Anda di halaman 1dari 8

Jurnal POROS TEKNIK Volume 7 No.

1 Juni 2015 :1-53 ISSN 2085-5761 (Print)


ISSN 2442-7764 (Online)

STUDI DEBIT ALIRAN PADA SUNGAI ANTASAN


KELURAHANSUNGAI ANDAI BANJARMASIN UTARA

Ahmad Norhadi (1), Akhmad Marzuki (1), Luki Wicaksono (1)


Rendi Addetya Yacob (2)
(1) Staf Pengajar Jurusan Teknik Sipil Politeknik Negeri Banjarmasin
(2) Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Politeknik Negeri Banjarmasin

Ringkasan
Kota Banjarmasin dikenal sebagai kota seribu sungai yang terdapat banyak anak sungai
yang mempunyai karakteristik berbeda setiap sungai salah satunya sungai Antasan yang
terletak pada titik koordinat S 318'7,4232" dan T 11437'2,3916" kelurahan Sungai Andai,
Kecamatan Banjarmasin Utara. Sungai Antasan merupakan sungai tersier yang terpengaruh
oleh pasang surut ganda dari Sungai Martapura yang merupakan sungai primer dan berfungsi
sebagai drainase.
Aliran di daerah Sungai Antasan terdapat beberapa hambatan seperti tumbuhan air,
limbah perumahan dan limbah perkebunan yang mengakibatkan terganggunya aliran,
sehingga akan berdampak kurang baik terhadap daerah aliran Sungai Antasan yang mengalir
masuk dari Sungai Martapura ke daerah pemukiman sekitar maupun sebaliknya. Berdasarkan
hal tersebut ada sesuatu yang bisa diambil untuk merencanakan agar aliran air sungai masuk
ke pemukiman sesuai dengan kebutuhan. Hal ini jelas berdampak pada kecepatan aliran dan
karakteristik sungai oleh karena itu perlu dilakukan studi penelitian untuk mengetahui
kecepatan aliran dan karakteristik Sungai Antasan.Dalam pelaksanaan penelitian digunakan
alat ukur kecepatan aliran air sungai yaitu current meter dengan metode SNI 03-2819-1992.
Kecepatan aliran rata-rata sangat bervariasi selama 10 hari, kecepatan minimum dengan
nilai 0.068 m/detik dan kecepatan maksimum dengan nilai 0.0983 m/detik dan memiliki
kecepatan aliran rata-rata dengan nilai 0.0831 m/detik. Hasil debit aliran sangat terpengaruh
dari hasi kecepata naliran dengan debit aliran minimum 0.047 m/detik, debit aliran maksimum
0.065 m/detik dan debit aliran rata-rata 0.0558 m/detik. Sungai Antasan mengalami pasang
surut terjadi dua kali dalam satu hari, pasang pertama pada jam 9 pagi 3 siang, pasang
kedua pada jam 9 malam 3 pagi, sungai Antasan berbentuk denditrik bercabang seperti akar
kalau dilihat dari tampak atas, sungai Antasan bertipe sungai kecil karena memiliki lebar 5,5
mete rdan panjang sungai yang bisa dilewati adalah2,5 km. Hasil penelitian in idapat menjadi
acuan awal sebagai data untuk penelitian selanjutnya yang berhubungan dengan Sumber
Daya Air.
Kata Kunci :Kecepatan aliran, Debit aliran, karakteristik

