Anda di halaman 1dari 24

MODEL-MODEL PENGEMBANGAN MASYARAKAT

Oleh : Ail Muldi

I. PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Pengembangan masyarakat sebagai metode pekerjaan sosial dalam
membangun pemberdayaan masyarakat menjadi laternatif dalam program dan
orientasi pembangunan dewasa ini. Mencuatnya model pembangunan yang berbasis
komunitas ini merupakan reorientasi dan perubahan paradigma pembangunan dari
ekonomi sebagai sentral (capital centered development) kepada manusia sebagai
pusat utama pembangunan (people centered development).
Pembangunan yang berpusat pada modal, teknologi, mesin, dan uang menjadi
instrumen pokok dalam aktivitas pembangunan, sedangkan keterlibatan manusia
hanya menjangkau sebagian kecil golongan yang termasuk ke dalam kelompok
pemilik modal, penguasa politik, para ahli, dan sebagian kecil kelompok manusia
sebagai tenaga produksi. Pada akhirnya, strategi pembangunan semacam ini
menciptakan dehumanisasi dan tidak berdaya (powerless).
Pada paradigma pembangunan yang berpusat pada ekonomi, nilai-nilai, sistim
dan metode-metode dalam pembangunan berorientasi kepada eksploitasi dan
manipulasi sumber daya laam untuk menghasilkan produksi bagi masyarakat
konsumen massal. Sehingga, paradigma ini melahirkan birokrasi-birokrasi yang
mengorganisir masyarakat ke dalam unit-unit produksi yang dikontrol secara terpusat
dan sentralistis. Berbeda dengan pembangunan yang berpusat pada manusia,
menjadikan manusia sebagai inisiator dan tujuan pembangunan itu sendiri.
Sudah saatnya paradigma pembangunan memiliki paradigma baru yang
berpusat pada ekologi manusia yang seimbang dengan sumber daya informasi dan
prakarsa kreatif yang memposisikan masyarakat tidak hanya subyek bahkan aktor
yang menetapkan tujuan, mengendalikan sumber daya dan mengarahkan proses yang
mengarah pada pemenuhan kebutuhannya. paradigma ini adalah paradigma
pembangunan yang berpusat pada rakyat (Nadian 2010).

0
Pembangunan berpusat pada rakyat meliputi pendekatan, metode dan teknik-
teknik sosial mengutamakan bentuk-bentuk kelompok dan swadaya masyarakat.
Dalam mencapai pembangunan yang berpusat pada rakyat diperlukan sebuah
perubahan pada (1) pemikiran dan kebijakan pemerintah berkaitan dengan penciptaan
keadaan yang mampu mendorong dan mendukung usaha-usaha masyarakat
memenuhi kebutuhannya baik tingkat individual, keluarga dan komunitas, (2)
pengembangan struktur dan proses organisasi masyarakat yang berfungsi berdasarkan
kaidah-kaidah yang mandiri, (3) pengembangan sistim produksi-konsumsi
berlandaskan kaidah kepemilikan dan pengendalian komunitas lokal (Nadian 2010).
Perubahan paradigma pembangunan yang berpusat pada produksi kepada
paradigma yang berpusat pada rakyat, berarti perubahan ideologi kebijakan
pembangunan dan pengembangan kelembagaan di tingkat nasional, lokal dan
komunitas. Paradigma berpusat pada rakyat merujuk kepada pelaksanaan prinsip-
prinsip desenteralisasi, partisipasi, pemberdayaan, pelestarian, jejaring sosial,
kswadayaan lokal, dan keberlanjutan. Sehingga paradigma pembangunan
memberikan kesempatan pengembangan masyarakat sebagai bentuk pemberdayaan
masyarakat selaku aktor dan pusat pembangunan itu sendiri.

B. RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimana konsep dasar pengembangan masyarakat meliputi sejarah, definisi,
prinsip-prinsip, pendekatan-pendekatan dan model-model dalam
pengembangan masyarakat ?
2. Berikan contoh dan analisa kasus pengembangan masyarakat di salah satu
daerah di Indonesia ?
3. Bagaimana peran komunikasi dalam pengembangan masyarakat ?

C. TUJUAN PENULISAN
1. Menganalisis sejarah, definisi, prinsip-prinsip, pendekatan-pendekatan dan
model-model pengembangan masyarakat yang berlaku
2. Menganalisis studi kasus pengembangan masyarakat
3. Menganalisis peran komunikasi dalam pengembangan masyarakat

1
II. PEMBAHASAN
A. PENGEMBANGAN MASYARAKAT
a) Sejarah Pengembangan Masyarakat
Pengembangan masyarakat berawal dari kajian akademis di Amerika Serikat
berkaitan dengan perluasan pendidikan di tingkat pedesaan (rural extension
program), sehingga community development berorientasi pada pengembangan
masyarakat di pedesaan. Berbeda dengan pengembangan masyarakat di perkotaan
yang disebut dengan pengembangan organisasi komunitas (community organization).
Kajian akademis ini dibangun dari Ilmu Kesejahteraan Sosial (Nadian 2010).
Meski demikian, kajian pengembangan masyarakat menjadi muncul lebih
banyak dilatari kondisi masyarakat dunia akibat perang yang terjadi. Pasca perang
dunia ke-II, negara-negara di dunia mengalami peralihan orientasi yang awalnya
berperang menjadi kegiatan-kegiatan semasa damai dan terpacu menjadi satu bentuk
gerakan sosial. Hal ini terjadi karena ketelibatan banyak orang di Amerika yang
terlibat dengan aksi sosial dan memanfaatkan pengetahuannya.
Selain itu, begitu banyak ilmuwan yang tertarik dengan pengembangan
masyarakat pasca perang dunia ke-II pada program-program pengembangan
masyarakat, sekaligus menyumbangkan pemikiran dan keterampilan mereka dalam
mengarahkan gerakan-gerakan sosial yang terjadi saat itu. Sehingga, gerakan sosial
dalam pengembangan masyarakat menjadi bidang penelitian Sosiologi yang baru dan
menarik.
Berbeda dengan sejarah pengembangan masyarakat di Inggris, yang lebih
menitikberatkan pada kehidupan komunitas di daerah koloninya. Lahirnya model
pengembangan masyarakat di Inggris berkaitan dengan disiplin dalam ilmu
pendidikan. Istilah community development digunakan sebagai pengganti istilah mass
education (pendidikan massal). Awalnya, pada tahun 1925, Inggris melalui Kantor
Pemerintah Kolonial mengeluarkan memorandum yang bertujuan untuk
mengembangkan komunitas secara utuh pada daerah-daerah koloni Inggris (Nadian
2010).

