Anda di halaman 1dari 18

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Menurut keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1457/Menkes/SK/X/2003 tentang
Standar Pelayanan Minimal Bidang Pelayanan Kesehatan di Kabupaten atau Kota,
maka untuk itu dipandang perlu di setiap rumah sakit Umum atau Daerah
meningkatkan fasilitas dan pelayanan Laboratorium yang sesuai dengan Peraturan
Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 411/MENKES/PER/III/2010. Sebagai
pelaksanaan ketentuan Pasal 21 Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1996 tentang
Tenaga Kesehatan, maka dipandang perlu juga untuk menetapkan Standar Profesi
bagi tenaga Ahli Laboratorium Kesehatan dengan keputusan Menteri Kesehatan
Nomor 370/Menkes/SK/III/2007. Pelayanan Laboratorium Kesehatan merupakan
bagian yang tidak terpisahkan dari pelayanan kesehatan kepada masyarakat.
Laboratorium kesehatan sebagai unit pelayanan penunjang medis, diharapkan dapat
memberikan informasi yang teliti dan akurat tentang aspek laboratoris terhadap
spesimen/sampel yang pengujiannya dilakukan di laboratorium. Instalasi Laboratorium
RS Budi Agung adalah laboratorium klinik kesehatan yang melayani pemeriksaan
specimen klinik berupa cairan tubuh, untuk mendapatkan informasi tentang kesehatan
perorangan terutama untuk menunjang diagnosis penyakit, penyembuhan penyakit,
pemulihan kesehatan, dan deteksi dini keadaan kesehatan seseorang. Instalasi
Laboratorium RS Budi Agung merupakan unit pelaksana teknis di dalam struktur
organisasi. Untuk itulah perlu disusun suatu standar profesi bagi para ahli teknologi
laboratorium kesehatan dan pedoman yang jelas tentang pelayanan instalasi
laboratorium di Indonesia.

B. Tujuan Pedoman
Tujuan dari disusunnya pedoman pelayanan Instalasi laboratorium RS Budi
Agung ini adalah untuk memberikan acuan atau standar dalam melakukan pelayanan,
sehingga tercapai standar mutu dan keselamatan pasien yang diharapkan.

C. Ruang Lingkup Pelayanan


Laboratorium RS Budi Agung melaksanakan pelayanan specimen klinik di
bidang hematologi, kimia. Beberapa parameter pemeriksaan yang tidak dapat
dikerjakan di laboratorium RS Budi Agung akan dirujuk ke laboratorium rujukan yang
bekerja sama dengan laboratorium RS Budi Agung. Ruang lingkup pelayanan Instalasi
Laboratorium RS Budi Agung meliputi :
1. Pasien Rawat Jalan
Yaitu pasien dari Instalasi Gawat Darurat dan Instalasi Rawat Jalan RS Budi
Agung yang memerlukan pemeriksaan laboratorium.
2. Pasien Rawat Inap
Yaitu pasien yang dirawat di ruang perawatan RS Budi Agung yang
memerlukan pemeriksaan laboratorium.
3. Pasien Luar
Yaitu pasien dari dokter luar RS Budi Agung maupun dari rumah sakit lain
yang memerlukan pemeriksaan laboratorium.
4. Pasien Medical Check-up
Yaitu pasien yang berasal dari Instalasi rawat jalan yang melakukan medical
check-up.

D. Batasan Operasional
Laboratorium RS Budi Agung buka 14 jam sehari, 7 hari seminggu dan
menerima semua parameter pemeriksaan patologi klinik, beberapa parameter untuk
mikrobiologi, dan parameter yang tidak dapat dikerjakan di laboratorium RS akan di
rujuk ke laboratorium rujukan. Specimen Patologi Anatomi akan di rujuk ke
laboratorium Patologi Anatomi yang bekerja sama dengan RS Budi Agung.

