Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN

PRAKTIKUM BIOKIMIA I
UJI LIPID

Disusun Oleh
Chansa Luthfia Hirzi
1157040011
Kimia 5A

JURUSAN KIMIA
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN GUNUNG DJATI
BANDUNG
2017
A. Tujuan
1. Menidentifikasi lipid pada sampel minyak bersih, minyak jelantah dan lemak sapi
dengan metode salting out dan pemisahan asam lemak
2. Mengidentifikasi kandungan kolesterol pada sampel minyak bersih, minyak
jelantah dan lemak sapi dengan metode salkowski.
3. Menentukan bilangan penyabunan sampel-sampel dengan metode titrasi.

B. Prinsip percobaan
Lipid merupakan senyawa oranik yang tidak dapat larut dalam air, tetapi larut dalam
pelarut organik. Lemak dapat dihidrolisis oleh enzim. Proses penyabunan lemak atau
minyak berlangsung pada pembuatan sabun dalam industry. Baik sabun maupun gliserol
yan dihasilkan dapat larut dalam air. Untuk memeperoleh sabun ditambahkan garam NaCl
kedalam larutan tersebut. Cara ini dinamakan penggarama (salting out) lemak atau gliserida
asam lemak pendek dapat larut dalam air,sedangkan gliserida asam lemak panjang tidak
larut. Alcohol panas adalah pelarut lemak yang baik. Proses hidrolisis yang berjalan
mengunakan basa akan menhasilkan gliserol dan garam asam lemak atau sabun, oleh
karena itu proses hidrolisis yang menggunakan basa disebut penyabunan. Jumlah milligram
KOH yang diperlukan untuk penyabunan 1 gram lemak disebut bilangan penyabunan. Uji
salkowski untuk kolesterol dulakukan dengan mencampurkankolesterol dengan kloroform
dan asam sulfat dan hasil positifnya adalah larutan berwarna hijau.

C. Teori Dasar

Lipid adalah sekelompok besar senyawa alam yang tak larut dalam air, tetapi larut
dalam pelarut organic non polar seperti n-heksan, kloroform dan dietil eter. Sifat inilah
yang membedakan lipid dari karbohidrat, protein asam nukleat dan kebanyakan molekul
hayati lainnya. Struktur molekul lipid sangat beragam, sehingga kita harus meninjau
banyak gugus fungsi yang telah kita pelajari sebelumnya. Senyawa yang termasuk
kelompok lipid adalah trigliserida, lilin, fosfolipid, glikolipid, steroid, terpen,
prostaglandin.
Lipid merupakan komponen penting dalam membrane sel, termasuk diantaranya
fosfolipid, glikolipid, dan dalam sel hewan adalah kolesterol. Fosfolipid mempunyai
banyak kerangka gliserol( fosfogliserida) atau sfingosina (sfingomyelin). Serebrosida
mengandung glukosa dan galaktosa dan dengan kerangka sfingosina termasuk dalam
glikolipid.

Kolesterol (Gambar 1.1)

Kolesterol merupakan senyawa induk bagi steroid lain yang disintesis dalam tubuh.
Steroid tersebut adalah hormone-hormon yang penting seperti hormone korteks adrenal
serta hormone seks, vitamin D, dan asam empedu.
Lemak dan minyak merupakan bagian terbesar dan terpenting kelompok lipid, yaitu
sebagai komponen makanan utama bagi organism hidup. Lemak dan minyak penting
bagimanusia karena adanya sam-asam lemak esensial yang terkandung didalamnya.
Fungsinya dapat melarutkan vitamin A,D,E, dan K yang digunakan untuk memenuhi
kebutuhan tubuh. Kemudian, lemak dan minyak merupakan sumber energy yang lebih
efisien dibandingakan karbohidrat dan protein. Satu gram lemak atau minyak dapat
menghasilkan 9 kkal, sedangkan karbohidrat dan protein hanya menghasilkan 4 kkal setiap
gram..
Secara kimiawi, lemak dan minyak adalah trigliserida yang merupakan ester dari
gliserol dan asam lemak rantai panjang. Senyawa terbentuk dari hasil kondensasi satu
molekul gliserol dengan tiga molekul asam lemak.
Lipid dapat diklasifikasikan menjadi 3 golongan besar, yaitu:
1. Lipid sederhana : senyawa ester asam lemak dan berbagai alcohol. Contoh : lemak
atau minyak dan lilin (wax).
2. Lipid kompleks (gabungan) : senyawa ester asam lemak yang mempunyai gugus
lain disamping alcohol dan asam lemak, misalnya krbohidrat atau protein. Contoh
fosfolipid, glikolipid dan lipoprotein.
3. Derivat lipid : senyawa yang dihasilkan oleh proses hidrolisis lipid. Contoh : asam
lemak, gliserol, aldehida lemak, keton, hodrokarbon, sterol, vitamin larut lemak dan
beberapa hormon.
Asam lemak dapat dibentuk dari senyawa-senyawa yang mengandung karbon seperti
asetat, asetaldehid, dan etanol yang merupakan hasil respirasi tanaman. Asam lemak dalam
tanaman disintesis dalam keadaaan anaerob dengan bantuan bakteri tertentu seperti
Clostridium kluyver. Asam-asam lemak yang ditemukan dialam umumnya merupakan
asam-asam monokarboksilat dengan rantai yang tidak bercabang dan mempunyai jumlah
atom karbon genap. Asam lemak dialam dapat dibagi menjadi 2 golongan, yaitu:

1. Asam lemak jenuh : asam lemak yang tidak mempunyai ikatan rangkap. Contoh:
asam palmitat, asam stearat, dan asam kaprat. Sumber sebagian besar pada lemak
hewani.
2. Asam lemak tidak jenuh : asam lemak yang mempunyai satu atau lebih ikatan
rangkap. Contoh : asam oleat, asam linoleat, dan asam linolenat. Sumber minyak
nabati pada biji-bijian atau kacang-kacangan.
Trigliserida dapat berbentuk padat atau cair berhubungan dengan asam lemak
penyusunnya. Minyak nabati sebagian besar berbentuk cair karena mengandung sejumlah
asam lemak tidak jenuh seperti asam oleat, asam linoleat, dan asam linolenat. Asam-asam
lemak termasuk asam lemak essensial yang dapat mencegah timbulnya gejala
arteriosklerosis karena penyempitan pembuluh darah akibat penumpukan kolesterol.
Sebaliknya asam lemak hewani umumnya pada suhu kamar berbentuk padat karena banyak
mengandung asam lemak jenuh seperti asam stearat dan asam palmitat. Asam lemak jenuh
mempunyai titik lebur lebih tinggi daripada asam lemak tidak jenuh.
Lemak dan minyak dapat mengalami ketengikan, karena dapat terhidrolisis dan teroksidasi
bila dibiarkan terlalu lama kontak dengan udara. Pada proses hidrolisis, lemak atau minyak
akan diubah menjadi asam lemak bebas dab gliserol. Reaksi hidrolisis dapat mengakibatkan
kerusakan lemak atau minyak karena terdapat sejumlah air didalamnya, sehingga
menimbulkan bau tengik. Reaksi demikian dikatalisis oleh asam, basa, atau enzim tertentu
seperti enzim lipase.
Pada umumnya lemak atau minyak tidak larut dalam air, tetapi sedikit larut dalam alkohol
dan larut sempurna dalam pelarut organik seperti eter, kloroform, aseton, benzena, atau
pelarut non polar lainnya.
Minyak dalam air akan membentuk emulsi yang tidak stabil karena bila dibiarkan, maka
kedua cairan akan memisah menjadi dua lapisan. Sebaliknya, minyak dalam soda (Na2CO3)
akan membentuk emulsi yang stabil, karena asam lemak yang bebas dalam larutan lemak
bereaksi dengan soda membentuk sabun. Sabun mempunyai daya aktif permukan, sehingga
tetes minyak menjadi tersebar seluruhnya.
Pada uji pembentukan emulsi, dimana emulsi adalah dispersi atau suspensi metastabil
suatu cairan dalam cairan lain di mana keduanya tidak saling melarutkan. Agar terbentuk
emulsi yang stabil, diperlukan suatu zat pengemulsi yang disebut emulsifier atau
emulsifying agent, yang berfungsi menurunkan tegangan permukaan antara kedua fase
cairan. Bahan emulsifier dapat berupaprotein, brom, sabun, atau garam empedu. Daya kerja
emulsifier terutama disebabkan oleh bentuk molekulnya yang dapat terikat, baik pada
minyak maupun air. Emulsifier akan membentuk lapisan di sekeliling minyak sebagai
akibat menurunnya tegangan permukaan dan diadsorpsi melapisi butir-butir minyak,
sehingga mengurangi kemungkinan bersatunya butir-butir minyak satu sama lain.
Pada uji keasaman minyak, Minyak murni umumnya bersifat netral, sedangkan minyak
yang sudah tengik bersifat asam. Hal ini disebabkan minyak mengalami hidrolisis dan
oksidasi menghasilkan aldehida, keton, dan asam-aasm lemak bebas. Proses ketengikan
pada lemak atau minyak dapat dipercepat oleh adanya cahaya, kelembaban, pemanasan,
aksi mikroba, dan katalis logam tertentu, seperti Fe, Ni, atau Mn. Sebaliknya, zat-zat yang
dapat menghambat terjadinya proses ketengikan disebut antioksidan, misalnya tokoferol
(vitamin E), asam askorbat (vitamin C), polifenol, hidroquinon, dan flavonoid.
Pada uji penyabunan, lemak dan minyak dapat terhidrolisis menjadi asam lemak dan
gliserol. Proses hidrolisis salah satunya bisa dilakukan dengan penambahan basa kuat,
seperti NaOH dan KOH, melalui pemanasan dan menghasilkan gliserol dan sabun.

