Anda di halaman 1dari 652

DR. WIDYA | DR. YOLINA | DR. RETNO | DR.

ORYZA
DR. REZA | DR. RESTHIE | DR. CEMARA

OFFICE ADDRESS:
Jl padang no 5, manggarai, setiabudi, jakarta selatan Medan :
(belakang pasaraya manggarai) Jl. Setiabudi no. 65 G, medan
phone number : 021 8317064 Phone number : 061 8229229
pin BB D3506D3E / 5F35C3C2 Pin BB : 24BF7CD2
WA 081380385694 / 081314412212 Www.Optimaprep.Com
ILMU
P E N YA K I T
DALAM
1. TB
2. Diabetes Mellitus
Kriteria diagnosis DM:
1. Glukosa darah puasa 126 mg/dL. Puasa adalah kondisi
tidak ada asupan kalori minimal 8 jam, atau

2. Glukosa darah-2 jam 200 mg/dL pada Tes Toleransi


Glukosa Oral dengan beban glukosa 75 gram, atau

3. Pemeriksaan glukosa darah sewaktu 200 mg/dL dengan


keluhan klasik (poliuria, polidipsia, polifagia, unexplained
weight loss), atau

4. Pemeriksaan HbA1C 6,5% dengan metode HPLC yang


terstandarisasi NGSP

Konsensus pengelolaan dan pencegahan DM tipe 2. 2015.


Diabetes Melitus

PERKENI. Konsensus DM Tipe 2 Indonesia. 2011.


3. Farmakologi
Rifampicin, has been shown to induce
menstrual disturbances by increasing
enzymatic catabolism of estrogens that affect
Luteinizing Hormone surge.

It was reported that rifampicin may be the


cause of some menstrual disorders when used
with oral contraceptive pills.
4. Anemia Makrositik

Clinical laboratory hematology. 3r ed. 2016.


5. Cor Pulmonal
Cor pulmonale:
Dilation & hypertrophy
of the right ventricle in
response to diseases of
the pulmonary
vasculature and/or lung
parenchyma.
Symptoms & signs:
Dyspnea, elevated JVP,
hepatomegaly, ascites,
lower extremity edema
6. Nyeri Sendi
The management of acute gout is to provide rapid & safe pain
relief.
NSAID: indometasin 150-200 mg/hari, 2-3 hari, lalu 75-100 mg
sampai minggu berikutnya/radang berkurang
Colchicine: 0,5-0,6 mg, 3-4 kali/hari, maksimal 6 mg
Corticosteroid if NSAID is contraindicated.

Preventing further attacks by uric acid lowering agent:


Allopurinol
Probenecid

Uric acid lowering agent shouldnt be given on acute attack,


unless the patient has consumed it since 2 weeks before.

HCT may cause hyperuricemia, hence it should be replaced by


another antihypertensive
Current diagnosis & treatment in rheumatology. 2nd ed. McGraw-Hill; 2007.
7. Nyeri Sendi

Current diagnosis & treatment in rheumatology. 2nd ed. McGraw-Hill; 2007.


Birefringence (-)
Kuning bila paralel
dengan kompensator
& biru bila tegak lurus
dengan kompensator.
8. Pola Demam
Demam kontinyu:
Demam terus menerus dan menetap
Demam remitten:
Demam dengan penurunan suhu tiap hari tetapi tidak mencapai
normal.
Demam intermiten:
Demam dengan suhu kembali normal setiap hari, umumnya pada pagi
hari, dan puncaknya pada siang hari.
Demam siklik:
Demam beberapa hari, lalu turun sampai normal.
Demam bifasik:
Demam dengan periode normal di antara dua demam
Demam rekuren:
Demam yang timbul kembali dengan interval irregular pada satu
penyakit yang melibatkan organ yang sama.
9. Decompression
Sickness (DCS)
DCS disebabkan oleh
pembentukan gelembung
dari gas inert (biasanya
nitrogen) selama atau
setelah naik dari tempat
dengan tekanan tinggi.

Dipilih jawaban C yang


lebih umum karena Caisson
disease ditemukan pada
pekerja galian yang naik ke
permukaan, bukan pada
penyelam.
10. TB 2014
11. Diabetes
meglitinide

TZD

Glucose undergoes oxidative metabolism in the cell to yield ATP. ATP inhibits an
inward rectifying K+ channel receptor on the -cell surface. Inhibition of this receptor
leads to membrane depolarization, influx of Ca [2]+ ions, and release of stored insulin
from cells. The sulfonylurea class of oral hypoglycemic agents bind to the SUR1
receptor protein.
Diabetes
12. Asma
13. Asma
14. Edema

Robbins & Cotran pathologic basis of disease. 8th ed. Saunders; 2010.
Edema
15. Asma
Asma
16. Tuberkulosis
Pemeriksaan mikroskopik:
Mikroskopik biasa : pewarnaan
Ziehl-Nielsen, pewarnaan
Kinyoun Gabbett
Mikroskopik fluoresens:
pewarnaan auramin-rhodamin
17. Hemostasis
Aspirin menghambat COX-1 yang menurunkan
PGG2 sehingga menghambat aktivasi
trombosit hambatan agregasi trombosit

Nature Reviews Cardiology 8, 560-571 (October 2011) | doi:10.1038/nrcardio.2011.111


http://www.nature.com/nrcardio/journal/v8/n10/images/nrcardio.2011.111-f1.jpg
18. Tuberkulosis
Tipe Pasien Definisi
Baru Belum pernah/sudah pernah OAT <1 bulan
Kambuh/relaps Pernah sembuh atau OAT lengkap, kembali BTA +
Defaulted/drop out OAT >1 bulan, tidak mengambil obat 2 bulan
Gagal Telah berobat tapi BTA tetap + pada akhir bulan ke-5
Kronik BTA + dengan OAT kategori 2
Bekas TB BTA -, Ro: tidak aktif
Paduan Obat Tipe Pasien
Kategori 1: Pasien baru, TB paru BTA (-), TB ekstra paru.
2RHZE/4(RH)3
Kategori 2 Kambuh, gagal, default/drop out
2RHZES/RHZE/5(RHE)3
Kategori anak Anak dengan skor TB 6
2RHZ/4RH
Profilaksis anak Anak dengan kontak penderita TB BTA (+)
6INH 5-10 mg/kgBB
19. Kardiologi

Peningkatan afterload mengakibatkan


dilatasi ventrikel & meregangkan katup
jantung, sehingga timbul regurgitasi
mitral.

Tidak ditemukan hubungan langsung


antara afterload dengan murmur.
20. Dispepsia
21. Farmakologi
Efek samping metformin:
Sakit kepala
Bloating, diare, flatulens, mual, muntah
Anemia megaloblastik (efek jangka panjang)
Asidosis laktat
Dermatitis, ruam

Efek pada hepar (hepatitis) bisa terjadi tapi sangat jarang.


Satu-satunya efek jangka panjang yang terdapat di literatur
adalah anemia megaloblastik karena gangguan absorbsi
vitamin B12. Karena tidak ada pilihan anemia, dipilih efek
pada hepar. Metformin bekerja pada hepar, kemungkinan
akan berefek pada hepar.
22. Penyakit Ginjal
23. Penyakit Katup Jantung
Pulmonic stenosis
Symptoms:
Frequently asymptomatic.
Symptoms can appear gradually as the pulmonic valve
pressure gradient increases right ventricular
hypertrophy right heart failure exertional dyspnea,
fatigue, edema.

Sign:
Systolic murmur at the left second intercostal space
preceded by a systolic click
Split S2 with a soft P2
24. Penyakit Hepatobilier
Penyakit Hepatobilier
Koledokolitiasis
Batu empedu di duktus biliaris komunis

Manifestasi klinis
Kolik bilier, kolangitis asending, ikterus obstruktif, pankreatitis
akut.

Radiologi
USG, sensitivitas 13-55%, temuan: visualisasi batu (hiperekoik),
dilatasi duktus bilier
CT dengan kontras: 65-88%

Terapi
ERCP dengan sfingterotomi
http://radiopaedia.org/articles/choledocholithiasis
25. Karsinogenik
Aflatoksin adalah racun dari jamur (mikotoksin)
yang dihasilkan oleh spesies Aspergillus flavus &
sebagian strain Aspergillus parasiticus.

Pada tahun 1998, International Agency for


Research on Cancer memasukkan aflatoksin B1
dalam daftar karsinogen karena terakit dengan
karsinoma hepar.

Manusia terpajan aflatoksin dari kacang-


kacangan/polong yang terkontaminasi jamur.

FDA membolehkan adanya sedikit kandungan


aflatoksin dalam produk kacang karena
kontaminasi tidak bisa dihindari & konsumsi yang
sedikit diyakini memiliki risiko yang kecil.
Aspergillus flavus
26. JNC VIII
JNC VIII
JNC VIII tidak
mewajibkan satu
obat tertentu untuk
memulai terapi
hipertensi.

Namun, ditinjau dari


keluaran gagal
jantung, diuretik &
ACE-I lebih efektif
dibanding golongan
lain.
27. Acute Urinary retention
Painful inability to void, with relief of pain
following drainage of the bladder by
catheterization.
Pathophysiology:
Increased urethral resistance, i.e., bladder outlet
obstruction (BOO)
Low bladder pressure, i.e., impaired bladder
contractility
Interruption of sensory or motor innervations of
the bladder
Non traumatic
Acute urinary retention emergency

Causes : Initial Management :


Men: Urethral catheterisation
Benign prostatic enlargement Suprapubic puncture and
(BPE) due to BPH catheter ( SPC)
Carcinoma of the prostate
Urethral stricture
Late Management:
Prostatic abscess Treating the underlying
Urolithiaisis cause
Women
Pelvic prolapse (cystocoele,
rectocoele, uterine)
Urethral stricture;
Urethral diverticulum;
Post surgery for stress
incontinence
pelvic masses (e.g., ovarian
masses)
Batu Uretra
Berasal dari batu kandung kemih yang turun ke uretra
Sangat jarang batu uretra primerkecuali pada keadaan stasis urin yang
kronis dan infeksi seperti pada striktur uretra atau divertikel uretra
Batu uretra:
2/3 batu uretra terletak di uretra posterior
1/3 batu uretra terletak di uretra anterior
Gejalatidak spesifik, terdapat gejala-gejala obstruksi
Asimptomatik
Riwayat sering nyeri pinggang sebelumnya
Retensi urinKeluhan tersering
Disuria
Aliran mengecil
Frequency
Dribbling
Hematuria
Mengeluar batu kecil saat kencing atau kencing berpasir
Batu uretra posteriorNyeri yang menjalar ke perineum atau rectum
Batu uretra anteriornyeri pada daerah tempat batu berada atau menjalar ke
penis http://www.bjui.org/ContentFullItem.aspx?id=840&SectionType=1&title=Ob
structing-Calculi-within-the-Male-Urethra
Pemeriksaan fisik:
Teraba massa batu pada penis Tata laksana:
atau peno-scrotal junction Batu uretra posterior:
RT: teraba massa kerasbatu Push-back lalu diterapi seperti batu
uretra posterior kandung kemihlitotripsi/open
bladder
Pemeriksaan Penunjang:
batu uretra anterior
USGSkrinning batu radiolisen
Lubrikasi anterior
CT-scan UroGold standar Push-back lalu diterapi seperti batu
untuk kasus urolitiasis kandung kemih
Belum ada penelitian tentang Uretrotomi terbuka
sensitivitasnya terhadap batu
uretra
batu di Fossa navikularis/meatus
eksterna
Cystourethroscopymelihat
Uretrotomi terbuka:meatotomi
langsung dgn endoskopi
Tujuan tatalaksana: Komplikasi:
postobstructive renal failure
Analgetik
long term urethral damage
Relieve the outflow obstruction
Punksi suprapubik urethrocutaneous fistulas
remove the stone without incontinence and impotence
damaging the urethra. Case Reports: A stone down below: a urethral stone causing acute urinary
retention and renal failure. Hanna Bielawska, MD; Norman L. Epstein, MD.
CJEM 2010;12(4):377-380 in http://cjem-online.ca/v12/n4/p377
Urethral Stone
Batu uretra harus selalu
dipikirkan pada pasien
anak yang mengalami
retensi urin akut
Simple procedures like
meatotomy, supra-
pubic bladder
decompression and
urethrolithotomy to
evacuate stone can
relieve these symptoms

J Coll Physicians Surg Pak. 2012 Aug;22(8):510-3. doi: 08.2012/JCPSP.510513.


http://en.wikipedia.org/wiki/Burn

28. Luka Bakar

prick test (+)


Berat luka bakar:
Ringan: derajat 1 luas <
15% a/ derajat II < 2%
Sedang: derajat II 10-
15% a/ derajat III 5-
10%
Berat: derajat II > 20%
atau derajat III > 10%
atau mengenai wajah,
tangan-kaki, kelamin,
persendian,
pernapasan
To estimate scattered burns: patient's
palm surface = 1% total body surface Total Body
area
Surface Area

Parkland formula = baxter formula

http://www.traumaburn.org/referring/fluid.shtml
29. GANGLION Cyst

Kista ganglion
merupakan tumor yang
sangat sering muncul
pada tangan dan
pergelangan tangan
Timbul pada daerah
yang berdekatan dengan
sendi atau tendon.
Lokasi tersering:
pergelangan tangan
(top of the wrist)
Diagnosis
Berdasarkan lokasi dari tumor dan
penampakannya
Karakteristik
Bulat atau oval
Lunak atau kenyal(oft or firm)
Nyeri saat terkena tekanan, contohny pada saat
menggenggam.
Transillumination +

American Society for Surgery of the Hand


www.handcare.org
30. Colonic Carcinoma
Time Course Symptoms Findings
Early None None
Occult blood
in stool
Mid Rectal Rectal mass
bleeding Blood in stool
Change in
bowel habits
Late Fatigue Weight loss
Anemia Abdominal
Abdominal mass
pain Bowel
obstruction
Faktor Risiko
Etiologi tumor colorectal belum diketahui secara pasti,
beberapa faktor yang diduga berperan adalah:
Faktor herediter
10-15% carcinoma colorectalkasus familial.
Usia
faktor risiko dominan
Insidensi meningkat diatas 50 tahun
Diet dan lingkungan
lebih sering terjadi pada populasi yang mengkonsumsi diet
tinggi lemak hewani dan rendah serat.
Inflammarory bowel disease
Pasien dengan Inflammatory bowel disease, khususnya colitis
ulceratif kronis, berhubungan dengan meningkatnya risiko
carcinoma colorectal.
Pemeriksaan Penunjang
Fecal occult blood test (FOBT) : pemeriksaan
terhadap darah dalam feces. Ada 2 tipe
pemeriksaan darah pada feces yaitu guaiac
based (pemeriksaan kimiawi) dan
immunochemical.
Endoskopi
Rectosigmoidoskopi
Fleksibel sigmoidoskopi dan colonoskopi
Pemeriksaan Penunjang
Double contrast barium
enema (DCBE): Barium
enema dimasukkan,
diikuti dengan pemasukan
udara untuk
mengembangkan colon.
Hasilnya adalah lapisan
tipis dari barium akan
meliputi dinding sebelah
dalam dari colon yang
akan terlihat pada hasil
pemeriksaan sinar X.
Colon-Rectum
Anus
Dari Linea Dentata sampai 3-4
cm dari linea dentata
(Anocutan Line)
Rectum
Mulai dari 3-4 cm dari Linea
Dentata sampai 15 cm ke
proksimal
Rectosigmoid junction is the
point at which the three tenia
fan out and form a complete
outer longitudinal layer.
Carcinoma proximal to this Linea Dentata

pointcolonic ca, distal to this


pointrectal
31. Scaphoid fracture

Anatomical snuff box (tabatiere anatomicum) bordered by


Extensor pollicis brevis
Extensor pollicis longus
The scaphoid bone is palpated inside the box as well as the
radial styloid.
Pain in the box should indicate scaphoid fracture until
proven otherwise
Fractured Scaphoid
History of Falling on an
outstretched hand
Blood supplied from distal
pole
At risk for avascular necrosis
Loss of blood supply
In children, 87% involve distal
pole
In adults, 80% involve waist
Often misdiagnosised as a
wrist sprain
Requires immediate
immobilization
Imaging
Initial plain films
often normal
Bone scan 100%
sensitive and
92% specific at 4
days
MRI, CT scan
Nerve injury
Radial nerve sensory
branch, passes through
the snuffbox
Muscle of thenar
eminence
First 2 lumbricals
Skin of palmar surface of
lateral 3 fingers
If compressed causes
pain/numbness of
lateral 3 fingers
32. Airway opening techniques
- Head tilt
- Head tilt + chin lift
- Head tilt + neck
lift + jaw thrust
(Triple airway
manoeuvre)
Head tilt Causes
extension of cervico-
thoracic spine
Not advised for
suspected cervical spine
trauma
http://emedicine.medscape.com/article/1015227

33. Hipospadia

Hypospadia
OUE berada pada ventral penis
Three anatomical
characteristics
An ectopic urethral
meatus
An incomplete prepuce
Chordee ventral
shortening and curvature
34. Arthritis Septik
Acute Monoarthritis Acute monoarthritis
Differential Diagnosis Cardinal signs of
Infection inflammation
Rubor, tumor, calor, dolor
Crystal-induced
Hemarthrosis +/- Fever
Tumor +/- Leukocytosis
Intra-articular
derangement ACUTE MONOARTHRITIS
IS SEPTIC UNTIL
Systemic rheumatic PROVEN OTHERWISE
condition
Definition Etiology
Inflammation of a Staph aureus
synovial membrane with Streptococci
purulent effusion into the In all age groups, 80% due
joint capsule, often due to gram-positive aerobes,
to bacterial infection 20% due to gram-
negative anaerobes
Neonates and infants < 6
mos S aureus and gram-
negative anaerobes
Incidence of H. influenzae
has decreased due to the
vaccine
Pathophysiology
Workup-Treatment
35. Facial Trauma Causes of Mortality
Acute
Airway compromise
Exsanguination
Associated intracranial or cervical-spine injury
Delayed
Meningitis
Oropharyngeal infections
Airway Compromise
Blood in airway
Debris in airway
Vomitus, avulsed tissue, teeth or dentures, foreign
bodies
Pharyngeal or retropharyngeal tissue swelling
Posterior tongue displacement from mandible
fractures
Especially parasymphisis/symphisis
fracturedisruption of anterior adhesion of the
tongue
Parasymphisis and
Muscles of mouth symphisis area are origins
floor and insertions of mouths
floor muscles
Disruption of these
structures In fracture can
cause tongue to fall
posteriorly, closing airway
Angle Class I Occlusion (normal)
36. Congenital Malformation
Disorder Definition Radiologic Findings

Hirschprung Congenital Barium Enema: a transition zone that


aganglionic separates the small- to normal-diameter
megacolon aganglionic bowel from the dilated bowel
above
Intussusception A part of the Intussusception found in air or barium
intestine has enema
invaginated into
another section of
intestine
Duodenal Dueodenum Plain X-ray: Double Bubble sign
atresia
Anal Atresia birth defects in Knee chest position/invertogram: to
which the rectum is determined the distance of rectum stump
malformed to the skin (anal dimple)

http://emedicine.medscape.com/
37. Management of Trauma Patient
Spinal Injury
Tujuan tatalaksana trauma Curiga cedera spinal
spinal Kecelakaan dengan
Protect further injury kecepatan tinggi
during evaluation and Jatuh dari ketinggian
management Tidak sadar
Identify spine injury or Jejas multipel
document absence of
spine injury Defisit neurologi
Optimize conditions for Spinal pain/tenderness
maximal neurologic
recovery
Tanda Dan Gejala Spinal Cord Injury
Paralisis ekstremitas Gejala Shock Neurogenic
Nyeri pada pergerakan Bradycardia
Nyeri tekan pada Hipotensi
vertebra
Cool, Moist & Pale skin
Gangguan above the injury
pernapasan
Deformitas vertebra Warm, Dry & Flushed
skin below the injury
Priapismus
inkontinensia
Posturing
Parestesia
Pre-hospital management PROTECTION PRIORITY
Move to a safe place, Pasang collar Neck
prevent additional injury Detection Secondary
Protect spine at all times Log Roll
during the management of
patients with multiple
injuries Pasang collar
neck
Up to 15% of spinal injuries
have a second fracture
elsewhere in the spine
Ideally, whole spine should
be immobilized in neutral
position on a firm surface
Pasien yang memerlukan X-ray?
Radiografi pada cedera spinal
Cervical lateral diagnostic 80%
Foto vertebra komplit AP-Lateral
90% diagnostic
CT spinal 98% diagnostic
22.5 logrolled view untuk melihat
facets
45 view melihat intervertebral
foramen & facets

Trauma.org
Vertebra cervical normal
Peg & lateral mass distance <2mm and symmetrical
Peg & arch of atlas distance <2mm in adults < 4mm in kids

Above C4 the width is <half of the VB width below C4 its


equal to one VB width

Pseudosubluxation of C2 on C3 is normal in young kids& it


disappears on extension
C1 and C2 interspinous space <10mm wide

Distance between occiput and atlas <5mm


Anterior compression of VB >40% suggest burst fracture
Modifikasi untuk pasien dengan kecurigaan trauma medula
spinalis:
1. Tongue/jaw lift
2. Modified jaw thrust
38. Controlling External Bleeding
Pertolongan pertama yang harus segera
dilakukan untuk menghentikan perdarahan
Memberikan tekanan langsung
Menekan langsung sumber perdarahan dengan
kassa steril
Pressure Bandages
Apply over wound on
extremity to maintain
direct pressure
Use roller bandage to
completely cover
wound and maintain
pressure

Make sure it doesnt cut off circulation


Check victims fingers and toes for circulation
39. Intussusception
Sebagian usus masuk ke dalam bag. Usus yang lainobstruksi usus
Bayi sehat, tiba-tiba menangis kesakitan(crying spells), nyeri, Lethargy
Pada kuadran kanan atas teraba massa berbentuk sosis dan kekosongan
pada kuadran kanan bawah (Dance sign)
Usia 6 - 12 bulan
Biasanya jenis kelamin laki-laki
lethargy/irritability
Portio-like on DRE

Triad:
vomiting
abdominal pain
colicky, severe, and intermittent,drawing the legs up to the
abdomen,kicking the air, In between attacks, calm and relieved
blood per rectum /currant jelly stool

http://bestpractice.bmj.com/best-practice/monograph/679/highlights/overview.html
PART OF THE
INTESTINE FOLDS
ON ITSELF LIKE A
TELESCOPE
Etiologi
90% Idiopatik
Belum dapat dipastikan, namun diperkirakan
penyebabnya adalah virus ( Anomalies with
peristalsis)
10% Patologis
Polyp, tumour or other mass within the intestinal
tract is caught by the normal contractions,
creating a lead point which pushes along
causing the intussusception

Anne Connell
Radiologic signs
Ultrasound signs
include:
target sign /doughnut
sign)
pseudokidney sign
crescent in a doughnut
sign
Barium Enema
Barium Enema
pemeriksaan gold
standar
intussusception as an
occluding mass
prolapsing into the
lumen, giving the
"coiled spring
appearance
40. Tatalaksana Awal Ileus Obstruktif di UGD
ResusitasiABC bila pasien tidak
stabil A
Air way (O2 60-100%) Indikasi operasi segera
Infus 2 akses vena bila
dibutuhkan Adanya
Infus kristaloid sesuai
kondis pasien strangulasicontoh:
Pemeriksaan laboratorium hernia
Dekompresi dengan Naso-gastric
tube Adanya tanda-tanda
Pemasangan kateter peritonitis yang
urinmonitor output urin setiap
jambalans cairan ketat disebabkan karena
Antibiotik IV (tidak ada bukti yang perforasi atau iskemia
jelas)
Pemasangan CVPBila
dikhawatirkan akan terjadi
pemberian cairan yang berlebih
Follow-up hasil lab dan Koreksi
ketidakseimbangan elektrolit
Perawatan di intermediate care
Rectal tubes hanya dilakukan
pada Sigmoid volvulus.
41. Tibia-fibula Shaft Fracture/ Cruris
Fracture
Kruristungkai bawah yang
terdiri dari dua tulang panjang
yaitu tulang tibia dan fibula
Tscherne Classification
0-3
Based on degree of displacement
and comminution
C0simple fracture configuration with
little or no soft tissue injury
C1superficial abrasion, mild to
moderately severe fracture
configuration
C2deep contamination with local skin
or muscle contusion, moderately severe
fracture configuration
C3extensive contusion or crushing of
skin or destruction of muscle, severe
fracture
Clinical Features of Fracture

Fractures of the tibia History of trauma


and fibula shaft are Symptoms &
the most common signs:
long bone fractures Pain & tenderness
Caused by direct force Swelling
or twisting Deformity
Crepitus
Deformity of the Loss of function
middle third of cruris Abnormal move
Tscherne classification N.V. injuries
Tibia-Fibula midshaft fracture
The anterior tibial artery is
particularly vulnerable to
injury as it passes through
a hiatus in the interosseus
membrane.
The peroneal artery has an
anterior communicating
branch to the dorsalis
pedis artery
may therefore be occluded
despite an intact dorsalis
pedis pulse
Regardless, dorsalis pedis
pulse should always be
checked
Treatment
Nonoperative
Fracture reduction followed by
application of a long leg cast with
progressive weight bearing can be
used for isolated, closed, low-
energy fractures with minimal
displacement and comminution.
Gips dipasang sampai diatas lutut,
dengan lutut dalam posisi fleksi 0-5
derajat
After 4 to 6 weeks, the long leg cast
may be exchanged for a patella-
bearing cast or fracture brace.
Union rates as high as 97%

Kenneth J.; Zuckerman, Joseph D. Handbook of Fractures,


3rd Edition
Lippincott Williams & Wilkins 2006 https://www2.aofoundation.org
Operative fracture management
Tatalaksana operatif menjadi pilihan untuk
fraktur shaft tibia dengan unstable
displacement
Surgical treatment is necessary for open
fractures (wound debridement), compartment
syndromes, and repair of arterial injuries
42. Torsio Testis
Gejala dan tanda:
Nyeri hebat pada skrotum yang mendadak
Pembengkakan skrotum
Nyeri abdomen
Mual dan muntah
Testis terletak lebih tinggi dari biasanya atau
pada posisi yang tidak biasa
Bila nyeri berkurangtanda telah terjadi
nekrosis
RINGDAHL ERIKA,et al. Testicular Torsion
Am Fam Physician. 2006 Nov 15;74(10):1739-1743. Columbia, Missouri. In
http://www.aafp.org/afp/2006/1115/p1739.html
Ultrasound
Normal: homogenous symmetric

Late ischemia/infarct: Early ischemia: enlargement, no


hypoechoic echogenicity

Hemorrhage: hyperechoic areas


in an infarcted testis,
heterogenous, extra testicular
fluids
Penurunan Vaskularisasi
43. Diagnosis of BPH
Symptom assessment
the International Prostate Symptom Score (IPSS) is recommended as it is used worldwide
IPSS is based on a survey and questionnaire developed by the American Urological
Association (AUA). It contains:
seven questions about the severity of symptoms; total score 07 (mild), 819 (moderate), 2035
(severe)
eighth standalone question on QoL
Digital rectal examination(DRE)
inaccurate for size but can detect shape and consistency
PV determination- ultrasonography
Urodynamic analysis
Qmax >15mL/second is usual in asymptomatic men from 25 to more than 60 years of age
Measurement of prostate-specific antigen (PSA)
high correlation between PSA and PV, specifically TZV
men with larger prostates have higher PSA levels 1

PSA is a predictor of disease progression and screening tool for CaP


as PSA values tend to increase with increasing PV and increasing age, PSA may be used as a
prognostic marker for BPH
Grade Pembesaran Prostat
Rectal Grading
Dilakukan pada waktu vesika urinaria kosong :
Grade 0 : Penonjolan prostat 0-1 cm ke dalam rectum.
Grade 1 : Penonjolan prostat 1-2 cm ke dalam rectum.
Grade 2 : Penonjolan prostat 2-3 cm ke dalam rectum.
Grade 3 : Penonjolan prostat 3-4 cm ke dalam rectum.
Grade 4 : Penonjolan prostat 4-5 cm ke dalam rectum.
Pielografi Intravena (IVP)Pemeriksaan IVP dapat
menerangkan kemungkinan adanya:
kelainan pada ginjal maupun ureter berupa
hidroureter atau hidronefrosis
memperkirakan besarnya kelenjar prostat yang
ditunjukkan oleh adanya indentasi prostat
(pendesakan vesica urinaria oleh kelenjar prostat)
atau ureter di sebelahdistal yang berbentuk seperti
mata kail
penyulit yang terjadi pada vesica urinaria yaitu adanya
trabekulasi, divertikel, atau sakulasi vesica urinaria
foto setelah miksi dapat dilihat adanya residu urin
Bladder indentation
Prostatic enlargement
The bladder base is
lifted up and shows an
impression from the
enlarged prostate
(arrow)
A balloon catheter is in
the bladder.
44. Acute Achilles Tendon Rupture
Adults 40-50 y.o.
primarily affected (M>F)
Athletic activities,
usually with sudden
starting or stopping
Snap in heel with pain,
which may subside
quickly
Diagnosis

Weakness in
plantarflexion
Gap in tendon
Palpable swelling
Positive Thompson test
http://emedicine.medscape.com/article/1922965-overview
http://www.qualitycarept.com/Injuries-Conditions/Foot/Foot-
Issues/Achilles-Tendon-Problems/a~253/article.html
45. End Points of Resuscitation
Restoration of normal vital signs
Adequate Urine output
0.5 - 1.0 cc/kg/hr
Tissue Oxygenation measurement
Adequate Cardiac Index
Normalization of Oxygen delivery DO2I
Normal Serum Lactate levels

Englehart; Curr Op Crit Care; Vol 12(6), Dec 06, p 579-574


46. Kerusakan N. Peroneus(Fibularis)

Etiologi
Fraktur pada collum fibula
Entrapment by leg casts or
splints
Paralisis Otot
Otot-otot kaki Anterior dan
lateral
Deformitas
Equinovarus/drop foot
Plantar fleksi dan inversi
karena tidak adanya kontraksi
yang melawan plantar flexors
and invertors.
Sensory loss
Sisi kaki Anterior dan
lateral
Dorsum pedis dan digiti
Sisi Medial dari ibu jari
Lateral border of foot
and lateral side of little
toe along with medial
border upto the ball of
great toe is unaffected
Kerusakan N. Tibialis
Cause
Jarang terkena pada
fraktur tibia
Muscle paralyzed
Semua otot kaki
bag.posterior dan telapak
kaki
Deformity
Calcaneovulgus
Dorsiflexion and Eversion
of foot
47. Cardiac
Arrest
Indication for
CPR
No response
Not breathing
No pulse
Check Pulse
a.Carotis

http://circ.ahajournals.org/content/11
2/24_suppl/IV-156/F2.expansion.html
Identification Of Cardiac Arrest
Tenaga medis harus
memeriksa pulse sebelum
melakukan chest
compressions pada pasien
yang disangka cardiac
arrest.
Untuk dewasa dan anak,
pulse diperiksa pada a.
carotis selama 5 sampai 10
detik
Tidak ada pulsecardiac
arrest

http://www.cardiopulmonaryresuscitation.net/
http://en.wikipedia.org/wiki/Burn

48. Luka Bakar

prick test (+)


Berat luka bakar:
Ringan: derajat 1 luas <
15% a/ derajat II < 2%
Sedang: derajat II 10-
15% a/ derajat III 5-
10%
Berat: derajat II > 20%
atau derajat III > 10%
atau mengenai wajah,
tangan-kaki, kelamin,
persendian,
pernapasan
49. DVT

Virchow Triads:
(1) venous stasis
(2) activation of blood coagulation
(3) vein damage

Crurales Vein is a common and


incorrect terminology
Superficial vein systems
Signs and symptoms of
DVT include :
Pain in the leg
Tenderness in the calf (this
is one of the most
improtant signs )
Leg tenderness
Swelling of the leg
Increased warmth of the
leg
Redness in the leg
Bluish skin discoloration
Discomfort when the foot
is pulled upward (Homans)
http://www.medical-explorer.com/blood.php?022
Patient with suspect symptomatic
Acute lower extremity DVT

negative
Venous duplex scan Low clinical probability observe

positive High clinical probability negative

Evaluate coagulogram /thrombophilia/ malignancy


Repeat scan /
Venography
Anticoagulant therapy yes IVC filter
contraindication

No

pregnancy LMWH

OPD LMWH

hospitalisation + warfarin
UFH

Compression treatment
Color duplex scan of DVT

Venogram shows DVT


50.Intestinal Atresia and Stenosis
Gejala Klinis Diagnosis
1.Muntah
onset: sejak pertama X-ray
pemberian minum, sampai duodenal atresiaDouble
beberapa hari setelah lahir bubble sign
vomitus: hijau atau feses jejunal atresiatriple bubble
2Distensi abdominal sign
high: terbatas pada low intestinal
epigastrium (ileal/jejunoileal)
low: seluruh abdomen terlihat atresiamultiple air-fluid
distensi level
3Tidak dapat mengeluarkan
mekonium
Normalnya mekonium
dikeluarkan dalam 24 jam
pertama kehidupan dan
bersih dalam 2-3 hari
Atresia Intestin
Atresia Jejunum merupakan atresia
tersering
1 per 2,000 live births
Atresia terjadi karena adanya oklusi
pembuluh darah sebagian atau
seluruhnya yang memperdarahi usus,
terjadi in utero
Classification--Types I-IV
Gejala Klinis:
Muntah hijau
Distensi Abdomen
Tidak dapat mengeluarkan
meconium (70%)
Ileal atresia. Upright Jejunal atresia: The triple
radiograph of the abdomen bubble sign on the erect
Duodenal atresia. Doble demonstrates many dilated plain abdominal
buble sign loops of bowel and air-fluid radiograph.
levels
Atresia Duodenum
Dibagi menjadi menjadi :
Complete (atresia)
Partial (web, stenosis, ladd band, annular
pancreas)
Diagnois Antenatal :
Polyhydramnios
Dilated stomach and 1st part Duodenum
Down syndrome 30%
Symptoms and Signs:
vomiting, bilious 80%
High gastric aspiration: >30ml
X-rays:
Double bubble shadow
Management:
Singkirkan Volvulus
Resuscitation
NGT, Vitamin K
Stabilisasi sebelum operasi
Duodeno-duodenostomy
51. Urolitiasis
Calcium oxalate stones
Batu ureter yang tersering
Cenderung terbentuk pada urin yang bersifat asampH
rendah
Sebagian oksalat yang terdapat di urin, diproduksi oleh tubuh
Kandungan Kalsium dan oksalat yang terdapat di makanan
memiliki pengaruh terhadap terbentuknya batu, tetapi bukan
merupakan satu-satunya faktor yang mempengaruhi
Dietary oxalate an organic molecule found in many
vegetables, fruits, and nuts
Calcium from bone may also play a role in kidney stone
formation.
Calcium phosphate stones
Lebih jarang
Cenderung terbentuk pada urin yang alkalinpH tinggi
Struvite stones
Lebih sering ditemukan pada wanita
Hampir selalu akibat dari ISK
Disebut juga batu triple phosphat
Uric acid stones
These are a byproduct of protein metabolism
commonly seen with gout,and may result from certain genetic
factors and disorders of your blood-producing tissues
fructose also elevates uric acid, and there is evidence that
fructose consumption is helping to drive up rates of kidney
disease
Cystine stones
Representing only a very small percentage
these are the result of a hereditary disorder that causes kidneys
to excrete massive amounts of certain amino acids (cystinuria)
Kristal urine
Amorphous Urates and Uric Acid
Phosphates Bilirubin Crystals

Calcium Oxalate Triple Phosphate Cholesterol


Kristal kalsium phosphatsering berbentuk rosette
52. Foreign Body Obstruction
Jackson (1936) membagi sumbatan 4. Sumbatan total (stop valve
bronkus menjadi 4 tingkat obstruction)
1. Sumbatan sebagian (bypass valve tidak terdengar stridor
obstruction=katup bebas)
terdengar wheezing
2. Sumbatan seperti pentil, ekspirasi
terhambat, atau katup satu arah
(expiratory check valve obstruction)
Stridor inspirasi
3. Seperti pentil namun hambatan
inspirasi (Inspiratory check valve)
stridor ekspirasi

Iskandar N. Sumbatan Traktus Trakeo-


bronkial. Buku ajar THT edisi 6 FKUI 2007
I L M U
P E N YA K I T
M ATA
53. Klasifikasi teknik gonioskopi
Sistem Shaffer pada glaukoma primer
sudut tertutup
Berdasarkan deskripsi anatomisnya, berikut adalah derajat
kedalaman sudut dan interpretasi klinisnya:
Grade 2 (20O)
Merupakan sudut yang sempit di mana trabekula dapat terlihat
Grade 1 (10O)
Sudut yang sangat sempit dimana schwalbe line terlihat dan mungkin
juga terlihat puncak trabekula dan merupakan suatu risiko tinggi
tertutup
Sudut slip
Tidak terlihatnya kontak iridocorneal sehingga tidak satupun sudut
dapat diidentifikasi. Sudut ini memiliki risiko tinggi untuk ancaman
sudut tertutup
Grade 0 (0O)
Merupakan sudut tertutup antara kontak antara iridocornea dan dapat
dikenali dengan tidak terlihatnya puncak pangkal kornea
54. Klasifikasi Hughes pada Trauma
Kimia

Derajat I Derajat II
Prognosis baik. Prognosa baik
Terdapat erosi epitel kornea Pada kornea terdapat
Tidak ada iskemia dan nekrosis kekeruhan yang ringan.
kornea. ataupun konjungtiva Iskemia < 1/3 limbus
Klasifikasi Hughes pada Trauma Kimia

Derajat III Derajat IV


Prognosis baik Prognosis buruk
Kekeruhan kornea sehingga sulit Kekeruhan kornea, pupil tidak
melihat iris & pupil secara jelas dapat dilihat
Terdapat iskemia 1/3 sampai Konjungtiva dan sclera pucat.
limbus & nekrosis ringan kornea Iskemia > limbus
dan konjungtiva
55. Keratitis & Ulkus Kornea

Skleritis Peradangan pada sklera, terdapat injeksi sklera


dan warna merah keunguan pada necrotizing
scleritis
Glaukoma Peningkatan TIO, mata merah, injeksi silier, pupil
pid dilatasi, kornea edema dan keruh, terdapat
halo, adanya kelainan pada funduskopi dan lapang
pandang
Keratitis Jamur

Lesi satelit (panah merah) pada


keratitis jamur

Keratitis fungi bersifat indolen, dengan infiltrat kelabu, sering dengan hipopion,
peradangan nyata pada bola mata, ulserasi superfisial, dan lesi-lesi satelit (umumnya
infiltrat di tempat-tempat yang jauh dari daerah utama ulserasi).