2
Tahun 1944, istilah pengembangan masyarakat dikenal sebagai pengganti
sistim pendidikan massal Inggis melalui kebijakan kolonial pemerintah Inggris.
Terdapat tiga tujuan dalam kebijakan kolonial pemerintah Inggris pada tahun 1944
tersebut yakni, peningkatan kondisi kehidupan dan kesehatan masyarakat,
peningkatan taraf hidup ekonomi masyarakat dan pengembangan institusi politik dan
kekuasaan politik pada daerah koloni sampai pada saatnya merdeka (Nadian 2010).
Kantor pemerintah kolonial Inggris mengadakan serangkaian konferensi
musim panas yang membahas tentang administrasi jajahan di Afrika. Konferensi
tersebut tahun 1948 menghasilkan dan memutuskan bahwa definisi pendidikan
massal berikutnya diganti dengan pengembangan masyarakat. Perkembangan
berikutnya, pemerintah kolonial Inggris mengadopsi definisi pengembangan
masyarakat sebagai gerakan yang dirancang untuk meningkatkan kehidupan seluruh
komunitas dengan partisipasi aktif dan atas prakarsa komunitas (Nadian 2010).

b) Definisi Pengembangan Masyarakat


Pengembangan masyarakat distilahkan dengan community development,
merupakan konsep dasar dari berbagai istilah seperti community resource
development, rural areas development, community economic development, rural
revitalisation, dan community based development. Konsep dasar community berarti
kualitas hubungan sosial dan development sebagai perubahan yang dilakukan
secara terencana dan gradual (Nadian 2014).
Begitupun Mayo, melihat pengembangan masyarakat terdiri dari kata
pengembangan dan masyarakat. Kata pengembangan atau pembangunan merujuk
kepada usaha bersama dan terencana dalam meningkatkan kualitas hidup manusia.
Sedangkan kata masyarakat berarti sekelompok orang dalam geografis yang sama dan
kesamaan kepentingan atas budaya dan identitas. Pengembangan masyarakat adalah
salah satu metode dalam diskursus pekerjaan sosial yang memfokuskan kepada
peningkatan kualitas hidup masyarakat pada geografis tertentu dan menekankan
partisipasi sosial (dalam Suharto 2010).

3
Pengembangan masyarakat menurut Tweelvetrees adalah proses untuk
membantu orang-orang biasa dalam meningkatkan masyarakat sendiri dengan
melakukan tindakan kolekif. Pengembangan masyarakat memungkinkan masyarakat
meningkatkan kualitas hidup dan terhadap proses-proses yang mempengaruhi
kehidupan masyarakat. Pengembangan masyarakat menitikberatkan pada pemenuhan
kebutuhan masyarakat dari golongan tertindas atau kurang beruntung dengan
melakukan kegiatan bersama memenuhi kebutuhannya (dalam Suharto 2010).
Pengembangan masyarakat fokus kepada peningkatan kualitas hidup
ditingkatan level mikro meliputi individu, kelompok dan komunitas. Sedangkan pada
level makro meliputi organisasi dan masyarakat. Pengembangan masyarakat sebagai
metode dalam pekerjaan sosial mengedepakan partisipasi berkaitan dengan interaksi
aktif antara pekerja sosial dengan masyarakat pada proses perencanaan, pelaksanaan,
pengawasan dan evaluasi program pembangunan kesejahteraan sosial.
Partisipasi sebagai proses aktif, inisiatif diambil oleh masyarakat sendiri,
dibimbing oleh cara berfikir mereka sendiri, dengan menggunakan sarana dan proses
kontrol secara efektif. Partisipasi masyarakat tidak bisa dipisahkan dengan
pemberdayaan masyarakat, karena pemberdayaan masyarakat merupakan jalan utama
partisipasi sosial. (dalam Nasdian 2014). Pekerjaan sosial merupakan aktifitas
kemanusiaan yang yang menitikberatkan pada pemberdayaan masyarakat, khususnya
kepada masyarakat lemah dan kurang beruntung seperti orang miskin, orang dengan
kecacatan dan komunitas adat terpencil (Suharto 2010).
Penerapan pengembangan masyarakat dilakukan dalam bentuk pelayanan
sosial kepada masyarakat yang kurang beruntung atau tertindas. Pelayanan
masyarakat dalam pengembangan masyarakat lebih berorientasi kepada
pemberdayaan atas pengguna pelayanan masyarakat. Pengembangan masyarakat
dilakukan dalam bentuk program-program pembangunan pekerjaan sosial yang
memfasilitasi masyarakat mendapatkan dukungan dalam pemenuhan kebutuhannya
dan aksi sosial yang mendorong pemenuhan kebutuhan masyarakat mampu dipenuhi
oleh kelompok yang bertanggung jawab.

4
Pengembangan masyarakat yang berorientasi pemberdayaan tidak hanya
dilakukan unit-unit kepemerintahan dalam menjalankan tugas dan fungsinya dalam
memberikan pelayanan sosial tetapi juga pihak korporasi sebagai bentuk tanggung
jawab sosial. Pengembangan masyarakat dalam korporasi biasanya dilakukan dengan
program corporate social responsibility sebagai peran pekerjaan sosial korporasi
meningkatkan kualitas hidup masyarakat dilingkungannya (Suharto 2007).

c) Prinsip-Prinsip Pengembangan Masyarakat


Perserikatan Bangsa-Bangsa melihat pengembangan masyarakat sebagai
proses yang berkaitan dengan usaha swadaya masyarakat yang digabungkan dengan
pemerintah (nasional/daerah) dalam meningkatkan kondisi masyarakat dibidang
ekonomi, sosial, dan kultural yang integral dalam kehidupan berbangsa dan bernegara
dan membuka kesempatan yang memungkinkan masyarakat berkontribusi kepada
kemajuan dan kemakmuran nasional. Sehingga pengembangan masyarakat dari
perspektif internasional sebagai suatu gerakan sosial pada pembangunan desa-desa di
negara Dunia Ketiga dan berkembang (dalam Nadian 2010).
Pekerja sosial, masyarakat dan peran pemerintah dalam pengembangan
masyarakat harus menganut prinsip-prinsip pengembangan masyarakat. Mathews
(dalam Mardikanto dan Soebiato 2013) menjelaskan bahwa prinsip adalah suatu
pernyataan tentang kebijakan yang dijadikan pedoman dalam pengambilan keputusan
dan implementasinya secara konsisten. Jadi, prinsip pengembangan masyarakat
bertujuan sebagai landasan pokok kegiatan pengembangan masyarakat. PBB pada
tahun 1957 memaparkan 10 prinsip prinsip dasar pengembangan masyarakat yang
dapat diterapkan di seluruh dunia, sebagai berikut (dalam Nadian, 2014) :
1. Kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan berhubungan langsung dengan
kebutuhan dasar masyarakat, sehingga program-programnya sebagai jawaban
atas kebutuhan masyarakat
2. Pengembangan masyarakat menuntut tindakan bersama dan penyusunan
program dengan multi-tujuan

