Anda di halaman 1dari 31

I.

JUDUL PERCOBAAN : Penentuan Orde Reaksi pada Laju Ketengikan Minyak


Kelapa Sawit dengan Metode Titrasi Iodometri
II. TUJUAN PERCOBAAN :
1. Mengetahui besarnya bilangan peroksida pada minyak kelapa sawit
2. Mengetahui cara penentuan ketengikan minyak kelapa sawit
3. Mengetahui orde reaksi pada proses ketengikan minyak kelapa sawit
III. KAJIAN TEORI :
Ketengikan oksidatif merupakan ketengikan yang disebabkan oleh oksidasi
oksigen diudara secara spontan jika bahan yang mengandung minyak dan lemak
dibiarkan kontak dengan udara. Minyak atau lemak yang mudah mengalami oksidasi
spontan adalah yang mengandung asam lemak tidak jenuh. Minyak kelapa sawit dapat
mengalami penurunan mutu akibat adanya ketengikan. Ketengikan adalah proses
autooksidasi dan kerusakan yang terjadi pada bau rasa lemak dan makanan berlemak
(John M.deman,1997). Hal ini disebabkan karena terdapat satu atau lebih ikatan rangkap
yang mudah terserang oksigen sehingga menimbulkan ketengikan (Ketaren,1986).
Bau tengik yang dihasilkan pada proses ketengikan disebabkan oleh terbentuknya
senyawa-senyawa hasil akhir pemecahan hidroperoksida seperti asam-asam lemak rantai
pendek, aldehid, keton yang bersifat volatil, rasa tengik juga disebabkan karena
terbentuknya aldehid tak jenuh (akrolein) yang dapat menimbulkan rasa gatal pada
tenggorokan (M.Peratenta,dkk.2002). Peningkatan bilangan peroksida hanya sebagai
indikator dan peringatan bahwa minyak sebentar lagi akan berbau tengik (Ketaren,1986).
Penyebab tengik pada minyak kelapa dibagi atas tiga golongan, yaitu :
1. Oxidative rancidity (ketengikan oleh oksidasi),
2. Enzymatic rancidity (ketengikan oleh enzim)
3. Hydrolitic rancidity (ketengikan oleh proses hidrolisis)
Ketengikan oleh oksidasi terjadi karena proses oksidasi oleh oksigen udara
terhadap asam lemak tidak jenuh dalam minyak. Pada suhu kamar sampai suhu 100 C,
setiap satu ikatan tidak jenuh dapat mengabsorpsi dua atom oksigen sehingga terbentuk
persenyawaan peroksida yang bersifat labil. Pembentukan peroksida ini dipercepat oleh
adanya cahaya, suasana asam, kelembaban udara dan katalis. Ketengikan oleh proses
hidrolisis disebabkan oleh hasil hidrolisis minyak yang mengandung asam lemak jenuh
berantai pendek sedangkan ketengikan enzimatis disebabkan oleh aktivitas organisme
yang menghasilkan enzim tertentu yang dapat menguraikan trigliserida menjadi asam
lemak bebas dan gliserol. Enzim peroksidase dapat mengoksidasi asam lemak tidak jenuh
sehingga terbentuk peroksida.
Sifat-sifat dan daya tahan minyak terhadap kerusakan sangat tergantung pada
komponen-komponen penyusunnya, terutama kandungan asam lemaknya. Minyak yang
mengandung asam lemak tidak jenuh cenderung untuk mengalami oksidasi sedangkan
yang mengandung lebih banyak asam lemak jenuh lebih mudah terhidrolisis.
Faktor-faktor yang dapat mempercepat oksidasi pada minyak adalah suhu, cahaya
atau penyinaran, tersedianya oksigen dan adanya logam-logam yang bersifat sebagai
katalisator proses oksidasi. Oleh karena itu, minyak harus disimpan pada kondisi
penyimpanan yang sesuai dan bebas dari pengaruh logam dan harus dilindungi dari
kemungkinan serangan oksigen, cahaya serta temperatur tinggi. Keadaan lingkungan
yang mempengaruhi penyimpanan minyak dan lemak, yaitu RH (kelembaban udara)
ruang penyimpanan, suhu (temperatur), ventilasi, tekanan dan masalah pengangkutan.
Teori kinetika merupakan dasar untuk menjelaskan kecepatan dari berbagai proses
yang berlangsung selama pengolahan dan penyimpanan makanan. Kecepatan reaksi
dinyatakan dengan persamaan sebagai berikut: Laju reaksi dapat ditentukan dengan cara
mengikuti perubahan sifat selama terjadi reaksi. Penentuan laju reaksi dengan cara yaitu :
1. Mengukur intensitas warna
2. Mengukur sifat optik aktif
3. Mengukur daya hantar
4. Mengukur viskositas
Adapun faktor-faktor yang dapat mempengaruhi laju reaksi : keadaan pereaksi
dan luas permukaan, konsentrasi, suhu, katalis, dan cahaya. Orde reaksi adalah jumlah
pangkat faktor konsentrasi dalam hukum laju bentuk diferensial. Orde reaksi adalah
ukuran konstribusi setiap konsentrasi pereaksi atau zat yang berperan dalam laju reaksi.
Pada umunya orde reaksi merupakan bilangan bulat dan kecil namun dalam beberapa hal
pecahan atau nol. Penentuan orde reaksi adalah hal yang essensial daripada penelitian-
penelitian terhadap proses kimia yang menyangkut analisis hubungan konsentrasi dan
waktu. Ada beberapa cara penentuan orde reaksi yaitu :
1. Substitusi hasil percobaan ke dalam persamaan laju integral
2. Metode aluran linier
3. Metode umur fraksi, termasuk metode waktu paro
4. Metode variasi atau metode differensial
A. Penentuan angka peroksida
Penentuan angka peroksida didasarkan pada pengukuran sejumlah iod yang
dibebaskandari kalium iodide melalui reaksi oksidasi oleh peroksida pada suhu
ruang di dalammedium asam asetat-kloroform. Angka peroksida menunjukkan tingkat
kerusakan darilemak atau minyak.
mL Na 2 S 2 O3 N Na2 S2 O 3 1000
angka peroksida=
Berat sampel( gram)
Laju reaksi didefinisikan sebagai perubahan konsentrasi reaktan atau produk per
satuan waktu. Satuan laju reaksi M/s (Molar per detik). Sebagaimana diketahui, reaksi
kimia berlangsung dari arah reaktan menuju produk. Hal ini berarti, selama reaksi kimia
berlangsung reaktan digunakan (dikonsumsi) bersamaan dengan pembentukan sejumlah
produk. Dengan demikian, laju reaksi dapat dikaji dari sisi pengurangan konsentrasi
reaktan maupun peningkatan konsentrasi produk. Secara umum, laju reaksi dapat
dinyatakan dalam persamaan sebagai berikut:

