0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
254 tayangan12 halaman

Biogeografi dan Morfologi Ikan Kakap Merah

Teks tersebut membahas tentang ikan kakap merah (Lutjanus malabaricus), termasuk penyebarannya, sistematika, morfologi, dan habitatnya. Ikan kakap merah tersebar luas di perairan Indonesia dan memiliki nilai ekonomis tinggi. Teks tersebut juga menjelaskan klasifikasi taksonomi ikan kakap merah serta ciri-ciri fisik dan habitatnya di perairan pantai dan karang.

Diunggah oleh

vies
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
254 tayangan12 halaman

Biogeografi dan Morfologi Ikan Kakap Merah

Teks tersebut membahas tentang ikan kakap merah (Lutjanus malabaricus), termasuk penyebarannya, sistematika, morfologi, dan habitatnya. Ikan kakap merah tersebar luas di perairan Indonesia dan memiliki nilai ekonomis tinggi. Teks tersebut juga menjelaskan klasifikasi taksonomi ikan kakap merah serta ciri-ciri fisik dan habitatnya di perairan pantai dan karang.

Diunggah oleh

vies
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Ikan merupakan sumberdaya alam yang sering dijadikan objek atau target
terakhir dari suatu proses pemanfaatan sumberdaya hayati akuatik. Ikan juga
merupakan organisme yang mempunyai nilai ekonomi tinggi dibandingkan
dengan organisme akuatik lainnya. Hasil perikanan Indonesia merupakan salah
satu pemasok devisa negara. Sumberdaya perikanan laut seperti ikan, udang dan
rumput laut, disamping mempunyai nilai ekspor juga untuk kebutuhan
konsumsi dalam negeri dalam rangka memenuhi kebutuhan protein hewani
(Jabarsyah dkk, 2011).
Sumberdaya perikanan merupakan salah satu kekayaan alam yang harus
dimanfaatkan secara optimal untuk kepentingan kesejahteraan masyarakat.
Sumberdaya ini mempunyai karakteristik yang unik yaitu merupakan sumberdaya
milik bersama/umum (common property). Karakteristik ini memungkinkan
pemanfaatannya bersifat terbuka (open access) artinya semua orang dapat
melakukan kegiatan penangkapan ikan di suatu wilayah perairan tanpa adanya
pembatasan. Dengan karakteristik tersebut maka dalam pemanfaatannya dapat
mengalami overfishing yaitu tingkat upaya tangkap ikan meningkat
hingga mengganggu keseimbangan populasi ikan yang berakibat tidak lagi
diperoleh keuntungan dari pemanfaatan sumberdaya ikan tersebut.
(Rahman 1992).
Kecenderungan global pengelolaan perikanan makin menuju pada
pemahaman bahwa sumberdaya ikan harus memberikan manfaat baik untuk
generasi saat ini maupun generasi mendatang. Saat ini orientasi nelayan telah
berubah, karena nilai ekonomis dari ikan kakap merah semakin menjanjikan.
Permintaan pasar dari waktu ke waktu meningkat karena semakin digemari
konsumen, sehingga harga jual ikan kakap semakin tinggi. Hal ini terkait erat
dengan karakteristik sumberdaya ikan yang mempunyai keterbatasan
kemampuan untuk pulih kembali (renewable) dibandingkan tingkat
eksploitasi yang tinggi sehingga berpotensi akan musnah (Phasuk, 1987).
2

