Anda di halaman 1dari 22

MAKALAH INSTRUMENTASI MEDIK

MRI OPEN GANTRY

Disusun oleh :
Nama : Fitri Alawiyah
NIM : 011400381
Prodi : Teknokimia Nuklir
Jurusan : Teknokimia Nuklir

SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI NUKLIR


BADAN TENAGA NUKLIR NASIONAL
YOGYAKARTA
2017
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas rahmat dan karunia-
Nya, penyusun dapat menyelesaikan makalah Instrumentasi Medik yang berjudul MRI
Open Gantry. Makalah ini diajukan guna memenuhi tugas mata kuliah Instrumentasi
Medik.
Penyusun mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu
sehingga makalah ini dapat diselesaikan sesuai dengan waktunya. Penyusun berharap
makalah ini memberikan informasi bagi mahasiwa-mahasiswi Teknokimia Nuklir
khususnya dan bermanfaat untuk pengembangan ilmu pengetahuan bagi kita semua.
Tidak lupa penyusun mengucapkan terima kasih kepada pihak yang turut
membantu dalam penyusunan makalah ini, antara lain kepada kedua orang tua yang telah
mendukung penyusun, Bapak Sujatno, S.ST, M.Eng selaku dosen mata kuliah
Instrumentasi Medik, serta seluruh pihak yang telah membantu penyusun baik secara
langsung maupun tidak langsung yang tidak dapat disebutkan satu-persatu.
Demikianlah makalah yang penyusun buat semoga bermanfaat dan dapat
menambah wawasan bagi pembaca. Terima kasih.

Yogyakarta, Maret 2017


Hormat Kami,

Penyusun
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR..........................................................................................................2

DAFTAR ISI........................................................................................................................3

DAFTAR GAMBAR...........................................................................................................3

DAFTAR TABEL.................................................................................................................3

BAB I PENDAHULUAN....................................................................................................4

I. Latar Belakang..........................................................................................................4

II. Rumusan Masalah.....................................................................................................4

III. Tujuan....................................................................................................................5

BAB II ISI............................................................................................................................6

I. Sejarah MRI..............................................................................................................6

II. Pengertian MRI.........................................................................................................9

III. Pengertian MRI Open Gantry..............................................................................10

IV. Perangkat MRI Open Gantry...............................................................................11

V. Prinsip Kerja MRI Open Gantry.............................................................................13

VI. Parameter-Parameter yang Mempengaruhi Kulaitas Pencitraan MRI Open


Gantry16

VII. Manfaat MRI Open Gantry.................................................................................18

VIII. Kelebihan MRI Open Gantry..............................................................................19

IX. Kekurangan MRI Open Gantry...........................................................................19

BAB III PENUTUP...........................................................................................................20

I. Kesimpulan.............................................................................................................20

II. Saran........................................................................................................................20

DAFTAR PUSTAKA.........................................................................................................21
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1. MRI....................................................................................................................7

Gambar 2. MRI Open Gantry.............................................................................................11

Gambar 3. Komponen Hardware MRI (Homak, JP,1996-2011).......................................12

Gambar 4. Spinning proton atom hidrogen........................................................................16

DAFTAR TABEL
Tabel 1. Rentang frekuensi dalam spectrum elektromagnetik...........................................11

Tabel 2. Inti yang bersifat magnetic (Busberg, 2002)........................................................15


BAB I
PENDAHULUAN

I. Latar Belakang

Kemajuan teknologi di bidang kesehatan yang ada pada saat ini memberi
kemudahan bagi para praktisi kesehatan untuk mendiagnosa penyakit serta menentukan
jenis pengobatan bagi pasien. Salah satu bentuk kemajuan tersebut adalah penggunaan
alat MRI (Magnetic Resonance Imaging) untuk melakukan pencitraan diagnosa
penyakit pasien.
MRI(Magnetic Resonance Imaging) merupakan suatu alat diagnostik mutakhir
untuk memeriksa dan mendeteksi tubuh pasien dengan menggunakan medan magnet
yang besar dan gelombang frekuensi radio, tanpa operasi, penggunaan sinar X, ataupun
bahan radioaktif. Selama pemeriksan, MRI akan memungkinkan molekul-molekul
dalam tubuh bergerak dan bergabung untuk membentuk sinyal-sinyal. Sinyal ini akan
ditangkap oleh antena dan dikirimkan ke komputer untuk diproses dan ditampilkan di
layar monitor menjadi sebuah gambaran yang jelas dari struktur rongga tubuh bagian
dalam.
MRI menciptakan gambar yang dapat menunjukkan perbedaan sangat jelas dan
lebih sensitive untuk menilai anatomi jaringan lunak dalam tubuh, terutama otak,
sumsum tulang belakang, maupun susunan saraf dibandingkan dengan pemeriksaan X-
Ray biasa maupun CT scan. Selain itu, jaringan lunak dalam susunan musculoskeletal
seperti otot, ligament , tendon , tulang rawan , ruang sendi seperti misalnya pada cedera
lutut maupun cedera sendi bahu. Pemeriksaan lain yang dapat dilakukan dengan MRI
yaitu evaluasi anatomi dan kelainan dalam rongga dada, payudara , organ-organ dalam
perut, payudara, pembuluh darah, dan jantung.

