Anda di halaman 1dari 89

ASUHAN KEPERAWATAN ISOLASI SOSIAL

LAPORAN PENDAHULUAN ISOLASI SOSIAL

A. Konsep Dasar Penyakit


1. Pengertian
Isolasi sosial adalah suatu keadaan kesepian yang dialami oleh seseorang karena orang lain
menyatakan sikap yang negatif dan mengancam ( Twondsend, 1998 ). Atau suatu keadaan
dimana seseorang individu mengalami penurunan bahkan sama sekali tidak mampu berinteraksi
dengan orang lain disekitarnya, pasien mungkin merasa ditolak, tidak diterima, kesepian, dan
tidak mampu membina hubungan yang berarti dan tidak mampu membina hubungan yang berarti
dengan orang lain (Budi Anna Kelliat, 2006 ). Menarik diri merupakan percobaan untuk
menghindari interaksi dengan orang lain, menghindari hubungan dengan orang lain ( Pawlin,
1993 dikutip Budi Kelliat, 2001). Faktor perkembangan dan sosial budaya merupakan faktor
predisposisi terjadinya perilaku isolasi sosial. (Budi Anna Kelliat, 2006).

Menurut Townsend, M.C (1998:152) isolasi sosial merupakan keadaan kesepian yang dialami
oleh seseorang karena orang lain dianggap menyatakan sikap negatif dan mengancam bagi
dirinya. Sedangkan menurut DEPKES RI (1989: 117) penarikan diri atau withdrawal merupakan
suatu tindakan melepaskan diri, baik perhatian maupun minatnya terhadap lingkungan sosial
secara langsung yang dapat bersifat sementara atau menetap. (Townsend, 1998)

Isolasi sosial merupakan keadaan di mana individu atau kelompok mengalami atau merasakan
kebutuhan atau keinginan untuk meningkatkan keterlibatan dengan orang lain tetapi tidak
mampu untuk membuat kontak (Carpenito ,L.J, 1998: 381). Menurut Rawlins, R.P & Heacock,
P.E (1988 : 423) isolasi sosial menarik diri merupakan usaha menghindar dari interaksi dan
berhubungan dengan orang lain, individu merasa kehilangan hubungan akrab, tidak mempunyai
kesempatan dalam berfikir, berperasaan, berprestasi, atau selalu dalam kegagalan. (Carpenito, L
J, 1998).

2. Penyebab
Terjadinya faktor ini dipengaruhi oleh faktor predisposisi di antaranya perkembangan dan sosial
budaya. Kegagalan perkembangan dapat mengakibatkan individu tidak percaya diri, tidak
percaya dengan orang lain, ragu, takut salah, pesimis, putus asa terhadap hubungan dengan orang
lain, tidak mampu merumuskan keinginan, keadaan menimbulkan perilaku tidak ingin
berkomunikasi dengan orang lain.

Adapun gejala klinis sebagai berikut :


1. Perasaan malu terhadap diri sendiri akibat penyakit dan tindakan terhadap penyakit
2. Rasa bersalah terhadap diri sendiri
3. Gangguan hubungan sosial
4. Percaya diri kurang
5. Menciderai diri

1. Tanda dan Gejala


1. Menyendiri dalam ruangan
2. Tidak berkomunikasi, menarik diri, tidak melakukan kontak mata
3. Sedih, afek datar
4. Perhatian dan tindakan tidak sesuai dengan usia
5. Mengekspresikan penolakan atau kesepian pada orang lain
6. Menggunakan kata kata simbolik
7. Menggunakan kata kata yag tidak berarti
8. Konak mata kurang, tidak mau menatap lawan bicara

2. Akibat dari Isolasi Sosial


Klien dengan isolasi sosial dapat berakibat terjadinya resiko perubahan sensori persepsi
(halusinasi) atau bahkan perilaku kekerasan menciderai diri ( akibat dari harga diri rendah
disertai dengan harapan yang suram, mungkin klien akan mengakhiri hidupnya ).

3. Rentang Respon
Hubungan dengan orang lain dan lingkungan menimbulkan respon sosial pada individu

Respon Adaptif Respon Maladaptif


Menyendiri Kesepian
Manipulatif Menarik Diri
Otonomi Impulsif

Respon Adaptif :
Respon individu dalam menyelesaikan masalah yang masih dapat diterima oleh norma - norma sosial dan
budaya yang umum berlaku (masih dalam batas normal), meliputi :
Menyendiri : respon seseorang untuk merenungkan apa yg telah dilakukan diilingkungan sosial dan juga suatu
caralmengevaluasi diri untuk menentukan langkah berikutnya.langkah berikutnya.

Otonomi : Kemampuan individu menentukan dan menyampaikan ide, pikiran, perasaan dlm hubungan sosialpikiran,
perasaan dlm hub sosial

Kebersamaan : indivud mampu saling memberi dan menerima.


Respon Maladaptif :
Respon individu dalam penyelesaian masalah menyimpang dari norma norma sosial dan budaya
lingkungannya, meliputi :

Manipulasi : orang lain diperlakukan sebagai objek, hubungan terpusat pada masalah pengendalian orang lain
dan individu cenderung berorientasi pada diri sendiri atau tujuan, bukan pada orang lain.diri
sendiri atau tujuan, bukan pada orang lain
Impulsif : individu impulsif tidak mampu merencanakan sesuatu, tidak mampu belajar dari pengalaman,
tidak dapat diandalkanpengalaman, tidak dapat diandalkan

Narkisisme : harga diri yang rapuh, secara terussmenerus berusaha mendapatkan penghargaan dan pujian,
sikap egosentris, pencemburu, marah jika orang lain tidak mendukung.orang lain tidak mdukung

B. Fase Terjadinya Masalah


Menurut (Stuart. G. W ; 2007 ) isolasi sosial di sebabkan oleh beberapa faktor antara lain :
Faktor Predisposisi
a. Faktor tumbang :
tugas perkembangan pada fase tumbang tidak terselesaikanf
ase tum
b. Faktor komunikasi dalam keluarga :
komunikasi yang tidak jelas (suatu keadaan dimana seorang menerimapesan yang saling
bertentangan dlm waktu yg bersamaan), ekpresi emosi yang tinggi dalam keluarga yg
menghambat untuk berhubungan dengan lingkungan diluar keluarga.

c. Faktor Sosial Budaya :


Isolasi sosial atau mengasingkan diri dari lingkungan sosial, disebabkan norma - norma yang
salah dianut keluarga, seperti : anggota keluarga tidak produktif ( lansia, berpenyakit kronis dan
penyandang cacat) diasingkan dari lingkungan sosialnya.

d. Faktor biologis :
gangguan dalam otak, seperti pada skizofrenia terdapat struktur otak yang abnormal ( atropi otak,
perubahan ukuran dan bentuk sel sel dalam limbik dan daerah kortikal).

Faktor Presipitasi
a. Faktor eksternal :
stressor sosial budaya : stress yang ditimbulkan oleh faktor sosial budaya ( keluarga.

b. Faktor Internal :
stresor psikologik : stres terjadi akibat ansietas berkepanjangan disertaiakibat keterbatasan
kemampuan matasinyaketerba

Mekanisme Kopingtasan kemampuan matasinya


a. Perilaku curiga : regresi, proyeksi, represiPerilaku curiga : regresi, proyeksi, represi
b. Perilaku dependen : regresiPerilaku dependen : regresi
c. Perilaku manipulatif : regresi, represiPerilaku manipulatif : regresi, represi

d. Isolasi/ menarik diri : regresi, represi, isolasi

Perilaku
narik diri :
kurang spontan, apatis, ekspresiiwajah kurang berseri, defisit perawatan diri,wajah komunikasi
kurang, isolasi diri, aktivitas menurun, kurang berenergi, rendah diri, postur tubuh sikap fetus.
iga :
tidak percaya orang lain, bermusuhan, isolasi sosial, paranoiaisolasi
nipulasi :
kurang asertif, isolasi sosial, hargadiri rendah, tergantung pd orang lain, ekspresi perasaan tdk
langsung pd tujuan.

Sumber Koping
Sumber koping individu harus dikaji dengan pemahaman tentang pengaruh gangguan otak pada
prilaku. Kekuatan dapat meliputi model, seperti intelegensi dan kretifitas yang tinggi. Orang tua
harus secara aktif mendidik anak anak dan dewasa muda tentang keterampilan koping kerena
mereka biasanya tidak hanya belajar dari pangalaman.p

Penatalaksanaan
a. Penatalaksanaan Medis (Dalami, et.all, 2009 : hal.120)

Isolasi sosial termasuk dalam kelompok penyakit skizofrenia tak tergolongkan maka jenis
penatalaksanaan medis yang bisa dilakukan adalah :

1) Electro Convulsive Therapy (ECT)

Electro Convulsive Therapy (ECT) adalah suatu jenis pengobatan dimana arus listrik digunakan
pada otak dengan menggunakan 2 elektrode yang ditempatkan dibagian temporal kepala (pelipis
kiri dan kanan). Arus tersebut menimbulkan kejang grand mall yang berlangsung 25-30 detik
dengan tujuan terapeutik. Respon bangkitan listriknya di otak menyebabkan terjadinya
perubahan faal dan biokimia dalam otak.

Indikasi :

a) Depresi mayor

(1) Klien depresi berat dengan retardasi mental, waham, tidak ada perhatian lagi terhadap dunia
sekelilingnya, kehilangan berat badan yang berlebihan dan adanya ide bunuh diri yang menetap.

(2) Klien depresi ringan adanya riwayat responsif atau memberikan respon membaik pada ECT.

(3) Klien depresi yang tidak ada respon terhadap pengobatan antidepresan atau klien tidak dapat
menerima antidepresan.

b) Maniak

Klien maniak yang tidak responsif terhadap cara terapi yang lain atau terapi lain berbahaya bagi
klien.

c) Skizofrenia

Terutama akut, tidak efektif untuk skizofrenia kronik, tetapi bermanfaat pada skizofrenia yang
sudah lama tidak kambuh.

2) Psikoterapi

Membutuhkan waktu yang relatif cukup lama dan merupakan bagian penting dalam proses
terapeutik, upaya dalam psikoterapi ini meliputi: memberikan rasa aman dan tenang,
menciptakan lingkungan yang terapeutik, bersifat empati, menerima klien apa adanya,
memotivasi klien untuk dapat mengungkapkan perasaannya secara verbal, bersikap ramah, sopan
dan jujur kepada klien.

3) Terapi Okupasi

Adalah suatu ilmu dan seni untuk mengarahkan partisipasi seseorang dalam melaksanakan
aktivitas atau tugas yang sengaja dipilih dengan maksud untuk memperbaiki, memperkuat dan
meningkatkan harga diri seseorang.

b. Penatalaksanaan Keperawatan

Terapi Modalitas Keperawatan yang dilakukan adalah:


1) Terapi Aktivitas Kelompok (TAK)

a) Pengertian

TAK merupakan salah satu terapi modalitas yang dilakukan perawat kepada sekelompok klien
yang mempunyai masalah keperawatan yang sama. (Keliat, 2004 : hal.1).

b) Tujuan

Membantu anggotanya berhubungan dengan orang lain serta mengubah perilaku yang destruktif
dan maladaptif. (Keliat, 2004 : hal.3).

c) Terapi aktivitas kelompok yang digunakan untuk pasien dengan isolasi sosial adalah TAK
Sosialisasi dimana klien dibantu untuk melakukan sosialisasi dengan individu yang ada di sekitar
klien. Sosialisasi dapat pula dilakukan secara bertahap dari interpersonal, kelompok dan massa.
(Keliat, 2004 : hal.14).

c. Prinsip Perawatan Isolasi Sosial

1) Psikoterapeutik

a) Bina hubungan saling percaya

(1) Buat kontrak dengan pasien memperkenalkan nama perawat pada waktu interaksi dan tujuan.

(2) Ajak klien bercakap-cakap dengan memanggil nama klien, untuk menunjukan penghargaan yang
tulus.

(3) Jelaskan pada klien bahwa informasi tentang pribadi klien tidak akan diberitahukan kepada orang
lain yang tidak berkepentingan.

b) Berkomunikasi dengan pasien secara jelas dan terbuka

(1) Bicarakan dengan pasien tentang sesuatu yang nyata dan pakai istilah yang sederhana.

(2) Bersama klien menilai manfaat dari pembicaraan dengan perawat.

(3) Gunakan komunikasi verbal dan non verbal yang sesuai, jelas dan teratur.

(4) Tunjukan sikap empati dan beri kesempatan kepada klien untuk mengungkapkan perasaannya.

c) Kenal dan dukung kelebihan klien


Tunjukkan dan cari penyelesaian masalah (koping) yang bisa digunakan klien, cara menceritakan
perasaannya kepada orang lain yang terdekat/dipercaya.

(1) Bahas dengan klien tentang koping yang konstruktif.

(2) Dukung koping klien yang konstruktif.

(3) Anjurkan klien untuk menggunakan koping yang konstruktif.

d) Bantu klien mengurangi ansietasnya ketika hubungan interpersonal

(1) Batasi jumlah orang yang berhubungan dengan klien pada awal terapi.

(2) Lakukan interaksi dengan klien sesering mungkin.

(3) Temani klien beberapa saat dengan duduk di sampingnya.

(4) Libatkan klien dalam berinteraksi dengan orang lain secara bertahap.

(5) Libatkan klien dalam aktifitas kelompok.

2) Pendidikan kesehatan

a) Jelaskan kepada klien cara mengungkapkan perasaan klien selain kata-kata seperti menulis,
menangis, menggambar, berolahraga atau bermain musik.

b) Bicarakan dengan klien peristiwa yang menyebabkan menarik diri.

c) Jelaskan dan anjurkan pada keluarga untuk tetap mengadakan hubungan dengan klien.

d) Anjurkan kepada keluarga agar mengikutsertakan klien dalam kegiatan di masyarakat.

3) Kegiatan hidup sehari-hari (ADL)

a) Bantu klien dalam melaksanakan kebersihan diri sampai dapat melaksanakan secara mandiri.

b) Bimbing klien berpakaian yang rapi.

c) Batasi kesempatan untuk tidur, sediakan sarana informasi dan hiburan seperti majalah, surat kabar,
radio dan televisi.

d) Buat dan rencanakan jadwal kegiatan bersama-sama klien.


4) Lingkungan terapeutik

a) Pindahkan barang-barang yang dapat membahayakan klien maupun orang lain di lingkungan.

b) Cegah agar klien tidak berada di dalam ruang sendiri dalam jangka waktu yang lama.

c) Beri rangsangan sensorik seperti suara musik, gambar hiasan di ruangan.

C. Masalah Keperawatan
2. Pohon Masalah

Halusinasi

Isolasi Sosial

Harga Diri Rendah

3. Masalah Keperawatan dan Data yang Perlu Dikaji


a. Isolasi Sosial
b. Harga Diri rendah
c. Halusinasi
d. Defisit Perawatan Diri
e. Koping Individu Tidak Efektif
f. Kurang Pengetahuan
g. Kerusakan Komunikasi Verbal

4. Data yang Perlu Dikaji


Isolasi Sosial
DS :
- Klien mengatakan malas berbicara
- Klien mengatakan tidak ada hal yang perlu dibicarakan
- Klien mengatakan bingung hal apa yang ingin dibicarakan

DO :
- Klien menyendiri, banyak diam, tidak pernah memulai pembicaraan
- Klien tidak mau berbicara
- Tidak ada kontak mata
- Klien selalu menghindar
ASUHAN KEPERAWATAN ISOLASI SOSIAL

TINJAUAN KASUS
A. Pengkajian

I. Identitas Klien
Nama : Tn. K
Umur : 27th
Status Perkawinan : Belum Kawin
Agama : Islam
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : Buruh
Suku/Bangsa : Jawa / Indonesia
Alamat : Way Kanan

Identitas Penanggung Jawab


Nama : Bpk. T
Umur :-
Pekerjaan : Buruh
Hub. Dengan Klien : Bapak
Alamat : Way Kanan

B. Alasan Masuk
Klien masuk RSJ lewat UGD pada tanggal 3 November 2011 pukul 11.00 WIB, klien
mengatakan masuk RSJ karena sering marah-marah di rumahnya semenjak dia berhenti dari
pekerjaanya sebagai cleaning service di Bekasi. Selain itu, keluarga klien juga mengatakan klien
selalu berdiam diri di kamar dan kurang bersosialisasi baik dengan orang yang berada di
rumahnya dan tetangga sekitarnya.

C. Faktor Predisposisi
1. Riwayat gangguan jiwa
Klien mengatakan ia sudah dua kali masuk RSJ, pertama kali pada tahun 2009 karena klien
sering melempari batu ke rumah tetangga tetangganya sehingga membahayakan orang
disekitarnya, selain itu klien selalu marah dan mengamuk bila keinginanya tidak di turuti dan
yang kedua kalinya adalah sekarang, klien dimasukan ke RSJ provinsi lampung karena klien
selalu berdiam diri dan tidak bersosialisasi, baik dengan keluarganya dan orang disekitarnya.

2. Riwayat pengobatan
Keluarga klien mengatakan bahwa klien pernah dibawa berobat ke paranormal tetapi tidak ada
perubahan. Selain itu pada tahun 2009 klien pernah di rawat di RSJ provinsi Lampung, namun
setelah pulang dari RSJ klien hanya berdiam diri di kamar dan tidak pernah bersosialisasi.

