Anda di halaman 1dari 45

TUBERKULOSIS

Makalah Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah


Farmakoterapi dan Terminologi Medik

DISUSUN OLEH :

1. Adella Febriana Mufliha (1061711002)

2. Desy Ayuarisca Pratiwi (1061711028)

3. Listiana Puspita Dewi (1061711066)

PROGRAM STUDI PROFESI APOTEKER


SEKOLAH TINGGI ILMU FARMASI YAYASAN PHARMASI SEMARANG
2017
BAB I

PENDAHULUAN

Tuberkulosis, MTB atau TB merupakan penyakit menular yang umum dan

dalam banyak kasus bersifat mematikan.Tuberculosis menyebar melalui udara ketika

seseorang dengan infeksi TB aktif batuk, bersin atau menyebarkan butiran ludah

mereka melalui udara. Infeksi TB umumnya bersifat asimtomatik dan laten.

Tuberkulosis adalah suatu penyakit infeksi yang disebabkan oleh

Mycobacterium tuberculosis dan bersifat menular (Christian,2009; Storla, 2009).

Kuman ini biasanya menyerang paru-paru (TB paru), tetapi dapat menyerang organ-

organ tubuh lainnya (TB Ekstra paru). Kuman tersebut masuk tubuh melalui udara

pernafasan yang masuk ke dalam paru, kemudian kuman menyebar dari paru ke

bagian tubuh lainnya melalui sistem peredaran darah, sistem saluran limfe, melalui

saluran nafas atau penyebaran langsung ke tubuh lainnya (Handayani, 2002).

Penyakit TB biasanya menular melalui udara yang tercemar dengan bakteri

Mikobakterium tuberkulosa yang dilepaskan pada saat penderita batuk, sedangkan

pada anak-anak sumber infeksi umumnya berasal dari penderita TB dewasa. Bakteri

ini sering masuk dan berkumpul di dalam paru-paru dan berkembang biak menjadi

banyak (terutama pada orang dengan daya tahan tubuh yang rendah), dan dapat

menyebar melalui pembuluh darah atau kelenjar getah bening (Castillo,2004).

Untuk pengobatan TBC yang dipakai adalah antibiotik dan anti infeksi sintetis

untuk membunuh kuman Mycobacterium tuberculosis. Jenis obat utama yang

digunakan adalah Rifampisin, INH, Pirazinamid, Streptomisin, Etambutol. Aktivitas


obat anti tuberkulosis didasarkan atas tiga mekanisme, yaitu aktivitas membunuh

bakteri, aktivitas sterilisasi, dan mencegah resistensi (DepKes RI, 2005).

Kepatuhan dari penderita merupakan salah satu kunci keberhasilan pengobatan

Tuberkulosis. Faktor-faktor yang memungkinan terjadinya ketidakpatuhan penderita

selama pengobatan TB antara lain pemakaian obat dalam jangka panjang, jumlah

obat yang diminum cukup banyak serta kurangnya kesadaran dari penderita akan

penyakitnya. Oleh karena itu perlu peran aktif dari tenaga kesehatan sehingga

keberhasilan terapi dapat dicapai (Depkes RI, 2005).


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi

Tuberkulosis adalah penyakit menular yang disebabkan oleh kuman berbentuk

batang (Mycobacterium tuberculosis). Kuman ini biasanya menyerang paru-paru (TB

paru), tetapi dapat menyerang organ-organ tubuh lainnya (TB Ekstra paru). Kuman

tersebut masuk tubuh melalui udara pernafasan yang masukke dalam paru, kemudian

kuman menyebar dari paru ke bagian tubuh lainnya melalui sistem peredaran darah,

sistem saluran limfe, melalui saluran nafas atau penyebaran langsung ke tubuh

lainnya (Handayani, 2002).

Tuberkulosis atau disingkat dengan TB adalah penyakit kronis yang

disebabkan oleh infeksi kompleks Mycobacterium tuberculosis yang ditularkan

melalui dahak dari penderita TB kepada individu lain yang rentan. Penyakit TB dapat

menyerang pada siapa saja (baik pria, wanita, tua, muda, kaya ataupun miskin) serta

dimana saja. TB merupakan penyakit infeksi sistemik yang dapat mengenai hampir

semua organ (DepKes RI, 2005).

2.2 Etiologi Tuberkulosis

Tuberkulosis adalah suatu penyakit menular yang disebabkan oleh kuman dari

kelompok Mycobacterium yaitu Mycobacterium tuberculosis. Terdapat beberapa

spesies Mycobacterium, antara lain : M. Tuberculosis, M. Africanum, M. Bovis, M.

Leprae dsb. yang juga dikenal sebagai Bakteri Tahan Asam (BTA). TBC akan terjadi
jika perkembangbiakan basil TBC ini sudah tidak dapat dikendalikan oleh sel imun

tubuh, akibatnya bersamaan dengan matinya makrofag, basil TBC akan menyebar

kebagian tubuh lain dan menimbulkan infeksi TBC dibagian tubuh yang terkena

(Zumla A., dkk., 2013).

Infeksi TB sangat mudah menular melalui udara. Bakteri TB keluar dan

terhirup kedalam saluran pernafasan orang ketika pasien TB yang aktif bersin dan

batuk. Bakteri TB dapat bertahan di udara selama beberapa jam walaupun bakteri

tersebut cepat mati terkena sinar matahari. Bakteri TB juga dapat menenpel pada

permukaan seperti meja. Ketika kita menyentuh permukaan yang tercemar dengan

TB dan terus memakai tangan untuk makan tanpa cuci tangan bakteri ini dapat

masuk dalam tubuh. TB tidak menular melalui makanan, air, berhubungan seks,

transfusi darah, dan gigitan nyamuk atau serangga lain (Green, 2006).

TB dapat terjadi melalui infeksi primer dan paska primer. Infeksi primer terjadi

saat seseorang terkena bakteri TB untuk pertama kalinya dan timbul peradangan

dialveoli paru-paru. Waktu terjadinya infeksi hingga pembentukan kompleks primer

adalah sekitar 4-6 minggu. Infeksi primer terjadi tanpa gejala serius hanya timbul

batuk dan nafas berbunyi tetapi pada orang-orang dengan sistem kekebalan tubuh

lemah dapat terjadi radang paru-paru hebat dengan ciri-ciri berupa batuk kronik dan

bersifat sangat menular. Infeksi paska primer terjadi setelah beberapa bulan atau

tahun setelah infeksi primer dengan ciri khas kerusakan paru-paru yang luas (DepKes

RI, 2005).
2.3 Patofisiologi

Gambar 1. Patofisiologi TB

Infeksi primer diinisiasi oleh implantasi organisme di alveolar melalui droplet

nuklei yang sangat kecil (1-5 mm) untuk menghindari sel epithelial siliari dari

saluran pernafasan atas. Bila terinplantasi M. Tuberculosis melalui saluran nafas,

mikroorganisme akan membelah diri dan dicerna oleh makrofag pulmoner, dimana

pembelahan diri akan terus berlangsung walaupun lebih pelan. Makrofag yang

teraktivasi dalam jumlah besar akan mengelilingi daerah yang ditumbuhhi M.

Tuberculosis yang padat seperti keju (daerah nekrotik) sebagai bagian dari imunitas

yang dimediasi oleh sel (ISFI, 2002 : 918).

Tuberkulosis merupakan penyakit yang disebabkan oleh masuknya

M.tuberculosis ke dalam sistem respirasi. Kuman ini dibatukkan atau dibersinkan

keluar menjadi droplet nuclei dalam udara sekitar kita. Partikel infeksi ini dapat
menetap dalam udara bebas selama 1-2 jam, tergantung pada ada Makrofag dan

limfosit T bekerja sama untuk mencegah penyebaran infeksi dengan membentuk

granuloma Droplet nuclei disertai M.tuberkulosis terinhalasi, masuk ke paru dan

terdeposit di alveoli.

