Anda di halaman 1dari 27

LAPORAN PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN

ACARA III: SHAKING TABLE

ADITYA ANUGRAH
D621 15 003

DEPARTEMEN TEKNIK PERTAMBANGAN


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS HASANUDDIN

GOWA
2017

i
KATA PENGANTAR

Assalamualaikum warahmatulahi wabarokatuh.


Puji syukur kita panjatkan kehadiran Allah S.W.T. karena atas taufik serta
inayahnya penulis dapat menyelesaikan laporan ini. Laporan ini merupakan hasil dari
pembelajaran matakuliah Pengolahan Bahan Galian secara teoritis dan khususnya secara
praktikum. Isi dari laporan ini membahas tentang penggunaan alat Shaking Table yang
merupakan salah satu alat penting dalam pengolahan.
Rasa terima kasih yang sebesar-besarnya penyusun sampaikan kepada dosen
pembibing matakuliah Dr. Sufriadin, S.T., M.T. Terima kasih kepada para asisten yang
telah membantu serta membimbing dalam praktikum serta dalam penyusunan laporan
ini. Tak lupa juga penulis ucapkan terima kasih kepada teman-teman khususnya teman
kelompok empat karena sudah bekerja dengan baik pada saat praktikum.
Penyusunan laporan ini tak lepas dari kesalahan-kesalahan, oleh karena itu kritik
dan saran sangat penyusun butuhkan untuk membangun kesempurnaan dalam
penyusunan laporan ini.
Akhir kata penulis ucapkan Wabilahi Taufik Walhidayah Wassalamuallaikum
Warohmatulahi Wabarokatuh.

Gowa, 28 Oktober 2017

Penyusun

ii
DAFTAR ISI

HALAMAN
HALAMAN SAMPUL ............................................................................................................... i
KATA PENGANTAR ii
DAFTAR ISI iii
DAFTAR GAMBAR iv
DAFTAR TABEL ........................................................................................... v
BAB I PENDAHULUAN 1
1.1. Latar Belakang 1
1.2. Rumusan Masalah 1
1.3. Tujuan Percobaan 2
1.4. Manfaat Percobaan 2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 3
2.1. Shaking Table 3
2.2. Material Pasir Besi 5
2.3. Konsentrasi Gravitasi 7
BAB III METODOLOGI PERCOBAAN 9
3.1. Alat dan Bahan 9
3.2. Prosedur Percobaan 13
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 18
4.1. Hasil 18
4.2. Pengolahan Data 18
4.3. Pembahasan 19
BAB V PENUTUP 21
5.1. Kesimpulan 21
5.2. Saran 21
DAFTAR PUSTAKA 22

iii
DAFTAR GAMBAR

HALAMAN
Gambar 2.1 Shaking Table 4
Gambar 2.3 Mekanisme Pemisahan Shaking Table 5
Gambar 3.1 Timbangan Digital 9
Gambar 3.2 Shaking Table .......................................................................... 9
Gambar 3.3 Kuas ......................................................................................... 10
Gambra 3.4 Nampan ..................................................................................... 10
Gambar 3.5 Kaos Tangan .............................................................................. 10
Gambar 3.6 Kompresor ................................................................................. 11
Gambar 3.7 Wajan ....................................................................................... 11
Gambar 3.8 Baskom .................................................................................... 11
Gambar 3.9 Spidol ....................................................................................... 12
Gambar 3.10 Kantong Sampel ......................................................................... 12
Gambar 3.11 Kertas ....................................................................................... 12
Gambar 3.12 Masker ...................................................................................... 13
Gambar 3.13 Pasir Besi .................................................................................. 13
Gambar 3.14 Penyiapan Alat yang Digunakan ................................................... 13
Gambar 3.15 Proses Penimbangan Umpan ....................................................... 14
Gambar 3.16 Proses Pembersihan Alat menggunakan Kompresor ....................... 14
Gambar 3.17 Proses Pemindahan Material ....................................................... 14
Gambar 3.18 Proses Pemisahan Material........................................................... 15
Gambar 3.19 Proses Pengambilan Material........................................................ 15
Gambar 3.20 Proses Pemisahan Konsentrat ...................................................... 15
Gambar 3.21 Proses Pengeringan Konsentrat .................................................... 16
Gambar 3.22 Proses Pemisahan Middling .......................................................... 16
Gambar 3.23 Proses Pemisahan Tailing ............................................................ 16
Gambar 3.24 Proses Pemindahan Material ke Kantong Sampel ........................... 17
Gambar 3.25 Produk Konsentrat ..................................................................... 17

