Anda di halaman 1dari 19

TUGAS

SEJARAH PERADABAN ISLAM

Oleh:

ASYARI

DIEN AKBAR

UNIVERSITAS ISLAM JAKARTA


PROGRAM PASCA SARJANA
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN ISLAM DAN PEMIKIRAN ISLAM
2016
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Pendiri kerajaan ini adalah bangsa Turki dari Kabilah Oghuz / Ughuj yang mendiami
daerah Mongol dan daerah Utara Negeri Cina. Pada Abad ke-13 M, saat Chengis Khan mengusir
orang-orang Turki dari Khurasan dan sekitarnya. Kakeknya Usman, yang bernama Sulaiman
bersama pengikutnya bermukim di Asia kecil. Dari perjalanan tersebut Sulaiman, ia tenggelam
ketika menyemberangi sungai Efrat (dekat Allepo). Sulaiman mempunyai empat saudara yang
bernama, Shunkur, Gundogdur, al-Thugril dan Dundar. Dua puteranya kembali ke tanah air
mereka. Sementara yang kedua terakhir bermukim di Asia kecil. Di sana mereka di bawah
pimpinan Sultan Alauddin di Kunia. Saat Mongol menyerang sultan Alauddin di Anggara (kini
Angkara), al-Thugril membantu mengusir Mongol, sehingga berkat jasanya itu, Alauddin
memberikan daerah Iski Shahr dan sekitarnya. Al-Thugril atau Ertughril, mendirikan ibukota
bernama Sungut, di sana lahir anak pertama bernama Usman pad 1258 M. Al-Thugril meninggal
pada 1288 M. dan ia mendeklarasikan dirinya sebagai Sultan, maka sejak itulah berdiri Dinasti
Turki Usman

Puncak kemegahannya dari tahun 1520-1566 M, dibawah pemerintahan Sulaiman I.


Namun, akhirnya juga lumpuh pada abad ke-19. Tetapi, berkat ketekunan para pembaharu dan
para tokoh-tokoh, negara itu dapat bangkit kembali dengan mengadakan beberapa frase
pembaharuan pada masa Sultan Mahmud II, Tanzimat, Usman Muda, dan Turki Muda.

B. Pokok Bahasan

1. Bagaimanakah asal mula Kerajaan Dinasti Usmani?


2. Apa saja perkembangan yang dilakukan pada masa Kerajaan Turki Usmani?
3. Apa saja pembaharuan-pembaharuan yang dilakukan pada masa Kerajaan Turki
Usmani?
4. Apakah yang menyebabkan Kerajaan Turki Usmani Mengalami Kemunduran?

PEMBAHASAN

A. Asal Mula Kerajaan Turki Usmani


Kerajaan Turki Usmani muncul di pentas sejarah Islam pada periode pertengahan. Masa
kemajuan Dinasti ini dihitung dari mulai digerakkannya ekspansi ke wilayah baru yang belum
ditundukkan oleh pendahulu mereka. keberhasilan mereka dalam memperluas wilayah
kekuasaan serta terjadinya peristiwa-peristiwa penting merupakan suatu indikasi yang dapat
dijadikan ukuran untuk menentukan kemajuan tersebut.

1
Pendiri kerajaan Turki adalah bangsa Turki dari kabilah Qayigh Oghus, anak suku Turk
yang mendiami sebelah barat gurun Gobi, atau daerah Mongol dan daerah utara negeri Cina,
yang dipimpin oleh Sulaiman. Dia mengajak anggota sukunya untuk menghindari serbuan
bangsa mongol yang menyerang dunia Islam yang berada di bawah kekuasaan Dinasti
Khawarizm pada tahun 1219-1220 M.
Sulaiman dan anggota sukunya lari ke arah Barat dan meminta perlindungan kepada
Jalaluddin, pemimpin terakhir Dinasti Khawarizm di Transoxiana. Jalaluddin menyuruh
Sulaiman agar pergi ke arah Barat (Asia Kecil). Kemudian mereka menetap di sana dan pindah
ke Syam dalam rangka menghindari serangan mongol. Dalam usahanya pindah ke Syam itu,
pemimpin orang-orang Turki mendapat kecelakaan. Mereka hanyut di sungai Efrat yang tiba-tiba
pasang karena banjir besar pada tahun 1228 M.
Akhirnya mereka terbagi menjadi 2 kelompok, yang pertama ingin pulang ke negeri
asalnya dan yang kedua meneruskan perjalanannya ke Asia kecil. Kelompok kedua ini berjumlah
400 kepala keluarga yang dipimpin oleh Ertugril (Erthogrol) ibn Sulaiman. Mereka mengabdikan
dirinya dirinya kepada Sultan Alauddin II dari Dinasti Saljuk Rum yang pusat pemerintahannya
di Kuniya, Anatolia Asia Kecil.
Pada saat itu, Sultan Alauddin II sedang menghadapi bahaya peperangan dari bangsa
Romawi yang mempunyai kekuasaan di Romawi Timur (Byzantium). Dengan bantuan dari
bangsa Turki pimpinan Erthogrol, Sultan Alauddin II dapat mencapai kemenangan. Atas jasa
baik tersebut Sultan menghadiahkan sebidang tanah yang perbatasan dengan Bizantium.
Pada tahun 1288 M, Erthogrol meninggal dunia dan meninggalkan putranya yang
bernama Usman, yang diperkirakan lahir pada 1258 M. Usman inilah yang ditunjuk oleh
Erthogrol untuk meneruskan kepemimpinannya dan disetujui serta didukung oleh Sultan Saljuk
pada saat itu. Nama Usman inilah yang nanti diambil sebagai nama untuk Kerajaan Turki
Usmani. Usman ini pula yang dianggap sebagai pendiri Dinasti Usmani. Sebagaimana ayahnya,
Usman banyak berjasa kepada Sultan Alauddin II. Kemenangan-kemenangan dalam setiap
pertempuran dan peperangan diraih oleh Usman.
B. Perkembangan Kerajaan Turki Usmani
Dengan jatuhnya jazirah Arab, maka imperium Turki Usmani mempunyai wilayah yang
luas sekali, terbentang dari Budapest di pinggir sungai Thauna, sampai ke Aswan dekat hulu
sungai Nil, dan dari sungai efrat serta pedalaman Iran, sampai Bab el-Mandeb di selatan jazirah
Arab.Selama masa kesultanan Turki Usmani (1299-1942 M), sekitar 625 tahun berkuasa tidak
kurang dari 38 Sultan.

