Anda di halaman 1dari 48

Kode/Nama Rumpun Ilmu:433/Teknik Kimia

LAPORAN AKHIR PENELITIAN MANDIRI

ESTIMASI CADANGAN ENDAPAN MANGAN


(MN)PADA UNIT PENAMBANGAN DI CV. MULTI
SARANA MINERAL DESA NGADIREJO KEC.
POGALAN KAB. TRENGGALEK PROVINSI TIMUR

Nama Peneliti

Gati Sri Utami ,S.T., M.T


Mario

INSTITUT TEKNOLOGI ADHI TAMA SURABAYA


Nopember 2013

1
DAFTAR ISI

HALAMAN PENGESAHAN 2
DAFTAR ISI 3
RINGKASAN 4
BAB I PENDAHULUAN 5
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA 7
BAB III METODE PENELITIAN 28
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 32
DAFTAR PUSTAKA 47
LAMPIRAN-LAMPIRAN 48

RINGKASAN

2
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui tentang jumlah cadangan

endapan mangan, serta untuk mengetahui umur tambang di CV. Multi Sarana

Mineral, penelitian ini dilakukan berdasarkan studi literatur, dan observasi langsung

dilapangan selama satu bulan. Data – data yang diambil dibagi menjadi dua yaitu

data sekunder dan data primer, yang meliputi keadaan lokasi, struktur geologi, peta

topografi, target produksi perusahaan perbulan, serta kegiatan penambangan. Metode

penambangan mangan yang digunakan di CV. Multi Sarana Mineral merupakan

Metode penambangan terbuka (Open Pit)

Bentuk endapan mangan yang ada di CV. Multi Sarana Mineral adalah

psilomelan, penyebaran endapan berupa vein (urat) mangan.

Metode yang digunakan untuk menghitung cadangan endapan mangan CV.

Multi Sarana Mineral adalah metode penampang (Cross Section) dengan rumus luas

rata – rata (Mean Area).

Kata kunci : Perhitungan cadangan endapan, proses penambangan mangan

BAB I
PENDAHULUAN

3
CV. Multi Sarana Mineral, merupakan perusahaan yang bergerak

di bidang pertambangan batu mangan. Perusahaan tersebut melakukan kegiatan

penambangan dan pengolahan batu mangan untuk memenuhi produksi dan

permintaan pasar yang selaras dengan kemampuan dan kondisi peralatan. Adapun

lokasi kegiatan penambangan tersebut berada di daerah Desa Ngadirejo, Kecamatan

Pogalan, Kabupaten Trenggalek, Provinsi Jawa Timur, yang bergerak di bidang

pertambangan batu mangan melakukan kegiatan penambangan dan pengolahan batu

mangan untuk memenuhi produksi dan permintaan pasar yang selaras dengan

kemampuan dan kondisi peralatan.

Dengan pesatnya laju pembangunan pada masa sekarang dan dimasa yang akan
datang, sangat memerlukan bahan baku dan batuan penunjang pembangunan fisik dalam
jumlah yang cukup banyak. Bahan baku tersebut antara lain adalah batu mangan banyak
digunakan untuk sector industri, seperti pembuatan keramik, baterai kering
I.2. Perumusan Masalah
Ada beberapa masalah yang saya rumuskan yaitu:

a. Berapa banyak – nya cadangan batu mangan yang dimiliki oleh CV. Multi

Sarana Mineral.

b. Memperkirakan kapan berakhirnya kegiatan penambangan atau penentuan umur


tambang
1.2. Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah :

a. Untuk mengetahui jumlah cadangan batu mangan di CV. Multi Sarana

Mineral dengan metode perhitungan cadangan yaitu dengan cara Cross

Section (Metode Penampang).

b. Untuk mengetahui kapan berakhirnya proses penambangan batu mangan

(umur tambang) di CV. Multi Sarana Mineral.


1.5. Manfaat Penelitian

Pada penelitian ini ada beberapa mamfaat yang diperoleh antara lain :
4
a. Peneliti dapat lebih memahami tentang metode perhitungan cadangan yaitu

dengan cara Cross Section serta tahap – tahap penambangan batu mangan.

b. Perusahaan dapat merencanakan pengembangan usaha dan peningkatan

produksi.

BAB II
STUDI PUSTAKA
5
Sejarah dan perkembangan CV. Multi Sarana Mineral yaitu Berawal dari

penelitian oleh beberapa ahli yaitu diantaranya Van Bemmelen tahun 1949 , Nahrowi,

Drs. Suharyono , S. Gafoyer, T. Suwarti. Didalam penelitian selama beberapa tahun

ditemukan bahan galian Mangan dalam jumlah besar. Penemuan ini mendorong

para pengusaha untuk melakukan proses penambangan. Namun keinginan pengusaha

tersebut terhenti karena permintaan pasar belum begitu menonjol.

Pada tahun 1976, kegiatan penambangan sudah berjaln namun berskla

kecil atau bisa juga disebut tambang rakyak serta belum punya ijin dari

pemerintah atau disebut ilegal mining dan juga status lokasi tersebut punya

kehutanan.

Pada tahun 1988 pemerintah daerah sudah mulai memberikan ijin (SIPD) untuk melakukan
penambangan namun proses penambangan dimulai secara manual. Setelah berjalannya
proses produksi pada beberapa tahun kegiatan menjadi vakum dikarenakan permintaan
pasar berkurang (1992 - 2000). Pada tahun 2001 kegiatan penambangan mualai
berjalan lagi namun hanya dalam waktu 1 tahun yang dikelolah oleh PT. Budi manganis
Pada tahun 2004-2005 dilanjutkan lagi oleh PT. Pratama, operasi ini berlangsung

selama setahun kemudian dilanjutkan lagi oleh CV. Multi Sarana Mineral pada tahun

2007 hingga sekarang dengan status legal atau mempunyai izin kuasa pertambangan

eksploitasi bahan galian Mangan dengan nomor

188.45/458/425.012/2007 tertangal 2 oktober 2007 dan izin kuasa pertambangan

pengangkutan dan penjualan nomor 188.45/359/425.012 tertanggal 2 oktober

2007 yang dikeluarkan oleh bupati Trenggalek, di dusun Gebang desa Ngadirejo

kecamatan Pogalan.