E. Landasan Hukum
1. Peraturan pemerintah Nomor 32 Tahun 1996 tentang Tenaga Kesehatan
(Lembaran Negara Tahun 1996 Nomor 49, Tambahan Lembaran Negara
Nomor 3637);
2. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 298/Menkes/SK/III/2008 tentang
Pedoman Akreditasi Laboratorium Kesehatan;

BAB II STANDAR KETENAGAAN

A. Kualifikasi Sumber Daya Manusia


No. Nama Jabatan Kualifikasi Tanaga yang
tersedia
1. Penanggung jawab S2 Kedokteran 1 orang
laboratorium (Dr Spesialis
(Kepala Instalasi) Patologi Klinik)
2. Ka. Ruangan DIII Analis 1 orang
(Koordinator Lab) Kesehatan
3. Staff Analis DIII Analis 5 orang
Kesehatan
SMAK 1 orang

B. Distribusi Ketenagaan
Pola pengaturan tenaga di Instalasi Laboratorium RS Budi Agung diatur dalam 2
shift jaga dengan distribusi sebagai berikut:
1. Dinas pagi:
Yang bertugas sejumlah 3 ( tiga ) orang dengan rincian :
a. 1 orang coordinator merangkap pelaksana
b. 1 orang petugas sampling dan administrasi
c. 1 orang bertugas di hematologi /serologi/kimia klinik
Jam dinas dari pukul 07.00 wib s/d pukul 14.00 wib.
2. Dinas siang:
Yang bertugas 2 ( dua ) orang, dengan rincian :
a. 1 orang penanggung jawab Shift merangkap pelaksana
b. 1 orang petugas billing merangkap pelaksana sampling
Jam dinas dari pukul 14.00 wib s/d pukul 21.00 wib.
3. Dinas malam:
Untuk dinas malam belum ada petugas, jadi apabila ada pemeriksaan
laboratorium yang bersifat cito dengan cara oncall petugas laborat sesuai jadwal.

C. Pengaturan Jaga
Pengaturan jadwal dinas pelaksana analis di Instalasi Laboratorium RS Budi
Agung adalah sebagai berikut:
1. Pengaturan jadwal dinas pelaksana analis dibuat oleh Ka Ruangan/ koordinator
laboratorium, disetujui oleh Kepala Instalasi Laboratorium dan ditandatangani oleh
Ka.Sie Penunjang Medis.
2. Jadwal dinas dibuat untuk jangka waktu satu bulan dan direalisasikan ke analis
pelaksana laboratorium setiap satu bulan.
3. Untuk tenaga analis yang memiliki keperluan penting pada hari tertentu, maka analis
tersebut dapat mengajukan permintaan dinas melalui koordinator. Permintaan akan
disesuaikan dengan kebutuhan tenaga yang ada dan tidak mengganggu pelayanan,
maka permintaan dapat disetujui.
4. Jadwal dinas terdiri atas dinas pagi, dinas siang, malam, libur dan cuti. Apabila ada
tenaga analis jaga karena sesuatu hal tidak dapat jaga sesuai jadwal yang telah
ditetapkan ( terencana ), maka analis bersangkutan harus memberitahu koordinator
laboratorium satu hari sebelumnya, dan diharapkan yang bersangkutan sudah mencari
analis pengganti. Apabila analis bersangkutan tidak mendapatkan analis pengganti,
maka koordinator laboratorium akan mencari tenaga
analis pengganti.
5. Apabila ada tenaga analis tiba-tiba tidak dapat jaga sesuai jadwal yang telah
ditetapkan ( tidak terencana ), maka koordinator laboratorium akan mencari analis
pengganti yang libur. Apabila tidak dapat analis pengganti, maka analis yang dinas
pada shift sebelumnya untuk menggantikan.
BAB III STANDAR FASILITAS

A. Denah Ruang

Ruang Pengambilan dahak Ruang pengecatan BTA

Kamar Mandi Pasien Laboratorium R./Sampling


(tempat alat lab, reagen, administrasi, wastafel)

Ruang Tunggu Pasien


Keterangan : Ruangan laboratorium luasnya : m2 di tambah ruang tunggu
pasien kurang lebih m2, terdiri dari :
1. Ruangan Sampling
Yaitu tempat untuk penerimaan, pengambilan sampel
2. Ruangan administrasi
Yaitu tempat untuk registrasi data pasien, tempat untuk proses akhir hasil
laboratorium dan tempat mengentry data bahan habis pakai/reagen yang
dipakai
3. Tempat reagen
Yaitu tempat reagen yang ada di laboratorium.

