Anda di halaman 1dari 12

MENGAWAL HAK PENDIDIKAN MASYARAKAT (HUKUM) ADAT

MELALUI MODEL KURIKULUM LAYANAN KHUSUS


MARIA LISTIYANTI*

I. PENDAHULUAN
Pengakuan negara secara hukum terhadap masyarakat adat yang selama ini
terpinggirkan tidak cukup dengan penetapan hutan adat. Negara dituntut
melakukan kewajibannya dengan memenuhi hak-hak dasar masyarakat di bidang
ekonomi, sosial, dan budaya (Kompas, 3 Maret 2017). Pengakuan negara terhadap
masyarakat adat tertuang dalam Putusan Mahkamah Konstitusi nomor 35 tahun
2012 terkait peninjauan kembali yang diajukan Aliansi Masyarakat Nusantara
(AMAN). Meskipun demikian, pengakuan masyarakat hukum adat dalam
konstitusi dan berbagai undang-undang belum diturunkan dalam peraturan
pelaksanaannnya, terutama untuk menyelesaikan tumpang tindih klaim antara
masyarakat dan negara serta korporasi. Dalam sejumlah kasus, masyarakat
setempat menjadi pihak yang dikalahkan sehingga mencederai semangat untuk
mengatasi ketimpangan ekonomi dan sosial (Kompas, 4 Maret 2017).
Pernyataan-pernyataan penggiat masyarakat adat di atas, dikuatkan dari
hasil riset unggulan penelitian Lipi tentang masyarakat adat tahun 2015-2017
yang menyatakan bahwa program-program yang membawa pesan modernisasi
dilakukan oleh negara melalui berbagai jalur atau sektor memunculkan
problematika, yaitu adanya adaptasi dan resistensi. Secara umum jalur atau sektor
itu bisa dilihat dalam tiga kelompok program: (1) Program peningkatan
pendapatan, biasanya melalui jalur atau sektor pertanian dan pemanfaatan
sumberdaya alam lainnya; (2) Program peningkatan pendidikan, biasanya melalui
perluasan sekolah dan pusat-pusat pelatihan; dan (3) Program pembangunan
keagamaan dan kebudayaan; biasanya melalui berbagai bentuk pelatihan,

* Peneliti Muda Pusat Kurikulum dan Perbukuan- Balitbang, Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan, Jakarta

1
pembangunan sarana ibadah, dan program-program seni dan pariwisata (Lipi,
2016). Selanjutnya dalam laporan penelitian Lipi itu dipaparkan bahwa penetrasi
modernisasi melalui berbagai program ini terlihat dengan cukup nyata di
Masyarakat Adat Baduy dalam bidang pariwisata. Sementara itu, selain harus
melakukan adaptasi dengan berbagai program modernisasi, warga masyarakat
Samin dalam waktu sepuluh tahun ini harus berhadapan dengan negara dan para
pengusaha yang ingin membangun pabrik semen di kawasan pegunungan karst
Kendeng yang selama turun temurun merupakan wilayah pertanian dan sumber
mata air dari masyarakat Samin. adaptasi dan resistensi terhadap intervensi
ekonomi pasar juga akan merefleksikan dan mendatangkan konsekuensi tertentu
terhadap ketahanan sosial-budaya dan ekonomi masyarakat adat tersebut (Lipi,
2016).
Menarik mencermati program peningkatan pendidikan yang dilakukan
oleh negara dengan mengacu pada hasil penelitian Bappenas tentang Masyarakat
Adat di Indonesia, Menuju Perlindungan Sosial yang Inklusif (Bappenas, 2013)
yang menunjukkan bahwa kondisi pendidikan di lokasi masyarakat adat terdapat
dua kendala. Pertama, kendala biaya, seringkali mereka tidak mempunyai cukup
uang untuk membayar biaya sekolah di sekolah formal. Kendala kedua adalah
soal akses, tempat tinggal dan pola hidup berpindah menjadi hambatan untuk
mengikuti kegiatan belajar di sekolah formal. Hal ini kemudian menimbulkan
pertanyaan-pertanyaan kritis misalnya mengapa sekolah harus masuk setiap hari,
padahal mereka harus ikut orang tua ke ladang atau menjerat binatang. Akses
yang sulit masih menjadi kendala dan tantangan bagi penyediaan pendidikan di
banyak lokasi KAT. Masyarakat Adat dengan lokasi tempat tinggal yang sangat
terpencil saat ini masih kesulitan mengakses layanan pendidikan formal yang
disediakan pemerintah yang pada umumnya hanya berada di pusat desa.
Mendasarkan pada akses pendidikan masyarakat adat, ditegaskan dalam
Nawa Cita, prioritas agenda kedelapan disebutkan bahwa pembentukan kurikulum
yang menjaga keseimbangan aspek muatan lokal (daerah) dan aspek nasional,
dalam rangka membangun pemahaman yang hakiki terhadap ke-Bhineka-an yang

