Anda di halaman 1dari 17

SISTEM INFORMASI MANAJEMEN PEMASARAN

PT. Coca-cola Amatil Indonesia (CCAI)

SIM KELAS A

Oleh:
1. Yafet Kurnia 3103014240

2. Theodorus Raymond 3103015004

3. Zerlina Yolanda 3103015013

4. Daniel Prayogi 3103015023

UNIVERSITAS KATOLIK WIDYA MANDALA SURABAYA


FAKULTAS BISNIS
2017
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Upaya perusahaan untuk bertahan hidup dan berkembang dalam lingkungan bisnis
global sangat tergantung pada kompetensi perusahaan dalam memanfaatkan segala potensi
yang terkandung dalam teknologi informasi untuk menerobos berbagai hambatan dan
mengubah potensi tersebut menjadi peningkatan kecepatan, fleksibilitas, integrasi, dan
inovasi berkelanjutan. Penerobosan berbagai hambatan memerlukan pemampu (enabler) yang
andal. Salah satu pemampu utama adalah teknologi informasi. Teknologi informasi itu sendiri
terdiri dari tiga komponen, yaitu telekomunikasi, perlengkapan kantor elektronik, serta
komputer. Teknologi informasi mampu memperpendek waktu respon ke customer, sehingga
membuat perusahaan mampu meningkatkan customer value dan cycle effectiveness. Fasilitas
teknologi informasi memungkinkan perusahaan dalam menerobos hambatan biaya melalui
peningkatan produktivitas dan meningkatkan kualitas pengambilan keputusan sehingga
tercapai peningkatan cost effectiveness. Pemanfaatan teknologi informasi dalam hal ini DSS
menjadi strategis karena dimanfaatkan tidak hanya untuk operasional perusahaan tetapi juga
untuk memenangkan persaingan.
Aplikasi DSS mampu membantu manajemen dalam proses pembuatan keputusan
ekonomi. Saat ini ada berjuta informasi yang secara rutin dikumpulkan, disimpan, dan
dianalisis oleh pelaku bisnis. Jutaan informasi ini lebih dikenal dengan big data, termasuk
data yang terkumpul dari informasi kartu kredit, kartu debit, penelusuran internet, media
sosial, dan informasi yang didapatkan dari aplikasi smartphone atau perangkat pribadi lain
yang tersambung ke internet. Big data banyak dipakai oleh perusahaan-perusahaan global
(terutama perusahaan seperti Amazon) untuk tujuan riset pasar, seperti mengetahui perilaku
konsumen. Alasannya sederhana, keputusan yang diambil berdasarkan data yang
komprehensif akan memberikan dasar bagi pengambilan keputusan yang lebih baik dan
akurat. Penggunaan big data memungkinkan manajemen mengambil keputusan tidak hanya
berdasarkan insting saja, namun juga melalui thought process yang sistematis dan dapat
dipertanggungjawabkan. Penggunaan big data ini terbukti meningkatkan kinerja perusahaan,
seperti yang dimuat dalam artikel berjudul Big Data: The Management Revolution.
Hasil penelitian ini yang bekerja sama dengan McKinsey menunjukkan bahwa dari
330 perusahaan publik di Amerika, ada satu kesimpulan yang konsisten. Mereka
menyimpulkan bahwa semakin banyak perusahaan mengandalkan keputusannya kepada big
data yang diolah (data driven), semakin baik keputusan yang mereka ambil (Andrew McAfee,
2012). Tidak heran saat ini semakin banyak perusahaan yang menggunakan sistem yang
membantu pengambilan keputusan dengan cara mengolah data yang ada atau biasa disebut
Decision Support System (DSS). Salah satu perusahaan di Indonesia yang memanfaatkan
DSS untuk membantu dalam penentuan strategi pemasaran adalah PT Coca Cola Amatil
Indonesia (CCAI).

