Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN

I.1. HIFEMA

I.1.1. Definisi

Hifema merupakan keadaan dimana terdapat darah di dalam bilik mata depan, yaitu
daerah di antara kornea dan iris, yang dapat terjadi akibat trauma tumpul yang merobek
pembuluh darah iris atau badan siliar dan bercampur dengan humor aqueus (cairan mata)
yang jernih. Darah yang terkumpul di bilik mata depan biasanya terlihat dengan mata
telanjang. Walaupun darah yang terdapat di bilik mata depan sedikit, tetap dapat menurunkan
penglihatan. Hifema atau darah di dalam bilik mata depan dapat terjadi akibat trauma tumpul
yang merobek pembuluh darah iris atau badan siliar. Bila pasien duduk hifema akan terlihat
terkumpul dibawah bilik mata depan dan hifema dapat memenuhi seluruh ruang bilik mata
depan.

I.1.2. Klasifikasi
a) Berdasarkan penyebabnya hifema dibagi menjadi:
1. Hifema traumatika adalah perdarahan pada bilik mata depan yang disebabkan
pecahnya pembuluh darah iris dan badan siliar akibat trauma pada segmen
anterior bola mata.
2. Hifema akibat tindakan medis (misalnya kesalahan prosedur operasi mata).

1
3. Hifema akibat inflamasi yang parah pada iris dan badan siliar, sehingga
pembuluh darah pecah.
4. Hifema akibat kelainan sel darah atau pembuluh darah (contohnya juvenile
xanthogranuloma).
5. Hifema akibat neoplasma (contohnya retinoblastoma).

b) Berdasarkan waktu terjadinya, hifema dibagi atas 2 yaitu:


1. Hifema primer, timbul segera setelah trauma hingga hari ke 2.
2. Hifema sekunder, timbul pada hari ke 2-5 setelah terjadi trauma.

c) Berdasarkan tampilan klinisnya dibagi menjadi beberapa grade (Sheppard) :


1. Grade I : darah mengisi kurang dari sepertiga COA (58%)
2. Grade II : darah mengisi sepertiga hingga setengah COA (20%)
3. Grade III : darah mengisi hampir total COA (14%)
4. Grade IV : darah memenuhi seluruh COA (8%)

2
I.1.3. Patofisiologi
Trauma tumpul menyebabkan kompresi bola mata, disertai peregangan limbus, dan
perubahan posisi dari iris atau lensa. Hal ini dapat meningkatkan tekanan intraokuler secara
akut dan berhubungan dengan kerusakan jaringan pada sudut mata. Perdarahan biasanya
terjadi karena adanya robekan pembuluh darah, antara lain arteri-arteri utama dan cabang-
cabang dari badan siliar, arteri koroidalis, dan vena-vena badan siliar.

Inflamasi yang parah pada iris, sel darah yang abnormal dan kanker mungkin juga
bisa menyebabkan perdarahan pada COA. Trauma tumpul dapat merobek pembuluh darah
iris atau badan siliar. Gaya-gaya kontusif akan merobek pembuluh darah iris dan merusak
sudut COA. Tetapi dapat juga terjadi secara spontan atau pada patologi vaskuler okuler.
Darah ini dapat bergerak dalam ruang COA, mengotori permukaan dalam kornea. Perdarahan
pada bilik mata depan mengakibatkan teraktivasinya mekanisme hemostasis dan fibrinolisis.
Peningkatan tekanan intraokular, spasme pembuluh darah, dan pembentukan fibrin
merupakan mekanisme pembekuan darah yang akan menghentikan perdarahan. Bekuan darah
ini dapat meluas dari bilik mata depan ke bilik mata belakang. Bekuan darah ini biasanya
berlangsung hingga 4-7 hari. Setelah itu, fibrinolisis akan terjadi. Setelah terjadi bekuan
darah pada bilik mata depan, maka plasminogen akan diubah menjadi plasmin oleh aktivator
kaskade koagulasi. Plasmin akan memecah fibrin, sehingga bekuan darah yang sudah terjadi
mengalami disolusi. Produk hasil degradasi bekuan darah, bersama dengan sel darah merah
dan debris peradangan, keluar dari bilik mata depan menuju jalinan trabekular dan aliran
uveaskleral. Perdarahan dapat terjadi segera sesudah trauma yang disebut perdarahan primer.
Perdarahan primer dapat sedikit dapat pula banyak. Perdarahan sekunder biasanya
timbul pada hari ke 5 setelah trauma. Perdarahannya biasanya lebih hebat daripada yang
primer. Oleh karena itu seseorang dengan hifema harus dirawat sedikitnya 5 hari. Dikatakan
perdarahan sekunder ini terjadi karena resorpsi dari bekuan darah terjadi terlalu cepat
sehingga pembuluh darah tak mendapat waktu yang cukup untuk regenerasi kembali.

