Anda di halaman 1dari 104

TUGAS AKHIR

PEMBUATAN SARUNG TANGAN MODEL GOLF

DI PT ASA YOGYAKARTA

Disusun guna melengkapi sebagian syarat untuk mencapai

Derajat Ahli Madya Diploma III

Program Studi Desain dan Teknologi Produk Kulit

Disusun oleh :

TIMOTHY RINTIS S. N.
090401014

KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA


AKADEMI TEKNOLOGI KULIT
YOGYAKARTA
2012
Halaman Pengesahan

PEMBUATAN SARUNG TANGAN MODEL GOLF


DI PT ASA YOGYAKARTA
Diajukan Oleh : Timothy Rintis Setia Nugraha
Nim : 090401014
Prodi : Desain Teknologi Produk Kulit

Pembimbing Utama Pembimbing Pendamping

Yus Maryo, B.Sc, S.Pd Kartika, SH


NIP. 19590909 199003 1 003 NIP. 19641011 198703 1 003

Telah dipertahankan didepan dewan penguji pada tanggal September


2012 dan dinyatakan memenuhi syarat yang telah ditentukan untuk mendapat
derajat Diploma Tiga ( D III)

Dewan penguji
Ketua

Drs. Sutopo. M.Sn


NIP. 19620709 1990031 002

Anggota Anggota

Yus Maryo, B.Sc, S.Pd Nuraini Indrati, B.Sc. S.Pd.


NIP. 19590909 199003 1 003 NIP. 195705291 1982032 002

Yogyakarta, September 2012


Direktur Akademi Teknologi Kulit

Elis Nurbalia, ST, M.Eng


NIP. 19641210 199003 2 002

MOTTO

Berani berkata YA berarti harus berani bertanggungjawab atas semua yang


dilakukannya.

Pemenang hanya untuk orang yang berani mencoba walaupun gagal.

Bermimpilah semustahil mungkin, bangun, dan mulailah raih mimpi itu.

PERSEMBAHAN

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa

oleh karena kasih dan kuasaNYA, sehingga penyusunan Tugas Akhir ini

sebagai syarat untuk menempuh derajad Ahli Madya telah mampu penulis

selesaikan. Tugas Akhir ini penulis persembahkan kepada :

1. Tuhan Yang Maha Kuasa, yang telah melimpahkan semua kasih dan

karunia-Nya kepada penulis.

2. Trimakasih buat Mama dan Papa atas dukungan doa, motivasi dan

materi dalam pelaksanaan Tugas Akhir ini bisa berlanjut. Semoga ini

bisa membuat kalian bangga. Walaupun, belum bisa membahagiakan

kalian.

3. Adikku tersayang yang selalu menemani dan membantu dalam

pembuatan Tugas Akhir ini. Trimakasih, tetap jadi adikku yang

terbaik ya.

4. Semua keluarga yang sudah dukung dalam doa, motivasi dan materinya.

Tuhan memberkati.

5. Dosen-dosen ATK yang telah memberikan ilmu pengetahuan dan

pengalaman-pengalaman yang sangat berharga kepada penulis selama

mengikuti perkuliahan di Akademi Teknologi Kulit Yogyakarta.

ii

6. Pimpinan / Direktur PT ASA YOGYAKARTA, yang telah memberikan

izin kepada penulis untuk melaksanakan kegiatan.

7. Pimpinan packing dan teman-teman di PT ASA YOGYAKARTA yang

telah membantu dalam melaksanakan kegiatan magang.

8. Semua teman-teman DTPK 2009, Se-almamater, terima kasih atas doa,

semangat serta bantuannya. Salam satu hati untuk kita semua.

9. Terima kasih kepada teman-teman kos penulis, yang telah memberikan

bantuannya, untuk melaksanakan tugas akhir.

iii

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa yang

telah mencurahkan rahmat, hidayah serta karunia-Nya, sehingga penulis dapat

menyelesaikan penyusunan Tugas Akhir ini dengan baik.

Tugas Akhir ini disusun sebagai salah satu syarat untuk mencapai derajat

Ahli Madya Diploma III (D3) jurusan Desain dan Teknologi Produk Kulit di

Akademi Teknologi Kulit Yogyakarta. Penulis mengambil judul PEMBUATAN

SARUNG TANGAN MODEL GOLF DI PT ADI SATRIA ABADI

Penulis mengadakan kegiatan magang untuk mengetahui dan memahami

tentang proses pembuatan sarung tangan golf. Serta dapat melaksanakan

penyusunan laporan Tugas Akhir ini.

Dalam penulisan, penulis mendapat bimbingan dari pihak perusahaan

maupun dari pihak Akademi Teknologi Kulit Yogyakarta. Oleh sebab itu dengan

ketulusan hati, penulis mengucapkan terima kasih kepada :

1. Ibu Elis Nurbalia, ST, M.Eng, Direktur Akademi Teknologi Kulit Yogyakarta.

2. Yus Maryo, B.Sc, S.Pd selaku Pembimbing Utama dengan setulus hati

memberikan bimbingan dan arahan kepada penulis untuk menyelesaikan

laporan Tugas Akhir ini.

iv

3. Kartika, SH selaku Pembimbing Pendamping yang telah memberikan

bimbingan dan pengarah dengan sepenuh hati.

4. Drs. Sugiyanto M Sn, selaku Ketua Panitia Tugas Akhir.

5. Eko, selaku pembimbing lapangan yang dengan kesabarannya mengarahkan

penulis dalam segala hal mengenai kegiatan dan materi magang.

6. Seluruh keluarga tercinta atas doa dan dukungannya selama ini.

7. Semua pihak yang membantu dalam penyusun Tugas Akhir ini tanpa bisa

penulis sebutkan satu-persatu.

Penulis menyadari bahwa dalam menyusun Tugas Akhir ini masih jauh

dari kesempurnaan. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang

membangun agar karya-karya penulis dimasa mendatang lebih baik.

Yogyakarta, September 2012

Penulis

INTISARI

PT. Adi Satria Abadi merupakan salah satu perusahaan yang memproduksi
sarung tangan golf yang terbuat dari kulit. Sebagian besar dari produksinya di
ekspor ke luar negri. Proses produksi dilakukan dari tahap awal sampai akhir
pembuatan sarung tangan golf, untuk itu penulis menyusun tugas akhir dengan
judul PEMBUATAN SARUNG TANGAN MODEL GOLF DI PT ASA
YOGYAKARTA guna untuk mempelajari dan memberikan wawasan luas
tentang sarung tangan didunia industri.
Materi dan metode yang digunakan penyusun dalam melakukan kerja praktek
menggunakan metode observasi, pengumpulan data yang diperoleh dari hasil
pengamatan dan mencatat obyek secara langsung, metode interview dilakukan
dengan wawancara atau tanya jawab dengan responden atau pihak-pihak
bersangkutan, metode studi pustaka, pengumpulan data berdasarkan teori yang
bersangkutan dengan masalah yang terkait.
Pembuatan sarung tangan golf terbagi menjadi beberapa tahap diantaranya:
desain, pembuatan pola, pemotongan, perakitan (penjahitan), kumis-kumis
(merapikan sisa-sisa benang), dan finishing. Pembuatan pola terbagi menjadi pola
dasar dan pola jadi, sedangkan finishing terbagi menjadi penyetrikaan dan
penyeleksian barang jadi. Proses terakhir adalah packing, yaitu memasukkan
sarung tangan pada amplop yang telah diberi tanda nomer sarung tangan.

vi

DAFTAR ISI

LEMBAR JUDUL ......................................................................................... i


HALAMAN PERSETUJUAN ....................................................................... ii
MOTTO ........................................................................................................ iii
PERSEMBAHAN ......................................................................................... iv
KATA PENGANTAR .................................................................................. vi
INTISARI.................................................................................................... viii
DAFTAR ISI ................................................................................................. ix
DAFTAR TABEL .......................................................................................... x
DAFTAR GAMBAR .................................................................................... xi
BAB I. PENDAHULUAN ............................................................................. 1
A. Latar Belakang ................................................................................... 1
B. Tujuan ................................................................................................ 2
C. Manfaat .............................................................................................. 2
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA................................................................... 3
BAB III. MATERI DAN METODE ............................................................ 26
1. Lokasi Pelaksanaan magang ...................................................... 26
2. Waktu pelaksanaan kerja praktik .............................................. 26
3. Materi ......................................................................................... 26
4. Metode ....................................................................................... 27
BAB IV. PELAKSANAAN MAGANG ...................................................... 30
A. Keadaan Perusahaan......................................................................... 30
1. Tinjauan umum perusahaan ....................................................... 30
a. Identitas perusahaan ............................................................. 30
vii

b. Sejarah perusahaan ............................................................... 30


c. Visi, Misi dan tujuan perusahaan ......................................... 32
2. Tinjauan teknologi ..................................................................... 34
a. Desain sarung tangan golf .................................................... 34
b. Segi Proses Produksi ............................................................ 39
B. Pembahasan ...................................................................................... 59
BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN...................................................... 83
A. Kesimpulan ...................................................................................... 83
B. Saran................................................................................................. 84
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................. 86
LAMPIRAN ................................................................................................ 88

viii

DAFTAR TABEL

Tabel 1. Standar ukuran sarung tangan golf ............................................... 22

ix

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Sarung Tangan Medis................................................................... 4


Gambar 2. Sarung Tangan Militer ................................................................. 5
Gambar 3. Sarung Tangan Mekanik .............................................................. 6
Gambar 4. Sarung Tangan Sepeda Gunung ................................................... 7
Gambar 5. Sarung Tangan Kiper ................................................................... 7
Gambar 6. Sarung Tangan Riding.................................................................. 8
Gambar 7. Sarung Tangan Golf ................................................................... 9
Gambar 8. Sarung Tangan Fashion ................................................................ 9
Gambar 9. Pola Sarung Tangan Golf Bagian Telapak dan Punggung ........ 12
Gambar 10. Pola Sarung Tangan Golf Bagian Ibu Jari ............................... 12
Gambar 11. Pola Sarung Tangan Golf Bagian Machi ................................. 13
Gambar 12. Pemasangan Binding ................................................................ 13
Gambar 13 Velcro Kasar dan Halus Bagian-Bagian Kulit........................... 14
Gambar 14. Bagian-Bagian Kulit................................................................. 18
Gambar 15. Arah benang warp dan weft ..................................................... 19
Gambar 16. Jahitan Closed Seam ................................................................. 21
Gambar 17. Jahitan Lapped Seam ................................................................ 21
Gambar 18. Jahitan Brokly Seam ................................................................. 22
Gambar 19. Jahitan Silked Seam ................................................................. 22
Gambar 20. Jahitan Open Seam ................................................................... 22
Gambar 21. Jahitan Walked Seam ................................................................ 23
Gambar 22. Jahitan Butted Seam ................................................................. 23
Gambar 23. Jahitan Pipped Seam................................................................. 23
x

Gambar 24. Desain Sarung Tangan ............................................................. 34


Gambar 25. Pola Dasar Sarung Tangan Golf ............................................... 36
Gambar 26. Pola Dasar Sarung Tangan Golf ............................................... 37
Gambar 27. Hasil Aradachi.......................................................................... 40
Gambar 28. Proses Pemotongan menggunakan teknik aradachi................. 40
Gambar 29. Cara potong aradachi yang benar ............................................ 41
Gambar 30. Cutting dies pola machi ............................................................ 42
Gambar 31. Hasil seleksi machi ................................................................... 43
Gambar 32. Mesin Press velcro ................................................................... 46
Gambar 33. Hasil pola yang sudah dilubang ............................................... 47
Gambar 34. Sambung machi ........................................................................ 50
Gambar 35. Penampang Kulit dengan velcro .............................................. 52
Gambar 36. Jahitan Elastis ........................................................................... 53
Gambar 37. Alat ironing .............................................................................. 57
Gambar 38. Needle Inspection ..................................................................... 58
Gambar 39. Amplop dan inner box .............................................................. 59
Gambar 40. Cutting dies ibu jari .................................................................. 61
Gambar 41. Cutting dies Omo ...................................................................... 61
Gambar 42. Cutting dies Machi ................................................................... 62
Gambar 43. Hasil dari aradachi ................................................................... 63
Gambar 44. Cara potong teknik aradachi .................................................... 63
Gambar 45. Hasil aradachi yang sudah dipress .......................................... 65
Gambar 46. Mesin press .............................................................................. 66
Gambar 47. Hasil press Pelubang Hasil proses Pelubang............................ 66
Gambar 48. Pelubang ................................................................................... 67
xi