2
Dalam hal ini, Syafiq A. Mughni membagi sejarah kekuasaan Turki Usmani menjadi lima
periode, yaitu:
1. Periode pertama (1299-1402 M), yang dimulai dari berdirinya kerajaan, ekspansi pertama
sampai kehancuran sementara oleh serangan timur yaitu dari pemerintahan Usman I sampai
pemerintahan Bayazid.
2. Periode kedua (1402-1566 M), ditandai dengan restorasi kerajaan dan cepatnya
pertumbuhan sampai ekspansinya yang terbesar. Dari masa Muhammad I sampai Sulaiman
I.
3. Periode ketiga (1566-1699 M), periode ini ditandai dengan kemampuan Usmani untuk
mempertahankan wilayahnya. Sampai lepasnya Honggaria. Namun kemunduran segera
terjadi dari masa pemerintahan Salim II sampai Mustafa II.
4. Periode keempat (1699-1838 M), periode ini ditandai degan berangsur-angsur surutnya
kekuatan kerajaan dan pecahnya wilayah yang di tangan para penguasa wilayah, dari masa
pemerintahan Ahmad III sampai Mahmud II.
5. Periode kelima (1839-1922 M) periode ini ditandai dengan kebangkitan kultural dan
administrates dari negara di bawah pengaruh ide-ide barat, dari masa pemerintahan Sultan
A. Majid I sampai A Majid II.
Persinggungan Islam dengan Turki melalui sejarah panjang, terhitung sejak abad pertama
hijriyah hingga suku Turki menjadi penganut dan pembela Islam. Pengaruh Turki dalam dunia
Islam semakin terasa pada masa Pemerintahan al-Mustasim (640-656 H./1242-1258 M).[5]
a. Perluasan Wilayah
Setelah Usman mengumumkan dirinya sebagai Padisyah al-Usman (raja besar keluarga
Usman), pada tahun 1300 M. dia memulai memperluas wilayahnya. Hal ini berlangsung paling
tidak sampai dengan masa Pemerintahan Sulaiman I. untuk mendukung hal itu, Orkhan
membentuk pasukan tangguh yang dikenal dengan Inkisyariyyah. Pasukan Inkisyariyah adalah
tentara utama Dinasti Usmani yang terdiri dari bangsa Georgia dan Armenia yang baru masuk
Islam. Ternyata, dengan pasukan tersebut seolah-olah Dinasti Usmani memiliki mesin perang
yang paling kuat dan memberikan dorongan yang besar sekali bagi penaklukan negeri-negeri non
Muslim.
Ada lima faktor yang menyebabkan kesuksesan Dinasti Usmani dalam perluasan wilayah
Islam, yaitu:
1) Kemampuan orang-orang Turki dalam strategi perang terkombinasi dengan cita-cita
memperoleh ghanimah (harta rampasan perang).

3
2) Sifat dan karakter orang Turki yang selalu ingin maju dan tidak pernah diam serta gaya
hidupnya yang sederhana, sehingga memudahkan untuk tujuan penyerangan.
3) Semangat jihad dan ingin mengembangkan Islam.
4) Letak Istambul yang sangat strategis sebagai ibukota kerajaan juga sangat menunjang
kesuksesan perluasan wilayah ke Eropa dan Asia. Istambul terletak antara dua benua dan
dua selat (selat Bosphaoras dan selat Dardanala), dan pernah menjadi pusat kebudayaan
dunia, baik kebudayaan Macedonia, kebudayaan Yunani maupun kebudayaan Romawi
Timur.
5) Kondisi kerajaan-kerajaan di sekitarnya yang kacau memudahkan Dinasti Usmani
mengalahkannya.

b. Kemajuan Pada Masa Dinasti Usmani


1) Sosial Politik dan Administrasi negara
Kemajuan dan perkembangan ekspansi kerajaan Usmani berlangsung dengan cepat, hal ini
diikuti pula oleh kemajuan dalam bidang politik, terutama dalam hal mempertahankan
eksistensinya sebagai negara besar. Selain itu, tradisi yang berlalu saat itu telah membentuk
stratifikasi yang membedakan secara menyolok antara kelompok penguasa (small group of
rulers) dan rakyat biasa (large mass).
Penguasa yang begitu kuat itu bahkan memiliki keistimewaan, diantara keistimewaan itu
adalah:
a. Pengakuan dari bawahan untuk loyal pada Sultan dan negara.
b. Penerimaan dan pengamalan, serta sistem berfikir dalam bertindak dalam agama yang
dianut merupakan kerangka yang integral.
c. Pengetahuan dan amalan tentang sistem adat yang rumit.
Yang terpenting adalah bahwa para pejabat dalam hal apapun tetap sebagai budak Sultan.
Tugas utama seluruh warga negara, baik pejabat maupun rakyat biasa adalah mengabdi untuk
keunggulan Islam, melaksanakan hukum serta mempertahankan keutuhan imperium.

2) Bidang Militer
Kerajaan Turki Usmani telah mampu menciptakan pasukan militer yang mampu mengubah
Negara Turki menjadi Mesin perang yang paling tangguh dan memberikan dorongan yang amat
besar dalam penaklukan negeri-negeri non Muslim. Bangsa-bangsa non Turki dimasukkan
sebagai anggota, bahkan anak-anak Kristen di asramakan dan dibimbing dalam suasana Islam
untuk dijadikan prajurit.

4
Ketika terjadi kekisruan ditubuh militer, maka Orkhan mengadakan perombakan dan
pembaharuan, yang dimulai dari pemimpin personil militer. Program ini ternyata berhasil
dengan terbentuknya kelompok militer baru yang disebut dengan
pasukan Janissari atau Inkisyariyah. Pasukan inilah yang dapat mengubah Negara Usmani
menjadi mesin perang yang paling kuat dan memberikan dorongan kuat dalam penaklukan
negeri Non Muslim.