1.2 RUMUSAN MASALAH


1. Bagaimana penerapan sistem informasi manajemen bagian pemasaran di PT. Coca Cola?
2. Apa saja hambatan yang dihadapi oleh PT. Coca Cola dalam penerapan sistem informasi
bagian pemasaran?
1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui penerapan sistem informasi manajemen bagian pemasaran di PT.
Coca Cola.
2. Untuk mengetahui apa saja hambatan yang dihadapi oleh PT. Coca Cola dalam
penerapan sistem informasi bagian pemasaran.
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Profil Perusahaan


Coca-cola atau Coke adalah produk minuman bersoda yang telah mendunia dan
sangat terkenal, produk ini dapat ditemukan hampir di setiap penjuru dunia, di restoran-
restoran, toko swalayan, bahkan mesin penjual minuman (vending machine). Minuman ini
diproduksi oleh The Coca-cola Company. Resep ini ditemukan oleh John Styth Pemberton
pada akhir abad ke-19, seorang ahli farmasi dari Atlanta. Komposisi dari minuman ini adalah
air berkarbonasi, gula, perisa kola, pewarna karamel, pengatur keasaman asam fosfat, kafein.

Coca-cola akhirnya dibeli oleh pebisnis Asa Griggs Candler yang taktik
pemasarannya berhasil membuat Coke mondominasi pasar Softdrink dunia sepanjang abad
ke-20. Coca-cola Enterprises adalah contoh pabrik Coca-cola terbesar yang ada di Amerika
Utara dan Eropa Barat. Coca-cola sering ditunjuk FIFA menjadi sponsor Piala Dunia Sepak
bola. Coca-cola menjadi sponsor Piala Dunia hampir setiap tahun diselenggarakan Piala
Dunia termasuk Piala Dunia 2010.

Pabrik ini juga pernah mengeluarkan produk cola dengan merek Coke, Diet Coke,
Caffeine-Free Coca-cola, Diet Coke Caffeine-Free, Coca-cola Cherry, Coca-cola Zero, Coca-
cola Vanilla dan versi lain yang berperisa lemon, jeruk nipis, dan kopi. Coca-cola pertama
kali hadir di Indonesia sekitar tahun 1927, saat itu Indonesia masih dalam masa penjajahan
bangsa Belanda. Netherland Indische Mineral Water Fabrieck memproduksi botol pertama
Coca-cola di Batavia (Jakarta). kemudian terhenti saat bangsa Jepang datang (1942-1945) dan
saat kemerdekaan Indonesia telah lahir, pabrik tersebut kembali beroperasi dengan status
perusahaan nasional di bawah nama The Indonesia Bottles Ltd Nv (IBL).

