Anda di halaman 1dari 62

Mekanisme penguatan logam

Faktor-faktor penguat baja

Kekuatan baja

Kontribusi

Ukuran butir
Stuktur mikro
Larutan Padat
Presipitat
Dislokasi

Kontribusi penguatan dikontrol oleh komposisi kimia dan


rute proses pembuatan baja
Penguatan Logam; Fakta

Untuk aplikasi yang melibatkan beban, logam perlu


ditingkatkan kekuatannya karena logam murni
umumnya relatif lunak.
Pada baja, persyaratan agar baja konstruksi memiliki
sifat mudah dilas, menyebabkan dikembangkannya
paduan dengan kadar karbon rendah (<0,1%C).
Akan tetapi penurunan kadar karbon akan diikuti oleh
penurunan kekuatan dan ini hanya dapat diatasi
dengan memperhalus ukuran butir, pembentukan
larutan padat, pembentukan endapan oleh unsur
paduan dan pembentukan partikel penghambat
dislokasi.
Peningkatan kekuatan baja

Penguatan solid solution karbon memberi


pengaruh besar dalam penguatan martensit,
tetapi diikuti oleh turunnya keuletan. Kontribusi
penguatan dikontrol oleh komposisi kimia dan
rute proses pembuatan baja
Proses manufaktur baja

Alloying
Perlakuan panas
Metal forming
Kombinasi perlakuan panas dan metal forming,
TMCP steel
Age hardening, maraging steel
Perlakuan panas baja
Peningkatan kekuatan baja
1. Penghalusan butir
Persamaan Hall-Petch: y = o +kyd-0.5
ky = hambatan terhadap pergerakan dislokasi akibat batas butir = 18.5 Mpa untuk
baja HSLA

Baja 42CrMo

Mov
Pengendalian ukuran butir austenit atau ferit baja HSLA
dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut :

Penambahan unsur paduan rendah

Penghalusan butir pada baja HSLA dapat dilakukan


dengan penambahan unsur-unsur paduan mikro seperti
niobium, vanadium, titanium yang dapat menghambat
pertumbuhan butir austenit. Unsur-unsur tersebut akan
membentuk senyawa-senyawa nitrida, karbida atau
karbonitrida yang dapat menghambat rekristalisasi
austenit selama pengerolan panas.
Diperlihatkan bahwa penambahan
niobium (tidak lebih dari 0,05%) lebih
efektif dalam memperhalus ukuran
butir ferit dibandingkan penambahan
vanadium dan titanium pada proses
canai panas. Hal ini disebabkan
karena pada saat proses canai di
roughing dan finishing NbN akan
terpresipitasi. TiN telah lebih
terpresipitasi pada temperatur lebih
tinggi sedangkan VN dominan akan
Kelarutan NbN dalam terpresipitasi setelah proses canai di
austenit sangat rendah finishing mill.
jika dibandingkan
dengan VN dan TiN
Untuk baja dengan kadar
nitrogen yang tinggi, Al, V
dan Ti lebih efektif dalam
mengendalikan ukuran
butiran karena aluminium
hanya membentuk nitrida
(AlN) yang baik dalam
mengontrol ukuran butir.

Untuk VN dan TiN (daya


larutnya dalam austenit
lebih rendah dibanding VC
dan TiC) lebih baik dalam
mengontrol butiran ferit.
Penentuan temperatur proses yang sesuai

Ukuran butir austenit dipengaruhi oleh temperatur pemanasan


dan temperatur akhir canai.

Semakin tinggi temperatur pemanasan semakin tinggi


kelarutan paduan rendah dalam austenit. Namun demikian
temperatur yang tinggi ini akan memperbesar ukuran butir
austenit dan akan mengakibatkan abnormal grain growth.