3) Bidang Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan


Dalam bidang pendidikan, Dinasti Usmani mengantarkan pada pengorganisasian sebuah
sistem pendidikan madrasah yang tersebar luas. Madrasah Usmani pertama didirikan di Izmir
pada tahun 1331 M, ketika itu sejumlah ulama di datangkan dari Iran dan Mesir untuk
mengembangkan pengajaran Muslim dibeberapa toritorial baru. Tapi hal ini tidak begitu
berkembang, karena Turki Usmani lebih memfokuskan kegiatan mereka dalam bidang
kemiliteran, sehingga dalam khazanah Intelektual Islam kita tidak menjumpai ilmuan terkemuka
dari Turki Usmani.
Dalam bidang ilmu pengetahuan, memang kerajaan Turki Usmani tidak menghasilkan
karya-karya dan penelitian-penelitian ilmiah seperti di masa Daulah Abbasiyah. Kajian-kajian
ilmu keagamaan, seperti fiqh, ilmu kalam, tafsir dan hadis boleh dikatakan tidak mengalami
perkembangan yang berarti. Ulama hanya suka menulis buku dalam bentuk syarah (penjelasan),
dan hasyiyah (catatan pinggir) terhadap karya-karya klasik yang telah ada. Namun dalam bidang
seni arsitektur, Turki Usmani banyak meninggalkan karya-karya agung berupa bangunan yang
indah, seperti Mesjid Jami Muhammad al-Fatih, mesjid agung Sulaiman dan Mesjid Abu Ayyub
al-Anshary dan mesjid yang dulu asalnya dari gereja Aya Sophia. Mesjid tersebut dihiasi dengan
kaligrafi oleh Musa Azam.

4) Bidang Ekonomi dan Keuangan Negara


Karena Turki mengusai beberapa kota pelabuhan utama, maka Turki menjadi
penyelenggara perdagangan, pemungut pajak (cukai) pelabuhan yang menjadi sumber keuangan
yang besar bagi Turki.
Keberhasilan Turki Usmani dalam memperluas kekuasaan dan penataan politik yang rapi,
berimplikasi pada kemajuan social ekonomi Negara, tercatat beberapa kota industri yang ada
pada waktu itu, antara lain:
a. Mesir yang memperoleh produksi kain sutra dan katun.
b. Anatoli memproduksi bahan tekstil dan wilayah pertanian yang subur.

5
Kota Anatoli merupakan kota perdagangan yang penting di rute Timur dalam perindustrian
dalam hasil industri dan pertanian di Istambul, polandia dan Rusia. Para pedagang dari dalam
maupun dari luar negeri berdatangan sehingga wilayah Turki menjadi pusat perdagangan dunia
pada saat itu.
Selain dari sumber perdagangan, Turki Usmani memiliki sumber keuangan Negara yang
sangat besar, yaitu dari harta rampasan perang, dari upeti tanda penaklukkan Negara-negara yang
ditundukkan serta dari orang-orang zhimmi.

Muhammad II (Muhammad Al Fatih)


Muhammad al-Fatih adalah salah seorang raja atau sultan Kerajaan Utsmani yang paling
terkenal. Ia merupakan sultan ketujuh dalam sejarah Bani Utsmaniah. Al-Fatih adalah gelar yang
senantiasa melekat pada namanya karena dialah yang mengakhiri atau menaklukkan Kerajaan
Romawi Timur yang telah berkuasa selama 11 abad.

Sultan Muhammad al-Fatih memerintah selama 30 tahun. Selain menaklukkan


Binzantium, ia juga berhasil menaklukkan wilayah-wilayah di Asia, menyatukan kerajaan-
kerajaan Anatolia dan wilayah-wilayah Eropa, dan termasuk jasanya yang paling penting adalah
berhasil mengadaptasi menajemen Kerajaan Bizantium yang telah matang ke dalam Kerajaan
Utsmani.

Karakter Pemimpin Yang Ditanamkan Sejak Kecil


Muhammad al-Fatih dilahirkan pada 27 Rajab 835 H/30 Maret 1432 M di Kota Erdine,
ibu kota Daulah Utsmaniyah saat itu. Ia adalah putra dari Sultan Murad II yang merupakan raja
keenam Daulah Utsmaniyah.

Sultan Murad II memiliki perhatian yang besar terhadap pendidikan anaknya. Ia


menempa buah hatinya agar kelak menjadi seorang pemimpin yang baik dan tangguh. Perhatian
tersebut terlihat dari Muhammad kecil yang telah menyelesaikan hafalan Alquran 30 juz,
mempelajari hadis-hadis, memahami ilmu fikih, belajar matematika, ilmu falak, dan strategi
perang. Selain itu, Muhammad juga mempelajari berbagai bahasa, seperti: bahasa Arab, Persia,
Latin, dan Yunani. Tidak heran, pada usia 21 tahun Muhammad sangat lancar berbahasa Arab,
Turki, Persia, Ibrani, Latin, dan Yunani, luar biasa!

Walaupun usianya baru seumur jagung, sang ayah, Sultan Murad II, mengamanati Sultan
Muhammad memimpin suatu daerah dengan bimbingan para ulama. Hal itu dilakukan sang ayah

6
agar anaknya cepat menyadari bahwa dia memiliki tanggung jawab yang besar di kemudian hari.
Bimbingan para ulama diharapkan menjadi kompas yang mengarahkan pemikiran anaknya agar
sejalan dengan pemahaman Islam yang benar.

Menjadi Penguasa Utsmani


Sultan Muhammad II diangkat menjadi Khalifah Utsmaniyah pada tanggal 5 Muharam
855 H bersamaan dengan 7 Febuari 1451 M. Program besar yang langsung ia canangkan ketika
menjabat sebagai khalifah adalah menaklukkan Konstantinopel.

Langkah pertama yang Sultan Muhammad lakukan untuk mewujudkan cita-citanya


adalah melakukan kebijakan militer dan politik luar negeri yang strategis. Ia memperbarui
perjanjian dan kesepakatan yang telah terjalin dengan negara-negara tetangga dan sekutu-sekutu
militernya. Pengaturan ulang perjanjian tersebut bertujuan menghilangkan pengaruh Kerajaan
Bizantium Romawi di wilayah-wilayah tetangga Utsmaniah baik secara politis maupun militer.

Menaklukkan Bizantium
Sultan Muhammad II juga menyiapkan lebih dari 4 juta prajurit yang akan mengepung
Konstantinopel dari darat. Pada saat mengepung benteng Bizantium banyak pasukan Utsmani
yang gugur karena kuatnya pertahanan benteng tersebut. Pengepungan yang berlangsung tidak
kurang dari 50 hari itu, benar-benar menguji kesabaran pasukan Utsmani, menguras tenaga,
pikiran, dan perbekalan mereka.

