank yang tujuannya
agar proses minyak kembali lebih vepat dan untuk menjaga kerapatan minyak
pelumas di bearing-bearing (seal oil) sehingga tidak terjadi kebocoran minyak
pelumas sisi bearing.
g) Power Oil System berfungsi mensuplai minyak pelumas ke:
- Hydraulic piston untuk menggerakan VIGV
- Control-control valve (CV untuk bahan bakar dan CV untuk air)
- Protection dan safety system (trip valve staging valve)

Terdiri dari 2 buah pompa yang digerakan oleh 2 motor AC. Jacking Oil System
berfungsi mensuplai minyak ke journal bearing saat unit shut down atau standby dengan
tekanan yang tinggi dan membentuk lapisan film di bearing.
Terdiri dari 6 cylinder piston-piston yang mensuplai ke line-line:
- Dua line mensuplai minyak pelumas ke journal bearing.
- Dua line mensuplai minyak pelumas ke compressor journal bearing.
- Satu line mensuplai minyak pelumas ke drive end generator journal bearing.
- Satu line mensuplai minyak pelumas ke non drive end generator journal bearing.

Filosofi dasar dari sistem proteksi adalah bagaimana melindungi sistem tenaga listrik
dari ekses gangguan yang terjadi pada sistem dengan cara memisahkan gangguan

13
tersebut dari sistem lainnya dengan cepat dan tepat. Kualitas sistem proteksi yang
diinginkan adalah yang cepat,sensitif,selektif dan andal. Cepat berarti, reaksi sistem
proteksi tersebut harus secepat mungkin memisahkan daerah yang terganggu dari sistem
lainnya, tanpa menimbulkan hal-hal lain yang menimbulkan bentuk gangguan baru pada
sistem. Sensitif berarti, sistem proteksi tersebut bereaksi terhadap gangguan yang
bagaimanapun kecilnya selama gangguan tersebut termasuk dalam tugasnya. Selektif
berarti, sistem proteksi tersebut harus bereaksi dengan tepat, sehingga yang dipisahkan
dari sistem hanya bagian yang terganggu, tanpa menyebabkan bagian lain yang tidak
seharusnya terpisah dari sistem turut dipisahkan dari sistem.
Andal berarti, sistem proteksi tersebut akan bekerja sesuai apa yang diharapkan, dimana
keandalan dapat mengacu pada konsepsecurityataudependability. Keandalan dengan
konsep security berarti, suatu kepastian bahwa sistem proteksi tidak akan salah operasi,
yang berarti sistem proteksi tidak akan bereaksi terhadap gangguan yang bukan
diperuntukkan kepadanya bagaimanapun besarnya gangguan tersebut, sedangkan
keandalan dengan konsep dependability berarti suatu kepastian bahwa sistem proteksi
pasti bereaksi untuk kondisi yang dirasakan sebagai kondisi gangguan.
Dalam banyak sistem kedua hal di atas tidak mungkin kedua duanya dipenuhi 100%,
sehingga banyak sistem yang merupakan sistem kompromi antar keduannya.

Kesederhanaan, dimana digunakan peralatan dan rangkaian yang sederhana akan tetapi
tujuan tercapai. Ekonomis, dimana dengan biaya yang minimum dapat dicapai fungsi
proteksi yang maksimum.

2.5.1 Alat Sensor


Alat sensor berfungsi untuk mendeteksi perubahan parameter pada sistem dari
peralatan yang diproteksi. Alat sensor ini berupa VT (voltage transformer) dan CT
(current transformer).

2.5.2 Relay Proteksi


Pada PLTG GE relay proteksi yang digunakan adalah relay numeric yang mana
dikendalikan oleh sebuah microprocessor. Relay numeric atau relay digital yang
digunakan adalah DGP System. DGP system adalah sebuah mikroprosesor yang
dikombinasikan dengan relay digital di mana menggunakan sampling bentuk gelombang
dari arus dan tegangan input untuk keperluan proteksi, control, dan memonitor generator.

