Anda di halaman 1dari 18

IDEOLOGI ARSITEKTUR KISHO KUROKAWA

Oleh Fattah Jamaluddin (167020016) USU

Kisho Kurokawa (8 April 1934 – 12 Oktober 2007)

- Memperoleh gelar sarjana arsitektur pada tahun 1957 di Universitas Kyoto


- Memperoleh gelar master pada tahun 1959 dibawah bimbingan Kenzo Tange
- Memperoleh gelar Honorary Doctorate of Architecture pada tahun 2002 oleh Universitas
Putra Malaysia

Pada tahun 1959, Kurokawa menulis sebuah essai berjudul “From the Age of the
Machine to the Age of Life”. Ketika Kurokawa belajar di bawah bimbingan Professor Kenzo
Tange. Dia melihat surat dari Le Corbusier yang ditujukan untuk Professor Kenzo Tange. Isi
surat tersebut yaitu sketsa seorang anak yang berdiri di atas bahu orang dewasa, dan pesan
“Untuk generasi berikutnya”. Kejadian ini mengejutkan Kurokawa, tepat disaat dia akan
mulai berpraktik arsitektur dan membuatnya berpikir apabila zaman sekarang telah usai,
seperti apakah zaman yang akan datang?
Le Corbusier mengatakan “Rumah adalah mesin untuk hidup”. Sergei Eisenstein,
direktor film, mengatakan “Bioskop adalah mesin”. Marinetti, futuris Italia, mengatakan
“Puisi adalah mesin”. Pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa zaman tersebut adalah
“Age of the Machine” atau Zaman Mesin.
Tanpa tahu zaman apa yang akan datang di masa depan, Kurokawa berpikir untuk
terus bergerak maju tanpa memperdulikan apa yang akan terjadi di masa depan. Sehingga dia
menciptakan frasa “From the Age of the Machine to the Age of Life.”
Pada saat Kurokawa belajar di Sekolah Tokai di Nagoya, Kepala sekolah tersebut
adalah Dr. Benkyo Shioo, seorang professor Filosofi Buddhist dan pemimpin Kuil Shiba
Zojoji di Tokyo. Professor Shioo mendirikan Grup Buddhist Tomo-iki (Simbiosis) pada
tahun 1922. Kurokawa tidak terlalu tertarik pada ajaran Buddha pada saat ini (Sekolah
Tokai).
Kurokawa yang sedang belajar arsitektur di Universitas Kyoto, merasa perlu untuk
mendalami ajaran Buddha sebagai representasi budaya Jepang untuk mempelajari arsitektur
Jepang tradisional. Pada saat inilah Kurokawa diperkenalkan lagi dengan ajaran Buddha
Tomo-iki (Simbiosis), dan mempelajari ajaran Professor Hajime Nakamura “The Ways of
Thinking of Eastern Peoples.” Kurokawa menjumpai Filosofi Kesadaran dari ajaran Buddha
India ketika menelusuri akar ajaran Buddha.
Pada era Meiji (Sistem Kekaisaran Jepang menggantikan Keshogunan Tokugawa),
ilmu pengetahuan di Jepang telah berubah menjadi perkenalan terhadap ilmu pengetahuan
Barat dan terus berlanjut setelah Perang Dunia II. Kurokawa menyaksikan pembakaran kota
IDEOLOGI ARSITEKTUR KISHO KUROKAWA
Oleh Fattah Jamaluddin (167020016) USU