Ikan kakap termasuk golongan ikan demersal (dasar) yang dapat hidup
pada daerah perairan dangkal sampai laut dalam. Ikan kakap merah cukup banyak
terdapat di perairan pantai seluruh Indonesia dan mempunyai nilai ekonomis
yang tinggi. Ikan kakap dapat dipasarkan dalam keadaan hidup dan keadaan
mati atau olahan berupa fillet. Daerah penyebaran ikan kakap merah adalah
sekitar pantai seluruh indonesia, meluas ke utara sampai Teluk Benggala,
Teluk Siam, sepanjang pantai Laut Cina Selatan, ke selatan sampai perairan
tropis Australia (Gunarso, 1995).
Ikan kakap merah (Lutjanus malabaricus) merupakan ikan laut yang
memiliki daerah penyebaran yang luas dari timur Afrika hingga Australia. Ikan ini
memiliki rasa daging yang lezat sehingga banyak dikonsumsi oleh masyarakat di
seluruh dunia termasuk masyarakat Indonesia. Volume produksi ikan kakap di
Indonesia pada tahun 2010 mencapai 123.827 ton dari sektor perikanan
tangkap dan 2.300 ton dari sektor perikanan budidaya. Di setiap daerah, ikan
kakap merah dikenal dengan nama tersendiri seperti di Jawa disebut Kellet,
Darongan, Bambangan dan di Madura disebut Posepa. Di Bangka ikan kakap
merah disebut Bran atau Bambang sedangkan di Sulawesi disebut Bacan, Delise,
Langgaria, Lolise serta di Maluku disebut Delis, Sengaru, Rae dan Popika. Di
pasaran internasional ikan kakap merah disebut red snappers
(Sunyoto dan Mustahal, 2002).

1.2 Tujuan Makalah


1. Untuk mengetahui penyebaran dan kebiasaan hidup Ikan Kakap Merah
diperairan.
2. Untuk mengetahui sistematika dan morfologi Ikan Kakap Merah.
3. Untuk mengetahui kebiasaan makan dan cara reproduksi Ikan Kakap
Merah.

1.3 Manfaat Makalah


Adapun manfaat dari penulisan makalah ini adalah sebagai sumber acuan
mengenai biogeografi Ikan Kakap Merah dan sebagai sumber pengetahuan
bagi yang membutuhkan informasi ikan tenggiri diperairan laut.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Biogeografi Lutjanus malabaricus


Prisantoso dan Badrudin (2010) menyatakan ikan kakap merah adalah
salah satu jenis ikan demersal ekonomis penting yang cukup banyak tertangkap di
perairan Indonesia. Seluruh jenis ikan kakap merah merupakan anggota famili
Lutjanidae, namun hanya jenis-jenis ikan dari famili Lutjanidae yang berwarna
merah kekuningan sampai merah gelap kehitaman yang disebut kakap merah.
Druzhinin (1971) menyatakan bahwa perairan Indonesia memiliki
keberagaman jumlah spesies kakap merah genus Lutjanus yang terbanyak di
dunia, yaitu sebanyak 32 jenis termasuk L. bohar.
Ikan kakap merah (Lutjanus malabaricus) dikenal dengan nama two-spot
red snapper di pasar internasional. Ikan ini memiliki bentuk tubuh pipih dengan
panjang maksimal mencapai 75 cm. Ikan kakap merah (Lutjanus malabaricus)
memiliki lekukan di antara lubang hidung hingga depan rongga mata, yang
membedakannya dengan ikan kakap merah (L. argentimaculatus) yang merupakan
jenis ikan kakap merah paling umum di Indonesia. Tubuh ikan kakap merah
(L. bohar) berwarna merah dengan bagian punggung dan ekor berwarna lebih
merah gelap. Umumnya terdapat dua bintik berwarna putih keperakan pada bagian
punggung ikan dewasa. Ikan ini tersebar di area perairan Indo-Barat Pasifik dari
timur Afrika hingga Australia, dan umum terdapat di perairan Indonesia. Ikan
kakap merah (Lutjanus malabaricus) umumnya hidup soliter di perairan karang
dengan kedalaman 10 sampai 70 meter. Ikan ini termasuk ikan karnivora yang
memangsa ikan, udang, kepiting, stomatopoda, amphipoda dan gastropoda
(Allen 1985).