iv
DAFTAR TABEL

HALAMAN
Tabel 4.1 Hasil Percobaan ............................................................................... 18

v
BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Upaya dalam meningkatkan mutu dan kadar suatu bijih telah banyak dilakukan
dalam industri pertambangan. Pengolahan Bahan Galian (ore dressing) adalah suatu
proses pengolahan bijih (ore) secara mekanik sehingga mineral berharga dapat
dipisahkan dari mineral pengotornya dengan didasarkan pada sifat fisika atau sifat kimia-
fisika permukaan mineral. Bijih yang sedang diolah akan dapat ditingkatkan kadarnya,
sehingga dari hasil pengolahan tersebut diharapkan diperoleh keuntungan seperti
mengurangi ongkos transport dari tempat pengolahan sampai tempat peleburan,
mengurangi biaya peleburan, dan mengurangi bahan imbuh (flux) selama peleburan,
karena semakin tinggi kadar bijih berarti kadar mineral pengotor semakin kecil, sehingga
flux yang dibutuhkan juga semakin sedikit. Pemisahan material dapat dilakukan melalui
proses reduksi ukuran material seperti crushing dan grinding, pemisahan berdasarkan
ukuran seperti sieving dan clasifying, pemisahan berdasarkan kemampuan daya tarik
magnet seperti magnetic separator, pemisahan berdasarkan kemampuan material dalam
menghantarkan listrik seperti electrostatic separation, dan pemisahan berdasarkan berat
dari maretial seperti jigging dan shaking table.
Pemisahan material yang didasarkan pada perbedaan berat jenis atau
konsentrasi gravitasi dapat dilakukan menggunakan beberapa metode dan alat yang
berbeda. Salah satu dari metode pemisahan berdasarkan konsentrasi gravitasi adalah
shaking table. Pada pemisahan menggunakan alat ini, material yang berat atau
konsentrat akan terpisah dari material ringan yang berupa tailing. Prinsip pemisahannya
dilakukan dengan gaya gerak pada dek dan gaya dorong dari air yang dialirkan di bagian
atas alat sehingga material yang lebih ringan akan mudah terbawa oleh air bila
dibandingkan material berat. Untuk memahami pemisahan dengan shaking table maka
dilakukan praktikum pengolahan bahan galian dengan menggunkan alat shaking table.

1.2 Rumusan Masalah

Rumusan masalah yang menjadi dasar percobaan praktikum shaking table adalah
sebagai berikut:
1. Bagaimana gaya yang bekerja pada shaking table?

1
2. Bagaimana prinsip kerja dari alat shaking table?
3. Bagaimana perbandingan antara konsentrat, middling, tailing dan loss material
pada percobaan shaking table?

1.3 Tujuan Percobaan

Tujuan yang ingin dicapai dalam percobaan shaking table dalam pengolahan
antara lain:
1. Mengetahui gaya yang bekerja pada shaking table.
2. Mengetahui prinsip kerja dari alat shaking table.
3. Mengetahui perbandingan antara konsentrat, middling, tailing dan loss material
pada percobaan shaking table.

1.4 Manfaat Percobaan

Manfaat yang diperoleh dari pelaksanaan percobaan shaking table ini sebagai
berikut:
1. Memahami konsep gaya yang bekerja pada shaking table?
2. memahami prinsip kerja dari alat shaking table?
3. memperoleh hubungan antara kecepatan aliran air dengan nilai recovery dan
nisbah konsentrasi dari penggunaan shaking table?