Tokyo, Nagoya dan kota besar lainnya di Jepang dan merasa hal itu sebagai “Penolakan
terhadap Budaya Jepang” dan “Penolakan terhadap Pemikiran Timur”.
Keinginan kuat Kurokawa untuk kuliah di Universitas Kyoto di kota Kyoto, yang
luput dari sasaran pembakaran ketika perang, dan ketertarikan yang mendalam akan ilmu
pengetahuan Timur (termasuk ajaran Buddha) merupakan reaksi atas pengalamannya ketika
perang dan ketergantungan atas Amerika Serikat dan Eropa setelah perang. Hal ini
merupakan tonggak utama ideologi Kurokawa dari awal karir hingga akhir karirnya.
Kurokawa fokus terhadap gerakan avant-garde pada awal abad ke-20, seperti gerakan
avant-garde Rusia dan gerakan Italian Futurist, dan juga strukturalisme Levi-Strauss.
Avant-Garde Rusia (1896-1930) merupakan gerakan seni baru di Rusia seperti
Impresionisme, Simbolisme, Fauvisme, dan Kubisme. Gerakan ini melahirkan arsitektur
Konstruksifisme, sebuah aliran arsitektur Modern yang menggabungkan teknologi mutakhir
dengan tujuan sosial Komunis secara terus terang.
Italian Futurisme (1909) merupakan gerakan avant-garde di Milan yang diprakarsai
oleh Filippo Tommaso Marinetti. Gerakan ini mengagumi kecepatan, teknologi, kaum muda,
kekerasan, mobil, pesawat dan kota industry, segala sesuatu yang merepresentasikan
keberhasilan manusia atas alam. Para kaum Futurisme tidak menginginkan segala sesuatu
dari masa lalu.

I. Gerakan Metabolisme

Pada tahun 1959, pada saat penulisan essai “From the Age of the Machine to the Age
of Life” juga merupakan tahap persiapan untuk World Design Conference tahun 1960. Suatu
konferensi skala internasional pertama dimana arsitek, penata kota, desainer industri, desainer
grafis, kritikus dan spesialis lain dari berbagai bidang akan berkumpul di Jepang.
Grup Metabolisme terbentuk ketika proses membantu Sekretaris Jendral, Professor
Takashi Asada, salah satu anggota komite persiapan. “Proposal for City Planning” yang
didasari oleh teori metabolisme dipamerkan di World Design Conference, dan selanjutnya
gerakan metabolisme dikenal dunia sebagai gerakan avant-garde dari Jepang.
Kurokawa terpilih untuk membantu Professor Takashi karena baru mengikuti
konferensi murid internasional di Uni Soviet dan juga murid Teori Arsitektur Marxist, Uzo
Nishiyama. Grup Metabolisme terdiri dari Kisho Kurokawa, Kikutake Kiyonori, Maki
Fumihiko.
Louis Kahn menghadiri World Design Conference dan memberi materi pada tanggal
13 Mei. Kahn diundang ke Sky House Kikutake (Gambar 1) dan terlibat dalam percakapan
IDEOLOGI ARSITEKTUR KISHO KUROKAWA
Oleh Fattah Jamaluddin (167020016) USU

yang panjang dengan arsitek-arsitek Jepang termasuk para pencetus metabolisme. Kahn
menjelaskan pendekatan dasarnya dalam desain dan menggunakan contoh Richard Medical
Research laboratory dimana sebuah solusi desain dapat ditemukan dengan pemikiran baru
tentang sebuah ruang dan gerakan.

Gambar 1. Sky House oleh Kikutake Kiyonori


Kata Metabolisme berasal dari bahasa Jepang “shinchintaisha” yang artinya
pembaharuan sel atau regenerasi (secara biologi). Dalam arsitektur berarti menggantikan
yang lama dengan yang baru, grup metabolisme ini menafsirkan lebih jauh menjadi
pembaharuan yang berkelanjutan dan pertumbuhan kota secara organik. Karena akan
dipresentasikan dalam konferensi dunia, maka diartikan ke dalam Bahasa Inggris yang
artinya Metabolism.
Konsep metabolisme ini sangat erat kaitannya dengan ajaran Buddha yaitu konsep
reinkarnasi. Adaptasi kata metabolisme ini mengandung konotasi dari dunia sains dan juga
budaya Jepang.
Pada World Design Conference 1960, grup ini memaparkan manifesto Metabolism :
The Proposals for New Urbanism. Kata pembuka dalam manifesto ini :
Metabolism is the name of the group, in which each member proposes further designs
of our coming world through his concrete designs and illustrations. We regard human society
as a vital process – a continuous development from atom to nebula. The reason why we use
such a biological word, metabolism, is that we believe design and technology should be a
denotation of human society. We are not going to accept metabolism as a natural process,
but try to encourage active metabolic development of our society through our proposals
IDEOLOGI ARSITEKTUR KISHO KUROKAWA
Oleh Fattah Jamaluddin (167020016) USU

Grup metabolisme menganggap bahwa reorganisasi hubungan antara masyarakat dan


individu sangat penting. Perencanaan yang baik akan membuat orang-orang bebas.
Pemecahan sebuah kota menjadi sel-sel merupakan sebuah kritik dari struktur keluarga
patrialis dan memperkuat posisi seorang individu dalam masyarakat Jepang.
Metabolisme menciptakan konsep regenerasi budaya Jepang setelah penghancuran
dan pembinasaan akibat bom atom. Jepang sebagai ground-zero dimana sebuah tempat
kelahiran budaya yang regenerasi dari roh budaya Jepang.