Apabila terjadi penurunan sistem imun, dinding menjadi kehilangan integritas

dan kuman dapat terlepas lalu menyebar ke alveoli lain dan organ lain tidaknya sinar

ultraviolet, ventilasi yang buruk dan kelembapan. Dalam suasana lembap dan gelap,

kuman dapat tahan berhari-hari sampai berbulan-bulan.Setelah masuk ke paru,

kuman ini dihadapi pertama kali oleh netrofil, kemudian baru oleh makrofag.

Kebanyakan partikel ini akan mati atau dibersihkan oleh makrofag dan keluar dari

percabangan trakeobronkial bersama gerakan silia dan sekretnya.

Interaksi antara kuman dengan reseptor makrofag, yaitu Toll-like receptors

(TLRs) menghasilkan kemokin dan sitokin yang dikenal sebagai sinyal infeksi.Sinyal

ini menyebabkan berpindahnya monosit dan sel dendritik dari aliran darah ke tempat

infeksi pada paru. Sel dendritik memegang peranan penting sebagai presenter antigen

pada fase awal infeksi dibandingkan makrofag serta berperan dalam aktivasi sel T

dengan antigen spesifik dari M. Tuberculosis. Sel dendritik yang menelan kuman

menjadi matur dan bermigrasi ke limfonodi. Fenomena dari migrasi sel menuju focus

infeksi menyebabkan terbentuknya granuloma.

Granuloma dibentuk oleh sel T, makrofag, sel B, sel dendritik, sel endothel dan

sel epitel.Granuloma ini pada dasarnya mencegah penyebaran kuman dalam

makrofag dan menghasilkan respon imun yang berhubungan dengan interaksi antara

sekresi cytokines oleh makrofag dan sel T. Granuloma menjadi sarang kuman dalam
periode yang lama (atau disebut Fokus Ghon). Sarang primer ini dapat terjadi di

setiap bagian jaringan paru.Bila menjalar sampai pleura, maka dapat terjadi efusi

pleura. Kuman juga dapat masuk melalui saluran gastrointestinal, jaringan limfe,

orofaring dan kulit, terjadi limfadenopati regional kemudian kuman masuk ke dalam

vena dan menyebar ke seluruh organ seperti paru, otak, ginjal, dan tulang. Bila

masuk ke arteri pulmonalis maka terjadi penjalaran ke seluruh bagian paru menjadi

TB milier.

Selain itu dapat pula terjadi limfadenitis regional dan limfangitis lokal. Sarang

primer, limfangitis lokal dan limfadenitis regional disebut sebagai Kompleks Primer

(Ranke). Semua proses ini dapat memakan waktu 3-8 minggu. Apabila terjadi

ketidakseimbangan cytokines maka kuman akan terlepas dan terjadi reaktivasi

penyakit.

2.4 Klasifikasi Penyakit

Penentukan klasifikasi penyakit TBC hal ini penting dilakukan untuk

menentukan panduan obat anti tuberkulosis yang sesuai sebelum pengobatan

dimulai. Cara pengklasifikasian penyakit tuberkulosis ada 4 hal yang perlu

diperhatikan yaitu sebagai berikut :

A. Berdasarkan Tempat atau Organ

Berdasarkan tempat atau organ yang diserang oleh bakteri maka tuberkulosis

dibedakan menjadi tuberkulosis paru dan tuberkulosis ekstra paru.


1. Tuberkulosis Paru

Tuberkulosis paru adalah tuberkulosis yang menyerang jaringan parenkim

paru, tidak termasuk pleura (selaput paru). Berdasarkan hasil pemeriksaan dahak, TB

paru dibagi menjadi dua macam yaitu :

a. TB paru BTA positif (sangat menular)

1) Minimal 2-3 spesimen (pemeriksaan) dahak SPS memberikan hasil BTA

positif.

2) Satu pemeriksaan dahak SPS hasilnya BTA positif dan foto rontgen dada

menunjukkan gambaran TBC aktif.

b. TB paru BTA negatif

Pemeriksaan 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA negatif dan foto rontgen

dada menunjukkan gambaran tuberkulosis aktif. TB paru BTA negatif rontgen positif

dibagi berdasarkan tingkat keparahan penyakitnya yaitu bentuk berat dan ringan.

Bentuk berat bila gambaran foto rontgen dada menunjukkan gambaran kerusakan

paru yang luas (misalnya proses far advanced atau millier) dan/atau keadaan

umum penderita buruk.

2. Tuberkulosis Ekstra Paru

Tuberkulosis ekstra paru adalah TBC yang menyerang organ tubuh lain selain

paru paru seperti: pleura, selaput otak, selaput jantung (pericardium), kelenjar

limfe (getah bening), tulang, persendian, kulit, usus, ginjal, saluran kencing, alat

kelamin, dan lain-lain.TB ekstra paru dibagi berdasarkan tingkat keparahan

penyakitnya yaitu :

a. TB ekstra paru ringan


Misalnya : TB kelenjar limfe, pleuritis eksudativa unilateral, tulang (kecuali

tulang belakang), sendi, dan kelenjar adrenal.

b. TB ekstra paru berat

Misalnya : meningitis, millier, perikarditis, peritonitis, pleuritis eksudativa

duplex, TBC tulang belakang, TB usus, TB saluran kencing dan alat kelamin.

B. Berdasarkan Riwayat Pengobatan Penderita

Berdasarkan riwayat pengobatan penderita maka tuberkulosis digolongkan

menjadi:

1. Kasus Baru

Kasus baru adalah penderita yang belum pernah diobati dengan OAT atau sudah

pernah menelan OAT kurang dari satu bulan (30 dosis harian).

2. Kambuh (Relaps)

Kambuh (relaps) adalah penderita tuberkulosis yang sebelumnya pernah

mendapatkan pengobatan tuberkulosis dan dinyatakan sembuh kemudian kembali

lagi berobat dengan hasil pemeriksaan dahak BTA positif.

3. Pindahan (Transfer In)

Pindahan adalah penderita yang mendapat pengobatan disuatu kabupaten lain dan

kemudian pindah berobat pada kabupaten ini. Penderita pindahaan ini harus

membawa surat rujukan / pindah (Form TB.09).

4. Lalai (Pengobatan setelah default / drop-uot)

Lalai adalah penderita yang sudah berobat paling kurang 1 bulan dan berhenti 2

bulan atau lebih kemudian datang kembali berobat. Umumnya penderita kembali

dengan hasil pemeriksaan dahak BTA positif.


5. Gagal

Gagal adalah penderita BTA positif yang masih tetap positif atau kembali menjadi

positif pada akhir bulan ke-5 (satu bulan sebelum akhir pengobatan atau lebih)

atau penderita dengan hasil BTA negatif rontgen positif menjadi BTA positif pada

akhir bulan ke-2 pengobatan.

6. Kronis

Kronis adalah penderita dengan hasil pemeriksaan masih BTA positif setelah

pengobatan ulan kategori 2 (DepKes RI, 2005).

C. Berdasarkan Hasil Pemeriksaan Uji Kepekaan Obat

Pengelompokan berdasarkan hasil uji kepekaan contoh uji dari

Mycobacterium tuberculosis terhadap OAT dapat berupa :

1. Mono resisten (TB MR)

Resisten terhadap salah satu jenis OAT lini pertama saja.

2. Poli resisten (TB PR)

Resisten terhadap lebih dari satu jenis OAT lini pertama selain isoniazid dan

rifampisin secara bersamaan.

3. Multi drug resisten (TB MDR)

Resisten terhadap isoniazid dan rifampisin secara bersamaan.

4. Extensive drug resisten (TB XDR)

Adalah TB MDR yang sekaligus juga resisten terhadap salah satu OAT golongan

fluorokuinolon dan minimal salah satu dari OAT lini kedua jenis suntikan

(Kanamisin, Kapreomisin, dan Amikasin).

5. Resisten rifampisin (RB RR)


Resisten terhadap rifampisin dengan atau tanpa resisten terhadap OAT lain yang

terdeteksi menggunakan metode genotip (tes cepat) atau metode fenotip

(konvensional).

