100% menganggap dokumen ini bermanfaat (2 suara)
134 tayangan15 halaman

Bioflocs Indonesia

Konsep Dasar 1. Penerapan “ heterothrophic shrimp culture “ Penggunaan probiotik heterotrop yang terdiri atas: ‐ bakteri organothroph : Bacillus spp. , Lactobacillus spp. ‐ bakteri chemoautothroph : Thiobacillus spp. , Rhodobacter spp. ‐ autothroph : plankton dari genera diatomae dan chlorella 2. Penerapan “ minimal water exchange system “ Penggantian air yang minimal, terutama di 60 hari pertama masa budidaya, penggantian air hanya untuk mengganti penyusutan air karena penguapan, rembesan di bulan pertama budidaya dan dari susut air akibat pembuangan lumpur regular. Volume penggantian air maksimal 5% per hari. Konsekuensi dari sedikit ganti air dengan penggunaan probiotik tiap harinya adalah dominasi pembentukan “floc” bakteri, berupa partikel yang melayang dalam badan air, yang menghalangi penetrasi cahaya matahari ke dalam air dan secara tak langsung membatasi ruang dan pertumbuhan plankton dan bakteri fotosintesis. Floc = Flok = Flock = Bioflocs = Bioflock Merupakan istilah bahasa slang dari istilah bahasa baku “Activated Sludge” (“Lumpur Aktif”) yang diadopsi dari proses pengolahan biologis air limbah (biological wastewater treatment ). Investigasi pertama terhadap penerapan Biofloc/activated sludge adalah sejak tahun 1941 pada pengolahan air limbah di Amerika, untuk mensubtitusi penggunaan plankton pada tahap treatment biologi yang dinilai lamban dalam uptake nutrien dan oksidasi nitrogen (ammonia, nitrit ) serta ketidakstabilannya dalam proses. Perkembangan yang sama terjadi pada industri akuakultur, penerapan BFT ( Bio Flock Technology ) mulai digunakan menggantikan sistem RAS ( Recirculating Aquaculture System ) yang menggunakan pengenceran air yang banyak untuk pengenceran plankton.

Diunggah oleh

vies
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
100% menganggap dokumen ini bermanfaat (2 suara)
134 tayangan15 halaman

Bioflocs Indonesia

Konsep Dasar 1. Penerapan “ heterothrophic shrimp culture “ Penggunaan probiotik heterotrop yang terdiri atas: ‐ bakteri organothroph : Bacillus spp. , Lactobacillus spp. ‐ bakteri chemoautothroph : Thiobacillus spp. , Rhodobacter spp. ‐ autothroph : plankton dari genera diatomae dan chlorella 2. Penerapan “ minimal water exchange system “ Penggantian air yang minimal, terutama di 60 hari pertama masa budidaya, penggantian air hanya untuk mengganti penyusutan air karena penguapan, rembesan di bulan pertama budidaya dan dari susut air akibat pembuangan lumpur regular. Volume penggantian air maksimal 5% per hari. Konsekuensi dari sedikit ganti air dengan penggunaan probiotik tiap harinya adalah dominasi pembentukan “floc” bakteri, berupa partikel yang melayang dalam badan air, yang menghalangi penetrasi cahaya matahari ke dalam air dan secara tak langsung membatasi ruang dan pertumbuhan plankton dan bakteri fotosintesis. Floc = Flok = Flock = Bioflocs = Bioflock Merupakan istilah bahasa slang dari istilah bahasa baku “Activated Sludge” (“Lumpur Aktif”) yang diadopsi dari proses pengolahan biologis air limbah (biological wastewater treatment ). Investigasi pertama terhadap penerapan Biofloc/activated sludge adalah sejak tahun 1941 pada pengolahan air limbah di Amerika, untuk mensubtitusi penggunaan plankton pada tahap treatment biologi yang dinilai lamban dalam uptake nutrien dan oksidasi nitrogen (ammonia, nitrit ) serta ketidakstabilannya dalam proses. Perkembangan yang sama terjadi pada industri akuakultur, penerapan BFT ( Bio Flock Technology ) mulai digunakan menggantikan sistem RAS ( Recirculating Aquaculture System ) yang menggunakan pengenceran air yang banyak untuk pengenceran plankton.

