Anda di halaman 1dari 9

2.

SUMBER DATA DEMOGRAFI


Setiap negara ingin mengetahul jumlah penduduk di negara masing-
masing. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut perlu dibuat suatu sistem
pengumpulan data.
Pada umumnya terdapat tiga sistem pengumpulan penduduk yang berikut:
1. Sensus Penduduk
2. Registrasi penduduk
3. Survei penduduk
2.1. Sensus Penduduk
Sensus penduduk dilaksanakan untuk pengumpulan data struktur
penduduk, yang dilaksanakan pada waktu tertentu, biasanya sepuluh tahun
sekali, pada tahun-tahun berakhiran nol.
Sensus penduduk sering disebut cacah jiwa mempunyai sejarah
setua sejarah peradpan manusia. Sensus penduduk telah dilaksanakan di
BaHonia 4000 tahun sebelum Masehi (SM), begitu pula di Mesir pada 2500
SM,dan di Cina 3000 SM. Pada abad 16 dan 17 beberapa sensus
penduduk telah dilaksanakan di Italia, Sisili, dan Spanyol. Pada masa itu
sensus dilaksanakan untuk tujuan miNter, pemungutan pajak, dan peluasan
kerajaan,
Sensus penduduk yang Iebih menyeluruh dan modern diiaksanakan
di Quebec pada tahun 1666, dan di Swedia pada tahun 1749 (Pollard,
1974). Di Amerika Serikat sensus penduduk dimulai tahun 1790, dan di
Inggris tahun 1801 yang kemudian diikuti oleh negara-negara jajahannya.
Di Indonesia Raffles telah melakukan perhitungan jumlah penduduk tahun
1815, dan di India tahun 1881. Hingga abad ke 20 sekitar 20 persen dan
penduduk dunia telah dihitung melalui sensus penduduk (Mantra, 1985).

2.1.1. Ruang lingkup Sensus Penduduk


Sensus penduduk merupakan suatu proses kegiatan yang
meliputi pengumpulan, pengolahan, penyajian, dan penilaian data
penduduk. Data penduduk tersebut meliputi ciri-ciri demografi, sosial
ekonomi, dan lingkungan hidup.
Ciri khas pelaksanaan Sensus Penduduk:
1. bersifat individu, baik sebagai anggota keluarga maupun
masyarakat

Universitas Gadjah Mada


2. bersifat universal, berarti pencacahan bersifat rnenyeluruh
3. pencacahan dilaksanakan secara serentak di seluruh Negara
4. dilaksanakansecara periodik, setiap tahun berakhiran angka nol.
Agar data hasil sensus penduduk dan berbegai negara dapat
diperbandingkan, Perseikatan Bangsa-Bangsa menetapkan bahwa
informasi kependudukan minimal yang harus ada setiap sensus
penduduk adalah sebagai berikut:
1. Geografi dan migrasi penduduk
2. Rumah tangga
3. Karakteristik Sosial dan demografi
4. Kelahiran dan kematian
5. Karakteristik pendidikan
6. Karakteristik ekonomi.
Informasi geografi meliputi lokasi daerah pencacahan, jumlah
penduduk yang bertempat tinggal di daerah tersebut. Berapa jumlah
penduduk de jure dan berapa jumlah penduduk de facto. Disamping
itu dapat diperhitungkan jumlah penduduk yang bertempat tinggal di
daerah perdesaan dan perkotaan.
Informasi migrasi penduduk didapat dan pertanyaan tentang
tempat lahir, lamanya bertempat tinggal di tempat yang sekarang,
tempat tinggal terakhir sebelum bertempat tinggal ditempat yang
sekarang, dan tempat tinggal beberapa tahun yang lalu (misalnya
lima tahun yang lalu).
Data mengenai rumah tangga pada saat pencacahan,
hubungan masing-masing anggota rumah tangga dengan kepala
rumah tangga. Komposisi anggota rumah tangga dan jenis kelamin
kepala rumah tanga.
Informasi nomor tiga, lima dan enam meliputi komposisi
penduduk menurut variabel tertentu. Misalnya komposisi penduduk
menurut umur dan jenis kelamin, status perkawinan, agama,
pendidikan, aktivitas, dan pendapatan.
Informasi tentang fertilitas dan mortalitas umumnya
ditanyakan tentang jumlah anak yang dilahirkan pada masa lalu,
begitu juga jumlah anggota rumah tangga yang rneninggal.
Disamping itu ditanyakan juga umur dan waktu kawin pertama,