14
Sampling tadi digunakan untuk menghitung arus dan phasa tegangan yang mana
digunakan untuk fungsi alogaritma proteksi. DGP System menggunakan interface MMI
(Man Machine Interface) dan DGP LINK software komunikasi yang sesuai dengan GE
digital relay system.
Di bawah ini beberapa fungsi proteksi yang ada pada DGP System :
1) Stator Differential (87G)
2) Current Unbalance (46)
3) Loss of Exicitation (40)
4) Antimotoring (32-1)
5) Time overcurrent with voltage restraint (51V)
6) Stator Ground (64G1)
7) Ground Overcurrent ( 51 GN)
8) Over exicitation (24)
9) Overvoltage (59)
10) Undervoltager (27)
11) Over and Undefrequency (81)
12) Voltage Transformer Fuse Failure (VTFF)

Stator Differential
Fungsi ini menyediakan Proteksi dengan kecepatan tinggi selama terjadi gangguan
phasa-phasa, dan tiga phasa didalam stator generator. Stator differential menggunakan
sebuah produk restraint alogaritma dengan dual slope karakteristik. Stator differential
tidak akan bekerja untuk gangguan berulang pada belitan mesin. Ini juga tidak akan
bekerja untuk ganguan satu fasa ketanah, jika sistem tersebut tidak ditanahkan atau
ditanahkan dengan impedansi yang tinggi. Proteksi terhadap hubung tanah akan
berfungsi jika netral dari mesin ( atau salah satu mesin yang dioperasikan parallel)
ditanahkan. Sebuah bagian kecil dari belitan sampai titik netral tidak dapat diproteksi,
jumlah gangguan sangat ditentukan dari tegangan yang dapat menyebabkan arus pick-up
minimum yang mengalir sampai titik netral dan impedansi pentanahan. Peralatan
pembatas arus pada rangkaian netral tanah akan meningkatkan impedansi netral dan akan
menurunkan fungsi proteksi gangguan tanah.

15
Current Unbalance
Di sini ada beberapa kondisi tidak normal pada generator, kondisi tidak normal ini dapat
berupa ketidakseimbangan beban, gangguan pada sistem dan rangkaian terbuka.
Komponen urutan negative (I2) dari arus stator berhubungan langsung dengan kondisi
tidak normal ini dan pengaturan jumlah putaran fluks medan pada mesin. Kekurangan ini
akan menyebabkan pemanasan pada inti rotor. Kemampuan dari mesin untuk bertahan
dari pemanasan yang disebabkan oleh arus yang tidak terbatas (unbalance current).
Proteksi current unbalance dari DGP sistem menyediakan karakteristik waktu operasi
yang cepat sesuai I2 T = K. Sebuah karakteristik linear yang dibuat kira-kira untuk
pendinginan mesin sementara pada kondisi arus yang tidak terbatas ( unbalance current ).
Didalamya ditambahkan 46T, DGP sistem juga memasukkan sebuah alarm unbalance
current (46A) yang mana dioperasikan oleh komponen urutan negative (I2) disesuaikan
dengan pick-up dan time delay.

Loss of Excitation
Fungsi ini digunakan untuk mendeteksi kekurangan eksitasi pada mesin sinkron. DGP
sistem memasukkan dua karakteristik mho, untuk mendeteksi mesin, tiap bagian
disesuaikan jangkauan, waktu mati dan pewaktuan. Logika disediakan dalam DGP
system untuk memblok fungsi ini dari adanya tegangan urutan negative ( dideteksi oleh
sebuah Voltage transformer fuse failure condition) dan sebuah eksternal VTFF Digital
input DI6. Eksitasi dapat hilang karena tripnya field breaker, rangkaian terbuka atau
hubung singkat pada belitan medan, kerusakan pada regulator, atau hilangnya sumber
untuk meyupplai belitan medan. Ketika sebuah generator sinkron kehilangan eksitasi, ini
cenderung membuatnya menjadi sebuah generator induksi. Jika ini berlangsung pada
kecepatan normal, beroperasi dengan daya yang berkurang, dan penerimaan daya reaktif
(VARS) dari sistem. Impedansi ini dilihat oleh relay, relay melihat generator bukan
sebagai gangguan tetapi merupakan karakteristik mesin. Aliran daya sebelumnya
berkurang akibat eksitasi. Studi mengindikasi bahwa fungsi dari zona mho dapat diset
untuk mendeteksi kasus kegagalan eksitasi dalam waktu yang singkat. Dan zona kedua
dapat mendeteksi semua kasus kegagalan eksitasi. Setting waktu yang lama dibutuhkan
oleh second zone (40-2) untuk keamanan selama kondisi ayunan daya untuk sistem
stabil.