Kemudian berkembang pada tahun 2000, tiga perusahaan baru Coca-cola di


Indonesia didirikan, yaitu PT. Coca-cola Bottling Indonesia (CCBI), PT. Coca-cola Amatil
Indonesia (CCAI) dan PT. Coca-cola Distribution Indonesia (CCD)
2.2 DECITION SUPPORT SYSTEM ( SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN )
Teknologi informasi telah berkembang dengan sangat pesatnya, baik dari segi
hardware maupun software. Perkembangan hardware dan software yang pesat mengakibatkan
komputer menjadi sangat fleksibel dan mudah digunakan (user friendly) di berbagai bidang
dengan biaya yang semakin efisien dan efektif dalam mencapai tujuan. Komputer mampu
menangani berbagai jenis kegiatan dalam volume besar. Sistem komputer memiliki
kemampuan untuk memproses yang meliputi penyaringan, peringkasan, penggolongan, dan
manipulasi data menjadi bentuk yang berguna untuk proses pengambilan keputusan.Salah
satu penggunaan komputer tersebut adalah membantu manajemen dalam membuat keputusan.
Hal ini telah melahirkan suatu sistem pendukung keputusan yaitu suatu sistem informasi
spesifik yang ditujukan untuk membantu manajemen dalam mengambil keputusan yang
berkaitan dengan persoalan yang bersifat semi terstruktur dengan memiliki fasilitas untuk
menghasilkan berbagai alternatif yang secara interaktif dapat digunakan oleh pemakai. Sistem
pendukung keputusan atau Decision Support System (DSS) ini diperkenalkan oleh Michael
S. Scott Morton, G. Anthony Bory dan Peter G. W. Keen dari Massachussests Institute of
Technology pada tahun 1980-an. Beberapa definsi DSS berdasarkan beberapa literatur
disajikan sebagai berikut.
Decision Support System ( DSS ) adalah sistem pendukung keputusan yang berbasis
perangkat lunak interaktif dimaksudkan untuk membantu para pengambil keputusan yang
benar atau membangun strategi dari analisis, tidak pengaruh terhadap computer, basis data
atau manusia penggunanya. (Jogiyanto, 2003) Suatu sistem informasi untuk membantu
manajer level menengah untuk proses pengambilan keputusan setengah terstruktur (semi
structured) supaya lebih efektif dengan menggunakan model-model analitis dan data yang
tersedia. (Marimin, 2004) Sistem yang berfungsi melakukan transformasi data dan informasi
menjadi alternatif keputusan serta prioritasnya.
(Lilien et al., 2004) Seperangkat aplikasi untuk analisis model dalam mentransformasi data
bisnis menjadi menjadi angka dan laporan berupa grafik untuk mendukung user dalam
membuat keputusan terkait bisnis menjadi lebih mudah dan efektif. DSS digunakan oleh para
manajer sebagai alat bantu untuk membuat keputusan, bukan sebagai pengganti manajer
sehingga keputusan apapun tetap berada di tangan manajer. Kata alat bantu disini dapat
dijabarkan menjadi keterbantuan manajer dalam mengumpulkan dan menganalisis data,
kebiasaan, kejadian, serta rekap kegiatan perusahaan pada masa lalu. Dengan terkumpulnya
data ini tentu manajer akan lebih dimudahkan dalam mengambil suatu keputusan baik yang
semi terstruktur maupun yang tidak terstruktur.
Secara umum, DSS adalah sebuah sistem yang memberikan kemampuan baik kemampuan
pemecahan masalah maupun kemampuan pengkomunikasian untuk masalah semi terstruktur.
Secara khusus, DSS adalah sebuah sistem yang mendukung kerja seorang manajer maupun
sekelompok manajer dalam memecahkan masalah semi-terstruktur dengan cara memberikan
informasi ataupun usulan menuju pada keputusan tertentu. Dalam DSS digunakan suatu
model sebagai dasar pengembangan alternatif yang berkaitan dengan sifat permasalahan yaitu
semi terstruktur atau bahkan tidak terstuktur dan pemanfaatan komputer sebagai motor
penggeraknya (computer based systems).
DSS adalah suatu sistem informasi yang datanya diproses dalam bentuk pembuatan
keputusan bagi pemakai akhir. Karena berorientasi pada pemakai akhir, maka DSS
membutuhkan penggunaan model-model. DSS diarahkan pada penyediaan data riil, spesifik,
dan informasi yang tidak rutin sesuai dengan permintaan manajemen. DSS dapat digunakan
untuk menganalisis kondisi pasar sekarang atau pasar potensial. Seperti halnya sistem
informasi pada umumnya, DSS juga mempunyai komponen lain yaitu komponen teknologi
dan kontrol.
Komponen teknologi terdiri dari perangkat keras dan perangkat lunak. Perangkat lunak
spesifik yang digunakan oleh DSS misalnya adalah spreadsheet, database management
system, dan query language. DSS juga dapat digunakan sebagai model alokasi sumber daya
yang ada relatif sederhana dan rekomendasi spesifik yang canggih. Jogiyanto (2003) dan
Marimin (2004) menyebutkan ada tiga komponen utama dari DSS, antara lain:
1. Manajemen data, yaitu komponen basis data yang terdiri dari semua basis data yang
dapat diakses termasuk di dalamnya adalah database yang terkait dengan sistem melalui
pengolahan menggunakan perangkat lunak yang disebut sistem manajemen basis data.
2. Manajemen model, yaitu komponen atau paket perangkat lunak yang mengubah data
menjadi informasi yang relevan. Model-model yang banyak digunakan dalam DSS adalah