Universitas Gadjah Mada


lamanya usia perkawinan,jumlah kelahiran dan kematian bayi dua
belas bulan sebelum pelaksanaan sensus, Lihat Tabel 2.1
Sensus penduduk bertujuan untuk mencacah seluruh
penduduk yang ada di suatu negara, ini berarti pada hari
pelaksanaan sensus, petugas sensus akan datang ke rumah tangga
untuk mencacah seluruh anggota rumah tangga yang ada.
Sehubungan dengan luasnya daerah pencacahan dan pelaksanaan
sensus hanya satu hari yaitu hari sensus, maka pertanyaan yang
ditanyakan pada sensus lengkap hanya pertanyaan yang bersifat
umum. Pertanyaan umum tersebut meliputi jumlah anggota rumah
tangga, jenis kelamin, dan umur.Pertanyaan yang bersifat spesifik
misalnya yang menyangkut ketenagakerjaan, pendidikan, kesehatan
masyarakat, dan migrasi penduduk ditanyakan pada sensus sampel.
Penduduk yang dicacah meliputipenduduk de Jure, yaitu
penduduk yang resmi berdomisili di daerah tersebut.dan penduduk
de facto, yaitu penduduk yang tinggal disuatu wilayah pada jangka
waktu tertentu tetapitidak termasuk penduduk resmi dan wilayah
yang berangkutanAnggota korps deplomatik dan negara asingtidak
ikut dicacah dalarn sensus penduduk, karena suatu negara tidak
boleh melaksanakan sensus penduduk negara lain.

2.1.2. Kesalahan Sensus


Walaupun pengumpulan data dalam sensus penduduk
dilakksanakan secara aktif oleh petugas, namun masih juga terdapat
beberapa kesalahan. Yaukey (1980) mengelompokkan kesalahan itu
menjadi tiga kelompok, yaitu kesalahan cakupan, kesalahan isi
pelaporan, dan kesalahan ketepatan laporan.

Tabel 2.1. informasi Minimal Yang Harus Ditanyakan Pada Sensus Penduduk
Informasi Variabel
1. Geografi dan Migrasi Penduduk 1.1. Tempat lain
Tempat tinggal tetap atau tempat 1.2. Lama tinggal di daerah sekarang
tinggal pada saat pencacahan 1.3. Tempat tinggal beberapa tahun
lalu
2. Rumah tangga Hubungan setiap anggota rumah

Universitas Gadjah Mada


Informasi Variabel
Tangga dengan kepala rumah tangga
3. Karakteristik Sosial dan Demografi 3.1. Jenis Kelamin
3.2. Umur
3.3. Status Perkawinan
3.4. Kewarganegaraan
3.5. Agama
3.6. Bahasa
3.7. Suku/Kebangsaan
4. Fertilitasdan Mr 4.1. Anak lahir hidup
4.2. Anak masih hidup
4.3. Umur waktu kawin
4.4. Lama kawin
4.5. Jumlah anak lahir hidup
5. Karakteristik Pendidikan 5.1. Tingkat Pendidikan
5.2. Melek Huruh
5.3. School attendance
5.4. Education qualifications
6. Karakteristik Ekonomi 6.1. Aktivitas ekonomi
6.2. Kedudukan dalam aktMtas
6.3. Industri
6.4. Status pekerja
6.5. Jam pekerja
6.6. Pendapatan
6.7. Aktivitas menurut sektor
Sumber : Mantra, ida Bagoes (2003)