II. Rumusan Masalah

1. Bagaimana sejarah dari MRI ?


2. Apa pengertian dari MRI ?
3. Apa pengertian MRI Open Gantry ?
4. Apa saja perangkat MRI Open Gantry?
5. Bagaimana prinsip kerja MRI Open Gantry ?
6. Apa saja parameter-parameter yang mempengaruhi kualitas pencitraan MRI Open
Gantry ?
7. Apa manfaat MRI MRI Open Gantry?
8. Apa kelebihan MRI MRI Open Gantry?
9. Apa kekurangan MRI MRI Open Gantry?

III. Tujuan
1. Mengetahui sejarah dari MRI
2. Mengetahui pengertian dari MRI
3. Mengetahui pengertian MRI Open Gantry
4. Mengetahui perangkat MRI Open Gantry
5. Mengetahui prinsip kerja MRI Open Gantry
6. Mengetahui parameter-parameter yang mempengaruhi kualitas pencitraan MRI
Open Gantry
7. Mengetahui manfaat MRI Open Gantry
8. Mengetahui kelebihan MRI Open Gantry
9. Mengetahui kekurangan MRI Open Gantry
BAB II
ISI

I. Sejarah MRI

Gambar 1. MRI

Awal kelahirannya MRI bukanlah satu alat yang serta merta dibuat oleh satu
orang atau satu vendor besar tertentu. Namun ada beberapa alat yang di buat
kemudian dikembangkan. Pada periode 1990 an MRI merupakan alat diagnostic yang
Ekslusif dan sangat sulit dicari, serta menjadi indikator rumah sakit dengan pelayanan
radiologi termodern. Dewasa ini kita dapat dengan cukup mudah menemukan rumah
sakit yang menyediakan pelayanan MRI dengan tenaga teknis seorang radiografer
tertentu yang diperbolehkan untuk mengoperasikannya.
Periode 1940-an adalah masa keemasan bagi fisika quantum. Dengan demikan
banyak para ahli yang melakukan penelitian pada fisika quantum, akses dunia
terhadap segala hal tentang apa yang membentuk material dan apa yang menjadi unit
terkecil dari material terbuka lebar. Dunia memasuki jaman atom, substansi penting
yang menjadi tulang punggung pencitraan MRI. Dan titik paling awal dari
perkembangan MRI yang sangat cepat dewasa ini terjadi pada tahun 1946. Berikut ini
beberapa nama yang hadir dalam kelahiran dan pengembangan dari MRI.
1. Felix Bloch (Stanford University) dan Edward Purcell (Harvard University)
Pada tahun 1946, dua fisikawan asal amerika serikat ini secara
independent melakukan penelitian dan mengemukakan teori tentang
precission yang secara umum menyatakan inti atom (proton) berputar dan
menghasilkan momen magnetic. Teori ini kemudian melahirkan apa yang dikenal
dengan Persamaan Bloch mengenai momentum magnetic yang merupakan
sebuah teori yang didapat dari penelitian dan studi mendalam mengenai atom.
Atas hal ini, kedua ahli tersebut saling berbagi penghargaan nobel pada
tahun 1952 untuk kategori ilmu fisika. Namun pada kenyataannya pada saat
disampaikan teori tersebut belum dapat dibuktikan secara empiris, baru sebatas
teori dan persamaan matematis. Awal periode 1950-an teori Bloch diuji dan dapat
dibuktikan secara eksperimen dan mengantarkan bloch dan Purcell meraih nobel
fisika 1952. Semenjak periode tersebut, mulailah dilakukan penelitian terhadap
NMR (Nuclear Magnetic Resonance = sifat magnetivitas inti atom) secara
massif hal yang menjadi cikal bakal dari MRI.
Seiring dengan perkembangan penelitian terhadap NMR, pada tahun 1960
dunia sains memperkenalkan NMR spectrometer untuk keperluan analisis dan
penelitian inti atom. Alat ini menghasilkan gambaran spectrum-spektrum NMR
dari molekul pembentuk material, sehingga pada periode 1960 1970 NMR
spectrometer telah digunakan secara luas untuk penelitian mengenai konfigurasi
dan susunan molekul dari sebuah material. Penelitian mengenai spectrum NMR
dengan spectrometer telah menorehkan satu langkah paling maju dalam
perkembangan MRI.
2. Raymond Vahan Damadian, MD
Seorang dokter keturunan Armenia berkebangsaan Amerika ini,melakukan
penelitian mengenai pemanfaatan NMR untuk bidang Medis. Pada tahun 1971,
Damadian menyatakan dalam jurnal ilmiahnya, bahwa jaringan kanker
menghasilkan spectrum NMR yang berbeda dengan jaringan normal, sehingga hal
ini dapat dijadikan sebuah metode untuk mendeteksi kanker. Walaupun Teori
karakterisasi jaringan ini kemudian terbukti, namun saat itu terlalu sulit untuk
diaplikasikan dalam bidang medis, karena gambaran hanya berupa spectrum-
spektrum NMR yang terlalu variabel untuk ditafsirkan guna keperluan diagnosa
medis.
Pada tahun 1979, The University of Nottingham Group memproduksi