2
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Shaking Table

Pada pemisahan menggunakan meja goyang, distribusi partikel dipengaruhi oleh


sifat-sifat riffle, permukaan deck, water supply, perbedaan bentuk, ukuran partikel, dan
ada tidaknya material yang termasuk middling atau material interlog atau partikel
dengan sebagian material berat dan sebagian material ringan. Riffle (penghalang)
merupakan perangkat dukung yang berfungsi untuk membentuk turbulensi dalam aliran
sehingga partikel ringan diberi kesempatan berada diatas dan partikel berat relatif
dibawah (Rizky, 2011).
Gaya yang bekerja pada meja goyang antara lain gaya dorong alir dan gaya gesek.
Gaya dorong alir merupakan fungsi kecepatan relatif aliran air dan partikel Dalam
prosesnya, partikel bergerak dengan kecepatan yang dipengaruhi oleh kedalaman air.
Gaya Gesek terjadi antara partikel dengan dasar deck atau alas alat (Supriyono, 2006).
Berdasarkan pada ukuran besar butir material yang dipisahkan, meja goyang dapat
dibedakan menjadi sand table dan slime table. Perbedaan pada kedua alat ini terletak
pada jumlah dan jarak antar riffle. Jumlah riffle pada Sand Table sangat banyak
sedangkan jumlah riffle pada slime table sedang. Jarak antar riffle sand Table antara
hingga 1 inci sedangkan slime table lebih besar daripada sand table. Selain itu sand
table, ada bagian deck yang tidak diberi riffle digunakan untuk slime sedangkan pada
slime table, ada bagian deck yang tidak dipasang riffle. Kapasitas shaking table (meja
goyang) tergantung pada jumlah air, jumlah strore, sifat bijih, slope, meja dan ukuran
feed (Sajima dkk, 2011).
Konsentrasi gravitasi merupakan proses pemisahan mineral-mineral yang
berharga dan tidak berharga dalam suatu bahan galian akibat gaya-gaya dalam fluida
berdasarkan atau tergantung pada perbedaan densitas, bentuk dan ukuran. Salah satu
metode konsentrasi gravitasi adalah shaking table. Shaking table merupakan salah satu
alat pemisah material pada metode konsentrasi gravitasi yang berdasarkan pada aliran
horizontal fluida. Alat ini digunakan untuk memisahkan material dengan cara
mengalirkan air yang tipis pada suatu meja bergoyang, dengan menggunakan media
aliran tipis dari air (flowing film concentration). Alat yang digunakan disebut shaking
table (Zhengzhou, 2011).
3
Shaking table juga dikenal dengan istilah wet table, dengan bentuk meja yang
miring dan memiliki riffle di permukaannya. Sebuah motor penggerak pada alat ini
berfungsi untuk menggerakkan meja dengan arah sejajar dengan arah riffle. Shaking
table biasanya digunakan untuk konsentrasi emas, tetapi tidak jarang digunakan proses
pemisahan timah dan mineral-mineral berat lainnya. Alat ini termasuk jenis konsentrasi
gravitasi dengan prinsip aliran ke bawah, sama halnya dengan spiral dan jig yang
menggunakan proses konesntrasi gravitasi untuk memisahkan material. (Ish, 2016).

Gambar 2.1 Shaking Table

Macam Meja Goyang yang lain adalah Willey Table, Butcher Table, Card Tabel,
Card Field Table, Plat of Table, dan Dister Diagonal Overslorm Table. Meja Goyang Willey
Tabel terdiri dari deck berbentuk segi empat dan headmotion sebagai penggeraknya.
Ketinggian riffle minimal feed dan lebar feed. Meja Goyang Bucher Table
mempunyai bentuk hampir sama dengan Willey, tapi memiliki watch plinger untuk
mencuci. Posisi riffle terbagi menjadi zone stratifikasi, cleaning zone dan dischange
zone. Mekanisme kerjanya, material bergerak ke kiri dan air bergerak ke kanan, sehingga
material ringan akan terbawa arus air sedang material berat akan berjalan terus. Meja
Goyang Card Table yakni meja goyang dengan riffle dibuat dengan mengerat deck
dengan bentuk segitiga dan head motion. Meja goyang Dister Diagonal Overslorm Table
yakni meja goyang dengan berbentuk deck rombahedral. Pemisahan antara konsentrat,
middling dan tailing tidak jelas / berdekatan sekali. Meja goyang Card Field Table yakni
meja goyang dengan berbentuk Wafley Table yang ditutupi seluruhnya oleh riffle,
sedangkan meja goyang plat of table meja goyang yang mempunyai ciri utama di atas
deck ada tiga macam riffle dan terdapat tiga zona dari riffle yaitu zone stratifikasi, zone
Intermediate Plan dan zone lipper (Rizky, 2011).

4
Prinsip kerja shaking table adalah berdasarkan perbedaan berat dan ukuran
partikel terhadap gaya gesek akibat aliran air tipis. Partikel dengan diameter yang sama
akan memiliki gaya dorong yang sama besar. Apabila specific gravity berbeda maka gaya
gesek pada partikel berat akan lebih besar dari pada partikel ringan.
Adanya pengaruh gaya dari aliran menyebabkan partikel ringan akan terdorong
atau terbawa lebih cepat dari partikel berat searah aliran air. Gerakan relatif horizontal
dari motor menjadikan partikel berat akan bergerak lebih cepat daripada material ringan
dengan arah horizontal. Untuk itu perlu dipasang riffle (penghalang) untuk membentuk
turbulensi dalam aliran sehingga partikel ringan diberi kesempatan berada di atas dan
partikel berat relatif di bawah.
Aliran air membawa material pada meja sambil melalui riffles dengan arah aliran
tegak lurus terhadap arah umpan. Partikel akan tertahan oleh riffles dan terjadi proses
pemisahan pada partikel berat yang tertahan di permukaan meja. Partikel ringan akan
terbawah oleh aliran air melewati tiap riffles menuju ke tempat penampungan tailing.
Guncangan pada meja mengakibatkan partikel berat bergerak horizontal searah dengan
riffles menuju ke tempat penampungan konsentrat (Erik, 2015).

