Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Sebelum menyusun suatu asuhan keperawatan yang baik, kita harus
memahami langkah langkah dari proses keperawatan. Proses perawatan
merupakan suatu metode bagi perawat untuk Memberikan asuihan
keperawatan kepada klien. Beberapa pengertian proses kaparawatan adalah
sebagai berikut Suatu metoda pemberian asuhan keperawatan yang sistematis
dan rasional (Kozier, 1991). Suatu aktifitas yang dinamika dan berkelanjutan
yang meliputi interaksi perawat klien dan proses pemecahan masalah (Schultz
dan Videbeck). Proses keperawatan bukan hanya sekedar pendekatan
sistematik dan terorganisir melalui enam langkah dalam mengenali masalah-
masalah klien, namun merupakan suatu metode pemecahan masalah baik
secara episodic maupun secara linier. Kemudian dapat dirumuskan diagnosa
keparawatannya, dan cara pemecahan masalah.
Didalam suatu proses keperawatan atau dalam keperawatan kita tidak
boleh melupakan esensi dari keperawatan yaitu Caring. Caring secara umum
dapat diartikan sebagai suatu kemampuan untuk memahami diri orang lain,
perasaan empati pada orang lain dan perasaan cinta atau menyayangi (Potter
dan Perri, 2005). Dalam keperawatan caring merupakan bagian inti yang
penting terutama dalam praktik keperawatan.Konsep caring pun ,mengalami
perkembangan yang pesat. Karena caring merupakan suatu sikap universal
yang dapat dilakukan didalam berbagai kehidupan manusia. Caring
didefinisikan sebagai tindakan yang bertujuan memberikan asuhan fisik dan
memperhatikan emosi sambil meningkatkan rasa aman dan keselamatan klien
(Carruth et all, 1999). Adapun hal yang tidak dapat dipisahkan dari caring
adalah Curing. Curing merupakan ilmu yang empiric, mengobati berdasarkan
bukti/data. Caring merupakan tugas primer perawat dan curing adalah tugas
sekundernya. Begitu pula curing, curing merupakan tugas primer dokter dan
caring sebagai tugas sekundernya.
B. TUJUAN
1. Mahasiswa dapat mengetahui pengertian Caring.
2. Mahasiswa dapat memahami caring consept
3. Mahasiswa dapat memahami teori Caring
4. Mahasiswa dapat memahami Aplikasi Caring
5. Mahasiswa dapat memahami Perbedaan Caring dan Curing
BAB II
PEMBAHASAN

A. PENGERTIAN CARING
Dalam keperawatan, caring merupakan bagian inti yang penting terutama
dalam praktik keperawatan. Caring secara umum juga dapat diartikan sebagai
suatu kemampuan untuk berdediksi bagi orang lain, pengawasan dengan
waspada, perasaan empati pada orang lain dan perasaan cinta atau menyayangi.
Sehingga konsep caring menurut beberapa ahli diantaranya Pasquali dan
Arnold (1989), serta Watson (1979), human care terdiri dari upaya untuk
melindungi, meningkatkan, dan menjaga atau mengabdikan rasa kemanusiaan
dengan membantu orang lain mencari arti dalam sakit, penderitaan, dan
keberadaannya serta membantu orang lain untuk meningkatkan pengetahuan
dan pengendalian diri.Watson yang terkenal dengan Theory of Human Care,
mempertegas bahwa caring sebagai jenis hubungan dan transaksi yang
diperlukan antara pemberi dan penerima asuhan untuk meningkatkan dan
melindungi pasien sebagai manusia, dengan demikian mempengaruhi
kesanggupan pasien untuk sembuh.Marriner dan Tomey (1994) menyatakan
bahwa caring merupakan pengetahuan kemanusiaan, inti dari praktik
keperawatan yang bersifat etik dan filosofikal. Caring bukan semata-mata
perilaku. Caring adalah cara yang memiliki makna dan memotivasi tindakan.
Caring juga didefinisikan sebagai tindakan yang bertujuan memberikan asuhan
fisik dan memperhatikan emosi sambil meningkatkan rasa aman dan
keselamatan klien (Carruth et al, 1999). Menurut Laininger (1991), care adalah
fenomena yang berhubungan dengan bimbingan, dukungan atau perilaku lain
yang berkaitan atau untuk individu lain / kelompok dengan kebutuhan untuk
meningkatkan kondisi kehidupan manusia.