D. Alat Bahan

Alat Ukuran Jumlah Bahan Satuan Jumlah


Tabung reaksi 4 Lemak sapi 16ml
Rak tabung reaksi 1 Etanol 98% 10ml
NaOH dalam
Gelas kimia 50ml 1 10% 15ml
methanol
Batang pengaduk 1 NaOH dalam aquades 0,5N 100ml
Pipet tetes 2 Kloroform 5ml
Penangas air 1 H2SO4 6 tetes
Kaki tiga 1 NaCl 10ml
Kassa 1 Kertas saring 1
Pembakar spirtus 1 HCl 0,5N 122.5ml
Botol semprot 1 Indicator MM 9 tetes
Corong pisah 1 Aquades secukupnya
Gelas kimia 100ml 1
Corong 1
Buret 1
Statif 1
Gelas ukur 50ml 1
Labu Erlenmeyer 250ml 1

E. Data Hasil Pengamatan

Perlakuan Pengamatan
Dik: Sampel 1 Minyak Bersih
Sampel 2 Minyak Jelantah
Sampel 3 Lemak Sapi
1. Perlakuan awal sampel untuk lemak
sapi
Sampel 3 dimasukan dalam gelas kimia Padatan berwarna putih
1000ml diatas penangas bunsen
Dipanaskan hingga keuar minyak darigajih Minyak yang keluar berwarna kuning
sapi
Dipipet dan ditempatkan digelas kimia Minyak berwarna kuning
2. Identifikasi lemak
Semua sampel didpipet 1mldimasuan dalam Sampel 1: minyak berwarna kuning
tabung reaksi Sampel 2: minyak berwarna kuning
kecoklatan
Sampel 3:minyak berwana kuning
Semua sampel ditambahkan air hingga Sampel 1: fasa atas minyak fasa bawah
terbentuk 2 fasa larutan tidak berwarna (positif)
Sampel 2: fasa atas minyak keruh fasa
bawah larutan tidak berwarna (positif)
Sampel 3: fasa atas larutan berwaena kuning
muda, fasa bawah larutan tidak berwarna
Semua sampel dipipet 10ml ditambah 15ml NaOH 10% dalam methanol: larutan tidak
NaOH 10% dalam metanol berwarna
Sampel 1: tidak larut sempurna,larutan tidka
berwarna dari NaOH dan kuning dariminyak
Sampel 2: tidak larut sempurna larutan tidak
berwarna dari NaOH dan arutan kuning
kecoklatan
Sampel 3: larutan tidak berwarna terdapat
elembug-elembung minyak.
Semua sampel dipanaskan hingga menjadi Sampel 1: padatan putih kekuningan
padatan selama 30 menit. Sampel 2: padatan ebrwarna putih
kecoklatan
Sampel 3: padatan berwarna putih
Semua sampel ditambah kloroform hingga Kloroform : larutan tidka berwarna
larut Sampel 1: larut sebagian terdapat umpalan
putih
Sampel 2: sukar larut, warna kekuningan
bening kecoklatan gumpalan berwarna putih
Sampel 3: larutan putih keruh dan ada
sebagian padatan lemak yang tidak larut
Semua sampel disaring Sampel 1: residu berwarna putih filtrat
berwarna kuning terang (positi)
Sampel 2: residu putih kecoklatan filtrat
kuning ( positif)
Sampel 3: residu putih fitrat kuning seulas
(positif)
3. Identifikasi salting out dan pemisahan
asam lemak
Semua sampel dimasukan ke gelas kimia Sampel 1: larutan berwarna putih
100ml ditambah 25ml aquades Sampel 2: arutan putih keruh
Sampel 3:larutan putih keruh
Semua sampel dibagi ke dalam dua bagian Suspeni berwarna putih
3.a identiikasi salting out
Semua sampel ditambah NaCl dan NaCl: larutan idak berwarna
dibiarkan hingga mengumpal Sampel 1: larutan putih keruh
Sampel 2:larutan putih keruh
Sampel 3: larutan putih keruh
Semua sampel diaring dengan kertsas Sampel 1: fitrat tidak berwarna residu putih
saring (positi)
Sampel 2: filtrat tidak berwarna reidu putih
(positif)
Sampel 3: filtrat larutan keruh dan ada
