Anda di halaman 1dari 172

Resusitasi Neonatus

Penyunting:
Rinawati Rohsiswatmo
Lily Rundjan

UKK Neonatologi
Ikatan Dokter Anak Indonesia
2014
Hak Cipta dilindungi undang-undang
Dilarang memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini, dalam bentuk
apapun dan dengan cara apapun, tanpa izin tertulis dari Penerbit

Diterbitkan oleh:
Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia
Tahun 2014
Kata Pengantar
Ketua Ukk Neonatologi Idai

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Segala puji dan syukur kita panjatkan kepada Allah SWT, Tuhan
Yang Maha Esa yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya,
sehingga pada saat KONIKA XVI di Palembang, Buku Panduan
Resusitasi Neonatus yang disusun oleh UKK Neonatologi terwujud.

Banyak buku panduan resusitasi yang saat ini beredar dan


digunakan untuk panduan pelatihan resusitasi neonatus masih
menggunakan teori lama yang mengutamakan pemberian Ventilasi
Tekanan Positif (VTP). Panduan resusitasi neonatus dengan konsep
pemberian VTP umumnya digunakan pada bayi yang mengalami
apnea atau megap-megap Untuk bayi baru lahir dengan tonus
otot baik, dapat bernapas spontan tetapi mengalami sesak napas
(merintih, retraksi, dan atau napas cuping hidung) seyogyanya
diberikan bantuan napas berupa CPAP (Continous Positive Airway
Pressure). Pemberian VTP dengan menggunakan balon resusitasi
yang mengembang sendiri ternyata tidak dapat menghasilkan CPAP,
sedangkan T-Piece resuscitator dapat menghasilkan CPAP maupun
pemberian VTP dengan tekanan yang terukur. Memang ada beberapa
kekurangan dalam penggunaan alat ini yaitu harganya relaitf
mahal, disamping diperlukan pemberian gas campuran (oksigen
dan medical air) untuk menghasilkan tekanan. Dengan bantuan
berbagai pihak, kedua kendala ini dapat diatasi dengan dibuatnya
alat T-piece resuscitator di dalam negeri sehingga harganya menjadi
murah dan penggunaannya menjadi lebih mudah. Buku panduan ini
juga membahas peran penting tindakan stabilisasi pasca resusitasi.
Tujuannya agar bayi yang lahir atau dirujuk dapat sampai di ruang

iii
perawatan atau rumah sakit rujukan dalam keadaan baik sehingga
prognosis bayi tersebut menjadi baik juga.

Ucapan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya saya


ucapkan kepada seluruh pihak yang telah meluangkan waktu,
tenaga dan pikiran untuk membantu terbitnya buku panduan ini.
Akhirnya seperti kata pepatah, tak ada gading yang tak retak. Kami
menyadari masih banyak kekurangan dari buku ini. Untuk itu kritik
dan saran yang membangun sangat kami harapkan dari semua pihak
demi kesempurnaan isi buku ini di masa mendatang. Semoga buku
ini bermanfaat sehingga dapat memberikan kontribusi terhadap
penurunan angka asfiksia neonatorum di Indonesia.

Dr. dr. Rinawati Rohsiswatmo, Sp.A(K)


Ketua UKK Neonatologi IDAI

iv
Kata Pengantar
Ketua Umum Pengurus Pusat
Ikatan Dokter Anak Indonesia

Ucapan selamat kami sampaikan kepada Unit Kerja Koordinasi


(UKK) Neonatologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) yang
telah menerbitkan Buku Resusitasi Neonatus. Sebuah prestasi yang
patut disyukuri dan dibanggakan. Terima kasih dan penghargaan
juga kami sampaikan kepada seluruh kontributor dan tim editor
yang telah meluangkan segenap waktu, tenaga dan pikiran utnuk
menyiapkan buku ini.

Pemerintah bersama IDAI berusaha menurunkan angka


kematian neonatus di Indonesia yang masih tinggi. Salah satu titik
berat usaha tersebut adalah dengan memerbaiki kualitas penangaan
asfiksia neonatus yang merupakan penyumbang terbesar kematian
bayi di Indonesia. Buku ini kami dedikasikan untuk segenap anggota
IDAI dan tenaga kesehatan Indonesia untuk menjadi panduan
dalam menangani bayi asfiksia yang membutuhkan tindakan
resusitasi.

Buku ini berisi panduan praktis resusitasi neonatus secara


detail mulai dari ikhtisar fisiologi adaptasi neonatus sampai transport
resusitasi neonatus, sehingga diharapkan para pembaca bukan
hanya mampu melakukan tindakan resusitasi namun mampu
juga memastikan bayi tiba di pelayanan rujukan neonatus dengan
selamat. Dalam buku ini juga dibahas bagaimana melakukan
resusitasi neonatus yang optimal baik di fasilitas kesehatan primer/
terbatas maupun di fasilitas kesehatan tersier/lengkap. Tidak

v
lupa pada buku ini juga dibahas mengenai etika dalam resusitasi
sehingga dapat menjawab keraguan terkait masalah etika resusitasi
neonatus.

Kami berharap buku panduan resusitasi IDAI ini dapat


melengkapi berbagai buku panduan resusitasi lain yang telah terbit
sebelumnya sehingga dapat memerkaya wawasan tenaga kesehatan
Indonesia khususnya dokter spesialis anak dalam melakukan
resusitasi neonatus.

Dr. Badriul Hegar, Ph.D, Sp.A(K)


Ketua Umum Ikatan Dokter Anak Indonesia

vi
Daftar Kontributor

• Adhi Teguh Perma Iskandar


• Ari Yunanto
• Aris Primadi
• Chrissela Anindita Oeswadi
• Era Nurissama
• Eriyati Indrasanto
• Gatot Irawan Sarosa
• Indra Sugiarno
• Ismail Sangadji
• Kartika Darma Handayani
• Naomi Esthernita
• Nani Dharmasetiawani
• Pustika Efar
• Risa Etika
• Rizalya Dewi
• Setya Wandita
• TB. Firmansyah B. Rifai
• Tiara Nien Paramita
• Yanti Susianti

vii
viii
Daftar Isi

Kata Pengantar Ketua UKK Neonatologi IDAI................................ iii

Kata Pengantar Ketua Umum Pengurus Pusat IDAI........................v

Daftar Kontributor . ........................................................................vi

Periode Transisi dan Alur Resusitasi............................................... 1

Persiapan Resusitasi ....................................................................... 9

Penilaian dan Langkah Awal......................................................... 45

Resusitasi Terintegrasi................................................................... 61

Stabilisasi dan Transportasi Pasca Resusitasi.............................. 129

Aspek Etika dalam Resusitasi...................................................... 155

Megacode.................................................................................... 159

ix
1
Periode Transisi dan
Alur Resusitasi
Tujuan Pembelajaran
1. Memahami perubahan fisiologi sistem pernapasan dan sirkulasi
selama periode transisi pada bayi baru lahir.
2. Mengenal berbagai hambatan proses transisi sistem pernapasan
dan sirkulasi pada bayi baru lahir.

Transisi Sistem Pernapasan dan Sirkulasi pada Bayi


Baru Lahir

Setiap bayi baru lahir senantiasa mengalami proses transisi dari


kehidupan intrauterin menuju ekstrauterin yang melibatkan
hampir semua sistem organ tubuh. Di antara berbagai sistem organ
tersebut, perubahan sistem pernapasan dan sirkulasi segera setelah
lahir memainkan peranan penting agar bayi dapat beradaptasi pada
lingkungan ekstrauterin.1 Perubahan fisiologis tersebut penting
untuk dipahami oleh setiap penolong resusitasi bayi baru lahir agar
dapat menentukan tindakan yang tepat apabila terjadi gangguan
selama masa transisi.

Selama kehidupan janin, plasenta memegang peranan penting


dalam pertukaran gas dan sisa metabolisme. Alveolus paru janin
belum berfungsi dan masih terisi cairan yang disekresi oleh sel epitel
paru. Cairan tersebut diperlukan untuk memertahankan volume

1
Resusitasi Neonatus

paru mendekati kapasitas residu fungsional (KRF) yaitu sekitar 30


mL/kgBB guna mencapai pertumbuhan paru yang normal pada
saat bayi dilahirkan.1,2 Perbedaan fisiologis juga terlihat pada sistem
kardiovaskular janin. Sirkulasi janin bersifat paralel dan shunt-
dependent yaitu terdapat kombinasi kerja kedua ventrikel jantung
untuk memompa darah ke dalam sirkulasi sistemik. Pirau terjadi di
intrakardiak (foramen ovale) maupun ekstrakardiak (duktus venosus
dan duktus arteriosus). Sirkulasi ini memungkinkan sebagian darah
kaya oksigen dari vena umbilikalis melewati hati masuk ke vena
kava inferior (melalui duktus venosus), atrium kanan, atrium kiri
(melalui foramen ovale), ventrikel kiri, lalu dipompa menuju otak,
miokardium, dan bagian atas tubuh. Sisa darah kaya oksigen dari
vena umbilikalis memasuki sirkulasi hati dan bercampur dengan
darah yang memiliki tekanan oksigen lebih rendah pada vena kava
inferior lalu bercampur dengan darah dari vena kava superior dan
sinus koronarius masuk ke atrium kanan, ventrikel kanan dan
dipompa menuju bagian bawah tubuh serta arteri umbilikalis untuk
mengalami reoksigenasi di plasenta. Darah dari ventrikel kanan juga
memasuki sirkulasi paru namun hanya dalam jumlah kecil (± 12%)
akibat tahanan pembuluh darah paru yang tinggi, adanya duktus
arteriosus, dan tahanan pembuluh darah sistemik yang rendah.3-6
MUTIARA BERNAS
Segera setelah lahir, cairan Setelah lahir terjadi serangkaian peristiwa fisiologis yang unik
dalam paru bayi harus sehingga bayi dapat beradaptasi dengan lingkungan ekstrauterin.
segera digantikan oleh Cairan dalam alveolus paru akan segera digantikan oleh udara
udara.
sehingga paru bayi dapat berfungsi dengan optimal (gambar 1.1).
Pada awal persalinan kala 1 sekresi cairan paru akan berhenti karena
stimulasi katekolamin yang beredar dalam sirkulasi janin sedangkan
kontraksi uterus akan meningkatkan tekanan rongga dada janin dan
mendorong cairan paru keluar sehingga membantu pengosongan
cairan paru. Sebelum memasuki persalinan kala 2 sebagian besar
cairan paru sudah diabsorpsi. Berbagai faktor (penurunan pO2,
pH, dan peningkatan pCO2 akibat pemutusan hubungan dengan
sirkulasi umbilikal, perubahan suhu, serta adanya rangsang taktil,
audiovisual, dan proprioseptif) akan merangsang bayi melakukan

2
Periode Transisi dan Alur Resusitasi 1

MUTIARA BERNAS
Transisi sirkulasi bayi baru
Gambar 1.1. Transisi sistem pernapasan : cairan dalam alveolus digantikan oleh udara11
lahir meliputi perubahan
tekanan darah sistemik
maupun paru serta
tarikan napas pertama. Tarikan napas tersebut menghasilkan penutupan duktus yang
tekanan negatif inspiratori yang tinggi, mencapai 70-110 cmH2O,
diperlukan selama masa
janin
untuk mengembangkan paru serta mendorong sebagian besar
cairan paru ke dalam ruang perivaskular.3 Pengembangan paru dan
peningkatan kadar oksigen dalam alveoli akan mengurangi tahanan
pembuluh darah paru diikuti peningkatan aliran darah paru dan
penyerapan cairan paru ke dalam sirkulasi. Penyerapan cairan paru
juga berlangsung melalui sistem limfatik paru bayi. Penyerapan
cairan paru dipengaruhi oleh sistem transport aktif, terutama
natrium, dan gradien osmotik antara cairan paru dan cairan
interstitial. Pada bayi cukup bulan dan bugar proses penyerapan
berlangsung sampai kurang lebih 2 jam.1,2,9

Di dalam kandungan janin hidup dengan saturasi oksigen


kurang lebih 60%, dan setelah lahir bayi bugar memerlukan waktu
transisi untuk mencapai tingkat saturasi oksigen 90%. Bayi prematur
umumnya membutuhkan waktu sekitar 6,5 menit (antara 4,9
hingga 9,8 menit) dan bayi cukup bulan sekitar 4,7 menit (antara
3,3 hingga 6,4 menit) untuk mencapai saturasi oksigen di atas
90%.10

3
Resusitasi Neonatus

Gambar 1.2. Perbedaan sirkulasi sebelum lahir (a) dan setelah lahir (b)3

Penjepitan tali pusat setelah bayi lahir akan memutuskan


hubungan sirkulasi bayi dari sirkulasi plasenta yang memiliki
tahanan rendah. Hal ini mengakibatkan peningkatan tahanan
pembuluh darah sistemik bayi serta penurunan aliran darah yang
melewati duktus venosus. Duktus venosus akan menutup secara
pasif dalam waktu 3-7 hari diikuti penurunan aliran darah ke vena
kava inferior.4,7 Peningkatan tahanan pembuluh darah sistemik
bersamaan dengan penurunan resistensi pembuluh darah paru
akan meningkatkan tekanan pada atrium kiri serta menurunkan
MUTIARA BERNAS tekanan pada atrium kanan. Perubahan tekanan pada kedua atrium
Semua langkah resusitasi
tersebut akan diikuti dengan perubahan arah pirau dari kiri ke kanan
bertujuan membantu bayi
melewati periode transisi dan penutupan foramen ovale secara fungsional dalam beberapa
yaitu memulai pernapasan, tarikan napas pertama. Peningkatan pO2 dalam darah disertai
laju denyut jantung penurunan kadar prostaglandin yang beredar segera setelah lahir
meningkat, dan semua menyebabkan konstriksi duktus arteriosus. Penutupan fungsional
organ tubuh mendapat duktus arteriosus terjadi dalam 60 jam pada 93% bayi cukup bulan
sirkulasi adekuat
sedangkan penutupan secara permanen menjadi ligamentum

4
Periode Transisi dan Alur Resusitasi 1

Ya Perawatan rutin: 
Bernapas atau menangis? 
Tonus baik?  • Pastikan bayi tetap hangat 
• Keringkan bayi 
Tidak  • Lanjutkan observasi 

PADA SETIAP LANGKAH TANYAKAN: APAKAH ANDA MEMBUTUHKAN BANTUAN?
  pernapasan, laju  denyut 
30 detik 

Langkah awal:(nyalakan pencatat waktu)  jantung, dan tonus 
• Pastikan bayi tetap hangat 
 
• Atur posisi dan bersihkan jalan napas  Keterangan: 
• Keringkan        dan stimulasi 
  Pada bayi dengan berat ≤ 
• Posisikan kembali  1500 gram, bayi langsung 
  dibungkus plastik bening tanpa 
dikeringkan terlebih dahulu 
 
Observasi usaha napas, laju denyut jantung (LDJ), dan tonus otot kecuali wajahnya, kemudian 
dipasang topi. Bayi tetap dapat 
  distimulasi walaupun dibungkus 
Tidak bernapas/ megap‐ Bernapas spontan plastik 
 
megap, dan atau 
LDJ < 100x/ menit 
 
Distres napas Sianosis sentral persisten 
 
30 detik 

(Takipnu, retraksi, atau  Tanpa distres napas 
  merintih) 
 
Ventilasi tekanan 
positif (VTP)  Pertimbangkan 
 
  Continuous positive  suplementasi oksigen 
Pemantauan SpO 2 
airway pressure (CPAP)   
 
PEEP 5-8 cmH22OO 
PEEP 5‐8 cmH Pemantauan SpO2 
Pemantauan SpO2 
 

  Keterangan:
Bila LDJ tetap  
Gagal CPAP Apabila LDJ > 100 kali per menit dan  
< 100 kali/ menit 
30 detik  PEEP 8 cmH22OO 
PEEP 8 cmH target saturasi oksigen tercapai: 
FiO2> 40%  • Tanpa alat bantu napasÆ 
Setiap 60 detik sekali nilai laju denyut jantung, usaha napas dan tonus 

  Dengan distres napas  Lanjutkan ke perawatan observasi  
Pertimbangkan intubasi  • Dengan alat bantu napas Æ 
Pengembangan dada adekuat? 
  Lanjutkan ke perawatan pasca‐
resusitasi 
Ya  Tidak
 
Dada mengembang  Bila dada tidak 
  Waktu dari  Target SpO2 
adekuat namun   mengembang adekuat 
LDJ < 60x / menit  Evaluasi:  Lahir  Preduktal 
    • Posisi kepala bayi  1 menit  60‐70% 
VTP (O2 100%) +  • Obstruksi jalan 
 kompresi dada  2 menit  65‐85% 
napas 
(3 kompresi tiap 1  • Kebocoran sungkup 3 menit  70‐90% 
napas)   
• Tekanan puncak  4 menit  75‐90% 
  inspirasi cukup atau 
 
Pertimbangkan Intubasi  tidak  5 menit  80‐90% 
 
10 menit  85‐90% 
Observasi LDJ dan usaha   
napas tiap 60 detik   
 
Keterangan:
Intubasi endotrakea dapat   
LDJ < 60/ menit?  dipertimbangkan pada langkah ini 
apabila VTP tidak efektif atau telah   
dilakukan selama 2 menit 
Pertimbangkan pemberian obat dan cairan intravena

5
Resusitasi Neonatus

HAL - HAL PENTING


• Perubahan sistem pernapasan dan sirkulasi
berperan penting dalam transisi kehidupan
intrauterin ke ekstrauterin pada bayi baru lahir.
• Hambatan proses transisi pada bayi baru lahir
meliputi gangguan penyerapan cairan paru,
kegagalan peningkatan tekanan darah sistemik,
serta kegagalan dilatasi arteriol paru.
• Langkah-langkah resusitasi meliputi langkah
awal, bantuan ventilasi, kompresi dada (sambil
melanjutkan ventilasi), dan pemberian obat
(sambil melanjutkan ventilasi dan kompresi
dada). Setiap langkah harus senantiasa
dievaluasi dan dilakukan tindakan sesuai dengan
hasil evaluasi tersebut.

arteriosum umumnya terjadi dalam 4-6 minggu setelah lahir.8


Sistem kardiovaskular bayi selanjutnya menjadi suatu rangkaian,
ventrikel kiri memompa darah ke seluruh sirkulasi sistemik dan
ventrikel kanan memompa darah ke sirkulasi paru (gambar 1.2).3-8,12

Hambatan Proses Transisi pada Bayi Baru Lahir

Tidak semua bayi baru lahir dapat melewati periode transisi dengan
sempurna, terutama bayi prematur atau bayi dengan kelainan
kongenital berat. Beberapa penyulit yang dapat menghambat proses
transisi pada bayi baru lahir antara lain :1,9,11
• Kelahiran tanpa melalui proses persalinan aktif (contoh :
operasi sesar elektif) dan pernapasan yang tidak adekuat pada
bayi (contoh: bayi prematur atau bayi berat lahir rendah)
mengakibatkan proses penyerapan cairan paru terhambat.

6
Periode Transisi dan Alur Resusitasi 1

Cairan yang tersisa dalam alveoli akan menghambat aliran


oksigen ke dalam sirkulasi darah.
• Kehilangan darah dalam jumlah besar, kontraktilitas jantung
yang buruk serta bradikardia akibat hipoksia dapat menyebabkan
kegagalan peningkatan tekanan darah sistemik sehingga bayi
mengalami hipotensi sistemik.
• Hipoksia intra uterin yang tidak teratasi mengakibatkan kadar
oksigen tetap rendah sehingga arteriol paru gagal berdilatasi
(tetap mengalami konstriksi) dan penghantaran oksigen ke
seluruh tubuh terhambat. Keadaan ini akan berakibat pada
kegagalan penutupan duktus arteriosus dan foramen ovale
serta hipertensi pulmonal persisten.

Proses transisi pada saat lahir merupakan fase yang cukup


kompleks. Dengan memahami perubahan fisiologis yang terjadi
selama periode transisi serta hambatannya diharapkan penolong
resusitasi dapat menilai dan memberi bantuan resusitasi secara
optimal dan berkesinambungan guna menurunkan morbiditas dan
mortalitas pada bayi baru lahir.

Alur resusitasi

Sebagian bayi baru lahir (10%) memerlukan bantuan untuk memulai


pernapasan sedangkan hanya 1% bayi yang memerlukan resusitasi
lebih lanjut. Langkah-langkah untuk melakukan resusitasi pada
bayi baru lahir dapat dilihat pada bagan Resusitasi. Masing-masing
langkah dilakukan selama 30 detik dan harus senantiasa dinilai serta
dilakukan tindakan sesuai hasil penilaian tersebut. Perpindahan
langkah baru dapat dilakukan apabila langkah sebelumnya telah
dilakukan dengan efektif.

Daftar pustaka
1. Carlton DP. Regulation of Liquid Secretion and Absorption by the Fetal
and Neonatal Lung. Dalam: Polin RA, Fox WW, penyunting. Fetal and

7
Resusitasi Neonatus

Neonatal Physiology. Edisi ke-4. Philadelphia: Elsevier Saunders;2011.


h.907.
2. CarloWA, Wu TJ. Pulmonary physiology of neonatal resuscitation.
NeoRev. 2001; 2: 45-50.
3. Sharma A, Ford S, Calvert J. Adaptation for life: a review of neonatal
physiology. AnaesthIntensive Care Med. 2010; 12: 85-90.
4. Greenough A, Milner AD. Pulmonary disease of the newborn:
Physiology. Dalam: Rennie JM, penyunting. Roberton’s Textbook of
Neonatology. Edisi ke-4. Philadelphia: Elsevier Saunders; 2005. h.445-
50.
5. Maschoff KL, Baldwin HS. Embryology and development of the
cardiovascular system. Dalam: Taeusch HW, Ballard RA, Gleason CA,
penyunting. Avery’s Disease of the Newborn. Edisi ke-8. Philadelphia:
Elsevier Saunders; 2005. h.790-9.
6. Murphy PJ. The fetal circulation. Contin Educ Anaesth Crit Care Pain.
2005; 5: 107-12.
7. Fetal circulation and cardiovascular adjustments after birth. Dalam:
Rudolph AM, Hoffman JIE, Rudolph CD, penyunting. Rudolph’s
pediatrics. Edisi ke-19. Norwalk: Appleton & Lange; 1991.
8. Friedman AH, Fahey JT. The transition from fetal to neonatal
circulattion: normal responses and implications for infants with heart
disease. Semin Perinatol. 1993: 17; 106-21.
9. Frappell PB, MacFarlane PM. Development of mechanics and
pulmonary reflexes. Respiratory Physiol Neurobiol. 2005;149:143-54.
10. Kamlin CO, O’Donnell CPF, Davis PG, Morley CJ. Oxygen saturation
in healthy infants immediately after birth. J Pediatr. 2006;148:585-9.
11. American Academy of Pediatrics and the American College of
Obstetricians and Gynecologists. Guidelines for perinatal care. Illinois:
American Academy of Pediatrics; 2007.
12. Crossley KJ, Allison BJ, Polglase GR, Morley CJ. Davis PG, Hooper
SB. Dynamic changes in the direction of blood flow through the
ductusarteriosus at birth. J Physiol. 2009; 587: 4695-704.

8
2
Persiapan Resusitasi
Tujuan Pembelajaran
1. Mengenali faktor risiko antepartum dan intrapartum yang
meningkatkan kebutuhan resusitasi neonatus
2. Memahami pentingnya pembentukan tim resusitasi neonatus
3. Memahami lingkungan dan peralatan yang perlu dipersiapkan
untuk melakukan resusitasi neonatus pada fasilitas lengkap atau
terbatas
4. Memahami upaya pengendalian infeksi saat melakukan resusitasi
neonatus

P
ersiapan resusitasi yang baik akan memengaruhi
kelancaran dan efektifitas suatu resusitasi. Persiapan
resusitasi mencakup pengenalan faktor risiko, persiapan
tim, persiapan lingkungan resusitasi, persiapan perlengkapan alat
resusitasi, dan pencegahan penularan infeksi yang mungkin timbul
saat melakukan resusitasi.
Mutiara bernas
Persiapan yang baik dan
Mengenali Faktor Risiko terencana akan menentukan
kelancaran dan efektivitas
Berbagai keadaan ibu dan janin selama kehamilan maupun
resusitasi
persalinan dapat menjadi faktor risiko resusitasi saat lahir, sehingga
harus cepat dikenali untuk mengantisipasi masalah yang mungkin
timbul.1,2 Faktor risiko tersebut dapat dilihat pada tabel 2.1. 1,3

9
Resusitasi Neonatus

Tabel 2.1. Faktor Risiko Resusitasi Saat Lahir


Faktor Risiko
Faktor Ibu Faktor Janin Faktor Intrapartum
• Ketuban pecah dini ≥18 jam 3
• Kehamilan multipel (ganda, triplet) 3
• Pola denyut jantung janin yang
• Perdarahan pada trimester 2 dan 3 • Prematur (terutama usia gestasi < 35 meragukan pada CTG3
• Hipertensi dalam kehamilan3 minggu) • Presentasi abnormal
• Hipertensi kronik • Postmatur (usia gestasi > 41 minggu) • Prolaps tali pusat3
• Penyalahgunaan obat • Besar masa kehamilan (large for • Persalinan/ kala 2 memanjang
gestational age) • Persalinan yang sangat cepat
• Konsumsi obat (seperti litium,
magnesium, penghambat • Pertumbuhan janin terhambat • Perdarahan antepartum (misal
adrenergik, narkotika) • Penyakit hemolitik aloimun (misal anti-D, solusio plasenta, plasenta previa,
• Diabetes melitus anti-Kell, terutama jika terdapat anemia/ vasa previa)
hidrops fetalis) • Ketuban bercampur mekoneum3
• Penyakit kronik (anemia, PJB
sianotik) • Polihidramnion dan oligohidramnion • Pemberian obat narkotika untuk
• Demam • Gerakan janin berkurang sebelum mengurangi rasa nyeri pada ibu
persalinan dalam 4 jam proses persalinan
• Infeksi3
• Kelainan kongenital yang memengaruhi • Kelahiran dengan forseps
• Korioamnionitis
pernapasan, fungsi kardiovaskular, atau • Kelahiran dengan vakum
• Sedasi berat proses transisi lainnya
• Penerapan anestesi umum pada
• Kematian janin sebelumnya • Infeksi intrauterin ibu
• Tidak pernah melakukan • Hidrops fetalis • Bedah kaisar yang bersifat
pemeriksaan antenatal
• Presentasi bokong3 darurat3
• Distosia bahu 3

Pembentukan Tim Resusitasi

Komunikasi dan Informasi


Sebagai persiapan menghadapi bayi dengan risiko tinggi,
pengumpulan informasi tentang faktor risiko dan keadaan terakhir
ibu maupun janin harus dilakukan secara seksama.1,4 Pembagian
tugas yang jelas pada tiap penolong perlu diingatkan sesaat sebelum
melakukan resusitasi (jika waktu memungkinkan), agar dapat
mengurangi kesalahan yang mungkin akan terjadi. 3 Sebagai contoh:
bayi dengan kondisi terakhir ketuban bercampur mekoneum,
maka pemimpin menginformasikan hal tersebut sekaligus
menginstruksikan untuk memeriksa kembali ketersediaan aspirator
mekoneum atau suction ukuran terbesar serta memastikan alat
hisap berfungsi dengan baik.

10
Persiapan Resusitasi 2

•Pembagian 
Penyampaian 
tugas  tim
komunikasi  Mengurangi risiko 
dan informasi  •Informasi ibu kesalahan resusitasi 
yang efektif •Informasi 
bayi

Bagan 2.1 Komunikasi dan informasi tim resusitasi

Informasi yang perlu diketahui oleh tim resusitasi karena dapat


memengaruhi manajemen resusitasi adalah sebagai berikut:1,4

a. Informasi mengenai ibu:


i. Riwayat kehamilan (kondisi kesehatan maupun pemakaian
obat-obatan)
ii. Riwayat kesehatan dan medikasi ibu
iii. Hasil pemeriksaan ultrasonografi antenatal
iv. Riwayat pemeriksaan kesehatan janin dalam kandungan
v. Risiko infeksi ibu (misal: Streptococcus grup B)

b. Informasi mengenai janin yang akan dilahirkan


i. Usia gestasi
ii. Perkiraan jumlah janin (tunggal, kembar)
iii. Janin risiko tinggi dan kemungkinan memerlukan resusitasi
iv. Mekoneum pada cairan ketuban
v. Variasi denyut jantung janin
vi. Kelainan kongenital janin

Anggota tim
Mutiara bernas
Resusitasi pada bayi baru lahir dapat dilakukan oleh dokter spesialis • Tugas tim harus jelas
anak konsultan neonatologi/ dokter spesialis anak/ dokter spesialis dan dipahami oleh
anestesi/ dokter spesialis kandungan/ dokter umum/ perawat/ masing-masing individu.
bidan,4,5 namun perlu dipahami bahwa bantuan resusitasi tidak • Semua informasi
dapat dilakukan seorang diri, terutama pada persalinan risiko tinggi. sebaiknya sudah
diketahui tim resusitasi
Sebaiknya penolong sudah menguasai pelatihan resusitasi neonatus
sebelum bayi lahir.
dasar dengan anggota tim idealnya minimal 3 orang 3,6

11
Resusitasi Neonatus

Mutiara bernas
Resusitasi tidak dapat
dilakukan seorang diri.
Panggil bantuan!

Circulation
Drugs and
Equipment

Team
Leader

Gambar 2.1. Anggota tim resusitasi

• Penolong pertama = kapten/pemimpin jalannya resusitasi.

- Posisi: di atas kepala bayi

- Memiliki pengetahuan dan kompetensi resusitasi yang


paling tinggi dan lengkap serta dapat menginstruksikan
tugas kepada anggota tim lainnya.

-- Tanggung jawab utama: ventilasi (airway dan breathing).

• Penolong kedua = asisten sirkulasi

- Posisi: sisi kiri bayi (posisi ini tidak terlalu mengikat,


dibolehkan bertukar posisi antara penolong kedua dan
ketiga, dengan catatan fungsi tidak tumpang tindih)

12
Persiapan Resusitasi 2

2 = Circulation*

3 = Drugs and
Equipment*

1 = Airway-
Breathing

Gambar 2.2. Posisi tim resusitasi Keterangan gambar:


* = boleh bertukar posisi bila perlu 1. Pemimpin
2. Asisten sirkulasi
3. Asisten obat dan peralatan

- Tanggung jawab: sirkulasi bayi

- Meliputi: mendengarkan laju denyut jantung bayi, mengatur


kebutuhan tekanan inspirasi positif (positive inspiratory
pressure/PIP) dan fraksi oksigen (FiO2), memberikan
kompresi jantung, memasang kateter umbilikal untuk
resusitasi cairan

13
Resusitasi Neonatus

• Penolong ketiga = asisten peralatan dan obat

-- Posisi: sisi kanan bayi (posisi ini tidak terlalu mengikat,


dibolehkan bertukar posisi antara penolong kedua dan
ketiga, dengan catatan fungsi tidak tumpang tindih)

- Tanggung jawab: menyalakan tombol pencatat waktu,


memasang monitor saturasi, monitor suhu, menyiapkan
peralatan suction, persiapan obat-obatan dan alat-alat
lainnya.

• Urutan pertama hingga ketiga menunjukkan tingkat kompetensi


anggota. Penolong pertama memiliki kompetensi tertinggi, dan
penolong kedua merupakan anggota dengan kompetensi yang
lebih baik dibandingkan dengan penolong ketiga.

- Namun pada pelaksanaan di lapangan, hal ini terkadang


tidak terjadi, penolong kedua dan ketiga dapat memiliki
kompetensi yang sama. Sebagai contoh, penolong pertama
merupakan dokter anak, sementara penolong kedua dan
ketiga merupakan perawat dan/atau bidan. Apabila pada
saat tindakan diperlukan pelaksana dengan kompetensi
khusus dan tinggi (misal. pemasangan kateter umbilikal
yang seharusnya dilakukan oleh penolong kedua/sirkulasi),
penolong kedua dan ketiga boleh bertukar posisi dengan
catatan peran setiap penolong harus tetap berjalan dengan
baik, tidak saling menunggu dan mengandalkan. Penting
sekali mencapai kondisi ‘STABLE’ (lihat Bab 5:
Stabilisasi dan Transportasi Pasca Resusitasi) dalam
waktu yang sesingkat-singkatnya.

