Anda di halaman 1dari 17

WPS (Welding Procedure Specification)

and PQR (Procedure Qualification


Record)

Dalam dunia industri oil and gas WPS merupakan hal yang wajib disiapkan sebelum
proses pembuatan engineering produk pendukung seperti tanki, pressure vessel, heat
exchanger, dll.
PQR (Procedure Qualification Record) merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan
dari WPS.

Standard code yang digunakan dalam pembuatan WPS :


1. ASME IX untuk boiler dan pressure vessel
2. AWS D1.1 untuk struktural welding
3. API 1104 untuk pipe line
4. EN288 (DIN) untuk specification and approval of welding procedure for metalic
materials.

Dalam industri alat berat apakah WPS diperlukan?


Prinsipnya WPS sangat diperlukan sekali dalam proses manufacturing yang berhubungan
dengan proses pengelasan. Dalam aktifitas improvement dimana kita dituntut untuk
melakukan kegiatan reduction cost, WPS dan PQR sangat berperan.
Sebagai contoh dalam pembuatan suatu komponen alat berat yang menggunakan base
metal import dari luar negeri, dengan WPS kita bisa melakukan perubahan penggunaan
material yang tersedia di dalam negeri dengan catatan material yang kita gunakan lulus
setelah di uji dab dituangkan dalam PQR. Jika dalam trial dan eror ini kita berhasil kita
dapa beberapa keuntungan, yaitu : Material cost yang lebih murah, transportation cost,
dll.

Pengertian secara umum WPS dan PQR :


WPS : Prosedur tertulis yang terkualifikasi, disiapkan untuk memberikan panduan bagi
juru las atau operator las untuk melaksanakan las produksi yang memenuhi persyaratan
standard dan code.
PQR : Rekaman data-data hasil pengujian dari pengelasan yang dilaksanakan berdasarkan
WPS yang berisi variabel-variabel yang digunakan selama pengelasan pelat uji.

Dalam pembuatan WPS ada dua variabel yang harus dipertimbangkan, yaitu variabel
penting dan variabel tidak penting.
Variabel penting adalah varibel yang harus diperhatikan, jika ada perubahan terhadap
variabel tersebut maka wajib dilakukan pengujian atau test.
Variabel penting :
1. T(tebal plate) atau t(tebal bahan las yang terdeposisi)
2. P Number yang terkualifikasi (material grouping)
3. A Number
4. Proses PWHT
5. Perubahan proses las
6. Perubahan suhu preheating.

Variabel tidak penting adalah variabel yang jika dilakukan perubahan tidak akan
mempengaruhi hasil sehingga tidak perlu dilakukan pengujian.
Variabel tidak penting :
1. Design kampuh las
2. Root gap
3. Perubahan diameter kawat las
4. Perubahan arah pengelasan
5. Perubahan polaritas arus
6. Perubahan metode gouging.

Demikian ulasan singkat mengenai WPS dan PQR semoga bermanfaat.

MATERI : TRAINING WELDER

1. WPS / PQR

2. CACAT-CACAT PENGELASAN DAN PENANGGULANGANNYA

3. KRITERIA PENERIMAAN HASIL LAS-LASAN

4. PENGETAHUAN MESIN LAS

5. PENANGANAN KAWAT LAS

6. TAHAPAN PENGELASAN TERHADAP DISTORSI & DETORMASI SERTA

7. TIPS PENGELASAN

8. SAFETY

9. PRAKTEK

10. UJIAN TEORI


11. UJIAN PRAKTEK

STANDARD PENERIMAAN HASIL LAS-LASAN BERDASARKAN API 1104

Visual :

Incomplete Penetration : a. < 1, b. < 1 dlm 12 L , c. 8 % weld length >

dlm 12 length

IP karena High-low : a. < 2 , b. < 2 dlm 12 L , c.

Incomplete Fusion : a. < 1 , b. < 1 dlm 12 L , c. < 8 % weld length

dlm 12 length

Internal concavity : Min. sama dengan base metal

Crack : Zero

Under cutting external + Internal : a. <2 dlm 12 length, b. < 1/6 weld length

Radiography :

BT for pipe 2 < : Min. dasity sama B.M dimension <

IF karena cold lap : a. < 2 , b. 2 dlm 12 L , c. < 8% weld length

Slag Inclusion : a. ESI < 2, b. ESI < 2 dlm 12 L , c. width ESI


< 1/16 , d. ISI < dlm 12, e. width ISI < 1/8,
f. ESI+ISI < 8% weld length.