16
Anti Motoring
Fungsi ini untuk mengatasi terjadinya aliran daya aktif dari sistem ke generator. Kondisi
ini terjadi saat semua atau sebagian prime mover hilang daya putarnya, dan saat itu juga
daya yang dibangkitkan kurang dari daya beban. Daya aktif / nyata akan mulai mengalir
ke dalam generator dari sistem. Motoring power secara khusus membedakan jenis
penggerak mula seperti yang ditunjukkan oleh Tabel di bawah. Untuk spesifikasi
penggunaan, minimum penggerak daya dari generator dapat diperoleh dari supply setiap
unit. DGP system menyediakan sebuah fungsi untuk reverse power (32-1) dan
disesuaikan dengan time delay.

Time overcurrent with voltage restraint (51V)


Sebuah sistem harus dapat dilindungi dari gangguan, untuk itu time overcurrent with
voltage restraint yang terdapat pada DGP sistem berfungsi untuk sebagai back up
protection.

Stator Ground (64G1)


Fungsi ini untuk mendeteksi adanya gangguan stator ground fault dengan sebuah
impedansi ground yang tinggi pada generator. Pada keadaan normal netral dari belitan
stator mempunyai potensial tertutup terhadap ground.

Ground Overcurrent ( 51 GN)


Fungsi ini untuk mengatasi adanya arus lebih yang terjadi akibat adanya hubung singkat
pada generator. Prinsip kerja dari Ground over current sama dengan prinsip kerja
overcurrent relay.

Over exicitation (24)


Fungsi ini untuk mengatasi arus eksitasi yang berlebih pada rotor, eksitasi yang lebih
pada generator dapat menaikkan temperatur pada belitan stator akibat arus yang besar
sehingga dapat merusak belitan rotor.

Over Voltage
Fungsi ini untuk mengatasi adanya tegangan lebih pada generator. Tegangan yang
berlebih yang melampaui dari batas maksimum yang diijinkan dapat menyebabkan
kerusakan isolasi dari belitan stator dan berakibat pada hubung singkat antara belitan.

17
Selain itu overvoltage dapat mengakibatkan terjadinya overspeed dan merusak pengatur
tegangan otomatis (AVR).

Under Voltage
Fungsi ini untuk mendeteksi mengatasi tegangan yang rendah pada output generator.
Apabila generator bekerja pada tegangan yang rendah maka akibat pada beban. Tegangan
yang rendah pada generator akan mengakibatkan daya yang dipasok ke beban berkurang
sehingga merugikan. Apabila generator berada dalam interkoneksi maka akan
mengakibatkan terjadinya aliran daya ke generator.

Over and Under Frequency


Fungsi ini untuk mendeteksi frekuensi generator, under frequensi dapat meyebabkan
membukanya CB sehingga perlu dideteksi, untuk mengatasinya dengan dilakukan
dengan menyeimbangkan beban dengan daya yang dibangkitkan. Over frequency dapat
meyebabkan over speed, overvoltage sehingga dapat membahayakan generator.

Voltage Transformer Fuse Failure (VTFF)


Fungsi ini dapat operate untuk semua Partial loss dari tegangan AC yang disebabkan satu
atau lebih blown fuses, jika tegangan AC hilang negative squence voltage detektor akan
pickup dan positive squence detector akan akan drop out.

2.5.3 Circuit Breaker dan Sumber DC


Circuit breaker berfungsi sebagai switch atau saklar yang memutuskan dan
menghubungkan peralatan yang diproteksi dari sistem. Circuit breaker bekerja
berdasarkan perintah dari relay.
Sumber DC yang digunakan pada sistem proteksi Generator PLTG GE berasal
dari sebuah batterai dengan tegangan 125 volt.