Tim resusitasi
Kompetensi penolong resusitasi dapat dikategorikan menurut risiko
persalinan:5, 7

• Persalinan risiko sangat tinggi

Dihadiri oleh minimal 1 konsultan neonatologi atau dokter

14
Persiapan Resusitasi 2

spesialis anak. Termasuk persalinan risiko sangat tinggi, antara


lain:

- Usia kehamilan < 30 minggu atau < 1500 gram

- Usia ≤ 26 minggu  konsultan neonatologi diupayakan


hadir

- Persalinan multipel usia <32 minggu

- Inkompatibilitas rhesus berat/ hidrops fetalis

- Malformasi berat yang terdiagnosis antenatal, contoh hernia


diafragmatika, penyakit jantung bawaan

- Prolaps tali pusat/ tersangka hipoksia intra partum berat/


perdarahan antepartum berat.

- Bedah kaisar darurat (misalnya: gawat janin, perdarahan


antepartum masif)

- Persalinan lain yang dianggap sebagai persalinan risiko sangat


tinggi melalui diskusi antara dokter spesialis kandungan dan
dokter spesialis anak/ konsultan neonatologi.

• Persalinan risiko tinggi atau sedang

Dihadiri oleh minimal 1 orang dokter spesialis anak atau dokter


umum. Termasuk persalinan risiko tinggi atau sedang, antara
lain:

- Usia kehamilan 30-36 minggu atau persalinan multipel ≥32


minggu.
- Inkompatibilitas rhesus ringan-sedang
- Pertumbuhan janin terhambat
- Tersangka hipoksia intrapartum
- Persalinan sungsang Mutiara bernas
- Distosia bahu Tim resusitasi sebaiknya
- Cairan ketuban bercampur mekoneum memiliki personil yang tetap
dan siap kapanpun ada
- Bedah kaisar darurat (keadaan yang dapat membahayakan
persalinan dengan risiko
janin maupun ibu) bayi lahir memerlukan
resusitasi

15
Resusitasi Neonatus

-- Bedah kaisar elektif dengan faktor risiko tambahan (diabetes


pada ibu dengan usia kehamilan <37 minggu, restriksi
pertumbuhan janin, anomali janin, tersangka gangguan
pada janin, persalinan multipel, letak sungsang, anestesi
umum, plasenta previa derajat 3 atau 4) atau jika ada
permintaan dari dokter spesialis kandungan.

• Persalinan multipel

Jika persalinan ≤35 minggu dibutuhkan 1 tim untuk setiap


bayi, maka persalinan ≤30 minggu dibutuhkan tambahan
dokter. Bila terdapat komplikasi lain pada persalinan multipel
dibutuhkan 2 dokter untuk setiap bayi.

Pada bayi yang akan mendapatkan perawatan paliatif, maka


diperlukan minimal 1 orang dokter spesialis anak konsultan
neonatologi atau dokter spesialis anak untuk memastikan bayi
mendapatkan perawatan yang sesuai.

Lingkungan Resusitasi

Ruangan
Ruang resusitasi harus sangat berdekatan dengan ruang bersalin/
kamar operasi agar tim resusitasi dapat segera melakukan
pertolongan.8

Hal-hal yang harus diperhatikan pada ruang resusitasi yaitu:


ruangan harus cukup hangat untuk mencegah bayi baru lahir
kehilangan panas tubuhnya, cukup terang untuk dapat menilai status
klinis ibu-bayi, dan cukup besar untuk tim resusitasi bergerak.8 Bila
terdapat persalinan multipel maka diperlukan ruangan yang lebih
besar dengan pemancar panas (infant warmer) dan set resusitasi
sejumlah bayi yang akan lahir.

16
Persiapan Resusitasi 2

Gambar 2.3. Metode menghangatkan bayi dengan topi, plastik Gambar 2.4. Infant warmer menghangatkan bayi
pembungkus dan matras penghangat

Suhu
Keadaan hipotermi atau hipertermi akibat proses konduksi, konveksi,
evaporasi maupun radiasi harus dicegah karena akan memengaruhi
efektivitas termoregulasi selama resusitasi. Keadaan tersebut dapat
dihindari dengan menjaga suhu tubuh bayi antara 36,5-37,5 oC.4 Mutiara bernas
Pastikan suhu ruangan 24-
Upaya pengaturan suhu antara lain:4
26⁰ C dan bayi tetap kering
• Mengatur suhu ruangan yang hangat (24 - 26oC)
• Meletakkan bayi tidak di bawah pendingin ruangan
• Infant warmer dihangatkan sebelum bayi lahir (untuk
menghangatkan matras, kain, topi, dan selimut bayi)
• Menggunakan kain yang hangat dan kering untuk mengeringkan
bayi
• Menggunakan plastik bening untuk membungkus bayi dengan
berat < 1500 gram

17
Resusitasi Neonatus

Gambar 2.5 Tahapan metode kangguru

Gambar 2.6 Transpor dengan metode kangguru Gambar 2.7 Inkubator transpor

• Memakaikan topi pada kepala bayi sesuai dengan ukurannya


• Bayi di bawah 1000 gram menggunakan matras penghangat/
blanket roll

• Menggunakan inkubator transpor yang sudah dihangatkan


atau transportasi dengan kontak kulit dengan kulit (metode
kangguru) pada fasilitas terbatas untuk memindahkan bayi ke
ruang perawatan

18
Persiapan Resusitasi 2

Perlengkapan resusitasi

Peralatan
Tidak semua bayi baru lahir memerlukan tindakan resusitasi, namun
peralatan yang lengkap harus tetap disiapkan untuk mengantisipasi
kemungkinan terburuk. Kondisi perlengkapan resusitasi harus
senantiasa dicatat dan diperiksa agar dapat berfungsi dengan baik
ketika diperlukan.1,3,4 Mutiara bernas
Lakukan pengecekan
• Penghangat/ Warmer alat secara berkala untuk
- Kain pengering dan topi memastikan alat berfungsi
dengan baik.
- Handuk hangat/ pembungkus
- Kantung plastik untuk neonatus < 1500 gram
- Penghangat kepala (overhead heater) atau infant warmer

• Pengisap / Suction

- Suction dengan tekanan negatif (tidak boleh melebihi 100


mmHg)
- Kateter suction
- Aspirator mekoneum

Gambar 2.8 Infant warmer dengan overhead


Gambar 2.9 Suction unit
heater

19
Resusitasi Neonatus

Gambar 2.10 Aspirator mekoneum

Katup PEEP

Gambar 2.11 Balon dan sungkup dengan katup PEEP Gambar 2.12 T-piece resuscitator

• Ventilasi

-- Balon mengembang sendiri/Self-inflating bag (contoh:


balon volume 250 ml) dan sungkup wajah berbagai ukuran
(lihat gambar 2.15), dilengkapi dengan katup tekanan positif
akhir ekspirasi/positive end-expiratory pressure (PEEP) .

-- T-piece resuscitator adalah alat yang dapat memberikan


tekanan inspirasi positif / Positive Inspiratory Pressure
(PIP) dan PEEP terukur secara konstan sehingga bayi dapat
meningkatkan volume paru dan mencapai kapasitas residu
fungsional. T-piece resuscitator dapat memberikan ventilasi
tekanan positif dan tekanan napas positif berkelanjutan/
Continuous Positive Airway Pressure (CPAP) dini.

-- Balon tidak mengembang sendiri/Flow-inflating bag


(contoh: sungkup anestesi, Jackson-Rees) merupakan alat
yang dapat memberikan PEEP terukur secara konstan,
sehingga dapat memberikan CPAP dini, namun tidak
direkomendasikan untuk pemberian ventilasi tekanan
positif (lihat topik Tekanan).

20
Persiapan Resusitasi 2

Gambar 2.13 Jackson-Rees Gambar 2.14 Sungkup laring

- Peralatan intubasi (laringoskop, pipa endotrakeal, stilet)

- Sungkup laring / Laryngeal Mask Airway (LMA)

- Sungkup wajah

Untuk memberikan hasil resusitasi yang optimal, peralatan


resusitasi harus berfungsi secara baik. Oleh karena itu pengecekan
alat-alat resusitasi, terutama alat ventilasi manual, harus dilakukan
setiap sesaat sebelum melakukan resusitasi.4
Adapun tahapan pengecekan alat ventilasi manual adalah:4

Gambar 2.15 Berbagai ukuran sungkup wajah

21
Resusitasi Neonatus

• Balon mengembang sendiri

- Periksa rangkaian terpasang dengan benar

- Pastikan pipa reservoir tersedia

- Alat ini tetap dapat digunakan tanpa sumber gas. Bila


memerlukan sumber oksigen, maka alirkan 5-10 L/menit

- Tutup lubang terbuka yang mengarah ke sungkup, remas


balon sampai tekanan membuka katup yang mengarah ke
reservoir

- Pada akhir inflasi, periksa balon dapat kembali inflasi dengan


cepat

- Berikan ventilasi pada bayi baru lahir dengan melakukan


kompresi balon selama 40-60 x/menit dengan waktu
inspirasi 0,3-0,5 detik

• Balon tidak mengembang sendiri


Mutiara bernas
Upayakan mencampur - Periksa rangkaian tersusun dengan benar dan pastikan
oksigen + medical air terpasang manometer
sehingga tercapai FiO2 <30%
(kalau perlu 21%) - Alat ini memerlukan sumber gas, diberikan 5-10 L/menit

- Tutup lubang terbuka yang mengarah ke sungkup. Ketika


menutup lubang tersebut sebagian, perhatikan apakah
balon terisi udara dengan cepat.

- Lanjutkan menutup lubang tersebut, berikan kompresi


pada balon dan perhatikan tekanan yang tercapai.

- Perhatikan juga apakah balon dapat kembali inflasi secara


cepat pada akhir inflasi ketika balon tidak sedang dikompresi

- Berikan ventilasi pada bayi baru lahir dengan menekan


balon di antara ibu jari dan telunjuk, lalu peras balon untuk
menghasilkan tekanan positif. Lakukan 40-60x/ menit
dengan waktu inspirasi 0,3-0,5 detik.

• Tekanan

Pada bayi yang memerlukan bantuan ventilasi, terdapat dua


jenis tekanan yaitu PIP dan PEEP.

22
Persiapan Resusitasi 2

Positive end expiratory pressure (PEEP) adalah tekanan


positif di akhir ekspirasi (TPAE). Tekanan ini sangat
diperlukan untuk mencegah kolapsnya alveolar. Level PEEP
yang normal pada pernapasan fisiologis neonatus adalah 3-5
cmH2O, sedangkan umumnya yang diberikan pada bantuan
ventilasi saat resusitasi adalah 5-7 cmH2O. PEEP yang terlalu
tinggi dapat menyebabkan overdistensi sehingga menurunkan
compliance paru, volum tidal, pengeluaran CO2 dan curah
jantung serta meningkatkan tekanan CO2 arteri (PaCO2),
sedangkan PEEP < 3 cmH2O dapat menyebabkan atelektasis
pada bayi prematur.9

Peak inspiratory pressure (PIP)/Tekanan Inspirasi


Puncak (TIP) adalah tekanan tertinggi yang diberikan
kepada paru selama periode inspirasi. Peningkatan PIP
akan menurunkan PaCO2 dan meningkatan rerata tekanan
pada jalan napas (Mean Airway Pressure/MAP) sehingga
meningkatkan tekanan O2 arteri (PaO2). PIP yang terlalu tinggi
dapat menyebabkan barotrauma dan penurunan curah jantung.
PIP ditingkatkan bila paru tidak mengembang dan diturunkan
bila paru overventilasi.9

Bagian ini akan membahas peralatan dan cara penggunaannya


untuk penerapan tekanan yang tepat saat resusitasi bayi.

1. Pemberian CPAP dini pada bayi sesak (Penjelasan lebih lanjut


dapat dilihat di Bab 4: Resusitasi Terintegrasi)

Adapun peralatan yang dapat digunakan, yaitu:


a. Fasilitas lengkap
i. T-piece resuscitator yang menggunakan:
1. Sungkup, atau
2. Endotracheal (ET) single nasal prong  pada
bayi yang dipindahkan / transport
ii. Perbedaan Neopuff® dan Mixsafe®: Neopuff®
belum disertai dengan mini kompresor sehingga
membutuhkan sumber udara bertekanan dan oksigen.

23
Resusitasi Neonatus

Single nasal
prong

Gambar 2.16 Sungkup wajah Gambar 2.17 Pemberian CPAP dengan ET single nasal
prong

Sementara Mixsafe® telah disertai dengan kompresor


sehingga hanya membutuhkan sumber oksigen.
iii. Penggunaan T-piece resuscitator
1. Untuk Neopuff®, sambungkan total campuran gas
oksigen dengan udara bertekanan/medical air ke
inlet port 8-10 L/menit tergantung dari berapa
persen konsentrasi O2 yang diinginkan. (lihat
tabel 2.3.)
2. Untuk Mixsafe®, sambungkan kabel ke sumber
listrik, kemudian nyalakan mesin dengan
memencet tombol ON untuk mengaktifkan
kompresor yang ada di dalam alat. Sambungkan
tabung oksigen dengan oksigen inlet port yang ada
di belakang (lihat gambar 2.18). Atur total flow
O2 dan medical air di manometer masing-masing
berdasarkan konsentrasi (FiO2) yang diinginkan
(lihat tabel 2.3.).
Contoh: bila konsentrasi O2 yang diinginkan 21%,
maka manometer O2 diatur menjadi 0 liter per
menit, dan manometer air diatur menjadi 10 liter
per menit, selanjutnya lihat tabel 2.3.

24
Persiapan Resusitasi 2

3
3

4 4 Katup udara
2 5
Katup oksigen
1 5

7 6

PEEP Cap

Spesifikasi T-piece resuscitator:


1. Selang oksigen: dihubungkan dengan campuran O2
dan medical air
2. Inlet port
3. Manometer: untuk mengukur tekanan yang diberikan
4. Tuas pengatur PIP
5. Outlet port
6. Sirkuit pasien, termasuk PEEP cap yang dapat diputar
untuk mengatur PEEP dan dapat ditekan untuk
2 menghasilkan PIP
7. Sungkup

Gambar 2.18 Spesifikasi T-piece resuscitator

3. Sambungkan sirkuit pasien dengan T-piece


resuscitator melalui outlet port
4. Tutup ujung sirkuit pasien (lubang sungkup) dan
tekan PEEP cap) selama 2 tahap berikutnya
5. Putar katup tekanan maksimum PIP satu putaran
searah jarum jam sampai tekanan yang diinginkan
terlihat di manometer. Sesuaikan tekanan
maksimum sampai manometer menunjukkan 50
cm H2O

25
Resusitasi Neonatus

Gambar 2.19 Pemberian CPAP dini dengan T-piece resuscitator

6. Atur tekanan inspirasi puncak yang diinginkan


dengan memutar katup PIP hingga tekanan yang
dibutuhkan tampak pada manometer. Tekanan
awal yang direkomendasikan adalah 30 cm
H2O dan selanjutnya disesuaikan dengan target
saturasi oksigen.
7. Pertahankan penutupan ujung outlet pasien dari
T-piece, tapi lepaskan penekanan PEEP cap dan
putar cap hingga manometer menunjukkan angka
PEEP yang diinginkan (5-8 cm H20)
8. Pilih sungkup wajah yang berukuran tepat
9. Berikan ventilasi pada bayi baru lahir dengan
melakukan penekanan dan melepaskan tekanan
pada PEEP cap. Lakukan sebanyak 40-60x/menit
dengan waktu inspirasi sekitar 0,3-0,5 detik
b. Fasilitas terbatas
Jackson-Rees
o Penerapan infant T-piece system pada Jackson-Rees:
a. Cuci tangan
b. Pastikan peralatan berfungsi dengan baik
c. Pasang manometer pada ujung infant T-Piece
System
d. Hubungkan selang inspirasi ke campuran gas O2
dan udara tekan

26
Persiapan Resusitasi 2

1
8

Spesifikasi Jackson-Rees:
7 1. Pipa hijau
Merupakan selang inspirasi yang
terhubung dengan sumber oksigen
2. Manometer
2 6 Berfungsi untuk mengukur tekanan
yang diberikan ke bayi (menilai PIP dan
PEEP)
3. Sungkup wajah neonatus
Menghubungkan Jackson-Rees dengan
hidung dan mulut bayi
4. Elbow
5. Pipa putih
Merupakan selang ekspirasi
6. T-connector
7. Katup PEEP
5 Berfungsi untuk mempertahankan PEEP
8. Balon
Memiliki fungsi untuk mempertahankan
PEEP, dan dapat memberikan PIP jika
diremas
Gambar 2.20 Jackson-Rees

2
Reservoir bag dengan berbagai
ukuran:
- 0,5 L (PIP max. 30 cm H2O)
- 1 L (PIP max. > 30 cm H2O)
- 2 L
- 3 L
Gambar 2.21 Manometer dan reservoir bag

Gambar 2.22 Jackson-Rees dengan sungkup atau nasal prong

27
Resusitasi Neonatus

e. Atur total aliran gas sekitar 5-10 liter per menit


tergantung dari konsentrasi O2 yang diinginkan
(lihat tabel 2.3)
f. Atur PIP sesuai dengan yang diinginkan  atur
aliran sambil memompa reservoir bag
g. Atur PEEP  putar katup ke kanan atau kiri
h. Pipa endotrakeal dapat langsung disambungkan ke
elbow (bila pasien terintubasi atau saat transpor
pasien)
o Jackson-Rees dapat memberikan PEEP (karena
sudah terpasang katup PEEP), namun tidak dapat
memberikan VTP secara konstan. Kelemahan dari
pemakaian Jackson-Rees adalah ketika akan diberikan
PIP dengan menekan balon, maka fungsi PEEP akan
hilang karena manometer segera menunjukkan
angka nol. Oleh karena itu Jackson-Rees tidak
direkomendasikan untuk pemberian VTP.

Gambar 2.23 T-piece resuscitator Mixsafe Portabel tampak depan dan belakang

Keterangan:
1. Tombol Power
2. Handle
3. Kontrol PIP
4. Kontrol PEEP
5. Outlet port
6. Adaptor (baterai portabel)
7. Inlet port

28
Persiapan Resusitasi 2

o Selain itu, sumber gas Jackson Rees berasal dari


pencampuran oksigen dan medical air. Medical air
relatif mahal dan sulit didapat.
i. T-piece Resuscitator Mixsafe Transport
Cara penggunaan dapat dilihat pada bagian Penggunaan
T-piece resuscitator di halaman sebelumnya.

2. Pemberian VTP (PIP dan PEEP) pada kondisi bayi apnu /


megap-megap
a. Fasilitas lengkap
T-piece resuscitator (lihat penjelasan Tekanan no.1)
b. Fasilitas terbatas
- Jackson-Rees tidak direkomendasikan (lihat
penjelasan Tekanan no.1)

PIP

Katup
PEEP

Gambar 2.24 Balon-sungkup dengan katup PEEP

Spesifikasi:
1. Selang oksigen
Selang yang mengalirkan oksigen
dari sumbernya ke balon dan
sungkup
2. Balon 250 ml
Dapat memberikan PIP pada bayi
3. Sungkup wajah neonatus
4. Katup PEEP
Berfungsi untuk mempertahankan
Gambar 2.25 Katup PEEP PEEP

29
Resusitasi Neonatus

- Balon mengembang sendiri dan sungkup


• Dapat memberikan PEEP (jika sudah terpasang
katup PEEP)
• Tidak dapat memberikan PIP terukur, kecuali bila
dihubungkan dengan manometer
ii. Penerapan balon dan sungkup dengan PIP + PEEP:
1. Cuci tangan
2. Pilih katup PEEP yang dibutuhkan
3. Pilih ukuran sungkup yang sesuai dengan pasien
4. Pasang katup PEEP pada ujung depan balon
5. Pasang manometer pada bagian bawah balon (sebelum
sungkup)
6. Pastikan peralatan berfungsi dengan baik
7. Pemakaian dengan O2 21%  tanpa selang O2 maupun
reservoir

8. Pemakaian dengan O2 40%  disambungkan dengan


sumber O2 tapi tanpa reservoir

30
Persiapan Resusitasi 2

9. Pemakaian dengan O2 100%  disambungkan dengan


sumber O2 dan reservoir

10. PIP akan terbaca pada manometer saat balon ditekan

Keunggulan dan kekurangan pemakaian alat pemberi tekanan


dapat dilihat pada tabel 2.2

Tabel 2.2 Keunggulan dan Kekurangan Alat Pemberi Tekanan

Alat PIP terukur PEEP PEEP PIP saja VTP


terukur saja (PIP+PEEP)

T-piece resuscitator √ √ √ - √

Jackson-Rees+manometer √ √ √ - -

Balon dan sungkup - - - √ -

Balon-sungkup + katup PEEP - √ - - √

Balon-sungkup + katup PEEP dan manometer PIP √ √ - - √

• Akses sirkulasi

-- Perlengkapan untuk memasang akses vena perifer

-- Kateter umbilikal

-- Obat-obatan resusitasi (adrenalin, atropin), cairan (garam


fisiologis dan darah)

• Transportasi: inkubator transpor yang telah dihangatkan atau


Gambar 2.26 Pulse Oxymeter
peralatan metode kanguru Sumber: www.wisconsinshine.org

31
Resusitasi Neonatus

Inkubator

Oxygen blender

Gambar 2.27 Inkubator transpor


dengan Oxygen blender

• Pelengkap

-- Stetoskop bayi

-- Alat periksa gula darah

-- Pulse oximetry

• Sumber gas

Pada resusitasi neonatus, pemberian tekanan PIP ataupun


PEEP memerlukan sumber gas agar dapat berfungsi optimal.
Adapun pada neonatus, gas yang digunakan adalah oksigen dan
udara. Alat yang dapat menjadi sumber gas, yaitu:
1. Oksigen
a. Silinder / tabung
b. Oksigen konsentrator

Gambar 2.28
Tabung oksigen

32
Persiapan Resusitasi 2

Gambar 2.29 Oksigen Gambar 2.30 Oksigen


konsentrator dengan balon konsentrator dengan t-piece
sungkup resuscitator

Oksigen konsentrator merupakan alat yang dapat


mengkonsentrasikan oksigen dari udara sekitar, sehingga
dapat digunakan sebagai sumber oksigen bila fasilitas tidak
memiliki sumber oksigen tabung.
2. Udara
a. Silinder/ tabung
b. Kompresor
Kompresor udara merupakan alat yang dapat
memampatkan udara sekitar sehingga menciptakan
udara bertekanan. Alat ini dapat menjadi sumber
udara bertekanan bila tidak terdapat tabung udara
bertekanan.

Gambar 2.31 Tabung udara

33
Resusitasi Neonatus

Gambar 2.32 Oxygen Blender Gambar 2.33. Tabung udara dan oksigen yang
dihubungkan dengan Y-connector

• Pencampuran oksigen dan udara

Oksigen dan udara tersebut harus dicampur sebelum diberikan


ke bayi. Adapun beberapa metode untuk pencampuran gas
tersebut, yaitu:
1. Fasilitas lengkap
a. Oxygen blender
Oxygen blender merupakan alat yang dapat
mencampur oksigen dan udara sehingga dapat
mencapai fraksi oksigen antara 21% (udara bebas)
dan 100% (oksigen murni).

2. Fasilitas terbatas
a. Blender
b. Tabung oksigen dan udara yang disambungkan dengan
Y-connector
c. Tabung oksigen / oksigen konsentrator + mini
compressor

Pada bayi baru lahir, kebutuhan oksigen bervariasi sehingga


terkadang memerlukan bantuan untuk mencapai target saturasi
oksigen, yang akan dijelaskan lebih lanjut pada BAB 4 Resusitasi

34
Persiapan Resusitasi 2

Tabel 2.3 Panduan Perbandingan Udara Bertekanan dengan Oksigen Murni untuk Menghasilkan Berbagai Fraksi Oksigen

% Udara Bertekanan (Liter/menit)

Kons. O2 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

1     41% 37% 34% 32% 31% 30% 29% 28%

2   61% 53% 47% 44% 41% 38% 37% 35% 34%


Oksigen Murni (Liter/ menit) 

3 80% 68% 61% 55% 51% 47% 45% 43% 41% 39%

4 84% 74% 66% 61% 56% 52% 50% 47% 45% 44%

5 86% 77% 70% 65% 61% 57% 54% 51% 49% 47%

6 88% 80% 74% 68% 64% 61% 57% 54% 53% 51%

7 90% 82% 76% 71% 67% 64% 61% 58% 56% 54%

8 91% 84% 78% 74% 70% 66% 63% 61% 58% 56%

9 92% 86% 80% 76% 72% 68% 65% 63% 61% 58%

10 93% 87% 82% 77% 74% 70% 67% 65% 63% 61%

Tabel 2.4 Modifikasi perlengkapan resusitasi di fasilitas terbatas


Komponen resusitasi Ideal Modifikasi di fasilitas terbatas
Termoregulasi Infant warmer Meja resusitasi di ruangan bersuhu 26⁰C, diberi lampu 40/60/80 watt
Penghisap Suction unit Midwifery suction catheter

Ventilasi Alat yang dapat memberikan PEEP kontinyu dini pada bayi dengan distres napas
T-piece resuscitator Jackson-Rees
Alat yang dapat memberikan ventilasi tekanan positif
T-piece resuscitator Balon sungkup dengan katup PEEP
Alat yang dapat mencampur O2 100% dengan udara bertekanan
Oxygen blender Tabung oksigen dan tabung udara tekan yang dihubungkan dengan
Y-connector
Oxygen concentrator dan kompresor (sumber udara tekan)
Tabung oksigen / oksigen konsentrator + mini compressor
Sirkulasi Pemasangan jalur umbilikal emergensi (sementara)
Dengan kateter umbilikal Dengan Oral Gastric Tube
Transportasi Inkubator transpor Metode kanguru
Pelengkap Pulse oxymeter Pulse oxymeter harus tetap disediakan

35
Resusitasi Neonatus

Terintegrasi. Pemberian fraksi oksigen selain 21% dan 100%


dapat dicapai dengan oxygen blender (pada fasilitas lengkap) atau
pencampuran udara bertekanan dengan oksigen murni dengan
Y-connector atau T-piece resuscitator (Mixsafe) dengan mini
kompresor yang dapat menghasilkan medical air yang diinginkan.
(pada fasilitas terbatas). Pencampuran oksigen dan udara
bertekanan dilakukan dengan cara menghubungkan kedua tabung
dengan Y-connector. Setelah itu, lakukan pengaturan masing-
masing tabung sesuai dengan tabel 2.3

Resusitasi harus dilakukan secara optimal untuk menurunkan


angka mortalitas dan morbiditas bayi baru lahir, sehingga pada
daerah dengan fasilitas terbatas perlu memiliki kelengkapan alat
resusitasi dengan standar minimal. Alat yang tersedia di daerah
perifer dapat digunakan sebagai alternatif. Hal tersebut dapat dilihat
pada tabel 2.4

Pengendalian infeksi saat resusitasi

Sepertiga dari total angka kematian anak adalah kematian neonatus


yang terutama diakibatkan oleh infeksi, namun ironisnya transmisi
infeksi rumah sakit di negara berkembang cukup tinggi. Hal tersebut
disebabkan oleh kurangnya pengetahuan dan pelatihan tentang
dasar pencegahan infeksi, kurangnya infrastruktur, sistem rumah
sakit dan dana.10 Implementasi pengendalian infeksi pada petugas
rumah sakit dapat menurunkan kejadian infeksi hingga 29%.
Pengendalian infeksi saat resusitasi merupakan salah satu langkah
penting dalam strategi pengendalian infeksi.11 Pengendalian infeksi
bertujuan untuk mencegah penyebaran bakteri, virus atau jamur ke
pasien yang dapat bersumber dari darah, urin, feses, muntah, liur,
dan lain-lain.12
Pengendalian infeksi terdiri dari :

1. Kebersihan tangan

Gagalnya menjaga kebersihan tangan petugas kesehatan


merupakan salah satu mata rantai penyebaran infeksi pada

36
Persiapan Resusitasi 2

Gambar 2.34 Tahapan mencuci tangan. Sumber: WHO

pasien. Setiap penolong resusitasi harus mencuci tangan


sebelum dan sesudah melakukan resusitasi untuk memutus
rantai transmisi infeksi.13 Kebersihan tangan harus dijaga
dengan baik, yaitu membersihkan tangan dengan dengan air
mengalir, lap sekali pakai, cairan antiseptik, atau handrub
antiseptik berbasis alkohol tanpa air (klorheksidin glukonat
2-4%). Ssaat melakukan kontak dengan pasien, pemeriksa tidak
boleh memakai perhiasan, kuku palsu dan cat kuku.14-16
a. Bahan
i. Cairan antiseptik yang mengandung klorheksidin 2%
dan/atau dengan alkohol
ii. Cairan handrub di negara berkembang berdasarkan
rekomendasi WHO.13

37
Resusitasi Neonatus

Contoh komposisi dalam 100 mL larutan:


o Etanol 96% 84,20 mL
o H2O2 3% 4,17 m
o Gliserol 98% qs
o Parfum lemon qs
o Akuades ad 100 mL
iii. Air mengalir
iv. Lap sekali pakai
b. Prosedur
Tahapan mencuci tangan dapat dilihat pada gambar 2.34

2. Alat Pelindung Diri

Setiap penolong resusitasi dalam ruang operasi harus


menggunakan alat pelindung diri steril untuk mencegah
paparan yang memiliki potensi infeksius. Alat pelindung diri
yang harus dipakai, yaitu:
a. Penutup kepala
b. Masker
c. Sarung tangan
d. Jubah steril
e. Sepatu bot

3. Sterilisasi perlengkapan resusitasi

Idealnya alat-alat resusitasi hanya dipakai satu kali. Pada


fasilitas terbatas sering tidak tersedia alat sterilisasi. Beberapa
alat dapat dipakai kembali dengan memperhatikan keamanan
dan kebersihannya, seperti sungkup, balon resusitasi, daun
laringoskop, dan sirkuit alat bantu napas.

Dekontaminasi adalah tindakan awal membersihkan


peralatan medis untuk meminimalisir organisme dengan
menggunakan air, sabun dan gesekan. Desinfeksi adalah proses
penghancuran dan pemusnahan mikroorganisme patogen pada
perlengkapan yang ada. Desinfeksi tingkat tinggi adalah tindakan
yang dilakukan untuk menghilangkan semua mikroorganisme
kecuali endospora bakteri dengan cara direbus atau kimiawi.

38
Persiapan Resusitasi 2

Sterilisasi adalah tindakan yang dilakukan untuk


menghilangkan semua mikroorganisme termasuk endospora
bakteri. Sterilisasi dapat dilakukan dengan alat sterilisator
seperti plasma, ethilen oxide, autoclave, panas kering (oven),
sterilisator kimia atau radiasi.

Matras anti-air yang digunakan saat resusitasi bayi


dibersihkan setiap selesai resusitasi dengan menggunakan dua
cara, yaitu:
1. Matras yang tidak berisiko tinggi transmisi infeksi dapat
dibersihkan menggunakan detergen
2. Matras yang berisiko tinggi terjadi transmisi infeksi
dibersihkan dengan detergen dan desinfektan yang
disesuaikan dengan organisme multiresisten.

Stetoskop bagian membran dapat dibersihkan dengan lap/


kapas alkohol, sedangkan peralatan seperti troli resusitasi,
alat-alat resusitasi yang tidak terhubung lansung dengan bayi
(pulse oximeter, IV infusion pump) dapat dibersihkan setiap kali
pemakaian dengan menggunakan detergen.17

Pemakaian ulang balon dan sungkup (referensi dari


Laerdal Bag®):
Prosedur: Pemrosesan alat medis bekas pakai sesuai dengan jenis
peralatan non kritikal yang diawali dengan proses dekontaminasi
tingkat tinggi.