3. Riwayat penganiayaan
Klien mengatakan pernah dikeroyok oleh warga karena mabuk-mabukan minuman keras pada
tahun 2009 membawa motor hampir menabrak anak kecil.
4. Riwayat anggota keluarga yang gangguan jiwa
Keluarga klien mengatakan bahwa di keluarganya tidak ada yang mengalami gangguan jiwa.
5. Pengalaman masa lalu yang tidak menyenangkan
Klien mengatakan dari masa sekolah hingga sekarang ia tidak pernah mengalami kejadian yang
tidak menyenangkan.

D. Fisik
1. Tanda-tanda vital
Tekanan darah : 110/70 mmhg
Nadi : 94 x/menit
Suhu : 36,1 0C
Pernafasan : 20 x/menit
2. Ukur
Berat badan : 68 kg
Tinggi badan : 178 cm
3. Keluhan fisik
Klien mengatakan ia tidak memiliki keluhan fisik.
Masalah keperawatan : tidak ditemukan

E. Psikososial
1. Genogram

Keterangan:

: laki-laki
: perempuan

27

: umur

: Klien
--------------- : Orang yang tinggal serumah dengan klien
: meninggal

2. Konsep diri
a. Gambaran diri
Klien mengatakan tubuhnya terlalu kurus, ia merasa jelek, klien juga mengatakan kalau pria
berbadan besar itu akan disegani orang.
b. Identitas diri
Klien mengatakan ia belum pernah menikah, klien anak pertama dari tiga bersaudara
c. Peran
Peren klien dalam keluarga adalah klien anak pertama dari tiga bersaudara. Klien membantu
orang tua mencari nafkah, namun semenjak dirawat di RSJ, klien tidak mempedulikan perannya.
d. Ideal diri
Klien mengatakan ingin cepat sembuh dari penyakitnya dan segera pulang, karena klien ingin
bekerja kembali seperti layaknya orang sehat.
e. Harga diri
Klien merasa sedih ketika ia berhenti dari pekerjaan sehingga klien merasa tidak berharga karena
tidak mampu membantu orang tuanya. Klien menyendiri di kamar, tidak berinteraksi dengan
orang lain.
Masalah keperawatan : Harga Diri Rendah

3. Hubungan sosial
a. Orang yang berarti
Klien mengatakan orang yang berarti dalam hidupnya adalah keluarganya. Keluarga klien adalah
orang yang mengerti dan memahami klien.
b. Peran serta dalam kegiatan kelompok/masyarakat
Klien mengatakan bahwa ia tidak ikut dalam organisasi masyarakat yang ada di lingkungan
tempat tinggalnya, tetapi ia terkadang bermain sepak bola pada sore hari.
c. Hambatan dalam hubungan dengan orang lain.
Klien mengatakan ia malas berhubungan dengan orang lain, karena menurut klien tidak ada hal
yang perlu dibicarakan atau diceritakan kepada orang lain dan juga klien mengatakan dia
bingung apa yang ingin diceritakan. Klien sering diam, jarang bercakap-cakap dengan klien lain
di ruangan.
Masalah Keperawatan : Isolasi Sosial
4. Spiritual
a. Nilai dan keyakinan
Klien mengatakan bahwa ia dimasukkan ke RSJ kerena klien sering marah-marah, namun klien
tidak mengetahui bahwa klien mengalami gangguan jiwa, klien meyakini dirinya sehat.
b. Kegiatan ibadah
Klien mengatakan sebelum masuk RSJ, klien jarang melakukan ibadah sholat lima waktu. Begitu
juga saat masuk RSJ klien tidak pernah sholat lima waktu.
F. Status mental
a. Penampilan
Dalam berpakaian, klien terlihat kurang rapi. Rambut klien tidak tertata. Klien tampak kusam,
lesu, dan kuku klien tampak kotor. Klien mengatakan ia mandi dua kali sehari namun tidak
pernah pakai sabun dan shampo.
Masalah keperawatan : Defisit Perawatan Diri : Berhias

b. Pembicaraan
Klien tidak pernah memulai pembicaraan terlebih dahulu pada lawan bicara. Klien menjawab
pertanyaan seperlunya saja, terkadang pembicaraan inkoheren dengan pertanyaan yang diajukan.
Masalah keperawatan : Isolasi sosial & Kerusakan Komunikasi Verbal

c. Aktifitas motorik
Ketika berbincang-bincang, kontak mata klien kurang, klien lebih banyak diam ketika tidak
ditanya, terkadang malah pulang ke kamar.
Masalan keperawatan : Isolasi sosial

d. Alam perasaan
Klien mengatakan ia putus asa karena ia takut tidak bisa membantu keluarganya karena ia sudah
tidak bisa bekerja lagi dan pernah masuk RSJ selain itu menganggap dirinya tidak baik karena
dahulu klien pernah meresahkan tetangganya yaitu dengan merusak kaca tetangganya dengan
cara menimpukinya dengan batu dan dianggap buruk oleh lingkungannya, klien mengatakan dia
malu bila bertemu orang karena dia pernah masuk RSJ sebelumnya.
Masalah keperawatan : Harga Diri Rendah

e. Afek
Datar, karena selama interaksi klien banyak diam, menjawab pertanyaan seperlunya. Terkadang
klien langsung pergi ke kamar.
Masalah keperawatan : Isolasi Sosial

f. Interaksi selama wawancara


Klien kurang kooperatif saat diwawancarai, tidak ada kontak mata. Klien berbicara hanya saat
diberi pertanyaan oleh perawat, setelah itu klien kembali diam, mudah dialihkan bila ada klien
lain, pembicaraanya kacau, terkadang tidak jelas.
Masalah Keperawatan : Kerusakan Interaksi Sosial

g. Persepsi
Klien mengatakan ia marah-marah karena dia mendengar ada bisikan-bisikan, klien mengatakan
suara suara itu adalah suara wanita, klien mengatkan suara wanita utu mengajak dia untuk
bersenang senang, dan paling sering suara itu terdengar pada saat ia sedang melamun. Tetapi
perawat saat ini belum pernah melihat tanda-tanda klien berhalusinasi auditori seperti berbicara
sendiri, tertawa sendiri.
Masalah keperawatan : gangguan persepsi sensori : Halusinasi Pendengaran

h. Proses pikir
Klien sering terlihat melamun, tidak suka memulai pembicaraan. Klien lebih suka menyendiri.
Saat interaksi selama wawancara kontak mata klien tidak fokus,dialihkan bila ada klien lain,
pembicaraanya kacau terkadang tidak jelas.
Masalah keperawatan : Gangguan Proses Pikir

i. Isi Pikir
Klien saat ini berpikir untuk pulang, dan klien menyesal selama ini berkelakuan tidak baik
terhadap tetangga dan mengajak berantem orang tua.
Masalah keperawatan : tidak ditemukan

j. Tingkat Kesadaran
a. waktu : klien dapat mengetahui kapan klien masuk RSJ, dan dia mengrti kapan saja waktu ia
harus mandi
b. tempat : klien mengetahui saat ini klien berada di RSJ
c. orang : kilen sulit mengenali seseorang, jarang memulai perkenalan, di dalam ruangan pun
klien hanya hafal nama orang 3-5 orang saja.
Masalah keperawatan : Gangguan Proses Pikir

k. Memori
Klien mampu mengingat kejadian yang telah lalu dan baru-baru terjadi. Klien masih ingat jam
berapa dia bangun tadi, klien juga ingat tahun berapa klien berhenti kerja.
Masalah keperawatan : tidak ditemukan

l. Tingkat konsentrasi dan berhitung


Klien mampu berhitung dengan baik, saat diberi soal penambahan, klien mampu menjawab
dengan baik.
Masalah keperawatan : tidak ditemukan

m. Kemampuan Penilaian
Klien dapat menilai yang baik dan yang buruk dan klien juga mengetahui bahwa sebelum
dirawat perbuatannya yang sering melawan orang tua berkelahi, melempar batu ke rumah
tetangga termasuk perbuatan tercela (tidak baik).
Masalah keperawatan : Tidak Ditemukan

n. Daya tilik diri


Klien tidak menyadari tentang apa yang diderita klien saat ini. Klien merasa sehat tidak perlu
pengobatan khusus untuk dirinya.
Masalah keperawatan : Kurang Pengetahuan
G. Keperluan Persiapan Pulang

1. Makan
Klien mengatakan setiap kali makan mencuci tangan dan makan sendiri tanpa bantuan orang lain
. Klien mengatakan sering menghabiskan porsi makanan yang disediakan
Masalah Keperawatan : Tidak Ditemukan

2. BAB/BAK
Klien mengatakan BAB & BAK di kamar mandi dan klien menyiramnya
Masalah Keperawatan : Tidak Ditemukan

3. Mandi
Klien mengatakan dalam sehari mandi 2 kali dengan menggunakan alat mandi yang benar,
namun klien jarang sikat gigi, sehingga giginya tampak kotor dan klien tidak mencuci rambut
dan sabunan.
Masalah keperawatan : Defisit Perawatan Diri :Mandi

4. Berpakaian dan berhias


Klien tidak nampak berhias diruangan, klien mengganti pakaian sehari satu kali dan
menggantinya sendiri. Rambut tidak tertata rapi.
Masalah keperawatan : Defisit Perawatan Diri : Berhias

5. Istirahat dan tidur


Klien mengatakan jadwal tidur siang dan malam tidak menentu, tapi biasanya :
tidur siang : 13.00-15.00
tidur malam : 19.30-04.00
Masalah keperawatan : tidak ditemukan

6. Penggunaan obat
Klien minum obat secara mandiri, klien minum obat secara teratur dengan dosis yang benar.
Klien tidak tahu jenis dan manfaat obat yang diminum.
Masalah keperawatan : kurang pengetahuan

7. Pemeliharaan kesehatan
Klien mengatakan apabila sakit klien berobat ke puskesmas. Bila menurut klien sakitnya biasa
saja, klien tidak pergi ke dokter (seperti masuk angin, dll). Dan saat ini klien mengatakan rutin
minum obat dan obat yang diminum sesuai dengan yang diberikan oleh perawat.
Masalah keperawatan : tidak ditemukan

8. Kegiatan didalam rumah


Klien mengatakan kegiatan didalam rumah yang paling sering adalah tidur dan berdiam diri
dikamar, tidak ada kegiatan di rumah.
Masalah keperawatan : Isolasi sosial

9. Kegiatan diluar rumah


Klien jarang keluar rumah, apabila keluar rumah pada pagi hari dan hanya pergi ke ladang dan
pulang pada sore hari. Lalu klien pulang berdiam diri di kamar.
Masalah keperawatan : Isolasi Sosial

H. Mekanisme Koping
a. Adaptif
Klien hanya berbicara seperlunya dengan pasien lain dan perawat.
b. Maladaptif
Klien mengatakan jika klien ada masalah, klien selalu memikirkan dan mencari jalan keluar
sendiri. Jika klien mampu menyelesaikan masalahnya sendiri akan diselesaikan sendiri. Namun
bila tidak mampu klien akan marah-marah., mengamuk, setelah mengamuk klien seperti hilang
ingatan(lupa) dan klien menyendiri lagi.
Masalah Keperawatan : Koping Individu Tidak Efektif
I. Masalah Psikososial Dan Lingkungan

1. Masalah berhubungan dengan dukungan kelompok


Klien mendapat dukungan dari keluarganya walaupun dirawat di RSJ. Hal ini di buktikan dengan
datangnya keluarga klien untuk menjenguk.
Masalah Keperawatan : Tidak Ditemukan

2. Masalah berhubungan dengan lingkungan


Klien termasuk orang pendiam klien terlihat menyendiri, memiliki kekurangan dalam
berinteraksi dengan orang lain klien mngatakan malas berinteraksi, klien berbicara jika ada yang
mengajak bicara dahulu.
Masalah Keperawatan : Isolasi Sosial

3. Masalah dengan pendidikan


Klien sudah lulus SLTA, klien tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, karena
klien ingin langsung bekerja.
Masalah Keperawatan : Tidak ditemukaan

4. Masalah dengan pekerjaan


Klien mengatakan klien berhenti dari pekerjaannya sebagai cleaning service di Bekasi dari tahun
2007 karena gajihnya sedikit dan klien malu karena tidak bisa menolong kedua orang tuanya.
Masalah Keperawatan : Harga Diri Rendah

5. Masalah dengan perumahan


Klien mengatakan dirumah tinggal dengan oarang tuanya, beserta dua adik perempuan dan satu
adik ipar. Klien pernah di kroyok dengan warga setempat karena mabuk-mabukkan
Masalah Keperawatan : Tidak Ditemukan

6. Masalah ekonomi
Klien mengatakan keluarganya cukup memenuhi keperluannya sehari-hari.
Masalah Keperawatan : tidak ditemukan

7. Masalah dengan pelayanan kesehatan


Klien sebelumnya pernah di rawat di rumah sakit jiwa sekali karena ngamuk-ngamuk
dilingkungn tempat tinggal dan di bawa ke RSJ lalu di ikat satu malam.
Masalah Keperawatan : Resiko Prilaku Kekerasan

J. Kurang Pengetahuan Tentang


Klien kurang pengetahuan tentang penyakit jiwa yang klien alami sekarang, klien belum
mengetahui cara pengobatan yang dilakukan, karena kurang pengetahuan itu cara klien
menyelesaikan masalah tidak benar dan tepat.
Masalah keperawatan : kurang pengetahuan

K. Aspek Medis
1. Dx. Medis : Skizofrenia
2. Therapi medis (saat ini) :
Haloperidol (HLP) 5 mg 3x1
Trihexyphenidil (THP) 2 mg 3x1
Chlorpomazin (CPZ) 100 mg 1x1

L. Daftar Masalah Keperawatan


1. Isolasi sosial
2. Gangguan Persepsi Sensori : Halusinasi Pendengaran
3. Harga diri rendah
4. Koping Individu Tidak Efektif
5. Kurang Pengetahuan
6. Gangguan Proses Pikir
7. Kerusakan Komunikasi Verbal
8. Defisit Perawatan Diri

M. Analisa Data
No. Analisa Data Maslah Keperawatan
1. DS :
Klien mengatakan bingung dalam memulai pembicaraan
karena menurut klien tidak ada bahan
pembicaraan untuk berinteraksi
DO : Isolasi Sosial
- Klien lebih banyak berdiam diri
- Kontak mata kurang
- Klien sering menyendiri
- Klien tidak pernah memulai pembicaraan, maupun
perkenalan
- Afek tumpul (hanya mampu tertawa saat ada simuluus
perawat tertawa

2. DS :
Klien mengatakan mendengar bisikan-bisikan wanita
yang mengajak klien untuk melakukan hal yang tidak
benar. Halusinasi
DO :
- Klien sering menyendiri
- Klien terkadang berbicara sendiri
- Klien sering bengong / melamun

3. DS :
- Klien mengatakan dirinya jelek, badannya terlalu kurus.
- Klien mengatakan malu bila bertemu dengan orang yang Harga Diri Rendah
baru dikenal.
- Klien mengatkan takut berbicara banyak karena takut
menyakiti hati orang lain

DO :
- Klien tidak percaya diri ketika berbicara dengan orang lain
- Klien jarang memulai pembicaraan dengan orang lain
- Klien tidak mau menatap wajah lawan bicara

4. DS :
Klien mengatakan bila dia marah di lebih memilih untuk
menyendiri dan berdiam diri tidak ingin berbicara degan Koping Individu Tidak
orang lain atau terkadang dia memarahi orng tuanya. Efektif
DO :
- Klien tampak selalu menyendiri
- Klien terlihat jarang berbicara dengan orang lain
- Klien selalu diam

5. DS :
Klien mengatakan bahwa ia tidak mengetahui tentang
penyakit yang dideritanya saat ini. Kurang Pengetahuan
DO :
Klien tidak mampu menjawab pertanyaan saat ditanya
tentang penyakit yang dideritanya saat ini.