Caring merupakan fenomena universal yang berkaitan dengan cara
seseorang berpikir, berperasaan dan bersikap ketika berhubungan dengan orang
lain. Caring dalam keperawatan dipelajari dari berbagai macam filosofi dan
perspektif etik . Human care merupakan hal yang mendasar dalam teori caring.
Menurut Pasquali dan Arnold (1989) serta Watson (1979), human care terdiri
dari upaya untuk melindungi, meningkatkan, dan menjaga atau mengabdikan
rasa kemanusiaan dengan membantu orang lain mencari arti dalam sakit,
penderitaan, dan keberadaannya serta membantu orang lain untuk
meningkatkan pengetahuan dan pengendalian diri. Watson (1979) yang
terkenal dengan Theory of Human Care, mempertegas bahwa caring sebagai
jenis hubungan dan transaksi yang diperlukan antara pemberi dan penerima
asuhan untuk meningkatkan dan melindungi pasien sebagai manusia, dengan
demikian mempengaruhi kesanggupan pasien untuk sembuh . Selebihnya
Mayehoff memandang caring sebagai suatu proses yang berorientasi pada
tujuan membantu orang lain bertumbuh dan mengaktualisasikan diri. Mayehoff
juga memperkenalkan sifat-sifat caring seperti sabar, jujur, rendah hati.
Sedangkan Sobel mendefinisikan caring sebagai suatu rasa peduli, hormat dan
menghargai orang lain. Artinya memberi perhatian dan mempelajari kesukaan-
kesukaan seseorang dan bagaimana seseorang berpikir, bertindak dan
berperasaan. Caring sebagai suatu moral imperative (bentuk moral) sehingga
perawat harus terdiri dari orang-orang yang bermoral baik dan memiliki
kepedulian terhadap kesehatan pasien, yang mempertahankan martabat dan
menghargai pasien sebagai seorang manusia, bukan malah melakukan tindakan
amoral pada saat melakukan tugas pendampingan perawatan. Caring juga
sebagai suatu affect yang digambarkan sebagai suatu emosi, perasaan belas
kasih atau empati terhadap pasien yang mendorong perawat untuk memberikan
asuhan keperawatan bagi pasien. Dengan demikian perasaan tersebut harus ada
dalam diri setiap perawat supaya mereka bisa merawat pasien .
Marriner dan Tomey (1994) menyatakan bahwa caring merupakan
pengetahuan kemanusiaan, inti dari praktik keperawatan yang bersifat etik dan
filosofikal. Caring bukan semata-mata perilaku. Caring adalah cara yang
memiliki makna dan memotivasi tindakan. Caring juga didefinisikan sebagai
tindakan yang bertujuan memberikan asuhan fisik dan memperhatikan emosi
sambil meningkatkan rasa aman dan keselamatan klien (Carruth et all, 1999)
Sikap caring diberikan melalui kejujuran, kepercayaan, dan niat
baik. Caring menolong klien meningkatkan perubahan positif dalam aspek
fisik, psikologis, spiritual, dan sosial. Bersikap caring untuk klien dan bekerja
bersama dengan klien dari berbagai lingkungan merupakan esensi
keperawatan. Dalam memberikan asuhan, perawat menggunakan keahlian,
kata-kata yang lemah lembut, sentuhan, memberikan harapan, selalu berada
disamping klien, dan bersikap caring sebagai media pemberi asuhan (Curruth,
Steele, Moffet, Rehmeyer, Cooper, & Burroughs, 1999). Para perawat dapat
diminta untuk merawat, namun tidak dapat diperintah untuk memberikan
asuhan dengan menggunakan spirit caring .
Spirit caring harus tumbuh dari dalam diri perawat dan berasal dari hati
perawat yang terdalam. Spirit caring bukan hanya memperlihatkan apa yang
dikerjakan perawat yang bersifat tindakan fisik, tetapi juga mencerminkan
siapa dia. Oleh karenanya, setiap perawat dapat memperlihatkan cara yang
berbeda ketika memberikan asuhan kepada klien .