gambaran potongan coronal dan sagittal (disamping potongan aksial) dengan
NMR. Selanjutnya karena kekaburan istilah yang digunakan untuk alat NMR dan
di bagian apa sebaiknya NMR diletakkan, maka atas saran dari AMERICAN
COLLEGE of RADIOLOGI (1984), NMR dirubah menjadi Magnetic Resonance
Imaging (MRI) dan diletakkan di bagian Radiologi.
3. Dr. Paul Christian Lauterbur
Peneliti dari University of Illinois ini mendesain sebuah spectrometer
NMR yang dapat menghasilkan gambaran tomogram dari material dan bukan lagi
berbentuk spectrum. Hal ini merupakan tindak lanjut dari langkah yang telah
diambil oleh Damadian yang kemudian mendorong seorang Lauterbur
mengenalkan konsep gradient yang disisipkan pada medan magnetic spectrometer
sehingga dimungkinkan untuk menghasilkan informasi spasial melalui pancaran
gelombang Radio Frekuensi ke dan dari obyek. Konsep yang didesain oleh
Lauterbur ini kemudian menghasilkan gambaran 2 dimensi dari obyek
percobaannya 2 buah tabung berisi air, dan konsep Lauterbur ini walaupun
berhasil dibuktikan namun pada prosesnya dibutuhkan waktu berjam jam untuk
menghasilkan sebuah gambaran tomogram.
Mengikuti konsep yang dibuat oleh Lauterbur, Damadian kemudian
merancang alat NMR untuk membuktikan teorinya NMR dapat digunakan untuk
mendeteksi kanker karena jaringan kanker menghasilkan spectrum yang berbeda
dengan jaringan normal. Dan pada tahun 1974, gambaran MRI dari makhluk
hidup yang pertama dihasilkan oleh Damadian, yaitu berupa gambaran jaringan
tubuh dari tikus percobaan yang menderita tumor. Hal ini membuat Damadian
mendapatkan patennya yang pertama pada tahun yang sama untuk konsep
NMR bagi pencitraan tubuh manusia.
4. Dr. Larry Minkoff dan Dr. Michael Goldsmith
Berangkat dari keberhasilan Lauterbur, Damadian dan teamnya ini
kemudian merancang sebuah proyek ambisius. Sebuah Mesin MRI yang
diperuntukkan bagi manusia. MRI Super konduktor rancangan Damadian dan
teamnya ini dinamakan Indomitable, nama ini dipilih untuk mengingatkan
damadian et.al. tentang perjuangan tak kenal lelah dalam membalikkan persepsi
public tentang kemustahilan penggunaan MRI bagi bidang medis dan
diujicobakan untuk pertamakalinya guna menggambarkan tubuh manusia.
Percobaan ini memakan waktu 5 jam dan berhasil menghasilkan gambaran
MRI cross sectional dari tubuh manusia yang pertama kalinya. Walaupun
gambaran ini dibandingkan dengan MRI sekarang hanya berupa perbedaan
grayscale dan kontrasterang-gelap, namun gambaran ini telah menjadi bukti
paling otentik bahwa MRI terbukti dapat digunakan bagi keperluan diagnosa
medis
5. Dr. Peter Mansfield
Keberhasilan Damadian dan Lauterbur, kemudian disempurnakan oleh Dr.
Peter Mansfield dari University of Nottingham yang membangun sebuah proses
matematis untuk mempercepat proses konversi signal menjadi data gambar,
membuat proses penggambaran berjam-jam seperti yang dilakukan Damadian
menjadi proses yang hanya memakan hitungan menit, sebuah pencapaian luar
biasa untuk saat itu.Untuk pekerjaan mereka ini, pada tahun 2003 Lauterbur dan
Mansfield berbagi hadiah nobel bidang ilmu kedokteran atas usaha mereka
membawa MRI ke dalam dunia kedokteran, Namun sangat disayangkan
Damadian tidak disertakan dan dicatat sebagai pengkonsep dari MRI oleh
organisasi Nobel.
Komersialisasi NMR bagi masyarakat luas dimulai pada tahun 1977, yaitu
pada saat Damadian dan rekan-rekannya mendirikan FONAR Corporation,
perusahaan pertama yang membuat whole body NMR scanner secara komersial
untuk keperluan medis. Belakangan istilah NMR diganti menjadi MRI, karena
istilah NMR dianggap berkonotasi buruk sehubungan dengan pengembangan
atom menjadi senjata pemusnah.
Selanjutnya sejak medio 1980-an pengembangan MRI bergerak dengan
kecepatan yang sangat pesat, semua vendor peralatan medis seolah berlomba
untuk menghasilkan MRI scanner terbaik dipasaran. Hasil dari semua kerja keras
tersebut sekarang dapat kita nikamti dalam bentuk fisik dan aplikasi MRI yang
lebih bersahabat baik itu berupa Open System, Short bore system atau scan dalam
hitungan menit. Seperti halnya teknologi dalam bidang apa pun, perkembangan ini
belum berhenti sampai disini, selama masih ada ruang bagi pengembangan maka
MRI akan terus berkembang hingga dalam bentuk yang belum atau tidak kita
bayangkan sebelumnya.