3
Penyembuhan darah pada hifema dikeluarkan dari COA dalam bentuk sel darah
merah melalui sudut COA menuju kanal schlem sedangkan sisanya akan diabsorbsi melalui
permukaan iris. Penyerapan pada iris dipercepat dengan adanya enzim fibrinolitik di daerah
ini. Sebagian hifema dikeluarkan setelah terurai dalam bentuk hemosiderin. Bila terdapat
penumpukan dari hemosiderin ini, dapat masuk ke dalam lapisan kornea, menyebabkan
kornea menjadi bewarna kuning dan disebut hemosiderosis atau imbibisi kornea, yang hanya
dapat ditolong dengan keratoplasti. Imbibisio kornea dapat dipercepat terjadinya oleh hifema
yang penuh disertai glaukoma. Adanya darah pada bilik mata depan memiliki beberapa
temuan klinis yang berhubungan. Resesi sudut mata dapat ditemukan setelah trauma tumpul
mata. Hal ini menunjukkan terpisahnya serat longitudinal dan sirkular dari otot siliar. Resesi
sudut mata dapat terjadi pada 85 % pasien hifema dan berkaitan dengan timbulnya glaukoma
sekunder di kemudian hari. Iritis traumatik, dengan sel-sel radang pada bilik mata depan,
dapat ditemukan pada pasien hifema. Pada keadaan ini, terjadi perubahan pigmen iris
walaupun darah sudah dikeluarkan.
Perubahan pada kornea dapat dijumpai mulai dari abrasi endotel kornea hingga ruptur
limbus. Kelainan pupil seperti miosis dan midriasis dapat ditemukan pada 10 % kasus. Tanda
lain yang dapat ditemukan adalah siklodialisis, iridodialisis, robekan pupil, subluksasi lensa,
dan ruptur zonula zinn. Kelainan pada segmen posterior dapat meliputi perdarahan vitreus,
jejas retina (edema, perdarahan, dan robekan), dan ruptur koroid. Atrofi papil dapat terjadi
akibat peningkatan tekanan intraokular.

I.1.4. Diagnosis dan Gejala Klinik

Pasien akan mengeluh nyeri pada mata disertai dengan epifora dan blefarospasme.
Penglihatan pasien akan sangat menurun, bila ditemukan kasus hifema sebaiknya dilakukan
pemeriksaan secara teliti keadaan mata luar. Ditemukan darah di dalam bilik mata yang
terlihat dengan mata telanjang bila jumlahnya cukup banyak. Bila pasien duduk, hifema akan
terlihat terkumpul di bagian bawah BMD, perdarahan yang mengisi setengah bilik
mata depan dapat menyebabkan gangguan visus dan kenaikan tekanan intraokuler, sehingga
mata terasa sakit olehkarena glaucoma. Jika hifema mengisi seluruh bilik mata depan, rasa
sakit bertambah dan penglihatan lebih menurun lagi. Pada iris dapat ditemukan robekan atau
iridodialysis dan iridoplegia. Pada hifema karena trauma, jika ditemukan penurunan tajam
penglihatan segera, maka harus dipikirkan kerusakan seperti luksasi lensa, ablasi retina, udem
macula.
4
Tanda Klinik
- Pemeriksaan ketajaman penglihatan: menggunakan kartu mata Snellen; visus
dapat menurun akibat kerusakan kornea, aqueous humor, iris dan retina.
- Slit Lamp Biomicroscopy: untuk menentukan kedalaman BMD daniridocorneal
contact, aqueous flare, dan synechia posterior.
- Pemeriksaan oftalmoskopi: mengkaji struktur internal okuler.
- Pengukuran tonografi: mengkaji tekanan intra okuler.
- Tes provokatif: digunakan untuk menentukan adanya glaukoma bila TIOnormal
atau meningkat ringan.