B. Standar Fasilitas
Fasilitas yang dimiliki laboratorium RS Budi Agung antara lain :

No Nama Alat Fungsi Jumlah Keterangan


1. Hematology Hematology 1 buah baik
analyser OL- 3 diff
2100
2. Hematology Hematology 1 buah baik
analyser BC- 3 diff
2600
3. Fotometer Kimia Klinik 1 buah baik
mindray BA-
88A
4. Electrolyte Elektrolit 1 buah baik
analyser Darah
9180
5. Mission U120 Urinalisa 1 buah baik
6. Mikroskop Sediaan 1 buah baik
Mikroskopis
7. Centrifuge Sentrifugasi 1 buah baik
model PLC
8. Centrifuge Sentrifugasi 1 buah baik
HC 1180T
9. CoaDATA PT & APTT 1 buah baik
501
10. Nycocard Hba1c 1 buah baik
Reader II
11. SD A1c Care Hba1c 1 buah baik
BAB IV TATA LAKSANA PELAYANAN

A. Pendaftaran dan Pencatatan


Pasien yang datang ke laboratorium terdiri dari beberapa jenis berdasarkan
permintaan pemeriksaan laboratorium, sebagai berikut :

1. Pasien dari dokter rawat jalan RS


2. Pasien dari dokter IGD RS
3. Pasien dari dokter rawat inap RS
4. Pasien dari dokter luar rumah sakit
5. Pasien Medical Check-Up (MCU)

Pendaftaran untuk pasien Rumah Sakit dilakukan di bagian masing-masing asal


pasien, tapi formulir permintaan dari bagian asal pasien disimpan di laboratorium
sebagai arsip dan hasil laboratorium dicatat dalam bentuk softcopy
maupun hardcopy di buku pencatatan hasil kegiatan laboratorium.

Pendaftaran untuk pasien yang membawa formulir permintaan pemeriksaan


laboratorium dari dokter luar , langsung dilakukan di laboratorium dan hasil
laboratorium dicatat dalam bentuk softcopy ( program computer ) maupun hardcopy di
buku pencatatan hasil kegiatan laboratorium.
Untuk pasien-pasien MCU, pendaftaran dilakukan melalui bagian pendaftaran,
arsip permintaan dan hasil laboraotium akan dicatat dan disimpan di laboratorium
bentuk softcopy ( program computer ) maupun hardcopy di buku pencatatan hasil
kegiatan laboratorium.

B. Pengelolaan Spesimen

1. Spesimen Infeksius

2. Spesimen tidak infeksius

Semua bahan pemeriksaan/sampel dianggap infeksius karena berasal dari


manusia yang tidak diketahui apakah infeksius atau tidak. Semua bahan
pemeriksaan (sampel) diberikan identitas pasien. Identitas pasien ini menurut
nama, alamat, RM, umur.

Pada surat permintaan pemeriksaan laborat juga ditulis :


Tanggal permintaan
Jam pengambilan sampel
Identitas pasien yang meliputi nama, umur, jenis kelamin, alamat, RM,
ruangan tempat
Identitas dokter
Diagnosis dan keterangan
Pemeriksaan laboratorium yang diminta
Nama pengambil
Pengelolaan Serum
1. Darah dibiarkan membeku terlebih dahulu pada suhu kamar selama 10 20 menit,
kemudian dicentrifuge pada 3000 rpm selam 5 15 menit
2. Serum dipisahkan dari komponen darah yang lain. Serum yang memenuhi syarat
apabila tidak lisis (kelihatan merah) atau keruh (lipemik).