5
3. Perubahan sikap sama penting dengan kemajuan material pada tahap awal
pembangunan
4. Pengembangan masyarakat mendoron partisipasi masyarakat, jawaban atas
beragam masalah dan revitalisasi peran pemerintah bilamana belum berfungsi
5. Identfikasi, dorongan semangat, pelatihan pemimpin lokal menjadi tujuan
dasar setiap program
6. Kepercayaan yang lebih besar pada partsipasi wanita dan pemuda dalam
proyek pengemabngan masyarakat akan memperkuat program pembangunan,
memapankannya dengan basis luas dan bersifat jangka panjang
7. Efektifitas proyek-proyek swadaya masyarakat memerlukan dukungan
intensif dan ekstensif pemerintah
8. Penerapan program-program skala nasional diadopsi dengan kebijakan yang
konsisten, pengaturan administrasi yang spesifik, perekrutan dan pelatihan
personil, mobilisasi sumber daya lokal dan nasional dan organisasi penelitian,
eksperimen dan evaluasi
9. Sumber daya dalam bentuk organisasi-organisasi non pemerintah dimanfaat
secara penuh pada berbagai program dari tingkat lokal, nasional dan
internasional
10. Kemajuan ekonomi dan sosial di tingkat lokal paralel dengan pembangunan di
tingkat nasional

d) Pendekatan-Pendekatan Pengembangan Masyarakat


Pengembangan masyarakat bertujuan mengembangkan tingkat kehidupan dan
berorientasi komunitas sehingga pengembangan masyarakat adalah pmbangunan
alternatif yang komprehensif dan berbasis komunitas. Beberapa pendetan
pembangunan yang pernah dilakukan di dunia yakni (Nadian 2010):

Pendekatan komunitas (the community approach).

6
Komunitas adalah kumpulan individu ata kelompok yang memiliki tingkat
kepedlian dan interaksi antar anggota masyarakat dalam satu wilayah yang relatif
kecil (lokal) dengan batasan jelas meliputi tingkat kedekatan pada unit-loyalty dan
collective-identity, dan tempat. Asumsi-asumsi dasar pendekatan komunitas meliputi
(1) perhatian komunitas pada perubahan, (2) keberhasilan pengembangan masyarakat
berkorelasi dengan partisipasi, (3) isu dan masalah dari tingkat komunitas dipecahkan
berlandaskan kebutuhan warga komunitas, (4) pendekatan holistik.
Pendekatan komunitas merupakan pendekatan pengembangan masyarakat
yang paling sering digunakan. Ciri utama pendekatan ini yakni partisipasi yang
berbasis luas, komunitas sebagai konsep penting dan kepeduliannya bersifat holistik.
Keunggulan pendekatan ini terletak pada adanya partisipasi tingi warga dalam
pengambilan keputusan dan pelaksanaan tindakan, penelaahan masalah secara
menyeluruh dan menghasilkan perubahan atas dasar pengertian dan dukungan moral
pelaksanaan oleh seluruh warga.

Pendekatan Kemandirian Informasi (the informatian self-help approach).


Pendekatan kemandirian informasi memfokuskan kepada pemahaman warga
komunitas tentang proses-proses dan isu-isu pengembangan masyarakat. Variabel-
variabel pendekatan kemandirian informasi meliputi peran serta, dimensi komunitas,
peranan informasi dan proses pengantisipasian.
Peran serta komunitas mendorong percepatan keterikatan dan mempercepat
dasar-dasar tangung jawab dan mempengaruhi partisipan. Partisipan yang
berpengetahuan dan berpendidikan atau orang luar yang profesional yang berperan
sebagai anggota komunitas menjadi berharga dalam menentukan peningkatan kualitas
warga komunitas.
Variabel dimensi komunitasi berorientasi pada partisipan dalam
pengembangan masyarakat. Jumlah partisipan tidak harus banyak tetapi seharusnya
mewakili elemn-elemen penting dari populasi dan diinformasikan kepada masyarakat
luas bahwa pengembangan masyarakat berguna bagi komunitas. Berbeda dengan

7
variabel peranan informasi sebagai proses pendidikan menjadi instrumen perubahan
komunitas. Dalam variabel ini informasi dirancang untuk mendukung proses
pemecahan masalah dan menjadi sumber pengaruh dalam meningkatkan kualitas
hidup komunitas. Variabel pengantisipasian sebagai variabel pemecahan masalah
pada pengembangan komunitas berbasis aliran informasi dari interaksi antar warga
komunitas.

Pendekatan Pemecahan Masalah (the problem-solving approach).


Pendekatan komunitas dalam pemecahan masalah menekankan pada tiga
elemen penting yakni kolektifitas masyarakat, lokasi geografis dan pelembagaan yang
memberikan identitas khusus pada komunitas. Asumsi-asumsi dalam pendekatan
pemecahan masalah dalam pengembangan komunitas, meliputi (1) pendekatan
pemecahan masalah sebagai mahluk yang rasional, (2) manusia dan komunitasnya
mampu menggabungkan masalah dan solusinya untuk kepentingan warga komunitas,
(3) keberhasilan pendekatan ini bergantung kepada ketersediaan dan kemampuan
peneliti, penyebaran informasi, keahlian dan kemampuan organisasi
Variabel-variabel pendekatan pemecahan masalah untuk pengembangan
masyarakat yakni (1) keberhasilan dan kegagalan program pengembangan
masyarakat dipengaruhi kepekaan warga komunitas terhadap ruang lingkup dan
kepentingan masalah serta ketersediaan sumber daya alam yang memungkinkan
situasi kerja., (2) peran serta warga komunitas adalah faktor penting dalam
keberhasilan pemecahan masalah dalam bentuk, jumlah dan jangka waktu aktifitas
yang dilakukan, (3) ketersediaan sumber daya alam (internal/eksternal) seringkali
merupakan variabel penting dalam pemecahan masalah, (4) ketepatan waktu,
pendugaan waktu yang buruk dapat menunda pengetahuan, menciptakan
ketimpangan, dan mempengaruhi keberhasilan pemecahan masalah, (5) sifat dan
ruang lingkup masalah menentukan kesejahteraan dan sebagai kebutuhan melakukan
tindakan ketimbang penerapan solusinya.
Pendekatan Demonstrasi (the demonstration approach).