D. Berdasarkan Status HIV

1. Pasien TB dengan HIV positif

Hasil tes HIV positif sebelumnya atau sedang mendapatkan ART atau hasil tes

HIV positif pada saat diagnosa TB.

2. Pasien TB dengan HIV negatif

Hasil tes HIV negatif sebelumnya atau hasil tes HIV negatif pada saat diagnosa

TB (apabila pada pemeriksaan selanjutnya ternyata hasil tes HIV menjadi

positif, pasien harus disesuaikan kembali klasifikasinya sebagai pasien TB

dengan HIV positif).

3. Pasien TB dengan status HIV tidak diketahui

Pasien TB tanpa ada bukti pendukung hasil tes HIV saat diagnosa TB ditetapkan

(apabila pada pemeriksaan selanjutnya dapat diperoleh hasil tes HIV pasien,

pasien harus disesuaikan kembali klasifikasinya berdasarkan hasil tes HIV

terakhir) (KemenKes RI, 2014).

2.5 Tanda dan Gejala

Gejala TB pada orang dewasa umumnya penderita mengalami batuk dan

berdahak terus-menerus selama 3 minggu atau lebih, batuk darah atau pernah batuk

darah. Adapun gejala-gejala lain dari TB pada orang dewasa adalah sesak nafas dan

nyeri dada, badan lemah, nafsu makan dan berat badan menurun, rasa kurang enak
badan (malaise), berkeringat malam, walaupun tanpa kegiatan, demam meriang lebih

dari sebulan.

Gejala TB terbagi 2, yakni gejala umum dan gejala khusus. Gejala umum,

meliputi :

1. Berat badan turun selama 3 bulan berturut-turut tanpa sebab yang jelas dan tidak

naik dalam 1 bulan meskipun sudah dengan penanganan gizi yang baik.

2. Demam lama atau berulang tanpa sebab yang jelas (bukan tifus, malaria atau

infeksi saluran nafas akut) dapat disertai dengan keringat malam.

3. Pembesaran kelenjar limfe superfisialis yang tidak sakit, paling sering didaerah

leher, ketiak dan lipatan paha.

4. Gejala dari saluran nafas, misalnya batuk lebih dari 30 hari (setelahdisingkirkan

sebab lain dari batuk), tanda cairan di dada dan nyeri dada.

Gejala Khusus, sesuai dengan bagian tubuh yang diserang, misalnya :

a. TB kulit atau skrofuloderma

b. TB tulang dan sendi, meliputi :

- Tulang punggung (spondilitis) : gibbus

- Tulang panggul (koksitis): pincang, pembengkakan di pinggul

- Tulang lutut: pincang dan atau bengkak

c. TB otak dan saraf

d. Meningitis dengan gejala kaku kuduk, muntah-muntah dan kesadaran

menurun.

e. Gejala mata
f. Conjunctivitis phlyctenularis

g. Tuburkel koroid (hanya terlihat dengan funduskopi) (DepKes RI, 2005).

2.6 Diagnosa

Diagnosis TB paru pada orang dewasa yakni dengan pemeriksaan sputum

ataudahak secara mikroskopis. Hasil pemeriksaan dinyatakan positif apabila

sedikitnya 2 dari 3 spesimen sewaktu pagi sewaktu (SPS) BTA hasilnya positif.

Apabila hanya1 spesimen yang positif maka perlu dilanjutkan dengan rontgen dada

ataupemeriksaan SPS diulang.

1. Pemeriksaan Fisik

Pada tuberkulosis paru, kelainan yang didapat tergantung luas kelainan

struktur paru. Pada permulaan (awal) perkembangan penyakit umumnya tidak (atau

sulit sekali) menemukan kelainan. Kelainan paru pada umumnya terletak di daerah

lobus superior terutama daerah apex dan segmen posterior , serta daerah apex lobus

inferior. Pada pemeriksaan jasmani dapat ditemukan antara lain suara napas bronkial,

amforik, suara napas melemah, ronki basah, tanda-tanda penarikan paru, diafragma

& mediastinum. Pada pleuritis tuberkulosa, kelainan pemeriksaan fisik tergantung

dari banyaknya cairan di rongga pleura. (PDPI, 2006)

2. Pemeriksaan Dahak

a. S (sewaktu): dahak ditampung pada saat terduga pasien TB datang

berkunjungpertama kali ke fasyankes. Pada saat pulang, terduga pasien

membawa sebuah pot dahak untuk menampung dahak pagi pada hari kedua.
b. P (pagi): dahak ditampung di rumah pada pagi hari kedua, segera setelah

bangun tidur. Pot dibawa dan diserahkan sendiri kepada petugas di fasyankes.

c. S (sewaktu): dahak ditampung di fasyankes pada hari kedua, saat

menyerahkan dahak pagi.

Penemuan BTA melalui pemeriksaan dahak mikroskopis pada progam TB

nasional merupakan diagnosis utama. Kriteria sputum BTA positif adalah bila

sekurang-kurangnya ditemukan tiga batang kuman BTA pada suatu sediaan sehingga

diperlukan 5000 kuman dalam 1 ml sputum (Ink, 2006).

3. Uji tuberculin

Uji tuberculin dilakukan dengan cara Mantoux (penyuntikan intra kutan)

dengan semprit tuberculin. Pembacaan dilakukan 43 72 jam setelah penyuntikan.

Diukur diameter transversal dari indurasi yang terjadi. Ukuran dinyatakan dalam

millimeter. Bila uji tuberculin positif, menunjukkan adanya infeksi TB, namun uji

tuberculin dapat negatif pada penderita malnutrisi, penyakit sangat berat, dan

pemberian imunosuppresif. (DepKes RI, 2001)

Pada pleuritis tuberkulosa uji tuberkulin kadang negatif, terutama pada

malnutrisi dan infeksi HIV. Jika awalnya negatif mungkin dapat menjadi positif jika

diulang 1 bulan kemudian. Sebenarnya secara tidak langsung reaksi yang

ditimbulkan hanya menunjukkan gambaran reaksi tubuh yang analog dengan reaksi

peradangan dari lesi yang berada pada target organ yang terkena infeksi atau status

respon imun individu yang tersedia bila menghadapi agent dari basil tahan asam

yang bersangkutan (PDPI, 2006).

4. Reaksi cepat BCG


Bila dalam penyuntikan BCG terjadi reaksi cepat (dalam 3 7 hari) berupa

kemerahan dan indurasi > 5 mm maka dicurigai telah terinfeksi Mycobacterium

tuberculosis (DepKes RI, 2006).

5. Foto rontgen dada

Gambaran rontgen TB paru tidak khas dan interprestasi foto biasanya sulit,

harus hati hati, kemungkinan overdiagnosis atau underdiagnosis. Paling mungkin

ditemukan infiltrate dengan pembesaran kelenjar hilus atau kelenjar paratrakeal. Bila

ada diskongruensi antara gambaran klinis dan gambaran rontgen, harus dicurigai TB.

Foto rontgen dada sebaiknya dilakukan PA (Postero Anterior) dan lateral, tetapi

kalau tidak mungkin dilakukan PA saja (DepKes RI, 2001). Gambaran Foto Rontgen

Dada (Paru-paru) pada penderita TBC dapat dilihat pada gambar dibawah :

a. Kondisi primary TB
Tampak sarang kapur dan bayangan garis-garis halus pada citra paru-paru
(DepKes RI, 2006).

Gambar 1. Citra Primary TB (emedicine,medscape.com)

b. Kondisi post primary TB


Tampak bayangan bercak-bercak, awan-awan, dan lubang (kavitas). Sarang-
sarang yang terlihat biasanya pada bagian atas paru-paru (DepKes RI, 2006)
Gambar 2. Citra post primary TB(emedicine.medscape.com)
.