Diunggah oleh

vies
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

AIYU

SHIROTABIOTA
Biotechnology Consulting & Trading
Komp. Sapta Taruna PU, Blok B1 No. 13
Bandung, West Java - Indonesia
INDONESIA Tel/Fax : (022) 87522548

Konsep Budidaya Udang


Sistem Bakteri Heterotroph
Dengan Bio locs

AIYUSHIROTA www.aiyushirota.com
  1
Konsep Budidaya Udang 
Sistem Bakteri Heterotroph  
Dengan Bioflocs 
 
 

Konsep Dasar 
1.  Penerapan “ heterothrophic shrimp culture “ 
  Penggunaan probiotik heterotrop yang terdiri atas:  
  ‐ bakteri organothroph : Bacillus spp. , Lactobacillus spp. 
  ‐ bakteri chemoautothroph : Thiobacillus spp. , Rhodobacter spp. 
  ‐ autothroph : plankton dari genera diatomae dan chlorella 
 
2.  Penerapan “ minimal water exchange system “ 
  Penggantian air yang minimal, terutama di 60 hari pertama masa budidaya, penggantian air hanya untuk 
mengganti  penyusutan  air  karena  penguapan,  rembesan  di  bulan  pertama  budidaya  dan  dari  susut  air 
akibat pembuangan lumpur regular. Volume penggantian air maksimal 5% per hari. 
 
Konsekuensi dari sedikit ganti air dengan penggunaan probiotik tiap harinya adalah dominasi pembentukan 
“floc” bakteri, berupa partikel yang melayang dalam badan air, yang menghalangi penetrasi cahaya matahari 
ke dalam air dan secara tak langsung membatasi ruang dan pertumbuhan plankton dan bakteri fotosintesis. 
 
 
Floc = Flok = Flock = Bioflocs = Bioflock 
 
 
Merupakan  istilah  bahasa  slang  dari  istilah  bahasa  baku  “Activated  Sludge”  (“Lumpur  Aktif”)  yang  diadopsi 
dari proses pengolahan biologis air limbah (biological wastewater treatment ). 
 
Investigasi pertama terhadap  penerapan Biofloc/activated sludge adalah sejak tahun 1941 pada pengolahan 
air  limbah  di  Amerika,  untuk  mensubtitusi  penggunaan  plankton  pada  tahap  treatment  biologi  yang  dinilai 
lamban dalam uptake nutrien dan  oksidasi nitrogen (ammonia, nitrit ) serta ketidakstabilannya dalam proses.  
 
Perkembangan  yang  sama  terjadi  pada  industri  akuakultur,  penerapan  BFT  (  Bio  Flock  Technology  )  mulai 
digunakan menggantikan sistem RAS ( Recirculating Aquaculture System ) yang menggunakan pengenceran 
air yang banyak untuk pengenceran plankton. 
   
  2
Bioflocs 
 
 
 
Bioremediasi   :  Penggunaan  organisme  biologi  seperti  tanaman  atau  mikroorganisme  untuk 
menghilangkan bahan tertentu yang bersifat polutan. 
 
Bioaugmentation   :  Teknik  yang  digunakan  dalam  Bioremediasi  untuk  meningkatkan  kemampuan 
mikroorganisme  dalam  menguraikan  polutan.  Seperti  kloning  bakteri,  rekayasa 
genetik, biofloc (activated sludge),dll. 
 
Bioflocs  :  Pemanfaatan  bakteri  pembentuk  flok  (flocs  forming  bacteria)  untuk  pengolahan 
limbah. 
 
Tidak semua bakteri dapat membentuk bioflocs dalam air, seperti dari genera Bacillus hanya dua spesies yang 
mampu membentuk bioflocs.  
 
Salah  satu  ciri  khas  bakteri  pembentuk  bioflocs  adalah  kemampuannya  untuk  mensintesa  senyawa  Poli 
hidroksi  alkanoat  (  PHA  ),  terutama  yang  spesifik  seperti  poli  β‐hidroksi  butirat.  Senyawa  ini  diperlukan 
sebagai bahan polimer untuk pembentukan ikatan polimer antara substansi substansi pembentuk bioflocs. 
 
Prinsip kerja yang sama yang melibatkan PHA sebagai polimer pembentuk ikatan kompleks mikroorganisme 
dengan bahan organik dan anorganik adalah seperti pembentukan natta de coco, natta de soya dan klekap di 
tambak. 
 
Mekanisme dan tahapan proses pembentukan bioflocs sangatlah rumit dan masih merupakan misteri hingga 
saat ini. 
 
Bioflocs  terdiri  atas partikel serat  organik yang  kaya  akan  selulosa, partikel  anorganik  berupa  kristal  garam 
kalsium  karbonat  hidrat,  biopolymer  (PHA),  bakteri,  protozoa,  detritus  (dead  body  cell),  ragi,  jamur  dan 
zooplankton. 
 