gumpalan putih (poitif)
3.b pemisahan asam lemak
Semua sampel ditambah 15ml aquades Sampel 1: larutan outih
panas Sampel 2:larutan putih berbuih
Sampel 3:larutan putih
Semua sampel diambah asam sulfat hingga Sampel 1: pH awal 13 + asam sulfat 5 tetes
pH netral PH 7
Sampel 2: pH awal 13 + asam sulfat 12 tetes
pH7
Sampel 3: pH awal 13 + asam sulfat 6 tetes
pH7
Semua sampel dipanaskan kemudia Sampel 1: dipanaskan 3 menit larutan
didinginkan berbuih dan ada busa diatasnya
Sampel 2: larutan ebrwarna putih dan
berbuih jadi 2 fasa
Sampel 3: berbuih, saat panas, terbentuk 2
fasasaat dingin atas minyak bawah larutan
2 fasa semua sampel dipisahkan dengan Sampel 1: atas laarutan berwarna putih
corong pisah volmunenya volume keselurhan, bawah
putih keruh (positif)
Sampel 2: atas minyak, bawah larutan putih
(positif)
Sampel 3: atas larutan putih, bawah endapan
kuning (positif)
4. Pemiahan Kolesterol
Filtrat semua sampel diuapkan Sampel 1: larutan kuning terang
Sampel 2: larutan kuning
Sampel 3:larutan kuning seulas
Semua sampel ditambah 10ml alcohol 98% Alcohol: larutan tidak berwarna
Sampel 1: larutan kuning terang
Sampel 2:larutan kuning
Sampel 3:2 fasa,atas putih bawah putih
keruh
Semua sampel disaring Sampel 1: filtrat kuning terang
Sampel 2: filtrat kuning
Sampel 3: filtrat kuning keruh
Filtrat smeua sampel diuapkan Sampel 1: larutan kuning
Sampel 2: larutan kuning jinga lebih kental
Sampel 3: fasa atas kuning fasa bawah putih
keruh
Semua sampel ditambah beberapa tetes Sampel 1: larutan kuning (positif)
aquades dan dibagi menjadi 2 bagian Sampel 2: terbentuk sedikit krital (positif)
Sampel 3: fasa atas kuning fasa bawah putih
keruh (positif)
4.a Tes Sakowski
Endapan semua sampel dilarutkan dengan Sampel 1: larutan tidak berwarna
2ml kloroform Sampel 2: fasa atas cair, fasa bawah cair
putih keruh
Sampel 3: endapan kuning larutan putih
keruh
Semua sampel ditambah asam sulfat Sampel 1:larutan kunin pucat (positif)
Sampel 2: 3fasa, ata endapan putih larutan
dasar kuning, fasa tengah cair keruh, fasa
bawah cair coklat + (positif)
Sampel 3: endapan kuning larutan putih
keruh (positif)
5. Titrasi Lemak
5g semua sampel ditempatkan di Sampel 1: 5,000g cairan kental berwarna
erlenmeyer kuning
Sampel 2: 5,0008g caian coklat tua
Sampel 3: 5,0184g larutan berwarna kuning
Semua sampel ditambah 50ml NaOH NaOH: larutan tidak berwarna
dalamalkhol 0,5N Sampel 1: larutan kuning keruh
Sampel 2:minyaktidak larut dalam NaOH
Sampel 3: 2 fasa, kuning dan tidak berwarna,
tidak larut sempurna
Semua sampel dipanaskan 30 menit Sampel 1: fasa atas kuning, bawah putih
keruh terdapat gelembung
Sampel 2: larutan kuning bening
Sampel 3: tidak larut antara lemak dengan
NaOH
Semua sampel ditambah indicator metil Indiator MM:larutan berwarna kuning
merah 3 tetes Sampel 1: larutan kuning keruh
Sampel 2: larutan kuning
Sampel 3:campuran tidak larut, kuning
keruh
Semua sampel dititrasi dengan HCl 0,5N Sampel 1: larutan berwarna merah muda V
titran 56,2ml
Sampel 2: pH 5 fasa atas larutan kuning fasa
bawah larutan merah muda (positif)
V awal V akhir V titran
0 46,5 ml 46,5 ml