Vaughan DG, dkk. Oftalmologi Umum Edisi 14. 1996.


Bacterial Keratitis
Etiology/pathogenesis : Clinical features :
Staphylococcus aureus, Pain, photophobia, epiphora,
Staphylococcus epidermidis, blepharospasm, mucopurulent
Streptococcus pneumoniae, secretion, corneal ulcer,
Pseudomonas aeruginosa, corneal infiltrate, reduction in
Moraxella. vision, hypopyon.
Epidemiology: Diagnosis.
Wearers of contact lenses; Clinical appearance,
patients with diseases of the conjunctival swab with
corneal surface (previous antibiotic sensitivity, scrapings.
trauma, sicca syndrome, lid Fluoresens test
deformities, etc.) are
particularly at risk. Treatment according to
antibiotic sensitivity. Not
longer than 10 days, as
otherwise no epithelial closure
will occur.
Keratitis
An inflammatory or more seriously, infective condition of the cornea
involving disruption of its epithelial layer with involvement of the
corneal stroma
Causative Agent Feature Treatment
Fungal Fusarium & candida species, conjungtival Natamycin,
injection, satellite lesion, stromal infiltration, amphotericin B,
hypopion, anterior chamber reaction Azole derivatives,
Flucytosine 1%
Protozoa infection associated with contact lens users swimming in
(Acanthamoeba) pools
Viral HSV is the most common cause, Dendritic Acyclovir
lesion, decrease visual accuity
Staphylococcus Rapid corneal destruction; 24-48 hour, stromal Tobramycin/cefazol
(marginal ulcer) abscess formation, corneal edema, anterior in eye drops,
segment inflammation. Centered corneal ulcers. quinolones
Pseudomonas
Traumatic events, contact lens, structural (moxifloxacin)
Streptococcus malposition
connective tissue RA, Sjgren syndrome, Mooren ulcer, or a
disease systemic vasculitic disorder (SLE)
56. Konjungtivitis
Conjunctivitis is swelling (inflammation) or infection of
the membrane lining the eyelids (conjunctiva)

Pathology Etiology Feature Treatment


Bacterial staphylococci Acute onset of redness, grittiness, topical antibiotics
streptococci, burning sensation, usually bilateral Artificial tears
gonocci eyelids difficult to open on waking,
Corynebacter diffuse conjungtival injection,
ium strains mucopurulent discharge, Papillae
(+)
Viral Adenovirus Unilateral watery eye, redness, Days 3-5 of worst, clear
herpes discomfort, photophobia, eyelid up in 714 days without
simplex virus edema & pre-auricular treatment
or varicella- lymphadenopathy, follicular Artificial tears relieve
zoster virus conjungtivitis, pseudomembrane dryness and inflammation
(+/-) (swelling)
Antiviral herpes simplex
virus or varicella-zoster virus
http://www.cdc.gov/conjunctivitis/about/treatment.html
Pathology Etiology Feature Treatment
Fungal Candida spp. can Not common, mostly occur in Topical antifungal
cause immunocompromised patient,
conjunctivitis after topical corticosteroid and
Blastomyces antibacterial therapy to an
dermatitidis inflamed eye
Sporothrix
schenckii
Vernal Allergy Chronic conjungtival bilateral Removal allergen
inflammation, associated atopic Topical antihistamine
family history, itching, Vasoconstrictors
photophobia, foreign body
sensation, blepharospasm,
cobblestone pappilae, Horner-
trantas dots
Inclusion Chlamydia several weeks/months of red, Doxycycline 100 mg PO
trachomatis irritable eye with mucopurulent bid for 21 days OR
sticky discharge, acute or Erythromycin 250 mg
subacute onset, ocular irritation, PO qid for 21 days
foreign body sensation, watering, Topical antibiotics
unilateral ,swollen lids,chemosis
,Follicles
Table. Major Differentiating Factors Between VKC and AKC

Characteristics VKC AKC


Age at onset Generally presents at a younger age -
than AKC
Sex Males are affected preferentially. No sex predilection
Seasonal variation Typically occurs during spring months Generally perennial
Discharge Thick mucoid discharge Watery and clear discharge
Conjuntiva Cobblestone papillae
Conjunctival - Higher incidence of
scarring conjunctival scarring
Horner-Trantas dots Horner-Trantas dots and shield ulcers Presence of Horner-Trantas
are commonly seen. dots is rare.
Corneal Not present Deep corneal
neovascularization neovascularization tends to
develop
Presence of Conjunctival scraping reveals Presence of eosinophils is less
eosinophils in eosinophils to a greater degree in VKC likely
conjunctival than in AKC
scraping
57. Presbiopia
Pemeriksaan dengan
kartu Jaeger untuk
melihat ketajaman
penglihatan jarak
dekat.
The card is held 14
inches (356 mm) from
the persons's eye for
Koreksi lensa positif untuk menambah
kekuatan lensa yang berkurang sesuai usia the test. A result of
Kekuatan lensa yang biasa digunakan: 14/20 means that the
+ 1.0 D usia 40 tahun person can read at 14
+ 1.5 D usia 45 tahun inches what someone
+ 2.0 D usia 50 tahun with normal vision can
+ 2.5 D usia 55 tahun read at 20 inches.
+ 3.0 D usia 60 tahun
http://www.ivo.gr/files/items/1/145/51044.jpg
Soal
Jika pasien mempunyai kelainan refraksi mata
lainnya di luar presbiopia, maka koreksi untuk
penglihatan dekatnya merupakan jumlah koreksi
dioptri dari masing-masing kelainan.
Misal, di soal dikatakan, selain menderita
presbiopia +2.00 D, pasien juga memiliki kelainan
miopia yang dikoreksi dengan lensa S-1.00 D
Maka, Untuk penglihatan dekatnya, total koreksi
pasien adalah (+2.00 D + (-1.00 D)) = + 1.00 D
58. Retinitis Pigmentosa
Kelompok penyakit Histopatologik:
degenerasi retina Degenerasi sel batang dan
herediter yang ditandai kerucut
dengan disfungsi Proliferasi sel glia
progresif fotoreseptor Migrasi pigmen ke dalam
khususnya sel batang (rod jaringan retina
cell). Obliterasi sklerotik dari
Etiologi : pembuluh darah retina
Atrofi N II, sedangkan
Autosomal dominant 43% koroid normal
Autosomal recessive 20%
Saat ini belum ada
Sex linked recessive 8%
pengobatan yang berhasil
Sporadic tanpa riwayat
keluarga 20%

Ilmu Penyakit Mata. Nana Wijaya


Gejala Klinis
Subyektif :
buta senja (hemeralopia/nictalopia).
Lapang pandang perifer menurun secara progresif dan perlahan
tubular sign.
Adaptasi gelap yang memanjang
Obyektif :
Pembuluh darah ciut tampak seperti tali
Penimbunan pigmen berupa gambaran spikula tulang/Retinal Bone
specule like pigmentation mula-mula di daerah ekuator kemudian
menyebar ke perifer dan makula
Karena geseran pigmen, gambaran pembuluh darah koroin menjadi
lebih nyata
Waxy Disc Pallor (papil pucat dan berwarna kuning tembaga) pada
stadium lanjut
Makula tampak seperti moth eaten appearance

Ilmu Penyakit Mata. Nana Wijaya


Pemeriksaan Penunjang
Tes lapang pandang (goldman perimetry,
Humphrey Analyzer)
Funduskopi
Electroretinography/ERG (Respon subnormal atau
negatif)
Dark Adaptometry (memanjang)
Electrooculography/EOG (peningkatan sinar yang
tidak lazim)
fundus Fluorescein angiography/ FFA
59. Neuritis Optik
Optic neuritis is an ANAMNESIS:
inflammation of the optic Preceding viral illness
nerve. Rapidly developing
Pain and temporary vision loss impairment of vision in 1 eye
are common symptoms of or, less commonly, both eyes
optic neuritis. Dyschromatopsia (change in
Optic neuritis is highly color perception) in the
associated with multiple affected eye.
sclerosis (a disease that causes Retro-orbital or ocular pain:
inflammation and damage to usually exacerbated by eye
nerves in brain and spinal movement.
cord) and neuromyelitis optica
(NMO). Uhthoff phenomenon, in
which vision loss is
In some people, signs and exacerbated by heat or
symptoms of optic neuritis exercise
may be the first indication of
multiple sclerosis. Pulfrich phenomenon, in
which objects moving in a
straight line appear to have a
emedicine
curved trajectory
Diseases Definition/characteristics Ophthalmoscopic findings
Neuritis optik (1) Peradangan optic disc Nyeri bola mata dgn gerakan
ditandai dgn disc swelling, tertentu, afferent pupil reflex
unilateral (-), hiperemia optic disc
Neuritis retrobulbar Bagian dari neuritis optik, Nyeri bola mata dgn gerakan
peradangan terjadi jauh tertentu, afferent pupil reflex
dibelakang optic disc, (-), funduskopi normal
unilateral
Neuropati optik Iskemia optic disc akibat Optic disc swelling dan pucat,
iskemik (2) aterosklerosis, hipertensi, splinter hemorrhage pd
diabetes daerah peripapila
Atrofi papil (3) Etiologi bisa vaskuler, Penurunan visus perlahan,
degeneratif, metabolik, gangguan penglihatan warna,
glaukomatosa defek lapang pandang

(1) (2) (3)


Papilledema Papillitis (optic neuritis) Retrobulbar neuritis

Definition Swelling of optic nerve head Inflammation or infarction Inflammation of orbital


due to increased ICP of optic nerve head portion of optic nerve
Unilateral/bilateral Bilateral Unilateral Unilateral
Vision impairment Enlarged blind spot Central/paracentral Central/paracentral scotoma
scotoma to complete to complete blindness
blindness
Fundus appearance Hyperemic disk Hyperemic disk Normal
Vessel appearance Engorged, tortuous veins Engorged vessels Normal
Hemorrhages? Around disk, not periphery Hemorrhages near or on Normal
optic head
Pupillary light reflex Not affected Depressed Depressed
Treatment Normalize ICP Corticosteroids if cause Corticosteroids with caution
known
Sindrom Foster-Kennedy
Serangkaian gejala klinis yang ditemukan
akibat tumor pada lobus frontal
Terdiri dari:
optic atrophy in the ipsilateral eye
papilledema in the contralateral eye
central scotoma (loss of vision in the middle of the
visual fields) in the ipsilateral eye
anosmia (loss of smell) ipsilaterally
60. Keratitis Herpes Simpleks
Tanda dan gejala:
Infeksi primer biasanya berbentuk blefarokonjungtivitis
vesikular, kadang disertai keterlibatan kornea. Umumnya
self-limmited tanpa menyebabkan kerusakan mata yang
signifikan.
Iritasi, fotofobia, peningkatan produksi air mata,
penurunan penglihatan, anestesi pada kornea, demam.
Kebanyakan unilateral, namun pada 4-6% kasus dapat
bilateral
Lesi: Superficial punctate keratitis -- stellate erosion --
dendritic ulcer -- Geographic ulcer
Dendritic ulcer: Lesi yang paling khas pd keratitis HSV. Berbentuk
linear, bercabang, tepi menonjol, dan memiliki tonjolan di
ujungnya (terminal bulbs), dapat dilihat dengan tes flurosensi.
Geographic ulcer. Lesi defek epitel kornea berbentuk spt amuba
Sumber: Riordan-Eva P, Whitcher JP. Vaughan and Asburys General Ophtalmology 17th ed. Philadephia: McGraw-Hill, 2007
Tatalaksana:
Dokter umum: RUJUK SEGERA
Debridement
Antivirus topikal, kortikosteroid (pertimbangan
khusus)
Topical antiviral: trifluridine 1% 8x/day (watch for epithelial
toxicity after 1 week fo therapy), acyclovir 3% drops initially
5x/day gradually tapering down but continued for at least 3
days after complete healing; if resistant, consider ganciclovir
0.15% gel initially 5x/day.
Bedah
Mengontrol reaktivasi HSV: hindari demam, pajanan
sinar matahari berlebihan, imunosupresi, dll
Keratitis herpes zoster
Bentuk rekuren dari keratitis Varicella
Lesi pseudodenditik: lesi epitel yang menonjol dengan ujung
mengerucut, sedikit tonjolan pada ujungnya (terminal bulbs)

Keratitis varicella
Bentuk infeksi primer pada mata dari virus Varicella
Ciri khas: lesi pseudodendritik disertai lesi pada stroma kornea
dan uveitis

Keratitis marginal
Keratitis non infeksius, sekunder setelah konjungtivitis bakteri, terutama Staphylococcus
Keratitis ini merupakan hasil dari sensitisasi tubuh terhadap produk bakteri. Antibodi dari
pembuluh darah di limbus bereaksi dgn antigen yang terdifusi ke dalam epitel kornea

Keratitis bakteri
Biasanya unilateral, terjadi pd org dengan penyakit mata sebelumnya atau mata
org yang menggunakan kontak lens
Infiltrat stroma berwarna putih, edema stroma, pembentukan hipopion
61. Tatalaksana Konjungtivitis Alergi
Self-limiting Jangka panjang & prevensi
Akut: sekunder:
Antihistamin topikal
Steroid topikal (+sistemik Stabilisator sel mast Sodium
kromolin 4%: sebagai
bila perlu), jangka pengganti steroid bila gejala
pendek mengurangi sudah dapat dikontrol
gatal (waspada efek Tidur di ruangan yang sejuk
dengan AC
samping: glaukoma, Siklosporin 2% topikal (kasus
katarak, dll.) berat & tidak responsif)

Vasokonstriktor topikal Desensitisasi thdp antigen


(belum menunjukkan hasil
Kompres dingin & ice baik)
pack

Vaughan & Asbury General Ophtalmology 17th ed.


Table. Major Differentiating Factors Between VKC and AKC

Characteristics VKC AKC


Age at onset Generally presents at a younger age -
than AKC
Sex Males are affected preferentially. No sex predilection
Seasonal variation Typically occurs during spring months Generally perennial
Discharge Thick mucoid discharge Watery and clear discharge
Conjuntiva Cobblestone papillae
Conjunctival - Higher incidence of
scarring conjunctival scarring
Horner-Trantas dots Horner-Trantas dots and shield ulcers Presence of Horner-Trantas
are commonly seen. dots is rare.
Corneal Not present Deep corneal
neovascularization neovascularization tends to
develop
Presence of Conjunctival scraping reveals Presence of eosinophils is less
eosinophils in eosinophils to a greater degree in VKC likely
conjunctival than in AKC
scraping
62. ASTIGMATISME - DEFINISI
Ketika cahaya yang
masuk ke dalam
mata secara paralel
tiudak membentuk
satu titik fokus di
retina.

http://www.mastereyeassociates.com/Portals/60407/images//astig
Astigmatism, Walter Huang, OD. Yuanpei University: Department of Optometry matism-Cross_Section_of_Astigmatic_Eye.jpg
BASED ON FOCAL POINTS
RELATIVE TO THE RETINA
SIMPLE ASTIGMATISM
When one of the principal meridians is focused on the retina and the
other is not focused on the retina (with accommodation relaxed)
Terdiri dari
astigmatisme miopikus simpleks : satu titik emetrop, satu titik lainnya miop
astigmatisme hipermetrop simpleks: satu titik emetrop, satu titik lainnya
hipermetrop
COMPOUND ASTIGMATISM
When both principal meridians are focused either in front or behind the
retina (with accommodation relaxed)
Terdiri dari
Astigmatisme miopikus kompositus: kedua titik jatuh di depan retina
Astigmatisme hipermetrop kompositus: kedua titik jatuh di belakang retina
MIXED ASTIGMATISM
Satu titik jatuh di depan retina, sedangkan titik lainnya jatuh di belakang
retina
http://www.improveeyesighthq.com/Corrective-Lens-Astigmatism.html
TIPS & TRIK
Gampang untuk menentukan jenis jenis astigmatisme berdasarkan
kedudukannya di retina kalau disoal diberikan rumus astigmatnya
sbb:

1. sferis (-) silinder (-) pasti miop kompositus


2. Sferis (+); silinder (+) pasti hipermetrop kompositus
3. Sferis (tidak ada); silinder (-) pasti miop simpleks
4. Sferis (tidak ada); silinder (+) pasti hipermetrop simpleks

Agak sulit dijawab jika di soal diberikan rumus astigmat sbb:


1. Sferis (-) silinder (+)
2. Sferis (+) silinder (-)
BELUM TENTU astigmatisme mikstus! Harus ditransposisi
terlebih dahulu
KEDUA, TRANSPOSISI
NOTASI SILINDER BISA DITULIS DALAM NILAI MINUS ATAU
PLUS
RUMUS INI BISA DITRANSPOSISIKAN (DIBOLAK-BALIK)
TETAPI MAKNANYA SAMA.
Cara transposisi:
To convert plus cyl to minus cyl:
Add the cylinder power to the sphere power
Change the sign of the cyl from + to
Add 90 degrees to the axis is less than 90 or subtract 90 if the
original axis is greater than 90.
To convert minus cyl to plus cyl:
add the cylinder power to the sphere
Change the sign of the cylinder to from - to +
Add 90 to the axis if less than 90 or subtract if greater than 90
Pada soal diketahui OS dikoreksi dengan lensa
S-1.00 C+1.50 dengan aksis (?)
Jika di transposisi maka menjadi S+0.5 C-1.50
aksis (?)
Artinya satu titik
jatuh di depan
retina (miopia)

S-1.00 C+1.50 dengan aksis (?)


S+0.5 C-1.50 aksis (?)
Artinya satu titik jatuh di Sehingga bisa diambil kesimpulan bahwa OS
belakang retina pada pasien tersebut memiliki astigmatisma
(Hipermetropia) mikstus
KEEMPAT, MENENTUKAN JENIS ASTIGMATISME BERDASARKAN
KEDUDUKANNYA DI RETINA

Prinsipnya: selalu lihat besarnya sferis di kedua rumus baik


rumus silinder plus maupun silinder minus (makanya
kenapa harus tahu transposisi)
Contoh: OD rumusnya -4,00 C+1,00 X 1800 sferis= -4D
(MIOP di aksis 180) dan rumus satu lagi -3,00 C-1,00 X 90
sferis= -3D (MIOP di aksis 90) untuk mata kanan.
Bayangan di kedua aksis jatuh di depan retina maka jenis
astigmatnya miopik kompositus, bukannya astigmat mikstus
63. Xerophthalmia (Xo)
Stadium :
XN : night blindness (hemeralopia)
X1A : xerosis conjunctiva
X1B : xerosis conjunctiva (with bitots spot)
X2 : xerosis cornea
X3A : Ulcus cornea < 1/3
X3B : Ulcus cornea > 1/3, keratomalacea
XS : Corneal scar
XF : Xeroftalmia fundus
X3B
64. Komplikasi Pascaoperasi Katarak
EARLY COMPLICATION LATE COMPLICATION
Corneal edema (10%) Posterior capsule
Elevated IOP (28%) opacification (1050% by
Increased anterior 2 years)
inflammation (26%). Cystoid macular edema
Wound leak (1%) (112%)
Iris prolapse (0.7%) Retinal detachment
(0.7%)
Endophthalmitis (0.1%)
Corneal decompensation
Chronic endophthalmitis
Acute postoperative endophthalmitis
Komplikasi yg mengancam Faktor risiko
penglihatan yg harus segera
diobati. Pasien dengan blepharitis,
Onset biasanya 17 hari setelah konjungtivitis, penyakit
op. nasolakrimal,
Etiologi tersering Staphylococcus komorbid(diabetes), dan
epidermidis, Staphylococcus complicated surgery (PC rupture
aureus, & Streptococcus species. with vitreous loss, ACIOL,
Gejala: prolonged surgery).
a painful red eye;
reduced visual acuity, usually Diagnosis
within a few days of surgery
pemeriksaan mikrobiologi dari
a collection of white cells in the
anterior chamber (hypopyon). Anterior chamber tap dan biopsi
posterior segment inflammation vitreous (dgn antibiotik
lid swelling. intravitreus scr simultan utk
pengobatan)
Acute postoperative endophthalmitis
TATALAKSANA Pertimbangkan:

Antibiotic intravitreus: vancomycin 1 Moxifloxacin atau gatifloxacin oral


mg dlm 0.1 mL (gram positive (broad spectrum dan penetrasi
coverage) dikombinasikan dengan intraokular baik)
amikacin 0.4 mg dlm 0.1 mL atau Antibiotik topikal (per jam):
ceftazidime 2 mg dlm 0.1 mL (gram- (moxifloxacin or gatifloxacin) atau
negative coverage). vancomycin DS (50 mg/mL), amikacin
Ceftazidime bisa menimbulkan (20 mg/mL), atau ceftazidime (100
presipitasi dengan vankomisin shg spuit mg/mL)
harus dipisah Corticosteroids topikal (cth
dexamethasone 0.1%/ jam), intravitreal
Vitrectomy: jika tajam penglihatan
(dexamethasone 0.4 mg in 0.1 mL),
hanya berupa light perception atau
atau sistemic (prednisone PO 1
lebih buruk
minggu) untuk mengurangi inflamasi.

Oxford American Handbook of Ophthalmology


http://sdhawan.com/ophthalmology/lens&cataract.pdf E-mail: sdhawan@sdhawan.com

65. Cataract
Any opacity of the lens or loss of transparency of the lens that causes
diminution or impairment of vision
Classification : based on etiological, morphological, stage of maturity
Etiological classification :
Senile
Traumatic (penetrating, concussion, infrared irradiation, electrocution)
Metabolic (diabetes, hypoglicemia, galactosemia, galactokinase deficiency,
hypocalcemia)
Toxic (corticosteroids, chlorpromazine, miotics, gold, amiodarone)
Complicated (anterior uveitis, hereditary retinal and vitreoretinal disorder, high myopia,
intraocular neoplasia
Maternal infections (rubella, toxoplasmosis, CMV)
Maternal drug ingestion (thalidomide, corticosteroids)
Presenile cataract (myotonic dystrophy, atopic dermatitis)
Syndromes with cataract (downs syndrome, werners syndrome, lowes syndrome)
Hereditary
Secondary cataract
Cataract
Morphological classification : Pembagian katarak berdasarkan
usia:
Capsular Katarak kongenital usia < 1 thn
Subcapsular Katarak juvenil sesudah usia 1
thn
Nuclear Katarak senilis > 50 thn
Cortical Katarak komplikata akibat
Lamellar penyakit mata lain, mis: radang
seperti uveitis, glaukoma, tumor,
Sutural dll. Dpt jg disebabkan oleh
Chronological classification: peny.sistemik endokrin (mis:
DM) dan keracunan obat (mis:
Congenital (since birth) steroid lokal lama)
Infantile ( first year of life) Katarak traumatik akibat
trauma, plg sering disebabkan
Juvenile (1-13years) oleh cedera benda asing atau
Presenile (13-35 years) trauma tumpul bola mata
Senile Katarak sekunder tjd sesudah
operasi katarak atau sesudah
suatu trauma yg memecah lensa
66. Strabismus/ heterotropia
Def: deviasi mata yang bermanifestasi (deviasi mata
yang laten
Pembagian:
1. Paralitik (nonkonkomitan)
Sudut deviasi tidak sama ke semua arah
Disebabkan hilangnya fungsi dari salah satu /lebih dari otot
salah satu mata. Paralisis bisa bersifat parsial ataupun total
2. Non paralitik (konkomitan)
Seudut deviasi tetap untuk semua arah
Terdiri dari:
Akomodatif: berhubungan dengan kelainan refraksi
Nonakomodatif: tidak ada hubungan dengan kelainan refraksi
Klasifikasi strabismus berdasarkan
arah deviasi:
Esotropia/ strabismus konvergen/ crossed eye:
deviasi mata ke nasal
Eksotropia/ stabismus divergen/ wall eye:
deviasi mata ke temporal
Hipertropia: deviasi mata ke arah atas
Hipotropia: deviasi mata ke arah bawah
Esotropia
Esotropia is a type of strabismus
One or both eyes turned in toward the nose
inward deviation of the eyes
Can begin as early as infancy, later in childhood,
or even into adulthood.
Esotropia can be classified by age of onset
(congenital/infantile vs. acquired); by frequency
(intermittent vs. constant); or by whether it can
be treated with glasses (accommodative vs. non-
accommodative).
Esotropia nonakomodatif
Deviasi sudah timbul pada waktu lahir/ tahun-
tahun pertama kehidupan
Deviasi sama ke semua arah dan tidak
berhubungan dengan kelainan refraksi atau
kelumpuhan otot
Penyebab: insersi otot horisontal yang salah,
kelainan persarafan supranuklear
Esotropia akomodatif
Accommodative esotropia is defined as the convergent
deviation of the eyes associated with activation of the
accommodative reflex.
Patients with refractive esotropia are typically
farsighted (hyperopic).
It is classically divided into three categories:
Refractive accommodative esotropia (low accommodative
convergence/accommodation or AC/A ratio of less than 5),
Nonrefractive accommodative esotropia (high AC/A ratio),
and
Partially accommodative esotropia
Calculation of Accommodative
Convergence/Accommodation (AC/A) ratio by
the gradient method (measurements with and
without the additional lens are done at the
same distance):
Esotropia akomodatif
Pada esotropia akomodatif non refraktif,
deviasi pada pengelihatan dekat lebih besar
jika dibandingkan penglihatan jauh.
Pada esotropia akomodatif refraktif, deviasi
pada penglihatan jauh lebih besar
dibandingkan penglihatan dekat
Hirschberg Test
Corneal light reflex test
Mengetahui ada
tidaknya strabismus
67. Stroke
Stroke (WHO MONICA 1986)
Gangguan fungsional otak fokal maupun global akut, lebih
dari 24 jam, berasal dari gangguan aliran darah otak dan
bukan disebabkan oleh gangguan peredaran darah otak
sepintas, tumor otak, stroke sekunder karena trauma
ataupun infeksi.

Stroke Iskemik : disebabkan oleh oklusi fokal


pembuluh darah otak yang menyebabkan turunnya
suplai oksigen dan glukosa ke bagian otak yang
mengalami oklusi. Oklusi dapat berupa trombus,
emboli maupun tromboemboli

Stroke Hemorargik : disebabkan oleh perdarahan


intraserebral maupun subarakhnoid
Tanda dan Gejala Stroke (De Freitas et al 2009)
Hemidefisit motorik
Hemidefisit sensorik
Penurunan kesadaran
Kelumpuhan nervus fasialis (VII) dan hipoglosus
(XII) sentral
Gangguan fungsi luhur seperti kesulitan
berbahasa (afasia) dan gangguan fungsi intelektual
(demensia)
Buta separuh lapang pandang (hemianopsia)
Defisit batang otak

Pemeriksaan radiologi untuk stroke :


- Stroke hemorargik
Ct- scan merupakan pemeriksaan yang dapat dipercaya untuk menegakkan
diagnosis perdarahan akut (terutama dalam seminggu pertama serangan stroke)

- Stroke iskemik
dalam satu jam pertama serangan stroke iskemik, hanya <50% infark yang dapat
terlihat perlu diffusion weighted MRI
Perdarahan Subarakhnoid

5 % dari keseluruhan stroke disebabkan oleh


perdarahan Subarachnoid (SAH)
Saccular (berry) aneurysma di dasar otak
merupakan penyebab utama SAH (80%)
SAH paling sering terjadi pada usia 40 60
tahun, wanita lebih sering terkena dibanding
pria
Pada perdarahan subarakhnoid, darah
mengiritasi meninges dan menyebabkan nyeri
kepala berat tiba tiba serta kaku kuduk.
Gejala pada Perdarahan subarakhnoid meliputi :
Nyeri kepala berat yang muncul tiba tiba
Kaku kuduk muntah, hilangnya kesadaran,
papil edema dan defisit neurologis
68. Vertigo
Vertigo perifer: suatu vertigo yang disertai dengan mual, muntah,
dan tinnitus. Nistagmus dapat juga timbul pada vertigo tersebut.
Pasien merasakan sensasi berputar kontralateral dari lesi sehingga
mengalami kesulitan berjalan dan jatuh ke arah sisi lesi pada saat
situasi gelap atau mata tertutup. Tempat patologis biasanya terjadi
pada telinga dalam atau sistem vestibular sehingga sering disebut
otologi vertigo
Vertigo sentral: suatu vertigo yang disebabkan kelainan pada batang
otak atau sistem saraf pusat dan berasosiasi dengan adanya gejala
batang otak atau sistem serebelar seperti disartria, diplopia,
disfagia, sendawa, kelainan sistem saraf kranial, ataksia. Nistagmus
yang terjadi dapat bersifat multidireksional, bersifat kronik, dan
tidak disertai oleh gejala pendengaran.
Dix-Hallpike
DixHallpike test[1] or NylenBarany test is
a diagnostic maneuver used to identify benign
paroxysmal positional vertigo (BPPV)
Benign paroxysmal positional vertigo (BPPV) is a
disorder arising in the inner ear
Within the labyrinth of the inner ear lie
collections of calcium crystals known as otoconia
or otoliths. In patients with BPPV, the otoconia
are dislodged from their usual position within the
utricle and migrate over time into one of the
semicircular canals
69. Post Traumatic Seizures
Post traumatic seizures (PTS)
<7 hari, early PTS
>7 hari, late PTS
Insidens terjadinya PTS sebesar 50% pada pasien
dengan trauma tembus. Pada pasien-pasien berisiko
tinggi lain insiden early PTS 4-25%, late PTS 9-42%.
PTS merupakan salah satu komplikasi dari traumatic
injury yang dapat mempengaruhi prognosis, pada
serangan akut dapat menyebabkan penigkatan TIK,
tekanan darah, penurunan distribusi oksigen ke otak,
serta pelepasan neurotransmitter yang berlebih.
Brain Trauma Foundation. Guidelines for the management of severe traumatic brain injury. Journal of
Neurotrauma. 2007
PTS juga berkaitan dengan accidental injury, perubahan
psikologis, dan loss driving of privileges.
Tindakan pencegahan early PTS terbukti dapat mencegah
terjadinya epilepsi kronik pada pasien dengan cedera
kepala akibat trauma.
Berikut ini, faktor risiko terbentuknya PTS pada pasien
dengan cedera kepala traumatik:
GCS <10
Fraktur depresi tulang kepala
Hematoma subdural
Hematoma epidural
Hematoma intracerebral
Trauma tembus kepala
Kejang dalam waktu <24 jam pasca trauma.
Phenytoin dan asam valproat direkomendasikan untuk
profilaksis early PTS.
Brain Trauma Foundation. Guidelines for the management of severe traumatic brain injury. Journal of
Neurotrauma. 2007
Tatalaksana Kejang
70. POLA PERNAPASAN
Cheyne-Stokes
Characterized by periods of respirations during
which the tidal volume starts shallow and gets progressively deeper, and then gets
progressively shallower. This shallow-deep-shallow pattern is followed by periods of
significant apnea that can last up to 30 seconds or longer
Biots breathing (aka cluster respiration)
Characterized by periods or clusters of rapid respirations of near equal depth or VT
followed by regular periods of apnea
Kussmauls respirations
A type of labored or hyperventilation characterized by a consistently deep and rapid
respiratory pattern
Apneustic respirations
Prolonged inspiratory phase followed by a prolonged expiratory phase commonly
believed to be apneic phases
Ataxia respirations
Completely irregular breathing pattern with irregular pauses and increasing episodes of
apnea
71. Stroke
Stroke (WHO MONICA 1986)
Gangguan fungsional otak fokal maupun global akut, lebih
dari 24 jam, berasal dari gangguan aliran darah otak dan
bukan disebabkan oleh gangguan peredaran darah otak
sepintas, tumor otak, stroke sekunder karena trauma
ataupun infeksi.

Stroke Iskemik : disebabkan oleh oklusi fokal


pembuluh darah otak yang menyebabkan turunnya
suplai oksigen dan glukosa ke bagian otak yang
mengalami oklusi. Oklusi dapat berupa trombus,
emboli maupun tromboemboli

Stroke Hemorargik : disebabkan oleh perdarahan


intraserebral maupun subarakhnoid
Tanda dan Gejala Stroke (De Freitas et al 2009)
Hemidefisit motorik
Hemidefisit sensorik
Penurunan kesadaran
Kelumpuhan nervus fasialis (VII) dan hipoglosus
(XII) sentral
Gangguan fungsi luhur seperti kesulitan
berbahasa (afasia) dan gangguan fungsi intelektual
(demensia)
Buta separuh lapang pandang (hemianopsia)
Defisit batang otak

Pemeriksaan radiologi untuk stroke :


- Stroke hemorargik
Ct- scan merupakan pemeriksaan yang dapat dipercaya untuk menegakkan
diagnosis perdarahan akut (terutama dalam seminggu pertama serangan stroke)

- Stroke iskemik
dalam satu jam pertama serangan stroke iskemik, hanya <50% infark yang dapat
terlihat perlu diffusion weighted MRI
Stroke Hemorhagic
Terapi pada stroke hemorhagic
Management ABC
Antikonvulsan pencegahan kejang
Antihipertensi
Sistolik >200/ MAP >150 turunkan secara agresif dengan obat iv,
cek TD setiap 5 menit
Sistolik 180-200/ MAP 130-150 dan ada tanda peningkatan TIK
turunkan tekanan darah dan pertahankan perfusi serebral 60 mmHg
atau lebih
Sistolik 180-200/ MAP 130-150 dan tanpa ada tanda peningkatan TIK
target MAP 110 atau TD 160/90 mmHg
Kontrol TIK
Elevasi kepala 30 memperbaiki outflow vena jugular dan
mengurangi TIK
Osmotik terapi manitol
Terapi pembedahan untuk evakuasi hematoma
72. Trauma Medulla Spinalis
Traumatic spinal cord injury (TSCI) sering mengenai bagian servikal (terutama C5, C4 dan
C6) dan segmen bawah (T12, L1, T10)

PRINSIP-PRINSIP UTAMA PENATALAKSANAAN TRAUMA SPINAL


1. Immobilisasi
2. Stabilisasi Medis
3. Mempertahankan posisi normal vertebra (Spinal Alignment)
4. Dekompresi dan Stabilisasi Spinal
5. Rehabilitasi

IMOBILISASI

-Dimulai dari tempat kejadian/kecelakaan sampai ke IGD


1. immobilisasi dan stabilkan leher dalam posisi normal cervical Collar
2. Baringkan penderita dalam posisi terlentang (supine) pada tempat/alas yang
keras. Pasien diangkat/dibawa dengan cara 4 men lift atau menggunakan Robinsons
orthopaedic stretcher.

Hafas Hanafiah Penatalaksanaan Trauma Spinal Majalah Kedokteran Nusantara Volume 40 .No. 2 Juni 2007
STABILISASI MEDIS
Terutama sekali pada penderita tetraparesis/ tetraplegia.
1. Periksa vital signs
2.Pasang nasogastric tube
3.Pasang kateter urin
4.Segera normalkan vital signs. Pertahankan tekanan darah yang normal dan
perfusi jaringan yang baik. Berikan oksigen, monitor produksi urin, bila perlu
monitor AGDA (analisa gas darah), dan periksa apa ada neurogenic shock.

Pemberian megadose Methyl Prednisolone Sodium Succinate dalam kurun waktu


6 jam setaleh kecelakaan dapat memperbaiki konntusio medula spinalis.
Bolus 30 mg/kg BB dalam 15 menit, diikuti infus 5.4-mg/kg dalam 23 jam

SPINAL ALIGNMENT

-Fraktur servikal traksi dengan Cruthfield tong atau Gardner-Wells tong dengan
beban 2.5 kg perdiskus.
- Bila terjadi dislokasi traksi diberikan dengan beban yang lebih ringan, beban
ditambah setiap 15 menit sampai terjadi reduksi.
DEKOMPRESI DAN STABILISASI SPINAL

Bila terjadi realignment dekompresi.


Bila realignment dengan cara tertutup ini
gagal maka dilakukan open reduction dan
stabilisasi dengan approach anterior atau
posterior

REHABILITASI
Rehabilitasi fisik harus dikerjakan sedini
mungkin.
Termasuk dalam program ini :
1. bladder training,
2. bowel training,
3. Latihan otot pernafasan,
4. Pencapaian optimal fungsi fungsi
neurologik dan program kursi roda bagi
penderita paraparesis/paraplegia

Rowland, Lewis P. Merritt's Neurology, 11th Edition . 2005 Lippincott Williams & Wilkins
73. GANGGUAN LAPANG PANDANG
http://medical-dictionary.thefreedictionary.com/hemianopia
74. Nyeri Kepala Migrain
Migrain merupakan nyeri kepala primer yang dipengaruhi oleh faktor genetik dan
lingkungan.
Patofisiologi aktivasi mekanisme di otak menyebabkan pelepasan sitokin
proinflamasi yang kemudian merangsang nyeri pada saraf dan pembuluh darah di
kepala.