6. Pemeriksaan mikrobiologi dan serologi

Pemeriksaan BTA secara mikroskopis langsung pada anak dilakukan dari

bilasan lambung karena dahak sulit didapat pada anak. Pemeriksaan BTA secara

biakan (kultur) memerlukan waktu yang lama. Cara baru untuk mendeteksi kuman

TB dengan cara PCR (Polimerase Chain Reaction). Pemeriksaan PCR adalah

teknologi canggih yang dapat mendeteksi DNA bakteri M.tuberculosis. Salah satu

masalah dalam pelaksanaan teknik ini adalah kemungkinan kontaminasi. Pada

pemeriksaan PCR specimen pemeriksaan dapat berasal dari paru maupun luar paru

sesuai dengan organ yang terlibat.

Pemeriksaan serologi seperti ELISA (Enzym Linked Imunosorbent Assay)

merupakan salah satu uji serologi yang dapat mendeteksi respon humoral berupa

proses antigen antibodi yang terjadi. Selain pemeriksaan serologi dengan ELISA

dapat juga dilakukan dengan Mycodot, yaitu mendeteksi antibodi antimikobakterial

di dalam tubuh manusia. Uji ini menggunakan antigen lipoarabinomannan (LAM)

yang direkatkan pada suatu alat yang berbentuk sisir plastik. Sisir plastik ini

kemudian dicelupkan ke dalam serum penderita, dan bila di dalam serum tersebut

terdapat antibodi spesifik anti LAM dalam jumlah yang memadai yang sesuai dengan
aktiviti penyakit, maka akan timbul perubahan warna pada sisir yang dapat dideteksi

dengan mudah (PDPI, 2006).

2.7 Tujuan Terapi

1. Menyembuhkan Pasien Dan Memperbaiki produktivitas serta kualitas hidup

2. Mencegah terjadinya kematian oleh karena TB atau dampak buruk selanjutnya

3. Mencegah terjadinya kekambuhan TB

4. Menurunkan penularan TB

5. Mencegah terjadinya dan penularan resistan TB obat

2.8 Tata Laksana Terapi

A. Terapi Non Farmakologi

1. Sering berjemur dibawah sinar matahari pagi (06.00 -08.00) untuk

mengembalikan sistem kekebalan tubuh

2. Melakukan olah raga ringan seperti jalan santai di pagi hari

3. Diet sehat dianjurkan mengkomsumsi banyak lemak dan vitamin A untuk

membentuk jaringan lemak baru dan meningkatkan sistem imun

4. Menjaga sanitasi / kebersihan lingkungan sekitar tempat tinggal

5. Menjaga sirkulasi udara dalam rumah agar selalu berganti dengan udara yang

baru
B. Terapi Farmakologi

Untuk memperoleh efektifitas pengobatan yang sesuai dengan sifat kuman

TB maka prinsip-prinsip yang dipakai adalah :

1. Menghindari penggunaan monoterapi. Obat anti tuberkulosis (OAT) diberikan

dalam bentuk kombinasi dari beberapa jenis obat dengan jumlah yang cukup

dan dosis yang tepat sesuai kategori pengobatan. Hal ini dilakukan untuk

menghindari kekebalan terhadap OAT.

2. Untuk menjamin kepatuhan penderita dalam menelan obat, pengobatan

dilakukan dengan pengawasan langsung (DOT=Directly Observed Treatment)

oleh seorang Pengawas Menelan Obat (PMO).

Pengobatan tuberkulosis diberikan dalam 2 tahap yaitu :

1. Tahap Intensif

Penderita mendapatkan obat setiap hari dan memperlukan pengawasan secara

langsung untuk mencegah terjadinya kekebalan obat. Apabila pengobatan

dilakukan secara tepat pada tahap ini, biasanya penderita menular menjadi

tidak menular dalam kurun waktu 2 minggu. Sebagian besar TB BTA positif

menjadi BTA negatif (konversi) dalam 2 bulan.

2. Tahap Lanjutan

Penderita mendapatkan obat dalam jumlah sedikit tetapi dalam waktu yang

lama. Tahap lanjutan penting untuk membunuh kuman persister (dormant)

sehingga mencegah terjadinya kekambuhan.


Obat-Obat Antituberkulosis (OAT) diberikan dalam kombinasi sedikitnya

2 obat yang bersifat bakterisid dengan atau tanpa obat ketiga. Tujuan pemberian

OAT, antara lain:

1. Membuat konversi sputum BTA positif menjadi negatif secepat mungkin

melalui kegiatan bakterisid.

2. Mencegah kekambuhan dalam tahun pertama setelah pengobatan dengan

kegiatan sterilisasi.

3. Menghilangkan atau mengurangi gejala dan lesi melalui perbaikan daya tahan

imunologis.
Terapi Lini Pertama Untuk TB (CDHS, 2003)
Terapi Lini Kedua Untuk TB (CDHS, 2003)
Aktivitas obat TB didasarkan pada tiga mekanisme aksi yaitu aktifitas

membunuh bakteri, aktifitas sterilisasi, dan mencegah kekambuhan. Obat umum

yang dipakai adalah isoniazid, etambutol, rifampisin, pirazinamid,dan streptomisin.

Obat-obat lain yang pernah dipakai adalah natrium para amino salisilat, kapreomisin,

sikloserin, etionamid, kanamisin, rifapentin, dan rifabutin. Regimen pengobatan TB

mempunyai kode standar yang menunjukkan tahap dan lama pengobatan, jenis OAT,

cara pemberian (harian atau selang), dan kombinasi OAT dengan dosis tetap seperti

2HRZE/4H3R3 atau 2HRZES/5HRE. Kode huruf tersebut adalah akronim dari nama

obat yang dipakai yaitu :

H = Isoniazid

R = Rifampisin

Z = Pirasinamid

E = Etambutol

S = Streptomosin

Sedangkan angka dalam kode menunjukkan waktu atau frekuensi. Angka 2 di

depan seperti pada 2HRZE artinya digunakan selama dua bulan, tiap hari satu

kombinasi tersebut, sedangkan angka dibelakang huruf seperti pada 4H3R3 artinya

dipakai 3 kali seminggu selama 4 bulan. Pengobatan TB kategori I dengan kode

2HRZE/4H3R3 berarti pengobatan pada tahap awal/intensif menggunakan HRZE

selama 2 bulan dan masing-masing OAT diberikan tiap hari sedangkan pengobatan

tahap lanjutan mengunakan HR selama 4 bulan dan masing-masing OAT diberikan

tiap 3 kali seminggu (DepKes RI, 2005).


Panduan OAT yang digunakan di Indonesia (Sesuai rekomendasi WHO dan

ISTC). Paduan pengobatan yang digunakan oleh Program Nasional Penanggulangan

TB oleh Pemerintah Indonesia :

Kategori 1 : 2HRZE/4H3R3.

Kategori 2 : 2HRZES/HRZE/5H3R3E3.

Kategori 3 : 2 HRZ/4H3R3.

Kategori Anak : 2(HRZ)4(HR)

Paduan OAT ini disediakan dalam bentuk paket kombipak, dengan tujuan

untuk memudahkan pemberian obat dan menjamin kelangsungan (kontinuitas)

pengobatan sampai selesai. 1 paket untuk 1 penderita dalam 1 masa pengobatan.

Obat Paket Tuberkulosis ini disediakan secara gratis melalui Institusi pelayanan

kesehatan milik pemerintah, terutama melalui Puskesmas, Balai Pengobatan TB

paru, Rumah Sakit Umum dan Dokter Praktek Swasta yang telah bekerja sama

dengan Direktorat Pemberantasan Penyakit Menular Langsung, Depkes RI.

1. Kategori 1 : 2HRZE/4H3R3

Tahap intensif diberikan HRZE selama 2 bulan dan tahap lanjutan diberikan

HR tiap 3 kali dalam seminggu selama 4 bulan. Obat ini diberikan untuk penderita

baru TB paru BTA positif, penderita baru TB paru BTA negatif foto rontgen positif

yang sakit berat, dan penderita TB ekstra paru berat. Panduan OAT kategori 1 dapat

dilihat pada tabel dibawah ini.