Dengan demikian perlu ditentukan temperatur pemanasan


yang optimal sehingga diperoleh kelarutan paduan rendah
yang mencukupi dengan ukuran austenit yang tidak terlalu
besar.
Reduksi ukuran

Pada proses pencanaian, besar ukuran butir austenit


terekristalisasi tergantung pada reduksi ukuran dan temperatur
pencanaian. Reduksi yang besar, dan temperatur akhir canai
yang rendah akan menghasilkan butir austenit yang pipih
(elongated) yang belum terekristalisasi.

Struktur ini memiliki jumlah inti-inti butir ferit per satuan volume
yang tinggi dibandingkan dengan butir austenit terekristalisasi.

Ukuran butir ferit yang halus dapat diperoleh, karena inti-inti


butir tersebut akan tumbuh saling berdesakan selama
transformasi berlangsung.
Kecepatan pendinginan

Percepatan laju pendinginan terhadap austenit sebelum


bertransformasi, akan menghambat laju pertumbuhan
butir austenit, sehingga dapat diperoleh butiran ferit yang
halus. Pendinginan cepat yang dilaksanakan tepat setelah
baja melewati pass terakhir, sangat efektif untuk
mendapatkan butir austenit yang halus.

Hubungan antara laju pendinginan terhadap besar butir


ferit yang terbentuk dapat dilihat pada persamaan berikut
ini :

ln df = 0,92 + 0,44 ln d - 0,171 ln CR 0,88 tanh (10t)

CR = Laju pendinginan t = besar deformasi


Peningkatan kekuatan baja
2. Penguatan larutan padat
Larutan padat adalah larutan
sederhana dalam keadaan padat
dan terdiri dari dua jenis atom
yang terkombinasi dalam satu tipe
kristal.

Penguatan larutan padat


didefinisikan sebagai peningkatan
tegangan alir (flow stress), yaitu
tegangan yang diperlukan untuk
berlangsungnya regangan plastis
tertentu, yang dihasilkan bila
suatu dislokasi berinteraksi
dengan atom terlarut di dalam
sebuah larutan padat. Contoh :
penambahan Fe di dalam Ni
Penambahan unsur paduan
logam dalam baja yang
C, N
membentuk larutan padat
substitusi atau intersisi akan
meningkatkan kekuatan
pada baja tersebut akibat
distorsi pada kisi-kisi atom
pelarut.
Unsur C dan N yang larut
secara intersisi dapat
memberikan kekuatan yang
sangat tinggi, namun dapat
menurunkan keuletan dan
ketangguhan sehingga tidak
dapat ditambahkan dalam s (MPa) = 32,5 x Mn (wt%) + 84 x Si (wt%)
jumlah yang banyak.
Ada dua jenis larutan padat :
1. Larutan padat subtitusi : atom terlarut menggantikan atom pelarut
dalam kristal
2. Larutan padat interstisi : atom terlarut menempati posisi interstisi
dalam kristal
Larutan padat interstisi terbentuk bila atom-atom dengan jari-jari kecil (< 1 )
dapat menempati posisi interstisi.

Unsur yang merupakan unsur interstisi : H (0,46 ), B (0,97 ), C(0,77 ), N(0,71


), O(0,60 )
Bila sebuah pelarut dapat menerima sebuah atom secara interstisi,
maka akan selalu terbentuk ekspansi dari sel satuan di sekitar unsur
terlarut. Untuk struktur FCC ekspansi ini simetri, namun pada BCC
tidak simetri. Contoh C dalam Fe-BCC menghasilkan bidang
ketidaksesuaian dengan simetri tetragonal
Akibat dari distorsi asimetri ini, bahwa interstisi di dalam logam BCC
jauh lebih kuat (strong hardener) dari distosi simetri logam FCC (weak
hardener)
Kuat luluh logam BCC meningkat lebih besar dengan penambahan
atom interstisi dibanding dengan cara subtitusi.
Faktor yang mempengaruhi keefektifan atom dalam melakukan penguatan

1. Perbedaan ukuran atom


2. Perbedaan valensi atom (rasio antara elektron dan atom, e/a)

Contoh untuk kuningan, 60% Cu dan 40% Zn :


60% atom Cu (valensi tunggal)
40% atom Zn (valensi dua)
Jadi : 60(1) + 40(2) = 140, ada 140 elektron setiap 100 atom
Sehingga : e/a = 140/100 = 1,4

Semakin tinggi rasio e/a, kekuatan logam akan semakin meningkat.