1. PENDAHULUAN yang mengakibatkan terganggunya aliran. Hal


ini jelas berdampak pada kecepatan aliran dan
Latar Belakang karakteristik sungai oleh karena ituperlu
Kota Banjarmasin dikenal sebagai kota dilakukan studi penelitian untuk mengetahui
seribu sungai yang terdapat banyak anak kecepatan aliran dan karakteristik Sungai
sungai yang mempunyai karakteristik berbeda Antasan.Dalam pelaksanaan penelitian
setiap sungai salah satunya Sungai Antasan digunakan alat ukur kecepatan aliran air
yang terletak pada titik koordinat S sungai yaitu current meter dengan metode SNI
318'7,4232" dan T 11437'2,3916" kelurahan 03-2819-1992, memiliki kepekaan terhadap
Sungai Andai, Kecamatan Banjarmasin Utara. aliran air sehingga dapat mendapatkan hasil
Sungai Antasan merupakan sungai tersier yang lebih detail karena pengukuran pada
yang terpengaruh oleh pasang surut ganda keseluruhan bagian luas penampang dan
dari sungai Martapura yang merupakan sungai kedalaman air. Hasil penelitian dapat menjadi
primer dan berfungsi sebagai drainase. acuan awal sebagai data untuk penelitian
Aliran di daerah sungai terdapat selanjutnya yang berhubungan dengan
beberapa hambatan seperti tumbuhan air, perencanaan Bangunan Air dan pengem-
limbah perumahan dan limbah perkebunan bangan Sumber Daya Air.

7
ISSN 2085-5761 (Print) Jurnal POROS TEKNIK, Volume 7 No. 1 Juni 2015 : 1-53
ISSN 2442-7764 (Online)

Rumusan Masalah runs, tergantung bahasa local masing-masing


1. Berapakah kecepatan aliran air pada daerah yang ada. Semuanya berarti sungai
saluran di Sungai Antasan? kecil. Sedang terminologi yang membedakan
2. Berapakah debit rata-rata pada saluran di antara sungai kecil (stream) dan sungai besar
Sungai Antasan? (river) hanya tergantung kepada pemberi
3. Bagaimana karakteristik Sungai Antasan? nama pada pertama kalinya (helfrich et al.
dalam Atlas okologie, 1999). Selanjutnya
sungai kecil didefinisikan sebagai air dangkal
Tujuan
yang mengalir di suatu daerah dengan lebar
Tujuan dari penelitian ini adalah:
aliran tidak lebih dari 40 m pada muka air
1. Mengetahui kecepatan aliran air pada
normal, sedangkan kondisi yang lebih besar
saluran di Sungai Antasan.
dari sungai kecil disebut sungai atau sungai
2. Mengetahui debit rata-rata pada saluran di
besar
Sungai Antasan.
3. Mengetahui karakteristik Sungai Antasan.
Klasifikasi Berdasarkan Vegetasi
LfU (2000) mengklasifikasi sungai kecil
Batasan masalah
atau sungai besar berdasarkan kondisi
1. Titik yang diamati meliputi saluran pada
vegetasi alamiah di pinggirnya. Disebut sungai
Sungai Antasan, pengamatan sepanjang
kecil bila dahan dan ranting vegetasi pada
15 meter, lebar penampang sungai 5,5
kedua sisi tebingnya bertautan dan dapat
meter.
menutupi sungai yang bersangkutan.
2. Pengamatan dibagi menjadi 3 titik dengan
Sedangkan pada sungai besar, dahan
jarak 5 meter per titik, titik pertama dimulai
vegetasi pada kedua sisi tebingnya tidak dapat
pada samping jembatan.
bertautan karena terpisah cukup jauh.
3. Pengukuran Kecepatan Aliran pada
kondisi pasang pertama.
Metode Kecepatan Aliran dan Debit
4. Pengukuran kedalaman pada saat tinggi
Kecepatan aliran sungai pada satu
air yang sama di waktu yang berbeda.
penampang saluran tidak sama, kecepatan
5. Curah hujan tidak diperhitungkan.
aliran sungai ditentukan oleh bentuk aliran,
6. Pengukuran kecepatan aliran menggu-
geometri saluran dan factor-faktor lainnya.
nakan alat Current Meter
Kecepatan aliran sungai diperoleh dari rata-
7. Masa survey lapangan atau pengukuran
rata kecepatan aliran pada tiap bagian
selama 10 hari
penampang sungai tersebut. Idealnya,
kecepatan aliran rata-rata diukur dengan
2. TINJAUAN PUSTAKA menggunakan alat Flow Probe atau Current
Meter. Alat ini dapat mengetahui kecepatan
Klasifikasi Berdasarkan Lebar Sungai aliran pada berbagai kedalaman penampang,
Kern (1994) mengklasifikasikan sungai namun apabila alat tersebut tidak tersedia
berdasarkan lebarnya, mulai dari kali kecil dapat dilakukan pengukuran dengan metode
yang bersumber dari mata air hingga apung. Kecepatan aliran memiliki dua metode
bengawan dengan lebar lebih dari 220 meter sebagai berikut :
(Tabel 2.1). Heinrich dan hergt dalam Atlas
Okologie (1999) mengklasifikasikan sungai a. Pengukuran kecepatan aliran dengan alat
berdasarkan lebar sungai dan luas DAS pengapung
(Tabel 2.1) seperti berikut: Pengukuran kecepatan aliran dilakukan
dengan jalan mengapungkan suatu benda
Tabel 1 Klasifikasi menurut Kern (1994) misalnya bola tenis, pada lintasan tertentu
sampai dengan suatu titik yang telah
diketahui jaraknya, pengukuran dilakukan
oleh tiga orang yang masing-masing
bertugas sebagai pelepas pengapung di
titik awal, pengamat dititik akhir lintasan
dan pencatat waktu perjalanan alat
pengapung dari awal sampai titik akhir,
langkah pengukuran kecepatan aliran
adalah sebagai berikut:
Pilih lokasi pengukuran pada bagian
Sungai kecil disebut juga dalam bahasa sungai yang relative lurus dan tidak
inggris brooks, branceches, creeks, forks, dan banyak pusaran air, bila sungai relative