Secara umum endapan – endapan bahan galian dapat dikategorikan atas

sederhana (simple) atau kompleks (complex) tergantung dari distribusi kadar dan

bentuk geometrinya. Kriteria untuk mengkategorikan endapan bahan galian ini

didasarkan atas pendekatan geologi. Untuk kategori kompleks dicirikan dengan

6
kadar pada batas endapan dan pada tubuh bijihnya sangat bervariasi serta bentuk

geometrinya yang kompeks, sedangkan untuk kategori sederhana dicirikan dengan

bentuk geometri yang sederhana dan kadar pada batas endapan maupun pada badan

bijih relative homogen.

Di Bumi, mangan ditemukan dalam sejumlah mineral kimia yang berbeda

dengan sifat fisiknya, tetapi tidak pernah ditemukan sebagai logam bebas di alam.

Mineral yang paling penting adalah pyrolusite, karena merupakan mineral bijih

utama untuk mangan. Mangan terdapat dalam cebakan sedimen dan residu, juga

terdapat dalam cebakan hidrothermal dan metamnorfosa (malihan).

Cebakan terrestial untuk cebakan mangan dapat dibagi menjadi lima tipe, yaitu :

 Cebakan hidrothermal

 Cebakan sedimenter

 Cebakan yang berasosiasi dengan aliran lava bawah laut

 Cebakan metamorfosa

 Cebakan laterit dan akumulasi residual

Mangan di Indonesia telah ditemukan orang sejak tahun 1854 yang

terdapat di Karangnunggal, Tasikmalaya, Jawa Barat. Walaupun demikian endapan

bijih mangan yang diusahakan terlebih dahulu yaitu yang terdapat di Kliripan,

Kulon Progo - Yogyakarta. Tambang mangan di Karangnunggal baru

diusahakan pada tahun 1930. Selain di ke dua daerah tersebut, juga telah

diusahakan dengan cara sederhana dan kecil-kecilan yaitu di pegunungan

Karangbolong, Kedu Selatan, Pegunungan Menoreh di dekat Salaman, Magelang

dan di daerah G. Kidul bagian utara, juga di berbagai daerah di Jawa Timur bagian

Selatan.

7
Mangan yang ditambang pada umumnya terbatas pada bijih mangan dengan

kadar MnO 2 di atas 75%. Sumber daya dan cadangan mangan dari berbagai

daerah dapat di lihat pada Tabel.

Tabel
3.1

Sumber daya dan cadangan logam mangan di Indonesia, 2008-2010

KOMO 2008 2009 2010

DITI SUMBER CADA SUMBER CADA SUMBER CADAN


LOGAM DAYA NGAN DAYA NGAN DAYA GAN

Mangan 10.620,007 938.240 10.909.107 938.240 11.195.341 4.078.029

Berdasarkan mulai jadinya endapan mangan di alam dapat dibedakan


sebagai berikut : Endapan hidrotermal, Endapan sedimenter, Endapan Residu atau
sisa dan Endapan Metamorfosa. Ada bermacam-macam istilah untuk endapan
mangan, sebagai berikut :

Table 3.2

Jenis – jenis endapan mangan

Jenis Endapan Mangan Kandungan (%)

Manganese ore 0- 35

Ferruginaus manganese ore 10 – 35

Manganiferous iron ore 5 – 10

Mineral-mineral mangan yang umum dijumpai dalam cebakan komersial

antara lain Pirolusit, Manganit, Hausmanit, Kriptomelan, Braunit, Rhodonit, dan

8
Rhodokrosit (Tabel)

Tabel 3.3

Mineral mangan yang umum dalam cebakan komersial dijumpai

Mineral Komposisi Kangdungan Mn (%)

Pirolusit MnO 2 63,2

Manganit Mn 2 O 3 . H2 O 62,0

Hausmanit Mn 3 O 4 72,0

Kriptomelan KMn 8 O 16 45 – 40

Braunit 3Mn 2 O 3 .MnSiO3 50 – 60

Rhodonit MnSiO 3 42,0

Rhodokrosit MnCO 3 48,0

Mangan merupakan hasil yang banyak kegunaannya. Sembilan puluh lima

persen bijih mangan digunakan orang di dalam dunia industri metalurgi dan sisanya

digunakan di dalam industri baterai dan kimia.

Tabel 3.4

Spesifikasi mangan untuk berbagai keperluan

Unsur Metalurgi Baterai Kimia

(%) (%) (%)

9
MnO 2 - Min 80,00 Min 70,00

Mn Min 48,00 - -

Al 2 O 3 Maks 7,00 - -

Al 2 O 3 + SiO 2 Maks 11,00 - -

Fe Maks 6,00 - Maks 5,00

P Maks 0,19 - Maks 8,00

As Maks 0,18 - Maks 0,15

Cu Maks 0,001 - -

Pb Maks 0,30 - -

Zn - - -

Co - Maks 0,0001 -

Ni - Maks 0,0001 -

Nitrat - Trace -

Nh 3 - Maks 0,02 -

Na 2 O - Maks 0,20 Maks 0,10

K2 O - Maks 0,10 Maks 2,00

CaO - Maks 0,20 Maks 0,25

H2 O - Maks 3,00 -

Ukuran Butir - 76 % 44 mikron 100 % < 2 inci

Sumber : Suhala, S, M. Arifin (Ed), 1997

3.2 Klasifikasi Cadangan Standar Nasional Indonesia (BSN)

Sebelum membahas tentang klasifikasi sumberdaya dan cadangan terlebih

dahulu akan dijelaskan beberapa difenisi yang di buat oleh BSN yang berhubungan

dengan sistem klasifikasi tersebut. Dalam sub – sub ini akan menjelaskan sistem

klasifikasi SNI 13-4726-1998 (Amandemen 1, 1999) yaitu :

a. Klasifikasi sumberdaya mineral dan cadangan adalah suatu proses

pengumpulan, penyaringan, serta pengolahan data dan informasi dari suatu


10
endapan mineral untuk memperoleh gambaran yang ringkas mengenai

endapan itu berdasarkan keyakinan geologi dan kelayakan tambang yang

berdasarkan pada tahap eksplorasi yang meliputi survei tinjau, prospeksi,

eksplorasi umum dan eksplorasi rinci. Kriteria kelayakan tambang didasarkan

pada faktor – faktor ekonomi, teknologi, peraturan perundang – undangan,

lingkungan dan sosial (economic, technological, legal, enviroment, and social

factor).

b. Sumberdaya mineral (mineral resourse) adalah endapan mineral yang

diharapkan dapat dimanfaatkan secara nyata. Sumberdaya mineral dengan

keyakinan geologi tertentu dapat berubah menjadi cadangan setelah

dilakukan pengkajian kelayakan tambang dan memenuhi kriteria layak

tambang.

