Anda di halaman 1dari 14

PENGUNAAN DANA DESA di DESA SALAMKANCI KECAMATAN

BANDONGAN KABUPATEN MAGELANG TAHUN 2016

Laporan Field Study


Akuntansi Sektor Publik

Dosen Pengampu:
Nur Laila Yuliani, S.E., M.Sc.

Disusun Oleh:
Kelompok

Adhi Wahyusetyadji 14.0102.0041


Cahyo Dwi Anggoro 14.0102.0068
Hari Satya Utama 14.0102.0070

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS PROGRAM STUDI AKUNTANSI


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAGELANG
JUNI 2017
Statement of Authorship

Saya/kami yang bertandatangan dibawah ini menyatakan bahwa


makalah/tugas terlampir adalah murni hasil pekerjaan saya/kami sendiri.
Tidak ada pekerjaan orang lain yang saya/kami gunakan tanpa menyebutkan
sumbernya.
Materi ini tidak/belum pernah disajikan/digunakan sebagai bahan untuk
makalah/tugas pada mata ajaran lain kecuali saya/kami menyatakan dengan
jelas bahwa saya/kami menyatakan bahwa saya/kami menggunakannya.
Saya/kami memahami bahwa tugas yang saya/kami kumpulkan ini dapat
diperbanyak dan atau dikomunikasikan untuk tujuan mendeteksi adanya
plagiarisme.
Mata Ajaran : Akuntansi Sektor Publik
Judul Makalah/Tugas : Penggunaan Dana Desa di Desa Salamkanci
Kecamatan Bandongan Kabupaten Magelang
Tahun 2016
Tanggal : 15 Juni 2017
Dosen : Nur Laila Yuliani, S.E., M.Sc.

Nama : Adhi Wahyusetyaji


NPM : 14.0102.0041
Tanda Tangan :

Nama : Cahyo Dwi Anggoro


NPM : 14.0102.0068
Tanda Tangan :

Nama : Hari Satya Utama


NPM : 14.0102.0070
Tanda Tangan :
BAB I
PENDAHULUAN

Dewasa ini pemerintah Indonesia terus mengupayakan peningkatan


pelaksanaan Pembangunan Nasional. Tujuannya adalah untuk menyeimbangkan
laju pembangunan daerah khususnya pada pembangunan desa.Namun pada
pelaksanaannya masih dihadapkan dengan masalah pokok pembangunan seperti
ketimpangan pembangunan antara desa dan kota di Indonesia.
Guna mengatasi permasalahan tersebut, pemerintah melalui kementerian
keuangan memberikan dukungan keuangan pada dana desa berasal dari dana
Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah minimal
10% diperuntukkan bagi desa yang disebut Alokasi Dana Desa (ADD). Maksud
pemberian ADD sebenarnya adalah sebagai bantuan stimulan atau dana
perangsang untuk mendorong dalam membiayai program pemerintah desa yang
ditunjang dengan partisipasi swadaya gotong royong masyarakat dalam
melaksanakan kegiatan pemerintahan dan pemberdayaan masyarakat.
Dampak dari pemberian ADD yang telah dimulai sejak tahun 2015 ini
sudah dirasakan semua desa di seluruh Indonesia dan salah satunya pada desa
Salamkanci. Sebelum adanya pemberian ADD, desa yang termasuk dalam
kecamatan Bandongan ini, merupakan desa yang belum memiliki fasilitas yang
bisa menujang pembangunan desa seperti jalan yang rata dan penerang jalan.
Namun sesudah adanya pemberian ADD, desa tersebut sudah setidaknya memiliki
fasilitas-fasilitas yang bisa menunjang pembangunan desa.
Namun, yang perlu menjadi perhatian dari pemberian ADD baik di Desa
Salamkanci maupun desa-desa yang ada di Indonesia adalah bagaimana
pengunaan dari ADD di desa Salamkanci. Selain itu, apakah pengunaan ADD ini
juga telah sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang ada mengingat
ADD merupakan dana yang diberikan oleh pemerintah pusat kepada pemerintah
daerah sehingga ADD ini bersifat dana publik dalam artian dana yang
diperuntukan untuk kepentingan publik. Oleh karena itu, tujuan pembuatan
laporan field study ini adalah untuk mengetahui pengunaan dana desa di desa
Salam Kanci.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Alokasi Dana Desa


