Anda di halaman 1dari 30

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat Nya akhirnya kami dari kelompok 3
dapat menyelesaikan tugas mata kuliah Psikososial & Budaya Dalam Keperawatan dengan
membahas Asuhan Keperawatan Psikososial Kecemasan

Semoga makalah ini, dapat bermanfaat dan menjadi sumber pengetahuan bagi pembaca. Dan
apabila dalam pembuatan makalah ini terdapat kekurangan kiranya pembaca dapat
memakluminya. Akhir kata dengan kerendahan hati, kritik, dan saran sangat kami harapkan demi
penyempurnaan makalah ini. Sekian dan terima kasih.

Tomohon, 11 Oktober 2017


Penyusun

Kelompok 3

1
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR 1
DAFTAR ISI... 2
BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang. 3
1.2 Rumusan Masalah. 3
1.3 Tujuan Penulisan 3
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Definisi Kecemasan. 4
2.2. Rentang ResponKecemasan.. 5
2.3 Etiologi Kecemasan 5
2.4 Tanda dan Gejala 7
2.5 Penatalaksanaan Kecemasan.. 7
2.6 Asuhan Keperawatan.. 8
BAB III TINJAUAN KASUS
Asuhan Keperawatan 18
BAB IV PENUTUP
4.1. Kesimpulan. 28
4.2. Saran... 28
DAFTAR PUSTAKA. 29

2
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Proses keperawatan adalah metoda ilmiah yang digunakan dalam memberikan asuhan
keperawatan klien pada semua tatanan pelayanan kesehatan. Kecemasan atau anxiety adalah suatu
sinyal yang menyadarkan, ia memperingatkan adanya bahaya yang mengancam dan memungkinkan seseorang
melakukan tindakan untuk mengatasi ancaman.
Kecemasan akan membuat seseorang tidak merasa nyaman, karena dapat mengganggu aktivitas individu
itu sendiri. Adapun jenis dapat teratasi dengan sendirinya, contohnya cemas ringan, sedang cemas yang
berkepanjangan yang bahkan tidak jelas lagi kaitannya dengan suatu faktor penyebab atau pencetus tertentu dapat
menjadi pertanda gangguan kejiwaan yang dapat menyebabkan hambatan dalam berbagai segi dan kemampuan
fungsi sosial penderitanya.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa itu kecemasan/kecemasan ?
2. Apa saja etiologi kecemasan/kecemasan ?
3. Apa saja manifestasi kecemasan/kecemasan ?
4. Bagaimana rentang respon kecemasan/kecemasan ?
5. Apa saja tingkat kecemasan/kecemasan ?
6. Bagaimana asuhan keperawatan pada klien kecemasan/kecemasan ?

1.3 Tujuan
1.3.1 Tujuan Umum :
Adapun tujuan umum dari penulisan makalah ini yaitu untuk mengetahui :
1. Pengertian kecemasan/kecemasan
2. Etiologi kecemasan/kecemasan
3. Manifestasi kecemasan/kecemasan
4. Rentang respon kecemasan/kecemasan
5. Tingkat kecemasan/kecemasan
6. Asuhan keperawatan pada klien kecemasan/kecemasan

1.3.2 Tujuan khusus :


Untuk memenuhi tugas mata kuliah keperawatan jiwa dan mendapatkan nilai yang
maksimal dan memuaskan untuk matakuliah keperawatan jiwa ini.

3
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 DEFINISI
Menurut Lynn S.Bickley (2009) kecemasan merupakan reaksi yang sering terjadi pada
keadaan sakit, pengobatan, dan sistem perawatan kesehatan itu sendiri, bagi sebagian klien
kecemasan merupakan saringan terhadap persepsi dan reaksi mereka, bagi sebagian lainnya
kecemasan dapat menjadi bagian dari sakit yang dideritanya.
Kecemasan adalah ketegangan, rasa tidak aman dan kekawatiran yang timbul karena
dirasakan terjadi sesuatu yang tidak menyenangkan tetapi sumbernya sebagian besar tidak
diketahui dan berasal dari dalam (DepKes RI, 1990).
Kecemasan dapat didefininisikan suatu keadaan perasaan keprihatinan, rasa gelisah,
ketidak tentuan, atau takut dari kenyataan atau persepsi ancaman sumber aktual yang tidak
diketahui atau dikenal (Stuart and Sundeens, 1998).
Kecemasan mungkin hadir pada beberapa tingkat dalam kehidupan setiap individu, tetapi
derajat dan frekuensi dengan yang memanifestasikan berbeda secara luas. Respon masing-
masing individu memiliki kecemasan berbeda. Tepi emosional yang memprovokasi kecemasan
untuk merangsang kreativitas atau kemampuan pemecahan masalah, yang lainnya dapat menjadi
bergerak ke tingkat patologis. Perasaan umumnya dikategorikan menjadi empat tingkat untuk
tujuan pengobatan: ringan, sedang, berat, dan panik. Perawat dapat menemukan klien cemas di
mana saja di rumah sakit atau lingkup masyarakat.
Kecemasan dan gangguannya dapat muncul dalam berbagai tanda dan gejala fisik dan
psikologik seperti gemetar, rasa goyah, nyeri punggung dan kepala, ketegangan otot, napas
pendek, mudah lelah, sering kaget, hiperaktivitas autonomik seperti wajah merah dan pucat,
berkeringat, tangan rasa dingin, diare, mulut kering, sering kencing, rasa takut, sulit konsentrasi,
insomnia, libido turun, rasa mengganjal di tenggorok, rasa mual di perut dan sebagainya. Gejala
utama dari depresi adalah efek depresif, kehilangan minat dan kegembiraan, dan berkurangnya
energi yang menuju meningkatnya keadaan mudah lelah (rasa lelah yang nyata sesudah kerja
sedikit saja) serta menurunnya aktivitas.
Beberapa gejala lainnya dari depresi adalah:
1. konsentrasi dan perhatian berkurang;
2. harga diri dan kepercayaan diri berkurang;
3. gagasan tentang rasa bersalah dan tidak berguna;
4. pandangan masa depan yang suram dan pesimistis;
5. gagasan atau perbuatan membahayakan diri atau bunuh diri;
6. tidur terganggu;
7. nafsu makan berkurang.
Keadaan cemas biasanya disertai dan diikuti dengan gejala depresi. Untuk diagnosis
dibutuhkan penentuan kreteria yang tepat antara berat ringannya gejala, penyebab serta
kelangsungan dari gejala apakah sementara atau menetap. Pada gangguan cemas lainnya
biasanya depresi adalah bentuk akhir bila penderita tidak dapat menyelesaikan masalah yang