B. CARING CONSEPT
Siswoyo (dalam Mardalis, 2003:42) mendefinisikan teori sebagai
seperangkat konsep dan definisi yang saling berhubungan yang mencerminkan
suatu pandangan sistematik mengenai fenomena dengan menerangkan
hubungan antar variabel, dengan tujuan untuk menerangkan dan meramalkan
fenomena. Tan (dalam Koentjaraningrat, 1997:32) mengemukakan bahwa
konsep atau pengertian adalah unsur pokok di dalam suatu penelitian, kalau
masalah dan kerangka teorinya sudah jelas, biasanya sudah diketahui pula fakta
mengenai hal yang menjadi pokok perhatian dan suatu konsep yang sebenarnya
adalah definisi secara singkat dari sekelompok fakta atau gejala itu. Aristoteles
dalam bukunya The classical theory of concepts mendefinisikan konsep
merupakan penyusun utama dalam pembentukan pengetahuan ilmiah dan
filsafat pemikiran manusia. Mory Cooper (dalam Umar, 2004:50)
mendefinidikan teori adalah suatu kumpulan konsep, definisi, proposisi, dan
variabel yang berkaitan satu sama lain secara sistematis dan telah digeneralisasi
sehingga dapat menjelaskan dan memprediksi suatu fenomena (fakta-fakta)
tertentu.
Beberapa ahli merumuskan konsep caring dalam beberapa teori. Menurut
Watson, ada tujuh asumsi yang mendasari konsep caring. Ketujuh asumsi
tersebut adalah
1. caring hanya akan efektif bila diperlihatkan dan dipraktekkan secara
interpersonal,
2. caring terdiri dari faktor karatif yang berasal dari kepuasan dalam
membantu memenuhi kebutuhan manusia atau klien,
3. caring yang efektif dapat meningkatkan kesehatan individu dan keluarga,
4. caring merupakan respon yang diterima oleh seseorang tidak hanya saat itu
saja namun juga mempengaruhi akan seperti apakah seseorang tersebut
nantinya,
5. Lingkungan yang penuh caring sangat potensial untuk mendukung
perkembangan seseorang dan mempengaruhi seseorang dalam memilih
tindakan yang terbaik untuk dirinya sendiri,
6. caring lebih kompleks dari pada curing, praktik caring memadukan antara
pengetahuan biofisik dengan pengetahuan mengenai perilaku manusia yang
berguna dalam peningkatan derajat kesehatan dan membantu klien yang
sakit,
7. caring merupakan inti dari keperawatan (Julia,1995).
Watson juga menekankan dalam sikap caring ini harus tercermin sepuluh
faktor karatif yang berasal dari perpaduan nilai-nilai humanistik dengan ilmu
pengetahuan dasar. Faktor karatif membantu perawat untuk menghargai
manusia dari dimensi pekerjaan perawat, kehidupan, dan dari pengalaman
nyata berinteraksi dengan orang lain sehingga tercapai kepuasan dalam
melayani dan membantu klien. Sepuluh faktor karatif tersebut adalah sebagai
berikut :
1. Pembentukan sistem nilai humanistik dan altruistic.
Perawat menumbuhkan rasa puas karena mampu memberikan sesuatu
kepada klien. Selain itu, perawat juga memperlihatkan kemampuan diri
dengan memberikan pendidikan kesehatan pada klien.
2. Memberikan kepercayaan-harapan
Dengan cara memfasilitasi dan meningkatkan asuhan keperawatan yang
holistik. Di samping itu, perawat meningkatkan perilaku klien dalam
mencari pertolongan kesehatan
3. Menumbuhkan kesensitifan terhadap diri dan orang lain.
Perawat belajar menghargai kesensitifan dan perasaan klien, sehingga ia
sendiri dapat menjadi lebih sensitif, murni, dan bersikap wajar pada orang
lain.
4. Mengembangkan hubungan saling percaya.
Perawat memberikan informasi dengan jujur, dan memperlihatkan sikap
empati yaitu turut merasakan apa yang dialami klien. Sehingga karakter
yang diperlukan dalam faktor ini antara lain adalah kongruen, empati, dan
kehangatan.
5. Meningkatkan dan menerima ekspresi perasaan positif dan negatif klien.
Perawat memberikan waktunya dengan mendengarkan semua keluhan dan
perasaan klien.
6. Penggunaan sistematis metoda penyelesaian masalah untuk pengambilan
keputusan
Perawat menggunakan metoda proses keperawatan sebagai pola pikir dan
pendekatan asuhan kepada klien.
7. Peningkatan pembelajaran dan pengajaran interpersonal, memberikan
asuhan mandiri, menetapkan kebutuhan personal, dan memberikan
kesempatan untuk pertumbuhan personal klien.
8. Menciptakan lingkungan fisik, mental, sosiokultural, dan spritual yang
mendukung. Perawat perlu mengenali pengaruh lingkungan internal dan
eksternal klien terhadap kesehatan dan kondisi penyakit klien.