Pertahanan yang tangguh dari kerajaan besar Romawi ini terlihat sejak mula. Sebelum
musuh mencapai benteng mereka, Bizantium telah memagari laut mereka dengan rantai yang
membentang di semenanjung Tanduk Emas. Tidak mungkin bisa menyentuh benteng Bizantium
kecuali dengan melintasi rantai tersebut.

Akhirnya Sultan Muhammad menemukan ide yang ia anggap merupakan satu-satunya


cara agar bisa melewati pagar tersebut. Ide ini mirip dengan yang dilakukan oleh para pangeran
Kiev yang menyerang Bizantium di abad ke-10, para pangeran Kiev menarik kapalnya keluar
Selat Bosporus, mengelilingi Galata, dan meluncurkannya kembali di Tanduk Emas, akan tetapi
pasukan mereka tetap dikalahkan oleh orang-orang Bizantium Romawi. Sultan Muhammad

7
melakukannya dengan cara yang lebih cerdik lagi, ia menggandeng 70 kapalnya melintasi Galata
ke muara setelah meminyaki batang-batang kayu. Hal itu dilakukan dalam waktu yang sangat
singkat, tidak sampai satu malam.

Di pagi hari, Bizantium kaget bukan kepalang, mereka sama sekali tidak mengira Sultan
Muhammad dan pasukannya menyeberangkan kapal-kapal mereka lewat jalur darat. 70 kapal
laut diseberangkan lewat jalur darat yang masih ditumbuhi pohon-pohon besar, menebangi
pohon-pohonnya dan menyeberangkan kapal-kapal dalam waktu satu malam adalah suatu
kemustahilan menurut mereka, akan tetapi itulah yang terjadi.

Peperangan dahsyat pun terjadi, benteng yang tak tersentuh sebagai simbol kekuatan
Bizantium itu akhirnya diserang oleh orang-orang yang tidak takut akan kematian. Akhirnya
kerajaan besar yang berumur 11 abad itu jatuh ke tangan kaum muslimin. Peperangan besar itu
mengakibatkan 265.000 pasukan umat Islam gugur. Pada tanggal 20 Jumadil Awal 857 H
bersamaan dengan 29 Mei 1453 M, Sultan al-Ghazi Muhammad berhasil memasuki Kota
Konstantinopel. Sejak saat itulah ia dikenal dengan nama Sultan Muhammad al-Fatih, penakluk
Konstantinopel.

Saat memasuki Konstantinopel, Sultan Muhammad al-Fatih turun dari kudanya lalu sujud
sebagai tanda syukur kepada Allah. Setelah itu, ia menuju Gereja Hagia Sophia dan
memerintahkan menggantinya menjadi masjid. Konstantinopel dijadikan sebagai ibu kota, pusat
pemerintah Kerajaan Utsmani dan kota ini diganti namanya menjadi Islambul yang berarti negeri
Islam, lau akhirnya mengalami perubahan menjadi Istanbul.

Selain itu, Sultan Muhammad al-Fatih juga memerintahkan untuk membangun masjid di
makam sahabat yang mulia Abu Ayyub al-Anshari radhiallahu anhu, salah seorang sahabat
Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam yang wafat saat menyerang Konstantinopel di
zaman Khalifah Muawiyah bin Abu Sufyan radhiallahu anhu.

Apa yang dilakukan oleh Sultan Muhammad tentu saja bertentangan dengan syariat,
sebagaimana sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam,


.
Ketahuilah, bahwa sesungguhnya umat-umat sebelum kamu telah menjadikan kuburan Nabi-
Nabi mereka sebagai tempat ibadah, tetapi janganlah kamu sekalian menjadikan kuburan sebagai

8
tempat ibadah, karena aku benar-benar melarang kamu melakukan perbuatan itu. (HR. HR.
Muslim no.532)

Kekeliruan yang dilakukan oleh Sultan Muhammad tidak serta-merta membuat kita
menafikan jasa-jasanya yang sangat besar. Semoga Allah mengampuni kesalahan dan
kekhilafannya beliau rahimahullah.

Setelah itu rentetat penaklukkan strategis dilakukan oleh Sultan Muhammad al-Fatih; ia
membawa pasukannya menkalukkan Balkan, Yunani, Rumania, Albania, Asia Kecil, dll. bahkan
ia telah mempersiapkan pasukan dan mengatur strategi untuk menaklukkan kerajaan Romawi di
Italia, akan tetapi kematian telah menghalanginya untuk mewujudkan hal itu.

Peradaban Yang Dibangun Pada Masanya

Selain terkenal sebagai jenderal perang dan berhasil memperluas kekuasaan Utsmani
melebihi sultan-sultan lainnya, Muhammad al-Fatih juga dikenal sebagai seorang penyair. Ia
memiliki diwan, kumpulan syair yang ia buat sendiri.

Sultan Muhammad juga membangun lebih dari 300 masjid, 57 sekolah, dan 59 tempat
pemandian di berbagai wilayah Utsmani. Peninggalannya yang paling terkenal adalah Masjid
Sultan Muhammad II dan Jami Abu Ayyub al-Anshari

Wafatnya Sang Penakluk

Pada bulan Rabiul Awal tahun 886 H/1481 M, Sultan Muhammad al-Fatih pergi dari
Istanbul untuk berjihad, padahal ia sedang dalam kondisi tidak sehat. Di tengah perjalanan sakit
yang ia derita kian parah dan semakin berat ia rasakan. Dokter pun didatangkan untuk
mengobatinya, namun dokter dan obat tidak lagi bermanfaat bagi sang Sultan, ia pun wafat di
tengah pasukannya pada hari Kamis, tanggal 4 Rabiul Awal 886 H/3 Mei 1481 M. Saat itu Sultan
Muhammad berusia 52 tahun dan memerintah selama 31 tahun. Ada yang mengatakan wafatnya
Sultan Muhammad al-Fatih karena diracuni oleh dokter pribadinya Yaqub Basya, Allahu alam.

Tidak ada keterangan yang bisa dijadikan sandaran kemana Sultan Muhammad II hendak
membawa pasukannya. Ada yang mengatakan beliau hendak menuju Itali untuk menaklukkan
Roma ada juga yang mengatakan menuju Prancis atau Spanyol.