Gambar 2.2 Mekanisme Pemisahan Shaking Table

2.2. Material Pasir Besi

Pasir merupakan bahan alam yang tersedia sangat melimpah di Indonesia. Selama
ini pasir hanya dimanfaatkan sebagai bahan bangunan, padahal pasir banyak
mengandung mineral berharga yang mengandung unsur besi, titanium dan unsur lainnya
yang bisa dimanfaatkan untuk bahan industri. Di dalam pasir juga terkandung pasir besi
yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan semen. Untuk menghasilkan
semen berkualitas tinggi, selain batu kapur yang mengandung senyawa kalsium oksida
(CaO) dan tanah liat yang mengandung silika dioksida (SiO2), dibutuhkan pasir besi yang

5
mengandung unsur Fe (Afdal, 2012).
Pasir Besi adalah endapan pasir yang mengandung partikel bijih besi (magnetit),
yang terdapat di sepanjang pantai. Pasir besi terbentuk karena proses penghancuran
oleh cuaca, air permukaan dan gelombang terhadap batuan asal yang mengandung
mineral besi seperti Magnetit, Ilmenit, Oksida Besi, kemudian terakumulasi serta tercuci
oleh gelombang air laut (Tim PSDG, 2005).
Berdasarkan kejadiannya endapan besi dapat dikelompokkan menjadi tiga jenis.
Pertama endapan besi primer, terjadi karena proses hidrotermal. Kedua endapan besi
laterit terbentuk akibat proses pelapukan, dan ketiga endapan pasir besi terbentuk
karena proses rombakan dan sedimentasi secara kimia dan fisika. Pembentukan endapan
pasir besi meiliki perbedaan genesa dibandingkan dengan mineralisasi logam lainnya
(Rizky, 2011).
Di dalam pasir juga terkandung pasir besi yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan
baku pembuatan semen. Untuk menghasilkan semen berkualitas tinggi, selain batu
kapur yang mengandung senyawa kalsium oksida (CaO) dan tanah liat yang
mengandung silika dioksida (SiO2), dibutuhkan pasir besi yang mengandung unsur Fe.
Endapan pasir besi dapat mengandung mineral-mineral magnetik seperti Magnetit
(Fe3O4), Hematit ( - Fe2O3), dan Maghemit (- Fe2O3) (Afdal, 2012).
Di Indonesia, pasir besi dapat ditemukan di Pulau Jawa (Lumajang, Ciamis,
Cilacap, Banten, Yogyakarta, dan Tasikmalaya), Aceh, Sulawesi Utara (Minahasa
Selatan), NTT (Kabupaten Manggarai), Sumatera Barat, dan Bengkulu. Biasanya pasir
besi terdapat di pesisir pantai. Pasir besi terjadi akibat adanya endapan. Pembentukan
pasir besi merupakan hasil dari proses kimia dan fisika dari batuan yang bersifat andesitik
hingga basalitik (Hilbert, 2012).
Pasir besi terbentuk secara kimia dari adanya pelarutan yang kemudian berlanjut
ke proses fisika, yaitu melalui penghancuran batuan oleh arus air, pencucian secara
berulang-ulang, pemindahan karena ombak atau arus, dan terjadi pengendapan
disepanjang pesisir pantai yang mengandung Fe (besi) yang menurut beberapa penilitian
kandungan tersebut datang dari batuan basalitik dan andesitik vulkanik. Kandungan
pasir besi pada setiap daerah tentu berbeda-beda. Hal ini disebabkan oleh beberapa
faktor, seperti (Hilbert, 2012):
1. Batuan induk, sebagai sumber untuk terbentuknya endapan pasir besi
2. Faktor fisika dan kimia (suhu, erosi dan transportasi sungai, arus laut bawah
laut dan sungai sebagai media transportasi dan akumulasi material)

6
3. Faktor topografi (kemiringan), berperanan penting tempat akumulasi pasir
besi
Proses perombakan terjadi akibat dari pelapukan batuan yang umumnya terjadi
karena proses alam akibat panas dan hujan membuat butiran mineral terlepas dari
batuan, dimana untuk endapan pasir besi umumnya terdiri dari mineral-mineral
Magnetit, Ilmenit, Hematit, Titanomagnetit dan mineral lainnya yang secara umum
berasal dari batuan gunungapi. Media transportasi endapan pasir besi pantai antara lain
adalah aliran air sungai dan gelombang arus air laut (Moetamar, 2008).