Pemeriksaan penunjang
- Laboratorium
- Seluruh pasien hifema sebaiknya juga diperksa tes berikut ini:
- Sickle cell preparation;
- Hemoglobin electrophoresis;
- Bleeding tests (prothrombin time, partial thromboplastin time, plateletcounts,
and bleeding time);
- Fungsi hati dan fungsi ginjal

Ultrasonography
Untuk memeriksa bagian posterior dari mata

I.1.5. Tatalaksana
Biasanya hifema akan hilang sempurna. Bila perjalanan penyakit tidak berjalan
demikian maka sebaiknya penderita dirujuk. Walaupun perawatan penderita hifema traumatik
ini masih banyak diperdebatkan, namun pada dasarnya adalah :
1) Menghentikan perdarahan.
2) Menghindarkan timbulnya perdarahan sekunder.
3) Mengeliminasi darah dari bilik depan bola mata dengan mempercepat absorbsi.
4) Mengontrol glaukoma sekunder dan menghindari komplikasi yang lain.
5) Berusaha mengobati kelainan yang menyertainya.

5
Berdasarkan hal tersebut di atas, maka cara pengobatan penderita dengan traumatik
hifema pada prinsipnya dibagi dalam 2 golongan besar yaitu perawatan dengan cara
konservatif/tanpa operasi, dan perawatan yang disertai dengan tindakan operasi.

I.1.6. Perawatan Konservatif/Tanpa Operasi


1. Tirah baring (bed rest total)
Penderita ditidurkan dalam keadaan terlentang dengan posisi kepala
diangkat (diberi alas bantal) dengan elevasi kepala 30 - 45 o (posisi semi fowler).
Hal ini akan mengurangi tekanan darah pada pembuluh darah iris serta
memudahkan kita mengevaluasi jumlah perdarahannya. Ada banyak pendapat dari
banyak ahli mengenai tirah baring sempurna ini sebagai tindakan pertama yang
harus dikerjakan bila menemui kasus traumatik hifema. Bahkan beberapa
penelitian menunjukkan bahwa dengan tirah baring kesempurnaan absorbsi dari
hifema dipercepat dan sangat mengurangi timbulnya komplikasi perdarahan
sekunder. Istirahat total ini harus dipertahankan minimal 5 hari mengingat
kemungkinan perdarahan sekunder. Hal ini sering sukar dilakukan, terlebih-lebih
pada anak-anak, sehingga kalau perlu harus diikat tangan dan kakinya ke tempat
tidur dan pengawasan dilakukan dengan sabar.

2. Bebat mata
Mengenai pemakaian bebat mata, masih belum ada persesuaian pendapat
di antara para ahli. Penggunaan bebat mata pada mata yang terkena trauma yaitu
untuk mengurangi pergerakan bola mata yang sakit.

3. Pemakaian obat-obatan
Pemberian obat-obatan pada penderita dengan traumatik hifema tidaklah
mutlak, tapi cukup berguna untuk menghentikan perdarahan, mempercepat
absorbsinya dan menekan komplikasi yang timbul. Untuk maksud di
atasdigunakan obat-obatan seperti :
a. Koagulansia
Golongan obat koagulansia ini dapat diberikan secara oral
maupun parenteral, berguna untuk menekan/menghentikan perdarahan,
Misalnya : Anaroxil, Adona AC, Coagulen, Transamin, vit K dan vit C.
Pada hifema yang baru dan terisi darah segar diberi obat anti
6
fibrinolitik (di pasaran obat ini dikenal sebagai transamine/ transamic
acid) sehingga bekuan darah tidak terlalu cepat diserap dan pembuluh
darah diberi kesempatan untuk memperbaiki diri dahulu sampai
sembuh. Dengan demikian diharapkan terjadinya perdarahan sekunder
dapat dihindarkan. Pemberiannya 4 kali 250 mg dan hanya kira-kira 5
hari jangan melewati satu minggu oleh karena dapat timbulkan
gangguan transportasi cairan COA dan terjadinya glaukoma juga
imbibisio kornea. Selama pemberiannya jangan lupa pengukuran
tekanan intraokular.

