Anda di halaman 1dari 21

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM

PENGELOLAAN DAN TEKNIK LABORATORIUM

TEKNIK PREPARAT JARINGAN HEWAN

Disusun Oleh:

Kelompok V

Hikmatun Nafisah (14312241010)

Palupi Asti Utami (14312241017)

Mita Purwaningsih (14312241034)

Rina Indah Fatmawati (14312241039)

Hinmika Anggraeni K (14312244006)

Christina Natalia Yawiwa (14312249001)

JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

2015
HALAMAN PENGESAHAN

PRAKTIKUM TEKNIK PREPARAT JARINGAN HEWAN

Oleh :

Kelompok V

Yogyakarta, 15 November 2015

Anggota :

Nama NIM Tanda tangan

Hikmatun Nafisah 14312241010 1.

Palupi Asti Utami 14312241017 2.

Mita Purwaningsih 14312241034 3.

Rina Indah Fatmawati 14312241039 4.

Hinmika Anggraeni K 14312244006 5.

Diserahkan pada tanggal 17 November 2015 pada pukul 07.30 WIB

Mengetahui,

Asisten Praktikum

( )
A. Judul
Teknik Preparat Jaringan Hewan

B. Tujuan
1. Mengetahui dan membuat preparat apus serta mengamati dengan mikroskop
2. Mengetahui dan membuat preparat rentang serta mengamati dengan mikroskop