2.3. Konsentrasi Gravitasi

konsentrasi gravitasi adala salah satu tahap operasi dalam pengelolahan bahan
galian yang operasinya mempergunakan sifat perbedaan densitas dari mineral-mineral
yang akan dipisahkan. Saat ini proses pemisahan secara gravitasi masih tetap digunakan
terutama untuk endapan plaser (timah, emas, pasir besi, dll). Metode ini bekerja
berdasarkan perbedaan berat jenis (BJ) antara mineral berharga dengan mineral
gangue. Umumnya mineral-mineral bijih (berharga) memiliki berat jenis yang tinggi,
sedangkan mineral tidak berharga berat jenisnya rendah (Sufriadin, 2016).
Konsentrasi gravitasi merupakan pemisahan mineral berdasarkan berat jenisnya
dalam suatu medium fluida dengan menggunakan perbedaan kecepatan pengendapan.
Berdasarkan gerakan fluida, terdapat beberapa cara untuk melakukan pemisahan secara
gravitasi yaitu (Supriadin, 2016):
a. Fluida tenang, contoh: DMS (Dense Medium Separator).
b. Gerak fluida horisontal, contoh: sluice box, shaking table, dan spiral concetrator.
c. Aliran fluida vertikal, contoh: jigging.
Konsentrasi gravitasi pada mineral-mineral yang mempunyai perbedaan masa jenis
yang mencolok sehingga terjadi kelompok mineral dengan masa jenis tinggi dan
kelompok mineral dengan masa jenis rendah, dan salah satu dari mineral tersebut akan
menjadi konsentrat (Sufriadin, 2016).
Estimasi/perkiraan apakah konsentrasi gravitasi dapat diterapkan untuk
memisahkan mineral-mineral yang mempuyai perbedaan berat jenis serta selang ukuran
yang bisa dipakai, dapat diperkirakan dari kriteria konsentrasi dari Taggart. Kriteria
tersebut dirumuskan secara empirik sebagai perbandingan antara berat jenis material
berat (B) dikurangi berat jenis fluida dengan berat jenis material ringan (R) dikurangi
fluidanya (Sufriadin, 2016).

7
B
Kriteria Konsentrasi (KK) =
C
Dari hasil perhitungan menggunakan rumus tersebut, akan diperoleh nilai KK. Bila
nilai KK >2,5 atau <-2,5, maka pemisahannya mudah dilakukan untuk berbagai ukuran
halus sekalipun. Apabila nilai KK sama dengan 2,5-1,75 pemisahan material dilakukan
secara efektif sanpai ukuran 100 mesh. Bila KK sama dengan 1,75-1,50 pemisahan masih
memungkinkan sampai ukuran 10 mesh tetapi sukar dilakukan. Apabila KK sama dengan
1,50-1,25 pemisahan masih memungkinkan untuk ukuran inci akan tetapi sukar
dilakukan, dan yang terakhir apabila nilai KK < 1,25 proses yang terjadi relatif tidak
mungkin, namun masih bisa memungkinkan dengan modifikasi gaya berat
(sufriadin,2016).
Terdapat beberapa efek yang mempengaruhi proses pemisahan, antara lain yaitu
(Sufriadin, 2016):
a. Frekuensi stroke
b. Selang ukuran mineral-mineral yang akan dipindahkan
c. Ukuran, bentuk, BJ mineral
d. Densitas ukuran bed, tebal bed
e. Ukuran lubang screen
f. Keepatan hydraulic water.

8
BAB III

METODOLOGI PERCOBAAN

3.1 Alat dan Bahan

Alat dan bahan yang digunakan selama kegiatan praktikum berlangsung ialah
sebagai berikut:
3.1.1 Alat
Alat yang digunakan selama kegiatan praktikum berlangsung ialah sebagai
berikut:
1. Timbangan digital
Timbangan digital yang digunakan pada saat praktikum memiliki fungsi yaitu
untuk menimbang sampel batuan pada saat praktikum berlangsung.

Gambar 3.1 Timbangan Digital.

2. Shaking Table
Shaking table merupakan alat yang digunakan untuk memisahkan konsentrat,
middling dan tailing dari pasir besi. Alat ini digunakan untuk melakukan proses
pemisahan menggunakan metode konsentrasi gravitasi. Alat ini memisahkan
material dengan bantuan air.