Alokasi Dana Desa (ADD) adalah bagian keuangan desa yang diperoleh
dari bagi Hasil Pajak Daerah dan bagian dari Dana Perimbangan Keuangan Pusat
dan Daerah yang diterima oleh kabupaten. ADD dalam APBD kabupaten/kota
dianggarkan pada bagian pemerintah desa, dimana mekanisme pencairannya
dilakukan secara bertahap atau disesuaikan dengan kemampuan dan kondisi
pemerintah daerah. Adapun tujuan dari alokasi dana ini adalah sebagai berikut;
a. Penanggulangan kemiskinan dan pengurangan kesenjangan
b. Peningkatan perencanaan dan penganggaran pembangunan di tingkat
desadan pemberdayaan masyarakat
c. Peningkatan infrastruktur pedesaan
d. Peningkatan pendalaman nilai-nilai keagamaan, sosial budaya dalam
rangka mewujudkan peningkatan sosial
e. Meningkatkan pendapatan desa melalui BUMDesa.
B. Keuangan Desa
Pada akhir periode anggaran setiap tahunnya, kepala desa wajib membuat atau
menyusun Laporan Keuangan Desa. Laporan keuangan tersebut merupakan
bagian dari laporan kinerja pemerintahan desa selama periode anggaran
pemerintahan desa terkait. Laporan tersebut sebagai bentuk pertanggungjawaban
pemerintah desa kepada pemerintah dan masyarakat. Komposisi laporan keuangan
pemerintah desa sejatinya juga mengikuti Laporan Keuangan Pemerintah sesuai
PSAP Nomor 01 paragraf 14 yang menyatakan bahwa laporan keuangan terdiri
atas:
a. Laporan Pelaksanaan Anggaran;
1) Laporan Realisasi Anggaran (LRA)
2) Laporan Perubahan Saldo Anggaran Lebih
b. Laporan Finansial;
1) Neraca
2) Laporan Operasional (LO)
3) Laporan Arus Kas (LAK)
4) Laporan Perubahan Ekuitas (LPE)
5) Catatan atas Laporan Keuangan (CaLK)
Namun, karena keterbatasan sumber daya manusia yang pada umumnya
dimiliki pemerintahan desa, pemerintah kemudian hanya menetapkan laporan
wajib yang sangatlah sederhana karena hanya berupa Laporan Realisasi Anggaran
(APBDesa) yang kemudian turut serta dilampirkan:
a. Buku Kas Umum Desa;
b. Buku Kas Pembantu Perincian Objek Pengeluaran;
c. Buku Kas Harian Pembantu;
d. Laporan Realisasi Penerimaan ADD;
e. Laporan Realisasi Belanja ADD.
BAB III
PEMBAHASAN