c. Cadangan (reserve) adalah endapan mineral yang telah diketahui ukuran,


bentuk, sebaran, kuantitas dan kualitasnya dan yang secara ekonomis, teknis,
hukum, lingkungan, dan sosial dapat di tambang pada saat perhitungan
dilakukan

d. Keterdapatan mineral (mineral occurence) adalah suatu indikasi

pemineralan (mineralization) yang dinilai untuk dieksplorasi lebih

jauh. Istilah keterdapatan mineral tidak ada hubungannya dengan ukuran

volume/tonase atau kadar/kualitas, dengan demikian bukan bagian dari suatu

sumberdaya mineral.

e. Cadangan Tereka (inferred, posible) adalah hasil perhitungan atau penafsiran

potensi bahan galian yang diperoleh dari propeksi (data geologi, singkapan)

dengan tingkat kepercayaan 20-30% dan tingkat kesalahan 60%.

11
f. Cadangan terkira/terunjuk (indicated posible) adalah hasil perhitungan

berdasarkan sampling (parit ujian, teaching, bor) dengan jumlah spasi cukup

jauh (eksplorasi umum) dengan tingkat kepercayaan 40-60% dan tingkat

kesalahan 40%.

g. Cadangan terukur (proved reserve) adalah sumberdaya mineral terukur yang

berdasarkan studi kelayakan tambang semua faktor yang terkait telah

terpenuhi, sehingga penambangan dapat dilakukan secara ekonomis, dengan

tingkat kepercayaan 80-85% dan tingkat kesalahan 20%

h. Cadangan tertambang (mineable reserves) adalah Sejumlah cadangan bahan

galian yang telah memperhitungkan faktor-faktor teknis dan ekonomis bila

dilakukan eksploitasi tambang.

Tabel 3.5

Klasifikasi cadangan

IND USGS/USBM Umum FORRESTER Hoover

Tereka Inferred Posible Possible Pospective

Terindikasi Indicated Probable Probable Probable

Terukur Measure Proven Developed Proved

Didalam menghitung cadangan suatu prospek endapan bahan galian, maka

hal-hal yang perlu diperhatikan adalah:

a. Data geologi

b. Peta geologi, topografi

c. Data pemboran dan peta pemboran

d. Sampling dan peta sampling, misalnya sampling pada singkapan

3.3 Macam - Macam Bentuk Endapan

12
Macam - macam bentuk endapan bahan galian dapat digolongkan dalam lima

jenis yaitu :

a. Alluvial/placer

Placers Aluvial adalah tanah,pasir,krikil atau material mineral yang berpindah

dan terbawa arus air. Endapan yang terletak di bawah permukaan air termasuk ke

dalam endapan alluvial, yaitu endapan sekunder yang terkumpul dalam jumlah dan

kadar yang tinggi melalui suatu proses konsentrasi alam yang letaknya sudah jauh

dari batuan induknya, dan sudah sempat diangkut oleh sungai dan ombak laut.

Alluvial merupakan satuan batuan yang mengalami proses sedimentasi yaitu

pembentukan endapan, pelapukan, transportasi yang dibentuk dari batuan

sebelumnya. Alluvial biasanya terbentuk didaerah pantai dan didaerah sungai dengan

pola penyebaran pada daerah penelitian berkisar 35% dari seluruh luas daerah

penelitian.

Bila sudah melihat bagaimana terbentuknya emas di batuan volkanik, maka adalagi

proses-proses yang menyebabkan berlakunya endapan emas. Ada dua jenis endapan

berdasarkan prosesnya, yaitu endapan Primer dan endapan Placer

 Endapan Primer.

Endapan emas pada kejadian Epitermal tadi dapat dikatakan endapan Primer

dimana emas yang dijumpai berada pada penjaluran-penjaluran mineral

kuarza. Emas yang ada masih melekat dan belum tererosi. Endapan primer

merupakan source atau longgokan utama emas sehingga menjadi prioritas

dalam eksplorasi.

13
Gambar 3.1

Bentuk endapan alluvial primer


 Endapan Placer/ Endapan Sekunder / Endapan alluvial.

Emas yang telah terpindahkan dari tempat asalnya alias telah mengalami

transportasi dan jauh dari ibunya bisa dikatakan endapan Placer. Endapan ini

terjadi akibat kikisan bisa dari angin ataupun air. Sehingga emas yang ada

terendap pada suatu tempat. Proses pengikisan dan pengangkutan ini berlaku

terus menerus sehingga taburannya berbeda-beda.

Gambar 3.2

Bentuk edapan Alluvial/placer sekunder

b. Vein/ vertical deposit

Vein atau vertical deposit adalah suatu daerah mineralisasi yang memiliki

bentuk dan menyerupai urat/pipa, umumnya miring, agak tajam terhadap bidang
14
datar. (>450) menyudut

Gambar 3.3

Bentuk endapan vein/vertical

c. Bedded deposit

Endapan bedded dikenali oleh fosil yang terkandung, yang mungkin telah

menjadi mineralisasi, endapan tersebut, yang mayoritas mengandung zat besi atau

mangan, umumnya dimensi horisontal besar dan berlapis seperti lapisan batubara.

Gambar 3.4

15
Bedded deposit
d. Massive (hill/bukit)

Bentuk endapan yang berbentuk seperti bukit umumnya batu gamping,

marmer, granit, andesit dan sebagainya.

Gambar 3.5

Bentuk endapan massive (Hill/bukit)

e. Disseminated deposit

Sebaran mineral bijih dan sebagian besar logam, yang tersebar di seluruh batu

dalam konsentrasi rendah.

Gambar 3.6

Disseminated deposit
3.4 Metode Perhitungan

Untuk menghitung suatu cadangan suatu mineral maka ada beberapa metode

yang digunakan yaitu antara lain :


16
a. Metode Penampang (Cross Section)

Metode penampang lebih cocok digunakan untuk tipe endapan yang

mempunyai kontak tajam seperti bentuk tabular (perlapisan atau vein). Pola

eksplorasi (bor) umumnya teratur yang terletak sepanjang garis penampang, namun

untuk kasus endapan yang akan di tambang secara underground umumnya

mempunyai pola bor yang kurang teratur (misalnya sistem pengeboran kipas). Kadar

rata – rata terbobot pada penampang akan di ekstensikan menjadi volume sampai

setengah jarak antara penampang.