2.2 Sistematika Lutjanus malabaricus


Nama kakap diberikan kepada kelompok ikan yang termasuk tiga genus
yaitu Lutjanus, Latidae dan Labotidae. Jenis-jenis yang termasuk Lutjanidae
biasanya disebut kakap merah, dan jenis lainnya yaitu Lates calcarifer yang
termasuk suku Latidae umumnya disebut kakap putih dan Lobotos surinamensis
4

yang termasuk suku Lobotidae disebut kakap batu (Hutomo et al. 1986).
Ikan kakap merah keluarga Lutjanidae mempunyai klasifikasi sebagai berikut
(Saanin, 1984) :
Filum : Chordata
Sub filum : Vertebrata
Kelas : Pisces
Sub kelas : Teleostei
Ordo : Percomorphi
Sub ordo : Perciodea
Famili : Lutjanidae
Sub famili : Lutjanidae
Genus : Lutjanus
Spesies : Lutjanus malabaricus

Gambar 2.2.1 Ikan Kakap Merah

Ikan Kakap Merah merupakan ikan yang termasuk ke dalam Ordo


Perciformes, Family Laboridae, dan genud Lutainus dan Spesies Lutianus
erythropterus.Ikan ini merupakan ikan air laut yang mempunyai sirip punggung
yang sempurnayang terletak di depan sirip perut atau di belakang kepala bagian
anterior badan pada ikan tersebut.Sirip dada pada ikan merah oblique dan terletak
di bawah linea literalis di bawah sudut operculum.Sirip perut ikan ini berbentuk
thorcic,sedangkan sirip anus terpisah dengan sirip ekor dan bagian pangkalnya
diliputi oleh sisik. Bentuk ekor ikan ini adalah berlekuk tunggal. Ikan merah
(Lutjanus malabaricus) adalah ikan yang berada di perairan luat.bentuk tubuh
bilateral simetris dengan klasifikasinya adalah Ordo Percomorphi, Famili
Lucanidae, Genus lutjanus, Spesies Lutjanus malabaricus. Pada ikan merah
5

mulutnya besar, dapat disembulkan kedepan, ujung belakang dari rahang atas
terletak dibawah sudut dari depan bola mata. Ikan merah ini mempunyai empat
buah sirip, yaitu sirip punggung, sirip dada, sirip perut, dan ekor. Warna sirip
tersebut bewarna merah kelam (Djuhanda, 1981).
Mempunyai tubuh yang memanjang dan melebar, gepeng atau lonjong,
kepala cembung atau sedikit cekung. Jenis ikan ini umumnya bermulut lebar dan
agak menjorok ke muka, gigi konikel pada taring-taringnya tersusun dalam satu
atau dua baris dengan serangkaian gigi caninnya yang berada pada bagian depan.
Ikan ini mengalami pembesaran dengan bentuk segitiga maupun bentuk V dengan
atau tanpa penambahan pada bagian ujung maupun penajaman. Bagian bawah pra
penutup insang bergerigi dengan ujung berbentuk tonjolan yang tajam. Sirip
punggung dan sirip duburnya terdiri dari jari-jari keras dan jari-jari lunak. Sirip
punggung umumnya ada yang berkesinambungan dan berlekuk pada bagian antara
yang berduri keras dan bagian yang berduri lunak. Batas belakang ekornya agak
cekung dengan kedua ujung sedikit tumpul. Warna sangat bervariasi, mulai dari
yang kemerahan, kekuningan, kelabu hingga kecoklatan. Mempunyai garis-garis
berwarna gelap dan terkadang dijumpai adanya bercak kehitaman pada sisi tubuh
sebelah atas tepat di bawah awal sirip punggung berjari lunak. Umumnya
berukuran panjang antara 25 50 cm (Manickchand et al, 1996).
Ikan kakap termasuk salah satu jenis ikan yang hidup dan banyak dijumpai
di perairan pantai, perairan karang, dan muara-muara sungai di seluruh di dunia
terutama pada daerah subtropis. Habitat ikan merah (Lutjanus malabaricus)
ditemukan di habitat karang, sehingga disebut juga sebagai ikan demersal
(McPherson, 1992).