Alasan kenapa diberi nama MRI ?


Perilaku nuklir atomik adalah hal terpenting bagi teknik ini, akan tetapi
penggunaan istilah nuklir harus dihindari. Hal ini dilakukan agar tidak
menimbulkan kebingungan maupun kekhawatiran yang timbul sebagai akibat
adanya kaitan antara perkataan nuklir dengan teknologi yang digunakan dalam
senjata nuklir dan risiko bahan radioaktif. Berbeda dengan teknologi senjata
nuklir, Prinsip kerja dari MRI yaitu mengacu pada NMR (Nuklear Magnetik
Resonance ) dengan nuclear berarti inti atau jaringan tubuh manusia, Magnetik
yaitu magnet dan Resonance yaitu resonansi, makadari prinsip ini MRI aman
digunakan untuk pencitraan tubuh manusia.

II. Pengertian MRI

Magnetic Resonance Imaging (MRI) adalah suatu alat diagnostik muthakhir


untuk memeriksa dan mendeteksi tubuh dengan menggunakan medan magnet yang
besar dan gelombang frekuensi radio, tanpa operasi, tanpa penggunaan sinar X, ataupun
bahan radioaktif, yang menghasilkan rekaman gambar potongan penampang tubuh /
organ manusia dengan menggunakan medan magnet berkekuatan antara 0,0064 - 1,5
tesla (1 tesla = 1000 Gauss) dan resonansi getaran terhadap inti atom hidrogen.
Merupakan metode rutin yang dipakai dalam diagnosis medis karena hasilnya yang
sangat akurat.
Dengan beberapa faktor kelebihan yang dimilikinya, terutama kemampuannya
membuat potongan koronal, sagital, aksial dan oblik tanpa banyak memanipulasi posisi
tubuh pasien sehingga sangat sesuai untuk diagnostic jaringan lunak, terutama otak,
sumsum tulang belakang dan susunan saraf pusat dan memberikan gambaran detail
tubuh manusia dengan perbedaan yang kontras, dibandingkan dengan pemeriksaan CT-
scan dan X-ray lainnya sehingga anatomi dan patologi jaringan tubuh dapat dievaluasi
secara detail (Bushberg, 2002).

Tabel 1. Rentang frekuensi dalam spectrum elektromagnetik

III. Pengertian MRI Open Gantry

Gambar 2. MRI Open Gantry

Pada umumnya, MRI Open Gantry merupakan bagian dari tipe MRI yang
memiliki kerangka terbuka (open gantry) dengan ruang yang luas dan merupakan
salah satu tren yang paling signifikan dalam MRI. Mesin MRI terbuka memiliki
bukaan yang lebih besar dibandingkan dengan mesin MRI gantry/standar/tertutup.
Diameter atau jarak di pembukaan MRI gantry/standar/tertutup sekitar 55 cm
sedangkan jarak di pembukaan MRI open gantry lebih dari 160 cm. Pada beberapa
MRI open gantry memiliki magnet yang tidak sepenuhnya mengelilingi tubuh pasien.
Teknik yang dilakukan pada MRI open gantry sama seperti pada mesin MRI gantry.
MRI open gantry belum bisa menghasilkan gambar dengan kualitas yang sama
dengan MRI gantry. Namun mesin MRI open gantry akan menjadi pilihan bagi pasien
yang fobia terhadap tempat tertutup atau menderita claustrophobia. Selain itu juga
baik untuk pasien gemuk, anak-anak, penderita sindrom stress pasca trauma.

IV. Perangkat MRI Open Gantry

Gambar 3. Komponen Hardware MRI (Homak, JP,1996-2011)