Bakteri yang mampu membentuk bioflocs diantaranya: 
ƒ Zooglea ramigera 
ƒ Escherichia intermedia 
ƒ Paracolobacterium aerogenoids 
ƒ Bacillus subtilis 
ƒ Bacillus cereus 
ƒ Flavobacterium 
ƒ Pseudomonas alcaligenes 
ƒ Sphaerotillus natans 
ƒ Tetrad dan Tricoda 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
  3
 
• Bacillus subtilis & cereus dalam bioflocs : 

 
 
  
• Zooglea ramigera dalam bioflocs : 

 
 
 
• Algae, ragi dan jamur dalam bioflocs : 

 
  4
 

• Tetrad dan tricoda dalam bioflocs : 

 
 
 
• Protozoa dan Zooplankton dalam bioflocs : 

 
 
 
   
  5
 
 
• Pseudomonas, Paracolobacterium aerogenoids dan Sphaerotillus natans dalam bioflocs : 

 
 
 
 
• Escherichia intermedia dalam bioflocs : 

 
 
 
 
 
 
  6
 
Dari analisis kimia kuantitatif proksimat, rumus molekul bioflocs identik dengan rumus empirik sel bakteri ; 
C5H7NO2 : 
 

UNSUR  KADAR (% ) 
KARBON ( C )  47,00 
HIDROGEN ( H )  6,00 
OKSIGEN ( O )  32,40 
NITROGEN ( N )  8,5 
RUMUS EMPIRIK  C5H7NO2 
 

Secara umum, bahan organik dalam air ( COD/BOD ) dioksidasi secara aerob oleh bakteri pembentuk bioflocs 
menjadi gas CO2 dan H2O serta residu berupa massa sludge ( flocs ) sesuai dengan nilai konversi dari senyawa 
organik tersebut : 

% KONVERSI 
SENYAWA ORGANIK 
MENJADI BIOFLOCS 
KARBOHIDRAT  65‐85 

ALKOHOL  52‐66 

PROTEIN  32‐68 

LEMAK  10‐60 

KASEIN  50‐53 

GLUKOSA  49‐59 

SUKROSA  58‐68 
 

Pembentukan Dan Pemeliharaan Bioflocs 
Prinsip dasar : 
Mengubah senyawa organik dan anorganik yang mengandung senyawa kabon (C), hidrogen (H), Oksigen (O), 
Nitrogen (N) dengan sedikit available posfor (P) menjadi massa sludge berupa bioflocs dengan menggunakan 
bakteri pembentuk flocs ( flocs forming bacteria ) yang mensintesis biopolimer poli hidroksi alkanoat sebagai 
ikatan bioflocs.  
 
Bakteri  pembentuk  flocs  dipilih  dari  genera  bakteri  yang  non  pathogen,  memiliki  kemampuan  mensintesis 
PHA, memproduksi enzim ekstraselular, memproduksi bakteriosin terhadap bakteri pathogen, mengeluarkan 
metabolit  sekunder  yang  menekan  pertumbuhan  dan  menetralkan  toksin  dari  plankton  merugikan  dan 
mudah dibiakkan di lapangan. 
  7
 
Bioflocs yang terbentuk lebih jauh berfungsi bagi pemurnian (purifikasi) air di kolam, dengan fungsi sebagai 
pengoksidasi bahan organik lebih lanjut, melangsungkan nitrifikasi, dan pembatas pertumbuhan plankton. 
Bahan organik yang digunakan berupa pakan udang dengan proporsi C:N:P = 100:10:1 
Sumber karbon tambahan dari kalsium karbonat (kaptan) 
Sumber Nitrogen tambahan dari pupuk ZA ( Ammonium sulfat ) 
 
 
Pembentukan bioflocs skala kecil ( Bioflocs booster ): 
Pembibitan bioflocs skala kecil dilakukan secara in door, dalam wadah fermentasi tertentu baik dalam drum 
atau bak fiber.  
 
Ke dalam air bersih ( tawar atau asin ) ditambahkan pakan udang dengan konsentrasi 1% , berikut 1% nutrien 
bakteri  yang  berupa  campuran    buffer  pH,  osmoregulator  berupa  garam  isotonik,  vitamin  B1,  B6,  B12  , 
hormon  pembelahan  sel  dan  precursor   aktif  yang  merangsang  bakteri  untuk  mengeluarkan  secara  intensif 
enzim,  metabolit  sekunder  dan  bakteriosin  selama  fermentasi  berlangsung  (nutrient  Bacillus  spp.  1strain®) 
serta  bibit  bakteri  baik  dari  isolat  lokal  atau  bakteri  produk  komersil  berbasis  Bacillus  spp.  yang    pasti 
diketahui mengandung paling tidak bacillus subtilis, sebagai salah satu bakteri pembentuk bioflocs. 
 