2.3 Morfologi Lutjanus malabaricus


Ciri-ciri kakap merah (Lutjanus sp.) mempunyai tubuh yang memanjang
dan melebar, gepeng atau lonjong, kepala cembung atau sedikit cekung. Jenis ikan
ini umumnya bermulut lebar dan agak menjorok ke muka, gigi konikel pada
taring-taringnya tersusun dalam satu atau dua baris dengan serangkaian gigi
caninnya yang berada pada bagian depan. Ikan ini mengalami pembesaran dengan
bentuk segitiga maupun bentuk V dengan atau tanpa penambahan pada bagian
6

ujung maupun penajaman. Bagian bawah pra penutup insang bergerigi dengan
ujung berbentuk tonjolan yang tajam.
Sirip punggung dan sirip duburnya terdiri dari jari-jari keras dan jari-jari
lunak. Sirip punggung umumnya berkesinambungan dan berlekuk pada bagian
antara yang berduri keras dan bagian yang berduri lunak. Batas belakang ekornya
agak cekung dengan kedua ujung sedikit tumpul. Warna sangat bervariasi, mulai
dari yang kemerahan, kekuningan, kelabu hingga kecoklatan. Ada yang
mempunyai garis-garis berwarna gelap dan terkadang dijumpai adanya bercak
kehitaman pada sisi tubuh sebelah atas tepat di bawah awal sirip punggung berjari
lunak. Pada umumnya berukuran panjang antara 25 50 cm, walaupun tidak
jarang mencapai 90 cm (Gunarso, 1995). Ikan kakap merah menerima berbagai
informasi mengenai keadaan sekelilingnya melalui beberapa inderanya, seperti
melalui indera pengelihatan, pendengaran, penciuman, peraba, linea lateralis dan
sebagainya.
Jenis kakap merah berukuran besar umumnya membentuk gerombolan
yang tidak begitu besar dan beruaya ke dasar perairan menempati bagian yang
lebih dalam daripada jenis yang berukuran kecil. Selain itu biasanya kakap merah
tertangkap pada kedalaman dasar antara 4050 meter dengan substrat sedikit
karang dan salinitas 3033 ppt serta suhu antara 5-32C.
Secara morfologi, bentuk badan ikan kakap merah memanjang sampai
agak pipih. Mulutnya terletak pada bagian ujung kepala (terminal), biasanya
terdapat gigi taring (canine) pada rahangnya. Bagian pinggir operculum biasanya
bergerigi dan sisiknya ctenoid. Bagian depan dari kepala tak bersisik atau pada
bagian depan dari tutup insang terdapat beberapa baris sisik. Sering terdapat bintik
atau noda kehitaman (blotches). Sirip punggung tunggal dengan jari-jari 9-12 jari-
jari sirip keras dan 9-17 jari-jari sirip lemah yang bercabang. Sirip dubur dengan 3
sirip keras dan 7-14 sirip lemah bercabang. Sirip ekor mulai dari yang
berbentuk truncate sampai berbentuk cagak yang dalam (deeply forked).
Kakap merah adalah salah satu jenis ikan demersal ekonomis penting yang
cukup banyak tertangkap di perairan Indonesia. Jenis ikan tersebut biasanya
tertangkap di perairan paparan (continental shelf). Beberapa Jenis diantaranya
7