C. Dasar teori

1. Mikroteknik
Sebelum melakukan pengamatan objek dengan menggunakan mikroskop, perlu
dipersiapkan terlebih dahulu preparat atau sediaan objek yang akan diamati. Menurut
Ekosari, dkk (2011), berdasarkan tingkat keawetannya, preparat dibagi menjadi tiga,
yaitu preparat sementara/ segar, preparat semi permanen, dan preparat awetan.
Sedangkan berdasarkan metode pembuatannya dibedakan menjadi whole mount/ utuh,
smear/ apus, squash, section dan marserasi. Untuk membuat preparat tersebut
digunakan teknik cara pembuatan preparat secara ikroskopis yang disebut dengan
mikroteknik.
Menurut Amar (2008), mikroteknik adalah ilmu yang akan mempelajari
metode/prosedur pembuatan preparat mikroskopik. Mikroteknik merupakan teknik
pembuatan sediaan atau preparat secara mikroskopis, tentunya pendekatan teoritis
tidaklah memadai untuk memahami secara menyeluruh mengenai Mikroteknik, sebab
yang namanya teknik lebih menekankan pemahaman pada wilayah aplikatifnya
meskipun pada dasarnya landasan teoritis juga diperlukan dalam rangka memberikan
beberapa petunjuk yang harus dilalui agar proses pembuatan sediaan sesuai dengan
prosedural kerja dan alasan penggunaan ataupun pemilihan bahan yang akan digunakan
dalam pembuatan sediaan Mikroskopis.
2. Metode Mikroteknik
a. Metode Whole Mounts
Metode Whole mounts sering disebut dengan metode sedian utuh. Hal ini
dikarenakan dalam penggunaan metode ini, dipersiapkan sediaan yang terdiri atas
keseluruhan organisme (baik hewan maupun tumhuhan) secara utuh. spesimen
kultur, organ, maupun bagian organ, embrio, sel telur, spermatozoa ,potongan
syaraf,pembuluh darah, jenis-jenis selaput tipis dan sebagainya. Melalui metoda ini
diusahakan agar kita mendapat kesan bentuk aslinya dengan mempertahankan
format-format taga dimensinya. Yang menjadi pembatas adalah faktor ukuran,
ketabalan, serta tingkat transparansi sediaan yang kita buat tersebut yang berkaitan
dengan faktor pembesaran pengamatan melalui mikroskop nantinya (Gunarso,
1989).
Menurut (Joyner, 2008 dalam zaifbio (2010)), whole mounth merupakan
metode pembuatan preparat yang nantinya akan diamati dengan mikroskop tanpa
didahului adanya proses pemotongan. Jadi pada metode ini, preparat yang diamati
adalah preparat yang utuh baik itu berupa sel, jaringan, organ maupun individu.
Gambar yang dihasilkan oleh preparat whole mounth ini terlihat dalam wujud
utuhnya seperti ketika organisme tersebut masih hidup sehingga pengamatan yang
dapat dilakukan hanya terbatas terhadap morfologi secara umum saja. Metode
pembuatan preparat yang digunakan untuk pengamatan secara menyeluruh, artinya
mempelajari struktur vegetatif dan reproduktifnya tanpa melakukan penyayatan
terhadap tanaman tersebut karena metode ini menggunakan semua bagian tanaman
sebagai preparatnya. Tentu saja tanaman yang diamati haruslah berukuran kecil
sehingga dapat termuat pada objek glass. Sedangkan pada tanaman yang agak
besar bisa dilakukan pemangkasan agar menjadi lebih rapi dan kecil.
Metode whole mounth ini memiliki kelemahan dan kelebihan. Kelebihan
metode ini adalah dapat mengamati seluruh bagian tanaman dengan jelas tiap
bagian-bagiannya. Sedangkan kelemahannya adalah metode ini hanya bisa
dilakukan pada tanaman dengan ukuran yang kecil saja tidak bisa tanaman yang
besar sehingga metode ini perlu terus dikembangkan dengan melakukan berbagai
percobaan.
b. Metode Smear/ Apus
Yaitu dengan mengulaskan/ menggoreskan di atas obyek glass sehingga
mendapatkan selaput tipis. Contoh: pollen, darah, ulas vagina (untuk mengetahui
hewan bunting atau tidak), tumbuhan sekulen.
c. Metode Squash
Metode remasan banyak dikakukan untuk penyaiapan pengamatan
kromosom baik hewan maupun tumbuhan. Dengan metoda ini bahan diremas atau
dihancurkan sehingga masing-masing sel akan terlepas yang memudahkan
pengamatan selanjutnya. Jadi tujuan peremasan ini bukan berarti menghancurkan
sel-selnya, tapi masing-masing sel bebas terlepas satu sama lain dengan tetap
dipertahankan bentuk aslinya.
d. Metode Section
Cara pengerjaan melalui irisan atau sayatan ini dianggap sebagai teknik rutin
ataupun teknik bagi penyiapan spesimen histologi amaupun patologi. Tebal
tipisnya sayatan bergantung pada pengalaman serta tujuan penyiapan spesimen.
Tebal sayatan yang umum berkisar antara 6-15 mikron (1 mikron = 0,001 mm).
Ukura sayatan juga sangat bervariasi, mulai dari saytaan pembuluh darah yang
sangat kecil hingga sayatan otak. Ukuran sayatan biasanya terbatas pada ukuran
panjang lebar 2x3 cm karena ukuran yang demikian paling sesuai untuk direkapkan
pada kaca preparat yang umum digunakan. Tentu saja ukuran spesimen yang cukup
kecil akan mengjasilkan sayatan juga juga jauh lebih kecil dari ukuran sayatan
tersebut.
Pengirisan atau penyayatan umumnya dilakukan dengan bantuan mikrotom,
walau seringkali dilakukan penyayatan dengan tangan saja untuk jenis spesimen
seperti tulang, gigi ataupun benda-benda fosil seringkali diperlukan gergaji untuk
memotongnya. Mikrotom adalah jenis mesin khusus dirancang dan dipasarkan
untuk tujuan mikroteknik. Mesin tersebut dirancang sedemikian rupa sehingga
mampu untuk melakukan penyayatan sesuatu spesimen dengan ketebalan yang
sama atau paling kurang mendekati sama (Gunarso, 1989).
e. Metode Marserasi
Maserasi adalah suatu bentuk pembusukan buatan, dimana bagian-bagian
organisme tetentu menjadi lunak dan dihilangkan, sedangkan bagian-bagian lain
yang tahan terhadap larutan maserator akan tetap bertahan dan utuh. Misalnya
maserasi pada jaringan pengangkut tumbuhan, yaitu memisahkan sel-sel unsur
jaringan pengangkut, sehingga sel-sel pengangkutan terpisah satu terhadap yang
lain (Materi PTBK, 2004)
Selain metode-metode di atas, metode lain yang digunakan adalah sediaan uraian
(teasing), sediaan rentang (spreading preparation), dan sediaan supravital. Sediaan
teasing merupakan menguaraikan. Untuk dapat memisahkan komponen suatu jenis
jaringan maupun organ tisu atau jaringan diuraikan dengan menggunakan jarum
penguraian. Dengan demikian pengertian teasng ini berarti juga pembedahan dalam
skala kecil. Tingkatnya pada pembedahan biasa dan pembedahan mikro yang dilakukan
dengan menggunakan jarum pengurai. Teasing ini dilakukan pada jenis sediaan segar
yang telah difiksasi dan mengalami pewarnaan.
Secara umum jenis tisu yang bisa ditelaah melalui metode ulas ini adalah darah,
limfa, cairan sum-sum tulang belakang, semen janan, sediaan air seni, serta beberapa
lainnya. Masing-masing biasanya memerlukan teknik perlakuan tersendiri dalam
melakukan pengulasa atau penyebaran pada kaca preparat. Untuk jenis cairan yang
mengandung suspensi yang tinggi densitasnya umumnya dicairkan dengan air atau
serum darah dengan perbandingan 1 : 5 atau 1 : 10.
Selain sedian teasing, ada juga metode sediaan rentang. Pada metoda ini preparat
belum difiksasi, diperlakukan sedemikian rupa sehingga disamping jelas juga
mendekati keadaan aslinya dengan melalui perentangan. Jenis bahan siapan yang umum
direntang saat difiksasi adalah otot, syaraf, jenis jaringan tipis (selaput yang
membungkus jantung ,hate dan lain-lain).
Sedangkan meode lainnya adalah sediaan supravital. Selain jenis-jenis metoda
yang dimanfaatkan materi yang mengalami matian dan fiksasi. Untuk pengamatan sel-
sel darah yang masih hidup umumnya digunakan zat warna vital seperti Yanus green
atau Neutral red, karena sel darah mempunyai kemampuan untuk menghisap zat warna
pada konsentrasi yang sesuai. Bila kedua zat warna tersebut dipakai secara bersama-
sama maka memungkinkan kita untuk mengamati mitokondria. Hanya saja akan terjadi
perubahan yang sangat cepat pada sel, karena sel dapat mati oleh kedua warna tadi
secara bersamaan (Gunarso, 1989).
3. Struktur dan Fungsi Jaringan Hewan
Seperti halnya tumbuhan, tubuh hewan juga tersusun oleh sel-sel. Semua hewan
bersifat multiseluler dan hampir semuanya memiliki sel yang terorganisasi sebagai
jaringan. Jaringan terdiri dari sel-sel yang berinteraksi dan zat ekstraseluler yang
melakukan satu atau lebih fungsi terspesialisasi (Nugroho, 2004 : 103).
Setiap jaringan yang menyusun tubuh hewan tentunya memiliki struktur dan
karakteristik yang berbeda satu sama lain. Dimana struktur tersebut mendukung fungsi
jaringan tersebut dalam tubuh hewan. Jaringan yang menyusun tubuh hewan atau di
semua tubuh vertebrata dikelompokkan menjadi empat jaringan yaitu jaringan epitel,
jaringan ikat, jaringan otot dan jaringan saraf. Jaringan epitel menutup permukaan
tubuh dan melapisi rongga internal. Jaringan penghubung menggabungkan semua
bagian tubuh bersama dan membentuk stuktur penopang. Jaringan otot meggerakkan
tubuh dan bagiannya. Jaringan saraf mendeteksi stimulus dan meneruskan informasi.
a. Jaringan Epitel
Epitelium atau jaringan epitelial ialah lembaran sel yang menutupi
permukaan luar tubuh atau melapisi rongga intrnal. Suatu permukaan epitelium
berhadapan dengan lingkungan luar atau cairan tubuh. Matriks yang dihasilkan
(disekresikan) dikenal dengan membran dasar (Starr, 2012 : 125).
Jenis Jaringan Epitel