Sebelum wafat, Muhammad al-Fatih mewasiatkan kepada putra dan penerus tahtanya,
Sultan Bayazid II agar senantiasa dekat dengan para ulama, berbuat adil, tidak tertipu dengan

9
harta, dan benar-benar menjaga agama baik untuk pribadi, masyarakat, dan kerajaan.

C. Kemunduran Turki Usmani


Pada akhir kekuasaan Sulaiman al-Qanuni I kerajaan Turki Usmani berada ditengah-tengah
dua kekuatan monarki Austria di Eropa dan kerajaan Syafawi di Asia. Melemahnya kerajaan
Usmani setelah wafatnya Sulaiman I dan digantikan oleh Salim II. Pada awal abad ke-19 para
Sultan tidak mampu mengontol daerah-daerah kekuasaannya. Dan melemahnya militer Turki
Usmani berakibat munculnya pemberontakan. Beberapa daerah berangsur-angsur mulai
memaisahkan diri dan mendirikan pemerintah otonom.
Di Mesir, kelemahan kerajaan Turki Usmani membuat Mamalik bangkit kembali. Di
bawah kepemimpinan Ali Bey, pada tahun 1770 M., Mamalik kembali berkuasa di Mesir, sampai
datangnya Napoleon Bonaparte dari Prancis tahun 1798 M. Demikian pula pemberontakan
terjadi di Libanon dan Syiria, sehingga kerajaan Turki Usmani mengalami kemunduruan, bukan
saja daerah yang tidak beragama Islam, tetapi juga di daerah yang berpenduduk muslim.
Banyak faktor yang menyebabkan kerajaan Usmani ini mengalami kemunduran, di
antaranya adalah:
a. Wilayah kekuasaan yang sangat luas yang tidak dibarengi dengan Administrasi dan
potensi yang kuat.
b. Kelemahan para penguasa, baik dalam kepribadian maupun dalam kepemimpinan
yang berakibat pemerintahan menjadi kacau.
c. Pemberontakan tentara Jenissari.
d. Heterogenitas penduduk. Wilayah yang luas yang didiami penduduk yang beragam,
baik dari segi agama, suku, ras, etnis dan adat istiadat acap kali melatar belakangi
terjadinya pemberontakan.
e. Merosotnya ekonomi. Akibat perang yang berkepanjangan sehingga perekonomian
negara merosot.

Secara Internal dan Eksternal, kemunduran khilafah Turki Utsmani terjadi karena:

1. Faktor Internal
a. Buruknya pemahaman Islam
Lemahnya pemahaman Islam membuat reformasi gagal. Sebab saat itu khilafah tak bisa

10
membedakan IPTEK dengan peradaban dan pemikiran. Ini membuat munculnya struktur baru
dalam negara, yakni perdana menteri, yang tak dikenal sejarah Islam kecuali setelah terpengaruh
demokrasi Barat yang mulai merasuk ke tubuh khilafah. Saat itu, penguasa dan syaikhul Islam
mulai terbuka terhadap demokrasi lewat fatwa syaikhul Islam yang kontroversi. Malah, setelah
terbentuk Dewan Tanzimat (1839 M) semakin kokohlah pemikiran Barat, setelah disusunnya
beberapa UU, seperti UU Acara Pidana (1840), dan UU Dagang (1850), tambah rumusan
Konstitusi 1876 oleh Gerakan Turki Muda, yang berusaha membatasi fungsi dan kewenangan
kholifah.
b. Salah menerapkan Islam.
Dengan diambilnya UU oleh Suleiman II, seharusnya penyimpangan dalam pengangkatan
kholifah bisa dihindari, tapi ini tak tersentuh UU. Dampaknya, setelah berakhirnya kekuasaan
Suleimanul Qonun, yang jadi khalifah malah orang lemah, seperti Sultan Mustafa I (1617),
Osman II (1617-1621), Murad IV (1622-1640), Ibrohim bin Ahmed (1639-1648), Mehmed IV
(1648-1687), Suleiman II (1687-1690), Ahmed II (1690-1694), Mustafa II (1694-1703), Ahmed
III (1703-1730), Mahmud I (1730-1754), Osman III (1754-1787), Mustafa III (1757-1773), dan
Abdul Hamid I (1773-1788). Inilah yang membuat militer, Yennisari-yang dibentuk Sultan
Ourkhan-saat itu memberontak (1525, 1632, 1727, dan 1826), sehingga mereka dibubarkan
(1785). Selain itu, majemuknya rakyat dari segi agama, etnik dan mazhab perlu penguasa
berintelektual kuat. Sehingga, para pemimpin lemah ini memicu pemberontakan kaum Druz
yang dipimpin Fakhruddin bin al-Ma'ni
Dengan tak dijalankannya politik luar negeri yang Islami-dakwah dan jihad-pemahaman
jihad sebagai cara mengemban ideologi Islam ke luar negeri hilang dari benak muslimin dan
kholifah. Ini terlihat saat Sultan Abdul Hamid I/Sultan Abdul Hamid Khan meminta Syekh al-
Azhar membaca Shohihul Bukhori di al-Azhar agar Allah SWT memenangkannya atas Rusia
(1788). Sultanpun meminta Gubernur Mesir saat itu agar memilih 10 ulama dari seluruh mazhab
membaca kitab itu tiap hari Menghadapi kemerosotan itu, khilafah telah melakukan reformasi
(abad ke-17, dst).