2.5.4 Gangguan Pada Generator


Gangguan pada generator dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
1. Gangguan Listrik (electric fault)
2. Gangguan Mekanis/Panas (mechanical thermal fault).
3. Gangguan Sistem (system fault)

18
Gangguan Listrik (electrical fault)
Jenis gangguan ini adalah gangguan yang timbul dan terjadi akibat gangguan
pada bagian listrik dari generator. Gangguan ini meliputi :
a. Hubung singkat tiga fasa
b. Hubung singkat dua fasa
c. Hubung singkat belitan stator ke tanah ( Stator ground fault )
Kerusakan pada gangguan dua fasa dapat diperbaiki dengan menyambung (laping)
atau mengganti sebagian dari konduktor, tetapi kerusakan akibat gangguan satu fasa
ketanah yang bunga api dan merusak isolasi serta inti besi. Kerusakan ini sangat fatal
dan memerlukan perbaikan total.
d. Hubung singkat belitan rotor hubung tanah (rotor ground fault)
Jika terjadi hubungsingkat satu titik ketanah belum memberikan pengaruh terhadap
roror, namun jika hubung singkat ketanah terjadi pada dua titik maka akan seolah-
olah hubung sinkat antara dua belitan. Pengaruh dari hubung singkat dua titik adalah:
Gaya tarik rotor menjadi tidak seimbang sehingga putarannya menjadi
berayun
Mempercepat kerusakan bantalan.

Bisa menyebabkan gesekan antara rotor dan stator, yang menyebabkan


pemanasan pada bagian yang bergesek, sehingga dapat meyebabkan sifat
isolasi dari belitan stator berubah. Dan selanjutnya mentebabkan
hubungsingkat antara belitan atau hung tanah pada stator.
e. Kehilangan arus eksitasi (loss excitation)
Hilangnya arus eksitasi dapat menyebabkan putaran mesin menjadi naik dan
mengubah fungsi generator sinkron menjadi generator induksi. Kondisi ini akan
menyebabkan pemanasan lebih pada rotor akibat arus induksi yang bersirkulasi pada
rotor.
f. Tegangan lebih (overvoltage)
Tegangan yang berlebih yang melampaui dari batas maksimum yang diijinkan dapat
menyebabkan kerusakan isolasi sari belitan stator dan berakibat pada hubung singkat
antara belitan. Selain itu overvoltage dapat mengakibatkan terjadinya overspeed dan
merusak pengatur tegangan otomatis (AVR).

19
Gangguan mekanis/panas (mechanical or thermal fault)
Jenis-jenis gangguan mekanis atau panas adalah :
a. Generator berfungsi sebagai motor
Motoring adalah peristiwa berubahnya fungsi generator menjadi motor akibat adanya
daya balik (reverse power). Daya balik (reverse power) terjadi akibat turunnya daya
masukan dari penggerak utama (prime mover). Sehingga torka listrik lebih besar dari
torka mekanik, hal ini mengakibatkan terjadi perubahan bentuk dari sudu-sudu turbin
(kavitasi sudu-sudu turbin).
b. Pemanasan lebih pada stator
Pemanasan lebih pada stator meyebabkan :
Kerusakan laminasi

Kendornya bagian-bagian tertentu pada generator seperti pasak-pasak stator


(stator wedges), terminal /ujung belitan dan sebagainya.
c. Kesalahan paralel
Kesalahan dalam memparalelkan generator karena syarat-syarat paralel tidak
terpenuhi mengakibatkan kerusakan pada bagian poros dan kopling generator dan
penggerak utama karena terjadinya momen puntir.
d. Gangguan pada pendingin stator
Gangguan pada pendingin stator (pendingin dengan media udara, hydrogen atau air)
menyebabkan kenaikan suhu belitan stator dan berakibat pada isolasi belitan.

Gangguan sistem (system fault)


Gangguan pada system yang berakibat pada generator yaitu :
a. Terjadinya pelepasan beban secara mendadak ;
Terjadinya gangguan hubung singkat baik itu tiga fasa, dua fasa, dua fasa ketanah,
satu fasa ketanah dan open circuit menyebabkan bekerjanya relay proteksi dan
berakibat pada pelepasan beban. Pelepasan beban mengakibatkan daya yang
dibangkitkan lebih besar dari daya yang beban, akibatnya torka mekanik lebih besar
dari torka listrik sehingga frekuensi dan tegangan generator menjadi naik.
b. Lepas sinkron (loss of syncronization)
Apabila kondisi pada point a. berlanjut terus maka akan mengakibatkan ketidak
stabilan sistem. Hal ini mengakibat stress pada belitan generator dan gaya punter

20
yang berfluktuasi dan beresonansi, sehingga akan merusak turbine dari generator.
Pada kondisi ini Generator harus dilepas dari sistem.