Migraine sering mengenai usia 3545 tahun, tapi dapat juga


muncul pada usia lebih muda dan anak kecil.
Terdiri atas dua subtipe utama :
1. Migrain tanpa aura (Common Migraine) nyeri kepala khas
tanpa disertai gejala neurologis
2. Migrain dengan aura (Classic Migraine) nyeri kepala khas
disertai dengan gejala neurolgis fokal sementara yang
munculnya sebelum atau selama serangan nyeri

Olesen J et al. The International Classification of Headache Disorders 3rd edition. International Headache Society . 2013
Kriteria Diagnosis Nyeri Kepala Migrain tanpa Aura

Serangan nyeri kepala minimal 5 kali dan memenuhi kriteria A-D


A. Nyeri berlangsung antara 4 C. Selama nyeri terdapat
72 jam (tanpa atau setidaknya salah satu dari hal
dengan pengobatan) berikut
B. Memenuhi 2 dari empat 1. Mual dan/atau muntah
kriteria berikut : 2. Fotofobia atau fonofobia
a. Lokasi unilateral D. Tidak memenuhi kriteria nyeri
kepala lain
b. Berdenyut
c. Intensitas nyeri ringan
sedang
d. Diperburuk dengan
aktivitas fisik (berjalan
atau menaiki tangga)
Gilmore B, Michelle M. Treatment of Acute Migrain Headache. (Am Fam Physician. 2011;83(3):271-280.
75. Spondilitis Tuberkulosis
(Spondilitis TB)
Anamnesis
Spondilitis Tuberkulosis (Spondilitis
Biasanya pasien memperlihatkan gejala-gejala
TB) adalah penyakit infeksi pada sakit kronik dan mudah lelah, demam yang
tulang belakang yang disebabkan subfebris terutama pada malam hari, anoreksia,
oleh bakteri Mycobacterium berat badan menurun, keringat pada malam
tuberculosis hari, takikardia dan anemia.
ETIOLOGI Nyeri dan kekakuan punggung merupakan
Mycobacterium tuberculosis yang berasal keluhan yang pertama kali muncul.
dari lesi primer di jaringan lain, lewat Nyeri dapat dirasakan terlokalisir di sekitar lesi
melalui darah dan masuk ke tulang. atau nyeri menjalar sesuai saraf yang
TANDA dan GEJALA terangsang.
Gambaran klinik hanya berupa nyeri Spasme otot punggung terjadi akibat
pinggang atau punggung. Nyeri ini terjadi mekanisme pertahanan menghindari
akibat reaksi inflamasi di vertebra dan pergeseran dari vertebra.
sukar dibedakan dengan nyeri akibat
penyakit lain. Saat pasien tidur spasme otot akan hilang dan
memungkinkan terjadinya pergerakan tetapi
muncul kembali nyeri tersebut sehingga
membangunkan pasien.
Pada anak-anak ini disebut sebagai night cry.
Tatalaksana:
Spondilitis TB 1.Terapi konservatif :
Medikamentosa :
Rifampisin 10-20 mg/kgBB, maksimum 600 mg/hari
DIAGNOSIS Etambutol 15 mg/kgBB, maksimum 1200 mg/hari
1. Riwayat penyakit dan gambaran klinis : Piridoksin 25 mg/kgBB
Onset penyakit biasanya beberapa bulan INH 5-10 mg/kgBB, maksimum 300 mg/hari
tahun berupa kelemahan umum, nafsu makan (Etambutol diberikan dalam 3 bulan, sedangkan yang
menurun, berat badan menurun, keringat lain diberikan dalam 1 tahun. Semua obat diberikan
malam hari, suhu tubuh meningkat sedikit sekali dalam sehari.)
pada sore dan malam hari.
Nyeri pada punggung merupakan gejala awal
Imobilisasi
dan sering ditemukan. Pencegahan komplikasi imobilisasi lama
Gibus. 2. Operasi
Cold abscess. Indikasi operasi :
Abnormalitas neurologis terjadi pada 50% adanya abses paravertebra
kasus dan meliputi kompresi spinal cord deformitas yang progresif
berupa gangguan motoris, sensoris maupun gejala penekanan pada sumsum tulang belakang
autonom sesuai dengan beratnya destruksi gangguan fungsi paru yang progresif
tulang belakang, kifosis dan abses yang kegagalan terapi konservatif dalam 3 bulan
terbentuk. terjadi paraplegia dan spastisitas hebat yang tidak dapat
2. Pemeriksaan penunjang dikontrol
Tuberkulin skin test : positif
Laju endap darah : meningkat
Mikrobiologi (dari jaringan tulang atau abses) :
basil tahan asam (+)
X-ray, CT scan, MRI
ABCESS

GIBBUS
76. Hernia Nukleus Pulposus
Penonjolan diskus intervertabralis dengan protusi dan
nukleus kedalam kanalis spinalis mengakibatkan penekanan
pada radiks atau cauda equina.
Tanda dan gejala :

1.Mati rasa, gatal dan penurunan pergerakan satu atau


dua ekstremitas.
2.Nyeri tulang belakang
3.Kelemahan satu atau lebih ekstremitas
4.Kehilangan control dari anus dan atau kandung kemih
sebagian atau lengkap.
5. Nyeri diperberat akibat peningkatan tekanan cairan
intraspinal (membungkuk, mengangkat, mengejan,
batuk, bersin, juga ketegangan atau spasme otot), akan
berkurang jika tirah baring.
6. Pemeriksaan Fisik : Tes Lasegue, Tes Crossed Laseque
(+)
77. Bell`s Palsy

Paresis nervus VII perifer


idiopatik ditemukan
pertama kali oleh Sir
Charles Bell ( 1774-1842)
Etiologi
Inflamasi pada nervus
fascialis di ganglion
geniculatum
menyebabkan kompresi
dan akhirnya terjadi
iskemia dan demyelinisasi
Penyebab inflamasi belum
dapat diidentifikasi,
dicurigai disebabkan oleh
infeksi HSV-1

Tiemstra JD, Khatkhate N. Bell`s Palsy : Diagnosis and Management. Am Fam Physician 2007;76:997-1002, 1004
Manifestasi Klinis
Kelemahan atau paralysis total
otot-otot pada salah satu sisi
wajah
Lipatan nasolabial menghilang,
dahi tidak berkerut, sudut mulut
jatuh
Kelopak mata sulit menutup
(bila dipaksakan mata akan
berputar ke atas Bell`s
phenomenon)
Produksi air mata berkurang
dan kelopak mata sulit
menutup mata menjadi
kering (komplikasi jangka
pendek)
Komplikasi jangka panjang dari
Bells palsy adalah kontraktur
otot wajah

Tiemstra JD, Khatkhate N. Bell`s Palsy : Diagnosis and Management. Am Fam Physician 2007;76:997-1002, 1004
78. Parkinson
Parkinson:
Penyakit neuro degeneratif karena gangguan pada ganglia
basalis akibat penurunan atau tidak adanya pengiriman
dopamine dari substansia nigra ke globus palidus.
Gangguan kronik progresif:
Tremor resting tremor, mulai pd tangan, dapat meluas hingga
bibir & slrh kepala
Rigidity cogwheel phenomenon, hipertonus
Akinesia/bradikinesia gerakan halus lambat dan sulit, muka
topeng, bicara lambat, hipofonia
Postural Instability berjalan dengan langkah kecil, kepala dan
badan doyong ke depan dan sukar berhenti atas kemauan sendiri
Hemibalismus/sindrom balistik
Gerakan involunter ditandai secara khas oleh
gerakan melempar dan menjangkau keluar yang
kasar, terutama oleh otot-otot bahu dan pelvis.
Terjadi kontralateral terhadaplesi
Chorea Huntington
Gangguan herediter autosomal dominan, onset
pada usia pertengahan dan berjalan progresif
sehingga menyebabkan kematian dalam waktu 10
12 tahun
Parkinson Disease
Gejala dan Tanda Parkinson
Gejala awal tidak spesifik Gejala Spesifik

Nyeri Tremor
Gangguan tidur Sulit untuk berbalik badan
Ansietas dan depresi di kasur
Berpakaian menjadi lambat Berjalan menyeret
Berjalan lambat Berbicara lebih lambat

Tanda Utama Parkinson :

1. Rigiditas : peningkatan tonus otot


2. Bradykinesia : berkurangnya gerakan spontan (kurangnya kedipan mata, ekspresi
wajah berkurang, ayunan tangan saat berjalan berkurang ), gerakan
tubuh menjadi lambat terutama untuk gerakan repetitif
3. Tremor : tremor saat istirahat biasanya ditemukan pada tungkai, rahang dan
saat mata agak menutup
4. Gangguan berjalan dan postur tubuh yang membungkuk
Penatalaksanaan Parkinson
Prinsip pengobatan parkinson adalah
meningkatkan aktivitas dopaminergik di
jalur nigrostriatal dengan memberikan :
Levodopa diubah menjadi dopamine
di substansia nigra
Antagonis dopamine
Menghambat metabolisme dopamine
oleh monoamine oxydase dan cathecol-
O-methyltransferase
Obat- obatan yang memodifikasi
neurotransmiter di striatum seperti
amantadine dan antikolinergik

Wilkinson I, Lennox G. Essential Neurology 4th edition. 2005


79. N. Iskhiadikus

Nyeri neuropati
Paresthesia
Kelemahan progresif pada ekstremitas
bawah dengan kesulitan berjalan
80. Klasifikasi Nyeri
Klasifikasi Nyeri - Nyeri secara esensial dapat
dibagi atas dua tipe yaitu nyeri adaptif dan nyeri
maladaptif.
Nyeri adaptif berperan dalam proses survival
dengan melindungi organisme dari cedera atau
sebagai petanda adanya proses penyembuhan
dari cedera.
Nyeri maladaptif terjadi jika ada proses patologis
pada sistem saraf atau akibat dari abnormalitas
respon sistem saraf. Kondisi ini merupakan suatu
penyakit (pain as a disease).
Woolf, C. J., 2004: Pain: Moving from Symptom Control toward Mechanism-Specific Pharmacologic Management,
Ann Intern Med; 140:441-451
Klasifikasi Nyeri
1. Nyeri Nosiseptif
Nyeri dengan stimulasi singkat dan tidak menimbulkan
kerusakan jaringan.
Pada umumnya, tipe nyeri ini tidak memerlukan terapi
khusus karena perlangsungannya yang singkat.
Nyeri ini dapat timbul jika ada stimulus yang cukup kuat
sehingga akan menimbulkan kesadaran akan adanya
stimulus berbahaya, dan merupakan sensasi fisiologis
vital.
Intensitas stimulus sebanding dengan intensitas nyeri.
Contoh: nyeri pada operasi, nyeri akibat tusukan jarum,
dll.
Woolf, C. J., 2004: Pain: Moving from Symptom Control toward Mechanism-Specific Pharmacologic Management,
Ann Intern Med; 140:441-451
2. Nyeri Inflamatorik
Nyeri dengan stimulasi kuat atau berkepanjangan yang
menyebabkan kerusakan atau lesi jaringan.
Nyeri tipe II ini dapat terjadi akut dan kronik dan pasien
dengan tipe nyeri ini, paling banyak datang ke fasilitas
kesehatan.
Contoh: nyeri pada rheumatoid artritis.

3. Nyeri Neuropatik
Merupakan nyeri yang terjadi akibat adanya lesi sistem
saraf perifer
Seperti pada neuropati diabetika, post-herpetik
neuralgia, radikulopati lumbal, dll) atau sentral (seperti
pada nyeri pasca cedera medula spinalis, nyeri pasca
stroke, dan nyeri pada sklerosis multipel).

Woolf, C. J., 2004: Pain: Moving from Symptom Control toward Mechanism-Specific Pharmacologic Management,
Ann Intern Med; 140:441-451
4. Nyeri Fungsional
Bentuk sensitivitas nyeri ini ditandai dengan tidak
ditemukannya abnormalitas perifer dan defisit
neurologis.
Nyeri disebabkan oleh respon abnormal sistem saraf
terutama hipersensitifitas aparatus sensorik.
Beberapa kondisi umum memiliki gambaran nyeri tipe ini
yaitu fibromialgia, iritable bowel syndrome, beberapa
bentuk nyeri dada non-kardiak, dan nyeri kepala tipe
tegang.
Tidak diketahui mengapa pada nyeri fungsional susunan
saraf menunjukkan sensitivitas abnormal atau hiper-
responsifitas
Woolf, C. J., 2004: Pain: Moving from Symptom Control toward Mechanism-Specific Pharmacologic Management,
Ann Intern Med; 140:441-451
ILMU
P S I K I AT R I
81. Sleep Disorder
DSM-IV-TR divides primary sleep Parasomnias: abnormal behaviors
disorders into: during sleep or the transition
Dyssomnias: disorders of quantity or between sleep and wakefulness.
timing of sleep Nightmare
Insomnia Repeated awakenings from bad dreams
primary insomnias: insomnia is When awakened client becomes oriented
independent of any known physical or and alert
mental condition. Night terror
Hypersomnia Abrupt awakening from sleep, usually
sleeping too much, as well as being drowsy at beginning with a panicky scream or cry.
times when client should be alert Intense fear and signs of autonomic arousal
Excessive sleepiness Unresponsive to efforts from other to calm
Narcolepsy client
Sleeping at the wrong time No detailed dream recalled
Sleep intrudes into wakefulness, causing clients Amnesia for episode
to fall asleep almost instantly Sleep walking/somnabulisme
Sleep is brief but refreshing Rising from bed during sleep and walking
May also have sleep paralysis, sudden loss of about.
strength, and hallucinations as fall asleep or Usually occurs early in the night.
awaken. On awakening, the person has amnesia
Circadian rhythm sleep disturbances for episode
Kaplan & Sadock synopsis of psychiatry
Primary Insomnia
Insomnia is difficulty initiating or maintaining sleep. It is the
most common sleep complaint and may be transient or
persistent.
Primary insomnia is commonly treated with benzodiazepines.

Kaplan & Sadock synopsis of psychiatry


Insomnia
According to severity: According to form of
Mild: almost every night, presentation:
minimum impairment of Sleep onset/early
quality of life (QoL)
insomnia (difficulty
Moderate: every night, falling asleep)
moderate impairment
QoL with symptoms Sleep
(irritability, anxiety, maintenance/middle
fatigue) insomnia (waking
Severe: every night, frequently)
moderate impairment End of sleep/late
QoL with more severe insomnia (waking too
symptoms of irritability, early)
anxiety, fatigue
82. Shabu (Methamphetamine)
Acute Physical Effects
Increases Decreases
Heart rate Appetite

Blood pressure Sleep

Pupil size Reaction time

Respiration

Sensory acuity

Energy
Acute MA Overdose

Slowing of Cardiac Conduction


Ventricular Irritability
Hypertensive Episode
Hyperpyrexic Episode
CNS Seizures and Anoxia
Diagnosis
Intoksikasi
Tatalaksana
Treatment of MA Psychosis

Typical ER Protocol for MA Psychosis


Haloperidol - 5mg (sedative)
Clonazepam - 1 mg (antianxiety)
Cogentin - 1 mg (anticholinergic)
Quiet, Dimly Lit Room
Restraints
83. Sexual and Gender Identity
Disorder
What Is Normal vs. Abnormal Sexual Behavior?
Normative facts and statistics
Cultural considerations
Extent of gender differences in sexual behavior and
attitudes
Development of Sexual Orientation
Complex interaction of bio-psycho-social influences
The example of homosexuality
DSM-IV Sexual and Gender Identity Disorders
Gender identity disorder
Sexual dysfunctions
Paraphilias
Sexual and Gender Identity Disorders

Figure 10.2
Sequence of events leading to sexual orientation
The Nature of Gender Identity
Disorder
Clinical Overview
Pasien merasa terjebak di tubuh yang salah
Ingin mengganti identitas seksual namun bukan untuk
kepuasaan seksuall
Causes are Unclear
Timbul antara usia 18 bulan-3 tahun
Operasi ganti kelamin terapi dari gangguan identitas
seksual
Who is a candidate? Some basic prerequisites before surgery
75% report satisfaction with new identity
Female-to-male conversions adjust better than male-to-female
Transeksualism
Paraphilias
(Disorders Of Sexual Preference)
Nature of Paraphilias
Ketertariakn seksual dan terangsang pada orang atau objek yang
tidak semestinya
Often multiple paraphilic patterns of arousal
High comorbidity with anxiety, mood, and substance abuse
disorders
Main Types of Paraphilias
Fetishism
Voyeurism
Exhibitionism
Transvestic fetishism
Sexual sadism and masochism
Pedophilia
Fetishism and Transvestic Fetishism
Fetishism
Mendapatkan kepuasaan seksual dari benda-benda mati
(i.e., inanimate and/or tactile)
Numerous targets of fetishistic arousal, fantasy, urges, and
desires
Transvestic Fetishism
Mendapatkan rangsangan seksual dengan memakai
pakaian dari lawan jenis
Laki-laki yang mengalami gangguan ini biasa menunjukkan
perilaku yang lebih maskulin sebagai kompensasi
Sebagian besar tidak didapatkan perilaku kompensasi
Many are married and the behavior is known to spouse
Transvestic Fetishism
Juga dikenal sebagai transvestism atau cross-dressing
Karakteristik:
Fantasi, kebutuhan (urges), atau perilaku yang melibatkan
memakai baju dari lawan jenis untuk mendapatkan rangsangan
atau kepuasaan seksual
Tipikal pasien dengan transvestism laki-laki heteroseksual
yang mulai memakai baju lawan jenis saat anak-anak atau
remaja
Sering salah diagnosis dengan gangguan identitas gender
(transsexualism)keduanya memiliki pola yang berbeda
The development of the disorder seems to follow the
behavioral principles of operant conditioning

247 Comer, Abnormal Psychology, 7e


Kaplan & Sadock synopsis of psychiatry.

Sexual Disorder (Parafilia)


Diagnosis Karakteristik
Fetishism Sexually arousing fantasies, sexual urges, or behaviors involving the
use of nonliving objects
Frotteurism Sexually arousing fantasies, sexual urges, or behaviors involving
touching and rubbing against a nonconsenting person.
Masochism Sexually arousing fantasies, sexual urges, or behaviors involving the
act (real, not simulated) of being humiliated, beaten, bound, or
otherwise made to suffer.
Sadism Sexually arousing fantasies, sexual urges, or behaviors involving acts
(real, not simulated) in which the psychological or physical suffering
(including humiliation) of the victim is sexually exciting to the person.
Voyeurism Sexually arousing fantasies, sexual urges, or behaviors involving the
act of observing an unsuspecting person who is naked, in the process
of disrobing, or engaging in sexual activity.
Necrophilia Necrophilia is an obsession with obtaining sexual gratification from
cadavers.
Diagnosis Karakteristik
Pedophilia Sexually arousing fantasies, sexual urges, or behaviors involving
sexual attraction to prepubescent children (generally 13 years or
younger) and the pedophilia must at least 16 years or older and at
least 5 years older than the child
Eksibisionis Seseorang yang selalu ingin memperlihatkan kemaluannya/genital
kepada orang lain (biasanya orang asing) untuk mendapatkan
kepuasan seksual
84. Gangguan Afektif
85. Farmakologi Psikofarmaka
Obat Efek Samping
Risperidone Afinitas risperidon terhadap reseptor serotonin lebih besar daripada
terhadap reseptor dopamin, sehingga kemungkinan terjadinya gejala
ekstrapiramidal lebih kecil. Dapat digunakan bila terdapat
kontraindikasi terhadap penggunaan haloperidol atau bila timbul
gejala ekstrapiramidal
Efek samping:
weight gain, sleep problems, fatigue, hyper-salivation,
constipation, stuffy nose, emotional accountability, anxiety,
sedation, muscle stiffness, muscle pain and tremors.
Photosensitivity besides other skin conditions including rash,
xerosis (dry skin), acne vulgaris, alopecia (hair loss), skin
hyperpigmentation and seborrhoea.
The blocking action of serotonin and dopamine causes
irritability, aggression, sleep and eating disorders. Neuroleptic
malignant syndrome and tardive dyskinesia
Haloperidol Termasuk dalam derivat butyrophenone dan berfungsi sebagai
inverse agonist of dopamine. Digunakan sebagai antipsikotik. Efek
sampinggejala ekstrapiramidal (Distonia, Kekakuan
otot,Akathisia,Parkinsonism), Hypotension, Somnolen,Efek
Anticholinergic (Constipation,Dry mouth,Blurred vision)
Antipsychotics
of the 2nd Generation
Generic Name Trade Mark Dose (mg)
D2, D3 selective antagonists
sulpiride DOGMATIL, PROSULPIN 50-1200
amisulpride SOLIAN, DENIBAN 50-1200
SDA
risperidone RISPERDAL, RISPEN, 4-8
RISPERDAL QUICKLET
ziprasidone ZELDOX 40-160
sertindole SERDOLECT 12-20
MARTA
clozapine LEPONEX 200-600
olanzapine ZYPREXA i.m. inj. 10 mg 5-20
quetiapine SEROQUEL 300-600
zotepine ZOLEPTIL 75-300
Antipsychotics
of the 2nd Generation
Efficacy
1. Positive symptoms are influenced significantly better than placebo, and
equally or more then by the classical antidopaminergic neuroleptics.
2. Negative symptoms are reduced significantly better than by placebo or
classical antidopaminergic neuroleptics.
3. Affective symptoms are influenced better than by placebo or classical
antidopaminergic neuroleptics.
4. They significantly reduce or prevent the cognitive impairment. The
reduction is higher in comparison to classical antidopaminergic
neuroleptics.
5. The treatment resistant patients with schizophrenia are improved
significantly better than by placebo and at least equally as by clozapine.
6. Maintenance treatment is more effective than maintenance on placebo and
at least as effective as maintenance on classical neuroleptics.
Adverse effects
Sedation
Orthostatic hypertensionOlanzapine
At high doses may cause akathisia,
pseudoparkinsonism
Weight gain (esp. Risperidone)
86. Warna Pil Psikiatri
Warna pil tidak dapat digunakan sebagai cara
identifikasi suatu obat karena satu jenis obat
dapat memiliki berbagai warna
Namun, dapat digunakan sebagai gambaran
kasar, bila disertai dengan efek obat dan keluhan
pasien
Adanya gejala parkinsonism (mulut cadel dan
kaku) menandakan adanya gejala ekstrapiramidal
Golongan obat yang memiliki efek
ekstrapiramidal adalah golongan antipsikotik
atipikal
Stelazine = trifluoperazine

Prochlorproperazine,
trifluoperazine, dan
chlorpromazine termasuk ke
dalam golongan phenotiazin
yang merupakan
antipsikotik tipikal
87. ADHD
Childhood Psychiatry
Attention-deficit/hyperactivity disorder (ADHD)
a pattern of diminished sustained attention and
higher levels of impulsivity in a child or adolescent

The diagnosis of ADHD is based on the consensus


of experts that three observable subtypes:
inattentive,
hyperactive/impulsive, or
combined are all manifestations of the same disorder.
Jenis-jenis ADHD
http://www.brainbalancecenters.com/blog/2013/08/an-inside-look-at-adhd/
88. Defense Mechanism
89. Pervasive Developmental Disorder
Patricia Manning-Courtney. Autism Update 2011. American
academy of pediatrics. In Pediatrics online.

PERVASIVE DEVELOPMENTAL DISORDERS

Autism Asperger Rett Childhood PDD-NOS


Syndrome Syndrome Disintegrative
Disorder

Abbreviation: PDD-NOS, pervasive developmental disorder-not otherwise specified.


DSM-5 revisions
Autism spectrum disorders Social Communication
Termasuk autism, Asperger Persistent deficits in social
syndrome, PDD-NOS, dan child communication and social
disintegrative disorder (CDD) interaction across contexts, not
Required features accounted for by general
Social/communication deficits developmental delays,
Restricted, repetitive patterns of manifested by all of the
behavior, interests, activities following:
o Addition of sensory criteria Deficits in social-emotional
reciprocity
Increases specificity while
maintaining sensitivity Deficits in nonverbal
communicative behaviors
Important to distinguish
spectrum from non-spectrum Deficits in developing and
developmental disabilities maintaining relationships
appropriate to the
Improves stability of diagnosis
developmental level
DSM-5 Criteria:Restricted/Repetitive Behaviors
Restricted, repetitive Symptoms must be present
patterns of behavior, in early childhood.
interests, or activities as Symptoms together limit
manifested by at least 2 of and impair everyday
the following: functioning.
Stereotyped or repetitive
speech, motor movements,
or use of objects
Excessive adherence to
routines
Highly restricted, fixated
interests that are abnormal in
intensity or focus
Hyper- or hypo-reactivity to
sensory input or unusual
sensory interests
Childhood Disintegrative Disorder
(Hellers Dementia)
Rare disorder with unknown couse that Two abnormalities of functioning:
affect children (mostly boys), most Social interaction
often around age 3-5, but may range Failure to develop peer
from age 2-10 relationships
Normal development for the first 2 Lack of emotional relationship
years
Communication
Significant loss of 2 previously acquired
skills: Absence of languange
Expressive or receptive language Lack of make-belive play
Social skills Restricted, repetitive and
stereotyped patterns of behavior,
Bowel or bladder control interests and activities
Play Echolalic speech
Motor skills Inflexible adherence to routine
Characteristics
90. Gangguan Afektif
Diagnosis Karakteristik
Skizofrenia Terdapat gejala waham, halusinasi, perubahan perilaku yang telah
berlangsung minimal 1 bulan.
Waham Waham merupakan satu-satunya ciri khas yang mencolok & harus
menetap sudah ada minimal 3 bulan.
Siklotimia Ketidakstabilan menetap dari afek, meliputi banyak periode depresi
ringan & hipomania, di antaranya tidak ada yg cukup parah atau lama
untuk memenuhi gangguan afektif ipolar atau depresi.
Distimia Afek depresif yang berlangsung sangat lama, tapi tidak penah
cukup parah untuk memenuhi kriteria depresi. Penderita biasanya
masih dapat melakukan aktivitas sehari-hari, namun tidak dapat
menikmati aktivitas yang mereka lakukan.
Skizoafektif gejala skizofrenia & afektif muncul bersamaan & sama-sama
menonjol.

Maslim R. Buku saku diagnosis gangguan jiwa. Rujukan ringkas dari PPDGJ-III.
91. Raptus
Raptus
Definisi:
Serangan eksplosif dan impulsif yang tiba-tiba tanpa adanya
penyebab/pencetus yang bermakna,sehingga menimbulkan
keadaan yang agitatif
Dapat terjadi pada:
Kepribadian psikopat (antisosial)
Psikosis organik
Gangguan neurotic
Mania
Gangguan skizofrenia
Terutama bila terdapat waham persekutorik
Gangguan DepresiRaptus melancholia, yang mengarah pada
bunuh diri atau menyakiti diri sendiri
92. Gangguan Somatoform
Dalam DSM IV, gangguan somatoform meliputi:
Gangguan somatisasi
Gangguan konversi
Hipokondriasis
Gangguan dismorfik tubuh
Gangguan nyeri somatoform

Gangguan Dismorfik Tubuh


ditandai oleh preokupasi adanya cacat pada tubuhnya hingga
menyebabkan penderitaan atau hendaya yang bermakna secara
klinis.
Jika memang ada kelainan fisik yang kecil, perhatian pasien pada
kelainan tersebut akan dilebih-lebihkan.

Sadock BJ, Sadock VA. Somatoform disorders. Kaplan & Sadocks Synopsis of Psychiatry. 10th ed.
Philadelphia: Lipincott William & Wilkins; 2007. p.634-51.
Gangguan Somatoform
Diagnosis Karakteristik
Gangguan somatisasi Banyak keluhan fisik (4 tempat nyeri, 2 GI tract, 1
seksual, 1 pseudoneurologis).
Hipokondriasis Keyakinan ada penyakit fisik.

Disfungsi otonomik Bangkitan otonomik: palpitasi, berkeringat,


somatoform tremor, flushing.

Nyeri somatoform Nyeri menetap yang tidak terjelaskan.

Gangguan Dismorfik Preokupasi adanya cacat pada tubuhnya


Tubuh Jika memang ada kelainan fisik yang kecil,
perhatian pasien pada kelainan tersebut akan
dilebih-lebihkan

PPDGJ
DSM-IV-TR Diagnostic Criteria for
Body Dysmorphic Disorder

A. Preokupasi terhadap kelainan yang tidak


nyata atau sedikit defek yang terlihat. Bila
terdapat sedikit anomali fisik yang terlihat, maka
pasien akan merasa khawatir atau
memperhatikan secara berlebihan
B. Preokupasi menyebabkan distres dan disfungsi
dalam sosial, pekerjaan dan bidang lainnya.

Avoidance of social situations or anxiety in social situations, depression,


behaviors to modify appearance, etc.
Appearance Complaints in
Patients with BDD

Hair Nose Head


shape
Skin Eyes Body
build
Lips Chin Entire
face
Stomach Teeth Breasts
BDD?
Further Evaluation and Treatment
If BDD appears to be present:
A) referral for psychological/psychiatric evaluation
ask for evaluation of BDD, along with other possible co-
morbid conditions (e.g., depression, anxiety)
B) if any of these conditions are present, consider referral
for
psychological treatment (cognitive-behavioral therapy,
medications)
C) if BDD and other conditions ruled out, consider
treatment:
extensive pre-treatment briefings regarding
expectations of outcome
93. Methadone Treatment
Outcome Data: Increased employment
8-10 fold reduction in Improved physical and
death rate mental health
Reduction of drug use Reduced spread of HIV
Reduction of criminal Excellent retention
activity
Engagement in socially
productive roles;
improved family and
social function
Methadone vs Heroin
Can be taken by mouth Long acting; prevents
Slow onset of action withdrawal for 24-36 hours
No continuing increase in (4x-6x as long as heroin),
permitting once-a day-
tolerance levels after dosing
optimal dose is reached;
relatively constant dose At sufficient dosage, blocks
over time euphoric effect of normal
Patient on stable dose street doses of heroin
rarely experiences euphoric Medically safe when used
or sedating effects; is able on long-term basis (10 years
to perceive pain and have or more)
emotional reactions; can
perform; can perform daily
tasks normally and safely
Starting dose
Titration
To achieve effective dose increases should be
maintenance dose: no more than 510 mg
at a time
eliminates withdrawal
symptoms for more than the interval between
24 hours dose adjustments should
never be less than five
blocks the euphoric days, but may need to
effects of opioids
be longer due to the
reduces or eliminates above risk factors
drug craving
patients should be seen
does not induce excess frequently (at least
sedation weekly) during titration
phase
Most patients will achieve stability on
maintenance doses of 60 to 120 mg daily
Once a daily dose of 80 mg is reached further
dose increases should be made with caution,
not exceeding 10 mg every five to seven days
Those who receive a dose of 40 mg a day or
less are five times more likely to drop out of
treatment
94. Defense Mechanism IN OCD
Defence/defense mechanisms : psychological
strategies brought into play by the unconscious
mind to manipulate, deny, or distort reality and
to maintain a socially acceptable self-image or
self-scheme
From a psychoanalytic perspective, 3 major
psychological defensive mechanisms of
obsessive-compulsive symptoms and character
traits : isolation, undoing, and reaction
formation
Isolation :
Splitting/separating an idea from the affect
that accompanies it but is repressed.
Protects an individual from anxiety-provoking
affects and impulses
Characteristic of the orderly, controlled
people. Remember the truth in fine detail but
without affect
Undoing :
a compulsive act that is performed in an
attempt to prevent or undo the consequences
that the patient irrationally anticipates from a
frightening obsessional thought or impulse

Reaction Formation :
manifest patterns of behavior and consciously
experienced attitudes that are exactly the
opposite of the underlying impulses
Defense Mech. Definition Example
Projection Attributing ones own if you have a strong dislike for
thoughts, feelings or motives someone, you might instead
to another believe that he or she does
not like you
Conversion Cognitive tensions manifest A person's arm becomes
themselves in physical suddenly paralyzed after they
symptoms. The symptom may have been threatening to hit
well be symbolic and dramatic someone else.
and it often acts as a
communication about the
situation, such as paralysis,
blindness, deafness, becoming
mute or having a seizure.

Identification Bolstering self-esteem by An insecure young man joins a


forming an imaginary or real fraternity to boost his self-
alliance with some person or esteem
group
Rasionalization Creating false but plausible a student stealing money from
excuses to justify a wealthy friend of his, telling
unacceptable behavior himself Well he is rich, he can
afford to lose it.
Defense Mechanism
95. Komplikasi Psoriasis
Komplikasi dari psoriasis antara lain : 3
Dapat menyerang sendi menimbulkan arthritis
psoriasis
Jika menyerang telapak kaki dan tangan serta
ujung jari disebut psoriasis pustul tipe barber.
Namun jika pustul timbul pada daerah psoriasis
dan juga kulit di luar lesi, dan disertai gejala
sistemik berupa panas atau rasa terbakar disebut
Zumbusch.
Psoriasis eritroderma jika lesi psoriasis terdapat di
seluruh tubuh dengan skuama yang halus disertai
gejala konstitusi berupa malaise
96. Diaskopi
Diaskopi dilakukan dengan menekan objek
datar, keras dan transparan (seperti dua slide
mikroskop) pada permukaan kulit
Dilakukan untuk membedakan apakah lesi
disebabkan kelainan vaskular (inflamasi-
vasodilatasi, kongenital) atau non vaskular
(nevus) dan lesi hemorhagik (peteki-purpura)
Lesi hemorhagik dan lesi non vaskular tidak
berubah warna saat ditekan
97. Impetigo
Impetigo Krustosa Impetigo bulosa
Penyebab: streptococcus B Penyebab: Staphylococcus
hemolyticus aureus
Tempat predileksi di muka, Tempat predileksi di ketiak,
sekitar hidung dan mulut. dada, punggung.
Gejala Klinis: eritema dan Gejala klinis: eritema, bula,
vesikel yang cepat dan bula hipopion.
memecah, krusta tebal Pengobatan: vesikel baru
kekuningan seperti madu bisa dipecahkan lalu
Pengobatan: krusta diberikan salep antibiotik
dilepaskan dan diberi salep atau cairan antiseptik.
antibiotik

Buku ajar ilmu penyakit kulit dan kelamin FKUI edisi kelima
Histopatologi Impetigo Krustosa dan Bulosa
Patogen memiliki toksin A dan B yang bisa
mengeksfoliasi target: desmoglein 1
pemisahan dan pembentukan bula tepat
dibawah stratum granulosum
98. Pedikulosis Pubis (Phthirus Pubis)
Merupakan infeksi rambut Gejala klinis :
didaerah pubis dan sekitarnya Gatal di daerah pubis dan
oleh kutu Phthirus pubis sekitarnya, dapat meluas
Penularan secara kontak sampai abdomen dan dada.
Gatal timbul akibat liur dan
langsung ekskreta kutu yg dimasukkan ke
Pada dewasa dapat kulit saat menghisap darah
digolongkan penyakit Terdapat bercak berwarna abu-
hubungan seksual abu kebiruan yg disebut makula
serulae
Dapat menyerang jenggot,
kumis, alis atau bulu mata, dan Black dot, bercak hitam yg
tampak pada celana dalam
pada tepi batas rambut kepala berwarna putih (krusta dari
darah)
Dapat disertai Infeksi sekunder
atau pembesaran KGB regional
Pedikulosis Pubis (Phthirus Pubis)
Pengobatan
Gameksan 1% atau
emulsi benzil benzoat
25% dioleskan dan
didiamkan 24 jam,
diulangi 4 hari kemudian
Rambut kelamin dicukur,
pakaian dalam direbus
99. Profilaksis malaria
Profilaksis Mekanis Kemoprofilaksis
Tindakan yang dapat dilakukan Jenis Khemoprofilaksis malaria
untuk mencegah transmisi Klorokuin : Tidak direkomendasikan
untuk daerah dimana P.falciparum
malaria di daerah yang endemis resisten klorokuin. Bisa digunakan di
adalah dengan tidur luar negeri atau daerah dgn infeksi
menggunakan kelambu yang P.vivax
telah dicelup pestisida, Doksisiklin
menggunakan obat pembunuh Mefloquin
nyamuk (mosquito repellants),
menggunakan proteksi saat Pemberian khemoprofilaksis:
keluar dari rumah (baju lengan Kelompok non-imun yang bepergian ke
daerah endemis (pelancong, pegawai
panjang, kaus/stocking), dan negri, TNI, transmigran dll)
memproteksi kamar atau ruangan Wanita hamil di daerah endemi
menggunakan kawat anti
nyamuk.
100. Pitiriasis Rosea
Dermatitis eritroskuamosa yang disebabkan
oleh infeksi virus (self-limiting disease)
Bentuk klinis:
Dimulai dengan lesi inisial berbentuk eritema
berskuama halus dengan kolaret (herald patch)
Disusul dengan lesi yang lebih kecil di badan, paha
dan lengan atas, tersusun sesuai lipatan kulit
(inverted christmas tree appearance)
Pengobatan: simtomatik

Djuanda A. Ilmu penyakit kulit dan kelamin, 5th ed. Balai Penerbit FKUI; 2007.
101. Varisela
Varisela adalah infeksi akut primer oleh infeksi
virus varisela-zoster yang menyerang kulit dan
mukosa.
Gejala klinis berupa demam yang tidak terlalu
tinggi, nyeri kepala, erupsi kulit berupa papul
eritmatosa yang dalam beberapa jam berubah
menjadi vesikel.
Vesikel yang khas berbentuk tetesan embun (tear
drop).
Setiap lesi memiliki perkembangan berlainan
sehingga timbul gambaran polimorfik.
Varisela
Pengobatan: antipiretik, analgesik, bedak
untuk mengurangi rasa gatal dan mencegah
pecahnya vesikel.
Asam salisilat dosis rendah (1-2%) mempunyai
efek keratoplastik, menunjang pembentukan
keratin baru.
Pada konsentrasi tinggi (3-20%) bersifat
keratolitik dan dipakai untuk keadaan
dermatosis yang hiperkeratotik.
102. Tinea Korporis
Dermatofitosis pada kulit Penyebab:
tidak berambut (glabrous Trichophyton sp., Microsporum sp.
skin) Bentuk Klinis:
Lesi bulat/ lonjong, berbatas tegas,
Dermatofitosis yang tidak terdiri atas eritema, skuama, kadang
termasuk 5 jenis lainnya dengan vesikel dan papul di tepi
(kapitis, barbae, kruris, Erosi dan krusta akibat garukan
pedis et manum, unguium) Pinggir lebih aktif, polimorfik, kadang-
kadang polisiklik
Diagnosis Diferensial:
Dermatitis seboreika
Psoriasis
Pitiriasis rosea
Bentuk khusus tinea korporis :
Tinea Imbrikata
Penyebab: Trichophyton concentricum
Klinis: lingkaran skuama konsentris. Bila menahun
menyerupai iktiosis
Tinea Favosa
Penyebab: T.schoenleini, T.violaceum, M.gypseum
Khas : krusta seperti cawan (skutula), mengenai badan
dan kepala menyebabkan alopesia permanen
Di Indonesia jarang.
103. Askariasis (Cacing Gelang)
Gejala
Rasa tidak enak pada perut (gangguan
lambung); kejang perut, diselingi diare;
kehilangan berat badan; dan demam
Telur
Fertilized: bulat, bile stained (coklat),
dilapisi vitelin dan unstructured
albuminoid (tidak teratur), ukuran
diameter 50 dan 75 mcm
Unfertilized: lonjong, permukaan bisa
tidak teratur atau teratur (dekortikated),
dinding lebih tipis, ukuran diameter 43
dan 95 mcm
Albendazole
Terapi cacing gelang, cacing cambuk, cacing kremi, cacing tambang

Cara kerja : membunuh cacing, menghancurkan telur & larva cacing dengan
jalan menghambat pengambilan glukosa oleh cacing produksi ATP
sebagai sumber energi << kematian cacing

Kontra Indikasi:
Ibu hamil (teratogenik), menyusui
Gangguan fungsi hati & ginjal, anak < 2 tahun

Dosis sediaan : 400 mg per tablet.