Gambar 49. Hasil proses Pelubang .............................................................. 68


Gambar 50. Sambung omo model NK ......................................................... 69
Gambar 50. Pasang Velcro ........................................................................... 71
Gambar 51. Penampang kulit dengan pemasangan karet elastis.................. 72
Gambar 52. Sarung tangan bagian telapak tangan dengan karet elastis ...... 73
Gambar 53. Jahit Ibu jari.............................................................................. 74
Gambar 54. Pola ibu jari .............................................................................. 74
Gambar 55. Sambung Machi........................................................................ 76
Gambar 56. Pemasangan machi pada sarung tangan ................................... 76
Gambar 57. Omo sambung body .................................................................. 78
Gambar 58. Pemasangan binding................................................................. 78
Gambar 59 Sarung Tangan Golf Brigston................................................... 80
Gambar 60 Sarung Tangan Golf Mizuno .................................................... 80

xii

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Berbagai macam model desain sarung tangan menunjukkan pesatnya

perkembangan dunia industri sarung tangan. Hal ini dipengaruhi oleh tuntutan

kebutuhan dari para konsumen akan kepuasan dalam bidang desain. Selain

dalam dibidang desain, para produsen sarung tangan juga harus lebih

termotivasi untuk mengembangkan produk yang lebih berkualitas sehingga

tetap mampu bertahan ditengah ketatnya persaingan pasar sarung tangan

secara global. Mahasiswa sebelum menjadi produsen sarung tangan yang

sesungguhnya maka perlu untuk mengetahui lebih mendalam mengenai

industri sarung tangan.

Maka dari itu kegiatan magang ini dapat dijadikan sebagai gambaran

bagi para mahasiswa sebagai modal dalam dunia kerja maupun yang hendak

membuka usaha di bidang sarung tangan. Magang adalah kerja praktek secara

langsung di sebuah perusahaan dengan pendidikan yang ada di perkuliahan.

Bentuk kegiatan dalam magang ini menyesuaikan dengan aktivitas

perusahaan. Dalam hal ini magang merupakan simulasi bagi mahasiswa untuk

lebih mengenal dunia kerja sekaligus menerapkan ilmu yang didapatkan

dalam perkuliahan.

Industri sarung tangan tidak hanya ditujukan untuk memenuhi

kebutuhan dalam negeri tetapi juga menjadi komoditas ekspor yang cukup

potensial mengingat pasar luar negeri cenderung berdaya beli tinggi

dibandingkan konsumen dalam negeri. Produk sarung tangan untuk ekspor ini

tentunya adalah produk yang berkualitas tinggi yang mengedepankan berbagai

aspek, yaitu dari segi kenyamanan dalam pemakaian, ketahanan dalam

penggunaan, ergonomi, dan lain-lain, semuanya ditujukan untuk mencapai

kepuasan pelanggan.

Berdasarkan uraian di atas, maka penulis menggambil judul

PEMBUATAN SARUNG TANGAN MODEL GOLF DI PT ASA

YOGYAKARTA

B. Tujuan

1. Untuk mengetahui teknologi pembuatan sarung tangan golf

2. Untuk mempelajari alat dan bahan yang dipergunakan di perusahaan.

C. Manfaat

1. Menambah ilmu pengetahuan yang bermanfaat di bidang industri,

khususnya industri sarung tangan golf.

2. Sebagai informasi yang bermanfaat bagi Akademi Teknologi Yogyakarta.

3. Sebagai media informasi kepada para pembaca mengenai perkembangan

teknologi sarung tangan golf.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian Sarung Tangan

Menurut Gunarto dan Sutanto (1980), sarung tangan adalah sebuah

pelapis yang melindungi tangan dan sebagai pelengkap busana.

Sarung tangan adalah sebuah pelindung tangan yang mempunyai

empat jari terpisah yaitu mulai dari jari telunjuk, sampai pada jari kelingking,

dan satu ibu jari (Anonimus, 1984).

Dari dua pendapat ahli diatas dapat disimpulkan bahwa sarung tangan

adalah sebuah pelindung jari-jari dan telapak tangan baik sebagian maupun

keseluruhan untuk melakukan kegiatan tertentu, yang terbuat dari bahan kain,

kulit, atau sintetis.

B. Jenis-jenis Sarung Tangan

Menurut Alwi Hasan (2007), sarung tangan adalah sarung yang

dibuat dari wol, sutra, kulit, yang membungkus tangan pada setiap jari-jari.

Secara umum sarung tangan adalah sebuah pelapis atau pelindung jari-jari,

dan telapak tangan, untuk melindungi tangan dari gesekan atau benda tajam

dan memberikan kenyamanan dan perlindungan dari hawa panas dan

dingin, yang terbuat dari bahan kain, sintetis, dan kulit. Seiring kemajuan

zaman dan kreator yang bervarian sarung tangan kini tidak digunakan

sebagai pelindung, tetapi digunakan juga untuk aktifitas olahraga, kerja berat,

bahkan sebagai pelengkap busana. Jenis -jenis sarung tangan sebagai berikut:

1. Sarung tangan komersial dan industri

Adalah sarung tangan yang berfungsi melindungi telapak tangan

dan jari-jari tangan ketika melakukan kegiatan yang berhubungan

langsung dengan dunia industri, yang berhubungan langsung dengan

peralatan, mesin, dan bahan kimia. Sehingga dengan menggunakan sarung

tangan dapat meminimalisir dampak dari zat-zat yang berbahaya dan dari

suhu lingkungan sekitar tempat kerja dan sebagai pelindung dari infeksi.

Sarung tangan industri dan komersial sebagai berikut:

a. Sarung Tangan medis

Adalah sarung tangan yang dipakai para tenaga kesehatan dalam

menangani pasien maupun bagian yang berhubungan dengan bahan

kimia dan obat-obatan. Sarung tangan ini berfungsi sebagai

pelindung dari zat-zat berbahaya dan infeksi.

Gambar 1. Sarung Tangan Medis


Sumber : www.glove type.id Tahun 2012

b. Sarung tangan militer

Adalah sarung tangan yang dipakai oleh para anggota militer baik

polisi maupun tentara dalam melakukan tugasnya Polisi

menggunakan sarung tangan pada saat mengambil barang bukti

ketika ada kasus,sedangkan tentara memakai sarung tangan saat

menggunakan senjata.

Gambar 2. Sarung Tangan Militer


Sumber : www.glove type.id Tahun 2012

c. Sarung Tangan mekanik

Adalah sarung tangan yang dipakai oleh mekanik yang bekerja

berhubungan langsung dengan mesin-mesin.

Sehingga sarung tangan ini memiliki fungsi sebagai pelindung

tangan dari suhu, benturan, dan gesekan.

Gambar 3. Sarung Tangan Mekanik


Sumber : www.glove type.id Tahun 2012

2. Sarung Tangan olahraga

Adalah sarung tangan yang melindungi telapak tangan dan jari-jari

tangan dari cidera, gesekan dan benturan sewaktu melakukan olahraga.

Contoh:

a. Sarung tangan sepeda gunung

Adalah sarung tangan yang tidak hanya berfungsi sebagai pelindung

jari-jari dan telapak tangan, tetapi memiliki fungsi untuk meredam

getaran ketika berkendara di medan keras serta menghindari tangan

tergelincir atau lepas dari pegangan sepeda.

Gambar 4. Sarung Tangan Sepeda gunung


Sumber : www.glove type.id Tahun 2012

b. Sarung tangan kiper

Adalah sarung tangan yang memiliki kemampuan untuk mengurangi

efek benturan bola dengan telapak tangan. Selain itu melindungi juga

jari dan tangan penjaga gawang dari cidera saat menangkap atau

menghalau bola.

Gambar 5. Sarung Tangan Kiper


Sumber : www.glove type.id Tahun 2012

c. Sarung tangan riding / pengendara motor

Adalah sarung tangan yang tidak hanya melindungi tangan dari

sengatan matahari tetapi melindungi dari gesekan atau benturan saat

jatuh. Sehingga sarung tangan ini harus memiliki lapisan yang dapat

menutupi tangan dengan bahan yang dapat menyerap keringat serta

tidak licin saat memegang handle motor.

Gambar 6. Sarung Tangan Riding


Sumber : www.glove type.id Tahun 2012

d. Sarung tangan golf

Adalah sarung tangan yang berfungsi melindungi telapak tangan dari

gesekan sewaktu memegang stick golf dan menghindari tangan

tergelicir atau lepas dari stick golf.

Gambar 7. Sarung Tangan Golf


Sumber : PT Adi Satria Abadi Tahun 2012

3. Sarung tangan fashion

Adalah sarung tangan yang berfungsi sebagai pelengkap busana

dan memperindah dalam menghadiri suatu acara tertentu.

Gambar 8. Sarung Tangan Fashion


Sumber : www.glove type.id Tahun 2012

10

D. Pengertian Golf

Menurut Alwi Hasan (2007), Golf adalah cabang olahraga dengan

menggunakan bola kecil untuk dipukul dengan tongkat pemukul ke dalam

tiap-tiap rentetan lubang.

Permainan luar ruang yang dimainkan secara perorangan atau tim yang

berlomba memasukkan bola ke dalam lubang-lubang yang ada di lapangan

dengan jumlah pukulan tersedikit mungkin. Bola golf dipukul dengan

menggunakan satu set tongkat pemukul yang disebut klab (stik golf). Golf

adalah salah satu dari permainan yang tidak memiliki lapangan permainan

yang standar, melainkan dimainkan di padang golf yang masing-masing

memiliki desain unik, dan biasanya terdiri dari 9 atau 18 hole (lubang).

Aturan utama dalam golf adalah "memainkan sebuah bola dengan stik golf

dari daerah tee (teeing ground) ke dalam lubang dengan satu pukulan atau

beberapa pukulan berikutnya sesuai dengan Aturan".

Kesimpulannya golf adalah suatu permainan atau olahraga yang

dimainkan perorangan dengan menggunakan tongkat pemukul dan bola kecil

yang dimasukan ketiap-tiap lubang.

11

E. Pengertian Sarung Tangan Golf

1. Sarung Tangan Golf

Sarung tangan golf adalah sarung tangan dibuat dari kulit ataupun

bahan sintetis yang umumnya dipakai bagian tangan sebelah kiri

dengan model dan ukuran tertentu digunakan untuk olahraga golf.

Digunakan pada tangan bagian kiri, dimaksudkan agar stik golf pada

saat memukul tidak terpental dan difungsikan untuk menahan atau

mencengkram stik golf, sedangkan tangan bagian kanan, digunakan

untuk menekan stik agar terpukul dengan jauh. Sarung tangan golf yang

baik harus memenuhi syarat antara lain; enak dipakai, elastis, kuat, dan

berpenampilan menarik khususnya berkaitan dengan desain atau model

(Anonimus, 1984).

Menurut Alwi Hasan (2007), sarung tangan adalah sarung yang

dibuat dari wol, sutra, kulit, yang membungkus tangan pada setiap jari-

jari.

2. Komponen Sarung Tangan Golf

a. OMO

Adalah pola bagian sarung tangan yang mempunyai lebar

punggung tangan, panjang seluruhnya (dari jari yang tertinggi

sampai mata tangan), lingkar tangan

12

(dimulai dari jari kelingking mutar ketingkat tangan dalam

posisi mengepal dan mempunyai ibu jari yang terpisah).

Gambar 9. Pola Sarung Tangan Golf Bagian Telapak


Dan Punggung (Ommo) Skala 1 : 3
Sumber : Adi Satria Abadi Tahun 2012

b. Pola Ibu jari merupakan potongan dari pola OMO yang

mempunyai lingkar pangkal ibu jari dan tinggi ibu jari.