Tabel 1. Panduan OAT Kategori 1dalam Paket Kombipak untuk Penderita dengan Berat
Badan 33-50 Kg
Lamanya Dosis per hari/kali Jumlah
Tahap Pengobatan Tablet Kaplet Tablet Tablet blister
Pengobatan Isoniazid Rifampisin Pirazinamid Etambutol harian*)
@ 300mg @450mg @ 500mg @ 250mg
Tahap intensif 2 bulan 1 1 3 3 56
(dosis harian)
Tahap lanjutan 4 bulan 2 1 - - 48
(dosis 3 x
seminggu)
Keterangan : *) 1 bulan = 28 blister (dosis) harian
Satu paket kombipak kategori 1 104 blister harian yang terdiri dari 56 blister HRZE untuk

tahap intensif dan 48 blister HR untuk tahap lanjutan yang dikemas masing-masing dalam dos

kecil dan disatukan dalam 1 dos besar.

2. Kategori 2 : 2HRZES/HRZE/5H3R3E3

Tahap intensif diberikan selama 3 bulan yang terdiri dari 2 bulan dengan

HRZES setiap hari dan dilanjutkan satu bulan dengan HRZE setiap hari. Tahap

lanjutan diberikan selama 5 bulan dengan HRE yang diberikan tiap 3 x dalam

seminggu. Obat ini diberikan untuk penderita TB paru BTA (+) yang sebelumnya

pernah diobati seperti penderita kambuh (relaps), penderita gagal (failur), dan

penderita dengan pengobatan setelah lalai (after default). Panduan OAT kategori 2

dapat dilihat pada tabel dibawah ini.


Tabel 2. Panduan OAT Kategori 2 dalam Paket Kombipak untuk Penderita dengan Berat
Badan 33-50 Kg
Tahap Pengobatan Lamanya Dosis per hari/kali
Pengobatan Tablet Kaplet Tablet Tablet Tablet Vial
Isoniazid Rifampisin Pirazinamid Etambutol Etambutol Streptomisin
@ 300 mg @ 450 mg @ 500 mg @ 250 mg @ 500 mg @ 1,5 g
Tahap intensif 2 bulan 1 1 3 3 - 0,75 g
(dosis harian)
Dilanjutkan 1 bulan 1 1 3 3 - -
Tahap lanjutan 5 bulan 2 1 - 1 2 -
(dosis 3 x
seminggu)
Keterangan : Satu paket kombipak kategori 2 berisi 144 blister harian yang terdiri dari 84

blister HRZE untuk tahap intensif dan 60 blister HRE untuk tahap lanjutan

dikemas masing-masing dalam dos kecil dan disatukan dalam 1 dos besar.

Disediakan 28 vial streptomisin @ 1,5 g dan pelengkap pengobatan (60spuit dan

aquabidest) untuk tahap intensif.

3. Kategori 3 : 2HRZ/4H3R3

Tahap intensif terdiri dari HRZ diberikan setiap hari selama 2 bulan dan

diteruskan dengan tahap lanjutan yang terdiri dari HR selama 4 bulan diberikan 3

kali seminggu. Obat ini diberikan untuk penderita baru BTA negatif rontgen positif

sakit ringan dan penderita TB ekstra paru ringan. Panduan OAT kategori 3 dapat

dilihat pada tabel dibawah ini.


Tabel 3. Panduan OAT Kategori 3 dalam Paket Kombipak untuk Penderita dengan Berat
Badan 33-50 Kg
Tahap Lamanya Tablet Isoniazid Kaplet Tablet Jumlah blister
Pengobatan Pengobatan @ 300 mg Rifampisin @ Pirazinamid @ harian
450 mg 500 mg
Tahap intensif 2 bulan 1 1 3 56
(dosis harian)
Tahap lanjutan 4 bulan 2 1 - 50
(dosis 3 x
seminggu)
Keterangan : Satu paket kombipak kategori 3 berisi 104 blister harian yang terdiri dari 56

HRZ untuk tahap intensif dan 50 blister HR untuk tahap lanjutan yang dikemas

masing-masing dalam dosis kecil dan disatukan dalam 1 dosis besar.

4. Kategori Anak: 2(HRZ)4(HR)


Prinsip dasar pengobatan TB pada anak tidak berbeda dengan pada orang

dewasa, tetapi ada beberapa hal yang memerlukan perhatian:

a. Pemberian obat baik pada tahap intensif maupun tahap lanjutan diberikan

setiap hari.

b. Dosis obat harus disesuaikan dengan berat badan anak

Susunan paduan obat TB anak adalah 2HRZ/4HR :

Tahap intensif terdiri dari Isoniazid (H), Rifampisin (R) dan Pirazinamid (Z)

selama 2 bulan diberikan setiap hari (2HRZ). Tahap lanjutan terdiri dari Isoniazid

(H) dan Rifampisin (R) selama 4 bulan diberikan setiap hari (4HR).

5. Obat sisipan HRZE

Obat sisipan diberikan setiap hari selama satu bulan pada akhir tahap intensif

pengobatan penderita baru BTA positif dengan kategori 1 atau penderita positif

pengobatan ulang dengan kategori 2 yang hasil pemeriksaan dahak masih BTA

positif. Panduan OAT sisipan adalah 1 tablet isoniazid 300 mg, 1 kaplet rifampisin
450 mg, 3 tablet pirazinamid 500 mg, dan 3 tablet etambutol 250 mg. Satu paket obat

sisipan berisi 30 blister HRZE yang dikemas dalam satu dos kecil.

6. FDC (Fix Dose Combination)

Saat ini obat TB tersedia dalam bentuk kombinasi tetap yang disebut sebagai

Fix Dose Combination (FDC). Obat disajikan dalam bentuk kombinasi dimana satu

tablet biasanya sudah berisi 2, 3 atau 4 campuran OAT dalam satu kesatuan. WHO

menganjurkan pemakaian OAT-FDC karena beberapa keunggulan dan keuntungan

dibandingkan denagan OAT bentuk kombipak atau bentuk lepas. Keuntungan

penggunaan OAT FDC adalah :

1. Mengurangi kesalahan peresepan.

2. Mudah dalam pemberian dan meningkatkan kepatuhan pasien.

3. Mudah dalam pengelolaan dan lebih murah pembiayaannya.

Hal yang mungkin terjadi dalam pelaksanaan pemakaian OAT FDC adalah :

1. Salah persepsi oleh petugas dengan anggapan bahwa dengan OAT FDC

kepatuhan pasien dalam menelan obat terjadi secara otomatis sehingga

pengawasan minum obat tidak diperlukan lagi. Tanpa jaminan mutu obat,

bioavailabilitas obat (rifampisin) dapat berkurang.

2. Kesalahan peresepan dapat menyebabkan kelebihan dosis (efek toksis) atau

kekurangan dosis sehingga memudahkan berkembangnya resistensi obat.

3. Sulit dalam menentukan OAT yang menyebakan efek samping.


2.8 Analisis Obat Anti Tuberkulosis (OAT)

1. Isoniazid

Isoniazid merupakan derivat dari asam nikotinat. INH adalah obat yang aktif

terhadap MTB yang membelah dan tidak aktif terhadap MTB dalam

fasestasioner.Isoniazid (INH) menghambat biosintesis asam mikolat yang

merupakan unsur penting dinding sel Mycobacterium. Prodrug INH yang masuk ke

dalam kuman secara pasif akan diubah olehkatalase G Mtb menjadi bentuk

aktif.Aktifasimenghasilkan berbagai oksigen dan senyawa reaktif yangmenyerang

target di dalam kuman, yaitu sintesa asammikolat, metabolisme NAD dan mungkin

juga merusakDNA. Akibatnya kuman mudah lisis. INH mudah diabsorpsi pada

pemberian oral maupun parenteral.Kadar puncak dicapai dalam waktu 1-2 jam

setelah pemberian oral (Hudoyo, 2010 dan Meiyanti, 2007).