2
Tunggal Ika. Selanjutnya, agenda kesembilan dinyatakan bahwa memperteguh
Ke-Bhineka-an dan memperkuat restorasi sosial Indonesia melalui kebijakan
memperkuat pendidikan kebhinekaan dan menciptakan ruang-ruang dialog antar
warga.
Sementara itu, permasalahan pokok pembangunan pendidikan dalam
menjalankan agenda Nawa Cita adalah masih terdapatnya kesenjangan tingkat
partisipasi pendidikan, baik antarwilayah maupun antarkelompok pendapatan,
yang tercermin pada indikator angka partisipasi sekolah (APS). Selain itu, dalam
proses penyelenggaraan pendidikan agama dan pendidikan karakter, tantangan
yang dihadapi adalah meningkatkan kualitas pendidikan agama dan pendidikan
karakter/budi pekerti untuk membina akhlak mulia, menanamkan nilai-nilai moral
dan etika, serta memperkuat daya rekat dan harmoni sosial.
Di sisi lain adalah ketimpangan kesejahteraan ekonomi akibat masyarakat
adat mengalami ketidakadilan dengan pembiaran korporasi besar dalam
melakukan eksploitasi sumber daya alam. Dengan masuknya korporasi itu
memberikan dampak pada masyarakat adat, seperti sengketa atas hutan dan tanah
adat, kerusakan lingkungan, dan tercerabutnya kearifan lokal akibat terbukanya
relasi dengan dunia luar.
Persoalan penyelenggaraan program pendidikan itu semakin pelik jika
dikaitkan dengan keberadaan masyarakat adat. Di samping mengalami kendala
dalam akses pendidikan karena letak georafis yang relatif terpencil,
penyelenggaraan program pendidikan itu juga terbentur pada kebutuhan yang
spesifik yang ada pada masyarakat adat yang sangat beragam itu.
Upaya merawat dan menjaga kearifan lokal masyarakat adat diperlukan
untuk memperkuat daya rekat dan harmonisasi sosial, misalnya, seringkali harus
berhadapan dengan arus perubahan yang kerapkali justru dipaksakan dari luar. Di
sinilah negara diharapkan hadir menyelenggarakan pendidikan sesuai konteksnya.
Deklarasi PBB melalui UNDRIP (Deklarasi PBB tentang Hak-Hak
Masyarakat Adat), khususnya artikel ke 14 yang berkaitan dengan hak pendidikan
adat tersebut tertuang dalam pernyataan bahwa "Masyarakat adat memiliki hak

3
untuk membentuk dan mengontrol sistem pendidikan mereka dan institusi-
institusi yang menyediakan pendidikan dalam bahasa mereka sendiri, dalam suatu
cara yang cocok dengan budaya mereka tentang pengajaran dan pembelajaran".
Oleh karenanya itu, dalam pasal 14 ayat 2 deklarasi tersebut, dinyatakan pula
bahwa negara memikul tanggung jawab untuk menyediakan akses pendidikan
bagi warga di wilayah lingkungan masyarakat adat, sesuai kondisi dan
kebutuhannya.
Beberapa penjelasan di atas, dengan demikian menjadi landasan kuat
memenuhi berbagai komitmen Pemerintah, khususnya yang berkaitan dengan
penyelenggaraan program pendidikan bagi masyarakat adat. Untuk itu, tujuan
pengembangan model adalah melakukan kajian data sekunder tentang praktik
pendidikan masyarakat adat yang sudah dilaksanakan oleh lembaga swadaya
masyarkat. Selain itu juga melakukan kajian konsep yang mendasarkan pada
kebutuhan warga masyarakat adat, berbasis modal sosial kultural dan
pembangunan berkelanjutan yang akan menjadi dasar dalam pengembangan
model kurikulum dan menjadi pedoman implementasi pendidikan layanan khusus
masyarakat adat.