Gambar 10. Pola Sarung Tangan Golf Bagian Ibu Jari


Skala 1 : 3
Sumber : Adi Satria Abadi Tahun 2012

13

c. Machi adalah pola yang tempatnya dicela-cela jari (perbatasan

antara jari satu dengan jari yang lain).

Gambar 11. Pola Sarung Tangan Golf Bagian Machi


Skala 1 : 2
Sumber : Adi Satria Abadi Tahun 2012

d. Binding biasanya terletak pada bagian bawah sebagai

mengakhiri sarung tangan.

it
Kul

i ng
Bind

Gambar 12. Pemasangan Binding (Pita)


Sumber : Adi Satria Abadi Tahun 2012

14

e. Assesoris seperti velkro (kasar dan halus) sebagai perekat

penutup sarung tangan.

Gambar 13. Velcro Kasar Dan Halus


Sumber : Adi Satria Abadi Tahun 2012

F. Pengertian Pola

Menurut Anderson (1976), pola adalah gambar bentuk-bentuk dari benda

pada lembaran kertas. Gambar tersebut dipotong dari lembaran kertas dan

dicek untuk memastikan bahwa bagian tersebut telah benar.

Menurut Wiryodiningrat dan Basuki (2007), pola (pattern) adalah benda

yang berbentuk komponen-komponen yang digunakan sebagai petunjuk atau

acuan dalam pemotongan bahan maupun pembuatan produk.

15

G. Kulit Sarung Tangan Golf

1. Pengertian Kulit Sarung Tangan Golf

Menurut Sunarto (2001), kulit adalah lapisan luar tubuh binatang

yang merupakan suatu kerangka luar, tempat bulu binatang tumbuh.

Dalam Ensiklopedi Indonesia, dijelaskan juga bahwa kulit adalah

lapisan luar tubuh yang melindungi badan atau tubuh binatang dari

pengaruh-pengaruh luar, misalnya panas, pengaruh yang bersifat

mekanis, kimiawi, serta kulit merupakan alat penghantar suhu.

2. Macam-Macam Kulit Sarung Tangan Golf

a. Kulit Domba

Menurut Woodroffe (1949), kulit domba merupakan bahan

baku yang baik untuk membuat kulit jadi. Hal ini karena kulit domba

mempunyai warna yang tidak terlalu pucat, lentur terasa halus dan

lembut ketika diraba, setelah menjadi produk tidak akan

menyebabkan kepanasan ketika digunakan pada saat siang, dan

dapat menghangatkan ketika cuaca dingin sehingga baik untuk

dibuat produk busana, sarung tangan dan lainya.

Anonimus (1984), syarat kulit yang digunakan untuk sarung

tangan golf sebagai berikut:

1. Kulit Samak crome.

2. Kulit lemas bila dipegang

3. Warna atau cat rata

16

4. Nerf tidak jelas

5. Ketebalan kulit 0,45- 0,55 mm

b. Kulit Sintetis

Anomimus (2009), kulit sintetis adalah lembaran kulit tiruan

yang terbuat dari kompon PVC atau (PU) sebagai pelapis atasnya

dan kain sebagai lapisanya dasar yang berfungsi sebagai penguat,

ada yang diberi busa pada lapisan tengahnya atau tanpa busa.

Kulit sintetis dibuat dari kain yang terlihat seperti kulit. Kulit

sintetis memiliki permukaan seperti kulit, dicelup dan diobati

sehingga memiliki tampilan dan nuansa nyata seperti kulit asli. Hal

ini sering digunakan sebagai pengganti untuk kulit asli karena lebih

murah dan tidak memerlukan menggunakan Kulit hewan. kulit

buatan atau sintetis dapat dicat berbagai warna. Hal ini juga dapat

membuat awet dan tahan noda. Kulit buatan atau sintetis dapat

dibuat agar terlihat seperti semua jenis kulit diinginkan (motif

/corak). Banyak yang menganggap superior kulit sintetis karena

keragaman dalam penampilan.

Penggunaan kulit sintetis banyak digunakan di berbagai produk

sebagai pengganti kulit asli. Kwalitas kulit sintetis sendiri dibagi

berdasarkan kwalitas seperti kulit KW Super, KW 1, KW 2, KW 3.

17

H. Teknik Pemotongan
Menurut Riris Simanungkalit (1994), teknik memotong bahan kulit

berbeda dengan bahan non kulit, karena kulit mempunyai sifat-sifat yang

khusus yaitu:

1. Ketebalan :

Dalam satu lembar kulit tebalnya belum tentu sama.

a. Bagian krupon paling tebal dan paling kompak seratnya.

b. Bagian perut lebih tipis.

c. Bagian leher lebih tebal tapi berkerut.

2. Elastisitas

Bagian perut lebih elastis, mulur dari bagian krupon ataupun leher.

3. Kualitas

Kualitas kulit biasanya diperhitungkan dari tebal tipisnya. Proporsi

antara bahan dan ukuran luasnya, serta prosentase cacat-cacat yang ada

baik itu cacat alami ataupun cacat karena goresan pisau, dll.

Pemotongan bahan dapat dilakukan dengan menggunakan pisau,

gunting ataupun mesin. Pada waktu memotong bahan dengan

menggunakan pisau, selain pisau harus tajam maka pisau harus tegak

lurus dengan bahan yang sedang dipotong.

Bila memotong bagian-bagian yang lurus sebaiknya menggunakan

penggaris baja dan pisau, sedangkan bila memotong bagian yang

melengkung kita menggunakan gunting.

18

Menurut Siddha (1994), perbedaan bagian pada kulit memilki

penampakan dan menunjukan kualitas yang berbeda. Kualitas kulit secara

langsung berhubungan dengan ketegangan dan kemuluran kulit. Kualitas

terbaik kulit terdapat pada bagian punggung/krupon. Bagian perut yang

mulur tidak dapat digunakan untuk bagian bagian utama.

Leher
(Neck)

an Le
ep
D nk) (F n g a n
n or
a la e F De p
ng e F Bahu lan an
Le For (Shoulder) k)
(

(Belly)
P eru t
(Belly)
P e ru t

Krupon
(Butt)
Len gan Belakan g
Len g in d F lan

(Hind Flank)
(H
an B
elaka
k)
ng

Ekor
(Tail)
Keterangan:
Kemuluran
Ketegangan

Gambar 14. Bagian Bagian Kulit


Sumber : Footwear Design and Development Institute

19

Menurut Suliestiyah Wiryodiningrat (2008), teknik pemotongan

kulit sintetis, dapat memakai salah satu cara bebagai berikut:

Gambar 15. Arah benang warp dan weft


Sumber : www.glove type.id Tahun 2012

1. Sesuai arah benang-banang warp, pomotongan pola diatur sehingga

telah sesuai dengan arah garis benang-benang warp. Sistem warp

merupakan sistem pemotongan yang terbaik, karena dengan kekuatan

benang warp memungkinkan tegangan yang baik dari seluruh bagian

pola.

2. Sesuai dengan arah benang-benang weft, pemotongan pola diatur

sehingga letak pola sesuai dengan arah-arah geris benang weft. Sistem

pemotongan ini untuk menghindari kain yang mudah pecah, oleh

karena itu cara pemotongan weft membantu mencegah pecahnya kain.

3. Sesuai dengan sistem bias, pemotongan pola diatur sehingga pola

terletak pada suatu sudut tertentu dari garis benang. Sistem ini banyak

dipakai karena akan memperoleh kemuluran dan kekuatan yang cukup.

20

H. Pengertian Proses, Pembuatan dan Teknik Perakitan

Alwi Hasan (2007), proses adalah rangkaian tindakan, pembuatan,

atau pengelolaan yang menghasilkan produk, sedangkan proses perakitan

adalah proses merakit menjadi suatu barang. Dapat disimpulkan bahwa proses

perakitan adalah tindakan merakit atau pengolahan yang dapat menghasilkan

suatu produk.

Alwi Hasan (2007), pembuatan adalah proses, cara, perbuatan untuk

membuat sesuatu barang. Misal: pembuatan kursi berarti suatu proses, cara

untuk membuat kursi.

Poerwadarmita (1985), teknik adalah kepandaian membuat sesuatu

yang berkenaan dengan hasil industri, sedangkan perakitan adalah

pengaturan/penyusunan.

I. Kulit Sarung Tangan

Edy Purnomo (1996), kulit sarung tangan adalah kulit yang tersamak

yang dibuat dari kulit domba, kambing, ular, sapi, disamak dengan bahan

penyamak krom, formal dehyd, minyak, atau kombinasi dari bahan-bahan

penyamak tersebut, dengan sifat-sifat lembut, fleksibel, lemak dan sedikit

mulur, yang fungsinya untuk menutup tangan baik hanya sebagai hiasan atau

fungsional lainnya.

21

J. Macam-macam Jahitan

Menurut Alwi Hasan (2007), menjahit adalah teknik melekatkan,

menyambung, mengelem, dengan jarum dan benang kepada bahan.

Menurut Basuki (1987), macam-macam jahitan antara lain sebagai

berikut:

1. Closed seam.

Cara menyambung dua komponen sarung tangan yang akan

disambung ditempel menurut permukaannya kemudian dijahit.

Gambar 16. Jahitan Closed Seam

2. Lapped seam.

Jahitan yang digunakan untuk menyambung dua komponen, salah

satu menumpang diatasnya.

Gambar 17. Jahitan Lapped Seam

22

3. Brokly Seam.

Model jahitan yang ditutup pita.

Gambar 18. Jahitan Brokly Seam

4. Silked Seam.

Jahitan dengan menggunakan pita dari kain yang ditempel pada

sebelah luar jahitan, kemudian dijahit ganda.

Gambar 19. Jahitan Silked Seam

5. Open Seam.

Merupakan lawan dari close seam.

Gambar 20. Jahitan Open Seam

23

6. Walted Seam.

Merupakan variasi dari close seam tapi bagian tengah dari dua

komponen disisipkan bahan yang sejenis.

Gambar 21 Jahitan Walted Seam

7. Butted Sem.

Bagian yang dijahit dipasang berdampingan kemudian dijahit

zig-zag.

Gambar 22. Jahitan Butted Seam

8. Pipped Seam.

Merupakan variasi dari walted seam dengan bagian tengah diantara

dua komponen dipasangi tali berbentuk pita.

Gambar 23. Jahitan Pipped Seam

24

K. Standar Ukuran Sarung Tangan Golf

Standar ukuran sarung tangan golf tertentu yang dapat dipakai sebagai

patokan untuk pembuatannya, seperti tabel dibawah:

Tabel 1. Standar Ukuran Sarung Tangan Golf

No Bagian yang diukur Kecil Sedang Besar Eks Besar

1 Lebar Punggung Tangan 90-94 95-99 100-104 105-110

2 Lebar Pinggang Tangan 65-69 70-74 75-80 75-80

3 Panjang Jari Telunjuk 95-109 110-119 120-125 120-125

4 Panjang Ibu Jari 65-69 70-74 75-80 75-80

5 Panjang Sarung Tangan 200-214 215-224 220-225 220-225

6 Panjang Telapak Tangan 175-184 185-189 190-195 190-195

Satuan Milimeter (mm)

Sumber : SII. No 1095 Tahun 1984

L. Pengertian Quality Control

Menurut Feigenbaum (1992), pengendalian mutu terpadu dapat

didefinisikan sebagai suatu sistem yang efektif untuk memadukan

pengembangan mutu, memelihara mutu, dan usaha-usaha perbaikan mutu dari

berbagai kelompok dalam suatu organisasi untuk memungkinkan kepuasan

konsumen secara penuh.

Menurut Ishikawa (1992), pengendalian mutu (quality controle) adalah

mengembangkan, desain, memproduksi, dan memberikan jasa atau produk

25

bermutu yang paling ekonomis, paling berguna dan selalu memuaskan bagi

konsumen.

Pengendalian mutu (Quality Controle) adalah teknik dan kegiatan

operasional yang digunakan untuk memenuhi persyaratan mutu ( Anonimus

1992).