Dana desa yang didapatkan oleh Desa Salamkanci untuk tahun 2016
sebesar Rp 616.717.000. Dana tersebut digunakan untuk pembangunan desa dan
pemberdayaan masyarakat desa. Hal ini sesuai dengan tujuan dari ADD itu sendiri
yaitu peningkatan perencanaan dan penganggaran pembangunan di tingkat desa
dan pemberdayaan masyarakat serta peningkatan infrastruktur pedesaan. Dalam
mencaikan ADD ini, harus melalui proses yaitu membuat surat permohonan
pencairan dana desa yang berisikan dana yang akan dicairkan dan lampiran yang
berupa rincian dari dana yang akan dicairkan tersebut. dibuat oleh bendahara desa.
Langkah selanjutnya adalah bendhara desa menyerahkan surat tersebut kepada
kepala desa untuk ditinjau ulang. Apabila surat tersebut sudah disahkan oleh
kepala desa, maka bendahara desa dapat mencaikan dana tersebut ke bank yang
telah ditunjuk yaitu PD BPR Bank Bapas 69 Cabang Bandongan dengan
melampirkan surat permohonan pencairan dana desa.
Penerimaan ADD ini tidak bisa langsung dicairkan semua, maka kepala
desa Salamkanci melalui bendahara desa dalam mencairkan dana desanya
melalui dua tahap yaitu pada tahap I bendahara desa mencairkan dana desanya
sebesar Rp 370.030.200 (60% dari penerimaan ADD) dan pada tahap II sebesar
Rp 246.686.200 (40 % dari penerimaan ADD). Pencairan dana desa dengan dua
tahap telah sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 49/PMK.07/2016
pasal 14 tentang Tata Cara Pengalokasian, Penyaluran, Penggunaan, Pemantauan
dan Evaluasi Dana Desa yang menyatakan bahwa penyaluran dana dapat
dilakukan dengan cara bertahap dengan mekanisme untuk tahap I sebesar 60 %
dari dana ADD yang diterima dan untuk tahap 40 % dari dana ADD yang
diterima.
Pengambilan Dana Desa pada tahap I tidak diambil seluruhnya namun
dicairkan secara bertahap dengan rincian tahap I sebesar Rp 23.460.000. Dana
tersebut digunakan untuk mengganti biaya kegiatan musrenbandgdes I , biaya
kegiatan bank sampah, biaya operasional posyandu(semester I), membayar
kegiata musrenbangdes II . Pada tahap II sebesar Rp 94.100.000 digunakan untuk
membayar kegiatan Guru Gaji, membayar kegiatan sosial(santunan
cacat),membayar operasioanl LPMD, mengganti kegiatan pembangunan gedung
serba desa. Sementara pada tahap III yaitu sebesar RP 191.210.000 digunakan
untuk membayar kegiatan pembangunan talud dan mudan, kegiatan pembangunan
saluran irigasi Dusun Salam II, kegiatan betonisasi jalan salam I;jalan dusun
Semen; jalan dusun Semali; jalan dusun Bolong, kegiatan talud jalan ingkar
Dusun Kanci II, kegiatan saluran irigasi Kanci I, kegiatan operasional kader desa,
mengganti kegaiatan operasional kegiatan PKK. Pada tahap IV dana yang
dicairkan yaitu sebesar Rp 61.360.200 digunakan membayar kegiatan
pembangunan gedung serba guna, membayar kegiatan pelatihan service HP,
membayar kegiatan Tata Boga PKK, membayar kegiatan peningkatan kapasitas
perangkat dan Lembaga desa serta membayar kegiatan Linmas.
Sementara pada tahap II yaitu Rp 246.686.200 dicairkan sebanyak dua kali
dengan rincian untuk pencairan pertama sebesar Rp 170.671.800 yang digunakan
untuk pembayaran pembangunan gedung serta pembayaran kegiatan bantuan
semen untuk 9 dusun. Kemudian untuk pencairan dana kedua yaitu sebesar Rp
76.160.000 digunakan untuk keperluan seperti mengganti biaya OP PKK Desa,
biaya operasioanal Posyandu, biaya kegiatan kegiatan Gapoktan, biaya kegiatan
kader KB, biaya kegiatan rapat-rapat desa serta membayar pengembangan
pendidikan PAUD dan kegiatan pembuatan tiang penerang jalan dusun Derepan.
Laporan pertanggungjawaban Dana Desa di desa Salamkanci berupa
laporan keuangan yang berbentuk Buku Kas Umum. Tujuan laporan keuangan
dengan bentuk ini adalah agar mudah dimengerti oleh masyarakat khususnya
masyarakat yang awam dengan laporan keuangan.Namun jika mengacu pada
PSAP Nomor 01 paragraf 14 yang menjelaskan bahwa laporan keuangan terdiri
laporan pelaksananaan anggaran (laporan realisasi anggaran dan laporan
perubahan saldo anggaran lebih) serta laporan finansial (neraca,Laporan
Operasional, Laporan Arus Kas,Laporan Perubahan Ekuitas, Catatan atas Laporan
Keuangan) tidak sesuai. Hal ini dikarenakan keterbatasan sumber daya manusia di
Desa Salamkanci sehingga pembuatan laporan keuangannya hanya berbentuk
Buku Kas Umum (BKU) saja.
Pelaporan pertanggungjawaban yang berupa laporan keuangan dalam
bentuk buku kas umum di desa Salamkanci masih mengacu pada peraturan lama
yaitu Peraturan Pemerintah No 60 Tahun 2014 dimana pelaporan
pertanggungjawaban dilakukan secara dua kali yaitu untuk tahap I dilaporkan 30
Juni 2016 dan tahap II pada 30 Oktober 2016.
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN

Pengunaan dana desa di desa Salamkanci telah digunakan secara baik dan
transaparan mulai dari pencairan dana hingga pelaporan pertanggungjawabannya.
Namun yang menjadi perhatian adalah dalam format pelaporan
pertanggungjawabannya yang masih sederhana. Hal ini dikarenakan keterbatasan
sumber daya manusia yang ada di desa Salamkanci.
Saran untuk kedepannya adalah perlu adanya pendampingan yang bisa
dilakukan oleh pemerintah pusat melalui pemerintah daerah terkait dengan
penggunaan dana desa terutama pada pembuatan laporan pertanggungjawaban
yang berupa laporan keuangan dengan memberikan pelatihan kepada para
aparatur desa terkait dengan pembuatan laporan tersebut sehingga pembuatan
laporan tersebut agar lebih baik.
Daftar Pustaka

Huda, Arifudin Miftakhul. Raymond Firman Siahaan dan Rochmat Basuki. 2016.

Makalah Dana Desa. (online).

(https://www.scribd./document/328075488/Makalah-Dana-Desa-Ok, diakses 11

Juni 2017).

Peraturan Menteri Keuangan Nomor 49/PMK.07/2016 tentang Tata Cara

Pengalokasian, Penyaluran, Penggunaan, Monitoring dan Evaluasi Dana Desa.

(2016).

Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2014 tentang Dana Desa.

Putra, Pratiwi, Suwondo.2013.Pengelolaan Alokasi Dana Desa Dalam

Pemberdayaan Masyarakat .Jurnal Administrasi Publik (JAP), Vol. 1, No. 6. Hal.

1203-1212.

Syachbrani,Warka.2012. Akuntansi dan Akuntabilitas Pemerintahan Desa.

(online).(https://www.academia.edu/6899353/Akuntansi_dan_Akuntabilitas_Pem

erintahan_Desa, diakses pada 11 Juni 2017).


Lampiran
1. Surat Pencairan Dana
2. Buku Kas Umum