berada pada habitat perairan yang sedikit berkarang. Adapun ciri ciri Ikan kakap
merah sebagai berikut :
1. Badan memanjang melebar, gepeng kepala cembung, bagian bawah penutup
insang bergerigi.
2. Gigi-gigi pada rahang tersusun dalam ban-ban, ada gigi taring pada bagian
terluar rahang atas, sirip punggung berjari-jari keras 11 dan lemah 14, sirip
dubur berjari-jari keras 3 lemah 8-9, termasuk ikan buas, makannya ikan
kecil dan invertebrata dasar laut.
3. Hidup menyendiri di daerah pantai sampai kedalaman 60 m. Dapat mencapai
panjang 45-50 Cm.
4. Warna bagian atas kemerahan/merah kekuningan, di bagian bawah merah
keputihan. Garis-garis kuning kecil diselingi warna merah pada bagian
punggung di atas garis rusuk.
Badan memanjang melebar, gepeng, kepala cembung, bagian bawah penutup,
insang bergerigi, gigi-gigi pada rahang tersusun dalam ban-ban, ada gigi taring
pada bagian terluar rahang atas. Mata berwarna merah cemerlang. Mulut lebar,
sedikit serong dengan geligi halus. Sirip punggung berjari-jari keras 11 dan lemah
14, Sirip dubur berjari-jari keras 3, lemah 8-9 termasuk ikan buas, makannya ikan
kecil dan invetebrata dasar. Hidup menyendiri didaerah pantai sampai kedalaman
60 m. Panjang tubuh mencapai 45 - 60 cm. Warna bagian atas kemerahan/merah
kuningan, bagian bawah merah keputihan. Ban-ban kuning kecil diselingi
warna merah pada bagian punggung diatas garis rusuk. Pada waktu masih
burayak (umur 1 - 3 bulan) warnanya gelap dan setelah menjadi gelondongan
(umur 3 - 5 bulan) warnanya terang dengan bagian punggung berwarna coklat
kebiru-biruan yang selanjutnya berubah menjadi keabu-abuan dengan sirip
berwarna abu-abu gelap.

2.4 Kebiasaan Makan Lutjanus malabaricus


Makanan merupakan faktor pengendali yang penting dalam menghasilkan
sejumlah ikan disuatu perairan, karena merupakan faktor yang menentukan bagi
populasi, pertumbuhan dan kondisi ikan di suatu perairan. Di alam terdapat
berbagai jenis makanan yang tersedia bagi ikan dan ikan telah menyesuaikan diri
8

dengan tipe makanan khusus dan telah dikelompokkan secara luas sesuai dengan
cara makannya, walaupun dengan macam-macam ukuran dan umur ikan itu
sendiri. Ikan dapat dikelompokkan berdasarkan jumlah dan variasi makanannya
menjadi euryphagous yaitu ikan yang memakan berbagai jenis makanan;
stenophagous yaitu ikan yang memakan makanan yang sedikit jenisnya; dan
monophagous yaitu ikan yang hanya memakan satu jenis makanan saja
(Effendi, 1997).
Jenis ikan kakap merah umumnya termasuk ikan buas, karena pada
umumnya merupakan predator yang senantiasa aktif mencari makan pada malam
hari (nokturnal). Aktivitas ikan nokturnal tidak seaktif ikan diurnal (siang hari).
Gerakkannya lambat, cenderung diam dan arah geraknya tidak dilengkapi area
yang luas dibandingkan ikan diurnal. Bola mata yang besar menunjukkan ikan
nokturnal menggunakan indera penglihatannya untuk ambang batas
intensitas cahaya tertentu, tetapi tidak untuk intesitas cahaya yang kuat
(Iskandar dan Mawardi, 1997).
Ikan kakap merah lebih suka memangsa jenis-jenis ikan, kepiting, udang,
jenis crustacea, gastropoda serta berbagai jenis plankton utamanya urochordata.
Umumnya kakap merah yang berukuran besar, baik panjang maupun tinggi
tubuhnya, memangsa jenis-jenis ikan maupun invertebrata berukuran besar yang
ada di dekat permukaan di perairan karang. Jenis kakap merah ini biasanya
menghuni perairan pantai berkarang hingga kedalaman 100 meter, hidup soliter
dan tidak termasuk jenis ikan yang berkelompok. Umumnya dilengkapi dengan
gigi kanin yang merupakan adaptasi sehubungan dengan tingkah laku makannya,
agar mangsa tidak mudah lepas. Ikan dewasa umumnya berwarna merah darah
pada punggungnya dan berwarna putih pada bagian perutnya (Gunarso, 1995).
Ikan kakap pada umumnya merupakan jenis ikan karnivora, makanannya
terdiri dari ikan-ikan kecil, krustasea, invertebrate lainnya. Makanan utama ikan
kakap merah adalah ikan kecil. tetapi sering didapatkan makan udang, kepiting,
stomatopoda, amphipoda dan gastropoda. Namun kebiasaan makan sangat
dipengaruh oleh umur ikan (bukaan mulut), sehingga dugaan kuat terhadap ikan
yang mengkonsumsi planton merupakan jenis ikan yang bukaan mulutnya masih
kecil atau anakan ikan, sebelum merubah makanan utamanya sabagai karnivor.
9