• Pembersihan balon dan sungkup:


 Dekontaminasi dan desinfeksi tingkat tinggi:
• Petugas melakukan 7 langkah kebersihan tangan
dengan cairan antiseptik dan air mengalir, keringkan
dengan tissue bersih
• Lepaskan sungkup, komponen patient valve, dan
komponen intake valve (lihat gambar 2.37)

39
Resusitasi Neonatus

8 7 2.A
6
1
2

3
9 10

Gambar 2.36 Komponen Balon Sungkup

1. Preterm ventilation Bag


2. Patient valve with pressure relief valve 2A. Pressure relief valve
3. Lip valve
4. Patient valve to mask
5. Disk membranes
6. Intake membranes
7. Intake valve
8. Intake valve to O2 reservoir
9. Oxygen reservoir valve
10. O2 reservoir 0,6 L

• Seluruh komponen dibilas di bawah air mengalir,


rendam dengan menggunakan air hangat selama
± 2 menit sebelum dibersihkan dengan air yang
mengandung detergen.
• Rendam seluruh komponen kedalam air hangat yang
sudah dicampur dengan detergen dan bersihkan
seluruh bagian dengan menggunakan sikat gigi.
• Bilas dengan menggunakan air hangat.
• Sungkup, komponen patient valve, komponen intake
valve direndam ke dalam larutan enzimatik (waktu
perendaman sesuai dengan rekomendasi pabrik)
Bilas dengan menggunakan air hangat.
• Rendam kembali kedalam larutan desinfektan sesuai
rekomendasi

40
Persiapan Resusitasi 2

Patient Valve Intake Valve

Gambar 2.37 Komponen patient valve dan intake valve

 Pemakaian
 Bilas dengan menggunakan air hangat
 Keringkan sungkup, komponen patient valve, dan
komponen intake valve di dalam lemari bersuhu 50-
700C sampai kering (minimal 30 menit)
Pemakaian:
 Cuci tangan 7 langkah dengan cairan antiseptik dan
air mengalir, keringkan dengan tissue bersih
 Keluarkan sungkup, komponen patient valve, dan
komponen intake valve dari tempat penyimpanan
barang medis steril, letakkan dan buka diatas meja
yang sudah disiapkan sebelumnya
 Periksa dan pastikan sungkup, komponen patient
valve, dan komponen intake valve berada dalam
keadaan utuh, tidak robek atau rusak. Apabila sungkup
robek atau rusak, ganti dengan sungkup yang baru.
 Gunakan sarung tangan steril Mutiara bernas
 Rakit kembali seluruh komponen Peralatan resusitasi
 Lakukan tes fungsi balon dan sungkup merupakan sumber
infeksi. Pastikan untuk
 Sungkup, komponen patient valve, dan komponen
membersihkannya setiap
intake valve dikemas dalam plastik pengepak. pemakaian!

41
Resusitasi Neonatus

Hal-Hal Penting
• Persiapan yang baik dan terencana akan memengaruhi
kelancaran dan efektivitas resusitasi. Semua informasi
sebaiknya sudah diketahui tim resusitasi sebelum bayi lahir.
• Tugas tim harus jelas dan dipahami oleh masing-masing
individu. Resusitasi tidak dapat dilakukan sendirian. Panggil
bantuan!
• Tim resusitasi sebaiknya memiliki personil yang tetap dan
siap kapanpun ada persalinan dengan risiko bayi lahir yang
memerlukan resusitasi.
• Pastikan suhu ruangan 24-26OC dan bayi tetap kering.
• Lakukan pengecekan alat secara berkala untuk memastikan
alat berfungsi dengan baik.
• Upayakan mencampur oksigen + medical air sehingga
tercapai FiO2 <30%, dan bila memungkinkan gunakan FiO2
21%.
• Peralatan resusitasi merupakan sumber infeksi. Pastikan
untuk membersihkannya setiap pemakaian.
• Setiap persalinan harus dianggap berisiko sampai terbukti
tidak.
• Di setiap persalinan harus tersedia perlengkapan resusitasi
yang lengkap serta tim resusitasi yang mampu melakukan
resusitasi hingga tingkat aktif (intubasi, RJP, pasang infus
untuk sirkulasi).
• Bila terdapat persalinan multipel, diperlukan set dan tim
resusitasi sejumlah bayi yang akan lahir.
• Plastik dapat digunakan untuk menghangatkan bayi. Bayi
dengan berat < 1500 gram membutuhkan infant warmer
dengan sistem servo, plastik penghangat dan topi, bila perlu
dan tersedia gunakan matras penghangat.
• Target FiO2 <30% di daerah terbatas dapat dicapai
menggunakan tabung oksigen atau oxygen concentrator yang
digabungkan dengan mini kompresor penghasil medical air.
Gunakan tabel khusus untuk panduannya.

42
Persiapan Resusitasi 2

Referensi
1. Queensland Maternity and Neonatal Clinical Guidelines Program.
Neonatal Resuscitation. Queensland: State of Queensland; 2011. h.7-
8.
2. Perlman JM, Wyllie J, Kattwinkel J, Atkins DL, Chameides L, Goldsmith
JP. Part 11 Neonatal resuscitation: 2010 International Consensus
on Cardiopulmonary Resuscitation and Emergency Cardiovascular
Care Science With Treatment Recommendations. Circulation.
2010;122:516-38.
3. Leone TA, Finer NN. Resuscitation in delivery room. Dalam: Gleason
CA, Devaskar SU, penyunting. Avery’s Diseases of The Newborn. Edisi
ke-9. Philadelphia: Saunders; 2012. h.328-40.
4. Australian Resuscitation Council. Section 13: Neonatal Guidelines.
Diunduh dari http://www.resus.org.au. Diakses pada 15 Oktober 2013.
5. The Royal Women’s Hospital Neonatal Service. Clinician’s Handbook.
Melbourne: The Royal Women’s Hospital; 2006. h. 91-4.
6. Karlowicz MG, Karotkin EH, Goldsmith JP. Resuscitation. Dalam:
Karotkin EH, Goldsmith JP, penyunting. Assisted Ventilation of the
Neonate. Edisi ke-5. Missouri: Saunders; 2011. h.76-7.
7. Bissinger RL. Neonatal Resuscitation. Diunduh dari http://emedicine.
medscape.com/article/977002-overview. Diakses pada 15 September
2013.
8. Leone TA, Finer NN. Resuscitation at birth. Dalam: Fanaroff AA,
Fanaroff JM, penyunting. Care of the High Risk Neonate. Edisi ke-6.
Philadelphia: Saunders; 2013. h.54-64.
9. Kaban RK, Kosim MS. Prosedur medik bayi baru lahir ventilasi
mekanik pada bayi baru lahir. Dalam: Kosim MS, Yunanto A, Dewi R,
Sarosa GI, Usman A, penyunting. Buku Ajar Neonatologi. Edisi ke-1.
Jakarta: Ikatan Dokter Anak Indonesia; 2010. h.436.
10. Mahfouz AA, Al-Azraqi TA, Abbag Fl, Al-Gamal MN, Seef S, Bello
CS. Nosocomial infection in a neonatal intensive care unit in South-
Western Saudi Arabia. East Mediterr Health J. 2010;16:40-4.
11. Judith A, Cotrril G. Infection control practices in the NICU: What is
evidence-based? NeoReviews. 2013;11:419-25.
12. Royal Children Melbourne Hospital. Clinical Practice Guideline.
Diunduh dari http://www.rch.org.au/clinicalguide/index.cfm. Diakses
pada 13 September 2013.

43
Resusitasi Neonatus

13. World Health Organization. WHO Guidelines on Hand Hygiene


in Health Care. Diunduh dari http://www.who.int/gpsc/5may/
tools/9789241597906/en. Diakses pada 10 September 2013.
14. Provincial Infectious Diseases Advisory Committee. Best practices
for infection prevention and control in perinatology in all health care
setting that provide obstetrical and newborn care. Toronto: The Ontario
Agency for Health Protection and Promotion; 2012.h.13-27.
15. Soemanto RK. Buku pedoman pencegahan dan pengendalian infeksi
rumah sakit di RSUPN dr. Cipto Mangunkusumo. Jakarta: Komite
PPIRS; 2011. h.4-6.
16. Polin RA, Denson S, Brady MT. Strategies for prevention of health
care-associated infection in the NICU. Pediatrics. 2012;129:1087-93.
17. South East Asia-Using Research for Change in Hospital-Acquired
Infection in Neonate. SEA-URCHIN Clinical Educator Manual
Infection Control. Sydney: National Health & Medical Research
Council (NHMRC); 2013. h.17-31.

44
3
Penilaian dan
Langkah Awal
Tujuan Pembelajaran:
1. Memahami penilaian dan langkah awal yang perlu dilakukan
pada resusitasi neonatus

Komponen Penilaian pada Resusitasi Neonatus

Penilaian merupakan salah satu bagian penting dalam resusitasi


neonatus yang perlu dipahami oleh setiap penolong. Tahapan ini
akan menentukan langkah serta tindakan resusitasi selanjutnya.
Penilaian harus dilakukan segera setelah bayi lahir dan berlanjut
sepanjang resusitasi.1,2

Komponen utama yang wajib dinilai saat awal:1,2

• Pernapasan
• Tonus otot
• Laju denyut jantung

Sedangkan komponen yang dinilai pada evaluasi lanjutan


sepanjang resusitasi berlangsung adalah laju denyut jantung bayi,
pernapasan, tonus otot dan oksigenasi.1,2

Evaluasi dan intervensi dalam resusitasi merupakan suatu


proses yang dilakukan secara serentak, hal ini lebih mudah
diterapkan bila terdapat lebih dari satu penolong.1

45
Resusitasi Neonatus

Pernapasan
Pernapasan sangatlah penting untuk dinilai karena tanda yang
pertama kali muncul pada bayi dengan gangguan kardiorespirasi
adalah penurunan upaya bernapas.4

Pernapasan mungkin sulit dinilai pada satu atau dua menit


pertama setelah lahir. Hal ini dikarenakan setelah upaya bernapas
awal, pernapasan bayi dapat berhenti selama beberapa detik, diikuti
oleh pernapasan regular yang cukup untuk memertahankan laju
denyut jantung lebih dari 100 kali per menit.1,3 Bila laju denyut
jantung dapat dipertahankan di atas 100 kali per menit biasanya
bayi tidak memerlukan intervensi segera selain menjaga jalan napas
tetap terbuka, yang tentunya harus tetap dilakukan. Bila laju denyut
jantung tetap di bawah 100 kali per menit, maka kemungkinan
diperlukan ventilasi tekanan positif.1

Pada bayi yang bernapas spontan, perlu dinilai ada atau tidaknya
tanda distres pernapasan. Retraksi atau tarikan ke dalam pada tulang
iga dan sternum, merintih saat ekspirasi merupakan tanda-tanda
yang harus diwaspadai pada semua bayi. Hal di atas menunjukkan
kemungkinan bayi mengalami kesulitan mengembangkan paru-
paru.

Bila terdapat gangguan pernapasan, bayi perlu diberikan


tekanan positif berkelanjutan pada jalan napas (continuous positive
airway pressure/CPAP) atau ventilasi tekanan positif.1

MUTIARA BERNAS Bayi dengan kondisi apnu atau dengan napas megap-megap
Berikan CPAP (continuous perlu diberikan ventilasi tekanan positif. Demikian juga pada bayi
positive airway pressure)
dengan napas spontan, sianosis sentral, dan laju denyut jantung di
pada bayi bernapas spontan
disertai distres pernapasan. atas 100 kali per menit yang telah mendapat terapi oksigen aliran
Berikan VTP (ventilasi bebas namun tidak membaik.
tekanan positif) pada bayi
dengan pernapasan megap- Bayi prematur seringkali memiliki napas yang tidak teratur
megap atau apnu. atau mengalami periode apnu singkat berulang. Pada kondisi ini
bila denyut jantung bayi di atas 100 kali per menit, bayi umumnya

46
Penilaian dan Langkah Awal 3

membutuhkan stimulasi singkat untuk merangsang pernapasannya.


Bila setelah mendapat stimulasi bayi mengalami penurunan laju
denyut jantung (di bawah 100 kali per menit), tonus yang buruk,
dan pola napasnya menjadi semakin iregular/tidak adekuat, maka
pada keadaan tersebut diperlukan VTP.3

Bayi yang mengalami distres pernapasan dapat segera diberikan


CPAP dini. Apabila saat pemantauan bayi tersebut mengalami sesak
yang memberat atau pernapasan yang dangkal disertai penurunan
laju denyut jantung, maka bayi membutuhkan ventilasi tekanan
positif.

Tonus dan Respons terhadap Stimulasi


Tonus otot merupakan penilaian yang subyektif dan bergantung
pada usia gestasi bayi, namun cukup akurat dalam memerediksi
kebutuhan resusitasi pada bayi. Seorang bayi dengan tonus otot
yang baik (menggerak-gerakkan tungkai dengan postur sesuai usia
gestasinya) umumnya tidak memerlukan resusitasi. Sebaliknya,
bayi dengan tonus otot lemah (tidak bergerak-gerak dan postur
tubuh ekstensi) seringkali membutuhkan resusitasi aktif.1

Sebagian besar bayi baru lahir akan langsung menggerakkan


keempat tungkainya, memulai upaya untuk bernapas dan denyut

Gambar 3.1. Bayi baru lahir dengan tonus otot yang baik. Diambil Gambar 3.2. Bayi baru lahir dengan tonus otot yang buruk.
dari http://www.solarnavigator.net/animal_kingdom/humans/babies. Diambil dari http://www.ichrc.org/sites/www.ichrc.org/
htm files/c_org_3d_training_tools.jpg

47
Resusitasi Neonatus

jantungnya akan meningkat di atas 100 kali per menit segera


setelah lahir. Bayi dengan kondisi ini tidak membutuhkan bantuan
resusitasi dan sebaiknya tidak dipisahkan dari ibunya.1

Bila respons bayi tidak ada atau lemah, maka penolong dapat
melakukan stimulasi dengan cara mengeringkan bayi dengan
handuk secara cepat namun lembut.

Menepuk pipi, memukul pantat,menggoyang, atau


menggantung bayi secara terbalik berpotensi bahaya dan tidak boleh
dilakukan. Sepanjang resusitasi, posisi bayi harus dijaga agar kepala
dan leher tetap dalam posisi netral, terutama bila tonus otot bayi
lemah.1

MUTIARA BERNAS Laju Denyut Jantung


Laju denyut jantung Bayi baru lahir normal memiliki laju denyut jantung sekitar 130 kali
adalah indikator paling per menit segera setelah lahir, bervariasi antara 110 hingga 160 kali
sensitif dalam menentukan
per menit. Laju denyut jantung diharapkan selalu di atas 100 kali per
keberhasilan resusitasi
menit selama menit pertama kehidupan pada bayi yang sehat. Laju
denyut jantung merupakan kunci utama dalam penilaian resusitasi.
Tanda pertama dari perbaikan kondisi bayi adalah peningkatan laju
denyut jantung.1-3,9,13

Laju denyut jantung dapat ditentukan dengan mendengarkan


jantung menggunakan stetoskop; pada menit-menit awal setelah
lahir, dengan meraba pulsasi pada dasar tali pusat; atau dengan
menggunakan pulse oximetry.1-2,4

Lokasi paling baik untuk pulsasi pada tali pusat adalah bagian
dasar, namun tidak adanya nadi di lokasi tersebut bukanlah pertanda
pasti untuk tidak adanya denyut jantung. Denyut nadi perifer dan
sentral sebaiknya tidak digunakan untuk menilai laju denyut jantung
karena sulit diraba dan hasilnya kurang dapat dipercaya.5-7

48
Penilaian dan Langkah Awal 3

MUTIARA BERNAS
Bila laju denyut jantung
bayi tetap di bawah 60 kali
per menit setelah ventilasi
tekanan positif yang
adekuat, lakukan kompresi
dada.

Gambar 3.3.Pulse oximetry yang


terpasang pada tangan bayi (Diambil
dari http://blog.babyheartscreening.
com/not-all-pulse-ox-machines-are-
create-equal/)

Di antara berbagai cara di atas, pulse oximetry memberikan


hasil laju denyut jantung yang paling baik.8-10 Sensor pulse oximetry
sebaiknya dipasang terlebih dahulu pada tangan atau pergelangan
tangan kanan (preduktal) sebelum disambungkan pada oximeter
untuk memperoleh hasil yang lebih akurat.1,2,9

Bila laju denyut jantung bayi terus menerus kurang dari 100
kali per menit, maka ventilasi bantuan harus dilakukan. Apabila
laju denyut jantung bayi tetap kurang dari 60 kali per menit bahkan
setelah diberikan ventilasi tekanan positif yang adekuat, kompresi
dada perlu diberikan.1

Oksigenasi
Salah satu komponen penilaian resusitasi lanjutan adalah
derajat oksigenasi. Untuk menilainya dapat dilakukan dengan
menggunakan pulse oximetry. Adapun penilaian warna kulit
cenderung bersifat subjektif dan tidak akurat.

Penelitian yang dilakukan oleh Colm dkk. pada tahun 2007


membandingkan pendapat dokter klinisi akan warna kulit bayi dan
saturasi oksigen bayi yang dinilai dengan pulse oximetry Dari 27

49
Resusitasi Neonatus

dokter yang menilai rekaman video 20 bayi baru lahir, didapatkan


perbedaan pendapat dalam penilaian warna kulit bayi dan variasi
SpO2 yang cukup lebar saat klinisi menyatakan bayi berwarna
merah muda. Penelitian ini menunjukkan bahwa penilaian warna
kulit seharusnya tidak dijadikan standar untuk derajat oksigenasi,
dan bahwa penilaian saturasi oksigen dengan pulse oximetry lebih
tepat digunakan dalam resusitasi.12

Pulse Oximetry
Penggunaan alat untuk monitoring yang lebih ekstensif dapat
memberi banyak kegunaan selama resusitasi berlangsung. Pulse
oximetry dapat menampilkan laju denyut jantung janin secara
audiovisual sepanjang resusitasi sehingga para anggota tim dapat
melakukan tugasnya masing-masing dan memonitor kondisi bayi
pada saat yang bersamaan dan tidak perlu menghentikan tindakan
resusitasi.14-15

Pulse oximetry juga dianggap sebagai metode yang lebih cepat


dan akurat untuk pengukuran oksigenasi dibanding warna kulit
semata.2,14-15

Untuk bayi yang membutuhkan resusitasi, pulse oximetry


dapat digunakan untuk membantu keputusan menaikkan atau
menurunkan kadar oksigen pada bayi. 1,2

Gambar 3.4. Pulse oximetry. Diambil dari http://blog.babyheartscreening.com/not-all-pulse-ox-


machines-are-create-equal/

50
Penilaian dan Langkah Awal 3

Tabel 3.2. Nilai Apgar


TANDA 0 1 2
Warna kulit Biru atau pucat Akrosianosis Seluruhnya kemerahan
Frekuensi jantung Tidak ada < 100/ menit > 100/ menit
Refleks rangsangan Tidak ada respons Sedikit Menangis atau aktif
Tonus otot Lemas Sedikit fleksi Gerak aktif
Pernapasan Tidak ada Menangis lemah, hipoventilasi Baik, menangis


Nilai Apgar
Nilai Apgar (tabel 3.2) merupakan sebuah metode objektif untuk
menilai kondisi bayi baru lahir dan mudah diterapkan pada berbagai
kondisi fasilitas kesehatan, namun sebaiknya nilai Apgar tidak
digunakan untuk menentukan kebutuhan dan intervensi
resusitasi pada bayi baru lahir.4,11,14,15 Penilaian ini menentukan
respons bayi baru lahir ketika melewati periode transisi pada beberapa
menit awal kehidupan. Nilai Apgar ditentukan pada menit ke-1 dan
5 serta dilanjutkan setiap 5 menit sampai nilai Apgar mencapai 7. MUTIARA BERNAS
Sebagai contoh, pada seorang bayi baru lahir didapatkan nilai Apgar Pada bayi yang
membutuhkan resusitasi
pada menit pertama nilai 2, menit kelima nilai 3, menit kesepuluh
aktif dan suplementasi
nilai 5, menit kelima belas nilai 7.
oksigen, pulse oximetry
harus digunakan
Pelaporan resusitasi harus ditulis secara lengkap dan meliputi untuk memantau
seluruh tahapan resusitasi. Penilaian perbaikan atau perburukan derajat oksigenasi dan
klinis harus dicatat setiap kali terdapat perubahan bermakna agar merencanakan pengaturan
perjalanan klinis bayi mudah dipahami dan untuk menentukan kadar oksigen.
tindakan pasca resusitasi.

Langkah Awal

Setiap penolong resusitasi harus dapat melakukan penilaian awal


untuk menentukan kebutuhan resusitasi pada bayi baru lahir.
Penilaian awal tersebut meliputi:

1. Menangis atau bernapas?

2. Tonus otot baik?

51
Resusitasi Neonatus   Bab 3  
 
3.2 Langkah Awal 
  LAHIR 
Perawatan Rutin:
 
• Keringkan bayi 
  Ya
• Beri kehangatan 
Bernapas atau  • Bersihkan jalan 
menangis? 
  napas bila perlu 
Tonus otot baik? 
• Observasi 
 
pernapasan, 
  warna dan laju 
denyut jantung 
  Tidak 
 
30 detik 
 
Langkah Awal: 

  Bayi bernapas 
• Berikan kehangatan 
adekuat dan laju 
• Posisikan dan bersihkan 
 
jalan napas 
denyut jantung > 
100 kali per 
• Keringkan dan stimulasi 
  menit
• Posisikan kembali 
 
 
  Nilai pernapasan, tonus dan laju 
denyut jantung 
 

14   
 

Bila jawaban untuk kedua pertanyaan tersebut


adalah “ya”, maka bayi hanya memerlukan perawatan rutin
yaitu mengeringkan bayi, memosisikan bayi kontak kulit dengan
kulit (skin-to-skin) dengan ibunya, dan menyelimuti bayi dengan
linen kering untuk memertahankan suhu. Tenaga kesehatan tetap
melakukan pemantauan pernapasan, aktivitas dan warna kulit bayi
selama perawatan rutin.

Bila ada jawaban “tidak” dari kedua pertanyaan


tersebut, maka dilanjutkan dengan langkah awal stabilisasi
meliputi :

52
Penilaian dan Langkah Awal 3

Gambar 3.5.Posisi bayi kontak kulit dengan kulit (skin-to-skin) dengan ibunya. Diambil dari: http://
ibudankeluarga.wordpress.com/2011/11/21/keajaiban-inisiasi-menyusu-dini/

Memberi Kehangatan
Kondisi hipotermia dapat meningkatkan konsumsi oksigen yang MUTIARA BERNAS
pada akhirnya dapat mengganggu resusitasi yang efektif. Pastikan Area resusitasi harus
area resusitasi terjaga hangat dengan suhu ruangan sekitar 25 dijaga hangat dengan
hingga 26oC, meletakkan bayi di bawah radiant warmer dalam suhu ruangan sekitar 25-
26OC, bayi diletakkan di
beberapa menit pertama setelah lahir, dan menggunakan alas/
bawah radiant warmer.
matras penghangat tambahan bila perlu, terutama pada bayi-bayi
Penghangat tambahan serta
kecil.15 Pasang probe suhu pada bayi dan setel infant warmer pada matras penghangat dapat
mode operasional otomatis atau sistem Servo, sehingga infant digunakan untuk bayi <
warmer akan menyesuaikan suhunya berdasarkan temperatur bayi 1000 gram
yang dinilai dari probe.

Untuk bayi cukup bulan atau usia gestasi mendekati cukup


bulan, keringkan bayi dan ganti kain yang sudah basah dengan
yang kering. Pada bayi dengan usia gestasi kurang dari 28 minggu,
disarankan untuk menaikkan suhu ruangan menjadi 26OC dan
membungkus bayi dengan plastik polietilen setinggi leher sebelum
mengeringkan bayi. Kepala bayi tidak terbungkus dan dikeringkan,

53
Resusitasi Neonatus

Gambar 3.6. Penggunaan plastik bening pada bayi baru lahir kurang bulan16

sementara bagian tubuh sisanya terbungkus plastik dan tidak


dikeringkan sebelumnya. Pada bayi dengan berat di bawah 1000 gram
disarankan untuk membungkus bayi dengan matras penghanghat.
2,15

Penelitian oleh Carroll dkk. pada tahun 2010 menunjukkan


bahwa penggunaan plastik polietilen pada resusitasi neonatus
dengan berat lahir sangat rendah (BBLSR) berhasil meningkatkan
suhu tubuh pada satu jam pertama kehidupan, dan menurunkan
kemungkinan periventrikular leukomalasia dibandingkan bayi yang
diresusitasi dengan metode penghangatan tradisional.17

Penjelasan lebih lanjut mengenai termoregulasi lingkungan


resusitasi dapat dilihat pada Bab 2: Persiapan Resusitasi.

Membuka Jalan Napas Bayi


Bayi diposisikan dalam keadaan setengah ekstensi (posisi menghidu)
agar jalan napas terbuka.

54
Penilaian dan Langkah Awal 3

MUTIARA BERNAS
Posisi yang paling baik
Gambar 3.7. Beberapa contoh posisi bayi.
Posisi ini menunjukkan posisi yang baik untuk untuk membuka jalan
membuka jalan napas secara optimal, yaitu
setengah ekstensi.
napas bayi adalah setengah
ekstensi

Pada posisi ini tampak kepala bayi terlalu


ekstensi sehingga jalan napas tertutup

Kesalahan pada posisi ini adalah kepala bayi


terlalu fleksi sehingga jalan napas tertutup.
Diambil dari: http://labspace.open.ac.uk

Penghisapan trakea hanya dilakukan pada bayi tidak bugar


(depresi napas, tonus otot lemah, denyut jantung di bawah 100 kali
per menit) dengan kecurigaan obstruksi jalan napas.

Hal ini akan dijelaskan lebih lanjut pada Bab 4: Resusitasi


Terintegrasi.

Mengeringkan dan Merangsang Taktil Bayi


Mengeringkan dan memberi rangsang taktil pada bayi merupakan
tindakan penilaian sekaligus resusitatif yang dapat merangsang
napas.1

55
Resusitasi Neonatus

Gambar 3.8. Proses mengeringkan bayi. Setelah mengeringkan bayi, handuk yang basah diganti
dengan yang kering. Diambil dari Buku Panduan Resusitasi Neonatus. American Academy of
Pediatrics

Bayi dikeringkan dengan kain linen bersih yang telah


dihangatkan mulai dari kepala hingga seluruh tubuh bayi. Sambil
mengeringkan, berikan rangsang taktil pada bayi berupa gosokan
lembut pada punggung bayi atau menyentil/menepuk telapak kaki
bayi secara tidak berlebihan. Pada bayi bugar, hindari mengeringkan
telapak tangan sebelum melakukan Inisiasi Menyusui Dini.

Kain yang sudah basah harus segera diganti dengan kain baru
yang kering dan bersih agar bayi tetap hangat.

Pengeringan handuk tidak perlu dilakukan pada bayi


prematur yang dibungkus dengan plastik polietilen karena
bersifat kontra-produktif. Bila perlu, rangsang taktil dapat tetap
diberikan melalui kantung plastik.1

Pernapasan merupakan tanda vital pertama yang berhenti


jika bayi mengalami kekurangan oksigen. Setelah periode awal
pernapasan cepat, periode apnu primer akan terjadi.4

56
Penilaian dan Langkah Awal 3

Gambar 3.9. Pemberian rangsang taktil


pada bayi. Diambil dari Buku Panduan
Resusitasi Neonatus.American Academy of
Pediatrics

Gambar 3.10. Apnu primer dan apnu sekunder. Diambil dari Buku Panduan Resusitasi Neonatus.
American Academy of Pediatrics

Pada periode ini, jika bayi diberikan rangsang taktil, bayi akan
kembali bernapas. Namun jika bayi terus mengalami kekurangan
oksigen selama apnu primer, bayi akan berusaha napas megap-
megap dan kemudian memasuki periode apnu sekunder. Selama
periode apnu sekunder, rangsang taktil berkepanjangan tidak akan
berhasil dan bantuan pernapasan harus diberikan.4

Memposisikan kembali bayi pada posisi menghidu


(setengah ekstensi).

Setelah mengeringkan dan menstimulasi bayi, kembalikan posisi


bayi seperti sebelumnya yaitu setengah ekstensi untuk membuka
jalan napas bayi.

57
Resusitasi Neonatus

Menilai Kembali Upaya Napas dan Laju Denyut Jantung


Bayi
MUTIARA BERNAS Jangan lupa untuk menilai kembali upaya napas dan laju denyut
Rangsang taktil efektif
jantung bayi untuk memastikan apakah bayi sudah dalam kondisi
diberikan bila bayi berada
dalam keadaan apnu stabil atau bahkan mengalami perburukan. Langkah selanjutnya
primer, namun bila bayi pada resusitasi bayi baru lahir akan dijelaskan lebih lanjut pada Bab
berada dalam kondisi apnu 4: Resusitasi Terintegrasi.
sekunder, rangsangan
apapun tidak akan berhasil
dan ventilasi tekanan positif
harus segera dimulai

Hal-hal penting
1. Penilaian awal pada resusitasi neonatus akan menentukan
langkah dan tindakan resusitasi selanjutnya.

2. Komponen utama yang wajib dinilai diawal resusitasi adalah


tonus otot, upaya napas, dan laju denyut jantung,sedangkan
komponen yang dinilai pada evaluasi lanjutan sepanjang
resusitasi berlangsung adalah laju denyut jantung bayi,
pernapasan, tonus dan oksigenasi

3. Laju denyut jantung merupakan indikator paling sensitif


untuk menilai keberhasilan resusitasi

4. Langkah awal resusitasi meliputi memberi kehangatan,


membuka jalan napas bayi, mengeringkan dan
menstimulasi bayi, memosisikan kembali bayi dalam posisi
setengah ekstensi, dan menilai ulang kondisi bayi.

5. Khusus untuk resusitasi bayi dengan berat lahir kurang dari


1500 gram, upaya mengeringkan dengan handuk dapat
diganti dengan upaya membungkus bayi dengan kantung
plastik polietilen.

58
Penilaian dan Langkah Awal 3

Daftar pustaka
1. Australian Resuscitation Council. Guideline 13.3 Assessment of the
Newborn Infant. Section 13: Neonatal Guidelines. Diunduh dari www.
resus.org.au. Diakses pada 15 Oktober 2013.
2. Queensland Maternity and Neonatal Clinical Guidelines Program.
Neonatal Resuscitation. Queensland: State of Queensland; 2011. h.9.
3. Dawes GS. Foetal and Neonatal Physiology. A Comparative Study of the
Changes at Birth. Chicago: Year Book Medical Publishers, Inc; 1968.
4. American Academy of Pediatrics/ American Heart Association. Neonatal
Resuscitation Program – The textbook of neonatal resuscitation. Edisi
ke-5. Elk Grove Village: American Academy of Pediatrics; 2011. h.8-5.
5. Whitelaw CC, Goldsmith LJ. Comparison of two techniques for
determining the presence of a pulse in an infant. Acad Emerg Med.
1997;4:153-4.
6. Kamlin CO, Dawson JA, O’Donnell CP, Morley CJ. Donath SM, Sekhon
J, et al. Accuracy of pulse oximetry measurement of heart rate of
newborn infants in the delivery room. J Pediatr. 2008; 152: 756-60.
7. Owen CJ, Wyllie JP. Determination of heart rate in the baby at birth.
Resuscitation. 2004;60:213-7.
8. Rao R, Ramji S. Pulse oximetry in asphyxiated newbornsin the delivery
room. Indian Pediatr. 2001;38:762-6.
9. O’Donnell CPF, Kamlin COF, Davis PG, Morley CJ. Obtaining
pulse oximetry data in neonates; a randomized crossover study of
sensor application techniques. Arch Dis Child Fetal Neonatal Ed.
2005;90:F84-5.
10. O’Donnell CPF, Kamlin COF, Davis PG, Morley CJ. Feasibility of and
delay in obtaining pulse oximetry during neonatal resuscitation. J
Pediatr. 2005;147:698-9.
11. Perlman JM, Wyllie J, Kattwinkel J, et al. Part 11: neonatal resuscitation:
2010 International Consensus on Cardiopulmonary Resuscitation
and Emergency Cardiovascular Care Science With Treatment
Recommendations. Circulation. 2010;122:S516-38
12. O’Donnell CPF, Kamlin COF, Davis PG, Carlin JB, Morley CJ. Clinical
assessment of infant colour at delivery. Arch Dis Child Fetal Neonatal
Ed. 2007;92:F465-7.
13. UK Resuscitation Council. Section 11 Newborn Life Support. 2010
Resuscitation Guidelines. Diunduh dari www.resus.org.uk/pages/nls.
pdf. Diakses pada 15 Oktober 2013.

59
Resusitasi Neonatus

14. Milner AD. Care around birth. Dalam: Rennie JM, penyunting.
Roberton’s Textbook of Neonatology. Edisi ke-4. Philadelphia: Elsevier;
2005.h225-6.
15. Leone TA, Finer NN. Resuscitation at birth. Dalam: Fanaroff AA,
Fanaroff JM, penyunting. Klaus and Fanaroff ’s Care of High-Risk
Neonate. Edisi ke-6. Philadelphia: Elsevier; 2013.h57-8.
16. Knobel RB, Wimmer Jr JE, Holbert D. Heat loss prevention for preterm
infants in the delivery room. J Perinatol. 2005; 25: 304-8.
17. Carroll PD, Nankervis CA, Giannone PJ, Cordero L. Use of polyethylene
bags in extremely low birth weight infant resuscitation for the
prevention of hypothermia. J Reprod Med. 2010;55(1-2):9-13.