N Nama Epitelium Keterangan


o
1 Epitelium Skuamosa Epitelium ini tipis dan mudah
Sederhana ditembus, berfungsi dalam
pertukaran material melalui
difusi. Tipe epitelium ini
melapisi pembuluh darah,
alveolus.
2 Epitelium Skuamosa Epitelium ini bergenerasi dengan
Berlapis (berstrata) cepat melalui pembelahan sel.
Epitelium ini umum dijumpai
pada permukaan yang
mengalami abrasi, contohnya
pada kulit luar, esofagus, vagina.
3 Epitelium Kolumnar Epitel ini melapisi usus.
Sederhana Epitelium ini menyekresikan
getah pencernaan dan menyerap
nutrien.

4 Epitelium Kolumnar Bersilia Epitel ini membentuk membran


dan Berlapis Semu mukosa (mukus) yang melapisi
bagian saluran respirasi banyak
vertebrata.

5 Epitelium Kubus (Kuboid) Epitelium ini berbentuk seperti


Sederhana kumpulan dari dadu-dadu. Sel-
sel yang berbentuk dadu tersebut
terspesialisasi untuk sekresi.
Epitelium ini terdapat di tubulus
ginjal, kelenjar tiroid, dan
kelenjar ludah.
Gambar 1.1 Jenis-jenis epitelium
Sumber : Starr, 2008 : 8
Epithelial tissue specialized to produce and secrete. Various chemical is
called glandular epithelium. In addition to making up various gland, glandular
epthelia line the digestive tract and respiratory tube. Here they form a mucous
membrane, which secretes a slimy solution called mucus the lubricates the surface
and keep it moist (Campbell, 2006 : 416).
b. Jaringan Pengikat (Penghubung)

Gambar 1.2 Jaringan Ikat


Sumber : Campbell, 2006 : 857

Fungsi utama jaringan pengikat adalah untuk mengikat dan menopang


jaringan-jaringan yang lain. Berlawanan dengan jaringan epitel, jaringan pengikat
mempunyai kerapatan sel yang longgar dan sel-selnya tersebar diantara matriks-
matriks ekstraseluler. Matriks tersusun dari jaring-jaring serat yang diselubungi
oleh media dasar yang bisa berupa cairan, gel, ataupun padat (Nugroho, 2004 :
104).

Terdapat dua jenis jaringan pengikat yaitu jaringan pengikat lunak dan
jaringan pengikat terspesialisasi. Jaringan pengikat lunak dibedakan lagi menjadi
dua yaitu longgar dan padat. Keduanya memiliki komponen yang sama, tetapi
berbeda proporsi fibroblas dan serabut penyusunnya (Starr, 2012 : 126).

Jaringan pengikat yang tersusun oleh protein terbagi menjadi tiga macam
yaitu serat kolagen, serat elastis dan serat retikuler. Jaringan ikat utama pada
vertebrata adalah jaringan pengikat longgar, jaringan adipose, jaringan pengikat
fibrosa, kartilago, tulang, dan darah. Jaringan tulang, adipose, dan darah termasuk
dalam jaringan pengikat terspesialisasi. Masing-masing tipe jaringan mempunyai
struktur yang berhubungan dengan fungsinya (Nugroho, 2004 : 105).