A B

Laju reaksi berhubungan erat dengan koefisien reaksi. Untuk reaksi kimia dengan
koefisien reaksi yang bervariasi, laju reaksi harus disesuaikan dengan koefisien reaksi
masing-masing spesi. Contohnya dalam reaksi 2A B, terlihat bahwa 2 mol A
dikonsumsi untuk menghasilkan satu mol B. Hal ini menandakan bahwa laju konsumsi
spesi A adalah dua kali laju pembentukan spesi B.

Hukum laju reaksi (The Rate Law) menunjukkan korelasi antara laju reaksi (V)
terhadap konsentrasi laju reaksi (k) dan konsentrasi reaktan yang dipangkatkan dengan
bilangan tertentu (orde reaksi). Hukum laju reaksi dapat dinyatakan sebagai berikut:

aA + Bb Cc + Dd

v = k [A]x [B]y
x dan y adalah bilangan perpangkatan (orde reaksi) yang hanya dapat ditentukan melalui
eksperimen. Nilai x maupun y tidak sama dengan koefisien reaksi a dan b.

Bilangan perpangkatan x dan y memperlihatkan pengaruh konsentrasi reaktan A


dan B terhadap laju reaksi. Orde total (orde keseluruhan) atau tingkat reaksi adalah
jumlah orde reaksi reaktan secara keseluruhan. Dalam hal ini, orde total adalah x + y.

B. Reaksi Orde Satu

Reaksi dengan orde satu adalah reaksi dimana laju bergantung pada konsentrasi
reaktan yang dipangkatkan dengan bilangan satu. Secara umum reaksi dengan orde satu
dapat digambarkan oleh persamaan reaksi berikut:

A Produk

Laju reaksi dapat dinyatakan dengan persamaan: v = [A]/ t dan juga dapat
dinyatakan dalam persamaan : v = k [A].