9. Memberi bimbingan dalam memuaskan kebutuhan manusiawi.
Perawat perlu mengenali kebutuhan komprehensif diri dan klien.
Pemenuhan kebutuhan paling dasar perlu dicapai sebelum beralih ke
tingkat selanjutnya.
10. Mengijinkan terjadinya tekanan yang bersifat fenomenologis agar
pertumbuhan diri dan kematangan jiwa klien dapat dicapai.
Dari sepuluh faktor tersebut diatas, Watson menyimpulkan tiga faktor
karatif yang menjadi filosofi dasar dari konsep caring. Tiga faktor karatif
tersebut adalah: pembentukan sistem nilai humanistik dan altruistik,
memberikan harapan dan kepercayaan, serta menumbuhkan sensitifitas
terhadap diri sendiri dan orang lain (Julia, 1995). Untuk mewujudkan praktek
keperawatan yang bermutu serta profesional maka sepuluh faktor tersebut
harus dilakukan. Selain itu, melalui penerapan faktor karatif ini perawat juga
dapat belajar untuk lebih memahami diri sebelum memahami orang lain
(Nurahmah, 2006). Proses Keperawatan merupakan suatu proses profesional
yang melakukan perawatan secara konprehensif bio, psiko, sosio, spiritual, dan
merupakan suatu proses interpersonal yang terapeutik dan signifikan. Inti dari
asuhan keperawatan yang diberikan kepada klien adalah hubungan perawat-
klien yang bersifat profesional dengan penekanan pada bentuk interaksi aktif
antara perawat dan klien. Hubungan ini diharapkan dapat memfasilitasi
partisipasi klien dengan memotivasi keinginan klien untuk bertanggung jawab
terhadap kondisi kesehatannya.

C. CARING TEORI
1. Konsep Teori Caring Kristen Swanson
Swanson (1991 dalam Potter & Perry 2009) mendefinisikan caring
sebagai suatu cara pemeliharaan hubungan dengan saling menghargai orang
lain, disertai perasaan memiliki dan tanggung jawab. Caring merupakan
proses yang terus ada dalam dinamika hubungan pasien - perawat. Proses
yang terjadi harus selalu diperbarui karena peran perawat untuk membantu
klien mencapai kesehatan dan kesejahteraan. Benner (2004 dalam Potter &
Perry 2009) mengatakan bahwa hubungan pemberi layanan dapat bersifat
terbuka dan tertutup. Peran sebagai perawat dalam pemberi layanan kepada
klien bukan hanya sekedar untuk melakukan tugasnya. Ada hubungan antara
pemberi dan penerima pelayanan (asuhan keperawatan) yang terbentuk
sejak awal mulai dari saling mengenal sampai timbulnya rasa kepedulian
antara perawat dan klien. Empati dan rasa kasihan perawat merupakan
bagian alami dari proses setiap pertemuan dengan klien. Akan tetapi hal ini
tidak akan terjadi jika tidak ada caring dalam proses tersebut. Caring
merupakan proses bagaimana perawat mengerti kejadian yang berarti di
dalam hidup seseorang, hadir secara emosional, melakukan suatu hal kepada
orang lain sama seperti melakukan terhadap diri sendiri, memberi informasi
dan memudahkan jalan seseorang dalam menjalani transisi kehidupa n serta
menaruh kepercayaan seseorang dalam menjalani hidup (Swanson, 1991).
Sikap pelayanan yang dinilai klien terdiri dari bagaimana perawat
menjadikan pertemuan yang bermakna bagi klien, menjaga kebersamaan,
dan bagaimana memberikan perhatian. Teori Swanson (1991) memberikan
petunjuk bagaimana membentuk stategi caring yang berguna dan efektif.
Setiap proses caring memiliki defenisi dan subdimensi yang merupakan
dasar dalam intervensi keperawatan.
a. Dimensi Caring Menurut Kristen Swanson
Menurut Swanson (1991) ada lima dimensi yang mendasari konsep
caring yaitu :
1) Maintaining Belief
Adanya kepercayaan dan keyakinan seseorang dalam melalui proses
kehidupan dan masa saat transisi dalam hidupnya untuk menghadapi
masa depan dengan penuh keyakinan, menumbuhkan bersikap
optimisme, memaknai arti atau mengambil hikmah dari setiap
peristiwa, dan selalu ada untuk orang lain dalam situasi apa pun.