Dewasa dan anak diatas 2 tahun : 400 mg sehari sebagai dosis tunggal
Tablet dapat dikunyah, ditelan atau digerus lalu dicampur dengan
makanan

Efek samping : perasaan kurang nyaman pada saluran cerna dan sakit
kepala, mulut terasa kering
Mebendazole
Terapi cacing gelang, cacing cambuk, cacing kremi, cacing tambang

Cara kerja : membunuh cacing, menghancurkan telur & larva cacing dengan
jalan menghambat pengambilan glukosa oleh cacing produksi ATP
sebagai sumber energi << kematian cacing

Kontra Indikasi:
Ibu hamil (teratogenik), menyusui
Gangguan fungsi hati & ginjal, anak < 2 tahun

Dosis sediaan : 100 mg per tablet


Dewasa dan anak diatas 2 tahun: 2x100 mg sehari selama 3 hari
Tablet dapat dikunyah, ditelan atau digerus lalu dicampur dengan
makanan

Efek samping : perasaan kurang nyaman pada saluran cerna dan sakit
kepala, mulut terasa kering
Pirantel Pamoat

Indikasi: cacing tambang, cacing gelang, dan cacing kremi

Cara kerja: Melumpuhkan cacing mudah keluar bersama tinja


Dapat diminum dalam keadaan perut kosong, atau diminum
bersama makanan, susu, atau jus

Dosis: Tunggal, sekali minum 10 mg/kg BB, tidak boleh


melebihi 1 gram
Jika berat badan 50 kg, dosisnya menjadi 500 mg.
Bentuk sediaannya adalah 125 mg per tablet, 250 mg per
tablet, dan 250 mg per ml sirup
Prazikuantel

Indikasi: Cacing pita, kista hidatid

Cara Kerja: Meningkatkan permeabilitas membrane sel


trematoda dan cestoda terhadap kalsium, yang
menyebabkan paralisis, pelepasan, dan kematian (Katzung,
2010).

Dosis: Dosis tunggal prazikuantel sebesar 5 10 mg/ kg

Efek samping: Nyeri kepala, pusing, mengantuk dan


kelelahan, efek lainnya meliputi mual, muntah, nyeri
abdomen, feses yang lembek, pruritus, urtikaria, artalgia,
myalgia, dan demam berderajat rendah
Nama cacing Cacing dewasa Telur Obat

Dinding tebal 2-3 lapis,


Ascaris bergerigi, berisi unsegmented Mebendazole,
lumbricoides ovum pirantel pamoat

kulit radial dan mempunyai 6 Albendazole,


Taenia solium kait didalamnya, berisi onkosfer prazikuantel,
dan embriofor bedah

Pirantel pamoat,
Enterobius ovale biconcave dengan dinding
mebendazole,
vermicularis asimetris berisi larva cacing
albendazole
Ancylostoma
ovale dengan sitoplasma jernih Mebendazole,
duodenale
berisi segmented ovum/ lobus 4- pirantel pamoat,
Necator
8 mengandung larva albendazole
americanus

coklat kekuningan, duri terminal,


Schistosoma
transparan, ukuran 112-170 x Prazikuantel
haematobium
40-70 m

Tempayan dengan 2 operkulum


Trichuris Mebendazole,
atas-bawah
trichiura Brooks GF. Jawetz, Melnick & Adelbergs medical microbiology, 23rd ed. McGraw-Hill; 2004. albendazole
DOC Antihelmintik
JENIS CACING DOC ANTIHELMINTIK Keterangan

Ascaris lumbricoides Mebendazol (95%)* Pada infeksi gabungan


Albendazol (88%)* askaris dan cacing tambang
DOC: Albendazol
Cacing Tambang Albendazol

Trichuris Trichiura Mebendazol

Scistosoma japonicum Prazikuantel

Enterobius vermicularis Mebendazol, albendazol,


pyrantel pamoat
Cacing pita Prazikuantel

http://emedicine.medscape.com/article/996482-medication#2
104. Trikomoniasis
Merupakan salah satu penyakit menular seksual yang
disebabkan oleh infeksi Trichomonas vaginalis
T. Vaginalis patogen pada traktus genitourinaria
Manifestasi Klinis :
Wanita : sekret vagina berbau warna kekuningan, eritema
vulvar, pruritus, disuria atau dyspareunia
Inkubasi 5 -28 hari
Diagnosis
Pemeriksaan sekret vagina dengan preparat basah
menemukan trikomonas motile
Imunofluoresen direk lebih sensitif dibandingkan
pemeriksaan preparat basah (sensitifitas 70 90%)
Trikomoniasis
Terapi topikal :
Irigasi : hidrogen peroksida 1-2% dan larutan asam
laktat 4%
Gel dan krim yg bersifat trikomoniasidal
Terapi sistemik (oral):
Metronidazole : Dosis tunggal 2 gr atau 3x500 mg
perhari untuk 7 hari
Nimorazol : Dosis tunggal 2 gr
Tinidazol : Dosis tunggal 2 gr
Omidazole : Dosis tunggal 1,5 gr
Vaginitis Differentiation
Normal Bacterial Vaginosis Candidiasis Trichomoniasis

Itch, discomfort,
Symptom Itch, discharge, 50%
Odor, discharge, itch dysuria, thick
presentation asymptomatic
discharge
Homogenous,
Clear to adherent, thin, milky Thick, clumpy, white Frothy, gray or yellow-
Vaginal discharge
white white; malodorous cottage cheese green; malodorous
foul fishy
Inflammation and Cervical petechiae
Clinical findings
erythema strawberry cervix

Vaginal pH 3.8 - 4.2 > 4.5 Usually < 4.5 > 4.5

KOH whiff test Negative Positive Negative Often positive

Motile flagellated
Clue cells (> 20%),
NaCl wet mount Lacto-bacilli Few WBCs protozoa, many
no/few WBCs
WBCs

Pseudohyphae or
KOH wet mount spores if non-albicans
species 325
105. Anemia pada Malaria
Malaria adalah penyakit yang disebabkan oleh parasit
dari genus Plasmodium yang termasuk golongan
protozoa melalui perantaraan tusukan (gigitan) nyamuk
Anopheles spp
Parasit malaria : Plasmodium falciparum, P.vivax,
P.ovale, P.malariae
Gejala-gejala klinis:
Demam berulang yang terdiri dari tiga stadium: stadium
kedinginan, stadium panas, dan stadium berkeringat
Splenomegali (pembengkakan limpa)
Anemi yang disertai malaise
106. DKI vs DKA: Perbedaan

Terapi Terapi
Topikal Sistemik: Kortikosteroid
Prednison 5-10 mg/ dosis,
Akut & eksudatif: kompres
NaCl 0.9% 2-3x/hari
Deksametason 0.5-1 mg, 2-
Kronik & kering: krim
hidrokortison 3x/hari
DKI vs DKA: Patch Test

Untuk metode diagnostik delayed contact


hypersensitivity DKA
DKI: diagnosis berdasarkan klinis saja dan
dengan menyingkirkan DKA (hasil Patch Test
negatif)
Anemia pada Malaria
Jenis anemia pada malaria adalah hemolitik,
normokrom-normositik atau hipokrom
Dapat ditemukan polikromasi, anisositosis,
poikilositosiss, sel target, dan basophilic stippling pada
ertirosit
Anemia disebabkan oleh beberapa faktor:
Penghancuran/hemolisis eritrosit yang mengandung
parasit dan yang tidak mengandung parasit (di dalam
limpa)
Reduced survival time, eritrosit normal yg tidak
mengandung parasit tidak dapat hidup lama
Diseritropoiesis, depresi sumsum tulang

Buku Ajar Parasitologi Kedokteran Edisi 4


107. Proteus mirabilis dan ISK
Bakteri batang gram negatif, berflagella (bergerak
aktif)
Infeksi saluran kemih dan mengeluarkan zat yang
dapat memfasilitasi pembentukan batu di saluran
kemih
Patogenesis:
Produksi enzim urease hidrolisis urea menjadi
amonia urin >> basa memicu pembentukan
kristal sitruvit & kalsium karbonat
Endotoksin induksi respon inflamasi hemolisin
Gejala: sistitis, urgensi, hematuria
Swarming Phenomenon
Swarming adalah terbentuknya zona konsentrik pada
pertumbuhan bakteri yang menutupi permukaan media
pertumbuhan agar darah
Ditemukan pada P. mirabilis dan P. vulgaris
Bakteri tsb memiliki flagela dan bersifat sangat motil sehingga
menimbulkan pola pertumbuhan yang khas dan aroma ikan asin
108. Pioderma
Folikulitis (Staph. Aureus): peradangan folikel rambut yang
ditandai dengan papul eritema perifolikuler dan rasa gatal atau
perih.

Furunkel (Staph. Aureus): peradangan folikel rambut dan


jaringan sekitarnya berupa papul, vesikel atau pustul
perifolikuler dengan eritema di sekitarnya dan disertai rasa
nyeri.

Furunkulosis: beberapa furunkel yang tersebar.

Karbunkel (Staph. Aureus): kumpulan dari beberapa furunkel,


ditandai dengan beberapa furunkel yang berkonfluensi
membentuk nodus bersupurasi di beberapa puncak.
Impetigo krustosa/vulgaris/ kontagiosa/
Tillbury Fox (Strep. Beta hemolyticus) :
peradangan vesikel yang dengan cepat
berubah menjadi pustul pecah krusta
kering kekuningan seperti madu. Predileksi
spesifik lesi terdapat di sekitar lubang
hidung, mulut, telinga atau anus.

Impetigo bulosa/ cacar monyet (Staph.


Aureus): peradangan yang memberikan
gambaran vesikobulosa dengan lesi bula
hipopion (bula berisi pus)

Ektima (Strep. Beta hemolyticus):


peradangan yang menimbulkan kehilangan
jaringan dermis bagian atas (ulkus dangkal).
Histopatologi Impetigo Krustosa dan Bulosa
Patogen memiliki toksin A dan B yang bisa
mengeksfoliasi target: desmoglein 1
pemisahan dan pembentukan bula tepat
dibawah stratum granulosum
Pioderma: Impetigo
Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan dari apusan cairan sekret dari dasar lesi dengan pewarnaan
Gram
Pemeriksaan darah rutin kadang kadang ditemukan leukositosis

Komplikasi: Erisipelas, selulitis, ulkus, limfangitis, bakteremia

Terapi:
Antibiotika topikal:
DOC: mupirocin (Bactroban), basitrasin, asam fusidat (Fucidin) dan
retapamulin (Altargo) 2x/hari selama 7 hari
Alternatif: salep/krim klindamisin, gentamisin
Antibiotika oral:
Sefalosforin, amoxiclav, cloxacillin, dicloxaxillin, alternatif: eritromisin,
klindamisin
DOC anak: Cephalexin http://emedicine.medscape.com/article/965254-overview
ILMU
K E S E H ATA N
ANAK
109. EKSANTEMA AKUT
Rubella
Togavirus Asymptomatik hingga
Yg rentan: orang dewasa 50%
yang belum divaksinasi Prodromal
Musim: akhir musim Anak-anak: tidak bergejala
dingin/ awal musim semi. s.d. gejala ringan
Dewasa: demam, malaside,
Inkubasi 14-21 hari nyeri tenggorokan, mual,
Masa infeksius: 5-7 hari anoreksia, limfadenitis
sblm ruam s.d. 3-5 hari oksipital yg nyeri.
setelah ruam muncul Enanthem
Forschheimers spots
petekie pada hard
palate
Rubella - komplikasi
Arthralgias/arthritis pada
org dewasa
Peripheral neuritis
encephalitis
thrombocytopenic purpura
(jarang)
Congenital rubella
syndrome
Infeksi pada trimester
pertama
IUGR, kelainan mata, tuli,
kelainan jantung, anemia,
trombositopenia, nodul kulit.
110. Vaksin Campak

Imunisasi campak pada program nasional


diberikan 2 kali pada umur 9 dan 24 bulan
(Permenkes RI no 42/ 2013 tentang
penyelenggaran imunisasi)
Bila mendapat MMR umur 15 bulan, imunisasi
campak umur 24 bulan tidak diperlukan.

Hartono Gunardi. Jadwal Imunisasi rekomendasi IDAI tahun 2014. Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI-RSCM
111. Diagnostic Criteria and Typical Total Body Deficits
of Water and Electrolytes in Diabetic Ketoacidosis
Diagnostic criteria* Typical deficits
Blood glucose: > 250 mg per dL Water: 6 L, or 100 mL per kg
(13.9 mmol per L) body weight
pH: <7.3 Sodium: 7 to 10 mEq per kg body
Serum bicarbonate: < 15 mEq/L weight
Urinary ketone: 3+ Potassium: 3 to 5 mEq per kg
body weight
Serum ketone: positive at 1:2
dilutions Phosphate: ~1.0 mmol per kg
body weight
Serum osmolality: variable

*Not all patients will meet all diagnostic criteria,


depending on hydration status, previous
administration of diabetes treatment and other
factors.
Adapted with permission from Ennis ED, Stahl EJ, Kreisberg RA. Diabetic
ketoacidosis. In: Porte D Jr, Sherwin RS, eds. Ellenberg and Rifkin's Diabetes
mellitus. 5th ed. Stamford, Conn.: Appleton & Lange, 1997;82744.

CLASSIC TRIAD OF DKA


112. Leukemia
More common in AML

Leukemia Leukostasis (when blas count


>50.000/uL): occluded
microcirculation headache,
blurred vision, TIA, CVA, dyspnea,
Jenis leukemia yang paling hypoxia
sering terjadi pada anak- DIC (promyelocitic subtype)
anak adalah Acute
Leukemic infiltration of skin, gingiva
Lymphoblastic Leukemia (monocytic subtype)
(ALL) dan Acute
Myelogenous Leukemia Chloroma: extramedullary tumor,
virtually any location.
(AML)
More common in ALL
ALL merupakan keganasan
Bone pain, lymphadenopathy,
yg paling sering ditemui hepatosplenomegaly (also seen in
pada anak-anak (1/4 total monocytic AML)
kasus keganasan pediatrik)
CNS involvement: cranial
Puncak insidens ALL usia 2-5 neuropathies, nausea, vomiting,
tahun headache, anterior mediastinal
mass (T-cell ALL)
Tumor lysis syndrome
Leukemia Limfoblastik Akut
Merupakan keganasan yang paling sering ditemukan pada
masa anak, meliputi 25-30% dari seluruh keganasan pada
anak.
Lebih sering pada laki-laki, usia 3-4 tahun
Manifestasi klinis
Penekanan sistem hemopoetik normal, anemia (pucat),
neutropenia (sering demam), trombositopenia (perdarahan)
Infiltrasi jaringan ekstramedular, berupa pembesaran KGB, nyeri
tulang, dan pembesaran hati serta limpa
Penurunan BB, anoreksia, kelemahan umum
Pemeriksaan Penunjang: Gambaran darah tepi dan pungsi
sumsum tulang untuk memastikan diagnosis
Tatalaksana : Kemoterapi dan Pengobatan suportif
ALL AML
epidemiologi ALL merupakan keganasan yg paling 15% dari leukemia pada pediatri, juga
sering ditemui pada anak-anak (1/4 ditemukan pada dewasa
total kasus keganasan pediatrik)
Puncak insidens usia 2-5 tahun
etiologi Penyebab tidak diketahui Cause unknown. Risk factors: benzene
exposure, radiation exposure, prior
treatment with alkylating agents
Gejala dan Gejala dan tanda sesuai dengan Pucat, mudah lelah, memar, peteki,
tanda infiltrasi sumsum tulang dan/atau epistaksis, demam, hiperplasia gingiva,
gejala ekstrameduler: konjungtiva chloroma, hepatosplenomegali
pucat, petekie dan memar akibat
trombositopenia; limfadenopati,
hepatosplenomegali.Terkadang ada
keterlibatan SSP (papil edem, canial
nerve palsy); unilateral painless
testicular enlargement.
Lab Anemia, Trombositopenia, Trombositopenia,
Leukopeni/Hiperleukositosis/normal, leukopenia/leukositosis, primitif
Dominasi Limfosit, Sel Blas (+) granulocyte/monocyte, auer rods (hin,
needle-shaped, eosinophilic cytoplasmic
inclusions)
Terapi kemoterapi kemoterapi
113. Varicella
Infeksi akut oleh virus varicella-zoster yang menyerang kulit dan
mukosa
Transmisi secara aerogen
Gejala
Masa inkubasi 14-21 hari
Gejala prodromal: demam subfebris, malaise, nyeri kepala
Disusul erupsi berupa papul eritematosa yang kemudian berubah
menjadi vesikel berupa tetesan air (tear drops) mejadi pustula
menjadi krusta. Bisa menimbulkan gejala polimorfik karena
timbul vesikel baru. Predileksi: daerah badan kemudian menyebar
secara sentrifugal
Pemeriksaan: percobaan Tzanck
Pengobatan: simtomatik (antipiretik, analgesik, antipruritus)
acyclovir

Djuanda A. Ilmu penyakit kulit dan kelamin, 5th ed. Balai Penerbit FKUI; 2007.
Penyakit Karakteristik
Variola (small pox) Makula eritematosa papul vesikel pustula
krusta. Sifat lesi monomorfik. Sudah tereradikasi.
Herpes zoster Reaktivasi dari varicella. Gejala prodromal vesikel
jernih vesikel keruh pustula krusta. Predileksi
unilateral dan sesuai dermatom.
Herpes simpleks Vesikel yang berkelompok di atas kulit yang sembab dan
eritematosa pada daerah dekat mukokutan
HSV tipe I: predileksi di daerah pinggang ke atas
terutama daerah mulut dan hidung
HSV tipe II: predileksi di daerah pinggang ke bawah
terutama daerah genital
Impetigo vesikobulosa Disebabkan S. aureus. Predileksi di ketiak, dada,
punggung. Berupa eritema, bula, dan bula hipopion.
114. Patent Ductus Arteriosus
Presentation
The typical child with a patent With large defects, the patient
ductus arteriosus (PDA) is may have failure to thrive
asymptomatic. (FTT).
3-week to 6-week-old infants Frank symptoms of congestive
can present with tachypnea, heart failure (CHF) are rare.
diaphoresis, inability or Adults whose patent ductus
difficulty with feeding, and arteriosus (PDA) has gone
weight loss or no weight gain. undiagnosed may present with
A ductus arteriosus with a signs and symptoms of heart
moderate-to-large left-to-right failure, atrial arrhythmia
shunt may be associated with
a hoarse cry, cough, lower
respiratory tract infections,
atelectasis, or pneumonia.
Natural History & Complications
of PDA
The natural history of PDA depends largely on the
size and magnitude of the shunt and the status of
the pulmonary vasculature.
Small ductus arteriosus never have signs of
significant hemodynamic impairment and have a
normal prognosis.
Those patients with significant left heart volume
overload, however, are at risk of congestive heart
failure or irreversible pulmonary vascular disease.
Congestive Heart Failure in PDA
Children and adults with moderate to large PDA frequently
develop symptoms of congestive heart failure due to
pulmonary overcirculation and left heart volume overload.
If the ductus is large and offers minimal resistance to flow
(nonrestrictive), the degree of shunting depends on the
status of the pulmonary vascular resistance.
Although patients with small to moderate ductus often
remain asymptomatic during infancy and childhood, and
some may never develop symptoms, those with significant
chronic volume overload of the left heart may develop
congestive heart failure in adulthood, starting in the third
decade.
Pulmonary edema is uncommon but may occur in older
patients with advanced congestive heart failure.
Hypertensive Pulmonary Vascular
Disease in PDA
Patients with large nonrestrictive or minimally restrictive
patent ductus are likely to eventually develop irreversible
pulmonary vascular disease.
Some cases appear to be secondary to long-standing
pressure and volume overload in the pulmonary circulation,
although many cases appear to be related to coincident
primary pulmonary vascular disease rather than occurring
as a result of the ductus.
Some infants and children with a large patent ductus do not
experience the normal postnatal fall in pulmonary vascular
resistance, and even after closure of the ductus, pulmonary
vascular disease may progress and eventually prove fatal.
PDA Complications
Symptoms of pulmonary
hypertension Symptoms of heart failure
Breathlessness Exertional dyspnea
Fatigue Orthopnea
Lethargy Paroxysmal nocturnal
Severely reduced exercise dyspnea
tolerance with a prolonged Edema
recovery phase Ascites
Presyncope Anorexia
Syncope Nausea
Gagal Jantung
Sindroma klinis yang ditandai oleh
ketidakmampuan miokardium memompa darah
ke seluruh tubuh untuk memenuhi kebutuhan
metabolisme tubuh termasuk kebutuhan untuk
pertumbuhan
Penyebabnya :
penyakit jantung bawaan, demam rematik akut,
anemia berat, pneumonia sangat berat dan gizi
buruk.
Gagal jantung dapat dipicu dan diperberat oleh
kelebihan cairan.
115. Derajat Serangan Asma
Derajat Penyakit Asma
Parameter klinis,
kebutuhan obat, Asma episodik jarang Asma episodik sering Asma persisten
dan faal paru
Frekuensi serangan < 1x /bulan > 1x /bulan Sering
Hampir sepanjang tahun
Lama serangan < 1 minggu 1 minggu tidak ada remisi

Diantara serangan Tanpa gejala Sering ada gejala Gejala siang dan malam

Tidur dan aktivitas Tidak terganggu Sering terganggu Sangat terganggu


Pemeriksaan fisis
Normal Mungkin terganggu Tidak pernah normal
di luar serangan
Obat pengendali Tidak perlu Perlu, steroid Perlu, steroid
Uji Faal paru PEF/FEV1 <60%
PEF/FEV1 >80% PEF/FEV1 60-80%
(di luar serangan) Variabilitas 20-30%
Variabilitas faal paru
(bila ada serangan)
>15% < 30% < 50%
Alur
Penatalaksanaan
Serangan Asma
116. TRANSFUSI DARAH
The transfusion trigger,
Terdiri dari kapan darah harus diberikan

Darah lengkap (whole Anemia akut


blood) Hb 6 g/dL
Komponen darah (1960) volume darah :
~ Sel darah merah 30% - 40%
~ Leukosit Pra-bedah (Hb<8g/dL)
~ Trombosit Anemia kronik
~ Plasma (beku-segar) Neonatus dengan distres
~ Kriopresipitat pernapasan
JENIS KOMPONEN DARAH
SEL DARAH MERAH (SDM)

Darah lengkap (whole SDM rendah-leukosit


blood) leukosit disaring / filter
Operasi jantung mencegah: reaksi transfusi,
Perdarahan masif penularan penyakit dan GVHD
SDM pekat (packed red cell) SDM cuci (washed RBC)
sumber: donor tunggal
menghilangkan: antibodi, K+,
Ht ~ 55% leukosit
Anemia simptomatik:
untuk: transfusi berulang, ada
thalassemia
antibodi, PNH
JUMLAH DARAH YANG DIPERLUKAN
Darah lengkap:
BB(kg) x 6x (Hbdiinginkan Hbtercatat)

SDM pekat (2/3 dari darah lengkap)


BB(kg) x 4x (Hbdiinginkan Hbtercatat)

Hb penderita Jumlah SDM


(g/dL) (diberikan dalam 3-4 jam)
-------------------------------------------------------------------------------
7-10 10 mL/kg.bb
5-7 5 mL/kb.bb*
<5, payah jantung (-) 3 mL/kg.bb*
<5, payah jantung () 3 mL/kg.bb+furosemid
<5, payah jantung (+) transfusi tukar
-------------------------------------------------------------------------------
*dapat diulang dengan interval 6-12 jam
JENIS KOMPONEN DARAH
Suspensi trombosit Plasma Segar Beku
(platelet concentrate) (Fresh Frozen Plasma)
diperoleh dari : Defisiensi faktor
~ 1 unit darah lengkap, pembekuan
segar, donor tunggal
~ tromboferesis Renjatan hipovolemik
~ diberikan pada : (perdarahan >>)
perdarahan karena Penyakit hati
trombosit
persiapan operasi dg Defisiensi imun
trombosit Protein-losing enteropathy
dosis yang dipergunakan (unit)
BB(kg) x 1/13(lt) x Dosis: 20-40 mL/kgbb
(1000/300)
JENIS KOMPONEN DARAH
Kriopresipitat
(Cryoprecipitate) Konsentrat VIII
1 kantong ( 20 mL) kriopresipitat Tersedia sebagai produk
mengandung:
~ 80-120 unit faktor VIII komersial
~ 150-200 mg fibrinogen Mengandung 250 U dan
~ faktor von Willebrand
1000 U dalam bentuk bubuk
~ faktor XIII
dipergunakan untuk pengobatan: kering dengan 10 mL
~ hemofilia A pelarut
~ penyakit von
Willebrand
Dosis:
~ 40-50 U/kgbb, loading
dose
~ 20-25 U/kgbb, tiap 12 jam
JENIS KOMPONEN DARAH

Kompleks faktor IX
(kompleks protrombin aktif) ALBUMIN
Mengandung protrombin, Hipoproteinemia
faktor VII, IX, dan X serta Luka bakar hebat
protein C Hiperbilirubinemia pada
Untuk mengobati hemofilia neonatus
B, penyakit hati Dosis: 1-3 g/kgbb
Dosis: 80-100 U/kgbb
setiap 24 jam
117. Prinsip Tatalaksana DKA
118-119. Hepatitis Viral Akut
Hepatitis A
Perjalanan klasik hepatitis virus Virus RNA (Picornavirus)
akut
Stadium prodromal: flu like
ukuran 27 nm
syndrome, Kebanyakan kasus pada usia
Stadium ikterik: gejala-gejala pada
stadium prodromal berkurang <5 tahun asimtomatik atau
disertai munculnya ikterus, urin gejala nonspesifik
kuning tua
Anamnesis Hepatitis A : Rute penyebaran: fekal oral;
Manifestasi hepatitis A: Anak transmisi dari orang-orang
dicurigai menderita hepatitis A jika dengan memakan makanan
ada gejala sistemik yang
berhubungan dengan saluran cerna atau minumanterkontaminasi,
(malaise, nausea, emesis, anorexia, kontak langsung.
rasa tidak nyaman pada perut) dan
ditemukan faktor risiko misalnya
pada keadaan adanya outbreak atau
Inkubasi: 2-6 minggu (rata-rata
diketahui sumber penularan. 28 hari)

Pedoman Pelayanan Medis IDAI


Behrman RE. Nelsons textbook of pediatrics, 19th ed. McGraw-Hill; 2011.
Hepatitis A
Self limited disease dan Diagnosis
tidak menjadi infeksi kronis Deteksi antibodi IgM di darah
Gejala: Peningkatan ALT (enzim hati
Fatique Alanine Transferase)
Demam Pencegahan:
Mual Vaksinasi
Nafsu makan hilang Kebersihan yang baik
Jaundice karena Sanitasi yang baik
hiperbilirubin Tatalaksana:
Bile keluar dari peredaran Simptomatik
darah dan dieksresikan ke
urin warna urin gelap Istirahat, hindari makanan
berlemak dan alkohol
Feses warna dempul (clay-
coloured) Hidrasi yang baik
Diet
120-121. Bronkiolitis
Infection (inflammation) at
bronchioli
Bisa disebabkan oleh
beberapa jenis virus, yang
paling sering adalah
respiratory syncytial virus
(RSV)
Virus lainnya: influenza,
parainfluenza, dan
adenoviruses
Predominantly < 2 years of age
(2-6 months)
Difficult to differentiate with
pneumonia and asthma
Bronkhiolitis
Bronchiolitis
Bronchiolitis:
Management

Mild disease
Symptomatic therapy
Moderate to Severe diseases
Life Support Treatment : O2, IVFD
Etiological Treatment
Anti viral therapy (rare)
Antibiotic (if etiology bacteria)
Symptomatic Therapy
Bronchodilator: controversial
Corticosteroid: controversial (not effective)
122. Tatalaksana kejang akut
Apapun jenis dan etiologi kejang harus
melakukan langkah penanganan sebagai
berikut :
Manajemen jalan nafas, pernafasan dan sirkulasi
yang adekuat
Terminasi kejang dan pencegahan kembalinya
kejang
123. Sistem Skoring TB
Sistem Skoring
Diagnosis oleh dokter
Perhitungan BB dinilai saat pasien datang (moment opname)
Demam dan batuk yang tidak respons terhadap terapi baku
Cut-of f point: 6
Anak dgn skor 6 yg diperoleh dari kontak dgn pasien BTA + dan hasil uji
tuberkulin positif, tetapi TANPA gejala klinis, maka dilakukan observasi
atau diberi INH profilaksis tergantung dari umur anak tersebut
Foto toraks bukan merupakan alat diagnostik utama pada TB anak
Adanya skrofuloderma langsung didiagnosis TB
Reaksi cepat BCG harus dievaluasi dengan sistem skoring
Total nilai 4 pada anak balita atau dengan kecurigaan
besar dirujuk ke rumah sakit
Uji Tuberkulin
Menentukan adanya respon imunitas selular terhadap TB.
Reaksi berupa indurasi (vasodilatasi lokal, edema, endapan
fibrin, dan akumulasi sel-sel inflamasi)
Tuberkulin yang tersedia : PPD (purified protein derived) RT-
23 2TU, PPD S 5TU, PPD Biofarma
Cara : Suntikkan 0,1 ml PPD intrakutan di bagian volar
lengan bawah. Pembacaan 48-72 jam setelah penyuntikan
Pengukuran (pembacaan hasil)
Dilakukan terhadap indurasi yang timbul, bukan eritemanya
Indurasi dipalpasi, tandai tepi dengan pulpen. Catat diameter
transversal.
Hasil dinyatakan dalam milimeter. Jika tidak timbul = 0 mm
Uji Tuberkulin
Hasil Positif Pembacaan:
Infeksi TB alamiah Positif jika 10 mm, atau
Imunisasi BCG 5 mm pada kondisi
imunosupresi
Infeksi mikobaterium
atipik

Hasil Negatif
Tidak ada infeksi TB
Dalam masa inkubasi
infeksi TB
Anergi
124. Panduan foto terapi

AAP, 2004
Panduan transfusi tukar

AAP, 2004
125. Difteri
Penyebab : toksin Corynebacterium diphteriae
Organisme:
Basil batang gram positif
Pembesaran ireguler pada salah satu ujung (club shaped)
Setelah pembelahan sel, membentuk formasi seperti huruf cina
atau palisade
Gejala:
Gejala awal nyeri tenggorok
Bull-neck (bengkak pada leher)
Pseudomembran purulen berwarna putih keabuan di faring,
tonsil, uvula, palatum. Pseudomembran sulit dilepaskan. Jaringan
sekitarnya edema.
Edema dapat menyebabkan stridor dan penyumbatan sal.napas

Todar K. Diphtheria. http://textbookofbacteriology.net/diphtheria.html


Demirci CS. Pediatric diphtheria. http://emedicine.medscape.com/article/963334-overview
Pemeriksaan : Gram, Kultur
Obat:
Antitoksin: 40.000 Unit ADS IM/IV, skin test
Anbiotik: Penisillin prokain 50.000 Unit/kgBB IM per
hari selama 7 hari atau eritromisin 25-50 kgBB dibagi
3 dosis selama 14 hari
Hindari oksigen kecuali jika terjadi obstruksi saluran
repirasi (Pemberian oksigen dengan nasal prongs
dapat memebuat anak tidak nyaman dan
mencetuskan obstruksi)
Indikasi trakeostomi/intubasi : Terdapat tanda tarikan
dinding dada bagian bawah ke dalam yang berat
Komplikasi : Miokarditis dan Paralisis otot 2-7
minggu setelah awitan penyakit

Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit. WHO.


Tindakan Kesehatan Masayarakat
Rawat anak di ruangan isolasi
Lakukan imunisasi pada anak serumah sesuai
dengan riwayat imunisasi
Berikan eritromisin pada kontak serumah
sebagai tindakan pencegahan (12.5 mg/kgBB,
4xsehari, selama 3 hari)
Lakukan biakan usap tenggorok pada keluarga
serumah

Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit. WHO.