b. Midriatika Miotika
Masih banyak perdebatan mengenai penggunaan obat-obat
golongan midriatika atau miotika, karena masing-masing obat
mempunyai keuntungan dan kerugian sendiri-sendiri. Miotika memang
akan mempercepat absorbsi, tapi meningkatkan kongesti dan
midriatika akan mengistirahatkan perdarahan. Pemberian midriatika
dianjurkan bila didapatkan komplikasi iridiocyclitis. Akhirnya
beberapa penelitian membuktikan bahwa pemberian midriatika dan
miotika bersama-sama dengan interval 30 menit sebanyak dua kali
sehari akan mengurangi perdarahan sekunder dibanding pemakaian
salah satu obat saja.

c. Ocular Hypotensive Drug


Semua para ahli menganjurkan pemberian acetazolamide
(Diamox) secara oral sebanyak 3x sehari bilamana ditemukan adanya
kenaikan tekanan intraokuler. Bahkan Gombos dan Yasuna
menganjurkan juga pemakaian intravena urea, manitol dan gliserin
untuk menurunkan tekanan intraokuler,walaupun ditegaskan bahwa
cara ini tidak rutin. Pada hifema yang penuh dengan kenaikan tekanan
intra okular, berilah diamox, glyserin, nilai selama 24 jam. Bila
tekanan intra okular tetap tinggi atau turun, tetapi tetap diatas normal,
lakukan parasentesa yaitu pengeluaran darah melalui sayatan di
kornea. Bila tekanan intra okular turun sampai normal, diamox terus
diberikan dan dievaluasi setiap hari. Bila tetap normal tekanan intra
7
okularnya dan darahnya masih ada sampai hari ke 5-9 lakukan juga
parasentesa.

d. Kortikosteroid dan Antibiotika


Pemberian hidrokortison 0,5% secara topikal akan mengurangi
komplikasi iritis dan perdarahan sekunder dibanding dengan
antibiotika.

I.1.7. Perawatan Operasi


Perawatan cara ini akan dikerjakan bilamana ditemukan glaucoma sekunder, tanda
imbibisi kornea atau hemosiderosis cornea. Dan tidak ada pengurangan dari tingginya hifema
dengan perawatan non-operasi selama 35 hari. Untuk mencegah atrofi papil saraf optik
dilakukan pembedahan bila tekanan bola mata maksimal > 50 mmHg selama 5 hari atau
tekanan bola mata maksimal > 35 mmHg selama 7 hari. Untuk mencegah imbibisi kornea
dilakukan pembedahan bila tekanan bola mata rata-rata > 25 mmHg selama 6 hari atau bila
ditemukan tanda-tanda imbibisi kornea. Tindakan operatif dilakukan untuk mencegah
terjadinya sinekia anterior perifer bila hifema total bertahan selama 5 hari atau hifema difus
bertahan selama 9 hari. Intervensi bedah biasanya diindikasikan pada atau setelah 4 hari. Dari
keseluruhan indikasinya adalah sebagai berikut :
1. Empat hari setelah onset hifema total
2. Microscopic corneal bloodstaining (setiap waktu)
3. Total dengan dengan Tekanan Intra Okular 50 mmHg atau lebih selama 4 hari
(untuk mencegah atrofi optic)
4. Hifema total atau hifema yang mengisi lebih dari COA selama 6 hari dengan
tekanan 25 mmHg (untuk mencegah corneal bloodstaining)
5. Hifema mengisi lebih dari COA yang menetap lebih dari 8-9 hari (untuk
mencegah peripheral anterior synechiae)
6. Pada pasien dengan sickle cell disease dengan hifema berapapun ukurannya
dengan tekanan Intra ocular lebih dari 35 mmHg lebih dari 24 jam. Jika
Tekanan Inta Ocular menetap tinggi 50 mmHg atau lebih selama 4 hari,
pembedahan tidak boleh ditunda. Suatu studi mencatat atrofi optic pada 50
persen pasien dengan total hifema ketika pembedahan terlambat. Corneal
bloodstaining terjadi pada 43% pasien. Pasien dengan sickle cell

8
hemoglobinopathi diperlukan operasi jika tekanan intra ocular tidak terkontrol
dalam 24 jam.