Menurut Hornak, J.P., 1996-2011, Komponen MRI terdiri dari magnet utama,
koil shim, koil radiofrekuensi (RF), koil gradien dan komputer. Magnet utama pada
pesawat MRI terdiri atas tiga jenis, yaitu magnet permanen, terbuat dari bahan
ferromagnetic dan dapat menghasilkan medan magnet sampai dengan 0,3 tesla.
Magnet resistif, menghasilkan kuat medan magnet antara 0,020,4 tesla. Magnet
superkonduktor menghasilkan kuat medan hingga 4 tesla. Magnet tambahan berupa
koil shim, koil gradien dan koil RF. Koil shim berfungsi membuat medan magnet
homogen. Koil radiofrekuensi (RF) terdiri dari dua tipe koil yaitu pemancar dan
penerima. Fungsinya lebih mirip sebagai antena. Ukuran dan bentuknya
menyesuaikan dengan obyek yang diperiksa. Koil radiofrekuensi (RF)
mentransmisikan sinyal radio ke bagian tubuh yang akan diperiksa, kemudian oleh
penerima koil sinyal akan dideteksi dan dikembalikan. Koil Gradien menghasilkan
medan magnet gradien yang berjumlah tiga, sehingga medan magnet dapat diarahkan
pada sumbu x,y dan z. Guna arah x,y dan z ini adalah untuk keperluan sekuen pulsa
dan pemilihan lokalisasi yang tepat pada irisan anatomi tubuh. Komputer adalah
komponen yang digunakan memproses sinyal, menyimpan data dan mendisplaykan
gambar yang dihasilkan.
Adapun menurut Ness Aver, 1997, Komponen Utama MRI yaitu : magnet
utama, gradient coil, transmitter coil, receiver coil, dan komputer.
1. Magnet Utama
Magnet utama dipakai untuk membangkitkan medan magnet berkekuatan
besar yang mampu menginduksi jaringan tubuh sehingga menimbulkan
magnetisasi. Beberapa jenis magnet utama, antara lain :
a) Magnet Permanen
Magnet permanen terbuat dari beberapa lapis batang keramik
ferromagnetik dan memiliki kuat medan magnet maksimal 0,3 Tesla. Magnet
ini di rancang dalam bentuk tertutup maupun terbuka (C shape) dengan arah
garis magnetnya adalah antero-posterior.
b) Magnet Resistif
Medan magnet dari jenis resistif dibangkitkan dengan memberikan arus
listrik pada kumparan. Kuat medan magnet yang mampu dihasilkan mencapai
0,3 Tesla.
c) Magnet Super Conductor
Magnet ini mampu menghasilkan medan magnet hingga berkekuatan 0,5
Tesla-3.0 Tesla, dan sekarang banyak dipakai untuk kepentingan klinik.
Helium cair digunakan untuk mempertahankan kondisi superkonduktor agar
selalu berada pada temperatur yang diperlukan.
2. Koil Shim
Untuk menjaga kestabilan, keseragaman atau homogenitas medan magnet
utama maka dipasang koil elektromagnetik tambahan yang disebut dengan shim
coil. Inhomogenitas magnet diharapkan tidak melebihi 10 ppm (Westbrook,C, dan
Kaut,C, 1999).
3. Koil Gradien
Koil gradien dipakai untuk membangkitkan medan magnet gradien yang
berfungsi untuk menentukan irisan, pengkodean frekuensi, dan pengkodean fase.
Terdapat tiga medan yang saling tegak lurus, yaitu bidang x,y, dan z. Peranannya
akan saling bergantian berkaitan dengan potongan yang dipilih yaitu aksial, sagital
atau coronal. Gradien ini digunakan untuk memvariasikan medan pada pusat
magnet yang terdapat tiga medan yang saling tegak lurus antara ketiganya (x,y,z).
Kumparan gradien dibagi 3, yaitu :
a) Kumparan gradien pemilihan irisan (slice) - Gz.
b) Kumparan gradien pemilihan fase encoding - Gy.
c) Kumparan gradien pemilihan frekuensi encoding - Gx
4. Koil Radio Frekuensi
Koil radio frekuensi ( RF Coil ) terdiri dari 2 yaitu koil pemancar dan koil
penerima. Koil pemancar berfungsi untuk memancarkan gelombang radio pada
inti yang terlokalisir sehingga terjadi eksitasi, sedangkan koil penerima berfungsi
untuk menerima sinyal output setelah proses eksitasi terjadi ( Peggy and
Freimarck, 1995 ). Koil RF dirancang untuk sedekat mungkin dengan obyek agar
sinyal yang diterima memiliki amplitudo besar. Beberapa jenis koil RF
diantaranya :
a) Koil Volume (Volume Coil)
b) Koil Permukaan (Surface Coil)
c) Koil Linier
d) Koil Kuadrat
e) Phase Array Coil
5. Sistem Komputer
Sistem komputer bertugas sebagai pengendali diri dari sebagian besar
peralatan MRI. Dengan kemampuan piranti lunak yang besar komputer mampu
melakukan tugas-tugas multi (multi tasking), diantaranya adalah operator input,
pemilihan slice, kontrol sistem gradien, kontrol sinyal RF dan lain-lain. Komputer
juga berfungsi untuk mengolah sinyal hingga menjadi citra MRI yang dapat
dilihat pada layar monitor, disimpan ke dalam piringan magnetik, atau bisa
langsung dicetak.

V. Prinsip Kerja MRI Open Gantry

Tubuh manusia sebagian besar terdiri dari air (H 2O) yang mengandung 2 atom
hidrogen yang memiliki nomor atom ganjil (1) yang pada intinya terdapat satu proton.
Inti hidrogen merupakan kandungan inti terbanyak dalam jaringan tubuh manusia yaitu
1.019 inti/ mm3, memiliki konsentrasi tertinggi dalam jaringan 100 mmol/kg dan
memiliki gaya magnetik terkuat dari elemen lain. Dalam aspek klinisnya, perbedaan
jaringan normal dan bukan normal didasarkan pada deteksi dari kerelatifan kandungan
air (proton hidrogen) dari jaringan tersebut.
Hidrogen memiliki momen magnetik, pelimpahan atau abundance terbesar.
Abundance adalah perbandingan jumlah atom suatu unsur tertentu terhadap jumlah
atom seluruh isotop yang ada, dinyatakan dalam persen dapat dilihat pada Tabel 2. Oleh
karena itu, hidrogen adalah elemen utama yang digunakan untuk MRI