4
dihadapi. Pada cemas menyeluruh depresi biasanya bersifat sementara dan lebih ringan gejalanya
dibanding kecemasan, gangguan penyesuaian memiliki gejala yang jelas berkaitan erat dengan
stres kehidupan.
Tingkat kecemasan sebagai berikut:
1. Kecemasan ringan.
Berhubungan dengan ketegangan dalam kehidupan sehari-hari dan menyebabkan seseorang
menjadi waspada dan menghasilkan lahan persepsinya. Kecemasan dapat memotivasi bekpar dan
menghasilkan pertumbuhan dan kreatifitas.
2. Kecemasan sedang.
Memungkinkan seseorang untuk memusatkan pada hal yang penting dan mengesampingkan
yang lain. Sehingga seseorang mengalami perhatian yang selektif namun dapat melakukan
sesuatu yang lebih terarah. Dengan kata lain, lapang persepsi terhadap lingkungan menurun.
Individu lebih memfokuskan pada hal yang penting saat itu dan mengesampingkan hal lain.
3. Kecemasan berat.
Sangat mengurangi lahan persepsi seseorang. Seseorang cenderung untuk memusatkan pada
sesuatu yang terinci dan spesifik dan tidak dapat berfikir pada hal lain. Semua perilaku ditujukan
untuk mengurangi ketegangan. Orang tersebut memerlukan banyak pengarahan untuk dapat
memusatkan pada satu area lain.
4. Tingkat panik dari kecemasan.
Berhubungan dengan terperangah, ketakutan dari orang yang mengalami panik tidak mampu
melakukan sesuatu walaupun dengan pengarahan. Panik melibatkan disorganisasi kepribadian.
Dengan panik, terjadi peningkatan aktifitas motorik, menurunnya kemampuan untuk
berhubungan dengan orang lain, persepsi yang menyimpang dan kehilangan pemikiran yang
rasional. Tingkat kecemasan ini tidak sejalan dengan kehidupan, dan juga berlangsung terus
dalam waktu yang lama, dapat terjadi kelelahan yang sangat, bahkan kematian. Pada tingkat ini
individu sudah tidak dapat mengontrol diri lagi dan tidak dapat melakukan apa-apa lagi
walaupun sudah diberi pengarahan.

2.2. RENTANG RESPON KECEMASAN

Gambar 1. Rentang Respon Kecemasan (Stuart & Sundeen, 1990).

2.3 ETIOLOGI / PENYEBAB


Menurut Sylvia D.Elvira (2008 : 11) adalah sebagai berikut :
Ada beberapa faktor yang menyebabkan kecemasan , antara lain faktor organ biologi,
faktor psikoedukatif. Faktor organbiologi adalah ketidakseimbangan zat kimia pada otak yang
disebut neurotransmitter yang disebabkan karena kurangnya oksigen. Faktor psikoedukatif

5
adalah faktor faktor psikologi yang berpengaruh terhadap perkembangan kepribadian seseorang,
baik hal yang menentramkan, menyenangkan dan menyedihkan.

A. Faktor Predisposisi
Stressor predisposisi adalah semua ketegangan dalam kehidupan yang dapat menyebabkan
timbulnya kecemasan (Suliswati, 2005). Ketegangan dalam kehidupan tersebut dapat berupa :

1. Peristiwa traumatik, yang dapat memicu terjadinya kecemasan berkaitan dengan krisis yang
dialami individu baik krisis perkembangan atau situasional.
2. Konflik emosional, yang dialami individu dan tidak terselesaikan dengan baik. Konflik antara
id dan superego atau antara keinginan dan kenyataan dapat menimbulkan kecemasan pada
individu.
3. Konsep diri terganggu akan menimbulkan ketidakmampuan individu berpikir secara realitas
sehingga akan menimbulkan kecemasan.
4. Frustasi akan menimbulkan rasa ketidakberdayaan untuk mengambil keputusan yang
berdampak terhadap ego.
5. Gangguan fisik akan menimbulkan kecemasan karena merupakan ancaman terhadap integritas
fisik yang dapat mempengaruhi konsep diri individu.
6. Pola mekanisme koping keluarga atau pola keluarga menangani stress akan mempengaruhi
individu dalam berespon terhadap konflik yang dialami karena pola mekanisme koping individu
banyak dipelajari dalam keluarga.
7. Riwayat gangguan kecemasan dalam keluarga akan mempengaruhi respons individu dalam
berespons terhadap konflik dan mengatasi kecemasannya.
8. Medikasi yang dapat memicu terjadinya kecemasan adalah pengobatan yang mengandung
benzodizepin, karena benzodiazepine dapat menekan neurotransmiter gamma amino butyric acid
(GABA) yang mengontrol aktivitas neuron di otak yang bertanggung jawab menghasilkan
kecemasan.B. Faktor presipitasi

Stresor presipitasi adalah semua ketegangan dalam kehidupan yang dapat mencetuskan
timbulnya kecemasan (Suliswati, 2005). Stressor presipitasi kecemasan dikelompokkan menjadi
dua bagian, yaitu :
1. Ancaman terhadap integritas fisik. Ketegangan yang mengancam integritas fisik yang
meliputi :
a. Sumber internal, meliputi kegagalan mekanisme fisiologis sistem imun, regulasi suhu tubuh,
perubahan biologis normal (misalnya : hamil).
b. Sumber eksternal, meliputi paparan terhadap infeksi virus dan bakteri, polutan lingkungan,
kecelakaan, kekurangan nutrisi, tidak adekuatnya tempat tinggal.

2. Ancaman terhadap harga diri meliputi sumber internal dan eksternal.

6
a. Sumber internal : kesulitan dalam berhubungan interpersonal di rumah dan tempat kerja,
penyesuaian terhadap peran baru. Berbagai ancaman terhadap integritas fisik juga dapat
mengancam harga diri.
b. Sumber eksternal : kehilangan orang yang dicintai, perceraian, perubahan status pekerjaan,
tekanan kelompok, sosial budaya.