Sampel 3: larutan berwarna putih (positif)


Vawal V akhir V titran
0 74ml 74ml
6. Titrasi Blanko
50ml NaOH dalam alcohol 0,5N Larutan tidak berwarna
ditempatkan dalam erlenmeyer
Direfluk selama 30 menit Larutan tidak berwarna
Ditambah indicator MM 6 tetes Larutan kuning
Dititrasi dengan HCl 0,5N Larutan merah muda pucat
V awal Vahir Vtitran
0,2ml 48,7ml 48,5ml
7. Standariasi HCl
10 ml NaOH 0,5N dimasukan dalam Larutan merah muda
erlenemeyer ditambah 3 tetes metil merah
Dititrasi dengan HCl (duplo) Larutan tidakberwarna
titrasi Vawal Vahir Vtitran Rata-
rata
1 31.3ml 41.1ml 9,8ml 9,75ml
2 0 9,7ml 9,7ml
8. Standarisasi NaOH
10ml asam oksalat ditambah 3 tetes Larutan tidak berwarna
indicator PP
Dititrasi dengan NaOH Larutan merah muda
titrasi Vawal Vahir Vtitran Rata-
rata
1 0 7,1ml 7,1ml 6,85ml
2 7,1ml 13,7ml 6,6ml

F. Perhitungan dan Persamaan Reaksi

1. NaOH 0,5N 100ml dalam aquades

1000
N=

1000
0,5N =
40/1 100
g = 2 gram

2. NaOH 10% dalam methanol 100ml

10
% = 100 = 10
100

3. HCl 0,5N 500ml


10 % 10 37% 1,19
M= = = 11,619M
36,5 /

M1 . V1 = M2. V2
11,619M. V = 0,5 M . 500
V = 21,516ml
4. NaCl 0,5N 100ml

1000
N=

1000
0,5 N =
58,45 100
g = 2,9225 g

5. Asam oksalat 0,5N 100ml

. . 0,5 .63 .100


g= = = 3,15
1000 1000

6. Standarisasi NaOH dengan asam oksalat 0,5N

N1 . V1 = N2 . V2
N1 . 6,85 ml = 0,5 N . 10ml
N1 = 0,7199 M

7. Standarisasi HCl

N1 . V1 = N2 . V2
0,7199 . 10 ml = N . 9,75ml
N1 = 0, 7486 M

8. Bilangan Penyabunan

a. Minyak Bersih

( ) . .
Bp =


48,5 56,2 . 0,531 . 1

Bp =
5
Bp = -0,790011 mg NaOH/ g

b. Minyak jelantah


48,5 46,5 . 0,531 . 1
Bp =
5,08
Bp = 0,2216 mg NaOH/g

c. Lemak sapi


48,5 74 . 0,531 . 1
Bp =
5,0814
Bp = -2,6070 mg NaOH / g

9. Persamaan reaksi

1. 2NaOH(aq) + H2C2O4 (aq) Na2C2O4(aq) + 2H2O(l)