Darah memiliki fungsi yang berbeda dengan jaringan ikat. Struktur jaringan
darah terdiri dari sel-sel darah dan juga cairan ekstraseluler disebut plasma. Sel
darah merah berbentuk bikonkaf berfungsi untuk mentranspor oksigen. Sel darah
putih terdiri dari beberapa macam yang berfungsi dalam pertahanan tubuh (Starr,
2012 : 128).

Jaringan tulang terdiri dari sel-sel pembentuk tulang yang disebut osteoblas.
Kalsium, magnesium, dan ion-ion fosfat berkombinasi menjadi mineral keras
dalam matriks. Struktur mikroskopik dari tulang manusia terdiri dari unit-unit
berulang yang disebut osteon. Jaringan tulang berinteraksi dengan otot berguna
dalam pergerakan tubuh (Campbell, 2008 : 9).

c. Jaringan Otot
Muscle tissue consist of bundles a long cell called muscle fibers and it the
most abundant tissue in most animals, within the cytoplasm of muscle fibers are
large number of contractils protein arranged in parralell. Geckos, birds, humans
and all other vertebrates have three types of muscle tissue (Campbell, 2006 : 418).
Ketiga tipe dari jaringan otot adalah sebagai berikut:
1. Otos Skeletal
Jaringan otot skeletal, pasangan fungsional tulang keras (atau tulang
rawan), berperan dalam pergerakan dan mempertahankan kedudukan tubuh
dan bagian tubuh. Jaringan otot rangka terdiri dari berkas-berkas sel panjang
atau serat otot. Susunan unit-unit kontraktil, atau sarkomer di sepanjang serat
otot menyebabkan sel terlihat belang-belang (lurik) (Starr, 2012 : 128).
2. Otot Jantung
Otot jantung terutama tersusun atas sel-sel lurik bernukleus tunggal.
Sifat-sifat otot jantung mirip dengan otot rangka. Akan tetapi, tidak seperti
otot rangka, otot jantung melakukan tugas tak sadar (Fried, 2006 : 274).
3. Otot Polos
Serabut-serabut otot polos bernukleus tunggal dan jauh lebih kecil
daripada serabut-serabut otot rangka. Sel-sel otot polos berbentuk gelendong.
Otot polos bekerja secara tidak sadar dan mampu berkontraksi dalam waktu
lama (Fried, 2006 : 274).

Skeletal Cardiac Smooth


Location Attached to Walls of heart Wall of stomach,
skeleton intestines, etc.
Type of control Voluntary Involuntary Involuntary
Shape of fibers Elongated, Elongated, Elongated, spindle
cylindrical, cylindrical, shaped, ponted ends
blunt ends fibers that
branch and fuse
Striations Present Present Absent
Number of Many One or two One
nuclei per fiber
Position of Peripheral Central Central
nuclei
Speed of Most rapid Intermediate Slowest
contraction (varier)
Resistance to Least Intermediate Greatest
fatigue (with
repetitive
contraction)

Gambar 1.3 Macam Jaringan Otot


Sumber : Nugroho, 2004 : 815
d. Jaringan Syaraf
Gambar 1.4 Jaringan Saraf
Sumber: Campbell, 2006 : 859
Jaringan saraf mengandung sel penyusun berupa sel yang mengandung sel
pemberi sinyal yang terspesialisasi disebut neuron dan sel yang menopangnya.
Neuron terdiri dari badan sel dan dua atau lebih penjuluran yang disebut dendrit
dan akson. Dendrit mentransmisikan sinyal-sinyal dari ujung ke seluruh bagian
neuron. Akson-akson seringkali terkumpul bersama menjadi saraf,
mentransmisikan sinyal-sinyal ke arah neuron lain (Campbell, 2008 : 10).
Sel yang menopang jaringan saraf disebut sebagai sel Neuroglia. Sel tersebut
menyusun komposisi tertentu jaringan saraf. Sel ini mempertahankan kedudukan
neuron dan menyusun dukungan metabolik. Lebih dari setengah volume otak kita
adalah Neuroglia (Starr, 2012 : 130).

D. Metodologi
1. Tempat dan Waktu Praktikum
a. Tempat : Laboratorium IPA 2, FMIPA UNY
b. Waktu : Selasa, 10 November 2015

2. Alat dan bahan

a. Mikroskop e. Cottonbud
b. Bahan pewarna eosin dan f. Alkohol
g. Kapas
giemsa
h. Pinset
c. Disposable syiringe
i. Silet
d. Object glass dan
j. Darah segar
penutupnya k. Jaringan epitel ayam
3. Langkah kerja
a. Preparat apus

Mengambil sampel probandus dari ujung jari tangan dengan menggunakan


disposable syiringe.

Meneteskan darah pada ujung gelas benda.

Meratakan darah dengan permukaan gelas benda dengan cara mendorong gelas
benda yang lain dengan membentuk sudut 45o (dengan cepat).