Satuan k dapat diperoleh dari persamaan:

k = v/[A] = M.s-1/M = s-1 atau 1/s

Dengan menghubungkan kedua persamaan laju reaksi

[A]/ t = k [A]

Maka akan diperoleh persamaan sebagai berikut:

ln { [A]t / [A]0 }= kt
atau
ln [A]t = kt + ln [A]0
dimana :

ln = logaritma natural

[A]0 = konsentrasi saat t = 0 (konsentrasi awal sebelum reaksi)


[A]t = konsentrasi saat t = t (konsentrasi setelah reaksi berlangsung selama t
detik)

C. Reaksi Orde Dua

Merupakan reaksi dimana laju bergantung pada konsentrasi satu reaktan yang
dipangkatkan dengan bilangan dua atau konsentrasi dua reaktan berbeda yang masing-
masing dipangkatkan dengan bilangan satu. Untuk orde dua didapatkan persamaan
sebagai berikut:

1 / [A]t = kt + 1 / [A]0

D. Reaksi OrdeTiga

Merupakan reaksi dimana laju bergantung pada konsentrasi satu reaktan yang
dipangkatkan dengan bilangan tiga atau konsentrasi dua reaktan berbeda yang masing-
masing dipangkatkan dengan bilangan satu. Untuk orde tiga didapatkan persamaan
sebagai berikut:

1 / [A]t = ( kt + 1 / [A]0)2

E. Penentuan Orde Reaksi

1. Bentuk Differensial

a. Metode variasi atau metode differensial non grafik

A + B hasil/produk

Dengan persamaan : r = k[A]x[B]y

dimana x = orde reaksi untuk reaktan A, y merupakan orde reaksi untuk reaktan B
dan [A] dan [B] merupakan konsentrasi reaktan A dan B.
Orde reaksi dapat ditentukan dengan metode isolasi, dimana dengan mencari
konsentrasi yang sama. Misalnya untuk mencari orde reaksi B dapat ditentukan
dengan mencari konsentrasi A yang sama. Berikut ini persamaan laju reaksi bentuk
differensial:

Orde 0

Orde 1

Orde 2

Satu pereaksi

Dua pereaksi

Orde 3

Orde n
b. Metode differensial grafik

Persamaan

dx/dt = r = k (a-x)n

diubah ke dalam bentuk ln r = ln k + n ln (a-x)t

2. Bentuk Integral

a. Merupakan suatu metode trial and error. Yakni perubahan konsentrasi dengan
waktu yang diukur, dan harga k dihitung dengan menggunakan orde reaksi akan
diperoleh persamaan yang memberikan harga k yang konsisten.

Berikut ini persamaan yang dapat digunakan;

Orde 0
dx
=k
dt

Orde 1
dx dx
= k ( a x) = k (a x)
dt dt
dx
= k dt
(a x )
dx
= k dt
(a x)
ln (a x) = kt + c
Jika t = 0, x= 0 maka:
a
k t = ln
ax

Orde 2

x
kt =
a(ax)
Orde 3

1 1
kt =
2( ax ) 2a

b. Integral Grafik

Orde suatu reaksi dapat ditentukan dengan cara membuat grafik dari data eksperimen.

IV. ALAT DAN BAHAN


A. Alat:
No. Nama Alat Ukuran Jumlah
1. Gelas Kimia 100 mL 1 buah
2. Gelas ukur 10 mL 2 buah
3. Erlenmeyer 100 mL 3 buah
4. Buret - 1 buah
5. Statif dan klem - 1 set
6. Corong kaca - 1 buah
7. Kaki tiga an kasa - 1,1 buah
8. Pembakar spiritus - 1 buah
9. Pipet tetes - 6 buah

B. Bahan:
1. Minyak Kelapa Sawit
2. Asam asetat glacial
3. Larutan Na2S2O3 0,1 M
4. Aquades
5. Kloroform
6. KI jenuh
7. Amilum 1 %
V. ALUR KERJA
1. Tahap perlakuan sampel

Minyak kelapa sawit

Diambil 25 mL
Dimasukkan ke dalam gelas kimia
Dididihkan selama 15, 30, 45, 60, 120 menit

Hasil Pengamatan

2. Tahap penentuan bilangan peroksida

1 mL minyak panas

Ditambah 3,6 mL asam asetat glacial


dan 2,4 kloroform
Ditambah 2 tetes KI jenuh
Didiamkan 1 menit sambil digoyang
Ditambah 6 mL aquades
Ditambah 2 tetes amilum 1 %
Dititrasi dengan Na2S2O3 0,1 M