2. HCl(aq) + NaOH(aq) NaCl(aq) + H2O(l)
3. reaksi saponifikasi

G. Pembahasan
Uji lipid dilakukan pada tiga macam sampel yakni minyak kelapa sawit bersih,
minyak kelapa sawit jelantah (bekas pemakaian) dan lemak sapi. Ada beberapa uji yang
dilakukan dalam percbaan kali ini yaitu beberapanya adalah uji kualitatif yakni, uji
kelarutan lipid dengan prinsip like dissolve like, uji pembentukan emulsi, uji kejenuhan
sampel, uji keasaman minyak, titrasi sebagai uji kuantitatif untuk menentukan bilangan
penyabunan yang menunjukan jumlah kandungan kolesterol pada sampel.
Air dan NaOH adalah pelarut yang paling polar, sedangkan klorofrom adalah pelarut
non polar. Maka penggunaan dua pelarut dengan beda kepolaran ini akan menunjukan
sifat kepolaran sampel berdasarkan prinsip like dissolve like. Mula-mula sampel
dilarutkan dengan air dan semua sampel menunjukan dua fasa, selanjutnya ditambahkan
pelarut NaOH 10% dalam methanol dan semua sampel masih menunjukan hasil yang sama
dengan sebelumnya. Hal ini menunjuka bahwa ketiga sampel (lemak) dan minyak tidak
termasuk senyawa polar. Selanjutnya semua sampel dipanaskan hingga menjadi padatan,
pemanasan dilakukan selama 30 menit dimaksudkan untuk melihat hasil proses
saponifikasi. Dan menghasilkan padatan. Selanjunya diuji dengan pelarut kloroform yang
diketahui merupakan senyawa organic non polar. Ketiga sampel menunjukan hasil
berbeda, untuk minyak bersih dan lemak sapi larut sebagian dan masih ada sedikit
gumpalan yang tidak larut, sedangkan untuk minyak jelantah menunjukan sukar larut
sempurna, campuran berwarna kuning dan sedikit ada kecoklatan yang berasal dari
pengotor atau senyawa lain dari makanan yang digoreng. Namun dari semua hasil tersebut,
dapat dikatakan bahwa lemak dan minyak termasuk senyawa non polar. Selain itu
penambahan NaOH adalah sebagai proses saponifikasi adalah untuk hidrolisis asam lemak
dengan adanya basa lemah seperti NaOH dan hasilnya adalah gliserol. Dan reaksi
positifnya adalah penggumpalan sampel saat dipanaskan, semua sampel menyatakan hasil
positif.
Selanjutnya adalah identifikasi salting out dan pemisahan asam lemak. Salting out
merupakan proses penambahan larutan elektrolit ke dalam fase air yang mengandung
senyawa organik, penambahan larutan elektrolit ini difungsikan agar kelarutan senyawa
organik dalam air bisa menurun dan juga konsentrasi senyawa organik dalam fase organik
akan lebih besar dari pada dalam fase air. Penggunaan larutan NaCl dimaksudkan untuk
membantu memisahkan antara gliserol dan sabun. Dimana gliserol akan terbawa oleh
larutan garam sedangkan sabunnya akan mengendap. Proses saponifikasi dihentikan jika
telah terjadi pemisahan antara sabun dengan gliserol, yang ditandai dengan terbentuknya
endapan sabun. Pada semua sampel setelah ditambahkan larutan garam dan menghasilkan
koagulan atau gumpalan berwarna kuning yang menunjukan endapan sabun.
Selanjutnya adalah pemisahan asam lemak. Asam lemak adalah asam karboksilat
dengan rantai alifatik panjang, baik jenuh maupun tak jenuh. Asam lemak jenuh hanya
memiliki ikatan tunggal di antara atom-atom karbon penyusunnya, sementara asam lemak
tak jenuh memiliki paling sedikit satu ikatan rangkap diantara atom-atom karbonnya.
Keberadaan ikatan rangkap dan panjang inilah yang menyebabkan asam lemak penyusun
lipid memiliki dua jenis wujud yang berbeda pada suhu ruang. Dua wujud lipida yang
sering kita temukan adalah lemak dan minyak. Lemak pada suhu ruang berwujud padat
sedangkan minyak pada suhu ruang berwujud cair. Sabun hasil saponifikasi termasuk
asam lemak. Pemisahan asam lemak bertujuan untuk mengambil asam-asam lemak dari
sampel sehingga dihasilkan campuran sabun dan gliserol yang mudah larut dalam air dan
alcohol pada tahap pemisahan kolesterol. Umumnya asam lemak ditemukan sebagai ester
didalam lemak dan minyak, namun uga ditemukan dalam bentuk tidak teresterefikasi
sebagai asam lemak bebas. Pemisahan asam lemak dialakukan dengan cara melarutkan
semua sampel pada air dan pengecekan pH pertama menghasilkan pH sangat basa yakni
13 maka penambahan asam sulfat guna memberikan suasana asam sehingga dapat
mencapai pH netral. Pada minyak bersih hanya dibutuhkan 5 tetes larutan asam sulfat dan
pada lemak sapi hanya dibutuhkan 6 tetes saja asam sulfat untuk mencapai pH netral. Akan
tetapi minyak jelantah membutukan 12 tetes asam sulfat. Hal ini menandakan bahwa
jelantah memang memiliki kejenuhan yang paling tinggi sehingga sulit untuk dinetralkan.