Porosity : - Individual : a. < 1/8, b. < 25 % thickness

- Cluster Porosity : a. Diameter < , b. < dlm 12 ,


c. Individual < 1/16
- Hollow bead : a. < , b. < 2 dlm 12 length , c. < 8%
weld length
Accumulation of Imperfection
a. Aggregate length < 2 dlm 12 length
b. Aggregate length < 8% weld length

PROSES PENGELASAN PADA BAJA KARBON

Baja karbon adalah paduan besi (Fe) dan karbon. Biasanya kadar karbon tidak melebihi 1%,
Mn tidak melebihi 1.65%, Cu dan Si masing-masing tidak melebihi 0.60 %.

Baja karbon (Carbon Steel) dapat dibagi sebagai berikut :


1. Baja karbon rendah (Low carbon steel)
2. Baja karbon sedang (Medium carbon steel)
3. Baja karbon tinggi (High carbon steel)
4. Baja lunak.

Semua baja karbon ini (Carbon ssteel) dapat dilas dengan bermacam-macam proses
pengelasan :
Proses pengelasan SMAW
Proses pengelasan GTAW
Proses pengelasan FCAW
Proses pengelasan GMAW
Proses pengelasan SAW, dengan menggunakan elektroda yang sesuai pada kadar karbonnya
ataupun elektroda yang tercantum pada WPS (Welding Procedure specification).

Retak las yang mungkin terjadi pada baja karbon dengan pelat/pipa yang tebal dapat
dihindari dengan pemanasan mula (preheating). Dan makin tinggi tebal pelat dan makin
besar tegangan penahan, suhu pemanasan mula makin tinggi.

Semua baja karbon ini (Carbon Steel) termasuk material Pre. 1. Dan di dalam proses
pengelasan pemakaian kawat las (Electrode) harus sesuai dengan jenis materialnya
beserta kadar karbonnya. Di sini kami cantumkan jenis-jenis kawat las yang dipakai pada
proses pengelasan carbon steel.

Untuk proses pengelasan SMAW


E. 6010 E. 7010
E. 6013 E. 7028. Dan semua ini mengacu pemakaian elektroda yang tercantum
pada WPS.

Untuk proses pengelasan GTAW


ER. 70 S 2
ER. 70 S G
ER. 70 S 6 dan mengacu ke WPS yang dipakai.

Untuk proses pengelasan FCAW


trod dual shield ultra 7100)
hield 8)

Untuk proses pengelasan GMAW


E. 70 S 2 E. 70 S 6

Untuk proses pengelasan SAW

Flux 10.71 (ESAB) (F7 A4 EM 12 K)


a. ut rod 12.32 wire
O rod (ESAB) Flux
k 10.62 (ESAB)
(F7 A8 EH 12K)
o b. Ok out rod 12.22 (wire rod (ESAB)

Untuk elektroda SMAW


Seperti : E. 7016 , E.
7026 1 , E. 7028 - G
E. 7028 , E. 7028 1 sebelum dipergunakan untuk
mengelas terlebih dahulu dipanaskan sesuai dengan petunjuk
sebagai berikut :

Jika container / pack dibuka hanya untuk digunakan periode 8 jam


apabila ada sisa, harus disimpan di oven.

Jika elektroda, container dibuka, elektroda basic harus disimpan pada


oven temperature 120o C
150o C selama 8 jam, untuk weld steel elektroda.

Ruang penyimpanan elektroda basic harus dikontrol dengan humadity <


50 %.

Sewaktu pelaksanaan pengelasan, elektroda las harus selalu


berada dalam quiver (s) dan dalam keadaan panas, kabel quiver
selalu terpasang pada power elektrik tension.