2.6. Operasi PLTG


Secara garis besar urutan kerja dari proses operasi PLTG adalah sebagai
berikut :
1. Proses starting. Pada proses start awal untuk memutar turbin menggunakan mesin
diesel sampai putaran poros turbine/compressor mencapai putaran 3.400 rpm maka
secara otomatis diesel dilepas dan akan berhenti.
2. Proses kompressi. Udara dari luar kemudian dihisap melalui air inlet oleh kompresor
dan masuk ke ruang bakar dengan cara dikabutkan bersama bahan bakar lewat nozzle
secara terus menerus dengan kecepatan tinggi.
3. Transformasi energi thermis ke mekanik. Kemudian udara dan bahan bakar
dikabutkan ke dalam ruang bakar diberi pengapian (ignition) oleh busi (spark plug)
pada saat permulaan pembakaran. Pembakaran seterusnya terjadi terus menerus dan
hasil pembakarannya berupa gas bertemperatur dan bertekanan tinggi dialirkan ke
dalam cakram melalui sudu-sudu yang kemudian diubah menjadi tenaga mekanis
pada perputaran porosnya.
4. Transformasi energi mekanik ke energi listrik. Poros turbin berputar hingga 5.100
rpm, yang sekaligus memutar poros generator sehingga menghasilkan tenaga listrik.
Putaran turbin 5.100 rpm diturunkan oleh load gear menjadi 3.000 rpm, dan
kecepatan putaran turbin ini digunakan untuk memutar generator.
5. Udara luar yang dihisap masuk compressor, kemudian dimanfaatkan hingga pada sisi
keluarannya menghasilkan tekanan yang cukup tinggi. Bersama dengan udara yang
yang bertekanan tinggi, bahan bakar dikabutkan secara terus menerus dan hasil dari
pembakaran tersebut dengan suatu kecepatan yang tinggi mengalir dengan
perantaraan transition piece menuju nozzle dan sudu - sudu turbin dan pada akhirnya
keluar melalui exhaust dan dibuang ke udara bebas.

21
2.7. Single Line Diagram PLTG dan Sistem Kelistrikan PLTG

2.8. Layout PLTG

22
2.9. Kelebihan dan Kekurangan PLTG
Dari segi operasi, unit PLTG tergolong unit yang masa startnya singkat yaitu
sekitar 15 ~ 30 menit dan umumnya dapat distart tanpa pasokan daya listrik dari luar,
karena menggunakan mesin diesel sebagai penggerak awalnya. (Diesel engine motor
start). Dari segi pemeliharaan, unit PLTG mempunyai selang waktu pemeliharaan (time
between overhaul) yang pendek yaitu sekitar 4000 ~ 5000 jam operasi. Selain ukuran
23
jam operasi juga dapat dipakai jumlah start-stop sebagai acuan dalam penentuan waktu
overhaul. Jadi walaupun belum mencapai 5000 jam operasi tetapi telah mencapai 300
kali start-stop maka unit PLTG tersebut sudah harus di-inspeksi untuk pemeliharaan.
Dalam proses inspeksi, hal-hal yang perlu diperhatikan adalah bagian-bagian yang
terkena aliran gas hasil pembakaran yang suhunya bisa mencapai 1.300 oC seperti ruang
bakar, saluran gas panas (hot-gas-path) dan juga sudu-sudu turbin. Bagian-bagian ini
umumnya mengalami kerusakan (retak) sehingga perlu dilas atau diganti bila perlu.
Proses start-stop akan mempercepat proses kerusakan (keretakan) karena proses start-stop
menyebabkan proses pemuaian dan pengerutan yang tidak kecil pada bagian-bagian yang
disebutkan di atas. Hal ini disebabkan sewaktu unit PLTG dingin suhunya sama dengan
suhu ruangan yaitu sekitar 30oC namun pada saat beroperasi suhunya dapat mencapai
hingga 1.300oC, demikian pula sebaliknya. Pada saat unit PLTG shut-down, porosnya harus
tetap diputar secara perlahan untuk menghindari terjadinya pembengkokan pada poros
hingga suhunya dianggap cukup aman untuk itu.
Dengan memperhatikan buku petunjuk dari pabrik, ada unit PLTG boleh dibebani
lebih tinggi 10% dari ratingnya untuk waktu 2 jam yang diistilahkan sebagai Peak
Operation. Pengoperasian dalam kondisi seperti ini perlu diperhitungkan sebagai proses
pemendekan selang waktu inspeksi dan pemeliharaan karena peak operation ini
menambah keausan yang terjadi pada turbin sebagai akibat kenaikan suhu operasi.
Dari segi aspek lingkungan, yang perlu mendapat perhatian adalah masalah
kebisingan, jangan sampai melebihi ambang batas yang diizinkan. Masalah lainnya
adalah masalah kebocoran instalasi bahan bakar yang perlu mendapat perhatian
khususnya dari bahaya kebakaran. Unit PLTG umumnya merupakan unit pembangkit
dengan efisiensi yang paling rendah, yaitu sekitar 15 ~ 25 % saja. Sementara ini sedang
dikembangkan penggunaan Aero Derivative Gas Turbine yaitu turbin gas pesawat
terbang yang dimodifikasi menjadi turbin penggerak generator. Hal ini dilakukan
karena untuk daya output yang sama diperoleh dimensi yang lebih kecil.