Menurut Mizuno (1994). Pengendalian mutu adalah keseluruhan cara

yang digunakan untuk menentukan dan mencapai standar mutu, merencanakan

dan melaksakan cara paling ekonomis untuk membuat suatu barang yang akan

bermanfaat dan memuaskan tuntutan konsumen secara maksimal.

Dari beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa

pengendalian mutu (quality control) adalah suatu kegiatan operasional yang

digunakan untuk menentukan dan menapai standar mutu, merencanakan,

mengembangkan, memelihara mutu, dan usaha-usaha perbaikan mutu dari

beberapa kelompok di dalam suatu organisasi.

BAB III

MATERI DAN METODE

1. Lokasi pelaksanaan magang

Kerja praktik ini di perusahaan sarung tangan golf di PT. Adi

Satria Abadi yang berlokasi di Dusun Sidokerto, Purwomantani, Kalasan,

Sleman, Yogyakarta

2. Waktu pelaksanaan kerja praktik

Kerja praktik magang berlangsung selama satu bulan, mulai dari

tanggal 1 mei 2012 sampai pada 30 mei 2012

3. Materi

Materi yang dipelajari penyusun dalam rangka kerja praktik di

perusahaan adalah proses pembuatan sarung tangan golf yang terbuat

dari kulit.

Obyek kerja praktik ini bertumpu pada proses pembuatan sarung

tangan golf dari bahan kulit, karena jenis sarung tangan itulah yang

diproduksi oleh perusahaan ini. Sedangkan titik perhatian didalam kerja

praktik dipusatkan pada bagian pembuatan sarung tangan golf, dimana

mulai dari tahap awal sampai pada tahap paling akhir produksi. Urutannya

yaitu tahap penyeleksian bahan baku, pemotongan bahan, penjahitan,

produk jadi, sampai dengan pengepakan produk (packing).

26

27

4. Metode

Metode merupakan cara pengumpulan data yang dilakukan oleh

penulis untuk mengumpulkan atau mendapatkan informasi yang ada pada

perusahaan atau sumber yang lain, yang mendukungnya.

Untuk mendapatkan data atau informasi secara lengkap dalam

kerja pratik dilakukan beberapa cara yaitu melalui:

a. Metode pengumpulan data

1) Metode pengumpulan data primer

Metode pengumpulan data primer adalah pengambilan data

yang diperoleh secara langsung dari pihak-pihak yang terkait

dengan pokok pembahasan di perusahaan. Untuk memperoleh data

primer, metode yang digunakan antara lain :

a) Metode interview

Metode interview merupakan metode wawancara atau

tanya jawab secara langsung dengan responden. Metode ini

digunakan untuk melakukan wawancara atau tanya jawab

langsung (secara lisan) kepada staf perusahaan atau karyawan

perusahaan PT. Adi Satria Abadi.

Dalam melakukan metode ini diperlukan adanya

keterkaitan dengan pihak yang akan diwawancarai, karena

dalam kenyataanya tidak semua karyawan mengetahui proses

pembuatan sarung tangan secara benar, mereka (karyawan)

hanya mengetahui apa yang menjadi tugasnya.

28

Penggunaan metode ini bertujuan untuk menjaring data

berupa keterangan-keterangan yang akan dikehendaki. Setelah

itu penyusun menarik kesimpulan dari apa yang ditanyakan.

Misalnya melakukan wawancara dengan bagian proses

pemilihan bahan, bagian persiapan sebelum produksi (PSP),

sampai pada proses packing. Setelah itu penulis mengambil

intasari dari setiap bagian tersebut.

b) Metode observasi (pengamatan)

Untuk menunjang data yang relevan perlu dilakukan

adanya metode observasi yaitu metode pengamatan langsung

atas objek yang diteliti. Dalam hal ini pengamatan dilakukan

terhadap proses produksi sarung tangan golf. Observasi

dilakukan dari tahap awal sampai pada tahap akhir produk,

observasi lebih lanjut atau detail dilakukan dibagian yang

menyangkut sistem quality controle sarung tangan golf.

2) Metode pengumpulan data sekunder

Metode pengumpulan data sekunder adalah pengumpulan

data yang diperoleh secara tidak langsung dengan melihat

permasalahan yang ada, seperti istilah-istilah yang digunakan di

perusahaan yang berkaitan dengan materi yang diamati. Metode

pengumpulan data sekunder yang digunakan oleh penulis adalah

metode kepustakaan. Cara ini ditempuh oleh penulis dengan cara

mempelajari literatur-literatur atau membaca buku serta teori, baik

29

dalam kampus maupun di luar, yang berkaitan erat dengan materi

yang diambil dalam suatu pelaksanaan kegiatan kerja praktek

(magang). Metode yang digunakan antara lain:

b. Metode pengambilan sampel

Pengambilan sampel diambil 25 sampel produk jadi, secara

Random. Kemudian dilakukan pengamatan terhadap sampel yang akan

diuji. Hal ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis sarung tangan

golf.

c. Metode penilain produk

Setelah melakukan pengamatan secara keseluruhan terhadap

produk sarung tangan golf. Kemudian hasil pengamatan

diklasifikasikan menjadi dua macam kategori yaitu:

1) Lolos seleksi

Yaitu sarung tangan yang sudah memenuhi standar/ kriteria

yang ditentukan oleh buyer atau sarung tangan yang tidak

mempunyai kecacatan dalam proses produksi.

2) Tidak lolos seleksi

Yaitu sarung tangan yang tidak lolos seleksi, disebabkan

adanya kecacatan ringan pada produk sarung tangan, namun masih

bisa diperbaiki (repair). Penyebab kesalahan terjadi karena

penyimpangan kecil pada proses produksi.

BAB IV

PELAKSANAAN MAGANG

A. Keadaan perusahaan

1. Tinjauan Umum Perusahaan.

a. Identitas perusahaan

Identitas perusahaan sarung tangan golf tempat kerja praktek

lapangan ini adalah sebagai berikut:

Nama perusahaan : PT. Adi Satria Abadi

Pemilik perusahaan : Subiyono,Bsc.

Bentuk badan usaha : Perseroan Terbatas

Waktu pendirian : 1997

Jenis Usaha : Produksi sarung tangan golf dari bahan kulit

Mulai produksi : Mei 1997

b. Sejarah singkat perusahaan

PT. Adi Satria Abadi merupakan perusahaan yang bergerak di

bidang pengolahan kulit untuk memproduksi sarung tangan golf yang

dikelola dari kulit menjadi kulit yang siap untuk dibuat menjadi sarung

tangan . Bahan baku yang digunakan adalah kulit domba dan kambing

yang sudah dihilangkan bulunya dan sudah dalam keadaan diasamkan

(Pickle).

30

31

PT. Adi Satria Abadi didirikan oleh Bapak Subiyono,Bsc; Bapak

Diyono,dan Ibu M. Difalik Tantowiyah. Adapun ijin pendiriannya antara

lain:

Akte Pendirian nomer : ASA 77.26 Juli 1994

Ijin HO nomer : 503/4739/1994

Ijin SIUP nomer : 1.77-94/1202/PB/II/1995

Pada awalnya, perusahaan ini didirikan dengan nama PT. Adi

Surya Abadi, namun saat diajukan untuk proses pengesahan pada

Departemen Kehakiman, nama tersebut telah terdaftar pada perusahaan

lain. Dengan mengikuti peraturan pada Departemen, yang tidak

memperbolehkan penggunaan nama perusahaan yang sama, maka pada

tanggal 26 Juni 2000 PT. Adi Surya Abadi melakukan perubahan nama

menjadi PT. Adi Satria Abadi.

PT. Adi Satria Abadi mempunyai dua lokasi untuk produksinya.

Bagian perusahaan yang mengelola kulit lembaran berlokasi di Desa

Banyakan, Kelurahan Siti Mulyo, Kecamatan Piyungan, Kabupaten

Bantul, Yogyakarta. Bagian perusahaan yang menangani pembuatan

sarung tangan berlokasi di Jalan Laksda Adisucipto km 11, Dusun

Sidokerto RT 03/ RW 01 Purwomartani, Kalasan. Sebelunya, pembuatan

sarung tangan ini berlokasi di komplek Lingkungan Industri Kecil (LIK)

Maguwoharjo Yogyakarta.

Pada awal didirikan, PT.Adi Satria Abadi mengkhususkan diri

pada pengolahan kulit terutama untuk diekspor. Pada tahun 1997,

32

perusahaan mulai merasakan adanya kulit-kulit yang sobek karena proses

maupun jumlah kutu yang terlalu banyak sehingga mengakibatkan kulit-

kulit menjadi afkir (tidak dapat digunakan) dan mempengaruhi sulitnya

penjualan. Kemudian muncul ide untuk mendirikan pabrik sarung tangan

untuk mengolah kulit-kulit yang tidak dapat digunakan tersebut.

Kulit afkir yang telah diolah kembali dapat mempunyai nilai jual

dan tidak terbuang. Sehingga pabrik sarung tangan ini sifatnya sebagai

pelengkap pabrik kulit yang memproduksi kulit bahan sarung tangan.

c. Visi Misi dan Tujuan Perusahaan

1. Visi perusahaan

Dalam eksistensinya di dunia industri, PT. Adi Satria Abadi

mempunyai sebuah Visi yaitu mendirikan perusahaan kecil

tetapi sehat.

2. Misi perusahaan

PT. Adi Satria Abadi mempunyai beberapa Misi dalam

mengembangkan perusahaan, yaitu:

a. Mengembangkan kemampuan teknologi perkulitan

b. Menjaga kualitas dengan menggunakan motto Kepuasan

Pelanggan Adalah Budaya Kami

3. Tujuan perusahaan

Dengan keberadaannya didalam usahanya mempunyai tujuan :

33

a. Memperoleh keuntungan / laba yang layak bagi perusahaan

guna menunjang kelangsungan hidup perusahaan.

b. Dapat menampung tenaga kerja,sehingga dapat mengatasi

masalah pengangguran

c. Membantu usaha pemerintah dalam bidang penggalakan/

ekspor non migas.

4. Deskripsi perusahaan

PT. Adi Satria Abadi beralamatkan di Jalan Laksda Adisucipto

Km 11, di Dusun Sidokerto RT 03/RW 01 Purwamartani,

Kalasan, Sleman, Yogyakarta. Sampai saat ini lokasi tersebut

masih tetap dipergunakan perusahaan dalam menjalankan

usahanya sebagai produsen, eksportir sarung tangan golf dari

kulit. Struktur organisasi dan layout produksi PT Adi Satria

Abadi (Lihat Lampiran ) Meskipun perusahaan ini semakin

berkembang tetapi lokasi ini masih tetap dipertahankan karena

dengan alasan:

a. Salah satu tempat atau daerah strategis

b.Perhubungan keluar masuk cukup luas, sehingga tidak

mengganggu lalu lintas.

c. Pemerintah tidak menggunakan tanah tersebut.

34

2. Tinjauan Teknologi

a. Segi Desain

Tampak Depan Tampak Belakang

Gambar 24. Desain Sarung Tangan


Sumber : PT Adi Satria Abadi Tahun 2012

PT. Adi Satria Abadi biasanya memproduksi sarung tangan sesuai

pesanan buyer dan desain yang telah ditentukan terlebih dahulu.

Kebanyakan, perusahaan menerima buyer yang sudah memiliki desain dan

ketentuan spesifikasinya. Setelah perusahaan menerima desain dari

pemesan kemudian dibuatlah contoh atau sampel yang diperuntukkan agar

buyer tahu barang tersebut sesuai atau tidak dengan keinginan dan

35

pesanan. Setelah dibuat sampel dan prototypenya diadakan evaluasi oleh

pihak buyer.

Jika prototype tersebut lolos seleksi dan buyer setuju dengan

hasilnya, kemudian perusahaan membuat pola dan dibuat dalam bentuk

cutting dies.