Pada baja, nilai penguatan akibat larutan padat ss oleh paduan


Mangan (Mn) dan silikon (Si) dapat ditentukan dengan menggunakan
rumus empiris sebagai berikut (Pickering dan Gladman, 1963) :

ss (MPa) = (32,5 x Mn (wt%)) + (84 x Si (wt%))


Peningkatan kekuatan baja
3. Penguatan presipitat
Karbida, nitrida atau intermetalik

Penguatan presipitat merupakan salah satu penguatan


penting pada baja HSLA. Persyaratan agar terjadi penguatan
presipitat ialah partikel fasa kedua seperti karbida dan nitrida
harus terlarut pada temperatur tinggi tetapi kelarutannya
berkurang dengan turunnya temperatur.

Jarang paduan logam yang memiliki kelarutan yang tinggi


(pengaruh penguatan larutan kecil). Dengan demikian, pada
paduan logam komersial umumnya mengandung lebih dari
satu fasa, yaitu matriks larutan padat dan partikel fasa kedua,
ketiga dst.
Maraging baja karbon rendah Fe-Ni, lath martensit. Pemanasan
pada 480-500 oC selama 3-6 jam. Ni3(X, Y).
Age hardening, misalnya baja tahan karat austenitik.
Penambahan fosfor dan titanium. Stacking fault sebagai awal
dari endapan karbida halus. Kekuatan meningkat dengan
semakin naiknya jumlah stacking fault ( SFE rendah).

Paduan Fe-10Ni-15Al di-aging pada


750C selama (a) 75, (b) 250, and (c)
500 h, dan pada 920C (d) 25, (e) 100
dan (f) 200 h.
Unsur Niobium dapat memberikan penguatan pada baja HSLA
melalui mekanisme yang berbeda. Presipitat Nb(C,N) akan terlarut
sebagian atau seluruhnya, baik selama pemanasan sebelum
pencanaian, maupun pada proses perlakuan panas dan selanjutnya
akan mengendap kembali selama pendinginan.

Dengan pengendalian yang baik terhadap proses pemanasan dan


pendinginan maka akan didapat beberapa keuntungan antara lain :

1. Penghalusan butiran austenit sewaktu pemanasan sebelum


proses canai dan selama proses canai, atau sewaktu pemanasan
untuk laku panas penormalan (normalizing) atau pencelupan
(quenching).
2. Penghambatan terhadap proses pemulihan dan rekristalisasi.
3. Penurunan temperatur transformasi austenit ke ferit sehingga
memungkinkan untuk pembentukan struktur mikro bainit atau ferit
acicular dengan kerapatan dislokasi yang tinggi.
4. Presipitat halus niobium karbonitrida di dalam ferit.
Partikel fasa kedua, ketiga dst di dalam sistem paduan
dapat berada dalam kondisi berikut :

a. Mengendap dari keadaan padatnya

Memiliki antarmuka koheren dengan matriksnya.


Contoh: GP Zone dan dalam paduan Al-Cu

Tidak memiliki antarmuka kohern dengan matriksnya.