60
5
Stabilisasi dan
Transportasi Pasca
Resusitasi
TUJUAN PEMBELAJARAN
1. Memahami hal-hal yang harus diperhatikan dalam
memertahankan stabilitas bayi baru lahir pasca resusitasi.
2. Memahami mekanisme transportasi bayi baru lahir yang
membutuhkan perawatan.

Stabilisasi neonatus

Bayi baru lahir dengan ventilasi dan sirkulasi adekuat pasca


resusitasi tetap memiliki risiko untuk mengalami perburukan.
Kondisi perburukan tersebut dapat menimbulkan gangguan atau
keterlambatan adaptasi berbagai organ tubuh pada masa perinatal,
sehingga bayi harus senantiasa dipertahankan dalam kondisi stabil
selama proses transportasi maupun ketika menjalani perawatan di
ruang rawat. Upaya untuk memertahankan kondisi stabil pada bayi
pasca resusitasi berpegang pada prinsip STABLE, yaitu: MUTIARA BERNAS
• Sugar and Safe Care (kadar gula darah dan perawatan yang Bayi kurang bulan, bayi
kecil masa kehamilan, bayi
aman)
besar masa kehamilan, bayi
• Temperature (suhu tubuh) dari ibu diabetik dan bayi
sakit memiliki risiko tinggi
• Airway (jalan napas)
mengalami hipoglikemia.

61
Resusitasi Neonatus

• Blood Pressure (tekanan darah)

• Lab Work (pemeriksaan laboratorium)

• Emotional Support (dukungan emosi)

Sugar and Safe Care (Kadar Gula Darah dan Perawatan


yang Aman)
Bayi pasca resusitasi rentan mengalami hipoglikemia. Kondisi ini
berkaitan dengan luaran neurodevelopmental yang buruk terutama
pada bayi dengan asfiksia, bayi yang memperoleh resusitasi, serta
bayi prematur.1 Risiko hipoglikemia juga dialami oleh bayi kecil masa
kehamilan, bayi besar masa kehamilan, bayi dengan hipotermia,
bayi dari ibu diabetik, serta bayi dari ibu yang memperoleh
pengobatan propranolol, obat hipoglikemia oral, atau infus glukosa
saat persalinan. Pada kelompok bayi tersebut hipoglikemia dapat
disebabkan oleh cadangan glukosa yang rendah, hiperinsulinemia,
atau peningkatan penggunaan glukosa. Bayi sakit atau tidak stabil
berisiko mengalami hipoglikemia ketika dipuasakan. Bayi sakit
perlu dipuasakan untuk mencegah aspirasi, mengurangi kejadian
cedera iskemik terkait penurunan aliran darah ke usus, serta
adanya obstruksi usus.1,2 Hingga saat ini batasan kadar gula darah
yang berkaitan dengan luaran yang buruk belum dapat ditentukan
namun kadar gula darah pada bayi baru lahir harus senantiasa
diupayakan dalam rentang normal (50-110 mg/dL).1

Pemeriksaan kadar gula darah pada bayi sakit atau bayi dengan
risiko hipoglikemia harus segera dilakukan dalam 30-60 menit
setelah lahir dan jika bayi menunjukkan tanda-tanda hipoglikemia
antara lain jitteriness, iritabilitas, hipotonia, letargi, menangis lemah
atau melengking, hipotermia, refleks hisap buruk, takipnea, sianosis,
apnea, atau kejang. Pemeriksaan dapat diulang dalam 1-3 jam
sesuai hasil pemeriksaan kadar gula darah dan kondisi bayi.1-3 Jika
kadar gula darah menetap dalam rentang normal maka frekuensi
pemeriksaan dapat dikurangi atau dihentikan. Pemeriksaan kadar

62
Stabilisasi dan Transportasi Pasca Resusitasi 5

gula darah dapat dilakukan dengan menggunakan strip gula darah,


alat analisis gas darah, atau melalui pemeriksaan laboratorium. Perlu
diperhatikan bahwa pemeriksaan kadar gula darah whole blood akan
memberikan hasil 15% lebih rendah dibanding pemeriksaan serum
darah. Dengan demikian hasil pemeriksaan kadar gula darah yang
rendah dengan strip sebaiknya dikonfirmasi dengan pemeriksaan
laboratorium, namun terapi tidak boleh ditunda hingga hasil
pemeriksaan laboratorium selesai.1,3

Apabila bayi sakit yang dipuasakan memiliki kadar gula darah


<50 mg/dL maka bayi harus diterapi dengan cairan glukosa
intravena dengan langkah sebagai berikut: MUTIARA BERNAS
Cairan glukosa dengan
• Berikan bolus D10 sebanyak 2 mL/kg dengan kecepatan 1 mL
konsentrasi lebih dari
per menit. Hindari pemberian bolus D25 atau D50 karena
12,5% tidak boleh diberikan
dapat menyebabkan hiperglikemia dan hipoglikemia rebound. melalui jalur perifer.
• Untuk maintenance berikan infus D10 sebanyak 60-80 mL/kg/
hari (GIR 4.2-5.5 mg/kg/menit).

Periksa kembali kadar gula darah 15-30 menit setelah


pemberian bolus glukosa atau peningkatan kecepatan infus glukosa.

• Dokumentasi respon terapi.

• Apabila kadar gula darah tetap < 50 mg/dL, ulangi bolus D10
2 mL/kg.

• Apabila kadar gula darah tetap < 50 mg/dL setelah 2 kali bolus
D10, ulangi bolus dan tingkatkan jumlah glukosa intravena
hingga 100-120 mL/kg/hari atau tingkatkan konsentrasi glukosa
intravena menjadi D12,5 atau D15.

• Evaluasi kadar gula darah setiap 30-60 menit hingga kadar


gula darah mencapai > 50 mg/dL minimal 2 kali pemeriksaan
berurutan.

• Apabila kadar gula darah > 150 mg/dL pada 2 pemeriksaan


berurutan, pikirkan kemungkinan stres atau prematuritas
sebagai penyebab. Kadar gula darah >250 mg/dL yang

63
Resusitasi Neonatus

tidak membaik memerlukan pemberian insulin dan perlu


dikonsultasikan pada ahli neonatologi atau endokrinologi.

• Cairan dekstrosa >12,5% harus diberikan melalui akses vena


sentral yaitu akses umbilikal.

Hipoglikemia dapat dihindari dengan cara mencegah terjadinya


hipotermia, pemberian minum secara dini dalam 30-60 menit
setelah lahir yang dilanjutkan minimal setiap 3 jam atau lebih
sering jika bayi mau, dan mulai pemberian infus dekstrosa 10%
sebanyak 60 mL/kg/hari apabila pemberian nutrisi secara enteral
tidak memungkinkan.3

Temperature (Suhu Tubuh)


MUTIARA BERNAS Upaya untuk memertahankan suhu tubuh normal menjadi prioritas
Pencegahan hipotermia utama dalam resusitasi maupun stabilisasi bayi baru lahir. Suhu
sangat penting untuk aksila normal pada bayi baru lahir berkisar antara 36,5-37,5oC.
selama resusitasi maupun Pemantauan suhu perlu dilakukan setiap 15-30 menit hingga suhu
stabilisasi
berada pada rentang normal dan minimal setiap jam sampai bayi
dipindahkan. Setiap bayi berisiko mengalami hipotermia namun bayi
kurang bulan, berat lahir rendah (terutama < 1500 gram) dan kecil
masa kehamilan memiliki risiko yang lebih besar. Hal ini disebabkan
karena kelompok bayi tersebut memiliki rasio permukaan tubuh
dibanding massa tubuh yang lebih luas, jumlah lemak yang lebih
sedikit, kulit tipis, kemampuan vasokonstriksi rendah, tonus dan
kemampuan fleksi rendah, serta simpanan lemak coklat sedikit.
Risiko hipotermia juga dimiliki oleh bayi yang membutuhkan
resusitasi berkepanjangan terutama disertai hipoksia, bayi dengan
penyakit akut (masalah infeksi, jantung, neurologi, endokrin, dan
memerlukan pembedahan terutama dengan defek dinding tubuh),
serta bayi yang kurang aktif atau hipotoni akibat obat sedatif,
analgesik, paralitik, atau anestesi.1,4

Secara umum hipotermia diklasifikasikan menjadi hipotermia


ringan (36-36,4oC), sedang (32-35,9oC), dan berat (< 32oC).
Bayi dapat mengalami perburukan klinis yang signifikan sebelum

64
Stabilisasi dan Transportasi Pasca Resusitasi 5

mengalami hipotermia berat. Hipotermia akan menimbulkan


respons berupa vasokonstriksi pembuluh darah perifer, peningkatan
aktivitas dan postur tubuh fleksi, serta metabolisme lemak coklat
guna menurunkan kehilangan panas dan meningkatkan produksi
panas. Respons tersebut akan meningkatkan laju metabolisme serta
konsumsi oksigen dan glukosa sehingga dapat memicu terjadinya
hipoksia dan hipoglikemia. Risiko hipoglikemia terkait hipotermia
lebih besar pada bayi kurang bulan yang memiliki sedikit cadangan
glikogen.1

Kehilangan panas tubuh dapat terjadi melalui 4 mekanisme


yaitu konduksi, konveksi, evaporasi, dan radiasi (lihat gambar 1).
Proses ini dipercepat oleh permukaan kulit yang basah, suhu ruangan
yang dingin, dan pergerakan udara melewati bayi yang meningkat.
Berbagai upaya pencegahan hipotermia selama stabilisasi dapat
dilakukan dengan cara1,2:

• Menaikkan suhu ruangan menjadi 25-28oC dan tidak


meletakkan bayi di bawah pendingin ruangan.

• Meletakkan bayi di bawah infant warmer saat dilakukan


resusitasi atau tindakan pada bayi.

• Menghangatkan benda yang akan bersentuhan dengan bayi


misal tempat tidur, stetoskop, selimut, dan tangan.

• Mengenakan topi pada kepala bayi.

• Membungkus bayi berat lahir < 1500 gram dengan plastik


bening dari kaki hingga setinggi leher bayi (jangan sampai
menutup wajah atau menghambat jalan napas).

• Memberikan oksigen yang telah dihangatkan dan dilembabkan.

• Menghangatkan inkubator terlebih dahulu sebelum meletakkan


bayi di dalamnya.

• Menggunakan inkubator transpor yang telah dihangatkan


atau kontak kulit dengan kulit (jika tidak tersedia inkubator
transpor) saat memindahkan bayi dari kamar bersalin ke ruang
perawatan.

65
Resusitasi Neonatus

Gambar 5.1. Mekanisme kehilangan panas pada bayi baru lahir

Perlu diperhatikan bahwa upaya pencegahan hipotermia jangan


sampai menimbulkan luka dan hipertermia pada bayi terutama pada
bayi dengan ensefalopati hipoksik-iskemik. Inkubator atau infant
warmer yang digunakan sebaiknya memiliki skin probe dengan
mode kontrol servo agar suhu bayi terpantau dengan baik.

Prosedur rewarming harus dilakukan pada bayi yang mengalami


hipotermia. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan
rewarming antara lain1:

• Rewarming yang terlalu cepat dapat mengakibatkan perburukan


klinis, yang ditandai oleh takikardia, gangguan irama jantung,
hipotensi, hipoksemia yang ditandai desaturasi, perburukan
distres napas, dan perburukan asidosis. Kecepatan rewarming
tidak lebih dari 0,5OC/jam untuk menghindari vasodilatasi
mendadak dan hipotensi.

66
Stabilisasi dan Transportasi Pasca Resusitasi 5

• Rewarming dapat dilakukan dengan menggunakan inkubator


atau infant warmer. Inkubator memungkinkan tenaga
kesehatan dapat mengontrol proses rewarming lebih baik
dibanding infant warmer.

• Saat melakukan rewarming, suhu permukaan kulit bayi


umumnya lebih tinggi dibanding suhu rektal sehingga
pemantauan suhu rektal penting dilakukan sampai mencapai
suhu normal. Saat suhu rektal telah mencapai normal, suhu
aksila dapat diukur. Pemantauan lain yang perlu dilakukan
selama rewarming meliputi laju dan irama denyut jantung,
tekanan darah, laju dan usaha napas, saturasi oksigen, status
asam basa (jika memungkinkan), serta kadar gula darah.

Airway (Jalan Napas)


Distres napas merupakan salah satu alasan utama bayi
membutuhkan perawatan. Evaluasi distres napas harus senantiasa
dilakukan selama periode stabilisasi. Komponen yang dievaluasi
meliputi1,2:

• Laju napas

Laju napas normal pada bayi berkisar antara 40-60 kali per
menit. Laju napas kurang dari 30 kali per menit disertai
penggunaan otot napas tambahan menandakan bayi mengalami
kelelahan bernapas. Napas megap-megap dapat menjadi tanda
ancaman henti napas.

• Usaha napas

Meliputi penilaian air entry, retraksi, merintih, napas cuping


hidung, dan apnea.

• Kebutuhan oksigen

Kebutuhan oksigen disesuaikan dengan kondisi klinis bayi dan


saturasi oksigen. Titrasi oksigen untuk memertahankan target
saturasi oksigen.

67
Resusitasi Neonatus

• Saturasi oksigen

Saturasi oksigen dipertahankan antara 88-92%. Pengukuran


saturasi oksigen sebaiknya dilakukan pada pre-duktal (tangan
kanan) dan post-duktal (salah satu kaki). Perbedaan saturasi
preduktal dan postduktal lebih dari 10% menandakan adanya
pirau.

• Gas darah

Pemeriksaan ini terutama dilakukan jika bayi membutuhkan


oksigen atau kemungkinan mengalami syok. Penilaian analisis
gas darah penting untuk menentukan derajat distres napas
serta membantu diagnosis dan tatalaksana distres napas. Hasil
analisis gas darah yang normal pada bayi baru lahir dapat dilihat
pada tabel 5.1.

Tabel 5.1. Hasil analisis gas darah pada bayi


Arteri Kapiler*
pH 7,30-7,45 7,30-7,45
pCO2 35-45 mmHg 35-50 mmHg
pO2 (dalam udara ruangan) 50-80 mmHg 35-45 mmHg
(tidak dapat digunakan untuk menilai
oksigenasi)
Bikarbonat (HCO3-) 19-26 mEq/L 19-26 mEq/L
Base excess -4 sampai +4 -4 sampai +4

*Sebelum pengambilan darah kapiler, hangatkan kaki/ tumit selama 3-5 menit
untuk memerbaiki aliran darah ke area pengambilan sampel.1

MUTIARA BERNAS Penilaian derajat gangguan napas pada bayi baru lahir dapat
Distres napas yang
dilakukan menggunakan skor Downe (Downe score). Skor ini dapat
disebabkan infeksi sulit
dibedakan dengan distres digunakan pada berbagai kondisi dan usia gestasi.
karena penyebab lain
sehingga kultur darah Distres napas bukanlah suatu diagnosis melainkan suatu
dan pemberian antibiotik manifestasi klinis yang disebabkan oleh berbagai kelainan yang
perlu dilakukan sampai melibatkan paru maupun organ selain paru. Jika laju napas >
kemungkinan infeksi dapat 60kali/menit disertai pCO2 yang tinggi maka penyebab distres napas
disingkirkan dapat dicurigai berasal dari paru seperti sindrom gawat napas,

68
Stabilisasi dan Transportasi Pasca Resusitasi 5

Gambar 5.2.
Deteksi pneumotoraks
dengan transiluminasi
Diunduh dari http://www.
carolinacoreconcepts.com.

pneumonia, aspirasi, perdarahan paru, obstruksi jalan napas, serta


pneumotoraks, sedangkan jika pCO2 rendah maka distres napas
mungkin disebabkan oleh organ di luar paru seperti penyakit jantung
bawaan, asidosis metabolik dan syok, atau penyakit otak. Distres
napas pada obstruksi jalan napas bagian atas umumnya disertai
dengan stridor inspiratori. Pada pneumotoraks juga dapat ditemukan
kelainan kardiovaskular seperti takikardia atau bradikardia selain
distres napas, terutama pada pneumotoraks tension. Deteksi
pneumotoraks dapat dilakukan dengan cara transiluminasi dan
dikonfirmasi dengan foto toraks (lihat gambar 5.2).1

Stabilisasi jalan napas perlu dilakukan untuk memertahankan


jalan napas tetap terbuka. Hal ini dapat dilakukan dengan mengganjal
bahu dengan gulungan kain. Bayi juga dapat diposisikan telentang
dengan sedikit tengadah untuk memosisikan faring, laring dan
trakea dalam satu garis lurus, sehingga udara dapat masuk dengan
mudah. Posisi telentang ini juga merupakan posisi terbaik untuk
melakukan ventilasi dengan balon-sungkup ataupun pemasangan
pipa endotrakeal.

Blood pressure (Tekanan Darah)


Bayi dapat mengalami gangguan sirkulasi berupa syok selama
masa stabilisasi. Syok merupakan suatu keadaan kompleks berupa
disfungsi sirkulasi yang mengakibatkan pengangkutan oksigen

69
Resusitasi Neonatus

dan nutrisi tidak adekuat untuk memenuhi kebutuhan jaringan.


MUTIARA BERNAS Kondisi ini dapat menimbulkan efek yang sangat merugikan pada
Bantuan ventilasi diberikan
bayi prematur berupa risiko perdarahan intraventrikular dan
secara bertahap sesuai
dengan derajat distres leukomalasia periventrikular akibat kemampuan autoregulasi otak
napas yang dialami. yang belum matang.5 Secara umum syok dibedakan menjadi 3
bentuk yaitu:

a. Syok hipovolemik

Merupakan disfungsi sirkulasi yang disebabkan oleh volume


sirkulasi darah yang rendah. Penyebab syok hipovolemik dapat
berupa perdarahan maupun non perdarahan (misal kebocoran
kapiler, dehidrasi, hipotensi fungsional)

b. Syok kardiogenik

Merupakan disfungsi sirkulasi yang disebabkan oleh fungsi


otot-otot jantung yang lemah (gagal jantung). Kondisi ini dapat
ditemukan pada bayi dengan asfiksia, hipoksia dan/ atau asidosis
metabolik, infeksi, gangguan napas berat (membutuhkan
bantuan ventilasi), hipoglikemia berat, kelainan metabolik dan/
atau gangguan elektrolit berat, aritmia, dan penyakit jantung
bawaan.

c. Syok septik

Merupakan disfungsi sirkulasi yang disebabkan oleh reaksi


sistemik kompleks sebagai respons terhadap infeksi berat.
Syok septik umumnya memberikan respons lemah terhadap
resusitasi cairan sehingga bayi seringkali membutuhkan obat
inotropik atau vasopresor untuk mengatasi tekanan darah yang
rendah. Risiko kerusakan organ dan kematian sangat tinggi
pada bentuk syok ini.

Ada kalanya syok yang terjadi merupakan kombinasi dari ketiga


bentuk syok di atas. Bayi dengan syok cenderung memperlihatkan
tanda sebagai berikut1,5,6

• Peningkatan usaha napas, apnea, atau napas megap-megap.

• Pulsasi perifer lemah

70
Stabilisasi dan Transportasi Pasca Resusitasi 5

• Perfusi perifer yang buruk, ditandai pemanjangan pengisian


kapiler (capillary refill time/ CRT> 3 detik - lihat Gambar 5.3.),
kulit dingin, kulit tampak mottled

• Sianosis atau pucat

• Takikardia atau bradikardia. Pada takikardia singkirkan


kemungkinan aritmia sedangkan pada bradikardia singkirkan
kemungkinan blok pada jantung.

• Tekanan darah dapat normal atau rendah. Tekanan darah yang


rendah merupakan tanda lanjut dari dekompensasi jantung

• Tekanan nadi dapat menyempit atau melebar. Tekanan nadi


yang menyempit ditemukan pada vasokonstriksi perifer, gagal
jantung, atau cardiac output rendah, sedangkan tekanan nadi
yang melebar ditemukan pada aortic runoff seperti duktus
arteriosus paten signifikan atau malformasi arteriovena besar

• Oliguria. Perlu diperhatikan bahwa produksi urin cenderung


rendah dalam 24 jam pasca kelahiran sehingga tidak dapat
dijadikan parameter untuk menentukan syok.

Tata laksana syok diawali dengan identifikasi penyebab syok, yang


diikuti dengan identifikasi dan koreksi masalah yang menimbulkan
gangguan fungsi jantung seperti hipovolemia, tamponade, gangguan
elektrolit, hipoglikemia, hipoksemia, aritmia, dan seterusnya.
Tatalaksana syok secara umum bertujuan untuk menormalkan pH,
menurunkan pembentukan asam laktat dan metabolisme anaerob,
meningkatkan oksigenasi dan perfusi jaringan, serta meningkatkan

Gambar 5.3. Evaluasi capillary refill time1

71
Resusitasi Neonatus

curah jantung. Perawatan suportif harus segera diberikan yaitu


menjaga patensi jalan napas, memberikan terapi oksigen, serta
memasang akses intravaskular atau intraoseus. Tatalaksana
selanjutnya disesuaikan dengan masing-masing bentuk syok yang
terjadi.

Tatalaksana pada syok hipovolemik meliputi pemberian


cairan kristaloid dan/atau produk darah (packed red cell/ PRC atau
whole blood) guna meningkatkan volume intravaskular. Cairan
kristaloid yang umum digunakan adalah larutan salin normal
atau ringer laktat. Apabila tidak terdapat kehilangan darah akut,
cairan kristaloid tersebut diberikan 10 mL/kg/kali secara intravena,
intraoseus, atau melalui kateter vena umbilikal dalam waktu 15-30
menit (pemberian dalam waktu singkat sesuai kondisi bayi). Hati-
hati pemberian bolus pada bayi premature sebaiknya diberikan lebih
dari 20 menit. Bolus cairan dapat diberikan dua kali atau lebih pada
kasus syok berat. Jika terdapat kehilangan darah kronik, beberapa
bayi dalam keadaan syok berat tidak dapat mentoleransi pemberian
cairan penambah volume secara cepat. Pada kehilangan darah akut,
cairan kristaloid dapat diberikan sambil menunggu transfusi produk
darah. Cairan diberikan sebanyak 10 mL/kg/kali secara intravena,
intraoseus, atau melalui kateter vena umbilikal selama 30 menit-2
jam (dapat lebih cepat tergantung kondisi bayi). Dalam keadaan
darurat yang tidak memungkinkan cross match darah bayi, transfusi
produk darah golongan O-Rhesus positif dapat diberikan (untuk
orang Indonesia). Respons bayi (laju denyut jantung, perfusi, dan
tekanan darah) harus senantiasa dinilai pada akhir pemberian bolus
sehingga dapat diputuskan pemberian bolus selanjutnya.

Tatalaksana syok kardiogenik ditujukan untuk mengoreksi


gangguan yang memengaruhi fungsi jantung (hipoksia, hipoglikemia,
hipotermia, hipotensi, asidosis, aritmia, infeksi, serta gangguan
keseimbangan elektrolit). Tatalaksana syok septik merupakan
kombinasi antara syok hipovolemik dan syok kardiogenik. Jumlah
cairan yang diberikan pada syok kardiogenik maupun syok septik

72
Stabilisasi dan Transportasi Pasca Resusitasi 5

sama dengan pada syok hipovolemik namun pada syok septik dapat
diperlukan bolus cairan lebih banyak akibat adanya kebocoran
cairan dari intravaskular ke ekstravaskular atau interstisial. Pada
syok kardiogenik maupun syok septik dapat diberikan terapi:

• Natrium bikarbonat 4,2% (0,5 mEq/mL), dengan dosis 2-4 mL/


kg/kali selama 30-60 menit intravena untuk mengatasi asidosis
metabolik berat (pH < 7,15 dan bayi diventilasi dengan adekuat).
Perlu diperhatikan bahwa natrium bikarbonat merupakan cairan
yang sangat hipertonik sehingga pemberian terlalu cepat dan tanpa
diencerkan dapat menyebabkan perdarahan intraventrikular pada
bayi kurang bulan.

• Dopamin hidroklorida, dengan dosis 5-20 mcg/kg/menit secara


kontinyu melalui pompa intravena untuk meningkatkan
kontraktilitas jantung dan tonus vaskular.

Terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan dalam


pemberian infus dopamin yaitu:1

1. Pada sebagian besar kasus bolus cairan (ekspansi volume)


diberikan sebelum memutuskan pemberian dopamin.

2. Dosis awal pemberian dopamin disesuaikan dengan status


klinis bayi dan penyebab hipotensi. Dosis dopamin dimulai dari
5 mcg/kg/menit dan dapat dinaikkan (atau diturunkan) sebesar
2,5 mcg/kg/menit.

3. Pantau tekanan darah dan denyut jantung setiap 1-2 menit


selama 15 menit lalu setiap 2-5 menit tergantung respons
pengobatan. Apabila bayi tidak memperlihatkan respons dengan
dosis 20 mcg/kgBB/menit, maka peningkatan dosis lebih lanjut
tidak dianjurkan.
MUTIARA BERNAS
4. Gunakan pompa infus dalam memberikan dopamin.
Kecukupan cairan harus
5. Berikan dopamin melalui vena umbilikal jika posisi kateter telah dipastikan sebelum
dikonfirmasi dengan foto toraks dan ujung kateter terletak di pemberian inotropik.
atas hepar pada percabangan vena cava inferior/ atrium kanan.
Jika tidak terdapat akses vena sentral, dopamin dapat diberikan

73
Resusitasi Neonatus

melalui jalur intravena perifer. Pantau adanya ekstravasasi pada


tempat masuk infus dan ganti bila perlu.

6. Infus dopamin tidak boleh diberikan melalui arteri termasuk


kateter arteri umbilikal.

7. Jangan melakukan flush pada jalur infus yang mengandung


dopamin karena dapat menyebabkan peningkatan tekanan
darah dan penurunan denyut jantung secara mendadak.

Lab Work (Pemeriksaan Laboratorium)


Bayi baru lahir rentan untuk mengalami infeksi akibat sistem imun
yang belum sempurna. Evaluasi dan tatalaksana infeksi merupakan
hal penting dalam masa stabilisasi terutama pada bayi dengan faktor
risiko infeksi (lihat tabel 5.2). Tanda dan gejala infeksi yang tidak
spesifik dan bervariasi pada bayi baru lahir sering menimbulkan
kesulitan dalam memutuskan pemberian antibiotik. Dalam hal ini
pemeriksaan laboratorium memegang peranan penting sebagai
indikator awal terjadinya infeksi. Pemeriksaan laboratorium yang
dianjurkan untuk diperiksa sebelum bayi ditranspor disingkat
dengan 4B yang meliputi:

• Blood count

Darah lengkap termasuk hitung jenis leukosit.

• Blood culture

Darah diambil dengan teknik steril, dalam jumlah cukup, dan


sebelum pemberian antibiotik.

• Blood glucose

Kadar gula darah diperiksa dini dan pantau dengan ketat sesuai
indikasi.

• Blood gas

Pemeriksaan dilakukan pada bayi dengan distres napas atau


dengan riwayat syok.

74
Stabilisasi dan Transportasi Pasca Resusitasi 5

Pemeriksaan laboratorium pasca transpor disesuaikan dengan


riwayat, faktor risiko, dan manifestasi klinis bayi. Perlu diperhatikan
bahwa tatalaksana infeksi pada bayi baru lahir tidak hanya
tergantung pada hasil pemeriksaan laboratorium saja melainkan
harus mempertimbangkan riwayat dan manifestasi klinis.1 Bila bayi
dicurigai mengalami infeksi, antibiotik sebaiknya diberikan sebelum
bayi dirujuk.

Tabel 5.2. Faktor risiko infeksi pada bayi baru lahir


Ketuban pecah dini
Kelahiran prematur
Korioamnionitis
Ibu mengalami infeksi atau sakit
Ibu mengalami demam pada masa peripartum (>38oC)
Ibu mengalami infeksi saluran kemih
Ketuban pecah > 18 jam
Prosedur invasif pada bayi setelah lahir atau selama perawatan (misal pemasangan
infus atau pipa endotrakeal)

Emotional Support (Dukungan Emosional)


Orangtua bayi yang menjalani perawatan umumnya akan mengalami
krisis emosi. Pada awalnya mungkin mereka tidak menunjukkan
ekspresi emosi apapun bahkan tidak memiliki pertanyaan dan
cenderung bingung menghadapi situasi yang tidak mereka
persiapkan ini. Orangtua, terutama ibu, selanjutnya dapat merasa
bersalah, marah, gagal, tidak percaya, takut, sedih, hingga depresi.
Dukungan emosional sangat diperlukan oleh orangtua/ keluarga
dalam situasi ini.1,4,7

Dukungan bagi orangtua/ keluarga sebaiknya diberikan sejak


awal hingga bayi menjalani perawatan dalam bentuk:

1. Mengijinkan ibu untuk melihat bayi.

2. Mengucapkan selamat atas kelahiran bayi dan memanggil bayi


dengan nama yang sudah dipersiapkan oleh keluarga.

3. Mengambil foto dan jejak kaki bayi.

75
Resusitasi Neonatus

4. Menawarkan dukungan dari pihak lain seperti kerabat atau


pemuka agama.

5. Memberikan penjelasan secara sederhana namun akurat kepada


orangtua mengenai keadaan bayi dan rencana tatalaksana.

6. Memberikan kesempatan kepada orangtua untuk bertanya


mengenai keadaan bayi.

7. Melibatkan orangtua dalam perawatan bayi serta dalam


pengambilan keputusan terkait tatalaksana.

HAL-HAL YANG PERLU DIPIKIRKAN SETELAH RESUSITASI

Penundaan pemotongan tali pusat


Penundaan pemotongan tali pusat dapat meningkatkan volume
darah hingga 8–24% (2-16 mL/kg pasca persalinan sesar dan 10-
28 mL/kg pasca persalinan normal) pada bayi dengan berat lahir
sangat rendah (BBLSR) sehingga mencegah gangguan sirkulasi
dan perfusi jaringan yang dapat menyebabkan kerusakan otak.
Penundaan pemotongan tali pusat selama 30 detik sampai 120 detik
pada bayi yang tidak membutuhkan resusitasi akan menurunkan
kebutuhan transfusi, menghasilkan stabilitas tekanan darah yang
lebih baik, menurunkan risiko perdarahan intraventrikular dan
enterokolitis nekrotikans.8,9

Pemberian vitamin K1 (fitomenadion)


Vitamin K1 diberikan pada semua bayi baru lahir untuk mencegah
perdarahan akibat defisiensi vitamin K. Penyuntikan vitamin K
dilakukan segera setelah lahir (paling lambat 2 jam setelah lahir)
sebelum vaksinasi hepatitis B dengan dosis 1 mg intramuskular
pada paha kiri.10,11

76
Stabilisasi dan Transportasi Pasca Resusitasi 5

MEKANISME RUJUKAN DAN TRANSPORTASI


Tenaga kesehatan harus mampu mengenali masalah pada bayi baru
lahir yang tidak dapat ditangani di sarana pelayanan kesehatan
tempat bayi tersebut dilahirkan dan memutuskan untuk segera
merujuk. Pada dasarnya merujuk ketika bayi masih di dalam
kandungan merupakan metode rujukan terbaik namun seringkali
MUTIARA BERNAS
kelahiran prematur, penyakit perinatal, dan kelainan kongenital
Transportasi hanya
tidak dapat diperkirakan dan transportasi harus dilakukan setelah dilakukan apabila bayi
bayi dilahirkan. Mekanisme transportasi yang efektif dapat berada dalam kondisi stabil
menghasilkan luaran baik pada bayi yang dirujuk, dengan demikian
setiap pelayanan kesehatan yang melayani kelahiran bayi harus
memiliki sekurang-kurangnya kemampuan standar resusitasi
dan stabilisasi, termasuk kemampuan merujuk. Penting untuk
dipahami bahwa bayi baru boleh dipindahkan/ dirujuk setelah bayi
dalam keadaan stabil. Tindakan merujuk harus dilakukan oleh tim
transpor khusus yang terlatih dan berpengalaman dengan sistem
terorganisir yang memungkinkan pemantauan dan perawatan
setara dengan perawatan tingkat lanjut. Transportasi bayi baru
lahir sebaiknya dilakukan dengan menggunakan inkubator transpor
namun transportasi di fasilitas terbatas juga dapat dilakukan dengan
metode kontak kulit dengan kulit (metode kanguru) (lihat Gambar
5.4).