8
Pendekatan demonstrasi memandang komunitas sebagai sekumpulan orang
yang memiliki kesamaan interes atau masalah. Perbedaan komunitas terletak pada
komunitas pedesaan, perkotaan, grup publik, media massa dan jalur ataupun saluran
komunikasi. Asumsi-asumsi dasar dalam pendekatan demonstrasi meliputi (1)
manusia bersifat rasional, bila diberikan perubahan maka manusia akan beradaptasi,
(2) manusia mampu belajar, metode demonstrasi mampu dipelajari dan diulangi
aplikasinya pada situasi berbeda, (3) demonstrasi tidak akan sukses tanpa kerja sama
dan partisipasi individu-individu, (4) metode berdasarkan fakta ilmiah / pengalaman
dapat ditunjukkan, (5) perilaku yang penting dipelajari melalui interaksi, (6) warga
komunitas mampu berinteraksi dan membentuk lingkungannya
Variabel-variabel yang diperhatikan dalam pendekatan demonstrasi untuk
pengembangan masyarakat meliputi (1) informasi, jika informasi dialirkan kepada
komunitas dalam satu geografis di mana budaya dan proses-proses sosial berlaku dan
hasilnya tidak sesuai dengan diperkirakan maka usaha pengembangan masyarakat
tidak berhasil, (2) tujuan pengembangan masyarakat, setiap komunitas memiliki
tujuan berbeda dan perbedaan tersebut mengubah hasil yang diharapkan, (3) waktu,
metode demonstrasi membutuhkan waktu untuk pendekatan ini, (4) hubungan pekerja
komunitas dengan komunitas, hubungan yang berkelanjutan memiliki implikasi
tambahan seperti pendanaan program berkelanjutan, (5) karakteristik pemeimpin,
seoang pemimpin memiliki kekuasaan dalam menerapkan metode demonstratif.

Pendekatan Eksperimen (the experimental approach).


Pendekatan eksperimen memandang komunitas sebagai sekumpulan orang
yang mempunya kepentingan bersama dalam bidang sosial, politik, ekonomi, budaya
dan geografi. Kepentingan bersama menjadi pengikat semua warga komunitas.
Sehingga komunitas sejatinya, entitas otonom dan mempunyai ciri-ciri lokalitas,
sruktur, kultur dan ekologis.
Asumsi-asumsi dasar pendekatan eksperimen yakni (1) pengembangan
masyarakat membutuhkan eksperimen dan pengujian konsep-konsep dan praktek-

9
prakteknya. Tujuan pendekatan agar pengembangan masyarakat seperti yang
dinginkan dan berhasil, (2) gagasan akan bernilai apabila gagasan tersebut tidak dapat
dilakasanakan. Pendekatan mengembangkan teori dan praktik dari pengalaman dan
cara yang harmonis dengan sistem nilai para praktisi di lapangan.
Pendekatan ini menitikberatkan pada variabel waktu. Proses eksperimen
membutuhkan waktu yang memadai untuk sebuah perubahan yang evolusioner.
Variabel lainnya yakni variabel bebas, yaitu suatu perlakuan yang dimanipulasi oleh
pelaku eksperimen dan harus berada dibawah kontrolnya. Variabel-variabel terkendali
seperti ruangan kelas atau demonstrasi yang melibatkan peralatan penunjang.
Sedangkan, variabel antara dalam pengembangan komunitas kurang dipahami
terutama saat mencoba untuk menentukan penyebabnya. Berbeda dengan variabel
terikat pendekatan eksperimen yang diberi perlakuan oleh variabel bebas yang harus
diidentifikasi melalui proses. Warga-warga komunitas, grup dan institusi
mendapatkan perlakuan dalam proses pengembangan komunitas.
Kelebihan pendekatan eksperimen berada pada pelaksanaan yang fleksibel,
orientasi proses yang memperbolehkan pelaku eksperimen membebaskan diri dari
tujuan-tujuan tidak jelas dalam pengembangan komunitas. Pendekatan ini
memungkinkan penerimaan hasil dari eksperimen yang dilakukan berdasarkan
pengembangan atau perbaikan hipotesis melalui cara-cara dari usaha pengembangan
komunitas.

Pendekatan Konflik-Kekuatan (the power-conflict approach).


Pendekatan konflik-kekuatan memandang komunitas sebagai suatu interaksi
komponen yang kompleks dan setiap komponen saling mempengaruhi dari sektor
privat dan publik yang pada waktu dan situasi berbeda memiliki perbedaan kapasitas
dalam kekuasaan. Asumsi dasar pendekatan ini bahwa tindakan berbentuk intervensi
sosial dalam pengembangan komunitas berhubungan dengan penciptaan konflik
antara bagian komunitas dan pembuat keputusan pada komunitas yang lebih besar.
Peningkatan bagian komunitas menguntungkan bagi komunitas.

10
Pendekatan konflik-kekuatan sebgaai upaya memperbaiki komunitas dengan
gagasan yang didukung oleh kekuatan yang bersumber dari kekuasaan, kecerdasan,
kekayaan dan lain-lain yang berasal dari warga komunitas. Kelebihannya, kekuasaan
sebagai salah satu masukan dalam menentukan akhir pelaksanaan pengembangan
komunitas. Kekuasaan juga berarti hasil dari peranan dan interaksi antar bagian yang
bersifat kompleks.
Peran pekerja komunitas menjadi jembatan antara sumber kekuasaan dalam
komunitas dengan tujuan memaksimalkan sumber daya dengan mengunakan
seperangkat ilmu pengetahuan dan teknologi yang sesuai dengan tujuan-tujuan
khusus. Sehingga semua kekuatan yang terlibat dalam proses pengembangan
komunitas mampu diarahkan kepada hasil yang jelas.
Perbedaan pendekatan-pendekatan dalam pengembangan masyarakat karena
perubahan sikap dalam memandang komunitas. Selain itu pada rangkaian
implementasi pendekatan yang bersifat kronologis dan memiliki tekanan temporal.
Sedangkan persamaan semua pendekatan tersebut sebelumnya yakni fokus yang sama
terhadap diseminasi informasi dan tindakan kelompk (group action). Setiap
pengembangan masyarakat bisa menggunakan berbagai pendekatan berdasarkan
karakteristik komunitas dan tujuan yang hendak dicapai.

e) Model-Model Pengembangan Masyarakat


Pengembangan masyarakat menurut Mayo, dibangun berdasarkan dua
perspektif, yakni perspektif profesional dan radikal. Perspektif profesional
menitikberatkan pada usaha meningkatkan kemandirian dan memperbaiki sistem
pemberian pelayanan dalam kerangka relasi-relasi sosial. Berbeda dengan pendekatan
radikal yang berfokus pada upaya mengubah ketidakseimbangan relasi-relasi sosial
melalui pemberdayaan kelompok lemah, mencari sebab kelemahannya dan
menganalisis sumber ketertindasannya. Perspektif profesional bermatra tradisonal,
netral dan teknikal. Sedangkan perspektif radikal bermatra transformasional.

