Anda di halaman 1dari 185

PETUNJUK TEKNIS

PENGGUNAAN
APLIKASI SAIBA
Direktorat Akuntansi dan
Pelaporan Keuangan

Copyright Oktober 2015 All Rights Reserved

1
KATA PENGANTAR

Dengan mengucapkan puji dan syukur kehadiran ALLAH SWT, Petunjuk Teknis Penggunaan
Aplikasi Sistem Akuntansi Instansi dapat kami susun. Petunjuk Teknis Penggunaan Aplikasi
Sistem Akuntansi Instansi merupakan pedoman bagi satuan kerja pengguna Aplikasi dalam
penyusunan Laporan Keuangan, yang berisi informasi dan tata cara Penggunaan Aplikasi
Sistem Akuntansi Instansi.

Dalam rangka implementasi akuntansi akrual, petunjuk teknis ini kami tujukan kepada
seluruh pengguna akuntansi pemerintahan khususnya pada Kementerian Negara/Lembaga
untuk mempermudah pemahaman dan penggunaan aplikasi dengan penyajian berbagai
transaksi dan ilustrasinya. Pada kesempatan ini kami juga menyampaikan ucapan terima
kasih kepada semua pihak yang telah terlibat dalam penyusunan petunjuk teknis ini.

Penyusunan petunjuk teknis ini masih jauh dari sempurna. Untuk itu saran dan kritik yang
membangun ke arah penyempurnaan kami terima dengan tangan terbuka.

Akhirnya, mudah-mudahan petunjuk teknis ini dapat berguna dan membantu siapa saja
yang menggunakan Aplikasi Sistem Akuntansi Instansi untuk menyusun laporan keuangan
secara wajar dan andal.

Jakarta, Oktober 2015

Tim Penyusun

2
DAFTAR ISI

BAB 1 PENDAHULUAN

A. UMUM ........................................................................................................................................ 5
B. MAKSUD DAN TUJUAN ............................................................................................................. 5
C. DASAR HUKUM ......................................................................................................................... 6
D. RUANG lINGKUP........................................................................................................................ 6

BAB 2 GAMBARAN UMUM PENYUSUNAN LAPORAN KEUANGAN

A. PENDAHULUAN ........................................................................................................................ 7
B. UNIT AKUNTANSI DAN PELAPORAN ...................................................................................... 9
C. BASIS AKUNTANSI .................................................................................................................... 9
D. DOKUMEN SUMBER UNTUK PEREKAMAN AKUNTANSI .................................................... 10
E. OUTPUT LAPORAN KEUANGAN ............................................................................................ 13

BAB 3 PROSES AWAL TAHUN

A. INSTALASI APLIKASI SAIBA TINGKAT UAKPA VERSI 2.6 ................................................... 20


B. PROSES PENGAMBILAN SALDO AWAL TAHUN BERJALAN ................................................ 21
C. MEKANISME JURNAL BALIK DI AWAL TAHUN ANGGARAN .............................................. 26
D. TRANSAKSI ANGGARAN......................................................................................................... 33

BAB 4 TRANSAKSI PELAKSANAAN ANGGARAN

A. BELANJA/BEBAN .................................................................................................................... 37
B. REALISASI PENDAPATAN (PNBP) ........................................................................................ 59
C. TRANSAKSI PENGEMBALIAN BELANJA ............................................................................... 61
D. TRANSAKSI PENGEMBALIAN PENDAPATAN ...................................................................... 64

BAB 5 TRANSAKSI TERKAIT BARANG MILIK NEGARA

A. PERSEDIAAN DAN BEBAN PERSEDIAAN ............................................................................. 68


B. ASET TETAP / ASET LAINNYA .............................................................................................. 88

3
BAB 6 JURNAL PENYESUAIAN

A. MENU JURNAL PENYESUAIAN NERACA ............................................................................. 118


B. MENU JURNAL PENYESUAIAN ............................................................................................ 121
C. MENU JURNAL KOREKSI ...................................................................................................... 159
D. MENU JURNAL UMUM .......................................................................................................... 159

BAB 7 TELAAH LAPORAN KEUANGAN

A. PENDAHULUAN .................................................................................................................... 162


B. TELAAH PER KOMPONEN LAPORAN KEUANGAN ............................................................. 162
C. TELAAH ANTAR LAPORAN KEUANGAN ............................................................................. 170
D. ANALISIS LAPORAN KEUANGAN......................................................................................... 175
E. KESIMPULAN / PENUTUP .................................................................................................... 179

LAMPIRAN

A. SERI MANUAL SAIBA (DIUNGGAH DI WEBSITE PERBENDAHARAAN)


B. SURAT-SURAT TERKAIT MEKANISME PERTANGGUNGJAWABAN

4
Bab
PENDAHULUAN

1 A. U M U M
Dalam rangka menjalankan amanat Undang-Undang (UU) Nomor
17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara, penganggaran dan
laporan pertanggungjawaban pendapatan dan belanja negara harus
dilaksanakan menggunakan basis akrual, di mana pendapatan,
beban, aset, dan ekuitas diakui berdasarkan munculnya hak dan
kewajiban, bukan berdasarkan pada arus masuk dan keluarnya kas
semata.

Dalam menyajikan Laporan Keuangan berbasis akrual, terdapat


beberapa tambahan komponen Laporan Keuangan antara lain
Laporan Operasional dan Laporan Perubahan Ekuitas. Laporan
Keuangan yang dihasilkan dengan basis Akrual dimaksudkan untuk
memberi manfaat lebih baik bagi para pemangku kepentingan, baik
para pengguna maupun pemeriksa laporan keuangan, yaitu dapat
memberikan informasi yang lebih komprehensif, tidak hanya
capaian realisasi anggaran.

Terkait dengan penerapan pelaporan keuangan berbasis akrual di


Tahun Anggaran 2015 ini, maka untuk memudahkan Pengelola
APBN dan Penyusun Laporan Keuangan Kementerian
Negara/Lembaga, disusunlah Petunjuk Teknis Penggunaan Aplikasi
Sistem Akuntansi Instansi. Melalui petunjuk teknis ini diharapkan
semua pihak terkait mempunyai pemahaman dan persepsi yang
sama dalam menjalankan tugas dan fungsinya yang pada akhirnya
dapat meningkatkan kualitas Laporan Keuangan.

B. M AK SU D D AN TU J U AN
Maksud penyusunan petunjuk teknis ini adalah dalam rangka
menunjang kelancaran pengelolan anggaran dan kualitas Laporan
Keuangan Kementerian Negara/Lembaga.

Adapun tujuan penyusunan petunjuk teknis ini adalah:

1. Masing-masing Kementerian Negara/Lembaga memahami


siklus akuntansi pemerintah yang menerapkan prinsip-
prinsip akuntansi berbasis akrual sesuai dengan Standar
Akuntansi Pemerintahan.
2. Masing-masing Kementerian Negara/Lembaga memahami
dan dapat menggunakan jurnal-jurnal akuntansi dalam
mencatat kejadian dan transaksi keuangan di lingkungannya.

5
3. Masing-masing Kementerian Negara/Lembaga memahami
manual dan aplikasi yang digunakan dalam proses
pencatatan transaksi, pelaksanaan anggaran dan penyajian
laporan keuangan.
4. Masing-masing Kementerian Negara/Lembaga dapat
menyusun dan menyajikan komponen laporan keuangan
berupa Laporan Realisasi Anggaran, Laporan Operasional,
Laporan Perubahan Ekuitas, Neraca, dan Catatan atas
Laporan Keuangan.
5. Masing-masing Kementerian Negara/Lembaga dapat
melakukan analisis laporan keuangan sebelum dilakukan
publikasi dan penyampaian laporan keuangan.
6. Masing-masing Kementerian Negara/Lembaga dapat
menyampaikan laporan keuangan secara tepat waktu.

C. DA S AR H U KU M

1. Undang-undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan


Negara;
2. Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2010 tentang
Standar Akuntansi Pemerintahan;
3. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 213/PMK.O5/2013
tentang Sistem Akuntansi dan Pelaporan Keuangan
Pemerintah Pusat;
4. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 270/PMK.05/2014
Penerapan Standar Akuntansi Pemerintahan Berbasis Akrual
Pada Pemerintah Pusat.

D. RU A NG LING KU P
Petunjuk teknis ini digunakan di lingkungan Kementerian
Negara/Lembaga tidak termasuk Satker Badan Layanan Umum.
Petunjuk teknis ini merupakan pedoman umum, yang didalam
pelaksanaannya setiap Kementerian Negara/Lembaga agar
memperhatikan karakteristik transaksi yang ada di masing-masing
Kementerian Negara/Lembaga serta kesesuaian dan harmonisasi
berbagai peraturan dan ketentuan yang berlaku mengenai
penganggaran, pelaksanaan anggaran, kebijakan akuntansi, dan
pelaporan keuangan. Sebagai pedoman umum, petunjuk teknis ini
akan terus diperbarui seiring dengan perkembangan peraturan dan
kebijakan di bidang akuntansi dan pelaporan keuangan pemerintah.

6
Bab
GAMBARAN UMUM PENYUSUNAN
LAPORAN KEUANGAN

2 A. PE N D AHU LU AN
Proses bisnis akuntansi pemerintahan tidak jauh berbeda dengan
proses bisnis akuntansi pada perusahaan. Proses bisnis akuntansi
pada pemerintahan dimulai dari pencatatan dokumen anggaran,
dokumen saldo awal, dokumen penerimaan, dokumen pengeluaran
dan lain-lain, proses posting ke dalam buku besar dan penyusunan
laporan keuangan setelah dilakukan penyesuaian yang diperlukan.
Hal yang membedakan dengan proses
bisnisakuntansipadaperusahaanantara lain adalah bahwapada
akuntansi pemerintahan tidak ada Laporan Laba Rugi dan Laporan
Laba Ditahan. Laporan yang mirip dengan Laporan Laba Rugi pada
pemerintahan disebut dengan Laporan Operasional. Sedangkan
untuk memberikan informasi kepemilikan dan ekuitas
pemerintahan disusun Laporan Perubahan Ekuitas dan Neraca.

Secara teknis pelaksanaan, sebagian besar proses bisnis akuntansi


pemerintahan dibantu dengan menggunakan suatu aplikasi
akuntansi dan pelaporan. Proses bisnis akuntansi pemerintahan
berbantuan aplikasi dimaksud dimulai dari perekaman dokumen
sumber, baik secara manual maupun secara elektronik, dan
membentuk jurnal transaksi. Selanjutnya jurnal transaksi tersebut
dilakukan posting ke buku besar dan diikhtisarkan dalam
komponen laporan keuangan. Alur proses bisnis akuntansi
pemerintahan dapatdiilustrasikan sebagaimana Gambar 1 Proses
Bisnis Akuntansi Pemeritahan.

Pada Gambar 1 Proses Bisnis Akuntansi Pemeritahan, dokumen


sumber akuntansi merupakan langkah awal dalam proses
akuntansi. Dokumen sumber ini terdiri dari dokumen internal
maupun dokumen eksternal. Dokumen internal merupakan
dokumen yang dibuat sendiri oleh entitas akuntansi (satuan kerja)
untuk merekam data yang sumbernya dari dalam atau tidak ada
bukti dari pihak eksternal. Data yang diproses meliputi data saldo
awal neraca ataudata realisasi anggaran periode sebelumnya, data
anggaran berupa anggaranpendapatan dan anggaran belanja yang
dialokasikan kepada setiap satuan kerja,transaksi tahun berjalan
meliputi penerimaan dan pengeluaran kas, transaksiakrual meliputi
pendapatan dan beban akrual, dan transaksi lainnya.
Transaksilainnya antara lain meliputi transaksi keuangan yang
tidak mempengaruhipendapatan dan beban, seperti terjadinya
reklasifikasi pos-pos pada neraca.

7
Gambar 1. Proses Bisnis Akuntansi Pemerintahan

Secara umum, pada periode berjalan unit akuntansi dan pelaporan


melakukan proses bisnis akuntansi dalam rangka menghasilkan
laporan keuanganyang meliputi kegiatan antara lain:

1. Melakukan verifikasi dokumen sumber;


2. Melakukan perekaman dokumen sumber;
3. Melakukan verifikasi atas perekaman, penambahan, dan
hapus data transaksi pendapatan dan belanja berdasarkan
dokumen sumber;
4. Melakukan penyesuaian pengakuan Beban, Pendapatan, Aset
dan Kewajiban atas transaksi akrual;
5. Melakukan posting atas transaksi yang berhubungan dengan
Buku Besar Akrual dan Buku Besar Kas;
6. Melakukan cetak laporan dan penyiapan data untuk kegiatan
rekonsiliasi realiasasi pendapatan dan belanja;
7. Menyusun Laporan Keuangan dan Lampiran-lampiran
pendukung;
8. Menyampaikan data dan laporan keuangan sesuai dengan
ketentuan.
Selain proses penelaahan dokumen sumber dan proses akuntansi
lainnya, untuk meyakinkan data atas laporan keuangan sebelum
disusun menjadi laporan keuangan sesuai dengan ketentuan,
dilakukan rekonsiliasi. Rekonsiliasi bertujuan guna meminimalisir
terjadinya perbedaan pencatatan yang berdampak pada validitas
dan akurasi data yang disajikan dalam laporan keuangan. Dalam hal
terjadi perbedaan data, rekonsiliasi dapat mendeteksi dan
mengetahui penyebab-penyebab terjadinya perbedaan.

Rekonsiliasi pada unit akuntansi dan pelaporan instansi dibagi


menjadi 2 (dua) macam yaitu:

8
1. Rekonsiliasi internal, yaitu rekonsiliasi data untuk
penyusunan laporan keuangan yang dilaksanakan antar
subsistem pada masing-masing Unit Akuntansi dan Pelaporan
dan/atau antar Unit Akuntansi dan Pelaporan yang masih
dalam satu entitas pelaporan, misalnya antara UAKPA dan
UAKPB;
2. Rekonsiliasi eksternal, yaitu rekonsiliasi data untuk
penyusunan laporan keuangan yang dilaksanakan antara Unit
Akuntansi dan Pelaporan yang satu dengan Unit Akuntansi
dan Pelaporan yang lain atau pihak lain yang terkait, tidak
dalam satu entitas pelaporan, misalnya rekonsiliasi antara
UAKPA dengan UAKBUN-Daerah.

B. U NIT A KU NT AN S I DA N P E LA PO RA N
Dalam menjalankan proses bisnis akuntansi pemerintahan, setiap
Kementerian Negara/Lembaga menyelenggarakan Sistem
Akuntansi Instansi meliputi Akuntansi dan Pelaporan Keuangan
dan Akuntansi dan Pelaporan BMN yang melekat pada struktur
organisasi Kementerian Negara/Lembaga bersangkutan. Unit
akuntansi dan pelaporan keuangan dimaksud terdiri atas :

1. Unit Akuntansi Kuasa Pengguna Anggaran (UAKPA)


2. Unit Akuntansi Pembantu Pengguna Anggaran Wilayah
(UAPPA-W)
3. Unit Akuntansi Pembantu Pengguna Anggaran Eselon I
(UAPPA-E1)
4. Unit Akuntansi Pengguna Anggaran (UAPA)

Sedangkan akuntansi dan pelaporan BMN dimaksud terdiri atas :

1. Unit Akuntansi Kuasa Pengguna Barang (UAKPB)


2. Unit Akuntansi Pembantu Pengguna Barang Wilayah (UAPPB-
W)
3. Unit Akuntansi Pembantu Pengguna Barang Eselon I (UAPPB
E1)
4. Unit Akuntansi Pengguna Barang (UAPB)

C. BA SI S A KU NT AN SI
Basis akuntansi yang digunakan dalam mencatat transaksi dan
penyusunan Laporan Keuangan Kementerian Negara/Lembaga
adalah basis akrual. Basis akrual yang diterapkan merupakan basis
akuntansi yang mengakui adanya pengaruh transaksi dan peristiwa

9
lainnya pada saat transaksi dan peristiwa itu terjadi, tanpa
memperhatikan saat kas atau setara kas diterima atau dibayar.

Penerapan basis kas tetap digunakan dalam mencatat dan


menyusun Laporan Realisasi Anggaran sepanjang APBN disusun
menggunakan pendekatan basis kas. Dengan demikian, basis kas
untuk Laporan Realisasi Anggaran berarti bahwa pendapatan
diakui pada saat kas diterima di rekening kas negara, sedangkan
belanja diakui pada saat dikeluarkan dari rekening kas negara.

D. DO KU M E N SU M B E R U NTU K PE RE K AM AN
AKU NT AN S I
Dokumen sumber yang terkait dengan kegiatan transaksi antara
lain:

No. Jenis Transaksi Dokumen Sumber

1 Alokasi Anggaran a. DIPA Satker


b. Revisi DIPA Satker
a. Surat Permintaan Pembayaran
(SPP)
b. Surat Perintah Membayar (SPM)
Pencatatan Realisasi
2 Pendapatan dan c. Surat Perintah Pencairan Dana
Belanja (SP2D)
d. Surat Setoran Bukan Pajak (SSBP)
e. Surat Setoran Pengembalian
Belanja (SSPB)
Pencatatan Akrual
3 Memo Penyesuaian
dan Penyesuaian

a. Berita Acara Rekonsiliasi


Dokumen Pendukung b. Surat Ketetapan/Keputusan
4
Lainnya c. Surat Perjanjian/Dokumen Kontrak
d. Berita Acara Serah Terima

1. Ilustrasi dokumen sumber dapat disajikan sebagai berikut :

10
KEMENTERIAN KEUANGAN RI SURAT SETORAN
DITJEN PERBENDAHARAAN
KPPN
BUKAN PAJAK
(SSBP) Lembar 1/2/3/4/5
I Nomor : 09/648872/2009
Tanggal : 08 April 2009

KE REKENING KAS NEGARA NOMOR :

A. 1. NPWP Wajib Setor/Bend :


2. Nama Wajib Setor/Bend :
3. Alamat :
B. 1. Kementerian/Lembaga :
2. Unit Organisasi Eselon I :
3. Satuan Kerja :
4. Fungsi/Sub Fugsi/Program :
5. Kegiatan/Sub Kegiatan :
6. Lokasi :
C. MAP dan Uraian Penerimaan :
D. Jumlah Setoran :

Dengan Huruf :
E. Surat Penagihan (SPN) :
Atau Surat Pemindahan
Penagihan Piutang Negara
(SP3N)

PERHATIAN Untuk Keperluan :

Bacalah Dahulu Petunjuk pengisian formulir Pendapatan Sewa Rumah Dinas/Rumah Negeri bulan Mei 2009
SSBP pada halaman belakang lembar ini

---------, ---------- Diterima Oleh:


Penyetor BANK PERSEPSI/KANTOR POS DAN GIRO
Tanggal .

Cap

SETY----------------------- Tanda Tangan ........


NIP. ---------------- Nama Terang...

2. Ilustrasi untuk Surat Setoran Pengembalian Belanja (SSPB)

DEPARTEMEN KEUANGAN RI SURAT SETORAN Lembar 1/2/3/4/5


DITJEN PERBENDAHARAAN
KPPN
PENGEMBALIAN BELANJA WAJIB SETOR/WAJIB
BAYAR/BENDAHARA PENERIMA
(SSPB) SEBAGAI BUKTI SETORAN
Nomor :
Tanggal :

KE REKENING KAS NEGARA NOMOR :

A. 1. NPWP Bendahara :
2. Nama Bendahara :
3. Alamat :
B. 1. Kementerian/Lembaga :
2. Unit Organisasi Eselon I :
3. Satuan Kerja :
4. Fungsi/Sub Fugsi/Program :
5. Kegiatan/output :
6. Lokasi :
C. MAP dan Uraian Penerimaan :
D. Jumlah Setoran :

Dengan Huruf :

PERHATIAN Untuk Keperluan :

Bacalah Dahulu Petunjuk pengisian formulir


SSPB pada halaman belakang lembar ini

----------, -------- Diterima Oleh:


Penyetor BANK PERSEPSI/KANTOR POS DAN GIRO
Tanggal .

Cap
------------
NIP............ Tanda Tangan ........
Nama Terang...

11
3. Ilustrasi untuk Surat Perintah Membayar (SPM)

4. Ilustrasi untuk Surat Perintah Pencairan Dana (SP2D)

12
5. Ilustrasi untuk Memo Penyesuaian (MP)

E . O U TPU T L A PO R AN KE U AN G AN
Terdapat tujuh jenis komponen Laporan Keuangan (LK) dalam
Laporan Keuangan Pemerintah Pusat, yaitu:

1. Laporan Realisasi Anggaran (LRA);


2. Laporan Operasional (LO);
3. Laporan Perubahan Ekuitas (LPE);
4. Neraca;
5. Laporan Arus Kas (LAK);
6. Laporan Perubahan Sisa Anggaran Lebih (LP SAL);
7. Catatan atas Laporan Keuangan (CaLK).

Khusus LAK dan LPSAL, kedua laporan tersebut hanya disusun dan
disampaikan oleh satuan kerja yang menjalankan fungsi Bendahara
Umum Negara (BUN). Dengan demikian, pada setiap Laporan
Keuangan Kementerian Negara/Lembaga (LKKL) hanya disajikan 5

13
(lima) komponen Laporan Keuangan, yaitu LRA, LO, LPE, Neraca
dan CaLK.

Berikut ini merupakan penjelasan atau uraian dari masing masing


komponen laporan keuangan yang dilaporkan oleh Kementerian
Negara/Lembaga.

1. LAPORAN REALISASI ANGGARAN (LRA);

Laporan Realisasi Anggaran (LRA) adalah laporan yang menyajikan


ikhtisar sumber, alokasi, dan pemakaian sumber daya keuangan
yang dikelola oleh pemerintah, yang menggambarkan
perbandingan antara anggaran dan realisasinya dalam satu periode
pelaporan.

Unsur yang dicakup secara langsung oleh Laporan Realisasi


Anggaran terdiri dari pendapatan-LRA dan belanja. Masing-masing
unsur dapat dijelaskan sebagai berikut :

a) Pendapatan-LRA adalah penerimaan oleh Bendahara Umum


Negara/Bendahara Umum Daerah atau oleh entitas
pemerintah lainnya yang menambah Saldo Anggaran Lebih
dalam periode tahun anggaran yang bersangkutan yang
menjadi hak pemerintah, dan tidak perlu dibayar kembali oleh
pemerintah.
b) Belanja adalah semua pengeluaran oleh Bendahara Umum
Negara/Bendahara Umum Daerah yang mengurangi Saldo
Anggaran Lebih dalam periode tahun anggaran bersangkutan
yang tidak akan diperoleh pembayarannya kembali oleh
pemerintah.

2. LAPORAN OPERASIONAL (LO);

Laporan Operasional menyajikan ikhtisar sumber daya


ekonomiyang menambah ekuitas dan penggunaannya yang dikelola
oleh pemerintahpusat/daerah untuk kegiatan penyelenggaraan
pemerintahan dalam satu periodepelaporan.

Unsur yang dicakup secara langsung dalam Laporan Operasional


terdiri dari pendapatan-LO, beban, transfer, dan pos-pos luar biasa.
Masing - masing unsur dapat dijelaskan sebagai berikut:

a) Pendapatan-LO adalah hak pemerintah yang diakui sebagai


penambah nilai kekayaan bersih.
b) Beban adalah kewajiban pemerintah yang diakui sebagai
pengurang nilai kekayaan bersih.
c) Pos Luar Biasa adalah pendapatan luar biasa atau beban luar
biasa yang terjadi karena kejadian atau transaksi yang bukan
merupakan operasi biasa, tidak diharapkan sering atau rutin

14
terjadi, dan berada di luar kendali atau pengaruh entitas
bersangkutan.

3. LAPORAN PERUBAHAN EKUITAS (LPE);

Laporan Perubahan Ekuitas menyajikan informasi kenaikan atau


penurunan ekuitas tahun pelaporan dibandingkan dengan tahun
sebelumnya.

Terdapat beberapa pos penyesuaian atas ekuitas dalam LPE, yang


tidak termasuk dalam perhitungan surplus/defisit LO. Pos pos
tersebut antara lain:

A. Dampak Kumulatif Perubahan Kebijakan/Kesalahan Mendasar.


Pos penyesuaian ekuitas yang dikarenakan perubahan kebijakan
akuntansi atau kesalahan mendasar yang berdampak pada
penyesuaian nilai aset atau kewajiban

B. Koreksi Nilai Persediaan.


nilai yang diperoleh dari selisih antara pencatatan nilai persediaan
dengan nilai opname fisik persediaan yang terjadi pada periode
sebelumnya.

C. Selisih Revaluasi Aset Tetap.


nilai yang diperoleh dari selisih atas kegiatan revaluasi atas nilai
aset tetap yang ada pada sebuah entitas berdasarkan suatu
kebijakan yang berlaku secara nasional.

D. Selisih Non-Revaluasi Aset Tetap


nilai yang diperoleh dari selisih atas koreksi/penyesuaian yang
tidak berasal dari revaluasi atas nilai aset tetap yang ada pada
sebuah entitas atas kondisi yang terjadi pada periode sebelumnya.

E. Transaksi Antar Entitas - Ditagihkan Kepada Entitas Lain


(DKEL).
pos yang digunakan dalam menjembatani transaksi antar entitas
(transaksi keuangan antara dua entitas yang terkonsolidasi),
khususnya untuk mencatat pengeluaran kas dari BUN dalam rangka
mendanai belanja K/L (Pencatatan pada BUN = Debit, Pencatatan
pada K/L = Kredit)

F. Transaksi Antar Entitas - Diterima Dari Entitas Lain (DDEL).


Pos yang digunakan dalam menjembatani transaksi antar entitas
(transaksi keuangan antara dua entitas yang terkonsolidasi),
khususnya untuk mencatat penerimaan kas pada BUN yang berasal
dari pendapatan K/L (Pencatatan pada BUN = Kredit, Pencatatan
pada K/L = Debit)

15
G. Transaksi Antar Entitas - Transfer In.
Pos yang digunakan dalam mencatat transfer keluar aset (karena
tidak terpenuhinya definisi beban hibah), dari suatu entitas
pemerintah kepada entitas pemerintah lainnya, yang masih
merupakan entitas terkonsolidasi dalam Laporan Keuangan
Pemerintah Pusat.

H. Transaksi Antar Entitas - Transfer Out.


Pos yang digunakan dalam mencatat transfer masuk aset (karena
tidak terpenuhinya definisi pendapatan hibah), yang diterima suatu
entitas pemerintah dari entitas pemerintah lainnya, yang masih
merupakan entitas terkonsolidasi dalam Laporan Keuangan
Pemerintah Pusat.

Pada tingkat K/L dan BUN, nilai transaksi antar entitas dapat
bervariasi, namun dalam konsolidasi secara nasional, maka nilai
transaksi antar entitas adalah nol.

4. NERACA;

Neraca menggambarkan posisi keuangan suatu entitas pelaporan


mengenai aset, kewajiban, dan ekuitas pada tanggal tertentu. Unsur
yang dicakup oleh neraca terdiri dari aset, kewajiban, dan ekuitas.
Masing-masing unsur dapat dijelaskan sebagai berikut :

a. Aset adalah sumber daya ekonomi yang dikuasai dan/atau


dimiliki oleh pemerintah sebagai akibat dari peristiwa masa
lalu dan dari mana manfaat ekonomi dan/atau sosial di masa
depan diharapkan dapat diperoleh, baik oleh pemerintah
maupun masyarakat, serta dapat diukur dalam satuan uang,
termasuk sumber daya nonkeuangan yang diperlukan untuk
penyediaan jasa bagi masyarakat umum dan sumber-sumber
daya yang dipelihara karena alasan sejarah dan budaya.
b. Kewajiban adalah utang yang timbul dari peristiwa masa lalu
yang penyelesaiannya mengakibatkan aliran keluar sumber
daya ekonomi pemerintah.
c. Ekuitas adalah kekayaan bersih pemerintah yang merupakan
selisih antara aset dan kewajiban pemerintah.

ASET

Manfaat ekonomi masa depan yang terwujud dalam aset adalah


potensi aset tersebut untuk memberikan sumbangan, baik langsung
maupun tidak langsung, bagi kegiatan operasional pemerintah,
berupa aliran pendapatan atau penghematan belanja bagi
pemerintah. Aset diklasifikasikan ke dalam aset lancar dan
nonlancar. Suatu aset diklasifikasikan sebagai aset lancar jika

16
diharapkan segera untuk dapat direalisasikan atau dimiliki untuk
dipakai atau dijual dalam waktu 12 (dua belas) bulan sejak tanggal
pelaporan. Aset yang tidak dapat dimasukkan dalam kriteria
tersebut diklasifikasikan sebagai aset nonlancar.

a. Aset lancar meliputi kas dan setara kas, investasi jangka


pendek, piutang, dan persediaan.
b. Aset nonlancar mencakup aset yang bersifat jangka panjang,
dan aset tak berwujud yang digunakan baik langsung
maupun tidak langsung untuk kegiatan pemerintah atau
yang digunakan masyarakat umum. Aset nonlancar
diklasifikasikan menjadi investasi jangka panjang, aset
tetap, dana cadangan, dan aset lainnya.
c. Aset tetap meliputi tanah, peralatan dan mesin, gedung dan
bangunan, jalan, irigasi, dan jaringan, aset tetap lainnya, dan
konstruksi dalam pengerjaan.
d. Aset nonlancar lainnya diklasifikasikan sebagai aset lainnya.
Termasuk dalam aset lainnya adalah aset tak berwujud dan
aset kerja sama (kemitraan).

KEWAJIBAN

Karakteristik esensial kewajiban adalah bahwa pemerintah


mempunyai kewajiban masa kini yang dalam penyelesaiannya
mengakibatkan pengorbanan sumber daya ekonomi di masa yang
akan datang. Kewajiban umumnya timbul karena konsekuensi
pelaksanaan tugas atau tanggungjawab untuk bertindak di masa
lalu. Dalam konteks pemerintahan, kewajiban muncul antara lain
karena penggunaan sumber pembiayaan pinjaman dari masyarakat,
lembaga keuangan, entitas pemerintah lain, atau lembaga
internasional. Kewajiban pemerintah juga terjadi karena perikatan
dengan pegawai yang bekerja pada pemerintah atau dengan
pemberi jasa lainnya. Setiap kewajiban dapat dipaksakan menurut
hukum sebagai konsekuensi dari kontrak yang mengikat atau
peraturan perundang-undangan. Kewajiban dikelompokkan
kedalam kewajiban jangka pendek dan kewajiban jangka panjang.
Kewajiban jangka pendek merupakan kelompok kewajiban yang
diselesaikan dalam waktu kurang dari dua belas bulan setelah
tanggal pelaporan. Kewajiban jangka panjang adalah kelompok
kewajiban yang penyelesaiannya dilakukan setelah 12 (dua belas)
bulan sejak tanggal pelaporan.

EKUITAS

Ekuitas adalah kekayaan bersih pemerintah yang merupakan


selisih antara aset dan kewajiban pemerintah pada tanggal laporan.
Saldo ekuitas di Neraca berasal dari saldo akhir ekuitas pada
Laporan Perubahan Ekuitas.

17
5. CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN (CaLK).

Catatan atas Laporan Keuangan (CaLK) meliputi penjelasan naratif


atau rincian dari angka yang tertera dalam Laporan Realisasi
Anggaran, Laporan Operasional, Laporan Perubahan Ekuitas, dan
Neraca. CaLK juga mencakup informasi tentang kebijakan akuntansi
yang dipergunakan oleh entitas pelaporan dan informasi lain yang
diharuskan dan dianjurkan untuk diungkapkan di dalam Standar
Akuntansi Pemerintahan serta ungkapan-ungkapan yang
diperlukan untuk menghasilkan penyajian laporan keuangan secara
wajar. CaLK mengungkapkan/ menyajikan/ menyediakan hal-hal
sebagai berikut:

a. Mengungkapkan informasi Umum tentang Entitas Pelaporan


dan Entitas Akuntansi;
b. Menyajikan informasi tentang kebijakan fiskal/keuangan dan
ekonomi makro;
c. Menyajikan ikhtisar pencapaian target keuangan selama tahun
pelaporan berikut kendala dan hambatan yang dihadapi dalam
pencapaian target;
d. Menyajikan informasi tentang dasar penyusunan laporan
keuangan dan kebijakan-kebijakan akuntansi yang dipilih
untuk diterapkan atas transaksi - transaksi dan kejadian-
kejadian penting lainnya;
e. Menyajikan rincian dan penjelasan masing-masing pos yang
disajikan pada lembar muka laporan keuangan;
f. Mengungkapkan informasi yang diharuskan oleh Pernyataan
Standar Akuntansi Pemerintahan yang belum disajikan dalam
lembar muka laporan keuangan;
g. Menyediakan informasi lainnya yang diperlukan untuk
penyajian yang wajar, yang tidak disajikan dalam lembar muka
laporan keuangan;

18
Berikut ini ceklis kelengkapan dokumen Laporan Keuangan dan
beberapa informasi penting lainnya dalam lampiran LKKL yang
merupakan bahan utama dalam penyusunan Laporan Keuangan.

CEKLIST KELENGKAPAN DOKUMEN LAPORAN KEUANGAN

19
Bab
PROSES AWAL TAHUN

3 A. INS TA L AS I AP LI K AS I S AIB A TI NG K AT U A KP A
VE RS I 2. 6
Langkah-langkah proses instalasi Aplikasi SAIBA :

1. Masukan CD Aplikasi ke drive CD atau ctrl + klik link:


www.djpbn.kemenkeu.go.id/portal/

2. Pilih File Instal-SAIBA klik


dua kali atau jika gagal, klik kanan dan klik

3. Sehingga muncul tampilan sebagaimana ditampilkan : Pindo.


R.R. (2015). Buku Petunjuk Operasional Aplikasi Sistem Akuntansi
Keuangan Berbasis Akrual, Ed.01, Hal. 3-4.

4. Untuk menjalankan aplikasi SAIBA, maka klik icon seperti di


bawah ini :

5. Setelah dilakukan proses instalasi Aplikasi SAIBA Versi 1.0,


maka lakukan pemutakhiran aplikasi SAIBA tingkat UAKPA menjadi
versi 2.6 dengan menutup aplikasi SAIBA lalu men-download dan
meng-install update aplikasi dari :
http://www.djpbn.kemenkeu.go.id/portal/id/dengan urutan sebagai
berikut :

1) Update SAIBA Versi 1.1

2) Update SAIBA Versi 2.2

3) Update Aplikasi SAIBA Versi 2.3

4) Update Aplikasi SAIBA Versi 2.4

5) Update Aplikasi SAIBA Versi 2.5

6) Update Aplikasi SAIBA Versi 2.6

Jika sudah dilakukan proses instalasi untuk aplikasi, maka aplikasi


SAIBA 2014 tingkat UAKPA Versi 2.6 siap dijalankan dan dapat
digunakan.

Peringatan :

20
Jika sudah pernah melakukan proses instalasi untuk aplikasi SAIBA
2014/2015, apabila ingin memperbaharui aplikasi ini, cukup dengan
melakukan proses pemutakhiran/update. Baik itu update aplikasi
SAIBA atau update referensi SAIBA.