model matematika optimasi (seperti linear programming dan dynamic programming),
model finansial, statistika, ilmu manajemen, atau model kuantitatif lain yang menyediakan
kemampuan sistem analisis.
3. Subsistem dialog, yaitu komponen untuk berdialog dengan pemakai sistem yang
menghubungkan pengguna dengan perintah-perintah dalam DSS.
Komponen ini di dalam sistem informasi merupakan komponen input dan komponen output.
Hal ini diperjelas oleh Turban (1999) yang menyatakan bahwa komponen DSS dapat
dibangun dari subsistem berikut ini.
1. Subsistem Manajemen Data (Data Management Subsystem), meliputi basis data-basis
data yang berisi data yang relevan dengan keadaan dan dikelola software yang disebut
DBMS (Database Management System).
2. Subsistem Manajemen Model (Model Management Subsystem), berupa sebuah paket
software yang berisi model-model finansial, statistik, management science, atau model
kuantitatif yang menyediakan kemampuan analisis dan software management yang sesuai.
3. Subsistem Manajemen Pengetahuan (Knowledge Management Subsystem), merupakan
subsistem (optional) yang dapat mendukung subsistem lain atau berlaku sebagai komponen
yang berdiri sendiri (independent).
4. Subsistem Antarmuka Pengguna (User Interface Subsystem), adalah subsistem yang
dapat dipakai oleh user untuk berkomunikasi dan memberi perintah (menyediakan user
interface).
5. Pengguna (user), termasuk didalamnya adalah pengguna, manajer, dan pengambil
keputusan.
Tujuan dari DSS adalah untuk meningkatkan kemampuan para pengambil keputusan dengan
memberikan alternatif-alternatif keputusan yang lebih banyak atau lebih baik dan membantu
untuk merumuskan masalah dan keadaan yang dihadapi. Dengan demikian DSS dapat
menghemat waktu, tenaga dan biaya. Jadi dapatlah dikatakan secara singkat bahwa tujuan
DSS adalah untuk meningkatkan efektivitas (do the right things) dan efesiensi (do the things
right) dalam pengambilan keputusan. Walaupun demikian, penekanan dari suatuDSS adalah
pada peningkatan efektivitas dari pengambilan keputusan dari pada efisiensinya.
2.3 DUKUNGAN DSS DALAM BIDANG PEMASARAN
Penggunaan DSS dimaksudkan untuk membantu manajer tingkat tinggi dan
menengah dalam mengambil keputusan yang bukan merupakan operasi rutin. DSS mampu
melakukan penyerapan informasi dari basis data, rekonfigurasi data, kalkulasi, analisis
statistik, optimasi, analisis statistik nonprobabilistik (what if analysis), dan why analysis yang
dilakukan melalui program Artificial Intelegent. Oleh karena itu, penggunaan DSS ini dengan
tepat akan meningkatkan efektivitas keputusan yang dibuat manajer dan mendorong efisiensi
dari proses pembuatan keputusan tersebut.
Jadi, DSS akan dapat menciptakan suatu dimensi dukungan bagi pengambilan suatu
keputusan baik yang bersifat taktik maupun strategik. Dukungan informasi kepada manajer
diberikan melalui pengumpulan data dan penerbitan laporan. Dari sisi input, data non rutin
dan transaksional sebagian besar diperoleh dari sumber-sumber luar. Di sisi output, laporan
khusus dan laporan rutin dapat disediakan tepat pada waktunya. Jadi, seorang manajer atau
decision maker lainnya yang menggunakan DSS akan memperoleh laporan dari sistem
laporan yang relevan, seperti contohnya laporan profitabilitas. Namun mereka juga dapat
meminta laporan khusus dari DSS ini melalui terminal atau microcomputer. Selanjutnya
seorang manajer yang menggunakan DSS dapat menggunakan model-model untuk
eksperimen secara interaktif dengan data yang relevan, misalnya dengan mengubah nilai dari
faktor-faktor tertentu dan mengamati hasil-hasilnya. DSS memungkinkan manajer untuk
memperoleh berbagai perspektif mengenai situasi masalah rumit dan melaksanakan interaksi
dari faktor-faktor yang signifikan.
Seorang manajer dengan demikian dapat menemukan dan mengevaluasi dengan cara yang
lebih baik terhadap pilihan keputusan alternatif DSS dirancang dengan menekankan pada
aspek fleksibilitas serta kemampuan adaptasi yang tinggi, sehingga mudah disesuaikan
dengan kebutuhan pemakai. Komputer saat ini merupakan salah satu business partner yang
paling dekat dengan fungsi marketing dan menjadi bagian integral fungsi tersebut. Dalam
beberapa tahun terakhir, perusahaan telah melakukan puluhan miliar dolar dalam menerapkan
sistem software manajemen hubungan pelanggan, seperti untuk memfasilitasi keputusan
terkait sumber daya di bidang pemasaran. Apabila pengambilan keputusan tersebut tidak
dilakukan secara hati-hati, maka sistem pengambilan keputusan individu dan organisasi tidak
dapat dimanfaatkan secara optimal. Situasi ini menyebabkan banyaknya peluang untuk
penelitian mengenai kegunaan DSS di suatu perusahaan. Fungsi marketing biasanya
mempunyai beberapa database dan program yang memonitor fungsi penjualan. Sistem
tersebut bisa dibangun sendiri ataupun dibeli dari pihak ketiga. Penyedia informasi pasar
seperti AC Nielsen, IRI dan GfK yang mempunyai program tersendiri juga biasanya
dilibatkan, terutama dalam riset pasar. Ada beberapa studi tentang dampak dan efektifitas