126. STRIDOR
Abnormal, high-pitched sound produced by turbulent
airflow through a partially obstructed airway at the
level of the supraglottis, glottis, subglottis, and/or
trachea.
It can be:
Inspiratory stridorextrathoracic obstruction
Supraglottic area
Nasopharynx, epiglottis, larynx, aryepiglottic folds, false vocal cords
Glottic and subglottic area
Vocal cords to the extrathoracic segment of the trachea
Expiratory stridor (wheezing) intrathoracic obstruction
bronchial obstruction
Biphasic stridortracheal (subglottic or glottic anomaly)
critical and fixed airwary obstruction at any level

http://medschool.lsuhsc.edu
Causes
neonate

Laryngomalacia 1st Chronic


Vocal cord dysfunction 2nd Chronic
Congenital tumours Chronic
Choanal atresia Chronic
Laryngeal webs Chronic
Chilld
Infection -epiglottitis -Laryngitis acute
Croup : 1-2 days duration less severe Acute
FB Acute
Laryngeal dyskinesia chronic
adult
Infection -epiglottitis -Laryngitis Acute
Trauma acquired stenosis Acute
CA Larynx or Trachea or main bronchus chronic

http://medschool.lsuhsc.edu
Croup
Croup (laringotrakeobronkitis
viral) adalah infeksi virus di
saluran nafas atas yang
menyebabkan penyumbatan
Merupakan penyebab stridor
tersering pada anak
Gejala: batuk menggonggong
(barking cough), stridor,
demam, suara serak, nafas
cepat disertai tarikan dinding
dada bagian bawah ke dalam
Steeple sign
Pemeriksaan
Croup is primarily a clinical diagnosis
Laboratory test results rarely contribute to confirming this
diagnosis. The complete blood cell (CBC) count may suggest a viral
cause with lymphocytosis
Radiography : verify a presumptive diagnosis or exclude other
disorders causing stridor.
The anteroposterior (AP) radiograph of the soft tissues of the neck
classically reveals a steeple sign (also known as a pencil-point sign),
which signifies subglottic narrowing
Lateral neck view may reveal a distended hypopharynx (ballooning)
during inspiration
Laryngoscopy is indicated only in unusual circumstances (eg, the
course of illness is not typical, the child has symptoms that suggest
an underlying anatomic or congenital disorder)
127. Enterokolitis Nekrotikans
sindrom nekrosis intestinal akut Diperkirakan karena iskemia yang
pada neonatus yang ditandai oleh berakibat pada kerusakan
kerusakan intestinal berat akibat integritas usus.
gabungan jejas vaskular, mukosa, Pemberian minum secara enteral
dan metabolik (dan faktor lain akan menjadi substrat untuk
yang belum diketahui) pada usus proliferasi bakteri, diikuti oleh
yang imatur. invasi mukosa usus yang telah
Enterokolitis nekrotikans hampir rusak oleh bakteri yang
selalu terjadi pada bayi prematur. memproduksi gas gas usus
Insidens pada bayi dengan berat intramural yang dikenal sebagai
<1,5 kg sebesar 6-10%. pneumatosis intestinalis
Insidens meningkat dengan mengalami progresivitas menjadi
semakin rendahnya usia gestasi. nekrosis transmural atau gangren
usus perforasi dan peritonitis.
Patogenesis EN masih belum
sepenuhnya dimengerti dan
diduga multifaktorial.
Faktor risiko
Prematuritas.
Pemberian makan enteral. EN jarang ditemukan pada bayi
yang belum pernah diberi minum.
Formula hyperosmolar dapat mengubah permeabilitas mukosa dan
mengakibatkan kerusakan mukosa.
Pemberian ASI terbukti dapat menurunkan kejadian EN.
Mikroorganisme patogen enteral. Patogen bakteri dan virus
yang diduga berperan adalah E. coli, Klebsiella, S. epidermidis,
Clostridium sp. , coronavirus dan rotavirus.
Kejadian hipoksia/iskemia, misalnya asfiksia dan penyakit
jantung bawaan.
Bayi dengan polisitemia, transfusi tukar, dan pertumbuhan
janin terhambat berisiko mengalami iskemia intestinal.
Volume pemberian minum, waktu pemberian minum, dan
peningkatan minum enteral yang cepat.
Manifestasi klinis
Manifestasi sistemik Manifestasi pada abdomen
Distres pernapasan Distensi abdomen
Eritema dinding abdomen atau
Apnu dan atau bradikardia indurasi
Letargi atau iritabilitas Tinja berdarah, baik samar
maupun perdarahan saluran
Instabilitas suhu cerna masif (hematokesia)
Toleransi minum buruk Residu lambung
Hipotensi/syok, hipoperfusi Muntah (bilier, darah, atau
keduanya)
Asidosis Ileus (berkurangnya atau
hilangnya bising usus)
Oliguria
Massa abdominal terlokalisir yang
Manifestasi perdarahan persisten
Asites
Pemeriksaan penunjang
Darah perifer lengkap. Leukosit Foto polos abdomen 2
bisa normal, meningkat (dengan posisi serial:
pergeseran ke kiri), atau menurun
dan dijumpai tombositopenia Foto polos abdomen posisi
supine, dijumpai distribusi
Kultur darah untuk bakteri aerob, usus abnormal, edema
anaerob, dan jamur dinding usus, posisi loop usus
Tes darah samar persisten pada foto serial,
Analisis gas darah, dapat dijumpai massa, pneumatosis
asidosis metabolik atau campuran intestinalis (tanda khas EN),
Elektrolit darah, dapat dijumpai atau gas pada vena porta
ketidakseimbangan elektrolit, Foto polos abdomen posisi
terutama hipo/ lateral dekubitus atau lateral
hipernatremia dan hiperkalemia untuk mencari
pneumoperitoneum.
Kultur tinja
128. PNEUMONIA
Inflammation of the parenchyma of the lungs
Tanda utama menurut WHO: fast breathing & lower chest
indrawing
Signs and symptoms :
Non respiratory: fever, headache, fatigue, anorexia, lethargy,
vomiting and diarrhea, abdominal pain
Respiratory: cough, chest pain, tachypnea , grunting, nasal
flaring, subcostal retraction (chest indrawing), cyanosis, crackles
and rales (ronchi)

http://emedicine.medscape.com/article/967822
Patologi Pneumonia
Basil yang masuk bersama sekret Akan tampak 4 zona pada
bronkus ke dalam alveoli daerah parasitik terset yaitu
menyebabkan reaksi radang :
edema seluruh alveoli disusul Zona luar : alveoli yang tersisi
dengan bakteri dan cairan
dengan infiltrasi sel-sel PMN dan edema.
diapedesis eritrosit terjadi Zona permulaan konsolidasi :
permulaan fagositosis sebelum terdiri dari PMN dan beberapa
eksudasi sel darah merah.
terbentuknya antibodi.
Zona konsolidasi yang luas :
Sel-sel PMN mendesak bakteri ke daerah tempat terjadi fagositosis
permukaan alveoli dan dengan yang aktif dengan jumlah PMN
yang banyak.
bantuan leukosit yang lain Zona resolusi : daerah tempat
melalui psedopodosis sitoplasmik terjadi resolusi dengan banyak
mengelilingi bakteri tersebut bakteri yang mati, leukosit
danalveolar makrofag.
kemudian dimakan.
Gambaran Radiologis
Pneumonia lobaris Characteristically, there is homogenous opacification in a lobar pattern.
The opacification can be sharply defined at the fissures, although more
commonly there is segmental consolidation. The non-opacified bronchus
within a consolidated lobe will result in the appearance of air
bronchograms.
Pneumonia associated with suppurative peribronchiolar inflammation and
lobularis/ subsequent patchy consolidation of one or more secondary lobules of a
bronkopneumonia lung in response to a bacterial pneumoniAssociated a: multiple small
nodular or reticulonodular opacities which tend to be patchy and/or
confluent.
Asthma pulmonary hyperinflation Increased Bronchial wall markings (most
characteristic) Associated with thicker Bronchial wall, inflammation
Flattening of diaphragm (with chronic inflammation or Associated with
accessory muscle use)
Hyperinflation (variably present)
Patchy infiltrates (variably present) from Atelectasis
bronkiolitis Hyperexpansion (showed by diaphragm flattening), hyperluscent,
Peribronchial thickening
Variable infiltrates or Viral Pneumonia
129. Oral Thrush
Etiology: Candida TREATMENT NYSTATIN
Albicans Infants
Clinical Manifestation 200,000 units PO q6hr (100,000
White curdish like lesions units in each side of mouth)
on the buccal mucosa, Children
tongue, palate, and
gingiva. The lesions are Oral suspension: 400,000-
difficult to scrape off and 600,000 units PO q6hr
this differentiates it from Intestinal Candidiasis
milk. After scraping, there Oral Tablets: 500,000 units - 1
is an erythematous base
and some bleeding. million units q8hr
Oral candidiasis may be
associated with diaper
candidiasis (diaper rash)
Fase Dini/ Initial Response
TERJADI BEBERAPA MENIT SETELAH TERPAPAR ALERGEN YANG
SAMA UNTUK KEDUA KALINYA
PUNCAKNYA 15-20 MENIT PASCA PAPARAN
BERAKHIR 60 MENIT KEMUDIAN

130. REAKSI HIPERSENSITIFITAS TIPE I

Fase Lanjut/ Late Phase Reaction


DISEBABKAN AKUMULASI DAN INFILTRASI EOSINOFIL,
NEUTROFIL, BASOFIL, LIMFOSIT DAN MAKROFAG SEHINGGA
TERJADI INFLAMASI
BERLANGSUNG 4-8 JAM, DAPAT MENETAP BEBERAPA HARI
Tipe I (IgE-Mediated type)
Table 6-3. Summary of the Action of Mast Cell Mediators in
Immediate (Type I) Hypersensitivity
Action Mediator
Vasodilation, increased Histamine
vascular permeability PAF
Leukotrienes C4, D4, E4
Neutral proteases that activate complement
and kinins
Prostaglandin D2
Smooth muscle spasm Leukotrienes C4, D4, E4
Histamine
Prostaglandins
PAF
Cellular infiltration Cytokines, e.g., TNF
Leukotriene B4
Eosinophil and neutrophil chemotactic
factors (not defined biochemically)
PAF
131. ITP: Cardinal Features
Trombositopenia <100,000/mm3 Immune thrombocytopenic purpura
Purpura dan perdarahan membran (ITP, yang disebut juga autoimmune
mukosa thrombocytopenic purpura, morbus
Diagnosis of exclusion Wirlhof, atau purpura hemorrhagica
2 jenis gambaran klinis
ITP akut Patofisiologi: Peningkatan destruksi
Biasanya didahului oleh infeksi virus dan platelet di perifer, biasanya pasien
menghilang dalam 3 bulan.
ITP kronik
memiliki antibodi yang spesifik
Gejala biasanya mudah memar atau terhadap glikoprotein membran
perdarahan ringan yang berlangsung platelet (IgG autoantibodi pada
selama 6 bulan
>90% kasus anak merupakan bentuk permukaanplatelet)
akut
Komplikasi yang paling serius:
perdarahan. Perdarahan intrakranial
penyebab kematian akibat ITP yg
paling sering (1-2% dr kasus ITP)
Pemeriksaan fisis
Pada umumnya bentuk perdarahannya ialah purpura pada kulit
dan mukosa (hidung, gusi, saluran cerna dan traktus urogenital).
Pembesaran limpa terjadi pada 10-20 % kasus.
Pemeriksaan penunjang
Darah tepi :
Morfologi eritrosit, leukosit, dan retikulosit biasanya normal.
Hemoglobin, indeks eritrosit dan jumlah leukosit normal.
Anemia bisa terjadi bila ada perdarahan spontan yang banyak
Trombositopenia. Besar trombosit umumnya normal, hanya
kadang ditemui bentuk trombosit yang lebih besar (giant
plalets),
Masa perdarahan memanjang (Bleeding Time)
Pemeriksaan aspirasi sumsum tulang:
Tidak perlu bila gambaran klinis dan laboratoris klasik.
Dilakukan pemeriksaan aspirasi sumsum tulang bila gagal terapi
selama 3-6 bulan, atau pada pemeriksaan fisik ditemukan
adanya pembesaran hepar/ lien/kelenjar getah bening dan pada
laboratorium ditemukan bisitopenia.
Kelainan Pembekuan Darah

http://periobasics.com/wp-content/uploads/2013/01/Evaluation-of-bleeding-disorders.jpg
Bleeding Disorder
132. DBD

WHO. SEARO. Guidelines for treatment of dengue fever/dengue hemorrhagic fever in


small hospitals. 1999.
Pemeriksaan Penunjang DD dan DBD
Pemantauan Rawat DD dan DBD
133. Resusitasi Neonatus
Kattwinkel J, Perlman JM. Part 15: neonatal resuscitation: 2010 American Heart Association Guidelines for
Cardiopulmonary Resuscitation and Emergency Cardiovascular Care. Circulation. 2010;122(suppl 3):S909 S919
Rekomendasi utama untuk resusitasi
neonatus:
Penilaian setelah langkah awal ditentukan oleh penilaian simultan dua tanda
vital yaitu frekuensi denyut jantung dan pernapasan.
Oksimeter digunakan untuk menilai oksigenasi karena penilaian warna kulit
tidak dapat diandalkan.
Untuk bayi yang lahir cukup bulan sebaiknya resusitasi dilakukan dengan udara
dibanding dengan oksigen 100%.
Oksigen tambahan diberikan dengan mencampur oksigen dan udara (blended
oxygen , dan pangaturan konsentrasi dipandu berdasarkan oksimetri.
Bukti yang ada tidak cukup mendukung atau menolak dilakukannya pengisapan
trakea secara rutin pada bayi dengan air ketuban bercampur mekonium, bahkan
pada bayi dalam keadaan depresi.
Penjepitan talipusat harus ditunda sedikitnya sampai satu menit untuk bayi
yang tidak membutuhkan resusitasi. Bukti tidak cukup untuk
merekomendasikan lama waktu untuk penjepitan talipusat pada bayi yang
memerlukan resusitasi.
Pemberian Oksigen
Target saturasi oksigen dapat dicapai dengan memulai
resusitasi dengan udara atau oksigen campuran
(blended oxygen) dan dilakukan titrasi konsentrasi
oksigen untuk mencapai SpO2 sesuai target.
Jika oksigen campuran tidak tersedia, resusitasi
dimulai dengan udara kamar.
Jika bayi bradikardia (kurang dari 60 per menit) setelah
90 detik resusitasi dengan oksigen konsentrasi rendah,
konsentrasi oksigen ditingkatkan sampai 100% hingga
didapatkan frekuensi denyut jantung normal.
Teknik Ventilasi dan Kompresi
Ventilasi Tekanan Positif (VTP)
Jika bayi tetap apnu atau megap-megap, atau jika
frekuensi denyut jantung kurang dari 100 per menit
setelah langkah awal resusitasi, VTP dimulai.
Pernapasan awal dan bantuan ventilasi
Bantuan ventilasi harus diberikan dengan frekuensi
napas 40 60 kali per menit untuk mencapai dan
mempertahankan frekuensi denyut jantung lebih dari
100 per menit. Penilaian ventilasi awal yang adekuat
ialah perbaikan cepat dari frekuensi denyut jantung.
Kattwinkel, John et al. Part 15: Neonatal Resuscitation: 2010 American Heart Association Guidelines for Cardiopulmonary Resuscitation a nd
Emergency Cardiovascular Care. Circulation. 2010;122(suppl 3):S909S919.
Teknik Ventilasi dan Kompresi
Indikasi kompresi dada ialah jika frekuensi denyut jantung kurang dari 60 per
menit setelah ventilasi adekuat dengan oksigen selama 30 detik. Untuk
neonatus, rasio kompresi: ventilasi = 3:1 (1/2 detik untuk masing-masing).
Pernapasan, frekuensi denyut jantung, dan oksigenasi harus dinilai secara
periodik dan kompresi ventilasi tetap dilakukan sampai frekuensi denyut
jantung sama atau lebih dari 60 per menit.
Kompresi dada dilakukan pada 1/3 bawah sternum dengan kedalaman 1/3 dari
diameter antero-posterior dada.
Teknik kompresi: (1) teknik kompresi dua ibu jari dengan jari-jari melingkari
dada dan menyokong bagian punggung, (2) teknik kompresi dengan dua jari
dimana tangan lain menahan bagian punggung
Pada kompresi, dada harus dapat berekspansi penuh sebelum kompresi
berikutnya, namun jari yang melakukan kompresi tidak boleh meninggalkan
posisi di dada.

Kattwinkel, John et al. Part 15: Neonatal Resuscitation: 2010 American Heart Association Guidelines for Cardiopulmonary Resuscitation a nd
Emergency Cardiovascular Care. Circulation. 2010;122(suppl 3):S909S919.
Indicator of Successful Resuscitation
A prompt increase in heart rate remains the most sensitive indicator of
resuscitation efficacy (LOE 55).
Of the clinical assessments, auscultation of the heart is the most accurate, with
palpation of the umbilical cord less so.
There is clear evidence that an increase in oxygenation and improvement in
color may take many minutes to achieve, even in uncompromised babies.
Furthermore, there is increasing evidence that exposure of the newly born to
hyperoxia is detrimental to many organs at a cellular and functional level.
For this reason color has been removed as an indicator of oxygenation or
resuscitation efficacy.
Respirations, heart rate, and oxygenation should be reassessed periodically, and
coordinated chest compressions and ventilations should continue until the
spontaneous heart rate is 60 per minute

Kattwinkel, John et al. Part 15: Neonatal Resuscitation: 2010 American Heart Association Guidelines for Cardiopulmonary Resuscitation a nd
Emergency Cardiovascular Care. Circulation. 2010;122(suppl 3):S909S919.
Kapan menghentikan resusitasi?
Pada bayi baru lahir tanpa adanya denyut jantung,
dianggap layak untuk menghentikan resusitasi jika
detak jantung tetap tidak terdeteksi setelah dilakukan
resusitasi selama 10 menit (kelas IIb, LOE C).
Keputusan untuk tetap meneruskan usaha resusitasi
bisa dipertimbangkan setelah memperhatikan
beberapa faktor seperti etiologi dari henti hantung
pasien, usia gestasi, adanya komplikasi, dan
pertimbangan dari orangtua mengenai risiko
morbiditas.
Kattwinkel, John et al. Part 15: Neonatal Resuscitation: 2010 American Heart Association Guidelines for Cardiopulmonary Resuscitation a nd
Emergency Cardiovascular Care. Circulation. 2010;122(suppl 3):S909S919.
134. Sindrom Nefrotik
Spektrum gejala yang ditandai Di bawah mikroskop: Minimal change
dengan protein loss yang masif dari nephrotic syndrome (MCNS)/Nil
ginjal Lesions/Nil Disease (lipoid nephrosis)
Pada anak sindrom nefrotik mayoritas merupakan penyebab tersering dari
bersifat idiopatik, yang belum sindrom nefrotik pada anak,
diketahui patofisiologinya secara mencakup 90% kasus di bawah 10
jelas, namun diperkirakan terdapat tahun dan >50% pd anak yg lbh tua.
keterlibatan sistem imunitas tubuh, Faktor risiko kekambuhan: riwayat
terutama sel limfosit-T atopi, usia saat serangan pertama,
Gejala klasik: proteinuria, edema, jenis kelamin dan infeksi saluran
hiperlipidemia, hipoalbuminemia pernapasan akut akut (ISPA) bagian
Gejala lain : hipertensi, hematuria, atas yang menyertai atau mendahului
dan penurunan fungsi ginjal terjadinya kekambuhan, ISK

Lane JC. Pediatric nephrotic syndrome. http://emedicine.medscape.com/article/982920-overview


Sindrom Nefrotik
Sindrom nefrotik (SN) adalah suatu sindrom klinik
dengan gejala:
Proteinuria massif ( 40 mg/m2 LPB/jam atau rasio
protein/kreatinin pada urin sewaktu > 2 mg/mg atau
dipstik 2+)
Hipoalbuminemia 2,5 g/dL
Edema
Dapat disertai hiperkolesterolemia
Etiologi SN dibagi 3 yaitu kongenital, primer/idiopatik,
dan sekunder (mengikuti penyakit sistemik antara lain
lupus eritematosus sistemik (LES), purpura Henoch
Schonlein)

KONSENSUS TATA LAKSANA SINDROM NEFROTIK IDIOPATIK PADA ANAK.


Unit Kerja Koordinasi Nefrologi Ikatan Dokter Anak Indonesia
Starlings Law of the Capillary

Pc = hydrostatic pressure of capillary


c = protein (oncotic) pressure of capillary
Pi = hydrostatic pressure of interstitial fluid
i = protein osmotic (oncotic) pressure of the interstitial fluid

Net movement out of capillary into interstitium (ml/min)

FLOWnet = (Pc Pi) (c i)

Basically, movement is governed by (hydrostatic pressure protein (oncotic) pressure)


Capillary endothelium is permeable to
water
Water, ions, small molecules diffuse across A Pc c V
Capillaries are relatively impermeable to
proteins
Plasma protein remains in vascular system
to exert oncotic pressure
The oncotic pressure tends to cause fluid
to move from interstitial fluid to plasma Pi i
Capillary pressure tends to cause fluid to Filtration Absorption
move from plasma to interstitial fluid
Edema : Accumulation of fluid in interstitial space (due to filtration out of the capillaries)
Usually caused by a disruption in Starling forces, that exceeds the ability of lymphatic
system to return it to the circulation
Decreased plasma protein Increased capillary protein
osmotic pressure (severe permeability (due to release of
liver failure, nephrotic vasoactive substances) (e.g.
syndrome) burns, trauma, infection)

Increased capillary
parasitic infection of
pressure (failure of
lymph nodes
venous pumps, (filariasis)
heart failure)
EDEMA
Nefrotik vs Nefritik
Diagnosis
Anamnesis : Bengkak di kedua kelopak mata, perut,
tungkai atau seluruh tubuh. Penurunan jumlah urin.
Urin dapat keruh/kemerahan
Pemeriksaan Fisik : Edema palpebra, tungkai, ascites,
edema skrotum/labia. Terkadang ditemukan hipertensi
Pemeriksaan Penunjang : Proteinuria masif 2+, rasio
albumin kreatinin urin > 2, dapat disertai hematuria.
Hipoalbumin (<2.5g/dl), hiperkolesterolemia (>200
mg/dl). Penurunan fungsi ginjal dapat ditemukan.
Definisi pada Sindrom Nefrotik
Remisi : proteinuria negatif atau trace (proteinuria < 4
mg/m2 LPB/jam) 3 hari berturut-turut dalam 1 minggu
Relaps : proteinuria 2+ (proteinuria 40 mg/m2
LPB/jam) 3 hari berturut-turut dalam 1 minggu
Relaps jarang : relaps terjadi kurang dari 2 kali dalam 6
bulan pertama setelah respons awal atau kurang dari 4
kali per tahun pengamatan
Relaps sering (frequent relaps) : relaps terjadi 2 kali
dalam 6 bulan pertama setelah respons awal atau 4
kali dalam periode 1 tahun
Definisi pada Sindrom Nefrotik
Dependen steroid : relaps terjadi pada saat
dosis steroid diturunkan atau dalam 14 hari
setelah pengobatan dihentikan, dan hal ini
terjadi 2 kali berturut-turut
Resisten steroid : tidak terjadi remisi pada
pengobatan prednison dosis penuh (full dose)
2 mg/kgBB/hari selama 4 minggu.

KONSENSUS TATA LAKSANA SINDROM NEFROTIK IDIOPATIK PADA ANAK.


Unit Kerja Koordinasi Nefrologi Ikatan Dokter Anak Indonesia
Tatalaksana

KONSENSUS TATA LAKSANA SINDROM NEFROTIK IDIOPATIK PADA ANAK.


Unit Kerja Koordinasi Nefrologi Ikatan Dokter Anak Indonesia
135. Malaria dalam Kehamilan
Ditemukan parasit pada darah maternal dan darah plasenta

Pengaruh pada Janin


IUFD, abortus, prematur, BBLR, malaria placenta/ malaria
kongenital

Gambaran klinis pada wanita hamil


Non imun: ringan sampai berat
Imun : tidak timbul gejala tidak dapat didiagnosa klinis
Penatalaksanaan Umum
1. Perbaiki keadaan umum penderita (pemberian cairan dan
perawatan umum)
2. Monitoring vital sign setiap 30 menit (selalu dicatat untuk
mengetahui perkembangannya), kontraksi uterus dan DJJ juga
harus dipantau
3. Jaga jalan nafas untuk menghindari terjadinya asfiksia, bila perlu
beri oksigen

Pemberian antipiretik untuk mencegah hipertermia


Parasetamol 10 mg/kgBB/kali, dan dapat dilakukan kompres
Jika kejang, beri antikonvulsan: diazepam 5-10 mg iv (secara
perlahan selama 2 menit) ulang 15 menit kemudian jika masih
kejang; maksimum 100 mg/24 jam. Bila tidak tersedia diazepam,
dapat dipakai fenobarbital 100 mg im/kali (dewasa) diberikan 2 kali
sehari
Farmakologi Terapi Malaria dan Kehamilan
Malaria Falciparum
Trimester pertama: kina 3x2 tablet selama 7 hari atau 3x10mg/kgBB selama 7 hari
ditambah dengan Klindamisin 2x300mg atau 2x10mg/kgBB selama 7 hari
Trimester II-III: artemisin based combination (ACT): DHP (dihidroartemisinin-
piperakuin) 1 x 3 tablet (BB 41-59 kg) / 1x4 tablet (BB 60 kg) selama 3 hari ATAU
artesunat 1 x 4 tablet dan amodiakuin 1 x 4 tablet selama 3 hari.
Malaria non Falciparum
Trimester I: kina3x2tabletselama7hari atau 3 x 10mg/kgBB selama 7 hari.
Trimester II & III: artemisin based combination (ACT): DHP (dihidroartemisinin-
piperakuin) 1 x 3 tablet (BB 41-59 kg) / 1x4 tablet (BB 60 kg) selama 3 hari ATAU
artesunat 1 x 4 tablet dan amodiakuin 1 x 4 tablet selama 3 hari.
Kontraindikasi: primakuin hemolisis sel darah merah, doksisiklin, tetrasiklin
Profilaksis
Klorokuin (sudah banyak resistensi), meflokuin (rekomendasi untuk semua
trimester)
Kontraindikasi: doksisiklin dan primakuin
Tatalaksana Malaria Berat pada Kehamilan

Untuk kehamilan trimester pertama, berikan:


Loading dose kina: 20 mg garam/kgBB dilarutkan dalam 500 ml
dextrose 5% atau NaCl 0,9% diberikan selama 4 jam pertama.
Selanjutnya selama 4 jam kedua hanya diberikan cairan dextrose 5%
atau NaCl 0,9%. Setelah itu, diberikan kina dengan dosis rumatan 10
mg/kgBB dalam larutan 500 ml dekstrose 5 % atau NaCl selama 4
jam. Empat jam selanjutnya, hanya diberikan cairan dextrose 5%
atau NaCl 0,9%. Dst sampai penderita dapat minum kina per oral.
Bila sudah dapat minum obat pemberian kina IV diganti dengan
kina tablet dengan dosis 10 mg/kgBB/kali diberikan tiap 8 jam.
Kina oral diberikan bersama klindamisin pada ibu hamil.
Dosis total kina selama 7 hari dihitung sejak pemberian kina per
infus yang pertama
Tatalaksana Malaria Berat pada Kehamilan

Untuk kehamilan trimester kedua dan ketiga, berikan:


Artesunat (AS) diberikan dengan dosis 2,4 mg/kgbb I
sebanyak 3 kali jam ke 0, 12, 24. Selanjutnya diberikan 2,4
mg/kgBB IV setiap 24 jam sampai penderita mampu
minum obat. Pengobatan dilanjutkan dengan regimen
dihydroartemisinin-piperakuin (ACT lainnya) + primakuin,
ATAU
Artemeter diberikan dengan dosis 3,2 mg/kgBB IM,
dilanjutkan pada hari berikutnya 1,6 mg/kgBB IM satu kali
sehari sampai penderita mampu minum obat. Bila
penderita sudah dapat minum
Kemoprofilaksis Malaria
dalam Kehamilan
WHO: Dosis terapeutik anti malaria untuk semua wanita hamil di
daerah endemik malaria pada kunjungan ANC pertama, kemudian
diikuti kemoprofilaksis teratur.
Pengobatan malaria di Indonesia hanya memakai klorokuin untuk
kemoprofilaksis pada kehamilan (untuk daerah yang sensitif
klorokuin).
Perlindungan dari gigitan nyamuk, kontak antara ibu dengan vektor
dapat dicegah dengan:
Memakai kelambu yang telah dicelup insektisida (misal: permethrin)
Pemakaian celana panjang dan kemeja lengan panjang
Pemakaian penolak nyamuk (repellent)
Pemakaian obat nyamuk (baik semprot, bakar dan obat nyamuk listrik)
Pemakaian kawat nyamuk pada pintu-pintu dan jendela-jendela
136. Hipertensi pada Kehamilan:
Patofisiologi
Faktor Risiko
Kehamilan pertama
Kehamilan dengan vili
korionik tinggi (kembar
atau mola)
Memiliki penyakit KV
sebelumnya
Terdapat riwayat
genetik hipertensi
dalam kehamilan

Cunningham FG, et al. Williams obstetrics. 22nd ed. McGraw-Hill.


Hipertensi pada Kehamilan: Jenis

Hipertensi Kronik
Hipertensi Gestasional
Pre Eklampsia Ringan
Pre Eklampsia Berat
Superimposed Pre Eklampsia
HELLP Syndrome
Eklampsia

Depkes RI. Buku Saku Pelayanan Kesehatan Ibu di Fasilitas Kesehatan Dasar dan Rujukan. Bakti Husada
Hipertensi Kronik

Definisi
Hipertensi tanpa proteinuria yang timbul dari sebelum
kehamilan dan menetap setelah persalinan

Diagnosis
Tekanan darah 140/90 mmHg
Sudah ada riwayat hipertensi sebelum hamil, atau
diketahui adanya hipertensi pada usia kehamilan <20
minggu
Tidak ada proteinuria (diperiksa dengan tes celup urin)
Dapat disertai keterlibatan organ lain, seperti mata,
jantung, dan ginjal

Depkes RI. Buku Saku Pelayanan Kesehatan Ibu di Fasilitas Kesehatan Dasar dan Rujukan. Bakti Husada
Hipertensi Kronik: Tatalaksana
Sebelum hamil sudah diterapi & terkontrol baik, lanjutkan pengobatan

Sistolik >160 mmHg/diastolik > 110 mmHg antihipertensi

Proteinuria/ tanda-tanda dan gejala lain, pikirkan superimposed


preeklampsia dan tangani seperti preeklampsia

Suplementasi kalsium 1,5-2 g/hari dan aspirin 75 mg/hari mulai dari usia
kehamilan 20 minggu

Pantau pertumbuhan dan kondisi janin


Jika tidak ada komplikasi, tunggu sampai aterm
Jika DJJ <100 kali/menit atau >180 kali/menit, tangani seperti gawat janin
Jika terdapat pertumbuhan janin terhambat, pertimbangkan terminasi
kehamilan

Depkes RI. Buku Saku Pelayanan Kesehatan Ibu di Fasilitas Kesehatan Dasar dan Rujukan. Bakti Husada
Hipertensi Gestasional
Definisi
Hipertensi tanpa proteinuria yang timbul setelah kehamilan 20 minggu dan
menghilang setelah persalinan
Diagnosis
TD 140/90 mmHg
Tidak ada riwayat hipertensi sebelum hamil, tekanan darah normal di
usia kehamilan <12 minggu
Tidak ada proteinuria (diperiksa dengan tes celup urin)
Dapat disertai tanda dan gejala preeklampsia, seperti nyeri ulu hati dan
trombositopenia
Tatalaksana Umum
Pantau TD, urin (untuk proteinuria), dan kondisi janin setiap minggu.
Jika tekanan darah meningkat, tangani sebagai preeklampsia ringan
Jika kondisi janin memburuk atau terjadi pertumbuhan janin terhambat,
rawat untuk penilaian kesehatan janin.
Beri tahu pasien dan keluarga tanda bahaya dan gejala preeklampsia dan
eklampsia.
Jika tekanan darah stabil, janin dapat dilahirkan secara normal.

Depkes RI. Buku Saku Pelayanan Kesehatan Ibu di Fasilitas Kesehatan Dasar dan Rujukan. Bakti Husada
Pre Eklampsia & Eklampsia
Preeklampsia Ringan
Tekanan darah 140/90 mmHg pada usia kehamilan > 20 minggu
Tes celup urin menunjukkan proteinuria 1+ atau pemeriksaan
protein kuantitatif menunjukkan hasil >300 mg/24 jam

Preeklampsia Berat
Tekanan darah >160/110 mmHg pada usia kehamilan >20 minggu
Tes celup urin menunjukkan proteinuria 2+ atau pemeriksaan
protein kuantitatif menunjukkan hasil >5 g/24 jam; atau disertai
keterlibatan organ lain:
Trombositopenia (<100.000 sel/uL), hemolisis mikroangiopati
Peningkatan SGOT/SGPT, nyeri abdomen kuadran kanan atas
Sakit kepala , skotoma penglihatan
Pertumbuhan janin terhambat, oligohidramnion
Edema paru dan/atau gagal jantung kongestif
Oliguria (< 500ml/24jam), kreatinin > 1,2 mg/dl

Depkes RI. Buku Saku Pelayanan Kesehatan Ibu di Fasilitas Kesehatan Dasar dan Rujukan. Bakti Husada
Pre Eklampsia & Eklampsia
Superimposed preeklampsia pada hipertensi kronik
Ibu dengan riwayat hipertensi kronik (sudah ada sebelum
usia kehamilan 20 minggu)
Tes celup urin menunjukkan proteinuria >+1 atau
trombosit <100.000 sel/uL pada usia kehamilan > 20
minggu

Eklampsia
Kejang umum dan/atau koma
Ada tanda dan gejala preeklampsia
Tidak ada kemungkinan penyebab lain (misalnya epilepsi,
perdarahan subarakhnoid, dan meningitis)

Depkes RI. Buku Saku Pelayanan Kesehatan Ibu di Fasilitas Kesehatan Dasar dan Rujukan. Bakti Husada
Pre Eklampsia & Eklampsia: Tatalaksana
Tatalaksana umum
Semua ibu dengan preeklampsia maupun eklampsia harus dirawat masuk
rumah sakit

Pertimbangkan persalinan atau terminasi kehamilan


PEB + janin belum viable/ tidak akan viable dalam 1-2 minggu induksi
PEB + janin sudah viable namun usia kehamilan < 34 minggu manajemen
ekspektan dianjurkan bila tidak ada KI
PEB 34 - 37 minggu manajemen ekspektan boleh dianjurkan, asal tidak
terdapat HT yang tidak terkontrol, disfungsi organ ibu, dan gawat janin +
pengawasan ketat
PEB dengan kehamilan aterm persalinan dini dianjurkan
PER atau HT gestasional ringan dengan kehamilan aterm induksi

Depkes RI. Buku Saku Pelayanan Kesehatan Ibu di Fasilitas Kesehatan Dasar dan Rujukan. Bakti Husada
Pre Eklampsia & Eklampsia: Tatalaksana
Antihipertensi
Ibu dengan HT berat perlu mendapat terapi anti HT
Ibu dengan terapi anti HT saat antenatal lanjutkan hingga
persalinan
Anti HT dianjurkan untuk HT berat pasca persalinan
DOC: nifedipin, nikardipin, dan metildopa
Kontra Indikasi: ARB inhibitor, ACE inhibitor dan klortiazid

Pemeriksaan penunjang tambahan


Hitung darah perifer lengkap
Golongan darah ABO, Rh, dan uji pencocokan silang
Fungsi hati (LDH, SGOT, SGPT)
Fungsi ginjal (ureum, kreatinin serum)
Fungsi koagulasi (PT, APTT, fibrinogen)
USG (terutama jika ada indikasi gawat janin atau pertumbuhan
janin terhambat)

Depkes RI. Buku Saku Pelayanan Kesehatan Ibu di Fasilitas Kesehatan Dasar dan Rujukan. Bakti Husada
Anti Hipertensi pada Kehamilan
Metildopa: faktor risiko B
Captopril: kategori C (trimester I), kategori D
(trimester II)
Valsartan: faktor risiko C (trimester 2), D
(trimester III)
Thiazid: Golongan C
Furosemid: Loop diuretik, Golongan C
Pre Eklampsia & Eklampsia: Tatalaksana Khusus

Edema paru
Edema paru: sesak napas, hipertensi, batuk berbusa, ronki basah
halus pada basal paru pada ibu dengan PEB
Tatalaksana
Posisikan ibu dalam posisi tegak
Oksigen
Furosemide 40 mg IV
Bila produksi urin masih rendah (<30 ml/jam dalam 4 jam) pemberian
furosemid dapat diulang.
Ukur Keseimbangan cairan. Batasi cairan yang masuk

Sindrom HELLP (hemolysis, elevated liver enzymes,


low platelets) terminasi kehamilan

Depkes RI. Buku Saku Pelayanan Kesehatan Ibu di Fasilitas Kesehatan Dasar dan Rujukan. Bakti Husada
Pre Eklampsia & Eklampsia: Kejang
Pencegahan dan Tatalaksana Kejang
Bila terjadi kejang perhatikan prinsip ABCD
MgSO4
Eklampsia untuk tatalaksana kejang
PEB pencegahan kejang

Depkes RI. Buku Saku Pelayanan Kesehatan Ibu di Fasilitas Kesehatan Dasar dan Rujukan. Bakti Husada
Syarat pemberian MgSO4: Terdapat refleks patella, tersedia
kalsium glukonas, napas> 16x/menit, dan jumlah urin
minimal 0,5 ml/kgBB/jam
137. Infeksi Puerpurium
Merujuk kepada infeksi traktus genitalis setelah
melahirkan
Puerperalis = periode 42 minggu setelah kelahiran janin &
ekspulsi plasenta
Mencakup:
Endometritis, parametritis, salpingo-ooforitis, tromboflebitis
pelvis, peritonitis, selulitis perineum/vagina, hematoma
terinfeksi, dan abses luka
Morbiditas nifas (demam saat nifas) peningkatan suhu
oral hingga 38 C/lebih selama 2 hari dari 10 hari pertama
postpartum, terpisah dari 24 jam pertama
Kapita Selekta Kedaruratan Obstetri dan Ginekologi, EGC hal 364
Infeksi Puerperalis
Faktor Predisposisi
Perdarahan, trauma persalinan, partus lama, retensio
plasenta, anemia, malnutrisi

Patologi
Bekas tempat perlekatan plasenta merupakan luka yang
cukup besar untuk masuknya mikroorganisme penyebab
infeksi
Infeksi dapat terbatas pada luka (infeksi luka perineum,
vagina, serviks, atau endometrium) atau menjalar ke
jaringan sekitar (tromboflebitis, parametritis, sapingitis,
dan peritonitis)
Obstetri Patologi Edisi 2. Fakultas Kedokteran Univ Padjadjaran hal 188
Infeksi Puerpuralis: Perbandingan Klinis
TIPE C A K U PA N PEMERIKSAAN
Endometritis Infeksi pada endometrium dan kelenjar glandular Demam, lokia berbau, nyeri
perut bawah & pinggang

Metritis Infeksi pada endometrium + kelenjar glandular + Akut: serupa endometritis


Kronik: >> jaringan ikat
lapisan otot uterus membesar
Parametritis Inflamasi pada parametrium (selulitis Nyeri unilateral, defans
muskular, infiltrat keras di
pelvika/ligamentum latum) dinding panggul, uterus
terdorong ke bagian sehat
Perimetritis Inflamasi pada lapisan serosa uterus (perimetrial) Pelveoperitonitis gejala
salpingitis dll
Metritis: Gejala dan Tanda
Tanda dan Gejala
Demam >380C dapat disertai menggigil
Nyeri perut bawah
Lokia berbau dan purulen
Nyeri tekan uterus
Subinvolusi uterus
Dapat disertai perdarahan pervaginam dan
syok

http://emedicine.medscape.com/article/254169-overview
Endometritis: Faktor Risiko
Faktor risiko umum
AKDR, darah menstruasi, servisitis GO atau non
GO, BV, bilas vagina, aktivitas seksual tidak aman

Endometritis obstetrik
Mayor: SC, KPD lama, persalinan lama dengan VT
sering, bimanual plasenta
Minor: pemberian kortikosteroid pada persalinan
preterm, operasi lama, anestesi umum, anemia
postpartum

http://emedicine.medscape.com/article/254169-overview
Endometritis: Laboratorium

Leukositosis dengan left-shift (sulit dilihat


pada postpartum karena leukositosis
fisiologis)

Endometritis kronik
> 5 neutrofil pada pembesaran 400x di
endometrium superfisial
> 1 plasma cells pada pembesaran (120x) pada
stroma endometrium

http://emedicine.medscape.com/article/254169-workup
Endometritis: Terapi

Kombinasi klindamisin 900 mg dan gentamisin


2mg/kgBB IV/ 8 jam

Monoterapi: sefalosporin, penisilin spektrum


luas, fluorokuinolon

Profilaksis: Sefalosporin generasi II (cefazolin)

http://emedicine.medscape.com/article/254169-treatment#d10
Metritis: Gejala dan Tanda
Tanda dan Gejala
Demam >380C dapat disertai menggigil
Nyeri perut bawah
Lokia berbau dan purulen
Nyeri tekan uterus
Subinvolusi uterus
Dapat disertai perdarahan pervaginam dan
syok

http://emedicine.medscape.com/article/254169-overview
Metritis: Terapi
Berikan antibiotika sampai dengan 48 jam bebas demam:
Ampisilin 2 g I setiap 6 jam
Ditambah gentamisin 5 mg/kgBB I tiap 24 jam
Ditambah metronidazol 500 mg I tiap 8 jam
Jika masih demam 72 jam setelah terapi, kaji ulang diagnosis dan tatalaksana
Cegah dehidrasi. Berikan minum atau infus cairan kristaloid.
Pertimbangkan pemberian vaksin tetanus toksoid(TT) bila ibu dicurigai
terpapar tetanus (misalnya ibu memasukkan jamu-jamuan ke dalam
vaginanya).
Jika diduga ada sisa plasenta, lakukan eksplorasi digital dan keluarkan
bekuan serta sisa kotiledon. Gunakan forsep ovum atau kuret tumpul
besar bila perlu
Jika tidak ada kemajuan dan ada peritonitis (demam, nyeri lepas dan nyeri
abdomen), lakukan laparotomi dan drainase abdomen bila terdapat pus.
Jika uterus terinfeksi dan nekrotik, lakukan histerektomi subtotal.

http://emedicine.medscape.com/article/254169-treatment#d10
138. Toksoplasmosis
Toksoplasmosis adalah suatu infeksi yang disebabkan oleh
parasit Toxoplasma gondii.
Sekali seseorang terinfeksi, infeksi akan terus berada seumur
hidup biasanya dalam bentuk inaktif dan dapat mengalami
reaktivasi ketika terjadi penurunan sistem imunitas.
Pada orang dengan imunitas baik pada umumnya tidak ada
gejala.
Pada orang dengan immunocompromised didapatkan keluhan
berupa pembesaran kelenjar getah bening, infeksi pada
sistem saraf pusat seperti demam, kejang, nyeri kepala,
psikosis, gangguan penglihatan, bicara, gerakan, maupun
fungsi kognitif.
TORCH: Toksoplasma
Etiologi: Toxoplasma gondi
Transmission to the fetus occurs predominantly in women who acquire their primary
infection during gestation.
In rare cases, congenital transmission has occurred in chronically infected women whose
infection was reactivated because of their immunocompromised state (e.g., from AIDS or
treatment with corticosteroids for their underlying disease).
Gejala dan Tanda
Tanpa gejala spesifik
Wanita hamil + Toxoplasmosis abortus spontan/ keguguran (4%), lahir mati (3%)
atau bayi menderita Toxoplasmosis bawaan gejala dapat muncul setelah dewasa
(kelainan mata & telinga, retardasi mental, kejang-kejang & ensefalitis)
Diagnosis
Gejala: tidak spesifik atau tidak terlihat (sub klinik)
Laboratorium: Anti-Toxo IgG, IgM & IgA, serta Aviditas Anti-Toxoplasma IgG
Pemeriksaan perlu pada:
Diduga terinfeksi, sebelum atau selama masa hamil (bila hasilnya negatif perlu
diulang/bulan t.u pada trimester I, selanjutnya tiap trimester), bayi baru lahir dari ibu yang
terinfeksi Toxoplasma
Sumber :Pengertian TORCH Berikut Pencegahannya - Bidanku.comhttp://bidanku.com/pengertian-torch-berikut-pencegahannya
Management of Toxoplasma gondii Infection during Pregnancy. Jose G. Montoya and Jack S. Remington
IgG Result IgM Result Report/interpretation for humans*

Negative Negative No serological evidence of infection with Toxoplasma.