2. Faktor Ekstenal
Penjajahan Barat membawa semangat gold, glory, dan gospel
Sejak jatuhnya Konstantinopel di abad 15, Eropa-Kristen melihatnya sebagai awal Masalah
Ketimuran, sampai abad 16 saat penaklukan Balkan, seperti Bosnia, Albania, Yunani dan
kepulauan Ionia. Ini membuat Paus Paulus V (1566-1572) menyatukan Eropa yang dilanda

11
perang antar agama-sesama Kristen, yakni Protestan dan Katolik. Konflik ini berakhir setelah
adanya Konferensi Westafalia (1667). Saat itu, penaklukan khilafah terhenti. Memang setelah
kalahnya khilafah atas Eropa dalam perang Lepanto (1571), khilafah hanya mempertahankan
wilayahnya. Ini dimanfaatkan Austria dan Venezia untuk memukul khilafah. Pada Perjanjian
Carlowitz (1699), wilayah Hongaria, Slovenia, Kroasia, Hemenietz, Padolia, Ukraina, Morea,
dan sebagian Dalmatia lepas; masing-masing ke tangan Venezia dan Habsburg. Malah khilafah
harus kehilangan wilayahnya di Eropa pada Perang Krim (abad ke-19), dan tambah tragis setelah
Perjanjian San Stefano (1878) dan Berlin (1887)

D. PEMBAHARUAN MASA KERAJAAN TURKI USMANI

1. Pada Masa Sultan Mahmud II (1785-1839 M)


Lahir pada tahun 1785 M, dan mempunyai didikan tradisional, antara lain pengetahuan
agama, pengetahuan pemerintahan, sejarah dan sastra Arab, Turki dan Persia. Ia diangkat
menjadi Sultan di tahun 1807 M dan meninggal di tahun 1839 M. Setelah kekuasaannya sebagai
pusat pemerintahan Kerajaan Usmani bertambah kuat, Sultan Mahmud II melihat bahwa telah
tiba masanya untuk memulai usaha-usaha pembaharuan yang telah lama ada dalam
pemikirannya.
Perubahan penting yang diadakan oleh Sultan Mahmud II dan yang kemudian mempunyai
pengaruh besar pada perkembangan pembaharuan di Kerajaan Usmani ialah perubahan dalam
bidang pendidikan. Di Madrasah hanya diajarkan agama, sedangkan pengetahuan umum tidak
diajarkan. Sultan Mahmud II sadar bahwa pendidikan Madrasah tradisional tidak sesuai lagi
dengan tuntutan zaman abad ke-19. Oleh karena itu, ia mengadakan perubahan dalam kurikulum
Madrasah dengan menambah pengetahuan umum di dalamnya, seperti halnya di Dunia Islam
lain pada waktu itu memang sulit.
Madrasah tradisional tetap berjalan, tetapi disampingnya Sultan mendirikan dua sekolah
pengetahuan umum yang bernama Mekteb-i Maarif (Sekolah Pengetahuan Umum) dan Mekteb-
i Ulum-u Edebiye (Sekolah Sastra). Siswa untuk kedua sekolah itu dipilih dari lulusan Madrasah
yang bermutu tinggi. Selain itu, Sultan Mahmud II juga mendirikan Sekolah Militer, Sekolah
Teknik, Sekolah Kedokteran dan Sekolah Pembedahan.

2. Pada Masa Tanzimat


Istilah Tanzimat berasal dari bahasa Arab dari kata Tanzim yang berarti pengaturan,
penyusunan dan memperbaiki. Dalam pembaharuan yang diadakan pada masa ini merupakan

12
sebagai lanjutan dari usaha yang dijalankan oleh Sultan Mahmud II yang banyak mengadakan
pembaharuan peraturan dan perundang-undangan. Secara terminologi adalah, suatu usaha
pembaharuan yang mengatur dan menyusun serta memperbaiki struktur organisasi pemerintahan,
sosial, ekonomi dan kebudayaan, antara tahun 1839-1871 M. Tokoh-tokoh penting Tanzimat
antara lain:
1) Mustafa Rasyid Pasya (1880-1858 M).
Pemuka utama dari pembaharuan di zaman Tanzimat ialah Mustafa Rasyid Pasya, ia lahir
di Istanbul pada tahun 1800 M. berpendidikan Madrasah, kemudian menjadi pegawai
pemerintah. Usaha pembaharuannya yang terpenting ialah sentralisasi pemerintahan dan
modernisasi angkatan bersenjata pada tahun 1839 M.
2) Mustafa Sami Pasya (wafat 1855 M).
Mustafa Sami Pasya mempunyai banyak pengalaman di luar negeri antara lain di Roma,
Wina, Berlin, Brussel, London, Paris dan negara lainnya sebagai pegawai dan duta. Menurut
pendapat Mustafa Sami Pasya, kemajuan bangsa Eropa terletak pada keunggulan mereka dalam
lapangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sebab lain dilihatnya karena toleransi beragama dan
kemampuan orang Eropa melepaskan diri dari ikatan-ikatan agama, di samping itu pula
pendidikan universal bagi pria dan wanita sehingga umumnya orang Eropa pandai membaca dan
menulis.
3) Mehmed Sadik Rifat Pasya (1087-1856 M).
Mehmed Sadik Rifat Pasya yang lahir pada tahun 1807 M, dan wafat tahun 1856 M.
Pendidikannya selesai di madrasah, ia melanjutkan pelajaran ke sekolah sastra, yang khusus
diadakan untuk calon-calon pegawai istana.
Pokok pemikiran dan pembaharuannya ialah Sultan dan pembesar-pembesar negara harus
tunduk pada undang-undang dan peraturan-peraturan lainnya. Negara harus tunduk pada hukum,
kodifikasi hukum, administrasi, pengaturan hak dan kewajiban rakyat, reorganisasi, angkatan
bersenjata, pendidikan dan keterampilan serta dibangunnya Bank Islam Usmani pada tahun 1840
M.
4) Ali Pasya (1815-1871 M).
Beliau lahir pada tahun 1815 M di Istanbul, dan wafat tahun 1871, anak dari seorang
pelayan toko. Dalam usia 14 tahun ia sudah diangkat menjadi pegawai. Tahun 1840 diangkat
menjadi Duta Besar London dan sebelum menjadi Duta Besar ia sering kali menjadi staf
Perwakilan Kerajaan Usmani di berbagai negara Eropa dan di tahun 1852 M, ia menggantikan
kedudukan Rasyid Pasya sebagai Perdana Menteri.

13
Usaha pembaharuannya antara lain : tentang pengakuan semua aliran spiritual pada masa
itu, jaminan melaksanakan ibadahnya masing-masing, larangan memfitnah karena agama, suku
dan bahasa, jaminan kesempatan belajar, sistem peradilan dan lain-lainnya.
Pembaharuan yang dilaksanakan oleh tokoh-tokoh di zaman Tanzimat tidak seluruhnya
mendapat dukungan, bahkan mendapat kritikan baik dari dalam atau di luar Kerajaan Usmani.
Karena, gerakan-gerakan tanzimat untuk mewujudkan pembaharuan didasari oleh pemikiran
liberalisme Barat dan meninggalkan pola dasar syariat agama, hal ini salah satu sebab yang
utama gerakan tanzimat mengalami kegagalan dalam usaha pembaharuannya.