Tindakan operasi yang dikerjakan adalah :


1. Parasentesis merupakan tindakan pembedahan dengan mengeluarkan
cairan/darah dari bilik depan bola mata dengan teknik sebagai berikut :
dibuat insisi kornea 2 mm dari limbus ke arah kornea yang sejajar dengan
permukaan iris. Biasanya bila dilakukan penekanan pada bibir luka maka
koagulum dari bilik mata depan akan keluar. Bila darah tidak keluar seluruhnya
maka bilik mata depan dibilas dengan garam fisiologis. Biasanya luka insisi
kornea pada parasentesis tidak perlu dijahit. Parasentese dilakukan bila TIO
tidak turun dengan diamox atau jika darah masih tetap terdapat dalam COA
pada hari 5-9.
2. Melakukan irigasi di bilik depan bola mata dengan larutan fisiologik.
3. Dengan cara seperti melakukan ekstraksi katarak dengan membuka
korneoscleranya sebesar 1200

I.1.8. Komplikasi
Komplikasi yang paling sering ditemukan pada traumatik hifema adalah perdarahan
sekunder, glaukoma sekunder dan hemosiderosis di samping komplikasidari traumanya
sendiri berupa dislokasi dari lensa, ablatio retina, katarak dan iridodialysis. Besarnya
komplikasi juga sangat tergantung pada tingginya hifema.
1. Perdarahan sekunder
Komplikasi ini sering terjadi pada hari ke 2 sampai ke 5, sedangkan
insidensinya sangat bervariasi, antara 10 - 40%. Perdarahan sekunder ini timbul
karena iritasi pada iris akibat traumanya, atau merupakan lanjutan dari perdarahan
primernya. Perdarahan sekunder biasanya lebih hebat daripada yang primer. Terjadi
pada 1/3 pasien, biasanya antara 2-5 hari setelah trauma inisial dan selalu
bervariasi sebelum 7 hari post-trauma.

2. Glaukoma sekunder
Glaukoma bisa menjadi komplikasi yang timbul awal atau belakangan. Sekitar
25% dari kelainan ini TIO meningkat > 25 mmHg dan 10% nya 35 mmHg.
9
Glaukoma akut terjadi apabila jaringan trabekula tersumbat oleh fibrin dan sel atau
apabila pembentukan bekuan darah menyebabkan penyumbatan pupil. Hal ini
terjadi akibat darah dalam bilik mata, karena unsur unsur darah menutupi sudut
bilik mata trabekula, sehingga hal ini akan menyebabkan peningkatan TIO.
Penatalaksanaan hifema glaukoma berikut tergantung pada tingkat elevasi TIO dan
ada atau tidaknya anemia sel sabit. Biasanya terapi medis baru dimulai ketikaTIO >
30 mmHg dalam fase akut atau 25 mmHg setelah 25 minggu atau lebih.

3. Hemosiderosis kornea
Pada penyembuhan darah pada hifema dikeluarkan dari BMD dalam
bentuk sel darah merah melalui sudut BMD menuju kanal Schlemm sedangkan
sisanya akan diabsorbsi melalui permukaan iris. Penyerapan pada iris dipercepat
dengan adanya enzim fibrinolitik di daerah ini. Sebagian hifema dikeluarkan
setelah terurai dalam bentuk hemosiderin. Bila terdapat penumpukan dari
hemosiderin ini, dapat masuk ke dalam lapisan kornea, menyebabkan kornea menjadi
bewarna kuning dan disebut hemosiderosis atau imbibisio kornea, yang hanya dapat
ditolong dengan keratoplasti. Imbibisio kornea dapat dipercepat terjadinya oleh
hifema yang penuh disertai glaukoma. Hemosiderosis ini akan timbul bila ada
perdarahan/perdarahan sekunder disertai kenaikan tekanan intraokuler. Gangguan
visus karena hemosiderosis tidak selalu permanen, tetapi kadang-kadang dapat
kembali jernih dalam waktu yang lama (2 tahun). Insidensinya 10%. Zat besi di
dalam bola mata dapat menimbulkan siderosis bulbi yang bila didiamkan akan
dapat menimbulkan ftisis bulbi dan kebutaan.