Contoh : partikel endapan M23C6

b. Terbentuk pada saat paduan logam dalam keadaan


leburan, Contoh : TiC dalam Ni base superalloy.
Penguatan oleh partikel fasa kedua, ketiga dst biasanya
menambah penguatan yang dihasilkan oleh penguatan larutan
padat. Penguatan oleh partikel fasa kedua disebut :

a. Precipitation Hardening atau age hardening, yaitu bila


partikelnya dapat dimunculkan melalui solution treatment dan
aging

b. Dispersion Hardening, yaitu bila partikelnya sengaja


dicampurkan dengan matriksnya pada saat dibuat. Misalnya
dalam oxyde dispersion strengthening materials yang dibuat
dengan cara mechanical alloying dan powder metallurgy. Hasil
akhirnya adalah MMC, misalnya paduan Al-Li yang diperkuat
partikel Al2O3.
Perlakuan Panas Pengerasan Penuaan
Sebuah paduan dikatakan dapat diperkeras dengan endapan bila
kekerasannya atau kuat luluhnya meningkat terhadap waktu pada
laku panas Aging, yaitu saat dipanaskan pada temperatur tetap di
daerah dua fasa (Temperatur Aging), setelah pendinginan cepat dari
temperatur tinggi di daerah satu fasa.
Ada tiga tahap perlakuan panas pengerasan penuaan :

1. Perlakuan Pelarutan, Paduan dipanaskan sampai daerah solvus, a

2. Pendinginan Cepat, Atom-atom tidak punya waktu yang cukup untuk


berdifusi ke posisi-posisi pengintian yang potensial untuk membentuk .
Fasa yang terbentuk adalah a lewat jenuh akan atom Cu.

3. Penuaan, a lewat jenuh ini


dipanaskan dibawah
temperatur solvus. Pada
temperatur Aging ini, atom-
atom mampu berdifusi.
Karena a lewat jenuh tidak
stabil, atom-atom Cu lebih
berdifusi ke tempat-tempat
pengintian dan kemudian
tumbuh membentuk
partikel endapan
Peningkatan kekuatan baja
4. Penguatan regangan
Jika baja dideformasi dibawah temperatur rekristalisasinya, kerapatan
dislokasi akan meningkat. Penguatan regangan disebabkan oleh adanya
interaksi antar dislokasi (saling memotong) terhadap pergerakan dislokasi
lainnya. Ini terjadi karena deformasi yang dilakukan mengakibatkan adanya
tegangan dari luar sehingga dislokasi akan bergerak pada bidang slip.
Selama bergerak dislokasi-dislokasi akan terhalang oleh batas butir atau
larutan padat yang menyebabkan dislokasi sulit bergerak.
Besarnya kontribusi penguatan akibat dislokasi dapat ditentukan dengan
menggunakan persamaan sebagai berikut :

d = Gb1/2

dimana,
= faktor numerik yang bergantung pada struktur kristal, besarnya 0,38
G = modulus geser, besarnya 8,3 x 104 MPa
B = vektor berger, besarnya 0,24 nm
= kerapatan dislokasi (garis/cm2)
Kontribusi penguatan baja
Hubungan antara kekuatan matrik dengan
parameter mikrostruktur antara lain dapat
dinyatakan dalam bentuk linear sebagai berikut
[Baker, 1979] :

y = i + s + p + d + t + Ks1/2 + d-1/2

dimana

i adalah tahanan geser; s adalah penguatan


larutan padat; p adalah penguatan presipitat; d
adalah penguatan dislokasi; t adalah penguatan
tekstur; Ks-1/2 adalah komponen penguat subgrain
dengan Ks merupakan tetapan kekuatan batas
subgrain.
Unsur penstabil austenit

Contoh unsur: C, N, Ni, Mn

Fasa austenit pada T kamar


Unsur penstabil ferit

Contoh unsur: Cr, Si, Mo, W, Al


Pengaruh unsur pemadu
Pengaruh unsur pemadu
Pengaruh unsur pemadu

Manganese (Mn)
combines with sulfur to prevent brittleness
>1%
increases hardenability
11% to 14%
increases hardness
good ductility
high strain hardening capacity
excellent wear resistance
Ideal for impact resisting tools
Pengaruh unsur pemadu

Sulfur (S)
Imparts brittleness
Improves machineability
Okay if combined with Mn
Some free-machining steels contain 0.08%
to 0.15% S
Examples of S alloys:
11xx sulfurized (free-cutting)
Pengaruh unsur pemadu