6. DS :
Klien mengatakan kalau ia lebih suka menyendiri Gangguan Proses Pikir

DO :
Klien sering terlihat melamum
Klien tidak suka memulai pembicaraan
Kontak mata klien tidaka fokus

7. DS :
Klien mengatakan bingung bila ingin memulai Kerusakan Komunikasi
pembicaraan dengan seseorang Verbal
Klien mengatakan malas berbicara karena menurut klien
tidak ada hal yang perlu dibicarakan.
DO :
Klien tidak pernah memulai pembicaraan kepada lawan
bicara
Klien menjawab pertanyaan seperlunya saja
Pembicaraan klien inkoheren dengan pertanyaan yang
diajukan

8. DS : Defisit Perawatan Diri


Klien mengatakan mandi 2 kali sehari namun klien tidak
sikat gigi, mencuci rambut ataupun sabunan.
DO :
- Gigi klien terlihat kotor
- Kulit klien kusam
Rambut klien kusam

N. Pohon Masalah

Kerusakan Komunikasi Verbal

Gangguan Proses Pikir

Gangguan Persepsi Sensori : Halusinasi Dengar

Defisit Perawatan Diri ISOLASI SOSIAL

Harga Diri Rendah

Koping Individu Tidak Efektif

Kurang Pengetahuan
O. Daftar Diagnosa Keperawatan
1. Isolasi Sosial
2. Halusinasi
3. Harga diri Rendah
4. Koping Individu Tidak Efektif
5. Kurang Pengetahuan
6. Gangguan Proses Pikir
7. Kerusakan Komunikasi Verbal
8. Defisit Perawatan Diri

P. Rencana Tindakan Keperawatan


Inisial klien : Tn. K Dx Medis : Skizofrenia
No RM : 013650 Ruangan : Cendrawasih
No. DX. Rencana Rasional
Keperawatan Tindakan Keperawatan
Tujuan Kriteria Hasil Intervensi

1. Isolasi TUM : Klien


Sosial mampu
berinteraksi
dengan orang
lain

TUK 1 : Klien Setelah 2 X 1. Bina hubungan Hubungan


dapat membina interaksi klien saling percaya saling percaya
hubungan saling menunjukan tanda- dengan : merupakan
percaya tanda percaya - beri salam setiap langkah awal
kepada atau berinteraksi untuk
terhadap perawat : - Perkenalkan melakukan
- Wajah cerah, nama, nama interaksi
tersenyum panggilan
- Mau berkenalan perawat, dan
- Ada kontak mata tujuan perawat
- Bersedia berkrnalan
menceritakan - Tanyakan dan
perasaan panggil nama
- Berseddia kesukaan klien
mengungkapkan - Tunjukan sikap
masalahnya jujur dan
menepati janji
setiap kali
berinteraksi
- Tanyakan
perasaan dan
masalah yang
dihadapi klien
- Buat kontrak
interaksi yang
jelas
- Dengarkan
dengan penuh
perhatian ekspresi
perasaan klien

TUK 2 : 2.Setelah 2 kali 1.Tanyakan pada Dengan


Klien mampu interaksi klien klien tentang : mengetahu
menyebutkan dapat menyebutkan - Orang yang tanda-tanda dan
penyebab tanda minimal satu tinggal serumah gejala, kita
dan gejala penyebab menarik atau dengan dapat
isolasi sosial diri : sekamar klien menentukan
-Diri Sendiri - Orang yang langkah
- Orang lain paling dekat intervensi
- Lingkungan ddengan klien selanjutnya
- dirumah atau
diruangan
perawatan
- Apa yang
membuat klien
dekat dengan
orang tersebut
- Orang yang
tidak dekat
dengan klien
dirumah atau
diruangan
perawat
- Apa yang
membuat klien
tidak dekat
dengan orang
tersebut
- Upaya yang
sudah dilakukan
agar dekat dengan
orang tersebut

2.Diskusikan
dengan klien
penyebab menarik
diri / tidak mau
bergaul dengan
orang lain

3.Beri pujian
terhadap
kemampuan klien
mengungkapkan
perasaanya

TUK 3 : 3.Setelah 2 X 1.Tanyakan pada Reinforcement


Klien mampu interaksi dengan klien tentang : dpat
menyebutkan klien dapat - Manfaat meningkatkan
keuntungan menyebutkan hubungan sosiial harga diri klien
berhubungan keuntungan - Kerugian
sosial dan berhubungan sosial, menarik diri
kerugian misalnya :
menarik diri -Banyak teman 2.Diskusikan
- Tidak kesepian bersama klien
- Saling menolong tentang manfaat
berhubungan
Dean kerugian sosial dan
menarik diri kerugian menarik
misalnya : diri
-Sendiri
- Kesepian 3.Beri pujian
- Tidak bisa diskusi terhadap
- kemampuan klien
mengungkapkan
perasaannya

TUK 4 : 4.Setelah 2 X 1.Observasi Mengetahui


Klien dapat interaksi klien perilaku klien sejauh mana
melaksanakan dapat tentang pengetahuan
hubungan sosial melaksanakan berhubungan klien tentang
secara bertahap hubungan soosial sosial berhubungan
secara bertahaap dengan orang
dengan : 2.Beri motivasi lain
-Perawat dan bantuu klien
- Perawat lain untuk berkenalan
- Kelompok / berkomunikasi
dengan perawat
lain, klien lain,
kelompok

3.Libatkan klien
dalam terapi
aktivitas
kelompok
sosialisasi

4.Diskusikan
jadwal harian
yang dilakukan
untuk
meningkatkan
kemampuan klien
bersosialisasi

5.Beri motivasi
klien untuk
melakukan
kegiatan sesuai
jadwal yang telah
dibuat

6.Beri pujian
terhadap
kemampuan klien
memperluas
pergaulanya
melalui aktifitas
yang
dilaksanakan

TUK 5 : 5.Setelah 2X 1.Diskusikan Agar klien


Klien mampu interaksi klien dengan klien lebih percaya
menjelaskan dapat menyebutkan tentang diri untuk
perasaanya perasaanya setelah perasaanya berhungan
setelh berhubungan sosial setelah dengan orang
berhubungan dengan : berhbungan sosial lain
sosial -Orang lain dengan :
- Kelompok -Orang lain
- Kelompok

2.Beri pujian
terhadap
kemampuan klien
mengungkapkan
perasaaanya

TUK : 6 1.Setelah 2X kali 1.Diskusikan Agar klien


Klien mendapat pertemuan, pentingya peran lebih percaya
dukungan keluarga dapat serta keluarganay diri dan tau
keluarga dalam menjelaskan : sebagai akibat tidak
memperluas -pengertian pendukung untuk berhubungan
hubyngan sosial menarik diri mengatasi dengan orang
-tanda dan gejala perilaku menarik lain
menarik diri diri
-penyebab dan 2.Diskusikan
akibat menarik diri potensi keluarga
-cara merawat klien untuk membantu
menarik diri klien mengatasi
perilaku menarik
diri
3.Jelaskan pada
2.Setelah 2X keluarga tentang :
pertemuan, -pengertian
keluarga dapat menarik diri
mempraktekkan -tanda dan gejala
cara merawat klien menarik diri
menarik diri -penyebab dan
akibat menarik
diri
-cara merawat
klien menarik diri

4.Latih keluarga
cara merawat
klien menarik diri

5.Tanyakan
perasaan keluarga
setelah mencoba
cara yang
dilatihkan

6.Beri motivasi
keluarga agar
membantu klien
bersosialisasi

7.Beri pujian pada


keluarga atas
keterlibatannya
merawat klien
dirumah sakit
TUK 7 : 7.1 Setelah 2X 1.Diskusikan Minum obat
Klien dapat interaksi klien dengan klien dapat
memanfaatkan menyebutkan : tentang manfaaat menyembuhkan
obat dengan -manfaat minum dan kerugian penyakit klien
baik obat tidak minum obat,
-kerugian tidak nama, warna,
meminum obat dosis, cara, efek
-nama, warna, terapi, dan efek
dosis, efek terapi, samping
efek samping obat penggunaan obat.

7.2.Setelah...kali 2.Pantau klien


interaksi klien saat penggunaan
mendemonstrasikan obat
penggunaan obat
dengan benar 3.Beri pujian jika
klien
7.3.Setelah...kali menggunakan
interaksi klien dapt obat dengan benar
menyebutkan
akibat berhenti 4.Diskusikan
minum obat tanpa berhenti minum
konsultasi dokter obat tanpa
konsultasi dengan
dokter

5.Anjurkan klien
untuk konsultasi
kepada dokter
atau perawat jika
terjadi hal-hal
yang tidak
diinginkan
2 Halusinasi TUM : klien
dapat
mengontrol
halusinasi

TUK :1
Klien dapat 1.1.Setelah 2X 1.bina hubungan Hubungan
membantu interaksi dengan saling percaya saling percaya
hubungan saling klien, klien dengan prinsip merupakan
percaya menunjukkan tanda komunikasi langkah awal
percaya kepada teraupetik : untuk
perawat : -sapa klien melakukan
-ekpresi bersahabat dengan ramah , interaksi
-ada kontak mata baik verbal
-menunjukkan rasa maupun non
senang verbal
-mau berjabat - perkenalkan
tangan nama lengkap,
-mau duduk nama panggilan
berdampingan dan tujuan
dengan perawat berkenalan
-mengungkapkan - tanyakan nama
masalah yang yang disukai klien
dihadapi -buat kontrak
yang jelas
-tunjukkan sikap
jujur dan
menepati janji
-beri perhatian
kepada klien dan
perhatian
kebutuhan dasar
klien
-tanyakan
perasaan klien
dan masalah yang
dihadapi klien

TUK 2 : 2.1.setelah 2X 1. adakan kontrak


klien dapat interaksi klien langsung dan
mengenal menyebutkan singkat secara Mengetahui
halusinasinya -isi bertahap apakah
-waktu 2. observasi halusinasi
-frekuensi tingkah laku klien datang dan
-situasi dan kondisi terkait dengan menentukan
yang menimbulkan halusinasinya. tindakan yang
halusinasi -tanyakan apakah tepat atas
klien mengalami halusinasinya
halusinasi
-jika klien
menjawabnya,
tanyakan apa
yang dialaminya
-katakan bahwa
perawat percaya

TUK : 3
klien dapat 1.setelah ... kali 1.identifikasi
mengontrol interaksi klien bersama klien
halusinasi menyebutkan cara atau tindakan
tindakan yang yang dilakukan
biasanya dilakukan jika terjadi
untuk halusinasi Klien dapat
mengendalikan 2. diskusikan cara melakukan
halusinasinya yang digunakan tindakan yang
2. setelah... kali klien tepat saat
interaksi klien -jika cara yang halusinasinya
menyebutkan cara digunakan muncul
baru mengontrol adaptif, beri
halusinasi pujian
3. setelah .. kali -jika cara yang
interaksi klien digunkan
dapat memilih dan maladaptif
memperagakan diskusikan
cara megatasi kerugian cara
halusinasi tersebut
4. setelah.. klia 3. diskusikan cara
interaksi, klen baru untuk
melaksanakan cara mengontrol
yang telah dipilih halusinasi
untuk -katakan pada diri
mengendalikan sendiri ini tidak
halusinasi dengar nyata (saya tidak
5. setelah 2X mau mendengar)
interaksi, klien -menemui orang
mengikuti terapi tua /perawat
aktivitas kelompok untuk
menceritakan
tentang
halusinasinya
-membuat dan
melaksanakan
jadwal kegiatan
sehari-hari yang
telah disususn
TUK : 4 1.setelah 2X 1.diskusikan
klien dapat interaksi klien denagn klien
memanfaatkan dapat tentang manfaat
obat dengan menyebutkan : dan kerugian
baik -manfaat dari tidak minum obat,
minum obat nama, warna,
-kerugian tidak dosis, dan efek
minum obat terapi dan efek
-nama, warna, samping
dosis, efek terapi penggunaan obat
dan efek samping 2. pantau klien
obat saat penggunaan
2. setelah ... kali obat
interaksi klien 3. beri pujian bila
mendemonstrasikan klien
penggunaan obat menggunakan
dengan benar obat dengan benar
3. setelah.. kali 4. diskusikan
interaksi akibat berhenti
klienmenyebutkan minum obat tanpa
akibat berhenti konsultasi denagn
minum obat dokter
5. anjurkan klien
untuk konsultasi
kepada
dokter/perawat
jika terjadi hal-hal
yang tidak
diinginkan.

3. Harga Diri TUM :


rendah Klien dapat 1.klien dapat 1.bina hubungan
melakukan mengungkapkan saling percaya
hubungan sosial perasaannya a.sapa klien
secara bertahap 2.ekspresi wajah dengan ramah,
bersahabat baik verbal
TUK 1 : 3.ada kontak mata maupun
Klien dapat 4.menunjukkan nonverbal
membina rasa senang b.perkenalkan diri
hubungan saling 5.mau berjabat dengan sopan
percaya tangan c.tanya nama
6.mau menjawab lengkap klien dan
salam nama panggilan
7.klien mau duduk yang disukai klien
berdampingan d.jelaskan tujuan
8.klien mau pertemuan, jujur
mengutarakan dan menepati janji
masalah yang e.tunjukkan sikap
dihadapi empati dan
menerima klien
apa adanya
f.beri perhatian
pada klien

2.beri kesempatan
untuk
mengungkapkan
perasaannya
tentang penyakit
yang dideritanya

3.sediakan waktu
untuk
mendengarkan
klien

4.katakan pada
klien bahwa ia
adalah seorang
yang berharga dan
bertanggungjawab
serta mampu
menolong dirinya
sendiri

TUK 2 :
Klien dapat Klien mampu 1.diskusikan
mengidentifikasi mempertahankan kemampuan dan
kemampuan dan aspek positif yang aspek positif yang
aspek positif dimiliki dimiliki klien dan
yang dimiliki beri pujian
/reinforcement
atas kemampuan
mengungkapkan
perasaannya
2.saat bertemu
klien, hindarkan
memberi
penilaian negatif.
Utamakan
memberi pujian
yang realistis

TUK 3 : 1.kebutuhan klien 1.diskusikan


Klien dapat terpenuhi kemampuan klien
menilai 2.klien dapat yangmasih dapat
kemampuan melakukan digunakan selama
yang dapat aktivitas terarah sakit
digunakan 2.diskusikan juga
kemampuan yang
dapat dilanjutkan
penggunaan di
rumah sakit dan
dirumah nanti

TUK 4: 1.klien mampu 1.rencanakan


Klien dapat beraktivitas sesuai bersama klien
menetapkan dan kemampuan aktivitas yang
merencanakan 2.klien mengikuti masih dapat
kegiatan sesuai terapi aktivitas dilakukan setiap
dengan kelompok hari sesuai
kemampuan kemampuan :
yang dimiliki kegiatan mandiri,
kegiatan dengan
bantuan minimal,
kegiatan dengan
bantuan total
2.tingkatkan
kegiatan sesuai
dengan toleransi
kondisi klien
3.beri contoh cara
pelaksanaan
kegiatan yang
boleh klien
lakukan (sering
klien takut
melaksanakanny)

TUK 5 : Klien mampu 1.beri kesempatan


Klien dapat beraktivitas sesuai klien untuk
melakukan kemampuan mencoba kegiatan
kegiatan sesuai yang
kondisi sakit direncanakan
dan 2.beri pujian atas
kemampuannya keberhasilan klien
3.diskusikan
kemungkinan
pelaksanaan
dirumah

TUK 6 : 1.klien mampu 1.beri pendidikan


Klien dapat melakukan apa kesehatan pada
memanfaatkan yang diajarkan keluarga klien
sistem 2.klien mau tentang cara
pendukung yang memberikan merawat klien
ada dukungan harga diri rendah
2.bantu keluarga
memberi
dukungan selama
klien dirawat
3.bantu keluarga
menyiapkan
lingkungan
dirumah
ASUHAN KEPERAWATAN JIWA ISOLASI SOSIAL (MENARIK DIRI)

ASUHAN KEPERAWATAN
JIWA ISOLASI SOSIAL (MENARIK DIRI)

Disusun Oleh:
1. Priyo Tri Raharjo C1013029
2. Rizal Diakmal C1013030
3. Rizqi Ramadhan C1013031
4. Septian Munfiq I C1013032
5. Siti Fatimatul Jahro C1013033

Kelompok : 4
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
STIKES BHAKTI MANDALA HUSADA SLAWI
Jln. Cut Nyak Dhien No. 16 Kalisapu Slawi 2015
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ....................................................................................... i


DAFTAR ISI ................................................................................................... ii
KATA PENGANTAR ..................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN .............................................................................. 1
1. Latar Belakang Masalah .................................................................................. 1
2. Tujuan Penulisan ............................................................................................. 3
a. Tujuan umum .................................................................................................. 3
b. Tujuan khusus.................................................................................................. 3
BAB II PEMBAHASAN ................................................................................. 4
1. Definisi ............................................................................................................ 4
2. Penyebab ......................................................................................................... 4
3. Akibat .............................................................................................................. 8
4. Pathways ..........................................................................................................
5. Masalah Keperawatan .....................................................................................
BAB III STRATERI PELAKSANAAN ..........................................................
BAB IV TINJAUAN KASUS .........................................................................
BAB V PENUTUP .......................................................................................... 19
1. Simpulan.......................................................................................................... 19
2. Saran ................................................................................................................ 19
DAFTAR PUSTAKA
KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Allah yang telah memberikan nikmat serta hidayah-Nya terutama
nikamta kesempatan dan kesehatan sehingga penulis dapat menyelesaikan Asuhan Keperawatan
mata kuliah Maternitas yang berjudul ASUHAN KEPERAWATAN JIWA ISOLASI SOSIAL
kemudian sholawat beserta salam kita sampaikan kepada Nabi besar Muhammad SAW yang
telah memberikan pedoman hidup yaitu Al-quran sunnah untuk keselamatan umat di dunia.
Makalah ini salah satu tugas dari mata kuliah Keperawatan Jiwa Di program studi S1
keperawatan selanjutnya penulis mengucapkan terima kasih kepada:
1. Bapak Firman Hidayat M.Kep,Ns.,Sp,.Kep.J dan Bapak Nurhakim Yudhi Wibowo S.Kep,.Ns
Sebagai Dosen pembimbing mata kuliah Keperawatan Jiwa
2. Teman-teman yang ikut serta membantu dalam proses pembuatan makalah ini
3. Kepada segenap pihak yang telah memberikan bimbingan serta arahan selama penulisan
makalah ini
Akhirnya penulis menyadari bahwa banyak terdapat kekurangan dalam penuliasan
makalah ini, maka dari itu penulis mengharapkan kritik dan saran secara konstrukif dari para
pembaca demi kesempurnaan makalah ini.