Tabel 2. Inti yang bersifat magnetic (Busberg, 2002)

Proton yang memiliki perilaku hampir sama dengan perilaku sebuah magnet,
karena proton merupakan suatu partikel yang bermuatan positif dan aktif melakukan
gerakan secara kontinyu mengintari sumbunya yang disebut dengan pergerakan
spinning (Pergerakan Presisi Pada Sumbu), yang akan menghasilkan moment dipole
magnetic yang kuat dan akan membuat fenomena resonansi.
Secara teori jika suatu muatan listrik melakukan pergerakan maka disekitarnya
akan timbul gaya magnet dengan demikian proton-proton dapat diibaratkan seperti
magnet-magnet yang kecil atau bar magnetic. Begitu pula terdapat lebih dari 1 proton
dan neutron kemungkinan momen magnetiknya akan berpasangan, sehingga
menghilangkan kekutan dipol magnetik satu dengan lain atau menjadi sangat kecil. Hal
ini berarti bila inti dengan proton genap dan neutron genap akan terdapat momen
magnetik bernilai nol, sedangkan untuk inti dengan proton dan neutron ganjil akan
terdapat nilai momen dipol magnetik yang akan membuat fenomena resonansi
magnetik dapat dimungkinkan.
Atom Hidrogen bukan hanya berlimpah dalam jaringan biologi tetapi juga
mempunyai momen dipol magnetik yang kuat sehingga akan menghasilkan konsentrasi
yang besar dan kekuatan yang kuat per inti. Hal ini menyebabkan sinyal Hidrogen yang
dihasilkan 1.000 lebih besar dari pada yang lain, sehingga atom inilah yang digunakan
sebagai sumber sinyal dalam pencitraan MRI. Dapat kita lihat Gambar 4 Spinning
proton atom hidrogen.

Gambar 4. Spinning proton atom hidrogen

Pada atom dengan nomor atom genap, inti atom akan berpasang-pasangan
sehingga saling meniadakan efek magnetik dengan demikian tidak terdapat inti bebas
yang akan membentuk jaringan magnetisasi sehingga sulit untuk dirangsang agar
terjadi pelepasan signal. Secara ringkas dapat disimpulkan prinsip dasar pencitraan
MRI adalah dalam keadaan normal proton-proton hidrogen dalam tubuh tersusun
secara acak sehingga tidak ada jaringan magnetisasi. Ketika pasien dimasukan
kedalam medan magnet yang kuat dalam pesawat MRI, proton-proton dalam tubuh
pasien akan searah (parallel) dan tidak searah (antiparallel) dengan kutub medan
magnet pesawat serta melakukan gerakan presesi.
Selisih proton-proton yang searah dan berlawanan arah amat sedikit dan
tergantung kekuatan medan magnet pesawat dan selisih inilah yang akan merupakan
inti bebas (tidak berpasangan) yang akan membentuk jaringan magnetisasi.
Pemberian gelombang radio frequency (RF) proton menyerap sinyal elektromagnetik
atau sinyal MRI. Sinyal-sinyal diterima oleh sebuah koil antena penerima, selanjutnya
sinyal-sinyal tersebut diubah menjadi pulsa listrik dan dikirim ke sistem komputer
untuk diubah menjadi gambar.
Pembentukan Citra (Westbrook,C, dan Kaut,C, 1995)
Pembentukan citra pada MRI dibentuk melalui proses pengolahan sinyal yang
keluar dari obyek. Sinyal baru bisa diukur bila arah vektornya diputar dari sumbu z
(Mz) menuju sumbu xy (Mxy). Pemutaran arah vektor magnet jaringan dan
pengambilan sinyalnya dijelaskan melalui serangkaian proses di bawah ini.
1) Pulsa RF ( Radio Frequency )
Pulsa RF merupakan gelombang elektromagnetik yang memiliki frekuensi
antar 30-120 MHz. Apabila spin diberikan sejumlah pulsa yang mempunyai
frekuensi sama dengan frekuensi Larmornya , maka terjadilah resonansi. Spin
akan menyerap energi pulsa dan mengakibatkan sudut presesi semakin besar.
Peristiwa tersebut dikenal dengan nama Nuclear Magnetic Resonance.
2) Waktu Relaksasi Longitudinal (T1)
Relaksasi longitudinal disebut juga dengan relaksasi spin-kisi. Waktu
relaksasi longitudinal menghasilkan pembobotan T1 yaitu citra yang kontrasnya
tergantung pada perbedaan T1 time. T1 time adalah waktu yang diperlukan NMV
untuk kembalinya 63% magnetisasi longitudinal dan dikontrol oleh TR.
Karena TR mengontrol seberapa jauh vector dapat recover sebelum
diaplikasi RF berikutnya, maka untuk mendapatkan pembobotan T1, TR harus
dibuat pendek sehingga baik lemak maupun air tidak cukup waktu untuk kembali
ke Bo, sehingga kontras lemak dan air dapat tervisualisasi dengan baik. Jika TR
panjang lemak dan air akan cukup waktu untuk kembali ke Bo dan recover
magnetisasi longitudinal secara penuh sehingga tidak bisa mendemontrasikan
keduanya dalam gambar.
3) Waktu Relaksasi Transversal (T2)
Waktu yang dibutuhkan komponen magnetisasi transversal (Mxy) untuk
meluruh hingga 37 % dari nilai awalnya dinamakan waktu relaksasi transversal
atau T2. Nilai T1 dan T2 adalah konstan pada kuat medan magnet tertentu. Waktu
relaksasi transversal menghasilkan pembobotan T2 yaitu citra yang kontrasnya
tergantung perbedaan T2 time.
Untuk mendapatkan T2 weighting, TE harus panjang untuk memberikan
kesempatan lemak dan air untuk decay, sehingga kontras lemak dan air dapat
tervisualisasi dengan baik. Jika TE terlalu pendek maka baik lamak dan air tidak
punya waktu untuk decay sehingga keduanya tidak akan menghasilkan kontras
gambar yang baik.