Menganginkan-anginkannya selama 15 menit.

Memfiksasi dengan metanol selama 5 menit.

Mewarnai dengan pewarna giemsa selama ± 30 menit.

Mencuci menggunakan air ledeng.

Mengamati di bawah mikroskop dimulai dari perbesaran lemah.

Mencatat komponen-komponen darah antara lain: eritrosit, leukosit, basofil, netrofil, dll.

b. Preparat rentang
Mengambil jarinagan epitel ayam dengan menggunakan pinset dan silet.

Meletakkan di atas meja benda dan merentangkannya.

Mengeringkannya dengan menganginkan-anginkannya.

Memfiksasi dengan metanol selama 5 menit.

Mencuci menggunakan alkohol 96% dan 90%.

Mewarnai dengan cara direndam dengan eosin selama 5 menit.

E. Data Hasil Pengamatan

Preparat Hasil pengamatan


Apus darah

Rentang

F. Pembahasan
Pada praktikum yang dilakukan pada hari Selasa tanggal 10 November 2015 yang
berjudul “Teknik Preparasi Jaringan Binatang” dengan tujuan mengetahui dan membuat
preparat apus, serta mengetahui dan membuat preparat rentang.
Adapun penjelasan lebih lanjutnya, ialah sebagai berikut :
1. Preparat Apus Darah
Sediaan apus darah dilakukan dengan menggunakan alat dan bahan darah
segar dari salah satu praktikan, disposable syiringe yaitu alat untuk menusuk ujung
jari, alcohol untuk mensterilisasi ujung jari yang akan ditusuk, cottonbud, kapas
yang diberi alcohol untuk mensterilkan ujung jari, object glass untuk meletakkan
tetesan darah, dan penutup object glass.
Pertama praktikan mengambil darah dari ujung jari tengah tangan kanan
menggunakan disposable syiringe. Kemudian meneteskan darah pada tetesan ketiga
untuk mendapatkan darah bersih, meratakan darah dengan menggunakan permukaan
gelas benda dengan cara mendorong gelas benda yang lain dengan membentuk sudut
450 dengan cepat dan apusan darah yang tidak terlalu tipis ataupun terlalu tebal
karena jika terlalu tebal maka saat pengamatan di bawah mikroskop akan terlihat
tidak jelas karena sel darah bertumpuk. Selanjutnya mengangin-anginkan selama 15
menit. Setelah mendapat sediaan yang bagus (tidak tebal dan tipis), maka
membiarkannya hingga kering, setelah itu meneteskan metanol ke atas sediaan
hingga bagian yang terlapisi darah tertutup semuanya dan membiarkannya selama 5
menit. Fungsi metanol adalah untuk memfiksasi darah sehingga darah tidak hilang
saat diamati. Selanjutnya sediaan ditetesi dengan giemsa selama 30 menit yang telah
diencerkan terlebih dahulu menggunakan bahan 10 ml giemsa, 80 ml akuades, dan
10 ml methanol. Bahan tersebut dicampur menjadi satu dalam gelas beaker. Fungsi
giemsa adalah untuk mewarnai darah sehingga mudah dibedakan dan dapat terlihat
jelas saat diamati. Waktu perendaman ini sebaiknya jangan terlalu lama karena darah
bisa tidak terlihat akibat pewarnaan yang terlalu pekat. Kemudian mencuci dengan
air ledeng. Selanjutnya setelah sediaan apus darah telah selesai, maka dilakukan
pengamatan dengan menggunakan mikroskop dimulai dengan perbesaran lemah,
setelah itu mencatat komponen-komponen darah yang terlihat.
Setelah menggunakan pembesaran 16X40, praktikan menemukan ukuran
eritrosit yang kecil , berbentuk bulat bikonkaf tidak berinti, dan berwarna ungu
bening. Warna ungu ini akibat pewarnaan dengan giemsa, sehingga warna darah
yang semula merah, setelah diamati di mikroskop berubah menjadi ungu. Hal ini
sesuai dengan Pearce.E,2003 yaitu eritrosit berbentuk cakram bikonkaf atau cakram
pipih, sel tidak berinti dan tidak punya organel seperti sel-sel lain. Eritrosit
berukuran sekitar 7,5µm dan bagian pusat lebih tipis dan lebih terang dari bagian
tepinya. Selain itu, eritrosit mengandung hemoglobin yang berfungsi untuk
mentransport O2 (Dikaamelia, 2008).
Menurut Frandson (1992), eritrosit merupakan diskus bikonkaf, bentuknya
bulat dengan lekukan pada sentralnya dan berdiameter 7,65 µm. Eritrosit terbungkus
dalam membran sel dengan permeabilitas tinggi. Membran ini elastis dan fleksibel,
sehingga memungkinkan eritrosit menembus kapiler (pembuluh darah terkecil).
Setiap eritrosit mengandung sekitar 300 juta molekul hemoglobin, sejenis pigmen
pernapasan yang mengikat oksigen. Volume hemoglobin mencapai sepertiga volume
sel.
Eritrosit merupakan sel yang paling banyak dibandingkan dengan 2 sel
lainnya, dalam keadaan normal mencapai hampir separuh dari volume darah. Sel
darah merah mengandung hemoglobin, yang memungkinkan sel darah merah
membawa oksigen dari paru-paru dan mengantarkannya ke seluruh jaringan tubuh.
Oksigen dipakai untuk membentuk energi bagi sel-sel, dengan bahan limbah berupa
karbon dioksida, yang akan diangkut oleh sel darah merah dari jaringan dan kembali
ke paru-paru.
Kemudian didapatkan beberapa jenis leukosit, namun praktikan tidak mampu
mengidentifikasinya apakah termasuk basofil, eosinofil, batang, neutrofil, limfosit
ataupun monosit. Hal tersebut karena keterbatasan perbesaran pada mikroskop yang
digunakan dan preparat tampak rapat, sel-selnya tidak dapat teramati dengan baik
karena bertumpuk, sehingga dapat dikatakan ketipisan apusan kurang baik. Sehingga
tidak dapat terlihat dengan jelas bentuk dari inti sel leukosit tersebut. Penggolongan
leukosit menjadi 5 macam merupakan penggolongan berdasarkan ukuran sel, bentuk
nukleus, dan ada tidaknya granula sitoplasma sehingga perlu pengamatan yang lebih
teliti dan perbesaran mikroskop yang baik.
Sel neutrofil memiliki granula kecil berwarna merah muda dalam
sitoplasmanya. Nukleusnya memiliki tiga sampai lima lobus yang terhubungkan
dengan benang kromatin tipis. Diameternya mencapai 9 µm samapai 12 µm. Sel
eosinofil memiliki granula sitoplasma yang kasar dan besar, dengan pewarnaan
oranye kemerahan. Sel ini memiliki nukleus berlobus dua, dan berdiameter 12 µm