Hal yang penting dalam pemilihan elektroda las pada


pengelasan SMAW & GTAW
untuk baja carbon adalah : - Kekuatan logam dasar
- Komposisi kimia logam dasar
- Posisi pengelasan
- Sumber tenaga
- Bentuk sambungan
- Tebal dan bentuk logam dasar
- Kondisi atau spesifikasi pemakaian
- Efisiensi produksi

PEMILIHAN MATERIAL & FIT-UP

Pemilihan material untuk difit-up harus benar-benar material yang baik dan bagus dan
disyaratkan oleh WPS, seperti material spec. , material class dan P. number serta heat
numbernya material tersebut. Setelah benar-benar material layak untuk difit-up, terlebih
dahulu perisapkan kampul las yang benar dan baik yang disyaratkan juga oleh WPS,
persiapan kampul las yang salah dapat mengakibatkan cacat-cacat las. Untuk
menghasilkan sambungan las yang baik persiapan kampul harus baik yang dibuat
menurut spesifikasi yang telah ditentukan. Persiapan kampul las yang baik dan benar
adalah :
1. Root opening (gap antara logam yang akan dilas)
2. Root face
3. Groove face (permukaan kampul las)
4. Groove angle (sudut kampul dari logam yang akan di las)
5. Tack weld yang kuat serta antara root gap diberi bridge untuk dilas.
6. Dibersihkan, bebas dari kotoran-kotoran, debu serta benda-benda yang lain pada joint
yang akan dilas.
7. Apabila diisyaratkan perlu pemanasan awal, harus dilakukan sesuai dengan aturan di
dalam WPS.

FIT-UP

a. Fit-up (penyetelan) adalah kegiatan dimana fitter (pipe fitter) menyiapkan / merangkai
dan menyambung bagian-bagian yang akan mengalami proses pengerjaan selanjutnya,
yaitu proses pengelasan.
b. Hal-hal yang perlu diperhatikan pada saat penyetelan / Fit-up adalah :
Persyaratan tentang ketidak lurusan (miss aligment) dari sambungan las (butt joint groove
weld) untuk pipa dan tube.
Jarak antara sambungan
Tebal/besarnya root face, sudut alur las/bevel (groove angle)
Identifikasi material
Kebersihan permukaan sambungan
Tack weld / las ikat
WPS
Cara pengikatan (bridging)
Penguat (temporary holding bor)
Pengalaman.

c. Kualitas fit-up dan tack welding akan memberikan bantuan kontribusi yang sangat besar,
terhadap hasil pekerjaan selanjutnya yaitu pengelasan.
Jika fit-upnya baik akan baik dan sebaliknya jika jelek maka hasil akhir pengelasan juga
tidak baik.

PEMBERSIHAN LAS (WELDING CLEANING)

Ada 3 (tiga) tahapan yang dilakukan untuk pembersihan las yaitu :


1. Sebelum pengelasan
2. Selama pengelasan
3. Sesudah pengelasan

I. Pembersihan Sebelum Pengelasan


Pembersihan sebelum pengelasan adalah bertujuan untuk menghilangkan semua kotoran
yang ada pada daerah sambungan yang akan dilas. ( 1 /25.9 mm) dan tepi sambungan
(luar / dalam atau atas / bawah atau kanan / kiri)
Pembersihan ini dilakukan untuk semua sambungan las yaitu groove weld, fillet weld
baik pressure parts (bagian-bagian bertekanan) dan non pressure parts (tidak bertekanan)
tanpa perkecualian.
Kotoran-kotoran tersebut dapat berupa : karat, cat, oli, debu, air dll.

Cara pembersihannya adlah dengan menggunakan sikat kawat (baja karbon atau stainless
steel), gerinda atau cairan pembersih (aceton) atau dengan pemanasan menggunakan
heating torch, jika perlu (agar terjadi penguapan). Sebab kotoran-kotoran tersebut di atas
dibersihkan untuk mencegah terjadinya kerusakan-kerusakan las selama pengelasan
berlangsung, dan jika tidak dibersihkan, maka hasil pengelasan pada logam las akan
terjadi diskontinyuitas (discontinuity) yang berupa gelembung-gelembung udara kecil
yang tertinggal di dalamnya yang disebut poros (porosity).
Kotoran-kotoran tersebut juga mengandung unsur-unsur yang dapat menghasilkan gas
seperti H2 dan O2 yang mana pada saat proses pengelasan gas-gas tersebut dapat bereaksi
atau terlarut di dalam logam las.
Hal lain yang sangat berbahaya adalah H2 yang terlarut dalam logam las yang dapat
menyebabkan terjadinya retak las / crack (under bead crack).
Retak las tersebut baru dapat dideteksi setelah selang waktu 48 jam (delayed cracking).