Gambar Pola dasar dan Pola Jadi Sarung Tangan Golf

36

37

38

DIAGRAM ALIR

PEMBUATAN SARUNG

Pensil DESAIN Kertas HVS

Drawing Pen, komputer, LEMBAR KERJA Kertas HVS


Printer

Cutter, Drawing Pen,


Pensil, Penggaris POLA Kertas Malaga

Mesin Hydrolic, pisau,


cutting dies, pola PEMOTONGAN Kulit

Mesin Jahit, Gunting, Lem PERAKITAN Kulit, Velcro,


(MENJAHIT) Asesoris

Setrika kulit, Plat,


Pemanas FINISHING Sarung Tangan

Needle Inspection PACKING Polybag, Amplop,


Inner box, Kardus

Gambar 61. Diagram Alir Pembuatan Sarung Tangan Golf


Sumber: PT Adi Satria Abadi



39

b. Segi Proses Produksi

Dalam proses produksi PT. Adi Satria Abadi membagi dalam 4

tahapan, yaitu:

1. Pemotongan (cutting)

Pada awal proses pemotongan ini bahan baku utama dan bahan

pendukung dipotong dengan pola yang sesuai untuk kemudian masuk

ke bagian jahit. Rendement (sisa potongan) sangat diperhatikan dalam

memotong. Hal ini berkaitan dengan keefisienan penggunaan bahan.

Dikatakan efisien jika rendement hasil pemotongan sama dengan atau

mendekati rendement awal.

Tahap-tahap pada bagian pemotongan adalah:

a. Aradachi

Aradachi adalah tahap pemotongan lembaran kulit

berdasarkan pola Omo (telapak tangan). Pola tangan ini dibagi

menjadi 2 jenis yaitu:

1. Pola A/1

Pola telapak tangan utuh, bagian muka dan bagian belakang

dalam satu pola.

2. Pola A/2

Pola telapak tangan terpisah, menjadi pola muka dan pola

belakang.

40

Gambar 27. Hasil dari aradachi


Sumber : PT Adi Satria Abadi Tahun 2012

Satu lembar kulit tidak hanya dipotong untuk bagian

telapak tangan saja, tetapi digunakan juga untuk potongan ibu jari,

fantasi, patch, dan machi, tergantung dari jenis sarung tangan yang

akan dibuat. Bentuk potongan selain dibedakan untuk sarung

tangan kiri atau sarung tangan kanan, juga dibedakan berdasarkan

ukurannya.

Gambar 28. Proses pemotongan menggunakan teknik


aradachi
Sumber : PT Adi Satria Abadi Tahun 2012

41

Gambar 29. Cara Potong Aradachi yang Benar


Sumber : PT Adi Satria Abadi Tahun 2012

b. Machi

Machi merupakan bagian sela-sela jari sarung tangan.

Bentuk machi yang kecil menyebabkan machi tidak dapat dipotong

di bagian aradachi yang menggunakan pisau potong biasa.

Alat potong machi menggunakan plat besi yang dibagian

bawahnya terdapat pisau yang ditekan dengan menggunakan mesin

machi, alat potong ini berbentuk pola machi. Sebelum melakukan

pemotong, pisau terlebih dahulu diberi lilin, dan pada bagian meja

press diberi cutting plate untuk menjaga ketajaman pisau.

42

Selain itu, cutting plate juga digunakan agar pisau pola

tidak menempel pada meja.

Gambar 30. cutting dies pola machi


Sumber : PT Adi Satria Abadi Tahun 2012

c. Seleksi 1

Seleksi 1 merupakan seleksi awal pada bagian potong ini

berperang untuk menyeleksi hasil potong aradachi. Pada seleksi 1

ini ada beberapa hal yang perlu untuk diperhatikan yaitu pada

tingkat keelastisan kulit, posisi cacat, dan warna kulit. Kulit hasil

pemotongan ditarik sesuai arah seratnya kemudian dikembalikan

lagi dengan menarik ke arah mati kulit untuk menguji keelastisan

kulit. Apabila kulit dapat kembali ke posisi semula, maka kulit

tersebut memiliki keelastisan yang baik.

Kuat lemahnya tarikan dalam menarik kulit dapat dilihat

dari jenis kulitnya. Ada kulit yang apabila ditarik terlalu kuat,maka

akan menyebabkan kulit tersebut menjadi mulur dan gemuk.

43

Bahkan ada juga kulit yang apabila tidak ditarik terlalu kuat, maka

kulit tersebut tidak dapat diketahui tingkat keelastisannya yang

baik.

Kulit yang memiliki banyak luka dan bekas kutu yang tidak

dapat diloloskan dalam seleksi karena akan mempengaruhi

penampilan terakhir dari sarung tangan. Perbedaan warna potongan

Omo dengan ibu jari, machi, patch, dan fantasi tidak boleh terlalu

jauh.

Gambar 31. Hasil seleksi machi


Sumber : PT Adi Satria Abadi Tahun 2012

Ada beberapa cacat yang sering ditemukan pada seleksi 1

yaitu, antara lain:

1. Mulur

Tarikan ke atas terlalu berlebihan (kulit memanjang).

2. Gemuk

Tarikan ke samping terlalu berlebihan (kulit melebar).

44

3. Sempit

Tidak elastis sama sekali.

4. Tidak simetris

Hasil pemotongan tidak sesuai dengan pola (disebabkan

pola pemotongan yang terlalu ke pinggir).

5. Cacat

Ada luka, banyak bekas kutu, ada lubang, serta sobek yang

terlalu berlebihan.

6 Rapuh

Mudah sobek.

7. Kaku dan tebal

8. Beda warna

Hasil pemotongan yang sudah diselaksi diberi surat jalan

per 25 buah untuk jenis sarung tangan golf , dan surat jalan

per 10 buah untuk jenis sarung tangan dress. Kemudian

diberi nomor barang sesuai dengan surat jalan. Pemberikan

nomor ini dimaksudkan supaya hasil pemotongan yang

sudah diseleksi dan dipasangkan sesuai dengan warnanya

dan tidak tercampur pada saat proses selanjutnya.

45

d. Stciker

Hasil dari pemotongan yang sudah diseleksi pada seleksi 1

dan diberi nomor barang sesuai dengan surat jalannya kemudian

diberi sticker. Pemasangan sticker dimaksudkan untuk

memudahkan bagian penyeleksian selanjutnya. Pemasangan

sticker masih dilakukan secara manual.

e. Press

Pemotongan kulit yang lolos pada tahap seleksi 1 dan sudah

diberi sticker kemudian dipotong press sesuai dengan pola

yang dibutuhkan dan disesuaikan dengan ukurannya. Pola yang

digunakan dalan mesin press ini adalah pola yang dibuat dari

bahan besi serta pada bagian bawahnya berupa mata pisau.

Ketajaman dari pisau inilah yang nantinya akan mempengaruhi

hasil pemotongan, pisau terlebih dahulu diberikan lilin dan pada

bagian meja press diberi cutting plate untuk menjaga ketajaman

pisau. Cutting plate juga digunakan agar pisau pola tidak

menempel pada meja. Sebelum dipotong, kulit diatur terlebih

dahulu agar tidak terjadi kesalahan dalam memotong. Pada saat

pola kulit diatur, bagian pemotongan kulit yang terdapat cacat

dapat disendirikan atau dipisahkan dan dipaskan dengan pola

sehingga bagian kulit yang cacat dapat terbuang.

46

Gambar 32. Mesin Press Velcro


Sumber : PT Adi Satria Abadi Tahun 2012

Jumlah tumpukan kulit sekali mengepres idealnya antara 4-

5 lembar kulit. Jumlah ini merupakan jumlah dimana potongan

kulit dapat terpotong dengan baik. Mesin press juga dapat

digunakan untuk memotong machi, velcro, penguat dan

berbentuk variasi yang lain.

f. Lubang

Kulit yang sudah dipress kemudian dimasukkan ke

bagian pelubangan. Bagian yang dilubangi adalah jari-jari dari

sarung tangan. Lubang disini berfungsi sebagai sirkulasi udara

saat sarung tangan digunakan.

47

Gambar 33. Hasil pola yang sudah dilubang


Sumber : PT Adi Satria Abadi Tahun 2012

Alat yang digunakan untuk membuat lubang dapat

dilakukan dengan mesin press dan juga dengan cara manual

menggunakan palu besi.

g. Seleksi 2

Pada seleksi tahap ke 2 ini merupakan tahapan terakhir

pada bagian pemotongan. Pada bagian ini penyeleksian

dilakukan dengan secara ketat karena hasil dari seleksi 2 ini

yang nantinya akan langsung dibawa ke bagian jahit.

Ada beberapa hal yang perlu untuk diperhatikan dalam

seleksi 2 diantaranya hasil press harus baik, lubang sudah

benar, kulit tidak mulur dan gemuk, warnanya tidak berbeda

terlalu jauh,tidak ada bagian yang rapuh.

48

h. Persiapan produksi

Setelah potongan press, hasil potongan diserahkan ke

bagian persiapan produksi untuk mengatur pasangan-pasangan

potongan kulit, potongan material, logo, kancing, karet, dan

variasi-variasi lain, sehingga setiap satu set sarung tangan golf.

Penyetelan ini harus hati-hati sesuai sizenya masing-masing.

Disini membutuhkan ketelitian cara mengatur meterial misal,

untuk size 22, Omo size 22, 1 banding sejumlah 25 potong,

maka ibu jari, machi juga harus untuk size 22 sejumlah yang

sama. Begitu misal karet, logo, velcro, juga masing-masing

bendel sejumlah 25.

Sebelum masuk ke bagian produksi (proses jahit), kulit

yang sudah diseleksi ini kemudian masuk ke bagian PSP.

Bagian ini bertugas untuk melengkapi potongan-potongan kulit

yang sesuai dengan surat jalan. Bahan-bahan yang harus

dilengkapi berupa velcro, penguat, pita, machi, logo,n inner,

size, dan bahan-bahan lainnya.

Sebelum masuk pada bagian jahit, bagian PSP harus

memperhatikan jenis order, ukuran dan jenis sarung tangan

(kanan atau kiri ) karena bentuk variasi dari setiap sarung tangan

pasti berbeda. Setelah lengkap, kulit potongan beserta

pelengkapnya dikirim ke bagian jahitan untuk diproduksi.

49

i. Apkiran/ Reject

Apkiran merupakan bagian dari pemotongan yang bertugas

dalam menangani produk apkir dari bagian produksi dan final.

Bagian apkir bertugas untuk mengganti produk afkir seperti

terkena jarum, sobek, rapuh, salah jahit, beda warna, dan lain

sebaginnya.

Apkiran biasanya meminta stock potongan kulit yang ada

pada bagian seleksi 1 untuk mengganti produk akhir. Jika tidak

ada, maka meminta kulit baru dari gudang kulit sesuai dengan

jenis dan jumlah sarung tangan yang apkir tersebut.

2. Proses Jahitan

Pada bagian jahit (bagian produksi) ini, dibagi menjadi 3 bagian

proses pembuatan sarung tangan antara lain:

1. Line 1

Dalam proses pembuatan sarung tangan, tugas-tugas Line 1

adalah:

a. Jahit Fantasi

Omo yang terletak pada punggung tangan diberi jahitan

sesuai dengan model desainnya, dan jahitan ini

merupakan 2 macam model yaitu jarum 1 dan jarum 2.

50

b. Pasang size

Letaknya bergantung pada permintaan dari konsumen

tetapi pada umumnya terletak dibagian dalam sarung

tangn tepat dibalik velcro. Untuk bahan size sendiri PT.

ASA menggunakan bahan yang diberi nama size satten.

c. Sambung machi

jahit silang

jahit lapped seam


Gambar 34.Sambung machi
Sumber : PT Adi Satria Abadi Tahun 2012

Ambil dua machi yang sudah diseleksi sebelumnya dan

sambung machi dengan menggunakan teknik jahit

lapped seam sehingga membentuk v.

51

d. Jahit variasi jari-jari

Ada berbagai macam variasi dijari-jari sarung tangan.

Dan setiap model dan merk berbeda variasinya. Jadi

berbeda juga cara jahitnya ada yang menggunakan jahit

tumpang ada juga yang menggunakan jahit closed seam.

e. Pasangan karet knuckle (elastis)

Cara memasang karet ini dengan menggunakan mesin

jahit zig-zag, agar karet kuat dan tidak mudah lepas.