B. PRO SE S PE NG AM B ILA N SA L DO A WA L TA HU N
BE R JA L AN

Pembentukan Saldo Awal Tahun Berjalan dilakukan dengan cara


mengambil saldo akhir (saldo akhir audited) dari laporan keuangan
tahun sebelumnya. Contoh : Saldo Awal Tahun Anggaran 201X
merupakan Saldo Akhir Tahun Anggaran 201X-1Audited.

Proses Pengambilan Saldo Awal dilakukan dengan langkah-langkah


sebagai berikut :

1. Tampilkan Menu Proses sebagaimana di bawah ini dan pilih


Sub Menu Pengambilan Saldo Awal seperti di bawah ini :

2. Berdasarkan tampilan Sub Menu Pengambilan Saldo Awal


maka selanjutnya sesuaikan Lokasi Tempat Pengambilan Saldo
Awal yakni Lokasi Database Laporan Audited Tahun Anggaran
Sebelumnya.

Contoh : Untuk mengambil Saldo Awal Tahun Anggaran 2015 di


Aplikasi SAIBA, maka dirujuk pada lokasi database Aplikasi SAKPA
Tahun Anggaran 2014 yang berangka Audited. Misalkan Lokasi
database Laporan Tahun Anggaran 2014 ada di directory C: maka
lokasi database aplikasi tahun anggaran 2014 adalah
C:\SAKPA14\TRN\) atau dapat dicari dengan mengklik tombol

21
3. Setelah menemukan satker yang tepat, maka lakukan proses
pengambilan Saldo Awal 2015 dari database Saldo Akhir 2015
dengan cara memberikan checklist lalu klik tombol

. Tabel informasi berisi jumlah record data tahun 2014


dan jumlah data setelah proses Summary.

4. Sedangkan untuk membatalkan proses pengambilan saldo

awal, maka klik tombol dan klik tombol


untuk keluar dari menu.

5. Langkah Pengambilan Saldo Awal belum cukup untuk


menampilkan data menjadi bentuk Laporan dikarenakan data
tersebut belum direkap ke Buku Besar aplikasi yang baru. Agar data
saldo awal direkap ke Buku Besar di aplikasi yang baru, maka perlu
dilakukan proses posting.

Klik Sub Menu Posting dapat dilihat sebagaimana tampilan di


bawah ini :

Tampilan Layar untuk Proses Posting tersebut adalah sebagai


berikut :

22
6. Kliklah kotak periode yang melambangkan periode
pengambilan saldo awal tersebut berada di Bulan Januari. Artinya,
periode awal pelaporan tahun berjalan dimulai di Bulan Januari
(Bulan 1).

7. Untuk mendapatkan informasi jumlah summary record atas


transaksi per bulan/periode dapat dilihat di Tabel Informasi.
Pastikan jumlah summary record minimal berisi angka 0 atau
0000000. Jika salah satu summary record ada yang sama sekali
tidak menampilkan angka seperti contoh di bawah ini :

berarti proses posting di periode yang dipilih belum berjalan


sempurna. Langkah selanjutnya yang harus dilakukan adalah keluar

dahulu dari proses posting dengan cara klik tombol


lalu masuk kembali ke Sub Menu Posting dan lakukan kembali
Posting dengan cara mengklik periode yang belum sempurna.

8. Klik tombol untuk menampilkan jurnal hasil


proses posting pada periode yang dipilih.

Kasus Khusus : Konversi Satker Berubah Kode

Konversi perubahan satker terjadi apabila terdapat kondisi-kondisi


berikut :

a. Satker pernah mengalami perubahan kode satker sejak tahun


pertama pelaporan.

23
b. Satker akan mengalami perubahan kode satker pada tahun
berjalan disebabkan oleh perubahan-perubahan pada mekanisme
pelaporan, reorganisasi entitas pelaporan atau likuidasi.

Berdasarkan kasus khusus di atas, digunakan Sub Menu Konversi


Satker Berubah Kode sebagai berikut :

1. Klik Sub Menu Konversi Satker Berubah Kode sehingga


menampilkan :

2. Pilih kode satker yang lama dengan memilih tombol checklist


.

3. Kode satker baru akan terisi secara otomatis dari data satker
admin yang sedang aktif.

4. Parameter Data yang Dikonversi ; Buku Besar atau Semua Data


(termasuk transaksi berjalan) dipilih berdasarkan kebutuhan
dan kondisi satker :

a. Apabila satker baru telah benar-benar berhenti beroperasi


dan telah melakukan tutup buku, maka opsi yang dipilih
adalah Buku Besar.

b. Apabila secara praktik kedua satker lama dan baru masih


beroperasi secara paralel pada suatu periode tertentu dan
atau satker lama belum melakukan tutup buku sebelum
seluruh datanya dikonversi ke satker baru, maka opsi yang
dipilih adalah Semua Data (termasuk transaksi berjalan).

24
5. Setelah mengklik pilihan , maka

klik tombol untuk memulai konversi data. Untuk

keluar dari menu, klik tombol .

6. Apabila terdapat permasalahan pada saat proses Pengambilan


Saldo Awal yakni prosesnya tidak sempurna dikarenakan
terdapat data-data yang jenis kewenangan atau kode wilayahnya
kosong di database sebelumnya sebagaimana contoh gambar di
bawah ini :

7. Untuk melengkapi jenis kewenangan atau kode wilayah yang


kosong dapat melalui menu transaksi Daftar Buku Besar yang
Belum Lengkap Kode Wilayah atau Jenis Kewenangan dari Menu
Transaksi >> Daftar Buku Besar yang Belum Lengkap Kode
Wilayah atau Jenis Kewenangan. Untuk penjelasan lebih lanjut
mengenai Menu ini dapat dilihat di Pindo. R.R. (2015). Buku
Petunjuk Operasional Aplikasi Sistem Akuntansi Keuangan
Berbasis Akrual, Ed.01, Hal. 77-78.

8. Setelah proses pengambilan saldo awal, perlu dilakukan


pengecekan bahwa Saldo Awal Tahun Anggaran berjalan adalah
sama dengan Saldo Akhir Audited Tahun Anggaran sebelumnya.
Langkah ini adalah hal yang paling penting untuk dilakukan
segera setelah selesai melakukan migrasi saldo
awal/pengambilan saldo awal.

Pengecekan Saldo Awal Tahun Anggaran berjalan adalah sama


dengan Saldo Akhir Audited Tahun Anggaran sebelumnya dapat
dilakukan dengan beberapa tahap sebagai berikut :

25
a. Memastikan nilai saldo awal pos-pos aset pada neraca
percobaan SAIBA, setelah pengambilan saldo awal, telah sama
dengan nilai yang tertera pada aplikasi SILABI, Persediaan dan
SIMAK-BMN di awal tahun.

b. Memastikan nilai saldo awal keseluruhan pos-pos aset,


kewajiban dan jumlah ekuitas pada neraca percoba SAIBA tahun
berjalan telah sama dengan nilai saldo akhir keseluruhan pos-
pos pada neraca percobaan SAIBA tahun sebelumnya

c. Nilai Total Aset bernilai sama dengan penjumlahan Total


Kewajiban dan Ekuitas.

Khusus angka Saldo Awal Neraca hasil migrasi dari CTA menjadi
akrual, maka perlu memastikan nilai saldo awal keseluruhan pos-
pos aset, kewajiban dan jumlah ekuitas pada neraca percoba SAIBA
tahun berjalan telah sama dengan nilai saldo akhir keseluruhan
pos-pos pada neraca percobaan SAIBA tahun sebelumnya dengan
pengecualian :

1. Akun Pendapatan yang Ditangguhkan (akun 2196) karena Pos


Pendapatan yang Ditangguhkan pada Neraca awal Tahun 2015
di SAIBA hanya menyajikan nilai Hibah Langsung yang Belum
Disahkan (akun 219671). Sedangkan akun 2196XX lainnya akan
secara otomatis tereklsifikasi menjadi ekuitas.
2. Pos Ekuitas disajikan menjadi satu akun Ekuitas dan nilainya
sama dengan nilai Total dari Pos-pos Ekuitas pada aplikasi
SAKPA yang ditambah dengan total Pos-pos Kewajiban yang
telah direklasifikasi menjadi Ekuitas.

Catatan :

Proses Posting dilakukan tidak hanya setelah proses pengambilan


saldo awal, namun juga dilakukan setelah proses-proses
menambahkan ataupun mengurangi record, transaksi dan kegiatan
lainnya yang mengubah data. Contoh : input transaksi, hapus/batal
transaksi, input/hapus jurnal, penerimaan data UAKPB, restore
backup, dan lainnya.

C. M E KA NI SM E JU RN AL B AL IK DI A WA L T AH U N
ANG G AR AN
Pengakuan Pendapatan Akrual dan Beban Akrual pada aplikasi
SAIBA adalah menggunakan Pendekatan Beban. Pendekatan
Beban berarti setiap pengakuan Pendapatan dan Belanja secara
langsung diakui sebagai Pendapatan dan Beban di tahun berjalan.
Namun secara nyata, tidak seluruhnya Pendapatan dan Beban di

26
tahun berjalan tersebut benar-benar diterima atau digunakan pada
tahun berjalan.

Selain itu juga terdapat kemungkinan bahwa Pendapatan yang


secara mekanisme pelaksanaan anggaran belum diakui menjadi
pendapatan dikarenakan belum diterimanya pembayaran oleh
pemerintah (dhi. Satker/KBUN). Sedangkan secara praktik, Beban
seperti Beban Operasional/Beban Barang Jasa telah diterima
manfaatnya di tahun berjalan namun pemerintah belum melakukan
pembayaran melalui mekanisme pencairan SP2D.

Pendekatan Aset merupakan metode lain selain pendekatan


beban. Dengan pendekatan ini, Pendapatan dan Belanja Tidak
langsung diakui diterima di tahun berjalan atau digunakan tahun
berjalan. Namun Pendapatan yang diterima secara kas dianggap
sebagai utang sampai dengan jasa diberikan oleh pemerintah dan
Belanja yang Dibayarkan secara kas dianggap sebagai aset/manfaat
yang siap digunakan pada tahun berjalan.

27
Contoh Ilustrasi Sederhana :

1. Rumah Sakit Non BLU memberikan jasa kepada masyarakat


pada tanggal 31 Desember senilai Rp 100 Juta dan
membukukan jasa yang telah diberikan kepada penerima
manfaat rawat inap, namun belum ditagihkan.
2. Pemerintah membayar kontrak penyewaan kantor untuk 2
tahun sejumlah Rp 2 Miliar.
3. Pemerintah menerima pembayaran atas jasa penerbitan
passport penduduk sejumlah Rp 300 Juta namun passport
tersebut sedang dalam proses pembuatan dan belum
diserahkan kepada para penduduk bersangkutan.
4. Pemerintah menerima manfaat penggunaan listrik sejumlah
Rp 150 Juta pada bulan berjalan. SPM untuk pembayaran
telah diajukan namun sedang menunggu terbitnya SP2D
untuk pembayaran kepada pemberi jasa.

28
a. Defisit LRA (kolom 2) sejumlah Rp1.7Miliar dihasilkan dari
perhitungan pendapatan dan belanja pemerintah yang berasal
dari transaksi yang bersifat kas tanpa melihat apakah pemerintah
telah/belum memberikan manfaat atas pendapatan yang diterima
atau telah/belum menerima manfaat atas belanja yang telah
dibayarkan.
b. Defisit LO (kolom 5) sejumlah Rp1.05Miliar dihasilkan dari
perhitungan pendapatan dan beban pemerintah yang
diperhitungkan hanya bila : Pemerintah telah memberikan
manfaat untuk mengakui pendapatan dan Pemerintah telah
menerima manfaat untuk mengakui Beban.
c. Pendapatan berdasarkan Pembukuan Akrual dengan Pendekatan
Beban (kolom 3) sebesar Rp400Juta terlihat disajikan terlalu
besar jika dibandingkan Pendapatan versi LRA dan Pendapatan
versi LO. Dan Bebannya sebesar Rp1.75Miliar terlihat disajikan
terlalu besar jika dibandingkan Belanja versi LRA dan Beban versi
LO.
d. Pendapatan berdasarkan Pembukuan Akrual dengan Pendekatan
Aset (kolom 4) sebesar Rp0 terlihat disajikan terlalu kecil jika
dibandingkan Pendapatan versi LRA dan Pendapatan versi LO.
Dan Bebannya sebesar Rp0 terlihat disajikan terlalu kecil jika
dibandingkan Belanja versi LRA dan Beban versi LO.

Berdasarkan ilustrasi di atas dapat disimpulkan beberapa hal :

a. Defisit LRA (kolom 2) sejumlah Rp1.7Miliar dihasilkan dari


perhitungan pendapatan dan belanja pemerintah yang berasal
dari transaksi yang bersifat kas tanpa melihat apakah pemerintah
telah/belum memberikan manfaat atas pendapatan yang diterima
atau telah/belum menerima manfaat atas belanja yang telah
dibayarkan.
b. Defisit LO (kolom 5) sejumlah Rp650Juta dihasilkan dari
perhitungan pendapatan dan beban pemerintah yang
diperhitungkan hanya bila : Pemerintah telah memberikan
manfaat untuk mengakui pendapatan dan Pemerintah telah
menerima manfaat untuk mengakui Beban.
c. Pendapatan berdasarkan Pembukuan Akrual dengan Pendekatan
Beban (kolom 3) sebesar Rp800Juta terlihat disajikan terlalu
besar jika dibandingkan Pendapatan versi LRA dan Pendapatan
versi LO. Dan Bebannya sebesar Rp2.15Miliar terlihat disajikan
terlalu besar jika dibandingkan Belanja versi LRA dan Beban versi
LO.
d. Pendapatan berdasarkan Pembukuan Akrual dengan Pendekatan
Aset (kolom 4) sebesar Rp0 terlihat disajikan terlalu kecil jika
dibandingkan Pendapatan versi LRA dan Pendapatan versi LO.
Dan Bebannya sebesar Rp0 terlihat disajikan terlalu kecil jika
dibandingkan Belanja versi LRA dan Beban versi LO.
Dari simpulan-simpulan di atas dapat dilihat pada poin c dan d, perlu
dilakukannya penyesuaian melalui mekanisme jurnal agar angka

29
pendapat dan bebannya tidak lebih/kurang pengakuan. Penyesuaian
tersebut dilakukan dengan melakukan Jurnal Penyesuaian untuk
menghasilkan angka yang tepat.

Berdasarkan akuntansi berlaku umum, angka pendapatan dan beban


yang aktual dicerminkan oleh angka Laporan Operasional (LO). Oleh
karena itu dapat disimpulkan bahwa Jurnal Penyesuaian adalah Jurnal
yang digunakan untuk menyesuaikan angka berbasis Kas pada
Laporan Realisasi Anggaran (LRA) tidak termasuk belanja Hibah
berbentuk Barang menjadi angka berbasis Akrual pada Laporan
Operasional (LO).

Apabila Pencatatan dibukukan dengan Pendekatan Beban, maka pada


setiap awal periode pelaporan di tahun berjalan dilakukan jurnal balik
terhadap jurnal penyesuaian atau jurnal penutup di periode
pelaporan tahun lalu. Hal ini dilakukan agar menjaga konsistensi
metode pendekatan yang diterapkan dalam pembukuan pos-pos
pendapatan/belanja akrual.

POS-POS AKUN YANG SECARA UMUM PERLU DIJURNAL BALIK

Pos-pos akun yang perlu untuk dijurnal balik pada awal tahun adalah
pos-pos akun pendapatan dan belanja yang bersifat deferal dan akrual
(S-2300/PB/2015 Tanggal 24 Maret 2015 Lampiran III).

Pos-pos yang secara umum perlu dijurnal balik pada fase laporan
keuangan berbasis akrual adalah :

1. Pendapatan Diterima Dimuka


2. Belanja Dibayar Dimuka
3. Pendapatan yang Masih Harus Diterima
4. Beban yang Masih Harus Dibayar
Dikarenakan mekanisme pelaksanaan anggaran dan karena
operasional aplikasi pelaporan maka pos-pos akun yang perlu
disesuaikan selain yang di atas adalah :
5. Aset yang Belum Diregister

Contoh Ilustrasi Sederhana :

a. Pemerintah menerima Pendapatan Bukan Penerimaan Pajak


berupa Pendapatan Sewa Gedung Rp6Miliar untuk penggunaan 3
Tahun.
b. Pemerintah membayar kontrak penyewaan kantor untuk 3 tahun
sejumlah Rp2,1Miliar.

30
Pencatatan di SAIBA :

a. Buku Kas Debit Kredit


Utang kepada KUN Rp6Miliar
PNBP Pendapatan Sewa LRA Rp6Miliar
Otomatis akan menghasilkan Jurnal :
Buku Akrual
Diterima dari Entitas Lain/DDEL Rp6Miliar
PNBP Pendapatan Sewa LO Rp6Miliar

JURNAL PENYESUAIA N AKHIR TAHUN LALU


Buku Akrual
PNBP Pendapatan Sewa LO Rp4Miliar
Pendapatan Diterima Dimuka Rp4Miliar

Sehingga saldo akhir yang ditampilkan di Buku Akrual pada tahun


sebelumnya :

1. PNBP (Pendapatan Sewa) LO : Rp6Miliar Rp4Miliar =


Rp2Miliar
Saldo PNBP (Pendapatan Sewa) LO ini akan ditutup dengan Jurnal
Penutup ke Laporan Operasional sehingga akan bersaldo Rp0 di
akhir tahun tahun anggaran.

2. Pendapatan Diterima Dimuka : Rp4Miliar


JURNAL PEMBALIK AWAL TAHUN BERJALAN
Buku Akrual
Pendapatan Diterima Dimuka Rp4Miliar
PNBP Pendapatan Sewa Rp4Miliar

Sehingga saldo awal yang ditampilkan pada Buku Besar Akrual pada
tahun berjalan :

1. PNBP (Pendapatan Sewa) : Rp0 + Rp4Miliar = Rp4Miliar


2. Pendapatan Diterima Dimuka : Rp4Miliar Rp4Miliar = Rp0

b. Buku Kas Debit Kredit


Belanja Sewa Gedung LRA Rp2,1Miliar
Piutang dari KUN Rp2,1Miliar
Otomatis akan menghasilkan Jurnal :
Buku Akrual
Beban Sewa Gedung LO Rp2,1Miliar
Ditagihkan ke Entitas Lain/DKEL Rp2,1Miliar

JURNAL PENYESUAIA N AKHIR TAHUN LALU


Buku Akrual
Belanja Dibayar Dimuka Rp1,4Miliar
Beban Sewa Gedung LO Rp1,4Miliar

Sehingga saldo akhir yang ditampilkan di Buku Akrual pada tahun


sebelumnya :

31
1. Beban Sewa Gedung LO : Rp2,1Miliar Rp1,4Miliar =
Rp0,7Miliar
Saldo Beban Sewa Gedung LO akan ditutup dengan Jurnal
Penutup ke Laporan Operasional sehingga akan bersaldo Rp0 di
akhir tahun tahun anggaran.
2. Belanja Dibayar Dimuka : Rp1,4Miliar

JURNAL PEMBALIK AWAL TAHUN BERJALAN


Buku Akrual
Beban Sewa Gedung LO Rp1,4Miliar
Belanja Dibayar Dimuka Rp1,4Miliar

Sehingga saldo awal yang ditampilkan pada Buku Besar Akrual pada
tahun berjalan :
1. Beban Sewa Gedung LO : Rp0 + Rp1,4Miliar = Rp1,4Miliar
2. Belanja Dibayar Dimuka : Rp1,4Miliar Rp1,4Miliar = Rp0

Pembukuan atas Aset Tidak Lancar (Aset Tetap dan Aset Lainnya)
dan Persediaan di SAIBA juga didukung oleh kinerja aplikasi SIMAK-
BMN dan aplikasi Persediaan. Oleh sebab itu, di akhir periode
pelaporan atau akhir periode penyesuaian yang bukan merupakan
akhir periode pelaporan terdapat beberapa efek pencatatan antar
ketiga aplikasi yang perlu untuk disesuaikan yakni terkait dengan
Aset yang Belum Diregistrasi dengan rincian berikut :

a. Persediaan yang Belum Diregister


b. Aset Tetap Belum Diregister : Tanah yang Belum Diregister,
Peralatan dan Mesin Belum Diregister, Gedung dan Bangunan
Belum Diregister, Jalan dan Jembatan Belum Diregister, Irigasi
Belum Diregister, Jaringan Belum Diregister, Aset Tetap (selain
tersebut di atas) Belum Diregister.
c. Aset Lainnya yang Belum Diregister

Pada fase migrasi dari basis Cash Towards Accrual menjadi berbasis
akrual, Jurnal Balik yang diperlukan untuk akun-akun akrual dapat
dilihat pada lampiran Surat Direktur Jenderal Perbendaharaan
Nomor S-2300/PB/2015 Tanggal 24 Maret 2015 Lampiran III.

Catatan :

Jurnal Pembalik dilakukan terhadap Jurnal Penyesuaian hanya apabila


kondisi perbedaan waktu pengakuan antar aplikasi atau
permasalahan yang bersifat sementara. Maka di awal periode
berikutnya Jurnal Penyesuaian tersebut perlu dibalik sebab
permasalahan akan otomatis terselesaikan seiring dengan update atau
perbaikan data atas transaksi.

32
Apabila di akhir periode penyesuaian atau akhir periode penyesuaian
yang bukan merupakan akhir periode pelaporan terdapat pos-pos
akun aset yang Belum Diregister maka dilakukan penyesuaian
dengan beberapa contoh kasus di bawah ini :

1. Terdapat persediaan yang dibeli menggunakan MAK 5218 dengan mekanisme GU namun
belum dipertanggungjawabkan, apabila dilakukan jurnal penyesuaian :
JURNAL Persediaan yang Belum Diregister XXX
PENYESUAIAN Belanja yang Masih Harus Dibayar XXX
Maka dilakukan jurnal balik :
JURNAL Belanja yang Masih Harus Dibayar XXX
PEMBALIK Persediaan yang Belum Diregister XXX
Dilakukan jurnal pembalik dikarenakan Persediaan Belum Diregister akan secara otomatis
tidak ada setelah dilakukan pertanggungjawaban pada periode berikutnya.

1. Terdapat Aset Tetap yang Belum Diregister dikarenakan permasahan non permanen
pada aplikasi, apabila dijurnal penyesuaian :
Aset Tetap (tanah/gedung/dll) Belum
XXX
JURNAL Diregister
PENYESUAIAN Aset Tetap (tanah/gedung/dll) Belum
XXX
Diregister
Maka dilakukan jurnal balik :
Aset Tetap (tanah/gedung/dll) Belum
XXX
JURNAL Diregister
PEMBALIK Aset Tetap (tanah/gedung/dll) Belum
XXX
Diregister
Dilakukan jurnal pembalik dikarenakan Aset Tetap (tanah/gedung/dll) Belum Diregister akan
secara otomatis tidak ada setelah dilakukan perbaikan atas permasalahan aplikasi non
permanen.

D. TR AN SA K SI ANG G AR AN
Setelah APBN ditetapkan dengan undang-undang, rincian
pelaksanaannya dituangkan lebih lanjut dengan Peraturan Presiden
tentang rincian APBN. Selanjutnya, Menteri Keuangan
memberitahukan kepada menteri/pimpinan lembaga agar
menyampaikan dokumen pelaksanaan anggaran untuk masing-
masing kementerian negara/lembaga. Menteri/pimpinan lembaga
menyusun dokumen pelaksanaan anggaran untuk kementerian
negara/lembaga yang dipimpinnya, berdasarkan alokasi anggaran
yang ditetapkan dalam Peraturan Presiden tentang rincian APBN.

Dalam dokumen pelaksanaan anggaran diuraikan sasaran yang


hendak dicapai, fungsi, program, dan rincian kegiatan anggaran
yang disediakan untuk mencapai sasaran tersebut, dan rencana
penarikan dana tiap-tiap satuan kerja, serta pendapatan yang
diperkirakan.Pada Dokumen pelaksanaan anggaran juga
dilampirkan rencana kerja dan anggaran badan layanan umum
dalam lingkungan kementerian negara/lembaga.

Adanya dokumen anggaran sebagaimana tersebut di atas


merupakan salah satu ciri dari kemandirian suatu entitas atau
satuan kerja. Dokumen anggaran pada satuan kerja biasa disebut

33
dengan Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DIPA/Petikan DIPA).
Petikan DIPA merupakan dokumen anggaran yang dimiliki oleh
satuan kerja sebagai otorisasi kredit anggaran dan target
penerimaan (bila ada) yang brelaku untuk satu tahun anggaran.
Sebelum tahun anggaran dimulai biasanya DIPA sudah mulai
ditetapkan dan diterima oleh satuan kerja. Dokumen anggaran
tersebut mulai berlaku efektif sejak tahun anggaran dimulai.

Dalam rangka pelaporan anggaran maka DIPA tersebut harus


dilakukan pencatatan sebagai alat kontrol realisasi anggaran.
Pencatatan DIPA dilakukansesuai dengan tanggal terbityang
tercantum dalam dokumen tersebut. Dalam hal tanggal
diterbitkannya DIPA sebelum awal tahun anggaran, maka
pencatatan dilakukan sesuai tanggal dimulainya tahun anggaran.
Pencatatan DIPA digunakan untuk menjurnal estimasi pendapatan
yang dialokasikan, allotment belanja/transfer, estimasi penerimaan
pembiayaan yang dialokasikan, dan allotment pengeluaran
pembiayaan sesuai dengan angka yang tercantum dalam DIPA.

Pencatatan DIPA untuk estimasi pendapatan yang dialokasikan


dijurnal dengan mendebet estimasi pendapatan yang dialokasikan
dan mengkredit utang kepada KUN dengan jumlah yang sama
dengan jenis pendapatan yang ada dalam DIPA.

Pencatatan DIPA dilakukan oleh Satker pada buku besar kas


sebagai berikut :

A. Estimasi penerimaan perpajakan yang dialokasikan


Tanggal Uraian Debet Kredit
Jan 1 Estimasi pendapatan Pajak yang XXX
Dialokasikan
Utang kepada KUN XXX
Untuk mencatat anggaran pendapatan pajak pada DIPA

B. Estimasi Penerimaan Negara Bukan Pajak yang dialokasikan


Tanggal Uraian Debet Kredit
Jan 1 Estimasi pendapatan Bukan Pajak yang XXX
Dialokasikan
Utang kepada KUN XXX
Untuk mencatat anggaran pendapatan PNBP pada DIPA

Pencatatan DIPA untuk allotment belanja dijurnal dengan


mendebet piutang dari KUN dan mengkredit allotment belanja
ditambah uraian akun dari masing-masing allotment belanja dalam
DIPA.

34
Pencatatan DIPA dilakukan oleh Satker pada buku besar kas
sebagai berikut :

a. Allotment belanja pegawai


Tanggal Uraian Debet Kredit
Jan 1 Piutang dari KUN XXX
Allotment Belanja Pegawai XXX
Untuk mencatat anggaran belanja pegawai pada DIPA

b. Allotment belanja barang


Tanggal Uraian Debet Kredit
Jan 1 Piutang dari KUN XXX
Allotment Belanja Barang XXX
Untuk mencatat anggaran belanja barang pada DIPA

c. Allotment belanja modal


Tanggal Uraian Debet Kredit
Jan 1 Piutang dari KUN XXX
Allotment Belanja Modal XXX
Untuk mencatat anggaran belanja modal pada DIPA

d. Allotment belanja bantuan sosial


Tanggal Uraian Debet Kredit
Jan 1 Piutang dari KUN XXX
Allotment Belanja Bantuan Sosial XXX
Untuk mencatat anggaran belanja bantuan sosial pada DIPA

e. Allotment belanja lain-lain


Tanggal Uraian Debet Kredit
Jan 1 Piutang dari KUN XXX
Allotment Belanja Lain-lain XXX
Untuk mencatat anggaran belanja lain-lain pada DIPA

Pencatatan DIPA sehingga menghasilkan jurnal di atas dapat


dilakukan dengan beberapa cara sebagai berikut :

1. Perekaman secara manual dalam aplikasi SAIBA

Untuk memasukkan estimasi pendapatan yang dialokasikan ke


dalam aplikasi SAIBA, Satker menggunakan menu Transaksi >
Estimasi Pendapatan > Tambah. Selanjutnya, Satker merekam data
untuk setiap akun atas estimasi pendapatan yang dialokasikan
sebagaimana yang tercantum dalam DIPA.

35
Sedangkan untuk memasukkan allotment belanja ke dalam aplikasi
SAIBA, Satker menggunakan menu Transaksi >Daftar DIPA >
Tambah. Berdasarkan data yang tercantum dalam DIPA, Satker
merekam setiap akun ke dalam aplikasi SAIBA.

Hasil perekaman tersebut diperlukan untuk melihat kesesuaiannya


dengan dokumen DIPA. Apabila ditemui adanya
kesalahan/ketidaksesuaian antara hasil perekaman dengan
dokumen DIPA maka perlu diperbaiki sesuai dengan yang
tercantum dalam DIPA. Kesalahan/ketidaksesuaian perekaman
yang tidak diperbaiki akan mempengaruhi validitas penyajian
laporan realisasi anggaran yang dihasilkan dari aplikasi SAIBA.

2. Copy data dari Aplikasi SAS

Proses copy data dari aplikasi SAS dapat dilakukan apabila aplikasi
SAS dan SAIBA tersedia dalam satu komputer atau terintegrasi
dalam suatu jaringan. Untuk memasukkan estimasi pendapatan
yang dialokasikan ke dalam aplikasi SAIBA, Satker dapat melakukan
secara otomatis yaitu dengan menggunakan copy pendapatan dari
aplikasi SAS yang sebelumnya data pendapatan telah tersedia
dalam aplikasi SAS.

Sedangkan untuk memasukkan allotment belanja ke dalam aplikasi


SAIBA dilakukan dengan menggunakan menu copy DIPA dari
aplikasi SAS. Dengan proses ini, Satker tidak perlu lagi merekam
secara manual untuk memasukkan estimasi pendapatan yang
dialokasikan dan allotment belanja ke dalam aplikasi SAIBA. Selain
itu, Satker akan terhindar dari kesalahan yang dapat terjadi karena
perekaman transaksi anggaran secara manual.

Dalam hal terjadi revisi maka dilakukan juga pencatatan revisi DIPA
dalam jurnal anggaran dengan substansi model jurnal yang sama
dengan jurnal DIPA. Bila pagu bertambah maka dilakukan
pendebetan dan bila pagu berkurang dilakukan pengkreditan
dengan akun pasangan piutang dari KUN. Pencatatan DIPA dan
revisi DIPA dilakukan berdasarkan ADK dan dilakukan secara
otomatis oleh SAIBA dengan cara mengimpor data dari Aplikasi
SPM, kecuali untuk estimasi pendapatan yang dialokasikan
dilakukan melalui perekaman secara manual. Hal yang perlu
diperhatikan juga dalam pencatatan revisi DIPA adalah tanggal dan
nomor dokumen DIPA Revisi.

36
Bab
TRANSAKSI PELAKSANAAN
ANGGARAN

4 Transaksi pelaksanaan anggaran meliputi transaksi Belanja/beban,


pendapatan, pengembalian belanja, dan pengembalian pendapatan.

A. BE L AN JA/ BE BA N

Berdasarkan atas kelompok akun pembentuk belanja/beban, maka


klasifikasi belanja/beban, khususnya belanja/beban pada satker
K/L terdiri dari Belanja/Beban Pegawai (akun 51XXXX),
Belanja/Beban Barang (akun 52XXXX), Belanja/Beban Modal (akun
53XXXX), dan Belanja/Beban Bantuan Sosial (akun 57XXXX).
Dokumen sumber untuk pencatatan transaksi belanja/beban pada
aplikasi SAIBA antara lain berupa SPM dan SP2D serta SP2HL dan
SPHL.
Pencatatan transaksi belanja/beban dengan dokumen sumber
tersebut pada aplikasi SAIBA dapat dilakukan dengan 2 (dua)
pilihan cara, yaitu:
1. Input manual dalam daftar SPM dan SP2D serta daftar SP2Hl
dan SPHL, atau
2. Copy SPM/SP2D dari Aplikasi SAS.
Ilustrasi transaksi belanja/beban untuk masing-masing
belanja/beban dijelaskan pada bagian berikut ini.

1. Belanja/Beban Pegawai
Pada tanggal 5 Januari 20x1 satker ABCD mengajukan SPM Gaji
induk bulan Februari ke KPPN sebesar Rp50.000.000,-. Atas belanja
gaji induk tersebut diterbitkan SP2D dengan tanggal 2 Februari
20X1. Berdasarkan atas dokumen sumber berupa SPM dan SP2D
tersebut, Satker ABCD melakukan pencatatan akuntansi melalui
aplikasi SAIBA.
Setelah dilakukan proses posting, jurnal yang terbentuk dalam
aplikasi SAIBA adalah sebagai berikut:

Pencatatan atas belanja pegawai akan terjadi dalam jurnal kas


sedangkan pencatatan atas beban pegawai terjadi dalam jurnal
akrual. Transaksi belanja/beban pegawai ini hanya mempengaruhi
penyajian di LRA, LO, dan LPE, sedangkan Neraca tidak terpengaruh.
Ilustrasi pengaruh pada laporan adalah sebagai berikut:

37
38
2. Belanja/Beban Barang
Pada tanggal 5 Januari 20x1 satker ABCD mengajukan SPM Gaji
induk bulan Februari ke KPPN sebesar Rp50.000.000,-. Atas belanja
gaji induk tersebut diterbitkan SP2D dengan tanggal 2 Februari
20X1. Berdasarkan atas dokumen sumber berupa SPM dan SP2D
tersebut, Satker ABCD melakukan pencatatan akuntansi melalui
aplikasi SAIBA.
Belanja/Beban Barang Yang Tidak Menghasilkan Aset Berupa
Persediaan
Kelompok akun belanja barang (52XXXX) yang tidak menghasilkan
persediaan pada Laporan Operasional akan ter-mapping menjadi
beban-beban sebagai berikut:
a. Beban Barang dan Jasa (untuk belanja barang operasional dan
non operasional yang tidak menghasilkan persediaan);
b. Beban Pemeliharaan (untuk belanja pemeliharaan yang tidak
menghasilkan persediaan dalam rangka pemeliharaan);
c. Beban Perjalanan Dinas (untuk semua belanja perjalanan
dinas)
Pada tanggal 5 Februari 20X1 satker ABCD menerbitkan SPM atas
belanja bahan keperluan kantor, belanja pemeliharaan, dan belanja
perjalanan dinas dengan nilai masing-masing sebesar
Rp200.000.000, Rp150.000.000, dan Rp50.000.000. Atas SPM ini,
KPPN menerbitkan SP2D tanggal 6 Februari 20X1. Pencatatan atas
transaksi ini yaitu sebagai berikut:

39
Transaksi belanja barang tanpa menghasilkan aset berupa
persediaan ini akan berpengaruh pada penyajian di LRA, LO, dan LPE
sedangkan Neraca tidak terpengaruh. Ilustrasi pengaruh transaksi
belanja/beban barang yang tidak menghasilkan persediaan adalah
sebagai berikut:

40
41
Belanja/Beban Barang Menghasilkan Aset Persediaan
Belanja barang yang menghasilkan aset berupa persediaan
merupakan realisasi atas akun belanja barang sebagai berikut:
a) Kelompok akun 5218XX
5218 Belanja Barang Persediaan
52181 Belanja Barang untuk Persediaan
521811 Belanja Barang Persediaan Barang
Konsumsi
521812 Belanja Barang Persediaan Amunisi
521813 Belanja Barang Persediaan Pita Cukai,
Meterai dan Leges
52182 Belanja Barang Persediaan untuk proses produksi
521821 Belanja Barang Persediaan bahan baku
521822 Belanja Barang Persediaan barang dalam
proses
52183 Belanja Barang Persediaan Bahan Lainnya
521831 Belanja Barang Persediaan untuk tujuan
strategis/berjaga-jaga
521832 Belanja Barang Persediaan Lainnya

Pemakaian/penggunaan persediaan yang diperoleh dari akun-


akun tersebut di atas akan ter-mapping dalam Laporan Operasional
sebagai Beban Persediaan.

b).Kelompok akun 5231XX


5231 Belanja Pemeliharaan
52311 Belanja Pemeliharaan Gedung dan Bangunan
523112 Belanja Barang Persediaan Pemelihara-
an Gedung dan Bangunan
52312 Belanja Pemeliharaan Peralatan dan Mesin
523122 Belanja Bahan Bakar Minyak dan Pelu-
mas (BMP) dan Pelumas Khusus Non
Pertamina
523123 Belanja Barang Persediaan Pemelihara-
an Peralatan dan Mesin
52313 Belanja Pemeliharaan Jalan, Irigasi dan Jaringan
523134 Belanja Barang Persediaan Pemelihara-
an Jalan dan Jembatan
523135 Belanja Barang Persediaan Pemelihara-
an Irigasi
523136 Belanja Barang Persediaan Pemelihara-
an Jaringan
52319 Belanja Pemeliharaan Lainnya
523191 Belanja Barang Persediaan Pemelihara-
an Lainnya

Pemakaian/penggunaan persediaan yang diperoleh dari akun-


akun tersebut di atas akan ter-mapping dalam Laporan Operasional
sebagai Beban Pemeliharaan.