11
Jack Rothman mengemukakan model-model pengembangan masyarakat
meliputi, (1) model pengembangan masyarakat lokal (locality development), (2)
perencanaan sosial (social planning), (3) aksi sosial (social action). Mengacu pada
perspektif pengembangan masyarakat yang dikembangkan Mayo, maka
pengembangan masyarakat lokal dan perencanan sosial masuk dalam perspektif
profesional. Sedangkan aksi sosial termasuk perspektif radikal (dalam Suharto 2010).
Tabel 1. Perspektif dan Model Pengembangan Masyarakat
Perspektif Model Tujuan / asumsi
Profesional Pengembangan Meningkatkan inisiatif dan kemandirian
(Tradisional, masyarakat masyarakat
teknikal dan lokal Memperbaiki pelayanan sosial dalam
netral) Perencanaan kerangka relasi sosial yang ada
sosial
Radikal Aksi sosial Meningkatkan kesadaran dan inisiatif
(transformasional) masyarakat
Memberdayakan masyarakat guna
mencari akar penyebab ketertindasan dan
diskriminasi
Mengembangkan strategi dan membangun
kerjasama dalam melakukan perubahan
sosial sebagai bagian dari upaya
mengubah relasi sosial yang menindas,
diskriminatif dan eksploitatif.
Sumber : dikembangkan dari Suharto (2010).

Model pengembangan masyarakat lokal adalah sebuah proses yang bertujuan


untuk menciptakan kemajuan sosial dan ekonomi masyarakat melalui partsipasi dan
inisiatif anggota masyarakat. Pekerja sosial membantu meningkatkan kesadaran dan
mengembangkan kemampuan mereka dalam mencapai tujuan yang diharapkan.
Model ini berorientasi pada tujuan proses (process goal) dari pada tujuan tugas atau
tujuan hasil.setiap anggota masyarakat bertanggung jawab dalam menentukan tujuan
dan strategi untuk mencapai tujuan bersama. Proses pengembangan masyarakat lokal
berbasis bottom up yang dibentuk dari pengembangan kepemimpinan lokal,
peningkatan startegi kemandirian, peningkatan informasi, komunikasi, relasi dan
keterlibatan anggota masyarakat.

12
Model perencanaan sosial adalah sebuah proses pragmatis yang dilakukan
dalam menentukan keputusan dan tindakan dalam memecahkan masalah sosial
tertentu seperti kemiskinan, pengangguran kenakalan remaja, buta huruf, kesehatan
yang buruk dan sebagainya. Perencanaan sosial berorientasi pada tujuan tugas (task
goal). Pekerja sosial berperan sebagai perencana sosial yang memandang angota
masyarakat yang memiliki masalah sosial sebagai konsumen atau penerima layanan.
Penerima pelayanan dalam model ini dilibatkan dalam proses pembuatan
kebijakan, penentuan tujuan, dan pemecahan masalah tetapi tidak dalam posisi utama
karena sejatinya pengambilan keputusan dilakukan oleh para pekerja sosial di
lembaga formal baik pemerintah, swasta ataupun lembaga swadaya masyarakat.
Sehingga perencana sosial dinilai sebagai seorang yang ahli dalam melakukan
penelitian, menganalisis masalah, dan kebutuhan masyarakat, serta dalam
mengidentifikasi, melaksanakan dan mengevaluasi program pelayanan kemanusiaan.
Model aksi sosial adalah proses perubahan-perubahan fundamental dalam
kelembagaan dan struktur masyarakat melalui distribusi kekuasaan (distribution of
power), distribusi sumber (distribution of source), dan pengambilan keputusan
(distribution of decision making). Model ini dibangun dari asumsi bahwa masyarakat
adalah sistem klien yang menjadi korban ketidakadilan dalam struktur sosial.
Kemiskinan anggota masyarakat bukanlah karena anggota masyarakatnya melainkan
karena dimiskinkan secara sistim dan struktur, tidak berdaya karena tidak
diberdayakan oleh sekelompok orang yang menguasai sumber ekonomi, politik dan
kemasyarakatan.
Model ini berorientasi pada tujuan proses dan tujuan hasil. Pengembangan
masyarakat dilakukan melalui penyadaran, pemberdayaan dan tindakan aktual yang
mampu mengubah struktur kekuasaan agar lebih memenuhi prinsip demokrasi,
pemerataan (equality) dan keadilan (equity).

B. ANALISIS KASUS PENGEMBANGAN MASYARAKAT DESA PULO


KENCANA KEC. PONTANG KAB. SERANG PROPINSI BANTEN

13
a. Kondisi Umum
Desa Pulo Kencana berada di Kecamatan Pontang, Kabupaten Serang,
Propinsi Banten. Desa Pulo Kencana berada pada ketingian sekitar 5 m dpl. Dengan
jenis tanah pada umumnya Hidromorf Kelabu, tekstur lempung berpasir, prositas
tinggi, pH keasaman di atas 5-5,9 dengan kemiringan antara 5-8,9. Tingkat kesuburan
tanah rendah, salinitas tinggi, kapasitas tukar kaitan rendah akibat kurangnya
penggunaan pupuk organik. Sebagian besar masyarakat Pulo Kencana hidup dari
pertanian sawah. Petani menanam padi dua kali dalam satu tahun secara tumpang-sari
dengan tanaman kacang panjang (Amanah dan Farmayanti 2014).
Desa Pulo Kencana belakangan mengembangkan usaha peternakan itik
petelur dan mentok pedaging. Pengembangan usaha ini mendapatkan pendampingan
program FEATI sebagai salah satu program kerja BPTP Propinsi Banten.
Pengembangan usaha peternak itik dan mentok pedaging memiliki prospek yang
sangat baik karena telah menjadi pilihan utama sumber protein hewani masyarakat di
Banten (Amanah dan Farmayanti 2014).
Saluran buangan dari irigasi Cisaid menjadikan ekosistem Desa Pulo Kencana
sangat mendukung untuk peternakan itik petelur dan daging. Peternakan itik dan
mentog dilakukan dipinggir kanal buangan irigasi CIsaid sampai sepanjang 100 meter
bantaran sungai milik Dinas Pekerjaan Umum. Konsumsi itik dan mentog di Kab.
Serang sangat tinggi terutama pada musim hajatan pernikahan atau peringatan
kematian. Selain itu, pada bulan-bulan besar seperti bulan Maulud, Rajab, Syaban,
Idul Fitri da Idul Adha (Amanah dan Farmayanti 2014).
Sejak orde baru Desa Pulo Kencana telah mendapatkan berbagai program
pertanian dalam rangka meningkatkan produksi padi untuk mempertahankan
swasembada pangan. Petani padi sudah sejak lama mendapatkan pembinaan berbagai
lembaga pemerintah. Sebagai contoh penggunaan teknik legowo sebagai perbaikan
cara bertanam padi untuk menghasilkan produksi yang tinggi (Amanah dan
Farmayanti 2014).