Metode ini dapat diaplikasikan baik secara horisontal (isoline) untuk endapan

yang penyebarannya secara vertikal seperti tubuh intrusi, batugamping terumbu dan

lain – lain. Disamping itu juga bisa diaplikasikan secara vertikal (penampang) untuk

endapan yang penyebarannya cenderung horisontal seperti tubuh sill, endapan

berlapis dan lain – lain.

Keuntungan dari metode ini adalah peroses perhitungannya tidak rumit dan

sekaligus dapat dipergunakan untuk menyajikan hasil interpretasi model dalam

sebuah penampang atau irisan horisontal. Sedangkan kekurangan metode penampang

adalah tidak bisa dipergunakan untuk tipe endapan dengan mineralisasi yang

kompleks. Disamping itu hasil perhitungan secara konvensional ini dapat dipakai

sebagai alat pembanding untuk mengecek hasil perhitungan yang lebih canggih

misalnya dengan sistem blok.

Perhitungan volume mean area (metode penampang)

Rumus luas rata-rata dipakai untuk endapan yang mempunyai penampang

yang uniform.

17
L
V = ( S1 + 4M + S2 )
6

S1,S2 = luas penampang ujung

M = luas penampang tengah

L L = jarak antara S1 dan S2

1/2 L
V = volume cadangan

2. Rumus Prismoida

S2

S1

Gambar 3.8

Perhitungan volume bijih dengan rumus prismoida


3. Rumus Kerucut Terpancung
S1

V 
L
3  S1 + S2 + S1 S2 
S1 = luas penampang atas
L
S2 = luas penampang alas

L = jarak antar S1 dan S2

S2 V = volume cadangan

18
Gambar 3.9

Kerucut Terpancung

4. Rumus Obelisk

Rumus ini merupakan suatu modifikasi dari rumus Prismoida dengan

mengsubstitusi :

M =
a1 + a2  b1 + b2 
2 2

a2

S2 b2

S1 b1

a1

Gamar 3.10

Sketsa perhitungan volume bijih dengan rumus obelisk


 S1 + 4M + S2 

V=
L
6

19
= L

S + 4 a1 + a2 b1 + b2  + S2 

6  1 4 
 

= L  S + S + a1 + b2 a2 + b1 
 
 (obelisk)
3  1 2 24 
 

Rumus obelisk dipakai untuk endapan yang membaji

b. Metode Isoline (Metode Kontur)

Metoda ini dipakai untuk digunakan pada endapan bijih dimana ketebalan

dan kadar mengecil dari tengah ke tepi endapan.

Volume dapat dihitung dengan cara menghitung luas daerah yang terdapat di dalam

batas kontur, kemudian mempergunakan prosedur-prosedur yang umum dikenal.

section

plan

Gambar 3.11

Sketsa Metode Isoline

d. Metode Poligon (area of influence)

Metode poligon ini merupakan metoda perhitungan yang konvensional.

Metode ini
20
umum diterapkan pada endapan-endapan yang relatif homogen dan

mempunyai geometri yang sederhana.

Kadar pada suatu luasan di dalam poligon ditaksir dengan nilai contoh yang berada

di tengah-tengah poligon sehingga metoda ini sering disebut dengan metoda poligon

daerah pengaruh (area of influence). Daerah pengaruh dibuat dengan membagi dua

jarak antara dua titik conto dengan satu garis sumbu.

3 4

2
= titik bor/sumur uji

5 = daerah pengaruh/daerah
1 6
10 yang diarsir

9 8 7

Gambar 3.14

Sketsa Metode poligon (area off influence)

Level
21
1

Winze 2 Winze

Blok bijih
4

Level

Blok bijih dengan 4 daerah pengaruh yaitu 1, 2, 3, dan 4

a
2 3

= daerah pengaruh dari titik 1


- Pola bujur sangkar

1
a

5 4

Menghitung cadangan dengan cara mempergunakan metoda daerah pengaruh :

22
3
4
2 = daerah pengaruh titik

satu dapat diukur (S1)


1
5

Gambar 3.15

Sketsa Metode segi tiga


Andaikan ketebalan endapan bijih pada titik 1 adalah t 1 dengan kadar rata-

rata k 1 , maka volume - assay - produk (V%) = S 1 x t 1 x k 1 (volume pengaruh).

Bila spec. gravity dari bijih = , maka :

tonnage bijih = S 1 x t 1 x k 1 x tonn(age %)

Metoda included dan extended area.


12,5 m

1 2 3 4 25 m 5

25 m

Metoda included Metoda extended area

Gambar 3.16

Sketsa metode included dan extended area

Metoda extended area adalah cadangan dihitung melampaui batas-batas yang ada.

Metoda included area adalah menghitung luas cadangan yang ada didalam batas

23
3.5 Faktor Yang Mempengaruhi Pemilihan Metode Perhitungan Cadangan.

a. Batas ijin penambangan

b. Batas kedalaman penambangan

c. Letak dan posisi endapan bahan galian d. Data kadar

3.6 Perhitungan Cadangan

Perhitungan cadangan merupakan sebuah langkah kuantifikasi formal terhadap

suatu material yang keterdapatannya secara alamiah. Perhitungan ini dilakukan

dengan berbagai metode/prosedur yang didasarkan padaperhitungan empiris maupun

toritis.Volume, tonase, kadar dan kuantitas mineral merupakan atribu-atribut

(variable/parameter) umum yang diperhitungkan. Perhitungan atribut tersebut harus

optimal dalam arti takbias dan kesalahan acak tidak melebihi kriteria yang dapat

dipertanggung jawabkan.

Metode perhitungan dapat berbeda untuk endapan yang akan ditambang secara

terbuka dengan endapan yang akan ditambang secara underground mine. Metode

perhitungan cadangan juga berbeda sesuai dengan tujuan penambangan, maksudnya

apakah jumlah cadangan yang diperoleh akan dipergunakan untuk perencanaan

tambang jangka panjang, jangka pendek atau untuk keperluan lain.

Pada dasarnya perhitungan cadangan merupakan pengetahuan mengenai

distribusi spasial kadar dan penentuan lokasi batuan mineral yang bernilai di atas

cutoff grade (cog). Apapun tujuan dari perhitungan cadangan, proses ini harus

dilakukan berdasarkan aturan-aturan yang terstruktur.