42
c).Kelompok akun 526XXX
5261 Belanja Barang Untuk Diserahkan Kepada Masyarakat/
Pemda
52611 Belanja Barang Untuk Diserahkan Kepada
Masyarakat/Pemda
526111 Belanja Tanah Untuk Diserahkan
Kepada Masyarakat/Pemda
526112 Belanja Peralatan dan Mesin Untuk
Diserahkan Kepada Masyarakat/
Pemda
526113 Belanja Gedung dan Bangunan Untuk
Diserahkan Kepada Masyarakat/
Pemda
526114 Belanja Jalan, Irigasi, dan Jaringan
Untuk Diserahkan Kepada
Masyarakat/Pemda
526115 Belanja Barang Fisik Lainnya Untuk
Diserahkan Kepada Masyarakat/
Pemda
5262 Belanja Barang Penunjang Dana Dekonsentrasi dan Tugas
Pembantuan Untuk Diserahkan Kepada Masyarakat/
Pemda
52621 Belanja Barang Penunjang Kegiatan Dana
Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan Untuk
Diserahkan Kepada Masyarakat/Pemda
526211 Belanja Barang Penunjang Kegiatan
Dekonsentrasi Untuk Diserahkan
Kepada Masyarakat/Pemda
526212 Belanja Barang Penunjang Tugas
Pembantuan Untuk Diserahkan
Kepada Masyarakat/Pemda
5263 Belanja Barang Lainnya Untuk Diserahkan Kepada
Masyarakat/Pemda
52631 Belanja Barang Lainnya Untuk Diserahkan
Kepada Masyarakat/Pemda
526311 Belanja Barang Lainnya Untuk
Diserahkan Kepada Masyarakat/
Pemda

Pemakaian/penggunaan persediaan yang diperoleh dari akun-


akun tersebut di atas akan ter-mapping dalam Laporan Operasional
sebagai Beban Barang Untuk Diserahkan Kepada
Masyarakat/Pemda.

Pemakaian/penggunaan persediaan yang diperoleh dari akun-akun


tersebut di atas akan ter-mapping dalam Laporan Operasional
sebagai Beban Barang Untuk Diserahkan Kepada
Masyarakat/Pemda.
Pada tanggal 20 Februari 20X1 satker ABCD menerbitkan SPM atas
belanja persediaan kantor senilai Rp 600.000.000,-. Atas SPM ini,

43
KPPN menerbitkan SP2D tanggal 20 Februari 20X1. Pencatatan atas
transaksi ini yaitu sebagai berikut:

Jurnal Akrual Dr Cr Jurnal Kas Dr Cr


117XXX Persediaan yang 600 5218XX Belanja Barang 600
belum diregister
31XXXX Ditagihkan ke 600 11XXXX Piutang dari 600
entitas lain KUN
(dalam Jutaan Rupiah)

Transaksi realisasi belanja barang yang menghasilkan persediaan


ini akan berpengaruh pada penyajian di LRA, LPE, dan Neraca.
Realisasi belanja ini tidak berpengaruh pada LO.

44
Akun Persediaan yang Belum Diregister pada Neraca akan
tereleminasi setelah dilakukan pengiriman data dari Aplikasi
Persediaan ke Aplikasi SAIBA melalui aplikasi SIMAKBMN. Jurnal
yang terjadi pada aplikasi SAIBA adalah sebagai berikut:
(dalam Jutaan Rupiah)

Jurnal Akrual Dr Cr Jurnal Kas Dr Cr


117XXX Persediaan 600 - - -
31XXXX Persediaan yang 600 - - -
belum diregister

Jurnal di atas ini akan berpengaruh pada penyajian di Neraca


sebagai berikut:

Pemakaian/penggunaan persediaan akan mengurangi jumlah


persediaan. Pemakaian/penggunaan persediaan tersebut akan
membentuk beban pada LO. Beban pada Lotersebut akan terbentuk
pada saat pengiriman data dari aplikasi Persediaan ke aplikasi SAIBA
melalui aplikasi SIMAKBMN.

45
Jika dilihat dari akun pembentuk persediaannya maka pemakaian
atas persediaan dicatat sebagai beban sebagai berikut:
1. Pemakaian atas persediaan yang diperoleh dari kelompok akun
5218XX selanjutnya dicatat sebagai Beban Persediaan
(dalam Jutaan Rupiah)

Jurnal Akrual Dr Cr Jurnal Kas Dr Cr


593XXX Beban Persediaan 100 - - -
117XXX Persediaan 100 - - -

2. Pemakaian atas persediaan yang diperoleh dari kelompok akun


523XXX selanjutnya dicatat sebagai Beban Pemeliharaan
(dalam Jutaan Rupiah)

Jurnal Akrual Dr Cr Jurnal Kas Dr Cr


523XXX Beban Pemeliharaan 100 - - -
117XXX Persediaan 100 - - -

3. Pemakaian atas persediaan yang diperoleh dari kelompok akun


526XXX selanjutnya dicatat sebagai Beban Barang untuk
Diserahkan Kepada Masyarakat/Pemda
(dalam Jutaan Rupiah)

Jurnal Akrual Dr Cr Jurnal Kas Dr Cr


526XXX Beban Barang Utk 100 - -
Diserahkan kpd
Masy./Pemda -
117XXX Persediaan 100 - - -

3. Belanja Modal
Pada tanggal 5 Juni 20X1 satker ABCD membeli aset tetap peralatan
dan mesin seharga Rp600.000.000. Atas transaksi ini diajukan SPM
tanggal 6 Juni 20X1 dan diterbitkan SP2D tanggal 7 Juni 20X1. Atas
transaksi ini, maka dicatat sebagai berikut:
(dalam Jutaan Rupiah)

Jurnal Akrual Dr Cr Jurnal Kas Dr Cr


139XXX Peralatan dan 600 53XXXX Belanja Modal 600
Mesin yang belum
diregister
31XXXX Ditagihkan ke 600 11XXXX Piutang dari 600
entitas lain KUN

Atas pencatatan transaksi belanja modal ini akan berpengaruh pada


penyajian di LRA, LPE, dan Neraca sebagai berikut:

46
47
Aset Tetap berupa perlatan dan mesin tersebut dicatat dalam
aplikasi SIMAKBMN. Akun Peralatan dan Mesin yang Belum
Diregister pada Neraca akan tereleminasi setelah dilakukan
pengiriman data dari Aplikasi SIMAKBMN ke Aplikasi SAIBA. Jurnal
yang terjadi pada aplikasi SAIBA adalah sebagai berikut:
(dalam Jutaan Rupiah)

Akrual Dr Cr Kas Dr Cr
13XXXX Peralatan dan 600 - -
Mesin -
139XXXX Peralatan dan 600 - - -
Mesin yang
belum diregister

Atas pencatatan transaksi di atas maka berpengaruh pada


penyajian di Neraca sebagai berikut:

48
4. Belanja/Beban Bantuan Sosial
Pada tanggal 5 Juni 20X1 satker ABCD membeli aset tetap peralatan
dan mesin seharga Rp600.000.000. Atas transaksi ini diajukan SPM
tanggal 6 Juni 20X1 dan diterbitkan SP2D tanggal 7 Juni 20X1. Atas
transaksi ini, maka dicatat sebagai berikut:
Belanja/Beban Bantuan Sosial Yang Tidak Menghasilkan Aset
Berupa Persediaan
Pada tanggal 5 Juli 20X1 satker ABCD menerbitkan SPM atas
belanja bantuan sosial dengan nilai masing-masing sebesar
Rp200.000.000. Atas SPM ini, KPPN menerbitkan SP2D tanggal 6
Juli 20X1. Pencatatan atas transaksi ini yaitu sebagai berikut:
(dalam Jutaan Rupiah)

Jurnal Akrual Dr Cr Jurnal Kas Dr Cr


57XXXX Beban Bantuan 200 57XXXX Belanja 200
Sosial Bantuan Sosial
31XXXX Ditagihkan ke 200 11XXXX Piutang dari 200
entitas lain KUN

Transaksi belanja/beban bantuan sosial tanpa menghasilkan aset


berupa persediaan ini akan berpengaruh pada penyajian di LRA, LO
dan LPE.

49
50
51
Belanja Bantuan Sosial Menghasilkan Aset Persediaan
Belanja bantuan sosial yang menghasilkan aset berupa persediaan
merupakan realisasi atas kelompok akun belanja bantuan sosial
57X112 meliputi 571112, 572112, 573112, 574112, 575112,
576112.
57 Belanja Bantuan Sosial
571112 Belanja Bantuan Sosial Untuk Rehabilitasi Sosial
Dalam Bentuk Barang/Jasa
572112 Belanja Bantuan Sosial Untuk Jaminan Sosial Dalam
Bentuk Barang/Jasa
573112 Belanja Bantuan Sosial Untuk Pemberdayaan Sosial
Dalam Bentuk Barang/Jasa
574112 Belanja Bantuan Sosial Untuk Perlindungan Sosial
Dalam Bentuk Barang/Jasa
575112 Belanja Bantuan Sosial Untuk Penanggulangan
Kemiskinan Sosial Dalam Bentuk Barang/Jasa
576112 Belanja Bantuan Sosial Untuk Penanggulangan
Bencana Dalam Bentuk Barang/Jasa

Pada tanggal 20 Juli 20X1 satker ABCD menerbitkan SPM atas


belanja bantuan sosial yang menghasilkan persediaan kantor
senilai Rp 600.000.000,-. Atas SPM ini, KPPN menerbitkan SP2D
tanggal 20 Juli 20X1. Pencatatan atas transaksi ini yaitu sebagai
berikut:
(dalam Jutaan Rupiah)

Jurnal Akrual Dr Cr Jurnal Kas Dr Cr


117XXX Persediaan yang 600 57XXXX Belanja 600
belum diregister Bantuan Sosial
31XXXX Ditagihkan ke 600 11XXXX Piutang dari 600
entitas lain KUN

Transaksi realisasi belanja bantuan sosial yang menghasilkan aset


persediaan ini akan berpengaruh pada penyajian di LRA, LPE, dan
Neraca sebagai berikut:

52
53
Akun Persediaan yang Belum Diregister pada Neraca akan
tereleminasi setelah dilakukan pengiriman data dari Aplikasi
Persediaan ke Aplikasi SAIBA melalui aplikasi SIMAKBMN. Jurnal
yang terjadi pada aplikasi SAIBA adalah sebagai berikut:
(dalam Jutaan Rupiah)

Akrual Dr Cr Kas Dr Cr
117XXX Persediaan 600 - - -
31XXXX Persediaan yang 600 - - -
belum diregister

Jurnal di atas ini akan berpengaruh pada penyajian di Neraca


sebagai berikut:

54
Pemakaian/penggunaan persediaan bantuan sosial akan mengurangi
jumlah persediaan bantuan sosial. Pemakaian atas persediaan
bantuan sosial yang selanjutnya dicatat sebagai Beban Bantuan
Sosial.
(dalam Jutaan Rupiah)

Jurnal Akrual Dr Cr Jurnal Kas Dr Cr


57XXXX Beban Bantuan 100 - -
Sosial -
117XXX Persediaan 100 - - -

5. Permintaan/Pemberian Uang Persediaan (UP)


Pada tanggal 12 Februari 20X1 Satker ABCD mengajukan SPM UP
kepada KPPN sebesar Rp90.000.000. Atas SPM tersebut, KPPN
menerbitkan SP2D pada tanggal 12 Februari 20X1. Atas transaksi
ini, maka dilakukan pencatatan sebagai berikut:
(dalam Jutaan Rupiah)

Akrual Dr Cr Kas Dr Cr
1116XX Kas di Bendahara 90 - -
Pengeluaran -
219XXX Uang Muka dari 90 - - -
KPPN

Atas pencatatan permintaan/pemberian uang persediaan tersebut


hanya berpengaruh pada penyajian di Neraca sebagai berikut:

6. Pertanggungjawaban Uang Persediaan (UP)


Pada Tanggal 20 Desember 20X1 satker ABCD
mempertanggungjawabkan uang persediaan yang digunakan untuk
belanja barang berupa pemeliharaan gedung dan bangunan yang
dilakukan secara penihilan dengan melakukan potongan pada SPM
Pertanggungjawaban Uang Persediaan sebesar Rp80.000.000, dan
sisanya sebesar Rp10.000.000 disetor melalui SSBP pada tanggal 22
Desember 20X1. Atas transaksi ini, maka dilakukan penjurnalan
sebagai berikut:

55
1. Pertanggungjawaban Uang Persediaan (SPM/SP2D UP/TUP
Nihil) Realisasi Belanja
(dalam Jutaan Rupiah)

Jurnal Akrual Dr Cr Jurnal Kas Dr Cr


52XXXX Beban 80 52XXXX 80
Pemeliharaan Belanja Barang
31XXXX Ditagihkan ke 80 11XXXX Piutang dari 80
entitas lain KUN

2. Pertanggungjawaban Uang Persediaan (SPM/SP2D UP/TUP


Nihil) Potongan SPM
(dalam Jutaan Rupiah)

Jurnal Akrual Dr Cr Jurnal Kas Dr Cr


219XXX Uang Muka dari 80 - -
KPPN -
1116XX Kas di Bendahara 80 - - -
Pengeluaran

Atas pencatatan pertanggungjawaban uang persediaan tanpa


pengisian kembali (revolving) uang persediaan ini pengaruh pada
penyajian di LRA. LO, LPE dan Neraca sebagai berikut:

56
57
3. Penyetoran Sisa Uang Persediaan Setoran SSBP
(dalam Jutaan Rupiah)

Jurnal Akrual Dr Cr Jurnal Kas Dr Cr


219XXX Uang Muka dari 10 - -
KPPN -
1116XX Kas di Bendahara 10 - - -
Pengeluaran

Atas transaksi penyetoran sisa uang persediaan ini hanya


berpengaruh pada penyajian di Neraca yaitu berkurangnya kas di
bendahara pengeluaran.

58
B. RE A LI S AS I PE N D A PA TA N ( P NB P)
Pada tanggal 30 Agustus 20X1 terdapat penerimaan berupa
pendapatan sewa ruangan senilai Rp100.000.000,00 dan telah
disetorkan ke kas negara oleh Bendahara Penerimaan
menggunakan SSBP, maka SSBP sebagai bukti setornya akan
dijurnal sebagai berikut:
(dalam Jutaan Rupiah)

Jurnal Akrual Dr Cr Jurnal Kas Dr Cr


313XXX Diterima dari 100 219XXX Utang 100
entitas lain kepada KUN
42XXXX PNBP lainnya 100 42XXX PNBP 100
lainnya

Atas transaksi penyetoran pendapatan penjualan peta ke rekening


kas Negara ini mempengaruhi penyajian di LO, LRA, dan LPE.

59
60
C. TR AN SA K SI PE NG E M BA LI AN BE LA NJ A

1. Transaksi Pengembalian Belanja Tahun Anggaran Berjalan


Terdapat pengembalian belanja pegawai tahun anggaran
berjalan sebesar Rp5.000.000,00 dan telah disetorkan ke kas
negara menggunakan SSPB, maka SSPB sebagai bukti setornya
akan dijurnal sebagai berikut:
(dalam Jutaan Rupiah)

Jurnal Akrual Dr Cr Jurnal Kas Dr Cr


313XXX Diterima dari 5 219XXX Utang 5
entitas lain Kepada KUN
51XXXX Beban 5 51XXX Belanja 5
Pegawai Pegawai

Atas transaksi pengembalian belaja pegawai tahun anggaran


berjalan ini mempengaruhi penyajian di LO, LRA, dan LPE.

61
2. Transaksi Pengembalian Belanja Tahun Anggaran Yang Lalu
Terdapat penerimaan berupa pengembalian belanja pegawai
tahun anggaran yang lalu senilai Rp10.000.000,00 dan telah
disetorkan ke kas negara oleh Bendahara Pengeluaran
menggunakan SSBP, maka SSBP sebagai bukti setornya akan
dijurnal sebagai berikut:
(dalam Jutaan Rupiah)

Jurnal Akrual Dr Cr Jurnal Kas Dr Cr


313XXX Diterima dari 10 219XXX Utang 10
entitas lain kepada KUN
42XXXX PNBP lainnya 10 42XXX PNBP 10
lainnya

62
Atas transaksi pengembalian belanja pegawai tahun anggaran
yang lalu ini mempengaruhi penyajian di LRA, LO, dan LPE.

63
D. TR AN SA K SI PE NG E M BA LI AN PE N DA P AT AN
Terdapat pengembalian pendapatan senilai Rp10.000.000,00 yang
telah disetorkan ke kas negara oleh Bendahara Penerimaan.
Berdasarkan SPM/SP2D Pengembalian Pendapatan maka akan
dijurnal sebagai berikut:
(dalam Jutaan Rupiah)

Jurnal Akrual Dr Cr Jurnal Kas Dr Cr


42XXXX PNBP lainnya 10 42XXXX PNBP 10
lainnya
313XXX Diterima dari 10 219XXX Utang 10
entitas lain kepada
KUN

Atas transaksi pengembalian pendapatan ini maka akan


mempengaruhi penyajian di LRA, LO, dan LPE.

64
65
Bab
Transaksi Terkait Barang Milik
Negara

5 Penginputan data Barang Milik Negara (BMN) pada Aplikasi Sistem


Manajemen dan Akuntansi Barang Milik Negara (SIMAK-BMN)
berdampak pada pemutakhiran angka yang disajikan pada Neraca
dan Laporan Operasional . Pada akuntansi basis akrual, transaksi
yang terkait BMN meliputi persediaan dan penggunaan persediaan,
aset tetap /aset lainnya, serta penyusutan dan amortisasi.

Beberapa peraturan yang menjadi dasar hukum dari implementasi


SIMAK-BMN dan Persediaan, baik pengaturan Belanja Modal
maupun Penatausahaan BMN, diantaranya adalah:

1. Undang Undang No. 17 tahun 2003 tentang Keuangan Negara


2. Undang-undang No. 1 tahun 2004 tentang Perbendaharaan
Negara
3. Undang-undang No. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan
Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah
4. Peraturan Pemerintah No. 71 Tahun 2010 tentang Standar
Akuntansi Pemerintahan
5. Peraturan Pemerintah No. 27 Tahun 2014 tentang Pengelolaan
Barang Milik Negara/Daerah
6. Peraturan Menteri Keuangan No.213/PMK.05/2013 tentang
Sistem Akuntansi dan Pelaporan Keuangan Pemerintah Pusat
7. Peraturan Menteri Keuangan No. 214/PMK.05/2013 tentang
Bagan Akun Standar
8. Peraturan Menteri Keuangan No. 215/PMK.05/2013 tentang
Jurnal Akuntansi Pemerintahan pada Pemerintah Pusat
9. Peraturan Menteri Keuangan No. 219/PMK.05/2013 tentang
Kebijakan Akuntansi Pemerintah Pusat
10. Peraturan Menteri Keuangan No. 270/PMK.05/2014 tentang
Penerapan SAP Berbasis Akrual
11. Peraturan Menteri Keuangan No. 29/PMK.06/2010 tentang
Penggolongan dan Kodefikasi Barang Milik Negara
12. Peraturan Menteri Keuangan No. 120/PMK.06/2007 tentang
Penatausahaan Barang Milik Negara
13. Peraturan Menteri Keuangan No. 90/PMK.06/2014 tentang
Penyusutan Barang Milik Negara Berupa Aset Tetap Pada
Entitas Pemerintah Pusat

66
14. Keputusan Menteri Keuangan No. 59/KM.6/2013 ttg Tabel
Masa Manfaat dalam rangka penyusutan BMN berupa Aset
Tetap pada Entitas Pemerintah Pusat
15. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 104/PMK.06/2015 ttg
Perubahan Kedua PMK No 125/PMK.06/2011 ttg Pengelolaan
BMN yang Berasal dari Dana DK/TP sebelum TA 2011
16. Peraturan Menteri Keuangan Nomor No 125/PMK.06/2011 ttg
Pengelolaan BMN yang Berasal dari Dana DK/TP sebelum TA
2011
17. Keputusan Menteri Keuangan No. 128/KM.6/2015 ttg Modul
Penyusutan BMN berupa Aset Tetap pada Entitas Pemerintah
Pusat
18. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 177/PMK.05/2015 ttg
Pedoman Penyusunan dan Penyampaian Laporan Keuangan
Kementerian Negara/Lembaga

Tujuan dari penatausahaan BMN adalah untuk mewujudkan tertib


administrasi dan mendukung tertib pengelolaan BMN. Sementara
itu ruang lingkup dari penatausahaan BMN meliputi kegiatan
pembukuan, inventarisasi, dan pelaporan BMN.

Ruang lingkup dan sasaran dari penatausahaan BMN meliputi


kegiatan pembukuan, inventarisasi, dan pelaporan BMN. Sementara
sasaran penatausahaan BMN meliputi semua barang yang dibeli
atau diperoleh atas beban Anggaran Pendapatan dan Belanja
Negara (APBN), semua barang yang berasal dari perolehan lainnya
yang sah yaitu barang yang diperoleh dari hibah/sumbangan atau
yang sejenisnya, barang yang diperoleh sebagai pelaksanaan
perjanjian/ kontrak, barang yang diperoleh berdasarkan ketentuan
undang-undang, barang yang diperoleh berdasarkan putusan
pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap.

Pihak-pihak yang melaksanakan penatausahaan BMN adalah Kuasa


Pengguna Barang/Pengguna Barang dan Pengelola Barang.
Penatausahaan BMN pada Pengguna Barang dilaksanakan oleh Unit
Penatausahaan Kuasa Pengguna Barang (UPKPB) yaitu unit yang
melakukan penatausahaan BMN pada tingkat satuan kerja/Kuasa
Pengguna Barang, Unit Penatausahaan Pengguna Barang-Wilayah
(UPPB-W) yaitu unit yang membantu melakukan penatausahakan
BMN pada tingkat wilayah atau unit kerja lain yang ditetapkan
sebagai UPPB-W oleh Pengguna Barang, Unit Penatausahaan
Pengguna Barang Eselon I (UPPB-E1) yaitu unit organisasi yang
membantu melakukan penatausahaan BMN pada tingkat Eselon I
Pengguna Barang, Unit Penatausahaan Pengguna Barang (UPPB)
yaitu unit yang melakukan penatausahaan BMN pada Pengguna
Barang. Sementara itu Penatausahaan BMN pada Pengelola Barang
dilaksanakan oleh KPKNL, Kanwil DJKN, dan DJKN.

67
Dalam pelaksanaan penatausahaan BMN dibuat penggolongan dan
kodefikasi untuk setiap satuan BMN. Penggolongan dan kodefikasi
BMN ditetapkan melalui Peraturan Menteri Keuangan. Sementara
itu tata cara pelaksanaan pembukuan, penggolongan dan kodefikasi
BMN diatur lebih lanjut dalam Lampiran Peraturan Menteri
Keuangan 120/PMK.06/2007 tentang Penatausahaan Barang Milik
Negara Barang Milik Negara.

Nama BMN dirumuskan dalam suatu tabel BMN, dilambangkan


dalam bentuk kode angka dan dibakukan dalam PMK. Apabila ada
barang yang belum tercantum dalam lampiran PMK maka
Menteri/Pimpinan Lembaga mengusulkan kepada Menteri cq.
Direktur Jenderal Kekayaan Negara. Setelah adanya usulan dari
Menteri/Pimpinan Lembaga maka Direktur Jenderal Kekayaan
Negara melakukan kajian bersama Kementerian Negara/Lembaga
atas usulan penambahan kode BMN. Dalam hal berdasarkan kajian
usulan dinilai layak, Direktur Jenderal Kekayaan Negara atas nama
Menteri menetapkan pencantuman Barang Milik Negara dalam
Penggolongan dan Kodefikasi Barang.

A. PE RSE D IA AN DA N BE B AN P E R SE DI A AN
Barang Milik Negara (BMN) sesuai dengan definisi Peraturan
Menteri Keuangan nomor 120/PMK.06/2007 tentang
Penatausahaan Barang Milik Negara adalah semua barang yang
dibeli atau diperoleh atas beban Anggaran Pendapatan dan Belanja
Negara (APBN) atau berasal dari perolehan lain yang sah. Lebih
lanjut PMK ini menjelaskan bahwa barang yang berasal dari
perolehan lainnya yang sah meliputi barang yang diperoleh dari
hibah/sumbangan atau yang sejenis, barang yang diperoleh sebagai
pelaksanaan dari perjanjian/kontrak, barang yang diperoleh
berdasarkan ketentuan undang-undang, barang yang diperoleh
berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh ketentuan
hukum tetap. Barang persediaan merupakan bagian dari BMN yang
dimaksudkan untuk mendukung kegiatan operasional pemerintah,
dan barang-barang yang dimaksudkan untuk dijual dan/atau
diserahkan dalam rangka pelayanan kepada masyarakat.

Barang persediaan dapat berupa:

Digunakan Dijual/Diserahkan
Pemerintah
dalam kepada
memroduksi
Operasional Masyarakat dalam
sendiri
pemerintah rangka keg.

68
pemerintah
Bahan - Persediaan -

Barang jadi - Persediaan -

Barang siap
Persediaan - Persediaan
pakai

Persediaan mencakup barang atau perlengkapan yang dibeli dan


disimpan untuk digunakan, misalnya:

barang habis pakai seperti alat tulis kantor,


barang tak habis pakai seperti komponen peralatan dan pipa,
dan
barang bekas pakai seperti komponen bekas.

Suatu barang dibukukan atau dicatat sebagai barang persediaan


oleh entitas pemerintah bilamana (a) potensi manfaat ekonomi
masa depan diperoleh pemerintah dan mempunyai nilai atau biaya
yang dapat diukur dengan andal, (b) diterima atau hak
kepemilikannya dan/ atau kepenguasaannya berpindah. Maka
setiap pembukuan atau pencatatan barang persediaan ke Aplikasi
Persediaan didasari oleh dokumen Berita Acara Serah Terima
barang persediaan.

Dalam hal barang persediaan diperoleh atas beban APBN, akun


yang digunakan mengikuti Keputusan Direktur Jenderal
Perbendaharaan nomor 311/PB/2014 tentang Kodefikasi Segmen
Akun pada Bagan Akun Standar, sedangkan substansi penggunaan
akun untuk memperoleh barang persediaan tersebut dirinci melalui
surat Direktur Akuntansi dan Pelaporan Keuangan nomor S-
6478/PB.6/2015 tentang Penggunaan Akun Belanja yang
menghasilkan Persediaan.

69
Contoh pilihan penggunaan akun belanja yang menghasilkan
barang persediaan :

Uraian Klasifikasi Keterangan


Pengadaan seminar
a. perencanaan
kit untuk peserta
pengadaan
diklat oleh Badan Belanja Barang
secara kontinu/
Pendidikan dan Persediaan
berkelanjutan
Pelatihan Keuangan Konsumsi
b. tidak habis
yang dapat dipakai (521811)
dalam sekali
untuk beberapa kali
kegiatan diklat
kegiatan diklat.
c. perencanaan
Pengadaan seminar pengadaan
kit untuk kegiatan hanya untuk satu
Belanja Bahan
Sosialisasi Aplikasi kali kegiatan saja
(521211)
SAIBA oleh KPPN d. habis dalam
Jakarta II. sekali kegiatan
sosialisasi
Pengadaan Belanja Barang
perlengkapan gedung Persediaan e. tidak habis
seperti engsel pintu, untuk dalam sekali
kunci, lampu, dll Pemeliharaan pakai, sifatnya
untuk pemeliharaan Gedung dan cadangan atau
gedung kantor oleh Bangunan berjaga-jaga
KPPN Klaten. (523112)
Service rutin dan
Belanja
ganti oli untuk
Pemeliharaan
kendaraan dinas di f. habis dalam
Peralatan dan
bengkel resmi oleh sekali pakai
Mesin
Sekretariat Ditjen
(523121)
SDPPI.
Belanja Barang
Pembelian oli
Persediaan g. tidak habis
pelumas dan BBM
untuk dalam sekali
untuk peralatan
Pemeliharaan pakai, sifatnya
genset oleh pengelola
Peralatan dan cadangan atau
Gedung Keuangan
Mesin berjaga-jaga
Negara.
(523123)

70
Barang persediaan dinilai dengan pengukuran saat
perolehan/proses produksi/hibah, sesuai:

Pemerintah
Pembelian memroduksi Hibah
sendiri
Harga
Barang
- Pokok/Biaya -
jadi
Produksi
- Biaya
Barang siap Biaya
- perolehan
pakai perolehan
- Nilai Wajar

Barang persediaan disajikan di Laporan Keuangan dapat dinilai


sesuai metode:

1. Metode sistematis seperti FIFO atau rata-rata tertimbang

2. Harga pembelian terakhir apabila setiap unit persediaan


nilainya tidak material dan bermacam-macam jenis.

Pencatatan barang persediaan dilakukan secara perpetual, maka


pengukuran pemakaian persediaan dihitung berdasarkan catatan
jumlah unit yang dipakai dikalikan nilai per unit sesuai metode
penilaian yang digunakan. Pemakaian barang persediaan dicatat
sebagai beban persediaan.

Perhitungan beban persediaan dan penyajian nilai persediaan di


Laporan Keuangan menggunakan pendekatan metode penilaian
persediaannya.

Langkah-langkah proses penggunaan Aplikasi Persediaan untuk


mencatat penatausahaan Persediaan:

1. Install atau pemasangan aplikasi Persediaan yang terdiri dari


dua pemasangan, yaitu:
a. Meng-install database yang menjadi tempat data atas
catatan mutasi barang persediaan (setelah diinstall akan
ditemukan file dbbmn10 pada direktori c:\Program Files)

b. Meng-install aplikasi atau file format exe yang digunakan


untuk menjalankan program aplikasi Persediaan berbasis
Sistem Operasi Windows

Baca petunjuk peng-install-an atau update dapat diperoleh dari


file readme.txt yang menyertai file installer atau updater

71
2. Penggunaan aplikasi Persediaan berbasis akrual menggunakan
database yang di-install pertama kali aplikasi Persediaan
digunakan, sehingga database aplikasi Persediaan perlu
dilakukan update agar dapat menghasilkan jurnal akuntansi.
3. Setelah install dan update database, kemudian dilakukan install
aplikasi persediaan dan masuk dengan user admin dan
password admin hingga ke tampilan gambar 1.

Gambar 1

4. Buatlah user atau nama pengguna aplikasi yang menunjukkan


identitas satuan kerjanya atau entitas akuntansinya.
Pembuatan user dengan langkah berikut:

a. Pemutakhiran referensi tabel-tabel (UAPB, UAPPB-E1,


UAPPB-Wilayah, UAKPB) untuk memberikan identitas
satuan kerjanya (gambar 2).

72
Gambar 2

b. Pemutakhiran user dengan menu utility setup user untuk


membuat username dan password operator aplikasi
persediaan (gambar 3).

Gambar 3

5. Masuklah ke dalam aplikasi Persediaan dengan menggunakan


username dan password yang telah dibuat. Pastikan identitas
satuan kerja pada tampilan aplikasi persediaan sesuai dengan
seharusnya (gambar 4).

73
Gambar 4

6. Agar aplikasi persediaan dapat diinput dengan data transaksi


pembelian barang persediaan berdasarkan BAST dan
penggunaan barang persediaan, maka perlu dibuat atau
dimutakhirkan tabel barang melalui menu Referensi Tabel
Barang, kemudian dibuatlah nama barang dengan kodenya
dalam sub-sub kelompok (SSKEL.BRG) barang persediaan
(gambar 5).

Gambar 5

74
7. Setelah memulai input data transaksi pada aplikasi persediaan
dengan pembuatan atau pemutakhiran tabel barang melalui
menu Referensi Tabel Barang, dilanjutkan dengan data
transaksi Persediaan Masuk (Saldo Awal, Pembelian, Transfer
Masuk, Hibah Masuk, Rampasan, dan Perolehan lainnya) seperti
gambar 6.

Gambar 6

Saldo awal: Mencatat setiap unit barang persediaan sesuai dengan


kodefikasi pada tabel barang yang diperoleh sebelum tahun atau
periode berjalan namun barangnya baru ditemukan di periode
berjalan.

Contoh jurnal yang dibentuk saat ADK kiriman ke Aplikasi SIMAK


BMN diproses:

Kode Nama Jenis


Debet Kredit
Perkiraan Perkiraan Transaksi
117xxx Barang M01 100,000
Konsumsi
3xxxxx Koreksi Nilai M01 100,000
Persediaan

Pembelian: Mencatat setiap unit barang persediaan sesuai dengan


kodefikasi pada tabel barang yang diperoleh selama tahun atau
periode berjalan dengan dasar pencatatan Berita Acara Serah
Terima Barang dilengkapi dengan faktur/nota pembelian barang.