2.4 TANDA DAN GEJALA KECEMASAN


Respons fisik :
-Kardiovaskular
palpitasi, jantung bedebar, tekanan darah meninggi, denyut nadi cepat
-Pernafasan
napas cepat, napas pendek, tekanan pada dadanapas dangkal, pembengkakan pada tenggorokan,
terengah-engah
-Neuromuskular
: refleks meningkat, insomnia, tremor, gelisah, wajah tegang, kelemahan umum, kaki goyah,
gerakan yang janggal
- Gastrointestinal
: anoreksia, diare/konstipasi, mual, rasa tidak nyaman pd abdomen
-Traktur urinarius
: sering berkemih dan tidak dapat menahan kencing
: wajah kemerahan, berkeringat, gatal, rasa panas pada kulit
Respons Kognitif :
Lapang persepsi menyempit, tidak mampu menerima rangsang luar, berfokus pada apa yang
menjadi perhatiannya
Respons Perilaku :
Gerakan tersentak-sentak, bicara berlebihan dan cepat, perasaan tidakaman
Respons Emosi :
Menyesal, iritabel, kesedihan mendalam, takut, gugup, sukacita berlebihan,
ketidakberdayaan meningkat secara menetap, ketidakpastian, kekhawatiran meningkat, fokus
pada diri sendiri, perasaan tidak adekuat, ketakutan, distressed, khawatir, prihatin

2.5 PENATALAKSANAAN KECEMASAN


Menurut Hawari (2008) penatalaksanaan asietas pada tahap pencegahaan dan terapi
memerlukan suatu metode pendekatan yang bersifat holistik, yaitu mencangkup fisik (somatik),
psikologik atau psikiatrik, psikososial dan psikoreligius. Selengkpanya seperti pada uraian
berikut :
1. Upaya meningkatkan kekebalan terhadap stress, dengan cara :
a. Makan makanan yang berigizi dan seimbang
b. Tidur yang cukup

7
c. Olahraga yang teratur
d. Tidak merokok dan tidak minum minuman keras
2. Terapi psikofarmaka
Terapi psikofarmaka yang sering dipakai adalah obat anti cemas (anxiolytic), yaitu
seperti diazepam, clobazam, bromazepam, lorazepam, buspirone HCl, meprobamate dan
alprazolam.
3. Terapi somatik
Gejala atau keluhan fisik (somatik) sering dijumpai sebagai gejala ikutan atau akibat dari
kecemasan yang bekerpanjangan. Untuk menghilangkan keluhan-keluhan somatik (fisik) itu
dapat diberikan obat-obatan yang ditujukan pada organ tubuh yang bersangkutan.
4. Psikoterapi
Psikoterapi diberikan tergantung dari kebutuhan individu, antara lain
a. Psikoterapi suportif
b. Psikoterapi re-edukatif
c. Psikoterapi re-konstruktif
d. Psikoterapi kognitif
e. Psikoterapi psikodinamik
f. Psikoterapi keluarga
5. Terapi psikoreligius
Untuk meningkatkan keimanan seseorang yang erat hubungannya dengan kekebalan dan
daya tahan dalam menghadapi berbagai problem kehidupan yang merupakan stressor psikososial.

2.6. ASUHAN KEPERAWATAN


A. PENGKAJIAN.
1. Faktor Predisposisi.
Berbagai teori telah dikembangkan untuk menjelaskan asal ansietas :
a. Teori Psikoanalitik.
Ansietas adalah konflik emosional yang terjadi antara dua elemen kepribadian, ID dan superego.
ID mewakili dorongan insting dan impuls primitif seseorang, sedangkan superego mencerminkan
hati nurani seseorang dan dikendalikan oleh norma- norma budaya seseorang. Ego atau Aku,
berfungsi menengahi hambatan dari dua elemen yang bertentangan dan fungsi ansietas adalah
mengingatkan ego bahwa ada bahaya.
b. Teori Interpersonal.
Ansietas timbul dari perasaan takut terhadap tidak adanya penerimaan dari hubungan
interpersonal. Ansietas juga berhubungan dengan perkembangan, trauma seperti perpisahan dan
kehilangan sehingga menimbulkan kelemahan spesifik. Orang dengan harga diri rendah mudah
mengalami perkembangan ansietas yang berat.
c. Teori Perilaku.
Ansietas merupakan produk frustasi yaitu segala sesuatu yang mengganggu kemampuan
seseorang untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Daftar tentang pembelajaran meyakini bahwa

8
individu yang terbiasa dalam kehidupan dininya dihadapkan pada ketakutan yng berlebihan lebih
sering menunjukkan ansietas pada kehidupan selanjutnya.
d. Kajian Keluarga.
Menunjukkan bahwa gangguan ansietas merupakan hal yang biasa ditemui dalam suatu keluarga.
Ada tumpang tindih dalam gangguan ansietas dan antara gangguan ansietas dengan depresi.
e. Kajian Biologis.
Menunjukkan bahwa otak mengandung reseptor khusus benzodiazepine. Reseptor ini mungkin
membantu mengatur ansietas penghambat dalam aminobutirik. Gamma neuroregulator (GABA)
juga mungkin memainkan peran utama dalam mekanisme biologis berhubungan dengan ansietas
sebagaimana halnya endorfin. Selain itu telah dibuktikan kesehatan umum seseorang mempunyai
akibat nyata sebagai predisposisi terhadap ansietas. Ansietas mungkin disertai dengan gangguan
fisik dan selanjutnya menurunkan kapasitas seseorang untuk mengatasi stressor.

2. Faktor Presipitasi.
Stressor pencetus mungkin berasal dari sumber internal atau eksternal. Stressor pencetus dapat
dikelompokkan menjadi 2 kategori :
a. Ancaman terhadap integritas seseorang meliputi ketidakmampuan fisiologis yang
akan datang atau menurunnya kapasitas untuk melakukan aktifitas hidup sehari- hari.
b. Ancaman terhadap sistem diri seseorang dapat membahayakan identitas, harga
diri dan fungsi sosial yang terintegrasi seseorang.

3. Perilaku.
Kecemasan dapat diekspresikan secara langsung melalui perubahan fisiologi dan perilaku dan
secara tidak langsung melalui timbulnya gejala atau mekanisme koping dalam upaya melawan
kecemasan. Intensietas perilaku akan meningkat sejalan dengan peningkatan tingkat kecemasan.

Sistem Tubuh Respons


Kardiovaskuler Palpitasi.
Jantung berdebar.
Tekanan darah meningkat dan denyut nadi menurun.
Rasa mau pingsan dan pada akhirnya pingsan.
Pernafasan Napas epat.
Pernapasan dangkal.
Rasa tertekan pada dada.
Pembengkakan pada tenggorokan.
Rasa tercekik.
Terengah-engah.
Neuromuskular Peningkatan reflek.
Reaksi kejutan.
Insomnia.