Yang perlu diperhatikan sebelum pelaksanaan pengelasan


1. Periksa kebersihan sambungan dari kotoran seperti karat, debu, minyak, cat, oli, dll harus
dibersihkan jika ada.
2. Periksa penyetelan (fit-up) sambungan (kelurusan/miss aligment, sudut alur las/groove
angle, root opening dan root face), apakah sesuai gambar standard.
3. Periksa las ikat/tack weld apakah ada retak las/crack, hilangkan/gerinda jika ada.
4. Periksa apakah disyaratkan pemanasan awal/preheat, lakukan sesuai temperature yang
diminta WPS. Gunakan kapur pengukur panas (tempil stick), thermomelt) untuk
mengetahui apakah panasnya sudah tercapai.
5. Periksa/lihat ukuran las (leg size ketinggian las) yang diminta pada gambar.
6. Siapkan SWMR untuk pengambilan kawat las.
7. Gunakan portable oven/quiver (pemanas electroda las), jika diperlukan.

II. Pembersihan selama pengelasan


Pembersihan pengelasan dilaksanakan juga pada saat pengelasan, yaitu jika melakukan
pengelasan berlapis (multi layer) pada pelat tebal. Sebelum melakukan pengelasan
berikutnya, maka semua terak las harus dibersihkan dahulu dengan menggunakan alat,
berupa sikat kawat/wire brush, palu tetek/chipping hammer atau dengan menggunakan
gerinda/lap brush dan setiap welder harus mempunyai peralatan ini.

Dan jika pembersihan ini tidak dilakukan, maka akan dapat menyebabkan diskontinyuitas
yang berupa inklusi terak / slag inclusion, yaitu tertinggalnya terak las di dalam logam las
yang tidak sempat keluar ke permukaan logam las.

Yang perlu diperhatikan selama (sedang) peleksanaan pengelasan.


1. Gunakan kawat las seusai spesfifikasi yang disyaratkan pada WPS.
2. Gunakan parameter las (ampere dll.) sesuai dengan range amper pada WPS.
3. Nyalakan busur las pada tempat / alur yang akan dilalui oleh busur las, sehingga tidak
meninggalkan arc strike.
4. Jika pengelasan berlapis/multiplayer bersihkan terak las/slag dengan sikat baja (untuk
bahan carbon steel) atau sikat stainless steel (untuk stainless steel, duplex & CuNi)
sebelum melakukan pengelasan selanjutnya.
5. Periksa inter pass temperature yang diminta WPS.
6. Pastikan open pemanas kawat las/quiver dalam keadaan ON.
7. Kumpulkan puntung kawat las/end stub pas satu tempat.

III. Pembersihan setelah pengelasan


Pada saat selesai pengelasan, maka welder/juru las wajib untuk membersihkan hasil
pengelasannya, yaitu membersihkan terak las/atau percikan las (weld spatter) dll.
Dan seorang welder/juru las yang qualified, sebelum hasil pengelasannya
diperiksa/dickeck oleh QC inspector, terlebih dahulu welder yang bersangkutan
memeriksa sendiri hasil penegelasannya, apakah sudah benar-benar layak dan baik sesuai
dengan criteria visual.

Periksalah dahulu hasil las setelah/selesai pengelasan


1. Bersihkan terak las/slag dengan sikat baja atau stainless steel sesuai dengan logam las.
2. Periksa adanya diskontinuitas atau cacat las (porosity, under cut dll.),
cocokkan/bandingkan dengan persyaratan yang diminta, jika ada perbaiki.
3. Periksa apakah ukuran las sesuai dengan permintaan (leg size, ketinggian las).
4. Bersihkan spatter dengan sikat (cap brush) atau gerinda.
5. Bersihkan lokasi tempat pelaksanaan pengelasan.

WELDING SEQUENCE (URUTAN PENGELASAN)

Menentukan urutan pengelasan yang benar, teratur dan rapi dapat menghasilkan
pengelasan yang baik dan hasilnya akan baik pula. Urutan penegelasan yang simetri
dapat mengurangi perubahan bentuk. Perubahan memanjang dan perubahan pulir dapat
dikurangi dengan menggunakan urutan pengelasan meloncat.