Gambar 5.4. Metode transportasi bayi baru lahir


(a) inkubator transpor (b) metode kontak kulit dengan kulit (metode kanguru)

77
Resusitasi Neonatus

Beberapa komponen penting dalam sistem transportasi bayi


baru lahir meliputi:

• Sumber daya manusia

Tim transpor umumnya terdiri dari 2-3 orang tenaga medis


(dokter, perawat neonatus, atau tenaga medis lain) yang terlatih
dalam perawatan esensial bayi baru lahir selama transportasi,
mampu mengenali tanda bahaya serta melakukan tatalaksana
segera. Anggota tim transpor harus disesuaikan dengan
karakteristik dan kondisi bayi yang ditranspor (lihat tabel 5.3).
Secara umum transpor bayi yang menggunakan peralatan invasif
dan diperkirakan akan membutuhkan resusitasi emergensi
selama perjalanan harus didampingi oleh dokter dan disupervisi
oleh konsultan neonatologi yang selalu siap dihubungi melalui
telpon (oncall).

• Kendaraan dan peralatan

Kendaraan yang digunakan dalam merujuk bayi baru lahir


harus memenuhi ketentuan tunjangan hidup dasar. Kendaraan
tersebut harus efisien dan memberikan keamanan bagi pasien
serta tenaga medis yang mendampingi. Kendaraan ini juga
harus mampu memuat peralatan transportasi bayi seperti
inkubator transpor dengan/tanpa ventilator (pada fasilitas
lengkap), monitor kardiovaskular, tabung oksigen, alat suction,
serta dapat memberi ruang bagi tenaga medis untuk melakukan
tindakan yang diperlukan (misal memasang pipa endotrakeal).
Peralatan lain yang dibutuhkan selama transportasi dapat dilihat
pada tabel 5.4. Perangkat ventilasi dan sirkulasi yang terpasang
pada bayi harus difiksasi dengan baik agar tidak terlepas selama
perjalanan. Cara melakukan fiksasi pipa endotrakeal dan kateter
umbilikal dapat dilihat pada gambar 5.5. Setiap peralatan
yang terdapat dalam kendaraan transpor harus bersifat tahan
benturan/ ‘crash stable’ dan difiksasi selama perjalanan sehingga

78
Stabilisasi dan Transportasi Pasca Resusitasi 5

Tabel 5.3. Anggota tim transpor sesuai kriteria bayi12


Transportasi oleh dokter dan perawat Transportasi oleh perawat saja
 Bayi yang memerlukan perawatan intensif Bayi perawatan khusus yang stabil

 Bayi dengan berat < 1000 gram Bayi dengan ketergantungan tinggi yang telah stabil selama

 Bayi dengan usia gestasi < 28 minggu dan usia postnatal < 48 jam tanpa peningkatan kebutuhan oksigen dan tanpa
48 jam bradikardia atau desaturasi signifikan
 Bayi dengan CPAP nasal dalam 2 hari setelah ekstubasi Bayi dengan CPAP nasal yang telah stabil selama 48 jam

 Bayi dengan ketergantungan tinggi dan tidak stabil tanpa peningkatan oksigen dan tidak mengalami bradikardia
 Bayi dengan masalah jantung kompleks atau atau desaturasi signifikan dalam waktu dekat
membutuhkan obat untuk memertahankan lesi duct- Bayi yang dirujuk untuk pembedahan, dalam kondisi stabil

dependent sebelum transpor dan tidak membutuhkan intervensi untuk
 Bayi dengan masalah bedah kompleks memertahankan stabilitas
 Bayi dengan masalah neurologis yang membutuhkan Bayi dengan kelainan neurologi yang telah stabil selama 48

pemantauan dan terapi untuk memertahankan stabilitas jam
 Bayi yang dirujuk untuk intervensi dalam satu hari, misal Bayi yang telah diekstubasi selama 24 jam dari intubasi elektif

terapi retinopati terkait prematuritas atau pemeriksaan untuk pembedahan dan stabil sebelum intervensi
jalan napas. Bayi stabil yang melakukan konsultasi rawat jalan (bukan

intervensi) dan waktu tunggu tidak melebihi 1 jam

aman bagi bayi maupun tenaga medis yang menyertai.

• Komunikasi dan dukungan keluarga

Salah satu kunci keberhasilan transportasi adalah komunikasi


yang efektif antara pelayanan kesehatan yang merujuk dan unit
rujukan. Komunikasi harus senantiasa dilakukan sebelum,
selama, dan setelah mencapai unit rujukan. Beberapa hal
yang perlu disampaikan pada unit rujukan mencakup riwayat
kelahiran bayi, faktor risiko antenatal, tindakan yang telah

Gambar 5.5. Fiksasi pipa endotrakeal

79
Resusitasi Neonatus

dilakukan, serta perkembangan kondisi bayi. Tim perujuk juga


perlu memastikan ketersediaan tempat di unit rujukan terlebih
dahulu sebelum menghubungi tim transpor. Komunikasi
juga perlu dilakukan dengan orangtua meliputi kondisi bayi,
perawatan yang diperlukan, prognosis, dan informasi mengenai
sistem transportasi yang digunakan dan unit rujukan. Orangtua
harus diberikan kesempatan untuk mengajukan pertanyaan
terkait prosedur transportasi dan perawatan bayi mereka.

Tabel 5.4. Peralatan yang dibutuhkan selama transportasi bayi baru lahir
Dukungan termal:
Inkubator transpor (pada fasilitas lengkap)/transpor secara skin to skin (pada fasilitas terbatas)
Termometer dan/ atau monitor suhu disertai probes
Plastik, selimut insulator, pelindung panas
Dukungan respiratori:
Tabung oksigen dan udara dengan indikator tekanan dan kandungan gas yang sesuai
Flowmeter
Sungkup dan kanul nasal neonatus
Oxygen analyzer
Balon tekanan positif
Peralatan continuous positive airway pressure (CPAP): nasal prong dan pipa endotrakeal
Ventilator mekanik
Pipa endotrakeal ukuran 2,5;3,0;3,5;4,0 mm
Laringoskop dengan blade ukuran 00, 0, dan 1
Baterai dan lampu cadangan untuk laringoskop
Stilet dan plester untuk fiksasi pipa endotrakeal
Perangkat suction:
Kateter suction (ukuran 5, 6, 8, 10, 12 Fr)
Alat suction dengan batas tekanan < 100 mmHg
Feeding Tube (8 Fr) dan spuit 20 mL untuk dekompresi oro-gastrik
Sarung tangan steril, air steril untuk irigasi
Perangkat pemantauan:
Stetoskop, monitor jantung, pulse oxymeter
Alat pantau gula darah
Peralatan infus parenteral:
Kateter intravena (24, 26 G)
Spuit (2, 5, 10, 20, 50 mL)
Spalk, dressing transparan atau micropore
Three way stopcock, set infus (diusahakan kompatibel dengan syringe pump/ infuse pump)
Obat-obatan:
Kalsium glukonas 10%
Epinefrin (1:10000) diisi dalam spuit, sodium bikarbonat
Dopamin, Dobutamin, Morfin, Midazolam
Normal salin, Fenobarbital, Surfaktan

80
Stabilisasi dan Transportasi Pasca Resusitasi 5

• Dokumentasi dan informed consent

Kondisi dan tatalaksana bayi sebelum dan selama transportasi


harus selalu didokumentasikan untuk diserahkan pada pada
unit rujukan. Persetujuan keluarga terkait pemindahan bayi
ke unit rujukan dinyatakan dalam bentuk tertulis (informed
consent).

• Umpan balik dari unit rujukan

Unit rujukan harus memberi informasi kepada pihak yang


merujuk terkait kondisi bayi, diagnosis, prognosis, dan
kemungkinan lama rawat. Apabila kondisi bayi membaik dan
dikembalikan ke unit perujuk untuk melanjutkan perawatan
sebaiknya disertai dengan surat berisi tatalaksana dan lama
perawatan bayi di unit rujukan.

Peranan CPAP dan intubasi dalam transportasi


bayi baru lahir
Continuous positive airway pressure (CPAP) merupakan suatu
metode bantuan ventilasi yang telah digunakan secara luas dalam
penanganan distres napas pada bayi kurang bulan maupun cukup

Gambar 5.6. CPAP transportasi dengan Jackson Rees (fasilitas Gambar 5.7. CPAP transportasi dengan T-piece resuscitator Neopuff®
terbatas) (fasilitas lengkap)

81
Resusitasi Neonatus

Gambar 5.8. CPAP transportasi dengan T-piece resuscitator Mixsafe portabel berbaterai (fasilitas
terbatas)

bulan di unit perawatan neonatus. Penggunaan CPAP cenderung


meningkat karena memiliki risiko cedera paru dan kejadian
penyakit paru kronik yang lebih rendah dibanding intubasi dan
ventilasi mekanik.13,14 Hingga saat ini studi mengenai efektivitas dan
keamanan penggunaan CPAP dalam transportasi bayi baru lahir
masih sangat terbatas. Beberapa studi yang ada memperlihatkan
bahwa CPAP dianggap efektif dan aman untuk digunakan dalam
transportasi bayi baru lahir melalui darat.15,16 Penggunaan CPAP
dalam transportasi udara masih membutuhkan studi lebih lanjut.
Transportasi bayi dengan CPAP harus didampingi oleh dokter anak
atau residen yang telah terlatih dalam intubasi endotrakea dan
resusitasi, dengan kendaraan yang dilengkapi peralatan resusitasi
serta memiliki ruang yang cukup untuk dilakukan tindakan intubasi

82
Stabilisasi dan Transportasi Pasca Resusitasi 5

dan resusitasi. CPAP sebaiknya diberikan melalui nasal prong yang


telah difiksasi dengan baik agar tidak terlepas atau mengalami
perubahan posisi selama perjalanan.17

Pada keadaan tertentu ketika CPAP tidak dapat digunakan,


intubasi perlu dilakukan sebelum transportasi. Secara umum
intubasi elektif merupakan cara pemberian bantuan napas yang
cenderung dipilih untuk transportasi bayi dengan distres napas
namun studi yang mendukung hal ini masih terbatas. Keputusan
untuk melakukan intubasi sangat ditentukan oleh patofisiologi
penyakit, kemungkinan perburukan kondisi bayi, jarak perjalanan,
dan keadaan saat transportasi yang dapat menyulitkan untuk
dilakukan intubasi (misal malam hari, jalan yang ditempuh tidak
baik, dan sebagainya). Beberapa indikasi umum untuk dilakukan
intubasi sebelum transportasi antara lain:

• Perburukan distres napas dengan peningkatan kebutuhan


oksigen (FiO2 >70%)

• Apnea berulang

• Kejang berulang

• Penyakit jantung kongenital yang mendapat infus prostaglandin


E1 dengan dosis lebih dari 0,05 mcg/kg/menit (berisiko
mengalami apnea)

• Hernia diafragmatika kongenital

• Ruang dalam kendaraan dan kemampuan tenaga medis yang


terbatas untuk melakukan resusitasi

Bantuan ventilasi pada bayi terintubasi dapat menggunakan


ventilator transpor, T-piece resuscitator, atau ventilasi dengan balon
dan pipa (bila ventilator dan T-piece resuscitator tidak tersedia).17

83
Resusitasi Neonatus

HAL-HAL PENTING

• Stabilisasi pasca resusitasi berpegang pada prinsip


STABLE yang meliputi Sugar and Safe Care (kadar gula
darah dan perawatan aman), Temperature (suhu tubuh),
Airway (jalan napas), Blood Pressure (tekanan darah),
Lab Work (pemeriksaan laboratorium), dan Emotional
Support (dukungan emosi)

• Setiap bayi harus dalam kondisi stabil sebelum


dipindahkan ke ruang rawat atau dirujuk ke fasilitas
kesehatan lain.

• Komponen penting dalam sistem transportasi bayi


baru lahir meliputi sumber daya manusia, kendaraan
dan peralatan, komunikasi dan dukungan keluarga,
dokumentasi dan informed consent, serta umpan balik
dari unit rujukan.

• Penggunaan CPAP atau intubasi endotrakea dapat


dipertimbangkan dalam transportasi bayi baru lahir
dengan distres napas.

Daftar pustaka
1. Karlsen K. The S.T.A.B.L.E Program: Guidelines for Neonatal
Healthcare Providers. Edisi ke-5. Park City: S.T.A.B.L.E Program;
2006. h.5-42.

2. Perinatal Education Program University of Saskatchewan. Neonatal


post-resuscitation, stabilization, and preparation for transport.
Diunduh dari: www.usask.ca/cme/programs/perinatal/guidelines.php.
Diakses pada 17 Oktober 2013.

3. Queensland maternity and neonatal clinical guidelines program.


Neonatal hypoglycemia and neonatal clinical guideline. Diunduh dari:
www.health.qld.gov.au/qcg. Diakses pada 17 Oktober 2013.

84
Stabilisasi dan Transportasi Pasca Resusitasi 5

4. Queensland maternity and neonatal clinical guidelines program.


Neonatal stabilization for retrieval. Diunduh dari:http://www.health.
qld.gov.au/qcg. Diakses pada 17 Oktober 2013.

5. Engle WLD, LeFlore JL. Hypotension in the neonate. Neoreviews.


2002;3:157-62.

6. Barrington KJ. Hypotension and shock in the preterm infant. Semin


Fetal Neonatal Med. 2008;13:16-23.

7. Australian Resuscitation Council. Guideline 13.9 After the


Resuscitation of the Newborn Infant. Section 13: Neonatal Guidelines.
Diunduh dari www.resus.org.au. Diakses pada 15 Oktober 2013.

8. Rabe H, Reynolds G, Diaz-Rosello J. Early versus delayed umbilical


cord clamping in preterm infants. Cochrane Database Syst Rev.
2004;4: CD003248.

9. Mercer JS, Vohr BR, McGrath MM, Padbury JF, Wallach M, Oh M.


Delayed cord clamping in very preterm infants reduces the incidence
of intraventricular hemorrhage and late-onset sepsis: A randomized,
controlled trial. Pediatrics. 2006;117:1235-42.

10. Lippi G, Franchini M. Vitamin K in neonates: facts and myths. Blood


Transfus. 2011;9:4-9.

11. Puckett RM, Offringa M. Prophylactic vitamin K for vitamin K deficiency


bleeding in neonates. Cochrane Database Syst Rev 2000;4:CD002276.

12. British association of perinatal medicine. Standards for Neonatal


Hospital Providing of Neonatal Intensive and High Dependency care.
Diunduh dari www.bapm.org. Diakses pada 15 Oktober 2013.

13. De Klerk AM, De Klerk RK. Nasal continuous positive airway


pressure and outcomes of preterm infants. J Paediatr Child Health.
2001;37:161-7.

14. Jobe AH. The new bronchopulmonary dysplasia. Curr Opin Pediatr.
2011;23:167-72.

15. Bomont RK, Cheema IU. Use of nasal continuous positive pressure
during neonatal transfer. Arch Dis Fetal Neonatal Ed. 2006;91:85-9.

16. Murray PG, Stewart MJ. Use of nasal continuous positive airway
pressure during retrieval of neonates with acute respiratory distress.
Pediatrics. 2008;121:754-8.

17. NNF Clinical Practice Guidelines. Transport of a sick neonate.


Diunduh dari www.nnfpublication.org. Diakses pada 17 Oktober 2013.

85
Resusitasi Neonatus

86
4
Resusitasi Terintegrasi
Tujuan Pembelajaran:
1. Mengupayakan semua bayi yang lahir mencapai kondisi “warm,
pink, and sweet”.

S
etelah melakukan penilaian dan langkah awal pada 30
detik pertama, penolong resusitasi perlu menilai kembali
usaha bernapas dan laju denyut jantung. Bila penilaian
menunjukkan bayi gagal mencapai pernapasan regular yang adekuat,
atau laju denyut jantung di bawah 100 kali per menit, lakukan
resusitasi dengan mengintegrasikan komponen airway (membuka
jalan napas), breathing (ventilasi), circulation (kompresi dada) dan
drugs (pemberian cairan dan obat-obatan). 1

Kerja sama tim yang baik sangat penting dalam resusitasi bayi
baru lahir, terutama resusitasi tahap lanjut. 2,3

Airway (Membuka Jalan Napas)

Membuka jalan napas dan memberi ventilasi merupakan tahapan


terpenting dalam resusitasi. Kedua langkah tersebut harus
dikerjakan secara optimal sebelum menuju ke tahap berikutnya.1

Untuk membuka jalan napas, pertama tempatkan bayi pada


posisi telentang dan kepala di tengah (Gambar 4.1). Selimut atau
handuk setebal 2 cm ditempatkan di bawah bahu bayi untuk
membantu mempertahankan posisi kepala bayi, terutama jika

87
Resusitasi Neonatus

Gambar 4.1. Bayi baru lahir dengan posisi kepala di tengah.1

terjadi moulding yang cukup besar setelah lahir. Pertahankan posisi


setengah menghidu seperti yang telah dijelaskan pada bab 3. 1-3

Pada bayi dengan hipotonia, jaw thrust atau pemasangan


oropharingeal airway dapat membantu membuka jalan napas. 1

Jika usaha bernapas ada namun tidak menghasilkan ventilasi


efektif (ditandai dengan laju denyut jantung tidak meningkat di atas
100 kali per menit), jalan napas kemungkinan mengalami obstruksi.
Tindakan yang perlu dilakukan untuk menjaga patensi jalan napas
adalah menyokong rahang bawah, membuka mulut, atau untuk
beberapa kondisi (dijelaskan pada halaman selanjutnya) pertimbangkan
untuk mengisap jalan napas atas.2
MUTIARA BERNAS
Pertimbangkan pengisapan
hanya jika bayi tidak bugar Pengisapan Mulut dan Faring
dengan gejala obstruksi
yang jelas Selain mengeringkan dan merangsang taktil bayi, pengisapan juga
merupakan salah satu tindakan yang dapat merangsang napas.

Pengisapan hanya dilakukan jika jalan napas mengalami


obstruksi. Obstruksi dapat disebabkan oleh partikel mekoneum,

88
Resusitasi Terintegrasi 4

bekuan darah, mukus, atau verniks, namun demikian pengisapan


faring yang terlalu agresif dapat menyebabkan spasme laring,
trauma pada jaringan lunak, dan bradikardia karena refleks
vagal. Pengisapan juga dapat memperpanjang durasi sianosis dan
awitan napas spontan sehingga pengisapan faring harus dilakukan
dengan hati-hati, dalam waktu singkat. Bayi baru lahir bugar tidak
membutuhkan pengisapan hidung, mulut atau faring setelah lahir.1,2

Secara umum pengisapan hanya dilakukan pada bayi tidak


bugar dan menunjukkan gejala obstruksi yang jelas, seperti
tampaknya mekoneum/darah pada jalan napas, terdapat suara
napas tambahan, distres napas, dan laju denyut jantung di bawah
100 kali per menit.

Pengisapan faring juga dapat dilakukan selama intubasi agar


plika vokalis terlihat lebih jelas. Kateter isap besar harus dimasukkan
dengan kedalaman tidak lebih dari 5 cm dari mulut pada bayi cukup
bulan, dan tidak boleh lebih lama dari beberapa detik. Tekanan
negatif yang digunakan tidak boleh melebihi 100 mmHg (13 kPa,
133 cmH2O, 1,9 Psi.)2

Penanganan Jalan Napas pada Kondisi Air Ketuban


Bercampur Mekoneum
Beberapa penelitian tidak menyarankan pengisapan mulut, faring
atau endotrakeal pada kondisi air ketuban bercampur mekoneum
jika bayi lahir bugar (bernapas atau menangis, tonus otot baik).
Tindakan pengisapan tersebut tidak memerbaiki kondisi bayi,
tidak mencegah sindrom aspirasi mekoneum, dan bahkan dapat
membahayakan bayi.1,2,4-7

Pada kondisi air ketuban bercampur mekoneum dan bayi lahir


tidak bugar, belum didapatkan cukup bukti mengenai pelaksanaan
pengisapan endotrakeal. Klinisi harus mempertimbangkan baik-
baik risiko dan manfaat pengisapan endotrakeal karena pengisapan
dapat mengakibatkan tertundanya bantuan ventilasi.1,2

89
Resusitasi Neonatus

Tindakan mengisap mekoneum dari hidung dan mulut


bayi ketika kepala masih di perineum sebelum bahu lahir tidak
direkomendasikan. 2

Breathing (Ventilasi)

Setelah melakukan langkah awal, lakukan penilaian usaha napas,


laju denyut jantung dan tonus. Berikut ini adalah bagan resusitasi
blok B (breathing): Resusitasi Terintegrasi Bab 4  
 
4.2. Breathing (Ventilasi) 
Setelah membuka jalan napas, langkah selanjutnya adalah
membantu bayi bernapas. Pertama, bedakan apakah bayi bernapas
Setelah  melakukan 
spontan langkah 
atau tidak. awal,  bayi
Apabila lakukan  penilaian 
tidak usaha 
bernapas/megap-megap,
napas,  laju  ventilasi
lakukan denyut  jantung 
tekanandan  tonus. 
positif, Berikut  ini 
sedangkan adalah 
apabila bayi bernapas
bagan resusitasi blok B (breathing): 


Observasi usaha napas, laju denyut jantung (LDJ), dan tonus otot 
 


Tidak bernapas/ megap‐
  Bernapas spontan 
megap, dan atau 

LDJ < 100x/ menit 


Distres napas  Sianosis sentral persisten  
(Takipnu, retraksi,  Tanpa distres napas 

  atau merintih) 
Ventilasi tekanan 

positif (VTP)  Pertimbangkan 
 
  Continuous positive  suplementasi oksigen  

Pemantauan SpO2  airway pressure (CPAP)    
 PEEP 5‐8 cmH2O  Pemantauan SpO2 
Pemantauan SpO2 

Keterangan: 
 Apabila LDJ > 100 kali 
per menit dan  target 
saturasi oksigen tercapai: 

• Tanpa alat Æ Lanjutkan 
ke perawatan observasi 
 • Dengan alat Æ 
Lanjutkan ke perawatan 
   paska‐resusitasi 

6   
90  
Resusitasi Terintegrasi 4

spontan namun mengalami distres napas, berikan tekanan positif


berkelanjutan pada jalan napas (continuous positive airway
pressure/CPAP).

Pemasangan Sungkup Wajah


Ventilasi optimal dapat dicapai apabila sungkup wajah melekat
rapat pada wajah bayi, ditentukan dengan ukuran sungkup yang
tepat, cara memegang yang benar sesuai dengan jenis sungkup,
dan memantau kebocoran udara yang dapat dirasakan di sekeliling
sungkup, serta dibuktikan dengan pengembangan dada yang baik.

Sungkup wajah untuk bayi baru lahir terdiri dari berbagai


ukuran (diameter) dan harus disesuaikan dengan ukuran wajah
bayi.

Sungkup wajah yang baik harus menutupi ujung dagu, mulut


dan hidung seperti terlihat pada gambar 4.2 di bawah ini:

Gambar 4.2. Ukuran sungkup wajah. Sungkup paling kiri terlalu kecil karena tidak menutupi ujung
dagu, sedangkan sungkup di tengah terlalu besar sampai menutupi mata. Sungkup paling kanan
berukuran tepat, menutupi ujung dagu, mulut dan hidung.

Setelah penolong memilih ukuran sungkup yang tepat, lekatkan


sungkup pada wajah bayi menutupi pangkal hidung, mulut, dan
dagu tapi tidak menutupi mata (untuk berbagai ukuran sungkup
lihat Bab 2: Persiapan Resusitasi).

91
Resusitasi Neonatus

Gambar 4.3. Sungkup wajah tipe Laerdel® (kiri) dan Fisher Paykel ® (kanan).8

Setiap tipe sungkup wajah memiliki cara memegang yang


berbeda-beda. Sungkup wajah yang sering digunakan adalah sungkup
Laerdel® dan sungkup Fisher&Paykel®. Terdapat tiga metode anjuran
untuk memegang sungkup Laerdel® pada muka, seperti ditunjukkan
pada Gambar 4.3:

1. “Stem Hold” : titik temu antara ‘batang’ dan sungkup dipegang


dengan jari telunjuk dan jempol

2. “Two-Point Top Hold”: Jari jempol dan telunjuk menekan sisi


atas sungkup yang datar. Bagian ‘batang’ tidak dipegang dan jari
tidak memegang tepi sungkup

3. “OK Rim Hold”: jempol dan telunjuk membentuk C (seperti


tanda OK)

Gambar 4.4.Cara memegang sungkup wajah tipe Laerdel® dengan benar. Dari kiri ke kanan: Stem
Hold, Two-Point Top Hold, dan OK Rim Hold.8

92
Resusitasi Terintegrasi 4

Cara memegang sungkup wajah Fisher&Paykel® disebut


dengan Rim Hold. Dengan metode ini, tangan kiri penolong
memegang sungkup dengan jari-jari membentuk huruf C dengan
ibu jari dan telunjuk menekan sungkup ke wajah, sedangkan 3 jari
lainnya memegang sambil mengangkat tepi rahang bawah bayi ke
atas (jaw thrust).8

Gambar 4.5.
Cara memegang sungkup
wajah tipe Fisher&Paykel®
dengan benar.8

Setelah memasang sungkup dengan tepat, bantuan pernapasan


pada bayi dapat dimulai.

Prinsip untuk membantu bayi bernapas dapat disimpulkan


menjadi dua hal, yaitu:

• Pada bayi tidak bernapas spontan atau megap-megap, berikan


ventilasi tekanan positif

• Pada bayi yang bernapas spontan, jangan lakukan ventilasi


tekanan positif, melainkan berikan CPAP dini

Bayi Bernapas Spontan dengan Distres Napas


Pada bayi bernapas spontan namun dengan distres napas, berikan
tekanan positif berkelanjutan pada jalan napas (continuous positive
airway pressure/CPAP). Metode CPAP memberikan tekanan positif
terhadap jalan napas dari bayi yang bernapas spontan sepanjang
siklus ekspirasi. 9

93
Resusitasi Neonatus

Penggunaan CPAP secara dini di kamar bersalin saat resusitasi


bayi baru lahir telah terbukti meningkatkan angka kesintasan
(survival) bayi secara signifikan. Tekanan positif berkelanjutan
yang diberikan pada jalan napas sepanjang ekspirasi membantu
pernapasan bayi dengan distres pernapasan melalui beberapa cara.
CPAP membantu ekspansi paru, meningkatkan volume paru, dan
kapasitas residu fungsional paru (functional residual capacity/ FRC),
memerbaiki kesesuaian ventilasi-perfusi, menurunkan resistensi
vaskular paru, menurunkan atelektasis, dan meningkatkan
oksigenasi. CPAP juga menghemat penggunaan surfaktan, menjaga
keberadaan surfaktan pada alveoli, dan memertahankan volume
paru. Intubasi dan ventilasi tekanan positif seringkali menyebabkan
cedera pada jalan napas dan alveoli, meningkatkan risiko infeksi
paru dan hiperkarbia, sehingga CPAP lebih dipilih pada resusitasi
bayi baru lahir dengan napas spontan disertai distres napas. 9 Untuk
menilai usaha napas bayi, gunakan skor Downe:

Tabel 4.1 Skor Downe dan Interpretasinya10

0 1 2
Frekuensi Napas < 60 x/menit 60-80 x/menit > 80 x/menit

Retraksi Tidak ada retraksi Retraksi ringan Retraksi berat


Sianosis Tidak sianosis Sianosis hilang dengan O2 Sianosis menetap walaupun
diberi O2

Air Entry Udara masuk Penurunan ringan udara masuk Tidak ada udara masuk

Merintih Tidak merintih Dapat didengar dengan Dapat didengar tanpa alat
stetoskop bantu
Interpretasi Skor
Skor < 4 Distres Pernapasan Ringan (CPAP)
Skor 4-5 Distres Pernapasan Sedang (CPAP)
Skor ≥ 6 Distres Pernapasan Berat (pertimbangkan intubasi)

Alat yang dapat memberikan CPAP adalah T-piece resuscitator


di fasilitas lengkap, dan Jackson-Rees pada fasilitas terbatas. Cara
penggunaan dan penjelasan lebih lanjut mengenai kedua alat ini
Manometer
telah dijelaskan pada Bab 2: Persiapan Resusitasi.

94
Resusitasi Terintegrasi 4

Pemberian CPAP dapat dilakukan dengan sungkup atau single


nasal prong (menggunakan pipa endotrakea yang dipotong pendek).
Sungkup wajah dapat digunakan pada saat resusitasi, sedangkan
single nasal prong dipasang setelah resusitasi selesai, saat bayi
ditransportasikan menuju ruang perawatan.

Gambar 4.6
T-piece resuscitator di fasilitas lengkap (atas:
Neopuff®, bawah: Mixsafe®)

Keterangan
1. Selang inspirasi
2. Selang ekspirasi
3. Elbow
4. Paediatric APL (Adjustable Pressure
Limiting Valve)
5. Reservoir bag
6. T-connector

Gambar 4.7 Jackson-Rees di fasilitas terbatas

95
Resusitasi Neonatus

Cara memberikan ventilasi dengan CPAP di ruang bersalin


adalah sebagai berikut :

1. Sebelum memulai penggunaan katup T-piece resuscitator,


penolong harus mengatur tekanan positif akhir ekspirasi/
positive end-expiratory pressure (PEEP) yang akan diberikan
antara 5-8 cm H2O (umumnya dimulai dari 7 cm H2O) hingga
di manometer angka menunjukkan PEEP yang diinginkan.

2. Kapten tim yang bertanggung jawab atas airway dan breathing


melekatkan sungkup berukuran tepat pada wajah bayi.

3. Asisten sirkulasi mengamati saturasi oksigen dan laju denyut


jantung yang tercatat pada pulse oximetry

96
Resusitasi Terintegrasi 4

4. Apabila setelah pemberian CPAP saturasi oksigen masih belum


naik, maka jangan terburu-buru menaikkan FiO2. Target
pencapaian saturasi oksigen dapat dilihat pada tabel 4.2 (halaman
59) selama laju denyut jantung > 100 kali per menit.

5. Pemberian oksigen selalu dimulai dari konsentrasi 21%


kemudian dinaikkan/dipertahankan berdasarkan target saturasi
sesuai usia bayi (lihat tabel 4.2)

6. Pemberian CPAP di fasilitas terbatas dapat menggunakan alat


Jackson-Rees. Besarnya PEEP diukur dengan menggunakan
manometer jarum tambahan dan dapat diatur dengan katup
CPAP.

7. Hubungkan sungkup wajah dengan T-piece resuscitator atau


Jackson-Rees. Pastikan mulut bayi tidak dalam keadaan terbuka
agar tekanan yang diatur pada alat sesuai dengan tekanan yang
diperoleh bayi.

8. Kunci keberhasilan pemberian CPAP adalah sumber gas cukup


dengan memerhatikan tekanan yang tampak pada manometer.
Apabila tekanan berkurang curigai sumber gas berkurang.
Perhatikan tidak ada kebocoran udara melalui sungkup, melalui
nasal prong atau melalui sirkuit CPAP. Kebocoran melalui
sungkup dapat dideteksi melalui ada tidaknya udara yang

97
Resusitasi Neonatus

keluar di sekitar sungkup. Bila menggunakan pipa endotrakeal,


pastikan menggunakan ukuran pipa yang tepat menutupi
lubang hidung bayi.

9. Apabila retraksi masih ada maka PEEP dapat dinaikkan sampai


maksimal 8 cmH2O, sebelum memutuskan untuk melakukan
intubasi.

Kapan CPAP dianggap gagal?

Gambar 4.8. Pemberian CPAP dengan menggunakan Jackson-Rees (atas) dengan ukuran sungkup
yang sesuai (bawah)

98
Resusitasi Terintegrasi 4

Continuous positive airway pressure


(CPAP)
PEEP 5-8 cmH2O
Pemantauan SpO2

Gagal CPAP
PEEP 8 cmH2O
FiO2> 40%
Dengan distres napas
Pertimbangkan intubasi

Apabila pemberian CPAP telah mencapai tekanan positif akhir


ekspirasi sebesar 8 cmH2O dan FiO2 telah di atas 40% namun bayi
masih mengalami distres pernapasan.