VI. Parameter-Parameter yang Mempengaruhi Kualitas Pencitraan MRI Open


Gantry

Ada beberapa parameter yang berpengaruh terhadap kualitas pencitraan MRI


Open Gantry yakni sebagai berikut :
1. SNR (Signal to Noise Ratio)
SNR adalah perbandingan antara besarnya signal amplitudo dengan
besarnya noise dalam gambar MRI. Noise dapat disebabkan oleh sistem komponen
MRI dan dari pasien. Semakin besar signal maka akan semakin meningkatkan
SNR. SNR dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu densitas proton dari daerah yang
diperiksa, voxel volume, TR, TE, flip angel, NEX, receive bandwidth dan koil.
a) Densitas Proton
Daerah dengan densitas proton yang rendah menghasilkan signal yang
rendah sehingga SNR yang dihasilkan juga rendah. Sebaliknya daerah dengan
densitas proton yang tinggi akan menghasilkan sinyal yang tinggi sehingga
SNR yang dihasilkan juga tinggi.
b) Voxel Volume
Voxel volume berbanding lurus dengan SNR, semakin besar voxel
volume maka semakin besar SNR yang dihasilkan.
c) TR, TE, Flip Angle
Pada pulse sekuence spin echo, SNR yang dihasilkan akan lebih baik
karena menggunakan flip angle 90 derajat sehingga magnetisasi longitudinal
menjadi magnetisasi transversal dibandingkan dengan gradient echo yang flip
anglenya kurang dari 90 derajat. Flip angle berpengaruh terhadap jumlah
magnetisasi transversal.
TR merupakan parameter yang mengontrol jumlah magnetisasi
longitudinal yang recoveri sebelum RF pulse berikutnya. TR yang panjang
memungkinkan full recovery sehingga lebih banyak yang akan mengalami
magnetisasi transversal pada RF pulse berikutnya. TR yang panjang akan
meningkatkan SNR dan TR yang pendek menurunkan SNR. Sedangkan TE
merupakan parameter yang mengontrol jumlah magnetisasi transvesal yang
akan decay sebelum echo itu dicatat.
d) NEX
NEX ( Number of excitation) merupakan angka yang menunjukkan
berapa kali data disampling. Pemilihan NEX itu sendiri akan berpengaruh
terhadap waktu scanning. Diharapkan dengan pemilihan NEX yang tepat akan
diperoleh waktu pemeriksaan yang tidak terlalu panjang (sehingga pengulangan
citra karena pengaburan akibat pergerakan dapat dikurangi) tanpa harus
mengurangi SNR citra.
Untuk mendapatkan kualitas citra yang baik, operator harus
mempertimbangkan kondisi pasien, indikasi klinis dan toleransi pasien terhadap
jalannya pemeriksaan sebelum memilih scan parameter. Mengingat itu semua,
protokol yang dipilih secara rutin harus dapat diberlakukan untuk pasien secara
umum.
e) Receive bandwidth
Adalah rentang frekuensi yang terjadi pada sampling data pada obyek
yang di scan. Semakin kecil bandwidth maka noise akan semakin kecil tetapi
akan berpengaruh pada TE minimal yang dipilih.
f) Koil
Pada prinsipnya semakin dekat koil dengan organ maka SNR yang
dihasilkan semakin tinggi.
2. Contras To Noise Ratio (CNR) (Westbrook,C, dan Kaut,C, 1995)
Adalah perbedaan SNR antara organ yang saling berdekatan. CNR yang
baik dapat menunjukan perbedaan daerah yang patologis dengan daerah yang sehat.
Dalam hal ini, CNR dapat ditingkatkan dengan cara:
a) Menggunakan kontras media.
b) Menggunakan pembobotan gambar T2.
c) Memilih magnetization transfer.
d) Menghilangkan gambaran jaringan normal dengan spectral presaturation.
3. Spatial Resolution (Westbrook,C, dan Kaut,C, 1995)
Adalah kemampuan untuk membedakan antara dua titik secara terpisah dan
jelas. Spatial resolution dikontrol oleh voxel. Semakin kecil ukuran voxel maka
resolusi akan semakin baik. Spatial resolution dapat ditingkatkan dengan:
a) Irisan yang tipis.
b) Matrik yang halus atau kecil.
c) FOV kecil.
d) Menggunakan rectangular FOV bila memungkinkan.
4. Scan Time
Scan time adalah waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan akuisisi data.
Scan time berpengaruh terhadap kualitas gambar, karena dengan waktu scanning
yang lama akan menyebabkan pasien bergerak dan kualitas gambaran akan turun.
Beberapa hal yang berpengaruh terhadap scan time adalah TR, jumlah phase
enchoding dan jumlah akuisisi (NEX).