2. Line 2

Dalam proses pembuatan sarung tangan, tugas-tugas Line 2

adalah:

a. Pasangan triator (accessories)

Proses ini adalah satu-satunya dalam menjahit yang

menggunakan lem. Karena, asesoris yang dipasangkan

ke sarung tangan tidak bisa langsung menempel jika

dijahit harus dibantu dengan lem.

b. Sambung Omo

Sambung Omo dilakukan dengan menggunakan teknik

jahit closed seam. Ini bertujuan untuk kenyamanan dan

kelihatan bagus, karena sisa jahitan berada didalam.

52

c. Pasangan Velcro

velcro kasar
velcro halus

jahit lapped

Binding

Gambar 35. Penampang kulit dengan Velcro


Sumber : PT Adi Satria Abadi Tahun 2012

Pemasangan velcro dilakukan setelah sambung ommo.

Velcro dipasang pada bagian punggung tangan pada sisi

perekat bagian kanan dan dijahit 1 mm dari tepi velcro,

sebelum dipasang terlebih dahulu diberikan pita atau

binding tujuannya untuk menutupi pinggir-pinggir pada

sisinya. Pemasangan velcro ini menggunakan teknik jahit

lapped seam.

53

d. Jahitan karet lingkar.


sisi pergelangan tangan

sisi perekat tangan

sisi punggung tangan


Gambar 36. Jahitan elastis
Sumber : PT Adi Satria Abadi Tahun 2012

Proses jahit karet ini menggunakan teknik jahit lapped

seam dengan jahit zig-zag. Pasang karet tersebut

melingkar mengelilingi sarung tangan. Karet tersebut

dipasang disarung tangan bertujuan untuk kenyamanan

saat pemakaian.

e. Pilih ibu jari

Menjodohkan potongan pola ibu jari dengan omo sesuai

dengan warna dan teksturnya. Agar dalam proses

perakitannya tidak perlu lagi untuk mencocokkan warna

dan tekstur yang sama.

f. Pasang machi

Machi yang telah disambung, kemudian dijahit pada

sela-sela jari dengan menggunakan jahit lapped seam,

54

dimulai dari kelingking lanjut jari manis kemudian jari

tengah dan yang terakhir jari telunjuk.

3. Line 3

a. Lipat ibu jari

Dalam proses penjahitan pola ibu jari tidak ada

pengeleman jadi, dalam menjahit harus hati-hati. Dan

menggunakan teknik jahit lapped seam.

b. Lipat Omo

Proses yang dimaksud adalah penggabungan sarung

tangan antara bagian muka dan belakang dengan

ketentuan sbb:

1. Dimulai dari bagian bawah sarung tangan

2. Elastis harus ketemu elastis.

3. Ujung jari harus bertemu sejajar dengan ujung jari,

tidak boleh meleset, loncat, miring dan harus oval

ujung jarinya.

4. Jarak jahitan antara 1,5 mm-2,0 mm

5. Lubang angin pada sela-sela jari bagian bawah kisaran

4-5 stik.

55

c. Kumis-kumis

Kuis-kumis adalah membersihkan atau merapikan

benang jahitan yang tersisa dengan cara memotong

benang hingga bersih.

d. Pasang kancing

Menjahit kancing dengan bagian sarung tangan atau

lebih tepatnya velcro halusnya dengan ukuran teras 1,5

mm dengan mengikuti bentuk kancingnya.

e. Pasang pita

Menjahit pita pada bagian bawah sarung tangan,

biasanya dimulai dari tengah kancing dan berakhir pula

pada bagian tengah kancing.

f. Balik Omo

Untuk proses menyambung Omo agar jadi satu harus

dijahit menggunakan teknik jahit closed seam. Setelah di

jahit sarung tangan kemudian dibalik.

3. Finishing

Selesai dijahit sarung tangan kemudian akan dikirim ke bagian

finishing. Ada 3 macam proses pada bagian finishing yaitu:

a. Seleksi jahit

Pada bagian ini seleksi jahit ini berfungsi untuk melihat

kualitas jahitan dan kondisi permukaan sarung tangan. Jahitan yang

56

berkualitas adalah jahitan yang kuat dan rapi. Setelah dilakukan

pengecekan terhadap sarung tangan kemudian menuju ke proses

setrika (ironing).

b. Setrika

Penyetrikaan sarung tangan tidak menggunakan alat yang

sama seperti halnya menyetrika baju. Disini prosesnya disebut

sebagai Ironing. Alat yang digunakan antara lain plat kuningan atau

alumunium yang dipotong berbentuk jari kemudian dirangkai

membentuk jari-jari telapak tangan. Ukuran dari pola rangkaianini

sesuai dengan ukuran sarung tangan sehingga dapat dan pas dengan

sarung tangan yang akan disetrika.

Cara menyetrika sarung tangan adalah plat kuningan atau

alumunium dipanaskan terlabih dahulu dengan setrika untuk bahan

baku kulit atau dengan uap air (stream) untuk bahan baku dari

sintetik. Setelah panasnya cukup, sarung tangan dipanaskan atau

dimasukkan ke dalam plat alumunium atau kuningan dan diatur

supaya tepat kemudian dilepaskan pelan-pelan.

57

Setelah itu dilepaskan diatas papan dengan rapi dan ditekan

dengan benda seberat 7-10 kg (dari kayu, besi,beton, dan sebagainya)

selama 2-3 jam.

Gambar 37. Alat ironing


Sumber: PT Adi Satria Abadi, tahun 2012

c. Seleksi final

Setelah melakukan tahap penyetrikaan, sarung tangan

diseleksi kembali untuk menjaga kualitas. Seleksi ini sangat perlu

untuk dilakukan karena setelah sarung tangan dimasukkan plat

dengan ukuran yang pas, maka jahitan yang kurang kuat akan lepas.

58

4. Pengepakaan

Pada bagian pengepakan, tiap satuan sarung tangan dimasukkan

kedalam kantong plastik kemudian dimasukkan ke dalam amplop khusus.

Sebelum dimasukkan ke dalam amplop, dibagian pengepakana menyeleksi

sarung tangan menggunakan alat Needle Inspection. Alat ini dapat

mendeteksi kemungkinan adanya jarum yang patah akibat proses jahit dan

tertinggal di dalam sarung tangan tersebut.

Gambar 38. Needle Inspection


Sumber: PT Adi Satria Abadi, tahun 2012

Amplop khusus kemudian dimasukkan ke dalam Inner Box.

Inner Box untuk sarung tangan Golf diisi 10 buah sarung tangan dan untuk

sarung tangn Dress diisi 20 buah sarung tangan. Inner Box kemudian

dimasukkan ke dalam karton box yang muat untuk 40 Inner Box sarung

tangan golf atau 20 Inner Box sarung tangan Dress.

59

Karton Box dibungkus (dilapisi) plastik yang rapat agar tetap

kering.

Gambar 39. Amplop dan inner box


Sumber: PT Adi Satria Abadi, tahun 2012

B. Pembahasan

1. Pembuatan Desain

PT. Adi Satria Abadi biasanya memproduksi sarung tangan sesuai

pesanan buyer dan desain yang telah ditentukan terlebih dahulu.

Kebanyakan, perusahaan menerima buyer yang sudah memiliki desain dan

ketentuan spesifikasinya. Setelah perusahaan menerima desain dari

pemesan kemudian dibuatlah contoh atau sampel yang diperuntukkan agar

buyer tahu barang tersebut sesuai atau tidak dengan keinginan dan

pesanan. Setelah dibuat sampel dan prototypenya diadakan evaluasi oleh

pihak buyer.

60

Jika prototype tersebut lolos seleksi dan buyer setuju dengan

hasilnya, kemudian perusahaan membuat pola dan dibuat dalam bentuk

cutting dies.

2. Pembuatan pola

Dalam pembuatan pola dasar harus menyesuaikan dengan desain

yang telah ditentukan. Pola dasar sarung tangan golf sesuai dengan tangan

yang telah diukur, kemudian dibuatlah prototype. Prototype merupakan

contoh dari bentuk atau barang yang dibuat biasanya ukuran pada

prototype selalu menggunakan skala 1:1 atau ukuran yang sebenarnya.

Pembuatan prototype atau sampel bertujuan mencocokkan juga sebagai

penguji antara sarung tangan yang dibuat dengan maksud sarung tangan

yang diinginkan diketahui keakuratan pengukuran sebelum dijadikan pola

jadi. Pembuatan pola jadi sarung tangan golf dibuat dari copyan pola dasar

kemudian pola tersebut diberi tambahan 1-2 mm untuk jahitan, pemberian

kelebihan tersebut agar sisa kulit yang telah dijahit tidak tebal dan apabila

kurang sarung tangan akan sempit, setelah pola jadi dan prototype sudah

sesuai dengan ukuran yang diberikan. Hal ini dilakukan agar sarung tangan

yang diproduksi nantinya sesuai dengan keinginan buyer. Jika nanti buyer

sudah menyetujui sampel yang diberikan perusahaan, kemudian dibuatlah

pola tersebut ke dalam cutting dies.

61

Pola dibuat dalam cutting dies dimaksudkan untuk pembuatannya

lebih menghemat waktu dan lebih akurat dalam sisi pemotongannya.

Gambar 40. Cutting dies ibu jari


Sumber : PT Adi Satria Abadi Tahun 2012

Gambar 41. Cutting dies Omo


Sumber : PT Adi Satria Abadi Tahun 2012

62

Gambar 42. Cutting dies Machi


Sumber : PT Adi Satria Abadi Tahun 2012

3. Pemotongan bahan

Pemotongan material harus memperhatikan efisiensi penggunaan

bahan agar menghemat biaya produksi. Pemotongan material meliputi

pemotongan seluruh komponen sarung tangan golf mulai dari pemotongan

body hingga variasi-variasinya. Pemotongan material ini menggunakan

pisau potong (cutting dies) yang ukurannya disesuaikan dengan ukuran

sarung tangan golf yang akan dibuat.

Tahapan pemotongan material adalah sebagai berikut:

a. Aradachi

Pada saat proses pemotongan bahan baku utama dan bahan baku

pembantu tetap memperhatikan arah dan peletakan yang pas agar

diperoleh hasil semaksimal dan efisien mungkin. Cara untuk pemotongan

bahan baku utama pertama rentangkan kulit untuk mencapai ketegangan

63

yang diinginkan dalam proses aradachi. Aradachi adalah tahap

pemotongan lembaran kulit berdasarkan pola Omo (telapak tangan). Pola

tangan ini dibagi menjadi 2 jenis yaitu:

1. Pola A/1

Pola telapak tangan utuh, bagian muka dan bagian belakang

dalam satu pola.

2. Pola A/2

Pola telapak tangan terpisah, menjadi pola muka dan pola

belakang.

Gambar 43. Hasil dari aradachi


Sumber : PT Adi Satria Abadi Tahun 2012

Satu lembar kulit tidak hanya dipotong untuk bagian telapak

tangan saja, tetapi digunakan juga untuk potongan ibu jari, fantasi, patch,

dan machi, tergantung dari jenis sarung tangan yang akan dibuat. Bentuk

potongan selain dibedakan untuk sarung tangan kiri atau sarung tangan

kanan, juga dibedakan berdasarkan ukurannya. Hal ini juga harus

64

memperhatikan ketegangan dan kemuluran, ketebalan, elastis, kecacatan

dan warna kulit, kemudian pemotongan kulit yang sudah di aradachi

menggunakan akrilik sebagai acuan pemotongan pola, pemotongan

aradachi dilakukan secara manual. Pemotongan harus saling mengisi dan

menutup (inter locking) agar limbah kulit yang didapat tidak banyak

dibuang, setelah itu dilakuakan pemotongan menggunakan cutting dies

dengan menggunakan mesin hidrolik.