8
Jurnal POROS TEKNIK Volume 7 No. 1 Juni 2015 :1-53 ISSN 2085-5761 (Print)
ISSN 2442-7764 (Online)

lebar, bawah jembatan adalah tempat setiap penampang atau bisa dihitung dengan
pengukuran yang cukup ideal rumus Q = A.V atau seperti berikut :
Tentukan lintasan dengan jarak tertentu
kira-kira waktu tempuh benda yang
diapungkan lebih kurang 20 detik
Buat profil sungai pada titik akhir Dimana:
lintasan Q = Debit aliran (m/detik)
Catat waktu tempuh benda apung mulai L = Lebar Interval bagian (m)
saat dilepaskan sampai dengan garis V = Kecepatan rata-rata pada tiap (h) titik
akhir lintasan kedalaman pengukuran (m/detik)
Ulangi pengukuran sebanyak tiga kali
Hitung kecepatan rata-ratanya Cara Pengujian dan Perhitungan
Kecepatan aliran merupakan hasil bagi antara Urutan proses dalam pengujian ini adalah
jarak lintasan dengan waktu tempuh atau sebagai berikut :
dapat dituliskan dengan persamaan : 1. Mengukur dimensi saluran seperti tinggi
dinding saluran, mengukur lebar luas
penampang horizontal (L) setelah itu bagi
menjadi 10 bagian dengan ukuran yang
Dimana : sama, setelah itu ukur kedalaman (D) di
V = Kecepatan (m/detik) setiap 10 bagian (Gambar 2.1) setelah itu
L = Panjang lintasan (m) dapat dihitung per bagian dengan contoh
t = Waktu tempuh (detik) seperti berikut :
Kecepatan aliran diperoleh dari metode ini
merupakan kecepatan maksimal sehingga
perlu dikalikan dengan faktor koreksi
kecepatan, pada sungai dengan dasar yang
kasar faktor koreksinya sebesar 0.75 dan
pada dasar sungai yang halus faktor
koreksinya 0.85, tetapi secara umum faktor
koreksi yang dipergunakan adalah 0.65. Gambar 1 Cara Pembentangan Tali