Efek samping yang ditimbulkan dari penggunaan obat ini adalah mual,

muntah, neuritis perifer, neuritis optik, kejang, hiperglikemia, dan ginekomastia.

Selain itu dapat timbul hipersensitifitas pada orang-orang tertentu berupa eritema

multiforme, demam, purpura, agranulositosis.Efek samping hepatitis juga dapat

terjadi terutama pada usia lebih dari 35 tahun (DepKes RI, 2006). Untuk

mencegah efek samping INH terutama neuritis, dapat diberikan Vitamin B6

(piridoksin) 10mg per hari (Mutschler, 1991).

Dalam kombinasi dengan OAT lainnya, dosis yang dipakai untuk pasien

dewasa adalah 300 mg satu kali sehari, atau 15 mg per kg berat badan sampai

dengan 900 mg, kadang-kadang 2 kali atau 3 kali seminggu (DepKes RI, 2005).
2. Rifampisin

Rifampisin merupakan obat yang aktif terhadap MTByang tumbuh dan juga

aktif terhadap Mtb dalam fasestasioner. Daya antibakterial rifampisin terjadi

melaluihambatan sintesa RNA, yaitu dengan jalan berikatanpada RNA polimerase

kuman (Hudoyo, 2010).

Efek samping penggunaan rifampisin adalah rasa panas pada perut, sakit

epigastrik, mual, muntah, anoreksia, kembung, kejang perut, diare, letih rasa kantuk,

sakit kepala, ataksia, bingung, pening, tak mampu berfikir, baal umum, nyeri pada

anggota, otot kendor, gangguan penglihatan, ketulian frekuensi rendah sementara

(jarang). Hipersensitifitas seperti demam, pruritis, urtikaria, erupsi kulit, sariawan

mulut dan lidah, eosinofilia, hemolisis, hemoglobinuria, hematuria, insufiensi ginjal,

gagal ginjal akut (reversibel). Hematologi seperti trombositopenia, leukopenia

transien, anemia, termasuk anemia hemolisis.

Sediaan dasar dari Rifampisin adalah tablet dan kapsul 300 mg, 450 mg, dan

600 mg. Untuk dewasa, dosis yang diberikan adalah 450 mg satu kali sehari, atau

600 mg 23 kali seminggu (DepKes RI, 2005).

3. Etambutol

Derivat etilendiamin ini berkhasiat spesifik terhadap M.tuberculosis.

Mekanisme kerjanya berdasarkan penghambatan sintesa RNA pada kuman yang

sedang membelah, juga menghindarkan terbentuknya mycolic acid pada dinding sel

(Tjay, 2002).

Efek samping yang dapat timbul dari penggunaan obat ini adalah neuritis

optik, buta warna merah atau hijau, dan neuritis perifer (DepKes RI, 2006). Reaksi
toksik kinik akan timbul pada dosis besar (diatas 50 mg per kg berat badan perhari)

dan bersifat reversible apabila pengobatan segera dihentikan, tetapi dapat

menimbulkan kebutaan apabila pemberian Etambutol dilanjutkan (Tjay, 2002).

Sediaan dasar dari Etambutol adalah tablet dengan nama generik Etambutol-

HCl 250 mg atau 500 mg per tablet. Untuk dewasa dan anak diatas 13 tahun, dosis

yang diberikan adalah 15-25 mg per kg berat badan, satu kali sehari.Untuk

pengobatan awal diberikan dosis 15 mg per kg berat badan, dan pengobatan lanjutan

25 mg per kg berat badan.Obat ini tidak diberikan untuk anak dibawah 13 tahun dan

bayi (DepKes RI, 2005).

4. Pirazinamid

Analog pirazin dari nikotinamida ini bekerja bakterisid (pada pH 5-6) atau

bakteriostatis, dengan spektrum kerja sempit dan hanya meliputi M.tuberculosis.

Mekanisme kerjanya berdasarkan pada proses perubahannya menjadi asam

Pirazinamidase yang berasal dari basil TBC. Pada saat pH dalam makrofag

diturunkan, maka kuman yang berada disarang infeksi yang menjadi asam akan

mati. Obat ini khusus digunakan pada fase intensif, pada fase pemeliharaan hanya

digunakan bila terdapat multi resisten (Tjay, 2002).

Efek samping yang dapat ditimbulkan pada penggunaan obat ini adalah

hepatotoksisitas, termasuk demam anoreksia, hepatomegali, ichterus, gagal hati,

mual, muntah, anemia sideroblastik, dan urtikaria.Pengobatan harus segera

dihentikan bila timbul tanda-tanda kerusakan hati (DepKes RI, 2006).


Sediaan dasar dari Pirazinamida adalah Pirazinamid 500 mg per tablet.Dosis

pirazinamid untuk dewasa dan anak adalah 1530 mg per kg berat badan, satu kali

sehari atau 5070 mg per kg berat badan 23 kali seminggu (DepKes RI, 2005).

5. Streptomisin

Streptomisin adalah obat yang termasuk golongan aminoglikosida.

Streptomisin ini bekerja dengan cara mematikan bakteri sensitif, dengan

menghentikan pemroduksian protein esensial yang dibutuhkan bakteri untuk

bertahan hidup. Streptomisin mempengaruhi pembentukan ribosom dengan mengikat

sisi A dimana tRNA bakteri biasa melekat menyebabkan ribosom tidak terbentuk dan

sintesis protein rusak sehingga menyebabkan kematian sel bakteri (Farfan dkk.,

2006).

Efek samping berupa ototoxic (bisa menyebabkan ototoxicity yang tidak

dapat diubah, berupa kehilangan pendengaran, kepeningan, vertigo). Pada renal

(nephrotoxicity yang dapat diubah, gagal ginjal akut dilaporkan terjadi biasanya

ketika obat nephrotoxic lainnya juga diberikan). Efek pada neuromuskular

(penghambatan neuromuskular yang menghasilkan depresi berturut-turut dan

paralisis muskuler); reaksi hipersensitivitas (Pionas.pom.go.id).

6. Kanamisin/Amikasin

Kanamisin adalah antibakteri golongan aminoglikosida yang diisolasi dari

bakteri Streptomyces kanamyceticus dengan bentuk yang paling umum digunakan

adalah kanamisin sulfat. Sedangkan amikasin merupakan hasil sintesis dari

kanamisin yang digunakan secara luas untuk pengobatan infeksi bakteri. Mekanisme

aksi kanamisin dan amikasin adalah berinteraksi dengan subunit 30S dari ribosom
prokariotik. Hal ini menyebabkan kesalahan penerjemahan dan secara tidak langsung

menghambat translokasi selama sintesis protein.

Efek samping serius yang terjadi pada kedua obat ini hampir sama yaitu

berupa tinnitus atau kehilangan pendengaran, toksisitas pada ginjal dan reaksi alergi

terhadap obat. Sediaan kanamisin yang tersedia berupa injeksi 1 gram, sirup 50

mg/ml, dan kapsul 250 mg.

7. Levofloxacin

Levofloxacin aktif terhadap bakteri gram positif dan gram negatif termasuk

bakteri anaerob. Mekanisme kerja yang utama adalah melalui penghambatan DNA

gyrase bakteri (DNA topoisomerase II), sehingga terjadi penghambatan replikasi dan

transkripsi DNA bakteri.

Efek samping yang dapat terjadi : diare, mual, kembung, konstipasi, nyeri

perut, sakit kepala, insomnia, agitasi, anorexia, ansietas, arthralgia, mulut kering,

dyspnea, edema, lelah, demam, genital pruritus, keringat berlebih, gelisah, rhinitis,

gangguan kulit, somnolence dan hilang rasa. Sediaan yang tersedia berupa tablet 250

mg; 500 mg dan vial 5 mg/ml, 100 ml.