Pengelolaan darah EDTA


1. Sampel darah yang telah diambil dan mengalir ke dalam tabung yang telah berisi
EDTA dicampurkan dengan cara membolak-balikkan tabung dengan hati-hati
sebanyak 8 kali
2. Pada saat hendak dilakukan pemeriksaan dilakukan pencampuran kembali dengan
cara dibolak-balikkan sebanyak 5 10 kali

Pengelolaan Plasma
1. Sampel darah yang telah diambil dan mengalir ke dalam tabung yang telah berisi
natrium citrate 0,38% dicampurkan dengan cara membolak-balikkan tabung dengan
hati-hati sebanyak 4 kali.
2. Plasma dipisahkan tidak boleh lebih dari 2 jam setelah pengambilan sampel.
3. Plasma yang memenuhi syarat tidak kelihatan merah (lisis) atau keruh ( lipemik).

Pengelolaan Urine
Untuk uji carik celup, urine tidak memerlukan perlakuan khusus, kecuali pemeriksaan harus
segera dilakukan dalam waktu 1 jam, sedangkan untuk pemeriksaan sedimen harus
dilakukan pengeloaan terlebih dahulu dengan cara:
1. Urine sebanyak 10 ml dimasukkan ke dalam tabung
2. Urine dicentrifuge selama 5 menit 3000rpm
3. Supernatan urine dibuang dengan menyisakan 1 ml, kemudian dikocok untuk
meresuspensikan
Serum yang akan dikirim ke laboratorium lain sebaiknya dalam bentuk yang relatif stabil.
Untuk itu persyaratan yang dipenuhi untuk pengiriman sampel :
Stabilitas serum tidak melampaui batas waktu yang ditentukan
Tidak terkena sinar matahari
Dimasukkan ke dalam sumple cup yang tertutup
Untuk pemeriksaan mikrobiologi menggunakan media

C. Pemeriksaan Laboratorium
1. Hematologi

Laboratorium Klinik RS memiliki 2 alat hematologi analiser yang berfungsi sebagai alat
utama dan alat backup. Alat utama adalah analiser dengan kemampuan 3 differensiasi sel
lekosit semi automatic sedangkan alat backup memiliki kemampuan 3 differensiasi sel
lekosit. Pemeriksaan laboratorium lain yang tercakup dalam hematologi adalah LED,
pemeriksaan hapusan darah/ morfologi darah, pemeriksaan golongan darah.

2. Faal Hemostasis
Faal hemostasis adalah pemeriksaan untuk fungsi koagulasi darah. Yang dapat dilakukan di
laboratorium adalah pemeriksaan Plasma Protrombin Time ( PPT ) dan Aktivated Partial
Thromboplastin Time ( APTT ), Cloting Time , Bleeding Time. Untuk pemeriksaan faktor-faktor
pembekuan akan di rujuk ke laboratorium rujukan.

3. Kimia Klinik
Parameter Kimia klinik dilaboratorium RS yang tersedia adalah parameter untuk
pemeriksaan fungsi hati, fungsi ginjal, profil lemak, petanda penyakit jantung/cardiovaskuler,
diabetes dan monitoringnya.

4. Elektrolit
Pemeriksaan elektrolit menggunakan metode ISE untuk Natrium, Kalium, dan Chlorida.

5. Urinalisa
Urinalisa memakai 10 parameter dalam 1 strip urin. Metode semiautomatic, karena tes
kimiawi dibaca hasilnya dengan alat sedangkan mikroskopis sel masih manual , yaitu
pembacaan dengan mikroskop.
6. Imunoserologi
Beberapa tes imunoserologi yang ada merupakan rapid tes, dan sebagian merupakan tes
aglutinasi manual . Tidak ada autoanalyzer untuk pemeriksaan imunoserologi.

7. Mikrobiologi
Parameter mikrobiologi yang dilakukan hanya pengecatan Gram dan Ziel Nielsen.

8. Patologi Anatomi ( PA )
Untuk pemeriksaan Pattologi Anatomi laboratorium RS merujuk ke laboratorium PA yang
bekerjasama dengan Rumah Sakit.