Possible early acute infection or false-positive IgM reaction. Obtain a new
Negative Equivocal specimen for IgG and IgM testing. If results for the second specimen remain
the same, the patient is probably not infected with Toxoplasma.
Possible acute infection or false-positive IgM result. Obtain a new specimen
Negative Positive for IgG and IgM testing. If results for the second specimen remain the same,
the IgM reaction is probably a false-positive.
Indeterminate: obtain a new specimen for testing or retest this specimen for
Equivocal Negative
IgG in a different essay.
Equivocal Equivocal Indeterminate: obtain a new specimen for both IgG and IgM testing.
Possible acute infection with Toxoplasma. Obtain a new specimen for IgG and
IgM testing. If results for the second specimen remain the same or if the IgG
Equivocal Positive
becomes positive, both specimens should be sent to a reference laboratory
with experience in diagnosis of toxoplasmosis for further testing.
Positive Negative Infected with Toxoplasma for six months or more.
Infected with Toxoplasma for probably more than 1 year or false-positive IgM
reaction. Obtain a new specimen for IgM testing. If results with the second
Positive Equivocal specimen remain the same, both specimens should be sent to a reference
laboratory with experience in the diagnosis of toxoplasmosis for further
testing.
Possible recent infection within the last 12 months, or false-positive IgM
Positive Positive reaction. Send the specimen to a reference laboratory with experience in
the diagnosis of toxoplasmosis for further testing.
Management of Toxoplasma gondii Infection during Pregnancy. Jose G. Montoya and Jack S. Remington
Management of Toxoplasma gondii Infection during Pregnancy. Jose G. Montoya and Jack S. Remington
Management of Toxoplasma gondii Infection during Pregnancy. Jose G. Montoya and Jack S. Remington
Management of Toxoplasma gondii Infection during Pregnancy. Jose G. Montoya and Jack S. Remington
139. Pemeriksaan Tinggi Fundus Uteri
Berdasarkan Usia Kehamilan

Sumber:
http://www.gynob.co
m/fh.htm
140. Asam Folat dan Kehamilan
Kebutuhan akan folic acid sampai 50-100 g/hari pada
wanita normal dan 300-400 g/hari pada wanita hamil
sedangkan hamil kembar lebih besar lagi.
Dosis
Untuk defisiensi asam folat: 250-1000 mcg (microgram)
per hari.
Untuk wanita hamil dalam menghindari defek pada tube
neural: Minimal 400 mcg asam folat per hari
Wanita dengan riwayat kehamilan sebelumnya memiliki
komplikasi defek tube neural atau riwayat anensefali
biasanya mengkonsumsi 4mg asam folat per hari pada
sebulan pertama sebelum kehamilan dan diteruskan
hingga 3 bulan setelah konsepsi.
Spina bifida
141. ISK
Jenis-jenis mikroorganisme yang menyebabkan
ISK, antara lain:
Pseudomonas, Proteus, Klebsiella : penyebab ISK
complicated
Escherichia Coli: 90 % penyebab ISK uncomplicated
(simple)
Enterobacter, staphylococcus epidemidis,
enterococci, dan-lain-lain
Pada wanita, tersering adalah ISK uncomplicated
akibat E. coli
142. Hiperemesis Gravidarum
Definisi
Keluhan mual,muntah pada ibu hamil yang berat hingga
mengganggu aktivitas sehari-hari.
Mulai setelah minggu ke-6 dan biasanya akan membaik dengan
sendirinya sekitar minggu ke-12

Etiologi
Kemungkinan kadar BhCG yang tinggi atau faktor psikologik

Predisposisi
Primigravida, mola hidatidosa dan kehamilan ganda

Akibat mual muntah dehidrasi elektrolit berkurang,


hemokonsentrasi, aseton darah meningkat kerusakan liver
Hiperemesis Gravidarum: Patogenesis

Verberg MFG, et al. Hyperemesis gravidarum, a literature review. Human Reproduction Update, Vol.11, No.5 pp. 527539, 2005
Hiperemesis Gravidarum: Patofisiologi
Worsen

NVP

Hypochoremic Thiamine
Dehydration Starvation
alkalosis depletion

Hemoconcentration Wernicke
Ketosis
Somnolen/coma encephalopathy
Hypovolemic shock
Acute renal failure
Hepatic
NVP: Nausea and vomiting in pregnancy dysfunction
1. Cunningham et al. Williams obstetrics. 22nd ed. McGraw Hill; 2005.
2. Verberg MFG, et al. Hyperemesis gravidarum, a literature review. Human Reproduction Update, Vol.11, No.5 pp. 527539, 2005.
3. Mylonas I, et al. Nausea and Vomiting in Pregnancy. Dtsch Arztebl 2007; 104(25): A 18216.
Hiperemesis Gravidarum
Emesis gravidarum:
Mual muntah pada kehamilan tanpa komplikasi, frekuensi <5 x/hari
70% pasien: Mulai dari minggu ke-4 dan 7
60% : membaik setelah 12 minggu
99% : Membaik setelah 20 minggu

Hyperemesis gravidarum
Mual muntah pada kehamilan dengan komplikasi
dehidrasi
Hiperkloremik alkalosis,
ketosis
Grade 1 Low appetite, epigastrial pain, weak, pulse 100 x/min, systolic BP low, signs of
dehydration (+)
Grade 2 Apathy, fast and weak pulses, icteric sclera (+), oliguria, hemoconcentration,
aceton breath
Grade 3 Somnolen coma, hypovolemic shock, Wernicke encephalopathy.
1. http://student.bmj.com/student/view-article.html?id=sbmj.c6617. 2. http://emedicine.medscape.com/article/254751-overview#a0104. 3.
Bader TJ. Ob/gyn secrets. 3rd ed. Saunders; 2007. 4. Mylonas I, et al. Nausea and Vomiting in Pregnancy. Dtsch Arztebl 2007; 104(25): A 18216.
Hiperemesis Gravidarum: Tatalaksana
Hiperemesis Gravidarum: Tatalaksana

Buku saku Pelayanan kesehatan ibu di fasilitas kesehatan dasar dan rujukan. Kementerian Kesehatan RI
Hiperemesis Gravidarum: Tatalaksana
Atasi dehidrasi dan ketosis
Berikan Infus Dx 10% + B kompleks IV
Lanjutkan dengan infus yang mempunyai komposisi kalori dan elektrolit
yang memadai seperti: KaEN Mg 3, Trifuchsin dll.
Balans cairan ketat hingga tidak dijumpai lagi ketosis dan
defisit elektrolit
Berikan suport psikologis
Jika dijumpai keadaan patologis: atasi
Nutrisi per oral diberikan bertahap dan jenis yang diberikan
sesuai apa yang dikehendaki pasien
Infus dilepas bila kondisi pasien benar-benar telah segar
dan dapat makan dengan porsi wajar

http://emedicine.medscape.com/article/254751-overview
143. Ulkus Mole (Chancroid)
Haemophilus ducreyi (kokobasil, gram negatif)
Dasar kotor, mudah berdarah
Nyeri tekan
Lunak
Multipel
Tepi ulkus menggaung
Ulkus Mole
Suatu penyakit kelamin yang disebabkan oleh H.ducreyi , memberikan
gambaran berupa ulkus yang nyeri di kemaluan
Manifestasi Klinis
Inkubasi 3- 5 hari, timbul papul ulkus dangkal, tepi merah, dasar
kotor dan mudah berdarah. Nyeri saat penekanan, indurasi (-)
Lokasi :
Pria : prepusium, frenulum, korpus penis dan skrotum
Wanita : klitoris, labia, fourchette, vestibuli, anus dan perineum
Efloresensi
Ulkus berbentuk cawan, tepi tidak rata, dinding menggaung dan
eritema di sekitarnya
Inokulasi sendiri lesi multipel
Terapi :
1 g azithromycin, single
dose oral
ceftriaxone 250 mg IM,
single dose
ciprofloxacin 2 x 500 mg
oral 3 hari
Erythromycin 3 x 500 mg
oral 7 hari
144. Kala Persalinan
PERSALINAN dipengaruhi 3 PEMBAGIAN FASE / KALA
FAKTOR P UTAMA PERSALINAN
1. Power Kala 1
His (kontraksi ritmis otot polos Pematangan dan pembukaan
uterus), kekuatan mengejan ibu, serviks sampai lengkap (kala
keadaan kardiovaskular respirasi pembukaan)
metabolik ibu. Kala 2
2. Passage Pengeluaran bayi (kala
Keadaan jalan lahir pengeluaran)
Kala 3
3. Passanger Pengeluaran plasenta (kala uri)
Keadaan janin (letak, presentasi, Kala 4
ukuran/berat janin, ada/tidak Masa 1 jam setelah partus,
kelainan anatomik mayor) terutama untuk observasi
(++ faktor2 P lainnya :
psychology, physician, position)
Kala Persalinan: Sifat HIS
Kala 1 awal (fase laten)
Tiap 10 menit, amplitudo 40 mmHg, lama 20-30 detik. Serviks terbuka sampai 3 cm
Frekuensi dan amplitudo terus meningkat

Kala 1 lanjut (fase aktif) sampai kala 1 akhir


Terjadi peningkatan rasa nyeri, amplitudo makin kuat sampai 60 mmHg, frekuensi 2-4
kali / 10 menit, lama 60-90 detik (frekuensi setidaknya 2x/10 menit dan lama minimal
40 ). Serviks terbuka sampai lengkap (+10cm).

Kala 2
Amplitudo 60 mmHg, frekuensi 3-4 kali / 10 menit.
Refleks mengejan akibat stimulasi tekanan bagian terbawah menekan anus dan rektum

Kala 3
Amplitudo 60-80 mmHg, frekuensi kontraksi berkurang, aktifitas uterus menurun.
Plasenta dapat lepas spontan dari aktifitas uterus ini, namun dapat juga tetap
menempel (retensio) dan memerlukan tindakan aktif (manual aid).
Kala Persalinan: Kala I
Fase Laten
Pembukaan sampai mencapai 3 cm (8 jam)

Fase Aktif
Pembukaan dari 3 cm sampai lengkap (+ 10 cm), berlangsung
sekitar 6 jam
Fase aktif terbagi atas :
1. Fase akselerasi (sekitar 2 jam), pembukaan 3 cm sampai 4
cm.
2. Fase dilatasi maksimal (sekitar 2 jam), pembukaan 4 cm
sampai 9 cm.
3. Fase deselerasi (sekitar 2 jam), pembukaan 9 cm sampai
lengkap (+ 10 cm).
Kala Persalinan: Kala II
Dimulai ketika pembukaan serviks sudah lengkap (10 cm) dan
berakhir dengan lahirnya bayi

Gejala dan tanda kala II persalinan


Dor-Ran Ibu merasakan ingin meneran bersamaan dengan
terjadinya kontraksi
Tek-Num Ibu merasakan adanya peningkatan tekanan pada
rektum dan/atau vagina
Per-Jol Perineum menonjol
Vul-Ka Vulva-vagina dan sfingter ani membuka
Meningkatnya pengeluaran lendir bercampur darah

Tanda pasti kala II ditentukan melalui periksa dalam


(informasi objektif)
Pembukaan serviks telah lengkap, atau
Terlihatnya bagian kepala bayi melalui introitus vagina
Kala Persalinan: Kala III
Dimulai setelah lahirnya bayi dan berakhir dengan lahirnya
plasenta dan selaput ketuban

Tanda pelepasan plasenta


Semburan darah dengan tiba-tiba: Karena penyumbatan
retroplasenter pecah saat plasenta lepas
Pemanjangan tali pusat: Karena plasenta turun ke segmen
uterus yang lebih bawah atau rongga vagina
Perubahan bentuk uterus dari diskoid menjadi globular
(bulat): Disebabkan oleh kontraksi uterus
Perubahan dalam posisi uterus, yaitu uterus didalam
abdomen: Sesaat setelah plasenta lepas TFU akan naik, hal ini
disebabkan oleh adanya pergerakan plasenta ke segmen
uterus yang lebih bawah
(Depkes RI. 2004. Buku Acuan Persalinan Normal. Jakarta: Departemen Kesehatan)
Manajemen Aktif Kala III

Peregangan Tali Massase


Uterotonika Pusat Terkendali Uterus
1 menit setelah bayi Tegangkan tali pusat ke arah Letakkan telapak
lahir bawah sambil tangan yang tangan di fundus
Oksitosin 10 unit IM di lain mendorong uterus ke masase dengan
sepertiga paha atas arah dorso-kranial secara gerakan melingkar
bagian distal lateral hati-hati secara lembut hingga
Dapat diulangi setelah uterus berkontraksi
15 menit jika plasenta (fundus teraba keras).
belum lahir
Distosia ec. Kelainan Tenaga
His Normal: mulai dari fundus menjalar ke korpus, dominasi di fundus
dan disertai relaksasi yang merata

Jenis Kelainan His


Inersia Uteri (Kontraksi Uterus Hipotonik)
His lemah, pendek, jarang tidak adekuat untuk mebuka serviks dan mendorong
janin
His terlalu kuat (Kontraksi Uterus Hipertonik)
His terlalu kuat dan terlalu efisien sehingga persalinan terlalu cepat
Incoordinate uterine contraction
Tidak ada koordinasi antara kotraksi bagian atas, tengah dan bawah; tidak ada
dominasi fundus

Faktor predisposisi
Primigravida, terutama primi tua
Kelainan letak janin/disporposi fetopelviks
Peregangan rahim yang berlebihan: gemeli, hidramnion
145. Kala Persalinan: Kala II
Dimulai ketika pembukaan serviks sudah lengkap (10 cm) dan berakhir
dengan lahirnya bayi

Gejala dan tanda kala II persalinan


Dor-Ran Ibu merasakan ingin meneran bersamaan dengan terjadinya
kontraksi
Tek-Num Ibu merasakan adanya peningkatan tekanan pada rektum
dan/atau vagina
Per-Jol Perineum menonjol
Vul-Ka Vulva-vagina dan sfingter ani membuka
Meningkatnya pengeluaran lendir bercampur darah

Tanda pasti kala II ditentukan melalui periksa dalam (informasi objektif)


Pembukaan serviks telah lengkap, atau
Terlihatnya bagian kepala bayi melalui introitus vagina

Pimpinan meneran dilakukan ketika kepala bayi mengalami crowning (yaitu


ketika kepala membuka vulva 5 cm)
146. Hemoroid pada Kehamilan

Person (2007), hemoroid internal diklasifikasikan menjadi


beberapa tingkatan yakni:
Derajat I, hemoroid mencapai lumen anal canal.
Derajat II, hemoroid mencapai sfingter eksternal dan tampak pada saat
pemeriksaan tetapi dapat masuk kembali secara spontan.
Derajat III, hemoroid telah keluar dari anal canal dan hanya dapat masuk
kembali secara manual oleh pasien.
Derajat IV, hemoroid selalu keluar dan tidak dapat masuk ke anal canal
meski dimasukkan secara manual.
147. LASERASI PERINEUM
Robekan perineum yang terjadi pada saat bayi (spontan maupun dengan
menggunakan alat atau tindakan)
Umumnya terjadi pada garis tengah, bisa menjadi luas apabila kepala lahir
terlalu cepat.
Gejala :
Perdarahan
Darah segar yang mengalir setelah bayi lahir
Uterus tidak berkontraksi dengan baik
Penanganan : memperbaiki robekan, pemberian antibiotik
Komplikasi :
Perdarahan
Fistula dapat terjadi tanpa diketahui penyebabnya karena perlukaan pada vagina menembus
kandung kencing atau rectum. Jika kandung kencing luka, maka air kencing akan segera keluar
melalui vagina (fistula vesikovagina). Jika rektum luka, maka kotoran dapat keluar ke vagina
(fistula rektovagina)
Hematoma
Infeksi

Obstetri Patologi
148. ISK pada Kehamilan
149. Prolaps Uteri
Prolaps uteri adalah penurunan uterus dari
posisi anatomis yang seharusnya.
Insidens prolaps uteri meningkat dengan
bertambahnya usia.
Manifestasi klinis yang sering didapatkan
adalah keluarnya massa dari vagina dan
adanya gangguan buang air kecil hingga
disertai hidronefrosis
150. KB: Metode Hormonal
Kombinasi Progestin
Cara kerja Cara Kerja
ovulasi, mengentalkan lendir serviks sehingga
penetrasi sperma terganggu, atrofi pada Mencegah ovulasi, mengentalkan lendir
endometrium sehingga implantasi terganggu, serviks penetrasi sperma terganggu,
dan menghambat transportasi gamet oleh menjadikan selaput rahim tipis & atrofi,
tuba. menghambat transportasi gamet oleh
Efek samping tuba.
Perubahan pola haid, sakit kepala, pusing, kenaikan
BB, perut kembung, perubahan suasana perasaan, Efek Samping
dan penurunan hasrat seksual. Perubahan pola haid, sakit kepala,
Kontra indikasi pusing, perubahan suasana perasaan,
Gangguan KV, menyusui Eksklusif, perdarahan nyeri payudara, nyeri perut, dan mual
pervaginam yang belum diketahui penyebabnya,
hepatitis, perokok, riwayat diabetes > 20 th , kanker Kontra Indikasi
payudara atau dicurigai, migraine dan gejala
neurologic fokal (epilepsi/riwayat epilepsi), tidak Serupa dengan kombinasi
dapat menggunakan pil secara teratur setiap hari.
KB: Metode IUD
Cara Kerja
Menghambat kemampuan sperma untuk
masuk ke tuba falopii
Mempengaruhi fertilisasi sebelum ovum
mencapai kavum uteri
Mencegah implantasi hasil konsepsi
kedalam rahim

Efek Samping
Nyeri perut, spotting, infeksi, gangguan
haid

Kontra Indikasi
Hamil, kelainan alat kandungan bagian dalam, perdarahan vagina yang tidak diketahui,
sedang menderita infeksi alat genital (vaginitis, servisitis), tiga bulan terakhir sedang
mengalami atau sering menderita PRP atau abortus septik, penyakit trofoblas yang ganas,
diketahui menderita TBC pelvik, kanker alat genital, ukuran rongga rahim kurang dari 5 cm

EPO. (2008). Alat Kontrasepsi Dalam Rahim atau Intra Uterine Device (IUD). Diambil pada tanggal 20 Mei 2008 dari
http://pikas.bkkbn.go.id/jabar/program_detail.php?prgid=2
151. Hormon Masa Kehamilan
Hormon HCG
Mendukung pertumbuhan plasenta
Hormon HPL (Human Placental Lactogen)
Menstimulasi pertumbuhan dan perubahan metabolisme
lemak dan karbohidrat
Berperan dalam produksi ASI
Hormon Relaksin
Efek relaksasi pada sendi panggul dan melunakkan rahim
Estrogen
Perkembangan kelenjar mamae, memicu kontraksi rahim,
vagina dans erviks lebih lentur, memperkuat dinding rahim
Progesteron
Mencegah kontraksi, menyiapkan payudara memproduksi ASI
MSH
Warna putting susu lebih gelap, melasma, linea nigra
MSH: Reseptor Estrogen
Melanosit mengandung
reseptor estrogen

Bereaksi terhadap
peningkatan estrogen selama
kehamilan

Daerah hiperpigmentasi pada


kehamilan: tidak ada
peningkatan jumlah melanosit,
namun melanosit menjadi
lebih besar, lebih dendritik,
dan terjadi peningkatan
melanogenesis (terutama
eumelanin)
Melasma
Disebut juga kloasma/topeng kehamilan

Etiologi
Paparan matahari, kehamilan, terapi hormon (pil KB dll), obat dan produk kecantikan, hipotiroidism

Efloresensi
Makula hiperpigmentosis, umumnya simetris, warna coklat muda-tua, predileksi di daerah pipi, dahi,
daerah atas bibir, hidung, dan dagu

Tatalaksana
Hentikan terapi hormon (bila ada), gunakan sunblock & produk kecantikan yang lembut
Hidrokuinon 2-4% (krim atau lotion) selama 2-4 bulan
Krim/gel/lotion asam azelaik 2x/hari (aman untuk kehamilan)
Kortikosteroid krim

http://www.dermnetnz.org/colour/melasma.html
152. Gangguan Proses Menyusui: Mastitis
Inflamasi / infeksi payudara
Diagnosis
Payudara (biasanya unilateral) keras,
memerah, dan nyeri
Dapat disertai benjolan lunak
Dapat disertai demam > 38 C
Paling sering terjadi di minggu ke-3 dan
ke-4 postpartum, namun dapat terjadi
kapan saja selama menyusui

Faktor Predisposisi
Bayi malas menyusu atau tidak menyusu
Menyusui selama beberapa minggu setelah melahirkan
Puting yang lecet
Menyusui hanya pada satu posisi, sehingga drainase payudara tidak sempurna
Bra yang ketat dan menghambat aliran ASI
Riwayat mastitis sebelumnya saat menyusui
Mastitis & Abses Payudara: Tatalaksana
Tatalaksana Umum Abses Payudara
Tirah baring & >> asupan cairan Stop menyusui pada payudara yang
Sampel ASI: kultur dan diuji sensitivitas abses, ASI tetap harus dikeluarkan
Tatalaksana Khusus Bila abses >> parah & bernanah
Berikan antibiotika : antibiotika
Kloksasilin 500 mg/6 jam PO , 10-14 hari Rujuk apabila keadaan tidak
ATAU
membaik.
Eritromisin 250 mg, PO 3x/hari, 10-14
hari Terapi: insisi dan drainase
Tetap menyusui, mulai dari payudara sehat. Periksa sampel kultur resistensi
Bila payudara yang sakit belum kosong dan pemeriksaan PA
setelah menyusui, pompa payudara untuk Jika abses diperkirakan masih banyak
mengeluarkan isinya. tertinggal dalam payudara, selain
Kompres dingin untuk << bengkak dan nyeri. drain, bebat juga payudara dengan
Berikan parasetamol 3x500mg PO elastic bandage 24 jam tindakan
Sangga payudara ibu dengan bebat atau bra kontrol kembali untuk ganti kassa.
yang pas.
Berikan obat antibiotika dan obat
Lakukan evaluasi setelah 3 hari. penghilang rasa sakit
Gangguan Proses menyusui: Mastalgia
Nyeri pada payudara

Etiologi
Mastalgia terlokalisasi: gangguan fokal akibat massa pada payudara (kista dsb) atau
infeksi (mastitis, abses)
Mastalgia bilateral
Perubahan fibrokistik
Mastitis bilateral difus (jarang)
Perubahan hormon proliferasi jaringan (kehamilan, pengobatan dengan hormon)
Peregangan ligamen Cooper

Pemeriksaan
Pastikan tidak ada tanda radang, lihat perubahan kulit (eritema, rash, edema)

Tatalaksana
Mastalgia akibat menstruasi: parasetamol atau NSAID, nyeri berat tamoxifen
atau danazol
Terkait kehamilan: gunakan bra yang suportif, parasetamol

http://www.msdmanuals.com/professional/gynecology-and-obstetrics/breast-disorders/mastalgia-(breast-pain)
153. ISK: Edukasi
Minum banyak air (8-10 gelas per hari)
Komsumsi suplemen vitamin C secara teratur karena vitamin ini diketahui
dapat menurunkan jumlah bakteri di urin
Hindari konsumsi minuman beralkohol, makanan yang kaya rempah dan
kopi, karena dapat mengiritasi kandung kemih
Jangan menunda keinginan BAK agar urin tidak tertahan lama di kandung
kemih dan tidak memudahkan pertumbuhan bakteri
Cuci tangan dan alat kelamin sebelum dan sesudah berhubungan seksual
Bilas anus sekurangnya sehari sekali
Bagi wanita basuh dari uretra menuju anus, jangan sebaliknya
Mandi menggunakan pancuran, hindari berendam di bath tub
Ganti pembalut atau tampon sesering mungkin
Hindari penggunaan celana ketat. Gunakan celana dalam berbahan katun
154. Meigs Syndrome
Trias dari tumor jinak ovarium, efusi pleura, dan asites
yang akan mereda setelah tumor diangkat.
Penyebab paling sering adalah fibroma ovarium, tumor
Brenner (neoplasma epitelial dan stroma jinak), dan
tumor sel granulosa
Gejala klinis yang sering didapatkan adalah kelelahan,
sesak napas, adanya massa abdomen-pelvis,
perubahan berat badan, batuk tidak produktif,
kembung, amenore pada usia premenopause, dan
menstruasi tidak teratur.
Pemeriksaan fisis didapatkan adanya massa pelvis
disertai tanda efusi pleura dan asites
Pemeriksaan Penunjang Meigs
Syndrome

Laboratorium: darah lengkap, serum


elektrolit, fungsi ginjal, fungsi hati, fungsi
koagulasi, Ca125.
Imejing: CT-scan abdomen dan thorax, foto
rontgen thorax, parasentensis cairan asites
Terapi: Bedah, suportif

Sumber: http://emedicine.medscape.com/article/255450
155. Anemia pada Kehamilan
Definisi: kondisi dimana terdapat kekurangan sel
darah merah atau hemoglobin.
Diagnosis
Kadar Hb < 11 g/dl (pada trimester I dan III) atau <
10,5 g/dl (pada trimester II)
Faktor Predisposisi
Diet rendah zat besi, B12, dan asam folat
Kelainan gastrointestinal
Penyakit kronis
Riwayat Keluarga
Tatalaksana Anemia
Tatalaksana umum anemia
Lakukan pemeriksaan apusan darah tepi untuk melihat morfologi sel
darah merah.
Bila fasilitas tidak tersedia berikan tablet 60 mg besi elemental dan
250 g asam folat, 3 kali sehari evaluasi 90 hari.

Tatalaksana khusus anemia


Bila terdapat pemeriksaan apusan darah tepi, lakukan pengobatan
sesuai hasil apusan darah tepi.
Anemia defisiensi besi (hipokromik mikrositer): 180 mg besi elemental
per hari
Anemia defisiensi asam folat dan vitamin B12: asam folat 1 x 2 mg,
dan vitamin B12 1 x 250-1000g
Transfusi dilakukan bila Hb < 7 g/dL atau hematokrit < 20% atau Hb > 7
g/dL dengan gejala klinis pusing, pandangan berkunang-kunang atau
takikardia
Sumber: Buku pelayanan kesehatan Ibu di Fasilitas
Kesehatan dasar dan Rujukan
156. Hipertiroid pada Kehamilan
DOC (PTU dan methimazole)
PTU (utama)
Efek teratogenik <<
Efek samping: Hipotiroid pada janin
Methimazole (jarang digunakan di Indonesia)
efek teratogenik berupa sindrom teratogenik embriopati
metimazole yang ditandai dengan atresi esofagus atau koanal

blocker (propanolol)
Mengurangi gejala akut hipertiroid
Efek samping pada kehamilan akhir: hipoglikemia pada
neonatus, apnea, dan bradikardia yang biasanya bersifat
transien dan tidak lebih dari 48 jam
Dibatasi sesingkat mungkin dan dalam dosis rendah (10-15
mg per hari)
Abalovich M, Amino N, Barbour LA, Cobin RH, Leslie J, Glinoer D, et al. Management of Thyroid Dysfunction during Pregnancy and
Postpartum. J. Endocrinol. Metabolism. 2007; 92(8): S1-S47
Indikasi Pembedahan

Dibutuhkannya obat anti tiroid dosis besar


(PTU >450 mg atau methimazole >300 mg)
Timbul efek samping serius penggunaan obat
anti tiroid
Struma yang menimbulkan gejala disfagia,
atau obstruksi jalan napas
Tidak dapat memenuhi terapi medis (misalnya
pada pasien gangguan jiwa)
Hipertiroid pada Kehamilan: Tatalaksana
Rawat inap dan tirah baring untuk mengontrol kadar hormon tiroid
Medikamentosa
PTU 300-450 mg/hari, dibagi dalam 3 dosis. Bila FT4 dan FT3 sudah normal
dosis pemeliharaan 50-300 mg/hari, dalam dosis terbagi ATAU
Metimazol 15-100 mg/hari, dibagi dalam 3 dosis bila sudah Normal: 5-20
mg/hari
Larutan yodium (Lugol) 3 tetes dalam segelas air putih diminum 1x/hari selama
1-2 minggu
Propanolol mengurangi manifestasi simpatetik, 40-80 mg/hari, dalam 3-4
dosis
Kontra Indikasi: penyakit paru obstruktif, blokade jantung, dekomp kordis,
DM
Tiroidektomi dapat dipertimbangkan ketika kondisi hipertiroid telah teratasi
lewat pengobatan
Setelah bayi lahir, periksa kadar hormon tiroidnya untuk menyingkirkan
kemungkinan hipotiroidisme pada bayi akibat pengobatan selama ibu hamil
Depkes RI. Buku Saku Pelayanan Kesehatan Ibu di Fasilitas Kesehatan Dasar dan Rujukan. Bakti Husada
157. Kehamilan Gemelli

Kehamilan dengan dua janin atau lebih.


Faktor yang mempengaruhi adalah faktor
obat-obat konduksi ovulasi, faktor
keturunan, faktor yang lain belum diketahui.
Diagnosis Kehamilan Kembar.
Pada anamnesa
Ibu mengatakan perut tampak lebih buncit
dari seharusnya umur kehamilan
Gerakan janin lebih banyak dirasakan ibu
hamil
Uterus terasa lebih cepat membesar
Pernah hamil kembar atau terdapat riwayat
keturunan.
Pemeriksaan Inspeksi dan Palpasi

Kesan uterus lebih besar dan cepat


tumbuhnya dari biasa
Teraba gerakan-gerakan janin lebih banyak
Banyak bagian-bagian kecil teraba
Teraba 3 bagian besar janin
Teraba 2 balotemen
Pada pemeriksaan Auskultasi
Terdengar dua denyut jantung janin pada 2
tempat yang agak berjauhan dengan
perbedaan kecepatan sedikitnya 10 denyut
per menit.
Ultrasonografi : kelihatan 2 janin pada triwulan
II, 2 jantung yang berdenyut telah dapat
ditentukan pada triwulan I.
158. Partus Prematurus Iminens

POGI (Semarang, 2008): persalinan preterm


adalah persalinan yang terjadi pada usia
kehamilan 22-37 minggu

(Wibowo, 1997): Kontraksi uterus yang teratur


setelah kehamilan 20 minggu dan sebelum 37
minggu dengan interval kontraksi 5-8 menit atau
kurang + satu atau lebih tanda berikut:
Perubahan serviks yang progresif
Dilatasi serviks 2 cm atau lebih
Penipisan serviks 80 % atau lebih
Faktor Risiko & Diagnosis PPI
Menurut Wijnyosastro (2010) dan Rompas (2004)
Janin & Plasenta Perdarahan trimester I, perdarahan antepartum, KPD, pertumbuhan
janin terhambat, cacat kongenital, gemeli, polihidramnion

Ibu DM, preeklampsia, HT, ISK, infeksi dengan demam, kelainan bentuk
uterus, riwayat partus preterm/abortus berulang, inkompetensi
serviks, narkotika, trauma, perokok berat, kelainan imun/rhesus,
serviks terbuka > pada 32 minggu, riwayat konisasi

Kriteria Diagnosis PPI (American College of Obstetricians and Gynecologists, 1997)


1. Kontraksi yang terjadi dengan frekuensi 4x dalam 20 menit atau 8x dalam 60
menitplus perubahan progresif pada serviks
2. Dilatasi serviks lebih dari 1 cm
3. Pendataran serviks > 80%
Tatalaksana PPI: Tokolitik
Obat Dosis Efek Samping

Ca antagonis (nifedipin) 10 mg/PO diulang 2-3x/jam, lanjut


per 8 jam hingga kontraksi hilang
Maintenance: 3 x 10 mg
Beta mimetik (terbutalin, Salbutamol Hiperglikemia,
ritrodin, isoksuprin, IV: 20-50 g/menit hipokalemia, hipotensi,
salbutamol) PO: 4 mg, 2-4 x/hari (maintenance) takikardia, iskemi
Terbutalin miokardial, edema
IV: 10-15 g/menit paru
Subkutan: 250 g/6 jam
PO: 5-7.5 mg/8 jam (maintenance)
MgSO4 Bolus: 4-6 g/IV selama 20-30 menit Edema paru, letargi,
IV: 2-4 g/jam (maintenance) nyeri dada, depresi
napas (ibu & janin)
Penghambat - Risiko kardiovaskular
Prostaglandin
(indometasin, sulindac)
Tatalaksana PPI: Pematangan Paru
Akselerasi pematangan fungsi paru janin
Bila usia kehamilan < 35 minggu
Obat:
Betametason 2 x 12 mg IM, jarak pemberian 24 jam
Deksametason 4 x 6 mg IM, jarak pemberian 12 jam
Peningkat surfaktan: thyrotropin releasing hormone 200 ug IV ATAU
inositol

Pencegahan infeksi
DOC: eritromisin 3 x 500 mg selama 3 hari
Ampisilin 3 x 500 mg selama 3 hari
Klindamisin
Kontra indikasi: amoksiklaf risiko necrotizing enterocolitis
Komplikasi PPI
Pada Ibu
Endometritis

Pada Janin
HMD, gangguan refleks akibat SSP belum matang,
intoleransi akibat GI belum matang, retinopati,
displasia bronkopulmoner, penyakit jantung,
jaundice, infeksi/septikemia, anemia, gangguan
mental & motorik
Partus Prematurus

Partus yang terjadi di bawah umur kehamilan 37


minggu dengan perkiraan berat janin kurang
dari 2500 gram (Manuaba, 1998 : 221)

Partus yang terjadi antara usia kehamilan 20-37 minggu


dihitung dari hari pertama haid terakhir (Nur, 2008)

Munculnya aktivitas uterus regular yang menghasilkan


pendataran maupun dilatasi sebelum kehamilan 37
minggu selesai (Chapman, Vicky, 2006 : 184)
159. LASERASI PERINEUM
Robekan perineum yang terjadi pada saat bayi (spontan maupun dengan
menggunakan alat atau tindakan)
Umumnya terjadi pada garis tengah, bisa menjadi luas apabila kepala lahir
terlalu cepat.
Gejala :
Perdarahan
Darah segar yang mengalir setelah bayi lahir
Uterus tidak berkontraksi dengan baik
Penanganan : memperbaiki robekan, pemberian antibiotik
Komplikasi :
Perdarahan
Fistula dapat terjadi tanpa diketahui penyebabnya karena perlukaan pada vagina menembus
kandung kencing atau rectum. Jika kandung kencing luka, maka air kencing akan segera keluar
melalui vagina (fistula vesikovagina). Jika rektum luka, maka kotoran dapat keluar ke vagina
(fistula rektovagina)
Hematoma
Infeksi

Obstetri Patologi
Fistula Vaginorektal
Etiologi: trauma t.u saat partus, IBD (Crohn
Disease), luka operasi, infeksi, keganasan

PF:
Keluar flatus atau feses dari vagina, vaginitis,
sistitis, vagina berbau

Terapi: operasi
Bangser M. Obstetric fistula and stigma. Lancet. Feb 11 2006;367(9509):535-
6. [Medline].
Browning A, Menber B. Women with obstetric fistula in Ethiopia: a 6-month follow
up after surgical treatment. BJOG. Nov 2008;115(12):1564-9. [Medline].
160. Fisiologi Menyusui
Reflek Prolaktin
Bayi mulai menyusu (rangsangan fisik) sinyal-
sinyal ke kelenjar hipotalamus di otak (hipofise
anterior) untuk menghasilkan hormon prolaktin
beredar dalam darah dan masuk ke
payudara,memerintahkan alveolus untuk
memproduksi ASI

Reflek Let Down (Oksitosin)