8. Para Amino Salisilat (PAS)

Ditemukan tahun 1940, dahulu merupakan OAT garis pertama yang

disunakan bersama dengan isoniazid dan streptomycin; kemudian kedudukannya

digantikan oleh ethambutol. PAS memperlihatkan efek bakteriostatik terhadap M.

tuberculosis dengan menghambat secara kompetitif pembentukan asam folat dari

asam para-amino benzoat. Penggunaan PAS sering disertai efek samping yang

mencakup keluhan saluran cerna, reaksi hipersensitifitas (10% penderita), hipotiroid,


trombositopenia, dan malabsorpsi. PAS terdapat dalam bentuk tablet 500 mg yang

diberikan dengan dosis oral 8-12 g sehari, dibagi dalam beberapa dosis.

9. Ethionamide

Etionamid menghambat pertumbuhan M. tuberculosis. Basil yang sudah

resisten terhadap tuberculostatik lain masih sensitif terhadap etionamid. Resistensi

mudah terjadi bila dosis kurang tinggi atau obat ini digunakan sendiri, dan timbul

lebih lambat jika dikombinasi dengan streptomisin atau INH.

Efek samping yang paling sering dijumpai adalah anoreksia, mual, dan

muntah. Sering juga terjadi hipertensi postural yang hebat, depresi mental,

mengantuk dan athenia. Dapat pula terjadi rasa kecap metalik, sedangkan kejang dan

neuropati primer jarang terjadi. Efek samping lain pada sistem saraf mencakup

gangguan pada saraf olfaktorius, pengelihatan kabur, diplopia, vertigo parasetia, sakit

kepala, rasa lelah dan tremor. Kemerahan kulit, purpura, stomatitis, ginikomastia,

impotensi, menoragi, akne, dan aloposia juga pernah dilaporkan.Hepatitis terjadi

pada sekitar 5% pasien yang menggunakan obat ini. Gejala hepatotoksik hilang bila

pengobatan dihentikan. Fungsi hati pasien yang mendapat etionamid perlu diperiksa

secara teratur dan penggunaannya dianjurkan bersama dengan piridoksin.

Etionamid terdapat dalam bentuk tablet 250 mg. Dosis awal ialah dua kali

250 mg sehari, kemudian dinaikan setiap lima hari dengan 125 mg sampai maksimal

1 g/hari. Obat ini sebaiknya diberikan pada waktu makan untuk mengurangi iritasi

lambung.
10. Cycloserin

Sikloserin menghambat pertumbuhan M. tuberculosismelalui penghambatan

sintesis dinding sel. Jenis jenis yang sudah resisten terhadap streptomisin, PAS, INH,

pirazinamid dan viomisin mungkin masih sensitif terhadap sikloserin.

Efek samping yang paling sering timbul dalam penggunaan sikloserin ialah

pada SSP dan biasanya terjadi dalam 2 minggu pertama pengobatan. Gejalanya ialah

somnolen, sakit kepala, tremor, disantria, vertigo, gangguan tingkah laku, paresis,

serangan psikosis akut, dan konvulsi. Serangan dapat menyerupai epilepsi grand mal

atau epilepsi petit mal, dan insidennya berhubungan dengan dosis yang digunakan.

Sikloserin dalam bentuk kapsul 250 mg, diberikan 2 kali sehari. Jika keadaan

lebih berat, dapat diberikan dosis lebih besar untuk jangka waktu yang lebih singkat.

Sikloserin dosis besar (250-500mg tiap 6 jam) dapat digunakan dengan aman bila

diberikan bersama piridoksin atau depresan SPP.


C. Perhatian Khusus untuk Pengobatan

Beberapa kondisi berikut ini perlu perhatian khusus :

1. Wanita hamil

Pada prinsipnya paduan pengobatan TB pada wanita hamil tidak berbeda

dengan pengobatan TB pada umumnya. Semua jenis OAT (Obat Anti Tuberkulosis)

aman untuk wanita hamil, kecuali streptomisin karena dapatmenembus barier

placenta dan dapat menyebabkan permanent ototoxic terhadap janin dengan akibat

terjadinya gangguan pendengaran dan keseimbangan yang menetap pada janin

tersebut. Perlu dijelaskan kepada ibu hamil bahwa keberhasilan pengobatannya

sangat penting artinya supaya proses kelahiran dapat berjalan lancar dan bayi yang

akan dilahirkannya terhindar dari kemungkinan penularan TB (DepKes RI, 2005).

2. Ibu menyusui dan bayinya

Pada prinsipnya paduan pengobatan TB pada ibu menyusui tidak berbeda

dengan pengobatan pada umumnya. Semua jenis OAT aman untuk ibu menyusui.

Seorang ibu menyusui yang menderita TB harus mendapat paduan OAT secara

adekuat. Pemberian OAT yang tepat merupakan cara terbaik untuk mencegah

penularan kuman TB kepada bayinya. Ibu dan bayi tidak perlu dipisahkan dan bayi

tersebut dapat terus menyusu. Pengobatan pencegahan dengan INH dapat diberikan

kepada bayi tersebut sesuai dengan berat badannya selama 6 bulan. BCG diberikan

setelah pengobatan pencegahan (DepKes RI, 2005).

3. Wanita penderita TB pengguna kontrasepsi

Rifampisin berinteraksi dengan kontrasepsi hormonal (pil KB, suntikan KB,

susukKB), sehingga dapat menurunkan efektifitas kontrasepsi tersebut.Seorang


wanita penderita TB seyogyanya mengggunakan kontrasepsi nonhormonal,atau

kontrasepsi yang mengandung estrogen dosis tinggi (50 mcg) (DepKes RI, 2005).

D. Pengobatan atau Tindak Lanjut Bagi Penderita Yang Sembuh, Meninggal,

Pindah, Lalai / Drop Out dan Gagal

1. Penderita Yang Sudah Sembuh

Penderita dinyatakan sembuh bila penderita telah menyelesaikan

pengobatannya secara lengkap dan pemeriksaan ulang dahak (follow-up) paling

sedikit 2 (dua) kali berturut-turut hasilnya negatif (yaitu pada AP dan/atau

sebulan sebelum AP, dan pada satu pemeriksaan follow-up sebelumnya) Tindak

lanjut: Penderita diberitahu apabila gejala muncul kembali supaya memeriksakan

diri dengan mengikuti prosedur tetap.

2. Pengobatan Lengkap

Adalah penderita yang telah menyelesaikan pengobatannya secara

lengkap tapi tidak ada hasil, pemeriksaan ulang dahak 2 kali berturut-turut

negatif. Tindak lanjut: Penderita diberitahu apabila gejala muncul kembali

supaya memeriksakan diri dengan mengikuti prosedur tetap. Seharusnya

terhadap semua penderita BTA positif harus dilakukan pemeriksaan ulang

dahak sesuai dengan petunjuk.

3. Meninggal

Adalah penderita yang dalam masa pengobatan diketahui meninggal

karena sebab apapun.


4. Pindah

Adalah penderita yang pindah berobat ke daerah kabupaten/kota lain.

Tindak lanjut : Penderita yang ingin pindah, dibuatkan surat pindah dan bersama

sisa obat dikirim ke UPK yang baru. Hasil pengobatan penderita dikirim kembali

ke UPK asal.

5. Defaulted atau Drop Out

Adalah penderita yang tidak mengambil obat 2 bulan berturut-turut atau

lebih sebelum masa pengobatannya selesai. Tindak lanjut: lacak penderita

tersebut dan beri penyuluhan pentingnya berobat secara teratur. Apabila

penderita akan melanjutkan pengobatan, lakukan pemeriksaan dahak. Bila positif

mulai pengobatan dengan kategori-2; bila negatif sisa pengobatan kategori-1

dilanjutkan.

6. Gagal

Penderita BTA positif yang hasil pemeriksaan dahaknya tetap positif atau

kembali menjadi positif pada satu bulan sebelum akhir pengobatan atau pada

akhir pengobatan. Tindak lanjut : Penderita BTA positif baru dengan kategori 1

diberikan kategori 2 mulai dari awal. Penderita BTA positif pengobatan ulang

dengan kategori 2 dirujuk ke UPK spesialistik atau berikan INH seumur hidup.