9
Ketakutan.
Gelisah.
Wajah tegang.
Kelemahan secara umum.
Gerakan lambat.
Gerakan yang janggal.
Gastrointestinal Kehilangan nafsu makan.
Menolak makan.
Perasaan dangkal.
Rasa tidak nyaman pada abdominal.
Rasa terbakar pada jantung.
Nausea.
Diare.
Perkemihan Tidak dapat menahan kencing.
Sering kencing.
Kulit Rasa terbakar pada mukosa.
Berkeringat banyak pada telapak tangan.
Gatal-gatal.
Perasaan panas atau dingin pada kulit.
Muka pucat dan bekeringat diseluruh tubuh.

Tabel 1. Respon Fisiologis Terhadap Ansietas.

Sistem Respons
Perilaku Gelisah.
Ketegangan fisik.
Tremor.
Gugup.
Bicara cepat.
Tidak ada koordinasi.
Kecenderungan untuk celaka.
Menarik diri.
Menghindar.
Terhambat melakukan aktifitas.
Kognitif Gangguan perhatian.
Konsentrasi hilang.
Pelupa.
Salah tafsir.
Adanya bloking pada pikiran.
Menurunnya lahan persepsi.

10
Kreatif dan produktif menurun.
Bingung.
Khawatir yang berlebihan.
Hilang menilai objektifitas.
Takut akan kehilangan kendali.
Takut yang berlebihan.
Afektif Mudah terganggu.
Tidak sabar.
Gelisah.
Tegang.
Nerveus.
Ketakutan.
Alarm.
Tremor.
Gugup.
Gelisah.

Tabel 2. Respon Perilaku Kognitif.


4. Sumber Koping.
Individu dapat mengalami stress dan ansietas dengan menggerakkan sumber koping
tersebut di lingkungan. Sumber koping tersebut sebagai modal ekonomok, kemampuan
penyelesaian masalah, dukungan sosial dan keyakinan budaya dapat membantu seseorang
mengintegrasikan pengalaman yang menimbulkan stress dan mengadopsi strategi koping yang
berhasil.
5. Mekanisme Koping.
Ketika mengalami ansietas individu menggunakan berbagai mekanisme koping untuk
mencoba mengatasinya dan ketidakmampuan mengatasi ansietas secara konstruktif merupakan
penyebab utama terjadinya perilaku patologis. Ansietas tingkat ringan sering ditanggulangi tanpa
yang serius.
Tingkat ansietas sedang dan berat menimbulkan 2 jenis mekanisme koping:
a. Reaksi yang berorientasi pada tugas, yaitu upaya yang disadari dan berorientasi pada tindakan
untuk memenuhi secara realitis tuntutan situasi stress.
b. Mekanisme pertahanan ego, membantu mengatasi ansietas ringan dan sedang, tetapi jika
berlangsung pada tingkat sadar dan melibatkan penipuan diri dan distorsi realitas, maka
mekanisme ini dapat merupakan respon maladaptif terhadap stress.
Sebuah sumber menjelaskan bahwa Ada dua mekanisme koping yang dikategorikan untuk
mengatasi ansietas :
a. Reaksi yang berorientasi pada tugas (Task Oriented Reaction).
Merupakan pemecahan masalah secara sadar digunakan untuk menanggulangi ancaman stressor
yang ada secara realistis, yaitu :

11
1) Perilaku menyerang (agresif).
Biasanya digunakan individu untuk mengatasi rintangan agar memenuhi kebutuhan.
2) Perilaku menarik diri.
Digunakan untuk menghilangkan sumber ancaman baik secara fisik maupun secara psikologis.
3) Perilaku kompromi.
Digunakan untuk mengubah tujuan-tujuan yang akan dilakukan atau mmengorbankan kebutuhan
personal untuk mencapai tujuan.
b. Mekanisme pertahanan ego (Ego Oriented Reaction).
Mekanisme pertahanan Ego membantu mengatasi ansietas ringan maupun sedang yang
digunakan untuk melindungi diri dan dilakukan secara tidak sadar untuk mempertahankan
ketidakseimbangan.
Adapun mekanisme pertahanan Ego adalah :
1) Kompensasi.
Adalah proses dimana seseorang memperbaiki penurunan citra diri dengan secara tegas
menonjolkan keistimewaan/kelebihan yang dimilikinya.
2) Penyangkalan (Denial).
Menyatakan ketidaksetujuan terhadap realitas dengan mengingkari realitas tersebut. Mekanisme
pertahanan ini paling sederhana dan primitif.
3) Pemindahan (Displacemen).
Pengalihan emosi yag semula ditujukan pada seseorang/benda tertentu yang biasanya netral atau
kurang mengancam terhadap dirinya.
4) Disosiasi
Pemisahan dari setiap proses mental atau prilaku dari kesadaran atau identitasnya.
5) Identifikasi (Identification).
Proses dimana seseorang mencoba menjadi orang yang ia kagumi dengan mengambil/menirukan
pikiran-pikiran,prilaku dan selera orang tersebut.
Intelektualisasi (Intelektualization).
6) Penggunaan logika dan alasan yang berlebihan untuk memghindari pengalaman yang
mengganggu perasaannya.
7) Introjeksi (Intrijection).
Mengikuti norma-norma dari luar sehingga ego tidak lagi terganggu oleh ancaman dari luar
(pembentukan superego)
8) Fiksasi.
Berhenti pada tingkat perkembangan salah satu aspek tertentu (emosi atau tingkah laku atau
pikiran)s ehingga perkembangan selanjutnya terhalang.
9) Proyeksi.
Pengalihan buah pikiran atau impuls pada diri sendiri kepada orang lain terutama keinginan.
Perasaan emosional dan motivasi tidak dapat ditoleransi.