Uji selanjutnya adalah uji salkowski, namun sebelumnya dilakukan pemisahan


kolesterol dengan menggunakan akohol sebab akohol adalah pelarut lemak yang baik.
Maka uji salkowski dapat dilakukan yakni dengan melarutkan endapan kolesterol dengan
kloroform. Sebab kloroform adalah pelarut organic non polar. Sifat non polar kloroform
disebabkan karena pelarut kloroform memiliki ikatan berbentuk simetri yang
menyebabkan jarak pasangan elektronnya akan sama, sehingga arah momen dipolnya
saling berlawanan sehingga nilainya saling meniadakan. Dengan tidak adanya momen
dipol pada senyawa tersebut, menyebabkan senyawanya bersifat nonpolar. Ketika
penambahan kloroform, hanya sampel minyak jelantah yang membentuk 2 fasa yaitu fasa
atas larutan kuning dan fasa bawah larutan berwarna putih, sedangkan sampel minyak
bersih hanya menjadi larutan berwarna kuning dan lemak sapi membentuk endapan
berwarna kuning dan larutan berwarna putih keruh. Barulah setelah ditambahkan asam
sulfat minyak jelantah membentuk 3 fasa yakni fasa atas endapan putih, fasa tengah larutan
keruh dan fasa bawah larutan coklat. Sedangkan pada minyak bersih menjadi larutan
berwarna kuning pucat dan untuk lemak sapi menjadi endapan berwarna kuning dan
larutan putih keruh. Penambahan asam sulfat setelah koroform adalah untuk membentuk
senyawa kompleks yang akan berflouresen berwarna hijau saat dikenakan cahaya.
Walaupun dalam hasil percobaan tidak ada yang menunjukan larutan yang berflouresensi
hijau namun semuanya menunjukan endapan kuning yang menyatakan hasil positif untuk
tes salkowsski yang ditujukan untuk mengetahui keberadaan kolesterol dalam sampel.
Selanjutnya setelah kita ketahui bahwa semua sampel mengandung kolesterol
maka dilakukan uji kuantitatif untuk menentukan kadar kolesterol dalam sampel dengan
metode titrasi menggunakan HCl yang telah distandarisasi oleh NaOH, dan NaOH yang
telah distandarisasi lebih awal oleh asam oksalat. Hal ini dilakukan untuk memastikan
keakuratan konsentrasi NaOH yang nantinya akan digunakan sebagai larutan standar, dan
untuk menunjukkan apakah larutan NaOH ini dapat bereaksi sempurna baik dengan asam
lemah maupun kuat. Reaksi yang terjadi antara NaOH dengan asam oksalat menghasilkan
garam yang bersifat basa. Maka indikator yang digunakan adalah indikator phenoftaein.
Dan selanjutnya pada standarisasi HCl dengan NaOH yang akan menghasilkan garam
yang dideteksi oleh indikator phenoftalein.