Untuk pemeriksaan CITO / IGD hasil dapat diketahui :

1. 15 menit untuk pemeriksaan darah lengkap tanpa ada LED.


2. 1 Jam untuk pemeriksaan kimia

Untuk pemeriksaan regular / biasa dapat diketahui :

1. Pasien Rawat Jalan :


Semua pemeriksaan dilakukan tidak lebih dari 2 jam ( standart waktu tunggu/120
menit).
2. Pasien Rawat Inap :
Dalam waktu 2 jam setelah pengambilan sampel untuk semua jenis pemeriksaan.

Untuk pemeriksaan rujukan hasil dapat diketahui :


Dalam waktu 1 minggu setelah pengiriman sampel.

Bila ditemukan hasil yang kritis dari pemeriksaan diagnostik dilaporkan dengan system
pelaporan yang formal (yang benar).
1. Laboratorium rumah sakit menetapkan nilai ambang kritis bagi setiap jenis
pemeriksaan, bila ada hasil yang kritis segera dilaporkan oleh petugas laborat ke
perawat ruangan / dokter yang meminta pemeriksaan melalui via telepon, sebelum
hasil dikeluarkan dan didokumentasikan di buku laporan.
2. Hasil pemeriksaan dicatat di blanko permintaan pemeriksan
3. Hasil pemeriksaan tersebut diketik di komputer rangkap dua untuk pasien umum, copi
pertama untuk arsip di rekam medis dan ditempel, copi kedua diberikan kepada
pasien.
4. Hasil pemeriksaan untuk pasien rawat inap diantar oleh petugas laboratorium ke
masing-masing ruangan, dengan membawa buku ekspedisi laboratorium
, untuk ditandatangani perawat yang bersangkutan.

D. Pengelolaan Limbah
1. Sampah Medis berupa peralatan flebotomi, tabung specimen akan dibuang di
tempat sampah dengan plastik kuning dan diteruskan masuk ke insenerator.
2. Sampah Medis berupa sisa specimen / cairan tubuh akan dibuang ke bak
pencucian dimana salurannya akan diteruskan ke bak pengolahan limbah cair.
3. Sampah bukan medis , seperti kertas, tissue, plastik dan lain-lain akan dibuang
ke tempat sampah dengan plastik hitam dan akan dibuang ke tempat
pembuangan sampah akhir.

E. Laporan Hasil dan Arsip


Laporan hasil laboratorium akan dibuat arsip dalam
bentuk hardcopy dan softcopy. Rekapitulasi hasil laboratorium juga dibuat dalam
bentuk Buku Laporan Kinerja Laboratorium dan dalam bentuk Laporan Bulanan.

F. Pemeliharaan dan Kalibrasi Alat


Pemeliharaan alat-alat laboratorium dilakukan oleh teknisi alat dengan jadwal
1x/ bulan. Perawatan harian dan mingguan dilakukan oleh analis pekerja laboratorium.
Kalibrasi alat dikerjakan sesuai dengan kebutuhan. Untuk alat elektrolit , kalibrasi
otomatis dilakukan oleh alat setiap akan dipakai. Untuk alat kimia klinik kalibrasi akan
dilakukan bila kontrol kualitas tidak baik ( tidak masuk dalan batas kontrol / tidak
terkontrol ). Sementara itu beberapa mikropipet akan dikalibrasi 1 2x / tahun dengan
mengirimnya ke Badan Kalibrasi tersertifikasi.