sampai 15 µm. Berfungsi sebagai fagositik lemah. Sedangkan basofil memiliki
sejumlah granula sitoplasma besar yang bentuknya tidak beraturan dan akan
berwarna keunguan sampai hitam serta memperlihatkan nukleus berbentuk S.
diameternya sekitar 12 µm sampai 15 µm (Frandson,1992).
Untuk kelompok leukosit yang merupakan agranulosit yaitu lomfosit dan
monosit, diperoleh data menurut Pearce.E,2004 bahwa limfosit bergaris tengah 6-8
µm, 20-30% dari leukosit darah, memiliki inti yang relatif besar, bulat sedikit
cekung pada satu sisi. Sitoplasmanya sedikit dan kandungan basofilik dan
azurofiliknya sedikit (Efendi, 2003). Sedangkan monosit merupakan sel leukosit
yang besar 3-8% dari jumlah leukosit normal, diameter 9-10 um tapi pada sediaan
darah kering diameter mencapai 20 µm atau lebih. Inti biasanya eksentris, adanya
lekukan yang dalam berbentuk tapal kuda (Efendi, 2003).
Jenis sel darah putih yang paling banyak adalah netrofil dengan presentase
sebesar 50-70 %, sedangkan yang paling sedikit adalah basofil, yaitu 0,1-0,4 %.
Sedangkan trombosit yang teramati yaitu trombosit berukuran sangat kecil terlihat
seperti titik atau bercak yang berada di luar sel dan berwarna ungu. Hal ini sesuai
dengan teori yang menyebutkan bahwa trombosit adalah sel darah tak berinti,
berbentuk cakram dengan diameter 1 - 4 mikrometer dan volume 7 – 8 fl. Nilai
normal trombosit bervariasi sesuai metode yang dipakai. Jumlah trombosit normal
menurut Deacie adalah 150 – 400 x 109 / L. Bila dipakai metode Rees Ecker nilai
normal trombosit 140 – 340 x 109/ L, dengan menggunakan Coulter Counter harga
normal 150 – 350 x 109/L.
Dari ketiga macam sel darah yang teramati diperoleh persentasenya yaitu
eritrosit sebanyak 70% dari lapang pandang yang diamati, leukosit sebanyak 10%
dan trombosit sebanyak 20%. Berdasarkan Pearce.E,2003 juga disebutkan bahwa
persentase sel darah merah (eritrosit) pada tubuh merupakan yang paling besar.
Sedangkan leukosit memiliki jumlah yang lebih sedikit daripada sel eritrosit. Dalam
Frandson (1992), disebutkan bahwa jumlah eritrosit pada laki-laki sehat mencapai
4,2 hingga 5,5 juta sel per mm3 dan sekitar 3,2 hingga 5,2 juta per mm3 pada wanita
sehat, sedangkan jumlah normal leukosit adalah 7000 sampai 9000 per mm3 dan
trombosit berjumlah 250.000 sampai 400.000 per mm3. Hal tersebut sesuai dengan
hasil pengamatan yaitu jumlah eritrosit > trombosit > leukosit. Meskipun berjumlah
paling sedikit dari ketiga sel darah yang ada, fungsi leukosit pada tubuh sangat
penting, dimana dalam keadaan sakit atau terserang benda asing maka jumlah
leukosit dapat meningkat.
2. Preparat Rentang Jaringan Peritoneum Ayam
Pada kegiatan pembuatan preparat rentang jaringan peritoneum ayam
dilakukan dengan cara mengambil peritoneum ayam dengan menggunakan pinset
dan silet. Peritoneum adalah lembaran tipis kontinu jaringan, atau membran yang
melapisi rongga perut dan panggul, dan mencakup permukaan organ dalam. Menurut
Witmann dan Walker (1994), peritoneum merupakan selapis sel mesotelium
komplek dengan membran basalis yang ditopang oleh jaringan ikat yang kaya akan
pembuluh darah.
Jaringan peritoneum ayam yang diambil secukupnya, diletakkan diatas gelas
objek dan direntangkan setipis mungkin, kemudian dikeringkan dengan cara
diangin-anginkan. Menurut Rudiyatmi (2004), metode rentang (spread) adalah suatu
metode sediaan dengan cara merentangkan suatu jaringan pada gelas benda
sedemikian rupa sehingga dapat diamati dibawah mikroskop. Pada umumnya
jaringan-jaringan yang tipis, misalnya pleura, mesenterium, peritoneum,
plarachnoidea, pericardium,dll. Perentangan jaringan peritoneum ayam digunakan
untuk menentukan apakah jaringan penyusun organ hewan ini sudah tipis atau masih
tebal. Teknik perentangan jaringan pada gelas objek merupakan hal yang paling
penting dan berpengaruh karena, semakin tipis jaringan yang direntangkan, maka
semakin nampak jelas bagian yang akan diamati dibawah mikroskop.
Jaringan peritoneum ayam yang direntangkan diatas gelas objek, kemudian
difiksasi dengan methanol selama 5 menit. Jaringan peritoneum ayam merupakan
jaringan tipis yang dapat diamati langsung menggunakan mikroskop tanpa
pewarnaan dan tanpa difiksasi lebih dahulu, akan tetapi pembuatan sediaan rentang
dengan cara tersebut tentu saja tidak tahan lama, karena jaringan tidak difiksasi lebih
dulu. Oleh karena itu, fiksasi jaringan peritoneum ayam dengam methanol bertujuan
untuk membuat sediaan rentang yang dapat tahan lama dan dapat diamati sewaktu-
waktu oleh praktikan, sehingga sediaan tersebut harus difiksasi terlebih dahulu
sebelum diwarnai.
Jaringan peritoneum ayam yang telah difiksasi menggunakan methanol
kemudian dicuci dengan memasukannya ke alkohol 96%-90%-80%-70% atau dapat
disebut sebagai langkah mendehidrasi dengan alkohol bertingkat. Penggunaan
konsentrasi alkohol yang dilakukan secara bertahap dan bertingkat bertujuan agar
proses dehidrasi tidak terlalu cepat, karena pendehidrasian yang terlalu cepat dapat
mengakibatkan kerusakan jaringan.
Langkah berikutnya pada kegiatan ini yaitu mewarnai jaringan peritoneum
ayam dengan cara direndam menggunakan eosin selama 5 menit. Menurut Handari
(1983), zat warna yang dapat digunakan dalam membuat preparat ini antara lain
hematoxilin, eosin, dan methylen blue. Menurut Subowo (2002), pewarna eosin
dengan pelarut alkohol 70% sangat baik untuk mewarnai sitoplasma dengan warna
merah.
Setelah pembuatan preparat rentang peritoneum ayam selesai, praktikan
mengamatinya dibawah mikroskop. Berikut adalah gambar jaringan peritoneum
hasil pengamatan praktikan dengan gambar jaringan peritoneum berdasarkan
literatur yang praktikan dapatkan.