Bayi Tidak Bernapas/Megap-Megap


Bila bayi gagal mencapai pernapasan spontan yang efektif atau
dalam kondisi apnu sekunder, atau laju denyut jantung di bawah 100
kali per menit, lakukan ventilasi tekanan positif. Tanda utama dari
ventilasi yang efektif adalah laju denyut jantung membaik dengan
segera dan selanjutnya bertahan dalam rentang normal. Gerakan
dinding dada harus dinilai jika laju denyut jantung tidak membaik.2

Apabila tidak tampak pergerakan dinding dada, pastikan tidak


ada kebocoran sungkup dengan merasakan udara yang keluar di
sekeliling sungkup. Pastikan bahwa tekanan ventilasi yang diberikan
sudah adekuat, tidak ada obstruksi lendir, dan posisi kepala bayi
harus tepat. 2

Memulai Ventilasi
Tujuan ventilasi adalah untuk mencapai kapasitas residu fungsional
yang adekuat.2

Pemberian ventilasi tekanan positif di saat awal membutuhkan

99
Resusitasi Neonatus

tekanan yang tinggi seperti telah dijelaskan pada Bab 1: Periode


Transisi Bayi Baru Lahir. Tekanan inspirasi negatif yang diperlukan
saat lahir untuk mengembangkan alveoli dapat mencapai 70-100
cmH2O.11

Tekanan puncak inflasi/TPI yang diperlukan untuk mencapai


peningkatan laju denyut jantung atau pengembangan dada cukup
bervariasi dan sulit diprediksi serta harus disesuaikan dengan
pasien masing-masing selama pemberian ventilasi tekanan positif. 2

Untuk bayi cukup bulan, pemberian tekanan inflasi awal


sebesar 30 cmH2O sudah cukup untuk meningkatkan laju denyut
jantung dan mengembangkan dinding dada, namun terkadang
tekanan yang dibutuhkan lebih besar. Pemberian tekanan inflasi
sebaiknya terukur dengan menggunakan manometer agar tekanan
terjaga konsisten dan penolong mampu mengontrol untuk
menaikkan atau menurunkannya. Bila manometer tidak tersedia,
penolong harus memerhatikan pengembangan dinding dada.
Apabila pengembangan dada tampak berlebihan dengan tekanan
yang sama, maka tekanan ventilasi harus diturunkan.2 Sebagai
contoh, bayi A gagal mencapai pernapasan spontan dengan laju
denyut jantung di bawah 100 kali per menit sehingga memerlukan
ventilasi tekanan positif. Bayi A mendapat tekanan inflasi awal 50
cmH2O. Setelah 5 kali pompa dada tampak mengembang berlebihan,
sehingga tekanan inflasi diturunkan menjadi 40 cmH2O. Setelah 10
kali pompa tampak dada mengembang berlebihan kembali, sehingga
tekanan inflasi dapat diturunkan lagi. Hal ini menunjukkan bahwa
tekanan inflasi pada ventilasi tekanan positif setelah inflasi pertama
dapat diturunkan karena paru telah mengembang sesuai dengan
kondisi bayi. Hal ini diperlukan untuk mencegah barotrauma di
kamar bersalin.

Pada bayi prematur, pengembangan paru yang berlebihan


selama ventilasi harus dihindari. Resusitasi sebaiknya dilakukan
dengan manometer untuk memantau tekanan inflasi puncak,
memandu pemberian tekanan yang konsisten, dan untuk

100
Resusitasi Terintegrasi 4
menghindari tekanan serta volume berlebihan. TPI awal untuk
ventilasi tekanan positif dapat diberikan sebesar 30 cmH2O pada
bayi prematur.2

Teknik Ventilasi Sungkup Wajah2

1. Pastikan jalan napas terbuka:


a. Sesuaikan posisi kepala/leher untuk membuka jalan napas
b. Mulut sedikit terbuka
c. Bersihkan jalan napas dari mekoneum atau darah bila
perlu

2. Peletakan sungkup yang benar sesuai tipenya

3. Kembangkan paru dengan tekanan dan volume yang cukup


sehingga tampak pergerakan dinding dada dan perut atas.
Pergerakan dinding dada harus sesuai dengan yang tampak
pada respirasi normal yang tenang.

4. Kecepatan ventilasi adalah 40 hingga 60 inflasi per menit


dengan waktu inspirasi sekitar 0,3-0,5 detik. Irama ini dapat
dibantu dengan cara penolong mengucapkan “pompa..dua..
tiga..pompa..dua..tiga” pada setiap episode pemberian napas
untuk pemberian 40 kali inflasi per menit. Untuk pemberian 60
kali inflasi per menit, hitungannya satu detik satu kali pompa
(“pompa, pompa, pompa”).

5. Indikator utama keberhasilan ventilasi tekanan positif adalah


pengembangan dada. Apabila pengembangan dada terlihat
berlebihan maka tekanan awal inspirasi dapat diturunkan. Bila
dada tidak bergerak dengan inflasi:
a. Cek manometer untuk memastikan apakah tekanan target
tercapai. Jika tidak, kemungkinan masalahnya adalah
kebocoran atau aliran udara tidak adekuat. Pada kondisi
demikian:
i. Jika menggunakan balon tidak mengembang sendiri,
pastikan aliran udara diaktifkan sebesar 5 L/menit atau
8 L/menit (5-10L/menit) untuk alat T-piece resuscitator
ii. Perbaiki lekatan di antara sungkup dan wajah

101
Resusitasi Neonatus

iii. Jika tekanan target masih belum tercapai, cek apakah


terdapat kebocoran pada sirkuit.
b. Jika tekanan target sudah tercapai, jalan napas
kemungkinan tersumbat atau compliance paru sangat
rendah, oleh karena itu:
i. Sesuaikan posisi kepala-leher bila perlu dan pastikan
rahang bawah disokong
ii. Pertimbangkan mengisap jalan napas
iii. Tingkatkan tekanan inflasi hingga dada turut
mengembang setiap inflasi
iv. Pertimbangkan penggunaan oral airway, intubasi
atau sungkup laring

6. Observasi kembali usaha napas dan laju denyut jantung setelah


periode 30 detik.

7. Apabila bayi masih tidak bernapas dan laju denyut jantung


<60 kali per menit, setelah dipastikan pengembangan dada
baik maka lanjutkan ke tahap ventilasi tekanan positif dengan
kompresi dada.

Menilai Keberhasilan Ventilasi

MUTIARA BERNAS
• Apabila bayi masih tidak bernapas dan denyut jantung
<100 kali per menit maka ventilasi tekanan positif tetap
dilanjutkan
• Apabila bayi bernapas tidak adekuat dan denyut jantung
>100 kali per menit maka lanjutkan dengan pemberian
PEEP
• Apabila bayi bernapas adekuat dan denyut jantung >100
kali per menit maka lanjutkan dengan perawatan pasca-
resusitasi
• Apabila bayi masih tidak bernapas dan denyut jantung
turun <60 kali per menit maka pastikan ventilasi sudah
adekuat dan kompresi dada dapat dimulai.

102
Resusitasi Terintegrasi 4

Efektivitas ventilasi dapat dinilai berdasarkan hal di bawah ini:2

1. Peningkatan laju denyut jantung di atas 100 kali per menit

2. Pengembangan dinding dada dan perut atas setiap inflasi

3. Perbaikan oksigenasi

Intubasi trakea (atau penggunaan sungkup laring) harus


dipertimbangkan bila ventilasi melalui sungkup wajah masih tidak
efektif walaupun telah melakukan hal-hal di atas.2

Suplementasi Oksigen selama Resusitasi


Terdapat berbagai penelitian yang menunjukkan bahwa kadar
oksigen darah pada bayi baru lahir normal membutuhkan waktu
hingga 10 menit untuk mencapai kadar di atas 90%.12-17 Kurangnya
oksigenasi dapat mengganggu fungsi organ atau menyebabkan
cedera permanen, namun oksigenasi yang berlebihan walau
sebentar juga dapat membahayakan bayi baru lahir selama dan
setelah resusitasi.12-15

International Liaison Committee on Resuscitation (ILCOR)


merekomendasikan penggunaan pulse oximetry untuk memonitor
dan melakukan titrasi penggunaan oksigen di kamar bersalin. 2

Monitor saturasi oksigen di kamar bersalin bertujuan untuk


mencegah efek toksik oksigen pada bayi prematur dan cukup bulan
serta menghindari pemberian suplementasi oksigen yang tidak
perlu.

Pemberian Oksigen
Tujuan pemberian oksigen adalah mencapai saturasi oksigen semirip
mungkin dengan bayi baru lahir sehat, sesuai dengan usia bayi
tersebut. Pada tabel berikut tertera saturasi target untuk bayi baru
lahir sepanjang resusitasi, dengan target teratas saturasi oksigen
90%. Harus diingat bahwa beberapa bayi dapat mencapai saturasi di

103
Resusitasi Neonatus

atas 90% walaupun tanpa mendapat suplementasi oksigen. 2

Tabel 4.2. Target Saturasi Sesuai Usia Bayi2


Waktu Setelah Lahir Saturasi Target untuk Bayi Baru Lahir selama Resusitasi (%)
1 menit 60-70
2 menit 65-85
3 menit 70-90
4 menit 75-90
5 menit 80-90
10 menit 85-90

Meta-analisis dari studi acak terkontrol yang membandingkan


resusitasi bayi baru lahir yang dimulai pada udara ruangan versus
oksigen 100% menunjukkan angka kesintasan lebih tinggi pada
bayi yang diresusitasi dengan udara ruangan. Penggunaan
fraksi oksigen 100% pada ventilasi tekanan positif untuk resusitasi
bayi cukup bulan tidak memberikan keuntungan jangka pendek
dan bahkan menunda bayi untuk melakukan napas pertamanya.
Pemberian oksigen 100% juga dapat menyebabkan kerusakan
oksidatif pada paru, otak, mata, dan perubahan aliran darah
otak, terutama pada bayi kurang bulan karena imaturitas sistem
antioksidannya.2

Rekomendasi Suplementasi Oksigen saat Resusitasi


Untuk bayi cukup bulan, gunakan udara ruangan terlebih dahulu,
dan berikan suplementasi oksigen hanya pada bayi dengan saturasi
yang tidak mencapai target batas bawah walau telah mendapat
bantuan pernapasan adekuat. Bila setelah ventilasi efektif masih tidak
terjadi peningkatan laju denyut jantung atau saturasi oksigen (dinilai
dengan pulse oximetry), berikan konsentrasi oksigen yang lebih
tinggi. Bila saturasi mencapai 90% setelah pemberian suplementasi
oksigen, turunkan konsentrasi oksigen. Pada laju denyut jantung
di bawah 100 kali per menit, setelah dipastikan ventilasi

104
Resusitasi Terintegrasi 4

adekuat FiO2 perlu dinaikkan hingga mencapai setingginya


100% (mulai dengan 30%). 2

Sebagian besar bayi kurang bulan dengan usia gestasi


kurang dari 32 minggu gagal mencapai saturasi target dengan
udara ruangan, maka disarankan untuk memulai bantuan
pernapasan dengan menggunakan udara ruangan atau campuran
udara ruangan dengan oksigen. Campuran udara tekan dan oksigen
diberikan secara cermat dan dipandu dengan hasil penilaian saturasi
oksigen.2,18 Penelitian menyebutkan bahwa pada bayi kurang bulan
kurang dari 32 minggu, penggunaan udara ruangan saja atau oksigen
100% saja meningkatkan risiko hipoksemia atau hiperoksemia
dibandingkan resusitasi yang dimulai dengan campuran udara dan
oksigen kemudian dititrasi. Resusitasi pada bayi kurang bulan dapat
dimulai dengan udara kamar atau fraksi oksigen 30-50%.2,3

Secara keseluruhan, pedoman suplementasi oksigen untuk


resusitasi bayi baru lahir dapat disimpulkan sebagai berikut:3,19

• Mulai pemberian dengan udara (oksigen 21%) dan berikan


oksigen sesuai kebutuhan berdasarkan target saturasi

• Berikan oksigen 100% apabila:

-- Saturasi oksigen masih di bawah 70% saat 5 menit atau di


bawah 90% saat usia 10 menit
-- Denyut jantung tidak meningkat di atas 100 kali per menit
setelah 60 detik dilakukan ventilasi efektif
-- Mulai memberikan kompresi dada

Suplementasi oksigen dapat diberikan dalam dua kondisi:


ideal dan kurang ideal. Pada kondisi ideal suplementasi oksigen
diberikan dengan blender oksigen, sementara pada kondisi kurang
ideal/fasilitas terbatas, terdapat beberapa pilihan dalam pemberian
oksigen, yaitu:

• Sumber oksigen dan udara bertekanan dihubungkan dengan


Y-connector. Untuk memperoleh konsentrasi fraksi oksigen

105
Resusitasi Neonatus

yang diinginkan dapat dilihat di tabel 4.3.

• Oxygen concentrator (menghasilkan oksigen 95%) atau oxygen


cylinder (oksigen 100%) ditambah dengan kompresor silinder/
udara. Untuk memperoleh konsentrasi fraksi oksigen yang
diinginkan dapat dilihat di tabel 4.3.

• T-piece resuscitator (Mixsafe) dengan mini kompresor yang


dapat menghasilkan medical air yang diinginkan. Untuk
memperoleh konsentrasi fraksi oksigen yang diinginkan tinggal
mengatur aliran oksigen dan aliran medical air Dapat dilihat di
tabel 4.3.

Apabila hanya tersedia udara ruangan atau oksigen


100%, tetap utamakan resusitasi dasar yaitu hangatkan bayi, jaga
jalan napas, dan lakukan pengisapan orofaring bila perlu. Bila
usaha respirasi baik dan laju denyut jantung bayi di atas 100 kali
per menit, bayi boleh ditunggu 5 sampai 10 menit hingga saturasi
mencapai nilai normal sesuai usia bayi. Namun bila tidak ada usaha
napas dan laju denyut jantung menurun, berikan ventilasi tekanan
positif dengan oksigen 100%, namun turunkan kadar oksigen
secepatnya.20,21

Tabel 4.3. Tabel konsentrasi oksigen untuk campuran udara bertekanan dan oksigen
% Udara Bertekanan (Liter/menit)
Kons. O2 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
1     41% 37% 34% 32% 31% 30% 29% 28%
2   61% 53% 47% 44% 41% 38% 37% 35% 34%
Oksigen Murni (Liter/ menit) 

3 80% 68% 61% 55% 51% 47% 45% 43% 41% 39%
4 84% 74% 66% 61% 56% 52% 50% 47% 45% 44%
5 86% 77% 70% 65% 61% 57% 54% 51% 49% 47%
6 88% 80% 74% 68% 64% 61% 57% 54% 53% 51%
7 90% 82% 76% 71% 67% 64% 61% 58% 56% 54%
8 91% 84% 78% 74% 70% 66% 63% 61% 58% 56%
9 92% 86% 80% 76% 72% 68% 65% 63% 61% 58%
Sebagai contoh, penolong berniat untuk memberikan oksigen
10 93% 87% 82% 77% 74% 70% 67% 65% 63% 61%

106
Resusitasi Terintegrasi 4

dengan konsentrasi sebesar 41% pada seorang bayi berusia 5 menit


dengan sianosis oral persisten. Dengan demikian, penolong dapat
mengacu pada tabel 4.3 di atas kemudian mengatur pemberian
oksigen sebesar 2 liter per menit dan udara bertekanan sebesar 6 liter
per menit, untuk mendapatkan konsentrasi oksigen sebesar 41%.

Pada semua kasus, prioritas utamanya adalah untuk

Gambar 4.9. Blender oksigen di fasilitas lengkap.

Gambar 4.10. Sumber udara bertekanan dan tabung oksigen 100% yang dihubungkan dengan Y-connector di fasilitas
terbatas.

107
Resusitasi Neonatus

Gambar 4.11.
T-piece resuscitator Mixsafe dengan pencampur
oksigen sebagai salah satu pilihan pemberian
oksigen di fasilitas terbatas.

memastikan inflasi adekuat pada paru-paru, diikuti dengan


meningkatkan konsentrasi oksigen inspirasi hanya jika diperlukan.2

Intubasi Endotrakea

Indikasi
Keputusan untuk melakukan intubasi bergantung pada usia gestasi
bayi, derajat distres napas, respons terhadap ventilasi tekanan
positif, dan kemampuan serta pengalaman penolong.2
Intubasi trakea perlu dilakukan jika2:

• Terdapat keputusan mendadak untuk melakukan pengisapan


endotrakeal pada bayi tidak bugar terpapar cairan amnion
bercampur mekoneum.

• Ventilasi melalui sungkup wajah tidak berhasil (laju denyut


jantung tetap lambat, saturasi oksigen gagal naik atau terlalu
lama).

• Pada keadaan khusus, seperti hernia diafragmatika kongenital


atau berat lahir bayi sangat rendah

• Bayi lahir tanpa denyut jantung yang jelas, intubasi harus


dilakukan sesegera mungkin setelah lahir.

108
Resusitasi Terintegrasi 4
Ukuran dan Kedalaman Insersi Laringoskop dan Pipa
Endotrakeal
Diameter internal pipa endotrakeal (endotracheal tube/ ETT) dalam
milimeter dapat dihitung melalui rumus usia gestasi dalam minggu
dibagi 10. Umumnya, pipa dengan diameter 2,5 mm sesuai untuk
bayi dengan berat badan kurang dari 1 kg, pipa dengan diameter 3,0
mm untuk bayi dengan berat 1-2 kg, pipa dengan diameter 3,5 mm
untuk bayi dengan berat 2-3 kg, dan pipa dengan diameter 3,5-4,0
mm untuk bayi dengan berat di atas 3 kg.2

Laringoskop untuk bayi baru lahir harus memiliki daun lurus/


Miller dengan ukuran 1 (10 cm) sesuai untuk bayi cukup bulan,
sedangkan ukuran 0 (7,5 cm) sesuai untuk bayi kurang bulan atau
00 (6 cm) untuk bayi dengan berat lahir sangat rendah.

Secara cepat, untuk menghitung kedalaman insersi pipa


endotrakea di bibir dapat dihitung dengan: berat badan dalam
kg ditambah 6 cm.2, 22
Walaupun demikian, penggunaan tabel
dibawah ini lebih diutamakan karena presisinya yang lebih baik.
Penggunaannya juga direkomendasikan untuk bayi dengan berat
lahir sangat rendah dan kurang bulan.2

Kedalaman insersi yang tepat harus selalu diverifikasi dengan

Tabel 4.4. Panjang Pipa Endotrakeal yang Direkomendasikan Berdasarkan Usia Gestasi Terkoreksi (Usia
Gestasi Saat Lahir + Usia Postnatal) dan Berat Badan Saat Diintubasi. 2

Usia Gestasi Berat Badan Tanda ETT di Bibir Ukuran ETT – Ukuran Kateter
Terkoreksi (kg) (cm) Diameter Internal Pengisap ETT (F)
(minggu) (mm)

23-24 0,5-0,6 5,5 2,5 5 atau 6

25-26 0,7-0,8 6,0 2,5 5 atau 6

27-29 0,9-1,0 6,5 2,5 5 atau 6

30-32 1,1-1,4 7,0 3,0 6 atau 8

33-34 1,5-1,8 7,5 3,0 6 atau 8

35-37 1,9-2,4 8,0 3,5 8

38-40 2,5-3,1 8,5 3,5 8

41-43 3,2-4,2 9,0 3,5-4,0 8 atau 10

109
Resusitasi Neonatus

membandingkan tanda pada pipa endotrakeal di mulut dengan


rumus atau tabel. Selama perawatan intensif bayi baru lahir
selanjutnya, jika ventilasi tekanan positif endotrakea dilanjutkan,
maka foto toraks dada harus dilakukan untuk mengkonfirmasi
posisi pipa endotrakeal yang optimal. Perhatikan bahwa posisi kepala
(di tengah atau menoleh ke samping, leher fleksi atau ekstensi)
dapat memengaruhi penilaian ini, maka disarankan pemeriksaan
radiografi selalu dilakukan pada posisi yang sama. Ujung pipa
endotrakeal harus sejajar dengan tulang belakang torakal pertama
atau kedua.2

Untuk intubasi yang dilakukan melalui hidung harus dibantu


dengan forseps Magyll.

Gambar 4.12. Forseps Magyll

Teknik Intubasi
Teknik melakukan intubasi endotrakea :

1. Tentukan ukuran pipa endotrakeal

2. Gunakan sarung tangan steril

3. Posisikan bayi di atas permukaan yang rata

4. Jangan lupa sebelum tindakan dimulai, monitor denyut jantung


dan saturasi oksigen harus terpasang

5. Posisikan kepala bayi berada di tengah dengan leher sedikit


ekstensi, tarik dagu dalam posisi menghidu

110
Resusitasi Terintegrasi 4

Gambar 4.13 Prosedur Intubasi Endotrakea

6. Bersihkan orofaring (suction bila perlu) sampai epiglottis


tampak

7. Berikan ventilasi awal untuk preoksigenasi sebelum tindakan


dengan fraksi oksigen seminimal mungkin untuk mencapai
target saturasi 88-92%

8. Pegang laringoskop dengan tangan kiri dan nyalakan lampu


laringoskop dengan memosisikan daun pada posisi terbuka

9. Stabilkan kepala bayi dengan tangan kanan

10. Buka mulut bayi dan tekan lidah ke arah bawah

11. Masukkan laringoskop dari sebelah kanan lidah sampai


menyentuh valekula

12. Asisten memberikan oksigen aliran bebas selama prosedur


intubasi

111
Resusitasi Neonatus

13. Kenali dan tentukan lokasi glotis. Letak pipa endotrakeal yang
benar adalah antara pita suara dan karina masukkan pipa
sampai garis pedoman pita suara berada sebatas pita suara

14. Menekan krikoid ke bawah dengan jari kelingking, dapat


membantu visualisasi glotis

Garis batas pita suara

Gambar 4.14 Pipa endotrakeal dengan garis batas pita suara

15. Setiap tindakan pemasangan pipa endotrakeal dibatasi hanya


dalam 20 detik dan apabila pemasangan pipa endotrakeal
melebihi 20 detik maka harus dipantau agar denyut jantung
selalu di atas 100 kali per menit. Bila denyut jantung di bawah
100 kali per menit, segera lakukan kembali ventilasi tekanan
positif.

Gambar 4.15 Anatomi faring dan hipofaring yang tampak apabila lidah diangkat

112
Resusitasi Terintegrasi 4

Gambar 4.16 Potongan saluran


napas saat intubasi23

16. Apabila pipa endotrakeal sudah berada di tempat yang benar,


pegang pipa dengan ibu jari dan telunjuk tangan kanan
menekan ke arah langit-langit keras supaya tidak mudah
tercabut saat fiksasi pipa endotrakeal atau bila bayi bergerak.
JANGAN LEPASKAN jari dengan alasan apapun sebelum pipa
endotrakeal difiksasi.

Terdapat beberapa masalah yang umum ditemui selama


intubasi bayi baru lahir:2,23

113
Resusitasi Neonatus

Gambar 4.17 Berbagai kemungkinan kesalahan saat memasukkan laringoskop23

Jika intubasi gagal dilakukan, lanjutkan ventilasi tekanan


positif dengan sungkup wajah sebelum mencoba ulang intubasi. 2

Jika stilet digunakan di dalam pipa endotrakeal, ujung stilet


harus berada sekitar satu sentimeter dari ujung pipa didalam pipa
endotrakeal, sehingga pipa tetap fleksibel dan stilet tidak merusak
trakea atau jaringan lainnya. Pada jalan napas yang sangat sulit,
stilet kadang-kadang perlu dimasukkan lebih dekat dengan ujung
pipa agar pipa lebih mudah dikontrol.2

114
Resusitasi Terintegrasi 4

Memastikan Posisi Pipa Endotrakeal


Efektivitas ventilasi melalui pipa endotrakeal dikonfirmasi dengan
tiga hal: 2

1. Dinding dada mengembang seiring inflasi

2. Peningkatan laju denyut jantung di atas 100 kali per menit.


Pada bayi dengan bradikardia, peningkatan laju denyut jantung
segera merupakan indikator terbaik bahwa pipa berada di
trakeobronkial dan ventilasi efektif sedang diberikan.

3. Perbaikan oksigenasi. Penilaian dengan oksimetri lebih akurat


dibandingkan inspeksi visual dalam mendeteksi perbaikan
oksigenasi.

Jika dada tidak mengembang dan laju denyut jantung tidak


meningkat, lokasi pipa endotrakeal dan teknik ventilasi perlu
dievaluasi ulang.2

Tanda-tanda lainnya untuk mengkonfirmasi posisi pipa


endotrakeal yang tepat:2

• Dengan inspeksi visual bahwa pipa endotrakeal telah melewati


laring

• Jika ujung pipa endotrakeal berada di dalam trakea, selama


beberapa napas pertama, embun dapat terlihat dalam pipa
endotrakeal selama ekspirasi. Reliabilitas tanda ini masih belum
dapat dipastikan.

Gambar 4.18
Detektor CO2. Gambar diambil dari http://
www.covidien.com

115
Resusitasi Neonatus

• Metode yang paling dapat diandalkan untuk mengonfirmasi


letak pipa endotrakeal adalah dengan cara menghubungkan
detektor CO2 dengan adaptor pipa endotrakeal. Alat ini memiliki
sensitivitas dan spesifisitas yang baik dalam 2 atau 3 inflasi
(perubahan warna ungu menjadi kuning). Walaupun demikian,
negatif-palsu dapat terjadi bila aliran darah paru sangat kurang
atau tidak ada. Positif-palsu dapat terjadi jika alat detektor
terkontaminasi adrenalin atau surfaktan.

• Dengarkan suara napas di kedua lapang paru (dada atas)


dengan stetoskop. Suara dari ventilasi tekanan positif harus
serupa pada kedua hemitoraks, halus, dan tidak terdengar di
bagian perut. Hal ini sulit dinilai pada bayi yang sangat prematur.
Pada beberapa kondisi khusus (contoh: pneumotoraks, hernia
diafragmatika), terdapat suara napas asimetris meski peletakan
pipa endotrakeal sudah tepat.

Tanda-tanda bahwa pipa endotrakeal tidak berada di trakea: 2

• Tidak ada pengembangan dada seiring inflasi

• Laju denyut jantung di bawah 100 kali per menit yang tidak
meningkat segera setelah intubasi dan ventilasi diberikan

• Tidak terdeteksi CO2 yang terekspirasi

• Tidak ada perbaikan dalam oksigenasi

• Tidak adanya suara napas di aksila

Tidak adanya pengembangan dada yang simetris dengan


tekanan ventilasi adekuat dapat menandakan pipa endotrakeal
masuk terlalu jauh. Cek kedalaman insersi.2

Circulation (Kompresi Dada)

Setelah pernapasan regular, maka seorang bayi normal akan


mencapai laju denyut jantung di atas 100 kali per menit, umumnya
dalam satu menit pertama setelah lahir. Rentang normal denyut
jantung bayi adalah 110 hingga 160 kali per menit.2,3

116
Resusitasi Terintegrasi 4

Bayi dengan laju denyut jantung di bawah 60 kali per menit,


walaupun sudah diberikan stimulasi serta VTP efektif selama 30
detik, kemungkinan memiliki kadar oksigen yang sangat rendah
dalam darah. Sebagai akibatnya, terjadi depresi otot miokardium
sehingga jantung tidak cukup kuat berkontraksi untuk memompa
darah ke paru. Oksigen yang telah dipompa melalui VTP ke dalam
paru tidak dapat dibawa ke seluruh tubuh. Oleh karena itu, penolong
harus secara bersamaan memompa jantung dan melanjutkan
ventilasi paru dengan oksigen 100% hingga miokardium mendapat
cukup oksigen dan dapat menyalurkannya sampai ke otak. 24

Berikut ini adalah bagan resusitasi blok C (circulation):

Bila LDJ tetap


< 100 kali/ menit

Pengembangan dada adekuat?

Dada mengembang Bila dada tidak


adekuat mengembang adekuat
namun LDJ < 60x/ menit Evaluasi:
• Posisi kepala bayi
VTP (O2 100%) + • Obstruksi jalan
kompresi dada napas
(3 kompresi tiap 1 napas) • Kebocoran sungkup
• Tekanan puncak
Pertimbangkan Intubasi inspirasi cukup atau
tidak
Observasi LDJ dan usaha
napas tiap 30 detik

Indikasi Memulai Kompresi Dada


Kompresi dada diindikasikan jika laju denyut jantung di bawah 60
kali per menit walau ventilasi tekanan positif telah diberikan secara
adekuat selama 30 detik (ditandai dengan dinding dada turut
bergerak setiap inflasi).2,3

117
Resusitasi Neonatus

Setelah dimulai, kompresi dada harus dilanjutkan dengan


seminimal mungkin interupsi sampai terdapat perbaikan laju
denyut jantung.2 Setelah 30 detik melakukan koordinasi antara
VTP dan kompresi dada, lakukan penilaian laju denyut jantung
dan curah jantung (lebih baik melalui auskultasi, ditambah adanya
bukti pulsasi spontan pada oksimetri). Jangan menghentikan VTP
dan kompresi dada kecuali untuk menilai perlu tidaknya intervensi
berikutnya. Tanda-tanda perbaikan curah jantung spontan meliputi
peningkatan saturasi oksigen, terdapat gerakan bayi spontan, atau
napas spontan. Kompresi dada harus dilanjutkan hingga laju denyut
jantung di atas 60 kali per menit. 1-3

Teknik Kompresi Dada


Kompresi dada harus dipusatkan di antara xiphoid pada sepertiga
bawah sternum (garis di antara puting) dan kedalamannya
setidaknya sepertiga dari diameter antero-posterior dada.1,2,25

Teknik yang direkomendasikan adalah dua ibu jari di sternum,


berdampingan, tergantung pada besarnya bayi, dengan jari-jari
lainnya mengelilingi toraks untuk menyokong punggung. Umumnya
penolong menghadap kepala bayi, namun posisi ini boleh dibalik
jika akses terhadap perut bayi diperlukan.2

Gambar 4.19. Cara Memberikan Kompresi Dada


Diambil dari http://www.ijaweb.org/article.asp?issn=0019-5049;year=2010;volume=54;issue=5;spa
ge=428;epage=438;aulast=Chadha

118
Resusitasi Terintegrasi 4

Teknik dua ibu jari memiliki keuntungan dibanding teknik dua


jari untuk memerbaiki tekanan sistolik puncak dan perfusi koroner
sehingga kompresi menjadi lebih konsisten dalam waktu yang lama.
Teknik ini juga dianggap lebih mudah dan tidak melelahkan untuk
penolong. Oleh karena itu, teknik dua ibu jari lebih direkomendasikan
jika terdapat dua orang penolong.2,3

Teknik dua jari (dua ujung jari pada sternum) dapat dilakukan
jika teknik dua ibu jari dianggap mengganggu akses ke perut atau
dada bayi (misalnya untuk kanulasi umbilikal atau torakosentesis).
Tangan lainnya menyokong punggung.2

Kompresi dada harus dilakukan masing-masing setengah


detik, dengan jeda setengah detik setiap setelah kompresi ketiga
untuk memberikan napas, sehingga rasio yang tepat adalah 3:1
dengan total 90 kali kompresi dan 30 napas setiap menitnya.1-3,18,25
Kompresi dan inflasi harus dikoordinasikan untuk menghindari
pemberian kompresi dan inflasi pada saat yang bersamaan.2,3 Dada
harus mengembang penuh di antara dua kompresi, namun tangan
penolong tidak boleh meninggalkan dada bayi.2,3,18

Gambar 4.20. Ventilasi dan kompresi dada pada bayi baru lahir1

119
Resusitasi Neonatus

Kompresi dada yang diberikan secara efektif akan menghasilkan


pulsasi yang jelas terlihat pada oksimeter. Segera setelah kompresi
dada diberikan, berikan oksigen inspirasi hingga maksimal (100%)
jika sebelumnya konsentrasinya masih di bawah 100%.2,3

Penilaian
Penilaian laju denyut jantung dilakukan setelah 60 detik koordinasi
ventilasi tekanan positif dan kompresi dada, hal ini dimaksudkan
agar dalam 60 detik telah didapatkan peningkatan laju denyut
jantung yang bermakna dibandingkan penilaian 30 detik yang
dianggap terlalu singkat.
Perbaikan kondisi bayi ditandai dengan:2,3
• Denyut jantung yang terdengar saat auskultasi
• Pulsasi spontan pada oksimetri
• Peningkatan saturasi oksigen
• Pergerakan atau napas spontan

Bila laju denyut jantung tetap di bawah 60 kali per menit


meski telah diberikan ventilasi dan kompresi dada, maka tindakan
pertama yang wajib dilakukan penolong adalah memastikan
ventilasi dan kompresi yang diberikan sudah optimal dan
bahwa oksigen yang diberikan sudah 100%. 24

Terkadang, walaupun paru sudah terventilasi dengan baik


(melalui ventilasi tekanan positif) dan curah jantung membaik
(melalui kompresi dada), sejumlah kecil bayi baru lahir (kurang dari
2 per 1000 kelahiran) masih memiliki laju denyut jantung di bawah
60 kali per menit. Otot jantung bayi dengan kondisi seperti ini telah
mengalami hipoksia terlalu lama sehingga gagal berkontraksi secara
efektif walau telah mendapat perfusi dengan darah beroksigen.24
Untuk bayi dengan kondisi demikian, penolong harus melanjutkan
tahap selanjutnya dalam resusitasi, yaitu Drugs.