4. Sinekia Posterior
Sinekia posterior bisa timbul pada pasien traumatik hifema. Komplikasi ini
akibat dari iritis atau iridocyclitis. Komplikasi ini jarang pada pasien yang
mendapat terapi medikamentosa dan lebih sering terjadi pada pada pasien dengan
evakuasi bedah pada hifema. Peripheral anterior synechiae terjadi pada pasien
dengan hifema pada BMD dalam waktu yang lama, biasanya 9 hari atau lebih.
Patogenesis dari sinekia anterior perifer berhubungan dengan iritis yang lama
akibat trauma atau dari darah pada BMD. Bekuan darah pada sudut BMD
kemudian bisa menyebabkan trabecular meshwork fibrosis yang menyebabkan
sudut bilik mata tertutup.
10
5. Atrofi optik
Atrofi optik disebabkan oleh peningkatan tekanan intra okular.

6. Uveitis
Penyulit yang harus diperhatikan adalah glaukoma, imbibisio kornea,
uveitis. Selain dari iris, darah pada hifema juga datang dari badan siliar yang
mungkin juga masuk ke dalam badan kaca (corpus vitreum) sehingga pada
funduskopi gambaran fundus tak tampak dan ketajaman penglihatan
menurunnya lebih banyak. Hifema dapat sedikit, dapat pula banyak. Bila sedikit
ketajaman penglihatan mungkin masih baik dan tekanan intraokular masih
normal. Perdarahan yang mengisi setengah BMD dapat menyebabkan gangguan
visus dan kenaikan tekanan intra okular sehingga mata terasa sakit oleh karena
glaukoma. Jika hifemanya mengisi seluruh BMD, rasa sakit bertambah karena
tekanan intra okular lebih meninggi dan penglihatan lebih menurun lagi.

I.1.9. Prognosis
Prognosis tergantung pada banyaknya darah yang tertimbun pada kamera okuli
anterior. Biasanya hifema dengan darah yang sedikit dan tanpa disertai glaukoma,
prognosisnya baik (bonam) karena darah akan diserap kembali dan hilang sempurna dalam
beberapa hari. Sedangkan hifema yang telah mengalami glaukoma, prognosisnya
bergantung pada seberapa besar glaukoma tersebut menimbulkan defek pada ketajaman
penglihatan. Bila tajam penglihatan telah mencapai 1/60 atau lebih rendah maka prognosis
penderita adalah buruk (malam) karena dapat menyebabkan kebutaan.

11
BAB II
LAPORAN KASUS

II.1. Identitas
Nama : Nn. T
No. Rekam Medis : 031577
Umur : 25 tahun
Jenis Klamin : Perempuan
Agama : Katolik
Alamat : Ambarawa
Tanggal Pemeriksaan : 11 Juli 2013

II.2. Anamnesa
Keluhan Utama :
Mata kabur OD
Keluhan Tambahan :
Nyeri pada OD, Merah pada OD
Riwayat Penyakit sekarang :
1 hari yang lalu, OD terkena shuttlecock saat bermain badminton. Mata
kemudian terasa nyeri dan sudah 1 hari merasa kabur pada mata. Mata juga
merah dan nyerocos. Kepala sebelah kanan terasa sakit. Pasien merasa
pandangan sangat kabur. Sekitar kelopak mata tampak bengkak kemerahan
dan matanya berair seperti air mata dan nyeri bila dibuka. Keluhan mual,
muntah dan nyeri kepala sisi kiri disangkal pasien. Mata kiri pasien tidak ada
keluhan.
Riwayat Penyakit Dahulu :
DM (-), HT (-), penyakit infeksi (-), keluhan yang sama sebelumnya (-)
Riwayat penyakit keluarga :
Tidak ada yang menderita penyakit seperti ini sebelumnya
Riwayat pengobatan :
(-)

12
II.3. Pemeriksaan Fisik
Status generalis
Keadaan umum : Baik
Kesadaran : Compos Mentis
Tanda Vital : Tekanan darah : 120/80 mmHg

Status oftalmologi
Oculus Dexter Pemeriksaan Oculus Sinister
1/300 Visus 6/6
NC Koreksi NC
Baik ke segala arah Gerakan bola mata Baik ke segala arah
Normal Suprasilia Normal
- Hiperemis (+) Palpebra - Hiperemis (-)
- Edema (+) - Edema (-)
- Ptosis (-) - Ptosis (-)