3.7 Menghitung Luas

Menghitung luas wilayah pada peta dengan mengunakan sistem grid


Sebuah peta memiliki informasi jarak yang dapat kita baca pada skala. Tetapi

bagaimana dengan informasi luas wilayah? Gambar pada suatu peta terbentuk atas

unsur titik (dot), garis (line), dan area (poligon). Poligon merupakan garis tertutup
24
yang kedua ujungnya saling bertemu dan membentuk area. Area yang terbentuk ini

akan membentuk luasan yang dapat kita ukur/hitung berapa besarnya. Menghitung

luas suatu wilayah pada peta dapat kita lakukan secara manual dengan menggunakan

Sistem Grid.

Gambar 3.17.

Tahap awal perhitungan luas pada peta dengan sistem grid

Menghitung dengan menggunakan sistem grid adalah dengan membuat petak-

petak pada gambar peta dalam bentuk bujur sangkar yang berukuran sama.

Penentuan panjang sisi bujur sangkar secara umum dibuat 1 cm, tetapi dapat

dimodifikasi tergantung kebutuhan. Kemudian hitung berapa jumlah kotak yang ada,

dengan pedoman :

1. Kotak yang penuh dihitung satu

2. Jika ada kotak yang terpotong oleh poligon maka :

a. Area yang berada di dalam lebih luas/sama dengan area yang berada di luar

poligon, dihitung satu kotak

b. Area yang berada di dalam lebih sempit dengan area yang berada di luar

poligon, tidak dihitung.

Perhitungan jumlah kotak seperti pada gambar berikut :

Tahap tersebut baru menghitung jumlah kotak, untuk menghitung luas maka
25
menggunakan rumus berikut :

L = (Jumlah kotak x luas 1 kotak dalam m2) x ( Peyebut skala)

3.9 Data – Data

a. Data-data yang berhubungan dengan daerah penelitian, yang meliputi antara lain:

1) Data geologi, stratigrafi, topografi

2) Data singkapan batu mangan

3) Data penyebaran sumur bor

b. Data-data yang dibutuhkan untuk pengolahan data, yang meliputi :

1) Data banyaknya sampel

2) Data hasil tracking GPS

3) Data singkapan dan lapisan penutup

3.10 Analisa

Analisa yang dilakukan terhadap data-data yang diambil tersebut diatas yang

diantaranya :

1. Analisa geologi, topografi, litologi

2. Analisa data hasil pemboran (misal : kadar dan penyebarannya).

26
BAB III.
METODE PENELITIAN
4.1. Studi Literatur

Dalam hal ini dilakukan dengan menggabungkan antara teori dengan data-

data di lapangan, adapun bahan-bahan diperoleh dari Instansi yang terkait dengan

penelitian ini dan perpustakaan kampus dan daerah yang dapat berupa :

a. Literatur

b. Brosur-brosur

c. Peta dasar, peta geologi, topografi dan litologi

4.2. Penelitian Langsung di lapangan

Dalam hal ini dilakukan dengan beberapa tahap yaitu :

a. Observasi lapangan

Yaitu dengan melihat langsung kondisi lapangan daerah penelitian, luas serta

kesampaian daerah serta mencocokkan dengan data-data yang diperoleh.

b. Penentuan titik pengamatan

Yaitu dengan menentukan batas-batas penyebaran lubang bor yang diamati

sesuai dengan data-data yang diperoleh.

c. Cek kembali perumusan masalah

Yaitu dengan menyesuaikan data - data yang diperoleh agar apa yang telah di dapat
sesuai dengan yang dibutuhkan untuk masalah yang akan dipecahkan

4.3. Pengambilan Data

Dalam penelitian ini pengambilan data diperoleh dari :

a. Perusahaan yang bersangkutan, baik melalui para karyawan secara lisan

maupun dokumen.

27
b. Instansi yang terkait dan pusat informasi lainnya.

4.4. Akuisisi Data

Hal ini bertujuan untuk memudahkan dalam pengolahan data, diantaranya:

a. Pengumpulan dan pengelompokan data

b. Menghitung jumlah data dengan metode statistik

4.5. Mengolah Data

Macam pengolahan data dipergunakan rumus-rumus sebagai berikut :

a. Rumus Luas Rata-Rata (Mean Area)

b. Menghitung Luas wilayah pada peta

Dalam menghitung luas wilayah pada peta dengan mengunakan sistim Grid

yaitu dengan rumus :

L = (Jumlah kotak x luas 1 kotak dalam cm2) x (penyebut angka)


c. Tonage Cadangan batu andesit

Dalam hal ini memakai rumus : T (ton) = Volume x Berat jenis

d. Analisa Hasil Pengolahan Data

Dengan mengadakan pengolahan terhadap data-data tersebut maka dapat

diketahui beberapa banyak sampel yang harus diambil dan dapat diketaui

besarnya jumlah cadangan emas primer.

4.6. Rencana Jadwal Penelitian Tugas Akhir

Kegiatan penelitian tugas akhir ini dapat disesuaikan dengan da kondisi

lapangan dan perusahaan. Adapun rencana rangkaian penelitian seperti pada tabel

ini

28
Tabel 4.1

Jadwal pelaksanaan kegiatan penelitian

No MINGGU
Kegiatan
I II III IV

1 Studi literature

2 Observasi lapangan dan pengumpulan data

4 Pengolahan dan analisa data

6 Penyusunan laporan penelitian

Sistematika Penulisan

Agar dapat memudahkan pemahaman tentang isi laporan atau penulisan

skripsi ini maka sistematika penulisannya dapat diuraikan sebagai berikut :

BAB I PENDAHULUAN

Membahas tentang latar belakang, perumusan masalah, batasan masalah,

tujuan penelitian dan mamfaat penelitian.

BAB II TINJAUAN UMUM

Pada bagian bab ini berisi tentang data – data sekunder yang diambil baik

dilapangan maupun melalui brosur – brosur. Data – data yang tercamtum

dalam bab ini antara lain : lokasi dan kesampaian daerah, keadaan iklim dan

curah hujan, keadaan geologi dan kegiatan penambangan batu andesit di

CV. Multi Sarana Mineral.

29
Dalam bab ini dimuat hal – hal yang berisi tentang klasifikasi genesa batu

mangan, klasifikasi cadangan mineral, perhitungan volume dan

perhitungan cadangan mangan.

BAB IV METODOLOGI PENULISAN

Membahas dan menguraikan system dan metode yang digunakan dalam

pelaksanaan tugas akhir. Dalam bab ini pula tercantum bagan atau diagram

alir, jadwal pelaksanaan penelitian serta sistematika penulisan laporan

BAB V HASIL PENELITIAN

Penulisan dalam bab ini berdasarkan data – data primer dan sekunder yang

telah diambil dilapangan. Dalam bab ini berisi tentang keadaan lokasi, target

produksi, proses penambangan, metode perhitungan cadangan.