VII. Manfaat MRI Open Gantry

Adapun manfaat dari MRI Open Gantry sama dengan MRI pada umumnya,
yakni sebagai berikut :
1. Mendiagnosis multiple sclerosis (MS).
2. Mendiagnosis tumor otak.
3. Mendiagnosis stroke pada tahap awal.
4. Mendiagnosis infeksi di otak, tulang belakang, perut atau sendi.
5. Mendiagnosis tendonitis.
6. Visualisasi ligamen sobek di pergelangan tangan, lutut dan pergelangan kaki, bahu,
dan siku.
7. Mengevaluasi massa pada jaringan lunak tubuh, perut, atau panggul.
8. Mengevaluasi tumor tulang, kista atau penonjolan di tulang belakang.
9. Mengevaluasi arteri dan vena di seluruh tubuh.

VIII. Kelebihan MRI Open Gantry

MRI Open Gantry memiliki beberapa keuntungan yang signifikan, termasuk


penerimaan yang lebih baik bagi pasien, berkurangnya tingkat
claustrophobia/ketakutan tidak beralasan pada ruang tertutup atau ruang sempit, dan
akses yang lebih baik bagi pasien, bisa menghemat waktu pelayanan antara 5 sampai 10
menit pada pelayanan pemeriksaan yang sama. Hal ini mungkin membantu jika pasien
tidak bisa diam, dalam rasa sakit yang banyak, atau mengalami stroke baru dan juga
memudahkan pemeriksaan untuk pasien yang berbadan besar/obesitas.

IX. Kekurangan MRI Open Gantry

Pesawat MRI open gantry disebut sebagai "low-field" sistem karena kualitas
gambar yang dihasilkan lebih rendah daripada MRI gantry/standar karena
berkurangnya SNR(Signal to Noise Ratio) yang menyebabkan peningkatan waktu
scanning dan urutan pencitraan yang telah disesuaikan. Istilah SNR didefinisikan
sebagai perbandingan amplitudo dari signal yang diterima oleh coil dengan amplitudo
dari noise. Jika signal yang sebenarnya relatif lebih kuat daripada noise maka SNR
akan meningkat, dan kualitas gambar akan lebih baik.
BAB III
PENUTUP

I. Kesimpulan

MRI Open Gantry memiliki prinsip kerja dan manfaat yang sama seperti MRI
standar/gantry. Perbedaan yang signifakan terletak pada bentuk dan kelebihannya.
Bentuk MRI Open Gantry memiliki kerangka terbuka (open gantry) dengan ruang yang
luas dan bukaan yang lebih besar dibandingkan dengan mesin MRI gantry/standar.
Pada beberapa MRI open gantry memiliki magnet yang tidak sepenuhnya mengelilingi
tubuh pasien. MRI Open Gantry sesuai untuk pasien yang mengidap claustrophobia
serta pasien yang memiliki tubuh gemuk/obesitas.
MRI Open Gantry sangat efektif digunakan untuk memeriksa bagian dalam
tubuh karena memiliki kemampuan membuat citra potongan koronal, sagital, aksial
tanpa banyak memanipulasi tubuh pasien dan diagnosa dapat ditegakkan dengan lebih
detail dan akurat. Pesawat MRI Open Gantry menggunakan efek medan magnet dalam
membuat citra potongan tubuh, sehingga tidak menimbulkan efek radiasi pengion
seperti penggunaan pesawat sinar X.

II. Saran

Sebelum pesawat MRI Open Gantry dioperasikan, operator harus memastikan


bahwa semua parameter operasionalnya sudah baik dan tepat sehingga gambaran yang
dihasilkan memiliki kualitas yang baik serta dalam pengoperasiannya tidak terjadi
kecelakaan yang bisa membahayakan pasien, operator/petugas serta lingkungannya.
DAFTAR PUSTAKA

1. Prastowo, Alan Tanjung Aji. 2013. Korelasi Nilai Time Repetition (TR) dan Time Echo
(TE) terhadap Signal To Noise Ratio (SNR) pada Citra MRI. Semarang : Universitas
Diponegoro.
2. Rochmayanti, Dwi. 2010. Pengaruh Parameter Number Of Excitition (NEX) terhadap
SNR. Yogyakarta : Universitas Gadjah Mada.
3. http://www.denvillediagnostics.com/services/open-mri/.
4. http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/53020/4/Chapter%20II.pdf.
5. http://digilib.itb.ac.id/files/disk1/610/jbptitbpp-gdl-daniodelan-30462-3-2008ta-2.pdf.