Slawi, 16 Maret 2015


Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Setiap individu memiliki kemampuan menjalin hubungan sosial, mulai dari hubungan
intim biasa sampai hubungan saling ketergantungan . Hubungan sosial tersebut diperlukan
individu dalam rangka menghadapi dan mengatasi berbagai kebutuhan hidup.Maka dari itu
seorang manusia perlu membina hubungan interpersonal yang memuaskan.
Kepuasan hubungan akan tercapai bila individu terlibat aktif dalam melakukan interaksi
peran serta yang tinggi , disertai respon lingkungan yang positif akan meningkatkan rasa
memiliki, kerja sama , hubungan timbal balik yang harmonis (Stuart and Sundeen ,1995)
Pemutusan hubungan akan terjadi apabila terdapat ketidakpuasan individu dalam menjalin
interaksi,juga adanya respon lingkungannya yang negatip.Kondisi ini akan mengakibatkan rasa
tidak percaya diri, tidak percaya dengan orang lain dan keinginan untuk menghindar dari orang
lain .

2. Tujuan penulisan
Tujuan Umum: Mahasiswa mampu mengetahui Asuhan Keperawatan pada pasien dg Isolasi
sosial (Menarik diri).
Tujuan Khusus:
a. Mahasiswa mampu mengetahui Definisi Isolasi Sosial
b. Mahasiswa mampu mengetahui Penyebab Isolasi Sosial
c. Mahasiswa mampu mengetahui Akibat Isolasi Sosial
d. Mahasiswa mampu mengetahui Pathways Isolasi Sosial
e. Mahasiswa mampu mengetahui strategi pelaksanaan Isolasi Sosial
f. Mahasiswa mampu mengetahui Asuhan Keperawatan pada pasien Isolasi Sosial
BAB II
TINJAUAN TEORI

1. MASALAH UTAMA: Isolasi Sosial (Menarik diri)


2. PENGERTIAN
Definisi:
Isolasi sosial adalah suatu keadaan kesepian yang dialami oleh seseorang karena orang
lain menyatakan sikap yang negatif dan mengancam (Twondsend, 1998 dikutip Nita Fitria,
2009).
Menarik diri merupakan percobaan untuk menghindari interaksi dengan orang lain,
menghindari hubungan dengan orang lain (Pawlin, 1993 dikutip Budi Keliat, 2011).
Menurut Depkes RI tahun 2000 kerusakan interaksi sosial merupakan suatu gangguan
hubungan interpersonal yang terjadi akibat adanya kepribadian yang tidak fleksibel yang
menimbulkan perilaku maladaptive dan mengganggu fungsi seseorang dalam hubungan sosial
(Nita Fitria, 2009).
Isolasi sosial keadaan kesepian yang dialami oleh seseorang untuk menghindari interaksi
dengan orang lain karena orang lain menyatakn sikap negatif dan terjadi akibat adanya
kepribadian yang tidak fleksibel.
Tanda dan gejala:
1. Menghindari interaksi dengan orang lain
2. Perilaku maladaptif
3. Menarik diri
4. Gangguan hubungan interpersonal

3. PENYEBAB
a. Faktor Predisposisi
1) Faktor Perkembangan
Pada dasarnya kemampuan seseorang untuk berhubungan sosial berkembang sesuai dengan
proses tumbuh kembang mulai dari usia bayi sampai dewasa lanjut untuk dapat mengembangkan
hubungan social yang positif, diharapkan setiap tahap perkembangan dilalui dengan sukses.
Sistem keluarga yang terganggu dapat menunjang perkembangan respon sosial maladaptif.
2) Faktor Biologis
Faktor genetic dapat berperan dalam respon social maladaptif.
3) Faktor Sosiokultural
Isolasi sosial merupakan factor utama dalam gangguan berhubungan. Hal ini diakibatkan
oleh norma yang tidak mendukung pendekatan terhadap orang lain, tidak mempunyai anggota
masyarakat yang kurang produktif seperti lanjut usia, orang cacat dan penderita penyakit kronis.
Isolasi dapat terjadi karena mengadopsi norma, perilaku dan system nilai yang berbeda dari yang
dimiliki budaya mayoritas.
4) Faktor dalam Keluarga
Pada komunikasi dalam keluarga dapat mengantar seseorang dalam gangguan berhubungan,
bila keluarga hanya menginformasikan hal- hal yang negative dan mendorong anak
mengembangkan harga diri rendah. Adanya dua pesan yang bertentangan disampaikan pada saat
yang bersamaan, mengakibatkan anak menjadi enggan berkomunikasi dengan orang lain.
b. Faktor Presipitasi
1) Stress sosiokultural
Stres dapat ditimbulkan oleh karena menurunnya stabilitas unit keluarga dan berpisah dari
orang yang berarti, misalnya karena dirawat di rumah sakit.
2) Stress psikologi
Ansietas berat yang berekepanjangan terjadi bersamaan dengan keterbatasan kemampuan
untuk mengatasinya. Tuntutan untuk berpisah dengan orang dekat atau kegagalan orang lain
untuk memenuhi kebutuhan ketergantungan dapat menimbulkan ansietas tingkat tinggi.
(Ernawati, dkk, 2009)
Tanda dan Gejala
1) Ansietas tingkat tinggi
2) Enggan berkomunikasi dengan orang lain
3) Harga diri rendah
4) Sedih, efek datar
5) Perhatian dan tindakan yang tidak sesuai dengan perkembangan usianya
4. AKIBAT
a. Penyebab
1) Perasaan malu terhadap diri sendiri akibat penyakit dan tindakan terhadap penyakit
2) Rasa bersalah terhadap diri sendiri
3) Gangguan hubungan sosial
4) Percaya diri kurang
5) Mencederai diri
b. Tanda dan Gejala
1) Rambut botak karena terapi
2) Mengkritik/menyalahkan diri sendiri
3) Menarik diri
4) Sukar mengambil keputusan
5) Akibat dari harga diri yang rendah disertai harapan yang suram, mungkin klien akan mengakiri
kehidupannya.

5. PATHWAYS

Gangguan ISOS
Harga diri Rendah
ISOLASI SOSIAL (Menarik diri)
Resiko Perubahan Sensori
Gangguan Konsep Diri
6. MASALAH KEPERAWATAN dan DATA YANG PERLU DIKAJI
a. Masalah Keperawatan
1) Gangguan konsep diri (Harga Diri rendah)
2) Gangguan Isolasi Sosial (Menarik Diri)
3) Gangguan perubahan sensori (Halusinasi)

b. Data yang perlu dikaji


1) Identitas
Sering ditemukan pada usia dini atau muncul pertama kali pada masa pubertas.
2) Keluhan Utama
Keluhan utama yang menyebabkan pasien dibawa ke rumah sakit biasanya akibat adanya
kumunduran kemauan dan kedangkalan emosi.
3) Faktor Predisposisi
Faktor predisposisi sangat erat terkait dengan faktor etiologi yakni keturunan, endokrin,
metabolisme, susunan syaraf pusat, kelemahan ego.
4) Psikososial
a. Genogram
Orang tua penderita skizofrenia, salah satu kemungkinan anaknya 7-16 % skizofrenia, bila
keduanya menderita 40-68 %, saudara tiri kemungkinan 0,9-1,8 %, saudara kembar 2-15 %,
saudara kandung 7-15 %.
b. Konsep Diri
Kemunduran kemauan dan kedangkalan emosi yang mengenai pasien akan mempengaruhi
konsep diri pasien.
c. Hubungan Sosial
Klien cenderung menarik diri dari lingkungan pergaulan, suka melamun, berdiam diri.
d. Spiritual
Aktifitas spiritual menurun seiring dengan kemunduran kemauan.
5) Status Mental
a. Penampilan Diri
Pasien tampak lesu, tak bergairah, rambut acak-acakan, kancing baju tidak tepat, resliting tak
terkunci, baju tak diganti, baju terbalik sebagai manifestasi kemunduran kemauan pasien.
b. Pembicaraan
Nada suara rendah, lambat, kurang bicara, apatis.
c. Aktifitas Motorik
Kegiatan yang dilakukan tidak bervariatif, kecenderungan mempertahankan pada satu posisi
yang dibuatnya sendiri (katalepsia).
d. Emosi
Emosi dangkal
e. Afek
Dangkal, tak ada ekspresi roman muka.
f. Interaksi Selama Wawancara
Cenderung tidak kooperatif, kontak mata kurang, tidak mau menatap lawan bicara, diam.
g. Proses Berfikir
Gangguan proses berfikir jarang ditemukan.
h. Kesadaran
Kesadaran berubah, kemampuan mengadakan hubungan dengan dan pembatasan dengan dunia
luar dan dirinya sendiri sudah terganggu pada taraf tidak sesuai dengan kenyataan (secara
kualitatif).
i. Memori
Tidak ditemukan gangguan spesifik, orientasi tempat, waktu, orang baik.
j. Kemampuan penilaian
Tidak dapat mengambil keputusan, tidak dapat bertindak dalam suatu keadaan, selalu
memberikan alasan meskipun alasan tidak jelas atau tidak tepat.
6) Kebutuhan Sehari-hari
Pada permulaan penderita kurang memperhatikan diri dan keluarganya, makin mundur dalam
pekerjaan akibat kemunduran kemauan. Minat untuk memenuhi kebutuhannya sendiri sangat
menurun dalam hal makan, BAB/BAK, mandi, berpakaian, intirahat tidur.

7. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1) Gangguan konsep diri (Harga Diri rendah)
Do: Kurangnya rasa percaya kepada orang lain, Panik, Regresi ke tahap perkembangan
sebelumnya, Sukar berinteraksi dengan orang lain pada masa lampau, Perkembangan ego yang
lemah, Represi rasa takut.
Ds: Menyendiri dalam ruangan, Tidak berkomunikasi, menarik diri, tidak melakukan kontak
mata, Sedih, afek datar, Perhatian dan tindakan yang tidak sesuai dengan perkembangan usianya,
Berfikir menurut pikirannya sendiri, tindakan berulang dan tidak bermakna, Mengekspresikan
penolakan atau kesepian pada orang lain.
2) Gangguan Isolasi Sosial (Menarik Diri)
Do: Ketidakmampuan untuk percaya kepada orang lain, Panik, Regresi ke tahap perkembangan
sebelumnya, Menarik diri
Ds: Tidak ada asosiasi antara ide satu dengan lainnya, Menggunakan kata-kata simbolik
(neologisme), Menggunakan kata yang tak berarti, Kontak mata kurang / tidak mau menatap
lawan bicara.
3) Gangguan perubahan sensori (Halusinasi)
Do: pasien mengatakan sering mendengar suara-suara, sering melihat bayangan-bayangan yang
mengajaknya untuk mengikutinya
Ds: pasien terlihat selalu menyendiri, selalu menghindar jika didekati, sering terlihat ketakutan.

8. RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN


1) Diagnosa 1
Tujuan Umum: Pasien siap masuk dalam terapi aktifitas ditemani oleh seorang perawat yang
dipercayainya dalam 1 minggu.
Tujuan Khusus: Pasien dapat secara sukarela meluangkan waktu bersama pasien lain dan
perawat dalam aktifitas kelompok di unit rawat inap.
Kriteria hasil yang diharapkan :
a. Pasien dapat mendemontrasikan keinginan dan hasrat untuk bersosialisasi dengan orang lain.
b. Pasien dapat mengikuti aktifitas kelompok tanpa disuruh.
c. Pasien melakukan pendekatan interaksi satu-satu dengan orang lain dengan cara yang sesuai /
dapat diterima.
Intervensi Keperawatan :
a. Perlihatkan sikap menerima dengan cara melakukan kontak yang sering tapi singkat.
Rasional : Sikap menerima dari orang lain akan meningkatkan harga diri pasien dan
memfasilitasi rasa percaya kepada orang lain.
b. Perlihatkan penguatan positif pada pasien.
Rasional : Pasien merasa menjadi orang yang berguna.
c. Temani pasien untuk memperlihatkan dukungan selama aktifitas kelompok yang mungkin
merupakan hal yang menakutkan atau sukar bagi pasien.
Rasional : Kehadiran seseorang yang dipercaya akan memberikan rasa aman bagi pasien.
d. Jujur dan menepati semua janji.
Rasional : Kejujuran dan rasa saling membutuhkan menimbulkan suatu hubungan saling percaya.
e. Diskusikan dengan pasien tanda-tanda peningkatan anxietas dan teknik untuk memutus respon
(latihan relaksasi, berhenti berfikir).
Rasional : Perilaku menarik diri dan curiga dimanifestasikan selama terjadi peningkatan anxietas.
f. Berikan pengakuan dan penghargaan tanpa disuruh pasien dapat berinteraksi dengan orang lain.
Rasional : Penguatan akan meningkatkan harga diri pasien dan mendorong pengulangan perilaku
tersebut.
2) Diagnosa 2
Tujuan Umum: Pasien dapat menunjukkan kemampuan untuk bertahan pada 1 topik,
menggunakan ketepatan kata, melakukan kontak mata intermiten selama 5 menit dengan perawat
selama 1 minggu.
Tujuan Khusus: Pasien dapat menunjukkan kemampuan dalam melakukan komunikasi verbal
dengan perawat dan sesama pasien dalam suatu lingkungan sosial dengan cara yang sesuai /
dapat diterima.
Kriteria hasil yang diharapkan :
a. Pasien dapat berkomunikasi dengan cara yang dapat dimengerti dan diterima orang lain.
b. Pesan non verbal pasien sesuai dengan verbalnya.
c. Pasien dapat mengakui bahwa disorganisasi pikiran dan kelainan komunikasi verbal terjadi pada
saat adanya peningkatan anxietas.
Intervensi Keperawatan :
a. Gunakan teknik validasi dan klarifikasi untuk mengerti pola komunikasi pasien..
Rasional : Teknik ini menyatakan kepada pasien bagaimana ia dimengerti oleh orang lain,
sedangkan tanggung jawab untuk mengerti ada pada perawat.
b. Pertahankan konsistensi perawat yang bertugas
Rasional : Memudahkan rasa percaya dan kemampuan untuk mengerti tindakan dan komunikasi
pasien.
c. Jelaskan kepada pasien dengan cara yang tidak mengancam bagamana perilaku dan
pembicaraannya diterima dan mungkin juga dihindari oleh orang lain. Jika pasien tidak mampu
atau tidak ingin bicara (autisme), gunakan teknik mengatakan secara tidak langsung.
Rasional : Hal ini menyampaikan rasa empati, mengembangkan rasa percaya dan mendorong
pasien mendiskusikan hal-hal yang menyakitkan dirinya.
d. Antisipasi dan penuhi kebutuhan pasien sampai pola komunikasi yang memuaskan kembali.
Rasional : Kenyamanan dan keamanan pasien merupakan prioritas keperawatan.
3) Diagnosa 3
Tujuan Umum: Klien dapat mengenal halusinasi
Tujuan Khusus: Klien dapat menyebutkan waktu, isi dan frequensi timbulnya halusinasi, Klien
dapat mengungkapkan perasaan terhadap halusinasinya.
Kriteria Hasil: Klien tidak mencederai diri sendiri, orang lain dan lingkungan
Intervensi Keperawatan: Adakan kontak sering dan singkat secara bertahap
1. Observasi tingkah laku klien terkait halusinasinya, berbicara dan tertawa tanpa stimulus
memandang ke kiri dan ke kanan seolah ada teman bicara
2. Bantu klien mengenal halusinasi dengan cara :
a. Jika menemukan klien yang sedang halusinasi tanyakan apakah ada suara yang di dengar
b. Jika klien menjawab ada lanjutkan apa yang dikatakan halusinasinya
c. Katakan bahwa perawat percaya klien mendengar suara itu. Namun perawat sendiri tidak
mendengarnya (dengan nada sahabat tanpa menuduh)
d. Katakan pada klien bahwa ada klien yang seperti dia Katakan bahwa perawat akan membantu
klien.
BAB III
STRATEGI PELAKSANAAN PSIKOTERAPEUTIK PASIEN DENGAN ISOLASI
SOSIAL: Menarik Diri PERTEMUAN KE 1
Masalah Utama : Isolasi Sosial (Menarik Diri)
Hari/Tanggal : Kamis, 9 September 2014
A. PROSES KEPERAWATAN
1. Kondisi klien
Tuan H (35Tahun) selama dirawat diruangan bukit barisan tampak berdiam diri, klien suka
melamun dan duduk dibawah tempat tidur klien menghindar bila ada yang mendekatinya saat
dikaji oleh perawat tn h menyatakan putus asa sama keluarganya.
2. Diagnosa Keperawatan
Gangguan Isolasi sosial: menarik diri
3. Tujuan Khusus
a. Klien dapat mengidentifikasi penyebab isolasi sosial
b. Klien mampu berinteraksi dengan orang lain
c. klien mampu mengidentifikasi kemampuan yang dapat dilakukannya
d. klien dapat mengisi jadwal yang diberikan suster
B. STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN
1. Fase Orientasi
a. Salam Terapeutik
selamat pagi pak, boleh suster duduk disini?
Perkenalkan nama suster Fatimah dari STIKes Bhamada Slawi, nama bapak siapa ya? Enaknya
di panggil apa? Oh bapak halomoan ya...
b. Evaluasi Validasi
Bagaimana keadaan bapak hari ini? Apa yang meyebabkan bapak datang kemari?
c. Kontrak
1) Topik:
Pak, bisakan kita bercakap-cakap sebentar untuk membahas masalah bapak?
2) waktu:
Bapak bisanya berapa lama?
3) Tempat:
Bapak maunya kita bercakap-cakap di mana?
2. Fase Kerja
a. mengidentifikasi penyebab isolasi sosial
Baiklah pak, sekarang ceritankan dengan suster, apa yang menyebabkan bapak sampai kemari?
Ohh begitu ya pak!! Bapak punya gak teman yang paling disukai, kenapa pak!! Lalu apa bapak
juga punya teman yang tidak disukai dan apa alasannya pak??
b. menjelaskan keuntungan dan kerugian berinteraksi dengan orang lain
bapak tau gak, keuntungan bila kita berinteraksi dengan orang lain??
Wahh bagus itu pak!!, selain yang bapak bilang tadi masih banyak lagi pak keuntungannya.
Misalnya bapak bisa tukar pikiran, nambah temen dan yang pasti bapak tidak sendirian laigi
pak!! Kalau kerugian berinteraksi dengan orang lain?? Ya bagus pak!! Kerugiannya Cuma
sedikit pak, misalnya dia tidak ada waktu, bapak suster ajarkan cara berkenalan dengan orang
lain??
c. Melatih berkenalan dengan orang lain Begini pak , kalau bapak mau berkenalan dengan orang
lain, pertama-tama bapak dekati dia, lihat wajahnya, lalu bapak sebutkan nama bapak sambil
menjabat tangannya dan bapak tanya nama dia lagi ini ya pak saya contohkan perkenalkan nama
saya safitri nama kamu siapa??
Bapak mengertikan? Cuma bapak ulangi seperti yang suster praktekkan tadi,, wahh bagus ya
pak!!
d. melatih berhubugan secara bertahap. Tadikan bapak sudah berkenalan dengan temen bapak. Dan
pastinya sudah tau namanya kan??, nah sekarang bapak mesti berkenalan dengan satu atau 2
orang pak. begini ya pak suster ajarkan perkenalkan nama saya safitri nama bapak siapa?? Lalu
bapak tanya lagi teman sebelahnya kemudian bapak langsung berbincang-bincang dengan
mereka pak!! bapak mengertikan??
e. mengidentifikasikan kemampuan klien. Nah sekarang suster mau tanya, bapak biasa hobinya
apa selama di rumah. Ohh, bapak bisa mencuci piring ya pak.
f. melatih klien melakukan aktifis yang berhubungan dengan orang lain
tadikan bapak katakan kalau bapak itu mampu mencuci piring nah bapak dapat melakukan
kegiatan itu pak nantikan jam makan siang, nantikan bapak yang mencuci pirng?? Sambil bapak
mencuci piring, bapak bisa becakap-cakap bersama temen bapak, bapak mengertikan ??
g. menjelaskan kegunaan obat sekarng suster akan menjelaskan kegunaan obat bapak tau apa
giunanya obat. Wah bagus pak . Selain yang bapak bilang tadi masih banyak lagi pak yaitu
penyembuhan, pengobatan, kecantikan dan masih banyak lagi pak, Dalam minum oabat ada 5
prinsip yang harus diperhatikan yaitu: 1 benr klien. bapak harus tau dulu bahwa obat tersebut
untuk bapak dengan melihat tulisan seperti di mangkuk ini, mengertikan pak!! Yang ke dua
benar obat, tadikan udah tertulis nama bapak, dan bapak ambil obat yang sesuai dengan yang
dikatakan suster, misalnya CPZ maka bapak hanya mengambil cpz bukan yang lainnya pak. yang
ke tiga benar cara, bapak harus tau cpz itu di minum bukan di kunyah pak.. yang ke empat benar
dosis, misalnya tertulis 2x1 maka bapak minumnya yaitu 2 tablet dalam 1 hari, kalau diminum
pagi yang pertama kemudian sore nanti yang ke duanya, begitu pak.. kemudian yang ke lima
benar waktu, kalau misalnya bapak minum obatnya jam 08-00 pagi maka bapak nanti 08-00
malam harus mimunnya lagi.. apakah bapak mengerti dengan yang suster jelaskan?? Bagus
kalau begitu masukkan jadwal kegiatan ini pak suster berikan jadwal, diisi ya pak.
3. Fase Terminasi
a. Evaluasi Subyektif
Bagaimana, perasaan bapak setelah kita berbincang-bincang
b. Evaluasi Obyektif
Coba bapak ulangi apa yang sudah kita bicarakan
Wah bagus kalua begitu
c. Rencana Tindak Lanjut
pak apa yang kita bicarakan tadi dikerjakan ya pak!! Dan jadwalnya jangan lupa diisi ya pak!!
d. Kontrak
Baiklah pak, karena waktunya udah habis maka kita sudahi dulu ya pak !! besok suster akan
datang lagi untuk membantu bapak dalam mangatasi harga diri rendah yang bapak alami, apakah
bapak bersedia?? Jam berapa ya pak,, bapak maunya di mana?? Baiklah pak besok disini jam
1000 pagi kita akan berbincang-bincang lagi tentang masalah harga diri rendah bapak.. selamat
pagi pak.
STRATEGI PELAKSANAAN PSIKOTERAPEUTIK PASIEN DENGAN ISOLASI
SOSIAL: Menarik Diri PERTEMUAN KE 2
Masalah Utama : Isolasi Sosial (Menarik Diri)
Hari/Tanggal : Kamis, 9 September 2014
A. PROSES KEPERAWATAN
1. Kondisi Klien
Tuan H (35Tahun) selama dirawat diruangan bukit barisan tampak berdiam diri, klien suka
melamun dan duduk dibawah tempat tidur klien menghindar bila ada yang mendekatinya saat
dikaji oleh perawat tn h menyatakan putus asa sama keluarganya.
2. Diagnosa Keperawatan
Gangguan Isolasi sosial: menarik diri
3. Tujuan Khusus
a. Klien dapat mengidentifikasi penyebab isolasi sosial
b. Klien mampu berinteraksi dengan orang lain
c. klien mampu mengidentifikasi kemampuan yang dapat dilakukannya
d. klien dapat mengisi jadwal yang diberikan suster
C. STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN
1. Fase Orientasi
a. Salam terapeutik
Selamat pagi pak, sesuai dengan janji kita kemaren kitakan mau bincang-bincang lagi untuk
hari ini, bapak masih ingatkan nama suster bagus kalau begitu.
b. Evaluasi Validasi
bagaimana keadaan bapak hari ini?? Bapak sehatkan??
c. Kontrak
1) Topik:
kemaren suster mau berbincang bincang tentang maslah bapak yaitu tentang harga diri rendah,
bapak ingat gak:? Iya bagus,!!
2) Waktu: Bapak sesuai kontrak kita kemarin kita ketemu lagi jam 10.00 yah pak? bapak maunya
berapa lama kita bincang-bincangnya nanti??
3) Tempat: kalau menurut bapak enaknya bincang-bincangnya di mana?? Apa disi saja pk?
2. Fase Kerja
Bapak kita akan bincang-bincang tentang kegemaran bapak..! tapi sebelumnya saya mau tanya
dulu, boleh pak?? Kenapa bapak selalu merenung?? Dan kalau di tanya selalu merunduk dan
menghindar? Bapak kalau bisa coba untuk tetap tersenyum dan tidak merengut terus, pasti bapak
kelihatan tambah gantengnya!! Tuh kan ganteng!! Dan kalau ada yang bertanya bapak harus
menjawabnya, bapak gak usah takut karena tidak ada yang menyalahkan bapak?? Bapak sudah
mengerti?? Bapak mau melakukannya?? Baiklah .. sekarang tegakkan kepala bapak, kemudian
jawab pertanyaan saya Pak kalau boleh saya tau, apa saja yang menjadi kegemaran bapak??
Wah.. banyak sekali ya pak?? Diantara yang bapak sebutkan semua tadi, manalah yang paling
bapak sukai?? Baik pak sekarnga kita akan membuat jadwal kegiatan bapak-bersama-sama, nanti
di sini bapak bisa menulis kegiatan bapak sehari-hari,
Ni kertasnya pak!! Bapak bisa mengisikegiatan bapak sehari-hari
3. Fase Terminasi
a. Evaluasi Subyektif
Bagaimana perasaan bapak setelah kita berbincang-bincang??
b. Evaluasi Obyektif
Bapak bisa ulangi apa yang sudah kita ajarkan?? Wah bagus sekali..
c. Rencana Tindak Lanjut
Nanti bapak bisa mengisi segala kegiatan di buku tadi, biar bapak tidak termenung terus, ya
pak
d. Kontrak
Baiklah pak hari ini kita cukupkan dulu perbincangan kita, besok saya akan ke sini lagi, untuk
berbincang-bincang lagi dengan bapak untuk masalah yang selanjutya yah pk...
BAB IV
ASUHAN KEPERAWATAN JIWA PADA Tn.H DENGAN ISOLASI SOSIAL (Menarik
Diri)
I. TINJAUAN KASUS
A. Pengkajian
1. Identitas
a) Identitas pasien
Nama : Tn.H
Usia : 35 tahun
Jenis kelamin : Laki-laki
Pekerjaan : wiraswasta
Alamat : Desa Rancabango blok D.13
Pendidikan : SMU
b) Identitas Penanggung jawab
Nama : Ny.S
Usia : 30 tahun
Hubungan : Istri
Pekerjaan : Ibu rumah tangga
c) Identitas Rumah Sakit:
Tanggal masuk: 07-09-2014
Ruang : Bukit barisan
Dx Medis : Skizoid
No. RM : 00.01.80
2. Alasan masuk
Klien sering bingung, suka melamun, suka menyendiri, tidak mau mandi, ketawa sendiri,
mondar-mandir di tempat dan klien pernah melakukan pemukulan terhadap diri sendiri.
3. Faktor predisposisi
a. Pernah mengalami gangguan jiwa di masa lalu? ( ) Ya ( ) Tidak
b. Pengobatan sebelumnya. ( ) Berhasil ( ) Kurang berhasil ( ) Tidak berhasil
c. Perilaku Pelaku/usia Korban/usia Saksi/usia
1) Aniaya fisik ( ) Ya ( ) Tidak
2) Aniaya seksual ( ) Ya ( ) Tidak
3) Penolakan ( ) Ya ( ) Tidak
4) Kekerasan dalam keluarga ( ) Ya ( ) Tidak
5) Tindakan Kriminal ( ) Ya ( ) Tidak
d. Adakah anggota keluarga yang mengalami gangguan jiwa?
( ) Ya ( ) Tidak
e. Pengalaman masalalu yang tidak menyenangkan:
Klien menyatakan kecewa terhadap keluarganya, karena tidak peduli dengannya.
Masalah Keperawatan: Harga diri rendah
4. Pemeriksaan Fisik
a. Tanda Vital : TD:120/80 mmhg N80x/i S 36oC P 20x/ menit
b. Ukur: TB195 cm BB 55 kg
c. Keluhan Fisik: ( ) Ya ( ) Tidak
Masalah Keperawatan : Tidak terdapat masalah keperawatan
5. Psikososial
a. Genogram

= Laki-Laki
= Perempuan
= Klien
= Meninggal
Keterangan
b. Konsep Diri
1) Gambaran Diri: Klien merasa senang dengan tubuhnya, terutama bagian wajahnya dan
badannya,
2) Identitas Diri: Klien merasa tidak puas dengan dirinya
3) Peran Diri: Klien menyatakan kecewa dengan dirinya karena tidak dapat melaksanakan peran
sebagai anak.
4) Ideal Diri: Klien menyatakan ingin menjadi orang yang sukses dan ingin cepat sembuh.
5) Harga diri: Klien jarang bersosialisasi dengan tetangganya karena klien merasa terasing karena
mengalami gangguan jiwa.
Masalah Keperawatan : Gangguan konsep diri, harga diri rendah.
c. Hubungan Sosial:
1) Orang yang berarti: Orang tuanya atau ibunya
2) Peran serta dalam kegiatan kelompok/sosial: peran serta dalam kegiatan pokok/sosial: klien
jarang ikut dalam kegiatan kelompok/ masyarakat.
3) Hambatan dalam hubungan dengan orang lain: Kurang percaya diri terhadap diri sendiri, karena
klien lebih suka diam.dan mengatakan malu bergaul dengan orang lain
Masalah Keperawatan : Isolasi sosial menarik diri.
d. Spiritual
1) Nilai dan Keyakinan: pasien beragama islam dan selalu berusaha mengerjakan sholat
2) Kegiatan ibadah: pasien sering kali menyempakan untuk sholat berjamaah di masjid dekat
rumahnya.
6. Status Mental
a. Penampilan
( ) Tidak rapi ( ) Penggunaan pakaian tidak sesuai ( ) Berpakaian tidak seperti biasanya
Jelaskan : Klien tidak rapi, baju klien terlihat terbalik, kusam, kotor, rambut kusut dan kuku
terlihat kotor
Masalah Keperawatan : Defisit perawatan diri.
b. Pembicaraan
( ) Cepat keras ( ) Gugup ( ) Inkoheren
( ) Apatis ( ) Lambat ( ( Membisu
( ) Tidak mampu mulai pembicaraan
Jelaskan : Klien selama berkomunikasi secara kontak mata, klien menjawab dengan lambat.
Masalah keperawatan : Gangguan Komunikasi Verbal.
c. Aktivitas Motorik
( ) Lesu ( ) Tegang ( ) Inkoheren ( ) Agitasi
( ) Tik ( ) Grimasem ( ) Tremor ( ) Kompulsip
Jelaskan : Tangan Klien gemetar saat diajak bersalaman, dan pada saat beraktifisa klien tampak
tremor.
Masalah Keperawatan : Gangguan aktivitas motorik/intoleransi aktivitas.
d. Alam perasaan :
( ) sedih ( ) ketakutan ( ) putus asa ( ) gembira
Jelaskan : Klien merasa keluarga tidak peduli dengannya dan klien terlihat sedih karena berada di
RSJ medan.
Masalah Keperawatan : Harga diri rendah.
e. Afek
( ) datar ( ) tumpul ( ) labil ( ) tidak sesuai
Jelaskan : ekspresi wajah klien datar, klien kadang-kadang termenung.
Masalah Keperawatan : Isolasi sosial menarik diri.
f. Interaksi selama wawancara
( ) bermusuhan ( ) tidak kooperatif ( ) mudah tersinggung
( ) curiga` ( ) defenitif ( ) kontak mata kurang
Jelaskan : Klien tampak tidak kooperatif saat di ajak berbicara kontak mata (-) suka menunduk
Masalah Keperawatan : Isolasi sosial menarik diri.
g. Persepsi halusinasi
( ) pendengaran ( ) penglihatan ( ) perabaan
( ) pengecapan ( ) penciuman
Jelaskan : Klien mengalami halusinasi terbukti dengan klien melihat/mendengar suara-suara
yang aneh.
Masalah keperawatan : Gangguan perubahan sensori (Halusinasi).
h. Proses pikir
( ) sirkumtansia ( ) tangensial ( ) kehilangan asosiasi
( ) flig if ideas ( ) bloking ( ) pengulangan pembicaraan
Jelaskan : Selama wawan cara klien dapat menjawab pertanyaan sesuai dengan topik
pembicaraan.
Masalah keperawatan: Tidak terdapat masalah keperawatan.
i. Isi pikir
( ) obsesi ( ) fobia ( ) hipokondria
( ) derpersonalisasi ( ) ide yang terkait pikiran magis
Waham :
( ) agama ( ) somatik ( ) kebesaran ( ) curiga
( ) nihilistik ( ) sisip pikir ( ) siar pikir ( ) kontrol pikir
Jelaskan :
klien tidak ada masalah dalam dalam gangguan waham
Masalah keperawatan : Tidak terdapat masalah keperawatan.
j. Tingkat kesadaran
( ) bingung ( ) sedasi ( ) stupor disorientasi
( ) waktu ( ) tempat ( ) orang
Jelaskan
Klien tau bahwa ia berada di RSJ Medan
Masalah keperawatan : Tidak terdapat masalah keperawatan.
k. Memori
( ) gangguan daya ingat jangka panjang
( ) gangguan daya ingat saat ini konfabulasi
Jelaskan : Klien masih ingat kejadian yang ia alami masa lalu dan sekarang.
Masalah keperawatan : Tidak terdapat masalah keperawatan.
l. Tingkat konsentrasi dan berhitung
( ) mudah beralih ( ) tidak mampu berkonsentrasi
( ) tidak mampu berhitung sederhan
Jelaskan: Klien mampu berhitung 20-100
Masalah keperawatan : Tidak ada masalah keperawatan yang ditemukan.
m. Kemampuan penilaian
( ) gangguan ringan ( ) gangguan bermakna
Jelaskan : Klien dapata membedakan antara kotor dan bersih..
Masalah keperawatan: Tidak terdapat masalah keperawatan.
n. Daya tilik diri
( ) mengingkari penyakit yang diderita ( ) menylahkan hal diluardirinya
Jelaskan : Klien tidak menunjukkan adanya gangguan daya tilik diri.
Masalah keperawatan : Tidak terdapat masalah keperawatan.
7. Kebutuhan persiapan pulang
a. Makan
( ) bantuan minimal ( ) bantuan total
b. Bak / Bab
( ) bantuan minimal ( ) bantuan total
c. Mandi
( ) bantuan minimal ( ) bantuan total
d. Berpakaian / berhias
( ) bantuan minimal ( ) bantuan total
e. Intirahat tidur
( ) tidur siang lama : 14-00 s/d 15-00 WIB
( ) tidur malam : 20-00 s/d 05-00 WIB
f. Penggunaan obat
( ) bantuan minimal ( ) bantuan total
g. Pemeliharaan Kesehatan
Keperawatan lanjutan Ya () Tidak ( )
Sistem pendukung Ya () Tidak ( )
h. Kegitan didalam rumah
Mempersiapkan makanan Ya ( ) Tidak ( )
Menjaga kerapian rumah Ya ( ) Tidak ( )
Mencuci pakaian Ya ( ) Tidak ( )
Pengaturan uang Ya ( ) Tidak ( )
i. Kegiatan diluar rumah
Belanja Ya ( ) Tidak ( )
Trnfortasi Ya ( ) Tidak ( )
Lain-lain Ya ( ) Tidak ( )
Jelaskan : Klien malas keluar rumah dan bergaul dengan orang lain.
Masalah keperawatan : Isolasi sosial menarik diri
8. Mekanisme Koping
Adaptif Maladaptif
( ) berbicara dengan orang lain ( ) minum alkohol
( ) mampu menyelesaikan masalah ( ) reasksi lambat
( ) tehnik relaksasi ( ) berkerja berlebihan
( ) aktivitas konstruktif ( ) menghindar
( ) olah raga ( ) menciderai diri
( ) lainnya
Masalah keperawatan : Koping Individu inefektik.