Nickel (Ni)
Provides strength, stability and toughness,
Examples of Ni alloys:
30xx Nickel (0.70%), chromium (0.70%)
31xx Nickel (1.25%), chromium (0.60%)
32xx Nickel (1.75%), chromium (1.00%)
33XX Nickel (3.50%), chromium (1.50%)
Pengaruh unsur pemadu
Chromium (Cr)
Usually < 2%
increase hardenability and strength
Offers corrosion resistance by forming stable oxide surface
typically used in combination with Ni and Mo
30XX Nickel (0.70%), chromium (0.70%)
5xxx chromium alloys
6xxx chromium-vanadium alloys
41xxx chromium-molybdenum alloys

Molybdenum (Mo)
Usually < 0.3%
increase hardenability and strength
Mo-carbides help increase creep resistance at elevated temps
typical application is hot working tools
Pengaruh unsur pemadu

Vanadium (V)
Usually 0.03% to 0.25%
increase strength
without loss of ductility

Tungsten (W)
helps to form stable carbides
increases hot hardness
used in tool steels
Pengaruh unsur pemadu

Copper (Cu)
0.10% to 0.50%
increase corrosion resistance
Reduced surface quality and hot-working ability
used in low carbon sheet steel and structural steels
Silicon (Si)
About 2%
increase strength without loss of ductility
enhances magnetic properties
Pengaruh unsur pemadu

Boron (B)
for low carbon steels, can drastically
increase hardenability
improves machinablity and cold forming
capacity
Aluminum (Al)
deoxidizer
0.95% to 1.30%
produce Al-nitrides during nitriding
Karbon dan baja paduan

Steels

Low alloy High alloy

Stainless
Low
Carbon

Tool
Medium
Carbon

High
Carbon
Karbon dan baja paduan

All of these steels are alloys of Fe and C


Plain carbon steels (less than 2% carbon and
negligible amounts of other residual elements)
Low Carbon (less than 0.3% carbon)
Med Carbon (0.3% to 0.6%)
High Carbon (0.6% to 0.95%)
Low Alloy Steel
High Alloy Steel
Stainless Steels (Corrosion-Resistant Steels)
contain at least 10.5% Chromium
AISI (American Iron and Steel Institute)

Classifies alloys by chemistry


4 digit number; AISI XXXX
1st number is the major alloying element
2nd number designates the subgroup alloying
element OR the relative percent of primary
alloying element.
last two numbers approximate amount of
carbon (expresses in 0.01%)

example: 1060 steel plain carbon steel with 0.60 wt% C


AISI (American Iron and Steel Institute)

Examples:

2350
2550
4140
1060
AISI (American Iron and Steel Institute)

Examples:

2350
2550
4140
1060
Common Carbon and Alloy Steels:
AISI (American Iron and Steel Institute)

letter prefix to designate the process used to produce


the steel
E = electric furnace
X = indicates permissible variations
If a letter is inserted between the 2nd and 3rd number
B = boron has been added
L = lead has been added
Letter suffix
H = when hardenability is a major requirement
Other designation organizations
ASTM and MIL
AISI (American Iron and Steel Institute)
Baja perkakas/Tool steel
AISI-SAE tool steel grades
Significant
Defining property AISI-SAE grade
characteristics
Water-hardening W
O Oil-hardening
Air-hardening;
A
Cold-working medium alloy
High carbon; high
D
chromium
Shock resisting S
T Tungsten base
High speed
M Molybdenum base

H1-H19:
chromium base
H20-H39:
Hot-working H
tungsten base
H40-H59:
molybdenum base
Plastic mold P
L Low alloy
Special purpose
F Carbon tungsten
Baja tahan karat
Baja tahan karat adalah paduan besi (Fe) dan karbon (C)
dengan kandungan krom (Cr) 12-30%.
Selain krom, nikel (Ni) merupakan unsur kedua yang penting
pada baja tahan karat.