Rangsangan isapan bayi hipofise posterior
oksitosin peredaran darah rahim
menstimulus kontraksi rahim masuk ke
payudara untuk memeras ASI
Juga dipengaruhi beberapa faktor seperti
psikologis ibu yang bahagia melihat bayinya,
mendengar suara bayi,melihat foto bayi,ibu
bahagia karena peran serta ayah. Reflek ini
juga dihambat oleh faktor stress.
IKK &
FORENSIK
161. Positive Predictive Value
Nilai duga positif (Positif Predictive
Value (PPV)) yaitu persentase yang benar
benar menderita suatu penyakit dari semua
hasil uji tapis positif
Dalam tabel 2 x 2 sebagai a/a+b x 100 %.
Diabetes (+) Diabetes (-)
Obesitas (+) 40 (a) 10 (b)
Obesitas (-) 16 (c) 216 (d)

PPV kasus= 40/ 50 = 80%


Notoatmodjo, Soekidjo, 2010. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta :RinekaCipta
162. Rasio Prevalensi
Difteri
Ya Tidak
Vaksin Ya 10 30
Tidak 50 10

PR = a/(a+b)
c/ (c+d)
= 10/40
50/60
= 0,3
Budiarto, 2004, Metodologi Penelitian Kedokteran, Sebuah Pengantar, Jakarta, EGC
163. Program Pokok Puskesmas
1. Promosi Kesehatan (Promkes)
Penyuluhan Kesehatan Masyarakat
Sosialisasi Program Kesehatan
Perawatan Kesehatan Masyarakat (Perkesmas)
2. Pencegahan Penyakit Menular (P2M) :
Surveilens Epidemiologi
Pelacakan Kasus : TBC, Kusta, DBD, Malaria, Flu Burung, ISPA, Diare, IMS (Infeksi Menular Seksual),
Rabies
3. Program Pengobatan :
Rawat Jalan Poli Umum
Rawat Jalan Poli Gigi
Unit Rawat Inap : Keperawatan, Kebidanan
Unit Gawat Darurat (UGD)
Puskesmas Keliling (Puskel)
4. Kesehatan Ibu dan Anak (KIA)
ANC (Antenatal Care) , PNC (Post Natal Care), KB (Keluarga Berencana),
Persalinan, Rujukan Bumil Resti, Kemitraan Dukun
5. Upaya Peningkatan Gizi
Penimbangan, Pelacakan Gizi Buruk, Penyuluhan Gizi

Departemen Kesehatan RI. 1991. Pedoman Kerja Puskesmas Jilid III. Jakarta : Depkes RI
6. Kesehatan Lingkungan :
Pengawasan SPAL (saluran pembuangan air limbah), SAMI-JAGA (sumber air
minum-jamban keluarga), TTU (tempat-tempat umum), Institusi pemerintah
Survey Jentik Nyamuk
7. Pencatatan dan Pelaporan :
Sistem Pencatatan dan Pelaporan Terpadu Puskesmas (SP2TP)
8. Program Tambahan/Penunjang Puskesmas :
Program penunjang ini biasanya dilaksanakan sebagai kegiatan tambahan, sesuai
kemampuansumber daya manusia dan material puskesmas dalam melakukan
pelayanan
Kesehatan Mata : pelacakan kasus, rujukan
Kesehatan Jiwa : pendataan kasus, rujukan kasus
Kesehatan Lansia (Lanjut Usia) : pemeriksaan, penjaringan
Kesehatan Reproduksi Remaja : penyuluhan, konseling
Kesehatan Sekolah : pembinaan sekolah sehat, pelatihan dokter kecil
Kesehatan Olahraga : senam kesegaran jasmani

Departemen Kesehatan RI. 1991. Pedoman Kerja Puskesmas Jilid III. Jakarta : Depkes RI
164. Jamban Keluarga
Jamban keluarga sehat adalah jamban yang memenuhi syarat-
syarat sebagai berikut (Departemen Kesehatan RI, 1996) :
Tidak mencemari sumber air minum, sehingga lubang
penampungan kotoran minimal berjarak 10 meter dari
sumber air minum (sumur pompa, sumur gali, dan lain-
lain). Untuk tanah berkapur, tanah liat yang retak-retak
pada musim kemarau, atau bila letak jamban di sebelah
atas dari sumber air minum pada tanah yang miring, maka
jarak tersebut hendaknya lebih dari 15 meter.
Tidak berbau dan tinja tidak dapat dijamah oleh serangga
maupun tikus (tinja harus tertutup rapat, misalnya dengan
menggunakan leher angsa atau penutup lubang yang
rapat).
Syarat Jamban Keluarga
Air seni, air pembersih, dan penggelontor tidak mencemari tanah
di sekitarnya (lantai jamban minimal berukuran 1 x 1 meter dan
dibuat cukup landai/miring ke arah lubang jongkok).
Mudah dibersihkan, aman digunakan (harus dibuat dari bahan-
bahan yang kuat, tahan lama, dan agar tidak mahal hendaknya
dipergunakan bahan-bahan yang ada di daerah setempat).
Dilengkapi atap pelindung, dinding kedap air dan berwarna
terang.
Cukup penerangan, ventilasi cukup baik, dan luas ruangan cukup
Lantai kedap air
Tersedia air dan alat pembersih
165. Pengolahan Limbah Cair
a) Dengan pengenceran (Disposal by dilution), Air limbah di buang
kesungai, danau atau laut agar mendapat pengenceran, dengan syarat:
Sungai atau danau itu airnya rtidak boleh di gunakan untuk keperluan lain.
Airnya harus cukup banyak sehingga pengecerannya paling sedikit 30 40
kali.
Airnya harus cukup mengandung O2 , artinya harus mengalir sehingga tidak
bau.
b) Cesspool, menyerupai sumur tapi gunanya untuk pembuangan air
limbah. Dibuat pada tanah yang poreus (berpasir) agar air buangan
mudah meresap ke dalam tanah. Bagian atasnya ditembok agar tak
tembus air. Bila sudah penuh (+ 6 bulan ) lumpurnya diisap keluar atau
sejak semula dibuat cesspool secara berangkai , sehingga bila yang
satu penuh , airnya akan mengalir ke cesspool berikutnya.

Haryoto, Kusnoputranto, Pengantar Kesehatan Lingkungan, Bursa Buku FKM UI. Jakarta, 1984
Pengolahan Limbah Cair
c) Seepage pit (sumur resapan),merupakan sumur tempat menerima
air limbah yang telah mengalami pengolahan dalam sistim lain,
misalnya dari aqua putify atau septic tank.
d) Septik tank
Merupakan cara yang terbaik yang dianjurkan W.H.O, namun
biayanya mahal , tekniknya mahal, tekniknya sukar dan
memerlukan tanah yang luas. Septik tank terdiri atas 4 bagian :
1) Ruang pembusukan, 2) Ruang Lumpur, 3) Dosing chanber,
dan 4) Bidang resapan.
e) Sistim riool (Sewerage), merupakan cara pembuangan sewage
dikota-kota dan selalu harus termasuk dalam rencana
pembangunan kota.
166. Grafik
Grafik Garis (Line Chart)
Diagram ini biasanya digunakan untuk menyajikan data statistik yang diperoleh
berdasarkan pengamatan dari waktu ke waktu secara berurutan.
Grafik Batang (Bar Chart)
Digunakan untuk membandingkan nilai antar deret dalam bentuk grafik batang
dengan beberapa model (silinder, kerucut, dan piramid) dengan posisi horizontal.
Grafik Lingkaran (Pie Chart)
Fungsinya menunjukkan bagaimana point data berhubungan dengan keseluruhan
data.
Grafik Area (Area Chart)
dikenal dengan grafik atau diagram wilayah, grafik ini dipilih untuk menggambarkan
deret data sebagai garis komulatif dengan tampilan gambar berbentuk garis yang
bertumpuk. Fungsinya untuk menunjukkan perubahan nilai relatif pada suatu
periode waktu.

Budiarto, 2004, Metodologi Penelitian Kedokteran, Sebuah Pengantar, Jakarta, EGC


167. DEFINISI KASUS AVIAN INFLUENZA

Terdapat 3 jenis kasus secara epidemiologis:


1. Kasus suspek
2. Kasus probable
3. Kasus konfirmasi (definite)
Kasus Suspek
Seseorang yang menderita infeksi saluran respiratorik atas dengan
gejala demam (suhu 380 C), batuk dan atau sakit tenggorokan,
sesak napas dengan salah satu keadaan di bawah ini dalam 7 hari
sebelum timbul gejala klinis:
Kontak erat dengan pasien suspek, probable, atau confirmed seperti
merawat, berbicara atau bersentuhan dalam jarak <1 meter.
Mengunjungi peternakan yang sedang berjangkit KLB flu burung
Riwayat kontak dengan unggas, bangkai, kotoran unggas, atau produk
mentah lainnya di daerah yang satu bulan terakhir telah terjangkit flu
burung pada unggas, atau adanya kasus pada manusia yang confirmed.
Bekerja pada suatu laboratorium yang sedang memproses spesimen
manusia atau binatang yang dicurigai menderita flu burung dalam satu
bulan terakhir.
Memakan/mengkonsumsi produk unggas mentah atau kurang
dimasak matang di daerah diduga ada infeksi H5N1 pada hewan atau
manusia dalam satu bulan sebelumnya.
Kontak erat dengan kasus confirmed H5N1 selain unggas (misal kucing,
anjing).
Kasus Probable
Adalah kasus suspek disertai salah satu keadaan:
Infiltrat atau terbukti pneumonia pada foto dada
+ bukti gagal napas (hipoksemia, takipnea berat)
ATAU
Bukti pemeriksaan laboratorium terbatas yang
mengarah kepada virus influenza A (H5N1),
misalnya tes HI yang menggunakan antigen
H5N1.
Dalam waktu singkat, gejala berlanjut menjadi
pneumonia atau gagal napas /meninggal dan
terbukti tidak terdapat penyebab yang lain.
Kasus Konfirmasi
Adalah kasus suspek atau kasus probable didukung
salah satu hasil pemeriksaan laboratorium di bawah
ini:
Isolasi/Biakan virus influenza A/H5N1 positif
PCR influenza A H5 positif
Peningkatan titer antibodi netralisasi sebesar 4 kali dari
spesimen serum konvalesen dibandingkan dengan
spesimen serum akut (diambil 7 hari setelah muncul gejala
penyakit) dan titer antibodi konvalesen harus 1/80
Titer antibodi mikronetralisasi untuk H5N1 1/80 pada
spesimen serum yang diambil pada hari ke 14 atau lebih
setelah muncul gejala penyakit, disertai hasil positif uji
serologi lain, misal titer HI sel darah merah kuda 1/160
atau western blot spesifik H5 positif.
168. Metode Penyuluhan kelompok kecil
(<15 orang)
Diskusi kelompok, diskusi kelompok yang dipimpin oleg seorang ketua.
Curah pendapat (brain stroming), pemimpin kelompok memancing
dengan satu masalah dan kemudian tiap peserta memberikan jawaban-
jawaban atau tanggapan yang ditampung dan ditulis dalam flipchart
atau papan tulis.
Bola salju (snowballing), kelompok dibagi dalam pasangan-pasangan (1
pasang 2 orang) kemudian dilontarkan suatu pertanyaan atau masalah.
Setelah lebih kurang 5 menit maka tiap 2 pasang bergabung menjadi
1. Mereka tetap mendiskusikan masalah tersebut, dan mencari
kesimpulannya. Kemudian tiap-tiap pasang yang sudah
beranggotakan 4 orang ini bergabung lagi dengan pasangan lainnya
dan demikian seterusnya sehingga akhirnya akan terjadi diskusi
seluruh anggota kelompok.

Departemen Kesehatan RI, Pusat Promosi Kesehatan. 2004. Promosi Kesehatan, Jakarta
Metode Penyuluhan kelompok kecil
(<15 orang)
Buzz group, Kelompok langsung dibagi menjadi kelompok-
kelompok kecil (buzz group) yang kemudian diberi suatu
permasalahan yang sama atau tidak sama dengan
kelompok lain. Masing-masing kelompok mendiskusikan
masalah tersebut. Selanjutnya hasil dari tiap kelompok
didiskusikan kembali dan dicari kesimpulannya.
Role play, Dalam metode ini beberapa anggota kelompok
diunjuk sebagai pemegang peran tertentu untuk memainkan
peranan.
Simulation game, metode ini merupakan gabungan antara
role play dengan diskusi kelompok.
169. PELAPORAN KLB

Alur pelaporan KLB adalah sebagai berikut:

Dinkes Dinkes Kementerian


Masyarakat Puskesmas
Kabupaten Propinsi Kesehatan
Prosedur KLB Keracunan Pangan
Petugas Puskesmas setelah menerima laporan atau informasi dari
masyarakat, RS, dll, segera melakukan pengecekan ke lapangan tentang
kebenaran berita kasus keracunan;
Memberikan pertolongan berupa pengobatan kepada penderita
keracunan, dan bila diperlukan mengirim penderita ke unit pelayanan
kesehatan yang lebih tinggi untuk referal sistem (Rumah Sakit);
Mengambil contoh makanan/minuman yang diduga sebagai penyebab
keracunan
Melaporkan adanya kejadian keracunan makanan ke Dinas Kesehatan
Kab/Kota segera (menggunakan telepon, fax, form W1, sms, dan e-mail);
Bergabung dengan TIM KLB Keracunan Dinas Kesehatan Kab/Kota
melakukan kajian Penyelidikan Epidemiologi.
Hasil Penyelidikan Epidemiologi Tim Surveilans inilah yang digunakan
Kepala Dinas Kesehatan Kab/Kota memberikan keterangan/ penjelasan
kepada publik/ masyarakat tentang kasus yang terjadi.
Laporan Puskesmas ke Dinas Kesehatan
Laporan W1(Laporan Wabah) Laporan W2
Isi Laporan: Tempat KLB, Jumlah Laporan mingguan KLB.
P/M, Gejala/tanda-tanda. Isi laporan : jumlah penderita dan
Dalam jangka waktu 24 jam kematian PMTKLB selama satu
setelah mengetahui kepastian minggu yang tercatat di
(hasil pengecekan lapangan) Puskesmas.
adanya tersangka KLB. Pembuatan laporan setiap
Selain melalui pos, penyampaian minggu.
isi laporan dapat dilakukan Pengiriman laporan : setiap
dengan sarana komunikasi cepat Senin/Selasa.
lainnya, sesuai situasi dan kondisi Pembuat laporan : Kepala
yang ada. Puskesmas.
Pembuat laporan: Kepala
Puskesmas.
KRITERIA KLB
(Permenkes 1501, tahun 2010)
Timbulnya suatu penyakit menular tertentu yang sebelumnya tidak ada
atau tidak dikenal pada suatu daerah
Peningkatan kejadian kesakitan terus-menerus selama 3 (tiga) kurun
waktu dalam jam, hari atau minggu berturut-turut menurut jenis
penyakitnya
Peningkatan kejadian kesakitan dua kali atau lebih dibandingkan dengan
periode sebelumnya dalam kurun waktu jam, hari, atau minggu menurut
jenis penyakitnya
Jumlah penderita baru dalam periode waktu 1 (satu) bulan menunjukkan
kenaikan dua kali atau lebih dibandingkan dengan angka rata-rata jumlah
per bulan dalam tahun sebelumnya
Rata-rata jumlah kejadian kesakitan per bulan selama 1 (satu) tahun
menunjukkan kenaikan dua kali atau lebih dibandingkan dengan rata-rata
jumlah kejadian kesakitan per bulan pada tahun sebelumnya
Angka kematian kasus suatu penyakit (Case Fatality Rate) dalam 1 (satu)
kurun waktu tertentu menunjukkan kenaikan 50% (lima puluh persen)
atau lebih dibandingkan dengan angka kematian kasus suatu penyakit
periode sebelumnya dalam kurun waktu yang sama
Angka proporsi penyakit (Proportional Rate) penderita baru pada satu
periode menunjukkan kenaikan dua kali atau lebih dibanding satu periode
sebelumnya dalam kurun waktu yang sama
170. Insidens
Insiden digunakan untuk menentukan kejadian luar
biasa dan tingkat penyebaran penyakit.
Karena temuan kasus baru yang dini bisa mendeteksi
kemungkinan kejadian luar biasa pada hari-hari berikutnya
sehingga bila diketahui banyak terdapat kasus baru sebuah
penyakit maka puskesmas harus bersiap menghadapi dan
mencegah terjadinya kejadian luar biasa tersebut.
Prevalensi biasa digunakan untuk evaluasi pengobatan.
Misal: diketahui prevelensi panyakit tbc masih banyak
bisa dikatakan pengobatan tidak efektif sebab kasus
lama yang diharapkan sembuh masih saja ada.
.
Ryadi, Slamet dan T Wijayanti. 2011. Dasar-dasar epidemiologi.Salemba Medika. Jakarta.
171. Hazard
Hazard (bahaya) adalah sesuatu (potensi yang telah ada
dalam benda tersebut) yang dapat menyebabkan cedera
pada manusia atau kerusakan pada alat atau lingkungan.
Risk (resiko) didefinisikan sebagai peluang terpaparnya
seseorang atau alat pada suatu hazard (bahaya).
Danger: situasi dimana individu rentan terhadap bahaya

A hazard is a condition that presents a threat to an individual,


property, or the environment while danger is a situation where
an individual is put at risk or is susceptible to a possible hazard.

A hazard is usually used to refer to risky situations that are very


serious or life-threatening while danger is used in a more
general way to refer to risky situations that may cause slight or
serious damage.
Modern hazard: asap rokok, transportasi, polusi dari
industri, polusi udara luar, penyalahgunaan bahan-bahan
kimia, mesin-mesin industry, pola makan yang tidak
seimbang
Traditional hazard: vector penyakit, agen infeksius,
perumahan dan persinggahan yang tidak layak, sanitasi
dan higienitas air yang buruk, polusi udara dalam ruang
dari kegiatan memasak, malnutrisi, satwa liar dan
berbahaya, hama pertanian
Psychosocial hazard: stress, bully, kekerasan di tempat
kerja, pelecehan seksual
172. Relative Risk
Resiko Relatif dipergunakan untuk mengetahui besarnya
pengaruh faktor resiko terhadap kejadian suatu penyakit.
Relative Risk = IR terpapar / IR tidak terpapar.

Interpretasi
RR = 1 , faktor risiko bersifat netral; risiko kelompok
terpajan sama dengan kelompok tidak terpajan.
RR > 1 ; Confident Interval (CI) > 1 , faktor risiko
menyebabkan sakit
RR < 1 ; Confdient Interval (CI) < 1 , faktor risiko mencegah
sakit
Budiarto, 2004, Metodologi Penelitian Kedokteran, Sebuah Pengantar, Jakarta, EGC
173. Penyakit Akibat Kerja
Tujuh langkah diagnosis Penyakit Akibat Kerja (PAK):
1. Menentukan diagnosis klinis
2. Menentukan pajanan yang dialami individu tersebut
dalam pekerjaan: identifikasi semua pajanan, dilakukan
anamnesis pekerjaan yang lengkap, pengamatan
ditempat kerja dan mengkaji data sekunder yang ada
3. Menentukan apakah ada hubungan antara pajanan
dengan penyakit: berdasarkan bukti dan evidence based.
4. Menentukan apakah pajanan yang dialami cukup besar,
dilakukan secara kuantitatif dengan melihat data
pengukuran lingkungan dan masa kerja atau secara
kualitatif dengan mengamati cara kerja pekerja

Direktorat Bina Kesehatan Kerja. Pedoman Tata Laksana Penyakit Akibat Kerja bagi Petugas Kesehatan, Departemen Kesehatan,2008
Tujuh langkah diagnosis Penyakit
Akibat Kerja (PAK):
5. Menentukan apakah ada peranan faktor-faktor individu
itu sendiri
Hal-hal yang dapat mempercepat terjadinya penyakit
akibat kerja atau sebaliknya menurunkan kemungkinan
penyakit akibat hubungan kerja seperti faktor genetik atau
kebiasaan memakai alat pelindung yang baik
6. Menentukan apakah ada faktor lain diluar pekerjaan
Misalnya Kanker paru dapat disebabkan oleh asbes dan
bisa juga disebabkan oleh kebiasaan merokok
7. Menentukan diagnosis Penyakit Akibat Kerja
Apabila dapat dibuktikan bahwa paling sedikit ada satu
faktor pekerjaan yang berperan sebagai penyebab
penyakit dapat dikategorikan penyakit akibat kerja.
174. VeR kejahatan susila
Pemeriksaan terhadap dugaan korban
perkosaan
persetubuhan terhadap wanita tak berdaya
persetubuhan terhadap wanita belum cukup umur
Yang dapat ditentukan oleh dokter:
ada tidaknya persetubuhan (kapan?)
ada tidaknya tanda kekerasan
keadaan korban (tidak berdaya?)
perkiraan umur

Bagian Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Ilmu Kedokteran Forensik, Edisi Kedua. Jakarta : 1997
Menentukan Ada Tidaknya Persetubuhan

Persetubuhan adalah peristiwa di mana alat kelamin laki-laki masuk


ke dalam alat kelamin perempuan, sebagian atau seluruhnya.

Tanda pasti persetubuhan adalah adanya sperma dalam vagina.

Adanya robekan pada selaput dara bukanlah tanda pasti


persetubuhan, karena robekan pada selaput dara hanya
menunjukkan bahwa ada benda padat yang masuk ke dalam
kelamin perempuan.

Pada pelaku yang aspermia, pemeriksaan ditujukan untuk


mendeteksi adanya air mani dalam vagina.

Penerapan Ilmu Kedokteran Forensik dalam Proses Penyidikan. Abdul Muniem Idries. 2011.
Menentukan Adanya Tanda Kekerasan

Memeriksa apakah ada bekas luka


berdasarkan daerah yang terkena, berapa
perkiraan kekuatan kekerasan.

Bila tidak ditemukan luka, ada kemungkinan


dilakukan pembiusan sebelum kejahatan
seksual. Maka perlu dicari adanya racun serta
gejala racun tersebut pada korban.

Penerapan Ilmu Kedokteran Forensik dalam Proses Penyidikan. Abdul Muniem Idries. 2011.
Memperkirakan Umur

Dapat dilakukan dari pemeriksaan gigi geligi


atau pemeriksaan foto rontgen tulang.

Perkiraan umur diperlukan untuk menentukan


apakah korban dan/atau pelaku sudah dewasa
(21 tahun ke atas).

Penerapan Ilmu Kedokteran Forensik dalam Proses Penyidikan. Abdul Muniem Idries. 2011.
Menentukan Pantas Tidaknya Korban Untuk
Dikawin

Pengertian pantas tidaknya untuk dikawin


dinilai dari apakah korban telah siap untuk
dibuahi yang dimanifestasikan dengan sudah
mengalami menstruasi.

Penerapan Ilmu Kedokteran Forensik dalam Proses Penyidikan. Abdul Muniem Idries. 2011.
175. KKI
TUGAS, KKI mempunyai tugas (Pasal 7 Undang-undang Praktik
Kedokteran nomor 29 tahun 2004):
Melakukan registrasi dokter dan dokter gigi;
Mengesahkan standar pendidikan profesi dokter dan dokter gigi; dan
Melakukan pembinaan terhadap penyelenggaraan praktik kedokteran
yang dilaksanakan bersama lembaga terkait sesuai dengan fungsi masing-
masing.
FUNGSI
KKI mempunyai fungsi (Pasal 6 Undang-undang Praktik Kedokteran nomor
29 tahun 2004), yaitu fungsi pengaturan, pengesahan, penetapan, serta
pembinaan dokter dan dokter gigi yang menjalankan praktik kedokteran,
dalam rangka meningkatkan mutu pelayanan medis.
176. Pola Hubungan Dokter-Pasien
Priestly Model (paternalistik): Dokter dominan
Collegial Model : Dokter dan Pasien adalah
MITRA
Engineering Model : Pasien dominan

Djaja Surya Atmadja. Bagian Ilmu Kedokteran Forensik-Medikolegal. Fak. Kedokteran Univ. Indonesia.
177. Autonomy
Kriteria
1. Menghargai hak menentukan nasib sendiri, menghargai martabat pasien
2. Tidak mengintervensi pasien dalam membuat keputusan (kondisi elektif)
3. Berterus terang
4. Menghargai privasi
5. Menjaga rahasia pasien
6. Menghargai rasionalitas pasien
7. Melaksanakan informed consent
8. Membiarkan pasien dewasa dan kompeten mengambil keputusan sendiri
9. Tidak mengintervensi atau menghalangi otonomi pasien
10. Mencegah pihak lain mengintervensi pasien dalam mengambil keputusan
termasuk keluarga pasien sendiri
11. Sabar menunggu keputusan yang akan diambil pasien pada kasus non
emergensi
12. Tidak berbohong ke pasien meskipun demi kebaikan pasien
13. Menjaga hubungan (kontrak)
178. INFANTISIDA

Infanticide atau pembunuhan anak adalah


pembunuhan yang dilakukan oleh seorang ibu
dengan atau tanpa bantuan orang lain terhadap
bayinya pada saat dilahirkan atau beberapa saat
sesudah dilahirkan, oleh karena takut diketahui
orang lain bahwa ia telah melahirkan anak.

Pasal berkaitan infantisida: pasal 341-343 KUHP.


Pemeriksaan dalam kasus Infantisida

Hal-hal yang harus ditentukan atau yang perlu


dijelaskan dokter dalam pemeriksaannya adalah:
Berapa umur bayi dalam kandungan, apakah sudah
cukup bulan untuk dilahirkan.
Apakah bayi lahir hidup atau sudah mati saat
dilahirkan.
Bila bayi lahir hidup, berapa umur bayi sesudah lahir.
Apakah bayi sudah pernah dirawat.
Apakah penyebab kematian bayi.
Penentuan Usia Janin
Bayi dianggap cukup bulan jika: Panjang badan di atas 45
cm, berat badan 2500 3500 gram, lingkar kepala lebih
dari 34 cm.
Untuk menentukan umur bayi dalam kandungan, ada
rumus empiris yang dikemukakan oleh De Haas, yaitu
menentukan umur bayi dari panjang badan bayi.
Untuk bayi (janin) yang berumur di bawah 5 bulan, umur sama
dengan akar pangkat dua dari panjang badan. Jadi bila dalam
pemeriksaan didapati panjang bayi 20 cm, maka taksiran umur
bayi yaitu antara 4 sampai 5 bulan dalam kandungan atau lebih
kurang 20 22 minggu kehamilan.
Untuk janin yang berumur di atas 5 bulan, umur sama dengan
panjang badan (dalam cm) dibagi 5 atau panjang badan (dalam
inchi) dibagi 2.
Penentuan Usia Janin

Keadaan ujung-ujung jari: apakah kuku-kuku telah melewati ujung


jari seperti anak yang dilahirkan cukup bulan atau belum. Garis-
garis telapak tangan dan kaki dapat juga digunakan, karena pada
bayi prematur garis-garis tersebut masih sedikit.
Keadaan genitalia eksterna: bila telah terjadi descencus
testiculorum maka hal ini dapat diketahui dari terabanya testis pada
scrotum, demikian pula halnya dengan keadaan labia mayora
apakah telah menutupi labia minora atau belum; testis yang telah
turun serta labia mayora yang telah menutupi labia minora terdapat
pada anak yang dilahirkan cukup bulan dalam kandungan si-ibu.
Hal tersebut di atas dapat diketahui bila bayi segar, tetapi bila bayi
telah busuk, labia mayora akan terdorong keluar.
Penentuan Bayi Lahir Hidup/ Mati

Pemeriksaan luar: Pada bayi yang lahir hidup, pada pemeriksaan


luar tampak dada bulat seperti tong . biasanya tali pusat masih
melengket ke perut, berkilat dan licin. Kadang-kadang placenta juga
masih bersatu dengan tali pusat. Warna kulit bayi kemerahan.

Penentuan apakah seorang anak itu dilahirkan dalam keadaan


hidup atau mati, pada dasarnya adalah sebagai berikut:
Adanya udara di dalam paru-paru.
Adanya udara di dalam lambung dan usus,
Adanya udara di dalam liang telinga bagian tengah, dan
Adanya makanan di dalam lambung.

Penentuan pasti dengan tes apung paru.


Tes Apung Paru
Keluarkan paru-paru dengan mengangkatnya mulai dari trachea sekalian
dengan jantung dan timus. Kesemuanya ditaruh dalam baskom berisi air.
Bila terapung artinya paru-paru telah terisi udara pernafasan.

Untuk memeriksa lebih jauh, pisahkan paru-paru dari jantung dan timus,
dan kedua belah paru juga dipisahkan. Bila masih terapung, potong
masing-masing paru-paru menjadi 12 20 potongan-potongan kecil.
Bagian-bagian ini diapungkan lagi. Bagian kecil paru ini ditekan dipencet
dengan jari di bawah air. Bila telah bernafas, gelembung udara akan
terlihat dalam air. Bila masih mengapung, bagian kecil paru-paru ditaruh di
antara 2 lapis kertas dan dipijak dengan berat badan. Bila masih
mengapung, itu menunjukkan bayi telah bernafas. Sedangkan udara
pembusukan akan keluar dengan penekanan seperti ini, jadi ia akan
tenggelam.
Bayi Lahir Mati: Still birth vs Dead Born

Still birth, artinya dalam kandungan masih hidup, waktu dilahirkan


sudah mati. Ini mungkin disebabkan perjalanan kelahiran yang
lama, atau terjadi accidental strangulasi dimana tali pusat melilit
leher bayi waktu dilahirkan.

Dead born child, di sini bayi memang sudah mati dalam kandungan.
Bila kematian dalam kandungan telah lebih dari 2 3 hari akan
terjadi maserasi pada bayi. Ini terlihat dari tanda-tanda:
Bau mayat seperti susu asam.
Warna kulit kemerah-merahan.
Otot-otot lemas dan lembek.
Sendi-sendi lembek sehingga mudah dilakukan ekstensi dan fleksi.
Bila lebih lama didapati bulae berisi cairan serous encer dengan dasar
bullae berwarna kemerah-merahan.
Alat viseral lebih segar daripada kulit.
Paru-paru belum berkembang.
Ada/ Tidaknya Tanda Perawatan

Tidak adanya tanda perawatan adalah sbb:


Tubuh masih berlumuran darah,
Ari-ari (placenta), masih melekat dengan tali pusat dan
masih berhubungan dengan pusar (umbilicus),
Bila ari-ari tidak ada, maka ujung tali pusat tampak tidak
beraturan, hal ini dapat diketahui dengan meletakkan ujung
tali pusat tersebut ke permukaan air,
Adanya lemak bayi (vernix caseosa), pada daerah dahi serta
di daerah yang mengandung lipatan-lipatan kulit, seperti
daerah lipat ketiak, lipat paha dan bagian belakang bokong.
Hubungan umur bayi dengan pusat
penulangan:
Kalkaneus, umur bayi 5 6 bulan.
Talus, umur bayi 7 bulan.
Kuboid, umur bayi 9 bulan.
Distal femur, umur bayi 9 bulan.
Proksimal tibia, umur bayi 9 bulan.
179. Smothering
Pembekapan (smothering) adalah suatu suffocation dimana
lubang luar jalan napas yaitu hidung dan mulut tertutup secara
mekanis oleh benda padat atau partikel-partikel kecil.
Tersedak (chocking) adalah suatu suffocation dimana ada
benda padat yang masuk dan menyumbat lumen jalan udara.
Burking, pembunuhan dengan asfiksia traumatik (external
pressure of the chest), yakni menghalangi udara untuk masuk
dan keluar dari paru-paru akibat terhentinya gerak napas yang
disebabkan adanya suatu tekanan dari luar pada dada korban.
Muggling, strangulasi yang dilakukan dengan cara pelaku
berdiri di belakang korban dan menarik korban ke arah pelaku.

Idries AM. Pedoman Ilmu Kedokteran Forensik. Edisi I. Jakarta: Binarupa Aksara, 1997; p.131-168.
180. Luka Tembak
Dalam memberikan pendapat atau kesimpulan dalam
visum et repertum, tidak dibenarkan menggunakan
istilah pistol atau revolver; oleh karena perkataan pistol
mengandung pengertian bahwa senjatanya termasuk
otomatis atau semi otomatis, sedangkan revolver
berarti anak peluru berada dalam silinder yang akan
memutar jika tembakan dilepaskan.
Oleh karena dokter tidak melihat peristiwa
penembakannya, maka yang akan disampaikan adalah;
senjata api kaliber 0,38 engan alur ke kiri dan
sebagainya
Idries AM. Pedoman Ilmu Kedokteran Forensik. Edisi I. Jakarta:
Binarupa Aksara, 1997; p.131-168.
Luka Tembak Menempel Erat

Luka simetris di tiap sisi


Jejas laras jelas mengelilingi lubang luka
Tidak akan dijumpai kelim jelaga atau kelim
tattoo
Kelim pada Luka Tembak

Kelim tato: akibat butir mesiu; gambaran bintik-


bintik hitam bercampur perdarahan, tidak dapat
dihapus dengan kain.
Kelim jelaga: akibat asap; gambaran bintik-bintik
hitam yang dapat dihapus dengan kain.
Kelim api: akibat pembakaran dari senjata; luka
bakar terlihat dari kulit dan rambut di sekitar luka
yang terbakar.
Kelim lecet: akibat partikel logam; bentuknya luka
lecet atau luka terbuka yang dangkal
Luka Tembak Masuk vs Keluar

Luka tembak masuk: pada tubuh korban tersebut akan


didapatkan perubahan yang diakibatkan oleh berbagai
unsur atau komponen yang keluar dari laras senjata api
tersebut, seperti anak peluru, butir-butir mesiu yang
tidak terbakar atau sebagian terbakar, asap atau jelaga,
api, partikel logam, minyak pada anak peluru.

Luka tembak keluar: tidak adanya kelim lecet, kelim-


kelim lain juga tentu tidak ditemukan. Luka tembak
keluar pada umumnya lebih besar dari luka tembak
masuk.
181. KERACUNAN CO
Keracunan terjadi karena sel-sel darah merah mengikat karbon monoksida
lebih cepat dibandingkan dengan oksigen.
Sehingga jika ada banyak karbon monoksida di udara, tubuh akan
mengganti oksigen dengan karbon monoksida tersebut.
Oksigen dihambat oleh tubuh sehingga bisa merusak jaringan dan
menyebabkan kematian.
Diagnosis adanya keracunan CO pada korban hidup biasanya berdasarkan
anamnesa adanya kontak dan ditemukannya gejala keracunan CO.
Pada korban mati selama atau tidak lama setelah keracunan CO,
perubahan post-mortem yang utama adalah ditemukannya lebam mayat
berwarna merah muda terang (cherry red).
Selain itu juga, darah, jaringan, dan viscera seperti otak, jantung, dan
paru-paru, juga berwarna merah terang.
Warna tersebut tampak jelas bila kadar COHb mencapai 30% atau lebih.
Pemeriksaan Penunjang pada
Keracunan CO
Uji Alkali Dilusi (menggunakan larutan NaOH
10-20%):
Hasilnya: Darah normal segera berubah warna
menjadi merah hijau kecoklatan karena segera
terbentuk hematin alkali, sedangkan darah yang
mengandung COHb tidak berubah warnanya
untuk beberapa waktu, tergantung pada
konsentrasi COHb, karena COHb bersifat lebih
resisten terhadap pengaruh alkali.
Pemeriksaan Penunjang pada
Keracunan CO
Uji Formalin (menggunakan larutan formalin 40%)
Hasilnya: Bila darah mengandung COHb 25% saturasi maka akan
terbentuk koagulat berwarna merah yang mengendap pada dasar
tabung reaksi.
Semakin tinggi kadar COHb, semakin merah warna koagulatnya,
sedangkan pada darah normal akan terbentuk koagulat berwarna
coklat.
Sedangkan pada pemeriksaan organ juga dapat dilakukan uji
formalin dengan cara yang sama seperti pada pemeriksaan dengan
sample berupa darah. Organ yang bisa diambil untuk dijadikan
bahan pemeriksaan otak, jantung, paru, otot, organ tersebut
ditambahkan larutan formalin 40%. Hasil yang didapatkan adalah
bila keracunan CO maka organ yang diperiksa akan berwarna merah
terang bila ditambahkan dengan formalin40%
182. IDENTIFIKASI FORENSIK
Secara garis besar ada dua metode pemeriksaan, yaitu:
Identifikasi primer: identifikasi yang dapat berdiri sendiri tanpa perlu dibantu
oleh kriteria identifikasi lain. Teknik identifikasi primer yaitu :
Pemeriksaan DNA
Pemeriksaan sidik jari
Pemeriksaan gigi
Pada jenazah yang rusak/busuk untuk menjamin keakuratan dilakukan dua sampai tiga
metode pemeriksaan dengan hasil positif.

Identifikasi sekunder: Pemeriksaan dengan menggunakan data identifikasi


sekunder tidak dapat berdiri sendiri dan perlu didukung kriteria identifikasi
yang lain. Identifikasi sekunder terdiri atas cara sederhana dan cara ilmiah. Cara
sederhana yaitu melihat langsung ciri seseorang dengan memperhatikan
perhiasan, pakaian dan kartu identitas yang ditemukan. Cara ilmiah yaitu
melalui teknik keilmuan tertentu seperti pemeriksaan medis.
Cara Identifikasi Forensik
Pemeriksaan sidik jari: membandingkan gambaran sidik jari jenazah dengan
data sidik jari antemortem. Pemeriksaan sidik jari merupakan pemeriksaan yang
diakui paling tinggi akurasinya dalam penentuan identitas seseorang, oleh
karena tidak ada dua orang yang memiliki sidik jari yang sama.

Metode visual: dilakukan dengan cara keluarga/rekan memperhatikan korban


(terutama wajah). Oleh karena metode ini hanya efektif pada jenazah yang
masih utuh (belum membusuk), maka tingkat akurasi dari pemeriksaan ini
kurang baik.