75
Contoh jurnal yang dibentuk saat ADK kiriman ke Aplikasi SIMAK
BMN diproses:

Kode Nama Jenis


Debet Kredit
Perkiraan Perkiraan Transaksi
117xxx Barang M02 100,000
Konsumsi
117xxx Persediaan M02 100,000
belum
diregister

Transfer Masuk: Mencatat setiap unit barang persediaan sesuai


dengan kodefikasi pada tabel barang yang diperoleh dari entitas
lain sesama entitas pengguna barang Pemerintah Pusat selama
tahun atau periode berjalan dengan dasar pencatatan Berita Acara
Serah Terima Barang.

Contoh jurnal yang dibentuk saat ADK kiriman ke Aplikasi SIMAK


BMN diproses:

Nama Jenis
Kode Perkiraan Debet Kredit
Perkiraan Transaksi
117xxx Barang M03 100,000
Konsumsi
3xxxxx Transfer M03 100,000
Masuk

Hibah Masuk: Mencatat setiap unit barang persediaan sesuai


dengan kodefikasi pada tabel barang yang diperoleh dari entitas
lain di luar entitas pengguna barang Pemerintah Pusat selama
tahun atau periode berjalan dengan dasar pencatatan Berita Acara
Serah Terima Barang.

Contoh jurnal yang dibentuk saat ADK kiriman ke Aplikasi SIMAK


BMN diproses:

Kode Nama Jenis


Debet Kredit
Perkiraan Perkiraan Transaksi
117xxx Barang M04 100,000
Konsumsi
117xxx Persediaan M04 100,000
belum diregis-
ter

76
Rampasan: Mencatat setiap unit barang persediaan sesuai dengan
kodefikasi pada tabel barang yang diperoleh dengan cara rampasan
oleh Negara/Pemerintah Pusat selama tahun atau periode berjalan
dengan dasar pencatatan berupa dokumen keputusan atas barang
rampasan.

Contoh jurnal yang dibentuk saat ADK kiriman ke Aplikasi SIMAK


BMN diproses:

Kode Nama Jenis


Debet Kredit
Perkiraan Perkiraan Transaksi
117xxx Barang M05 100,000
Konsumsi
4xxxxx Pendapatan M05 100,000
Sitaan/Ram-
pasan

Perolehan Lainnya: Mencatat setiap unit barang persediaan sesuai


dengan kodefikasi pada tabel barang yang diperoleh dengan cara
selain pembelian, transfer masuk, hibah, dan rampasan selama
tahun atau periode berjalan.

Contoh jurnal yang dibentuk saat ADK kiriman ke Aplikasi SIMAK


BMN diproses:

Kode Nama Jenis


Debet Kredit
Perkiraan Perkiraan Transaksi
117xxx Barang M06 100,000
Konsumsi
4xxxxx Pendapatan M06 100,000
Perolehan
Lainnya

8. Selain input data transaksi pada aplikasi persediaan bila ada


transaksi Persediaan Masuk, operator harus menginput
transaksi penggunaan/pemanfaatan/usang/rusak/pengha-
pusan (Habis Pakai, Transfer Keluar, Hibah Keluar, Usang, Rusak,
dan Penghapusan Lainnya) seperti gambar 7.

77
Gambar 7

Habis Pakai: Mencatat setiap unit barang persediaan sesuai


dengan kodefikasi pada tabel barang yang digunakan atau diminta
oleh unit pengguna selama tahun atau periode berjalan dasar
pencatatan dokumen permintaan/penggunaan barang persediaan.

Contoh jurnal yang dibentuk saat ADK kiriman ke Aplikasi SIMAK


BMN diproses:

Kode Nama Jenis


Debet Kredit
Perkiraan Perkiraan Transaksi
539xxx Beban K01 50,000
Persediaan*
117xxx Barang K01 50,000
Konsumsi**

*beban persediaan termasuk beban pemeliharaan, beban barang


untuk dijual/diserahkan kepada masyarakat/ pemerintah daerah,
beban persediaan untuk tujuan strategis/berjaga-jaga, dan beban
bantuan sosial.
**pasangan jurnal disesuaikan dengan bebannya seperti: barang
persediaan, barang untuk pemeliharaan, barang untuk
dijual/diserahkan kepada masyarakat/pemerintah daerah, barang
untuk tujuan strategis/berjaga-jaga, dan barang dalam rangka
bantuan sosial.

Transfer Keluar: Mencatat setiap unit barang persediaan sesuai


dengan kodefikasi pada tabel barang yang diberikan ke entitas lain

78
sesama entitas pengguna barang Pemerintah Pusat selama tahun
atau periode berjalan dasar pencatatan Berita Acara Serah Terima
Barang.

Contoh jurnal yang dibentuk saat ADK kiriman ke Aplikasi SIMAK


BMN diproses:

Kode Nama Jenis


Debet Kredit
Perkiraan Perkiraan Transaksi
3xxxxx Transfer K02 50,000
Keluar
117xxx Barang K02 50,000
Konsumsi

Hibah Keluar: Mencatat setiap unit barang persediaan sesuai


dengan kodefikasi pada tabel barang yang diberikan ke entitas lain
di luar entitas pengguna barang Pemerintah Pusat selama tahun
atau periode berjalan dengan dasar pencatatan Berita Acara Serah
Terima Barang.

Contoh jurnal yang dibentuk saat ADK kiriman ke Aplikasi SIMAK


BMN diproses:

Kode Nama Jenis


Debet Kredit
Perkiraan Perkiraan Transaksi
5xxxxx Beban barang K03 50,000
untuk dijual
/diserahkan
kepada ma-
syarakat/pemda
117xxx Barang K03 50,000
Konsumsi

Usang: Mencatat setiap unit barang persediaan sesuai dengan


kodefikasi pada tabel barang yang diidentifikasi berdasarkan
fisiknya telah usang selama tahun atau periode berjalan dengan
dasar pencatatan berupa dokumen pernyataan barang persediaan
usang dari kepala satuan kerja.

Contoh jurnal yang dibentuk saat ADK kiriman ke Aplikasi SIMAK


BMN diproses:

Kode Nama Jenis


Debet Kredit
Perkiraan Perkiraan Transaksi

79
5xxxxx Beban K04 50,000
Kerugian
persediaan
rusak
berat/usang
117xxx Barang K04 50,000
Konsumsi

Rusak: Mencatat setiap unit barang persediaan sesuai dengan


kodefikasi pada tabel barang yang ditemukan fisiknya telah rusak
selama tahun atau periode berjalan dengan dasar pencatatan
berupa dokumen pernyataan barang persediaan rusak dari kepala
satuan kerja.

Contoh jurnal yang dibentuk saat ADK kiriman ke Aplikasi SIMAK


BMN diproses:

Kode Nama Jenis


Debet Kredit
Perkiraan Perkiraan Transaksi
5xxxxx Beban K05 50,000
Kerugian
persedia-an
rusak
berat/usang
117xxx Barang K05 50,000
Konsumsi

Penghapusan Lainnya: Mencatat setiap unit barang persediaan


sesuai dengan kodefikasi pada tabel barang yang dihapuskan dari
pembukuan/catatan dengan cara selain habis pakai, transfer keluar,
hibah keluar, usang, dan rusak selama tahun atau periode berjalan.

80
Contoh jurnal yang dibentuk saat ADK kiriman ke Aplikasi SIMAK
BMN diproses:

Kode Nama Jenis


Debet Kredit
Perkiraan Perkiraan Transaksi
117xxx Barang K06 100,000
Konsumsi
4xxxxx Pendapatan K06 100,000
Perolehan
Lainnya Aset

9. Koreksi dapat dilakukan bila terdapat kesalahan pada saat


penginputan data transaksi persediaan melalui menu Transaksi
Koreksi. Mencatat koreksi untuk setiap unit barang persediaan
sesuai dengan kodefikasi pada tabel barang yang akan dikoreksi
dalam pembukuan/catatan. Elemen data yang diinput saat
koreksi sesuai dengan gambar 8

Gambar 8

10.Saat hasil opname fisik menunjukan jumlah unit barang per item
yang berbeda dengan catatan maka gunakan menu Transaksi
Hasil Opname Fisik. Mencatat hasil opname fisik untuk setiap
unit barang persediaan sesuai dengan kodefikasi pada tabel
barang yang akan diperbaiki jumlah unit per item barang dalam
pembukuan/catatan. Elemen data yang diinput saat mencatat
hasil opname fisik sesuai dengan gambar 9

81
Gambar 9

11.Barang persediaan yang ditemukan dalam keadaan rusak


maupun usang dapat dilakukan penghapusan dari
pembukuan/catatan. Penghapusan barang persediaan rusak
maupun usang setelah mendapat persetujuan dicatat melalui
menu Transaksi Penghapusan Usang/Rusak. Mencatat data
barang usang maupun rusak yang akan dihapus dilakukan atas
setiap unit barang persediaan sesuai dengan kodefikasi pada
tabel barang yang akan dihapus sesuai jumlah unit per item
barang rusak maupun usang dalam pembukuan/ catatan.
Elemen data yang diinput saat penghapusan barang usang
maupun rusak sesuai dengan gambar 10.

82
Gambar 10

12.Kodefikasi barang persediaan hingga sub-sub kelompok barang


mengikuti Peraturan Menteri Keuangan, ketika terjadi
perubahan penggolongan dan kodefikasi tersebut maka
diperlukan migrasi data pembukuan/catatan persediaan ke
kodefikasi yang baru. Hal ini pernah terjadi saat terbit Peraturan
Menteri Keuangan nomor 29/PMK.06/2010 tentang
Penggolongan dan Kodefikasi Barang Milik Negara. Konversi
hasil migrasi dari kodefikasi lama ke baru diperlukan agar
pembukuan sesuai dengan peraturan menteri keuangan tentang
penggolongan dan kodefikasi barang milik negara yang
mutakhir. Menu pada aplikasi Persediaan yang digunakan untuk
mencatat transaksi ini adalah Transaksi Konversi Hasil
Migrasi. Memilih data barang persediaan yang akan dikonversi
dan dimigrasi dengan tampilan seperti pada gambar 11.

83
Gambar 11

BEBAN PERSEDIAAN

Pemakaian persediaan sesuai dengan kebijakan akuntansi yang


diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan nomor
219/PMK.05/2013 tentang Kebijakan Akuntansi Pemerintah Pusat
akan menghasilkan beban persediaan pada jurnal kiriman ketika
pembentukan ADK kiriman dari aplikasi persediaan ke SIMAK BMN.
Beban persediaan dicatat menggunakan pendekatan aset, yang
berarti saldo awal dan setiap penambahan persediaan akan diakui
sebagai penambah saldo persediaan. Nilai saldo persediaan
diperhitungkan pada saat persediaan digunakan dan penyesuaian
pada akhir periode pelaporan, baik berdasarkan hasil stock opname
maupun harga perolehan terakhir. Bila barang persediaan nilainya
tidak material dan jenisnya bermacam-macam maka saldo
persediaan dihitung berdasarkan harga perolehan terakhir dan
beban persediaannya diperhitungkan dari total penggunaan
persediaan selama periode tahun anggaran.

Berdasarkan penggunaan barang persediaan, beban persediaan


dikelompokkan menjadi:

1. Beban Persediaan; untuk barang konsumsi dalam kegiatan


operasional
2. Beban Pemeliharaan;
3. Beban Barang untuk dijual/diserahkan kepada Masyarakat;
dan
4. Beban Bantuan Sosial.

84
Pencatatan beban persediaan berdasarkan pengelompokannya
disesuaikan dengan penggolongan atau kodefikasi barang yang
digunakan ketika mencatat penggunaan barang persediaan
tersebut, kecuali untuk transaksi hibah keluar barang persediaan.
Sebagai contoh, (a) barang persediaan yang dikelompokkan dalam
Barang Konsumsi ketika dicatat penggunaan barang tersebut akan
menghasilkan jurnal sebagai berikut:

Kode Nama Jenis


Debet Kredit
Perkiraan Perkiraan Transaksi
59311x Beban K01 50,000
Persediaan
11711x Barang K01 50,000
Konsumsi

Dan (b) barang persediaan yang dikelompokkan dalam Barang


Persediaan untuk dijual/diserahkan kepada Masyarakat ketika
dicatat penggunaan barang tersebut akan menghasilkan jurnal
sebagai berikut:

Kode Nama Jenis


Debet Kredit
Perkiraan Perkiraan Transaksi
59312x Beban K01 50,000
Persediaan
untuk
dijual/dise-
rahkan
kepada
Masyarakat
11712x Persediaan K01 50,000
Bahan untuk
dijual/dise-
rahkan
kepada
Masyarakat

Saldo akhir unit persediaan yang diperhitungkan dalam


perhitungan saldo akhir persediaan adalah jumlah unit persediaan
hasil stock opname, bukan catatan saldo unit persediaan. Dalam hal
terjadi perbedaan nilai saldo akhir persediaan setelah
memperhitungkan harga perolehan terakhir dalam suatu periode,
maka dicatat koreksi nilai persediaan dengan jurnal sebagai berikut
(setiap periode pengiriman dari Persediaan ke SIMAK BMN):

85
Kode Nama Jenis
Debet Kredit
Perkiraan Perkiraan Transaksi
391113 Koreksi Nilai KO 75,000
Persediaan
1171xx Persediaan KO 75,000

Bila nilai saldo akhir persediaan lebih besar dari perhitungan nilai
saldo akhir unit persediaan dikalikan harga perolehan terakhir.

Kode Nama Jenis


Debet Kredit
Perkiraan Perkiraan Transaksi
1171xx Persediaan KO 75,000
391113 Koreksi Nilai KO 75,000
Persediaan

Bila nilai saldo akhir persediaan lebih kecil dari perhitungan nilai
saldo akhir unit persediaan dikalikan harga perolehan terakhir.

86
Contoh:

Persediaan kertas ukuran A4 berat 80 gram sesuai pembukuan


berdasarkan jurnal mutasi masuk dan keluar barang persediaan

Trans Saldo Harga Nilai Saldo


Tgl Unit
aksi Unit @Unit Mutasi Buku
1 2 3 4 5 6=3x5 7=7+6
1/1 Saldo - 120 24.000 0 2.880.000
Awal

15/1 Pembelia 20 140 24.300 486.000 3.366.000


n

17/1 Pemakai -45 95 24.300* -1.093.500 2.272.500


an

22/1 Pembelia 30 125 24.800 744.000 3.016.500


n

24/1 Pemakai -55 70 24.800* -1.364.000 1.652.500


an

Bila hasil stock opname akhir bulan Januari diketahui jumlah unit
kertas ukuran A4 berat 80 gram sebanyak 70 unit, maka dihitung
nilai saldo akhir persediaan berdasarkan harga perolehan terakhir
adalah:

87
Trans Saldo Harga Nilai Saldo
Tgl Unit
aksi Unit @Unit Mutasi Buku
1 2 3 4 5 6=3x5 7=7+6
1/1 Saldo - 120 24.000 0 2.880.000
Awal

15/1 Pembelia 20 140 24.300 486.000 3.366.000


n

17/1 Pemakai -45 95 24.300* -1.093.500 2.272.500


an

22/1 Pembelia 30 125 24.800 744.000 3.016.500


n

24/1 Pemakai -55 70 24.800* -1.364.000 1.652.500


an

31/1 Koreksi 83.500


Nilai
Persedia
an = (70
x
24.800)

1.652.50
0

31/1 Saldo - 70 24.800 0 1.736.000


Akhir

B. AS E T TE T A P / A SE T L A I NN YA
Transaksi keuangan yang menghasilkan Aset Tetap dan Aset
Lainnya dicatat dengan menggunakan dua aplikasi, yakni Aplikasi
SAIBA untuk Belanja Modal/Hibah dan Aplikasi SIMAK-BMN untuk
Penerimaan/Penyerahan Barang atau Progress/Penyelesaian
Pekerjaan Fisik.

a. Pelaksana Penatausahaan BMN yang dilaksanakan pada


Pengguna Barang adalah sebagai berikut:
b. UAKPB membuat Daftar Barang Kuasa Pengguna (DBKP) yaitu
daftar barang yang status penggunaannya berada pada Kuasa
Pengguna Barang;

88
c. UAPPB-W membuat Daftar Barang Pengguna Wilayah (DBP-W)
yaitu gabungan daftar barang dari masing-masing UPKPB yang
berada di wilayah kerjanya;

d. UAPPB-E1 membuat Daftar Barang Pengguna Eselon I (DBP-El)


yaitu gabungan daftar barang dari masing-masing UPKPB
dan/atau UPPB-W yang berada di wilayah kerjanya;

e. UAPB membuat Daftar Barang Pengguna (DBP) yaitu gabungan


daftar barang dari masing-masing UAPPB-E1, UAPPB-W
dan/atau UAKPB.

Pelaksana Penatausahaan pada Pengelola Barang adalah sebagai


berikut:

a. KPKNL membuat Daftar Barang Milik Negara Kantor Daerah


berupa Tanah dan/atau Bangunan Idle (DBMN-KD-T/B) yang
berada di wilayah kerjanya;

b. Kanwil DJKN membuat Daftar Barang Milik Negara Kantor


Wilayah berupa Tanah dan/atau Bangunan Idle (DBMN-KW-
T/B), yang berupa gabungan DBMN-KD-T/B yang berada di
wilayah kerjanya;

c. DJKN membuat Daftar Barang Milik Negara berupa Tanah


dan/atau Bangunan Idle (DBMN-T/B), yang berupa gabungan
DBMN-KW-T/B.

Identitas BMN terdiri dari beberapa unsur yaitu:

1. kode nama BMN,


2. Nomor Aset/Nomor Urut Pendaftaran (NUP),
3. Kode Kepemilikan,
4. Label BMN (Register),
5. Tanggal Perolehan,
6. Tanggal Pembukuan,
7. Satuan BMN,
8. Dasar Harga,
9. Kondisi BMN.

Levelisasi Penggolongan BMN terdiri dari lima level yaitu:

1. Golongan,
2. Bidang,
3. Kelompok,
4. Sub Kelompok,
5. Sub-sub Kelompok .

89
Teknis penulisan kode BMN adalah sebagai berikut :

X. XX. XX. XX. XXX (Golongan, Bidang, Kelompok, Sub Kelompok,


Sub-sub Kelompok).

Sementara itu kode kepemilikan BMN adalah sebagai berikut :

XXX. XX. XX. XXXXXX. XXX (UAPKPB , UAKPB, UAPPB-W, UAPPB-E1,


UAPB)

Teknik untuk membuat Label (Register) BMN adalah sebagai


berikut :

XXX. XX. XXXX. XXXXXX. (UAPKPB , UAKPB, UAPPB-


XXX. XXXX W, UAPPB-E1, UAPB)

X. XX. XX. XX. XXX. XXXXXX (Golongan, Bidang,


Kelompok, Sub Kelompok,
Sub-sub Kelompok)

Dalam proses penatausahaan BMN perlu dipahami beberapa


konsep terkait dengan tanggal perolehan, pembukuan dan dasar
harga BMN. Tanggal perolehan adalah tanggal saat terjadi serah
terima BMN yang dibuktikan dengan adanya Berita Acara Serah
Terima Barang. Sementara itu tanggal pembukuan adalah tanggal
pencatatan/ penginputan transaksi BMN ke dalam aplikasi SIMAK-
BMN. BMN dicatat/dibukukan sebesar biaya perolehannya yaitu
semua biaya yang dikeluarkan sampai BMN siap digunakan. Apabila
biaya perolehan tidak tersedia, digunakan harga taksiran.

BMN dalam Neraca disajikan dalam pos aset lancar, aset tetap atau
aset lainnya. Selain dalam Neraca BMN juga harus diungkapkan
dalam Catatan atas Laporan Keuangan terkait dengan persediaan
yang rusak atau usang, aset bersejarah, ekstrakomptabel dan
penjelasan atas BMN yang disajikan di Neraca.

Transaksi BMN yang memengaruhi Laporan Operasional disajikan


sebagai Kegiatan Operasional pada pos Beban Persediaan, Beban
Pemeliharaan, Beban Barang utk Diserahkan kpd Masyarakat,
Beban Bantuan Sosial, Beban Penyusutan dan amortisasi. Disajikan
sebagai Kegiatan Non Operasional dalam Laporan Operasional
berupa Surplus/Defisit Pelepasan Aset Non Lancar ketika terdapat
penghapusan BMN. Sedangkan transaksi BMN yang memengaruhi
Laporan Perubahan Ekuitas disajikan dalam Penyesuaian Nilai
Tahun Berjalan bila terdapat penyesuaian aset, dan Dampak
Kumulatif Perubahan Kebijakan Akuntansi dan Kesalahan
Mendasar bila terdapat Koreksi Nilai Persediaan, Selisih Revaluasi
Aset Tetap, Koreksi Nilai Aset Tetap Non Revaluasi.

90
Langkah-langkah proses penggunaan Aplikasi SIMAK BMN untuk
mencatat penatausahaan BMN:

1. Install atau pemasangan aplikasi SIMAK BMN yang terdiri dari


dua pemasangan, yaitu:
a. Meng-install database yang menjadi tempat data atas catatan
mutasi BMN (setelah diinstall akan ditemukan file dbbmn10
pada direktori c:\Program Files)

b. Meng-install aplikasi atau file format exe yang digunakan


untuk menjalankan program aplikasi SIMAK BMN berbasis
Sistem Operasi Windows

Baca petunjuk peng-install-an atau update dapat diperoleh dari file


readme.txt yang menyertai file installer atau updater

2. Penggunaan aplikasi SIMAK BMN berbasis akrual menggunakan


database yang di-install pertama kali aplikasi SIMAK BMN
digunakan, sehingga database aplikasi SIMAK BMN perlu
dilakukan update agar dapat menghasilkan jurnal akuntansi.
3. Setelah install dan update database, kemudian dilakukan install
aplikasi SIMAK BMN dan masuk dengan user admin dan
password admin hingga ke tampilan gambar 12.

Gambar 12

4. Buatlah user atau nama pengguna aplikasi yang menunjukkan


identitas satuan kerjanya atau entitas akuntansinya. Pembuatan
user dengan langkah berikut:
a. Pemutakhiran referensi tabel-tabel (UAPB, UAPPB-E1,
UAPPB-Wilayah, UAKPB) untuk memberikan identitas satuan
kerjanya (gambar 13).

91
Gambar 13

b. Pemutakhiran user dengan menu utility setup user untuk


membuat username dan password operator aplikasi SIMAK
BMN (gambar 14).

Gambar 14

5. Masuklah ke dalam aplikasi SIMAK BMN dengan menggunakan


username dan password yang telah dibuat. Pastikan identitas
satuan kerja pada tampilan aplikasi SIMAK BMN sesuai dengan
seharusnya (gambar 15).

92
Gambar 15

6. Sebelum memulai input data transaksi pada aplikasi SIMAK BMN


perlu pembuatan atau pemutakhiran tabel penandatangan dan
tabel ruangan melalui menu Tabel Referensi Tabel
Penandatangan dan Tabel Referensi Tabel Ruangan,
dilanjutkan dengan perekaman transaksi yang meliputi
Transaksi BMN dan Transaksi KDP.
7. Transaksi BMN terdiri dari Saldo Awal BMN, Perolehan BMN,
Perubahan BMN, Perubahan Nilai Koreksi Tim Penertiban Aset,
Penghapusan BMN, BPYBDS Bantuan Pemerintah Yang Belum
Ditetapkan Status, Penghentian BMN dari Penggunaan,
Penggunaan Kembali BMN yang Dihentikan, Usulan Barang
Hilang, Usulan Barang Rusak Berat, BMN Bersejarah, Barang
Pihak Ketiga) seperti gambar 16.

Gambar 16

Transaksi BMN Saldo awal BMN: Menu Saldo Awal BMN (Kode
Jenis Transaksi 100) digunakan untuk merekam data-data BMN

93
yang diperoleh sebelum tahun anggaran berjalan, yang belum
dibukukan. Dokumen yang dipergunakan oleh Unit Akuntansi
Kuasa Pengguna Barang (UAKPB) pada proses perekaman saldo
awal dapat diperoleh dari Buku Barang, Hasil Opname Fisik Barang
atau Laporan Tahunan UAKPB.

Contoh jurnal yang dibentuk saat ADK kiriman ke Aplikasi SAIBA


diproses:

Kode
Nama Perkiraan Debet Kredit
Perkiraan
13xxxx Aset Tetap 100,000
391116 Koreksi Nilai Aset Tetap 100,000
Non Revaluasi

Transaksi BMN Pembelian: Dokumen yang dipergunakan oleh


Unit Akuntansi Kuasa Pengguna Barang (UAKPB) pada proses
perekaman perolehan BMN dalam tahun anggaran berjalan,
dokumen pendukung yang dapat dipergunakan adalah SP2D, Berita
Acara Serah Terima Barang, Surat Perjanjian Kontrak,
Faktur/Kwitansi dan dokumen-dokumen pendukung lainnya yang
berkaitan dengan mutasi barang.

Jenis transaksi perolehan BMN yang direkam dengan menggunakan


menu perekaman perolehan BMN adalah sebagai berikut (Gambar
17):

Gambar 17

a. Pembelian (101), merupakan transaksi perolehan BMN dari


hasil pembelian yang menggunakan dana APBN.

94
b. Transfer Masuk (102), merupakan transaksi perolehan BMN
dengan penerimaan ADK hasil transfer keluar dari UAKPB yang
lain dalam satu UAPB atau lain UAPB.

c. Hibah Masuk (103), merupakan transaksi perolehan BMN hasil


penerimaan dari pihak ketiga diluar Kementerian
Negara/Lembaga.

d. Rampasan (104), merupakan transaksi perolehan BMN hasil


rampasan berdasarkan putusan pengadilan.

e. Penyelesaian Pembangunan, merupakan transaksi perolehan


BMN hasil penyelesaian pembangunan berupa
bangunan/gedung dan BMN lainnya yang telah
diserahterimakan dengan Berita Acara Serah Terima. Transaksi
penyelesaian pembangunan dapat melalui (gambar 18):

Gambar 18

i. Penyelesaian Pembangunan Dengan KDP (105), merupakan


transaksi perolehan BMN hasil penyelesaian pembangunan
hasil dari pekerjaan melalui tahapan Konstruksi Dalam
Pengerjaan, baik berupa bangunan/gedung maupun BMN
lainnya, yang telah diserahterimakan dengan Berita Acara
Serah Terima.

ii. Penyelesaian Pembangunan Langsung (113), merupakan


transaksi perolehan BMN hasil penyelesaian pembangunan
langsung selesai dalam satu periode (semesteran) berupa
bangunan/gedung dan BMN lainnya yang telah
diserahterimakan dengan Berita Acara Serah Terima.

f. Pembatalan Penghapusan (106), merupakan pencatatan BMN


hasil pembatalan penghapusan yang sebelumnya telah
dihapuskan/ dikeluarkan dari pembukuan.

95
g. Reklasifikasi Masuk (107), merupakan transaksi BMN yang
sebelumnya telah dicatat dengan klasifikasi BMN yang lain.

h. Bangun Serah Guna (108), adalah pemanfaatan tanah milik


pemerintah pusat oleh pihak lain dengan mendirikan bangunan
dan/atau sarana, berikut fasilitasnya, dan setelah selesai
pembangunannya diserahkan kepada Pengelola Barang untuk
kemudian didayagunakan oleh pihak lain tersebut selama jangka
waktu tertentu yang disepakati. (Menu Belum Aktif)

i. Bangun Guna Serah (109), adalah pemanfaatan tanah milik


pemerintah pusat oleh pihak lain dengan mendirikan bangunan
dan/atau sarana, berikut fasilitasnya, kemudian didayagunakan
oleh pihak lain tersebut dalam jangka waktu tertentu yang telah
disepakati, untuk selanjutnya tanah beserta bangunan dan/atau
sarana, berikut fasilitasnya, diserahkan kembali kepada
Pengelola Barang setelah berakhirnya jangka waktu. (Menu
Belum Aktif)

j. Pertukaran (111), adalah pengalihan kepemilikan BMN yang


dilakukan antara pemerintah pusat dengan pemerintah daerah,
atau antara pemerintah pusat dengan pihak lain, dengan
menerima penggantian dalam bentuk barang, sekurang-
kurangnya dengan nilai seimbang.

k. Perolehan Lainnya (112), adalah digunakan untuk merekam


perolehan BMN yang tidak termasuk dalam Perolehan lainnya
selain yang sudah disebutkan terdahulu.

Perekaman transaksi perolehan BMN dilakukan untuk mencatat


semua transaksi perolehan BMN setiap kali terjadi mutasi dalam
UAKPB. Perolehan yang terjadi dalam satu semester harus direkam
dalam semester yang bersangkutan sehingga laporan yang akan
disampaikan pada tiap semester sudah mencakup semua transaksi
perolehan pada semester tersebut. Untuk mempermudah dalam
memahami proses perekaman ini dan untuk kebutuhan rekonsiliasi
internal, maka perekaman transaksi perolehan kita bagi menjadi
dua kelompok :

memerlukan SP2D tidak memerlukan SP2D


Pembelian, dan Transfer, Hibah, Rampasan,
Penyelesaian Pembatalan Penghapusan,
Pembangunan Reklasifikasi Masuk, Bangun Serah
Guna, Bangun Guna Serah, Pertukaran,
dan Perolehan Lainnya

Berdasarkan jurnal yang dibentuk saat ADK kiriman ke Aplikasi


SAIBA, maka transaksi perolehan BMN dikelompokkan menjadi:

96
1) Pembelian (101), Hibah Masuk (103), dan Penyelesaian
Pembangunan Langsung (113) menghasilkan jurnal kiriman ke
SAIBA:

Kode
Nama Perkiraan Debet Kredit
Perkiraan
13xxxx Aset Tetap/Aset 100,000
Lainnya*
13xxxx Aset Tetap/Aset 100,000
Lainnya belum
diregister*
*Penggolongan Aset Tetap/Aset Lainnya sesuai dengan kode
barang yang direkam transaksi BMN

2) Transfer Masuk (102) menghasilkan jurnal kiriman ke SAIBA:

Kode
Nama Perkiraan Debet Kredit
Perkiraan
13xxxx Aset Tetap/Aset 100,000
Lainnya*
313221 Transfer Masuk 100,000
*Penggolongan Aset Tetap/Aset Lainnya sesuai dengan kode
barang yang direkam transaksi BMN

3) Rampasan (104) menghasilkan jurnal kiriman ke SAIBA:

Kode
Nama Perkiraan Debet Kredit
Perkiraan
13xxxx Aset Tetap/Aset 100,000
Lainnya*
491421 Pendapatan 100,000
Sitaan/Rampasan
*Penggolongan Aset Tetap/Aset Lainnya sesuai dengan kode
barang yang direkam transaksi BMN

4) Penyelesaian Pembangunan Dengan KDP (105) menghasilkan


jurnal kiriman ke SAIBA:

Kode
Nama Perkiraan Debet Kredit
Perkiraan
13xxxx Aset Tetap* 100,000
136111 Konstruksi Dalam 100,000
Pengerjaan
*Penggolongan Aset Tetap sesuai dengan kode barang yang
direkam transaksi BMN

97
Atau

Kode
Nama Perkiraan Debet Kredit
Perkiraan
16xxxx Aset Lainnya* 100,000
162311 Aset Tak Berwujud 100,000
Dalam Pengerjaan
*Penggolongan Aset Lainnya sesuai dengan kode barang yang
direkam transaksi BMN

5) Pembatalan Penghapusan (106) dan Reklasifikasi Masuk (107),


menghasilkan jurnal kiriman ke SAIBA:

Kode
Nama Perkiraan Debet Kredit
Perkiraan
13xxxx Aset Tetap/Aset 100,000
Lainnya*
391116 Koreksi Nilai Aset 100,000
Tetap Non Revaluasi
*Penggolongan Aset Tetap/Aset Lainnya sesuai dengan kode
barang yang direkam transaksi BMN

6) Pertukaran (111) menghasilkan jurnal kiriman ke SAIBA:

Kode
Nama Perkiraan Debet Kredit
Perkiraan
13xxxx Aset Tetap/Aset 100,000
Lainnya*
491411 Pendapatan 100,000
Pelepasan Aset
*Penggolongan Aset Tetap/Aset Lainnya sesuai dengan kode
barang yang direkam transaksi BMN

7) Perolehan Lainnya (112) menghasilkan jurnal kiriman ke SAIBA:

Kode
Nama Perkiraan Debet Kredit
Perkiraan
13xxxx Aset Tetap/Aset 100,000
Lainnya*
491429 Pendapatan Perolehan 100,000
Aset Lainnya
*Penggolongan Aset Tetap/Aset Lainnya sesuai dengan kode
barang yang direkam transaksi BMN

98
Transaksi BMN Perubahan BMN: Perekaman transaksi perubahan
BMN dilakukan untuk mencatat semua perubahan BMN setiap kali
terjadi perubahan. Perubahan yang terjadi dalam satu semester
harus direkam dalam semester yang bersangkutan sehingga
laporan yang akan disampaikan pada tiap semester sudah
mencakup semua perubahan pada semester tersebut. Berdasarkan
jenis transaksinya, perubahan BMN yang direkam dengan
menggunakan menu perekaman perubahan BMN adalah sebagai
berikut (gambar 19):

Gambar 19

a. Pengurangan (201), merupakan transaksi pengurangan


kuantitas BMN.

b. Pengembangan (202), merupakan transaksi pengembangan


BMN yang dikapitalisir yang mengakibatkan pemindahbukuan
dari BI Ekstrakomptabel ke BI Intrakomptabel atau perubahan
nilai/satuan BMN dalam BI Intrakomptabel. Transaksi
pengembangan dapat melalui (gambar 20):

Gambar 20

a. Pengembangan Langsung, merupakan pengembangan nilai BMN


setelah perolehan BMN, baik berupa bangunan/gedung maupun

99
BMN lainnya, yang telah diserahterimakan dengan Berita Acara
Serah Terima dan dicatat ke unit BMN sesuai dengan Nomor
Urut Pendafataran BMN.
b. Pengembangan Dengan KDP (207), merupakan pengembangan
nilai BMN setelah perolehan BMN menggunakan tahapan
Konstruksi Dalam Pengerjaan, baik berupa bangunan/gedung
maupun BMN lainnya, yang telah diserahterimakan dengan
Berita Acara Serah Terima dan dicatat ke unit BMN sesuai
dengan Nomor Urut Pendafataran BMN.
c. Perubahan Kondisi (203), merupakan pencatatan perubahan
kondisi BMN.
d. Koreksi Perubahan Nilai/Kuantitas (204), merupakan koreksi
pencatatan atas nilai/kuantitas BMN yang telah dicatat
sebelumnya.
e. Penerimaan Aset Dari Pengembangan Aset Renovasi (206),
merupakan pencatatan aset yang nilai renovasinya sudah
diserah terimakan dari pihak lain.
Untuk mempermudah dalam memahami proses perekaman ini,
maka transaksi perubahan kita bagi menjadi dua kelompok:

memerlukan SP2D tidak memerlukan SP2D


Pengembangan Nilai Aset Pengurangan Nilai Aset,
Perubahan Kondisi, Koreksi
Pencatatan Nilai/Kuantitas, dan
Penerimaan Aset Dari
Pengembangan Aset Renovasi

Berdasarkan jurnal yang dibentuk saat ADK kiriman ke Aplikasi


SAIBA, maka transaksi perolehan BMN dikelompokkan menjadi:

a) Pengurangan (201) dan Perubahan Kondisi (203) tidak ada


jurnal yang terbentuk
b) Pengembangan (202) menghasilkan jurnal kiriman ke SAIBA:

Kode
Nama Perkiraan Debet Kredit
Perkiraan
13xxxx Aset Tetap/Aset 100,000
Lainnya*
13xxxx Aset Tetap/Aset 100,000
Lainnya belum
diregister*
*Penggolongan Aset Tetap/Aset Lainnya sesuai dengan kode
barang yang direkam transaksi BMN

100
a) Koreksi Perubahan Nilai/Kuantitas (204) menghasilkan jurnal
kiriman ke SAIBA:

Kode
Nama Perkiraan Debet Kredit
Perkiraan
13xxxx Aset Tetap/Aset 100,000
Lainnya*
391116 Koreksi Nilai Aset 100,000
Tetap Non Revaluasi
*Penggolongan Aset Tetap/Aset Lainnya sesuai dengan kode
barang yang direkam transaksi BMN

b) Penerimaan Aset Dari Pengembangan Aset Renovasi (206)


menghasilkan jurnal kiriman ke SAIBA:

Kode
Nama Perkiraan Debet Kredit
Perkiraan
13xxxx Aset Tetap/Aset 100,000
Lainnya*
313221 Transfer Masuk 100,000
*Penggolongan Aset Tetap/Aset Lainnya sesuai dengan kode
barang yang direkam transaksi BMN

c) Pengembangan Dengan KDP (207) menghasilkan jurnal kiriman


ke SAIBA:

Kode
Nama Perkiraan Debet Kredit
Perkiraan
13xxxx Aset Tetap* 100,000
136111 Konstruksi Dalam 100,000
Pengerjaan
*Penggolongan Aset Tetap sesuai dengan kode barang yang
direkam transaksi BMN

Atau

Kode
Nama Perkiraan Debet Kredit
Perkiraan
16xxxx Aset Lainnya* 100,000
162311 Aset Tak Berwujud 100,000
Dalam Pengerjaan
*Penggolongan Aset Lainnya sesuai dengan kode barang yang
direkam transaksi BMN

101
Transaksi BMN Perubahan Nilai Koreksi Tim Penertiban Aset:
Jenis transaksi Perubahan Nilai Koreksi Tim Penertiban (205)
dilakukan untuk melakukan perekaman atas barang-barang BMN
hasil koreksi dari Tim Penertiban Barang Milik Negara (penilaian
kembali). Jurnal yang dibentuk saat ADK kiriman ke Aplikasi SAIBA
diproses:

Kode
Nama Perkiraan Debet Kredit
Perkiraan
13xxxx Aset Tetap/Aset 100,000
Lainnya*
391114 Revaluasi Aset Tetap 100,000
*Penggolongan Aset Tetap/Aset Lainnya sesuai dengan kode
barang yang direkam transaksi BMN

Transaksi BMN Penghapusan BMN: Perekaman transaksi


penghapusan BMN dilakukan untuk mencatat semua penghapusan
BMN setiap kali terjadi penghapusan. Penghapusan yang terjadi
dalam satu semester harus direkam dalam semester yang
bersangkutan sehingga laporan yang akan disampaikan pada tiap
semester sudah mencakup semua penghapusan pada semester
tersebut. Proses perekaman transaksi penghapusan apapun jenis
transaksinya tidak berbeda sehingga untuk memudahkan kita,
cukup ditampilkan salah satu saja dari jenis transaksi yang ada.
Jenis transaksi penghapusan BMN yang direkam dengan
menggunakan menu perekaman penghapusan BMN adalah sebagai
berikut (gambar 21):

Gambar 21

a) Penghapusan (301), merupakan transaksi untuk menghapus


BMN dari pembukuan berdasarkan suatu surat keputusan
pengahapusan oleh instansi yang berwenang.