Pengukuran kecepatan aliran dengan Flow Seperti pada Gambar 1 Luas Penampang
Probe atau Current meter. sungai, cara perhitungan keseluruhan
Pengukuran kecepatan aliran dengan metode luas penampang dirumuskan seperti
ini dapat menghasilkan perkiraan kecepatan berikut:
aliran yang memadai. Prinsip pengukuran
metode ini adalah mengukur kecepatan aliran A1(m) = L1 . D1
tiap kedalaman pengukuran (d) pada titik
interval tertentu dengan alat Current Meter A2(m) = L2 . D2
(Flowatch), langkah pengukurannya adalah
sebagai berikut:
Pilih lokasi pengukuran pada bagian
sungai yang telatif lurus dan tidak banyak
pusaran air, bila sungai relatif lebar bisa Keterangan :
dilakukan di bawah jembatan atau A = Luar penampang saluran
menggunakan perahu untuk kedalaman L = Lebar , D = Kedalaman
yang relatif dalam.
Bagilah penampang melintang 2. Kecepatan Aliran menggunakan alat
sungai/saluran menjadi 10-20 bagian Current Meter dapat diukur setelah
dengan ukuran yang sama dengan mengetahui cara mendapatkan nilai yang
interval tertentu. benar, Current meter dapat dipasang pada
Ukur kecepatan aliran pada kedalaman batang atau digantungkan pada tali yang
tertentu sesuai dengan kedalaman sungai diberi pemberat. Cara pertama dapat
pada titik interval yang telah dibuat digunakan untuk mengukur kecepatan di
sebelumnya sungai kecil atau saluran dengan
kedalaman yang rendah bisa mengukur
Hitung kecepatan aliran rata-ratanya dengan bercebur akan tapi pada saat
Setelah didapatkan Luas penampang (A) pengukuran posisi orang yang memegang
dan Kecepatan aliran (V) dapat dihitung debit alat berhadapan ( berlawanan arus) dan
yang merupakan jumlah total debit aliran pada menaruh alat di depan badan bisa juga

9
ISSN 2085-5761 (Print) Jurnal POROS TEKNIK, Volume 7 No. 1 Juni 2015 : 1-53
ISSN 2442-7764 (Online)

melalui bantuan perahu atau pada b. Metode Dua titik, dimana kecepatan rerata
jembatan untuk sungai yang relatif dalam. merupakan dari kecepatan pada 0.2 dan
Cara kedua digunakan untuk mengukur di 0.8 kedalaman (Gambar 2.3) dengan
sungai besar. Karena perubahan kondisi contoh kedalaman air (D2) adalah 1.2
aliran di sungai yang tidak dipengaruhi meter maka akan dihitung sebagai berikut :
pasang surut relatif kecil, pengukuran
kecepatan dapat dilakukan dengan hanya
satu alat dari satu vertikal berikutnya dalam
satu tampang lintang. Pengukuran
dilakukan di beberapa titik pada vertikal,
yang selanjutnya dievaluasi untuk
mendapatkan kecepatan rerata untuk
menyingkat waktu dan menghemat biaya, Gambar 3 Metode satu titik 0.2,0.8
pengukuran dapat dilakukan hanya di
beberapa titik pada vertikal, seperti pada 0.2 x 1.2 = 0.24 meter
tabel 3 berikut : D2 = 0.8 x 1.2 = 0.96 meter