Pengaruh krom terhadap daerah austenit Pengaruh nikel terhadap pembentukan


austenit
Baja tahan karat
Mengapa baja tahan karat?

Stainless steel tahan karat karena terjadi pasifasi


(passivation) dipermukaannya.

0.2
Corrosion Rate (mm/year)

0.1

0
0 5 10
% Chromium
Pasifasi pada stainless steel

Pasifasi terjadi karena ada lapisan kontinyu krom oksida


dipermukaan.
Lapisan kontinyu tersebut terjadi jika mengandung cukup
krom ( ~ 11% krom).
Pasifasi meningkat seiring meningkatnya kandungan
krom (~17% krom).
Umumnya baja tahan karat mengandung 17-18% krom.
Ketahanan korosi tergantung dari merawat lapisan oksida.
Akan optimum untuk lingkungan yang berbeda dengan
penambahan unsur-unsur paduan lainnya seperti Ni, Mo, Ti,
Cu, dsb.
53
Pengaruh unsur pada baja tahan karat
Unsur Pengaruh
Hingga 16% sebagai pengganti nikel (karena nikel lebih
Mangan (Mn) mahal) menjaga pembentukan austenit pada temperatur kamar
Molibden (Mo) Meningkatkan ketahanan pada temperatur tinggi (6,5%)
Tembaga (Cu) Meningkatkan ketahanan korosi dan kekuatan (4,5%)
Aluminium (Al) Meningkatkan kekuatan (1,5%)
Titanium (Ti) Meningkatkan ketahanan korosi (1%)
Niobium (Nb) Meningkatkan ketahanan korosi (0,5%)
Tantalum (Ta) Meningkatkan ketahanan korosi (0,5%)
Sulfur (S) Meningkatkan sifat mampu mesin (0,25%)
Selenium (Se) Meningkatkan sifat mampu mesin (0,25%)
Meningkatkan ketahanan terhadap pembentukan kerak pada
Silikon (Si) temperatur tinggi (3%)
54
Pemaduan baja tahan karat

Pemaduan pada Stainless steels dilakukan untuk


mengontrol struktur mikro dan ketahanan korosi.
Unsur-unsur paduan dapat berfungsi sebagai penstabil ferit
atau austenit.
Kestabilan fasa atau fasa-fasa yang ada tergantung dari
keseimbangan unsur-unsur paduan.
Struktur mikro dapat diprediksikan dengan menggunakan
diagram Schaeffler-Delong. Selain itu proses perlakuan
panas dapat mempengaruhi struktur mikro baja tahan karat.

55
Diagram Schaeffler

56
Diagram Schaeffler

904
Austenitic
Martensitic-Austenitic
316
Nickel Equivalent

304 Ferritic-Austenitic
2507
2304 2205
410
Martensitic
430 Ferritic

Chromium Equivalent
Sifat mekanik stainless steel

Martensitic

1000 Martensitic-Austenitic

750
Stress (MPa)

Ferritic-Austenitic

500

250 Ferritic Austenitic

0
0 10 20 30 40 50 60
Strain (%)
Sifat mekanik stainless steel
Ketangguhan tergantung pada temperatur.

Austenitic
Impact Energy

Ferritic-Austenitic Ferritic

Martensitic

-200 -100 0 100


Temperature (C)
Ferritic stainless steel austenitic stainless steel

ferit austenit

martensitic stainless steel duplex stainless steel 60


Baja tahan karat austenitik memiliki sifat mampu las paling baik
diantara jenis baja tahan karat, tetapi memerlukan kehati-hatian
yang tinggi dalam proses pengelasannya.
Akibat pengelasan akan terjadi efek sensitisasi (terbentuknya krom
karbida dibatas butir) yang akan menurunkan ketahanan
korosinya.

61
Korosi batas butir
(intergranular corrosion)

Pengaruh karbon pada


pembentukan krom karbida

62

Anda mungkin juga menyukai