II. HASIL DAN PEMBAHASAN


A. Masyarakat (Hukum) Adat
Pengembangan model ini menghasilkan pedoman implementasi kurikulum
layanan khusus yang berisi landasan dalam pelaksanaan pendidikan untuk
masyarakat adat, utamanya adalah pengertian-pengertian masyarakat adat yang
selama ini banyak lembaga menghasilkan pengertian masyarakat adat dalam versi
yang berbeda. Dalam pedoman dinyatakan selama ini salah satu perdebatan yang
agak berkepanjangan, dan nyaris kontra-produktif, adalah perdebatan seputar
perumusan dan penggunaan dua terma yang ‘serupa tapi tak sama’, yaitu
perumusan dan pilihan antara terma masyarakat hukum adat (selanjutnya
disingkat MHA) atau ‘masyarakat adat’ (seterusnya disingkat MA). Masyarakat
hukum adat atau yang disebut Van Vollenhoven sebagai rechtsgemeenschap,

4
sebagaimana dinyatakan oleh Wignjosoebroto (2011) adalah sebuah masyarakat
hukum yang terbentuk oleh adanya kesatuan adat tertentu. Menurut Holleman
(1981), masyarakat hukum (adat) itu bisa berbentuk sebuah kelompok
kekerabatan, sebuah kelompok territorial atau campuran dari keduanya (Panduan
Implementasi Kurikulum Layanan Masyarakat Adat, 2017)
Pilihan pada terma masyarakat adat itu tidak bisa dilepaskan dari pengaruh
penggunaan terma indigenouse people pada ranah global. terma masyarakat adat
bisa saja digunakan sebagai ‘terma payung’ yang dapat ‘membawahi’ terma-terma
‘masyarakat hukum adat’, ‘masyarakat tradisional’, ataupun ‘kebudayaan daerah’
yang memang disebutkan dalam konstitusi Indonesia. Dengan demikian,
membicarakan masyarakat adat tentulah menbicarakan persoalan ‘masyarakat
hukum adat’, ‘masyarakat tradisional’, dan ‘masyarakat daerah’. Begitu pula
sebaliknya. Oleh sebab itu, dalam upaya mewujudkan pengakuan hak-hak
masyarakat adat itu, beberapa pengertian-pengertian teknis yang sudah ada pada
terma masyarakat hukum adat, sampai batas-batas tertentu, akan sangat membantu
dalam pencapain tujuan gerakan masyarakat adat.
Terlepas dari perdebatan yang panjang, bagi penggiat pendidikan layanan
khusus masyarakat adat berpedoman pada referensi berikut ini agar dalam
pelaksanaannya sesuai dengan kondisi masyarakat sasaran. Pertama, Undang -
Undang nomor 32 tahun 2009 Tentang Perlindungan Dan Pengelolaan
Lingkungan Hidup BAB I Pasal 1 butir 31 menyebutkan bahwa “ Masyarakat
hukum adat adalah kelompok masyarakat yang secara turun – temurun bermukim
di wilayah geografis tertentu karena adanya ikatan pada asal usul leluhur,
adanya hubungan yang kuat dengan lingkungan hidup, serta adanya sistem nilai
yang menentukan pranata ekonomi, politik, sosial, dan hukum “
Kedua, United Nation Economic and Sosial Council mejelaskan bahwa "
Masyarakat adat atau tradisional adalah suku-suku dan bangsa yang karena
mempunyai kelanjutan historis dengan masyarakat sebelum masuknya penjajah di
wilayahnya, menganggap dirinya berbeda dari kelompok masyarakat lain yang
hidup di wilayah mereka ”, ketiga, Aliansi Masyarakat Adat Nusantara dalam