Kesalahan cakupan adalah kesalahan dimana tidak seluruh


penduduk tercacah, dan bagi yang tercacah ada sebagian dan
mereka tercacah dua kali. Hal ini biasanya terjadi pada negara yang
mempunyai tingkat mobilitas penduduk. yang tinggi. Ada beberapa
negara yang tidak seluruh wilayahnya dapat dikunjungi, dalam
situasi seperti ml digunakan pernotretan dan udara untuk
memperkirakan jumlah penduduknya lewat perhitungan rumah-
rumah yang ada. Akibat dan kesalahan cakupan tersebut, maka

Universitas Gadjah Mada


sensus penduduk tidak dapat menyajikan jumlah penduduk yang
tepat pada hari sensus penduduk dilaksanakan. Namun demikian
kesalahan itu tidak significan sehingga jumlah penduduk yang
dihasilkan dari sensus penduduk dianggap sudah benar.
Kesalahan isi laporan, meliputi kesalahan pelaporan dan
responden, misalnya kesalahan tentang umur. Umumnya di negara
berkembang para responden tidak pasti tentang umurnya, sehingga
petugas harus memperkirakan dengan menghubungkan kelahiran
responden dengan kejadian disekitarnya balk nasional maupun lokal
Ada juga informasi responden yang disampaikan dengan tidak jujur,
atau kemungkinan lupa untuk menyampaikannya.
Kesalahan ketepatan pelaporan dapat terjadi karena
kesalahan petugas sensus atau kesalahan responden sendiri.
Misalhya tentang jumlah anak, umur dengan jurnlah anak Hal yang
demikian metiyulitkan dalam analisis hasil sensus penduduk. Data
sensus sebelurn dirialiis terlebih dahulu harus bersih dan kesalahan,
proses pembersihan data mi memakan waktu lama.

2.1.3. Pelaksanaan Sensus Penduduk di Indonesia


Indonesia telah melaksanakan sensus penduduk sejak tahun
1815. Sensus penduduk pada tahun 1920 dan tahun 1930, mulai
saat itu organisasi pelaksanaannya sudah cukup balk dan data yang
dihasilkan cukup dapat dipercaya. Informasi kependudukan yang
dikumpulkan tahun 1930 Iebih lengkap bila dibandingkan dengan
tahun 1920.
Sensus penduduk di Jawa tahun 1930 dilaksanakan secara
de facto sedangkan di luar Jawa secara de Jure. Penduduk dicatat
dalam satu hari, yaitu tanggal 7 Oktober 1930 dan hasil pencacahan
tersebut tahun 1930 penduduk Indonesia sebesar 60.727.233 jiwa
dan pada tahun 1920 sebesar 34.344.000 jiwa.
Sejak proklamasi kemerdekaan hingga tahun 2000 di
Indonesia telah lima kali dilaksanakan sensus penduduk, yaltu tahun
1961, 1971,1980,1990, dan tahun 1990, Sensus penduduk tahun
1961 menggunakan dua cara pencacahan, yaitu pendaftaran rumah
tangga dan disusul pencacahan lengkap. Tanggal 31 Oktober 1961

Universitas Gadjah Mada


diiaksanakan sensus. Sensus penduduk tahun 1971 dan segi
perencanaan, pelaksanaan lapangan, dan pengolahan data jauh
lebih maju dibandingkan dengan tahun 1961. Sensus penduduk
tahun 1980, 1990, dan 2000 pelaksanaannya sesuai dengan
pelaksanaan sensus penduduk tahun 1971. Pada hari senus
diadakan penyesuaian daftar pertanyaan yang telah diisi karena
adanya klahiran, kematian, penduduk yang datang dan pergi
selama proses pencacahan.
Dalam sensus tahun 1980 untuk melengkapi keterangri
rumah tana dilakukan pula pengumpulan data potensi & desa
(podes). Dengan terkumpulkannya data podes maka terbuka
kemungkinan untuk mengamati perkembangan desa dari waktu ke
waktu, serta menghubungkannya dengan perubahan yang terjadi
dIm masyarkat ditinjau dan segi kependudukan. Pelaksanaan
sensus penduduk tahun 1990 pada prinsipnya tidak jauh berbeda
dengan pelaksanaan sensus sebelumnya. Pencacahan
dilaksanakan dalam dua tahap, yaitu sensus lengkap yang
mengumpulkan beberapa keterangan pokok penduduk, sedang
sensus satIeI mencakup keterangan rind dan sebagian penduduk.
Sensus penduduk tahun 2000 hanya dilaksanakan sensus lengkap.