- Hiperemi (+) Konjungtiva - Hiperemi (-)


- Injeksi - Injeksi
Konjungtiva (+)
Konjungtiva (-)
- Injeksi siliar (+)
- Injeksi siliar (-)
- Secret (-)
- Secret (-)
- Bulat (+) Kornea - Bulat (+)
- Kejernihan (+) - Kejernihan (+)
- Mengkilat (+) - Mengkilat (+)
- Edema (-) - Edema (-)
- Presipitat (-) - Presipitat (-)
- Sikatrik (-) - Sikatrik (-)
- Jernih (-) Camera oculi anterior - Jernih (+)
- Hipopion (-) - Hipopion (-)
- Hifema (+) - Hifema (-)
- Seluruh BMD
terisi darah encer
- Sulit dinilai Iris - Kripta (-)
- Edema (-)
- Sinekia (-)
- Bentuk reguler
-
Sulit dinilai Pupil - Mengecil
-
- Sulit dinilai Lensa Jernih (+)

13
II.4. Diagnosis Kerja
Hifema OD et causa Trauma benda tumpul Oculi

II.5. Terapi
Nonfarmakologis
-
Tirah baring dengan posisi kepala 30-450
-
Mata ditutup / Bebat mata
Medika mentosa
- Asam Tranexamat 4 x 250 mg per oral
- Cendo xitrol 3 x 1
- Azetazolamid 3 x 250 mg
Pasien diminta kembali dalam 1 bulan untuk dilakukan follow-up

II. 8. Prognosis
OD OS
Quo ad visam Dubia ad bonam Dubia ad malam
Quo ad sanam Dubia ad bonam Dubia ad malam
Quo ad functionam Dubia ad bonam Dubia ad malam
Quo ad kosmetikam Dubia ad bonam Dubia ad bonam
Quo ad vitam Ad bonam Ad bonam

14
BAB III

PEMBAHASAN

III.1. Subjektif
Pasien Nn. T, perempuan, usia 25 tahun datang ke Klinik Mata dengan
keluhan pandangan kabur pada mata kanan. Keluhan tersebut diikuti dengan nyeri,
hiperemis, dan lakrimasi pada mata, dan nyeri pada kepala sebelah kanan.
III.2. Objektif
Pada pemeriksaan fisik Tn. M, ditemukan tanda-tanda vital dalam batas
normal. Dari status generalis pasien tidak ditemukan kelainan. Pada pemeriksaan
lokalis mata didapatkan visus pasien menurun OD 1/300 dan OS 6/6 (OS dbn).
Visus dapat menurun akibat kerusakan kornea, aqueous humor, iris dan retina.
Ditemukan darah di dalam bilik mata yang terlihat dengan mata telanjang bila

15
jumlahnya cukup banyak. Bila pasien duduk, hifema akan terlihat terkumpul
dibagian bawah BMD, perdarahan yang mengisi setengah bilik mata depan
dapat menyebabkan gangguan visus dan kenaikan tekanan intraokuler, sehingga
mata terasa sakit. Pada konjunctiva palpebra tampak hiperemis, konjunctiva bulbi
terdapat injeksi konjunctiva +, dan injeksi siliaris +. Pada BMD tampak terisi
penuh oleh darah encer. Pupil, iris, lensa, vitreus, dan fundus sulit dinilai karena
BMD terisi darah.

Berdasarkan hasil S dan O :


Adanya Hifema OD et causa trauma benda tumpul Oculi.

III.3. Assesment
Penatalaksanaan dari hifema bertujuan untuk menghentikan perdarahan atau
menghindarkan timbulnya perdarahan sekunder, mengeliminasi darah dari bilik
depan bola mata, merawat dan mengobati jaringan sekitarnya, dan meminimalisasi
kerusakan lebih lanjut lagi.
Nonfarmakologis
-
Tirah baring dengan posisi kepala 30-450
-
Mata ditutup / Bebat mata
Medika mentosa
- Asam Tranexamat 4 x 250 mg per oral
- Cendo xitrol 3 x 1
- Azetazolamid 3 x 250 mg

III.4. Plan
Follow-up pasien 1 minggu

16