Campuran diaerasi dan diaduk selama 24‐48 jam, diusahakan pH bertahan antara 6,0 ‐7,2 sehingga bacillus 
tetap  dalam  fasa  vegetatifnya,  bukan  dalam  bentuk  spora  dan  PHA  tidak  terhidolisis  oleh  asam,  sehingga 
ukuran partikel bioflocs yang dihasilkan berukuran besar, paling tidak berukuran sekitar 100 µm. 
 
 
Pembentukan bioflocks skala besar: 
Pada  pengolahan  limbah  cair  industri  biasanya  dosis  awal  penambahan  Bioflock  booster  sekitar  200  ppm 
setiap hari selama 1‐2 minggu berturut turut, selanjutnya ketika COD/BOD sudah turun, seiring penambahan 
massa sludge/”bioflocs” terjadi ( mencapai volume SSV 200 ke atas, penambahan Bioflock booster dilakukan 
1x seminggu saja dengan dosis 100 ppm. 
Pada budidaya udang (shrimp aquaculture) penambahan Bioflock booster dapat dilakukan plate 3‐5 ppm per 
hari sejak pertama masuk air hingga menjelang panen. Atau dapat menerapkan dosis lebih besar di 30 hari 
pertama budidaya dan selanjutnya dengan dosis normal 3‐5 ppm pasca 30 hari pertama untuk mempercepat 
pembentukan bioflocs. 
 
Pada  pengolahan  limbah  industri  yang  sedikit  menggunakan  bahan  organik,  seperti  limbah  tekstil,  logam, 
pabrik  gas  ammonia,  pabrik  pupuk  kimia,  ditambahkan  sumber  karbon  tambahan  berupa  molase,  tepung 
kanji/tapioka,  gula  pasir,  urea  dan  TSP  untuk  pemupukan  bakteri  nitrifikasi.  Untuk  Industri  yang  berbasis 
pengolahan  bahan  organik  tentu  tidak  diperlukan,  semisal  pabrik  gula,  pabrik  tapioka,  pengolahan  ikan, 
bahan makanan dll. 
 
Untuk  industri  akuakultur,  budidaya  udang  khususnya,  sebenarnya  tidak  memerlukan  tambahan  sumber 
karbon  dari  bahan  organik  lain,  karena  pakan  udang  sendiri  sudah  mengandung  58‐60  %  karbon  (C)  yang 
mempunyai nilai konversi tinggi menjadi bioflocs dari bahan karbohidrat, protein dan lemak yang terkandung 
di dalamnya. Kecuali jika dikehendaki di masa awal budidaya, dimana jumlah karbon masih relatif rendah di 
kolam. 
 
 
 
 
  8
 
• Perkembangan bioflocs tahap inisialisasi awal pembentukan : 

 
 
• Perkembangan bioflocs tahap pembentukan dominan /stabilisasi awal : 

 
 
• Perkembangan bioflocs tahap dominan/stabil : 

 
   
  9
Kondisi yang mendukung pembentukan Bioflocs: 
 
1.  Aerasi dan pengadukan (pergerakan air oleh aerator) 
  Oksigen  jelas  diperlukan  untuk  pengoksidasian  bahan  organik  (COD/BOD),  kondisi  optimum  sekitar  4‐5 
ppm oksigen terlarut. Pergerakan air harus sedemikian rupa, sehingga daerah mati arus (death zone) tidak 
terlalu luas, hingga daerah yang memungkinkan bioflocs jatuh dan mengendap relatif kecil. 
 
2.  Karbon dioksida (CO2) 
  Karbon  dioksida  menjadi  salah  satu  kunci  terpenting  bagi  pembentukan  dan  pemeliharaan  bioflocs. 
Bakteri  gram  negatif  non  pathogen  seperti  bakteri  pengoksidasi  sulfide  menjadi  sulfat  (  Thiobacillus, 
photosynthetic  bacteria  seperti  Rhodobacter),  bakteri  pengoksidasi  besi  dan  Mangan  (  Thiothrix  )  dan 
bakteri  pengoksidasi  ammonium  dan  ammonia  (  Nitrosomonas  dan  Nitrobacter  )  memerlukan  karbon 
dioksida untuk pembentukan selnya, mereka tidak mampu mengambil sumber karbon dari bahan organic 
semisal  karbohidrat,  protein  atau  lemak.  Termasuk  juga  Zooglea,  Flavobacterium,  tetrad/tricoda  dan 
bakteri  pembentuk  bioflocs  lainnya.  Bahkan  Bacillus  sendiri,  sebagai  pemanfaat  karbon  dari  bahan 
organik  dan  menghasilkan  gas  karbon  dioksida  sebagai  hasil  oksidasinya,  memerlukan  karbondioksida 
dalam pernafasan anaerobnya ketika melangsungkan reaksi denitrifikasi. 
 