I.1 Agricultural City (1960)

Gambar 2. Ilustrasi oleh Morinaga Yoh


Sebuah konsep desain metabolisme, desain kota agrikultur untuk menggantikan kota
agrikultur di Aichi yang hancur oleh bencana angina topan pada tahun 1959. Pertumbuhan
alami kota agrikultur terbentuk oleh sistem jalan grid yang dibawahnya terdapat jalur utilitas.
Dengan masing-masing unit persegi yang terdiri dari beberapa rumah tangga dapat berdiri
sendiri, dan terhubungnya unit-unit ini bersama-sama menciptakan sebuah desa. Unit ini
berkembang secara spontan tanpa hirarki. Secara bertahap membuat desa menjadi seperti
pemukiman desa tradisional yang berkembang sepanjang sejarah Jepang.
IDEOLOGI ARSITEKTUR KISHO KUROKAWA
Oleh Fattah Jamaluddin (167020016) USU

Gambar 3. Gambar Konsep Agricultural City (kiri) dan Maket Konsep Agricultural City
(kanan)
Aturan dasar sebuah area desa di Jepang adalah 500x500m mengelilingi kuil dan
sekolah. Jalan, pipa air, listrik, monorail untuk kerja dan fasilitas servis lainnya dipasang 4m
diatas tanah.. Grid 500x500m digunakan sebagai dasar pembagian komunitas. Terdiri atas 25
unit blok 100x100m untuk 200 orang.

Gambar 4. Sebuah desa dibagi dalam grid 500x500m


Bentuk dasar unit rumah yaitu bentuk jamur, sebuah bangunan tiga lantai dengan atap
aluminium rangka kayu. Rumah jamur ini memiliki shaft konkrit sebagai tempat tinggal dan
fasilitas lainnya. Air, listrik dan gas disediakan sebagai fasilitas kota. Shaft service berada di
tengah struktur dimana terdapat kamar mandi, dapur, wastafel, dan lain-lain.
IDEOLOGI ARSITEKTUR KISHO KUROKAWA
Oleh Fattah Jamaluddin (167020016) USU

I.2 Nakagin Capsule Tower (1972)

Gambar 5. Marine City oleh Kikutake Kiyonori


Kikutake Kiyonori mendesain konsep Marine City pada tahun 1959, dan konsep ini
dipamerkan ke publik bersamaan dengan publikasi Metabolisme. Marine City adalah sebuah
mega struktur kota semi mengapung di lautan sebagai tempat baru masyarakat.
Dalam mega struktur kota ini, kikutake mendesain beberapa tower silinder (Gambar
6). Dimana setiap tower memiliki satu silinder dan unit tempat tinggal dipasang pada silinder
tersebut dan menghadap ke dalam void di tengah silinder tersebut.

Gambar 6. Tower Silinder desain Kikutake Kiyonori


IDEOLOGI ARSITEKTUR KISHO KUROKAWA
Oleh Fattah Jamaluddin (167020016) USU

Berbeda dengan Kikutake yang tidak mendapat kesempatan untuk merealisasikan


konsep Marine City, Kurokawa mendapat kesempatan mendesain bangunan mix-used
residential dan kantor. Dia menggunakan konsep dasar yang sama dengan tower rancangan
Kikutake di Marine City dan Plug-In City oleh Archigram.
Archigram menciptakan konsep Plug-In City pada tahun 1964, menunjukkan
pendekatan baru yang sangat menarik atas urbanisme, membalikkan persepsi kuno tentang
peran infrastruktur di dalam kota.
Plug-In City dirancang untuk mendorong perubahan melalui keusangan, setiap
bangunan yang menjorok keluar dapat dilepas, dan jalur crane permanen memfasilitasi
pembangunan kembali.