14
b. Profil Petani (responden)
Pendidikan formal dan non formal telah ditempuh responden Desa Pulo
Kencana. Pendidikan non formal dalam bentuk pelatihan pertanian dan bercocok
tanam padi sistem legowo, penggunaan pestisida dan FMA (penyuluhan pertanian).
Responden penelitian berada dalam rentang umur produktif. Responden sebagian
besar (87%) pencaharian utamanya sebagai petani padi dengan varietas yang umum
adalah Ciherang. Luas rata-rata penguasaan lahan untuk lahan milik dan bukan milik
yakni 7.500m2 dan 7.167m2 (Amanah dan Farmayanti 2012).
Menurut UNDP, agroekosistem pertanian sawah lahan basah dibeberapa pulau
Jawa dapat ditanami padi dua kali setahun, namunpanen kedua rentan. Berbeda
dengan ekosistem sawah lahan kering desa petani menanam padi yang tahan
kekeringan. Petani di lahan kering biasanya mengusahakan palawija dan ternak
domba. Pengusahaan komoditas non padi sebagai upaya petani berjaga-jaga apabila
panen gagal dan menambah pendapatan. Tingkat pendidikan responden sebesar 70 %
adalah SD (tamat/tidak), dan 30 % adalah SMP dan SMA (Amanah dan Farmayanti
2014). Sedangkan sebaran responden berdasarkan pendapatan usaha yakni :
Tabel 2. Sebaran responden berdasarkan pendapatan usaha
Pendapatan (juta Rp) Jumlah (orang)
<1 5
1-2 0
2-3 4
3-4 4
4-5 3
>5 0
Total 15
Keterangan : (sumber : Amanah dan Farmayanti 2012)
Hasil uji khai kuadrat menunjukkan adanya asosiasi yang signifikan (=0,05)
antara potensi kondisi agroekosistem dengan pendapatan petani

c. Tinjauan program FEATI dalam pengembangan masyarakat usaha


peternakan itik di Desa Pulo Kencana Kec. Pontang Kabupaten Serang
Pemberdayaan petani di Desa Pulo Kencana melalui pengembangan usaha
peternakan itik dilakukan berupa bantuan pemberian bibit itik dan mesin penetas.

15
Mulai tahun 2008 upaya pemberdayaan juga dilakukan dengan peningkatan kapasitas
pengetahuan petani, yakni secara terpadu lintas instansi pertanian dalam program The
Farmer Empowerment Through Agricultural Technology and Information (FEATI).
Instansi yang terlibat antara lain Balai Penelitian Teknologi Pertanian (BPPT)
Propinsi Banten, Badan Penyuluhan dan Ketahanan Pangan (BPKP) Kabupaten
Serang, Dinas Pertanian Propinsi Banten dan Kabupaten Serang, Kantor Kecamatan
Pontang dan Kantor Desa Pulo Kencana (Amanah dan Farmayanti 2014).
BPTP berperan dalam pendampingan dan pembelajaran peternakan itik,
kandang model, formulasi pakan, dan memberikan bibit itik sejumlah 500 ekor.
BPKP berperan dalam pembinaan kelembagaan Farmers Managed Extension
Activities (FMA) dan pendampingan pembelajaran penyuluh. Dinas Pertanian
Propinsi Banten mendirikan Rumah Pengolahan Pupuk Organik (RPPO) di Desa Pulo
Kencana yang pengelolaannya diserahkan kepada FMA. Dinas Pertanian Serang
memberikan bantuan mesin tetas itik kapasitas 10.000 ribu telor. Kantor Kecamatan
memberikan bantuan 10 drum untuk rakit penyeberangan menuju lokasi saung dan
kandang itik dari pinggir jalan seberang sungai. Kantor desa memberikan bantuan
fasilitas aliran listrik untuk penerangan di saung dan tempat peternakan itik
sekitarnya. Selain pemerintah ada juga pedagang perorangan yang bermitra dengan
peternak dengan penyediaan modal berupa day old duck (DOD) itik pedaging dan
petelur (Amanah dan Farmayanti 2014).
FMA di desa Pulo Kencana dinamai Agri Kencana dibentuk tahun 2008
dengan anggota 25 orang. Keua FMA adalah ketua gapoktan Banyu Mukti di Desa
Pulo Kencana. Ketua FMA memiliki kemampuan kepemimpinan yang baik sehingga
dapat menggerakkan anggota kelompok dalam melakukan aktifitas rutin.
Pengalaman, keilmuan dan wawasan serta dedikasinya pada perkembangan dan
kemajuan kelompok sangat baik dan memiliki trust ditingkatan anggota dan pengurus
(Amanah dan Farmayanti 2014).
Kegiatan pertemuan kelompok seringkali diisi dengan kegiatan pembelajaran
anggota yang dilakukan satu kali dalam seminggu. Jumlah peserta yang hadir dalam

16
pertemuan mencapai lebih dari 30 orang. Petugas dari BPKP, BPTP dan DInas
Pertanian sering memanfaatkan pertemuan ini untuk berbagi ilmu dan mengadakan
penyuluhan bagi petani (Amanah dan Farmayanti 2014).
Pada tahun 2008, kelompok Agri Kencana mendapatkan pelatihan beternak
itik, belut, lele, budidaya kol, pembuatan MOL dan Bokashi, pembuatan dendeng
belut, telur asin dan keterampilan anyaman bambu melalui program FEATI yang
dilakukan oleh Dinas Pertanian. Pada tahun 2009, pelatihan dilanjutkan dengan
sekolah lapang peternak itik (8 sesi) dan pengolahan telur asin (4 sesi). Peserta
sekolah ini tidak hanya anggota saja tetapi juga melibatkan ibu-ibu istri anggota
FMA. Tujuannya kelak ibu-ibu peserta pelatihan ini menjadi Kelompok Tani Wanita
(Amanah dan Farmayanti 2014).