9. Masalah Psikososial
a. Masalah dengan dukungan kelompok, spesifik
Klien merasa teman nya menghindar/menjauhi dirinya setelah sakit.
b. Masalah berhubungan dengan lingkungan, spesifik:
Klien tidak terima berada di RSJ Medan
c. Masalah dengan pendidikan, spesifik Klien tamatan SMU
d. Masalah dengan pekerjaan, spesifik
Klien pernah bekerja di suatu pabrik dan sekarang sudah berhenti
e. Masalah dengan perumahan, spesifik
Klien tinggal bersama orang tua, rumah milik peribadi
f. Masalah dengan ekonomi, spesifik
Klien memiliki masalah ekonomi yang cukup dan biaya pengobatan di tanggung oleh orang tua.
g. Masalah dengan pelayanan kesehatan, spesifik
Klien tidak mempunyai masalah dengan pelayanan kesehatan.
h. Masalah lainnya, spesifik
Masalah keperawatan : Gangguan hubungan sosial menarik diri.
10. Pengetahuan Tentang Koping
( ) penyakit jiwa ( ) sistem pendukung
( ) faktor presipitasi ( ) penyakit fisik
( ) Koping ( ) obat-obatan
( ) Lainnya
Masalah keperawatan: Koping individu inefektif .
11. Aspek Medis
Diagnosa medik : Skizoprenia Paranoid episode berulang
Terapi Medik: Cparpromazin 100 mg 3x1
Trihexyphenidry 2 mg 2x1
Halopheridole 5 mg 2x1
a. CPZ (Cparpromazin)
Indikasi: untuk sindrom psikis yaitu berdaya berat dalam kemampuan menilai realitas, kesadaran
diri terganggu, daya nilai norma sosial dan tilik diri terganggu, berdaya berat dalam fungsi
mental, waham halusinasi, gangguan perasaan, perilaku yang aneh dan tidak terkendali, berdaya
berat dalam kehidupan sehari-hari tidak mau bekerja, hubungan sosial dan melakukan kegiatan
rutin.
Komposisi: Tiap tablet mengandung Clorpromazine HCL 25 mg, Clorpromazine 5 mg
b. THP (Trihexyphenidry)
Indikasi: sekala jenis penyakit parkinson, termasuk ensepalitis dan indiopatik, sindrom
prankinson akibat obat misalnya reserpina dan fenitiazine.
Komposisi: tiap tablet mengandung Trihexyphenidril hidroklorida 2 mg
c. HLP (Halopheridole)
Indikasi: berdaya berat dalam menilai kemampuan realita dan fungsi nertal serta dalam fungsi
kehidupan sehari-hari.
Komposisi: Tiap tablet mengandung 0,5 mg Haloperidol.

B. Analisa Data
Hari/tgl/ No. Masalah
Data paraf
Jam Dx Keperawatan
Kamis, 1. Ds: Klien mengatakan tidak suka berada di Gangguan
9/9/14 rumah sakit jiwa, Klien mengatakan takut Isolasi sosial:
10.00 dengan teman-temannya. menarik diri
Do: Klien suka melamun, Klien tampak
sedih, Klien suka menyendiri.
Kamis, 2. Ds: Klien mengatakan malu saat Gangguan
9/9/14 wawancara dengan perawat konsep diri:
10.00 Klien mengatakan malu untuk bergabung Harga diri
dengan teman-temannya rendah
Do: Klien menunduk saat menjawab
pertanyaan perawat
Kontak mata kurang menjawab pertanyaan
perawat
Kamis, 3. Ds: pasien mengatakan sering mendengar Gangguan
9/9/14 suara-suara, sering melihat bayangan- perubahan
10.00 bayangan yang mengajaknya untuk sensori
mengikutinya (Halusinasi)
Do: pasien terlihat selalu menyendiri,
selalu menghindar jika didekati, sering
terlihat ketakutan.

C. Daftar Masalah Keperawatan


1. Isolasi sosial menarik diri
2. Harga diri rendah
3. Gangguan perubahan sensori (Halusinasi)
4. Defisit perawatan diri
5. Intoleransi aktivitas
6. Gangguan komunikasi perbal
D. Pohon Masalah (dalam bentuk bagan)
Gangguan ISOS
ISOLASI SOSIAL (Menarik diri)
Harga diri Rendah
Resiko Perubahan Sensori
Gangguan Konsep Diri

E. Diagnosa Keperawatan
1. Isolasi sosia: menarik diri
2. Gangguan Konsep diri: Harga diri rendah
3. Gangguan perubahan sensori (Halusinasi)
F. Rencana Keperawatan
Rencana Tindakan
Dx.
Kriteria Rasional
Kep Tujuan Tindakan Keperawatan
Hasil
Isos: TUM: Klien Setelah 2x1. Diskusikan
1. Dengan di ketahuinya
Menar dapat pertemuan kemampuan dan aspek kemampuan dan aspek
mengidentifika Pasien yang dimilki yang dimiliki klien akan
ik
si kemampuan dapat 2. Setiap bertemu dengan lebih percaya diri
diri dan aspke menyebutka klien hindarkan
2. Dengan menghindarkan
negatif yang n minimal penilaian penilaian negatif
dimiliki satu 3. Utamakan diharapkan klien merasa
TUK: penyebab pujian/pemberian punya kemampuan yang
e. Klien dapat menarik diri pujian yang ralistis lebih
dari yang
4. Rencanakan bersama 3. Dengan memberikan
mengidentifika
berasal dari klien aktifitas yang pujian klien merasa
si penyebab : dapat dilakukannya benar-benar dihargai dan
isolasi sosial a. diri sendiri setiap hari sesuai klien akan merasa
b. orang lain dengan kemampuannya diperhatikan
f. Klien mampu
5. Tingkatkan kegiatan 4. Dengan menyusun
berinteraksi sesuai dengan kondisi rencana aktifitas sehari-
dengan orang klien hari dihapakan klien
6. Beri contoh cara dapat mengatur waktu
lain
pelaksanaan kegiatan dengan baik
g. klien mampu yang boleh dilakukan 5. Dengan meningkatkan
mengidentifika kegiatan sesuai dengan
si kemampuan kondisi klien diharapkan
klien tidak merasa jenuh
yang dapat 6. Dengan memberikan
dilakukannya contoh klien tidak
h. klien dapat bingung lagi untuk
beraktifitas
mengisi jadwal
yang diberikan
suster
Gang TUM: Klien Dalam 2x 1. Membina hubungan 1. Dengan terbinanya
guan mampu pertemuan saling percaya hubungan saling percaya
membina a. Salam terapeutik
konse pasien mau merupakan langkah
hubungan b. Perkenalkan diri
p diri: dengan orang meneirma dengan sopan utama untuk melakukan
HDR lain kehadiran c. Tanyakan nama terapeutik
TUK: Klien lengkap
perawat
dapat membina d. Tanyakan nama
berjabat panggilan yang
hubungan
tangan/bers disukainya
saling percaya, e. Jelaskan tujuan
alaman,
Klien dapat pertemuan
Klien mau f. Buat kontrak
mengidentifika
g. Dengarkan ungkapan
si kemampuan menyebut klien
dan aspek kan nama,
positif mau
menjawab
salam,
Klien mau
mengutarak
an
perasaannya
walaupun
sedikit
Gang TUM: Klien setelah 2x 3. Adakan kontak sering 1. Kontak dan singkat
guan dapat pertemuan dan singkat secara selain upaya membina
mengenal Klien tidak bertahap hubungan saling percaya
perub
halusinasi mencederai4. Observasi tingkah laku juga dapat memutuskan
ahan TUK: Klien diri sendiri, klien terkait halusinasinya.
sensor dapat orang lain halusinasinya, berbicara
2. Mengenal perilaku pada
dan dan tertawa tanpa saat halusinasi timbul
i menyebutkan
lingkungan stimulus memandang ke memudahkan perawat
(Halu waktu, isi dan kiri dan ke kanan seolah dalam melakukan
sinasi) frequensi ada teman bicara intervensi
5. Bantu klien mengenal 3. Dengan mengetahui
timbulnya
halusinasi dengan cara : waktu, isi, dan frekuensi
halusinasi, e. Jika menemukan klien munculnya halusinasinya
Klien dapat yang sedang halusinasi mempermudah tindakan
tanyakan apakah ada keperawatan yang akan
mengungkapka
suara yang di dengar dilakukan oleh perawat
n perasaan f. Jika klien menjawab
terhadap ada lanjutkan apa
halusinasinya. yang dikatakan
halusinasinya
g. Katakan bahwa
perawat percaya klien
mendengar suara itu.
Namun perawat sendiri
tidak mendengarnya
(dengan nada sahabat
tanpa menuduh)
h. Katakan pada klien
bahwa ada klien yang
seperti dia
i. Katakan bahwa
perawat akan
membantu klien

G. Catatan Perkembangan
Nama : Tn.H No.RM : 00.01.80
Ruang : Bukit barisan Dx.Medis : Skizoid
Implementasi Evaluasi
Data: S: pasien mengatakan mendengar suara-
1. Ds: keluarga pasien mengatakan pasien suara dan melihat bayangan-bayangan saat
selalu murung, enggan bersosialisasi sendirian
dengan orang lain, pasien selalu merasa
tidak percaya diri karena kaka-kakanya
juga berada di RSJ
Do: paien tampak menutup diri, setiap
berbicara tidak fokus dan tatapan mata
menghindari lawan bicara, pasien selalu
menunjukan sikap tidak percaya diri. O: pasien masih terlihat menutup diri,
2. Ds : Klien menyatakan tidak mau bergaul pasien, pasien masih belum fokus jika
dengan teman-teman sekamarnya karena
berbicara, masih sering merasa ketakutan,
ia merasa dirinya sudah sembuh
Do : Klien tampak tampak lebih sering pasien masih sering Berhalusinasi, merasa
menyendiri ditempat tidurnya, Klien lebih dirinya tidak berharga, tidak mudah
banyak tidur siang percaya dengan orang yang baru
3. Ds: pasien mengatakan sering mendengar
suara-suara, sering melihat bayangan- dikenalnya
bayangan yang mengajaknya untuk
mengikutinya
Do: pasien terlihat selalu menyendiri,
A: Masalah-masalah yg masih ada
selalu menghindar jika didekati, sering
terlihat ketakutan. 1. Gangguan konsep diri (+)
Diagnosa: 2. Gangguan Isolasi Sosial (+)
1. Gangguan konsep diri (Harga Diri
rendah) 3. Gangguan perubahan sensori (+)
2. Gangguan Isolasi Sosial (Menarik Diri)
3. Gangguan perubahan sensori (Halusinasi)
Tindakan: P: Lanjutkan intervensi dengan:
1. Membina hubungan saling percaya
1. Melatih pasien untuk melawan
a. Memberi Salam terapeutik
b. Memperkenalkan diri dengan sopan halusinasinya
c. Menanyakan nama lengkap 2. Rencanakan bersama klien aktifitas yang
d. Menanyakan nama panggilan yang
dapat dilakukannya setiap hari sesuai
disukainya
e. Menjelaskan tujuan pertemuan dengan kemampuannya
f. Membuat kontrak 3. Beri contoh cara pelaksanaan kegiatan
g. Mendengarkan ungkapan klien yang boleh dilakukan
2. Diskusikan kemampuan dan aspek yang
dimilki
3. Setiap bertemu dengan klien hindarkan
penilaian
4. Utamakan pujian/pemberian pujian yang
ralistis
5. Tingkatkan kegiatan sesuai dengan
kondisi klien
6. Bantu klien mengenal halusinasi dengan
cara :
a. Jika menemukan klien yang sedang
halusinasi tanyakan apakah ada suara
yang di dengar
b. Jika klien menjawab ada lanjutkan apa
yang dikatakan halusinasinya
c. Katakan bahwa perawat percaya klien
mendengar suara itu. Namun perawat
sendiri tidak mendengarnya (dengan nada
sahabat tanpa menuduh)
d. Katakan pada klien bahwa ada klien yang
seperti dia
e. Katakan bahwa perawat akan membantu
klien
RTL:
1. Adakan kontak sering dan singkat secara
bertahap
2. Observasi tingkah laku klien terkait
halusinasinya, berbicara dan tertawa tanpa
stimulus memandang ke kiri dan ke kanan
seolah ada teman bicara
BAB V
PENUTUP
1. KESIMPULAN
Menarik diri adalah usaha menghindari interaksi dengan orang lain, individu tersebut
merasa bahwa ia kehilangan hubungan akrab dan tindakan mempunyai kesempatan untuk
membagi perasaan pikiran, prestasi atau kegagalan:
Klien dengan menarik diri mempunayai tingkah laku: tidak nafsu makan kurang
bergairah aktifitas menurun, ekspresi wajah kurang berseri. Mekanisme koping yang sering
digunakan pada menarik diri adalah koping yang berkaitan dengan kepribadian anti sosial dan
koping berhubungan dengan gangguan keperibadian.
Setelah diberikan pengobatan klien sudah mampu mengontrol emosi dan rasa menarik
dirinya dengan perlahan-lahan

2. SARAN
Kepada tim kesehatan yang ada di rumah sakit jiwa supaya dapat meningkat kan
kerjasama. Agar prosses keperawatan dapat tercapai seoptimal mungkin dan memberikan
keterampilan kepada kllien untuk mengisi hari2 yang telah di lewati klien di ruangan agar tidak
sering melamun.
Diharapkan kepada keluarga dan perawat yang menerapkan pendekatan diri dalam
mengarahkan klien menujukesembuhan pada klien yang sudah di rehabilitasi untuk selalu
memriksakan secara teratur dan tidak menghentikan keperawatan, nasehat dari dokter. Bagi
keluarga dan perawat diharapkan dapat menghindar klien dari berbagai stiuasi yang dapat
menimbulkan kembali gangguan/gejala dari penyakit.
DAFTAR PUSTAKA
http://apd273.blogspot.com/2014/04/asuhan-keperawatan-jiwa-halusinasi_6.html
file:///E:/ /kep.jiwa/Isolasi/20Sosial/2012Henri%20Setiawan/20Blog/27s.htm
file:///E:/meteri/keperawatanjiwa/kasus/2013/isos.htm

BAB I
PENDAHULUAN

A.Latar Belakang
Sehat menurut WHO adalah keadaan yang sempurna baik fisik, mental maupun
sosial, bukan semata-mata keadaan tanpa penyakit atau kelemahan, tidak hanya terbebas dari
penyakit serta kelemahan (http://hanafebriyanti.blogspot.com).

Gambaran menurut penelitian WHO (2009), prevalensi masalah kesehatan jiwa saat ini
cukup tinggi, sekitar 10% orang dewasa mengalami gangguan jiwa saat ini dan 25% penduduk
dunia diperkirakan akan mengalami gangguan jiwa pada usia tertentu hidupnya. Usia ini
biasanya terjadi pada dewasa muda antara 18-20 tahun 1% diantaranya adalah gangguan jiwa
berat, potensi seseorang mudah terserang gangguan jiwa memang tinggi, setiap saat 450 juta
orang diseluruh dunia terkena dampak permasalahan jiwa, saraf maupun perilaku. Salah satu
bentuk gangguan jiwa yang paling banyak terjadi di seluruh dunia adalah gangguan jiwa
skizofrenia. Prevalensi skizofrenia didunia 0,1 per mil dengan tanpa memandang perbedaan
status sosial atau budaya (http://hanafebriyanti.blogspot.com).

Menurut National Institute of Mental Health gangguan jiwa mencapai 13% dari penyakit
secara keseluruhan dan diperkirakan akan berkembang menjadi 25% di tahun 2030. Kejadian
tersebut akan memberikan andil meningkatnya prevalensi gangguan jiwa dari tahun ke tahun di
berbagai Negara. Berdasarkan hasil sensus penduduk Amerika Serikat tahun 2004, diperkirakan
26,2% penduduk yang berusia 18-30 tahun atau lebih mengalami gangguan jiwa, jika prevalensi
gangguan jiwa diatas 100 jiwa per 1000 penduduk dunia, maka berarti di Indonesia mencapai
264 per 1000 penduduk (http://hanafebriyanti.blogspot.com).