24
BAB III
KESIMPULAN
3.1. Kesimpulan
Dari laporan tugas besar ini penulis dapat menyimpulkan bahwa :
1. Pembangkit listrik tenaga gas (PLTG) merupakan sebuah pembangkit energi listrik
yang menggunakan peralatan/mesin turbin gas sebagai penggerak generatornya.
Turbin gas dirancang dan dibuat dengan prinsip kerja yang sederhana dimana energi
panas yang dihasilkan dari proses pembakaran bahan bakar diubah menjadi energi
mekanis dan selanjutnya diubah menjadi energi listrik atau energi lainnya sesuai
dengan kebutuhannya.
2. Komponen Utama PLTG terdiri dari : Compressor, Combution Chamber, Turbin
gas, dan generator.
3. Apabila kita berbicara tentang PLTG maka kita harus berpikir tentang open cycle.
Pada open cycle dimulai dari pemompaan bahan bakar dan pemasukan udara dari
intake air filter menuju combuster. Di combuster campuran bahan bakar dan udara
disemprotkan oleh nozzle sehingga di ruang bakar terjadi pembakaran. Pembakaran
tadi akan memutar turbin gas yang selanjutnya akan memutar generator yang akan
menghasilkan energi listrik.

3.2. Saran
Saran penulis untuk pembaca ialah lebih banyak membaca literatur-literatur lain
yang dapat mengembangkan pola pikir pembaca sehingga mengerti secara utuh
bagaimana sistem pembangkit listrik bekerja.

25 25
DAFTAR PUSTAKA
http://bisnis.liputan6.com/read/613190/ri-punya-penampung-cng-terbesar-di-dunia

http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2015/01/13/200200226/PLN.Bisa.Tentukan.Sendiri.
Harga.Patokan.Listrik.dari.Swasta

http://cvdiartona.indonetwork.co.id/1321203/menjual-pltg-1-mw-pembangkit-listrik-tenaga-
gas-pltg-gas.htm

http://elektronika-listrik.blogspot.com/2014/06/jaringandistribusi-pembangkit.html

http://jendeladenngabei.blogspot.com/2013/03/pembangkit-listrik-tenaga-gas-pltg.html

http://learnmine.blogspot.com/2013/07/pembangkit-listrik-terbesar-di-dunia.html

http://meldasiburian.blogspot.com/2010/01/daftar-pembangkit-listrik-di-indonesia.html

https://rahmanta13.wordpress.com/2011/05/09/pembangkit-listrik-tenaga-gas-pltg/

https://www.academia.edu/8652292/MAKALAH_PLTU_PLTG_PLTGU

26