Penderita BTA negatif yang hasil pemeriksaan dahaknya pada akhir bulan ke 2

menjadi positif. Tindak lanjut: berikan pengobatan kategori 2 mulai dari awal.
BAB III

KASUS DAN PENYELESAIAN

3.1 Kasus

Seorang ibu datang ke apotek hendak menebus resep untuk anaknya, ananda

M umur 6 tahun yang mengeluh batuk berdahak, dahak berwarna kuning tanpa

disertai darah lebih dari 3 minggu, berat badan turun, lesu dan kurang aktif bermain,

demam serta selalu keringat dingin setiap malam selama 2 minggu. An. M

didiagnosa dokter menderita TBC dan telah mengkonsumsi OAT selama 2 bulan.

Pasien mengalami gatal pada kulit setelah mengkonsumsi obat tersebut. Berikut

resep yang akan ditebus oleh pasien:

R/ INH mg 200
Rif mg 200
B6 tab 1
m.f.p.dtd no. XV
S1dd1

R/ Heptasan tab
Cobazym cap
m.f.p.dtd no. XV
S1dd1

R/ Growee syr I
S1dd1cth
3.2 Penyelesaian

3.2.1 Analisis kasus dengan metode SOAP (Subjective, Objective, Assessment,


Plan)

a. Subjektif

Nama : An. M

Umur : 6 tahun

Kondisi pasien :

Batuk berdahak warna kuning tanpa darah lebih dari 3 minggu

Berat badan turun

Lesu dan kurang aktif bermain

Demam serta selalu keringat dingin setiap malam

Pasien mengalami gatal pada kulit

Diagnosa dokter : TBC

b. Objective

Tidak ada data Laboratorium

c. Assesment

1. Penggunaan INH dan Rifampicin sebagai obat anti-TB sudah tepat karena pasien

telah menggunakan OAT fase intensif selama dua bulan sehingga dilanjutkan

dengan fase lanjutan menggunakan obat INH dan Rifampicin (Kemenkes RI,

2016).

2. Digunakan vitamin B6 untuk menangani efek samping OAT seperti kesemutan

dan rasa terbakar di telapak kaki atau tangan yang disebabkan oleh penggunaan

INH (Kemenkes RI, 2014).


3. Heptasan tablet berisi cyproheptadin HCl yang berfungsi sebagai antihistamin

dan antialergi karena efek samping dari obatnya.

4. Cobazym berisi coenzym B12 yang berguna untuk mengatasi anoreksia dan

malnutrisi.

5. Growee syrup berfungsi untuk membantu pertumbuhan tulang dan memenuhi

kebutuhan harian akan vitamin dan asam amino.

d. Analisis Drug Related Problem

1. DRP ada indikasi tidak ada obat (butuh obat) : -

2. DRP tidak ada indikasi ada obat (tidak butuh obat) : -

3. DRP dosis terlalu tinggi : -

4. DRP dosis terlalu redah : -

5. DRP efek samping :

a. INH : mual, muntah, neuritis perifer, neuritis optic, kejang, episode psikosis,

reaksi hipersensitifitas seperti eritema multi forma, demam purpura,

agronulositosis, hepatitis (terutama pada usia lebih dari 35 tahun),

hiperglikemia, ginekomastia.

b. Rifampisin : Gangguan saluran cerna meliputi mual, muntah, anoreksia,


diare
6. DRP salah obat : -

7. DRP interaksi obat :

1. INH dengan Rifampicin : terjadi peningkatan hepatotoksisitas, jika terjadi

perubahan fungsi hati hentikan salah satu obatnya atau keduanya


e. Plan

1. Walau rifampicin dapat meningkatkan hepatotoksisitas dari INH , kombinasi ini

tidak menyebabkan hepatotoksisitas pada sebagian besar penderita. Perlu

dilakukan monitoring fungsi hati.

3.2.3 Konsultasi, Informasi dan Edukasi Pasien (KIE)

1. Jika penderita atau keluarganya belum memahami, jelaskan bahwa TB adalah

penyakit menular dan bukan penyakit keturunan. Tenangkan hati penderita

dengan menjelaskan bahwa penyakit ini dapat disembuhkan bila penderita

menjalani seluruh pengobatan seperti yang dianjurkan.

2. Memberikan edukasi kepada pasien bahwa pengobatan penyakit TB

membutuhkan waktu lama (6-12 bulan).

3. Diinformasikan kepada pasien bahwa penggunaan rifampisin dapat menyebabkan

urine berwarna merah akibat dari metabolisme obat, hal ini tidak berbahaya

namun perlu disampaikan kepada pasien agar mereka mengerti dan tidak

khawatir.

4. Pasien disarankan untuk kontrol rutin.

5. Memberikan informasi tentang indikasi, dosis, cara pakai, efek samping dan

penyimpanan obat kepada pasien.

6. Melakukan olahraga ringan seperti jalan di pagi hari.

7. Memberikan edukasi pada pasien bahwa obat TBC harus diminum sampai selesai

sesuai dengan kategori penyakit atau sesuai petunjuk dokter/petugas kesehatan

lainnya dan diupayakan agar tidak lupa. Bila lupa satu hari, jangan meminum dua

kali pada hari berikutnya.


8. Meningkatkan daya tahan tubuh dengan cara mengonsumsi makanan yang

bergizi dan mengandung banyak antioksidan seperti buah apel, stroberi.

9. Jika lupa minum obat segera minum obat jika waktunya dekat ke waktu minum

obat seharusnya. Tetapi jika lewat waktu minum obat sudah jauh, ddan dekat

dengan waktu minum berikutnya maka minum obat disesuaikan saja dengan

waktu/ dosis berikutnya.

10. Karena termasuk penyakit yang mudah menular sebaiknya menjaga kebersihan.
DAFTAR PUSTAKA

CDHS. 2003. California department of health services/California tuberculosis


controllers association joint guidelines guidelines for the treatment of active
tuberculosis disease. California : CTCA.
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2005. Pharmaceutical Care Untuk
Penyakit Tuberkulosis. Jakarta : Departemen Kesehatan Republik Indonesia.
Departemen Kesehatan Republik Indonesia.2006. Pedoman Nasional
Penanggulangan Tuberkulosis. Edisi II. Cetakan Pertama. Jakarta :
Departemen Kesehatan Republik Indonesia.
Farfan, G., Huang, S., Li, J., Song, J.Y., Velden, P.V., Zhang, M. 2006. Soil
Science: Streptomycin and the Treatment of Tuberculosis (TB). Center for
BioMolecular Modeling.
Green, W.C. 2006. HIV & TB. Yogyakarta: Yayasan Spiritia.
Handayani, S. 2002. Respon Imunitas Seluler pada Infeksi Tuberkulosis Paru.Cermin
Dunia Kedokteran.
http://pionas.pom.go.id/monografi/streptomisin, diakses tanggal 3 Oktober 2017.
http://reference.medscape.com/drug-interactionchecker
Hudoyo, A. 2010. Jurnal Tuberkulosis Indonesia Vol.7. Jakarta: PPTI.
Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia.2002. Iso Farmakoterapi.Jakarta : PT. ISFI
Penerbitan.
Ink. 2006. Tuberculosa Pada Anak. Skripsi.Surabaya : Fakultas Kedokteran
Universitas Wijaya Kusuma Surabaya.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2014. Pedoman Nasional Pengendalian
Tuberkulosis. Jakarta : Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
Meiyanti. 2007. Penatalaksanaan Tuberkulosis Pada Kehamilan. Majalah Farmasi.
26 (3): 143-151.
Mutschler, E. 1991.Profilaksis dan Terapi Penyakit Infeksi dalam.Diterjemahkan
Oleh Widianto, et. al. Edisi V. Jakarta: ITB.
Tjay, T. H dan Rahardja, K. 2007.Obat-Obat Penting.Jakarta : Elex Media
Komputindo Gramedia.
Zumla A, dkk. 2013. Current Concept of Tuberculosis, New England Journal of
Medicine.Jilid I. (6) : 26-27.