Proses press omo dan ibu jari dilakukan setelah aradachi. Proses

press ommo dan ibu jari menggunakan mesin hidrolik, omo dan ibu jari

hasil aradachi dipilihkan pisau sesuai dengan ukurannya selanjutnya pola

tersebut diletakan dibawah pisau potong (cutting dies) dengan mesin press

didasari alas (cutting plate). Pastikan posisi kulit dan ukuran cutting dies

sesuai agar tidak terjadi kesalahan dalam pemotongan.

Gambar 44. Potong teknik Aradachi


Sumber : PT Adi Satria Abadi Tahun 2012

65

Setiap komponen sarung tangan mempunyai fungsi dan

penggunaan bahan yang berbeda, untuk bagian ommo diambil yang pada

krupon atas dan bawah, karena bagian ommo merupakan bagian yang

baku dalam pembuatan sarung tangan, bagian ibu jari diambil pada bagian

krupon tengah, bagian machi dan penguat diambil pada bagian sisa-sisa

krupon ommo dan ibu jari, pengambilan ini juga harus memperhatikan

arah ketegangan dan kemuluran.

Gambar 45. Hasil Aradachi yang sudah di press


Sumber : PT Adi Satria Abadi Tahun 2012

b. Press Omo dan ibu jari

Proses press omo dan ibu jari dilakukan setelah aradachi. Proses

press ommo dan ibu jari menggunakan mesin hidrolik pemotong kulit.

Omo dan ibu jari hasil aradachi dipilihkan pisau sesuai dengan

ukurannya. Selanjutnya pola tersebut diletakan dibawah pisau potong

(cutting dies) dengan mesin press didasari alas (cutting board). Pastikan

66

posisi kulit dan ukuran cutting dies sesuai agar tidak terjadi kesalahan

dalam pemotongan.

Press omo dan ibu jari bisa dilakukan dengan menumpuk omo

dan ibu jari hasil aradachi dengan ukuran yang sama. Tumpukan

tersebut dilakukan dengan tujuan agar lebih efektif. Jumlah tumpukan

lembaran omo ataupun ibu jari idealnya adalah 5 hingga 8 tergantung

pada ketebalan kulit dan ketajaman pisau potong.

Gambar 46. Mesin Press


Sumber : PT Adi Satria Abadi Tahun 2012

Gambar 47. Hasil Press


Sumber : PT Adi Satria Abadi Tahun 2012

67

4. Pelubangan

Tidak semua bagian dari sarung tangan dilakukan pelubangan.

Pelubangan ini juga menyesuaikan model sarung tangan golf tersebut,

bagian yang biasanya diberikan pelubangan yaitu bagian jari-jari tangan

dan ibu jari lubang tersebut digunakan sebagai lubang sirkulasi udara pada

sarung tangan. Proses pelubangan menggunakan alat pelubang seperti

plong dengan jumlah gigi pelubang yang berbeda tergantung pada ukuran

sarung tangan. Alat pelubang menggunakan bahan logam besi yang

dibentuk menjadi pelubang. Pola yang dibuat untuk menandai lubang

adalah pola copyan dari pola jadi sarung tangan yang kemudian diberi

penambahan pada jari-jari yaitu lubang dengan cara menentukan titik

lengan dari jari-jari lalu dari titik tengah diambil setengah dari 0,5 mm,

kemudian jarak antar lubang 0,8 mm. Ada dua cara yang digunakan

manual dan cara press. Manual berarti melubang dengan alat bantu palu

besi.

Gambar 48. Pelubangan


Sumber : PT Adi Satria Abadi Tahun 2012

68

Gambar 49. Hasil proses Pelubangan


Sumber : PT Adi Satria Abadi Tahun 2012

5. Perakitan Sarung Tangan golf

Urutan proses perakitan sarung tangan golf sebagai berikut:

a. Menjahit sambung pola bagian omo

Pola omo yang digunakan untuk sarung tangan golf terbagi menjadi 3,

yaitu:

1. Pola model NK

Pola model NK berarti antara bagian punggung tangan dan telapak

tangan terpisah, dengan kata lain harus dilakukan jahit sambung

dalam proses perakitannya. Cara menyambungnya menggunakan

jahit tumpang (lapped seam), dengan tambahan 3 mm pada bagian

talapak tangan untuk jahitan.

69

2. Pola model H

Pola model H berarti antara pola bagian telapak dan punggung

tangan terpisah. Cara menyambungnya dengan memberi kelebihan

untuk jahitan pada bagian telapak kurang lebih 3 mm, bedanya

dengan model NK, pola H menjahitnya dengan menggunakan jahit

closed seam.

3. Pola model A

Paling mudah di liat perbedaannya adalah pola model A. Pola ini

antara bagian punggung dan telapak tangan menjadi satu bagian.

Jadi, tidak ada proses menyambung pola Omo sebelumnya.

Gambar 47. Sambung Omo model NK


Sumber : PT Adi Satria Abadi Tahun 2012

70

Dari ketiga model pola sarung tangan di atas, Pola A tidak

melalui proses sambung omo, karena pola ini antara bagian punggung

dan telapak sudah menjadi satu, pola ini tidar perlu dijahit sambung.

Tetapi ada juga kekurangannya, pola A tidak efisien dalam

pemotongan kulitnya karena memerlukan kulit yang lebih

dibandingkan dari pola NK dan H.

Pola NK dan H adalah pola yang sering dipakai dalam

pembuatan sarung tangan. Alasannya pola-pola ini lebih bisa

menghemat kulit. Bentangan kulit yang dibutuhkan lebih sedikit dari

pada kita menggunakan pola A. Ini merupakan kelebihan dari pola

NK dan H. Tetapi pola NK dan H mempunyai perbedaan yang sangat

mencolok yaitu dalam proses penyambungan omo. Pola NK memakai

teknik jahit lapped seam beda halnya dengan pola H yang memakai

teknik jahit closed seam. Kelebihan pola H adalah lebih rapi tetapi

kekurangannya banyak lipatan dan membuat kesan sarung tangan jadi

mengembang. Kelebihan dari pola NK adalah selain rapi juga nyaman

saat dipakai, oleh karena alasan tersebut pola NK sering dipakai dalam

pembuatan sarung tangan golf.

Cara menjahit sambung omo dengan memakai pola NK tidak

memerlukan lem. Hal pertama yang dilakukan adalah tumpangkan

bagian punggung tangan diatas pola telapak tangan tepat pada tempat

yang akan dijahit. Jika sudah ditumpang mulailah menjahit dari bawah

71

sampai terakhir diujung jari dengan syarat jahitan tidak lebih dari 2

mm dari tepi.

b. Pemasangan Perekat (velcro)

velcro kasar
velcro halus

jahit lapped

Binding

Gambar 50. Pasang Velcro


Sumber : PT Adi Satria Abadi Tahun 2012

Pemasangan velcro dilakukan setelah sambung omo. Velcro

dipasang pada bagian punggung tangan pada sisi perekat bagian

kanan dan dijahit 1 mm dari tepi velcro, sebelum dipasang, terlebih

dahulu diberikan pita atau binding tujuannya untuk menutupi

pinggir-pinggir pada sisi velcro. Pemasangan binding velcro

menggunakan alat bantu berupa corong dengan cara pita terlebih

dahulu dimasukkan pada lubang corong kemudian pinggir pada sisi

velcro yang akan dibinding disisipkan pada lubang corong kemudian

dijahit, untuk pemasangan velcro hanya dilakukan satu kali

pengerjaan tanpa adanya dua kali pengerjaan yaitu dua kali jahit dan

72

proses triming karena menggunakan alat bantu berupa corong.

Velcro mempunyai dua bagian, kasar dan halus, yang fungsinya

sebagai pengancing sarung tangan. Setelah velcro halus sudah

dibinding, kita langsung pasang ke punggung dan telapak tangan.

Kita jahit velcro halus tepat di ujung sobekan dan menggunakan

teknik jahit lapped seam. Kemudian untuk velcro kasar kita jahit

menggunakan teknik lapped seam. Menjahitnya dibagian telapak

tangan dan harus tepat jika nanti direkatkan dengan sisi halus.

c. Pemasangan Karet Elastis


sisi pergelangan tangan

sisi perekat tangan

sisi punggung tangan


Gambar 51. Penampang kulit dengan pemasangan karet
elastis
Sumber : PT Adi Satria Abadi Tahun 2012

73

Karet Elastis Pada Bagian punggung.

Bagian Punggung Sarung Tangan.


Karet Elastis Pada Bagian Sisi Perekat

Karet Elastis Pada Bagian Sisi Perekat


Karet Elastis Pada Bagian Pergelangan Tangan

Gambar 52. Sarung tangan bagian telapak dengan karet


elastis
Sumber : PT Adi Satria Abadi Tahun 2012

Pemasangan karet elastis terletak pada bagian punggung, sisi perekat

dan pergelangan tangan dijahit menggunakan jahit zig-zag. Jahit zig-

zag digunakan untuk memberikan daya tarik yang kuat karena karet

elastis bersifat renggang apabila tertarik dan mengecil ketika diam

oleh karena itu jahit zig-zag digunakan agar karet elastis tidak

mudah lepas, biasanya pada bagian ini mendapatkan tekanan pada

saat aktifitas tangan juga sebagai penampilan assesories karena

dengan model jahitan yang zig-zag memberikan hiasan pada bagian

luar. Pada saat proses pemasangan sebalumnya karet terlebih dahulu

ditarik dengan menggunakan pengait agar menghasilkan

kerenggangan yang diinginkan dan mempermudah dalam

74

pemasangan dan penjahitan. Karet elastis memiliki fungsi sebagai

pengencang dan juga lebih nyaman untuk dipakai.

d. Pemasangan Ibu Jari

Gambar 53. Jahit ibu jari


Sumber : PT Adi Satria Abadi Tahun 2012

Gambar 54. Pola ibu jari


Sumber : PT Adi Satria Abadi Tahun 2012

75

Saat pemasangan pola ibu jari harus sangat berhati-hati dikarenakan

kalau tidak hati-hati dan teliti, pola ibu jari tidak akan terbentuk

sempurna seperti yang diinginkan. Terlebih dahulu bagian telapak

tangan diletakkan diatas ibu jari, dimana titik A sebagai acuan

memulai menjahit sampai titik B. Kemudian ikuti dengan memutar

body akan tidak memutar ibu jari sampai bertemunya titik C, saat

mempertemukan titik-titik tersebut harus benar-benar pas. Kemudian

menjahit diakhiri dengan bertemunya titik A dan D ibu jari.

Tanda A disebut tanda mulai menjahit, dengan cara melipat ibu jari

dengan menghadapkan kedua titik yang terdapat pada ibu jari

sehingga bertemu titik D, jahitan pada ibu jari menggunakan close

seam.

e. Pemasangan Machi

Machi dipasang pada celah-celah jari fungsinya memberikan ruang

jari pada saat memakai agar tidak serat. Adapun tahap pemasangan

machi:

76

jahit silang

jahit lapped seam

Gambar 55. Sambung Machi


Sumber : PT Adi Satria Abadi Tahun 2012

1. Sebelum machi dipasang pada bagian omo (body), machi dijahit

terlebih dahulu menggunakan jahit lapped seam, karena jahit

lapped seam ini menumpang. Jadi, tidak ada sisa jahitan dan

tidak ada lipatan pada machi sehingga pengguna akan nyaman.

machi

jahit lapped seam

Gambar 56. Pemasangan machi pada sarung tangan


Sumber : PT Adi Satria Abadi Tahun 2012

77

2. Menjahit machi dengan omo bagian punggung

Pada saat jahitan dimulai, sebelumnya diukur panjang machi

mulai dari titik celah-celah jari sampai ujung jari, agar

pemasangan machi seimbang dengan ukuran panjang celah-

celah jari. Menjahit machi dimulai dari kelingking sampai

terakhir jari telunjuk dengan menggunakan teknik jahit lapped

seam. Apabila pada nakel terdapat aksesoris maka pemasangan

machi pada punggung tangan menggunakan jahit closed seam,

apabila menggunakan jahit lapped seam sisa dari jahitan akan

terlihat kurang rapi.