Perbedaan kebiasaan makan pada umumnya dipengaruhi oleh umur dan


panjang ikan, terutama pada ikan-ikan akan mengalami perubahan diet umur dan
ukuran tubuh, ukuran kecil cenderung memakan alga renik dan pada saat ukuran
besar maka kebiasaan makan akan berubah. Ikan Kakap Merah (Lutjanus sp.)
menerima berbagai informasi mengenai keadaan sekelilingnya melalui beberapa
inderanya, seperti melalui indera pengelihatan, pendengaran, penciuman,
peraba, linea lateralis dan sebagainya.
Kebiasaan makan (food habit) berhubungan dengan jenis, kuantitas dan
kualitas makanan yang dimakan oleh ikan, sedangkan kebiasaan cara memakan
(feeding habits) berhubungan dengan waktu, tempat dan bagaimana cara ikan
memperoleh makanannya. Effendi (1997) dalam Priyadi, A., dkk (2009)
menambahkan bahwa faktor- faktor yang menentukan jenis ikan memakan suatu
organisme adalah ukuran, ketersediaan, warna, rasa, tekstur makanan dan selera
ikan terhadap makanan. Selanjutnya dikatakan bahwa faktor yang mempengaruhi
jenis dan jumlah makanan yang dikonsumsi oleh suatu spesies ikan adalah umur,
tempat dan waktu.

2.5 Reproduksi Lutjanus malabaricus


Pola reproduksi ikan-ikan laut dalam diperkirakan berlangsung sepanjang
tahun berdasarkan stabilitas fisika dan kimia perairan laut dalam. Waktu dan
durasi dari punca pemijahan dan kematangan umur berbeda dengan berbedanya
spesies, daerah distribusi masing-masing spesies dan kedalaman dari masing-
masing spesies. Reproduksi musiman pada ikan-ikan di laut dalam tidak dikontrol
oleh cahaya dan temperature sebagaimana pada ikan-ikan di perairan yang lebih
dangkal tetapi dikontrol oleh ketersediaan makanan, penenggelaman bahan
organic, arus laut dalam dan migrasi vertical (Rotllant et al., 2002).
Ikan kakap tergolong diecious yaitu ikan ini terpisah antara jantan dan
betinanya. hampir tidak dijumpai seksual dimorfisme atau beda nyata antara jenis
jantan dan betina baik dalam hal struktur tubuh maupun dalam hal warna. Pola
reproduksinya gonokorisme, yaitu setelah terjadi diferensiasi jenis kelamin, maka
jenis seksnya akan berlangsung selama hidupnya, jantan sebagai jantan dan betina
sebagai betina. Jenis ikan ini rata-rata mencapai tingkat pendewasaan pertama saat
10