Pemeriksaan dokumen: dilakukan dengan dokumen seperti kartu identitas (KTP,


SIM, kartu golongan darah, paspor dan lain-lain) yang kebetulan dijumpai dalam
saku pakaian yang dikenakan. Namun perlu diingat bahwa dalam kecelakaan
massal, dokumen yang terdapat dalam saku, tas atau dompet pada jenazah
belum tentu milik jenazah yang bersangkutan.
Cara Identifikasi Forensik
Pengamatan pakaian dan perhiasan: dilakukan dengan memeriksa pakaian dan
perhiasan yang dikenakan jenzah. Dari pemeriksaan ini dapat diketahui merek,
ukuran, inisial nama pemilik, badge, yang semuanya dapat membantu
identifikasi walaupun telah terjadi pembusukan pada jenazah.

Identifikasi medik: dilakukan dengan menggunakan data pemeriksaan fisik


secara keseluruhan, meliputi tinggi dan berat badan, jenis kelamin, warna
rambut, warna tirai mata, adanya luka bekas operasi, tato, cacat atau kelainan
khusus dan sebagainya. Metode ini memiliki akurasi yang tinggi, oleh karena
dilakukan oleh seorang ahli dengan menggunakan berbagai cara atau
modifikasi.

Pemeriksaan gigi: Pemeriksaan ini meliputi pencatatan data gigi yang dapat
dilakukan dengan menggunakan pemeriksaan manual, sinar x, cetakan gigi serta
rahang. Odontogram memuat data tentang jumlah, bentuk, susunan, tambalan,
protesa gigi dan sebagainya. Bentuk gigi dan rahang merupakan ciri khusus dari
seseorang.
Cara Identifikasi Forensik
Serologi: Pemeriksaan ini bertujuan untuk menentukan golongan darah
yang diambil baik dari tubuh korban atau pelaku, maupun bercak darah
yang terdapat di tempat kejadian perkara. Ada dua tipe orang dalam
menentukan golongan darah, yaitu:
Sekretor : golongan darah dapat ditentukan dari pemeriksaan darah, air
mani dan cairan tubuh.
Non-sekretor : golongan darah hanya dari dapat ditentukan dari
pemeriksaan darah

Metode eksklusi: digunakan pada identifikasi kecelakaan massal yang


melibatkan sejumlah orang yang dapat diketahui identitasnya. Bila
sebagian besar korban telah dipastikan identitasnya dengan
menggunakan metode identifikasi lain, sedangkan identitas sisa korban
tidak dapat ditentukan dengan metode tersebut di atas, maka sisa
diidentifikasi menurut daftar penumpang.
Cara Identifikasi Forensik
Identifikasi kerangka: bertujuan untuk membuktikan bahwa kerangka
tersebut adalah kerangka manusia, ras, jenis kelamin, perkiraan umur,
tinggi badan, ciri-ciri khusus, deformitas dan bila memungkinkan dapat
dilakukan rekonstruksi wajah. Kemudian dicari pula tanda kekerasan
pada tulang serta keadaan kekeringan tulang untuk memperkirakan
saat kematian.

Pemeriksaan molekuler: memanfaatkan pengetahuan kedokteran dan


biologi pada tingkatan molekul dan DNA. Pemeriksaan ini biasa
dilakukan untuk melengkapi dan menyempurnakan berbagai
pemeriksaan identifikasi personal pada kasus mayat tak dikenal, kasus
pembunuhan, perkosaan serta berbagai kasus ragu ayah (paternitas).
183. Hangmans Fracture
Fraktur vertebra servikal dapat menimbulkan kematian
pada penggantungan dengan mekanisme asfiksia atau
dekapitasi.
Kejadian ini biasa terjadi pada hukuman gantung atau
korban penggantungan yang dilepaskan dari tempat tinggi.
Sering terjadi fraktur atau cedera pada vertebra servikal 1
dan servikal 2 (aksis dan atlas) atau lebih dikenali sebagai
hangman fracture.
Fraktur atau dislokasi vertebra servikal akan menekan
medulla oblongata sehingga terjadi depresi pusat nafas dan
korban meninggal karena henti nafas.

Idries AM. Penggantungan. In: Idries AM, editor. Pedoman ilmu kedokteran forensik. Edisi 1. Jakarta: Binarupa Aksara; 1997. p 202-207.
184. Kasus Tenggelam
Tenggelam merupakan suatu proses yang
menghasilkan kegagalan respirasi akibat dari
terbenamnya, sebagian atau seluruh bagian
tubuh dalam media cair.
Meskipun tenggelam biasanya terjadi bila
seluruh tubuh terendam dalam air namun
tenggelam juga dapat terjadi ketika hanya
hidung dan mulut yang tertutup cairan.

Bagian Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Ilmu Kedokteran Forensik, Edisi Kedua. Jakarta : 1997
TIPE TENGGELAM
Tipe Kering (Dry drowning):
akibat dari reflek vagal yang dapat menyebabkan henti jantung
atau akibat dari spasme laring karena masuknya air secara tiba-
tiba kedalam hidung dan traktus respiratorius bagian atas.
Banyak terjadi pada anak-anak dan dewasa yang banyak
dibawah pengaruh obat-obatan (Hipnotik sedatif) atau alkohol
tidak adausaha penyelamatan diri saat tenggelam.

Tipe Basah (Wet drowning)


terjadi aspirasi cairan
Aspirasi air sampai paru menyebabkan vasokonstriksi pembuluh
darah paru. Air bergerak dengan cepat ke membran kapiler
alveoli. Surfaktan menjadi rusak sehingga menyebabkan
instabilitas alveoli, ateletaksis dan menurunnya kemampuan
paru untuk mengembang.
Tipe Tenggelam
Secondary drowning/near drowning
Korban masih hidup atau masih bisa diselamatkan
saat hampir tenggelam. Namun setelah dilakukan
resusitasi selama beberapa jam, akhirnya korban
meninggal.

Immersion syndrome
Korban meninggal tiba-tiba saat tenggelam pada air
yang sangat dingin
Akibat refleks vagal
Berdasarkan Lokasi Tenggelam
AIR TAWAR AIR LAUT
Air dengan cepat diserap Pertukaran elektrolit dari
dalam jumlah besar air asin ke darah
hemodilusi natrium plasma
hipervolemia dan meningkat air akan
hemolisis massif dari sel- ditarik dari sirkulasi
sel darah merah hipovolemia dan
kalium intrasel akan hemokonsentrasi
dilepas hiperkalemia hipoksia dan anoksia
fibrilasi ventrikel dan
anoksia yang hebat pada
miokardium.
Tanda Tenggelam
Tanda korban masih hidup saat tenggelam:
Ditemukannya tanda cadaveric spasme
Perdarahan pada liang telinga
Adanya benda asing (lumpur, pasir, tumbuhan dan binatang
air) pada saluran pernapasan dan pencernaan
Adanya bercak paltouf di permukaan paru
Berat jenis darah pada jantung kanan dan kiri berbeda
Ditemukan diatome
Adanya tanda asfiksia
Ditemukannya mushroom-like mass
5 Tanda Pasti Tenggelam
Terdapat tanda asfiksia
Diatome pada pemeriksaan getah paru
Bercak paltouf di permukaan paru
Berat jenis darah yang berbeda antara jantung
kiri dan kanan
Mushroom-like mass
Pemeriksaan Luar Korban Tenggelam
Mayat dalam keadaan basah berlumuran pasir dan benda-benda
asing lainnya yang terdapat di dalam air laut dan kadang-kadang
bercampur lumpur.

Busa halus putih yang berbentuk jamur (mush room-like mass).


Masuknya cairan kedalam saluran pernafasan merangsang terbentuknya
mukus, substansi ini ketika bercampur dengan air dan surfaktan dari paru-
paru dan terkocok oleh karena adanya upaya pernafasan yang hebat. Busa
dapat meluas sampai trakea, bronkus utama dan alveoli.

Cutis anserina pada ekstremitas akibat kontraksi otot erector pilli


yang dapat terjadi karena rangsangan dinginnya air.
Pemeriksaan Luar Korban Tenggelam
Washer woman hand. Telapak tangan dan kaki berwarna
keputihan dan berkeriput yang disebabkan karena inhibisi
cairan ke dalam cutis dan biasanya membutuhkan waktu yang
lama.
Cadaveric spasme. Merupakan tanda vital yang terjadi pada
waktu korban berusaha menyelamatkan diri., dengan cara
memegang apa saja yang terdapat dalam air.
Luka lecet akibat gesekan benda-benda dalam air.
Penurunan suhu mayat
Lebam mayat terutama pada kepala dan leher
Pemeriksaan Dalam Korban Tenggelam
Pemeriksaan terutama ditujukan pada sistem pernapasan, busa halus
putih dapat mengisi trakhea dan cabang-cabangnya, air juga dapat
ditemukan, demikian pula halnya dengan benda-benda asing yang ikut
terinhalasi bersama benda air.
Benda asing dalam trakhea dapat tampak secara makroskopis misalnya
pasir, lumpur, binatang air, tumbuhan air dan lain sebagainya; sedangkan
yang tampak secara mikroskopis diantaranya telur cacing dan diatome
(ganggang kersik).
Pleura dapat berwarna kemerahan dan terdapat bintik-bintik perdarahan.
Perdarahan ini dapat terjadi karena adanya kompresi terhadap septum
interalveoli, atau oleh karena terjadinya fase konvulsi akibat kekurangan
oksigen.
Bercak perdarahan yang besar (diameter 3-5 cm), terjadi karena robeknya
partisi inter alveolar, dan sering terlihat di bawah pleura; bercak ini
disebut sebagai bercak Paltauf.
Bercak berwarna biru kemerahan dan banyak terlihat pada bagian bawah
paru-paru, yaitu pada permukaan anterior dan permukaan antar bagian
paru-paru.
Pemeriksaan Dalam Korban Tenggelam
Kongesti pada laring
Emphysema aquosum atau emphysema
hyroaerique yaitu paru-paru tampak pucat
dengan diselingi bercak-bercak merah di antara
daerah yang berwarna kelabu;
Obstruksi pada sirkulasi paru-paru akan
menyebabkan distensi jantung kanan dan
pembuluh vena besar dan keduanya penuh berisi
darah yang merah gelap dan cair, tidak ada
bekuan.
185. GANTUNG DIRI VS PEMBUNUHAN
NO PENGGANTUNGAN PADA BUNUH DIRI PENGGANTUNGAN PADA PEMBUNUHAN

Usia. Gantung diri lebih sering terjadi pada


Tidak mengenal batas usia, karena tindakan
remaja dan orang dewasa. Anak-anak di bawah
1 pembunuhan dilakukan oleh musuh atau lawan dari
usia 10 tahun atau orang dewasa di atas usia 50
korban dan tidak bergantung pada usia
tahun jarang melakukan gantung diri

Tanda jejas jeratan, berupa lingkaran tidak terputus,


Tanda jejas jeratan, bentuknya miring, berupa
mendatar, dan letaknya di bagian tengah leher,
2 lingkaran terputus (non-continuous) dan
karena usaha pelaku pembunuhan untuk membuat
terletak pada bagian atas leher
simpul tali

Simpul tali, biasanya hanya satu simpul yang Simpul tali biasanya lebih dari satu pada bagian
3
letaknya pada bagian samping leher depan leher dan simpul tali tersebut terikat kuat

Riwayat korban. Biasanya korban mempunyai


Sebelumnya korban tidak mempunyai riwayat untuk
4 riwayat untuk mencoba bunuh diri dengan cara
bunuh diri
lain

Cedera. Luka-luka pada tubuh korban yang bisa


Cedera berupa luka-luka pada tubuh korban
5 menyebabkan kematian mendadak tidak
biasanya mengarah kepada pembunuhan
ditemukan pada kasus bunuh diri
GANTUNG DIRI VS PEMBUNUHAN
NO PENGGANTUNGAN PADA BUNUH DIRI PENGGANTUNGAN PADA PEMBUNUHAN

Racun. Adanya racun dalam lambung korban,


Terdapatnya racun berupa asam opium hidrosianat atau kalium
misalnya arsen, sublimat korosif, dll tidak
sianida tidak sesuai pada kasus pembunuhan, karena untuk hal ini
6 bertentangan dengan kasus gantung diri. Rasa
perlu waktu dan kemauan dari korban itu sendiri. Dengan demikian
nyeri yang disebabkan racun tersebut mungkin
maka kasus penggantungan tersebut adalah karena bunuh diri
mendorong korban untuk gantung diri

Tangan tidak dalam keadaan terikat, karena sulit Tangan yang dalam keadaan terikat mengarahkan dugaan pada
7
untuk gantung diri dalam keadaan tangan terikat kasus pembunuhan

Kemudahan. Pada kasus bunuhdiri, biasanya


tergantung pada tempat yang mudah dicapai Pada kasus pembunuhan, mayat ditemukan tergantung pada
8 oleh korban atau di sekitarnya ditemukan alat tempat yang sulit dicapai oleh korban dan alat yang digunakan
yang digunakan untuk mencapai tempat untuk mencapai tempat tersebut tidak ditemukan
tersebut

Tempat kejadian. Jika kejadian berlangsung di


dalam kamar, dimana pintu, jendela ditemukan
Tempat kejadian. Bila sebaliknya pada ruangan ditemukan terkunci
9 dalam keadaan tertutup dan terkunci dari
dari luar, maka penggantungan adalah kasus pembunuhan
dalam, maka kasusnya pasti merupakan bunuh
diri

Tanda-tanda perlawanan, tidak ditemukan pada Tanda-tanda perlawanan hampir selalu ada kecuali jika korban
10
kasus gantung diri sedang tidur, tidak sadar atau masih anak-anak.
PENGGANTUNGAN ANTEMORTEM VS POSTMORTEM
NO PENGGANTUNGAN ANTEMORTEM PENGGANTUNGAN POSTMORTEM

Tanda-tanda penggantungan ante-mortem


Tanda-tanda post-mortem menunjukkan kematian
1 bervariasi. Tergantung dari cara kematian
yang bukan disebabkan penggantungan
korban

Tanda jejas jeratan miring, berupa lingkaran Tanda jejas jeratan biasanya berbentuk lingkaran utuh
2 terputus (non-continuous) dan letaknya pada (continuous), agak sirkuler dan letaknya pada bagian
leher bagian atas leher tidak begitu tinggi

Simpul tali biasanya tunggal, terdapat pada Simpul tali biasanya lebih dari satu, diikatkan dengan
3
sisi leher kuat dan diletakkan pada bagian depan leher

Ekimosis pada salah satu sisi jejas penjeratan tidak


Ekimosis tampak jelas pada salah satu sisi
ada atau tidak jelas. Lebam mayat terdapat pada
4 dari jejas penjeratan. Lebam mayat tampak
bagian tubuh yang menggantung sesuai dengan posisi
di atas jejas jerat dan pada tungkai bawah
mayat setelah meninggal

Pada kulit di tempat jejas penjeratan teraba


5 seperti perabaan kertas perkamen, yaitu Tanda parchmentisasi tidak ada atau tidak begitu jelas
tanda parchmentisasi
PENGGANTUNGAN ANTEMORTEM VS POSTMORTEM
NO PENGGANTUNGAN ANTEMORTEM PENGGANTUNGAN POSTMORTEM

Sianosis pada wajah, bibir, telinga, dan lain-


Sianosis pada bagian wajah, bibir, telinga dan lain-lain
6 lain sangat jelas terlihat terutama jika
tergantung dari penyebab kematian
kematian karena asfiksia

Wajah membengkak dan mata mengalami


Tanda-tanda pada wajah dan mata tidak terdapat,
kongesti dan agak menonjol, disertai dengan
7 kecuali jika penyebab kematian adalah pencekikan
gambaran pembuluh dara vena yang jelas
(strangulasi) atau sufokasi
pada bagian dahi

Lidah tidak terjulur kecuali pada kasus kematian


8 Lidah bisa terjulur atau tidak sama sekali
akibat pencekikan
Penis. Ereksi penis disertai dengan keluarnya
cairan sperma sering terjadi pada korban pria. Penis. Ereksi penis dan cairan sperma tidak
9
Demikian juga sering ditemukan keluarnya ada.Pengeluaran feses juga tidak ada
feses

Air liur. Ditemukan menetes dari sudut mulut,


dengan arah yang vertikal menuju dada. Hal Air liur tidak ditemukan yang menetes pad kasus
10
ini merupakan pertanda pasti penggantungan selain kasus penggantungan.
ante-mortem
186. Tanda Tenggelam
Tanda korban masih hidup saat tenggelam:
Ditemukannya tanda cadaveric spasme
Perdarahan pada liang telinga
Adanya benda asing (lumpur, pasir, tumbuhan dan binatang
air) pada saluran pernapasan dan pencernaan
Adanya bercak paltouf di permukaan paru
Berat jenis darah pada jantung kanan dan kiri berbeda
Ditemukan diatome
Adanya tanda asfiksia
Ditemukannya mushroom-like mass
5 Tanda Pasti Tenggelam
Terdapat tanda asfiksia
Diatome pada pemeriksaan getah paru
Bercak paltouf di permukaan paru
Berat jenis darah yang berbeda antara jantung
kiri dan kanan
Mushroom-like mass
Pemeriksaan Luar Korban Tenggelam
Mayat dalam keadaan basah berlumuran pasir dan benda-benda
asing lainnya yang terdapat di dalam air laut dan kadang-kadang
bercampur lumpur.

Busa halus putih yang berbentuk jamur (mush room-like mass).


Masuknya cairan kedalam saluran pernafasan merangsang terbentuknya
mukus, substansi ini ketika bercampur dengan air dan surfaktan dari paru-
paru dan terkocok oleh karena adanya upaya pernafasan yang hebat. Busa
dapat meluas sampai trakea, bronkus utama dan alveoli.

Cutis anserina pada ekstremitas akibat kontraksi otot erector pilli


yang dapat terjadi karena rangsangan dinginnya air.
Pemeriksaan Luar Korban Tenggelam
Washer woman hand. Telapak tangan dan kaki berwarna
keputihan dan berkeriput yang disebabkan karena inhibisi
cairan ke dalam cutis dan biasanya membutuhkan waktu yang
lama.
Cadaveric spasme. Merupakan tanda vital yang terjadi pada
waktu korban berusaha menyelamatkan diri., dengan cara
memegang apa saja yang terdapat dalam air.
Luka lecet akibat gesekan benda-benda dalam air.
Penurunan suhu mayat
Lebam mayat terutama pada kepala dan leher
Pemeriksaan Dalam Korban Tenggelam
Pemeriksaan terutama ditujukan pada sistem pernapasan, busa halus
putih dapat mengisi trakhea dan cabang-cabangnya, air juga dapat
ditemukan, demikian pula halnya dengan benda-benda asing yang ikut
terinhalasi bersama benda air.
Benda asing dalam trakhea dapat tampak secara makroskopis misalnya
pasir, lumpur, binatang air, tumbuhan air dan lain sebagainya; sedangkan
yang tampak secara mikroskopis diantaranya telur cacing dan diatome
(ganggang kersik).
Pleura dapat berwarna kemerahan dan terdapat bintik-bintik perdarahan.
Perdarahan ini dapat terjadi karena adanya kompresi terhadap septum
interalveoli, atau oleh karena terjadinya fase konvulsi akibat kekurangan
oksigen.
Bercak perdarahan yang besar (diameter 3-5 cm), terjadi karena robeknya
partisi inter alveolar, dan sering terlihat di bawah pleura; bercak ini
disebut sebagai bercak Paltauf.
Bercak berwarna biru kemerahan dan banyak terlihat pada bagian bawah
paru-paru, yaitu pada permukaan anterior dan permukaan antar bagian
paru-paru.
Pemeriksaan Dalam Korban Tenggelam
Kongesti pada laring
Emphysema aquosum atau emphysema
hyroaerique yaitu paru-paru tampak pucat
dengan diselingi bercak-bercak merah di antara
daerah yang berwarna kelabu;
Obstruksi pada sirkulasi paru-paru akan
menyebabkan distensi jantung kanan dan
pembuluh vena besar dan keduanya penuh berisi
darah yang merah gelap dan cair, tidak ada
bekuan.
Pemeriksaan Konfirmasi Kasus Tenggelam

Terdapat pemeriksaan khusus pada kasus mati


tenggelam (drowning), yaitu :
Percobaan getah paru (lonset proef)
Pemeriksaan diatome (destruction test)
Pemeriksaan kimia darah (gettler test & Durlacher
test).
Tes getah paru (lonset proef)
Kegunaan melakukan percobaan paru (lonsef proef)
yaitu mencari benda asing (pasir, lumpur, tumbuhan,
telur cacing) dalam getah paru-paru mayat.
Syarat melakukannya adalah paru-paru mayat
harus segar / belum membusuk.
Cara melakukan percobaan getah paru (lonsef proef)
yaitu permukaan paru-paru dikerok (2-3 kali) dengan
menggunakan pisau bersih lalu dicuci dan iris
permukaan paru-paru. Kemudian teteskan diatas objek
gelas. Syarat sediaan harus sedikit mengandung
eritrosit.
Tes Diatom
TES DIATOM 4 CARA PEMERIKSAAN DIATOM:
Diatom adalah alga atau ganggang Pemeriksaan mikroskopik langsung.
bersel satu dengan dinding terdiri Pemeriksaan permukaan paru disiram
dari silikat (SiO2) yang tahan panas dengan air bersih iris bagian perifer
dan asam kuat. ambil sedikit cairan perasan dari
jaringan perifer paru, taruh pada
Bila seseorang mati karena gelas objek tutup dengan kaca
tenggelam maka cairan bersama penutup. Lihat dengan mikroskop.
diatome akan masuk ke dalam
saluran pernafasan atau pencernaan Pemeriksaan mikroskopik jaringan
kemudian diatome akan masuk dengan metode Weinig dan Pfanz.
kedalam aliran darah melalui
kerusakan dinding kapiler pada waktu
korban masih hidup dan tersebar Chemical digestion. Jaringan
keseluruh jaringan. dihancurkan dengan menggunakan
asam kuat sehingga diharapkan
diatom dapat terpisah dari jaringan
tersebut.

Inseneration. Bahan organik


dihancurkan dengan pemanasan
dalam oven.
Tes Kimia Darah
TEST KIMIA DARAH Test Gettler: Menunjukan
Mengetahui ada tidaknya adanya perbedaan kadar
hemodilusi atau klorida dari darah yang diambil
hemokonsentrasi pada dari jantung kanan dan
masing-masing sisi dari jantung kiri. Pada korban
jantung, dengan cara tenggelam di air laut kadar
memeriksa gaya berat spesifik klorida darah pada jantung kiri
dari kadar elektrolit antara lain lebih tinggi dari jantung
kadar sodium atau clorida dari kanan.Pada korban tenggelam
serum masing-masing sisi. di air tawar, hal sebaliknya
yang terjadi.
Dianggap reliable jika
dilakukan dalam waktu 24 jam Tes Durlacher: Penentuan
setelah kematian perbedaan berat plasma
jantung kanan dan kiri. Pada
semua kasus tenggelam berat
jenis plasma jantung kiri lebih
tinggi daripada jantung kanan .
187. Komplikasi OMA
Komplikasi otitis media menurut Shambough:
Komplikasi intratemporal
Perforasi membran timpani
Mastoiditis akut
Paresis nervus fasialis
Labirinitis
petrositis
Komplikasi ekstratemporal
Abses subperiosteal
Komplikasi intrakranial
Abses otak
Tromboflebitis
Hidrosefalus otikus
Empiema subdura
Abses subdura/ekstradura
188. Jenis Bising
Steady state:
Kualitas & intensitas konstant (variasi kurang dari 5 dB

Fluctuating
Intensitas naik turun lebih dari 5 dB

Intermittent
Ada masa berhenti. Dibedakan dengan impulsive dari durasinya yang
lebih lama.
Dipilih intermiten karena bising di bandara tidak terus menerus.

Impulsive
Durasi kurang dari 500 ms dengan intensitas minimal 40 dB
189. Penyakit Laring
Diagnosis Karakteristik
Polip pita suara Penyebab: inflamasi kronik. Polip bertangkai, unilateral. Di
sepertiga anterior/medial/seluruhnya. Dapat terjadi di segala
usia, umumnya dewasa. Gejala: parau. Jenis: polip mukoid
(keabu-abuan & jernih) & polip angiomatosa (merah tua).
Papilloma laring Tumbuh pada pita suara anterior atau subglottik. Seperti buah
murbei, putih kelabu/kemerahan. Sangat rapuh, tidak
berdarah, & sering rekuren.
Gejala: parau, kadang batuk, sesak napas. Terapi: ekstirpasi.
Laringitis Gejala umum: demam, malaise. Gejala lokal: suara parau,
afoni, nyeri ketika menelan atau berbicara, gejala sumbatan
laring. Batuk kering atau kemudian berdahak.
PF: mukosa laring hiperemis, edema terutama di atas & di
bawah pita suara, biasanya juga ada tanda radang di hidung
atau sinus paranasal atau paru.
Nodul pita suara Penyebab: penyalahgunaan suara dalam waktu lama. Suara
parau. Laringoskopi: nodul kecil berwarna keputihan,
umumnya bilateral, di sepertiga anterior/medial.
Buku Ajar THT-KL FKUI; 2007.
Penyakit Laring

Papillomatosis

Vocal nodules
Vocal cord polyp

Laringitis
Diagnostic handbook of otorhinolaryngology.
190. Benda Asing
Plain radiographs are indicated for every patient with a
known or suspected radiopaque foreign body in the
oropharynx, esophagus, stomach, or small intestine.

In one study, CT scanning was superior to plain


radiographs for localization and identification of
foreign bodies in 83-100% of cases.

CT scanning is considered the imaging modality of


choice to locate nonradiopaque foreign objects in the
oropharynx or esophagus.
191. Otitis Media

Buku Ajar THT-KL FKUI; 2007.


Otitis Media
Otitis Media Akut
Etiologi:
Streptococcus pneumoniae 35%,
Haemophilus influenzae 25%,
Moraxella catarrhalis 15%.
Perjalanan penyakit otitis media akut:
1. Oklusi tuba: membran timpani retraksi atau suram.
2. Hiperemik/presupurasi: hiperemis & edema.
3. Supurasi: nyeri, demam, eksudat di telinga tengah, membran
timpani membonjol.
4. Perforasi: ruptur membran timpani, demam berkurang.
5. Resolusi: Jika tidak ada perforasi membran timpani kembali
normal. Jika perforasi sekret berkurang.
1) Lecture notes on diseases of the ear, nose, and throat. 2) Buku Ajar THT-KL FKUI; 2007.
Otitis Media
Otitis Media Akut
Th:
Oklusi tuba: dekongestan topikal
(ephedrin HCl) Hyperaemic stage
Presupurasi: AB minimal 7 hari
(ampicylin/amoxcylin/
erythromicin) & analgesik.
Supurasi: AB, miringotomi.
Perforasi: ear wash H2O2 3% & AB.
Resolusi: jika sekret tidak
berhenti AB dilanjutkan hingga 3
minggu.
Suppuration stage
1) Diagnostic handbook of otorhinolaryngology. 2) Buku Ajar THT-KL FKUI; 2007.
OTITIS MEDIA
Otitis media supuratif kronik
Infeksi kronik dengan sekresi persisten/ hilang
timbul (> 2 bulan) melalui membran timpani
yang tidak intak.
Mekanisme perforasi kronik mengakibatkan
infeksi persisten:
Kontaminasi bakteri ke telinga tengah secara
langsung melalui celah
Tidak adanya membran timpani yang intak
menghilangkan efek "gas cushion" yang
normalnya mencegah refluks sekresi nasofaring.
Petunjuk diagnostik:
Otorea rekuren/kronik
Penurunan pendengaran
Perforasi membran timpani

1) Lecture notes on diseases of the ear, nose, & throat. 2) Buku Ajar THT-KL FKUI; 2007.
192. Otomikosis

Tatalaksana
Asam asetat 2% dalam alkohol atau povidon iodine 5%
atau antifungal topikal (nistatin/clotrimazol)
Menner, a pocket guide to the ear. Thieme; 2003.
Diagnostic handbook of otorhinolaryngology.
Buku Ajar THT-KL FKUI; 2007.
193. Otitis Media Supuratif Kronik
Chronic suppurative otitis media
Classification:

Benign/mucosal type:
Not involving bone.
Perforation type: central. Large central perforation
Th: ear wash with H2O2 3% for 3-5
days, ear drops AB & steroid,
systemic AB

Malignant/bony type:
Involving bone or cholesteatoma.
Perforation type: marginal or attic.
Th: mastoidectomy.
Cholesteatoma at attic
1) Diagnostic handbook of otorhinolaryngology. 2) Buku Ajar THT-KL FKUI; 2007.
type perforation
Otitis Media Supuratif Kronik
Tanda dini OMSK tipe maligna:
Adanya perforasi marginal atau atik,
Tanda lanjut
abses atau fistel aurikular,
polip atau jaringan granulasi di liang telinga luar yang
berasal dari dalam telinga tengah,
terlihat kolesteatoma pada telinga tengah (sering
terlihat di epitimpanum),
sekret berbentuk nanah & berbau khas,
terlihat bayangan kolesteatoma pada foto mastoid.
194. Abses Leher Dalam
Peritonsillar abscess
Inadequately treated tonsillitis spread of infection pus formation between the
tonsil bed & tonsillar capsule

Symptoms & Signs


Quite severe pain with referred otalgia
Odynophagia & dysphagia drooling
Irritation of pterygoid musculature by pus & inflammation trismus
unilateral swelling of the palate & anterior pillar displace the tonsil downward & medially
uvula toward the opposite side

Therapy
Needle aspiration: if pus (-) cellulitis antibiotic. If pus (+) abscess .
If pus is found on needle aspirate, pus is drained as much as possible.
Abses Leher Dalam
Diagnosis Clinical Features

Abses peritonsil Odynophagia, otalgia, vomit, foetor ex ore, hypersalivation, hot


potato voice, & sometimes trismus.

Abses parafaring 1.Trismus, 2. Angle mandible swelling, 3. Medial displacement of


lateral pharyngeal wall.

Abses Retrofaring In children: irritability,neck rigidity, fever,drolling,muffle cry,


airway compromise
In adult: fever, sore throat, odynophagia, neck tenderness,
dysnea
Submandibular Fever, neck pain, swelling below the mandible or tongue. Trismus
abscess often found. If spreading fast bilateral, cellulitis ludwig
angina
Ludwig/ludovici Swelling bilaterally, hypersalivation, airway obstrution caused by
angina retracted tongue, odynophagia, trismus, no purulence (no time
to develop)
1) Menner, a pocket guide to the ear. Thieme; 2003. 2) Buku Ajar THT-KL FKUI; 2007. 3) Cummings otolaryngology. 4th ed. Mosby; 2005.
195. Serumen Plug
Metode ekstraksi serumen disesuaikan
dengan konsistensinya:
Lembek: dengan lilitan kapas
Keras: dengan pengait atau kuret. Bila tidak
berhasil, dilunakkan dulu dengan tetes
karbogliserin 10% selama 3 hari.
196. Noise Induced hearing Loss
Sensory hearing loss results from deterioration of the structures within
the cochlea, usually owing to the loss of hair cells from the organ of Corti.

The National Institute for Occupational Safety and Health (NIOSH)


has recommended that all worker exposures to noise should be controlled
below a level equivalent to 85 dBA for eight hours to minimize
occupational noise induced hearing loss.

*Pilihan jawaban A
yang paling
mendekati benar

Current diagnosis & treatment in otorhinolaryngology.


197. Rinitis
Diagnosis Karakteristik
Rinitis alergi Riwayat atopi. Gejala: bersin, gatal, rinorea, kongesti. Tanda: mukosa
edema, basah, pucat atau livid, sekret banyak.

Rinitis Gejala: hidung tersumbar dipengaruhi posisi, rinorea, bersin.


vasomotor Pemicu: asap/rokok, pedas, dingin, perubahan suhu, lelah, stres.
Tanda: mukosa edema, konka hipertrofi merah gelap.
Rinitis hipertrofi Hipertrofi konka inferior karena inflamasi kronis yang disebabkan
oleh infeksi bakteri, atau dapat juga akrena rinitis alergi & vasomotor.
Gejala: hidung tersumbat, mulut kering, sakit kepala. Sekret banyak
& mukopurulen.
Rinitis atrofi / Disebabkan Klesiella ozaena atau stafilokok, streptokok, P. Aeruginosa
ozaena pada pasien ekonomi/higiene kurang. Sekret hijau kental, napas bau,
hidung tersumbat, hiposmia, sefalgia. Rinoskopi: atrofi konka media
& inferior, sekret & krusta hijau.
Rinitis Hidung tersumbat yang memburuk terkait penggunaan
medikamentosa vasokonstriktor topikal. Perubahan: vasodilatasi, stroma
edema,hipersekresi mukus. Rinoskopi: edema/hipertrofi konka
dengan sekret hidung yang berlebihan.
Buku Ajar THT-KL FKUI; 2007.
198. Reaksi Hipersensitivitas
Type Prototype Disorder Immune Mechanisms Pathologic Lesions
Vascular dilation, edema,
Anaphylaxis; Production of IgE antibody immediate
smooth muscle
allergies; bronchial release of vasoactive amines and other
Tipe I Immediate contraction, mucus
asthma (atopic mediators from mast cells; recruitment of
production,
forms) inflammatory cells (late-phase reaction)
inflammation

Autoimmune Production of IgG, IgM binds to antigen


Antibody- hemolytic anemia; on target cell or tissue phagocytosis or
Tipe II Cell lysis; inflammation
mediated Goodpasture lysis of target cell by activated complement
syndrome or Fc receptors; recruitment of leukocytes

Systemic lupus
Deposition of antigen-antibody complexes
erythematosus;
Immune complement activation recruitment Necrotizing vasculitis
Tipe some forms of
complex of leukocytes by complement products and (fibrinoid necrosis);
III glomerulonephritis;
mediated Fc receptors release of enzymes and inflammation
serum sickness;
other toxic molecules
Arthus reaction
Contact dermatitis;
multiple sclerosis; Perivascular cellular
Cell- Activated T lymphocytes i) release of
Tipe type I, diabetes; infiltrates; edema; cell
mediated cytokines and macrophage activation; ii) T
IV transplant destruction; granuloma
(delayed) cell-mediated cytotoxicity
rejection; formation
tuberculosis
Sources: Robbins & Cotrans Pathologic Basis of Disease. 7th ed. 2005.
Fase Dini/ Initial Response
Terjadi beberapa menit setelah terpapar alergen yang sama untuk kedua
kalinya
puncaknya 15-20 menit pasca paparan
berakhir 60 menit kemudian

REAKSI HIPERSENSITIFITAS TIPE I

Fase Lanjut/ Late Phase Reaction


Disebabkan akumulasi dan infiltrasi eosinofil, neutrofil, basofil, limfosit
dan makrofag sehingga terjadi inflamasi
berlangsung 4-8 jam, dapat menetap beberapa hari
Tipe I (IgE-Mediated type)
Table 6-3. Summary of the Action of Mast Cell Mediators in
Immediate (Type I) Hypersensitivity
Action Mediator
Vasodilation, increased Histamine
vascular permeability PAF
Leukotrienes C4, D4, E4
Neutral proteases that activate complement
and kinins
Prostaglandin D2
Smooth muscle spasm Leukotrienes C4, D4, E4
Histamine
Prostaglandins
PAF
Cellular infiltration Cytokines, e.g., TNF
Leukotriene B4
Eosinophil and neutrophil chemotactic
factors (not defined biochemically)
PAF
199. Rhinitis alergi
Rhinitis alergi adalah penyakit inflamasi yang
disebabkan oleh reaksi alergi pada pasien atopi yang
sebelumnya sudah tersensitisasi dengan alergen yang
sama serta dilepaskannya suatu mediator kimia ketika
terjadi paparan berulang.
Klasifikasi rhinitis alergi:
Rhinitis alergi musiman (seasonal): hanya dikenal di
negara dengan 4 musim, alergennya tepungsari dan spora
jamur
Rhinitis sepanjang tahun(perenial): terjadi sepanjang
tahun baik intermitten atau terus menerus. Penyebabnya
adalah alergen inhalan.

Buku ajar ilmu THTK&L FKUI edisi keenam


Rhinitis alergi
Keluhan: serangan bersin berulang, rinore, hidung
tersumbat, mata lakrimasi.
Pemeriksaan fisik:
Pada rhinoskopi anterior: mukosa edema, basah,
pucat/livid
Allergic shiner: bayangan gelap dibawah mata akibat stasis
vena
Allergic salute: anak menggosok-gosok hidung dengan
punggung tangan karena gatal
Allergic crease: penggosokan hidung berulang akan
menyebabkan timbulnya garis di dorsum nasi sepertiga
bawah.
Rhinitis alergi
Rinitis Alergi

Allergic rhinitis management pocket reference 2008


Rinitis Alergi
200. Mastoiditis
Acute mastoiditis
the result of extension of acute otitis media into the mastoid air cells with
suppuration & bone necrosis.
Symptoms:
Pain, otorrhoea (usually creamy & profuse), increasing deafness.
Signs:
fever, tenderness over mastoid antrum, swelling in the postauricular region,
pinna is pushed down & forward, the tympanic membrane is either perforated
and the ear discharging, or it is red and bulging.
Investigation: CT scanning shows opacity & air cell coalescence.
Treatment:
Antibiotics IV. If the organism is not known and there is no pus to culture, start
amoxycillin & metronidazole immediately.
Cortical mastoidectomy. If there is a subperiosteal abscess or if the response
to antibiotics is not rapid and complete, cortical mastoidectomy must be
performed.
Lecture notes on diseases of the ear, nose, and throat.
Mastoiditis
As the infection progresses, edema and erythema of the
postauricular soft tissues with loss of the postauricular crease
develop anteroinferior displacement of the pinna.

If a subperiosteal abscess has developed, fluctuance may be


elicited in the postauricular area.

Rarely, a mastoid abscess can extend into the neck (Bezold's


abscess) or the occipital bone (Citelli abscess).

CT scan provides information about the extent of the


opacification of the mastoid air cells, the formation of
subperiosteal abscess, & the presence of intracranial
complications.

Current diagnosis & treatment in otorhinolaryngology.