pemasaran dengan DSS, dimana DSS dirancang untuk alokasi sumber daya yang dimiliki
terutama fokus pada eksplorasi penggunaannya apakah DSS meningkatkan kinerja pengambil
keputusan. Proses pengambilan keputusan biasanya didasarkan pada hasil variabel seperti
penjualan, profit, pangsa pasar yang dihitung dari model. Beberapa penelitian telah menguji
bagaimana pengaruh DSS dalam pengambilan keputusan. Dari hasil analisis yang dilakukan
oleh Lilien et al., menunjukkan bahwa dua model yang dirancang dengan baik untuk alokasi
sumber daya pemasaran dengan hasil secara obyektif meningkat (Lilien et al., 2004).
Suatu studi oleh Vlahos et al. (2004) yang mengamati penggunaan teknologi informasi oleh
para manajer di Jerman mendapatkan kenyataan bahwa mereka menggunakan waktunya
kurang lebih 25% atau 10,3 jam per minggu bergelut dengan teknologi informasi. Angka ini
konsisten dengan waktu yang digunakan oleh kolega mereka di negara lain seperti di Amerika
Serikat (yaitu sekitar 28% atau 11,1 jam per minggu). Fungsi marketing sendiri menghabiskan
kurang lebih 8,6 jam per minggu, lebih sedikit dibandingkan dengan rata-rata penggunaan
diatas, namun juga menunjukkan bahwa teknologi informasi menjadi elemen penting dalam
fungsi marketing.Berdasarkan jurnal yang dibuat oleh Julander (2002) menyatakan bahwa
basket analysis digunakan untuk mengevaluasi perubahan dalam preferensi pembeli sebagai
akibat dari ekonomi yang berubah. Basket analysis juga dapat menunjukkan persentase
pembelian dengan kelompok produk, pangsa pasar berdasarkan jumlah pembeli, rata-rata
pembelian per belanjaan dan sejauh mana pembeli membeli produk secara bersamaan dengan
produk lain.
2.4 PROFIL PT COCA COLA AMATIL INDONESIA (CCAI)
PT PT Coca Cola Amatil Indonesia (CCAI) merupakan salah satu produsen
minuman ringan terkemuka di Indonesia. CCAI merupakan bagian dari Coca Cola Amatil Ltd
yang juga membawahi Papua Nugini selain Indonesia sendiri. CCAI adalah produsen dan
distributor sekaligus pemasar dan penjual produk Coca Cola melalui lebih dari 120 pusat
penjualan yang tersebar di seluruh Indonesia. CCAI memastikan bahwa produk Coca Cola
selalu tersedia di mana saja dan kapan saja. Produk lini CCAI terbagi menjadi beberapa
kategori seperti juice, beverages, water, vitamin water, isotonik, tea, dan dairy milk. Produk
yang ditawarkan CCAI selain Coca Cola, Fanta, dan Sprite adalah Frestea, Minute Maid,
Aquarius, Powerade, Ades, dan Schweppes, termasuk restoran cepat saji A&W. sumber:
website PT Coca Cola Amatil Indonesia (http://coca-colaamatil.co.id/)
Saluran penjualan yang digunakan oleh CCAI adalah melalui foodstores (supermarket dan
mini market di seluruh Indonesia), general trader (outlet tradisional), dan melalui distributor
tidak langsung berbasis Usaha Kecil dan Menengah (UKM), serta bekerja sama dengan
berbagai hotel, restoran, dan kafe ternama untuk memberikan penawaran menarik kepada para
konsumen. Sebagai bagian dari fungsi pemasaran, CCAI juga memiliki program untuk
mendukung penjualan dan promosi produk sekaligus untuk memelihara kepuasan dan
loyalitas konsumen. Strategi pemasaran Coca Cola mempunyai ciri khas tersendiri yang unik
dan kreatif. Berbagai program promosi diadakan sesuai dengan event dan tren yang sedang
berlangsung, baik melalui promo penukaran tutup botol, hadiah kejutan, konser, pameran,
maupun iklan di berbagai media. CCAI berkontribusi sekitar 21% dari pendapatan Coca Cola
Amatil Ltd. Selama tahun 2013, CCAI berhasil meningkatkan volume penjualannya sebesar
10%. Hal ini dinilai cukup baik ditengah persaingan minuman non-alkohol yang cukup ketat
dan adanya perubahan preferensi atas minuman non-soda. Pencapaian ini berkat penetrasi
pasar minuman yang relatif baru dan berhasil seperti Minute Maid dan Powerade serta
kenaikan penjualan Ades yang cukup signifikan dengan dukungan riset pasar berbasis data
yang dilakukan oleh CCAI. Salah satu strategi CCAI di tahun 2014 ini adalah melakukan
penetrasi pasar terutama untuk produk sparkling yang mana pangsa pasar untuk produk ini
sudah mulai tergerus oleh kompetitor. Data tahun 2014 menunjukkan pangsa pasar seluruh
produk kategori CCAI terhadap produk kompetitior untuk segment foodstore dan modern
trade dengan produk sparkling masih memperoleh pangsa pasar terbesar yaitu 91%. Namun
apabila melihat pangsa pasar produk sparkling secara keseluruhan, CCAI hanya memperoleh
64,5% setelah mengalami penurunan pada tahun 2013 hingga mencapai nilai 50%. Hal ini
yang memicu manajemen untuk melakukan aksi reaktif dengan melakukan penetrasi pasar
menggunakan strategi pemasaran yang efektif sehingga dapat menaikkan pangsa pasar
terutama produk sparkling karena produk tersebut merupakan salah satu kontributor paling
besar terhadap keuntungan perusahaan. Penetrasi pasar yang efektif harus didukung dengan
kemampuan analisis perilaku konsumen sehingga target pertumbuhan penjualan sebesar 15%
dan peningkatan pangsa pasar untuk produk sparkling sebesar 80% pada tahun 2014 dapat
dicapai.