G. Trouble Shooting
Pemecahan masalah dalam laboratorium terutama masalah dengan
pemeriksaan diatur dalam panduan trouble shooting.
BAB V LOGISTIK

Pengertian : Logistik di laboratorium adalah penyediaan bahan bahan habis pakai /


reagen yang dibutuhkan untuk pelayanan di laboratorium.
Tujuan : Agar kebutuhan bahan bahan habis pakai/reagen sebagai sarana
pemeriksaan dapat tersedia dengan tepat, cepat, efektif, efisien dan professional untuk
meningkatkan mutu laboratorium.
Ruang lingkup : Alur kerja pembelian dan penyimpanan bahan- bahan habis
pakai/reagen ini menerangkan suatu sistem mulai dari mengevaluasi jumlah stok reagen,
membuat surat pesanan reagen sampai mendapatkan reagen yang diperlukan
Alur kerja pemesanan dan penerimaan bahan bahan habis pakai/reagen :
PROSES KETERANGAN
1. Laporan bulanan
laboratorium
ditandatangani oleh Tidak
Ka. Instalasi Tidak
Ka. Sie Penunjang Tidak
Medis
Direktur
2. Surat Pemesanan (SP)
barang ditandatangani atau
disetujui oleh : Ya
Ka. Instalasi Tidak
Ka. Sie Penunjang Ya
Disetujui rekanan
3. Terima barang disetujui
oleh Ya
Ka. Ruangan
4. Setelah barang datang Ka.
Ruangan Ya
Catat di buku Ya
penerimaan
Faktur barang
ditandatangani oleh
koordinator ruangan.

BAB VI KESELAMATAN PASIEN

A. Pengertian
Keselamatan pasien adalah suatu sistem yang membuat asuhan pasien di laboratorium
menjadi lebih aman.

B. Tujuan
Untuk mencegah terjadinya cidera yang disebabkan oleh kesalahan akibat melaksanakan
suatu tindakan atau tidak mengambil tindakan yang seharusnya diambil.

C. Tata Laksana Keselamatan Pasien


1. Mulai dengan membuat standar prosedur operasional (SPO)
2. Melakukan SPO di semua segi pelayanan laboratorium
3. Mencatat dan menuliskan laporan kejadian bila terjadi kejadian yang tidak diharapkan
(KTD)
4. Kepala Instalasi bersama pihak yang terkait melakukan penyelidikan terhadap KTD,
mencari jalan keluar bila perlu merubah system sehingga lebih baik dan lebih aman untuk
pasien, membuat tindak lanjut dan mensosialisasikan tindak lanjut untuk dilakukan bersama
dan mengevaluasi system yang baru tersebut
5. Melaporkan Indikator keselamatan pasien setiap bulan dalam rapat kerja bulanan dengan
direksi yaitu :
Kejadian yang berhubungan dengan ketidakcocokan identitas pasien
Kejadian yang berhubungan dengan komunikasi yang efektif
Kejadian pasien jatuh
Kejadian yang berhubungan dengan transfusi darah
Kejadian yang berhubungan dengan satndar pengendalian infeksi (cuci tangan)
Melakukan semua standar pengendalian infeksi
Memilih peralatan yang bermutu dan aman bagi pasien

BAB VII KESELAMATAN KERJA

Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) Laboratorium merupakan bagian dari


pengelolaan laboratorium secara keseluruhan. Laboratorium melakukan berbagai tindakan
dan kegiatan terutama berhubungan dengan spesimen yang berasal dari manusia maupun
bukan manusia. Bagi petugas laboratorium yang selalu kontak dengan spesimen, maka
berpotensi terinfeksi kuman pathogen. Potensi infeksi juga dapat terjadi dari petugas ke
petugas lainnya, atau keluarganya dan ke masyarakat. Untuk mengurangi bahaya yang
terjadi, perlu adanya kebijakan yang ketat. Petugas harus memahami keamanan laboratorium
dan tingkatannya, mempunyai sikap dan kemampuan untuk melakukan pengamanan
sehubungan dengan pekerjaannya sesuai SPO, serta mengontrol bahan/spesimen secara
baik.

Pengertian
Adalah suatu system dimana Instalasi Laboratorium RS Budi Agung membuat suatu
asuhan kesehatan dan keselamatan kerja rumah sakit bagi petugas di lingkungan Instalasi
Laboratorium.

