Anda di halaman 1dari 2

FORUM 10 Perencanaan audit (2)

Perencanaan audit dilakukan agar semua risiko audit dapat diidentifikasi sebelum pelaksanaan pekerjaan
lapangan. Prosedur Analitis berarti pengevaluasian terhadap informasi keuangan yang dilakukan melalui
analitis hubungan antara data keuangan dan data nonkeuangan.

1) Sebutkan 3 tujuan digunakan prosedur analitik dalam audit?

2) Sebutkan 2 tujuan dari prosedur analitik pada tahap perencanaan audit?


3) Sebutkan 2 tujuan dari prosedur analitik pada tahap pengujian rinci saldo?
4) Jelaskan hubungan antara prosedur analitis dan pengujian subtantif?

1. 3 tujuan digunakan prosedur analitik dalam audit:


a. Membantu auditor dalam merencanakan sifat, saat, dan lingkup prosedur audit lainnya.
b. Sebagai pengujian substantif untuk memperoleh bukti tentang asersi tertentu yang
berhubungan dengan saldo akun atau jenis transaksi.
c. Sebagai review menyeluruh informasi keuangan pada tahap review akhir audit.
2. 2 tujuan dari prosedur analitik pada tahap perencanaan audit
a. Meningkatkan pemahaman auditor atas bisnis kien dan transaksi atau peristiwa yang terjadi
sejak tanggal audit terakhir dan,
b. Mengidentifikasi bidang yang kemungkinan mencerminkan risiko tertentu yang
bersangkutan dengan audit. Jadi, tujuan prosedur ini adalah untuk mengidentifikasikan hal
seperti adanya transaksi dan peristiwa yang tidak biasa, dan jumlah, ratio serta trend yang
dapat menunjukkan masalah yang berhubungan dengan laporan keuangan dan perencanaan
audit.
3. 2 tujuan dari prosedur analitik pada tahap pengujian rinci saldo
a. Menandai adanya kemungkinan salah saji dalam laporan keuangan
b. Memberikan bukti subtantif
4. Hubungan antara prosedur analitis dan pengujian subtantif
Prosedur analitis hanya menunjukkan indikasi kemungkinan salah saji yang berpengaruh pada
nilai/saldo pada laporan keuangan. Fluktuasi/varians yang tidak biasa dalam hubungan sebuah akun
dengan akun lainnya, atau dengan data/informasi non keuangan, dapat mengindikasikan adanya
kemungkinan terjadinya salah saji. Ketika prosedur analitis tersebut mengindentifikasikan fluktuasi
yang tidak biasa, auditor harus melakukkan pengujian subtantif transaksi atau pengujian terperinci
saldo untuk menentukan apakah salah saji rupiah benar-benar telah terjadi. Jika auditor melakukan
prosedur analitis subtantif dan meyakini bahwa kemungkinan terjandinya salah saji itu kecil, pengujian
subtantif lainnya dapat dikurangi.

Kepercayaan auditor terhadap pengujian substantif untuk mencapai tujuan audit yang berhubungan
dengan suatu asersil dapat berasal dari pengujian rinci, dari prosedur analitik, atau dari kombinasi
keduanya. Keputusan mengenai prosedur yang digunakan untuk mencapai tujuan audit tertentu
didasarkan pada pertimbangan auditor terhadap efektivitas dan efisiensi yang diharapkan dari prosedur
audit yang ada.
Auditor mempertimbangkan tingkat keyakinan, jika ada, yang diinginkannya dari pengujian substantif
untuk suatu tujuan audit dan memutuskan, antara lain prosedur yang mana, atau kombinasi prosedur
mana, yang dapat memberikan tingkat keyakinan tersebut. Untuk asersi tertentu, prosedur analitik
cukup efektif dalam memberikan tingkat keyakinan memadai. Namun, pada asersi lain, prosedur
analitik mungkin tidak seefektif atau seefisien pengujian rinci dalam memberikan tingkat keyakinan
yang diinginkan.
Kesimpulan : Pengujian Pengendalian dan Pengujian Substantif sangat penting bagi seorang auditor
untuk memeriksa suatu laporan keuangan perusahaan

Untuk maksud ini, prosedur analitik perencanaan audit harus ditujukan untuk:
Tujuan utama dari prosedur analitis dalam tahap perencanaan ini adalah :
1. Menunjukkan kemungkinan adanya salah saji dalam laporan keuangan
2. Mengurangi pengujian audit yang lebih rinci
Prosedur audit pengujian atas transaksi akan mencakup baik pengujian atas pengendalian maupun
pengujian substantive atas transaksi dan bervariasi tergantung kepada rencana risiko pengendalian yang di
tetapkan.
Jika pengendalian efektif dan risiko pengendalian yang direncanakan rendah, penekanaan akan
banyak diberikan kepada pengujian atas pengendalian. Beberapa pengujian substantive atas transaksi juga
akan ditekankan.
Jika risiko pengendalian ditetapkan, maka hanya pengujian substantive atas transaksi yang akan
digunakan. Prosedur yang dilakukan dalam memperoleh pemahaman pengendalian intern akan
mempengaruhi pengujian atas pengendalian dan pengujian substantive atas transaksi.
Seperti halnya pengujian pengendalian, prosedur analitis hanya mengindikasikan kemungkinan salah saji yang
berpengaruh pada nilai rupiah laporan keuangan. Fluktuasi yang tidak biasa dalam hubungan sebuah akun dengan
akun lainnya, atau denagn informasi non keuangan, dapat mengindikasikan adanya peningkatan kemungkinan
terjadinya salah saji tanpa perlu membuktikan bukti langsung atas saji material tersebut. ketika prosedur analitis
tersebut mengindentifikasikan fluktuasi yang tidak biasa, auditor harus melakukkan pengujian subtantif transaksi
atau pengujian terperinci saldo untuk menentukan apakah salah saji rupiah benar-benar telah terjadi. Jika auditor
melakukan prosedur analitis subtantif dan meyakini bahwa kemungkinan terjandinya salah saji itu kecil, pengujian
subtantif lainnya dapat dikurangi. Untuk akun-akun dengan saldo yang kecil, seperti misalnya akun perlengkapan
dan akun-akun beban dibayar dimuka, auditor sering kali membatasi pengujian mereka hanya sapai ke prosedur
analitis.