5
mengusulkan untuk Rancangan Undang Undang Pengakuan dan Perlindungan
Hak Masyarakat Adat, versi Agustus 2014 menyatakan bahwa " Masyarakat adat
adalah sekelompok orang, baik laki-laki maupun perempuan yang secara turun
temurun bermukim di wilayah geografis tertentu di Negara Republik Indonesia
karena adanya ikatan pada asal usul leluhur, adanya hubungan yang kuat dengan
tanah, wilayah dan sumber daya alam di wilayah adatnya, serta adanya sistem
nilai yang menentukan pranata ekonomi, politik, sosial dan hukum yang berbeda,
baik sebagian maupun seluruhnya dari masyarakat pada umumnya”.
Seringkali pengetahuan masyarakat adat terjebak oleh pemahaman
akademis yang tidak memperhitungkan dinamika yang terjadi dalam gerakan
maupun komunitas adat itu sendiri. Memahami keberadaan masyarakat adat
sering terjebak dalam persepsi masyarakat adat sebagai entitas yang homogen,
tradisional, tidak mau berubah, terpencil secara geografis, pola kehidupan
berburu-meramu, kaum tribal dan sebagainya. Kenyataanya komunitas adat tidak
selalu terpencil secara geografis, telah terjadi kontak yang intensif dengan pihak
luar, telah menggunakan perangkat teknologi modern dalam kesehariannya, sudah
tinggal di perdesaan yang menetap dan terintegrasi dengan sistem ekonomi dan
politik nasional, bahkan global (Panduan Implementasi Kurikulum Masyarakat
Adat, 2017). Dengan demikian, pengertian-pengertian di atas diperlukan
pelaksana di lapangan agar dalam identifikasi masyarakat sasaran menjadi jelas.
Ini akan berdampak pada model kurikulum yang akan dikembangkan sesuai
dengan karakteristik masyarakat sasaran.

B. Model Kurikulum Layanan Masyarakat Adat

Pendidikan yang dikembangkan pada masyarakat adat secara umum


berujuan harus mampu menghargai identitas budayanya dan atas dasar identitas
budaya itu bagaimana masyarakat adat masyarakat adat mampu merespon terhadap
perubahan-perubahan yang dihadapinya. Pendidikan yang dikembangkan jangan
sampai mencerabut akar-akar budaya yang telah dimiliki oleh masyarakat adat
sehingga mereka kehilangan identitas budayanya.

6
Kurikulum pendidikan layanan khusus bagi masyarakat adat haruslah
bertujuan khusus untuk menjawab kebutuhan masyarakat adat dalam mengatasi
persoalan nyata di kehidupan hariannya, yang selama ini kurang terakomodir oleh
kurikulum pendidikan formal. Dengan demikian kurikulum mesti
mempertimbangkan konteks persoalan lokal dan fungsionalisasi hasil belajar agar
memberi manfaat baik langsung maupun tidak langsung untuk mengatasi
persoalan keseharian dan bekal untuk merespon perubahan di sekitar. Kurikulum
pendidikan layanan khusus bagi masyarakat adat dengan demikian harus
dirancang dengan memperhatikan situasi, kondisi, potensi, serta kebutuhan di
tingkat lokal.
Prinsip-prinsip dalam pengembangan kurikulum layanan khusus ini
idealnya adalah sensitif pada konteks permasalahan, mendasarkan pada kebutuhan
warga masyarakat adat, berbasis modalitas sosial kultural melalui strategi
pemberdayaan, berorientasi pada keterampilan atau kecakapan hidup, mengacu
pada tiga dimensi pembangunan berkelanjutan, yaitu ekonomi, sosial, dan
lingkungan. Prinsip itu diperkuat oleh hasil penelitian Bappenas (2013) yang
menyebutkan bahwa kebutuhan pendidikan pada masyarakat adat sangat
mendesak, di sisi lain, karakteristik dan pola hidup mereka yang khas sering
menjadi hambatan untuk berpartisipasi pada sistem pendidikan formal. Solusi dari
kondisi seperti ini adalah inovasi bentuk-bentuk pendidikan yang sesuai dan dapat
diterima oleh masyarakat adat itu sendiri. Pada masyarakat yang masih menjalani
pola hidup nomaden, dibutuhkan sistem pendidikan yang dapat mengakomodasi
pola hidup dan kebiasaan mereka. Bappenas dalam penelitian masyarakat adat
memaparkan Sokola Rimba sebagai best practice yang memfokuskan pada
pemberantasan buta huruf (literasi), pendidikan untuk menjaga hutan dan
melindungi masyarakat, ditujukan untuk menjawab tantangan dan masalah yang
dihadapi oleh orang rimba seperti membaca kontrak, membaca timbangan,
mengenal nilai mata uang dan sebagainya. Tantangan lainnya adalah mengikuti
ritme/siklus hidup Orang Rimba yang sering berpindah tempat. Peserta didik tidak
terikat dengan jadwal yang kaku. Hal ini sangat penting mengingat pola hidup