Gambar 7. Konsep desain tower pada Plug-In City


IDEOLOGI ARSITEKTUR KISHO KUROKAWA
Oleh Fattah Jamaluddin (167020016) USU

Gambar 8. Nakagin Capsule Tower tahun 1970an


Nakagin Capsule Tower adalah desain arsitektur berbentuk kapsul pertama yang
dibangun. Pembentukan kapsul sebagai suatu ruang dan pemasangan kapsul ke dalam
struktur, mengungkapkan pemahaman yang mendalam atas karya arsitek-arsitek lain dari
tahun 1960-an, khususnya Archigram, Paul Memon dan Yona Friedman.
Nakagin Capsule Tower berusaha menjawab tantangan dalam masalah apakah
produksi massal dapat mengekspresikan kualitas baru yang beragam. Bangunan ini juga
berusaha untuk membangun ruang bagi individu sebagai kritik terhadap Jepang yang
dimodernisasi tanpa pembentukan diri sendiri.
Modul kapsul diciptakan untuk memenuhi kebutuhan tempat tinggal para pengusaha
komuter yang bekerja di pusat kota Tokyo ketika hari kerja. Kapsulnya diproduksi di pabrik
dan dibawa ke site dengan kontainer. Kemudian dipasang ke struktur dengan menggunakan
crane.
Ada 140 kapsul dipasang dan berputar pada sudut yang berbeda pada inti bangunan
setinggi 14 lantai. Teknologi yang didesain oleh Kurokawa membuat setiap kapsul dapat
dipasang pada inti banngunan hanya dengan 4 buah baut high-tension.

Gambar 9. Kapsul di Nakagin Capsule Tower


Masing-masing kapsul berukuran 4x2.5m, ruang yang cukup untuk tempat tinggal 1
orang. Interior setiap kapsul dapat diubah dengan menghubungkannya dengan kapsul lain. Di
dalam kapsul terdapat jendela bulat, tempat tidur, kamar mandi, TV, radio, dan jam. Kapsul
ini diangkat dengan crane.
Bangunan ini merupakan prototipe arsitektur berkelanjutan, dimana setiap modul
dapat dipasang ke inti bangunan dan dilepas atau diganti ketika diperlukan.
Bangunan yang merupakan ikon modern pada tahun 1970-an, sekarang dianggap
using oleh beberapa orang, dan bahkan dianggap sebagai ide yang buruk. (Gambar 10) Meski
demikian, pembaharuan yang disarankan oleh Kurokawa bisa menghidupkan kembali
IDEOLOGI ARSITEKTUR KISHO KUROKAWA
Oleh Fattah Jamaluddin (167020016) USU

gagasan lama bahwa konsep bangunan tersebut adalah berkelanjutan. Ide pembongkaran dan
pembaharuan merupakan bagian dari ideologi Metabolisme.

Gambar 10. Nakagin Capsule Tower using dikelilingi bangunan baru

II. Simbiosis

Pada tahun 1960, Kurokawa menggabungkan konsep ajaran Buddha Tomo-Iki dengan
bahasa biologi “simbiosis” untuk menciptakan sebuah makna baru. Simbiosis berarti
hubungan saling menguntungkan, dibaliknya masih terdapat kompetisi dan kontradiksi. Hal
ini merupakan konsep baru dan berbeda dari gambaran-gambaran mengenai “harmoni”,
“koeksistensi”, “amalgamasi” dan “kompromi”.
Koeksistensi : keadaan hidup berdampingan secara damai antara dua Negara (Bangsa) atau lebih yang berbeda
atau bertentangan pandangan politiknya.
Amalgamasi : proses melarutnya logam dengan air raksa untuk membentuk amalgam.
Kompromi : persetujuan dengan jalan damai atau saling mengurangi tuntutan.
Latar belakang ideologi simbiosis oleh Kurokawa adalah runtuhnya kekuatan
kekaisaran Jepang, dan masyarakat yang terwesternisasi atau kebarat-baratan. Kurokawa
melakukan pengamatan terhadap periode Edo , dimana kota-kota penuh dengan unsur
budaya-budaya Jepang tetapi mampu menghadapi westernisasi. Pengembangan arsitektur
dimana terjadi simbiosis antara teknik membangun yang telah diwariskan secara turun-
temurun dengan teknik membangun baru.Salah satu karya simbiosis yang terjadi pada
periode Edo adalah hotel Tsukiji.
Kurokawa melakukan pengamatan terhadap periode Edo dengan media cetakan
woodblock. Menurut Kurokawa, periode Edo merupakan akar budaya Jepang murni dimana
IDEOLOGI ARSITEKTUR KISHO KUROKAWA
Oleh Fattah Jamaluddin (167020016) USU