Gambar Hasil Pengamatan Gambar Literatur

Gambar jaringan peritoneum Gambar jaringan peritoneum


Sumber : Dokumentasi praktikan Sumber : plus.google.com

Berdasarkan gambar diatas, bagian dalam dari jaringan tersebut yang terlihat
ialah sel mesenkim (mast cell) dan sitoplasma. Menurut Jonathan (2002), “Mast
Cell” adalah sel yang pertama kali diakui oleh Ehrlich pada tahun 1879 karena
dianggap sebagai sel besar yang penuh dengan manik-manik. Bentuknya biasanya
bulat telur sel dengan inti bulat ditengah. Seperti yang terlihat pada gambar diatas,
sel mesenkim tersebut berbentuk bulat. Pewarnaan eosin pada percobaan ini
membantu bagian dalam jaringan peritoneum terlihat dengan jelas saat diamati
dibawah mikroskop dengan perbesaran 16x40, karena pewarna eosin pada percobaan
ini digunakan untuk mewarnai sitoplasma.
Hasil percobaan yang didapat praktikan belum sesuai dengan literatur. Karena
menurut literatur seperti pada gambar literatur yang ditunjukan diatas selain adanya
sel mesenkim (mast cell) dan sitoplasma, pada jaringan peritoneum juga akan
terlihat adanya serat kolagen dan serat fibrosa. Hal tersebut dapat terjadi
dikarenakan, jaringan hewan yang digunakan pada percobaan ini yaitu ayam.
Jaringan tersebut diambil setelah hewan dimatikan dalam jangka waktu yang agak
lama, sehingga sel atau jaringan tubuh sudah banyak yang berubah, hal ini akan
mempengaruhi hasil pengamatan praktikan.