panjang tubuhnya telah mencapai 4151% dari panjang tubuh total atau panjang
tubuh maksimum. Jantan mengalami matang kelamin pada ukuran yang lebih
kecil dari betinanya.
Kelompok ikan yang siap memijah, biasanya terdiri dari sepuluh ekor
atau lebih, akan muncul ke permukaan pada waktu senja atau malam hari di bulan
Agustus dengan suhu air berkisar antara 22,225,2C. Ikan kakap jantan yang
mengambil inisiatif berlangsungnya pemijahan yang diawali dengan menyentuh
dan menggesek-gesekkan tubuh mereka pada salah seekor betinanya. Setelah itu
baru ikan-ikan lain ikut bergabung, mereka berputar-putar membentuk spiral
sambil melepas gamet sedikit di bawah permukaan air. Secara umum ikan kakap
merah yang berukuran besar akan bertambah pula umur maksimumnya
dibandingkan yang berukuran kecil. Ikan kakap yang berukuran besar akan
mampu mencapai umur maksimum berkisar antara 1520 tahun, umumnya
menghuni perairan mulai dangkal hingga kedalaman 60100 meter.
Hamamoto et al. (1992) mengamati perilaku reproduksi dan sejarah hidup
awal ikan kakap berbintik putih, Lutjanus stellatus Akazaki, berdasarkan
pengamatan di akuarium. Pemijahan terjadi di antara seekor betina dan 2 -12 ikan
jantan pada jam-jam pertama setiap sore sejak pertengahan Mei sampai
pertengahan Juni 1984. Enam pola tingkah laku mudah dibedakan dalam urutan
pemijahan :
a. bergerombol; d. berenang cepat ke permukaan;
b. mencari-cari; e. memijah; dan
c. menyungkur; f. pasca memijah.
Spesies ini dianggap sebagai pemijah kelompok. Telur yang telah dibuahi
berbentuk bulat, transparan, mengapung dan tak berpigmen. Telur tersebut
berdiameter 0,80 0,85 mm, dan mengandung sebuah butiran minyak yang
berdiameter 0,16 0,17 mm. Penetasan berlangsung 30 jam setelah pembuahan.
Segera setelah menetas, larva memiliki panjang total 2,48 2,56 mm dan
mempunyai kuning telur besar berbentuk elips. Sebuah butiran minyak terletak
pada ujung depan kuning telur ini.
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
1. Seluruh jenis ikan kakap merah merupakan anggota famili Lutjanidae.
2. Ikan kakap merah (Lutjanus malabaricus) dikenal dengan nama two-spot
red snapper di pasar internasional.
3. Ciri-ciri kakap merah (Lutjanus malabaricus) mempunyai tubuh yang
memanjang dan melebar, gepeng atau lonjong, kepala cembung atau
sedikit cekung.
4. Jenis ikan kakap merah umumnya termasuk ikan buas, karena pada
umumnya merupakan predator yang senantiasa aktif mencari makan pada
malam hari (nokturnal).
5. Ikan kakap merah lebih suka memangsa jenis-jenis ikan, kepiting, udang,
jenis crustacea, gastropoda serta berbagai jenis plankton utamanya
urochordata.
6. Lutjanus malabaricus dianggap sebagai pemijah kelompok. Telur yang
telah dibuahi berbentuk bulat, transparan, mengapung dan tak berpigmen.

3.2 Saran
Setelah membaca dan memahami makalah ini diharapkan kepada pembaca
lebih mengenal Lutjanus malabaricus, dimana Ikan ini sangat disukai negara -
negara di dunia karena protein sangat tinggi. Hal ini merupakan kesempatan
menjadikan ikan ini sebagai salah satu komoditas utama perikanan laut di
Indonesia..
DAFTAR PUSTAKA

Allen, B.R. 1985. Snappers of The World. FAO Press. New York.

Baskoro, M. S., Ronny. I.W, dan Arief Effendy. 2004. Migrasi dan Distribusi
Ikan. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Gunarso, W. 1995. Mengenal Kakap Merah Komoditi Ekspor Baru Indonesia


Fakultas Perikanan. IPB. Bogor.

Mayunar dan Genisan AS. 2002. Budidaya Ikan Kakap Putih. Grasindo. Jakarta.

Moyle, P.B. dan J.J. Chech, JR.1988. Fishes an Introduction to Ichthyology 2 nd


ed. Prentice-Hall. Inc. Englewood Cliffs. New Jersey. USA.

Nikolsky, G.V. 1963. The Ecology of Fishes. Academy Press. New York.

Saanin. H. 1984. Taksonomi dan Kunci Identifikasi Ikan. Jilid 1 dan 2. Bina Cipta.
Bogor.

Sunyoto P dan Mustahal. 2002. Pembenihan Ikan Laut Ekonomis: Kerapu. Kakap,
Baronang. Penebar Swadaya. Jakarta.

Anda mungkin juga menyukai