2.5 PENERAPAN DSS DI PERUSAHAAN


Salah satu metode yang digunakan untuk melakukan analisis perilaku konsumen
adalah Market Based Analysis dimana mekanismenya harus didahului oleh analisis yang
mendalam mengenai data transaksi pelanggan dengan menggunakan konsep data mining.
Penggunaan data mining ini diharapkan dapat membantu mempercepat proses pengambilan
keputusan bagi manajemen dan memungkinkan perusahaan untuk mengelola informasi yang
terkandung di dalam transaksi menjadi sebuah knowledge. Dengan begitu, pendapatan
perusahaan dapat meningkat dan di masa yang akan datang perusahaan dapat lebih kompetitif.
Saat ini CCAI memiliki sistem yang sudah terintegrasi berupa Enterprise Resource Planning
(ERP) yang menunjang seluruh proses bisnis yang ada, namun belum maksimal digunakan
sebagai referensi bagi penetapan strategi pemasaran perusahaan. Oleh karena itu, peran DSS
sangat dibutuhkan untuk menggali dan melakukan analisis perilaku konsumen terhadap
pembelian suatu produk melalui data historikal transaksi pelanggan selama dua tahun.
CCAI menjadikan beberapa parameter dalam pengambilan keputusan antara lain, ranking
(peringkat) berdasarkan revenue yang diperoleh di setiap wilayah, penetrasi pasar, basket
index untuk mengetahui persentase pembelian produk CCAI, market share produk CCAI
dibandingkan dengan produk perusahaan lain, jumlah penjualan produk, dan nilai penjualan
ritel setiap bulan untuk peningkatan penjualannya. Sedangkan data yang digunakan adalah
data sekunder berupa deret waktu (time series) dengan periode dua tahun terkahir. Jenis
sumber data berasal dari data eksternal perusahaan yang didapatkan melalui kerjasama antara
CCAI dengan masing-masing outlet melalui trading term yang telah disepakati kedua belah
pihak. Untuk saat ini CCAI telah bekerjasama dengan outlet seperti Carefour, Giant, dan
Indomart. Melalui proses training didapatkan akurasi data mendekati 98% sehingga informasi
yang dihasilkan dapat digunakan untuk membantu proses pengambilan keputusan khususnya
untuk mendukung strategi pemasaran. Seperti yang dijelaskan sebelumnya, penerapan
aplikasi DSS ini digunakan untuk mendukung strategi pemasaran dalam melakukan penetrasi
pasar sehingga diharapkan perusahaan mampu mengembangkan sebuah sistem customer
profiles. Harapannya perusahaan mampu membuat dan melakukan promosi yang efektif
berdasarkan segmen pasar yang sesuai sehingga target penjualan akan mudah tercapai dan
tidak kalah bersaing dengan kompetitor. Dengan informasi tambahan yang akan dikumpulkan
seperti salah satunya demografi pelanggan dan faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan
pelanggan. Adanya DSS ini tidak hanya memberikan informasi yang dibutuhkan dalam
mendukung strategi pemasaran namun juga memberikan rekomendasi penentuan model
strategi pemasaran yang sesuai dengan kondisi pasar. Meskipun demikian, proses
pengambilan keputusan tetap dilakukan oleh manajemen CCAI dengan tetap memperhatikan
rekomendasi yang diberikan DSS sehingga tercipta strategi pemasaran yang efektif dan
efisien.