1.0. Tujuan
Proses welding pada carbon steel terutama piping dapat dilakukan dengan benar dan
menghasilkan nutu yang baik dengan mengacu ke standard dan spesifikasi pihak client.
2.0. Rujukan
- TOTAL spesification for process piping : SP-TCS-611 Rev. 6
- ASME B.31.3
- ANSI B31.3
3.0. Tindakan
3.1. Welder harus mempersiapkan alat-alat kerja yang diperlukan :
Welding rectifier c/w cable welding dan ground (cable massa c/w clamp)
Holder (stang las welding for GTAW & c/w tungsten)
Welding rods (electroda) untuk carbon steel, sesuai dengan proses las. : - Untuk proses
las SMAW
- Untuk proses las GTAW
Quiver untuk proses las SMAW
Grinding machine 4 diameter c/w disc. : - Cap brush
- Hand brush
Cipping hammer
Welding helmet (kap las) c/w classes
Regulator argon
Gas argon untuk carbon steel (W.G. 99.96 %)
Welding gloves
Dll yang diperlukan.
4.0. Foreman welder harus melakukan pengecekan/melihat (mempersiapkan) WPS
yang akan digunakan dan memberikan arahan kepada welder yang ditunjuk
mengenai pelaksanan pengelasan tersebut.
Type electrode/welding rods yang digunakan
Diameter electrode/welding rods yang digunakan
Type joint yang digunakan
Proses welding yang akan dikerjakan
Pemakaian pre-heating atau tidak jika diperlukan
Pemakaian pre-heating atau tidak ,jika diperlukan diberi tahu berapa oC yang ditentukan
(WPS).
Voltase dan amper rectifier yang harus disetting.
Weaving maksimum harus 2 kali diameter electrode yang digunakan.

4.1. Lakukan proses pengelasan dengan step-step sbb. :


Persiapkan dan setting rectifier sesuai dengan setting amper dan voltage yang tertera di
WPS.
Lakukan percobaan pengapian pada material yang tidak dipakai.
Bersihkan sambungan/joint hasil fit-up dari korosi, debu dan kotoran-kotoran lain.
Siapkan wind cover (dari terpaulin atau lainnya).

Lakukan drying pada sambungan GTAW atau pipa < 20 diameter harus mengikuti sequence
welding seperti berikut.

Welder pada tahapan ini, harus menjamin tidak terjadi


incomplete penetration, incomplete fusion, slag dan lain sebagainya.
Pengelasan rods minimal 2 layer.

4.2. Lakukan filler weld hingga ketebalan rata dengan ketebalan pipa.
Untuk pipe > 3 diameter dan ketebalan > 3/8 filler weld harus menggunakan SMAW
(lihat/cocokan pada WPS).
Untuk pipe < 3 diameter, filler weld harus menggunakan GTAW.
Untuk filler weld dengan menggunakan SMAW, maka pada setiap pass weld
(penggantian pass weld), maka harus dibersihkan dengan menggunakan grinding mechine
dan brush.
Welder harus menjamin bahwa masing-masing pass weld telah dibersihkan sampai
bersih, sehingga tidak timbul slag inclusion defect pada saat jointed dilakukan NDT.
Welder harus menjamin bahwa interpass temperature weld masih di bawah maksimum
interpass temperature yang diijinkan di dalam WPS dengan melakukan checking
menggunakan temperature stick.
Start welding harus dilakukan di tempat agak jauh ( 25 mm) dari tempat stop weld
sehingga tidak terjadi porosity.
Welder harus menjamin bahwa tidak terjadi porosity akibat wind (angin) dan elektrode.
Sequence welding harus mengikuti item 4.1.

4.3. Lakukan capping welds dengan step-step sbb. :


Bersihkan terlebih dahulu permukaan filler weld dengan menggunakan grinding disc
machine dan hand brush.
Pastikan kembali bahwa permukaan tersebut bersih.
Check interpass temperature dengan menggunakan temperature stick, dan tidak boleh
lebih kecil dari pre-heating temperature dan maksimum interpass temperature yang
diijinkan.
- Jika lebih rendah dari pre-heating temperature, maka harus dilakukan treatment dengan
melakukan heating kembali.
- Jika interpass temperature lebih tinggi dari yang diijinkan, maka harus didiamkan lebih
dahulu sehingga temperature turun dan mencapai range yang diijinkan.
Lakukan capping dengan welding line/jumlah jalur weld capping sesuai dengan yang
tertera di WPS.

njamin tidak terjadi under cut pada tahapan ini.