2.1.4. Tahap-tahap Pelaksanaan Sensus Penduduk Indonesia


Agar mendapatkan hasil yang maksimal dan sensus
penduduk perlu diadakan pesiapan antara lain sebagai berkut:
1. Badan Pusat Statistik menyiapkan daftar pertanyaan.
2. Melatih petugas sensus untuk wawancara dengan
menggunakan kuesioner.Membagi wilayah menjadi wilayah
pencacahan. Satu wilayah pencacahan dapat terdiri dari
satu blok sensus, dapat juga tercitni ciari beberapa blok
sensus.
3. Wilayah pecacahan dibedakan wilayah pedesaan dan
perkotaan.
4. Pencacahan dilaksanakan den sistem aktif,artinya petugas
sensus secara aktif mendatangi rumah tangga untuk
mendapatkan data,

Universitas Gadjah Mada


5. Pencacahan rnelalui pendekatan wilayah (desa/kelurahan).
Pencacahan potensi desa dbersamaan dengan pemetaan.
6. Hasil sensus pe nduduk diolah oleh Badan Pusat Statistik
dan sebagian diterbftkan.
7. Di antara pelaksanaan dua sensus diadakan survey khusus
antar sensus berdasarkan sampel Misalnya Survey
penduduk antar sensus (SUPAS), Sensus Pertanian, Survey
Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) dan lain- lain.
2.2. Registrasi Penduduk
Komposisi penduduk yang dinamis seperti kelahiran, kematian,
mobilitas penduduk, perkawinan, perceraian, perubahan pekerjaan yang
dapat terjadi setiap saat tidak dapat terjaring di dalam sensus penduduk.
Untuk menjaring data ini maka diadakan cara pengumpulan data yang
disebut registrasi penduduk.
Kantor pencatatan registrasi penduduk terbuka setiap han kerja.
Registrasi penduduk ini dilaksanakan oleh Departemen Dalam Negeri
(Depdagri), ujung tombak pelaksanaannya adalah Kepala Desa dengan
para Perangkat Desa yang ada. Registrasi penduduk dilakukan dengan
sistem pasif, yaltu kalau penduduk yang mengalami peristiwa demografi
melapor akan dicatat dan kalau tidak melapor tidak ada anksi.
Pelaporan dengan sistem sifat ini menimbulkan beberapa
permasalahan, terutama ketidak lengkapan data pelaporan. Penduduk yang
boleh mencatatkan peristiwa demografi di atas adlah penduduk de june
saja. Hal itu rupanya menjadi penyebab jumlah penduduk suatu wilayah dan
hasil registrasi ini lebih rendah jumlahnya dibandingkan dengan hasil
sensus penduduk.
2.2.1. Sejarah Singkat Registrasi Penduduk
Registrasi penduduk mulai dilaksanakan dibeberapa negara
di dunia pada abad ke 16. Pencatatan ini terutama di gereja-gereja
di Inggris dan negara-negara lain di Eropa. Disamping di Inggris
registrasi penduduk juga telah dilaksanakan di Finlandia tahun 1628,
Denmark 1646, Norwegia 1685,dan Swedia 1686. Penerbitan data
registrasi yang teratur dimulai di negara lnggris pada tahun 1839.
(Sryock et al,1971). Di luar Eropa registrasi penduduk dilaksanakan

Universitas Gadjah Mada


di Cina, dan sini meluas ke Jepang pada abad ke 17. Registrasi
penduduk ini akhirnya meluas ke negara Asia dan Afrika.