102
b) Transfer Keluar (302), merupakan transaksi penyerahan BMN
ke UAKPB lain dalam satu UAPB.
c) Hibah Keluar (303), merupakan transaksi penyerahan BMN
kepada pihak ketiga.
d) Reklasifikasi Keluar (304), merupakan transaksi BMN ke dalam
klasifikasi BMN yang lain. Transaksi ini berkaitan dengan
transaksi Reklasifikasi Masuk.
e) Koreksi Pencatatan (305), merupakan transaksi untuk
mengubah catatan BMN yang telah dilaporkan sebelumnya

Berdasarkan jurnal yang dibentuk saat ADK kiriman ke Aplikasi


SAIBA, maka transaksi perolehan BMN dikelompokkan menjadi:

a) Penghapusan (301) dan Hibah Keluar (303) menghasilkan


jurnal kiriman ke SAIBA:

Kode
Nama Perkiraan Debet Kredit
Perkiraan
596111 Beban Kerugian 100,000
Pelepasan Aset
13xxxx Aset Tetap/Aset 100,000
Lainnya*

Kode
Nama Perkiraan Debet Kredit
Perkiraan
313211 Transfer Keluar 100,000
13xxxx Aset Tetap/Aset 100,000
Lainnya*

b) Transfer Keluar (302) menghasilkan jurnal kiriman ke SAIBA:


*Penggolongan Aset Tetap/Aset Lainnya sesuai dengan kode
barang yang direkam transaksi BMN

c) Reklasifikasi Keluar (304) dan Koreksi Pencatatan (305)


menghasilkan jurnal kiriman ke SAIBA:

Kode
Nama Perkiraan Debet Kredit
Perkiraan
391116 Koreksi Nilai Aset 100,000
Tetap Non Revaluasi
13xxxx Aset Tetap/Aset 100,000
Lainnya*
*Penggolongan Aset Tetap/Aset Lainnya sesuai dengan kode
barang yang direkam transaksi BMN

103
Transaksi BMN BPYBDS: Perekaman transaksi BMN yang jadi
BPYBDS dilakukan dengan mencatat unit BMN sesuai SK BPYBDS.
Transaksi BPYBDS yang terjadi dalam satu semester harus direkam
dalam semester yang bersangkutan sehingga laporan yang akan
disampaikan pada tiap semester sudah mencakup semua BPYBDS
pada semester tersebut. Jenis transaksi BPYBDS yang direkam
dengan menggunakan menu perekaman penghapusan BMN adalah
sebagai berikut (gambar 22):

Gambar 22

a. Reklasifikasi BMN - BPYBDS (307), merupakan transaksi untuk


mereklasifikasi BMN yang telah tercatat di pembukuan
menjadi BPYBDS berdasarkan suatu surat keputusan BPYBDS
oleh instansi yang berwenang.
b. Penghapusan BPYBDS (114), merupakan transaksi untuk
menghapuskan BPYBDS berdasarkan suatu surat keputusan
penghapusan BPYBDS berdasarkan keputusan Pengelola
Barang.
Berdasarkan jurnal yang dibentuk saat ADK kiriman ke Aplikasi
SAIBA, maka transaksi perolehan BMN dikelompokkan menjadi:

a) Reklasifikasi BMN - BPYBDS (307) menghasilkan jurnal


kiriman ke SAIBA:

Kode
Nama Perkiraan Debet Kredit
Perkiraan
313121 Diterima dari Entitas 100,000
Lain
13xxxx Aset Tetap/Aset 100,000
Lainnya*

b) Penghapusan BPYBDS (114) menghasilkan jurnal kiriman ke


SAIBA:

104
Kode
Nama Perkiraan Debet Kredit
Perkiraan
13xxxx Aset Tetap/Aset 100,000
Lainnya*
313111 Ditagihakan kepada 100,000
Entitas Lain
*Penggolongan Aset Tetap/Aset Lainnya sesuai dengan kode
barang yang direkam transaksi BMN

Transaksi BMN Penghentian BMN dari Penggunaan: Jenis


transaksi Penghentian BMN dari Penggunaan digunakan untuk
merekam unit BMN yang sudah dihentikan penggunaannya secara
permanen dan tidak ada manfaat ekonomi pada masa yang akan
datang oleh karena tidak disusutkan . Penghentian BMN dari
penggunaan dilakukan dengan mereklasifikasi Aset Tetap ke Aset
Lainnya (Jenis Transaksi 188). Jurnal yang dibentuk saat ADK
kiriman ke Aplikasi SAIBA diproses:

105
Kode
Nama Perkiraan Debet Kredit
Perkiraan
166112 Aset Tetap yang tidak 100,000
digunakan dalam
Operasi
Pemerintahan
13xxxx Aset Tetap/Aset 100,000
Lainnya*
*Penggolongan Aset Tetap/Aset Lainnya sesuai dengan kode
barang yang direkam transaksi BMN

Transaksi BMN Penggunaan Kembali BMN yang Dihentikan: Jenis


transaksi Penggunaan kembali BMN yang dihentikan digunakan
untuk merekam unit BMN yang sudah digunakan kembali setelah
dihentikan. Sehingga aset tetap tersebut harus dimunculkan neraca.
Penghentian BMN dari penggunaan dilakukan dengan
mereklasifikasi Aset Tetap ke Aset Lainnya (Jenis Transaksi 188).
Jurnal yang dibentuk saat ADK kiriman ke Aplikasi SAIBA diproses:

Kode
Nama Perkiraan Debet Kredit
Perkiraan
166112 Aset Tetap yang tidak 100,000
digunakan dalam
Operasi
Pemerintahan
13xxxx Aset Tetap/Aset 100,000
Lainnya*
*Penggolongan Aset Tetap/Aset Lainnya sesuai dengan kode
barang yang direkam transaksi BMN

Transaksi BMN Usulan Barang Hilang: Perekaman transaksi BMN


usulan atas BMN yang telah hilang karena berbagai penyebab
dilakukan dengan mencatat unit BMN sesuai dokumen usulan BMN
hilang. Transaksi Usulan Barang Hilang yang terjadi dalam satu
semester harus direkam dalam semester yang bersangkutan
sehingga laporan yang akan disampaikan pada tiap semester sudah
mencakup semua Usulan Barang Hilang pada semester tersebut.
Jenis transaksi usulan BMN hilang yang direkam dengan
menggunakan menu perekaman Usulan Barang Hilang adalah (308)
sebagai berikut (gambar 23):

106
Gambar 23

Jurnal yang dibentuk saat ADK kiriman ke Aplikasi SAIBA diproses:

Kode
Nama Perkiraan Debet Kredit
Perkiraan
596111 Beban Kerugian 100,000
Pelepasan Aset
13xxxx Aset Tetap/Aset 100,000
Lainnya*
*Penggolongan Aset Tetap/Aset Lainnya sesuai dengan kode
barang yang direkam transaksi BMN

Transaksi BMN Usulan Barang Rusak Berat: Perekaman transaksi


BMN usulan atas BMN yang telah rusak berat karena berbagai
penyebab dilakukan dengan mencatat unit BMN sesuai dokumen
usulan BMN rusak berat. Transaksi Usulan Barang Rusak Berat
yang terjadi dalam satu semester harus direkam dalam semester
yang bersangkutan sehingga laporan yang akan disampaikan pada
tiap semester sudah mencakup semua Usulan Barang Rusak Berat
pada semester tersebut. Jenis transaksi usulan BMN Rusak Berat
yang direkam dengan menggunakan menu perekaman Usulan
Barang Rusak Berat adalah (306) sebagai berikut (gambar 24):

107
Gambar 24
Jurnal yang dibentuk saat ADK kiriman ke Aplikasi SAIBA diproses:

Kode
Nama Perkiraan Debet Kredit
Perkiraan
596111 Beban Kerugian 100,000
Pelepasan Aset
13xxxx Aset Tetap/Aset 100,000
Lainnya*
*Penggolongan Aset Tetap/Aset Lainnya sesuai dengan kode
barang yang direkam transaksi BMN

Transaksi BMN BMN Bersejarah: Barang Bersejarah (heritage


assets) dibukukan dan dilaporkan dalam kuantitasnya dan tanpa
nilai karena nilai kultural, lingkungan, pendidikan, dan sejarahnya
tidak mungkin secara penuh dilambangkan dengan nilai keuangan
berdasarkan harga pasar maupun harga perolehannya. Biaya untuk
perolehan, konstruksi, peningkatan, rekonstruksi harus
dibebankan sebagai belanja tahun terjadinya pengeluaran tersebut,
tidak dikapitalisasi menjadi nilai barang atau penambah nilai
barang. Biaya tersebut termasuk seluruh biaya yang berlangsung
untuk menjadikan aset bersejarah tersebut dalam kondisi dan
lokasi yang ada pada periode berjalan.

BMN yang memenuhi kriteria aset bersejarah (heritage assets)


dibukukan dalam Buku Barang Bersejarah. Perekaman transaksi
BMN bersejarah dilakukan dengan mencatat unit BMN
menggunakan jenis transaksi BMN Bersejarah yang direkam
dengan menggunakan menu perekaman BMN Bersejarah sebagai
berikut (gambar 25):

108
Gambar 25
Teknis perekaman Barang Bersejarah baik itu Saldo Awal BMN
Bersejarah (601), Perolehan BMN Bersejarah (602), dan
Penghapusan BMN Bersejarah (604) tidak memasukkan nilainya
dan diminta untuk mengisikan lokasi asetnya. Tidak ada jurnal
yang dibentuk saat ADK kiriman ke Aplikasi SAIBA.

Transaksi BMN Barang Pihak Ketiga: Fasilitas ini digunakan


untuk merekam Barang Pihak ketiga yang berisi data-data
barang milik pihak ketiga yang dititipkan kepada instansi atau
barang pihak ketiga yang digunakan sehari-hari. Perekaman
transaksi BMN Barang Pihak Ketiga dilakukan dengan mencatat
unit BMN per item. Jenis transaksi Barang Pihak Ketiga yang
direkam dengan menggunakan menu perekaman Barang Pihak
Ketiga terdiri dari Perolehan dan Penghapusan BMN Pihak
Ketiga. Teknis perekaman Barang Pihak Ketiga baik itu
Perolehan BMN Pihak Ketiga (701), dan Penghapusan BMN
Pihak Ketiga (702) tidak memasukkan nilainya dan diminta
untuk mengisikan lokasi asetnya. Tidak ada jurnal yang dibentuk
saat ADK kiriman ke Aplikasi SAIBA.

8. Transaksi KDP terdiri dari Saldo Awal KDP, Perolehan KDP,


Transfer Masuk KDP, Hibah Masuk KDP, Pengembangan KDP,
Koreksi Perubahan Nilai KDP, Transfer Keluar KDP, Hibah
Keluar KDP, dan Penghapusan/Penghentian KDP) seperti
gambar 26

109
Gambar 26

Konstruksi dalam pengerjaan (KDP) adalah aset-aset yang sedang


dalam proses pembangunan. KDP mencakup tanah, peralatan dan
mesin, gedung dan bangunan, jalan, irigasi dan jaringan, dan aset
tetap lainnya yang proses perolehannya dan/atau
pembangunannya membutuhkan periode waktu tertentu dan
belum selesai.

Kode barang untuk KDP sesuai dengan tabel (gambar 27)

Gambar 27

Transaksi KDP Saldo Awal KDP: Digunakan untuk merekam Saldo


Awal KDP yang diperoleh sebelum tahun anggaran berjalan. KDP
Belum ada manfaat ekonomi pada masa yang akan datang oleh
karena tidak disusutkan, jenis transaksi 501 (Gambar 28). Jurnal
yang dibentuk saat ADK kiriman ke Aplikasi SAIBA diproses:

110
Kode
Nama Perkiraan Debet Kredit
Perkiraan
136111/ Konstruksi/ Aset Tak 100,000
162311 Berwujud Dalam
Pengerjaan
391116 Koreksi Nilai Aset 100,000
Tetap non Revaluasi

Gambar 28

Transaksi KDP Perolehan KDP: Digunakan untuk merekam


Perolehan/Penambahan KDP yang diperoleh pada tahun berjalan.
Jenis transaksi Perolehan KDP digunakan untuk merekam
SPM/SP2D pembayaran termin I. Perolehan/penambahan KDP
menggunakan Jenis Transaksi 502 (Gambar 29). Jurnal yang
dibentuk saat ADK kiriman ke Aplikasi SAIBA diproses:

Kode
Nama Perkiraan Debet Kredit
Perkiraan
136111/ Konstruksi/ Aset Tak 100,000
162311 Berwujud Dalam
Pengerjaan
13xxxx Aset Tetap/Aset 100,000
Lainnya belum
diregister*

*Penggolongan Aset Tetap/Aset Lainnya belum diregister sesuai


dengan akun belanja modal pada SPM/SP2D

111
Gambar 29

Transaksi KDP Transfer Masuk KDP: Digunakan untuk merekam


Transfer Masuk KDP yang diperoleh dari UAKPB di dalam satu
UAPB pada tahun berjalan. Jenis transaksi Transfer Masuk KDP
digunakan untuk merekam nilai KDP yang diterima dari UAKPB
pemberi. Transfer Masuk KDP menggunakan Jenis Transaksi 506.
Jurnal yang dibentuk saat ADK kiriman ke Aplikasi SAIBA diproses:

Kode
Nama Perkiraan Debet Kredit
Perkiraan
136111/ Konstruksi/ Aset Tak 100,000
162311 Berwujud Dalam
Pengerjaan
313221 Transfer Masuk 100,000

Transaksi KDP Hibah Masuk KDP: Digunakan untuk merekam


Hibah Masuk KDP yang diperoleh dari luar Pemerintah Pusat pada
tahun berjalan. Jenis transaksi Hibah Masuk KDP digunakan untuk
merekam nilai KDP yang diterima dari pemberi (pemerintah
daerah/lembaga/masyarakat). Hibah Masuk KDP menggunakan
Jenis Transaksi 508. Jurnal yang dibentuk saat ADK kiriman ke
Aplikasi SAIBA diproses:

112
Kode
Nama Perkiraan Debet Kredit
Perkiraan
136111/ Konstruksi/ Aset Tak 100,000
162311 Berwujud Dalam
Pengerjaan
13xxxx Aset Tetap/Aset 100,000
Lainnya belum
diregister*

*Penggolongan Aset Tetap/Aset Lainnya belum diregister sesuai


dengan akun belanja modal pada SPM/SP2D

Transaksi KDP Pengembangan KDP: Digunakan untuk merekam


Pengembangan KDP yang sudah pernah direkam perolehannya
pada tahun berjalan. Jenis transaksi Pengembangan KDP digunakan
untuk merekam SPM/SP2D untuk pembayaran setelah termin I.
Pengembangan KDP menggunakan Jenis Transaksi 503 (Gambar
30). Jurnal yang dibentuk saat ADK kiriman ke Aplikasi SAIBA
diproses:

Kode
Nama Perkiraan Debet Kredit
Perkiraan
136111/ Konstruksi/ Aset Tak 100,000
162311 Berwujud Dalam
Pengerjaan
13xxxx Aset Tetap/Aset 100,000
Lainnya belum
diregister*

*Penggolongan Aset Tetap/Aset Lainnya belum diregister sesuai


dengan akun belanja modal pada SPM/SP2D

Transaksi KDP Koreksi Perubahan Nilai KDP: Digunakan untuk


merekam Perubahan Nilai KDP akibat dikoreksi. Jenis transaksi
Koreksi Perubahan Nilai KDP digunakan untuk merekam nilai
koreksi KDP terhadap satu atau lebih kartu KDP. Koreksi
Perubahan Nilai KDP menggunakan Jenis Transaksi 504. Jurnal
yang dibentuk saat ADK kiriman ke Aplikasi SAIBA diproses:

113
Kode
Nama Perkiraan Debet Kredit
Perkiraan
136111/ Konstruksi/ Aset Tak 100,000
162311 Berwujud Dalam
Pengerjaan
391116 Koreksi Nilai Aset 100,000
Tetap non Revaluasi

Transaksi KDP Transfer Keluar KDP: Digunakan untuk merekam


transaksi Transfer Keluar KDP berupa penyerahan KDP ke UAKPB
dalam satu UAPB pada tahun berjalan. Jenis transaksi Transfer
Keluar KDP digunakan untuk merekam nilai KDP yang diserahkan
ke UAKPB dalam satu UAPB. Transfer Keluar KDP menggunakan
Jenis Transaksi 507. Jurnal yang dibentuk saat ADK kiriman ke
Aplikasi SAIBA diproses:

Kode
Nama Perkiraan Debet Kredit
Perkiraan
313211 Transfer Keluar 100,000
136111/ Konstruksi/ Aset Tak 100,000
162311 Berwujud Dalam
Pengerjaan

Transaksi KDP Hibah Keluar KDP: Digunakan untuk merekam


Hibah Keluar KDP yang diberikan kepada entitas di luar
Pemerintah Pusat, pada tahun berjalan. Jenis transaksi Hibah
Keluar KDP digunakan untuk merekam nilai KDP yang diserahkan
ke pemerintah daerah/lembaga/masyarakat. Hibah Keluar KDP
menggunakan Jenis Transaksi 509. Jurnal yang dibentuk saat ADK
kiriman ke Aplikasi SAIBA diproses:

Kode
Nama Perkiraan Debet Kredit
Perkiraan
596111 Beban Kerugian 100,000
Pelepasan Aset
136111/ Konstruksi/ Aset Tak 100,000
162311 Berwujud Dalam
Pengerjaan

Transaksi KDP Penghapusan/Penghentian KDP: Digunakan untuk


merekam Penghapusan/Penghentian KDP yang sudah terdapat
Surat Keputusan (SK) Penghapusan/Penghenitannya pada tahun
berjalan. Jenis transaksi Penghapusan/Penghentian KDP digunakan
untuk merekam nilai KDP saat diputuskan dengan SK tersebut.

114
Penghapusan/Penghentian KDP menggunakan Jenis Transaksi 505.
Jurnal yang dibentuk saat ADK kiriman ke Aplikasi SAIBA diproses:

Kode
Nama Perkiraan Debet Kredit
Perkiraan
596111 Beban Kerugian 100,000
Pelepasan Aset
136111/ Konstruksi/ Aset Tak 100,000
162311 Berwujud Dalam
Pengerjaan

Gambar 30

Penyusutan/Amortisasi

Penyusutan adalah alokasi yang sistematis atas nilai suatu aset


tetap yang dapat disusutkan (depreciable assets) selama masa
manfaat aset yang bersangkutan (paragraf 52-58 PSAP 07).
Penyusutan merupakan penyesuaian nilai sehubungan dengan
penurunan kapasitas dan manfaat dari suatu aset. Selain tanah dan
Konstruksi Dalam Pengerjaan (KDP), seluruh aset tetap disusutkan
sesuai dengan sifat dan karakteristik aset tersebut.

Standar Akuntansi Pemerintah mengatur metode penyusutan yang


dipergunakan Pemerintah Pusat adalah Metode garis lurus (straight
line method). Beban penyusutan dicatat atas dasar
eksistensi/kepemilikan aset tetap. Seluruh aset tetap, kecuali tanah
dan KDP, disusutkan dengan tanpa nilai residu/sisa. Beban
penyusutan diperhitungkan pada akhir periode pelaporan

115
keuangan dan untuk periode satu semester (semesteran). Hal ini
berarti kapan pun diperolehnya suatu aset tetap, maka akan
disusutkan sebesar nilai penyusutan selama enam bulan (satu
periode).

Beban Penyusutan disajikan di Laporan Operasional pada bagian


Kegiatan Operasional, sementara Akumulasi Penyusutan disajikan
di Neraca sebagai pengurang nilai tercatat aset tetap. Walaupun
Aset tetap terdiri atas berbagai jenis, penyusutan disajikan hanya
dalam satu akun Akumulasi Penyusutan. Koreksi Beban Penyusutan
atas Beban Penyusutan Tahun Anggaran Yang Lalu (TAYL)
dilakukan langsung pada akumulasi penyusutan dengan akun
pasangan Ekuitas yang disajikan di Laporan Perubahan Ekuitas.

Pengungkapan informasi terkait penyajian nilai Beban Penyusutan,


antara lain:

1. Nilai penyusutan;
2. Metode penyusutan yang digunakan;
3. Masa manfaat aset tetap dan/atau tarif penyusutan yang
digunakan;
4. Perhitungan mutasi Akumulasi Penyusutan (Saldo Awal, Beban
Penyusutan TA Berjalan, penyesuaian, dan saldo akhir);
5. Penyesuaian pos Akumulasi Penyusutan karena adanya
pelepasan Aset Tetap atau Penghapusbukuan.
Penyusutan dilakukan dengan mendebet akun Beban Penyusutan
Aset Tetap dan mengkredit akun Akumulasi Penyusutan.

Kode
Nama Perkiraan Debet Kredit
Perkiraan
591xxx Beban Penyusutan 22,000
169xxx Akumulasi 22,000
Penyusutan/
Amortisasi Aset
Lainnya*

Amortisasi adalah pengurangan nilai Aset Tak Berwujud (ATB)


secara sistematis yang dilakukan setiap periode akuntansi dalam
jangka waktu tertentu. Amortisasi merupakan alokasi harga
perolehan ATB secara sistematis dan rasional selama masa
manfaatnya. Periode amortisasi dan metode amortisasi ditinjau
setidaknya setiap akhir tahun buku. Jika perkiraan masa manfaat
aset berbeda secara signifikan dengan estimasi-estimasi
sebelumnya, periode amortisasi harus disesuaikan.

116
Amortisasi dilakukan dengan Metode garis lurus (straight line
method. Beban Amortisasi Aset Tak Berwujud dicatat atas dasar
eksistensi/kepemilikan Aset Tak Berwujud. Beban Amortisasi Aset
Tak Berwujud hanya dapat diterapkan atas ATB yang memiliki
masa manfaat terbatas (seperti paten, hak cipta, waralaba dengan
masa manfaat terbatas, dll).

ATB dengan masa manfaat tidak terbatas (seperti goodwill) tidak


boleh diamortisasi. Nilai ATB dengan masa manfaat tidak terbatas
ini harus ditelaah setiap periode untuk menentukan apakah ATB
tersebut masih memiliki manfaat ekonomi di masa depan. Jika
terbukti ATB tersebut tidak lagi memiliki masa manfaat ekonomis
di masa mendatang, maka entitas dapat mengajukan proses
penghapusan ATB sesuai prosedur dan regulasi yang berlaku.

Beban Amortisasi Aset Tak Berwujud diperhitungkan pada akhir


periode pelaporan keuangan dan untuk periode satu semester
(semesteran). Hal ini berarti kapan pun diperolehnya suatu ATB,
maka akan diamortisasi sebesar nilai amortisasi selama enam bulan
(satu periode). Beban Amortisasi ATB disajikan dalam Laporan
Operasional. Sementara Akumulasi Amortisasi Aset Tak Berwujud
disajikan di Neraca sebagai penyesuaian atas akun ATB.

Pengungkapan informasi terkait penyajian nilai Beban Amortisasi,


antara lain:

1) Nilai amortisasi;
2) Metode amortisasi yang digunakan;
3) Masa manfaat atau tingkat amortisasi yang digunakan. Apakah
masa manfaatnya terbatas atau tidak terbatas;
4) Alasan penentuan atau faktor-faktor penting penentuan masa
manfaat suatu Aset Tak Berwujud
5) Perhitungan mutasi Akumulasi Amortisasi Aset Tak Berwujud
(Saldo Awal, Beban Penyusutan TA Berjalan, penyesuaian, dan
saldo akhir);
6) Keberadaan Aset Tak Berwujud yang dimiliki bersama.
Amortisasi dilakukan dengan mendebet akun Beban Amortisasi
Aset tak Berwujud dan mengkredit akun Akumulasi Amortisasi Aset
Tak berwujud.

Kode
Nama Perkiraan Debet Kredit
Perkiraan
5921xx Beban Amortisasi Aset 22,000
Lainnya
169xxx Akumulasi Penyusutan/ 22,000
Amortisasi Aset Lainnya*

117
Bab
JURNAL PENYESUAIAN

6 Dalam ilmu akuntansi, jurnal penyesuaian adalah penjurnalan yang


dilakukan untuk menyesuaikan saldo-saldo perkiraan (akun) agar
menunjukkan keadaan sesungguhnya. Pada umumnya jurnal
penyesuaian dilakukan dalam rangka penyusunan laporan
keuangan yang biasanya dilakukan pada akhir periode pelaporan.

Jurnal penyesuaian dilakukan setiap akhir periode atau akhir tahun.


Beberapa jenis penyesuaian dilakukan setiap semester sesuai
dengan peraturan teknis yang sudah ada. Berikut tabel periode
penyesuaian untuk masing-masing pos/akun:

No Pos/Akun-akun Periode Penyesuaian


1. Pendapatan Diterima Dimuka Tahunan
2. Pendapatan yang Masih Harus Diterima Tahunan
3. Beban Dibayar Dimuka Tahunan
4. Beban yang Masih Harus Dibayar Tahunan
5. Penyishan Piutang Tak Tertagih Semesteran
6. Penyusutan Semesteran
7. Persediaan Semesteran
8. Kas di Bendahara Penerimaan Tahunan
9. Kas Lainnya di Bendahara Pengeluaran Tahunan
10. Koreksi Antar Beban Semesteran
11. Reklasifikasi Aset (Reklasifikasi Piutang
Jangka Panjang ke Bagian Lancar Piutang Tahunan
Jangka Panjang)

(penyesuaian untuk periode yang lebih pendek dapat dilakukan


dalam rangka penyajian yang lebih wajar)

Pada Aplikasi SAIBA terdapat 4 (empat) menu untuk melakukan


penyesuaian saldo akun-akun pada laporan keuangan, antara lain:

1. Jurnal Penyesuaian Neraca;


2. Jurnal Penyesuaian;
3. Jurnal Koreksi; dan
4. Jurnal Umum.

A. M E NU JU R NA L PE N YE SU A IA N NE R A C A

Menu Jurnal Penyesuaian Neraca adalah menu yang ditujukan


untuk membuat jurnal atas transaksi-transaksi yang
menyebabkan adanya reklasifikasi (perpindahan) akun-akun
yang ada di laporan Neraca. Perekaman transaksi pada menu

118
Jurnal Penyesuaian Neraca hanya akan mempengaruhi saldo
akun-akun pada Laporan Neraca.
Berikut beberapa jenis transaksi yang direkam melalui menu
Jurnal Penyesuaian Neraca:
a. Reklasifikasi Piutang Jangka Panjang Pemerintah menjadi
Bagian Lancar Piutang Jangka Panjang;

Ilustrasi transaksi :

Menurut Buku Pengawasan Piutang Tuntutan Ganti Rugi


(TGR), dari Rp120 juta piutang jangka yang dicatat di
laporan Neraca per 31 Desember 2015, Bagian lancar TGR
yang akan jatuh tempo pada tahun 2016 adalah sebesar
Rp12 Juta.

Analisis :

Bagian lancar merupakan perhitungan bagian dari piutang


jangka panjang (TGR) yang akan jatuh tempo dalam 12 (dua
belas) bulan setelah periode pelaporan. Bagian lancar
piutang jangka panjang merupakan aset lancar di neraca
sehingga diperlukan pencatatan pembentukannya sebesar
perhitungan yang telah dilakukan dengan menkredit akun
piutang jangka panjang dan mendebet akun Bagian Lancar-
Piutang Jangka Panjang (Piutang TGR)

Langkah-langkah Pencatatan pada Aplikasi SAIBA :

1. Dasar perhitungan bagian lancar piutang TGR adalah


Buku Pengawasan Piutang TGR;
2. Pastikan bahwa telah melakukan jurnal balik atas jurnal
reklas akhir periode pelaporan sebelumnya bagian
lancar di awal tahun;
3. Atas dasar perhitungan, buatkan memo penyesuaian
untuk melakukan jurnal di Aplikasi SAIBA;
4. Lakukan jurnal penyesuaian dengan menggunakan Menu
Jurnal Penyesuaian Neraca seperti yang ditampilkan di
bawah ini:

119
5. Lakukan posting bulan Desember 2015;
6. Pastikan kebenaran pada output pada Buku Besar
Akrual, Neraca Percobaan Akrual dan Laporan Neraca.
b. Pencatatan Kas Lainnya di Bendahara Pengeluaran yang
merupakan Utang Kepada Pihak Ketiga yang belum
dibayarkan;

Ilustrasi transaksi :
Pada akhir bulan Desember 2015, Bendahara Pengeluaran
belum menyerahkan Uang Makan bulan Desember kepada
beberapa pegawai senilai Rp3.000.000,-
Analisis :
Uang kas yang dipegang bendahara pengeluaran perlu
dilakukan pencatatan dengan memasukkannya ke akun Kas
Lainnya di Bendahara Pengeluaran yang digolongkan ke
dalam aset lancar di neraca.
Langkah-langkah Pencatatan pada Aplikasi SAIBA :
1. Atas dasar Buku Kas Pembantu Bendahara Pengeluaran,
bendahara pengeluaran menyampaikan informasi kas
tersebut untuk dibuatkan memo penyesuaian;
2. Operator SAIBA mencatat kas tersebut atas dasar memo
penyesuaian pada menu Jurnal Penyesuaian Neraca
dengan jurnal seperti di bawah ini;

120
3. Lakukan posting bulan Desember 2015;
4. Pastikan kebenaran pada output pada Buku Besar
Akrual, Neraca Percobaan Akrual dan Laporan Neraca.
c. Pencatatan Kas Lainya di BLU yang dapat bersumber Utang
Kepada Pihak Ketiga yang belum dibayarkan dan Dana
Pihak Ketiga yang diperoleh BLU;

Ilustrasi transaksi :
Bendahara BLU mencatat bahwa per 31 Desember 2015
terdapat kas yang berada di bawah tanggung jawab
Bendahara-BLU yang merupakan Tunjangan Kinerja
Pegawai yang belum dibayarkan.
Analisis :
Kas yang masih berada di kas bendahara BLU pada saat
tanggal pelaporan harus disajikan pada laporan neraca
sebagai aset lancar per tanggal pelaporan.

Langkah-langkah Pencatatan pada Aplikasi SAIBA :


1. Atas dasar Buku Kas Pembantu Bendahara BLU,
bendahara BLU menyampaikan informasi kas tersebut
untuk dibuatkan memo penyesuaian;
2. Operator SAIBA mencatat kas tersebut berdasarkan
memo penyesuaian pada menu Jurnal Penyesuaian
Neraca dengan jurnal seperti di bawah ini;
3. Lakukan posting bulan Desember 2015;
4. Pastikan kebenaran pada output pada Buku Besar
Akrual, Neraca Percobaan Akrual dan Laporan Neraca.