Hasil Pengamatan

3. Titrasi Blangko
3,6 mL asam asetat glacial
dan 2,4 kloroform

Ditambah 2 tetes KI jenuh


Didiamkan 1 menit sambil digoyang
Ditambah 6 mL aquades
Ditambah 2 tetes amilum 1 %
Dititrasi dengan Na2S2O3 0,1 M

Hasil Pengamatan
VI. HASIL PENGAMATAN
No Prosedur Hasil Pengamatan Dugaan / reaksi Kesimpulan
1 Tahap perlakuan sampel

Minyak kelapa sawit


Minyak kelapa sawit
Diambil 25 mL = Larutan berwarna
Dimasukkan ke
dalam gelas kimia kuning jernih dan
Dididihkan selama
kental
15, 30, 45, 60, 120
Minyak panas =
menit
Larutan berwarna
Hasil Pengamatan kuning jernih dan
kental

2. Tahap penentuan bilangan


peroksida
Semakin lama
Asam asetat glasial = CH3(CH2)14COOH
1 mL minyak panas minyak
Larutan jernih tidak + KI I2 + KOH +
dipanaskan maka
Ditambah 3,6 mL berwarna CH3(CH2)14COHI2
asam asetat glacial semakin besar
Kloroform = Larutan
dan 2,4 kloroform + 2e KI +
volume Na2S2O3
Ditambah 2 tetes KI jernih tidak berwarna
oksidator
jenuh KI jenuh = Larutan yang digunakan
Didiamkan 1 menit 2S2O3 2-
+2e Masing- masing
-

sambil digoyang jernih tidak berwarna


2-
Ditambah 6 mL Aquades = Larutan S4O6 didapatkan
aquades jernih tidak berwarna Reaksi ini bilangan
Ditambah 2 tetes Amilum 1 % =
amilum 1 % berlangsung pada peroksida:
Dititrasi dengan Larutan jernih tidak orde reaksi satu 15 menit = 61,80
Na2S2O3 0,1 M
berwarna 30 menit = 82,47
Na2S2O3 0,1 M =
45 menit = 164,94
Larutan jernih tidak
Hasil Pengamatan 60 menit = 206,80
berwarna
Minyak + asetat 120menit= 556,70

glasial + Kloroform Setelah dilakukan

= Larutan kuning perhitungan


jernih (+) didapatkan hasil
+ KI jenuh = Larutan bahwa reaksi
kuning jernih (++) berlangsung pada
Didiamkan 1 menit =
orde reaksi satu
Larutan kuning jernih
dengan nilai R2 =
dan ada gumpalan
0,9761dan nilai k
warna merah muda
+ Aquades = Larutan yang konstan
kuning jernih dan ada
gumpalan warna
merah muda
+ Amilum = Larutan
berwarna biru keabu-
abuan
Hasil titrasi = Larutan
jernih tidak berwarna
dan terdapat
gumpalan minyak
Volume titrasi =
15 menit = 0,3 mL
30 menit = 0,4 mL
45 menit = 0,8 mL
60 menit = 1,0 mL
120menit = 2,7 mL
3. Titrasi Blangko

3,6 mL asam asetat


glacial dan 2,4 kloroform Hasil titrasi = Larutan
jernih tidak berwarna
Ditambah 2 tetes KI Volume titrasi =
jenuh V1 = 0,2 mL
Didiamkan 1 menit V2 = 0,1 mL
sambil digoyang
Ditambah 6 mL
aquades
Ditambah 2 tetes
amilum 1 %
Dititrasi dengan
Na2S2O3 0,1 M

Hasil Pengamatan

VII. ANALISIS DATA


Pada percobaan ini, yang pertama kita lakukan adalah memanaskan minyak sawit
dengan lama yang berbeda, yaitu mulai dari 15, 30, 45, 60, dan 120 menit. Kemudian,
masing-masing kita ambil 1 mL dan kita tambahkan 3,6 mL asam asetat glasial + 2,4 mL
kloroform dan 2 tetes larutan KI jenuh, setelah itu, didiamkan dan ditambah 6 mL
aquades dan 2 tetes amilum. Lalu, kami titrasidengan larutan Na 2S2O3 0,1 M. Pada
perlakuan ini terjadi reaksi:

R C C R' + O O R CH + HC R'
H H
Monoksida
O O

Proses pembentukan peroksida

CH3(CH2)14COOH + KI I2 + KOH + CH3(CH2)14COH

I2 + 2e KI + oksidator

2S2O32- + I2 S4O62- + 2I-


2S2O32- +2e- S4O62-
Di sini, yang berperan sebagai oksidator ialah amilum. Mula-mula amilum bereaksi
dengan I2 menyebabkan larutan berwarna biru. Setelah I2 habis bereaksi, maka amilum
bereaksi dengan natrium tiosulfat hingga larutan tak berwarna. Untuk titrasi blanko,
volume Na2S2O3 yang dibutuhkan adalah 0,1 mL, sedangkan untuk sampel, kami
dapatkan volume Na2S2O3 yang dibutuhkan pada lama pemanasan 15, 30, 45, 60, dan 120
menit berturut-turut adalah 0,3; 0,4; 0,8; 1,0 ; dan 2,7 mL. Dari hasil ini terlihat bahwa
semakin lama pemanasan, maka volume Na2S2O3 yang dibutuhkan semakin lama.

Untuk menentukan ketengikan minyak, maka kita harus mengetahui bilangan


peroksidanya. bilangan peroksida ini dapat kita hitung menggunakan rumus:

( ab ) x N x 8 x 100
bilangan peroksida=
massa sampel

Dimana,

a = volume Na2S2O3 hasil titrasi

b = volume blanko

N = normalitas Na2S2O3

minyak = 0,853 g/mL

1. Penentuan Angka Peroksida


( axb ) mL x N Na2 S2 O3 x 1000
Angka peroksida =
berat sampel

2S2O32- + I2 S4O62- + 2I-


I2 + 2e 2I- ek = 2
2S2O32- S4O62- + 2e ek = 2Massa jenis minyak sawit = 0,97 gram/ml

massa jenis
Berat sampel =
volume

0,97 gram/ml
=
1 ml

= 0,97 gram
- untuk t = 15 menit

ml Na 2 S 2 O3 X N Na2 S 2O 3 x 1000
Angka peroksida=
Berat Sampel (gram)

0,3 X 0,1 . 2 x 1000



0,97

= 61,8 meq

- untuk t = 30 menit

ml Na 2 S 2 O3 X N Na2 S 2O 3 x 1000
Angka peroksida=
Berat Sampel (gram)

0,4 X 0,1. 2 x 1000



0,97

= 82,47 meq

- untuk 45 menit

ml Na 2 S 2 O3 X N Na2 S 2O 3 x 1000
Angka peroksida=
Berat Sampel (gram)

0,8 X 0,1 . 2 x 1000



0,97

= 164,94 meq

- untuk 60 menit

ml Na 2 S 2 O3 X N Na2 S 2O 3 x 1000
Angka peroksida=
Berat Sampel (gram)

1 X 0,1 .2 x 1000

0,97

= 206,18 meq

- untuk 120 menit

ml Na 2 S 2 O3 X N Na2 S 2O 3 x 1000
Angka peroksida=
Berat Sampel (gram)
2,7 X 0,1 . 2 x 1000

0,97

= 556,70 meq

Waktu 900 1800 2700 3600 7200


(detik)

Bilangan 61, 82,4 164,9 206,1 556,70


peroksid 8 7 4 8
a (meq)

Berdasarkan tabel di atas dapat kita lihat bahwa semakin lama pemanasan, maka
bilangan peroksida akan semakin meningkat, hal ini dikarenakan ikatan rangkap pada
senyawa minyak mudah terserang oksigen atau diikat oleh oksigen sehingga akan terjadi
kerusakan pada senyawa minyak dan akan terbentuk asam-asam lemak berantai pendek,
aldehid tak jenuh,keton yang akhirnya akan menyebabkan ketengikan pada minyak
tersebut.

Selanjutnya, kita tentukan orde reaksinya menggunakan metode integral, kita


dapat menggunakan metode grafik, maupun nongrafik.