12
10) Rasionalisasi.
Memberi keterangan bahwa sikap/tingkah lakunya menurut alasan yang seolah-olah
rasional,sehingga tidak menjatuhkan harga diri.
11) Reaksi formasi.
Bertingkah laku yang berlebihan yang langsung bertentangan dengan keinginan-
keinginan,perasaan yang sebenarnya.
12) Regressi.
Kembali ketingkat perkembangan terdahulu (tingkah laku yang primitif), contoh; bila keinginan
terhambat menjadi marah, merusak, melempar barang, meraung, dsb.
13) Represi.
Secara tidak sadar mengesampingkan pikiran, impuls, atau ingatan yang menyakitkan atau
bertentangan, merupakan pertahanan ego yang primer yang cenderung diperkuat oleh mekanisme
ego yang lainnya.
14) Acting Out.
Langsung mencetuskan perasaan bila keinginannya terhalang.
15) Sublimasi.
Penerimaan suatu sasaran pengganti yang mulia artinya dimata masyarakat untuk suatu dorongan
yang mengalami halangan dalam penyalurannya secara normal.
16) Supresi.
Suatu proses yang digolongkan sebagai mekanisme pertahanan tetapi sebetulnya merupakan
analog represi yang disadari;pengesampingan yang disengaja tentang suatu bahan dari kesadaran
seseorang;kadang-kadang dapat mengarah pada represif berikutnya.
17) Undoing.
Tindakan/perilaku atau komunikasi yang menghapuskan sebagian dari tindakan/perilaku atau
komunikasi sebelumnya merupakan mekanisme pertahanan primitif.

B. DIAGNOSA.
Adapun diagnosa yang biasanya muncul pada kecemasan adalah :
1. Penyelesaian kerusakan.
2. Kecemasan.
3. Pola napas tidak efektif.
4. Koping individu tidak efektif.
5. Diam.
6. Gangguan pembagian bidang energi.
7. Ketakutan.
8. Inkontinensial.
9. Stres.
10. Cedera resiko terhadap......
11. Perubahan nutrisi.
12. Respon pasca trauma.

13
13. Ketidakberdayaan.
14. Gangguan harga diri.
15. Gangguan pola tidur.
16. Isolasi sosial.
17. Perubahan proses berfikir.
18. Gangguan eliminasi urine.

C. INTERVENSI.
Tujuan umum : Klien akan mengurangi ansietasnya dari tingkat ringan hingga panik.
Tujuan khusus :
Klien mampu untuk ;
Membina hubungan saling percaya.
Melakukan aktifitas sehari-hari.
Mengekspresikan dan mengidentifikasi tentang kecemasannya.
Mengidentifikasi situasi yang menyebabkan ansietas.
Meningkatkan kesehatan fisik dan kesejahteraannya.
Klien terlindung dari bahaya.

1. Ansietas Ringan.
Deskripsi Batasan Karakter Intervensi
Ansietas ringan adalah a) Tidak nyaman. a) Gerakan tidak tenang
ansietas normal dimana b) Gelisah. b) Perhatikan tanda
motivasi individu pada c) Insomnia ringan peningkatan ansietas
keseharian dalam batas d) Perubahan nafsu makan c) Bantu klien
kemampuan untuk ringan menyalurkan energi secara
melakukan dan e) Peka konstruktif
memecahkan masalah f) Pengulangan d) Gunakan obat bila
meningkat. pertanyaan perlu
g) Perilaku mencari e) Dorong pemecahan
perhatian masalah
h) Peningkatan f) Berikan informasi
kewaspadaan akurat dan fuktual
i) Peningkatan persepsi g) Sadari penggunaan
pemecahan masalah mekanisme pertahanan
j) Mudah marah. h) Bantu dalam
mengidentifikasi
keterampilan koping yang
berhasil
i) Pertahankan cara yang
tenang dan tidak terburu

14
j) Ajarkan latihan dan
tehnik relaksasi

2. Ansietas Sedang.
Deskripsi Batasan Karakter Intervensi
Ansietas sedang adalah a) Perkembangan dari a) Pertahankan sikap
cemas yang mempengaruhi ansietas ringan tidak tergesa-gesa, tenang
pengetahuan baru dengan b) Perhatian terpilih dari bila berurusan dengan klien
penyempitan lapangan lingkungan b) Bicara dengan sikap
persepsi sehngga individu c) Konsentrasi hanya pada tenang, tegas meyakinkan
kehilangan pegangan tetapi tugas-tugas individu c) Gunakan kalimat yang
dapat mengikuti d) Suara bergetar pendek dan sederhana
pengarahan orang lain. e) Ketidaknyamanan d) Hindari menjadi
jumlah waktu yang cemas, marah, dan melawan
digunakan e) Dengarkan klien
f) Takipnea f) Berikan kontak fisik
g) Takikardia dengan menyentuh lengan
h) Perubahan dalam nada dan tangan klien
suara g) Anjurkan klien
i) Gemetaran menggunakan tehnik
j) Peningkatan relaksasi
ketegangan otot h) Ajak klien untuk
k) Menggigit kuku, mengungkapkan
memukul-mukulkan jari, perasaannya
menggoyangkan kaki dan i) Bantu klien mengenali
mengetukkan jari kaki dan menamai ansietasnya

3. Ansietas Berat
Deskripsi Batasan Karakter Intervensi
Pada ansietas berat a) Perasaan terancam a) Isolasi klien dalam
lapangan persepsi menjadi b) Ketegangan otot yang lingkungan yang aman dan
sangat menurun. Individu berlebihan tenang
cenderung memikirkan hal c) Diaforesis b) Biarkan perawatan dan
yang sangat kecil saja dan d) Perubahan pernapasan kontak sering sampai
mengabaikan hal yang lain. e) Napas panjang konstan
Individu tidak mampu f) Hiperventilasi c) Berikan obat-obatan
berfikir realistis dan g) Dispnea klien melakukan hal untuk

15
membutuhkan banyak h) Pusing dirinya sendiri
pengarahan, untuk dapat i) Perubahan d) Observasi adanya
memusatkan pada daerah gastrointestinalis tanda-tanda peningkatan
lain. j) Mual muntah agitasi.
k) Rasa terbakar pada ulu e) Jangan mennyentuh
hati klien tanpa permisi
l) Sendawa f) Yakinkan klien bahwa
m) Anoreksia dia aman
n) Diare atau konstipasi g) Kaji keamanan dalam
o) Perubahan lingkungan sekitarnya
kardivaskuler
p) Takikardia
q) Palpitasi
r) Rasa tidak nyaman
pada prekokardia
s) Berkurangnya jarak
persepsi secara berat
t) Ketidakmampuan
untuk berkonsentrasi
u) Rasa terbakar
v) Kesulitan dan
ketidaktepatan
pengungkapan
w) Aktivitas yang tidak
berguna
x) Bermusuhan