Hasil Riset Dasar Kesehatan Nasional Tahun 2007, menyebutkan bahwa sebanyak 0,46
per mil masyarakat Indonesia mengalami gangguan jiwa berat. Mereka adalah yang diketahui
mengidap skizofrenia dan mengalami gangguan psikotik berat (Depkes RI, 2007).
Prevalensi gangguan jiwa tertinggi di Indonesia terdapat di Provisi Daerah Khusus Ibu
Kota Jakarta (24,3%), di ikuti Nangroe Aceh Darussalam (18,5%), Sumatra Barat (17,7%), NTB
(10,9%), Sumatera Selatan (9,2%), dan Jawa Tengah (6,8%) (Depkes RI, 2008).
Kebijakan Pemerintah dalam menangani pasien gangguan jiwa tercantum dalam Undang-
Undang No. 36 Tahun 2009 tentang kesehatan jiwa, disebutkan dalam pasal 149 ayat (2)
mengatakan bahwa Pemerintah dan masyarakat wajib melakukan pengobatan dan perawatan di
fasilitas pelayanan kesehatan bagi penderita gangguan jiwa yang terlantar, menggelandang,
mengancam keselamatan dirinya dan mengganggu ketertiban atau keamanan umum, termasuk
pembiayaan pengobatan dan perawatan penderita gangguan jiwa untuk masyarakat miskin
(http://hanafebriyanti.blogspot.com).

Peningkatan jumlah penderita gangguan jiwa juga terjadi di Sumatera Utara, jumlah
pasien meningkat 100 persen dibanding dengan tahun-tahun sebelumnya. Pada awal 2008, RSJ
Sumut menerima sekitar 50 penderita per hari untuk menjalani rawat inap dan sekitar 70-80
penderita untuk rawat jalan. Sementara pada 2006-2007, RSJ hanya menerima 25-30 penderita
per hari ( http//www.pikiran rakyat.com ).

Peran perawat dalam penanggulangan klien dengan gangguan konsep diri : Isolasi Sosial
Menarik Diri meliputi peran promotif, preventif, kuratif dan rehabilitative. Pada peran promotif,
perawat meningkatkan dan memelihara kesehatan mental melalui penyuluhan dan pendidikan
untuk klien dan keluarga. Dari aspek preventif yaitu untuk meningkatkan kesehatan mental dan
pencegahan gangguan konsep diri : Isolasi Sosial Menarik Diri. Sedangkan pada peran kuratif
perawat merencanakan dan melaksanakan rencana tindakan keperawatan untuk klien dan
keluarga. Kemudian peran rehabilitative berperan pada follow up perawat klien dengan
gangguan konsep diri : Isolasi Sosial Menarik Diri melalui pelayanan di rumah atau home visite.
Berdasarkan gambaran masalah di atas maka penulis tertarik untuk mengangkat judul
Asuhan keperawatan jiwa dengan gangguan dengan Gangguan Isolasi Sosial Menarik Diri di
Ruang Pusuk Buhit Rumah Sakit Jiwa Daerah Provinsi Sumatera Utara, sebagai judul Karya
Tulis Ilmiah.

B. Ruang Lingkup
Asuhan keperawatan ini dilakukan terhadap Tn.A dengan masalah utama Gangguan
konsep diri Isolasi Sosial Menarik Diri di ruang Pusuk Buhit Rumah Sakit Jiwa Daerah
Provinsi Sumatera Utara, dikaji mulai tanggal 23 September 2013 sampai dengan tanggal 25
september 2013.

C. Tujuan penulisan
a. Tujuan umum
Tujuan penulisan makalah ini adalah agar mahasiswa mampu melakukan asuhan keperawatan
pada klien dengan Gangguan Isolasi Sosial Menarik Diri pada Tn.A di Rumah Sakit Jiwa Daerah
Provinsi Sumatera Utara.
b. Tujuan khusus
Tujuan khusus dan perumusan yang hendak dicapai adalah kemampuan untuk:
1. Mampu melakukan pengkajian pada Tn.A dengan gangguan konsep diri Isolasi Sosial Menarik
Diri.
2. Mampu merumuskan diagnosa keperawatan pada Tn.A dengan
gangguan konsep diri Isolasi Sosial Menarik Diri.
3. Mampu menyususn keperawatan pada Tn.A dengan gangguan konsep diri Isolasi Sosial Menarik
Diri.
4. Mampu melaksanakan tindakan keperawatan pada Tn.A dengan gangguan konsep diri Isolasi
Sosial Menarik Diri sesuai dengan keperawatan yang telah disusun.
5. Mampu melakukan evaluasi sesuai implementasi yang dilakukan pada Tn. A dengan gangguan
konsep diri Isolasi Sosial Menarik Diri.
D. Metode penulisan
Dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini, penulis menggunakan metode deskriptif, yaitu
metode ilmiah dengan pendekatan studi kasus dan teknik pengumpulan data melalui wawancara
terhadap pasien dan keluarga. Observasi pasien secara langsung, dokumentasi, dan studi
kepustakaan.
1. Wawancara
Yaitu pengumpulan data dengan cara tanya jawab langsung, baik kepada pasien maupun
keluarga pasien untuk mendapatkan data yang subjektif maupun objektif dengan menggunakan
format pengkajian.
2. Observasi
Yaitu teknik pengumpulan data dengan cara pengamatan langsung kepada pasien untuk
mendapatkan data yang objektif dengan menggunakan format pengkajian.

3. Dokumentasi
Catatan terhadap pasien serta hasil pemeriksaan yang dilakukan oleh dokter, perawat, analis,
maupun tim medis lain.
4. Studi kepustakaan
Yaitu dengan mempelajari buku yang berhubungan dengan Karya Tulis Ilmiah ini.

E. Sistematika Penulisan

Karya Tulis Ilmiah ini ditulis secara sistematika yang terdiri :


1. BAB I PENDAHULUAN
Pendahuluan terdiri dari latar belakang, Ruang Lingkup, Tujuan Penulisan, Metode Penulisan,
dan Sistematika Penulisan.
2. BAB II LANDASAN TEORITIS
Landasan Teoritis yang terdiri dari Landasan Teoritis Medis meliputi Defenisi, Etiologi,
Patofisiologi, Manifestasi Klinis, Komplikasi, Pemeriksaan Diagnostik, dan Penatalaksanaan
Medis.
Landasan Teoritis Keperawatan terdiri dari : Pengkajian, Diagnosa Keperawatan, Perencanaan,
Implementasi, dan Evaluasi Keperawatan.
3. BAB III TINJAUAN KASUS
Tinjauan Kasus yang terdiri dari Pengkajian, Diagnosa Keperawatan, perencanaan,
Implementasi, dan Evaluasi.
4. BAB IV PEMBAHASAN
5. BAB V PENUTUP
Penutup yang terdiri dari Kesimpulan dan Saran.
BAB II
LANDASAN TEORITIS

A. KONSEP DASAR
1. DEFENISI
Isolasi sosial adalah keadaan dimana individu mengalami penurunan atau bahkan sama
sekali tidak mampu berinteraksi dengan orang lain disekitarnya. Klien mungkin merasa ditolak,
tidak terima, kesepian, dan tidak mampu membina hubungan yang berarti dengan orang lain
(Deden dan Rusdi,2013,Hal.34 ).
Isolasi sosial juga merupakan kesepian yang dialami oleh individu dan dirasakan saat
didorong oleh keberadaan orang lain dan sebagai pernyataan negative atau mengancam (Nanda-
1,2012).
Isolasi sosial adalah suatu gangguan hubungan interpersonal yang terjadi akibat adanya
kepribadian yang tidak fleksibel yang menimbulkan prilaku maladaktif dan mengganggu fungsi
seseorang dalam hubungan sosial ( Depkes RI, 2000 ).
Menarik diri adalah suatu keadaan pasien yang mengalami ketidakmampuan untuk
mengadakan hubungan dengan orang lain atau dengan lingkungan di sekitarnya secara wajar dan
hidup dalam khayalan sendiri yang tidak realistis (Erlinafsiah,2010,Hal.101).
2. ETIOLOGI

1) Faktor Predisposisi
a) Faktor Tumbuh Kembang
Pada setiap tahapan tumbuh kembang individu ada tugas perkembangan yang harus dipenuhi
agar tidak terjadi gangguan dalam hubungan sosial. Bila tugas-tugas dalam perkembangan ini
tidak terpenuhi maka akan menghambat fase perkembangan sosial yang nantinya akan dapat
menimbulkan masalah.

b) Faktor Komunikasi Dalam Keluarga


Gangguan komunikasi dalam keluarga merupakan faktor pendukung terjadinya gangguan
dalam hubungan sosial. Dalam teori ini yang termasuk masalah dalam berkomunikasi
sehingga menimbulkan ketidakjelasan yaitu suatu keadaan dimana seorang anggota keluarga
menerima pesan yang saling bertentangan dalam waktu bersamaan atau ekspresi emosi yang
tinggi dalam keluarga yang menghambat untuk berhubungan dengan lingkungan di luar
keluarga.

c) Faktor Sosial Budaya


Isolasi social atau mengasingkan diri dari dari lingkungan social merupakan suatu faktor
pendukung terjadinya gangguan dalam hubungan sosial. Hal ini di sebabkan oleh norma-
norma yang salah dianut oleh keluarga, dimana setiap anggota yang tidak produktif seperti
usia lanjut, penyakit kronis, dan penyandang cacat diasingkan dari lingkungan sosialnya.

d) Faktor Biologis
Organ tubuh yang dapat mempengaruhi terjadinya gangguan hubungan social adalah otak,
misalnya pada klien skizofrenia yang mengalami masalah dalam hubungan social memiliki
struktur yang abnormal pada otak seperti atropi otak, serta perubahan ukuran dan bentuk sel-
sel.

2) Faktor Presipitasi
a) Faktor Eksternal
Contohnya adalah stressor sosial budaya, yaitu stress yang ditimbulkan oleh faktor sosial
budaya seperti keluarga.

b) Faktor Internal
Contohnya adalah stressor psikologis, yaitu stress terjadi akibat ansietas atau kecemasan yang
berkepanjangan dan terjadi bersamaan dengan keterbatasan kemampuan individu untuk
mengatasinya (Ade Herman Surya Direja,2011,Hal.123).

3) Perilaku
Perilaku pada klien gangguan social menarik diri yaitu: kurang sopan, apatis, sedih, afek
tumpul, kurang perawatan diri, komunikasi verbal turun, menyendiri, kurang peka terhadap
lingkungan, kurang energy, harga diri rendah dan sikap tidur seperti janin saat tidur.
Sedangkan perilaku pada gangguan sosial curiga meliputi tidak mempercayai orang lain,
sikap bermusuhan, mengisolasi diri dan paranoia. Kemudian perilaku pada klien dengan
gangguan social manipulasi adalah kurang asertif, mengisolasi diri dari lingkungan, harga diri
rendah, dan sangat tergantung pada orang lain (Sujono Riyadi dan Teguh
Purwanto,2009,Hal.157).
4) Rentang Respon
Rentang respon berhubungan dapat berfluktuasi dari respons berhubungan adaktif samapai
maladaktif

ktif Respon Maladaktif


Menyendiri/solitude Merasa sendiri Manipulasi
Otonomi Menarik diri Impulsif
Bekerja sama Tergantung Narcissm
Saling tergantung
(interdependen)

1. Respon Adaktif
Respon individu dalam menyelesaikan masalah yang masih dapat di terima oleh norma-
norma sosial dan budaya yang umum berlaku ( masih dalam batas normal ), meliputi:
a) Menyendiri/solitude
Respon seseorang untuk merenungkan apa yang telah dilakukan dilingkungan sosial dan juga
suatu cara mengevaluasi diri untuk menentukan langkah berikutnya.

b) Otonomi
Kemampuang individu menentukan dan menyampaikan ide, pikiran, dan perasaan dalam
hubungan sosial.

c) Bekerja Sama
Kondisi hubungan interpersonal dimana individu mampu untuk saling member dan
menerima.

d) Saling Tergantung (interdependen)


Suatu hubungan saling tergantung antar individu dengan orang lain dalam membina
hubungan interpersonal.

2. Respon Maladaktif
Respon individu dalam penyelesaianmasalah menyimpang dari norma-norma sosial dan
budaya lingkungannya, meliputi:
a) Manipulasi
Orang lain diperlakukan sebagai objek, hubungan terpusat pada masalah pengendalian orang
lain dan individu cenderung berorientasi pada diri sendiri atau tujuan, bukan pada orang lain.

b) Implusif
Tidak mampu merencanakan sesuatu, tidak mampu belajar dari pengalaman, dan tidak dapaat
diandalkan.

c) Narkisme
Harga diri yang rapuh, secara terus-menerus berusaha mendapatkan penghargaan dan pujian,
sikap egosentris, pencemburu, marah jika orang lain tidak mendukung (Deden Dermawan
Rusdi,2013,Hal.35).

3. PATOFISIOLOGI

Menurut Stuart and Sundeen (1998). Salah satu gangguan berhubungan sosial
diantaranya perilaku menarik diri atau isolasi social yang disebabkan oleh perasaan tidak
berharga, yang bias dialami klien dengan latar belakang yang penuh dengan permasalahan,
ketegangan, kekecewaan dan kecemasan.

Perasaan tidak berharga menyebabkan klien makin sulit dalam mengembangan


hubungan dengan orang lain. Akibatnya klien menjadi regresi atau mundur, mengalami
penurunan dalam aktifitas dan kurangnya perhatian terhadap penampilan dan kebersihan diri.

Klien semakin tenggelam dalam perjalanan dan tingkah laku masa lalu serta tingkah
laku primitive antara lain pembicaraan yang autistic dan tingkah laku yang tidak sesuai
dengan kenyataan, sehingga berakibat lanjut menjadi halusinasi (Ernawati Dalami
dkk,,2009,Hal.10).

Pattern of Parenting Inefectieve Lack of Develop Stressor internal


(Pola Asuh Keluarga) coping ment Task and external (stress
(Koping (Gangguan internal dan
individu tidak Tugas eksternal)
efektif) Perkembangan)
Misal : Misal : Misal : Misal :
Pada anak yang Saat individu Kegagalan Stress terjadi akibat
kelahirannya tidak menghadapi menjalin ansietas yang
dikehendaki (unwanted kegagalan hubungan intim berkepanjangan dan
child) akibat kegagalan mengalahkan dengan sesame terjadi bersamaan
KB, hamil diluar nikah, orang lain, jenis atau lawan dengan
jenis kelamin yang tidak ketidakberday jenis, tidak keterbatasan
diinginkan, bentuk fisik aan mampu mandiri kemampuan
kurang menawan mengangkat individu untuk
menyebabkan keluarga tidak mampu mengatasi. Ansietas
mengeluarkan komentar- menghadapi terjadi akibat
komentar negative, kenyataan dan berpisah dengan
merendahkan, menarik diri orang terdekat,
menyalahkan anak dari hilang pekerjaan
lingkungan. atau orang yang
dicintai.
Harga Diri Rendah Kronis
Isolasi Sosial

(Iyus Yosep,2007,Hal.230).

4. MANIFESTASI KLINIS

a) Tanda dan Gejala


Observasi yang dilakukan pada klien dengan isolasi social akan ditemukan data objektif
meliputi apatis, ekspresi wajah sedih, afek tumpul, menghindar dari orang lain, klien tampak
memisahkan diri dari orang lain, komunikasi kurang, klien tampak tidak bercakap-cakap
dengan klien lain atau perawat, tidak ada kontak mata atau kontak mata kurang, klien lebih
sering menunduk, berdiam diri dikamar. Menolak berhubungan dengan orang lain, tidak
melakukan kegiatan sehari-hari, meniru posisi janin pada saat lahir, sedangkan untuk data
Subjektif sukar didapat, jika klien menolak komunikasi, beberapa data subjektif adalah
menjawab dengan singkat dengan kata-kata tidak, ya dan tidak tahu.

b) Mekanisme Koping
Individu yang mengalami respon social maladaktif menggunakan berbagai mekanisme
dalam upaya untuk mengatasi ansietas. Mekanisme tersebut berkaitan dengan dua jenis
masalah hubungan yang spesifik (Gail,W Stuart 2006).
Koping yang berhubungan dengan gangguan kepribadian antisocial antara lain proyeksi,
splitting dan merendahkan orang lain, koping yang berhubungan dengan gangguan
kepribadian ambang splitting, formasi reaksi, proyeksi, isolasi, idealisasi orang lain,
merendahkan orang lain dan identifikasi proyeksi.

c) Sumber koping
Menurut Gail W. Stuart 2006, sumber koping berhubungan dengan respon social mal-adaptif
meliputi keterlibatan dalam hubungan keluarga yang luasan teman, hubungan dengan hewan
peliharaan dan penggunaan kreatifitas untuk mengekspresikan stress interpersonal misalnya
kesenian, music atau tulisan (Ernawati Dalami dkk,2009,Hal.10).