Tujuan
a. Terciptanya budaya keselamatan kerja
b. Menurunnya kejadian yang tidak diharapkan
c. Terlaksananya program-program pencegahan sehingga tidak terjadi
pengulangan kejadian yang tidak diharapkan.
Tata Laksana Keselamatan Kerja
a. Design laboratorium harus memiliki system ventilasi yang memadai dengan
sirkulasi udara yang baik.
b. Design laboratorium harus mempunyai alat pemadam api yang tepat untuk
bahan kimia berbahaya.
c. Design laboratorium harus dibuat sedemikian rupa agar dapat menghindari
panas sejauh mungkin, dengan memakai alat pembakar gas yang terbuka untuk
menghindari bahaya kebakaran.
d. Dua pintu / jalan harus disediakan untuk keluar dari kebakaran dan terpisah
sejauh mungkin.
e. Tempat penyimpanan reagen didesign untuk mengurangi resiko sampai sekecil
mungkin.
f. Harus tersedia alat Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan ( P3K ).
g. Sistem pembuangan limbah yang aman.

1. Peralatan
a. Semua alat di laboraotirum memiliki kemanan sedemikian rupa sehingga
pekerja tidak terpapar aliran listrik
b. Memiliki safety cabinet untuk bekerja saat pengecatan
2. Alat Pengaman
Jenis alat pelindung yang digunakan petugas laboratorium meliputi : sarung
tangan, baju kerja, masker, sepatu. Sarung tangan harus selalu dipakai pada saat
melakukan tindakan diperkirakan akan terjadi kontak dengan darah, cairan tubuh, secret,
dan benda yang terkontaminasi. Cuci tangan harus selalu dilakukan pada saat sebelum
memakai dan melepas sarung tangan. Sarung tangan harus berbeda untuk setiap pasien.
Baju kerja berupa jas pelindung merupakan salah satu jenis pakaian kerja wajib
digunakan selama di laboratorium. Tujuan pemakaian jas pelindung untuk melindungi
petugas dari kemungkinan genangan atau percikan darah atau cairan tubuh yang lain
yang dapat mencemari baju atau seragam. Baju kerja harus segera diganti bila terkena
kotoran,darah atau cairan tubuh yang lain.
Sepatu kerja digunakan di area pemeriksaan laboratorium sehingga dapat
mencegah terperciknya sampel ke kaki petugas dan mencegah terlukanya kaki petugas
karena terkena tusukan benda tajam yang terjatuh.
3. Monitoring Kesehatan
Keadaaan kesehatan petugas laboratorium harus memenuhi standar kesehatan yang
telah ditentukan di laboratorium.
Untuk menjamin kesehatan para petugas laboratorium dilakukan hal-hal sebagai berikut :
a. Pemeriksaan foto toraks bagi pegawai yang bekerja dengan bahan yang diduga
mengandung bakteri
b. Pemberian imunisasi
c. Pemantauan kesehatan pegawai dilakukan setiap 6 bulan sekali secara rutin.

4. Petunjuk Pencegahan Infeksi Untuk Petugas Kesehatan


a. Mencegah penyebaran bahan infeksi.
b. Melakukan dekontaminasi permukaan meja kerja dengan desinfektan yang
sesuai setiap habis menempatkan sisa specimen dalam wadah yang tahan
bocor.

c. Mencegah bahan infeksi tertelan atau terkena kulit serta mata selama bekerja.

d. Mencuci tangan dengan sabun/desinfektan sebelum dan sesudah bekerja

e. Menggunakan alat pelindung mata/muka jika terjadi resiko percikan bahan


infeksi saat bekerja.
f. Mencegah infeksi melalui vaksinasi
Bila terjadi luka tusukan maka setiap pekerja wajib melakukan
pemeriksaan/ test Panel Hepatitis.