2.6 Kelemahan DSS


1. Kurangnya dukungan dari pihak eksekutif atau manajemen
Persetujuan dari semua level manajemen terhadap suatu proyek sistem informasi membuat
proyek tersebut akan dipersepsikan positif oleh pengguna dan staf pelayanan teknis
informasi. Dukungan tersebut dapat diwujudkan dalam bentuk penghargaan terhadap
waktu dan tenaga yang telah dicurahkan pada proyek tersebut.
Keterlibatan dalam desain dan operasi sistem informasi mempunyai beberapa hasil yang
positif. Pertama, jika pengguna terlibat secara mendalam dalam desain sistem, ia akan
memiliki kesempatan untuk mengadopsi sistem menurut prioritas dan kebutuhan bisnis,
dan lebih banyak kesempatan untuk mengontrol hasil. Kedua, pengguna berkecenderungan
untuk lebih bereaksi positif terhadap sistem karena mereka merupakan partisipan aktif
dalam proses perubahan itu sendiri.
Kesenjangan komunikasi antara pengguna dan perancang sistem informasi terjadi karena
pengguna dan spesialis sistem informasi cenderung memiliki perbedaan dalam latar
belakang, kepentingan dan prioritas. Inilah yang sering dikatakan sebagai kesenjangan
komunikasi antara pengguna dan desainer(user-designer communication gap).
2. Tidak Memiliki Perencanaan Memadai
Sistem informasi sebaiknya harus ditentukan maksud dan tujuannya. Setelah itu,
menambahkan komponen-komponen yang sesuai dengan tujuan utama dari sistem
informasi tersebut. Perencanaan sistem informasi sebaiknya sejalan dengan tujuan dan
komponen-komponen yang telah ditentukan sehingga tidak keluar dari jalur utama yang
telah ditetapkan. Sistem informasi yang tidak sesuai dengan kebutuhan akan menghambat
tujuan dari perusahaan tersebut.
Pengembangan dan penerapan sistem informasi yang tidak didukung dengan perencanaan
yang matang tidak akan mampu menjembatani keinginan dan kepentingan berbagai pihak
di perusahaan. Hal ini dikarenakan sistem yang dijalankan tidak sesuai dengan arah dan
tujuan perusahaan. Oleh karena itu, perusahaan yang tidak memiliki kompetensi inti dalam
bidang teknologi informasi sebaiknya menjadi tidak memaksakan untuk
menjadi leader dalam investasi teknologi informasi.
Sebagian besar penyedia jasa teknologi informasi kurang sensitif terhadap manajemen
perusahaan, tetapi hanya fokus pada tools yang akan dikembangkan. Kelemahan inilah
yang mengharuskan perusahaan untuk mengidentifikasi secara jelas kebutuhan dan
spesifikasi sistem informasi yang akan diterapkan berikut manfaatnya terhadap
perusahaan. Kemauan perusahaan dalam merancang penerapan sistem informasi
berdasarkan sumberdaya yang dimiliki diyakini dapat meningkatkan keunggulan
kompetitif perusahaan.
3. Inkompetensi secara Teknologi
Kesuksesan pengembangan sistem informasi tidak hanya bergantung pada penggunaan alat
atau teknologinya saja, tetapi juga manusia sebagai perancang dan penggunanya. Sistem
informasi yang tidak disosialisasikan akan menyebabkan karyawan tidak dapat
menggunakan sistem informasi tersebut. Hal ini akan berdampak pada menurunnya kinerja
perusahaan dan kegagalan sistem informasi sehingga sistem informasi yang telah
dirancang akan sia-sia serta menyebabkan kerugian materi yang cukup besar. Selain itu,
waktu sosialisasi yang singkat dapat menjadi kendala dalam hal penerapan sistem
informasi. Karyawan kurang mempelajari mengenai sistem informasi yang mereka
gunakan sehingga kemampuan mereka terbatas. Menurut Pambudi (2003) harus ada
penyesuaian tertentu dalam menerapkan sistem informasi. Penyesuaian terhadap strategi
penerapan sistem yang baru harus disosialisasikan dengan jelas kepada karyawan.
Sistem informasi harus dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan
pengguna. Kompleksitas sistem bukanlah merupakan jaminan perbaikan kinerja, bahkan
menjadi kontraproduktif jika tidak didukung oleh kesiapan sumberdaya manusia dalam
tahapan implementasinya. Hal ini sering terjadi terutama pada perusahaan yang
pengetahuan teknologi informasinya rendah. Jika pengembangan sistem informasi
diserahkan pada sumberdaya yang kurang memiliki kompetensi dibidangnya akan
berakibat fatal bagi perusahaan ketika sistem tersebut telah diterapkan. Pengembangan
sistem informasi sebagai salah satu sarana pencapaian tujuan perusahaan, sehingga
keduanya harus relevan, serta perlu disiapkan dengan baik dan matang. Selain itu,
perusahaan harus memiliki harapan yang nyata, yaitu yang ingin dicapai dan berusaha
dalam meraihnya, sehingga efektivitas dari pengembangan atau penerapan sistem
informasi dapat terjadi
4. Komunikasi Antara Pengguna dengan Perancang Sistem Informasi
Hubungan antara konsultan dengan klien secara tradisional merupakan bidang masalah
dalam upaya sistem informasi. Pengguna dan specialist sistem informasi cenderung
mempunyai perbedaan dalam latar belakang, kepentingan dan prioritas. Inilah yang sering
dikatakan sebagai kesenjangan komunikasi antara pengguna dan desainer. Perbedaan ini
akan menyebabkan adanya perbedaan loyalitas organisasi, pendekatan dalam pemecahan
masalah, dan referensi.
5. Tingkat Kompleksitas dan Resiko
Terdapat kecenderungan gagal pada Beberapa proyek pengembangan sistem karena
sistem-sistem tersebut mengandung tingkat resiko yang tinggi dibandingkan yang lain.
Para peneliti telah mengidentifikasikan tiga faktor kunci yang memengaruuhi tingkat
resiko proyek.
2.7 Solusi untuk mengatasi hambatan :
1. Dukungan dari pihak eksekutif atau manajemen
2. Membuat Perencanaan Memadai
3. Mengupgrade Teknologi-teknologi yang digunakan.
BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN

3.1 KESIMPULAN
Peranan DSS sangat penting dalam beberapa dekade ini terutama untuk mendukung
pengambilan keputusan terkait kebijakan dan strategi perusahaan dalam hal persaingan usaha.
Perusahaan yang menguasai informasi hampir dapat dipastikan akan memenangkan
persaingan dalam memperebutkan pangsa pasar. PT Coca Cola Amatil Indonesia (CCAI)
dalam hal ini menggunakan aplikasi DSS untuk menganalisis perilaku konsumen dengan
menggunakan metode Market Basket Analysis. Pemanfaatan DSS ini diharapkan dapat
membantu CCAI dalam mencapai atau melebihi target perusahaan, melakukan promosi yang
efektif, dan optimalisasi tata letak kulkas (Cold Drink Equipment). Namun keberhasilan DSS
ini tidak akan bisa terwujud apabila data dan informasi yang dibutuhkan oleh sistem tidak
tersedia karena kurangnya koordinasi dengan outlet yang ada.

3.2 SARAN
Perusahaan sebaiknya lebih aktif dalam mendorong beberapa terobosan baru khususnya
dalam pemanfaataan DSS dalam menunjang pengambilan keputusan seperti melakukan
pengembangan DSS di bidang optimaslisasi value chain, optimasi trafik dan distribusi,
optimaslisasi cost, dan lain sebagainya. Harapannya perusahaan akan dapat lebih kompetitif
dan memiliki daya saing didalam memperebutkan pasar minuman siap saji (ready to drink).
DAFTAR PUSTAKA

https://profil.merdeka.com/mancanegara/c/coca-cola/
http://sphewu.info/sistem-informasi-pemasaran-pt-coca-cola-mxg/