BAB VI PEMBAHASAN

Didalam bab ini dilakukan perhitungan cadangan untuk mengetahui

cadangan endapan mangan yang ada di CV. Multi Sarana Mineral, umur

tambang (paska tambang), volume, tonage, endapan mangan yang sudah di

tambang dan yang akan ditambang.

BAB VII PENUTUP

Merupakan bab akhir yang berisi tentang kesimpulan berdasarkan hasil

pengamatan dan penelitian serta pemberian saran sebagai masukan

maupun kritikan demi kemajuan suatu perusahaan

BAB IV

30
HASIL DAN PEMBAHASAN
Keadaan Lokasi

Lokasi penambangan batu mangan terletak di Desa Ngadirejo, Kecamatan

Pogalan, Kabupaten Trenggalek, Provinsi Jawa Timur. Sistem penambangan yang

diterapkan di Perusahan CV. Multi Sarana Mineral adalahsistem penambangan

terbuka (surface mining). Dengan mengunakanmetode penambangan Open Pit, yaitu

penambangan dilakukan dengan cara penambangan, pemuatan, pengangkutan dan

pengolahan.

Gambar 5.1

Lokasi Penambangan

5.2 Target Produksi

Target produksi batu mangan di CV.Multi Sarana Mineral adalah 200

ton/bulan. Namun produksi batu mangan yang dihasilkan tidak memenuhi target
yang diinginkan yaitu berdasarkan hasil pengamatan di lokasi perusahaan tersebut
a. Efesiensi kerja

Efesiensi kerja yang kecil akan menyebabkan hasil produksi yang kecil pula.

b. Cuaca

Cuaca buruk akan menghambat kerja, bahkan terhentinya kegiatan penambangan


31
sehingga mengurangi produksi.

c. Peralatan

Kondisi peralatan yang sudah cukup lama terpakai akan mempengaruhi produksi

dan kurangnya peralatan mekanis sehingga produksi mangan yang dihasilkan

juga akan berkurang.

d. Pemasaran

Penjualan yang dilakukan sangatlah bergantung pada pemesanan dari konsumen.

5.3 Klasifikasi Sumberdaya dan Cadangan

Klasifikasi sumberdaya dan cadangan terdir idari:

a. Sumberdaya Hipotetik (hyphotetical resource) yaitu:

Jumlah bahan galian di daerah penyelidikan atau bagian dari daerah penyelidikan

yang dihitung berdasarkan data yang memenuhi syarat – syarat yang ditetap

untuk tahap survey tinjau.

b. Sumberdaya Tereka (Inferred resourse) yaitu:

Jumlah bahan galian didaerah penyelidikan atau bagian dari daerah penyelidikan yang
dihitung berdasarkan data yang memenuhi syarat – syarat yang ditetap untuk tahap
prospeksi
Sumberdaya Terrunjuk (Indicated resourse) yaitu:

Jumlah bahan galian didaerah penyelidikan yang dihitung berdasarkan data yang

memenuhisyarat – syarat yang ditetap untuk tahap eksplorasi awal/pedahluan.

d. Sumberdaya Terukur (Measured resourse) yaitu:

Jumlah bahan galian didaerah penyelidikan yang dihitung berdasarkan data yang

memenuhi syarat – syarat yang ditetap untuk tahap eksplorasi rinci.

32
e. Cadangan Terkira (Probable resourse) yaitu :

Sumberdaya mineral terunjuk dans ebagian sumberdaya mineral terukur, tetapi

berdasarkan kelayakan semua factor yang terkait telah terpenuhi sehingga

penambangan dapat dilakukan secara layak.

f. Cadangan Terbukti (Proven resourse) yaitu:

Sumberdaya mineral terukur yang berdasarkan study kelayakan tambang semua

faktor yang terkait telah terpenuhi, sehingga penambangan dapat dilakukan

secara ekonomis.

Secara skematik hubungan antaras umberdaya dan cadangan dapat dilihat pada

gambar di bawah ini

5.4 Perhitungan Cadangan

Perhitungan cadangan merupakan hal yang paling vital dalam kegiatan

eksplorasi. Perhitungan yang dimaksud disini dimulai dari sumberdaya sampai pada

cadangan tertambang yang merupakan tahapan akhir dari proses eksplorasi. Hasil

perhitungan cadangan tertambang kemudian akan digunakan untuk mengevaluasi

apakah kegiatan penambangan yang direncanakan layak atau tidak. Menghitung

cadangan endapan bijih mangandi CV. Multi Sarana Mineral dengan mengunakan

metode penampang (Cross Section) yaitu metode yang sering dilakukan pada tahap-

tahap paling awal dari perhitungan, hasil perhitungan secara manual ini dapat

dipakai sebagai alat pembanding untuk mengecek hasil perhitungan yang lebih

cangih mengunakan komputer.

5.5 Bentuk Cadangan

33
Dilihat dari topografi daerah penelitian CV. Multi Sarana Mineral, bentuk

cadangan berupa bongkahan dan vein (urat) seperti gambar 5.2

Gambar 5.3

Bentuk cadangan
5.6 Pemilihan Metode Perhitungan

Dari bentuk endapan mangan maka dapat ditentukan cara perhitungan dengan

menggunakan metode penampang karena metode penampang lebih cocok

digunakan untuk tipe endapan yang mempunyai kontak tajam dan umumnya kompak

dan teratur yang terletak sepanjang garis penampang Metode ini dapat diaplikasikan

baik secara horizontal (isoline) untuk endapan yang penyebarannya secara vertikal

seperti tubuh intrusi, batugamping terumbu dan lain-lain. Disamping itu juga bisa

diaplikasikan secara vertikal (penampang) untuk endapan yang penyebarannya

cenderung horisontal seperti tubuh sill, endapan berlapis dan lain-lain.

Keuntungan dari metode ini adalah peroses perhitungannya tidak rumit dan

sekaligus dapat dipergunakan untuk menyajikan hasil interpretasi model dalam

sebuah penampang atau irisan horisontal.

Sedangkan kekurangan metode penampang adalah tidak bisa dipergunakan

34
untuk tipe endapan dengan mineralisasi yang kompleks. Disamping itu hasil

perhitungan secara konvensional ini dapat dipakai sebagai alat pembanding untuk

mengecek hasil perhitungan yang lebih canggih misalnya dengan sistem blok.