4.4. Untuk peneglasan weldolet dan sebagainya, maka sequence harus mengacu
ke view plan.
4.5. Foreman harus melakukan pengawasan pada tahapan-tahapan root weld, filler weld dan
capping weld sehingga tidak terjadi defect weld.
4.6. Foreman dan welder harus menjamin bahwa hasil welding sudah sesuai dengan aturan
WPS, dan secara visual dapat diterima oleh quality inspector dengan memastikan hal-hal
sebagai berikut :
Root weld : Tidak terjadi lack of fusion, incomplete penetration
dan concove (low weld).
Filler weld : Masing-masing pass weld, diawasi sehingga tidak terjadi
slag dan porosity.
Capping weld : Tidak terjadi under cut, porosity, slag, spatter dan low
weldment (minimal 3 mm ketebalan cap weldment).
4.7. Foreman harus mengecek apakah stamp number welder sudah ditulis di sebelah
sambungan/joint welded, dan kalau belum Foreman wajib menulis stamp number welder
tersebut.
4.8. Foreman harus membuat daily welding report dan ditanda tangani oleh Supervisor.
4.9. Foreman harus ikut menjamin bahwa hasil quality welding yang diproduksi oleh welder
di bawah kontrolnya baik.

Apakah WPS Perlu"


Dalam dunia industri oil and gas WPS merupakan hal yang wajib disiapkan
sebelum proses pembuatan engineering produk pendukung seperti tanki,
pressure vessel, heat exchanger, dll.
PQR (Procedure Qualification Record) merupakan bagian yang tidak dapat
dipisahkan dari WPS.
Standard code yang digunakan dalam pembuatan WPS :
1. ASME IX untuk boiler dan pressure vessel
2. AWS D1.1 untuk struktural welding
3. API 1104 untuk pipe line
4. EN288 (DIN) untuk specification and approval of welding procedure for
metalic materials.
Dalam industri alat berat apakah WPS diperlukan?
Prinsipnya WPS sangat diperlukan sekali dalam proses manufacturing yang
berhubungan dengan proses pengelasan. Dalam aktifitas improvement dimana
kita dituntut untuk melakukan kegiatan reduction cost, WPS dan PQR sangat
berperan.
Sebagai contoh dalam pembuatan suatu komponen alat berat yang menggunakan
base metal import dari luar negeri, dengan WPS kita bisa melakukan perubahan
penggunaan material yang tersedia di dalam negeri dengan catatan material yang
kita gunakan lulus setelah di uji dab dituangkan dalam PQR. Jika dalam trial dan
eror ini kita berhasil kita dapa beberapa keuntungan, yaitu : Material cost yang
lebih murah, transportation cost, dll.

Pengertian secara umum WPS dan PQR :


WPS : Prosedur tertulis yang terkualifikasi, disiapkan untuk memberikan
panduan bagi juru las atau operator las untuk melaksanakan las produksi yang
memenuhi persyaratan standard dan code.
PQR : Rekaman data-data hasil pengujian dari pengelasan yang dilaksanakan
berdasarkan WPS yang berisi variabel-variabel yang digunakan selama
pengelasan pelat uji.
Dalam pembuatan WPS ada dua variabel yang harus dipertimbangkan, yaitu
variabel penting dan variabel tidak penting.
Variabel penting adalah varibel yang harus diperhatikan, jika ada perubahan
terhadap variabel tersebut maka wajib dilakukan pengujian atau test.
Variabel penting :
1. T(tebal plate) atau t(tebal bahan las yang terdeposisi)
2. P Number yang terkualifikasi (material grouping)
3. A Number
4. Proses PWHT
5. Perubahan proses las
6. Perubahan suhu preheating.
Variabel tidak penting adalah variabel yang jika dilakukan perubahan tidak akan
mempengaruhi hasil sehingga tidak perlu dilakukan pengujian.
Variabel tidak penting :
1. Design kampuh las
2. Root gap
3. Perubahan diameter kawat las
4. Perubahan arah pengelasan
5. Perubahan polaritas arus
6. Perubahan metode gouging.
Demikian ulasan singkat mengenai WPS dan PQR semoga bermanfaat.