120
Resusitasi Terintegrasi 4

Drugs (Pemberian Cairan dan Obat-Obatan)

Obat-obatan dan cairan jarang digunakan pada resusitasi bayi baru


lahir.1,2,18 Kondisi bradikardia umumnya disebabkan oleh hipoksia
dan ventilasi yang tidak adekuat, sedangkan apnu disebabkan oleh
oksigenasi yang kurang pada batang otak. Oleh karena itu, pemberian
ventilasi yang adekuat merupakan langkah terpenting untuk
meningkatkan laju denyut jantung. Walau demikian, terkadang
laju denyut jantung tetap di bawah 60 kali per menit walau telah
diberikan ventilasi adekuat (dada turut mengembang seiring inflasi) MUTIARA BERNAS
dan kompresi dada, maka pada kondisi demikian adrenalin harus Pemberian obat-obatan
diberikan.1,2
maupun cairan tidak
boleh mengurangi atau
Pemberian obat tidak ada gunanya dilakukan sebelum menghentikan pemberian
memastikan ventilasi dan kompresi dada adekuat. ventilasi dan kompresi dada
Berikut ini adalah bagan resusitasi blok D (Drugs):

VTP (O2 100%) + kompresi dada


(3 kompresi tiap 1 napas)

LDJ < 60/ menit?

Pertimbangkan pemberian obat dan cairan intravena

Jalur Pemberian

Vena Umbilikal
Kateter vena umbilikal merupakan jalur intravaskular yang paling
cepat didapat untuk pemberian cairan dan obat walau dalam keadaan
sirkulasi perifer yang buruk. Sebelum dipasang, sambungkan kateter
dengan katup three-way, dan pastikan baik kateter maupun three-
way diisi cairan garam fisiologis/normal saline (NaCl 0,9%).2,3

121
Resusitasi Neonatus

Kateter vena umbilikal dimasukkan sedalam kira-kira 5 cm


dan bila darah dapat ditarik maka cairan dan obat dapat segera
diberikan. 2,3

Pipa Endotrakeal
Hanya adrenalin dan surfaktan artifisial yang dapat diberikan
melalui pipa endotrakeal. Adrenalin diberikan dalam dosis yang
lebih tinggi (50-100 mcg/kgBB) dibandingkan pemberian melalui
intravena. Adrenalin hanya diberikan melalui pipa endotrakeal bila
laju denyut jantung kurang dari 60 kali per menit walau ventilasi
dan kompresi dada adekuat telah diberikan dan jalur intravena
tidak tersedia.2,3

Vena Perifer
Gambar 4.21. Jalur vena umbilikal. 23

Jalur vena perifer sangat sulit dipasang pada bayi baru lahir yang
mengalami renjatan.2,3

Jalur Intraosseus
Jalur ini jarang dilakukan pada bayi baru lahir, namun dapat
digunakan bila akses umbilikal dan vena tidak tersedia.
Pertimbangkan jalur ini bila penolong cukup berpengalaman dalam
memasang jalur intraosseus.2

Arteri Umbilikal
Arteri umbilikal tidak direkomendasikan untuk pemberian obat-
obat resusitasi. Terdapat kekuatiran akan terjadinya komplikasi
bila obat-obatan vasoaktif atau hipertonik (adrenalin atau sodium
bikarbonat) diberikan melalui arteri.2

122
Resusitasi Terintegrasi 4

Tipe dan Dosis Obat

Adrenalin

Indikasi

Bila ventilasi dan kompresi dada adekuat masih gagal meningkatkan


laju denyut jantung hingga di atas 60 kali per menit dalam waktu satu
menit, maka adrenalin harus diberikan melalui intravena sesegera
mungkin.1,2,18 Bila jalur intravena tidak tersedia dan ventilasi serta
kompresi dada adekuat masih gagal menaikkan laju denyut jantung
hingga melebihi 60 kali per menit, berikan adrenalin melalui
endotrakea. Bila dosis intratrakeal tidak efektif, dosis intravena
harus diberikan secepat mungkin.2,3

Dosis

Dosis intravena yang direkomendasikan adalah 10-30 mikrogram/


kgBB (0,1-0,3 mL/kgBB dari larutan 1:10.000) dengan cara bolus
atau dorongan cepat, dilanjutkan dengan bolus garam fisiologis.
Dosis ini dapat diulang setiap beberapa menit sekali bila laju denyut
jantung masih di bawah 60 kali per menit meski ventilasi dan
kompresi dada yang efektif sudah diberikan. 1,2,3

Bila adrenalin diberikan melalui jalur trakea, gunakan dosis


50-100 mikrogram/kgBB (0,5-1 mL/kg dari larutan 1:10.000),
dilanjutkan dengan ventilasi tekanan positif. Efektivitas dan
keamanan dosis ini masih belum diteliti.1,2,3

Sodium Bikarbonat

Indikasi

Apabila bayi baru lahir terlalu lama mengalami hipoksia, maka asidosis
metabolik dapat terjadi akibat akumulasi asam laktat. Asam laktat
terbentuk saat jaringan mengalami insufisiensi oksigen. Asidosis berat
dapat menyebabkan gangguan kontraksi miokardium dan konstriksi
pembuluh darah paru, sehingga aliran darah paru berkurang dan
difusi oksigen dari alveol ke kapiler makin sedikit. Bila curah jantung

123
Resusitasi Neonatus

yang efektif tidak berhasil dicapai walaupun sudah dibantu ventilasi


dan kompresi dada yang adekuat, pikirkan pemberian sodium
bikarbonat. 1,24

Sejauh ini tidak terdapat cukup data untuk merekomendasikan


penggunaan rutin sodium bikarbonat pada resusitasi bayi baru lahir.
Bikarbonat dalam tubuh akan dimetabolisme menghasilkan karbon
dioksida. Cairan sodium bikarbonat bersifat hiperosmolar serta
dapat mengganggu fungsi miokardium dan otak apabila diberikan
terlalu cepat.1,24

Kondisi asidosis metabolik umumnya membaik dengan


sendirinya saat oksigenasi dan sirkulasi sudah adekuat. Beberapa
ahli meyakini pemberian terapi bikarbonat sebaiknya ditunda
hingga analisis gas darah mengonfirmasi adanya asidosis metabolik
signifikan dan kadar CO2 yang normal.24

Jangan berikan sodium bikarbonat terlalu dini. Pada kondisi


henti jantung berkepanjangan yang tidak responsif terhadap terapi
lainnya, berikan sodium bikarbonat setelah ventilasi dan
sirkulasi adekuat.1

Dosis

Dosis yang dianjurkan adalah 1-2 mmol/kg (2-4 mL dari larutan


bikarbonat 4,2%) diberikan dengan suntikan intravena lambat.1,25

Nalokson

Indikasi

Pemberian narkotika pada ibu yang mengalami nyeri saat melahirkan


atau dalam anestesi umum dapat menurunkan usaha napas pada
bayi yang dilahirkan.4 Pada kasus demikian, pemberian nalokson
sebagai antagonis narkotika kepada bayi dapat menghilangkan efek
narkotika. Namun demikian, bukan berarti nalokson langsung

124
Resusitasi Terintegrasi 4

diberikan sebagai tindakan pertama pada bayi yang tidak bernapas.


Tindakan pertama yang tepat dan harus didahulukan adalah
ventilasi tekanan positif.2,3

Indikasi pemberian nalokson pada bayi baru lahir adalah


sebagai berikut:2

• Depresi napas yang berlanjut bahkan setelah pemberian


ventilasi tekanan positif berhasil mengembalikan laju denyut
jantung menjadi normal dan

• Riwayat pemberian narkotika pada ibu selama bersalin

Setelah pemberian nalokson, lanjutkan ventilasi tekanan positif


hingga bayi bernapas normal. Durasi efek narkotika seringkali
melebihi nalokson. Oleh karena itu, observasi bayi secara ketat
untuk memantau depresi napas berulang yang memerlukan bantuan
pernapasan selanjutnya.3 Jangan berikan nalokson pada bayi lahir
dari ibu yang dicurigai mengalami ketergantungan narkoba. Hal ini
dapat menyebabkan withdrawal dan kejang.3,19

Dosis

0,1 mg/kgBB dari larutan 0,4 mg/mL diberikan secara intravena


bolus diikuti dengan bolus NaCl 0,9%. Nalokson boleh diberikan
melalui intramuskular namun waktu awitannya lebih lambat.3,19
Nalokson dapat diberikan lebih dari satu kali mengingat durasi efek
narkotika yang lebih panjang.3

Cairan Volume Expanders

Indikasi

Pertimbangkan pemberian cairan intravaskular bila bayi diduga


mengalami kehilangan darah, bayi dalam kondisi syok (pucat,
perfusi buruk, pulsasi lemah), dan tidak memberi respons secara
adekuat terhadap tindakan resusitasi lainnya.2,3

125
Resusitasi Neonatus

Kristaloid isotonik (garam fisiologis) dapat digunakan sebagai


cairan lini pertama, namun selanjutnya transfusi darah emergensi
dapat diberikan pada kasus kehilangan darah yang masif atau pada
bayi yang tidak respons terhadap resusitasi.2,3

Dosis

Dosis awal adalah 10 mL/kgBB diberikan intravena secara bolus


(selama beberapa menit). Hati-hati pada bayi prematur agar jangan
dibolus terlalu cepat karena risiko pecahnya pembuluh darah. Bila
berhasil, pemberian cairan dapat diulang untuk mempertahankan
sirkulasi.1,2,3

Pemasangan Kateter Umbilikal Emergensi

Prosedur:
Persiapan Bahan dan Alat

1. Antiseptik: klorhexidin 2% atau povidon iodine pada fasilitas


terbatas, kasa steril.

2. Tempat bahan dan alat-alat (trolley) dan kain penutup steril

3. Duk berlubang steril

4. Benang/tali kasur steril

5. Pinset

126
Resusitasi Terintegrasi 4

6. Pisau bisturi nomor 11

7. Kateter umbilikal ukuran 3,5F ; 5F / 6F panjang.

8. Spuit 5ml, 10ml dan cairan NaCl 0,9% (NS)

Pelaksanaan

1. Cuci tangan prosedural dengan cairan antiseptik (langkah lihat


di Bab 2: Persiapan Resusitasi)

2. Lihat kondisi pasien dan keperluan pasien dalam terapi

3. Memakai sarung tangan steril.

4. Isi lebih dahulu kateter ukuran 3.5F atau 5F yang telah


disambung dengan semprit dan keran-3-arah (3-way-stopper)
steril. Isi dengan garam fisiologis, lalu tutup keran untuk
mencegah masuknya udara (bahaya emboli udara).

5. Bersihkan umbilikus dan kulit sekelilingnya dengan larutan


antiseptik, lalu ikat benang steril mengelilingi dasar umbilikus.
Ikatan ini dapat dikencangkan bila terjadi perdarahan hebat
saat memotong tali pusat.

6. Potong umbilikus 1 cm dari perbatasan kulit dan wharton’s jelly


dengan pisau steril. Tentukan vena umbilikus (pembuluh yang
menganga lebar dengan dinding tipis) dan arteri umbilikus (dua
pembuluh berdinding tebal). Pegang wharton’s jelly terdekat
dengan pembuluh vena dengan forseps steril.

7. Tekan ringan bila ada perdarahan, bersihkan dan asepsis


kembali.

8. Pegang bagian dekat ujung kateter dengan forseps steril dan


masukkan kateter ke dalam vena (kateter harus dapat masuk
dengan mudah) sepanjang 4–6 cm. Alur vena akan menuju ke
proksimal, menuju jantung.

9. Pastikan kateter tidak menekuk dan darah mengalir balik


dengan mudah; Cara memeriksa aliran darah pada kateter
adalahmembuka stopcock ke arah semprit dan menghisap

127
Resusitasi Neonatus

semprit secara perlahan. Bila darah tidak mengalir lancar tarik


pelan-pelan kateter umbilikal, dan masukkan kembali.

10. Kaji jangan sampai ada udara di sepanjang sirkuit.

11. Masukkan obat-obatan atau cairan fisiologis.

12. Bila sudah didapatkan perbaikan denyut jantung, kateter segera


dilepas.

13. Bila koreksi obat atau cairan masih diperlukan untuk beberapa
waktu, maka kateter perlu difiksasi dengan benang jahit.

14. Asepsis kembali area pemasangan kateter umbilikal.

Resusitasi pada Kondisi Khusus

Bayi Prematur

Proteksi Kulit dan Cara Memegang


Bayi baru lahir yang sangat prematur khususnya < 28 minggu
mempunyai risiko cedera kulit dan organ dalam yang cukup
besar, sehingga perlu ditangani dengan lemah lembut dan hati-
hati. Bila penolong hendak memasang jalur vaskular, gunakan
larutan antiseptik seperlunya. Larutan yang mengandung alkohol
dapat merusak kulit bayi yang sangat prematur. Bila diperlukan
pemasangan kateter umbilikal emergensi, oleskan antiseptik
pada tali pusat dan sedikit kulit di sekitarnya. Penggunaan cairan
antiseptik yang berlebihan akan mengalir ke daerah selangkangan
dan paha, sehingga setelah prosedur selesai jangan lupa membilas
dengan aquabidest atau larutan NaCl 0,9% untuk mencegah
terjadinya luka bakar di kulit.2,23

Bantuan Pernapasan
Bayi sangat prematur rentan mengalami displasia bronkopulmonar
atau penyakit paru kronis sebagai dampak/komplikasi dari
tindakan intubasi dan penggunaan ventilasi mekanik > 72 jam.

128
Resusitasi Terintegrasi 4

Berbagai tindakan non invasif dalam upaya mencegah displasia


bronkopulmonar yaitu: ventilasi tekanan positif menggunakan
balon mengembang sendiri yang dilengkapi dengan katup PEEP;
sustained inflation (ventilasi tekanan positif menggunakan T-piece
resuscitator, waktu inspirasi diperpanjang antara 10-30 detik); dan
penggunaan CPAP dini di ruang bersalin. Ketiga cara tersebut di atas
telah terbukti lebih baik dalam mencegah displasia bronkopulmonar
dibandingkan dengan ventilasi tekanan positif dengan balon
mengembang sendiri tanpa PEEP melalui sungkup wajah.2,26-31

Gambar 4.22. Pemberian CPAP dengan Jackson-Rees yang disambungkan ke sungkup wajah
(atas) atau melalui single nasal prong (bawah)

129
Resusitasi Neonatus

CPAP dini atau intubasi dapat diberikan sejak di kamar bersalin


pada bayi prematur dengan berbagai derajat distres napas. Untuk
CPAP dini, berikan tekanan PEEP 5-8 cmH2O sambil memantau
usaha napas bayi. CPAP dapat diberikan melalui sungkup wajah
yang disambungkan dengan T-piece resuscitator di fasilitas ideal
atau Jackson Rees di fasilitas terbatas. Saat bayi ditransportasi
menuju kamar perawatan, CPAP dapat dipertahankan dengan
menggunakan nasal prong. Balon mengembang sendiri tidak dapat
memberikan CPAP dini.

Apabila bayi prematur gagal mempertahankan saturasi oksigen


88-92% walaupun sudah mendapat terapi CPAP dini hingga
mencapai PEEP 8 cm H2O dan fraksi oksigen 40%, maka surfaktan
dianjurkan untuk diberikan di kamar bersalin (surfaktan rescue).
Surfaktan merupakan zat yang diproduksi oleh sel pneumosit
tipe 2 dan berfungsi untuk mengurangi tegangan permukaan
alveoli saat udara masuk. Surfaktan juga melindungi sel epitel
paru dan berperan dalam proses pengembangan paru. Surfaktan
mulai diproduksi pada usia gestasi 24-28 minggu dan produksinya
mencapai titik optimal pada usia gestasi 35 minggu. Defisiensi
primer surfaktan terutama terjadi pada bayi baru lahir prematur
(usia gestasi di bawah 37 minggu), dan secara klinis bermanifestasi
sebagai Respiratory Distress Syndrome (RDS)/Sindrom Gawat
Napas (SGN).32-35 Uji klinis menunjukkan bahwa terapi surfaktan
sebagai profilaksis maupun rescue dapat meningkatkan fungsi paru,
menurunkan kebutuhan ventilator mekanik, menurunnya risiko
terjadinya pneumotoraks, emfisema interstitial paru dan displasia
bronkopulmonar. 36

Salah satu metode pemberian surfaktan adalah teknik INSURE


(INtubate, SURfactant, Extubate to CPAP). Pada metode ini, bayi
yang mendapat CPAP diintubasi untuk memasukkan surfaktan
kemudian dilakukan ekstubasi segera. Pernapasan bayi dibantu
kembali dengan CPAP. Metode lainnya yang dapat digunakan untuk
pemberian surfaktan adalah teknik MIST (Minimally-Invasive
Surfactant Therapy) dan NIST (Non-Invasive Surfactant Therapy).

130
Resusitasi Terintegrasi 4

Tabel 4.5. Keuntungan dan Kerugian Metode MIST dan NIST


Metode Pemberian Keuntungan Kerugian
MIST Melalui nasofaring Tidak nyeri Belum diteliti lebih lanjut
Sebagian surfaktan terbuang
Sungkup laring Tidak melewati pita suara (supraglotis) Nyeri
Feeding catheter Dalam keadaan CPAP terpasang, dengan Forseps Magyll
feeding catheter masuk ke endotrakea Laringoskopi
Nyeri dan menyebabkan trauma
Kateter vaskular Dalam keadaan CPAP terpasang, kateter Laringoskopi
dimasukkan ke endotrakea. Nyeri dan menyebabkan trauma
Mudah dimasukkan karena
menggunakan kateter rigid
NIST Inhalasi Tidak nyeri Perlu diteliti lebih lanjut

Teknik ini mengupayakan pemberian surfaktan melalui cara yang


tidak invasif dan tanpa intubasi.36 Adapun cara yang dimaksud antara
lain pemberian surfaktan melalui nasofaring, melalui sungkup
laring (laryngeal mask airway/LMA), melalui pipa gastrik dengan
ukuran kecil (fine gastric tube), melalui inhalasi, dan metode
Hobart. Metode tersebut menggunakan kateter vaskular pendek
(narrow bore vascular catheter/angiocath 16G). Diharapkan teknik
tersebut dapat mengurangi efek samping dari penggunaan intubasi.
Berikut ini adalah keuntungan dan kerugian dari metode MIST dan
NIST.37

Intubasi endotrakeal masih merupakan standar baku dalam


pemberian surfaktan. Sejauh ini masih belum cukup bukti mengenai
efektifitas dan keamanan teknik MIST dan NIST dibandingkan
teknik intubasi dalam pemberian surfaktan, namun dalam beberapa
tahun ke depan diharapkan metode ini dapat menjadi pilihan baru
yang aman dan efektif dalam pemberian surfaktan untuk bayi baru
lahir.28,32,33,37,38

Terapi surfaktan profilaksis diberikan pada bayi prematur


dengan usia gestasi di bawah 28 minggu tanpa gejala distres napas
dengan mempertimbangkan tersedianya penolong resusitasi
yang kompeten, alat monitor, dan surfaktan. Sebelum keputusan

131
Resusitasi Neonatus

pemberian surfaktan, bayi harus dipastikan telah mendapat


manajemen suhu yang baik, ventilasi optimal dan juga tercapainya
sirkulasi yang baik.28,36,39

Berikut ini adalah algoritma tatalaksana bayi baru lahir dengan


sindrom distres napas:

Oksigen
Bayi prematur memiliki risiko lebih besar untuk mengalami cedera
hiperoksia dibandingkan bayi cukup bulan. Pada saat melakukan
resusitasi bayi sangat prematur, dianjurkan untuk tidak menggunakan
oksigen 100%, melainkan campuran udara dan oksigen lalu
melakukan titrasi fraksi oksigen. Bayi prematur membutuhkan waktu
lebih lama untuk mencapai saturasi oksigen 90% dibanding bayi
cukup bulan, sehingga pemberian fraksi oksigen saat resusitasi perlu
dimonitor dengan pulse oxymetry. Komplikasi hiperoksia adalah
keterlambatan menarik napas pertama, retinopati prematuritas,
displasia bronkopulmonar, dan enterokolitis nekrotikans.2

132
Resusitasi Terintegrasi 4

Tatalaksana Suhu
Bayi prematur berisiko mengalami hipotermia, oleh karena itu semua
bayi dengan usia gestasi di bawah 28 minggu atau berat badan di
bawah 1500 gram harus dibungkus dengan plastik polietilen segera
setelah lahir. Bayi tidak boleh dikeringkan sebelum dibungkus dengan
plastik.19 Penjelasan lebih lanjut mengenai pemberian kehangatan bayi
prematur dapat dilihat pada Bab 3: Penilaian dan Langkah Awal.

Obstruksi Jalan Napas Atas Kongenital


Bayi yang tampak merah muda saat menangis namun sianotik saat diam
dengan/atau tanpa gangguan bernapas, harus dicurigai mengalami
atresia koana atau obstruksi jalan napas atas lainnya. Pada bayi dengan
faring pendek, posisi tengkurap dan/atau pemasangan pipa endotrakea
melalui lubang hidung kedalam faring dapat mencegah lidah menutupi
jalan napas. Bayi dengan malformasi kraniofasial kemungkinan
membutuhkan intubasi trakea. Pada kasus demikian, konsultasikan
dengan dokter anak konsultan neonatologi.2

Gambar 4.23
Atresia koana

Hernia Diafragmatika Kongenital


Hernia diafragmatika kongenital (HDK) terjadi apabila salah satu
dari keempat struktur terpisah yang menyusun diafragma (septum
transversum, membran pleuroperitoneal, mesenterium dorsal dari

133
Resusitasi Neonatus

Gambar 4.24 Hernia diafragmatika sisi kiri 40

esofagus, dan dinding tubuh) gagal menyatu pada minggu kedelapan


setelah konsepsi. Sebagai akibatnya, organ-organ abdomen
mengalami herniasi ke dalam rongga toraks.40

HDK yang telah didiagnosis sejak masa prenatal dapat menjadi


indikasi untuk intubasi trakea dini dibandingkan dengan ventilasi
balon dan sungkup wajah. Intubasi dapat meminimalisasi masuknya
udara ke dalam saluran cerna. Suara udara setelah intubasi trakea
dapat terdengar asimetris, tergantung pada lokasi HDK (dan pipa
endotrakea). Pipa orogastrik besar ukuran 10F harus dipasang dan
dilakukan pengisapan segera untuk menghindari pengumpulan
udara di usus halus intra toraks dan meminimalisasi kompresi paru.
Tidak jarang bayi dengan HDK hanya memiliki satu paru fungsional,
sehingga ventilasi harus diberikan hati-hati dengan volum tidal
rendah, dan dianjurkan tekanan puncak inspirasi tidak melebihi 25
cmH2O.2,19

Pneumotoraks Tension
Pneumotoraks adalah akumulasi udara di rongga pleura hingga
menyebabkan kolaps paru sebagian atau total pada sisi yang
terkena.19

134
Resusitasi Terintegrasi 4

Gambar 4.25. Uji Transiluminasi pada Bayi Baru Lahir dengan


Pneumotoraks. Diambil dari http://www.carolinascoreconcepts.com/

Retraksi dada, takipnu, penurunan suara napas unilateral,


penurunan gerakan salah satu sisi dinding dada,dan penonjolan
dinding dada pada satu sisi, yang terjadi setelah resusitasi merupakan
petunjuk adanya pneumotoraks. Standar baku dalam mendiagnosis
pneumotoraks adalah radiografi dada, namun pneumotoraks tension
memerlukan tatalaksana darurat sehingga tidak cukup waktu untuk
melakukan pemeriksaan ini. Pemeriksaan lain yang dapat dilakukan
adalah transiluminasi yang cukup sensitif pada bayi kecil, namun
pada bayi cukup bulan dapat menjadi negatif palsu. Emfisema
interstitial paru berat dapat menyerupai pneumotoraks.2,19

Tidak semua pneumotoraks membutuhkan drainase, namun


pneumotoraks tension dapat mengancam nyawa akibat kolaps
kardiorespirasi sehingga membutuhkan drainase emergensi dengan
aspirasi jarum atau pemasangan kateter interkostal.2,19

Drainase pneumotoraks atau aspirasi jarum pneumotoraks


adalah tindakan memasukkan jarum ke dalam rongga pleura yang
dihubungkan dengan three-way, kateter intravena/wing needle dan
spuit untuk mengeluarkan udara yang terjebak di dalam rongga
pleura.

135
Resusitasi Neonatus

Alat-alat yang harus dipersiapkan adalah:

• Kateter intravena ukuran 18-21 atau wing needle ukuran 21,


disesuaikan dengan besar kecilnya bayi
• Spuit 10 dan 50 cc
• Three-way
• Cairan antiseptik
• Sarung tangan steril

Wing needle

Kateter
Spuit 10 cc intravena
Three-way

Gambar 4.26 Persiapan alat aspirasi pneumotoraks

Prosedur Aspirasi Jarum

Efusi Pleura atau Asites (Hidrops Fetalis)


Edema berat seluruh tubuh, efusi pleura, dan asites saat lahir
dapat menyebabkan hipoplasia paru dan mengganggu ekspansi
paru awal. Berikan tekanan yang lebih tinggi selama ventilasi
sampai dada tampak mengembang, denyut jantung meningkat, dan
saturasi oksigen membaik. Torakosentesis dapat dilakukan setelah
pemeriksaan radiografi dan/atau ultrasonografi dengan pemantauan
kardiorespirasi dan kontrol ventilasi.2 Pada kasus hidrops fetalis
dokter bedah sebaiknya dilibatkan hadir di ruang bersalin untuk
berjaga-jaga seandainya pungsi pleura atau pungsi asites diperlukan,
sehingga resusitasi dapat berjalan lebih optimal tanpa merusak paru
akibat pemberian tekanan yang tinggi.

136
Resusitasi Terintegrasi 4

Identifikasi tempat aspirasi


jarum: sela iga 2-3 linea mid
klavikula, hindari puting susu

Bersihkan permukaan kulit


dengan cairan antisepsis,
biarkan kering
Masukkan kateter beserta
stylet ke dalam rongga
pleura –di atas tulang rusuk
untuk menghindari trauma
pada arteri di bawah tulang
rusuk

Masukkan/dorong kanula
ke dalam sambil mencabut
stylet keluar, hindari
memasukkan stylet dengan
terlalu keras

Pneumonia/Sepsis
Pneumonia kongenital dapat menyebabkan compliance paru
buruk, sehingga bayi membutuhkan tekanan ventilasi lebih tinggi
saat resusitasi untuk membuka alveol paru. Manifestasi klinis
pneumonia adalah distres pernapasan berat.2

Gangguan Jantung Kongenital


Bayi yang tetap sianotik meski telah mendapat ventilasi, oksigenasi
dan sirkulasi adekuat kemungkinan memiliki gangguan jantung

137
Resusitasi Neonatus

Buka jalur three-way yang


menuju ke arah pasien
Aspirasi/tarik udara
sampai terasa adanya
tahanan atau sampai spuit
terisi penuh udara

Tutup jalur three-way


yang menuju ke arah
pasien

Keluarkan udara yang


sudah ditarik ke dalam
spuit

Lakukan berulang hingga


seluruh udara berhasil
dikeluarkan
Jika udara terlalu
Gambar 4.27. Prosedur Aspirasi banyak, pertimbangkan
Pneumotoraks pemasangan chest tube

138
Resusitasi Terintegrasi 4

kongenital atau hipertensi pulmoner persisten. Walaupun sangat


jarang terjadi, blokade jantung kongenital dapat menyebabkan
bradikardia persisten. Pada kasus demikian, bayi harus dirawat di
NICU sejak awal dan menjalani pemeriksaan ekokardiografi.2

Kelahiran Gemelli
Bayi gemelli seringkali membutuhkan resusitasi karena prematuritas,
abnormalitas plasenta, gangguan aliran darah tali pusat, dan/atau
komplikasi mekanis selama persalinan.2

Bayi kembar monozigot dapat mengalami ketidakcocokan


volume darah (discrepant blood volumes). Keadaan ini dikenal
dengan sindrom transfusi twin-to-twin. Walaupun jarang, salah
satu bayi dapat memerlukan transfusi darurat setelah resusitasi
awal. Konsultan neonatologi sebaiknya hadir saat kelahiran untuk
berjaga-jaga bilamana dibutuhkan saat resusitasi. Diupayakan satu
dokter untuk masing-masing bayi.2

Perdarahan Pervaginam
Perdarahan pervaginam sebelum persalinan dapat terjadi pada
abrupsio plasenta, plasenta previa atau vasa previa. Meski sumber
pendarahan paling sering berasal dari ibu, namun sedikit saja
perdarahan berasal dari janin dapat menyebabkan hipovolemia pada
bayi. Sebagai contoh perdarahan transplasenta mayor ke dalam
sirkulasi ibu (perdarahan fetomaternal) menyebabkan hipovolemia
bayi tanpa perdarahan antenatal yang tampak.2

Bayi baru lahir dengan perdarahan umumnya tampak sangat


pucat walaupun laju denyut jantung sudah kembali normal. Kondisi
ini dapat menyebabkan kesulitan dalam resusitasi. Seperti yang
telah dijelaskan pada bagian Drugs, cairan kristaloid isotonik (NaCl
0,9%) dapat digunakan sebagai pilihan pertama resusitasi cairan.
Pada kondisi hipovolemia yang diakibatkan perdarahan, transfusi
darah merupakan pilihan berikutnya dalam resusitasi cairan.2

139
Resusitasi Neonatus

Gas Darah Arteri Umbilikal


Gas darah tali pusat harus diperiksa pada semua bayi baru lahir
yang diresusitasi sebagai metode paling objektif untuk menilai
kondisi bayi intranatal. Pemeriksaan ini dapat dipakai untuk menilai
apakah terdapat risiko terjadinya palsi serebral di kemudian hari.
Darah diambil dari sisa tali pusat yang menempel pada plasenta
dengan syringe berisi heparin untuk dianalisis segera. Tali pusat
dijepit di daerah proksimal dan distal, lalu sampel darah diambil
di antara kedua jepitan tersebut. Sebaiknya sampel diambil dari
arteri dan vena umbilikal untuk kemudian dibandingkan agar risiko
kesalahan identifikasi arteri dapat dihindarkan. Nilai normal darah
arteri umbilikal dapat dilihat pada tabel di bawah ini:2,4

Tabel 4.6 Nilai Normal Darah Arteri Umbilikal2


Persentil Mean Persentil
2,5 97,5
pH 7,1 7,27 7,38
Kelebihan basa (Base excess) -11 -4 1
pO2 (mmHg) 6 17 30
pCO2 (mmHg) 35 52 74

Ketuban Bercampur Mekoneum


Sampai saat ini praktek pengisapan orofaring dan nasofaring
intrapartum masih merupakan hal rutin untuk bayi lahir dengan
ketuban jernih maupun bercampur mekonium. Rekomendasi saat
ini adalah pengisapan tidak dilakukan bila bayi bugar dan bernapas
spontan atau menangis, walaupun ketuban bercampur mekoneum.
Pada bayi lahir tidak bugar dan ketuban bercampur mekoneum,
tidak didapatkan cukup bukti untuk melarang pengisapan orofaring
dan nasofaring. Karena itu, pengisapan hanya direkomendasikan
untuk dilakukan: 2

• Segera setelah lahir

• Jika dokter berpengalaman dan semua peralatan bisa segera


tersedia

140
Resusitasi Terintegrasi 4

• Sebelum awitan bernapas atau menangis dan pada bayi dengan


tonus otot menurun.

Apabila bayi bernapas spontan adekuat, jangan lakukan


intubasi untuk mengisap mekoneum. Bila bayi mengalami distres
napas, apnu, atau tonus buruk, lakukan laringoskopi direk dan isap
mekoneum di faring. Bila perlu, lakukan intubasi untuk mengisap
mekoneum dari trakea.2

Pengisapan dengan intubasi dilakukan dari trakea ke arah


mulut dengan menyambungkan ETT dengan aspirator mekoneum
atau menggunakan kateter isap ukuran 10 atau 12 F untuk sekret
kental. Pengisapan hanya dilakukan sekali kemudian tahapan
resusitasi selanjutnya harus dimulai sesegera mungkin.2,19

Semua bayi lahir dengan ketuban bercampur mekoneum


sebaiknya diobservasi selama satu hingga dua hari.