B. M E NU JU R NA L PE N YE SU A IA N

Menu Jurnal Penyesuaian adalah menu yang ditujukan untuk


membuat jurnal atas transaksi-transaksi yang merupakan
penyesuaian terhadap saldo akun-akun di Laporan Neraca dan
Laporan Operasional maupun di Laporan Perubahan Ekuitas.
Menu Jurnal Penyesuaian terdiri dari beberapa submenu yang
merupakan kategori-kategori transaksi penyesuaian. Operator
aplikasi harus tepat dalam memilih kategori transaksi dalam
melakukan penyesuaian, karena masing-masing kategori
memiliki pasangan jurnal yang berbeda-beda.
Berikut disajikan kategori-kategori yang terdapat dalam menu
jurnal penyesuaian :

121
Kategori 01 : Pendapatan Diterima Di Muka
Kategori 02 : Pendapatan yang Masih Harus Diterima
Kategori 03 : Beban Dibayar di Muka
Kategori 04 : Beban yang Masih Harus Dibayar
Kategori 05 : Penyisihan Piutang
Kategori 06 : Penghapusan Piutang
Kategori 07 : Penyusutan
Kategori 08 : Kas di Bendahara Penerimaan
Kategori 09 : Kas Lainnya di Bendahara Pengeluaran
Kategori 10 : Persediaan
Kategori 11 : Koreksi antar Beban
Kategori 12 : Pendapatan Selisih Kurs yang Belum Terealisasi
Kategori 13 : Beban Selisih Kurs yang Belum Terealisasi
Kategori 14 : Piutang Jangka Panjang
Kategori 15 : Pelepasan Aset Tetap/ Aset Lainnya
Kategori 16 : Piutang Jangka Pendek
Kategori 17 : Transfer Masuk
Kategori 18 : Transfer Keluar
Kategori 19 : Koreksi Beban-Aset
Kategori 20 : Pendapatan dari Alokasi APBN-BLU
Kategori 21 : Kas Lainnya di BLU
Kategori 22 : Uang Muka Belanja
Kategori 23 : Perolehan Aset
Kategori 24 : Koreksi Utang/ Piutang
Kategori 25 : Hibah Langsung

C. Kategori 1 : Pendapatan Diterima di Muka


Pendapatan Diterima di Muka adalah pendapatan yang sudah
diterima di kas negara tetapi belum menjadi hak pemerintah
karena masih terdapat kewajiban pemerintah untuk
memberikan barang/jasa dikemudian hari sebagai
konsekuensi penerimaan pendapatan di kas negara tersebut.

Kategori Pendapatan Diterima Dimuka adalah menu yang


digunakan untuk mencatat:

1. Penyesuaian nilai Pendapatan dan Pendapatan Diterima


Dimuka pada akhir periode pelaporan;
2. Jurnal balik nilai Pendapatan dan Pendapatan Diterima
Dimuka di awal periode

Ilustrasi transaksi :

Pada tanggal 26 Desember 2015 diterima uang sewa gedung


dan disetor ke Kas Negara (SSBP) sebesar Rp.10 Juta. Gedung

122
tersebut disewakan untuk digunakan pada tanggal 10 Januari
2016.

Analisis :

Transaksi tersebut dikategorikan sebagai Pendapatan Diterima


di Muka dikarenakan adanya penerimaan kas (pendapatan)
atas jasa yang belum diberikan sampai dengan disusunnya
laporan keuangan tahun 2015 (31 Desember 2015). Atas
pendapatan tersebut, secara basis kas akan, oleh aplikasi, akan
dicatat pada Laporan Realisasi Anggaran tahun 2015 sebagai
Pendapatan Sewa namun secara akrual perlu dilakukan
penyesuaian atas akun Pendapatan Sewa yang sudah tercatat
di Laporan Operasional tahun 2015 serta pengakuan
kewajibannya (Pendapatan diterima di muka) pada laporan
Neraca tahun 2015.

Langkah-langkah Pencatatan pada Aplikasi SAIBA :

a. Catat pada Buku Pengawasan Pendapatan Diterima Dimuka


sesuai S-1690/PB/2015 beserta Memo Penyesuaian;
b. Input Setoran sebesar Rp. 10 Juta pada menu Pendapatan
berserta kelengkapan kodifikasi yang diperlukan
berdasarkan dokumen sumber SSBP;
c. Lakukan penyesuaian terhadap akun Pendapatan Sewa di
LO dengan menggunakan menu Jurnal Penyesuaian Kategori
#1 dengan ayat jurnal seperti di bawah ini:

d. Lakukan Posting untuk bulan Desember (bulan terjadinya


transaksi)
e. Untuk mengecek output atas pencatatan transaksi tersebut,
maka dapat dilakukan pengecekan dengan mencetak
laporan yang tersedia pada menu Laporan :
1. Laporan Neraca Percobaan bulan Desember
Pada Laporan Neraca Percobaan basis akrual, akun
Pendapatan Sewa Tanah, Gedung, dan Bangunan

123
(423141) akan bersaldo nihil, sementara akun
Pendapatan Sewa Diterima Dimuka (219211) yang
merupakan akun Kewajiban akan bersaldo kredit
sebesar Rp10.000.000
Pada Laporan Neraca Percobaan basis Kas, akan
diperoleh akun Pendapatan Sewa Tanah, Gedung, dan
Bangunan (423141) akan bersaldo kredit senilai
Rp10.000.000,-
2. Laporan Realisasi Pendapatan bulan Desember
Pada Laporan Realisasi Pendapatan bulan Desember,
terdapat Pendapatan Sewa Tanah, Gedung, dan
Bangunan (423141) senilai Rp10.000.000 seperti
gambar di bawah ini :
3. Laporan Operasional bulan Desember
Pada LO, Pendapatan Bukan Pajak Lainnya akan
bernilai Nihil, hal tersebut dikarenakan pendapatan
secara akrual atas Pendapatan Sewa Tanah, Gedung,
dan Bangunan (423141) yang kasnya diterima di tahun
2015 baru diakui pada tahun 2016.
4. Laporan Neraca bulan Desember
Pada Laporan Neraca akan menyajikan nilai kewajiban
(pendapatan diterima di muka) yang melekat atas
Pendapatan sewa yang diterima pemerintah namun
belum diserahkan barang/jasa nya hingga akhir tanggal
pelaporan (31 Desember 2015).

D. Kategori 2 : Pendapatan Yang Masih Harus


Diterima
Pendapatan yang masih harus diterima adalah pendapatan
yang seharusnya sudah dibayarkan oleh wajib bayar namun
belum diterima pembayarannya atau belum disetor ke kas
negara. Pendapatan ini belum dicatat sebagai pendapatan
menurut basis kas, tetapi sudah dapat diakui sebagai
pendapatan akrual dalam laporan operasional dan harus
disajikan di neraca sebagai pendapatan yang masih harus
diterima.
Kategori Pendapatan Yang Masih Harus Diterima adalah menu
yang digunakan untuk mencatat:
1. Penyesuaian nilai Pendapatan dan Pendapatan Yang
Masih Harus Diterima pada akhir periode pelaporan;
2. Jurnal balik nilai Pendapatan dan Pendapatan Yang
Masih Harus Diterima di awal periode.

Ilustrasi transaksi :

Pada tanggal 1 Desember 2015 ditandatangani perjanjian


penyewaan gedung yang dimiliki satker kepada pihak ketiga

124
terhitung dari tanggl 1 Desember 2015 selama setahun
senilai Rp 15 juta perbulan. Pembayaran akan dilakukan
pihak ketiga setiap tanggal 3 bulan berikutnya.
Analisis :

Pada kasus di atas, diketahui adanya penyerahan jasa oleh


pemerintah pada bulan Desember 2015 yang belum diterima
pembayarannya sampai dengan penyusunan Laporan
Keuangan 2015 (31 Desember 2015). Penyerahan jasa oleh
pemerintah tersebut harus diakui sebagai pendapatan oleh
pemerintah sebagai pendapatan bulan Desember 2015.
Potensi aliran kas tersebut juga harus dicatat pada Laporan
Neraca satker sebagai Pendapatan Yang Masih Harus
Diterima (tidak dicatat dalam akun Piutang PNBP karena hak
tagih pendapatan sewa bulan Desember 2015 ada pada
tanggal 3 Januari 2016).

Langkah-langkah Pencatatan pada Aplikasi SAIBA :

a. Catat pada Buku Pengawasan Pendapatan Yang Masih


Harus Diterima sesuai S-1690/PB/2015 beserta Memo
Penyesuaian;

b. Lakukan Penyesuaian atas pendapatan yang harus diakui


pada bulan Desember 2015, yakni sebesar jumlah yang
akan ditagihkan yakni Rp 15.000.000,- pada menu jurnal
penyesuaian Kategori #2 Pendapatan Yang Masih Harus
Diterima pada tanggal 31 Desember 2015 seperti di
bawah ini :

c. Lakukan Posting untuk bulan Desember ( bulan


dilakukannya pembukuan)

125
d. Untuk mengecek output atas pencatatan transaksi tersebut,
maka dapat dilakukan pengecekan dengan mencetak
laporan yang tersedia pada menu Laporan:

Laporan Neraca Percobaan bulan Desember 2015

Pada Laporan Neraca Percobaan basis akrual, akun


Pendapatan Sewa Tanah, Gedung, dan Bangunan
(423141) akan bersaldo Kredit sebesar Rp 15.000.000,-
sementara akun Pendapatan Yang Masih Harus Diterima
(114311) yang merupakan akun Aset Lancar akan
bersaldo debet sebesar Rp15.000.000,-.

Pada Laporan Neraca Percobaan basis kas, akun


Pendapatan Sewa Tanah, Gedung, dan Bangunan
(423141) akan bersaldo nihil karena pada transaksi ini
belum terjadi realisasi kas atas Pendapatan Sewa Tanah,
Gedung, dan Bangunan (423141) pada bulan Desember
2015.

Laporan Operasional bulan Desember 2015

Pada Laporan Operasional akan tercatat sebesar


pendapatan yang diakui, yakni sebesar tagihan bulan
Desember 2015 sehingga pada LO, Pendapatan Bukan
Pajak Lainnya akan bersaldo Rp15.000.000, meskipun
secara kas baru akan diterima pada bulan Januari 2016.

Laporan Neraca bulan Desember 2015

Pada Laporan Neraca Periode berakhir tanggal 31


Desember 2015 akan dilaporkan aset lancar berupa
Pendapatan Yang Masih Harus Diterima senilai Rp
15.000.000,-.

E. Kategori 3 : Beban Dibayar di Muka


Beban Dibayar Dimuka adalah pengeluaran belanja pada tahun
berjalan tetapi manfaatnya melampaui tahun anggaran
berjalan, sehingga pada tahun berikutnya masih ada manfaat
yang akan diterima akibat pembayaran tersebut.

Kategori Beban Dibayar Dimuka dimaksudkan untuk mencatat


transaksi antara lain :
1. Penyesuaian atas Belanja yang dikeluarkan namun dapat
diakui sebagai beban periode berjalan;
2. Jurnal Balik atas Pengakuan beban di tahun berjalan.

Ilustrasi transaksi :

126
Pada tanggal 12 Desember 2015, satker menyewa gedung
untuk mengadakan kegiatan sosialisasi yang akan
diselenggarakan 5 Januari 2016 dengan menerbitkan SPM
dengan menggunakan akun Belanja Sewa (522141) senilai
Rp3.000.000,-.

Analisis :
Pada transaksi di atas, uang telah dikeluarkan oleh satker pada
tahun 2015 namun manfaat baru akan diterima di tahun 2016
sehingga dikategorikan sebagai Beban Dibayar Dimuka. Oleh
sebab itu perlu dilakukan penyesuaian pada akhir periode
pelaporan atas beban yang sudah diakui ditahun 2015 akibat
pembayaran menjadi beban yang akan diakui di tahun 2016.

Langkah-langkah Pencatatan pada Aplikasi SAIBA :

a. Catat pada Buku Pengawasan Beban Dibayar Dimuka


sesuai S-1690/PB/2015 beserta Memo Penyesuaian;
b. Pastikan SP2D terkait belanja sewa tersebut telah tercatat
dalam aplikasi SAIBA
c. Rekam Jurnal Penyesuaian dengan mengkredit akun
Beban Sewa (522141) seperti pada gambar di bawah ini:

d. Lakukan Posting untuk bulan Desember (bulan


dilakukannya pembukuan)

e. Untuk mengecek output atas pencatatan transaksi


tersebut, maka dapat dilakukan pengecekan dengan
mencetak laporan yang tersedia pada menu Laporan:

Laporan Neraca Percobaan bulan Desember 2015

Pada Laporan Neraca Percobaan basis akrual, akun


Beban Sewa (522141) akan tereliminasi akibat jurnal
penyesuaian yang dilakukan sementara pada akun
muncul akun Belanja Barang Dibayar Dimuka
(Prepaid) di sisi Debet senilai Rp3.000.000, yang

127
menunjukkan hak yang akan diterima oleh
pemerintah.

Pada Laporan Neraca Percobaan basis kas, akun


Belanja Sewa (522141) akan tetap bersaldo sebesar
pengeluaran kas, senilai Rp3.000.000,-

Laporan Operasional bulan Desember 2015

Pada bulan Desember 2015, Beban Sewa (522141)


akan tereliminasi senilai Rp3.000.000,- sehingga akun
Beban Barang dan Jasa akan bersaldo Nihil seiring
Ayat Jurnal Penyesuaian yang dibuat.

Laporan Neraca bulan Desember 2015

Pada Laporan Neraca Periode berakhir tanggal 31


Desember 2015, pada sisi Aset Lancar akan tercatat
Belanja Dibayar Dimuka (prepaid) senilai
Rp3.000.000,- yang menginformasikan hak
pemerintah yang belum diterima terkait pengeluaran
belanja sewa yang telah dilakukan di bulan Desember
2015.

F. Kategori 4 : Beban yang Masih Harus


Dibayar
Belanja yang masih harus dibayar adalah tagihan pihak ketiga
atau kewajiban pemerintah kepada pihak ketiga yang pada
tanggal pelaporan keuangan belum dapat dibayarkan.
Tagihan pihak ketiga belum dapat dibayarkan bisa saja
disebabkan dana yang tersedia pada tahun berjalan tidak
mencukupi, atau belum dibayarkan karena alasan lain,
sehingga harus menunggu anggaran tahun berikutnya.
Kewajiban yang belum dapat dibayarkan adalah kewajiban
pemerintah kepada pegawai atau pihak ketiga yang pada
tahun berjalan belum dibayarkan karena belum diajukan
pembayarannya atau dana yang tersedia tidak mencukupi.

Kategori Beban yang Masih Harus Dibayar pada aplikasi


SAIBA ditujukan untuk mencatat :

1. Penyesuaian terhadap beban akibat adanya Belanja yang


Masih Harus Dibayar oleh pemerintah. Penyesuaian
tersebut harus dilakukan pada akhir periode pelaporan
dengan mengakui beban pada periode berjalan meskipun
belum terjadi aliran kas keluar dari pemerintah;
2. Jurnal balik belanja yang masih harus dibayar pada awal
periode pelaporan.

128
Ilustrasi transaksi :
Tagihan listrik bulan Desember 2015 sampai dengan 31
Desember 2015 tercatat sebesar Rp2.500.000,-. Tagihan dan
pembayaran akan diterima dan dibayarkan pada tanggal 5
Januari 2015.
Analisis :
Pemakaian listrik yang terjadi di bulan Desember 2015 harus
diakui sebagai Beban Langganan Listrik bulan Desember
2015 meskipun secara kas baru akan terealisasi di bulan
Januari 2015. Pencatatan kewajiban di neraca diperlukan
untuk menunjukkan sejumlah kas harus dilunasi pemerintah
pada periode yang akan datang. Kewajiban tersebut akan
tercatat sebagai Akun Utang Kepada Pihak Ketiga pada
Laporan Neraca

Langkah-langkah Pencatatan pada Aplikasi SAIBA :


a. Catat pada Buku Pengawasan Belanja Dibayar Dimuka
sesuai S-1690/PB/2015 beserta Memo Penyesuaian;
b. Rekam Jurnal Penyesuaian dengan mendebet akun Beban
Langganan Listrik (522111) seperti pada gambar di bawah
ini :

c. Lakukan Posting untuk bulan Desember ( bulan


dilakukannya pembukuan)
d. Untuk mengecek output atas pencatatan transaksi
tersebut, maka dapat dilakukan pengecekan dengan
mencetak laporan yang tersedia pada menu Laporan:

Laporan Neraca Percobaan bulan Desember 2015


Pada Laporan Neraca Percobaan basis akrual akan
tercatat Belanja Barang yang Masih Dibayar (212112)

129
dan Beban Langganan Listirik (522111) masing-
masing senilai Rp2.500.000,-.

Pada Laporan Neraca Percobaan basis kas Belanja


Langganan Listrik (522111) masih bernilai Nihil
karena belum adanya aliran kas yang keluar dari Kas
Negara pada bulan Desember 2015.

Laporan Operasional bulan Desember 2015


Pada bulan Desember 2015, Beban Langganan Listrik
(522111) yang diakui sebesar Rp2.500.000,- akan
tercatat pada Beban Barang dan Jasa di Laporan
Operasional bulan Desember 2015.

Laporan Neraca bulan Desember 2015


Pada Laporan Neraca Periode berakhir tanggal 31
Desember 2015, pada sisi Kewajiban Lancar akan
tercatat Utang Kepada Pihak Ketiga, senilai
Rp2.500.000,-, yang merupakan Belanja Langganan
Listrik yang Masih Harus Dibayar pemerintah pada
periode yang akan datang.

G. Kategori 5 : Penyisihan Piutang

Penyisihan piutang tak tertagih adalah cadangan yang


harus dibentuk sebesar persentase tertentu dari akun
piutang berdasarkan penggolongan kualitas piutang.
Penggolongan kualitas piutang, sebagaimana diatur
dalam Peraturan Menteri Keuangan nomor
201/PMK.06/2010 tentang Kualitas Piutang
Kementerian Negara/Lembaga dan Pembentukan
Penyisihan Piutang Tak Tertagih, menyebutkan
terdapat 4 (empat) kualitas piutang dengan persentase
masing-masing :
1. Kualitas Lancar, disisihkan 0,5% (setengah persen)
dari saldo piutang;
2. Kualitas Kurang Lancar, disisihkan 10% (sepuluh
persen) dari saldo piutang;
3. Kualitas Diragukan, disisihkan 50% (lima puluh
persen) dari saldo piutang;
4. Kualitas Macet, disisihkan 100% (seratus persen)
dari saldo piutang.

Penyisihan piutang tak tertagih dilakukan setiap


semester. Dalam hal sudah terdapat saldo pada akun
penyisihan piutang tak tertagih sebelum dilakukan
penyesuaian, maka jumlah beban penyisihan
memperhitungkan saldo akun cadangan penyisihan
piutang tak tertagih. Dalam hal bersaldo negatif, maka
beban penyisihan piutang tak tertagih dapat dikredit

130
dan disajikan dalam Laporan operasional sebagai
beban negatif.

Pada aplikasi SAIBA kategori penyisihan piutang


digunakan untuk mencatat penyisihan piutang yang
terdiri :
1. Penyisihan Piutang Tak Tertagih- Piutang
Perpajakan;
2. Penyisihan Piutang Tak Tertagih- Piutang PNBP;
3. Penyisihan Piutang Tak Tertagih- Piutang Lainnya;
4. Penyisihan Piutang Tak Tertagih- Piutang Jangka
Panjang;
5. Penyisihan Piutang Tak Tertagih- Piutang Bagian
Lancar Piutang Jangka Panjang;

Ilustrasi transaksi :

Saldo Piutang PNBP pada neraca per 31 Desember


2015 sebelum dilakukan penyesuaian penyisihan
piutang adalah Rp10.000.000,- (Rp4.000.000,- dengan
kualitas lancar dan Rp6.000.000,- kualitas kurang
lancar) dengan Penyisihan Piutang Tak Tertagih
Piutang PNBP sebesar Rp35.000,- maka pencatatan
penyisihan piutang dilakukan pada Periode 31
Desember 2015 adalah sebagai berikut:
Analisis :

Perhitungan jumlah pencadangan piutang tak tertagih


sebagai berikut :

Penyisihan Piutang dengan Kualitas Lancar :


0,5% x Rp4.000.000,- = Rp 20.000,-

Penyisihan Piutang dengan Kualitas kurang Lancar :


10% x Rp6.000.000,- = Rp600.000,- +

Jumlah Penyisihan Piutang yang disajikan pada


Laporan Neraca 2015 :
Rp20.000 + Rp600.000 = Rp620.000,-

Saldo Penyisihan Piutang periode sebelumnya =


Rp35.000,- -

Penyesuaian Penyisihan Piutang periode 31 Desember


2015 :
Rp620.000 Rp35.000 = Rp585.000,-

Langkah-langkah Pencatatan pada Aplikasi SAIBA :


a. Buat memo penyesuaian untuk menyesuaikan nilai
Penyisihan Piutang tak Tertagih dengan memperhatikan

131
kualitas piutang berdasarkan data piutang yang terdapat
pada kartu piutang;
b. Rekam Jurnal Penyesuaian Penyisihan Piutang Tak
Tertagih (kategori 5) berdasarkan perhitungan diatas
seperti gambar di bawah ini :

c. Lakukan Posting untuk bulan Desember ( bulan


dilakukannya pembukuan)
d. Untuk mengecek output atas pencatatan transaksi
tersebut, maka dapat dilakukan pengecekan dengan
mencetak laporan yang tersedia pada menu Laporan:

Laporan Neraca Percobaan bulan Desember 2015


Pada Laporan Neraca Percobaan basis akrual akan
tercatat Penyisihan Piutang Tak Tertagih-Piutang
PNBP senilai Rp620.000,-. Nilai Beban Penyisihan
Piutang Tak Tertagih akan bertambah sebesar
Rp525.000,-

Laporan Operasional bulan Desember 2015


Pada Laporan Operasional bulan Desember 2015,
Beban Penyisihan Piutang Tak Tertagih akan
bertambah sebesar Rp525.000,-

Laporan Neraca bulan Desember 2015

Pada Laporan Neraca Periode berakhir tanggal 31


Desember 2015, Saldo Piutang PNBP tercatat
Rp10.000.000,- dengan Penyisihan Piutang PNBP
sebesar Rp620.000,-.

H. Kategori 6 : Penghapusan Piutang

Penghapusan piutang dilakukan apabila piutang telah


dilakukan penyisihan sebesar 100%, yang kemudian telah
dilakukan upaya optimal oleh PUPN dan telah diterbitkan
keputusan penghapusan piutang.

Kategori Penghapusan Piutang pada aplikasi SAIBA hanya


ditujukan untuk menghapus piutang yang telah mendapatkan
persetujuan untuk dilakukan penghapusan. Kategori ini tidak
ditujukan untuk menyesuaikan saldo piutang. Penghapusan

132
piutang dilakukan dengan mendebet Nilai penyisihan dan
menkredit saldo akun piutang.

Ilustrasi transaksi :

Piutang PNBP yang telah dinyatakan macet dan telah diusulkan


penghapusan kepada Kementerian Keuangan RI telah
memperoleh keputusan untuk dihapuskan. Piutang PNBP
tersebut senilai Rp15.000.000,- dengan nilai penyisihan
Rp15.000.000,-.
Analisis :
Dengan terbitnya surat keputusan tentang penghapusan
piutang dari Kementerian Keuangan merupakan dasar untuk
menghapusbukukan piutang yang tersaji di neraca. Namun
penghapusan tersebut tidak menghapuskan penghapustagihan
yang dilakukan oleh Kementerian Keuangan.

Langkah-langkah Pencatatan pada Aplikasi SAIBA :


a. Buat memo penyesuaian pencatatan penghapusan piutang
atas dasar Surat Keputusan Penghapusan Piutang dari
Kementerian Keuangan;
b. Rekam Jurnal Penyesuaian untuk penghapusan piutang
menggunakan menu jurnal penyesuaian kategori
Penghapusan Piutang (kategori 6) dengan ayat jurnal
penyesuaian seperti gambar di bawah ini:

c. Lakukan Posting untuk bulan Desember ( bulan


dilakukannya pembukuan);
d. Jurnal tersebut mengurangi/menghapus nilai Piutang PNBP
dan Penyisihan Piutang Tak Tertagih-Piutang PNBP senilai
Rp15.000.000,-.

I. Kategori 7 : Penyusutan
Penyusutan adalah alokasi sistematis atas nilai suatu aset
tetap/aset lainnya yang dapat disusutkan selama masa manfaat

133
aset yang bersangkutan. Nilai penyusutan untuk masing-
masing periode diakui sebagai pengurang nilai tercatat aset
tetap dalamneraca dan sebagai beban penyusutan dalam
laporan operasional.
Penyusutan aset tetap/aset lainnya yang meliputi perhitungan
penyusutan dan beban penyusutan dilakukan secara otomatis
oleh Aplikasi SIMAK-BMN sehingga pencatatan penyusutan
aset tetap/aset lainnya tidak diperlukan lagi di Aplikasi SAIBA.
Kategori penyusutan (kategori 7) pada menu penyesuaian
dalam Aplikasi SAIBA hanya digunakan dalam hal Aplikasi
SIMAK-BMN dan SAIBA tidak dapat mengirimkan atau
menerima jurnal aset.

Ilustrasi transaksi :
Satker memiliki kendaraan bermotor (mobil) dengan tanggal
perolehan 5 Juli 2013 senilai Rp280 juta, pada 31 Desember
2015 (semester II) akan dilaporkan nilai akumulasi
penyusutan atas aset tersebut (aset tetap telah dicatat di
Aplikasi SIMAK-BMN namun tidak dapat mengirimkan jurnal
ke aplikasi SAIBA).
Analisis :
Umur masa manfaat untuk kendaraan bermotor
= 7 tahun (14 Semester)
Metode penyusutan adalah metode garis lurus
= Rp280 juta/14 semester = Rp20juta/semester
Beban penyusutan dan penyusutan setiap semester
adalah:
Rp 20 Juta (Rp40juta/tahun)
Hingga semester I 2015 (semester II 2013-semester I
2015 = 4 Semester), Akumulasi penyusutan:
= 4 semester x Rp20 juta = Rp80juta

Langkah-langkah Pencatatan pada Aplikasi SAIBA :


1. Buat memo penyesuaian untuk mencatat beban
penyusutan dan penyusutan semester II 2015;
2. Atas dasar memo penyesuaian, lakukan jurnal
penyesuaian dengan menggunakan kategori Penyusutan
seperti di bawah ini :

134
3. Posting bulan Desember 2015

J. Kategori 8 : Kas di Bendahara Penerimaan


Kas di Bendahara Peneriman merupakan uang yang berada
dibawah tanggung jawab Bendahara Penermaan yang
mencakup seluruh kas, baik itu saldo rekening di bank maupun
saldo uang tunai, yang sumbernya berasal dari pelaksanaan
tugas pemerintahan. Saldo kas ini mencerminkan saldo yang
berasal dari pungutan yang sudah diterima oleh bendahara
penerimaan selaku wajib pungut yang belum disetorkan ke kas
negara.
Pencatatan Kas di Bendahara Penerimaan dilakukan setiap
akhir periode pelaporan dengan menggunakan kategori 8 : Kas
di Bendahara Penerimaan pada menu Jurnal Penyesuaian. Nilai
yang tercatat ke Kas di Bendahara Penerimaan berdasarkan
jumlah pendapatan yang dicatat oleh Bendahara Penerimaan
yang belum disetorkan hingga tanggal pelaporan (31
Desember).

Ilustrasi transaksi :
Sampai dengan 31 Desember 2015 Bendahara Penerimaan
mencatat Pendapatan Rumah Sakit dan Instansi Kesehatan
Lainnya (423211) senilai Rp7.000.000,- yang belum disetorkan
ke Kas Negara.
Analisis :
Pendapatan yang diperoleh satker yang dicatat oleh Bendahara
Penerimaan harus segera disetorkan ke Kas Negara oleh
Bendahara Penerimaan, namun apabila sampai dengan tanggal
pelaporan, pendapatan tersebut belum disetorkan maka akan
terdapat uang kas yang berada di bawah tanggung jawab
bendahara penerimaan yang perlu dilaporkan di neraca satker.

Langkah-langkah Pencatatan pada Aplikasi SAIBA :


1. Atas dasar Buku Pembantu Kas Bendahara Penerimaan,
memo penyesuaian dibuat;

135
2. Operator menginput Kas di Bendahara Penerimaan pada
Aplikasi SAIBA dengan menggunakan jurnal sebagai berikut
:

3. Lakukan Posting bulan Desember 2015

Dalam hal Bendahara Penerimaan menyetorkan penerimaan


tersebut pada awal tahun berjalan, maka ayat jurnal yang
dibuat adalah akun Kas di Bendahara Penerimaan pada posisi
kredit dan pendapatan yang bersangkutan pada posisi debet
(atau diberi tanda minus pada nilai Rupiah), seperti yang
digambarkan pada ilustrasi transaksi berikut :

Ilustrasi transaksi :
Pada tanggal 5 Januari 2015, Bendahara Penerimaan
menyetorkan penerimaan yang diperoleh pada tanggal 31
Desember 2014 yang belum dilakukan penyetoran.
Penerimaan tersebut merupakan Pendapatan Rumah Sakit dan
Instansi Kesehatan Lainnya (423211) senilai Rp1.200.000,-.
Analisis :
Pada saat pencatatan kas di bendahara penerimaan pada tahun
2014, pendapatan rumah sakit telah diakui karena jasa rumah
sakit telah diserahkan sehingga pendapatan rumah sakit
tersebut harus dikeluarkan pada Laporan Operasional,
begitupun dengan Kas di Bendahara Penerimaan harus
dikurangkan karena uang kas tersebut telah disetorkan ke kas
negara. Sehingga secara akrual pendapatan rumah sakit bukan
merupakan pendapatan di 2015 dan secara kas pendapatan
diakui di tahun 2015.

Langkah-langkah Pencatatan pada Aplikasi SAIBA :


a. Input Setoran sebesar Rp1.200.000,- pada menu
Pendapatan berserta kelengkapan kodifikasi yang
diperlukan berdasarkan dokumen sumber SSBP (akun
423211)

136
b. Buat Memo Penyesuaian dan Rekam ayat jurnal
penyesuaian terhadap akun Kas di Bendahara Penerimaan
dengan menggunakan menu Jurnal Penyesuaian Kategori 8
dengan ayat jurnal seperti di bawah ini:

c. Lakukan Posting untuk bulan Desember ( bulan terjadinya


transaksi)

K. Kategori 9 : Kas Lainnya di Bendahara


Pengeluaran

Kas Lainnya di Bendahara Pengeluaran merupakan kas yang


berada dibawah tanggung jawab bendahara pengeluaran yang
bersumber dari selain dari Uang Persediaan (UP) atau
Tambahan Uang Persediaan (TUP). Kas tersebut dapat berupa
pendapatan satker bersangkutan yang belum disetorkan atau
merupakan kewajiban (utang) yang belum diserahkan kepada
yang berhak sampai dengan 31 Desember (akhir periode
pelaporan).

Kategori Kas Lainnya di Bendahara Pengeluaran (kategori 9)


pada menu jurnal penyesuaian Aplikasi SAIBA hanya mencatat
Kas Lainnya di Bendahara Pengeluaran yang merupakan
pendapatan bukan pajak (PNBP), sementara Kas Lainnya di
Bendahara Pengeluaran yang merupakan kewajiban yang
belum dibayarkan kepada pihak ketiga, dicatat pada menu
Jurnal Penyesuaian Neraca.

Ilustrasi transaksi :
Pada tanggal 31 Desember 2015 diperoleh pendapatan bunga
yang merupakan jasa giro (423221) yang belum disetorkan ke
Kas Negara oleh Bendahara Pengeluaran senilai Rp750.000.
Analisis :
Pendapatan jasa giro pada umumnya terdapat pada rekening
bendahara pengeluaran. Untuk menghindari adanya

137
perbedaaan antara pencatatan kas dan saldo kas pada rekening
bendahara pengeluaran, maka atas pendapatan bunga tersebut
harus dicatat sebagai Kas Lainnya di Bendahara Pengeluaran.

Langkah-langkah Pencatatan pada Aplikasi SAIBA :

1. Lakukan rekonsiliasi kas bendahara pengeluaran pada akhir


periode pelaporan;
2. Dalam hal terjadi selisih akibat adanya pendapatan bunya
yang dicatat pada rekening bendahara pengeluaran, maka
Bendahara pengeluaran melaporkan selisih tersebut
sebagai pendapatan bunga dan akan dibuatkan memo
penyesuaian untuk mencatat kas tersebut;
3. Atas dasar memo penyesuaian, operator Aplikasi SAIBA
melakukan jurnal sebagai berikut :

4. Lakukan posting bulan Desember 2015.

L. Kategori 10 : Persediaan

Pencatatan perolehan dan pemakaian persediaan dilakukan


dengan menggunakan Aplikasi Persediaan. Sehingga angka aset
yang berupa persediaan yang tercantum pada laporan neraca
dan beban persediaan yang menggambarkan pemakaian
persediaan pada periode berjalan yang tercantum pada
laporan operasional dihasilkan menggunakan Aplikasi
Persediaan.

Pencatatan aset berupa persediaan dan beban persediaan


dilakukan secara otomatis oleh Aplikasi Persediaan
sehingga pencatatan persediaan dan beban persediaan tidak
diperlukan lagi di Aplikasi SAIBA.Kategori persediaan
(kategori 10) pada menu penyesuaian dalam Aplikasi SAIBA
hanya digunakan dalam hal Aplikasi SIMAK-BMN dan SAIBA
tidak dapat mengirimkan atau menerima jurnal aset.

Transaksi yang dapat menggunakan kategori ini antara lain:

138
1. Pencatatan aset persediaan definitif;
2. Pencatatan beban persediaan
3. Koreksi belanja persediaan yang tidak menggunakan akun
belanja persediaan yang diperkenankan

Ilustrasi transaksi :
Selama bulan Desember 2015, penggunaan persediaan berupa
Alat Tulis Kantor (barang komsumsi) berdasarkan Dokumen
Pengeluaran Barang Persediaan adalah senilai Rp 10 juta.
(dicatat di Aplikasi Persediaan, namun tidak dapat menerima
jurnal pada Aplikasi SAIBA.
Analisis :
Penggunaan persediaan pada periode berjalan akan diakui
sebagai beban persediaan (untuk persediaan barang
komsumsi, persediaan bahan baku dan persediaan lainnya).

Langkah-langkah Pencatatan pada Aplikasi SAIBA :

1. Lakukan pencatatan pemakaian persediaan pada aplikasi


persediaan atas dasar Dokumen Pengeluaran Barang
Persediaan;
2. Dalam hal tidak terjadi kiriman jurnal dari Aplikasi
Persediaan ke Aplikasi SAIBA, maka disusun memo
penyesuaian untuk mencatat beban persediaan;
3. Lakukan jurnal pada Aplikasi SAIBA dengan menggunakan
kategori persediaan seperti berikut :

4. Lakukan posting pada Aplikasi SAIBA bulan terjadinya


transaksi (bulan Desember).

M. Kategori 11 : Koreksi antar Beban


Koreksi antar beban adalah koreksi beban yang terlanjur
dicatat pada akun yang salah menjadi akun beban yang
seharusnya. Pada umumnya, koreksi beban terjadi akibat

139
kesalahan pembebanan dalam SPM/SP2D/SP3B sehingga
beban tersebut perlu dilakukan koreksi (dalam hal ini satker
tidak memungkinkan ralat SPM/SP2D/SP3B ke KPPN).
Penggunaan kategori ini juga digunakan untuk mereklasifikasi
beban persediaan, beban pemeliharaan, dan beban penyusutan
yang dihasilkan oleh Aplikasi SIMAK-BMN menjadi beban
persediaan-BLU, beban pemeliharaan-BLU dan beban
penyusutan-BLU.