7
orang rimba yang masih nomaden tidak memungkinkan anak-anak untuk terikat
dengan waktu belajar yang kaku. Di sinilah relevansi dan pentingnya bentuk
sekolah nonformal, peserta didik diberi kebebasan kapan mereka bersedia
mengikuti kegiatan belajar. Demikian juga dengan materi yang diajarkan. Selain
tentang literasi, Sokola Rimba mengajarkan materi mengenai aspek-aspek yang
relevan dengan kehidupan sehari-hari seperti lingkungan sekitar, adat istiadat, dan
sebagainya.
Belajar dari lembaga swadaya masyarakat dalam memberikan
pendampingan pendidikan layanan khusus masyarakat adat, model kurikulum ini
menyarankan tahapan pengembangan kurikulum melalui beberapa bagian, yaitu:
a) Pra implementasi, yang dibagi dalam tahap studi awal, yaitu pengumpulan
bahan informasi awal berupa penggalian dan analisa data sekunder tentang
lokasi dan kelompok sasaran sebagai bahan dan panduan tim assesor sebelum
melakukan assesmen. Tahap berikutnya adalah asessmen berupa kajian
berperspektif antropologis guna memahami secara menyeluruh struktur
budaya dan cara hidup (way of life) kelompok sasaran yang hasilnya
digunakan sebagai rujukan pengambilan keputusan dan
penyusunan strategi dalam implementasi program pendidikan.
b) Impementasi, Dalam tahapan implementasi ini amat penting dipahami
bahwa kelompok masyarakat adat yang menjadi sasaran program, merupakan
kelompok yang tidak terakses oleh pendidikan formal, sehingga kelompok
tersebut tidak memiliki kemampuan baca, tulis, dan berhitung dan memiliki
masalah saat terkontak dengan perubahan dari dunia luar yang membutuhkan
kemampuan baca, tulis, dan berhitung. Dalam tahap ini yang penting
diberikan adalah (1) fasilitasi literasi dasar berupa pemberian kecakapan
teknis kemampuan baca, tulis, dan berhitung untuk tujuan membekali
komunitas dalam menjalani kehidupan harian dan berinteraksi dengan
perubahan sekitar; (2) fasilitasi literasi terapan berupa fasilitasi penerapan
kemampuan baca tulis hitung yang secara fungsional bisa digunakan dalam
menyiasati persolan kehidupan harian.

8
c) Penguatan Internal dan Pengorganisasian Komunitas, di tahap ini proses-
proses pendidikan diperkuat dengan fasilitasi peningkatan keahlian hidup
(lifeskill); kaderisasi untuk menyiapkan guru lokal; dan pengorganisasian
yang disesuaikan dengan tuntutan kebutuhan keseharian serta berorientasi
pada wacana merespon arah perubahan di sekitar.
Tahapan pengembangan di atas penting dilakukan dalam mengembangkan
kurikulum, ini sejalan dengan paradigma pendidikan menurut Girooux (dalam
makalah Missiyah, 2015). Paradigma pendidikan kritis menurut Girooux adalah
paradigma yang mengakui bahwa masalah sosial disebabkan karena adanya
struktur yang tidak adil. Pendidikan ditempatkan sebagai upaya untuk melakukan
perubahan struktur yang menyebabkan ketidakadilan tersebut. Pendidikan sebagai
arena perjuangan politik, untuk melakukan kritik, memberikan keberpihakan pada
yang lemah. Pendidikan ini menghasilkan kesadaran kritis yang menjadi dasar
untuk melakukan perubahan sosial. Penyadaran kritis melalui pendidikan layanan
khusus akan memberikan hasil yang membawa perubahan.
Memperhatikan kondisi khusus masyarakat adat dan kebutuhan yang
sesuai dengan ruang hidup komunitas, muatan kurikulum yang diaharapkan
mampu meningkatkan kualitas hidup mencakup:
1. Literasi dasar, adalah kemampuan dasar yang harus dimiliki masyarakat adat.
Kemampuan yang berkaitan dengan literasi dasar yaitu kemampuan membaca,
menulis dan berhitung. Pengusaan terhadap materi ini sangat penting karena
merupakan kemampuan yang dipraktekan langsung dalam kehidupan sehari
2. Pengenalan dan Revitalisasi Kebudayaan, materi yang harus dikembangkan
yaitu dengan cara mengenal jati diri melalui ingatan kolektif yang kemudian
melakukan identifikasi terhadap permasalahan-permasalahan yang
mengancam terhadap eksistensi mereka.
3. Materi kewarganegaraan berkaitan dengan hak dan kewajiban masyarakat adat
sebagai bagian dari warga negara. Hak dan kewajiban sebagai warga negara
baik secara hukum maupun politik. Secara hukum, masyarakat adat memiliki