  Aerasi  memberikan  konstribusi  gas  karbon  dioksida  yang  relatif  kecil,  dan  tidak  menjangkau  lapisan 
sedimen anaerob di dasar kolam.  
 
  CaCO3  menjadi  sumber  gas  karbon  dioksida  yang  sangat  efektif,  karena  kelarutannya  yang  sangat  kecil 
(20  ppm)  dengan  ukuran  partikel  sedang  (  80‐100  mesh  )  memberikan  kontribusi  gas  karbon  dioksida 
secara  slow  release.  CaCO3  /  kaptan  diperlukan  pada  penguraian  anaerob  sebesar  minimal  1000  ppm 
(seperti  pembuatan  pupuk  kompos  misalnya)  dan  2000  ppm  untuk  kultur  bakteri  gram  negative  non 
pathogen seperti Nitrosomonas dan Nitrobacter. 
 
  Untuk melangsungkan proses Nitrifikasi, setiap pengoksidasian 1 mg/L ammonium/ammonia ( ion NH4+/ 
gas NH3 ) memerlukan 8,64 mg/L HCO3‐  atau sama dengan 14,16 ppm CaCO3. 
 
  Adanya kristal garam amorphous Kalsium karbonat pada struktur nitrosomonas nitrobacter pada tekstur 
Bioflocs memberi bukti pentingnya pemberian kalsium karbonat untuk melangsungkan nitrifikasi : 
 

 
  10
  Pemberian/treatment  10‐20  ppm  CaCO3/kaptan  per  1‐2  hari  sekali  diperlukan  untuk  mendukung  proses 
Nitrifikasi. 
 
  Penebaran  CaCO3/kaptan  sebaiknya  pada  daerah  arus  mati,  dimana  ada  daerah  penumpukan  lumpur, 
CaCO3/kaptan  akan  cepat  diuraikan  menjadi  HCO3‐  dan  selanjutnya  CO2  selama  berlangsungnya 
fermentasi anaerob di dalam sedimen tersebut. 
 
  Nitrifikasi  pada  sistem  bioflocs  berlangsung  lebih  intentif  ratusan  kalinya  dibanding  dengan  nitrifikasi 
pada sistem plankton. Karena sifatnya yang peka akan cahaya, bakteri nitrosomonas dan nitrobacter yang 
pada  persyaratan  pengemasan  standar  internasionalnya  saja  harus  mengunakan  pewarna  karamel 
(karbon  dari  pembakaran  gula)  dan  wadah  berwarna  gelap,  terdapat  sedikit  saja  pada  sistem  plankton 
dengan penetrasi cahaya matahari yang intens. 
 
  Sementara  pada  sistem  bioflocs,  nitrosomonas  dan  nitrobacter  melindungkan  dirinya  dalam  struktur 
bioflocs, untuk melindungi dirinya dari cahaya matahari. 
   
3.   N/P Rasio 
  Distribusi  plankton  dan  terutama  bad  plankton  seperti  blue  green  algae  dan  dinoflagellata  ditentukan 
sekali  oleh  proporsi  nisbah  nitrogen  terhadap  posfor,  pada  lingkungan  eutrophic  dengan  perbandingan 
total ppm N dibagi total ppm P di bawah 10 (N/P rasio < 10 ) didominasi dengan pertumbuhan BGA atau 
Red tide.  
 
  Studi  intensif  tentang  hubungan  N/P  rasio  pada  jurnal  hidrologi  dan  oceanografi  intensif  dilakukan, 
fenomena  Red  Tide  dan  “hujan  salju  laut”  /  snow  sea  yang  berhubungan  dengan  jatuhnya  nilai  total 
Nitrogen di laut diiringi dengan turunnya nisbah N/P rasio menjadi kajian hidrolog dunia. 
 
  Pada  nisbah  N/P  yang  rendah,  berarti  konsentrasi  Nitrogen  relatif  rendah  dengan  konsentrasi  posfor 
relatif tinggi, diatomae, chlorella dan bakteri pertumbuhannya terbatas karena tidak dapat memperoleh 
tambahan  asupan  Nitrogen  lainnya.  Sementara  Blue  green  algae  dan  beberapa  spesies  Dinoflagelllata 
dapat mengabsorpsi langsung Nitrogen dari udara, sehingga pertumbuhannya tidak terbatasi.   
 