Tujuannya adalah untuk membantu orang lain dalam batas-batas
kehidupannya sehingga dapat menemukan makna dan
mempertahankan sikap yang penuh harapan. Memelihara dan
mempertahankan keyakinan nilai hidup seseorang adalah dasar dari
caring dalam praktek keperawatan. Subdimensi yang terdapat dalam
maintaining belief yaitu:
2) Believing In (Percaya / Memegang Kepercayaan)
Perawat mendengarkan keluhan-keluhan pasien dan mempercayai
semua yang dirasakan pasien yang mungkin terjadi pada semua orang
yang mengalami masa transisi.
3) Offering A Hope-Filled Attitude (Memberikan Harapan)
Memberikan dorongan dengan berperilaku sebagai perawat penuh
dengan pehatian dan kepedulian/care terhadap masalah yang dialami
dengan sikap tubuh, kontak mata dan intonasi bicara perawat.
4) Maintaining Realistic Optimism (Menawarkan Keyakinan Yang
Realistis)
Menunjukkan dan memelihara sikap optimisme perawat dan harapan
terhadap masalah yang menimpa klien secara realistis serta
mendorong dan meningkatkan sikap optimisme dan harapan yang
dimiliki klien.
5) Helping To Find Meaning (Membantu Menemukan Arti).
Membantu klien memaknai hal yang sedang dialami klien sehingga
secara perlahan klien dapat memahami dan menerima bahwa setiap
orang dapat mengalamimasalah seperti yang dialami klien.
6) Going The Distance (Menjaga Jarak).
Mempererat hubungan dengan klien dengan tetap mempertahankan
peran sebagai antara perawat dan klien sehingga menumbuhkan rasa
kepercayaan klien terhadap perawat dan tanggung jawab serta caring
secara menyeluruh oleh perawat kepada klien.
7) Knowing
Berusaha mengerti kejadian-kejadian yang memberikan makna dalam
kehidupan klien. Mempertahankan kepercayaan adalah dasar dari
caring keperawatan, knowing dianggap suatu pembelajaran terhadap
pengalaman hidup klien dengan mengesampingkan asumsi perawat
yang mengetahui kebutuhan klienSubdimensi yang terdapat dalam
knowing yaitu:
a) Avoiding Assumptions (Menghindari Asumsi).
Menghindari adanya perbedaan asumsi-asumsi dengan
menyamakan persepsi antara klien dan perawat.
b) Assessing Thoroughly (Penilaian Menyeluruh)
c) Melakukan pengkajian secara holistic yaitu berdasarkan aspek
biologis, psikologis, sosial, spiritual dan kultural.
d) Seeking Clues (Mencari Petunjuk)
Upaya untuk menemukan informasi - informasi yang mendalam
dan menyeluruh tentang klien.
e) Centering On The One Cared For (Fokus Pada Pelayanan Satu
Orang)
Perawat melaksanakan asuhan keperawatan dengan fokus kepada
klien.
2. Perilaku Caring Dalam Praktik Keperawatan
Caring merupakan hasil dari kultur, nilai-nilai, pengalaman dan hubungan
interpersonal. Tindakan caring bermanfaat dalam memberikan asuhan fisik
dan memperhatikan emosi sambil yang bertujuan untuk meningkatkan rasa
aman dan keselamatan klien. Selain itu caring juga memperhatikan harga
diri individu, artinya dalam melakukan praktik keperawatan, perawat harus
selalu menghargai klien dengan menerima kelebihan maupun kekurangan
klien sehingga bisa memberikan pelayanan kesehatan yang tepat. Penilaian
terhadap seorang perawat dapat terlihat dari perilaku caring yang dimiliki
perawat (Priambodo, 2010). Teori caringSwanson (1991 dalam Potter &
Perry 2009) menjelaskan tentang proses caring yang terdiri dari bagaimana
perawat mengerti kejadian yang berarti di dalam hidup seseorang, hadir
secara emosional, melakukan suatu hal kepada orang lain sama seperti
melakukan terhadap diri sendiri, memberi informasi dan memudahkan jalan
seseorang dalam menjalani transisi kehidupa n serta menaruh kepercayaan
seseorang dalam menjalani hidup. Sikap keperawatan yang berhubungan
dengan perilaku caring dalam praktik keperawatan yaitu :
a. Kehadiran ( Presence )
Kehadiran merupakan suatu pertemuan antara perawat dengan klien
maupun keluarga klien yang merupakan upaya untuk lebih mendekatkan
dan menyampaikan manfaat caring. Menurut Fredrikson (1999 dalam
Potter & Perry 2009) kehadiran dapat diartikan dalam ada di dan ada
dengan. Makna ada di kehadiran secara fisik dengan adanya proses
komunikasi antar perawat dan klien. Sedangkan Pederson (1993 dalam
Potter & Perry 2009) berpendapat bahwa ada dengan dimaknai dengan
hubungan interpersonal, peran perawat yang selalu bersedia atau ada di
samping klien saat klien membutuhkan. Kehadiran secara fisik dari
seorang perawat disaat klien membutuhkan, adanya konta mata, bahasa
tubuh, mendengarkan semua keluhan klien, serta adanya dukungan yang
diberikan perawat akan membantu klien untuk membentuk suasana baru
dan saling terbuka.