2. Penentuan Orde Reaksi


A. Perhitungan Nilai a dan x

asam palmitat : 0,853 g/cm3 massa sampel = x v


Volume sampel : 1 mL = 0,853 g/cm3 x 1 mL
= 0,853 gram

a = mol asam palmitat mula mula


x = mol I2 sisa

- Mol asam palmitat mula mula :


massa 0,853 gram
a= = =3,32.103 mol=3,33 mmol
BM 256,42 g/cm 3

mol I2 sisa (x)


1. Pemanasan 15 menit
mmolek = mmolek S2O32-
( 0,3 mL ) ( 0,1 N )( 2 ek)
= = 0,03 mmol
2 ek
2. Pemanasan 30 menit
mmolek = mmolek S2O32-
( 0,4 mL ) ( 0,1 N ) (2 ek )
= = 0,04 mmol
2ek
3. Pemanasan 45 menit
mmolek = mmolek S2O32-
( 0,8 mL) ( 0,1 N ) (2 ek)
= = 0,08
2 ek
t a
mmol ( -
4. Pemanasan 60 d x menit
e (
mmolek = mmolek t m S2O32-
i m (1 mL )( 0,1 N ) (2 ek )
= k o = 0,1
2 ek
) l)
mmol
3
5. Pemanasan 120 menit
,
0
mmolek = mmolek 3 S2O32-
3
(2,7 mL ) ( 0,1 N ) (2 ek)
= = 0,27
3 2 ek
9
,
mmol 0
3
0
Sehingga diperoleh : 0

1 3
8 .
0 2
0 9

2 3
7 .
0 2
0 5

3 3
6 ,
B. Perhitungan Orde Reaksi 1
0 2
0 3

7 3
2 ,
0 0
0 6
Grafik Orde 1
1.2
1.18 f(x) = - 0x + 1.21
R = 0.98
1.16
ln a-x

1.14 ln a-x
1.12 Linear (ln a-x)
1.1
1.08
0 2000 4000 6000 8000
waktu t (detik)
- Metode Grafik

t x ln a-x
900 0.03 1.193922
1800 0.04 1.190888
2700 0.08 1.178655
3600 0.1 1.172482
7200 0.27 1.118415

- Metode Non Grafik

1 a
Orde 1 = k = ln
t ax
1 a
- t = 15 menit k= ln
t ax
1 3,33
k= ln = 9,04 x 10-6
900 3,330,03
1 a
- t = 30 menit k= ln
t ax
1 3,33
k= ln = 6.04 x 10-6
1800 3,330,04
1 a
- t = 45 menit k= ln
t ax
1 3,33
k= ln = 8,99 x 10-6
2700 3,330,08
1 a
- t = 60 menit k= ln
t ax
1 3,33
k= ln = 8,23 x 10-6
3600 3,330,1
1 a
- t = 120 menit k = ln
t ax
1 3,33
k= ln = 1,099 x 10-5
7200 3,330,27

C. Perhitungan Orde Reaksi 2

Grafik Orde 2
0.33
0.32 f(x) = 0x + 0.3
R = 0.97
0.31 1/a-x
1/a-x

0.3 Linear (1/a-x)

0.29
0 2000 4000 6000 8000

waktu t (detik)
- Metode Grafik

t x 1/a-x
900 0.03 0.30303
1800 0.04 0.303951
2700 0.08 0.307692
3600 0.1 0.309598
7200 0.27 0.326797

- Metode Non Grafik

1 x
Orde 2 = k = (
t a(ax ) )
1 x
- t = 15 menit k= (
t a( ax ) )
1 0,03
k= (
900 3,33(3,330.03) ) = 2,73 x 10-6

1 x
- t = 30 menit k= (
t a( ax ) )
1 0,04
k= (
1800 3,33(3,330,04) ) = 1,82 x 10-6

1 x
- t = 45 menit k= (
t a( ax ) )
1 0,08
k= (
2700 3,33(3,330,08) ) = 2,73 x 10-6

1 x
- t = 60 menit k= (
t a( ax ) )
1 0,1
k= (
3600 3,33(3,330,1) ) = 2,51 x 10-6

1 x
- t = 120 menit k = (
t a( ax ) )
1 0,27
k= (
7200 3,33(3,330,27) ) = 3,44 x 10-5

Grafik Orde 3
0.11
0.11
f(x) = 0x + 0.09
0.1 R = 0.97
1/(a-x)2
1/(a-x)2

0.1
Linear (1/(a-x)2)
0.09
0.09
0.08
0 2000 4000 6000 8000
Waktu t(detik)
D. Penentuan Orde Reaksi 3
1/(a-
T x x)2
90 0.0918
0 0.03 27
18 0.0923
00 0.04 86
27 0.0946
00 0.08 75
36 0.0958
00 0.1 51
72 0.1067
00 0.27 97