Gambar 3.2 Shaking Table.

9
3. Kuas
Kuas pada praktikum kali ini memiliki fungsi yaitu digunakan untuk
membersihkan sisa-sisa batuan atau material yang terdapat pada nampan atau
timbangan.

Gambar 3.3 Kuas.

4. Nampan
Nampan pada praktikum kali ini dapat digunakan dan berfungsi sebagai wadah
penyimpanan untuk sampel atau batuan ketika akan ditimbang.

Gambar 3.4 Nampan.

5. Kaos Tangan
Kaos tangan merupakan salah satu kebutuhan di dalam bidang kerja termasuk
saat praktikum. Alat ini berguna untuk melindungi tangan dari benda-benda
tajam atau mencegah terjadinya cidera.

Gambar 3.5 Kaos Tangan.

10
6. Kompresor
Kompresor pada praktikum kali ini digunakan sebagai alat untuk membersihkan
alat-alat grinding dan sieving lainnya dari debu-debu.

Gambar 3.6 Kompresor.

7. Wajan
Wajan merupakan salah satu jenis peralatan yang digunakan pada praktikum kali
ini. Alat ini digunakan sebagai tempat atau wadah penyimpanan material dari
nampan sebelum material masuk ke alat shaking table.

Gambar 3.7 Wajan.

8. Baskom
Baskom berfungsi untuk penampungan air atau sebagai wadah penyimpanan air
yang digunakan selama proses pemisahan berlangsung.

Gambar 3.8 Baskom

11
9. Spidol
Spidol pada praktikum kali ini digunakan sebagai alat tulis pada saat praktikum.

Gambar 3.9 Spidol.

10. Kantong sampel


Kantong sampel digunakan untuk menyimpan sampel atau batuan setelah
praktikum. Dengan kata lain, kantong sampel ini digunakan sebagai tempat
penyimpanan hasil produk.

Gambar 3.10 Kantong Sampel.

11. Kertas
Kertas pada praktikum kali ini digunakan sebagai bahan untuk menulis hasil
pengukuran pada praktikum.

Gambar 3.11 Kertas.

12
12. Masker
Masker berfungsi sebagai bahan yang digunakan untuk melindungi pernapasan
dari bahaya debu yang akan masuk ke hidung.

Gambar 3.12 Masker.

3.1.2 Bahan
Bahan berupa pasir besi yang berfungsi sebagai sampel pada saat praktikum
shaking table berlangsung. Pasir besi yang digunakan tiap kelompoknya yaitu
sebanyak 10 kg.

Gambar 3.13 Pasir Besi.

3.2 Prosedur Percobaan

Prosedur percobaan dalam kegiatan praktikum Pengolahan Bahan Galian


menggunakan shaking table yaitu:
1. Menyiapkan alat dan bahan.

Gambar 3.14 Penyiapan Alat

13
2. Menimbang feed berupa pasir besi hingga beratnya mencapai 10 kg.
Penimbangan ini dilakukan sebanyak 4 kali di mana dalam 1 kalinya seberat
2.500 gram.

Gambar 3.15 Penimbangan Umpan

3. Membersihkan alat yaitu timbangan digital serta nampan menggunakan alat


kompresor. Hal ini dilakukan agar material dari pasir besi tidak tertinggal di alat.

Gambar 3.16 Proses Pembersihan


Alat

4. Memindahkan material pasir besi ke tempat yang lebih besar sebelum


dimasukkan ke dalam alat shaking table. Proses pemindahan material ini
dilakukan untuk memudahkan pada saat menuang material ke dalam alat shaking
table.

Gambar 3.17 Pemindahan Material

14
5. Menyalakan alat, lalu memasukkan feed ke dalam kotak slurry feed dibagian tepi
atas shaking table. Pada saat yang bersamaan diperlukan juga adanya air yang
mengalir selama proses pemisahan berlangsung.

Gambar 3.18 Pemisahan Material

6. Mengambil material hasil separasi berdasarkan berat jenisnya yang terkumpul di


dalam ember.

Gambar 3.19 Pengambilan Material

7. Memisahkan produk hasil shaking table dari air yang berada di dalam ember.
Pemisahan ini dilakukan untuk hasil dari tiap konsentrat, middling, dan tailing.
Berikut merupakan proses pemisahan produk hasil shaking table berupa
konsentrat

Gambar 3.20 Pemisahan Konsentrat.

15
8. Mengeringkan produk konsentrat yang masih basah dengan bantuan sinar
matahari.