b. Sentuhan ( Contact )
Sentuhan merupakan suatu bentuk pendekatan yang dapat menenangkan
dimana perawat dapat mendekatkan diri dengan klien dalam memberikan
perhatian dan dukungan. Pada saat melaksanakan asuhan keperawatan,
perawat dapat memberikan sentuhan untuk memberikan rasa nyaman dan
aman kepada klien, sebagai contoh pada saat pemasangan selang naso
gaster atau NGT. Menurut Boyek & Watson (1994 dalam Potter & Perry
2009) sentuhan juga dianggap sebagai bentuk komunikasi non verbal
yang dapat mempengaruhi rasa keamanan dan kenyamanan klien,
meningkatkan harga diri dan membantu klien menerima keadaannya.
Selain itu sentuhan juga memberikan banyak makna, oleh sebab itu
sentuhan harus digunakan dengan bijaksana. Salah satu bentuk masalah
yang sering timbul dalam perilaku sentuhan yaitu adanya perbedaan
budaya antara perawat itu sendiri maupun perawat dan klien.

D. APLIKASI CARING
Caring merupakan suatu proses yang tidak bisa diajarkantetapi hasil
daribukanlah sesuatu yang dapat diajarkan, tetapi merupakan hasil dari
kebudayaan, nilai-nilai, pengalaman, dan dari hubungan dengan orang lain.
Sikap keperawatan yang berhubungan dengan caring adalah kehadiran,
sentuhan kasih sayang, mendengarkan, memahami klien, caring dalam
spiritual, dan perawatan keluarga.
1. Kehadiran
suatu pertemuan antara seseorang dengan seseorang lainnya yang
merupakan sarana untuk mendekatkan diri dan menyampaikan manfaat
caring. Menurut Fredriksson (1999), kehadiran berarti ada di dan ada
dengan. Ada di berarti kehadiran tidak hanya dalam bentuk fisik,
melainkan juga komunikasi dan pengertian. Sedangkan ada dengan
berarti perawata selalu bersedia dan ada untuk klien (Pederson, 1993).
Kehadiran seorang perawat membantu menenangkan rasa cemas dan takut
klien karena situasi tertekan.
2. Sentuhan
Sentuhan merupakan salah satu pendekatan yang menenangkan dimana
perawat dapat mendekatkan diri dengan klien untuk memberikan perhatian
dan dukungan. Ada dua jenis sentuhan, yaitu sentuhan kontak dan sentuhan
non-kontak. Sentuhan kontak merupakan sentuhan langsung kullit dengan
kulit. Sedangkan sentuhan non-kontak merupakan kontak mata. Kedua jenis
sentuhan ini digambarkn dalam tiga kategori :
b. Sentuhan Berorientasi-tugas, Saat melaksanakan tugas dan prosedur,
perawat menggunakan sentuhan ini. Perlakuan yang ramah dan cekatan
ketika melaksanakan prosedur akan memberikan rasa aman kepada klien.
Prosedur dilakukan secara hati-hati dan atas pertimbangan kebutuhan
klien.
c. Sentuhan Pelayanan (Caring), Yang termasuk dalam sentuhan caring
adalah memegang tangan klien, memijat punggung klien, menempatkan
klien dengan hati-hati, atau terlibat dalam pembicaraan.Sentuhan ini
dapat mempengaruhi keamanan dan kenyamanan klien, meningkatkan
harga diri, dan memperbaiki orientasi tentang kanyataan (Boyek dan
Watson, 1994).
d. Sentuhan Perlindungan, Sentuhan ini merupakan suatu bentuk sentuhan
yang digunakan untuk melindungi perawat dan/atau klien (fredriksson,
1999). Contoh dari sentuhan perlindungan adalah mencegah terjadinya
kecelakaan dengan cara menjaga dan mengingatkan klien agar tidak
terjatuh. Sentuhan dapat menimbulkan berbagai pesan, oleh karena itu
harus digunakan secara bijaksana.