- Metode Non- Grafik

2
ax


Orde 3: 1 )

1
k=
2t
ax 2


- t = 15 menit 1 )

1
k=
2t
3,330,03 2


1 ) = 8,098x 10-7

1
k=
2(900)
2
ax


- t = 30 menit 1 )

1
k=
2t
3,330,04 2


1 ) = 5,72 x 10-7

1
k=
2(1800)
ax 2


- t = 45 menit 1 )

1
k=
2t
2
3,330,08


1 ) = 4,398 x 10-7

1
k=
2(2700)
2
ax


- t = 60 menit 1 )

1
k=
2t
2
3,330,1


1 ) = 8,125 x 10-7

1
k=
2(3600)
2
ax


- t = 120 menit 1 )

1
k=
2t
3,330,27 2


1 ) = 7,36 x 10-6

1
k=
2(7200)

Untuk penentuan orde reaksi dengan menggunakan metode non grafik didapatkan
harga K yang relative konstan pada semua orde. Jadi untuk penentuan orde reaksi lebih
valid menggunakan metode grafik.

Dari 3 Hasil penentuan Orde reaksi diatas dapat disimpulkan bahwa reaksi
berlangsung pada orde reaksi 1 karena dari hasil metode grafik didapatkan nilai regresi
yang mendekati 1 yaitu 0,9761.

VII. KESIMPULAN

Dari percobaan ini di dapat beberapa kesimpulan, yaitu :

1. Besar bilangan peroksida pada minyak kelapa sawit pada pemanasan 15, 30, 45,60
dan 120 menit adalah 61,8 , 82,47 , 164,94 , 206,18 , dan 556,70 .

2. Bilangan peroksida dipengaruhi oleh proses pemanasan, semakin lama pemanasan


semakin tinggi Bilangan peroksida
3. Naiknya Bilangan Peroksida menyebabkan senyawa minyak semakin rusak yang
menyebabkan ketengikan pada minyak

4. Ketengikan minyak kelapa sawit dapat diketahui dengan metode titrimetri iodometri.

5. Pada proses ketengikan minyak kelapa sawit, dengan menggunakan perhitungan


metode integral grafik menunjukkan reaksi ketengikan minyak kelapa sawit ini
terjadi pada orde reaksi 1 karena didapat nilai regresi yang mendekati 1.

IX. DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2009. Penentuan Orde Reaksi. http://ustadzkimia.blogspot.com/2009/08/penentuan-


orde-reaksi-pada-laju.html. (Diakses pada 3 November 2012 pukul 18.34 WIB).

Day, R.A dan Underwood. 1987. Analisis Kimia Kuantitatif. Jakarta : Erlangga

Suyono dan Yonata, Bertha. 2012. Panduan Praktikum Kimia Fisika III. Surabaya : Unesa Press.

Hiskia, Achmad.1992.Elektrokimia dan Kinetika Kimia, Penuntun Belajar Kimia Dasar.PT.


Citra Aditya Bakti : Bandung.

Ketaren, S.1986.Pengantar Teknologi Minyak dan Lemak Pangan.Universitas Indonesia-UI-


Press:Jakarta.

LAMPIRAN
25 mL minyak kelapa Minyak dipanaskan Minyak + asam asetat
sawit glasial + kloroform

Ditambah KI jenuh Ditambah amilum Dititrasi dengan


+ aquades Na2S2O3 0,1 M

Hasil titrasi Hasil titrasi


Bilangan peroksida Blangko
LAMPIRAN PERHITUNGAN
asam palmitat : 0,853 g/cm3 massa sampel = x v
Volume sampel : 1 mL = 0,853 g/cm3 x 1 mL
= 0,853 gram

-Metode non grafik


a = mol asam palmitat mula mula
x = mol I2 sisa

- Mol asam palmitat mula mula :


massa 0,853 gram
a= = =3,32.103 mol=3,33 mmol
BM 256,42 g/cm
3

mol I2 sisa (x)


6. Pemanasan 15 menit
mmolek = mmolek S2O32-
( 0,3 mL ) ( 0,1 N )( 2 ek)
= = 0,03 mmol
2 ek
7. Pemanasan 30 menit
mmolek = mmolek S2O32-
( 0,4 mL ) ( 0,1 N ) (2 ek )
= = 0,04 mmol
2ek
8. Pemanasan 45 menit
mmolek = mmolek S2O32-
( 0,8 mL ) ( 0,1 N ) (2 ek)
= = 0,08 mmol
2 ek
9. Pemanasan 60 menit
mmolek = mmolek S2O32-
(1 mL )( 0,1 N ) (2 ek )
= = 0,1 mmol
2 ek