2.2.2. Registrasi Penduduk di Indonesia


Sistem registrasi penduduk di Indonesia dimulai sejak abad
ke 19. Pada tahun 1815 Raffles melaksanakan pendaftaran
penduduk dalam rangka penerapan sistem pajak tanah. Dia melihat
bahwa registrasi desa adalah salah satu sasaran untuk maksud
tersebut. Pada masa pemerintahannya, kepala desa diharuskan
untuk mencatat semua orang yang ada di wilayahnya dengan
menyebutkan nama, umur, pekerjaan, dan ciri demografi lainnya.
Mereka juga diharuskan membuat catatan kelahiran, kematian dan
perkawinan.
Setelah lnggris meninggalkan Indonesia, Belanda
meneruskan registrasii penduduk tersebut, namun perhatian kearah
ini sangat kurang, sehingga sampai pertengahan abad ke 19 sangat
sedikit data hasil registrasi yang diterbitkan. Pada tahun 1870
Bleeker menerbitkan hasil registrasi penduduk, antara lain
menguraikan sebagai berikut:
1. Sebelum tahun 1846 tidak ada data penduduk dan tingkat
kabupaten yang tersedia.
2. Mulai tahun 1845 diinstruksikan oleh pemerintah Belanda
supaya setiap kabupaten luas wilayah dalam ilmu geografi
persegi (1 mg2 setara dengan 54.8226 km2 ),untuk menghitung
kepadatan penduduk pulau Jawa sebesar 112 jiwa/km2
(N.Daldjuni,1975).
Setelah tahun 1850 pemerintah Belanda mulai
memperhatikan sistem registrasi penduduk. Pada tahun 1851
diterbitkan angka-angka mengenai jumlah penduduk menurut
karesidenan di Jawa dan Madura dan berbagai daerah di luar Jawa.
Mulal tahun 1880 pemerintah kolonial Belanda melakukan
pencatatan pelaporan penduduk dengan sistem kartu mingguan
(Gardiner,1981). Pencatatan penduduk yang mereka lakukan belum
baik dan belum didapatkan analisis kesimpulan yang tepat.

Universitas Gadjah Mada


Pada waktu Jepang menduduki Indonesia (1942-1945)
registrasil penduduk diganti dengan registrasi vital, yaitu registrasi
yang menyangkut kelahiran, kematian, kematian janin, abortus,
perkawinan, dan perceraian (Said Rus1,1983). Menurut Battha
(1961) sistem registrasi ini mempunyal ketepatan yang memadai.
Sayang, hasil registrasi ini hilang kecuali untuk Kalimantan dan
pulau Lombok.
Setelah Indonesia merdeka, sistem kartu mingguan diubah
menjadi laporan mingguan tingkat kecamatan. Setiap minggu para
Kepala Desa berkumpul di Kantor Kecamatan menyerahkan data
perubahan penduduk yang ada selama seminggu di desanya
(Gardiner, 1981). Pencatan peristiwa vital dilakukan oleh beberapa
departemen tergantung jenis datanya. Walaupun data statistik vital
dihimpun oleh beberapa departemen, tetapi di tingkat bawah data
tersebut dicatat oleh para kepafa desa/lurah. Pada tahun 2003
diadakan penataan administrasi kependudukan yang ditugaskan
kepada Ditjen Administrasi Kependudukan Departemen Dalam
Negeri.

2.3. Survei Penduduk


Hasil sensus penduduk dan registrasi penduduk mempunyai
keterbatasan. Pengumpulan tersebut hanya menyediakan data statistik
kependudukan kurang memberikan informasi tentang sifat dan perilaku
penduduk setempat. Untuk mengatasi keterbatasan tersebut perlu
dilaksanakan survei penduduk, yang sifatnya lebih terbatas dan informasi
yang dikumpulkan Iebih cermat dan mendalam. Biasanya survem penduduk
ini dilakukan dengan sistem sampel atau dalam bentuk studi kasus.

Universitas Gadjah Mada