4. Panik.
Deskripsi Batasan Karakter Intervensi
Adalah tingkat dimana a) Hiperaktif / imobilitasi
a) Tetap bersama klien ;
individu berada pada berat minta bantuan
bahaya terhadap diri sendiri b) Rasa terisolasi yang b) Jika mungkin
dan orang lain serta dapat ekstrim hilangkan beberapa stressor
menjadi diam atau c) Kehilangan fisik dan psikologisdari
menyerang dengan cara desintegrasi kepribadian lingkungan
kacau. d) Sangat goncang dan c) Bicara dengan tenang,
otot-otot tegang sikap meyakinkan,
e) Ketidakmampuan menggunakan nada suara
untuk berkomunikasi dengan yang rendah
kalimat yang lengkap d) Katakan pada klien

16
f) Distori persepsi dan bahwa anda (staf) tidak
penilaian yang tidak realistis akan membahayakan
terhadap lingkungan dan dirinya sendiri atau orang
ancaman lain
g) Perilaku kacau dalam e) Isolasikan klien pada
usaha melarikan diri daerah yang aman dan
h) Menyerang nyaman
f) Lanjut dengan
perawatan ansietas berat

17
BAB III
TINJAUAN KASUS

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN K


DENGAN GANGGUAN ALAM PERASAAN : KECEMASAN

PENGKAJIAN
I. IDENTITAS KLIEN

Inisial : K
Jenis kelamin : Laki-laki
Umur : 55 tahun
Informan : Tn. M
Tanggal Masuk RS : 7 Agustus 2017
Tanggal pengkajian : 8 Agustus 2017
Nomor registrasi : 00 57 83

II. ALASAN MASUK


Klien datang dengan keluhan nyeri pada perutnya, tidak mau makan kurang lebih selama 2
minggu. BAB warna hitam dan sedikit-sedikit, BAK sedikit warna seperti teh.
Saat Pengkajian :
Klien mengatakan merasa cemas dengan keadaannya. Klien mengatakan tidak pernah
menderita penyakit seperti yang dialaminya sekarang. Klien takut dengan kondinya saat ini.
Masalah Keperawatan : Gangguan alam perasaan : Kecemasan

III. FAKTOR PREDISPOSISI


1) Faktor perkembangan
Klien mengatakan tidak pernah menderita penyakit yang sama seperti ini sebelumnya.
2) Faktor komunikasi dalam keluarga
Komunikasi antar anggota keluarga baik, saat mempunyai masalah, klien sering
menceritakannya kepada anggota keluarganya yang lain terutama istrinya.
3) Faktor psikologis
Klien termasuk tipe orang yang terbuka, dan tidak merasa dirinya tidak berharga walaupun sudah
memasuki usia lanjut.
4) Faktor genetik
Dalam keluarga tidak ada yang menderita penyakit yang sama dengan klien.

FAKTOR PRESIPITASI

18
1) Faktor sosial budaya
Klien tidak mempunyai hambatan dengan sosial budayanya.
2 Faktor biokimia
Adanya rasa kawatir karena penyakitnya sekarang karena belum pernah mengalami sama sekali
sebelumnya.
3) Faktor psikologis
Adanya masalah yang tidak hilang-hilang. Dimana klien merasa cemas dengan masalahnya

PEMERIKSAAN FISIK
1. Tanda-tanda Vital TD : 120 / 80 mmHg N : 80 x/mt S : 36,4o C P: 22x/mt
2. Ukur TB :168 cm BB: 59 kg (^) turun ( )naik
3. Keluhan Fisik (^) ya () tidak
Klien mengatakan nafsu makan menurun sejak 2 minggu yang lalu. Klien baru merasakan
mual dari kemarin. Mukosa bibir klien lembab. Bentuk bibir normal, rongga mulut bersih. Klien
mengatakan biasa gosok gigi 2x sehari. Klien merasa tidak enak pada ulu hatinya,dan terasa
berdebar-debar jantungnya. Klien mengatakan BAB 1x sehari sedikit-sedikit dengan konsistensi
lembek, berwarna hitam, dan bau khas feses.
Masalah Keperawatan : Gangguan rasa nyaman; mual

IV. PSIKOSOSIAL
1. Genogram

Keterangan:

19
Klien adalah anak kedua dari tiga bersaudara. Klien berumur 55 tahun. Klien sudah menikah dan
memiliki 3 orang anak. Klien tinggal serumah dengan istrinya (namun dalam bagan tidak
dijelaskan). Hubungan klien dengan keluarganya terjalin dengan erat dan sangat baik. Orang
yang terdekat dengan klien adalah istrinya.

2. Konsep Diri
a. Citra tubuh
Klien senang dengan keadaan tubuhnya dari rambut sampai ujung kaki. Klien juga mengatakan
tidak mempunyai bagian tubuh yang tidak disukai.
b. Identitas diri
Klien bekerja sebagai petani di sawahnya yang terletak di belakang rumahnya. Biasanya klien
menghabiskan waktu luangnya dengan bertani, menonton TV dan berbincang-bincang dengan
anak dan istrinya.
c. Peran diri
Klien berperan sebagai suami dan ayah bagi anak-anaknya. Klien mengatakan sudah menjadi
kakek mengurusi cucu-cucunya.
d. Ideal diri
Klien mengatakan bercita-cita untuk bisa menyekolahkan anaknya setinggi-tingginya. Keempat
anaknya sudah tamat SLTA dan sudah bekerja.
e. Harga diri
Klien merasa tidak ada masalah dalam berhubungan dengan keluarga dan orang lain.

3. Hubungan sosial
Klien memiliki orang yang berarti dalam kehidupannya yaitu istrinya. Klien berkata jika ada
masalah, klien akan menceritakan kepada istri dan anaknya pasti akan membantu memecahkan
masalah yang dialami klien. Klien suka mengikuti kegiatan gotong-royang di daerah rumahnya.

20
4. Spiritual
Klien beragama Hindu dan yakin dengan adanya Tuhan Yang Maha Esa/Ida Sang Hyang Widhi
Wasa. Klien rajin sembahyang setiap hari dan selalu mengikuti upacara keagamaan dirumah.
Klien tidak mempunyai keyakinan yang berlebih terhadap agama yang dianutnya.