10. Pemanasan 120 menit


mmolek = mmolek S2O32-
(2,7 mL ) ( 0,1 N ) (2 ek)
= = 0,27 mmol
2 ek
1 a
Orde 1 = k = ln
t ax
1 a
- t = 15 menit k= ln
t ax
1 3,33
k= ln = 9,04 x 10-6
900 3,330,03
1 a
- t = 30 menit k= ln
t ax
1 3,33
k= ln = 6.04 x 10-6
1800 3,330,04
1 a
- t = 45 menit k= ln
t ax
1 3,33
k= ln = 8,99 x 10-6
2700 3,330,08
1 a
- t = 60 menit k= ln
t ax
1 3,33
k= ln = 8,23 x 10-6
3600 3,330,1
1 a
- t = 120 menit k = ln
t ax
1 3,33
k= ln = 1,099 x 10-5
7200 3,330,27

1 x
Orde 2 = k = (
t a(ax ) )
1 x
- t = 15 menit k= (
t a( ax ) )
1 0,03
k= (
900 3,33(3,330.03) ) = 2,73 x 10-6

1 x
- t = 30 menit k= (
t a( ax ) )
1 0,04
k= (
1800 3,33(3,330,04) ) = 1,82 x 10-6
1 x
- t = 45 menit k= (
t a( ax ) )
1 0,08
k= (
2700 3,33(3,330,08) ) = 2,73 x 10-6

1 x
- t = 60 menit k= (
t a( ax ) )
1 0,1
k= (
3600 3,33(3,330,1) ) = 2,51 x 10-6

1 x
- t = 120 menit k = (
t a( ax ) )
1 0,27
k= (
7200 3,33(3,330,27) ) = 3,44 x 10-5

ax 2


Orde 3: 1 )

1
k=
2t
ax 2


- t = 15 menit 1 )

1
k=
2t
3,330,03 2


1 ) = 8,098x 10-7

1
k=
2(900)
2
ax


- t = 30 menit 1 )

1
k=
2t
3,330,04 2


1 ) = 5,72 x 10-7

1
k=
2(1800)
ax 2


- t = 45 menit 1 )

1
k=
2t
2
3,330,08


1 ) = 4,398 x 10-7

1
k=
2(2700)
2
ax


- t = 60 menit 1 )

1
k=
2t
2
3,330,1


1 ) = 8,125 x 10-7

1
k=
2(3600)
2
ax


- t = 120 menit 1 )

1
k=
2t
3,330,27 2


1 ) = 7,36 x 10-6

1
k=
2(7200)

Penentuan Angka Peroksida


( axb ) mL x N Na2 S2 O3 x 1000
Angka peroksida = berat sampel

2S2O32- + I2 S4O62- + 2I-


I2 + 2e 2I- ek = 2
2S2O32- S4O62- + 2e ek = 2Massa jenis minyak sawit = 0,97 gram/ml

massa jenis
Berat sampel =
volume
0,97 gram/ml
=
1 ml

= 0,97 gram

- untuk t = 15 menit

ml Na 2 S 2 O3 X N Na2 S 2O 3 x 1000
Angka peroksida=
Berat Sampel (gram)

0,3 X 0,1 . 2 x 1000



0,97

= 61,8 meq

- untuk t = 30 menit

ml Na 2 S 2 O3 X N Na2 S 2O 3 x 1000
Angka peroksida=
Berat Sampel (gram)

0,4 X 0,1. 2 x 1000



0,97

= 82,47 meq

- untuk 45 menit

ml Na 2 S 2 O3 X N Na2 S 2O 3 x 1000
Angka peroksida=
Berat Sampel (gram)

0,8 X 0,1 . 2 x 1000



0,97

= 164,94 meq

- untuk 60 menit

ml Na 2 S 2 O3 X N Na2 S 2O 3 x 1000
Angka peroksida=
Berat Sampel (gram)

1 X 0,1 .2 x 1000

0,97
= 206,18 meq

- untuk 120 menit

ml Na 2 S 2 O3 X N Na2 S 2O 3 x 1000
Angka peroksida=
Berat Sampel (gram)

2,7 X 0,1 . 2 x 1000



0,97

= 556,70 meq