Tabel 3 Penentuan kedalaman pengukuran Setelah itu ukur menggunakan alat


dan perhitungan kecepatan aliran Current Meter pada kedalaman 0.24
meter dan 0.96 meter Contoh nya
Kedalaman sungai (m) Kedalaman pengukuran Perhitungan kecepatan rata-rata seperti berikut:
0 - 0.6 0.6 d V = V0.6 Pada kedalaman 0.24 meter
0.6-3 0.2 d dan 0.8 d V = 0.5 (V0.2 + V0.8 ) mempunyai kecepatan V0.2 = 0.2
3- 6 . 0.2 d, 0.6 d dan 0.8 d V = 0.25 (V0.2 + V0.6 + V0.8)
>6 s, 0.2 d, 0.6 d, 0.8 d dan b V = 0.1 (Vs + 3V0.2 + 3V0.6 + 3V0.8) + Vb)
m/detik dan pada kedalaman 0.96
Sumber : Hidrologi Terapan, Triatmodjo mempunyai kecepatan V0.8 = 0.1
Dimana : m/detik maka setelah itu dapat dipakai
d = Kedalaman pengukuran s = Permukaan sungai rumus :
b = Dasar sungai v = Kecepatan aliran 0.2 + 0.8
(m/detik) =
2
Contoh perhitungan nya seperti
Kecepatan rerata disetiap vertikal dapat
ditentukan dengan salah satu dari metode berikut :
0.2 + 0.1
pada tabel 3 yang tergantung pada 2 = = 0.15/
2
ketersedian waktu, ketelitian yang diharapkan, Berikut contoh Format pengisian
lebar dan kedalaman sungai, lebih jelasnya dilapangan untuk menggunakan format
dapat dilihat seperti berikut : berikut disarankan sudah mengukur
a. Metode Satu titik, yang hanya dapat Lebar (L) dan Kedalaman Air (D)
digunakan untuk air dangkal dimana masing-masing agar memudahkan
metode dua titik atau lebih tidak bisa dalam pengukuran kecepatan aliran (V)
dilakukan pengukuran maka dapat (Tabel 4 )
dilakukan metode satu titik ini kecepatan
Tabel 2.4 Format penelitian kecepatan aliran
yang di ukur pada 0.6 kedalaman air
STA 0+000 TANGGAL ..
(Gambar 2.2) seperti contoh misalkan KECEPATAN ALIRAN WAKTU .
kedalaman air (D1) adalah 0.5 meter maka POSISI KEDALAMAN ( h ) HASIL ( m/dtk ) RATA RATA
akan dihitung seperti berikut: V1
0.2 0.0
0.05
0.8 0.1
0.2 0.1
V2 0.10
0.8 0.1
0.2 0.1
V3 0.10
0.8 0.1
0.2 0.1
V4 0.10
0.8 0.1
0.2 0.1
V5 0.15
0.8 0.2
0.2 0.1
V6 0.15
0.8 0.2
0.2 0.1
V7 0.10
0.8 0.1
Gambar 2 Metode satu titik 0.6 V8
0.2 0.1
0.10
0.8 0.1

Jadi ukur menggunakan alat Current Meter V9 0.6 0.1 0.10

pada kedalaman 0.30 meter dan V10 0.6 0.0 0.00


mendapatkan nilai V1 (m/detik)

10
Jurnal POROS TEKNIK Volume 7 No. 1 Juni 2015 :1-53 ISSN 2085-5761 (Print)
ISSN 2442-7764 (Online)

3. Cara perhitungan debit sungai dilakukan


dengan membagi lebar sungai menjadi
bagian yang sama setiap ukurannya
misalkan lebar penampang horizontal 5.5 atau
meter maka pembagian lebar nya bisa di
bagi menjadi 10 bagian yaitu 0.55 meter
per bagian. Kecepatan aliran dan
kedalaman air diukur di masing-masing Tabel 5 Contoh perhitungan debit aliran
Hari/Tanggal/Tahun
bagian, yaitu pada vertikal yang mewakili STA 0+000
bagian tersebut. Debit di setiap bagian Q L D V Q hasil
dihitung dengan mengalihkan kecepatan Q1 0.55 1.14 0.05 0.0314
rerata dan luas penampang saluran Debit Q2 0.55 1.18 0.10 0.0649
Q3 0.55 1.22 0.10 0.0671
total adalah jumlah debit diseluruh bagian, Q4 0.55 1.37 0.10 0.0754
untuk bagian yang berdampingan dengan Q5 0.55 1.38 0.15 0.1139
kedua tebing sungai, persamaan di atas Q6 0.55 1.20 0.15 0.0990
dapat digunakan, dimana kecepatan pada Q7 0.55 0.68 0.10 0.0374
Q8 0.55 0.64 0.10 0.0352
tebing adalah nol dan kedalaman pada titik
Q9 0.55 0.59 0.10 0.0325
tersebut juga nol, akan tetapi apa bila Q10 0.55 0.5 0.00 0.0
bagian tebing memiliki kecepatan dan Jumlah 0.95 0.5566
kedalaman maka ukur lah sebagaimana rata-rata 0.095 0.0557
mestinya. Debit yang dihitung merupakan
jumlah debit total aliran pada setiap 3. METODE PENELITIAN
penampang dapat di rumus kan sebagai
berikut Metode penelitian ini dapat dilihat pada
Gambar 3.1 bagan alur penulisan