V. STATUS MENTAL
1. Penampilan
Klien berpenampilan rapi, pakaian yang digunakan sesuai dengan tempatnya. Rambut klien
tersisir rapi.
2. Pembicaraan
Klien berbicara dengan jelas dan menjawab pertanyaan yang diberikan dengan tepat, selama
proses wawancara klien berbicara mengenai satu topik dengan jelas.
3. Aktivitas motorik
Saat wawancara klien nampak tenang dalam berbicara, tidak ada gerakan yang diulang-ulang
ataupun gemetar. Namun saat membicarakan penyakitnya klien tampak sedikit cemas
4. Alam perasaan
Klien tidak menunjukkan ekspresi yang berlebihan saat sedih maupun gembira. Klien terlihat
senang saat menceritakan pengalamannya yang menyenangkan.
5. Afek
Dari hasil observasi afek yang ditunjukkan klien sesuai dengan stimulus yang diberikan.
6. Interaksi selama wawancara
Selama proses wawancara, klien mau menjawab pertanyaan perawat. Kontak mata klien bagus
dan klien menatap wajah perawat saat wawancara dan mau menjawab pertanyaan perawat
dengan panjang lebar.
7. Persepsi
Klien mengatakan tidak pernah mengalami halusinasi.
8. Proses pikir
Selama wawancara, pembicaraan klien singkat dan tidak berbelit-belit, tidak diulang berkali-kali,
dan ada hubungannya antara satu kalimat dengan kalimat lainnya dalam satu topik.
9. Isi pikir
Klien mengatakan tidak mengalami gangguan isi pikir.
10. Tingkat kesadaran
Klien menyadari bahwa dia sedang berada di rumahnya, klien juga sadar dan mengenal dengan
siapa dia berbicara dan lingkungannya. Tingkat kesadaran klien terhadap waktu, orang dan
tempat jelas.
11. Memori
Klien dapat mengingat peristiwa yang terjadi pada dirinya baik di masa lalu
maupun ini. Klien juga ingat ketika ditanyakan apakah tadi klien sudah makan
atau belum. Klien tidak pernah mengalami gangguan daya ingat baik jangka

21
panjang maupun jangka pendek.
12. Tingkat konsentrasi dan berhitung
Selama wawancara, konsentrasi klien baik dan fokus terhadap apa yang
ditanyakan. Klien bersekolah hanya sampai tingkat SD, klien mampu untuk
menjawab hitungan sederhana.
13. Kemampuan penilaian
Saat diberikan pilihan seperti apakah klien mendahulukan kegiatan merapikan
tempat tidur atau menyapu. Klien memilih merapikan tempat tidur terlebih dahulu
karena kata klien itu juga lebih mendesak.
14. Daya tilik diri
Klien mengetahui penyakit yang dideritanya.

VII. PERSIAPAN PULANG


1. Makan dan minum
Klien makan 3 kali sehari dengan porsi makan habis, jenis makanan nasi, sayur, lauk-pauk, klien
dapat makan tanpa bantuan.
Masalah keperawatan : Tidak ditemukan masalah

2. BAB/BAK
Klien dapat BAB dan BAK sendiri di kamar mandi tanpa bantuan
Masalah keperawatan : Tidak ditemukan masalah

3. Mandi
Klien mandi secara mandiri, mandi 2x sehari. Klien mandi menggunakan sabun, shampoo, dan
juga sikat gigi.
Masalah keperawatan : tidak ditemukan masalah

4. Berpakaian/Berhias
Klien dapat mengganti pakaian secara mandiri tanpa bantuan orang lain. Klien menggunakan
baju dengan benar.

5. Istirahat dan Tidur


Klien mengatakan tidur nyanyak , namun terkadang klien terbangun karena diganggu pasien lain.
Masalah keperawatan : Tidak ditemukan masalah

6. Penggunaan Obat
Selama perawatan klien mendapat pengobatan secara teratur, obat diberikan oleh perawat dan
harus di tunggu untuk memastikan obatnya diminum oleh klien
Masalah keperawatan : Tidak ditemukan masalah

22
7. Pemeliharaan Kesehatan
Perawatan lanjut : (^) ya ( ) tidak
Perawatan pendukung : (^) ya ( ) tidak

8. Kegiatan di Dalam Rumah


Klien mengatakan ingin berkumpul dengan keluarga di rumah
Masalah keperawatan : Tidak Ditemukan Masalah

9. Kegiatan di luar rumah


Klien mengatakan bila sudah pulang ingin bekerja.
Masalah keperawatan : Tidak ditemukan masalah

VIII. MEKANISME KOPING


Klien mengatakan setiap mempunyai masalah selalu menceritakannya kepada keluarganya.
Masalah keperawatan: Tidak ditemukan Masalah

IX. MASALAH PSIKOSOSIAL DAN LINGKUNGAN


Klien mengatakan ingingin berkumpul dengan keluarga, ingin mengikuti kegiatan-kegiatan
sosial di daerah rumahnya. Klien mengatakan lebih nyaman di rumah daripada di RS. Klien
mengatakan perawat di RS baik dan tidak ada masalah
Masalah keperawatan : Tidak ditemukan masalah

X. KURANG PENGETAHUAN TENTANG

Klien mengatakan sudah mengetahui obat yang diminum, baik bentuk, warna, dan manfaat obat
tersebut. Klien menyebutkan ada 9 macam jumlah obat yang diminum.
Masalah keperawatan : Tidak ditemukan Masalah

XI. ASPEK MEDIS


Diagnosa medis klien adalah : CKD std IV + Dispepsia
Therapi obat:
-Baxima 21 -Letonal 21
-Ranitidine 31 -Hepamax 31
-Neurosanbe 11 -Tonar 21
-Zibac 21 -Opilac 31
-Sanmag 31

XII. ANALISA DATA

23
No DATA MASALAH

1. DS :
- Klien mengatakan merasa cemas dengan
keadaannya
Kecemasan
DO :

- Wajah klien tampak takut


- Klien tampak gelisah
2. DS :

- Klien mengatakan baru merasakan mual


dari kemarin
Gangguan rasa nyaman
- Klien mengeluh nyeri pada perutnya, tidak
mau makan kurang lebih selama 2 minggu.
DO :

- Klien tampak pucat


- BAB klien warna hitam dan sedikit-sedikit,
BAK sedikit warna seperti teh.
- Klien tampak hanya menghabiskan porsi
makannya
3. DS :

- Klien mengatakan takut akan kondisinya


saat ini
Ketakutan
DO :