Ilustrasi transaksi :
Pada tanggal 5 Desember 2015 telah terbit SP2D-LS atas SPM
dengan menggunakan akun 524111 (belanja perjalanan dinas
biasa) senilai Rp15.000.000,-. Pada tanggal 28 Desember 2015
diinformasikan bahwa dari total Rp15.000.000,- yang
dibelanjakan dengan menggunakan akun 524111, terdapat
belanja yang ditujukan untuk Belanja Jasa Profesi (522151)
senilai Rp.3.000.000,-.
Pada tanggal 31 Desember 2015 transaksi tersebut dijurnal
dengan menggunakan kategori Jurnal Koreksi Antar Beban
pada menu jurnal penyesuaian dalam Aplikasi SAIBA. Jurnal
dibuat dengan menkredit akun Beban yang ingin dikoreksi
yakni 524111 (beban perjalanan dinas biasa) dan
memunculkan akun beban Jasa (522151) dengan mendebetnya
seperti yang ditampilkan pada gambar di bawah ini :

Analisis :
Belanja menggunakan akun 524111 akan menghasilkan Beban
Perjalanan Dinas, sementara untuk akun 522151 akan
menghasilkan Beban Barang dan Jasa pada Laporan
Operasional. Sehingga Beban Perjalanan Dinas harus dikoreksi
sebesar Rp 3 Juta dan memindahkan beban tersebut ke Beban
Barang dan Jasa.

Langkah-langkah Pencatatan pada Aplikasi SAIBA :


1. Pastikan bahwa SPM/SP2D untuk belanja 524111 telah
tercatat di Aplikasi SAIBA;
2. Buat Memo Penyesuaian yang ditandatangani
ditandatangani oleh pihak-pihak yang bertanggung jawab;
3. Atas Dasar Memo Penyesuaian, Lakukan jurnal pada
Aplikasi SAIBA dengan menggunakan kategori Koreksi
Antar Beban seperti berikut :

140
4. Lakukan posting pada Aplikasi SAIBA bulan terjadinya
transaksi (bulan Desember).

N. Kategori 12 : Pendapatan Selisih Kurs yang


Belum Terealisasi
Pendapatan selisih kurs yang belum terealisasi merupakan
selisih lebih atas penjabaran nilai aset dalam mata uang asing
ke dalam mata uang pelaporan (rupiah) pada tanggal
pelaporan. Penjabaran nilai aset dalam mata uang asing ke
dalam mata uang pelaporan berdasarkan atas kurs tengah
Bank Indonesia pada tanggal pelaporan. Contoh aset yang
berpotensi untuk terjadinya selisih kurs antara lain Kas di
Bendahara Pengeluaran dalam valas dan Piutang dalam valas.

Ilustrasi transaksi :
Pada tanggal 31 Desember 2015 Satker ABCD memiliki sisa UP
yang belum disetor ke kas negara dalam mata uang USD
sebesar $1,500. Sementara saldo Kas di Bendahara
Pengeluaran dalam Neraca Satker ABCD sebelum dilakukan
penyesuaian adalah sebesar Rp. 17.500.000,-. Untuk kebutuhan
pelaporan, satker ABCD melakukan penjabaran sisa UP dalam
valas tersebut ke dalam mata uang rupiah. Kurs tengah Bank
Indonesia pada tanggal pelaporan (31 Desember 2015) adalah
$1 = Rp13.500,-. Berdasarkan data tersebut, satker ABCD
melakukan perhitungan selisih kurs sebagai berikut:

Saldo Kas di BP (Neraca sebelum penyesuaian)


= Rp17.500.000,-
Penjabaran sisa UP dalam valas
= Rp20.250.000,- ($1,500 x Rp13.500,-)
Pendapatan selisih kurs blm terealisasi
= Rp 2.750.000,-

Pada tanggal 31 Desember 2015 perhitungan tersebut


dijurnal dengan menggunakan kategori Jurnal Pendapatan
Selisih Kurs yang Belum Terealisasi pada menu jurnal

141
penyesuaian dalam Aplikasi SAIBA. Jurnal dibuat dengan
menkredit akun pendapatan yang ingin disesuaikan yakni
491111 (Pendapatan Selisih Kurs yang Belum Terealisasi)
dan menambah saldo Kas di Bendahara Pengeluaran
(111611) dengan mendebetnya seperti yang ditampilkan
pada gambar di bawah ini :

Analisis :
Saldo Kas di Bendahara Pengeluaran yang sebelumnya
sebesar Rp17.500.000,- akan disesuaikan dengan menambah
(debet) sebesar Rp2.750.000,- sehingga akan menjadi
Rp20.250.000. Pendapatan selisih kurs yang belum terealisasi
sebesar Rp2.750.000 akan dilaporkan dalam LO.

Langkah-langkah Pencatatan pada Aplikasi SAIBA :


1. Buat Memo Penyesuaian yang ditandatangani oleh pihak-
pihak yang bertanggung jawab;
2. Atas Dasar Memo Penyesuaian, Lakukan jurnal pada
Aplikasi SAIBA dengan menggunakan kategori Koreksi
Antar Beban seperti berikut

3. Lakukan posting pada Aplikasi SAIBA bulan terjadinya


transaksi (bulan Desember).

O. Kategori 13 : Beban Selisih Kurs yang


Belum Terealisasi
Beban selisih kurs yang belum terealisasi merupakan selisih
kurang atas penjabaran nilai aset dalam mata uang asing ke
dalam mata uang pelaporan (rupiah) pada tanggal pelaporan.
Penjabaran nilai aset dalam mata uang asing ke dalam mata
uang pelaporan berdasarkan atas kurs tengah Bank Indonesia
pada tanggal pelaporan.

Ilustrasi transaksi :
Pada tanggal 31 Desember 2015 Satker ABCD memiliki sisa UP
yang belum disetor ke kas negara dalam mata uang USD

142
sebesar $1,500. Sementara saldo Kas di Bendahara
Pengeluaran dalam Neraca Satker ABCD sebelum dilakukan
penyesuaian adalah sebesar Rp. 27.500.000,-. Untuk kebutuhan
pelaporan, satker ABCD melakukan penjabaran sisa UP dalam
valas tersebut ke dalam mata uang rupiah. Kurs tengah Bank
Indonesia pada tanggal pelaporan (31 Desember 2015) adalah
$1 = Rp13.500,-. Berdasarkan data tersebut, satker ABCD
melakukan perhitungan selisih kurs sebagai berikut:

Saldo Kas di BP (Neraca sebelum penyesuaian)


= Rp27.500.000,-
Penjabaran sisa UP dalam valas
= Rp20.250.000,- ($1,500 x Rp13.500,-)
Beban selisih kurs blm terealisasi
= Rp 7.250.000,-

Pada tanggal 31 Desember 2015 perhitungan tersebut


dijurnal dengan menggunakan kategori Jurnal Beban Selisih
Kurs yang Belum Terealisasi pada menu jurnal penyesuaian
dalam Aplikasi SAIBA. Jurnal dibuat dengan mendebit akun
beban yang ingin disesuaikan yakni 596211 (Beban Selisih
Kurs yang Belum Terealisasi) dan mengurangi saldo Kas di
Bendahara Pengeluaran (111611) dengan menkreditnya
seperti yang ditampilkan pada gambar di bawah ini :

Analisis :

Saldo Kas di Bendahara Pengeluaran yang sebelumnya


sebesar Rp27.500.000,- akan disesuaikan dengan mengurangi
(kredit) sebesar Rp7.250.000,- sehingga akan menjadi
Rp20.250.000. Beban selisih kurs yang belum terealisasi
sebesar Rp7.250.000,- akan dilaporkan dalam LO.

Langkah-langkah Pencatatan pada Aplikasi SAIBA :

1. Buat Memo Penyesuaian yang ditandatangani oleh pihak-


pihak yang bertanggung jawab;
2. Atas Dasar Memo Penyesuaian, Lakukan jurnal pada
Aplikasi SAIBA dengan menggunakan kategori Koreksi
Antar Beban seperti berikut :

143
3. Lakukan posting pada Aplikasi SAIBA bulan terjadinya
transaksi (bulan Desember).

P. Kategori 14 : Piutang Jangka Panjang


Kategori Piutang Jangka Panjang pada menu jurnal
penyesuaian dalam Aplikasi SAIBA ditujukan membukukan
pembentukan piutang yang memiliki masa jatuh tempo yang
lebih dari 12 (dua belas) bulan. Jenis piutang tersebut antara
lain :
1. Piutang Tagihan Penjualan Angsuran;
2. Piutang Tuntutan Perbendaharaan/Tuntutan Ganti Rugi;
3. Piutang Jangka Panjang atas Penjaminan Pemerintah;
4. Piutang Jangka Panjang Lainnya.
Piutang jangka panjang merupakan aset non lancar yang setiap
periode pelaporan memperhitungkan kemungkinan pencairan
untuk satu periode pelaporan. Setiap awal periode pelaporan,
dilakukan reklasfikasi Piutang Jangka Panjang ke dalam Bagian
Lancar Piutang Jangka Panjang sebesar perhitungan
kemungkinan dapat dicairkannya untuk satu periode
pelaporan tersebut. Pada Aplikasi SAIBA, reklasifikasi Piutang
Jangka Panjang dilakukan pada menu Jurnal Penyesuaian
Neraca sebagaimana dijelaskan di atas.

Piutang Jangka Panjang dan Bagian Lancarnya setiap semester


dilakukan penyisihan piutang tak tertagih berdasarkan kualitas
piutang sebagaimana penilaian kualitas pada Piutang PNBP.

Piutang Jangka Panjang diakui berdasarkan dokumen sumber


berdasarkan ketentuan yang berlaku. Atas dasar dokumen
sumber tersebut dilakukan perekaman pembentukan Piutang
Jangka Panjang menggunakan menu Jurnal Penyesuaian
dengan kategori 14 dengan mendebet akun piutang jangka

144
panjang dan disisi kredit adalah pendapatan terkait piutang
jangka panjang.

Ilustrasi transaksi :
Telah diterbitkan Surat Keterangan Tanggung Jawab Mutlak
(SKTM) dan ditandatangani atas nama Cahyo karena
menghilangkan Kendaraan Dinas senilai Rp100 Juta yang akan
dibayarkan selama 15 tahun melalui pemotongan gaji.

Analisis :
Masa jatuh tempo lebih dari setahun sehingga harus dicatat
sebagai Piutang Jangka Panjang.

Langkah-langkah Pencatatan pada Aplikasi SAIBA :


1. Atas dasar SKTM, maka dibuatkan kartu pengawasan
piutang TGR a.n Cahyo;
2. Buat Memo Penyesuaian yang ditandatangani
ditandatangani oleh pihak-pihak yang bertanggung jawab;
3. Atas Dasar Memo Penyesuaian, Lakukan jurnal pada
Aplikasi SAIBA dengan menggunakan kategori Piutang
Jangka Panjang seperti berikut :

4. Lakukan posting pada Aplikasi SAIBA bulan terjadinya


transaksi (bulan Desember).

Q. Kategori 15 : Pelepasan Aset Tetap/ Aset


Lainnya
Pelepasan aset tetap/aset lainnya adalah pemindahtanganan
aset tetap/aset lainnya yang dimiliki pemerintah kepada pihak
lain. Dengan pelepasan aset tetap/aset lainnya tersebut maka
aset tetap/aset lainnya perlu dikeluarkan dari neraca
pemeritah.
Pelepasan aset tetap/aset lainnya dapat dilakukan melalui :
1. Penjualan;
2. Dipertukarkan;
3. Dihibahkan;
4. Dijadikan penyertaan modal negara

145
Aset tetap yang dilepaskan melalui penjualan, dikeluarkan dari
neraca pada saat diterbitkan risalah lelang atau dokumen
penjualan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan. Aset
tetap yang dihibahkan, dikeluarkan dari neraca pada saat telah
diterbitkan berita acara serah terima hibah oleh entitas sebagai
tindak lanjut persetujuan hibah. Aset tetap yang
dipindahtangankan melalui mekanisme penyertaan modal
negara, dikeluarkan 1 dari neraca pada saat diterbitkan
penetapan penyertaan modal negara.
Transaksi dan pembentukan jurnal terkait pelepasan aset
tetap/aset lainnya dicatat menggunakan Aplikasi SIMAK-BMN
sehingga kategori Pelepasan Aset Tetap/Aset Lainnya pada
menu jurnal penyesuaian Aplikasi SAIBA hanya digunakan
apabila Aplikasi SIMAK-BMN tidak memungkinkan untuk
mengirim jurnal pelepasan aset tetap/aset lainnya ke Aplikasi
SAIBA.

Ilustrasi transaksi :
Pada tanggal 10 November 2015 Sebuah mobil dengan harga
perolehan Rp200.000.000,- dengan akumulasi penyusutan Rp
40.000.000,- dijual senilai Rp 170.000.000,-. Hasil penjualan
tersebut disetor ke Kas Negara menggunakan dokumen SSBP
dengan menggunakan akun 423122 (Pendapatan dari
Penjualan Peralatan Mesin).
Analisis :
Penjualan Aset Tetap merupakan transaksi pelepasan aset
dimana beban kerugian pelepasan akan diakui sebesar nilai
buku dari aset tetap. Selisih antara pendapatan dari hasil
penjualan aset tetap dan beban kerugian pelepasan aset akan
menjadi surplus/defisit pada Laporan Operasional.

Langkah-langkah Pencatatan pada Aplikasi SAIBA :

a. Input Setoran SSBP sebesar Rp.170.000.000 pada menu


Pendapatan dengan menggunakan akun 423122 dan
kodefikasi yang lain sesuai dokumen SSBP;
b. Buat Memo Penyesuaian dan Bukukan jurnal pelepasan
peralatan mesin senilai nilai buku (Rp.200 juta Rp.40juta
= Rp 160 juta) dan penyusutannya (senilai Rp 40 juta)
seperti yang ditampilkan di bawah ini pada Aplikasi SAIBA
menu Jurnal Penyesuaian kategori 15:

Penjurnalan atas penghapusan Aset Tetap di Neraca

146
147
Penjurnalan atas penghapusan Akumulasi Penyusutan
di Neraca

c. lakukan posting pada bulan November 2015


d. Pada laporan neraca, Aset tetap berupa Peralatan Mesin
dan Akumulasi Penyusutan Peralatan Mesin akan
berkurang senilai Rp.200.000.000,- dan Rp.40.000.000,-.
Pada Laporan Operasional bulan November 2015, pada
Bagian Kegiatan Non Operasional akan diperoleh
Pendapatan Pelepasan Aset Non Lancar Senilai
Rp170.000.000 dan Beban Pelepasan Aset Non Lancar
senilai Rp.160.000.000,- sehingga diperoleh Surplus
senilai Rp10.000.000,- seperti gambar di bawah ini:

Dalam hal Aplikasi SAIBA menerima jurnal pelepasan aset


tetap/aset lainnya dari Aplikasi SIMAK-BMN, maka operator
SAIBA hanya melakukan input setoran SSBP terkait hasil
penjualan Aset dimaksud.

R. Kategori 16 : Piutang Jangka Pendek


Kategori Piutang Jangka Pendek dikhususkan untuk mencatat
pembentukan piutang yang memiliki masa jatuh tempo kurang
dari 12 (dua belas) bulan. Piutang jangka pendek meliputi
Piutang Pajak dan Piutang PNBP yang pengakuannya harus
memenuhi kriteria sebagai berikut :
1. Telah diterbitkan surat ketetapan dan/atau;

148
2. Telah diterbitkan surat penagihan dan telah dilaksanakan
penagihan.

Perekaman jurnal melalui kategori 16 pada menu Jurnal


Penyesuaian Aplikasi SAIBA ditujukan untuk:

1. Membukukan pembentukan piutang baru;


2. Penyesuaian nilai piutang akibat adanya
pembayaran/pelunasan piutang yang tersaji di neraca.

Secara standar jurnal pembentukan piutang adalah piutang


(debet) dan pendapatan (kredit) dan apabila terjadi pelunasan
adalah pendapatan (debet) dan piutang (kredit).

Ilustrasi transaksi :

Pada tanggal 1 Juli 2015, berdasarkan Surat Penagihan No. SPN


12/0115, satker membukukan piutang PNBP atas pendapatan
Sewa Gedung untuk ATM Bank ABC yang jatuh tempo tanggal
30 Juni 2015 senilai Rp25.000.000,-. Pada tanggal 1 Agustus
2015 melunasi piutang tersebut dengan melampirkan
dokumen SSBP dengan akun 423141 (Pendapatan Sewa Tanah,
Gedung, dan Bangunan).

Analisis :

Adanya Surat Penagihan sudah menjadi dokumen sumber


cukup untuk mencatat piutang PNBP baru, sehingga diperlukan
pencatatan pembentukan Piutang PNBP baru.

Langkah-langkah Pencatatan pada Aplikasi SAIBA :

a. Pada tanggal 1 Juli 2015, atas dasar surat penagihan


membuat Memo Penyesuaian dan membukukan piutang
melalui menu jurnal penyesuaian pada Aplikasi SAIBA
kategori 16 dengan ayat jurnal sebagai berikut :

b. Lakukan posting untuk bulan Juli 2015;


c. Pada tanggal 1 Agustus 2015, Atas dasar dokumen SSBP
sebagai bukti pelunasan dari Bank ABC, setoran tersebut

149
dibukukan pada menu Pendapatan pada Aplikasi SAIBA
dengan menggunakan akun 423141;
d. Atas dasar pelunasan tersebut, susun Memo Penyesuaian
untuk melakukan penyesuaian Nilai piutang di neraca
kemudian input pada Aplikasi SAIBA dengan
menggunakan menu Jurnal Penyesuaian kategori 16
seperti dibawah ini :

e. Lakukan Posting untuk bulan Agustus 2015.

S. Kategori 17 : Transfer Masuk


Transfer masuk ini adalah penerimaan aset atau kewajiban
dari satu entitas ke entitas lain yang masih dalam satu entitas
pelaporan terkonsolidasi. Transfer masuk dapat terjadi pada
tingkat bawah (antar satker dalam satu kementerian/lembaga)
atau pada tingkat atas (antar satker dan antar
kementerian/lembaga).
Jenis transfer masuk dapat terdiri dari :
1. Transfer masuk berupa aset tetap
2. Transfer masuk berupa persediaan
3. Transfer masuk berupa kewajiban
4. Transfer masuk berupa aset lancar/aset non-lancar

Transfer masuk berupa aset tetap/aset lainnya dan persediaan


tidak dilakukan pencatatan pada Aplikasi SAIBA, jurnal aset
tetap/aset lainnya dihasilkan secara otomatis oleh Aplikasi
SIMAK-BMN dan Aplikasi Persediaan, sementara transfer
masuk berupa kewajiban dan aset lancar/aset non-lancar
dibukukan menggunakan Aplikasi SAIBA.

Ilustrasi transaksi :

Pada tanggal 30 Juni 2015, satker memperoleh peralatan dan


mesin berupa kendaraan bermotor angkutan darat dari satker
lain dalam satu eselon 1 suatu kementerian dengan nilai
perolehan aset Rp 25 juta dengan akumulasi penyusutan Rp 3

150
juta (diasumsikan tidak ada pengiriman jurnal dari Aplikasi
SIMAK-BMN)

Analisis :

Transaksi penerimaan berupa aset tetap yang berasal dari satu


unit eselon yang sama dikategorikan sebagai transaksi transfer
masuk. Pencatatan transfer masuk tidak hanya mencatat
perolahan aset tetapnya namun juga termasuk juga akumulasi
penyusutan dari aset tetap tersebut. Dokumen sumber
pencatatan adalah Berita Acara Serah Terima aset tetap.

Langkah-langkah Pencatatan pada Aplikasi SAIBA :

a. Atas dasar BAST dibuat memo penyesuaian;


b. Lakukan jurnal penerimaan aset dengan menu jurnal
penyesuaian kategori Transfer Masuk seperti di bawah ini :

c. Lakukan penjurnalan Akumulasi Penyusutan


menggunakan menu dan kategori yang sama seperti di
bawah ini :

d. Lakukan Posting bulan Juni 2015;

151
T. Kategori 18 : Transfer Keluar
Transfer Keluar adalah pengiriman aset atau kewajiban dari
satu entitas ke entitas lain yang masih dalam satu entitas
pelaporan terkonsolidasi. Transfer keluar dapat terjadi pada
tingkat bawah (antar satker dalam satu kementerian/lembaga)
atau pada tingkat atas (antar satker dan antar
kementerian/lembaga).
Jenis transfer keluar dapat terdiri dari :
1. Transfer keluar berupa aset tetap
2. Transfer keluar berupa persediaan
3. Transfer keluar berupa kewajiban
4. Transfer keluar berupa aset lancar/aset non-lancar

Transfer keluar berupa aset tetap/aset lainnya dan persediaan


tidak dilakukan pencatatan pada Aplikasi SAIBA, jurnal aset
tetap/aset lainnya dihasilkan secara otomatis oleh Aplikasi
SIMAK-BMN dan Aplikasi Persediaan, sementara transfer
keluar berupa kewajiban dan aset lancar/aset non-lancar
dibukukan menggunakan Aplikasi SAIBA.

Ilustrasi transaksi :

Pada tanggal 30 Juni 2015, satker mengirimkan peralatan dan


mesin berupa kendaraan bermotor angkutan darat kepada
satker ABC yang masih dalam satu eselon 1 suatu kementerian
dengan nilai perolehan aset Rp 31 juta dengan akumulasi
penyusutan Rp 2,5juta (diasumsikan tidak ada pengiriman
jurnal dari Aplikasi SIMAK-BMN).

Analisis :

Transaksi pelepasan berupa aset tetap yang berasal dari satu


unit eselon yang sama dikategorikan sebagai transaksi transfer
keluar. Pencatatan jurnal transfer keluar tidak hanya mencatat
pelepasan aset tetapnya namun juga termasuk juga
penghapusan akumulasi penyusutan dari aset tetap tersebut.
Dokumen sumber pencatatan adalah Berita Acara Serah
Terima aset tetap.

Langkah-langkah Pencatatan pada Aplikasi SAIBA :

a. Atas dasar BAST dibuat memo penyesuaian;


b. Lakukan jurnal pelepasan aset dengan menu jurnal
penyesuaian kategori Transfer Keluar seperti di bawah ini :

152
c. Lakukan penjurnalan Akumulasi Penyusutan menggunakan
menu dan kategori yang sama seperti di bawah ini :

d. Lakukan Posting bulan Juni 2015;

U. Kategori 19 : Koreksi Beban-Aset


Kategori Koreksi Beban-Aset pada menu Jurnal Penyesuaian
Aplikasi SAIBA merupakan menu yang ditujukan untuk
melakukan pencatatan koreksi atas kesalahan pembebanan
akun belanja yang seharusnya tidak menghasilkan aset
tetap/aset lainnya dan persediaan namun pada realisasinya
menghasilkan aset berupa aset tetap/asep lainnya dan
persediaan atau sebaliknya. Penjurnalan dilakukan dalam hal
tidak dimungkinkan untuk melakukan ralat SPM/SP2D.

Ilustrasi transaksi :
Pada tanggal 7 Desember 2015, satker menerbitkan SPM
kemudian terbit SP2D oleh KPPN dengan akun 521111
(belanja keperluan perkantoran) senilai Rp15.000.000,- yang
kemudian diketahui bahwa dari belanja tersebut, senilai
Rp10.000.000,- menghasilkan persediaan dan telah dicatat di
Aplikasi Persediaan. Maka di akhir periode dilakukan jurnal
penyesuaian seperti di bawah ini :
Analisis :
Pada saat satker menginput SPM dengan akun 521111, jurnal
yang terbentuk adalah :

153
(D) Beban Operasional Perkantoran Rp15juta
(K) Ditagihkan ke Entitas Lain Rp15juta

Atas persediaan yang diinput akan mengirim jurnal :


(D) Barang Komsumsi Rp10juta
(K) Persediaan Belum Diregister Rp10juta
Sehingga pada neraca akan muncul akun persediaan belum
diregister bernilai negatif senilai (Rp 10 juta) yang tidak
diperkenankan ada pada laporan neraca satker pada akhir
tahun 2015. Oleh sebab itu perlu dilakukan koreksi Beban
Operasional Perkantoran senilai Rp 10 juta, karena Akun
521111 tidak menghasilkan persediaan.
Langkah-langkah Pencatatan pada Aplikasi SAIBA :
a. Dibuat memo penyesuaian;
b. Lakukan koreksi Beban Operasional Perkantoran menjadi
Persediaan Belum diregister dengan menggunakan menu
jurnal penyesuaian kategori nomor 19 yakni Koreksi Beban-
Aset seperti di bawah ini :

c. Lakukan Posting untuk bulan Desember ( bulan


dilakukannya pembukuan)

V. Kategori 20 : Pendapatan dari Alokasi


APBN-BLU
Kategori Pendapatan dari Alokasi APBN-BLU merupakan
kategori khusus pada jurnal untuk mencatat jurnal untuk
mereklasifikasi akun DKEL menjadi Pendapatan dari Alokasi
APBN, yang digunakan khusus oleh satker BLU yang
mendapatkan alokasi DIPA Rupiah Murni.
Jurnal ini digunakan ketika PSAP BLU telah diberlakukan
(selambat-lambatnya tahun 2016)

W. Kategori 21 : Kas Lainnya di BLU

154
Kas lainnya di BLU merupakan akun yang digunakan untuk
mencatat pendapatan operasional Badan Layanan Umum
(BLU) yang diterima namun hingga akhir periode pelaporan
belum dilakukan pengesahan ke KPPN dengan SP3BLU.

Ilustrasi transaksi :
Rumah Sakit ABC yang merupakan Satker BLU mencatat
pendapatan dari bulan oktober sebesar Rp. 6 Milyar yang
hingga tanggal 31 Desember 2015 belum dilakukan
pengesahan ke KPPN.
Analisis :
Atas kas yang ada di bendahara BLU yang diperoleh dari
pendapatan operasional BLU, harus dilakukan pengesahan ke
KPPN untuk dicatat sebagai Kas di BLU, namun apabila hingga
akhir tanggal peiode pelaporan belum dilakukan pengesahan
ke KPPN, maka kas tersebut harus dicatat sebagai akun Kas
Lainnya di BLU pada Laporan Neraca Satker BLU.
Langkah-langkah Pencatatan pada Aplikasi SAIBA :
a. Bendahara BLU menyampaikan sisa kas yang merupakan
pendapatan yang belum dilakukan pengesahan hingga akhir
periode pelaporan untuk dibuatkan memo penyesuaian;
b. Atas dasar memo penyesuaian yang telah ditandatangani,
operator Aplikasi SAIBA mencatat jurnal tersebut
menggunakan menu Jurnal Penyesuaian dengan kategori ke
21 yaitu Kas Lainnya di BLU seperti di bawah ini :

c. Lakukan posting untuk bulan Desember 2015

X. Kategori 22 : Uang Muka Belanja


Kategori Uang Muka Belanja pada menu Jurnal Penyesuaian di
Aplikasi SAIBA ditujukan untuk mencatat jurnal reklasifikasi
akun belanja/beban menjadi akun uang muka belanja,
dikarenakan sampai dengan tanggal pelaporan belum diterima
prestasi dari penyedia barang/jasa.

155
Ilustrasi transaksi :
Satker ABC mengajukan SP2D Belanja 533111 (Belanja Modal
Gedung dan Bangunan) senilai Rp30 juta atas pembayaran
uang muka pembangunan gedung, sehingga terbentuk jurnal di
SAIBA (secara otomatis):

(D) 533111 Gedung dan Bangunan belum Diregister Rp30 juta


(K) 313111 DKEL Rp30 juta

Hingga akhir tahun anggaran, rekanan gagal menyelesaikan


pembangunan gedung tersebut, sehingga tidak terdapat
pekerjaan fisik yang diserahterimakan kepada Satker ABC oleh
rekanan
Analisis :
Uang yang telah keluar dari Kas Negara untuk barang/jasa
yang diharapkan diterima oleh pemerintah namun hingga
tanggal yang telah ditentukan belum diterima oleh pemerintah
pada saat pelaporan keuangan, uang yang telah keluar tersebut
harus disajikan sebagai aset lancar sebagai uang muka belanja
dan beban yang telah diakui dengan terbitnya SPM/SP2D harus
dikoreksi.
Langkah-langkah Pencatatan pada Aplikasi SAIBA :
a. Buatkan memo penyesuaian atas pencatatan Uang Muka
Belanja
b. Atas dasar memo penyesuaian yang telah ditandatangani,
operator Aplikasi SAIBA mencatat jurnal tersebut
menggunakan menu Jurnal Penyesuaian dengan kategori ke
22 yaitu Uang Muka Belanja seperti di bawah ini :

c. Lakukan posting untuk bulan Desember 2015

156
Y. Kategori 23 : Perolehan Aset
Kategori Perolehan Aset pada menu Jurnal Penyesuaian
ditujukan untuk mencatat perolehan aset (aset tetap/aset
lainnya/persediaan) yang berasal dari hasil sitaan/rampasan.
Jurnal penyesuaian perolehan aset tidak dilakukan di Aplikasi
SAIBA dalam hal Aplikasi SIMAK-BMN dan Aplikasi SAIBA
berhasil mengirim dan menerima jurnal perolehan aset.
pencatatan tersebut dilakukan di Aplikasi SIMAK-BMN dan
Persediaan dengan akan membentuk jurnal sebagai berikut :

(D) Aset Tetap/Aset Lain/ Persediaan


(K) Pendapatan Aset Sitaan/ Rampasan

Transaksi perolehan aset yang diperoleh dari hasil


sitaan/rampasan hanya dapat dilakukan pada Aplikasi SIMAK-
BMN/Aplikasi Persediaan

Z. Kategori 24 : Koreksi Utang/ Piutang


Kategori Koreksi Utang/Piutang pada menu Jurnal
Penyesuaian merupakan kategori yang dimaksudkan untuk
mencatat koreksi atas pencatatan beban atau pendapatan
akibat koreksi dari utang atau piutang.

Ilustrasi Transaksi :
Pada 31 Desember 2014 satker ABC mencatat Belanja Tagihan
Listrik yang Masih Harus Dibayar (akun kewajiban) untuk
bulan Desember 2014 sebesar Rp7.500.000,- , di bulan Januari
2015 diterima tagihan langganan listrik bulan Desember 2015
sebesar Rp8.000.000,- dan diterbitkan SP2D menggunakan
akun 522111 sebesar nominal tagihan.
Analisis :
Koreksi beban tagihan listrik diperlukan agar tidak ada beban
tagihan listrik bulan Desember 2014 yang diakui ditahun 2015.
Langkah-langkah Pencatatan pada Aplikasi SAIBA :
1. Lakukan jurnal balik di awal tahun menggunakan menu
Jurnal Penyesuaian kategori Beban yang Masih Harus
Dibayar( kategori 4) sebagai berikut :

157
2. Pastikan SPM/SP2D terkait pembayaran langganan listrik
tersebut telah di-input pada Aplikasi SAIBA senilai
Rp8.000.000,-;
3. Dari SP2D Input Jurnal koreksi tersebut menggunakan
jurnal sebagai berikut :

4. Lakukan posting di bulan Januari 2015

AA. Kategori 25 : Hibah Langsung


Hibah langsung adalah hibah yang diberikan langsung oleh
donor kepada Kementerian Negara/ Lembaga (satker).
Kategori Hibah Langsung pada menu Jurnal Penyesuaian
digunakan mencatat hibah langsung, baik berupa uang maupun
barang pada saat terjadinya penyerahan.
Jurnal penyesuaian hibah langsung pada aplikasi SAIBA antara
lain :
1. Pencatatan Kas Lainnya di K/L dari Hibah yang Belum
Disahkan yakni pencatatan ketika uang yang berasal dari
hibah tersebut diserahterimakan dari donor dalam bentuk
hibah uang;
2. Pencatatan Aset Tetap/ Aset Lainnya/ Persediaan yang
belum definitifkan (belum diregister) atas Aset Tetap/ Aset
Lainnya/ Persediaan berdasarkan BAST/ Dokumen
Penyerahan Lainnya yang diterima dari donor dalam bentuk
hibah barang;

158
Ilustrasi Transaksi :
Diterima hibah langsung berupa uang dari donor sebesar Rp25
juta pada tanggal 15 Desember 2015

Analisis :

Diperlukan pencatatan kas atas penerimaan hibah berupa


uang.

Langkah-langkah Pencatatan pada Aplikasi SAIBA :


1. Catat penerimaan hibah uang dalam Buku Pengawasan
Hibah Langsung Berupa Uang;
2. Buatkan memo penyesuaian untuk mencatat penerimaan
kas tersebut;
3. Lakukan jurnal atas dasar memo penyesuaian menggunakan
kategori 25 pada menu Jurnal Penyesuaian seperti di bawah
ini :

4. Lakukan posting pada bulan Desember 2015

C. M E NU JU R NA L KO RE K SI

Jurnal Koreksi adalah menu yang digunakan untuk melakukan


koreksi atas saldo akun-akun di laporan Neraca, khususnya
untuk aset tetap/ aset lainnya dan persediaan, yang disebabkan
oleh kesalahan pencatatan pada periode pelaporan yang lalu
(tahun-tahun sebelumnya) atau karena adanya Inventarisasi dan
Penilaian Oleh Kementerian Keuangan atas aset tetap/aset
lainnya yang berada Kementerian Negara/ Lembaga.
Jurnal koreksi karena kesalahan pencatatan untuk aset
tetap/aset lainnya dan persediaan dibentuk di Aplikasi SIMAK-
BMN dan Aplikasi Persediaan.

D. M E NU JU R NA L U M U M

Menu Jurnal Umum digunakan dalam hal terdapat transaksi


yang membutuhkan penyesuaian atas saldo akun pada laporan

159
keuangan, namun jurnal akuntansi yang dibutuhkan tidak
ditemui dalam ketiga menu jurnal penyesuain yang lain. Untuk
merekam jurnal pada menu jurnal penyesuaian, operator harus
benar-benar yakin pada jurnal yang dibuatnya. Hal ini
disebabkan pada menu jurnal umum, operator bebas dalam
memilih pasangan jurnal yang disediakan oleh aplikasi sehingga
dibutuhkan ketelitian dari operator untuk memilih pasangan
jurnal yang sesuai.