  Pada nisbah N/P yang tinggi, berarti kelimpahan konsentrasi Nitrogen tinggi dalam air, sementara posfor 
menjadi faktor pembatas karena konsentrasinya relatif rendah, Blue green algae, dinoflagellata, chlorella 
dan diatomae pertumbuhannya terbatas. Sementara bakteri, terutama genera Bacillus yang mempunyai 
kemampuan  untuk  melarutkan  posfat  langsung  dari  tanah  atau  batuan  dapat  memenuhi  kebutuhannya 
akan posfor, sehingga pertumbuhannya tidak terbatasi. 
 
Pada umumnya : 
Pada N/P rasio dibawah 10 populasi BGA dan Dinoflagellata dominan 
  Pada N/P rasio 10‐20 populasi chlorella,diatomae,BGA,Dinoflagellata & bakteri berimbang 
  Pada N/P rasio di atas 20 populasi bakteri dominan 
 
4.  Manipulasi N/P rasio : 
  Dari keterangan di atas dapat disimpulkan untuk strategi pembentukan flocs bakteri yang lebih cepat dan 
stabil, lebih baik jika mensetting kondisi air kolam pada nisbah N/P rasio yang tinggi, lebih baik di atas 20. 
   
  Untuk menaikkan konsentrasi nitrogen dapat menggunakan pupuk ammonium (NH4+) berupa pupuk ZA / 
(NH4)2SO4  sekitar  1  ppm  per  hari  sejak  pertama  masuk  air  (persiapan)  hingga  30  hari  DOC,  atau  hingga 
bioflocs terbentuk sempurna. 
  11
 
  Untuk daerah perairan subur (laut) dengan tekstur tanah liat, tembok atau terpal pemakaian ZA lanjutan 
setelah bioflocs terbentuk tidak diperlukan, untuk mengurangi beban oksidasi nitrogen ( Nitrifikasi ). ZA 
digunakan lagi jika sistem bioflocs terganggu dengan pertumbuhan Blue green algae yang massif. 
 
  Untuk  daerah  perairan  miskin  hara  (samudera)  dengan  tekstur  tanah  pasir,  tembok  atau  terpal, 
pemakaian ZA lanjutan setelah bioflocs terbentuk tetap bisa dilakukan untuk mempertahankan kestabilan 
bioflocs. 
 
  Untuk  menurunkan  konsentrasi  posfor  dapat  menggunakan  aplikasi  pengapuran  untuk  pengikatan 
sementara  available  posfor  dalam  air,  baik  dengan  CaCO3  atau  Ca(OH)2  untuk  mengikat  posfor  bentuk 
terlarut menjadi bentuk tidak larut dalam air. Atau aplikasi zat pengikat posfor lainnya seperti clyptonite 
(zeolite)  atau  lanthanium  klorida  yang  diikat  dalam  zeolit/bentonit  yang  akan  mengikat  abadi  posfor 
dalam bentuk tidak dapat larut (Lanthanium‐posfat). 
 
  Amaran  :  Sangat  tidak  disarankan  untuk  menggunakan  pupuk  urea/CO(NH2)2  karena  justru  akan 
dikonsumsi  langsung  oleh  Blue  green  algae.  Ureum/urine  sebagai  pupuk  hanya  bisa  dikonsumsi  oleh 
chlorella,  diatomae  atau  tanaman  tingkat  tinggi  jika  sudah  terhidrolisis  menjadi  Ammonium  karbonat  / 
(NH4)2CO3 : 
 
                      Enzim urease 
  CO(NH2)2 + H2O ‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐Æ (NH4)2CO3  
 
  Sementara  Blue  green  algae  dapat  langsung  mengkonsumsi  urea  dalam  bentuk  senyawa  ureumnya  / 
CO(NH2)2.  Sehingga  manipulasi peningkatan  N/P  rasio  malah  dapat  menyebabkan  blooming  Blue green 
algae. 
 
  Pupuk  Nitrat  dapat  digunakan  sebagai  pengganti  pupuk  ammonium.  Namun,  pupuk  ammonium  tetap 
disarankan  sebagai  agen  untuk  memanipulasi  N/P  rasio  karena  mempunyai  kelebihan  lain,  yakni 
kemampuannya untuk membatasi pertumbuhan Blue green algae. Keberadaan ion ammonium dalam air 
dapat  menghambat  enzim  hydrogenase  BGA,  hingga  kehilangan  kemampuan  mengambil  Nitrogen 
langsung  dari  udara,  disamping  itu  ion  ammonium  juga  menyebabkan  Lysis  pada  Blue  green  algae  jika 
diterapkan pada dosis tinggi ( 5 ppm pupuk ZA selama 3‐5 lima hari beturut turut ) hingga menyebabkan 
kematiannya. 
 