- Klien tampak gelisah dan berkeringat


- Wajah klien tampak ketakutan

XIII. DAFTAR MASALAH


1. Kecemasan
2. Ketakutan
3. Gangguan rasa nyaman

XIV. POHON MASALAH

24
XV. DAFTAR DIAGNOSA
a. Kecemasan
b. Ketakutan
c. Gangguan Rasa Nyaman

XVI. RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN


Inisial Klien : K
Ruang : Cendrawasih

25
Hari/tgl/ No
jam Dx Tujuan Intervensi Rasional
Rabu, 8 1 1 TUM : Klien mampu Sp 1 Pembinaan
Agustus 2 mengurangi dan mengontrol Bina hubungan saling percaya hubungan saling
2017 kecemasannya. dengan : percaya
- Sapa klien dengan ramah baik merupakan dasar
10.00 TUK : verbal maupun non verbal terjalinnya
WIB 1) Setelah diberikan askep - Perkenalkan diri dengan sopan. komunikasi
selama 2 kali pertemuan - Tanyakan nama lengkap klien terbuka sehingga
(tiap pertemuan 20 menit) dan nama panggilan yang meningkatkan
diharapkan klien membina disukai. rasa komunikasi
hubungan saling percaya - Jelaskan tujuan pertemuan. klien.
dengan KH : - Jujur dan menepati janji
- Wajah klien cerah dan - Tunjukkan sikap empati dan
tersenyum menerima klien apa adanya.
- Klien mau membalas
salam.
- Klien mau menyebutkan
nama sambil berjabat tangan
dan ada kontak mata
- Klien bersedia
menceritakan perasaannya

26
TUK : - Adakan kontak sering dan Dapat
2) Klien dapat singkat secara bertahap. mengetahui
mengidentifikasi dan - Bantu klien untuk kapan klien
menggambarkan perasaan mengidentifikasi dan mengalami
tentang kecemasannya menggambarkan perasaan yang kecemasan.
dengan KH : mendasari kecemasannya. Untuk
- Klien dapat menyebutkan - Kaitkan perilaku klien dengan mengadopsi
waktu, isi, frekuensi perasaan tersebut koping yang
timbulnya kecemasan. - Gunakan pertanyaan terbuka baru, klien
- Klien dapat beralih dari topik yang tidak pertama kali
mengungkapkan mengancam ke isu konflik harus menyadari
perasaannya terhadap - Gunakan konfrontasi yang perasaan dan
kecemasannya. suportif dengan bijaksana. mengatasi
- Bantu klien menggambarkan penyangkalan
TUK : 3) Klien dapat situasi dan interaksi yang yang disadari
mengidentifikasi penyebab mendahului kecemasan. atau tidak
kecemasannya dengan KE : - Tinjau penilaian terhadap disadari
- Klien dapat menceritakan stresor, nilai-nilai yang Mengetahui cara
penyebab kecemasan terancam dan cara konflik yang terbaik
- Klien dapat menyebutkan berkembang untuk
tindakan yang biasanya - Hubungkan pengalaman klien mengontrol
dilakukan untuk saat ini dengan pengalaman kecemasan
mengendalikan yang relevan dengan masa lalu.
kecemasannya. - Identifikasi bersama klien
- Klien dapat memilih cara cara / tindakan yang dilakukan
mengatasi kecemasannya. jika terjadi kecemasan.
- Diskusikan cara baru untuk
memutus / mengontrol
timbulnya kecemasan
- Bantu klien dalam menilai
kembali nilai, sifat, dan arti
stresor pada saat yang tepat.

XVII. TINDAKAN KEPERAWATAN

No. IMPLEMENTASI paraf EVALUASI tgl paraf


1. Kamis, 9 Agustus 2017 pukul 10.00 S: klien 9 Okt
10.30 perawat - Saya sudah bisa mengontrol 2014 perawat
Anes kecemasan saya Anes
Data klien: O: Klien

27
-Klien mengatakan merasa cemas - Mampu mengontrol
dengan keadaannya kecemasannya
-Saat berinteraksi klien merespon - Wajah klien berseri
perawar, ada kontak mata. Klien tampak - kontak mata (+),
gelisah dengan kondisinya
Diagnosis Keperawatan : A: Klien mampu menyebutkan cara
Gangguan Psikososial : Kecemasan mengontrol kecemasan
P: Klien melakukan cara berikutnya
Tindakan Keperawatan: untuk mengontrol kecemasan (2
Klien : kali dalam sehari tiap 20 menit)
Membina hubungan saling percaya
Membantu klien menggambarkan
situasi dan interaksi yang mendahului
kecemasan____________________
Diskusikan cara baru untuk memutus /
mengontrol timbulnya kecemasan

28
BAB IV
PENUTUP

4.1 KESIMPULAN
Kecemasan dapat didefininisikan suatu keadaan perasaan keprihatinan, rasa gelisah,
ketidak tentuan, atau takut dari kenyataan atau persepsi ancaman sumber aktual yang tidak
diketahui atau dikenal (Stuart and Sundeens, 1998).
Kecemasan mungkin hadir pada beberapa tingkat dalam kehidupan setiap individu, tetapi
derajat dan frekuensi dengan yang memanifestasikan berbeda secara luas. Respon masing-
masing individu memiliki kecemasan berbeda. Tepi emosional yang memprovokasi kecemasan
untuk merangsang kreativitas atau kemampuan pemecahan masalah, yang lainnya dapat menjadi
bergerak ke tingkat patologis.
Kecemasan terdiri dari beberapa tingkat yaitu ansietas ringan, ansietas sedang, ansietas
berat, dan panik.

4.2 SARAN
Keperawatan jiwa adalah masalah-masalah yang sangat serius dan diansangat penting. Masalah
masalah tersebut dapat dianggap ancaman atau tantangan yang akan berdampak besar pada
keperawatan jiwa baik dalam tatanan regional maupun global. Sikap yang positif terhadap diri
sendiri, tumbuh kembang , aktualisasi diri, keutuhan, kebebasan diri sangat diperlukan untuk
dimiliki oleh setiap individu.

Bagi pembaca pengontrolan emosi sangat harus diperhatikan, Karena dapat memberikan dampak
yang positif dan negatif. Jiwa dan diri anda sangatlah berharga.

29
DAFTAR PUSTAKA

Hawari, D., 2008, Manajemen Stres Cemas dan Depresi, Jakarta : Balai Penerbit FKUI.
Mansjoer, A., 1999, Kapita Selekta Kedokteran, Edisi 3, Jilid 1, Jakarta : Penerbit Aesculapius.

Nurjannah, I., 2004, Pedoman Penanganan Pada Gangguan Jiwa Manajemen, Proses Keperawatan dan
Hubungan Terapeutik Perawat-Klien, Yogyakarta : Penerbit MocoMedia
Stuart, G.W., dan Sundden, S.J., 1995, Buku Saku Keperawatan Jiwa, Edisi 3, Jakarta : EGC.
Sulastri, S.Kep. 2013. Keperawatan Kesehatan Jiwa

30