G. Kesimpulan
Berdasarkan data hasil pengamatan, dapat disimpulkan bahwa :
1. Cara membuat preparat apus darah dan mengamatinya menggunakan mikroskop
a. Cara membuat preparat apus darah
1) Mengambil darah dari ujung jari tengah tangan kanan menggunakan
disposable syiringe.
2) Meneteskan darah pada tetesan ketiga untuk mendapatkan darah bersih,
meratakan darah dengan menggunakan permukaan gelas benda dengan cara
mendorong gelas benda yang lain dengan membentuk sudut 450 dengan
cepat
3) Mengangin-anginkan selama 15 menit dan membiarkannya hingga kering
4) Meneteskan metanol ke atas sediaan hingga bagian yang terlapisi darah
tertutup semuanya dan membiarkannya selama 5 menit.
5) Menetesi sediaan dengan giemsa selama 30 menit yang telah diencerkan
terlebih dahulu
6) Mencuci dengan air ledeng.
7) Mengamati dengan menggunakan mikroskop
8) Mencatat komponen-komponen darah yang terlihat.
b. Struktur anatomi darah
1) Eritrosit
2) Leukosit
3) Trombosit
2. Cara membuat preparat rentang dan mengamatinya menggunakan mikroskop
a. Cara membuat preparat apus darah
1) Mengambil jarinagan epitel ayam dengan menggunakan pinset dan silet.
2) Meletakkan di atas meja benda dan merentangkannya
3) Mengeringkannya dengan menganginkan-anginkannya.
4) Memfiksasi dengan metanol selama 5 menit.
5) Memfiksasi dengan metanol selama 5 menit.
6) Mewarnai dengan cara direndam dengan eosin selama 5 menit.
b. Struktur anatomi peritoneum ayam
1) Sel mesenkim (mast cell)
2) Sitoplasma

H. Daftar Pustaka
.
Abun. 2006. “Protein dan Asam Amino Pada Unggas”. Bahan ajar nutrisi unggas
monogastrik. Jurusan nutrisi dan makanan ternak Fakultas peternakan : Universitas
Padjadjaran Jatinangor.
Amar. 2008. Materi Mikroteknik. Diakses dari
http://amar1286.multiply.com/journal/item/10 pada tanggal 14 November 2015.

Campbell, Neil A. 2008. Biologi Edisi Kedelapan Jilid 3. Jakarta: Erlangga.

Campbell, et al. 2006. International Edition Biology Concept and Connection

Fifth Edition. San Fransisco: Pearson: Education.

Ekosari, dkk. 2011. Buku Petunjuk Praktikum Pengelolaan dan Teknik Laboratorium.
Yogyakarta: FMIPA UNY.

Frandson, R.D. 1992. Anatomi dan Fisiologi Ternak Edisi ke-4. Yogyakarta: Gadjah Mada
University Press.

Fried, George H. dan George J. Hademenos. 2005. Biologi. Jakarta: Erlangga.

Gunarso, Wisnu. 1989. Bahan Pengajaran Mikroteknik. Bogor : DEPDIKBUD Institut


Pertanian Bogor.

Handari, S. Suntoro. 1983. Metode Pewarnaan. Jakarta: Bathara Karya Aksara

Jonathan, Charles. 2002. Histology. London: Hall Inc.

Nugroho, L Hartanto. 2004. Biologi Dasar. Jakarta: Erlangga.

Pearce, E.,2004. Anatomi dan Fisiologi Manusia untuk Paramedis. Jakarta : Gramedia
Pustaka Utama.

Rudyatmi, Eli. 2004. Bahan Ajar Mikroteknik. Semarang: Jurusan Biologi FMIPA
UNNES.

Starr, Cecie. 2012. Biologi Edisi 12 Buku 2. Jakarta: Salemba Teknika.

Subowo. 2002. Histologi Umum. Jakarta: Bumi Aksara.

Winarno, F.G. 1997. Pangan Gizi, Teknologi dan Konsumen. Jakarta: Gramedia Pustaka
Utama.
Wong, D.W.S. 1989. Mechanism and Theory in Food Chemistry. New York: Academic
Press.

Zaifbio. 2010. Preparat Wholemount Kutu Daun Bunga (Triboliun Confusum). Diakses
dari http://zaifbio.wordpress.com/category/mikroteknik/ pada tanggal 14
November 2015.
I. Lampiran

Gambar preparat apus darah Gambar preparat rentang


Sumber : Dokumentasi praktikan Sumber : Dokumentasi Praktikan

Gambar alat-alat Gambar mikroskop


Sumber : Dokumentasi praktikan Sumber : Dokumentasi Praktikan

Gambar proses pembuatan preparat Gambar proses pembuatan preparat


Sumber : Dokumentasi praktikan Sumber : Dokumentasi Praktikan