5. KOMPLIKASI
Klien dengan isolasi sosial semakin tenggelam dalam perjalanan dan tingkah laku
masa lalu primitive antara lain pembicaraan yang autistic dan tingkah laku yang tidak sesuai
dengan kenyataan, sehingga berakibat lanjut menjadi resiko gangguan sensori persepsi:
halusinasi, mencederai diri sendiri, orang lain serta lingkungan dan penurunan aktivitas
sehingga dapat menyebabkan defisit perawatan diri (Deden Dermawan dan
Rusdi,2013,Hal.40).

6. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
1. Minnesolla Multiphasic Personality Inventory (MMPI)
Adalah suatu bentuk pengujian yang dilakukan oleh psikiater dan psikolog dalam
menentukan kepribadian seseorang yang terdiri dari 556 pernyataan benar atau salah.
2. Elektroensefalografik (EEG)
Suatu pemeriksaan dalam psikiatri untuk membantu membedakan antara etiologi
fungsional dan organik dalam kelainan mental.
3. Test laboratorium kromosom darah untuk mengetahui apakah gangguan jiwa disebabkan
oleh genetik.
4. Rontgen kepala untuk mengetahui apakah gangguan jiwa disebabkan kelainan struktur
anatomi tubuh.

7. PENATALAKSANAAN
1. Obat anti psikotik
a. Clorpromazine (CPZ)
Indikasi: Untuk syndrome psikosis yaitu berdaya berat dalam kemampuan menilai
realitas, kesadaran diri terganggu, daya nilai norma sosial dan tilik diri terganggu, berdaya
berat dalam fungsi -fungsi mental: waham, halusinasi, gangguan perasaan dan perilaku yang
aneh atau, tidak terkendali, berdaya berat dalam fungsi kehidupan sehari -hari, tidak mampu
bekerja, hubungan sosial dan melakukan kegiatan rutin.

Efek samping: Sedasi, gangguan otonomik (hipotensi, antikolinergik/ parasimpatik,mulut


kering, kesulitan dalam miksi, dan defikasi, hidung tersumbat,mata kabur, tekanan intra
okuler meninggi, gangguan irama ja ntung),gangguan ekstra piramidal (distonia akut,
akatshia, sindromaparkinson/tremor, bradikinesia rigiditas), gangguan endokrin, metabolik,
hematologik, agranulosis, biasanya untuk pemakaian jangka panjang.

b. Haloperidol (HLD)
Indikasi: Berdaya berat dalam kemampuan menilai realita dalam fungsi netral serta dalam
fungsi kehidupan sehari hari.

Efek samping: Sedasi dan inhibisi psikomotor, gangguan otonomik


(hipotensi, antikolinergik/parasimpatik, mulut kering, kesulitan miksi dan defikasi, hidung
tersumbat, mata kabur, tekanan intraokuler meninggi, gangguan irama jantung).

c. Trihexy phenidyl (THP)


Indikasi:Segala jenis penyakit parkinson,termasuk paska ensepalitis dan idiopatik,sindrom
parkinson akibat obat misalnya reserpin dan fenotiazine.

Efek samping: Sedasi dan inhibisi psikomotor Gangguan otonomik (hypertensi, anti
kolinergik/ parasimpatik, mulut kering, kesulitanmiksi dan defikasi, hidung tersumbat, mata
kabur, tekanan intra oluker meninggi, gangguan irama jantung)
(http://nophienov.wordpress.com).

2. Therapy Farmakologi
3. Electro Convulsive Therapi
Electro Convulsive Therapi (ECT) atau yang lebih dikenal dengan Elektroshock adalah
suatu terapi psikiatri yang menggunakan energy shock listrik dalam usaha pengobatannya.
Biasanya ECT ditujukan untuk terapi pasien gangguan jiwa yang tidak berespon kepada obat
psikiatri pada dosis terapinya. ECT pertama kali diperkenalkan oleh 2 orang neurologist italia
Ugo Cerletti dan Lucio Bini pada tahun 1930. Diperkirakan hampir 1 juta orang didunia
mendapat terapi ECT setiap tahunnya dengan intensitas antara 2-3 kali seminggu.
ECT bertujuan untuk menginduksi suatu kejang klonik yang dapat memberi efek terapi
(Therapeutic Clonic Seizure) setidaknya 15 detik. Kejang yang dimaksud adalah suatu kejang
dimana seseorang kehilangan kesadarannya dan mengalami rejatan. Tentang mekanisme pasti
dari kerja ECT sampai saat ini masih belum dapat dijelaskan dengan memuaskan. Namun
beberapa penelitian menunjukkan kalau ECT dapat meningkatkan kadar serum Brain-Derived
Neurotrophic Factor (BDNF) pada pasien depresi yang tidak responsive terhadap terapi
farmakologis.
4. Therapy Kelompok
Therapy kelompok merupakan suatu psikotherapy yang dilakukan sekelompok pasien
bersama-sama dengan jalan berdiskusi satu sama lain yang dipimpin atau diarahkan oleh
seorang therapist atau petugas kesehatan jiwa. Therapy ini bertujuan memberi stimulus bagi
klien dengan ganggua interpersonal.

5. Therapy Lingkungan
Manusia tidak dapat dipisahkan dari lingkungan sehingga aspek lingkungan harus mendapat
perhatian khusus dalam kaitannya untuk menjaga dan memelihara kesehatan manusia.
Lingkungan berkaitan erat dengan stimulus psikologi seseorang yang akan berdampak pada
kesembuhan, karena lingkungan tersebut akan memberikan dampak baik pada kondisi fisik
maupun kondisi psikologis seseorang (Deden Dermawan dan Rusdi,2013,Hal..40).

B. LANDASAN TEORITIS KEPERAWATAN

1. PENGKAJIAN

a. Faktor Predisposisi
Faktor-faktor predisposisi terjadinya gangguan hubungan sosial, adalah :
1. Faktor Perkembangan
Pada setiap tahapan tumbuh kembang individu ada tugas perkembangan yang harus dilalui
individu dengan sukses agar tidak terjadi gangguan dalam hubungan sosial. Tugas
perkembangan pada masing-masing tahap tumbuh kembang ini memiliki karakteristik
sendiri. Apabila tugas ini tidak terpenuhi, akan mencetuskan seseorang sehingga mempunyai
masalah respon sosial maladaktif.
System keluarga yang terganggu dapat menunjang perkembangan respon social maladaktif.
Beberapa orang percaya bahwa individu yang mempunyai masalah ini adalah orang yang
tidak berhasil memisahkan dirinya dan orang tua. Norma keluarga yang tidak mendukung
hubungan keluarga dengan pihak lain diluar keluarga.

2. Faktor Biologis
Genetic merupakan salah satu factor pendukung gangguan jiwa. Berdasarkan hasil penelitian,
pada penderita skizofrenia 8% kelainan pada struktur otak, seperti atrofi, pembesaran
ventrikel, penurunan berat dan volume otak serta perubahan struktur lmbik diduga dapat
menyebabkan skizofrenia.

3. Faktor Sosial Budaya


Isolasi sosial merupakan faktor dalam gangguan berhubungan. Ini akibat dan norma yang
tidak mendukung pendekatan terhadap orang lain, atau tidak menghargai anggota masyarakat
yang tidak produktif, seperti lansia, orang cacat, dan penyakit kronik. Isolasi dapat terjadi
karena mengadopsi norma, perilaku, dan system nilai yang berbeda dan kelompok budaya
mayoritas. Harapan yang tidak realistis terhadap hubungan merupakan factor lain yang
berkaitan dengan gangguan ini.

4. Faktor Komunikasi Dalam Keluarga


Gangguan komunikasi dalam keluarga merupakan factor pendukung untuk terjadinya
gangguan dalam berhubungan sosial.
Dalam teori ini termasuk masalah komunikasi yang tidak jelas yaitu suatu keadaan dimana
seseorang anggota keluarga menerima pesan yang saling bertentangan dalam waktu
bersamaan, ekspresi emosi yang tinggi dalam keluarga yang menghambat untuk berhubungan
dengan lingkungan di luar keluarga.

b. Stressor Presipitasi
Stressor presipitasi umumnya mencakup kejadian kehidupan yang penuh stress sperti
kehilangan, yang mempengaruhi kemampuan individu untuk berhubungan dengan orang lain
dan menyebabkan ansietas. Stressor presipitasi dapat dikelompokkan dalam kategori :
1. Stressor Sosial Budaya
Stress dapat ditimbulkan oleh beberapa factor antara factor lain dan factor keluarga seperti
menurunnya stabilitas unit keluarga dan berpisah dari orang yang berarti dalam
kehidupannya, misalnya dirawat di rumah sakit.

2. Stressor Psikologis
Tingkat kecemasan yang berat akan menyebabkan menurunnya kemampuan individu untuk
berhubungan dengan orang lain. Intensitas kecemasan yang ekstrim dan memanjang disertai
terbatasnya kemampuan individu mengatasi masalah diyakini akan menimbulkan berbagai
masalah gangguan berhubungan (isolasi sosial).

c. Perilaku
Adapun perilaku yang bisa mucul pada isolasi sosial berupa : kurang spontan, apatis (kurang
acuh terhadap lingkungan), ekspresi wajah kurang berseri (ekspresi sedih), afek tumpul.
Tidak merawat dan memperhatikan kebersihan diri, komunikasi verbal menurun atau tidak
ada. Klien tidak bercakap-cakap dengan klien lain atau perawat, mengisolasi diri
(menyendiri). Klien tampak memisahkan diri dan orang lain, tidak atau kurang sadar terhadap
lingkungan sekitar. Pemasukan makanan dan minuman terganggu, retensi urine dan feses,
aktivitas menurun, kurang energi (tenaga), harga diri rendah, posisi janin saat tidur, menolak
hubungan dengan orang lain. Klien memutuskan percakapan atau pergi jika diajak bercakap-
cakap.

d. Sumber Koping
Sumber koping yang berhubungan dengan respon sosial maladaktif termasuk : keterlibatan
dalam berhubungan yang luas di dalam keluarga maupun teman, menggunakan kreativitas
untuk mengekspresikan stress interpersonal seperti kesenian, music, atau tulisan.

e. Mekanisme Defensif
Mekanisme yang digunakan klien sebagai usaha mengatasi kecemasan yang merupakan suatu
kesepian nyata yang mengancam dirinya. Mekanisme yang sering digunakan pada isolasi
sosial adalah regresi, represi, dan isolasi.
1. Regresi adalah mundur kemasa perkembangan yang telah lain
2. Represi adalah perasaan-perasaan dan pikiran-pikiran yang tidak dapat diterima, secara sadar
dibendung supaya jangan tiba di kesadaran.
3. Isolasi adalah mekanisme mental tidak sadar yang mengakibatkan timbulnya kegagalan
defensif dalam menghubungkan perilaku dengan motivasi atau pertentangan antara sikap dan
perilaku (Mukhripah Damaiyanti dan Iskandar,2012,Hal.82).

Untuk mengkaji pasien isolasi sosial, kita dapat menggunakan wawancara dan observasi
kepada pasien dan keluarga.

f. Tanda dan Gejala


a. Gejala Subjektif :
1) Klien menceritakan perasaan kesepian atau ditolak oleh orang lain.
2) Klien merasa tidak aman berada dengan orang lain.
3) Respons verbal kurang dan sangat singkat.
4) Klien mengatakan hubungan yang tidak berarti dengan orang lain.
5) Klien merasa bosan dan lambat menghabiskan waktu.
6) Klien tidak mampu berkonsentrasi dan membuat keputusan.
7) Klien merasa tidak berguna
8) Klien tidak yakin dapat melangsungkan hidup.
9) Klien merasa ditolak.

b. Gejala Objektif :
1) Klien banyak diam dan tidak mau bicara.
2) Tidak mengikuti kegiatan.
3) Banyak berdiam diri dikamar.
4) Klien menyendiri dan tidak mau berinteraksi dengan orang yang terdekat.
5) Klien tampak sedih, ekspresi datar dan dangkal.
6) Kontak mata kurang.
7) Kurang spontan.
8) Apatis (acuh terhadap lingkungan).
9) Ekspresi wajah kurang berseri.
10) Tidak merawat diri dan tidak memperhatikan kebersihan diri.
11) Mengisolasi diri.
12) Tidak atau kurang sadar terhadap lingkungan sekitarnya.
13) Masukan makan dan minuman terganggu.
14) Aktivitas menurun.
15) Kurang energy (tenaga).
16) Rendah diri.
17) Postur tubuh berubah, misalnya sikap fectus/janin (khususnya pada posisi tidur) (Iyus
Yosep,2011,Hal.231).

2. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Diagnosa keperawatan yang diangakat adalah :
1. Isolasi Sosial
2. Harga Diri Rendah Kronik
3. Resiko Gangguan Persepsi Sensori: Halusinasi

3. RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN


Diagnosa I
Isolasi Sosial
Tujuan : Klien dapat membina hubungan saling percaya
Intervensi :
1. Bina hubungan saling percaya dengan mengungkapkan prinsip komunikasi Terapeutik
2. Sapa klien dengan ramah baik verbal maupun non verbal
3. Perkenalkan diri dengan sopan
4. Tanyakan nama lengkap klien dan nama panggilan yang disukai klien
5. Jelaskan tujuan pertemuan
6. Jujur dan menepati janji
7. Tunjukkan sifat empati dari menerima klien apa adanya
8. Beri perhatian kepada klien dan perhatikan kebutuhan dasar klien
Rasional : Hubungan saling percaya merupakan dasar untuk kelancaran
hubungan interaksi selanjutnya (Mukhripah Damaiyanti dan Iskandar,2012,Hal.86).

Diagnosa II
Harga Diri Rendah Kronis
Tujuan : Klien dapat mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang
dimilikinya

Intervensi :
1. Diskusikan kemampuan dan aspek positif yang dimiliki klien
2. Setiap bertemu klien hindarkan dari memberi nilai negatif
3. Utamakan memberi pujian yang realistik

Rasional : Diskusikan tingkat kemampuan klien seperti menilai realistis,


kontrol diri atau integritas ego sebagai dasar asuhan keperawatan.
Pujian yang realistis tidak menyebabkan melakukan kegiatan hanya
karna ingin mendapat pujian (Mukhripah Damaiyanti dan Iskandar,2012,Hal.46).

Diagnosa III
Gangguan Sensori Persepsi Halusinasi
Tujuan : Klien dapat mengenali halusinasinya

Intervensi :
1. Bantu klien mengenal halusinasinya.
2. Jika menemukan yang sedang halusinasi, tanyakan apakah ada suara yang didengar.
3. Jika klien menjawab ada, lanjutkan apa yang dikatakan.

4. Katakan bahwa perawat percaya klien mendengar suara itu, namun perawat sendiri tidak
mendengarnya (dengan nada bersahabat tanpa menuduh atau menghakimi).
5. Katakan bahwa klien ada juga yang seperti klien.

Rasional : Mengenal halusinasi memungkinkan klien untuk menghindarkan


faktor pencetus timbulnya halusinasi (Mukhripah Damaiyanti dan
Iskandar,2012,Hal.63).

4. IMPLEMENTASI

Diagnosa I : Isolasi Sosial


1. Mengidentifikasi penyebab isolasi sosial
2. Berdiskusi dengan klien tentang keuntungan bila berhubungan dengan orang lain
3. Berdiskusi dengan klien tentang kerugian bila tidak berhubungan dengan orang lain
4. Mengajarkan klien cara berkenalan
5. Menganjurkan klien memasukkan kegiatan latihan berkenalan ke dalam kegiatan harian
(Mukhripah Damaiyanti dan Iskandar,2012,Hal.91).

Diagnosa II : Harga Diri Rendah Kronik


1. Mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang dimiliki pasien.
2. Membantu pasien menilai kemampuan pasien yang masih dapat digunakan.
3. Membantu pasien memilih/ menetap kegiatan yang akan dilatih sesuai dengan kemampuan
pasien (Mukhripah Damaiyanti dan Iskandar,2012,Hal.50).

Diagnosa III : Gangguan Persepsi Sensori: Halusinasi


1. Mengidentifikasi jenis halusinasi klien.
2. Mengidentifikasi isi halusinasi klien.
3. Mengidentifikasi waktu halusinasi klien.
4. Mengidentifikasi frekuensi halusinasi klien.
5. Mengidentifikasi situasi yang dapat menimbulkan halusinasi klien.
6. Mengidentifikasi respon klien terhadap halusinasi.
7. Mengajarkan klien menghardik halusinasi.
8. Menganjurkan klien memasukkan kedalam kegiatan harian
(Mukhripah Damaiyanti dan Iskandar,2012,Hal.69).

5. EVALUASI

Diagnosa I : Isolasi Sosial


Ekspresi wajah bersahabat menunjukkan rasa senang, ada kontak mata, mau berjabat
tangan, mau menjawab salam, klien mau berdampingan dengan perawat, mau mengutarakan
masalah yang dihadapi (Mukhripah Damaiyanti dan Iskandar,2012,Hal.86).

Diagnosa II : Harga Diri Rendah Kronik


1. Klien mampu mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang dimiliki.
2. Kemampuan yang dimiliki klien.
3. Aspek positif keluarga.
4. Aspek positif lingkungan yang dimiliki klien (Mukhripah Damaiyanti dan
Iskandar,2012,Hal.46).

Diagnosa III : Gangguan Sensori Persepsi: Halusinasi


1. Klien dapat menyebutkan isi, waktu, frekuensi timbulnya halusinasi.
2. Klien dapat mengungkapkan perasaan terhadap halusinasi
(Mukhripah Damaiyanti dan Iskandar,2012,Hal.63).