Sebelum dilakukan titrasi sampel terlebih dahulu dilarutkan dengan NaOH dalam
alcohol, sebab akohol adalah pelarut yang baik bagi lemak, dimana NaOH akan bereaksi
dengan trigliserida, yaitu tiga molekul NaOH bereaksi dengan satu molekul minyak atau
lemak. Larutan alkali yang tertinggal ditentukan dengan titrasi menggunakan HCl
sehingga NaOH yang bereaksi dapat diketahui. Sebab jumlah NaOH yang dititrasi
berbanding lurus dengan jumlah kolesterol dalam sampel. Dan penambahan indicator
phenoftalein untuk menunjukan titik ahir titrasi. Setelah penambahan indicator
phenoftalein semua sampel tidak menunjukan perubahan warna, namun setelah titrasi
semua menjadi larutan berwarna merah muda. Dengan volume titran untuk minyak bersih
adalah 56,2ml ; untuk minyak jelantah 46,5ml dna untuk lemak sapi 74ml. volume hasil
titrasi selanjutnya dihitung untuk menentukan angka penyabunan. Angka penyabunan
menunjukkan berat molekul lemak dan minyak secara kasar. Minyak yang disusun oleh
asam lemak berantai karbon yang pendek berarti mempunyai berat molekul yang relatif
kecil dan akan mempunyai angka penyabunan yang besar. Sebaliknya bila minyak
mempunyai berat molekul yang besar, maka angka penyabunan relatif kecil. Angka
penyabunan ini dinyatakan sebagai banyaknya (mg) NaOH yang dibutuhkan untuk
menyabunkan satu gram lemak atau minyak. Angka penyabunan didapatkan untuk minyak
bersih adalah -0,790022 mgNaOH/g ; untuk minyak jelantah 0,216 mgNaOH/g dan untuk
lemak sapi adalah -2,6070 mgNaOH/g.
H. Kesimpulan

1. Metode salting out menunjukan hasil positif pada minyak bersih, minyak jelantah
dan lemak sapi.
2. Semua sampel menunjukan hasil positif dengan metode salkowski sebab
membentuk 2 fasa saat ditambahkan asam sulfat
3. Didapatkan bilangan penyabunan untuk sampel minyak bersih sebesar 0,790022 mg
NaOH/g, untuk minyak jelantah sebesar 0,216 mgNaOH/g dan untuk lemak sapi
sebesar 2,6070 mgNaOH/g. maka kandungan kolesterol paling banyak terkandung
dalam lemak sapi.
Daftar Pustaka

Andriawan. 2014. Angka Penyabunan. http://kimiaterpadusmakma20143a03.blogspot.co.id


(diakses pada 26 september 2014)
Harriest, Amy. 2015. Laporan Akhir Praktikum Biokimia Umum Lipid.
https://amyharriest50.wordpress.com
(diakses pada 24 september 2017)
Poedjiadi, Anna. 2005. Dasar-Dasar Biokimia. Bandung: UIP.
Rizky, Angerista. 2014. Laporan Praktikum Biokimia Uji Lipid.
https://amyharriest50.wordpress.com
(diakses pada 24 september 2017)
Susanti, Wulan. 2011. Uji Lemak Dengan Metode Salkowski. https://www.academia.edu
(diakses pada 26 september 2017)
Lampiran

Pertanyaan

1. Apa peranan akohol dalam pembuatan sabun?


2. Mengapa sabun dapat melarut dalam eter?
3. Mengapa lemak tidak dapat larut dalam air?
4. Apa peranan asam sulfat dalam memisahkan lemak dari sabun?
5. Dimana dapat ditemukan kolesterol dana pa fungsinya?

Jawaban

1. Fungsi alcohol dalam sabun adalah untuk:


Bahan pengawet (preservative) untuk menghambat timbulnya bau tengik pada
produk.
Membuat tampilan sabun menjadi transparan.
Sebagai pelarut karena sifatnya mudah larut dalam airdan lemak, sebagai
pelarut lemak yang bersifat polar karena adanya gugus OH.
2. Sebab eter termasuk pelarut organic yang non polar maka dapat melarutkan sabun
dengan baik yang sama-sama bersifat non polar berdasarkan prinsip like dissove like.
3. Sebab air adalah pelarut yang sangat polar sendangkan lemak adalah senyawa non
polar. Sifat non polar ini adalah dari struktur molekul kolesterol yang memiliki gugus
polar pada bagian kepalanya yaitu gugus hidroksil pada posisi 3. Bagian yang lain
merupakan struktur non polar yang relatif kaku.
4. Fungsi asam sulfat seain sebagai katalis, berfungsi juga membuat suasana menjadi asam
sehinga asam lemak terpisah dari sabun. Walaupun reasi dappat kembali menjadi sabun
akan tetapi karena reaksi terjadi reversible maka akan menjadi lemak kembali.
5. Kolesterol ditemukan pada
Kolesterol berfungsi membantu tubuh membentuk sel-sel sehat (stabil dan kuat),
membantu pembentukan hormone dan asam empedu, membantuk pembentukan
vitamin D, membantuk penyerapan lemak dan kalsium, memperlancar metabolism
tubuh, menaga keseimbangan garam.