Gambar 4 Bagan Alur Penulisan

11
ISSN 2085-5761 (Print) Jurnal POROS TEKNIK, Volume 7 No. 1 Juni 2015 : 1-53
ISSN 2442-7764 (Online)

4. HASIL DAN PEMBAHASAN pengaruh kecepatan aliran tersebut adalah


memperlambat proses aliran dan membuat
Keceapatan aliran rata-rata selama 10 hari aliran tidak normal.
penelitian setelah itu dapat dilanjutkan analisa Didapatlah hasil 1 hari debit rata-rata pada
seperti pada grafik 4.1 kecepatan aliran rata- saluran dan setelah melalui cara perhitungan
rata terhadap hari penelitian dapat dilihat tersebut dapat dilanjutkan selama 10 hari
sebagai berikut : seperti pada hasil debit rata-rata selama 10
hari penelitian seperti berikut :

Gambar 6. Grafik Debit Rata-rata terhadap


Gambar 5 Grafik Kecepatan Aliran Rata-rata hari penelitian
terhadap hari penelitian

Pada Gambar 5 menunjukan hubungan Pada gambar 6 menunjukan hubungan


Kecepatan aliran rata-rata terhadap hari Debit rata-rata terhadap hari penelitian, debit
penelitian kecepatan aliran rata-rata sangat aliran rata-rata memiliki pola grafik yang
bervariasi selama 10 hari, kecepatan minimum hampir sama dengan pola grafik kecepatan
dengan nilai 0.068 m/detik dan kecepatan aliran rata-rata yang sama bervariasi, debit
maksimum dengan nilai 0.0983 m/detik dan aliran minimum dengan nilai 0.047 m/detik
memiliki kecepatan aliran rata-rata dengan dan debit aliran maksimum dengan nilai
nilai 0.0831 m/detik. Pada hari ke 1 terjadi 0.0659 m/detik dan memiliki debit aliran rata-
kecepatan aliran maksimum juga termasuk rata dengan nilai 0.0558 m/detik.
kecepatan tertinggi semasa penelitian, hari ke Debit aliran minimum terjadi disebabkan
2 mengalami penuruan, naik kembali pada oleh nilai kecepatan aliran pada hari selasa 4
hari ke 3, turun kembali pada hari ke 4 maret 2014 terbilang paling rendah semasa
sekaligus kecepatan aliran minimum semasa penelitian yaitu dengan nilai 0.068 m/detik,
penelitian, kembali naik pada hari ke 5, sedangkan debit aliran maksimum terjadi
kembali turun pada hari ke 6, 7 dan kembali disebabkan oleh nilai kecepatan aliran pada
naik cukup tinggi pada hari ke 8, pada hari ke hari jumat 7 maret 2014 terbilang paling tinggi
9 dan 10 turun kembali. semasa penelitian yaitu dengan nilai 0.0659
Kecepatan aliran minimum terjadi pada m/detik.
hari selasa 4 maret 2014 penelitian dilakukan Hal ini menunjukan debit aliran pada
pada jam 11.05 Wita, terjadinya minimum sungai antasan pola nya tidak terlalu signifikan
mungkin disebabkan pada hari sebelumnya yaitu bervariasi yang disebabkan oleh
yaitu pada hari senin 3 maret 2014 pada jam beberapa faktor pengaruh kecepatan aliran
17.00 Wita terjadi pasang yang seharusnya sehingga juga mempengaruhi debit aliran rata-
pada saat sore sering terjadi surut pada rata.
saluran tersebut, sedangkan kecepatan aliran
maksimum terjadi pada jumat 7 maret 2014 Karakteristik Sungai Antasan
penelitian dilakukan pada jam 13.40 Wita, Kota Banjarmasin dikenal sebagai kota
terjadinya maksimum mungkin disebabkan seribu sungai yang terdapat banyak anak
pada hari sebelumnya yaitu pada hari kamis sungai yang mempunyai karakteristik berbeda
malam 6 maret 2014 terjadi hujan yang setiap sungai nya. Salah satu nya Sungai
relative lama. Antasan yang terletak pada titik kordinat S
Hal ini menunjukan kecepatan aliran pada 318'7,4232" dan T 11437'2,3916" kelurahan
sungai Antasan terpengaruh oleh cuaca, Sungai Andai, kecamatan Banjarmasin Utara.
pasang surut sungai Martapura (primer), Sungai Antasan yang merupakan sungai
tumbuhan air, hambatan samping. Efek dari tersier yang terhubung langsung dengan