  Jurnal dan penelitian yang mendukung  penerapan ammonium / pupuk ZA untuk pengendalian Blue green 
algae diantaranya : 
 
a.  J.K.P. Rowell, and W.D.P. Stewart. 1978. Effects of 5‐hydroxylysine on acetylene reduction and NH4+ 
assimilation in the cyanobacterium Anabaena cylindrical. Biochem. Biophys. Res. Commun. 83 : 688 ‐ 
696 
 
b.  Ohmori,M.  &  Hattori,A.  1974.  Effect  of  Ammonium  on  Nitrogen  fixation  by  the  blue  green  algae 
Anabaena cylindrical. Plant & cell Physiology. 15: 131‐142 
 
c.  Barkoh,A.  D.G.  Smith  and  J.W.  Schlecte.  2003.  An  effective  minimum  concentration  of  un‐ionized 
ammonia  nitrogen  for  controlling  Prymnesium  parvum.  North  American  Journal  of  Aquaculture  65: 
220‐225 
 
  12
d.  Barkoh, A., D.G. Smith, J.W. Schlechte and J.M. Paret. 2004. Ammonia tolerance by sunshine bass fry: 
Implication  for  use  of  ammonium  sulfate  to  control  Prymnesium  parvum.  North  American  Journal  of 
Aquaculture 66:305‐311. 
 
e.  Grover,  J.P.,  J.W.  Baker,  B.W.  Brooks,  R.M.  Errara,  D.L.  Roelke  and  R.L.  Kiesling.  2007.Laboratory 
tests  of  ammonium  and  barley  straw  as  agents  to  suppress  abundance  of  the  harmful  alga 
Prymnesium parvum and its toxicity to fish. Water Research 41:2503‐2512 
 
f.  Kurten,  G.L.,  A.  Barkoh,  L.T.  Fries,  and  D.C.  Begley.  2007.  Combined  nitrogen  and  phosphorus 
fertilization for controlling the toxic alga Prymnesium parvum. North American Journal of Aquaculture 
69:214‐222. 
 
 
5.  Indikator Keberhasilan Pembentukan Bioflocs 
  Bioflocs terbentuk, jika secara visual di dapat warna air kolam coklat muda (krem) berupa gumpalan yang 
bergerak  bersama  arus  air.  pH  air  cenderung  di  kisaran  7  (  antara  7,2  –  7,8)  dengan  kenaikan  pH  pagi 
dengan pH sore yang kecil (rentang pH antara 0,02–0,2 ). 
 
  Mulai  terjadi  penaikan  dan  penurunan  yang  dinamis  ion  NH4+,  ion  NO2‐  dan  ion  NO3‐  sebagai  indikasi 
berlangsungnya proses Nitrifikasi dan Denitrifikasi. 
 
  Untuk  30  hari  pertama  DOC  merupakan  masa  krusial  bagi  tahap  pembentukan  Bioflocs,  penerapan 
“minimal  exchange  water”  pada  fase  ini  sangat  menentukan.  Lebih  baik  menghindari  penggantian  air 
dalam  jumlah  besar  pada  masa  ini.  Penambahan  air  hanya  untuk  penggantian  susut  karena  penguapan 
dan perembesan saja. Atau menambah secara perlahan ketinggian air dari awal tebar 120 cm menjadi 150 
cm secara bertahap selama 30 hari. 
 
 
6.  Trouble Shooting 
 
• Flocs di kolam berbusa;  
  Hal ini disebabkan oleh adanya bakteri berfilamen yang menempel pada Bioflocs : 
 

 
 
  13
  Tebar  10  ppm  Kalsium  peroksida,  ikuti  dengan  menahan  pergantian  air  selama  5‐6  hari  sambil 
dilakukan penambahan 20 ppm CaCO3/kaptan per harinya, jika pada hari ke 6 busa masih ada, tebar 
10 ppm Kalsium Peroksida lagi, pada hari ke 7 air mulai dimasukkan ke dalam kembali, dan ketinggian 
air dipulihkan ke ketinggian semula.  
   
• Bioflocs terlalu pekat : 
 

 
 
  Lakukan pengenceran secara over flow, pipa pengeluaran dipotong sama rata dengan ketinggian air 
di  dalam  kolam.  Biarkan  air  yang  masuk  menyebabkan  air  tumpah  keluar  lewat  pipa  pembuangan 
yang telah dipotong sama rat dengan ketinggian air di dalam kolam. 
 