3. Pada Masa Usmani Muda


Kegagalan Tanzimat dalam mengganti pemerintahan konstitusi yang absolut merupakan
cambuk untuk usaha-usaha selanjutnya. Untuk mengubah kekuasaan yang absolut, maka
timbullah gerakan dari kaum cendikiawan melanjutkan usaha-usaha Tanzimat. Gerakan ini
dikenal dengan Young Ottoman-Yeni Usmanilar (Gerakan Usmani Muda) yang didirikan pada
tahun 1865 M.
Usmani Muda pada asalnya merupakan perkumpulan yang didirikan di tahun 1865 M,
dengan tujuan untuk mengubah pemerintahan absolut kerajaan Usmani menjadi pemerintahan
konstitusional. Beberapa tokoh dari gerakan itu membawa angin baru tentang demokrasi dan
konstitusional pemerintahan yang menjunjung tinggi kekuasaan rakyat bukan kekuasaan absolut.
Diantara tokoh-tokohnya adalah:
a. Zia Pasya.
Lahir pada tahun 1825 M di Istanbul, dan meninggal dunia pada tahun 1880 M. Ia anak
seorang pegawai Kantor Beacukai di Istanbul. Pendidikannya setelah selesai sekolah di
Sulaemaniye yang didirikan Sultan Mahmud II. dalam usia muda dia diangkat menjadi pegawai
pemerintah, kemudian atas usaha Mustafa Rasyid Pasya pada tahun 1854 M, ia diterima menjadi
salah seorang sekretaris Sultan. Disinilah ia dapat mengetahui tentang sistem dan cara Sultan
memerintah dengan otoriter.
Beberapa pemikirannya akhirnya menjurus kepada usaha pembaharuan. Usaha-usaha
pembaharuannya antara lain, kerajaan Usmani menurut pendapatnya harus dengan sistem
pemerintahan konstitusional, tidak dengan kekuasaan absolut.
b. Namik Kemal.
Beliau termasuk pemikir terkemuka dari Usmani Muda, lahir pada tahun 1840 M di
Tekirdag, dan berasal dari keluarga ningrat. Namik Kemal banyak dipengaruhi oleh pemikiran
Ibrahim Sinasih (1826-1871 M) yang berpendidikan barat dan banyak mempunyai pandangan

14
modernisme. Namik mempunyai jiwa Islami yang tinggi, walaupun ia dipengaruhi pemikiran
Barat namun masih menjunjung tinggi moral Islam dalam ide-ide pembaharuannya.
Namik Kemal berpendapat bahwa sistem pemerintahan konstitusional tidaklah merupakan
bidah dalam Islam. Di antara ide-ide lain yang dibawa Namik terdapat cinta tanah air Turki,
tetapi seluruh daerah kerajaan Usmani. Konsep tanah airnya tidak sempit. Sebagai orang yang
dijiwai ajaran Islam, ia melihat perlunya diadakan persatuan seluruh umat Islam di bawah
pimpinan Kerajaan Usmani, sebagai negara Islam yang terbesar dan terkuat di waktu itu.
c. Midhat Pasya.
Nama lengkapnya Hafidh Ahmad Syafik Midhat Pasya, lahir pada tahun 1822 M di
Istanbul. Pendidikan agamanya diperoleh dari ayahnya sendiri. Dalam usia sepuluh tahun ia telah
hafal Al-Quran, oleh karena itu ia digelari Al-Hafidh. Pendidikannya yang tertinggi adalah pada
Universitas Al-Fatih. Dia termasuk tokoh Usmani Muda yang mempunyai peranan cukup
penting dalam ide pembaharuan.
Beberapa langkah pembaharuan itu, seperti memperkecil kekuasaan kaum eksekutif dan
memberikan kekuasaan lebih besar kepada kelompok legislatif. Golongan ini juga berusaha
menggolkan sistem konstitusi yang sudah ditegakkan dengan memakai istilah terma-terma yang
islami, seperti musyawarah untuk perwakilan rakyat, baiah untuk kedaulatan rakyat dan syariah
untuk konstitusi. Dengan usaha ini, sistem pemerintahan Barat lambat laun dapat diterima
kelompok ulama dan Syaikh Al-Islami yang sebenarnya banyak menentang ide pembaharuan
pada masa sebelumnya.

4. Pada Masa Turki Muda


Setelah dibubarkannya parlemen dan dihancurkannya gerakan Usmani Muda, maka Sultan
Abdul Hamid memerintah dengan kekuasaan yang lebih absolut. Kebebasan berbicara dan
menulis tidak ada. Dalam suasana yang demikian, timbullah gerakan oposisi terhadap
pemerintah yang obsolut Sultan Abdul Hamid, sebagaimana halnya di zaman yang lalu dengan
Sultan Abdul Aziz. Gerakan oposisi dikalangan perguruan tinggi, mengambil bentuk
perkumpulan rahasia, di kalangan cendekiawan dan pemimpin-pemimpinnya lari ke luar negeri
dan disana melanjutkan oposisi mereka dan gerakan di kalangan militer menjelma dalam bentuk
komite-komite rahasia. Oposisi berbagai kelompok inilah yang kemudian dikenal dengan nama
Turki Muda.
Tokoh Turki Muda, antara lain adalah Ahmad Riza, Mehmed Murad, dan Pangeran
Sahabuddin.
a. Ahmad Riza (1859-1930 M).