12
Jurnal POROS TEKNIK Volume 7 No. 1 Juni 2015 :1-53 ISSN 2085-5761 (Print)
ISSN 2442-7764 (Online)

Sungai Martapura (sungai primer) yang (tersier) yang permukaan sungainya


memiliki panjang yang bisa dilewati 2,5 km memiliki dinding saluran (perkerasan
dapat dilihat pada Gambar 7 seperti berikut batu). Sungai ini bertipe sungai kali kecil
karena memiliki lebar 5,5 meter menurut
Panjang Sungai Antasan
yang bisa dilewati
klasifikasi Kern yaitu diantara 1-10 m dan
2.5km menurut vegetasi sungai kecil memiliki
dahan dan ranting pada kedua sisi
tebingnya bertautan yang dapat menutupi
sungai yang bersangkutan dan tangkapan
air saluran ini dipengaruhi oleh luasan,
bentuk, relief, panjang sungai dan pola
drainase pada sungai ini, bisa juga disebut
karakteristik hidrologis.
5. Pada jaringan dan tingkatan sungai,
Sungai Antasan berada pada tingkatan
no.2 karena terhubung langsung pada
Gambar 7. sketsa panjang Sungai Antasan sungai primer yang berada pada tingkatan
no.3 dapat dilihat pada gambar 4.3.
Jaringan sungai Antasan adalah anak sungai 6. Panjang sungai Antasan yang bisa dilewati
dari sungai Martapura mempunyai bentuk adalah 2,5 km .
seperti percabangan pohon, berawal dari
sungai besar yang menuju seluk dimensi yang
5. KESIMPULAN DAN SARAN
lebih kecil, menurut (Strahler 1952) tingkatan
sungai ditetapkan berdasar ukuran alur dan
posisinya adalah no.1 tinggkatan terendah Kesimpulan
untuk alur terkecil dan untuk sungai yang Dari hasil Studi Karakteristik Kecepatan
dianggap besar adalah tingkatan no.3 Aliran pada Sungai Antasan Kelurahan Sungai
sedangkan sungai Antasan berdampingan Andai Banjarmasin Utara selama 10 hari
dengan sungai tingkatan no.3 yaitu tingkat penelitian dapat dikesimpulan sebagai berikut
no.2 dapat dilihat gambar 8 sketsa jaringan 1. Pengukuran kecepatan aliran pada saat
sungai dan tingkatan sungai. kondisi pasang pertama yang
menggunakan alat Current Meter,
Sungai Antasan berdasarkan
perhitungan dibagi menjadi tiga titik
Tingkatannya dengan jarak 5 meter per titik yaitu STA +
1 000, STA 0+005, STA 0+010, masing-
1 masing titik memiliki kecepatan aliran
1
tersendiri, kecepatan aliran minimum 0.068
2 2 m/detik, kecepatan aliran maksimum
2
0.0983 m/detik dan rata-rata keseluruhan
3 adalah 0.0831 m/detik.
Ket:
No. 3 adalah Sungai Martapura
2. Dari hasil pengukuran luas penampang
atau sungai Besar (sungai primer)
No. 2 adalah Sungai Kecil
No.1 adalah Sungai kali kecil
dan kecepatan aliran maka didapatkanlah
hasil debit minimum 0.047 m/detik, debit
maksimum 0.0659 m/detik dan rata-rata
Gambar 8. Sketsa jaringan sungai dan debit keseluruhan adalah 0.0558 m/detik.
3. Selama pengamatan lingkungan sungai
Selama pengamatan lingkungan sungai antasan memiliki karakteristik bermacam-
Antasan memiliki karakteristik bermacam- macam seperti :
macam seperti : a. Pasang surut ganda
1. Pasang surut ganda yang pasang pertama b. Pola aliran sungai denditrik
terjadi pada jam 9 pagi jam 3 siang dan (bercabang).
pasang ke dua terjadi pada sekitar jam 9 c. Klasifikasi sungai ini bertipe sungai kali
malam 3 pagi. kecil.
2. Jenis pola Sungai Antasan yaitu denditrik d. Aliran air sungai melalui Sungai
(bercabang). Martapura (primer) menuju ke Sungai
3. Sungai Atasan juga berfungsi sebagai jalur Antasan (tersier).
alternatif transportasi air. e. Tangkapan air saluran ini dipengaruhi
4. Aliran air sungai melalui Sungai Martapura oleh luasan, bentuk, relief, panjang
(primer) menuju ke Sungai Antasan sungai dan pola drainase pada sungai