Sungkup Laring (Laryngeal Mask Airway/LMA)


Sungkup laring harus dipertimbangkan digunakan pada bayi cukup
bulan yang tidak berhasil diresusitasi dengan sungkup wajah atau
intubasi. Sungkup laring terdiri atas dua ukuran, yaitu nomor 0
dan 1. Nomor 1 sesuai digunakan untuk bayi dengan berat minimal
1,8 kg dan maksimal 5 kg, sementara nomor 0 tidak tersedia di
Indonesia. Sungkup laring dapat dipertimbangkan sebagai alternatif
untuk ventilasi tekanan positif pada bayi baru lahir dengan berat
di atas 2000 gram atau usia gestasi di atas atau sama dengan 34
minggu. 2

Berikut merupakan pertimbangan menggunakan sungkup


laring: 2

• Terdapat kelainan kongenital pada mulut, bibir dan langit-langit


mulut sehingga pelaku prosedur mengalami kesulitan melihat
laring.

141
Resusitasi Neonatus

• Sindrom Pierre-Robin dan sindrom Down (trisomi 21)

• Ventilasi dengan sungkup tidak memberikan respon baik


sedangkan tenaga ahli untuk melakukan prosedur intubasi
tidak tersedia (atau tenaga ahli tersedia namun intubasi gagal).

Pemasangan sungkup laring memberikan keuntungan yaitu


terbentuknya perlekatan bertekanan rendah antara glottis dan cuff
sungkup tanpa harus menutupi faring. Cara pemasangan ini lebih
mudah dilakukan dan jalan napas terjaga tetap terbuka.

Teknik pemasangan sungkup laring :2

Gunakan ukuran sungkup laring


yang sesuai untuk pasien

Setelah pemasangan sungkup laring, cek ketepatan posisi


dengan melihat tanda-tanda berikut ini2,3:

• Pergerakan dinding dada seiring inflasi

• Laju denyut jantung meningkat di atas 100 kali per menit

• Meningkatnya oksigenasi (oksimetri lebih akurat dibandingkan


penilaian visual)

142
Resusitasi Terintegrasi 4

Kempiskan cuff tetapi jaga agar jangan sampai


terlipat.

Berikan pelumas pada bagian belakang cuffdan


sisi samping LMA dengan pelumas berbasis air
atau air liur bayi. Hindari pemberian pelumas
pada bagian anterior cuff atau sampai ke
bagian dalam sungkup.

Peganglah LMA seperti memegang


pulpen, masukkan dengan bagian terbuka
dari sungkupnya menghadap ke bawah
(menyisihkan lidah, menyusuri palatum). LMA
harus dimasukkan di tengah mulut agar LMA
terpasang dengan tepat dan pengembangan
paru simetris.
Dorong sungkup dengan punggung jari
telunjuk menyusuri palatum keras ke arah
faring sampai terasa adanya tahanan.
Pegang pipa LMA agar posisi tidak bergeser,
kemudian tangan sebelahnya sedikit menekan
ke bawah sementara jari telunjuk yang
digunakan untuk memandu dikeluarkan dari
mulut bayi.

Kembangkan cuff dengan spuit berisi 4 mL


udara. Pipa dapat sedikit terangkat dari
hipofaring ketika cuff dikembangkan.Rasakan
adanya sensasi memantul kembali ketika
mendorong spuit.

143
Resusitasi Neonatus

Hubungkan dengan alat ventilasi (T-piece atau


balon ventilasi). Bila LMA berada di tempat
yang benar maka dada akan mengembang
secara simetris.

Posisi LMA yang benar dapat dievaluasi dari


sinkronisasi gerakan dada dan auskultasi area
leher

Gambar 4.28 Teknik pemasangan sungkup laring (LMA)

Beberapa tanda lainnya untuk mengkonfirmasi letak sungkup


laring yang tepat adalah 2,3:

• Perubahan warna yang tampak dengan detektor end-tidal CO2


(metode paling reliabel pada bayi baru lahir yang memiliki
sirkulasi spontan)

-- Negatif palsu dapat terjadi pada bayi dengan aliran darah


pulmoner yang sangat rendah atau tidak ada

144
Resusitasi Terintegrasi 4

• Mendengar suara napas yang simetris di dada bagian atas


dengan menggunakankan stetoskop. Pada beberapa kondisi
(contoh: pneumotoraks, hernia diafragmatika) dapat terdengar
asimetris meskipun posisi pipa sudah optimal.

Resusitasi Terintegrasi

Resusitasi terintegrasi adalah resusitasi yang dijalankan dengan


menggabungkan keempat komponennya, yaitu Airway, Breathing,
Circulation dan Drugs sehingga penolong dapat menjalankan
resusitasi dengan baik dan mendapat luaran yang optimal.
Prinsip-prinsip dalam resusitasi terintegrasi adalah sebagai berikut:

Berurutan
Kedua tahapan pertama dalam resusitasi, yaitu Airway dan
Breathing, merupakan komponen terpenting dan paling awal
dijalankan. Tahapan-tahapan ini tidak boleh dilompati untuk
menuju ke komponen berikutnya Circulation dan Drugs. Dengan
kata lain sebelum memutuskan melakukan komponen Circulation
dan Drugs harus dipastikan Airway dan Breathing sudah optimal.

Contoh Kasus:
Dokter A sedang menangani bayi yang baru saja lahir dari seorang
ibu G1P0A0 dengan usia gestasi 35 minggu. Dokter A sudah
melakukan penilaian dan langkah awal. Pada usia 30 detik setelah
lahir didapatkan bayi tetap tidak bernapas, tonus buruk dan laju
denyut jantung 58 kali per menit.

Dokter A berniat melakukan kompresi dada dan ventilasi tekanan


positif.

Pertanyaan: Apakah tindakan dokter A tepat?

Jawaban: Tidak

Dokter A harus menjalankan resusitasi tahap demi-tahap, yaitu:

145
Resusitasi Neonatus

Bernapas atau menangis?


Tonus baik?

Tidak

Langkah awal:
• Pastikan bayi tetap hangat
• Atur posisi dan bersihkan jalan napas
• Keringkandan stimulasi
• Posisikan kembali

Observasi usaha napas, laju denyut jantung (LDJ), dan tonus otot

Tidak bernapas/ megap-


megap, dan atau
LDJ < 100x/ menit

Ventilasi tekanan positif (VTP)

Pemantauan SpO2

Dalam resusitasi bayi baru lahir, tahapan resusitasi harus


dijalankan secara berurutan, yaitu pada kasus ini, Airway dan
Breathing wajib dijalankan secara optimal dan adekuat sebelum
beralih ke tahap Circulation, walaupun telah diketahui laju denyut
jantung kurang dari 60 kali per menit.

Dokter A perlu mengerjakan ventilasi tekanan positif dengan


efektif selama 30 detik dan menilai kembali usaha bernapas, laju
denyut jantung dan tonus otot. Bila laju denyut jantung masih di
bawah 60 kali per menit walaupun dengan ventilasi tekanan positif
efektif maka dapat kompresi dada dan ventilasi tekanan positif
dapat diberikan.

146
Resusitasi Terintegrasi 4

Simultan
Penilaian usaha napas, laju denyut jantung dan tonus serta tindakan
resusitasi berupa Airway, Breathing, Circulation dan Drugs harus
dilakukan secara simultan atau bersamaan pada satu waktu.

Resusitasi secara simultan paling baik dijalankan dalam bentuk


satu tim yang terdiri atas beberapa penolong, sehingga penolong
dapat membagi peran dan tugas masing-masing serta semua
tindakan dan penilaian dapat dilakukan secara serentak.

Prognosis resusitasi bayi baru lahir sangat bergantung pada


kecepatan dan ketepatan tindakan penolong, sehingga pelaksanaan
resusitasi dalam tim secara simultan sangat diutamakan.

Sebagai contoh, pada beberapa bayi dengan kondisi sangat


buruk, penolong dituntut untuk memberikan ventilasi tekanan
positif, kompresi dada dan cairan pada saat bersamaan. Pada kondisi
demikian, penolong harus menerapkan resusitasi simultan.

Ketepatan Waktu
Seperti yang telah disinggung sebelumnya, waktu merupakan hal
yang sangat penting pada resusitasi bayi baru lahir. Keterlambatan
penanganan di awal akan mengakibatkan keterlambatan perbaikan
klinis bayi. Usaha napas pertama dapat tertunda dan hipoksia lama
dapat diakibatkan oleh denyut jantung yang rendah.

Sebagai contoh, apabila bayi terlambat ditangani pada saat


penanganan Airway, maka bayi akan lebih lambat mulai bernapas
dibandingkan apabila bayi ditangani lebih awal.

Oleh karena itu, penolong dituntut untuk bekerja dengan sigap


dan mampu melaksanakan tahapan-tahapan resusitasi tidak hanya
secara tepat, namun juga cepat.

147
Resusitasi Neonatus

Koordinasi
Para penolong harus memiliki koordinasi yang baik, mampu
bekerja sama dan memiliki bahasa medis sama sehingga tidak
ada keterlambatan, tidak saling bertabrakan kerjanya, tidak saling
menunggu atau malah menonton penolong lainnya melakukan
resusitasi.

Penilaian Berulang
Kondisi bayi baru lahir dapat mengalami perubahan sepanjang
resusitasi walaupun penolong belum mencapai titik penilaian pada
alur resusitasi. Oleh karena itu, penilaian komponen resusitasi
harus dilakukan berulang kali sepanjang resusitasi. Selain berfungsi
untuk memandu penolong menentukan tindakan dan perawatan
selanjutnya, penilaian berulang juga membantu penolong untuk
memantau apakah ada perbaikan atau perburukan kondisi bayi.

Penilaian disarankan dilakukan setiap 30 detik sekali, namun


penolong harus tetap memantau kondisi bayi sepanjang resusitasi.
Sebagai contoh, seorang bayi yang lahir tidak bernapas dengan
laju denyut jantung di bawah 100 kali per menit dapat mengalami
perbaikan usaha napas walau ventilasi tekanan positif yang diberikan
masih di bawah 30 detik.

Pada kasus semacam ini, penolong diharapkan dengan segera


mengenali tanda-tandanya dan melakukan penilaian kondisi bayi,
kemudian menentukan tindakan selanjutnya.

Selalu Bertanya: Sudah Optimalkah Saya?


Pada setiap tahapan resusitasi, penolong harus selalu memastikan
pada timnya, apakah setiap tahapan yang telah dilalui sudah
diberikan secara optimal?

148
Resusitasi Terintegrasi 4

Contoh Kasus:
Dokter B sedang meresusitasi neonatus yang lahir tidak bernapas,
tonus buruk, dan laju denyut jantung 50 kali per menit.

Dokter B sudah membersihkan dan membuka jalan napas,


memberikan ventilasi tekanan positif selama 30 detik dan
memberikan kompresi dada yang dikoordinasikan dengan ventilasi
tekanan positif namun kondisi bayi masih tetap sama.

Dokter B berencana untuk mulai memberikan adrenalin kepada


bayi.

Pertanyaan: Apakah yang wajib dilakukan dokter B saat ini?

Jawaban: Memastikan apakah semua tahapan A, B dan C telah


dijalankan secara optimal SEBELUM beralih kepada tahap D.

Pada tahap Airway, pastikan lagi posisi kepala bayi sudah benar
(setengah ekstensi) dan tidak ada obstruksi pada jalan napas bayi.

Pada tahap Breathing dengan bayi yang diberikan ventilasi


tekanan positif, pastikan lagi apakah tampak pengembangan dinding
dada yang adekuat? Apabila tidak, pastikan lagi beberapa poin yaitu
tidak ada kebocoran sungkup (rasakan apakah terdapat udara yang
keluar di sekeliling sungkup), tekanan ventilasi yang diberikan
sudah adekuat, tidak ada obstruksi lendir, dan posisi kepala bayi
harus tepat.

Pada tahap Breathing dengan bayi yang diberikan Continuous


Positive Airway Pressure, pastikan apakah terdapat kebocoran pada
sungkup atau sepanjang sirkuit CPAP, apakah sumber gas cukup
dan ukuran ETT (bila menggunakan nasal prong) sudah pas hingga
menutupi lubang hidung bayi.

Pada tahap Circulation, pastikan letak jari di tempat yang tepat,


kedalaman kompresi yang diberikan sudah tepat, dada mengembang
penuh di antara dua kompresi, kompresi menghasilkan pulsasi yang

149
Resusitasi Neonatus

jelas tampak pada oksimeter dan oksigen inspirasi yang diberikan


sudah mencapai konsentrasi 100%.

Resusitasi bayi baru lahir sangat menekankan optimalisasi


setiap langkah sebelum bergerak ke langkah selanjutnya. Resusitasi
terintegrasi dapat tercapai dengan selalu menerapkan kelima
prinsip di atas.

150
Resusitasi Terintegrasi 4

Hal-hal penting
1. Komponen resusitasi bayi baru lahir terdiri atas empat
hal, yaitu Airway, Breathing, Circulation dan Drugs

2. Pada komponen Airway, buka jalan napas dengan


menempatkan bayi pada posisi telentang, kepala di tengah
dan setengah menghidu. Lakukan pengisapan bila perlu.

3. Pada komponen Breathing, nilai usaha napas bayi.


Apabila bayi tidak bernapas, lakukan ventilasi tekanan
positif. Sedangkan apabila pada penilaian didapatkan
bayi bernapas spontan namun dengan distres napas,
berikan tekanan positif berkelanjutan pada jalan napas
(continuous positive airway pressure/CPAP).

4. Pada komponen Circulation, lakukan kompresi dada bila


laju denyut jantung di bawah 60 kali per menit walau
ventilasi tekanan positif telah diberikan secara adekuat
selama 30 detik

5. Pada komponen Drugs, obat baru diberikan hanya bila


komponen Airway, Breathing dan Circulation telah
diberikan secara adekuat

6. Resusitasi terintegrasi adalah resusitasi yang dijalankan


dengan menggabungkan keempat komponennya, yaitu
Airway, Breathing, Circulation dan Drugs sehingga
penolong dapat menjalankan resusitasi dengan sebaik-
baiknya dan mendapat luaran seoptimal mungkin.

7. Prinsip-prinsip resusitasi terintegrasi adalah Berurutan,


Simultan, Tepat waktu, Koordinasi, Penilaian berulang,
dan Selalu bertanya, “Sudah optimalkah saya?”

151
Resusitasi Neonatus

Daftar pustaka
1. Richmond S, Wyllie J. European Resuscitation Council Guidelines
for Resuscitation 2010 Section 7. Resuscitation of babies at birth.
Resuscitation. 2010; 81: 1389–99
2. Australian Resuscitation Council. Section 13: Neonatal Guidelines.
Diunduh dari www.resus.org.au. Diakses pada 15 Oktober 2013.
3. Queensland Maternity and Neonatal Clinical Guidelines Program.
Neonatal Resuscitation. Queensland: State of Queensland; 2011.
h.10-7.
4. Falciglia HS, Henderschott C, Potter P, Helmchen R. Does DeLee
suction at the perineum prevent meconium aspiration syndrome? Am
J Obstet Gynecol. 1992;167:1243-9.
5. Vain NE, Szyld EG, Prudent LM, Wiswell TE, Aguillar AM, Vivas NI.
Oropharyngeal and nasopharyngeal suctioning of meconium-stained
neonates before delivery of their shoulders: multicentre, randomised
controlled trial. Lancet. 2004;364:597-602.
6. Wiswell TE, Gannon CM, Jacob J, Goldsmith L, Szyld E, Weiss K, et
al. Delivery room management of the apparently vigorous meconium-
stained neonate: results of the multicenter, international collaboraive
trial. Pediatr. 2000;105:1-7.
7. Liu WF, Harrington T. The need for delivery room intubation of thin
meconium in the low-risk newborn: a clinical trial. Am J Perinatol.
1998;15:675-82.
8. Wood FE, Morley CJ, Dawson JA, Kamlin CO, Owen LS, Donath S,
et al. Improved techniques reduce face mask leak during simulated
neonatal resuscitation: study 2. Arch Dis Child Fetal Neonatal Ed.
2008;93:230–F4.
9. Halamek LP, Morley C. Continuous positive airway pressure during
neonatal resuscitation. Clin Perinatol. 2006; 33: 83– 98.
10. Buch P, Makwana AM, Chudasama RK. Usefulness of Downe score
as clinical assessment tool and bubble CPAP as primary respiratory
support in neonatal respiratory distress syndrome. J Pediatr Sci.
2013;5:176-83.
11. Sharma A, Ford S, Calvert J. Adaptation for life: a review of neonatal
physiology. Anaesth Intensive Care Med. 2010;12:85-90.
12. Altuncu E, Ozek E, Bilgen H, Topuzoglu A, Kavuncuoglu S. Percentiles
of oxygen saturations in healthy term newborns in the first minutes of
life. Eur J Pediatr. 2008;167:687-8
13. Gonzales GF, Salirrosas A. Arterial oxygen saturation in healthy infants
immediately after birth. J Pediatr. 2006;148:585-9
14. Toth B, Becker A, Seelbach-Gobel B. Oxygen saturation in healthy
newborn infants immediately after birth measured by pulse oximetry.
Arch Gynecol Obstet. 2002;266:105-7
15. Mariani G, Dik PB, Ezquer A, Aguirre A, Esteban ML, Perez C, et
al. Pre-ductal and post-ductal O2 saturation in healthy term neonates
after birth. J Pediatr. 2007;150:418-21
16. Rabi Y, Yee W, Chen SY, Singhal N. Oxygen saturation trends
immediately after birth. J Pediatr. 2006;148:590-4
17. Dawson JA, Kamlin CO, Vento M, Wong C, Cole TJ, Donath SM, et al.
Defining the reference range for oxygen saturation for infants after
birth. Pediatrics. 2010;125:1340-7

152
Resusitasi Terintegrasi 4

18. Perlman JM, Wyllie J, Kattwinkel J, Atkins DL, Chameides L, Goldsmith


JP. Part 11: neonatal resuscitation: 2010 International Consensus
on Cardiopulmonary Resuscitation and Emergency Cardiovascular
Care Science With Treatment Recommendations. Circulation.
2010;122:516-38
19. The Royal Women’s Hospital Neonatal Services. Clinician Handbook.
Melbourne: The Royal Women’s Hospital;2008. h.64-6
20. World Health Organization. Guidelines on basic newborn resuscitation.
Jenewa: World Health Organization; 2012. h.7-9.
21. Kattwinkel J, Niermeyer S, Nadkarni V, Tibballs J, Phillips B, Zideman
D, et al. Resuscitation of the newly born infant: an advisory statement
from the Pediatric Working Group of the International Liaison
Committee on Resuscitation. Resuscitation. 1999;40:71-88.
22. Peterson J, Johnson N, Deakins K, Wilson-Costello D, Jelovsek
JE, Chatburn R. Accuracy of the 7-8-9 Rule of endotracheal tube
placement in the neonate. J Perinatol. 2006;26:333-6
23. American Academy of Pediatrics/ American Heart Association. Neonatal
Resuscitation Program – The textbook of neonatal resuscitation. Edisi
ke-5. Elk Grove Village: American Academy of Pediatrics; 2011. h.5-14
24. American Academy of Pediatrics/ American Heart Association. Neonatal
Resuscitation Program – The textbook of neonatal resuscitation. Edisi
ke-4. Elk Grove Village: American Academy of Pediatrics; 2000. h.4-
1 - 6-12
25. UK Resuscitation Council. Section 11 Newborn Life Support. 2010
Resuscitation Guidelines. Diunduh dari www.resus.org.uk/pages/nls.
pdf‎.Diakses pada 15 Oktober 2013.
26. Morley CJ, Davis PG, Doyle LW, Brion LP, Hascoet JM, Carlin JB. Nasal
CPAP or intubation at birth for very preterm infants. N Engl J Med.
2008;358:700-8
27. Aly H, Massaro AN, Patel K, El-Mohandes AA. Is it safer to intubate
premature infants in the delivery room? Pediatrics. 2005;115:1660-5
28. Stevens TP, Harrington EW, Blennow M, Soll RF. Early surfactant
administration with brief ventilation vs. selective surfactant and
continued mechanical ventilation for preterm infants with or at
risk for respiratory distress syndrome. Cochrane Database Syst Rev.
2007;4:CD003063
29. Ammari A, Suri M, Milisavljevic V, Sahni R, Bateman D, Sanocka U, et
al. Variables associated with the early failure of nasal CPAP in very low
birth weight infants. J Pediatr. 2005;147:341-7
30. Avery ME, Tooley WH, Keller JB, Hurd SS, Bryan MH, Cotton RB, et
al. Is chronic lung disease in low birth weight infants preventable? A
survey of eight centers. Pediatrics. 1987; 79:26-30
31. Poets CF, Sens B. Changes in intubation rates and outcome of very low
birth weight infants: a population-based study. Pediatrics. 1996;98:24-
7
32. Zuo YY, Veldhuizen RAW, Neumann AW, Petersen NO, Possmayer
F. Current perspectives in pulmonary surfactant - inhibition,
enhancement and evaluation. Biochem Biophys Acta. 2008; 1778:
1947 - 77.
33. Cole FS, Nogee LM, Hamvas A. Defects in surfactant synthesis: clinical
implications. Pediatr Clin N Am. 2006; 53: 911-27.
34. Lissauer T, Fanaroff AA. Neonatology at a glance. Edisi ke-2.
Massachusetts: Blackwell Publishing; 2006.

153
Resusitasi Neonatus

35. Goldenberg RL,Culhane JF, Lams JD, Romero R. Epidemiology and


causes of preterm birth. Lancet. 2008; 371: 75-84.
36. Suresh GK, Soll RF. Pharmacologic adjuncts II: exogenous surfactants.
Dalam: Goldsmith JP, Karotkin EH, penyunting. Assisted ventilation of
the neonate. Edisi ke-5. Missouri: Elsevier Saunders; 2011.h371-88.
37. Lopez E, Gascoin G, Flamant C, Merhi M, Tourneux P, Baud O,
et al. Exogenous surfactant therapy in 2013: what is next? Who,
when and how should we treat newborn infants in the future? BMC
Pediatrics. 2013; 13:165
38. Halliday HL. Surfactants: past, present and future. J Perinatol. 2008;
28: 47–56
39. Engle WA, The commitee on fetus and newborn. Surfactant-
replacement therapy for respiratory distress in the preterm and term
neonate. Pediatrics. 2008;121:419-32.
40. Wenstrom KD. Fetal Surgery for Congenital Diaphragmatic Hernia.N
Engl J Med. 2003; 349:1887-8
41. Helwig JT, Parer JT, Kilpatrick SJ, Laros RK, Jr. Umbilical cord blood
acid-base state: what is normal? Am J Obstet Gynecol. 1996;174:1807-
12

154
6
Aspek Etika dalam
Resusitasi
Tujuan Pembelajaran:
1. Memahami aspek etika dalam resusitasi
2. Memahami kapan menghentikan usaha resusitasi

W
alaupun dunia medis di bidang perinatal telah
berkembang dengan baik dan pesat, tetapi hal tersebut
tidak menjamin semua bayi akan lahir hidup atau tetap
hidup dengan/ tanpa melewati masa kritis. Bayi prematur/ berat
lahir rendah khususnya memiliki risiko tinggi untuk komplikasi
jangka panjang dengan biaya pengobatan yang tidak murah, seperti:
penyakit paru kronik, kebutaan, gangguan kognitif, kelainan
neurologis, gagal tumbuh dan gangguan perkembangan.1

Orang tua/ keluarga pasien memiliki hak untuk mengambil


keputusan terhadap tindakan yang akan dilakukan ke bayi mereka,
namun di sisi lain tenaga medis juga mempunyai kewajiban untuk
menolong setiap insan manusia. Hal tersebut menjadi cikal bakal
pro-kontra antara orang tua/ keluarga bayi dengan tenaga medis,1
dan memunculkan pertanyaan, siapakah yang berhak memutuskan
untuk melakukan dan menghentikan resusitasi sebagai upaya
penyelamatan bayi?

155
Resusitasi Neonatus

A. Penolakan resusitasi2

Beberapa literatur menyebutkan bahwa pada kondisi tertentu


tenaga medis dan/atau keluarga dapat menolak tindakan
resusitasi. Kondisi tersebut antara lain:

-- Anensefali

-- Bayi prematur ekstrim dengan kemungkinan hidup kecil

-- Pada bayi dengan kelainan kongenital mayor

-- Pada bayi sakit berat dengan prognosis jangka panjang


sangat buruk

Perlu diperhatikan bahwa perintah penolakan tindakan seperti


Do Not Resuscitate (DNR) harus didokumentasikan secara
tertulis dalam rekam medis dan ditandatangani oleh keluarga
pasien di dalam rekam medis.

B. Menghentikan usaha resusitasi2

Pedoman untuk menghentikan resusitasi mengacu pada denyut


jantung bayi yang terdeteksi dalam 10 menit:

-- Bila dalam 10 menit denyut jantung bayi tidak terdeteksi,


maka usaha resusitasi dapat dipertimbangkan untuk
dihentikan.

-- Bila dalam 10 menit denyut jantung bayi sulit ditentukan


atau sangat lemah, maka resusitasi dapat terus dilanjutkan.
Hal tersebut dapat dipengaruhi oleh:
o Diagnosis yang belum pasti
o Usia gestasi neonatus
o Ada atau tidaknya komplikasi
o Harapan orangtua terhadap kehidupan bayinya

American Medical Association Code of Medical Ethics


menyatakan bahwa untuk menentukan keputusan medis
resusitasi untuk bayi kritis meliputi banyak pertimbangan sulit
antara lain:3

156
Aspek Etika dalam Resusitasi 6

-- Kemungkinan keberhasilan resusitasi

-- Risiko yang mungkin timbul dengan atau tanpa resusitasi

-- Kemungkinan tindakan medis akan memperpanjang


kehidupan atau tidak

-- Rasa sakit dan ketidaknyamanan yang timbul

-- Kemungkinan peningkatan derajat kualitas hidup bayi

Setiap intervensi medis memiliki risiko terjadinya komplikasi


atau bahkan kematian, namun tenaga medis tidak boleh meremehkan
kekuatan bertahan hidup dari seorang bayi. Oleh karena itu, usaha
untuk memertahankan hidup dengan meresusitasi bayi harus terus
dilakukan secara optimal.

Referensi
1. Fanaroff JM, Nelson LJ. Ethical issues in the perinatal period. Dalam:
Fanaroff AA, Fanaroff JM, penyunting. Care of the High-Risk Neonate.
Edisi ke-6. Philadelphia: Saunders; 2013. h.535-42.
2. Queensland Maternity and Neonatal Clinical Guidelines Program.
Neonatal Resuscitation. Queensland: State of Queensland; 2011.h.19.
3. Hird M, Larcher VF. Ethical and legal aspects of neonatology. Dalam:
Rennie JM, penyunting. Roberton’s Textbook of Neonatology. Edisi ke-
4. Philadelphia: Elsevier; 2005. h.97-100.

157
Resusitasi Neonatus

158
7
Megacode
KASUS 1
Seorang bayi dengan berat 1400 gram dilahirkan dari ibu G2P1A0
dengan preeklamsia berat pada usia kehamilan 31 minggu. Ibu belum
pernah mendapat suntikan kortikosteroid sebelum persalinan. Pada
saat dilahirkan bayi menangis kuat disertai pergerakan dan fleksi
pada keempat ekstremitas. Tangan dan kaki bayi terlihat sianotik.

PERTANYAAN: Langkah apa yang akan anda lakukan selanjutnya?

Pada usia 5 menit, bayi tampak mengalami retraksi interkostal


dan supraklavikula disertai napas cuping hidung, merintih, dan
frekuensi napas 70 kali/ menit. Bayi masih mengalami sianosis pada
tangan dan kaki.

PERTANYAAN: Langkah apa yang anda lakukan selanjutnya?

KASUS 2
Seorang bayi dengan berat 2700 gram dilahirkan dari ibu G3P1A1
secara bedah kaisar pada usia kehamilan 40 minggu. Sebelumnya
ibu mengeluh gerakan janin berkurang disertai hasil pemeriksaan
CTG berupa deselerasi lambat. Ibu tidak memiliki riwayat penyakit
maupun penyulit selama kehamilan. Pada saat dilahirkan bayi
tampak mengalami lilitan tali pusat erat sebanyak 2 kali, tidak
menangis, dan tampak kebiruan. Bayi dibebaskan dari lilitan tali
pusat dan diserahkan kepada anda selaku penolong resusitasi. Bayi
tampak megap-megap dan lunglai disertai warna kebiruan disekitar
mulut, tangan, dan kaki. Cairan ketuban tampak kehijauan namun
tidak berbau.

159
Resusitasi Neonatus

PERTANYAAN: Langkah apa yang anda lakukan selanjutnya?


Setelah melakukan langkah di atas, bayi tampak memperlihatkan
usaha napas namun disertai dengan retraksi epigastrium dan
subcostal, napas cuping hidung, merintih, dan frekuensi napas 65
kali/ menit. Sekitar mulut bayi masih tampak kebiruan. Laju denyut
jantung bayi 130 kali/ menit.

PERTANYAAN: Langkah apa yang anda lakukan selanjutnya?

KASUS 3
Seorang bayi dengan berat 3200 gram dilahirkan dari ibu G1P0A0
melalui persalinan normal pada usia kehamilan 42 minggu. Pada
saat persalinan tampak cairan ketuban bercampur mekoneum
kental. Bayi lahir menangis dengan tonus otot yang cukup. Tangan
dan kaki bayi tampak kebiruan.

PERTANYAAN: Langkah apa anda lakukan selanjutnya?

KASUS 4
Seorang bayi dengan berat 1100 gram dilahirkan dari ibu G1P0A0
melalui bedah kaisar atas indikasi ketuban pecah dini dan
oligohidramnion pada usia kehamilan 28 minggu. Ibu tidak memiliki
riwayat penyakit maupun penyulit selama kehamilan. Pada saat
dilahirkan bayi tidak bernapas, tidak bergerak dan lunglai, serta
tampak kebiruan. Laju denyut jantung 90 kali/ menit.

PERTANYAAN: Tindakan apa yang akan anda lakukan?


Setelah dilakukan tindakan dan dievaluasi, bayi tetap tidak
bernapas, tidak bergerak dan lunglai, dengan laju denyut jantung
80 kali/ menit.

PERTANYAAN: Langkah apa yang akan anda lakukan?

160
Megacode 7

KASUS 5
Seorang bayi dengan berat 2400 gram dilahirkan dari ibu G2P0A1
melalui persalinan normal pada usia kehamilan 36 minggu. Ibu
mengaku mengeluarkan cairan seperti air seni sejak 18 jam yang
lalu. Ibu memiliki riwayat infeksi saluran kemih sejak sekitar 1 tahun
yang lalu. Pada saat dilahirkan bayi tidak bernapas dan lunglai, serta
tampak kebiruan seluruh tubuh. Frekuensi denyut jantung 90 kali/
menit.

PERTANYAAN: Langkah apa yang anda lakukan selanjutnya?

Setelah langkah tersebut dilakukan dan dievaluasi, bayi mulai


menangis, tidak ada retraksi maupun napas cuping hidung dan
tidak merintih. Frekuensi napas 40x/ menit dan laju denyut jantung
110x/ menit namun tangan dan kaki masih tampak kebiruan.

PERTANYAAN: Langkah apa yang anda lakukan selanjutnya?

KASUS 6
Bayi dengan berat 1800 gram dilahirkan dari ibu G2P1A0 melalui
bedah kaisar emergensi atas indikasi solusio plasenta pada usia
kehamilan 30 minggu. Pada saat dilahirkan bayi tampak menangis
lemah, tonus otot lemah disertai kebiruan. Pada usia 1 menit bayi
tampak mengalami retraksi dalam di epigastrium, merintih, napas
cuping hidung, dengan frekuensi napas 65 kali/ menit. Laju denyut
jantung 110 kali/ menit. Tangan dan kaki masih tampak kebiruan.

PERTANYAAN: Langkah apa yang anda lakukan selanjutnya?

Pada usia 5 menit retraksi bertambah dalam dengan frekuensi napas


80 kali/ menit. Laju denyut jantung 120 kali/ menit. Bayi tampak
pucat dan saat dievaluasi waktu pengisian kapiler 4 detik disertai
tangan dan kaki yang dingin.

PERTANYAAN: Langkah apa yang anda lakukan selanjutnya?

161
Resusitasi Neonatus

162