d. Peran Kelembagaan Petani


Pendirian kelembagaan kelompok tani dan gabungan kelompok tani dan
akhir-akhir ini ada FMA semuanya diarahkan untuk meningkatkan keterampilan dan
kemandirian petani baik secara teknis maupun ekonomis. Pendirian lembaga petani
sebagai upaya penguatan kelembagaan dalam mencapai tujuan pengembangan
masyarakat. Perubahan pendekatan program dari pendekatan produksi kepada
pendekatan pendapatan petani menyebabkan peningkatan kualitas pertemuan antara
petani dan petugas (AManah dan Farmayanti 2014).
Peran kelembagaan dalam peningkatan pendapatan petani dapat dilihat juga
dari peran kelompok dan gabungan kelompok tani dalam pengembangan uasaha tani
dan kegiatan lain rumah tangga petani. Kegiatan kelompok tani pada umumnya sudah
pada tingkat pelembagaan kelompok ekonomi yakni dengan basis kegiatan simpan
pinjam. Pada Desa Pulo Kencana adanya FMA Agri Kencana berperan sebagai
kelembagaan ekonomi petani (Amanah dan Farmayanti 2014).
Pada tahun 2009-2010 7 orang petani mendapatkan bantuan modal dari FMA.
Antara petani dan FMA dilakukan perjanjian bagi hasil. Baik petani maupun FMA
merasa untung dengan pola bagi hasil ini. Semua pemelihara itik sekarang memiliki

17
itik sendiri di samping tetap memlihara itik milik FMA. Modal awal FMA berasal
dari rpogram PUAP (Amanah dan Farmayanti 2014).

e. Analisis program pengembangan masyarakat usaha peternakan itik desa


Pulo Kencaan
Analisis program pengembangan masyarakat usaha peternakan itik di Desa
Pulo Kencana menurut Amanah dan Farmayanti (2012) menunjukkan bahwa
program-program yang dilaksanakan cenderung bersifat keproyekan, transfer
pengetahuan, inovasi, keterlibatan masyarakat dominan pada saat pelaksanaan dan
keterlibatan sangat terbatas pada perencanaan dan evaluasi program. Pengembangan
organisasi dan pengembangan kelembagaan lokal belum menjadi prioritas.
Pengembangan masyarakat perlu didasarkan pada kesadaran kritis bahwa
masyarakat perlu maju, serta kebutuhan untuk berkembang. Kepercayaan akan
potensi petani dan nelayan merupakan modal utama keberhasilan pemberdayaan.
Penyuluh yang kompeten merupakan slaah satu kebutuhan petani agar dapat
memperkuat peningkatan kemampuan dalam usaha dan pemeliharaan eksosistem
(Amanah dan Farmayanti 2012).
Kelembagaan sosial yang kuat merupakan unsur pendukung keberhasilan
program pengembangan masyarakat. Kelembagaan lokal di Desa Pulo Kencana
masih belum berperan secara utuh sebagai wadah belajar dan bekerjasama. Sebabnya
adalah lemahnya struktur organisasi, belum berperannya kepemimpinan lokal sebagai
penggerak dan masih bergantung pada pola-polapaternalistik. Kelembagaan lokal di
Desa Pulo Kencana berupa perjanjian antara penanam modal dengan pengusaha itik
dan aturan mengenail hutang-piutang. Kelompok petani belum memiliki anggaran
dasar dan anggaran rumah tangga (Amanah dan Farmayanti 2012).

C. PERAN KOMUNIKASI SEBAGAI INSTRUMEN KOMUNIKASI SOSIAL


DAN JARINGAN INFORMASI PENGEMBANGAN MASYARAKAT

18
Istilah komunikasi sosial ditujukan kepada instrumen komunikasi sosial
sebagai konsep linier yang telah lama diadopsi dalam proses komunikasi. Instrumen
komunikasi sosial yang dimaksud Fredian Tonny Nasdian adalah komunikasi dalam
pemahaman sebuah transmisi pesan dari satu titik ke titik lainnya dan komunikatorlah
dengan instrumen dan kemampuannya dapat menjangkau khalayak yang luas dan
membuat mereka berpengalaman, percaya dan melakukan apa yang dinginkan
(Nadian 2014).
Konsep dasar ini mendorong komunikasi yang bersifat top down. Meski
demikian, berbagai hasil penelitian dan persuasi pada umumnya menunjukkan
komunikasi dipandang sebagai proses sharing horizontal di antara partisipan. Umpan
balik seketika dan perubahan peran partisipan yang pada akhirnya mencapai
konvergensi dan kesepahaman umum dan terjadi pada struktur jaringan dan struktur
sosial tertentu. Model komunikasi linier telah banyak menuai kritik atas asumsinya
terhadap aliran informasi.
Pada analisa kasus pengembangan masyarakat usaha itik di Desa Pulo
Kencana di atas komunikasi sosial berperan sebagai instrumen yang
mensosialisasikan program pemerintah baik secara interpersonal, kelompok dan
massal. Sosialisasi program dilakukan oleh berbagai lembaga pemerintah formal
kepada anggota kelompok tani/gapoktan/FMA Agri Kencana secara berjaringan dan
berjenjang (Amanah dan Farmayanti 2014).
Komunikasi sosial dalam pembangunan dalam konteks sosialisasi memiliki
kaitan erat dengan partisipasi masyarakat, seperti diungkapkan Moemeka (1989),
bahwa komunikasi pembangunan bukan hanya masalah mentransfer informasi
tentang penyelesaian suatu masalah dengan menggunakan fasilitas tertentu dan
sekedar pertukaran informasi tentang penyelesaian masalah, tetapi upaya
membangkitkan mobilisasi fisik atau empati, mendorong aspirasi, mendidik
keterampilan baru, menggerakkan partisipasi lokal dalam pembangunan.
Persoalan yang sering muncul dalam setiap proses pembangunan adalah
komunikasi sosial dalam pembangunan yang tidak jalan, sehingga tidak sedikit

19
menimbulkan kegagalan pencapaian hasil. Rogers (1975) mensinyalir terjadinya
kegagalan pelaksanaan program pembangunan, salah satunya disebabkan oleh
terjadinya kesenjangan komunikasi social sehingga informasi yang diterima anggota
komunitas pedesaan menjadi tidak lengkap.
Menurut Susanto (1977), untuk mencapai keberhasilan pembangunan
perdesaan, diperlukan strategi komunikasi yang tepat. Hanya dengan komunikasi
yang tepatlah proses sosialisasi program-program pembangunan bisa berhasil dengan
baik. Pandangan ini diperkuat Moemeka (1989), bahwa sosialisasi dapat
mengkatalisasi aktifitas pembangunan lokal, perencanaan dan implementasi
pembangunan lokal, adanya komunikasi memperlancar program pembangunan.
Roman (2003) menemukan hubungan positif pusat informasi sebagai sarana
sosialisasi program pembangunan dengan efektivitas program pembangunan.
Keberhasilan pembangunan terkait erat dengan partisipasi masyarakat,
sebagaimana hasil penelitian Stiglitz (2002) dan Singh dan Singh (2008), bahwa
keberhasilan pelaksanaan program pembangunan sangat tergantung pada partisipasi.
Partisipasi masyarakat yang dimaksud adalah memposisikan masyarakat sebagai
subyek dalam mencapai efektivitas program pembangunan. Dengan melibatkan
masyarakat dalam perencanaan, pelaksanaan dan pemantauan program pembangunan.
Hal ini mustahil dilakukan bila hanya menitikberatkan pada model komunikasi massa
yang bersifat satu arah dan topdown.
Komunikasi sosial dalam pengembangan masyarakat menitikberatkan tidak
hanya pada model komunikasi linier atau top down melainkan fokus pada proses-
proses dan pola-pola komunikasi dalam suatu komunitas mengalami perubahan dan
perkembangan sejalan dengan perubahan dan perkembangan komunitas itu sendiri.
Komunikasi sosial dipahami sebagai suatu proses-proses dan pola-pola yang
berlangsung dalam komunitas meliputi (1) the number partcipants, (2) publicness, (3)
fungsi informasi, interpretasi dan entertainment (4) cultural group (Nadian 2014).
Peran komunikasi sebagai instrumen sosial dalam pengembangan masyarakat
didasari atas penyebaran dan jaringan informasi dan komunitas. Hal ini ditenggarai