13
ISSN 2085-5761 (Print) Jurnal POROS TEKNIK, Volume 7 No. 1 Juni 2015 : 1-53
ISSN 2442-7764 (Online)

ini, bisa juga disebut karakteristik 2. Standar Nasional Indonesia 03-2819-1992.


hidrologis. Metode Pengukuran Debit Sungai Dan
f. Jaringan dan tingkatan Sungai Antasan Saluran Terbuka Dengan Alat Ukur Arus
no.2 dan Sungai Martapura no.3. Tipe Baling-baling.
g. Panjang sungai Antasan yang bisa 3. Sudaryoko, Y. 2003. Pedoman
dilewati 2,5 km Penanggulangan Banjir.
4. Triatmodjo, Bambang. 1999. Teknik
Saran Pantai. Yogyakarta.
1. Data pengukuran kecepatan aliran dan 5. Triatmodjo, Bambang. 2008. Hidrologi
debit yang diteliti bisa digunakan pada Terapan. Beta Offset, Yogyakarta.
penelitian tingkat lanjut untuk dapat 6. Rahayu S, Widodo RH,Van Noordwijk M,
melakukan berbagai proyek bangunan air Suryadi I dan Vebist. 2009. Monitoring air
pada Sungai Antasan karena masih di daerah aliran sungai, World Agroforestry
perlunya perhatian pemerintah untuk Centre Southeaast Asia Regional Office.
pemanfaatan sungai. Bogor, Indonesia.
2. Pemerintah diharapkan bisa melanjutkan 7. Te Chow, Ven. 1997. Hidrolika Saluran
proyek pembuatan dinding saluran Terbuka (Open Channel Hydraulics).
(perkerasan tebing) sehingga aliran air Erlangga, Jakarta.
sungai pada saluran ini berfungsi normal 8. Peraturan Daerah Banjarmasin Tahun
dan membantu kelancaran pengguna 2007 No 2 Tentang Pengelolaan Sungai.
transportasi air. 9. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia
Nomor 38 Tahun 2011 Tentang Sungai.

6. DAFTAR PUSTAKA @PORTEK 2015@

1. Maryono, Agus. Eko-Hidraulik Pengelolaan


Sungai Ramah Lingkungan. Gajah Mada
University Press, Yogyakarta.

14