• Bioflocs ketebalannya berkurang ( normal 10‐20 cm sechi disk ) dan warna air mengarah ke 
hijau : 
 
  Hentikan pengenceran,  tahan  air selama 5‐6  hari, aplikasikan pupuk ZA  1  ppm setiap harinya  untuk 
menekan  pertumbuhan  chrollera  atau  aplikasikan  pupuk  ZA  5  ppm  setiap  harinya  untuk  menekan 
pertumbuhan blue green algae. Pada hari ke 7 sirkulasi/pengenceran secara over flow dapat dilakukan 
kembali. 
 
• Bioflocs ketebalannya berkurang ( normal 10‐20 cm sechi disk ) dan warna air mengarah ke 
coklat merah : 
 
  Hentikan pengenceran, tahan air selama 5‐6 hari, aplikasikan CaCO3 / kaptan 20 ppm setiap harinya 
dan 1‐2 x treatment dengan Kalsium peroksida.  Pada hari ke 7 sirkulasi/pengenceran secara over flow 
dapat dilakukan kembali. 
 
• Warna hijau biru (BGA) atau merah (Dinoflagellata) tetap ada setelah 5‐6 hari treatment: 
 
  Berlakukan  pola    sistem  “minimal  exchange  water”  terhadap    kolam  tersebut,  hindari 
pengenceran/sirkulasi. Penambahan air hanya dilakukan untuk mengganti air yang hilang/susut akibat 
penguapan, perembesan dan susut air akibat pembuangan lumpur rutin harian saja. 
 
   
  14
7.  Pembuatan Bioflocs sintetik/instan : 
 
  Di  Amerika  mulai  dikembangkan  proses  pembuatan  Bacterial  flocs  instan  dengan  menggunakan 
campuran: 
a.  Koagulan Ferro ( FeSO4 )   yang direaksikan dengan PHA seperti polihidroksi glikonoat atau 
butirat sebagai bahan pengkoagulasi dan polimerisasi. 
b.   NiSO4 dan CuSO4 
 
  Prinsip kerjanya adalah, campuran dimasukkan dengan konsentrasi tertentu pada kolam pengolahan 
limbah industri yang sudah ditumbuhkan plankton dan seeding bakteri di dalamnya. 
 
  NiSO4  dan  CuSO4  segera  bereaksi  mengkoagulasikan  enzim  pernafasan  plankton  dan  bakteri, 
plankton dan bakteri kemudian kehilangan kemampuan untuk bernafas dan mati. Sel mati plankton 
dan bakteri kemudian terkoagulasi oleh Fe2+ membentuk gumpalan koloid dan “diharap” Poli hidroksi 
alkanoat  (PHA)  mampu  menjalinnya  menjadi  ikatan  polimer  seperti  pada  sistem  Bioflocs  yang  ada 
secara alami. 
 
  Pada  kenyataannya,  gumpalan  koloid  tersebut  cepat  sekali  jatuh  dan  mengendap,  berbeda  dengan 
Bioflocs  sesungguhnya.  Implikasi  peracunan  oleh  logam  berat  untuk  peruntukan  akuakultur  harus 
diwaspadai. 
 
  Tes kualitatif terhadap bahan pembentuk Bioflocs instan sangat mudah dilakukan : 
 
‐  Tempatkan 100 ml aquadest dalam gelas kimia kecil 
‐  Masukkan 1 gram bahan pembentuk bioflocs instan 
‐  Aduk homogen 
‐  Masukkan 1 gram NaOH ke dalam larutan 
‐  Aduk homogen 
‐  Biarkan mengendap 
 
  Hasil : 
‐  Terbentuk endapan hidroksida besi berwarna coklat di dasar gelas kimia 
‐  Cairan jernih di atas endapan coklat berwarna kebiru biruan  ungu dari warna Cu2+ dan Ni2+   dan 
bertambah biru jika dialirkan gas ammonia ke dalammnya. 
 
  Tes lapangan : 
‐  Tempatkan 100 ml biakan bakteri (Rhodobacter/Bacillus/Lactobacillus dll) atau plankton dengan 
kepekatan yang cukup signifikan. 
‐  Tambahkan 1 gram bahan pembentuk bioflocs instan 
‐  Aduk homogen 
‐  Taruh wadah pada jarak 30 cm dari lampu pijar 100 watt 
 
  Hasil : 
‐  Terjadi pemisahan fasa, endapan jatuh ke bawah dan terbentuk selaput jarosite/ pyrite terflotasi 
di atas permukaan cairan dan memberikan penampakan air jernih. 
 
Pemerintah AS hanya memberikan izin bahan pembentuk bioflocs instan hanya untuk aplikasi industri 
dan melarang penggunaannya untuk pengolahan limbah domestik rumah tangga, rumah sakit, restoran dan 
akuakultur. 

Anda mungkin juga menyukai