5.7 Batasan Penambangan

Untuk menentukan batas penambangan maka ada beberapa hal yang perlu

dipertimbangkan yaitu :

1. Batas pengalian pada kontur

Hal ini berdasarkan pada titik kontur terendahyaitu 105 dpldan batas

penyebaran endapanbijihmanganyang direncanakan oleh perusahaan sesuai

dengan metode penambangan yang dikaji secara ekonomi dan secara teknis

oleh perusahaan tersebut.

2. Batas ijin

Berdasarkan surat ijin yang dikeluarkan oleh pemerintah daerah (SIPD) maka

CV. Multi Sarana Mineral memiliki ijin lokasi penambangan seluas 2,4 hektar.

5.8 Luas Wilayah Penambangan

Luas wilayah penambangan CV. Multi Sarana Mineral seluas 2,4 hektar

dengan kedalaman penambangan 40 meter. Dapat di lihat pada gambar berikut:

35
Gambar 5.5
Perhitungan Cadangan Endapan Mangan

Perhitungan cadangan endapan mangan dengan cara menghitung luas dan

kedalaman mangan yang di tambang. Untuk mengetahui luas dan kedalaman mangan

CV. Multi Sarana Mineral menggunakan metode geofisika, yaitu sebagai berikut:

5.9.1 Line 1

Pada line 1 diperkirakan terdapat deposit mangan pada meter ke-43 pada

kedalaman 15m dan meter ke-72 pada kedalaman 25m (diperkirakan lebih)

ditunjukan oleh kordinat pada gambar berikut.

Pada line 2 diperkirakan terdapat deposit mineral mangan pada meter ke-32

menuju arah awal lintsan pengukuran pada kedalaman 1m sampai dengan

(diperkirakan lebih) ditunjukan oleh kordinat pada gambar berikut:

36
Gambar 5.7

Line 2

Koordinat UTM : 584259

9100301

Kedalaman pemboran yang disaranakan ±: 10 m

Koordinat UTM : 584274

9100289

Kedalaman pemboran yang disarankan ±: 15 m

Gambar 5.6

Line 1

37
Koordinat UTM : 584311

9100305

Kedalaman pemboran yang disarankan ±: 20 m

Koordinat UTM : 584329

9100281

Kedalaman pemboran yang disarankan ±: 40 m

Pada line 3 diperkirakan terdapat deposit mineral mangan yang relative besar

yang puncaknya berada pada meter ke-70 pada kedalaman 10 m dari permukaan

sampai dengan kedalaman 25 m (diperkirakan lebih). Penyebaran deposit mangan

pada section ini cukup luas karena penyebaran dimulai dari meter ke-55 sampai ke-

90 dengan kedalaman yang bervariasi. Terdapat pula deposit mangan dengan skala

kecil pada meter ke-97 pada kedalaman sekitar 15m. Ditunjukan oleh kordinat pada

gambar berikut:

Gambar 5.8

Line 3

Koordinat UTM : 584252

9100225

Kedalaman pemboran yang disarankan ±: 15 m


38
Koordinat UTM : 584267

9100214

Pada line 4 ini deposit mangan ditemukan pada meter ke-95 pada kedalaman

sekitar 15 m dari permukaan dan pada meter ke-110 pada kedalaman sekitar 30 m

dari permukaan. Pada sepanjang meter ke -15 sampai ke-85 pun kemungkinan besar

juga terdapat bongkahan mangan dipermukaan, akan tetapi kemungkinan memiliki

nilai atau konsentrasi mineral mangan yang relative lebih rendah. Ditunjukan pada

gambar berikut:

Gambar 5.9

Line 4

Koordinat UTM : 584212

9100179

Kedalaman pemboran yang disarankan ±: 20 m


Luas penampang dari masing – masing line dapat menggunakan rumus

sebagai berikut:
39
L = (Jumlah kotak x luas 1 kotak dalam cm2) x (penyebut skala)2

a. Luas endapan pada penampang line 1:

Gambar 5.10

Penampang line 1

• L1 = (Jumlah kotak x luas 1 kotak dalam cm2) x (penyebut skala)2

= (3,9 x 1 cm²) x ( 500)2

= (3,9 cm²) x (250.000)

= 975.000 cm²

= 97,5 m2

• L2 = (Jumlah kotak x luas 1 kotak dalam cm2) x (penyebut skala)2

= (1,2 x 1 cm²) x ( 500)2

= (1,2 cm²) x (250.000)

= 300.000 cm²

PEMBAHASAN

6.1 Menghitung Luas Penampang Dengan Sistem Grid

Setelah peta diatas diberi grid atau kotak maka kita dapat menghitung berapa

40
luasan peta tersebut dengan memiliki skala 1 : 500 dengan ukuran sisi bujur sangkar

(grid) 1 cm yaitu dengan mengunakan rumus sebagai berikut :

Jawab :
S= (Jumlah Kotak x luas1 kotakdalam cm2) x (penyebut skala)2

 Sq1 pada kontur 175-180 dpl :

Sq1 = (1 x (1 cm x 1 cm) x (500)2

= (1 x 1 cm2) x (250.000)

= 250.000 cm2

Kemudian dikonversi dalam ukuran luas yang lebih sering kita gunakan

dalam kehidupan sehari – hari yaitu:

= 25 m2

 Sq2 pada kontur 170-175 dpl :

Sq2 = (3,2 x (1 cm x 1 cm) x (500)2

= (3,2 x 1 cm2)x (250.000)

= 575.000 m2

Kemudian dikonversi dalam ukuran luas yang lebih sering kita gunakan

dalam kehidupan sehari – hari yaitu:

= 57,5 m2
Sq3 = (6,5 x (1 cm x 1 cm) x (500)2

= (6,5 x 1 cm2) x (250.000)

= 1.625.000 m2

Kemudian dikonversi dalam ukuran luas yang lebih sering kita gunakan dalam

kehidupan sehari – hari yaitu:

= 162,5 m2

41
 Sq4 pada kontur 160-165 dpl :

Sq4 = (5,55 x (1 cm x 1 cm) x (500)2

= (5,55 x1 cm2) x (250.000)

= 1.387.500 m2

Kemudian dikonversi dalam ukuran luas yang lebih sering kita gunakan

dalam kehidupan sehari – hari yaitu:

= 138,75 m2

 Sq5 pada kontur 140-145dpl :