Gambar 3.21 Pengeringan Konsentrat

9. Memisahkan produk hasil shaking table dari air yang berada di dalam ember.
Pemisahan ini dilakukan untuk hasil dari tiap konsentrat, middling, dan tailing.
Berikut merupakan proses pemisahan produk hasil shaking table berupa middling
yang didapatkan.

Gambar 3.22 Proses Pemisahan Middling

10. Memisahkan produk hasil shaking table dari air yang berada di dalam ember.
Pemisahan ini dilakukan untuk hasil dari tiap konsentrat, middling, dan tailing.
Berikut merupakan proses pemisahan produk hasil shaking table berupa tailing

Gambar 3.23 Proses Pemisahan Tailing

16
11. Memasukkan material middling dan tailing yang didapatkan pada proses
pemisahan ke dalam kantong sampel.

Gambar 3.24 Proses Pemindahan


Material

12. Menimbang berat sampel yang telah dikeringkan dan mencatat hasilnya.

Gambar 3.25 Produk Konsentrat.

17
BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil

Data hasil percobaan praktikum Pengolahan Bahan Galian Acara IV Shaking Table
adalah sebagai berikut:
Tabel 4.1 Hasil Percobaan.
Feed (gr) Konsentrat Middling (gr) Tailing (gr) Loss (gr)
(gr)
10.000 1.903,0 6.520.7 1.135,6 440.7

4.2. Pengolahan Data

Data yang diperoleh dari proses pemisahan dengan menggunakan alat shaking
table, maka dilakukan pengolahan data agar hasilnya dapat dianalisis lebih lanjut. Berikut
adalah pengolahan data dari percobaan proses shaking table:
4.2.1 Persen Berat
F = C+T
F = Konsentrat + (Middling + Tailing)
F = 1.903,0 gram + (6.520,7 gram + 1.135,6 gram)
F = 1.903,0 gram + ( 7.656,3 gram)
F = 9.559.3 gram
Berat yang hilang = Feed F
Berat yang hilang = 10.000 gram 9.559.3 gram
Berat yang hilang = 440.7 gram

Berat yang hilang


% = x 100%

440.7 gram
% = x 100%
10.000 gram
% = 4.407 %
Konsentrat
% Konsentrat = x 100%

1.903,0 gram
% Konsentrat = x 100%
10.000 gram

18
% Konsentrat = 19,03%


% = x 100%

1.135,6 gram
% = x 100%
10.000 gram
% = 11,356%

% = x 100%

6.520,7 gram
% = x 100%
10.000 gram
% = 65,207 %
4.2.2 Recovery

C .c
R= x 100%
F .f
% Konsentrat
R= x 100%
( % + % )
19,03%
R= x 100%
(11,356% + 65,207 % )
19,03%
R= x 100%
76.563
R = 24.85 %
4.2.3 Nisbah Konsentrasi
F
K=
C
10.000 gram
K=
1.903,0 gram
K = 5,25

4.3. Pembahasan

Pemisahan material pasir besi menggunakan alat shaking table, dilakukan


dengan bantuan media air agar lebih mudah dipisahkan. Dari 10.000 gram umpan yang
digunakan, diperoleh hasil 1.903,0 gram konsentrat, 6520,7 gram middling, dan 1.135,6
gram tailing. Bila produk yang diperoleh dijumlahkan, maka hasilnya tidak sama dengan
jumlah feed yang digunakan karena adanya material yang hilang akibat kesalahan teknis
dan alat. Hilangnya material yang diakibatkan oleh alat dapat terjadi seperti karena alat
terlalu miring sehingga material yang dibawa oleh air memiliki kecepatan yang tinggi
yang mengakibatkannya tidak tertampung ke dalam wadah dengan baik. Alat juga tidak
memiliki talang di bagian sampingnya sehingga material tidak terkumpul dengan baik