Salah satu contoh transaksi yang dicatat melalui menu Jurnal


Umum adalah pencatatan aset tetap dan Persediaan Badan
Layanan Umum (BLU), pencatatan tersebut dibutuhkan untuk
mereklasifikasi jurnal aset yang dikirimkan aplikasi SIMAK yang
masih berupa Aset Tetap dan Persediaan Non-BLU;

Ilustrasi transaksi :

Pada tanggal 25 Juni 2015 Satker ABC yang merupakan satker


BLU mencatat pengesahan SP3B/SP2B-BLU untuk belanja
Peralatan mesin-BLU dengan akun 537112 senilai
Rp512.728.000,- , Aplikasi SIMAK-BMN mencatat pembelian aset
tersebut mengirimkan jurnal aset sebagai berikut :

Analisis :
Jurnal yang dikirim oleh Aplikasi SIMAK masih menggunakan
akun Peralatan dan Mesin (132111) sehingga untuk satker BLU
perlu dilakukan jurnal penyesuaian agar aset tersebut menjadi
akun Peralatan dan Mesin-BLU (132311).
Langkah-langkah Pencatatan pada Aplikasi SAIBA :
1. Pastikan SP3B/dan SP2B-BLU terkait belanja tersebut di atas
telah dicatat;
2. Pastikan pada Laporan Neraca Percobaan dan buku besar
tercatat penambahan Aset Peralatan dan Mesin (132111)
senilai Rp512.728.000,-;
3. Buatkan memo penyesuaian untuk melakukan jurnal
reklasifikasi aset Peralatan dan Mesin (132111) menjadi
Peralatan dan Mesin-BLU (132311) termasuk Peralatan
belum diregisternya;
4. Lakukan jurnal berikut ini pada menu jurnal umum seperti di
bawah ini:

160
Jurnal Reklas Aset BLU

Jurnal Reklas Peralatan dan Mesin BLU

5. Lakukan posting pada bulan Juni 2015

161
Bab
TELAAH LAPORAN KEUANGAN

7 A. PE N D AHU LU AN
Pada Bab sebelumnya, output laporan keuangan telah dapat
dihasilkan dari aplikasi SAIBA, SIMAK, dan Persediaan.Sebelum
laporan keuangan dimaksud dicetak dan dikirim ke jenjang yang
lebih tinggi sesuai dengan peraturan mengenai tata cara
penyusunan LKKL, maka prosedur selanjutnya yang perlu
dilakukan adalah melakukan telaah atas laporan keuangan. Telaah
Laporan keuangan adalah suatu kegiatan memeriksa Laporan
Keuangan yang dilakukan oleh seluruh penyusun Laporan
Keuangan (mulai dari level UAKPA, UAPPA-W, UAPPA-E1, UAPA,
hingga penyusun LKPP) yang dilakukan setiap Laporan Keuangan
akan disampaikan kepada pihak lain untuk meyakini bahwa
laporan keuangan yang dihasilkan dari aplikasi SAIBA telah andal.
Informasi dalam laporan keuangan dapat dikatakan andal apabila
bebas dari salah saji material karena:

a) disajikan dengan jujur;


b) dapat diverifikasi; apabila diuji berulang kali oleh beberapa
pihak berbeda, hasilnya tetap menunjukkan kesimpulan yang
tidak jauh berbeda;
c) netral; tidak berpihak pada kebutuhan pihak tertentu,
didasarkan pada peraturan perundang-undangan, dan
disajikan secara menyeluruh.
Untuk memastikan hal tersebut di atas, maka perlu dilakukan
telaah atas laporan keuangan yang dihasilkan dari aplikasi SAIBA
dengan melakukan berbagai telaah.Telaah yang dilakukan meliputi
telaah per komponen laporan keuangan, telaah antar komponen
laporan keuangan, dan telaah antar periode laporan keuangan.

B. TE L AA H PER KO M PO N E N L A PO R AN
KE U A NG A N

1. Neraca Percobaan
Sebelum dilakukan telaah terhadap komponen laporan
keuangan, perlu dilakukan telaah terhadap neraca percobaan
yang merupakan salah satu tools pada aplikasi SAIBA untuk
melakukan telaahan. Proses telaah dilakukan terhadap hal-hal
sebagai berikut:

a) Verifikasi kesesuaian akun

162
Verifikasi ini dilakukan untuk melakukan verifikasi apakah
terdapat akun-akun yang seharusnya tidak terdapat pada
LKKLatau Bagian Anggaran tertentu seperti:
1) akun 41XXXX yang seharusnya hanya terdapat pada BA
015-Kementerian Keuangan; Apabila ada, misalnya akun
411122, kemungkinan karena salah jurnal Kas Lainnya di
bendahara pengeluaran yang merupakan potongan
pajak.
2) akun 43XXXX yang seharusnya hanya terdapat pada BA
999.02-BUN Pengelolaan Hibah;
3) akun 42326X dan 42328X yang seharusnya hanya
terdapat pada BA 060-KEPOLISIAN RI;
4) akun 424XXX, 525XXX, dan 537XXX yang seharusnya
hanya terdapat pada Satuan Kerja Badan Layanan
Umum.
5) Akun-akun 42XXXX (PNBP)yang seharusnya tidak
terdapat pada KL tersebut misalnya di Kementerian
Pertanian terdapat akun 423213 (Pendapatan Surat
Keterangan, Visa, Paspor); Apabila ada, kemungkinan
salah kode akun saat menyetor SSBP atau operator salah
input.

b) Verifikasi saldo normal akun


Verifikasi ini dilakukan untuk melihat apakah terdapat
akun-akun pada pos laporan keuangan yang memiliki saldo
tidak normal. Hal ini dapat menjadi satu deteksi dini bagi
penyusun laporan keuangan untuk melihat permasalahan
yang lebih detil dalam proses penyusunan laporan
keuangan. Contoh:
1) Apakah terdapat akun yang memiliki saldo null; Jika hal
ini terjadi maka perlu dicek kembali prosedur aplikasi
yang telah dilakukan dari mulai aplikasi persediaan,
SIMAKBMN, maupun SAIBA. Hal ini dapat terjadi jika
Aplikasi yang digunakan belum menggunakan referensi
terbaru, atau pada saat instalasi aplikasi tidak mengikuti
petunjuk yang terdapat pada file readme.
2) apakah terdapat akun 1XXXXX (Aset) yang bersaldo
Kredit; Jika hal ini terjadi perlu dicek seluruh transaksi
yang mempengaruhi akun Aset dimaksud;
3) apakah terdapat akun 2XXXXX (Kewajiban) yang
bersaldo Debit; Jika hal ini terjadi perlu dicek seluruh
transaksi yang mempengaruhi akun Kewajiban
dimaksud;
4) apakah terdapat akun 4XXXXX (Pendapatan LO/LRA)
yang bersaldo Debit; Jika hal ini terjadi perlu dicek
seluruh transaksi yang mempengaruhi akun Pendapatan
dimaksud;
5) apakah terdapat akun 5XXXXX (Beban/Belanja) yang
bersaldo Kredit; Jika hal ini terjadi perlu dicek seluruh
transaksi yang mempengaruhi akun Beban/Belanja
dimaksud;

163
6) apakah terdapat akun 4XXXXX (Pengembalian
Pendapatan LO/LRA) yang bersaldo Kredit; Jika hal ini
terjadi perlu dicek seluruh transaksi yang
mempengaruhi akun Pengembalian Pendapatan LO/LRA
dimaksud;
7) apakah terdapat akun 5XXXXX (Pengembalian
Beban/Belanja) yang bersaldo Debit; Jika hal ini terjadi
perlu dicek seluruh transaksi yang mempengaruhi akun
Pengembalian Beban/Belanja dimaksud;

c) Verifikasi akun-akun tertentu


1) akun 491429 (Pendapatan Perolehan Aset Lainnya),
- Sangat jarang terjadi Perolehan Aset Lainnya,
sehingga apabila ada akun ini, agar dikonfirmasi
kebenarannya, karena ada kemungkinan salah
memilih menu Input pada Aplikasi
Persediaan/SIMAK.
- Akun ini seharusnya hanya jurnal kiriman dari
Persediaan/SIMAK BMN, yaitu saat memilih menu
perolehan lainnya.
- Apabila berasal dari Jurnal SAIBA, mungkin saja
benar, namun harus dikonfirmasi penyebab input
jurnal pendapatan ini di SAIBA.

2) untuk level UAPPA-W, UAPPA-E1, dan UAPA, apabila


transfer aset hanya terjadi antar entitas di lingkup
jenjangnya, maka akun 313211 (transfer keluar)
seharusnya sama dengan akun 313221 (transfer masuk).

2. Laporan Realisasi Anggaran


Proses telaah untuk Laporan Realisasi Anggaran dilakukan
terhadap hal-hal sebagai berikut:
a) Verifikasi kesesuaian akun
Verifikasi ini dilakukan untuk melakukan verifikasi apakah
terdapat akun-akun yang seharusnya tidak terdapat pada
LKKL atau Bagian Anggaran tertentu seperti:
1. pendapatan perpajakan yang seharusnya hanya terdapat
pada BA 015.04-Kementerian Keuangan;
2. pendapatan hibah yang seharusnya hanya terdapat pada
BA 999.02-BUN Pengelolaan Hibah;
3. belanja bunga (54), belanja subsidi (55), belanja hibah
(56), transfer ke daerah dan dana desa (6), dan belanja
lain-lain (58) yang seharusnya terdapat pada BA BUN;
4. memastikanbahwa jenis belanja hanya terdiri dari
belanja pegawai (51), belanja barang (52), belanja modal
(53), dan belanja bantuan sosial (57).

b) Verifikasi saldo normal akun

164
Verifikasi ini dilakukan untuk melihat apakah terdapat
akun-akun pada pos laporan keuangan yang memiliki saldo
tidak normal. Hal ini dapat menjadi satu deteksi dini bagi
penyusun laporan keuangan untuk melihat permasalahan
yang lebih detil dalam proses penyusunan laporan
keuangan. Contoh:

1. seharusnya tidak ada saldo negatif di semua akun 6 digit,


termasuk akun Gaji pada Laporan Realisasi
Anggaran/Belanja Detail; Jika ada saldo negatif, perlu
dilakukan langkah penyelesaian sebagai berikut:
memeriksa apakah ada salah input kode dari dokumen
SPM/SP2D; apabila ada, perlu diperbaiki proses
penginputan.

memeriksa apakah ada dokumen SPM/SP2D yang telah


terbit yang salah kode; apabila ada perlu dilakukan
ralat SPM/SP2D.

melakukan revisi DIPA

2. seharusnya tidak ada uraian jenis belanja tidak ada pada


Laporan Realisasi Belanja Detail; Jika hal ini terjadi, perlu
dilakukan cek versi aplikasi, pastikan untuk menggunakan
vesi aplikasi yang terbaru.

3. Laporan Operasional

Proses telaah untuk Laporan Operasional dilakukan terhadap


hal-hal sebagai berikut:

a) Verifikasi kesesuaian akun


Verifikasi ini dilakukan untuk melakukan verifikasi apakah
terdapat akun-akun yang seharusnya tidak terdapat pada
LKKL atau Bagian Anggaran tertentu seperti:

1. pendapatan perpajakan yang seharusnya hanya terdapat


pada BA 015-Kementerian Keuangan; Jika ada perlu
dicek transaksi yang mempengaruhi akun dimaksu. Hal
tersebut dapat terjadi karena salah dalam penjurnalan.
2. pendapatan hibah yang seharusnya hanya terdapat pada
BA 999.02-BUN Pengelolaan Hibah;
3. beban bunga, beban subsidi, beban hibah, dan beban
transferyang seharusnya hanya terdapat pada BA BUN.

b) Verifikasi saldo normal akun


Verifikasi ini dilakukan untuk melihat apakah terdapat akun-
akun pada pos laporan keuangan yang memiliki saldo tidak
normal. Hal ini dapat menjadi satu deteksi dini bagi penyusun

165
laporan keuangan untuk melihat permasalahan yang lebih
detil dalam proses penyusunan laporan keuangan. Contoh:

1. Apakah terdapat akun yang memiliki saldo null; Jika hal


ini terjadi maka perlu dicek kembali prosedur aplikasi
yang telah dilakukan dari mulai aplikasi persediaan,
SIMAKBMN, maupun SAIBA.
2. apakah terdapat akun Pendapatan yang bersaldo negatif;
Jika hal ini terjadi perlu dicek seluruh transaksi yang
mempengaruhi akun Pendapatan dimaksud;
3. apakah terdapat akun Beban Pegawai yang bersaldo
negatif; Jika hal ini terjadi perlu dicek seluruh transaksi
yang mempengaruhi akun Beban Pegawai dimaksud;
4. apakahterdapat akun Beban Persediaan yang bersaldo
negatif; Jika hal ini terjadi perlu dicek seluruh transaksi
yang mempengaruhi akun Beban Persediaan dimaksud;
5. apakah terdapat akun Beban Barang dan Jasa yang
bersaldo negatif; Jika hal ini terjadi perlu dicek seluruh
transaksi yang mempengaruhi akun Beban Barang dan
Jasa dimaksud;
6. apakah terdapat akun Beban Pemeliharaan yang
bersaldo negatif; Jika hal ini terjadi perlu dicek seluruh
transaksi yang mempengaruhi akun Beban Pemeliharaan
dimaksud;
7. apakah terdapat akun Beban Perjalanan Dinas yang
bersaldo negatif; Jika hal ini terjadi perlu dicek seluruh
transaksi yang mempengaruhi akun Beban Perjalanan
Dinas dimaksud;
8. apakah terdapat akun Beban Barang Untuk Diserahkan
kepada Masyarakat yang bersaldo negatif; Jika hal ini
terjadi perlu dicek seluruh transaksi yang
mempengaruhi akun Beban Barang Untuk Diserahkan
kpd Masyarakat dimaksud;
9. apakah terdapat akun Beban Penyusutan dan Amortisasi
yang bersaldo negatif; Jika hal ini terjadi perlu dicek
seluruh transaksi yang mempengaruhi akun Beban
Penyusutan dan Amortisasi dimaksud;
10. apakah terdapat akun Beban Beban Penyisihan Piutang
Tak Tertagih yang bersaldo negatif; Berdasarkan PMK
270/2014 akun ini dimungkinkan bersaldo negatif,
tetapi jika hal ini terjadi perlu dikonfirmasi penyebab
saldo negatif tersebut.
11. apakah terdapat akun Pendapatan Pelepasan Aset Non
Lancar yang bersaldo negatif; Jika hal ini terjadi perlu
dicek seluruh transaksi yang mempengaruhi akun
Pendapatan Pelepasan Aset Non Lancar dimaksud;
12. apakah terdapat akun Beban Pelepasan Aset Non Lancar
yang bersaldo negatif; Jika hal ini terjadi perlu dicek
seluruh transaksi yang mempengaruhi akun Beban
Pelepasan Aset Non Lancar dimaksud;
13. apakah terdapat akun Pendapatan Penyelesaian
Kewajiban jangka Panjang yang bersaldo negatif; Jika hal
ini terjadi perlu dicek seluruh transaksi yang

166
mempengaruhi akun Pendapatan Penyelesaian
Kewajiban jangka Panjang dimaksud;
14. apakah terdapat akun Beban Beban Penyelesaian
Kewajiban jangka Panjang yang bersaldo negatif; Jika hal
ini terjadi perlu dicek seluruh transaksi yang
mempengaruhi akun Beban Penyelesaian Kewajiban
jangka Panjang dimaksud;
15. apakah terdapat akun Pendapatan dari Kegiatan Non
Operasional lainnya yang bersaldo negatif; Jika hal ini
terjadi perlu dicek seluruh transaksi yang
mempengaruhi akun Pendapatan dari Kegiatan Non
Operasional lainnya dimaksud;
16. apakah terdapat akun Beban dari Kegiatan Non
Operasional lainnya yang bersaldo negatif; Jika hal ini
terjadi perlu dicek seluruh transaksi yang
mempengaruhi akun Beban dari Kegiatan Non
Operasional lainnya dimaksud;

c) Verifikasi kebenaran nilai Pendapatan

1. memastikan bahwa semua pendapatan memang telah


terjadi (sudah merupakan hak) pada tahun berjalan,
bukan terjadi pada tahun berikutnya. Apabila terjadi pada
tahun berikutnya merupakan Pendapatan diterima
dimuka.
2. Memastikan bahwa semua pendapatan memang telah
terjadi (sudah merupakan hak) pada tahun berjalan,
bukan terjadi pada tahun sebelumnya. Apabila telah
terjadi pada tahun sebelumnya merupakan Pembayaran
Piutang dan bukan pendapatan tahun berjalan.
3. memastikan telah menginput semua pendapatan yang
telah terjadi yang belum diterima pembayarannya sebagai
Pendapatan Yang Masih Harus Diterima.
4. meneliti apabila ada kontrak sewa yang lintas tahun
anggaran.

d) Verifikasi kebenaran nilai Beban

1. memastikan semua beban memang telah terjadi (sudah


merupakan kewajiban) pada tahun berjalan, bukan
terjadi pada tahun berikutnya. Apabila terjadi pada
tahun berikutnya merupakan Beban dibayar dimuka.
2. memastikan telah menginput semua beban yang telah
terjadi yang belum dilakukan pembayarannya sebagai
Beban/Belanja Yang Masih Harus Dibayar.
3. meneliti apabila ada kontrak sewa yang lintas tahun
anggaran.
4. verifikasi apakah Beban Penyusutan di LO sama dengan
Akumulasi Penyusutan Periode sekarang dikurangi
Akumulasi Penyusutan periode sebelumnya.
5. verifikasi diatas dapat menghasilkan perbedaan apabila
terdapat jurnal-jurnal yang pasangan jurnalnya bukan

167
akun Beban Penyusutan atau Akumulasi Penyusutan,
yaitu:
a. Transaksi Transfer masuk dan Transfer keluar,
jurnalnya adalah Transfer masuk/Keluar pada
Akumulasi Penyusutan
b. Transaksi Saldo Awal, jurnalnya adalahAkumulasi
Penyusutan pada koreksi Nilai Aset tetap non
Revaluasi

4. Laporan Perubahan Ekuitas

Proses telaah untuk Laporan Perubahan Ekuitas dilakukan


terhadap hal-hal sebagai berikut:

a. Verifikasi antar saldo


1. seharusnya nilai Ekuitas Awal tahun 2015 sama dengan
nilai Ekuitas Akhir 2014; Jika tidak sama harus
dilakukan penerimaan saldo awal dari aplikasi SAKPA
2014.
2. seharusnya nilai saldo Ekuitas Akhir sama dengan saldo
Ekuitas di Neraca; Jika tidak sama harus dicek kembali
transaksi-transaksi yang berkaitan dengan
pembentukan nilai ekuitas tersebut atau perlu
dilakukan perbaikan terhadap aplikasi.
b. Verifikasi akun-akun tertentu
Seharusnya akun Selisih Revaluasi Aset Tetap hanya ada
apabila ada Revaluasi Aset Tetap yang bersifat Nasional
(Inventarisasi dan Penilaian dari DJKN/KPKNL). Jika ada
akun tersebut, harap dikonfirmasi apakah benar-benar ada
Inventarisasi dan penilaian tersebut.Akun ini seharusnya
hanya ada dari jurnal kiriman aplikasi SIMAK BMN.

5. Neraca

Proses telaah untuk Neraca dilakukan terhadap hal-hal sebagai


berikut:

a) Verifikasi saldo awal neraca akrual


Verifikasi ini dilakukan untuk memastikan bahwa proses
migrasi telah sesuai dengan Laporan Keuangan Audited
2014 dengan cara melihat kesesuian antara saldo akun
neraca pada laporan keuangan tahun 2014 audited dengan
saldo awal akun neraca tahun 2015, sebagai berikut:

1. Saldo Aset 2014 audited sama dengan saldo awal aset


2015.
2. saldo Kewajiban 2014 Audited (kecuali akun
Pendapatan Ditangguhkan) sama dengan saldo awal
Kewajiban 2015.

168
3. penjumlahan saldo Ekuitas Dana Lancar, Ekuitas Dana
Investasi, dan Ekuitas Dana Lainnya 2014 Audited sama
dengan saldo awal Ekuitas 2015.

b) Verifikasi kesesuaian akun

1. seharusnya nilai aset sama dengan nilai kewajiban


ditambah ekuitas (Aset=Kewajiban+Ekuitas); Jika
tidak maka perlu dilakukan cek versi aplikasi,
pastikan untuk menggunakan vesi aplikasi yang
terbaru.
2. seharusnya nilai Saldo Awal sama dengan Angka
Audited Laporan 2014; Jika tidak maka perlu
dilakukan penerimaan saldo awal dari aplikasi SAKPA
2014.
3. seharusnya nilai Kas Di Bendahara Pengeluaran sama
dengan Uang Muka dari KPPN; Jika tidak maka perlu
dicek kembali transaksi-transaksi yang
mempengaruhiakun dimaksud.
4. seharusnya tidak terdapat akun Pendapatan yang
Ditangguhkan; Jika ada, kemungkinan karena salah
memilih kode akun, yaitu memilih akun: 2196XX
(tidak boleh digunakan). Penjelasannya sebagai
berikut:

169
CTA AKRUAL

Bunga Jasa Giro

(D) Kas Lainnya di (D) Kas Lainnya di


Bend.Pengel Bend.Pengel

(K) Pendapatan yang (K) Pendapatan jasa giro


ditangguhkan

Honor Pegawai

(D) Kas Lainnya di (D) Kas Lainnya di


Bend.Pengel Bend.Pengel

(K) Utang Kepada Pihak (K) Utang Kepada Pihak


Ketiga Ketiga

Pasangan akun Kas di Bendahara Pengeluaran dan akun


Kas di Bendahara Penerima adalah Pendapatan terkait.
Dengan demikian tidak ada lagi akun pasangan Pendapatan
yang Ditangguhkan.

5. Akun Persediaan/Aset Tetap/Aset Lainnya Belum


Diregister hanya boleh muncul pada Laporan Keuangan
Interim (Semesteran/Triwulanan), Pada LK Tahunan
tidak boleh muncul.

6. Catatan atas Laporan Keuangan


a) memastikanbahwa selain menjelaskan LRA dan Neraca,
CaLK juga telah menjelaskan LO dan LPE.
b) memastikan angka-angka pada LRA, LO, LPE, dan Neraca
sama dengan penjelasan pada CaLK.
c) Memastikan bahwa telah diberikan pengungkapan yang
cukup memadai pada CaLK terhadap pos-pos pada
komponen Laporan Keuangan lainnya sehingga pengguna
Laporan keuangan tidak misleading.

C. TE L AA H AN TA R L APO R AN KE U ANG A N
Telaah antar Laporan Keuangan dilakukan dengan membandingkan
saldo-saldo yang saling berkaitan antar Laporan Keuangan, antara
lain sebagai berikut:

170
1. Laporan Operasional dan Laporan Perubahan Ekuitas
seharusnya saldo Surplus/Defisit LO di Laporan Operasional
sama dengan saldo Surplus/Defisit LO di Laporan Perubahan
Ekuitas.

2. Laporan Perubahan Ekuitas dan Neraca


seharusnya saldo Ekuitas di Laporan Perubahan Ekuitas sama
dengan saldo Ekuitas di Neraca.

3. Neraca dan Laporan Operasional


a) seharusnya apabila terdapat akun Piutang pada Neraca
maka akan ada pula Beban Penyisihan Piutang di LO.
Apabila tidak ada, kemungkinan belum melakukan
penyisihan piutang di akhir periode.
b) seharusnya apabila terdapat akun Persediaan pada Neraca
maka akan ada pula Beban Persediaan di LO, karena
kemungkinannya saat kecil dalam satu periode tidak ada
persediaan yang dipakai.
c) apabila terdapat akun Aset Tetap/Aset Lainnya maka akan
ada akun Akumulasi AT/AL dan Beban
Penyusutan/Amortisasi di LO; Jika tidak, maka perlu dicek
kembali transaksi yang mempengaruhi akun dimaksud..
d) Apabila tidak ada beban-beban diatas, maka teliti apakah
memang benar tidak ada beban tersebut.
e) Pelepasan Aset Non Lancar dapat terjadi karena transaksi
Penjualan (lelang) atau lainnya.
f) Untuk transaksi penjualan, maka:
a. PNBP lelang dicatat pada akun Pendapatan Pelepasan Aset
Non Lancar
b. Nilai Buku aset yang dijual dicatat pada akun Beban
Pelepasan Aset Non Lancar
g) Apabila ada penjualan aset non lancar, maka harus ada
Akun Pendapatan Pelepasan Aset Non Lancar.
- Risalah lelang merupakan Dokumen sumber
penghapusan aset dan pendapatan penjualan.
- meneliti apakah ada pendapatan (SSBP) Penjualan aset
tetap yang belum diinput.
- Beban Pelepasan Aset seharusnya hanya merupakan
jurnal kiriman dari SIMAK, teliti apakah SIMAK BMN
belum menghapuskan Asetnya
- Bila belum ada SSBP, maka mungkin perlu dilakukan
jurnal: Piutang (D), Pendapatan Pelepasan Aset non
Lancar (K)
h. Bila terdapat penjualan aset non lancar, maka akun Beban
Pelepasan Aset Non Lancar:
- Tidak selalu ada, yaitu bila nilai buku aset tsb. sudah
Nihil/nol
- Harus dari jurnal kiriman SIMAK/Persediaan

171
4. Neraca Percobaan dan LRA Face
a. apabila tidak terdapat satker BLU, maka seharusnya saldo
akun 313111 (Ditagihkan ke Entitas Lain) sama dengan
total Belanja Netto pada LRA face; Jika tidak sama
kemungkinan karena ada jurnal 313111. Selain itu perlu
dicek seluruh transaksi yang mempengaruhi akun 313111
dimaksud;
b. apabila terdapat satker BLU, seharusnya saldo akun 313111
(Ditagihkan ke Entitas Lain) sama dengan Total Belanja
Netto di LRA Face dikurangi Belanja Netto akun 525XXX dan
Belanja Netto akun 537XXX; Jika tidak sama kemungkinan
karena ada jurnal 313111. Selain itu perlu dicek seluruh
transaksi yang mempengaruhi akun 313111 dimaksud;
c. apabila tidak terdapat satker BLU, seharusnya saldo akun
313121 (Diterima dari Entitas Lain) sama dengan total
Pendapatan Netto pada LRA face; Jika tidak sama
kemungkinan karena ada jurnal 313121. Selain itu perlu
dicek seluruh transaksi yang mempengaruhi akun 313121
dimaksud;
d. apabila terdapat satker BLU, seharusnya saldo akun 313121
(Diterima Dari Entitas Lain) sama dengan Total Pendapatan
Netto di LRA Face dikurangi Pendapatan Netto akun
424XXX. Jika tidak sama kemungkinan karena ada jurnal
313121. Selain itu perlu dicek seluruh transaksi yang
mempengaruhi akun 313121 dimaksud;seharusnya saldo
Persediaan, Aset Tetap, Akumulasi Penyusutan Aset Tetap,
Aset

5. LRA dan LO
a. Telaah Kebenaran Nilai Pendapatan dan Beban:
Dapat dilakukan dengan membandingkan antara akun-
akun:
- Pendapatan LRA dengan Pendapatan LO
- Belanja LRA dengan Beban LO
Perbandingan dilakukan secara manual cetakan Neraca
Percobaan Kas dengan cetakan Neraca Percobaan
Akrual
Hasil perbandingan ditelaah pada akun-akun tertentu
dengan kharakteristiknya masing-masing

Umumnya:
Pendapatan LRA > Pendapatan LO apabila:
- Terdapat penerimaan pembayaran Piutang
(Pendapatan YMHD)
- Terdapat penambahan akun Pendapatan Diterima
Dimuka
Pendapatan LRA < Pendapatan LO apabila:
- Terdapat Piutang /Pendapatan YMHD baru

172
- Terdapat pengurangan akun Pendapatan Diterima
Dimuka
Belanja LRA > Beban LO apabila:
- Terdapat pembayaran Piutang (Belanja/Beban
YMHD)
- Terdapat penambahan akun Beban Dibayar
Dimuka
Belanja LRA < Beban LO apabila:
- Terdapat Utang (Belanja/Beban Yang Masih
Harus Dibayar) baru
- Terdapat pengurangan akun Beban Dibayar
Dimuka
Dengan demikian, telaah ini harus dilakukan oleh
personel yang levelnya ahli

b. Telaah kebenaran Nilai Beban:


Beban Penyusutan di LO TIDAK SELALU sama dengan
Akumulasi Penyusutan Periode sekarang dikurangi
Akumulasi Penyusutan periode sebelumnya.
c. Karena terdapat transaksi yang pasangan jurnalnya bukan
Beban Penyusutan pada Akumulasi Penyusutan, antara
lain:
1. Transaksi Transfer masuk dan Transfer keluar.
Jurnalnya adalah: Transfer masuk/Keluar pada
Akumulasi Penyusutan
2. Transaksi Saldo Awal
Jurnalnya adalah: Akumulasi Penyusutan pada koreksi
Nilai Aset tetap non Revaluasi

6. Neraca dan Laporan BMN

a) seharusnya saldo Persediaan pada Neraca SAIBA sama


dengan Laporan BMN. Jika tidak, maka perlu dicek kembali
transaksi yang mempengaruhi akun tersebut dan dilakukan
kembali penerimaan dari aplikasi Simak BMN.
b) seharusnya saldo Aset Tetap pada Neraca SAIBA sama
dengan Laporan BMN. Jika tidak, maka perlu dicek kembali
transaksi yang mempengaruhi akun tersebut dan dilakukan
kembali penerimaan dari aplikasi Simak BMN.
c) seharusnya saldo Akumulasi Penyusutan Aset Tetap pada
Neraca SAIBA sama dengan Laporan BMN. Jika tidak, maka
perlu dicek kembali transaksi yang mempengaruhi akun
tersebut dan dilakukan kembali penerimaan dari aplikasi
Simak BMN.
d) seharusnya saldo Aset Lainnya pada Neraca SAIBA sama
dengan Laporan BMN. Jika tidak, maka perlu dicek kembali
transaksi yang mempengaruhi akun tersebut dan dilakukan
kembali penerimaan dari aplikasi Simak BMN.

173
e) seharusnya saldo Akumulasi Penyusutan Aset Lainnya pada
Neraca SAIBA sama dengan Laporan BMN. Jika tidak, maka
perlu dicek kembali transaksi yang mempengaruhi akun
tersebut dan dilakukan kembali penerimaan dari aplikasi
Simak BMN.
f) Perlu dilihat hasil rekonsiliasi internal pada menu
rekonsiliasi BMN di Aplikasi SAIBA. Hal ini dilakukan untuk
memastikan angka2 terkait BMN pada Aplikasi SIMAKBMN
telah sesuai dengan angka2 terkait BMN pada Aplikasi
SAIBA. Berikut contoh hasil rekonsiliasi SPM/SP2D terkait
BMN pada menu rekonsiliasi BMN:

7 LRA, LO, LPE, Neraca, dan CaLK

seharusnya angka-angka pada LRA, LO, LPE, dan Neraca sama


dengan penjelasan pada CaLK.

8. Neraca 2014 Audited dan Laporan Perubahan Ekuitas


seharusnya Ekuitas Akhir di Neraca 2014 Audited ditambah
Pendapatan Ditangguhkan di Neraca 2014 Audited sama dengan
saldo Ekuitas Awal di LPE.

174
D. AN ALI S IS L A PO R A N K E U A NG A N

1. Analisis Perubahan Laporan Keuangan

Analisi perubahan laporan keuangan dilakukan dengan


memperbandingkan pos-pos yang sama dari dua LK suatu K/L
dengan dua periode yang berlainan. Analisis ini bertujuan untuk
mengetahui perubahan suatu pos dari periode yang satu ke
periode yang lain. Adapun contoh perhitungan analisis
perubahan laporan keuangan dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel Analisis Perubahan Laporan Keuangan

Dari perhitungan presentase kenaikan/penurunan tiap-tiap pos


dalam laporan keuangan antar periode seperti tersaji dalam
tabel diatas, maka dapat diuraikan penjelasannya dalam Catatan

175
atas Laporan Keuangan sebagaimana dapat dilihat pada contoh
berikut:

Penjelasan Hasil Analisi Perubahan Laporan Keuangan


dalam CaLK

2. Analisis Trend

Analisis trend dilakukan dengan membandingkan pos-pos yang


sama dari beberapa periode yang berurutan (time series
data).Tujuannya adalah untuk memahami arah atau
kecenderungan suatu pos dari waktu ke waktu. Berikut adalah
data pendapatan dan belanja negara untuk periode Tahun
Anggaran 2006 sampai 2010:

176
Analisis Pendapatan dan Belanja Negara Periode 2006-2010

TA TA TA TA TA
2010 2009 2008 2007 2006

Pen. Negara

Pen. 723,31 619,92 658,70 490,99 409,20


Perpajakan

PNBP 268,94 227,17 320,60 215,12 226,95

Belanja
Negara

Bel. Pem. 697,41 628,81 693,36 504,62 440,03


Pusat

Trans.untuk 344,73 308,59 292,43 253,26 226,18


Daerah

Dari data pendapatan dan belanja negara tersebut dapat diolah


dan disajikan ke dalam bentuk grafik untuk memudahkan dalam
memahami arah atau kecenderungan suatu pos dari waktu ke
waktu. Berikut adalah contoh pengungkapan hasil analisis trend
pendapatan dan belanja negara dalam bentuk grafik:

177
Grafik: Trend Belanja Negara Bulanan TA 2010

3. Analisis Rasio
Analisis rasio dilakukan dengan membandingkan pos yang satu
dengan pos yang lain dalam laporan keuangan yang sama. Rasio-
rasio yang diperoleh selanjutnya akan dibandingkan dengan
rasio yang sama di K/L yang bersangkutan untuk periode yang
berlainan atau akan dibandingkan dengan rasio pos yang sama
dari K/L lainnya.Tujuannya adalah untuk mengetahui likuiditas,
solvabilitas, efisiensi serta kemampuan suatu organisasi dalam
memperoleh hasil untuk membiayai pengeluarannya.

178
ASET

URAIAN 31 Des 2010 31 Des 2009


Aset Lancar 254,78 triliun 231,39 triliun
Kas 117,33 triliun 81,37 triliun
Investasi Jangka Panjang 706,41 triliun 737,04 triliun
Aset Tetap 1.184,30 triliun 979.00 triliun
Aset Lainnya 278,20 triliun 175,47 triliun
Total Aset 2.423,69 triliun 2.122,90 triliun
Kewajiban Jangka Pendek 201,34 triliun 187,84 triliun
Kewajiban Jangka Panjang 1.594,73 triliun 1.493,87 triliun
Total Kewajiban 1.796,08 triliun 1.681,71 triliun

Beberapa rasio keuangan yang dapat digunakan adalah current


ratio, quick ratio, dan solvabilitas ratio. Berikut adalah rumus
perhitungannya:

Perhitungan Rasio Keuangan

Dalam akuntansi pemerintahan, perhitungan analisis rasio laporan


keuangan tidak terlalu ditekankan karena pada prinsipnya
organisasi pemerintah tidak berorientasi keuntungan finansial,
melainkan lebih kepada pelayanan publik.

E . KE SIM PU L AN / PE NU TU P
Kegiatan telaah Laporan Keuangan merupakan suatu kegiatan yang
harus dilakukan untuk menjaga keandalan laporan keuangan.
Sangat disarankan jika Kertas Kerja Telaah Laporan Keuangan

179
dilampirkan dalam lampiran pendukung laporan keuangan di tiap
jenjang laporan keuangan.

180
181
182
183
184
LAMPIRAN

185