3. Mendengarkan
Untuk lebih mengerti dan memahami kebutuhan klien, mendengarkan
merupakan kunci, sebab hal ini menunjukkan perhatian penuh dan
ketertarikan perawat. Mendengarkan membantu perawat dalam memahami
dan mengerti maksud klien dan membantu menolong klien mencari cara
untuk mendapatkan kedamaian.
4. Memahami klien.
Salah satu proses caring menurut Swanson (1991) adalah memahami klien.
Memahami klien sebagai inti suatu proses digunakan perawat dalam
membuat keputusan klinis. Memahami klien merupakan pemahaman
perawat terhadap klien sebagai acuan melakukan intervensi berikutnya
(Radwin,1995). Pemahaman klien merupakan gerbang penentu pelayanan
sehingga, antara klien dan perawat terjalin suatu hubungan yang baik dan
saling memahami.
5. Caring Dalam Spiritual.
Kepercayaan dan harapan individu mempunyai pengaruh terhadap
kesehatan fisik seseorang. Spiritual menawarkan rasa keterikatan yang baik,
baik melalui hubungan intrapersonal atau hubungan dengan dirinya sendiri,
interpersonal atau hubungan dengan orang lain dan lingkungan, serta
transpersonal atau hubungan dengan Tuhan atau kekuatan tertinggi.
Hubungan caring terjalin dengan baik apabila antara perawat dan klien dapat
memahami satu sama lain sehingga keduanya bisa menjalin hubungan yang
baik dengan melakukan hal seperti, mengerahkan harapan bagi klien dan
perawat; mendapatkan pengertian tentang gejala, penyakit, atau perasaan
yang diterima klien; membantu klien dalam menggunakan sumber daya
sosial, emosional, atau spiritual; memahami bahwa hubungan caring
menghubungkan manusia dengan manusia, roh dengan roh.
6. Perawatan Keluarga.
Keluarga merupakan sumber daya penting. Keberhasilan intervensi
keperawatan sering bergantung pada keinginan keluarga untuk berbagi
informasi dengan perawat untuk menyampaikan terapi yang dianjurkan.
Menjamin kesehatan klien dan membantu keluarga untuk aktif dalam proses
penyembuhan klien merupakan tugas penting anggota keluarga.
Menunjukkan perawatan keluarga dan perhatian pada klien membuat suatu
keterbukaan yang kemudian dapat membentuk hubungan yang baik dengan
anggota keluarga klien.

E. PERBEDAAN CARING DAN CURING


Secara bahasa, caring dapat diartikan sebagai tindakan kepedulian
dan curing dapat diartikan sebagai tindakan pengobatan. Namun, secara
istilah caring dapat diartikan memberikan bantuan kepada individu atau
sebagai advokasi pada individu yang tidak mampu memenuhi kebutuhan
dasarnya. Keperawatan sebagai suatu profesi dan berdasarkan pengakuan
masyarakat adalah ilmu kesehatan tentang asuhan atau pelayanan keperawatan
atau The Health Science of Caring (Lindberg,1990).
Sedangkan curing adalah upaya kesehatan dari kegiatan dokter dalam
prakteknya untuk mengobati klien. Dalam penerapannya,
konsep caring dan curing mempunyai beberapa perbedaan, diantaranya :
a. Caring merupakan tugas primer perawat sedangkan Curing adalah tugas
sekunder.
Maksudnya adalah tugas utama seorang perawat melakukan tindakan
kepedulian ( caring ) terhadap klien daripada memberikan tindakan
medis. Dengan demikian caring lebih identik dengan perawat.
b. Curing merupakan tugas utama dari seorang dokter
sedangkan Caring adalah tugas kedua. Maksudnya seorang dokter lebih
melibatkan tindakan medis tanpa melakukan tindakan caring yang berarti.
Dengan demikian pengobatan atau curing lebih identik dengan dokter.
c. Dalam pelayanan kesehatan klien yang dilakukan perawat, nya
adalah caring dan nya adalah curing.
d. Caring bersifat lebih Healthogenic daripada Curing.