BAB VIII PENGENDALIAN MUTU


A. PRA ANALITIK.
Pra analitik adalah suatu rangkaian kegiatan sebelum specimen siap diperiksa.
Cakupan kegiatan pranalitik adalah persiapan pasien, penulisan pesanan laboratorium (order
test) , identitas pasien, persiapan pengambilan specimen, metode pengambilan specimen,
waktu pengambilan specimen, pemilihan tabung / wadah specimen, transportasi specimen,
penempelan identitas pada tabung specimen , preparasi specimen (sentrigugasi, pipetisasi ,
dll) sebelum dilakukan tes pada alat analitik. Kegiatan-kegiatan pra analitik diatas sangat
mempengaruhi hasil akhir suatu tes laboratorium.
Pengendalian mutu pre analitik harus dimulai dari sejak persiapan pasien sampai sentrifugasi
specimen. Hal-hal yang diukur untuk melihat mutu preanalitik adalah :
1. Apakah persiapan pasien sudah benar ?
2. Puasa ?
3. Apakah form permintaan berisi identitas pasien ?
4. Apakah pesanan tes sudah benar ?
5. Berapa tusukan yang dilakukan saat pengambilan darah ?
6. Apakah jumlah specimen dan tabung / tempat specimen sudah benar ?
7. Apakah sampel hemolitik ?

B. ANALITIK.
Kegiatan analitik dimulai dengan memastikan reagen dan alat yang dipakai dalam
kondisi baik sebelum pemeriksaan dilakukan.Cara memastikan alat dan reagen dalam kondisi
baik adalah dengan cara melakukan control kualitas dengan langkah sebagai berikut :
1. Nyalakan alat sesuai standar prosedur operasional
2. Lakukan pemeriksaan bahan kontrol
3. Cek hasil control apakah sesuai dengan nilai jarak nilai yang ditetapkan; bila sesuai ,
4. Lihat grafik control harian , apakah sesuai dengan rule yang ditetapkan , bila sesuai alat
dan reagen siap untuk dipakai
5. Bila hasil tidak sesuai dengan jarak nilai yang ditetapkan , cek bahan control, cek reagen,
cek panjang gelombang pada alat, pada cek cuvet baca pada alat, cek lampu ada alat;
perbaiki semua hal ini bila dianggap ada masalah.
6. Lakukan kalibrasi, cocokan nilai kalibrasi

C. PASCA ANALITIK.
Kegiatan mutu paska analitik adalah kegiatan untuk memastikan hasil laboratorium
tertera dengan benar pada formulir hasil dan diterima oleh pasien yang benar dalam waktu
yang tepat. Kegiatan mutu paska analitik termasuk didalamnya adalah :
1. Validasi hasil pemeriksaan laboratorium
2. Validasi pengetikan hasil laboratorium
3. Ekpertisi dokter
4. Validasi Penyerahan hasil laboratorium

PEMANTAPAN MUTU EKSTERNAL (PME).


Kegiatan mutu eksternal adalah kegiatan Mutu yang dikerjakan dengan (minimal)
menjadi peserta Program Nasional Pemantapan Mutu Eksternal (PNPME), dan dapat
diperluas dengan mengikuti Pemantapan Mutu Laboratorium secara Internasional (EQAS).
PNPME dikerjakan 1x dalam setahun dengan cara melakukan pemeriksaan sampel
yang diberikan oleh lembaga penyelenggara dan menerima hasil control kualitas tersebuat
dalam bentuk sertifikat.
BAB IX PENUTUP

Laboratorium merupakan pelayanan kesehatan di rumah sakit sebagai salah satu


bagian penunjang medik diharapkan dapat memberikan informasi yang teliti dan akurat
tentang aspek laboratoris terhadap spesimen atau sampel yang dilakukan pengujian,
sehingga mutu hasil pengujian laboratorium terus dapat ditingkatkan seiring dengan
kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi serta perkembangan penyakit.
Pedoman pelayanan Instalasi Laboratorium disusun sebagai acuan dalam
melaksanakan dan mengembangkan kegiatan pelayanan laboratorium RS Budi Agung.
Demikianlah Pedoman Pelayanan ini dibuat, supaya menjadi pedoman dalam semua
kegiatan pelayanan laboratorium. Bila ada perubahan yang harus dilakukan untuk tujuan
keselamatan pasien dan peningkatan mutu, maka pedoman ini dapat dirubah mengikuti
standar yang ada dan yang diharuskan.