19
dan banyak yang jatuh di luar bak. Saat proses pembuangan dan pemisahan air dari
materialnya, banyak material yang terbawa oleh air sehingga mengakibatkan
berkurangnya berat dari umpan awal. Pada proses pengeringan material sebelum
ditimbang, material juga hilang diakibatkan oleh angin pada penjemuran secara
langsung di alam terbuka.
Setelah proses pengeringan dilakukan perhitungan untuk mengukur berapa
banyak material-material yang diperoleh. Persen berat material yang hilang akibat
kesalahan pada praktikum yaitu sebesar 4,407 %. Persen berat konsentrat diperoleh
dengan membagi berat konsentrat dengan umpan yang dimasukan, nilai yang diperoleh
sebesar 19,03 %. Sedangkan untuk persen berat tailing diperoleh dengan menjumlahkan
material middling dan tailing yaitu sebesar 76,563 %.
Nilai dari recovery diperoleh dengan membagi persen berat konsentrat dengan
persen berat tailing. Nilai recovery yang diperoleh yaitu sebesar 24,85 %. Hasil ini
termasuk rendah, karena pasir yang digunakan merupakan pasir yang diperoleh
dipermukaan dengan kedalaman kurang dari 50 cm. Hal ini mengkibatkan pasir pada
bagian ini memiliki kandungan besi yang rendah, karena material besi memiliki berat
jenis yang lebih besar bila dibandingkan dengan material disekitarnya sehingga pasir
dengan konsentrasi besi yang tinggi akan banyak diperoleh pada kedalaman sekitar 4
meter. Nilai nisbah konsentrasi diperoleh dengan membagi jumlah feed yang di gunakan
dengan jumlah konsentrat yang diperoleh. Nilai dari nisbah konsentrasi yang diperoleh
adalah 5,25.

20
BAB V

PENUTUP

5.1. Kesimpulan

Kesimpulan dari praktikum pengolahan bahan galian dengan alat shaking table
adalah sebagai berikut:
1. Gaya-gaya yang bekerja pada meja goyang antara lain gaya dorong alir dan gaya
gesek.
2. Prinsip kerja shaking table adalah berdasarkan perbedaan berat dan ukuran
partikel terhadap gaya gesek akibat aliran air tipis.
3. Aliran air dan kemiringan dari alat mempengaruhi nilai recovery dan nisbah
konsentrasi.

5.2. Saran

5.1.1 Saran Untuk Laboratorium


Adapun saran untuk laboratorium, yaitu:
1. Alat-alat di Laboratorium sebaiknya diperbanyak dan diperlengkap, agar
praktikum dapat dilakukan oleh seluruh praktikan agar praktikum lebih efektif.
2. Sebaiknya alat segera diperbaiki, agar alat mudah diatur dan pelaksanaan
praktikum-praktikum selanjutnya dapat berjalan dengan baik dan data yang
diperoleh lebih akurrat.
3. Sebaiknya laboratorium senantiasa bersih dan rapi, agar saat praktikum berjalan
akan lebih terasa nyaman.
5.1.2 Saran Untuk Asisten
Adapun saran untuk asisten, yaitu:
1. Sebaiknya asisten bisa menjelaskan lebih rinci mengenai prosedur praktikum.
2. Sebaiknya asisten bisa lebih interaktif lagi pada saat praktikum.

21
DAFTAR PUSTAKA

Afdal, dan Lusi N., 2012. Karakterisasi Sifat Magnet Dan Kandungan Mineral Pasir Besi
Sungai Batang Kuranji Padang Sumatera Barat. Vol. 4, No. 1.
Andra, 2011. Pengolahan Bijih Mineral dengan Meja Goyang. https://andra.Biz/
pengolahan-bijih-mineral-dengan-meja-goyang-shaking-table/. Diakses tanggal 3
Desember 2016.
Grewal, Ish, 2015. Introduction To Mineral Processing. http://met-solvelabs.com/library/
Artides/mineral-processing-introduction. Diakses tanggal 4 Desember 2016.
Malada, Hilbert P. Dkk., 2012. Teknologi Pengolahan Material-Pasir Besi. Surabaya: ITS.
Moetamar. 2008. Eksplorasi Umum Pasir Besi Di Daerah Kabupaten Jeneponto, Provinsi
Sulawesi Selatan. Bandung: Pusat Sumber Daya Geologi.
Munaf, Yulman, 2012. Pengujian Tailing dan Shaking Table untuk Mengkaji Stabilitas
Dinding Penahan Tanah Akibat Beban Gempa. Jurnal Artikel, Vol. 12, No. 3.
Rizky, 2011. Peningkatan Kadar Konsentrasi. Materi Kuliah Pertambangan dan Geologi.
Diakses tanggal 4 Desember 2016.

Sandgren, Erik, dkk. 2015. Basics In Minerals Processing. Edisi 10. English: Metso
Corporation.
Sufriadin. 2016. Pengolahan Bahan Galian. Gowa: Universitas Hasanuddin.
Tim PSDG, 2005. Pedoman Teknis Eksplorasi Pasir Besi. Bandung: Pusat Sumber Daya
Geologi.

Z, Zhengzhou Y, 2014. Mineral Gravity. http://www.zzywzg.com/ en/ xinwen_show.


asp?articleID=648. Diakses tanggal 4 Desember 2016.

22