3. Menjahit machi dengan omo bagian telapak

Pada proses ini sarung tangan dibalik terlebih dahulu, pada

bagian ommo telapak dijahit tutup dengan machi, jahit dimulai

dari machi telunjuk sampai jari kelingking menggunakan jahit

closed seam sebagai penutup karena jahitan terletak didalam dan

terkesan lebih rapi. Setelah dijahit dilakukan triming agar lebih

nyaman saat sarung tangan dipakai.

4. Menjahit bagian Omo sambung body

Proses ini adalah menggabungkan bagian telapak dengan bagian

punggung sarung tangan. Menyambung bagian telapak dengan

punggung sarung tangan menggunakan jahit closed seam, agar

bekas sambungan tidak terlihat. Tetapi setelah menjahit machi,

sarung tangan jangan dibalik terlebih dahulu karena saat

78

menjahit bagian omo sambung body menjahitnya menggunakan

teknik jahit closed seam.

Gambar 57. Omo sambung body


Sumber: PT Adi Satria Abadi, tahun 2012

5. Pemasangan pita atau binding


velcro kasar
velcro halus

Binding

Kulit
Jahitan Pita Binding

Gambar 58. Pemasangan binding


Sumber: PT Adi Satria Abadi, tahun 2012

79

Sebelum pemasangan binding, terlebih dahulu dilakukan

pemasangan velcro halus pada sisi perekat, kemudian mulai

menjahit bagian binding. Proses menjahitnya dimulai dari

sobekan tengah velcro halus sampai menutupi bagian pinggir

velcro halus. Selanjutnya jahit ke pergelangan tangan hingga

kembali pada sobekkan pada titik pertama jahitan.

Untuk pemasangan binding sama seperti pemasangan binding

pada velcro yaitu menggunakan alat bantu berupa corong

sehingga proses penjahitan binding secara langsung tanpa

adanya proses triming (merapikan pinggir dari sisa-sisa

binding). Proses penjahitan binding ini dimulai dari sobekkan

bagian tengah velcro dijahit mengeliling sampai kembali ketitik

awal tersebut. Jahit binding ini menggunakan cara jahit lapped

seam.

6. Finishing

Proses finishing sangatlah penting karena harus teliti dalam

membedakan sarung tangan yang bagus dan yang repare atau reject.

Repare adalah kesalahan atau kecacatan pada hasil akhir yang masih bisa

diperbaiki atau diatasi, sedangkan reject adalah kesalahan atau kecacatan

pada hasil akhir yang sudah tidak bisa diperbaiki lagi. Setelah dilakukan

80

pengecekan dan pemisahan antara sarung tangan bagus dan yang kurang

adalah proses pengepakkan.

Gambar 59. Sarung Tangan Golf Brigston


Sumber: PT Adi Satria Abadi, tahun 2012

Gambar 60. Sarung Tangan Golf Mizuno


Sumber: PT Adi Satria Abadi, tahun 2012

81

Sebelum masuk proses pengepakan terlebih dahulu masuk

dalam proses Needle inspection. Alat ini dapat mendeteksi kemungkinan

adanya jarum yang patah akibat proses jahit dan tertinggal di dalam sarung

tangan tersebut. Ada dua macam alat Needle Inspection, yang satu

berbentuk sebesar kertas hvs dan yang satu mesin besar bentuknya seperti

roda berjalan. Dari dua jenis alat ini yang paling sering dipakai adalah

mesin yang besar karena mesin ini dapat mendeteksi lebih banyak sarung

tangan.

Proses pengepakkan ini dibagi menjadi bagian:

1. Polybag

Polybag adalah pembungkus sarung tangan yang terbuat dari

plastik. Ini bertujuan untuk melindungi sarung tangan agar tidak

berjamur atau dengan kata lain akan bertahan lama.

2. Amplop

Setelah sarung tangan dimasukkan ke dalam polybag proses

selanjutnya adalah memasukkan hasil polybag tersebut kedalam

amplop yang sudah disediakan dan harus disesuaikan dengan merk

sarung tangan tersebut. Dalam memasukkan sarung tanganpun harus

sesuai prosedur yang dipesan oleh buyer. Dan sebelum hasil polybag

dimasukkan terlebih dahulu amplop harus dicek. Adapun yang harus

dicek adalah stiker-stiker yang harus ditempel pada amplop seperti

stiker ukuran, barcode,dan simbol-simbol.

82

3. Innerbox

Innerbox adalah kardus kecil untuk tempat suatu produk dalam hal

ini adalah sarung tangan. Biasanya 1 kardus innerbox diisi 6, 10, dan

12 sarung tangan, sesuai dengan pesanan dari buyer. Setelah melalui

proses ini selanjutnya setiap innerbox harus dimasukkan ke dalam

kardus yang berukuran besar.

4. Kardus

Setelah melalui beberapa proses diatas selanjutnya adalah memasukkan

innerbox kedalam kardus yang sudah disediakan. Tetapi, sebelum

semuanya dimasukkan terlebuh dahulu kardus ini harus dicek dan

harus sesuai dengan permintaan. Kalau ada kardus yang cacat ataupun

ada yang kurang sesuai harus dikembalikan ke material dan disana

akan diperbaiki atau diganti dengan yang baru. Setelah semua sudah

dimasukkan kedalam kardus, semua harus diplastik tebal untuk

membungkus kardus agar saat terkena air tidak sampai masuk

kedalam.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Dari hasil kerja yang telah dilaksanakan penulis di PT. Adi Satria

Abadi selama satu bulan, penulis dapat menyimpulkan bahwa:

Dalam proses produksi sarung tangan di PT Adi Satria Abadi dapat

dibagi dalam 4 tahap yaitu:

a. Dalam proses pemotongan kulit terlebih dahulu dilakukan metode

aradachi. Aradachi adalah teknik memotong kulit secara utuh dengan

menggunakan pola akrilik sebagai acuan pemotongan pola sarung

tangan golf.

b. Dalam proses menjahit (perakitan) sarung tangan golf menggunakan 3

jenis jahitan yaitu:

1. Lapped Seam, jenis jahitan ini digunakan untuk menyambung bagian

pola omo , menyambung machi, pasang machi dengan omo bagian

punggung, dan pasang ibu jari gunanya agar sambungan komponen

kuat, juga untuk penampilan karena jahitan ini terletak pada bagian

luar.

2. Close Seam,jenis jahitan ini digunkan untuk menyambung bagian

omo model H, ibu jari, dan jahit lipat bagian omo. Pengunaan jahitan

ini untuk menambah kuat tarik pada bagian yang disambung.

83

84

3. Butted Seam, jenis jahitan ini digunakan untuk pemasangan bagian

karet elastis agar karet elastis tidak mudah lepas, karena biasanya

pada bagian ini mendapatkan tekanan pada saat aktifitas tangan.

c. Proses finishing merupakan proses yang penting harus teliti memilih

antara sarung tangan yang bagus dengan sarung tangan yang reject.

Setelah finishing kemudian sarung tangan masuk dalam proses

pengepakkan.

d. Pengepakan adalah proses paling terakhir dalam produksi sarung

tangan, mulai dari darung tangan di polybag, amplop, innerbox, kardus,

dan sampai ke pengiriman.

2. Ada beberapa perbedaan antara praktek di Akademik dan Perusahaan,

perbedaan yang paling mencolok adalah cara pemotongan, teknik

menjahit, dan juga proses perakitannya.

B. Saran

1. Mohon PT. Adi Satria Abadi agar kedepannya jika ada mahasiswa

yang kerja praktek di perusahaan ini diijinkan untuk bekerja di

beberapa bagian yang berbeda tiap minggunya, agar mahasiswa bisa

mendapatkan pengalaman lain dari berbagai pekerjaan berbeda

tersebut untuk menambah pengalaman masing-masing mahasiswa.

2. Mohon untuk perpustakaan kampus menyediakan atau menambah

buku tentang sarung tangan khususnya sarung tangan golf, karena

85

untuk mencari referensi tinjauan pustaka kita masih sangat

kekurangan.

3. Untuk adik tingkat penulis,perdalam ilmu tentang sarung tangan

karena menurut penulis masih sangat kurang Tugas Akhir yang

mengambil tema tentang sarung tangan.

4. Untuk Akademik agar menambah jam-jam praktek dan kurikulum

yang relevan dengan dunia kerja nanti. Karena, di peerusahaan praktek

sangat dibutuhkan tidak hanya menguasai teori saja.

DAFTAR PUSTAKA

Anonimus. 1984. Sarung Tangan Golf Dari Kulit, Sii 1095-84.


Yogyakarta Balai Besar Penelitian Dan Pengembangan Kulit.

Anonimus. 1992. Standar Manejemen Mutu Dan Jaminan Mutu Pedoman


Untuk Pemeliharaan Dan Penggunaan, SII 19-900. Jakarta :
Dewan Standar Nasioanal. Departemen Perindustrian Dan
Perdagangan Republik Indonesia.

Anonimus, 2009. Kulit Imitasi. SNI 1294:2009, Badan Standarisasi


Nasional, Jakarta.
Anonimus, 2012. Sarung Tangan Golf. [Online, accessed 25 Agustus
2012] URL: http://www.glove type.id
Anderson, 1976, GRETCHEN NANN, 1976 creative exploration incraft,
Reston Publishing Company, inc A. Pratice Company Reston
Virginia, Hal 7.

Basuki, D A. 1987. Tegnologi Sepatu Bagian III, Akademi Teknologi


Kulit, Yogyakarta.

Edy Purnomo. 1996. Petunjuk Praktek Teknologi Kulit I&II, Akademi


Teknologi Kulit, Yogyakarta.

Feigenbaum. 1992. Terjemahan Kendali Mutu Terpadu. Jilid I, Edisi


Ketiga. Jakarta. Erlangga.

Hasan Alwi. 2007. Kamus Besar Bahasa Indonesia, edisi ketiga. Jakarta,
Balai Pustaka.

Gunarto Dan Sutanto. 1980. Penuntun Praktik Dan Kerajinan Kulit.SMK,


Yogyakarta Halaman 2.

Ishikawa . 1985. Terjemahan Pengendalian Mutu Terpadu. Bandung. PT.


Remaja Resdakarya.

Mizuno. 1994. Pengendalian Mutu Perusahaan Secara


Menyeluruh.Jakarta. PT. Binama Pressindo.

Poerwadarmita, 1985, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Departemen


Pendidikan dan Kebudayaan RI.

86

87

Sidhha, Swayam, 1994. The Art of Cutting Corrected Grain Leather. India
: Footwear Design and Development Institute.

Simanungkalit, Riris, 1994. Pengetahuan dan Proses Pembuatan Barang


Kulit. Balai Besar Industri Barang Kulit, Karet, dan Plastik.
Yogyakarta.
Sunarto, 2001. Pengetahuan Bahan Kulit untuk Seni dan Industri,
Kanisius: Yogyakarta.

Wiryodiningrat S, dan Basuki D. A, 2007. Pengetahuan Pembuatan Pola


Sepatu/ Alas Kaki. Citra Media: Yogyakarta.

Wiryodiningrat, Suliestiyah, 2008. Pembuatan Sepatu/ Alas Kaki. Intra


Media: Yogyakarta.

Woodroffe D, 1949. Standar Handbook Of Industrial Leather, Tower


House, Sounthamptom Street London,W.

Gudang Bahan Baku Gudang Bahan


Pembantu
BAHAN PEMBANTU
(MATERIAL)
BAHAN BAKU
(SYNTETIC KULIT)
Benang
SELEKSI Karet
Pita
Lektra
Velcro
Kancing
Logo

POTONG ARADACHI

POTONG PREES

Machi
Omo
Ibu Jari
Velcro
Pita
Patch

JAHIT PREES

Sambung Omo
Sambung Machi
Pasang Velcro FINISHING
Pasang Karet
Seleksi
Pasang Ibu Jari
Seterika
Pasang Machi
Final (seleksi jahitan)
Lipat Omo
Lipat Ibu Jari
Pasang Kancing
Pasang Pita
Balik Omo
PACKING

Skema Pembuatan Sarung Tangan


Sumber : PT. Adi Satria Abadi, 2012

88

89

Gambar Struktur Organisasi Jalur PT. ASA


90
89