Maksudnya caring lebih menekankan pada upaya peningkatan kesehatan
daripada pengobatan. Di dalam praktiknya, caring mempersatukan
pengetahuan biofisik dan pengetahuan perilaku manusia dalam
meningkatkan derajat kesehatan dan memberikan pelayanan kepada yang
sakit
e. Tujuan curing adalah menentukan dan menyingkirkan penyebab penyakit
atau mengubah problem penyakit dan penanganannya.
Tujuan caring adalah membantu pelaksanaan rencana pengobatan/terapi
dan membantu klien beradaptasi dengan masalah kesehatan, mandiri
memenuhi kebutuhan dasarnya, mencegah penyakit, meningkatkan
kesehatan dan meningkatkan fungsi tubuh sedangkan Diagnosa dalam
konsep curing dilakukan dengan mengungkapkan penyakit yang diderita
sedangkan diagnosa dalam konsep caring dilakukan dengan identifikasi
masalah dan penyebab berdasarkan kebutuhan dan respon klien.
BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Proses perawatan merupakan suatu metode bagi perawat untuk
Memberikan asuihan keperawatan kepada klien. Beberapa pengertian proses
kaparawatan adalah sebagai berikut Suatu metoda pemberian asuhan
keperawatan yang sistematis dan rasional (Kozier, 1991). Proses keperawatan
bukan hanya sekedar pendekatan sistematik dan terorganisir melalui enam
langkah dalam mengenali masalah-masalah klien, namun merupakan suatu
metode pemecahan masalah baik secara episodic maupun secara linier.
Kemudian dapat dirumuskan diagnosa keparawatannya, dan cara pemecahan
masalah.
Dalam praktik keperawatan, caring merupakan bagian yang sangat
penting. Salah satu komplemen untuk menjadi seorang perawat itu adalah
caring atau peduli. Caring secara umum dapat diartikan sebagai suatu
kemampuan untuk memahami diri orang lain, perasaan perduli juga berempati
kepada seorang klien. Perawat dituntut untuk bersikap care dengan sekitarnya.
Tujuan caring adalah untuk mendukung proses penyembuhan secara total.
Perilaku caring dan curing sangatlah berbeda karena caring identik dengan
tindakan asuhan keperawatan, sedangkan curing adalah pengobatan terhadap
penyakit pada klien. Tetapi antara caring dan curing adalah suatu tindakan yang
saling berhubungan dan tidak bisa terpisahkan.
Caring lebih kompleks daripada curing, dan curing hanya bagian dari
caring. Sebagai perawat dapat melaksanakan perannya dengan sangat baik dan
harus mampu membedakan serta menyeimbangkan keduanya dengan sebaik-
baiknya. Caring tidak akan pernah lepas dari profesi keperawatan, karena
caring adalah esensi dari keperawatan itu sendiri.
B. SARAN
Sebagai seorang perawat harus benar benar memahami sikap caring
dan curing setelah memahami maka sikap caring dan curing harus diterapkan
dalam kehidupan sehari-hari, agar perawat dapat menjiwai dalam
mempraktikan kepada klien nya. Biasanya seorang klien yang sedang sakit
membutuhkan perawatan dan kasih sayang agar klien dapat melawan
penyakitnya.
BAB IV
TINJAUAN PUSTAKA

http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/37915/4/Chapter%20II.pdf
http://www.kompasiana.com/spirit-smile/makalah-konsep-dasar-keperawatan-
bab-caring_550e5f0a813311c82cbc642a
https://www.academia.edu/9312265/Konsep_Caring_Sepanjang_Rentang_Kehidu
pan
https://www.google.com/search?q=proses+keperawatan&ie=utf-8&oe=utf-
8&client=firefox-b-ab diakses pada 7 november pukul 10.30
Afifah,Efy.Konsep Caring.Diambil dari http.staff.ui.ac.id/diakses pada
3 November 2017. Pukul 22.00 WIB.
Potter dan Perry. 2005. Buku Ajar Fundamental Keperawatan, Konsep, Proses &
Praktik.
Jakarta: EGC.

Asmadi. 2008. Konsep Dasar Keperawatan.


Jakarta: EGC

Ali, Zaidin. 2002. Dasar-Dasar Keperawatan Profesional.


Jakarta: Widya Medika

Hidayat, A. Aziz Alimul. 2007. Pengantar Konsep Dasar Keperawatan.


Jakarta : Salemba Medika