Sq5 = (2,1 x (1 cm x 1 cm) x (500)2

= (2,1 x 1 cm2) x (250.000)

= 525.000 m2

Kemudian dikonversi dalam ukuran luas yang lebih sering kita gunakan

dalam kehidupan sehari – hari yaitu:

= 52,5 m2
Sq6 = (3,1 x (1 cm x 1 cm) x (500)2

= (3,1x 1 cm2) x (250.000)

= 775.000 m2

Kemudian dikonversi dalam ukuran luas yang lebih sering kita gunakan

dalam kehidupan sehari – hari yaitu:

= 77,5 m2

 Sq7 pada kontur 130-135 dpl :

Sq7 = (2,1x (1 cm x 1 cm) x (500)2

= (2,1 x 1 cm2) x (250.000)


42
= 525.000 m2

Kemudian dikonversi dalam ukuran luas yang lebih sering kita gunakan

dalam kehidupan sehari – hari yaitu:

= 52,5 m2

 Sq8 pada kontur 125-130 dpl :

Sq8 = (0,9 x (1 cm x 1 cm) x (500)2

= (0,9 x 1 cm2) x (250.000)

= 225.000 m2

Kemudian dikonversi dalam ukuran luas yang lebih sering kita gunakan

dalam kehidupan sehari – hari yaitu:

= 22,5 m2
Sq9 = (0,2 x (1 cm x 1 cm) x (500)2

= (0,2 x 1 cm2) x (250.000)

= 50.000 cm2

Kemudian dikonversi dalam ukuran luas yang lebih sering kita gunakan

dalam kehidupan sehari – hari yaitu:

= 5 m2

 Sq10 pada kontur 115-120dpl :

Sq10= (1,1 x (1 cm x 1 cm) x (500)2

= (1,1 x 1 cm2) x (250.000)

= 275.000 m2

Kemudian dikonversi dalam ukuran luas yang lebih sering kita gunakan dalam

kehidupan sehari – hari yaitu:

43
= 27,5 m2

 Sq11 pada kontur 110-115dpl :

Sq11= (1,5 x (1 cm x 1 cm) x (500)2

= (1,5 x 1 cm2) x (250.000)

= 375.000 m2

Kemudian dikonversi dalam ukuran luas yang lebih sering kita gunakan dalam

kehidupan sehari – hari yaitu:

= 37,5 m2

Sq12= (2,2 x (1 cm x 1 cm) x (500)2

= (2,5 x 1 cm2) x (250.000)

= 625.000 m2

Kemudian dikonversi dalam ukuran luas yang lebih sering kita gunakan

dalam kehidupan sehari – hari yaitu:

= 62,5 m2

Jadi luas lokasi keseluruhan pada penampang yang dihitung mulai dari kontur

tertinggi sampai kontur terendah yaitu :

Sq1 – S q11( 180 – 105 ) :

= (Sq1 + Sq2 + Sq3 + Sq4+ Sq5 + Sq6 + Sq7 + Sq8 + Sq9+ Sq10 + Sq11 +

Sq12)

= (25 m2 + 57,5 m2 + 162,5 m2+ 138,75 m2+ 52,5 m2+ 77,5 m2+ 52,5 m2+

22,5 m2+ 5 m2+ 27,5 m2+ 37,5 m2+ 62,5 m2)

= 721,25 m²
Luas wilayah pada kontur tertinggi hingga terrendah

No Area Luas (m2)

44
1 q 1 pada kontur (175-180) dpl
R R 25 m2
2 q 2 pada kontur (170-175) dpl
R R 57,5 m2
3 q 3 pada kontur (165-170) dpl
R R 162,5 m2
4 q 4 pada kontur (160-165) dpl
R R 138,75 m2
5 q5 pada kontur (140-145) dpl 52.5 m2
6 q6 pada kontur (135-140) dpl 77,5 m2
7 q7 pada kontur (130-135) dpl 52,5 m2
8 q8 pada kontur (125-130) dpl 22,5 m2
9 q9 pada kontur (120-125) dpl 5 m2
10 q10 pada kontur (115-120) dpl 27,5 m2
11 q11 pada kontur (110-115) dpl 37,5 m2
12 q12 pada kontur (105-110) dpl 62,5 m2
Luas Total 721,25 m2

6.2 Menghitung Volume Cadangan Mangan

Untuk menghitung volume cadangan endapan bijih mangan di Perusahaan

CV. Multi Sarana Mineral maka mengunakan rumus sebagi berikut

V =L
(S1 + S2 )
2

S 1 ,S 2 = luas penampang endapan


R R R R

L = jarak antar penampang

Dimana:

V1 = 20 -
( 30 m² + 97,5 m² )
2

45
DAFTAR PUSTAKA

1. Sinclair, Alastrail J dan Blackwell, Garston H. Applied Mineral Inventory

Estimation. Cambridge University Press. 2005

2. Badan Standarisasi Nasional, Klasifikasi Sumberdaya Mineral dan Cadangan

SNI. 1998

3. Pusat Penelitian dan pengembangan Teknologi Mineral, Kamus

Pertambangan Umum. PPTM. 1997

4. Carras, Spero. Sampling Evaluation and Basic Principles of Ore Reserve

Estimation. Carras Mining and Associates.

46
LAMPIRAN A

SPESIFIKASI ALAT MUAT GALI


EXCAVATOR

I. Eksavator PC – 100
Merek : Kato
Type : HD-400
Horse power : 165 HP
Kapasitas bahan bakar : 320 liter
Kapasitas Mangkuk : 5,80 Ton
Berat Keseluruhan : 32.021 Ton
Jumlah : 1 unit

Dimensi / ukuran :

Panjang keseluruhan = 3,65 m Lebar keseluruhan


= 2,71 m Tinggi keseluruhan (sampai atap ) = 2,60 m Tinggi Roda
Rantai = 30 cm

47
SPESIFIKASI ALAT ANGKUT DUMP
TRUCK

I. Dump truck
Merek : Mitsubisi
Kapasitas bahan bakar : 40 liter
Kapasitas bak angkut : 4 Ton
Kapasitas Dum truck : 21 Ton

Sudut penumpahan : 50º

Panjang keseluruhan : 6,95 m (Std)

Lebar keseluruhan : 2,16 m

Tinggi keseluruhan : 2,57 m

Panjang bak : 6,03 m (Std)

Lebar bak : 2,10 m

Tinggi bak : 1,15 m

Jari-jari belokan : 6,35 m

48