20
atas beragam informasi yang telah menerpa komunitas dengan deras dan luas.
Komunikasi sosial tidak hanya melibatkan media massa dalam menyebarkan
informasi, baik secara langsung ataupu tidak langsung sebagaimana dijelaskan dalam
teori one step dan two step flow theory tetapi juga melalui petugas yang disebarkan ke
pedesaan khususnya komunitas.
Para pekerja pemerintah yang notabene penyuluh pertanian telah mampu
memodernisasikan pertanian di pedesaan melalui pemanfaatan teknologi modern baik
sebagai alat ataupun model pemberdayaan tertentu. Selain melalui saluran informasi
massal ataupun penyuluh, aliran informasi juga didapatkan dari para perantau.
Setelah merantau dan memasuki masa pensiun para perantau pulang dengan
membawa beragam informasi dan uang sebagai modal usaha. Ada juga pedagang
sebagai sumber yang mengalirkan informasi kepada komunitas (Nadian 2014).
Bagi pengembangan masyarakat jaringan informasi terhadap komunitas
sangat penting. Karena kepemilikan dan pemenuhan kebutuhan informasi berpeluang
memiliki kehidupan yang lebih baik. Hal ini yang menjadi asumsi bagi kegiatan
kerjasama sebagai upaya pengembangan komunitas. Dengan adanya jaringan setiap
lembaga tidak perlu lagi mengetahui atau menguasi sumber daya, karena dengan
mudah dapat menerima da mempergunakan sumber daya yang ada pada lembaga lain.
Begitupun dengan jaringan dalam aliran informasi, sebagai instrumen sosial dalam
menambah pengetahuan dari berbagai sumber daya yang ada untuk pengembangan
komunitas.

III. KESIMPULAN
Pengembangan masyarakat muncul sebagai kajian akademis di Amerika
Serikat dan di Inggris. Pengembangan masyarakat menjadi muncul lebih banyak
dilatari kondisi masyarakat dunia akibat perang yang terjadi. Pengembangan
masyarakat di Amerika berbentuk gerakan sosial dan program-program

21
pengembangan masyarakat yang saat itu marak terjadi. Berbeda dengan inggris
sebagai pengganti pendidikan massal, pengembangan masyarakat berorientasi
kepada pengembangan masyarakat pada daerah jajahan koloni Inggris.
Pengembangan masyarakat berasal dari konsep dasar community berarti
kualitas hubungan sosial dan development sebagai perubahan yang dilakukan
secara terencana dan gradual. Pada tahun 1957, PBB memutuskan 10 prinsip-prinsip
dasar pengembangan masyarakat yang bisa diterapkan di seluruh dunia. Berbagai
pendekatan pengembangan masyarakat dilakukan sebagai upaya mencapai
keberhasilan tujuan pengembangan masyarakat.
Model-model pengembangan masyarakat terdiri dari model pengembangan
masyarakat lokal, perencanaan sosial dan aksi sosial. Model pengembangan
masyarakat lokal dan perencanaan sosial termasuk dalam perspektif profesional
dalam pengembangan masyarakat. Sedangkan model aksi sosial termasuk dalam
perspektif radikal.
Peran komunikasi dalam pengembangan masyarakat sebagai instrumen
komunikasi sosial yang terdiri dari elemen-elemen meliputi the numbers of
partcipants, publicness, fungsi infomrasi, interpretasi dan entertainment dan cultural
group. Peran komunikasi juga berperan sebagai jaringan informasi dalam
pengembangan masyarakat.

Daftar Pustaka

Amanah, S dan Nani Farmayanti. 2014. Pemberdayaan Sosial Petani-Nelayan,


Keunikan Agroekosistem, dan Daya Saing. Jakarta : Kerjasama Dep. Sains
KPM IPB dan Yayasan Pustaka Obor Indonesia.

22
_________. 2012. Model Pemberdayaan Petani-Nelayan Berbasis Kelembagaan
Lokal dan Agroekosistem Untuk Peningkatan Daya Saing Dan Pendapatan.
Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Institut Pertanian Bogor : Buku 3
Bidang Sosial, Ekonomi dan Budaya. Hal. 784-790.
Moemeka, A.A. 1989. Perspectives on Development Communication. Africa Media
Review.Vol. 3, No.3, pp. 1-24.
Nasdian, FT. 2014. Pengembangan Masyarakat. Jakarta : Kerjasama Dep. Sains
KPM IPB dan Yayasan Pustaka Obor Indonesia.
Rogers, E. 1975. Network Analysis of The Diffusion of Innovation. Stanford
University: Institute for Communication Research.
Roman, R. 2003. Diffusion of Innovations as a Theoretical Framework for
Telecenters, Information Technologies and International Development. Vol. 1.
No. 2, pp. 53-66.
Singh, P. B. and Singh, A. 2008. Impact and Effectiveness of Watershed Development
Programmes in India. New Delhi: Centre For Rural Studies National Institute
Of Administrative Research Lal Bahadur Shastri National Academy Of
Administration Mussoorie-248-179
Stiglitz, J.E. 2002. Partcipation and Development: Perspectives from the
Comprehensive Development Paradigm. Review of Development Economics.
Vol. 6 (2), pp. 163-182.
Suharto, Edi. 2010. Membangun Masyarakat Memberdayakan Rakyat : Kajian
Strategis Pembangunan Kesejahteraan Sosial dan Pekerjaan Sosial. Bandung
: Refika Aditama
Susanto, A. S., 1977, Komunikasi Kontemporer, Bandung: Bina Cipta.

23