15
Ia adalah anak seorang bekas anggota parlemen bernama Injilis Ali. Dalam pendidikannya
ia sekolah di pertanian untuk kelak dapat bekerja dan berusaha mengubah nasib petani yang
malang dan studinya diteruskan di Perancis. sekembalinya dari perancis, ia bekerja di
Kementerian Pertanian, tapi ternyata hubungan pemerintah dengan petani yang miskin sedikit
sekali, karena kementerian itu lebih disibukkan dengan birokrasi. Kemudian ia pindah ke
Kementerian Pendidikan namun disini juga disibukkan dengan birokrasi tapi kurang disibukkan
dengan pendidikan.
Pembaharuannya adalah ingin mengubah pemerintahan yang absolut kepada pemerintahan
konstitusional. Karena menurutnya akan menyelamatkan Kerajaan Usmani dari keruntuhan
adalah melalui pendidikan dan ilmu pengetahuan positif dan bukan dengan teologi atau
metafisika.
b. Mehmed Murad (1853-1912 M).
Ia berasal dari Kaukasus dan lari ke Istanbul pada tahun 1873 M, yakni setelah gagalnya
pemberontakan Syekh Syamil di daerah itu. Ia belajar di Rusia dan di sanalah ia berjumpa
dengan ide-ide Barat, namun pemikiran Islam berpengaruh pada dirinya.
Ia berpendapat bahwa bukanlah Islam yang menjadi penyebab mundurnya Kerajaan
Usmani dan bukan pula rakyatnya, namun sebab kemunduran itu terletak pada Sultan yang
memerintah secara absolut. Oleh karena itu, menurutnya kekuasaan Sultan harus dibatasi. Ia
mengusulkan didirikan satu Badan Pengawas yang tugasnya mengawasi jalannya undang-undang
agar tidak dilanggar oleh pemerintah. Di samping itu diadakan pula Dewan syariat agung yang
anggotanya tersusun dari wakil-wakil negara Islam di Afrika dan Asia dan ketuanya Syekh Al-
Islam Kerajaan Usmani.
c. Pangeran Sahabuddin (1887-1948).
Pangeran Sahabuddin adalah keponakan Sultan Hamid dari pihak ibunya, sedang dari
pihak bapaknya adalah cucu dari Sultan Mahmud II, oleh karena itu ia keturunan raja. Namun
ibu dan bapaknya lari ke Eropa menjauhkan diri dari kekuasaan Abdul Hamid. Maka dengan
demikian kehidupan Sahabuddin lebih banyak dipengaruhi oleh pemikiran Barat.
Menurutnya yang pokok adalah perubahan sosial, bukan penggantian Sultan. Masyarakat
Turki sebagaimana masyarakat Timur lainnya mempunyai corak kolektif, dan masyarakat
kolektif tidak mudah berubah dalam menuju kemajuan. Dalam masyarakat kolektif orang tidak
percaya diri sendiri, oleh karena itu ia tergantung pada kelompok atau suku sedangkan
masyarakat yang dapat maju menurutnya adalah masyarakat yang tidak banyak bergantung
kepada orang lain tetapi sanggup berdiri sendiri dan berusaha sendiri untuk mengubah
keadaannya.

16
KESIMPULAN

1. Usman inilah yang ditunjuk oleh Erthogrol untuk meneruskan kepemimpinannya dan
disetujui serta didukung oleh Sultan Saljuk pada saat itu. Nama Usman inilah yang nanti
diambil sebagai nama untuk Kerajaan Turki Usmani. Usman ini pula yang dianggap sebagai
pendiri Dinasti Usmani.
2. Kemajuan yang dilakukan dinasti Usmani ialah melakukan perluasan wilayah. Sedangkan
kemajuan yang telah dicapai adalah dalam bidang sosial politik, administrasi, ilmu
pengetahuan, kebudayaan, ekonomi dan keuangan negara.
3. Faktor yang mempengaruhi kemunduran dinasty Usmani diantaranya karena Kelemahan
para penguasa, baik dalam kepribadian maupun dalam kepemimpinan yang berakibat
pemerintahan menjadi kacau, Pemberontakan tentara Jenissari, Heterogenitas penduduk.
4. Pembaharuan-pembaharuan yang dilakukan oleh Sultan Mahmud II merupakan landasan
atau dasar bagi pemikiran dan usaha pembaharuan selanjutnya, antara lain : pembaharuan
Tanzimat, pembaharuan di Kerajaan Usmani abad ke-19 dan Turki abad ke-20.
5. Tanzimat yang dimaksudkan adalah suatu usaha pembaharuan yang mengatur dan
menyusun serta memperbaiki struktur organisasi pemerintahan tetapi Tanzimat ini belum
berhasil seperti yang diharapkan oleh tokoh-tokoh penting Tanzimat, yaitu Mustafa Rasyid
Pasya, Mustafa Sami, Mehmed Sadek, Rifat Pasya dan Ali Pasya.
6. Kemudian dilanjutkan dengan pembaharuan Usmani Muda, dimana usaha-usaha
pembaharuannya adalah untuk mengubah pemerintahan dengan sistem konstitusional tidak
dengan kekuasaan absolut setelah dibubarkannya parlemen dan dihancurkannya Usmani
muda dilanjutkan dengan pembaharuan Turki Muda.

17
DAFTAR PUSTAKA

- Yatim, Badri, 2002, Sejarah Peradaban Islam, Jakarta: RajaGrafindo Persada, cet. XIII.Al-
Bahy, Muhammad.1986. Pemikiran Islam Modern. Jakarta: Pustaka Panjimas.
- Asmuni, Yusran. 1998. Studi Pemikiran Dan Gerakan Pembaharuan Dalam Dunia Islam.
Jakarta: Pt. Raja Grafindo Persada.
- Hamka. 2005. Sejarah Umat Islam. Singapura: Pustaka Nasional Pte Ltd.
- Nasution, Harun. 1991. Pembaharuan Dalam Islam Sejarah Pemikiran Dan
Gerakan.Jakarta: Pt. Bulan Bintang.
- Labay El-Sulthani, Mawardi, 2002, Tidak Usah Takut Syariat Islam, Jakarta: Al-Mawardi
Prima.
- Mughni, A. Syafiq, 1997, Sejarah Kebudayaan di Turki, Jakarta: Logos.
- Siti Maryam dkk. 2002, (ed.) Sejarah Pearadaban Islam dari Masa Klasik hingga Modern,
Yogyakarta: LESFI.
- Syalabi, Ahmad, tth, Mausuah al-Tarikh al-Islami, Kairo: Maktabah al-Nahdhat al-
Mishriyah.
- Ensiklopedi Islam, 1990, jilid IV, Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve.
- Lapidus, Ira M., 1999, Sejarah Sosial Umat Islam, Jakarta: Raja Grafindo Persada, jilid I.
- Hasan, Ibrahim Hasan, 1976, Tarikh al-Islami, Cairo: Maktabah al-Nahdhah al-Misriyah,
jilid IV.

18