9
hak-hak yang harus dilindungi sebagai warga negara misalnya hak ulayat.
Secara politik masyarakat adat harus mengetahui bagaimana dan kepada siapa
mereka menyalurkan aspirasinya. Selain itu juga masyarakat adat harus
dikenalkan dengan kewajibannya sebagai warga negara
4. Pengorganisasian Masyarakat Adat, Pengorganisasi masyarakat adat disini
dimaksudkan agar masyarakat adat dapat mengetahui, memahami, dan
menjalankan prinsip– prinsip pengorganisasian masyarakat adat yang baik dan
benar. Muatan mengenai pengorganisasian masyarakat adat perlu diberikan
agar masyarakat adat dapat meningkat rasa solidaritas sosialnya, serta dapat
memiliki rasa tanggungjawab bersama mengenai budayanya dan melalui
organisasi mereka dapat menjadikannya media dalam menyampaikan aspirasi
kepada pemerintah
Muatan kurikulum dalam model kurikulum layanan khusus ini bila
dijalankan sesuai dengan kondisi dan kebutuhan masyarakat adat akan memberi
arah pendidikan bagi masyarakat adat yang dapat mengakomodasi hak asasi
manusianya dan juga tidak menggerus identitas sosial budaya yang melekat
sebagai masyarakat adat.

III. SIMPULAN
Kajian pengembangan model kurikulum layanan khusus masyarakat adat, dapat
disimpulkan sebagai berikut:
 ketimpangan kesejahteraan ekonomi akibat masyarakat adat mengalami
ketidakadilan melalui pembiaran korporasi besar dalam melakukan eksploitasi
sumber daya alam dan ini memberikan dampak pada masyarakat adat, seperti
sengketa atas hutan dan tanah adat, kerusakan lingkungan, dan tercerabutnya
kearifan lokal akibat terbukanya relasi dengan dunia luar
 penyelenggaraan program pendidikan yang berjalan selama ini jika dikaitkan
dengan keberadaan masyarakat adat mengalami kendala dalam akses pendidikan
karena letak georafis yang relatif terpencil. Penyelenggaraan program pendidikan
itu juga terbentur pada kebutuhan spesifik yang ada pada masyarakat adat yang

10
sangat beragam.
 model kurikulum yang dirancang adalah kurikulum yang mempertimbangkan
konteks persoalan lokal dan fungsionalisasi hasil belajar agar memberi manfaat
baik langsung maupun tidak langsung untuk mengatasi persoalan keseharian dan
bekal untuk merespon perubahan di sekitar
 model kurikulum yang dikembangkan jangan sampai mencerabut akar-akar
budaya yang telah dimiliki oleh masyarakat adat sehingga mereka kehilangan
identitas budayanya.

11
PUSTAKA ACUAN

Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan


Nasional. 2013. Masyarakat Adat di Indonesia: Menuju Perlindungan Sosial
yang Inklusif. Jakarta.

Kompas. 3 Maret 2017. Iptek Lingkungan dan Kesehatan: Kembalikan Hak Masyarakat,
hal. 14

Kompas, 4 Maret 2017. Iptek Lingkungan dan Kesehatan: Tekanan terhadap Masyarakat
Adat Berlanjut, hal.14

Misiyah. 2015. Analisis Konteks Untuk Pendidikan Keaksaraan Dasar. Makalah:


Disajikan pada Lokakarya Penyusunan Materi Pelatihan Kurikulum dan
Pembelajaran PAUDNI pada tanggal 23 Maret 2015 di Pusat Kurikulum dan
Perbukuan, Balitbang, Kemendikbud, Jakarta.

Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Kebudayaan, Kedeputi IPSK, Lembaga Ilmu


Pengetahuan Indonesia (LIPI). 2016. Laporan Penelitian Masyarakat Adat.
Jakarta.

Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Balitbang, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.


2017. Panduan Implementasi Kurikulum Pendidikan Layanan Khusus
Masyarakat Adat. Jakarta.

12