tradisi seni Jepang yang bertahan sekarang seperti sado (seni minum the), ikebana (seni
merangkai bunga), drama Noh dan Kabuki, arsitektur Sukiya-zukuri.
Periode Edo :

1. Di kota Edo (Tokyo di periode Meiji) berkembang budaya popular Jepang seperti
sado, Kabuki, Noh, teater Joruri, arsitektur sukiya-style, dan seni origami dan
cetakan woodblock.
Dibandingkan dengan kota Tokyo sekarang, pada periode Edo tingkat kepadatan
orang jauh lebih tinggi. Ruang yang sangat padat akibat tingkat kepadatan orang
yang tinggi mengakibatkan manusia tidak dapat bebas membuka diri terhadap
dunia luar. Kondisi ini mendorong perubahan, konsentrasi dan penyempurnaan
internal yang menciptakan ekspresi dalam emosi manusia tentang cinta, rasa
memiliki, kewajiban dan perasaan; kepekaan terhadap perubahan empat musim;
dan rasa cinta terhadap tanaman dan hewan.
Pada perencanaan kota modern, tingkat kepadatan penduduk tinggi dianggap
jelek. Idealnya satu keluarga bermukim menyebar dengan tingkat kepadatan
rendah dengan taman yang luas dan penghijauan.
2.

Gambar 11. Hotel Tsukiji


Lengkungan gerbang Hotel Tsukiji menunjukkan arsitektur Islam. Bangunan ini
merupakan kombinasi dari unsur-unsur yang beragam seperti jendela bundar di menara, atap
bergaya barat, bingkai jendela berwarna merah, dinding plaster.
IDEOLOGI ARSITEKTUR KISHO KUROKAWA
Oleh Fattah Jamaluddin (167020016) USU

Menurut Kurokawa, ada suatu fenomena atau pergerakan ideology yang tar terlihat
antara filosofi logika dan sense. Fenomena inilah disebutnya simbiosis, gabungan antara 2 hal
yang berbeda.
Setelah 46 tahun berlalu, kata “simbiosis” digunakan di Jepang dan di seluruh dunia
dan merepresentasikan awal mula “simbiosis”. Kurokawa mengatakan bahwa akar filosofi
simbiosis adalah filosofi Consciousness Only (ajaran Buddha). Kurokawa sangat berambisi
dalam mempelajari filosofi Consciousness Only.
Sistem ilmu pengetahuan Barat tidak dapat dijelaskan tanpa dualism oleh Aristoteles,
Descartes dan Kant. Dualisme juga berperan didalam peradaban dan kehidupan modern
masyarakat Barat. Kurokawa berusaha menemukan sistem ilmu pengetahuan Timur.
Kurokawa menyampaikan hipotesa bahwa filosofi Consciousness-Only tidak membagi beda
menjadi dualisme atau sepasang yang berlawanan, tetapi mengekspresikan apakah sesuatu itu
ada atau tidak (Alaya Consciousness), yang merupakan sistem ilmu pengetahuan Timur.

Filosofi Consciousness Only dan Simbiosis


Dalam ajaran Buddha, filosofi consciousness-only adalah sebuah teori dimana sebuah
benda/wujud kehidupan merupakan suatu kesadaran, dan oleh karena itu tidak ada apa-apa
selain pikiran. Buddha menyatakan bahwa keberadaan diri yang absolut (atman) adalah ilusi
dan manusia tidak memiliki jiwa (anatman). Tetapi, karena adanya konsep reinkarnasi
(samsara), menyebabkan timbulnya pertanyaan “apabila manusia tidak memiliki jiwa, jadi
apakah yang mengalami reinkarnasi ?”
Keteraturan dan koherensi antara indra karena adanya persepsi alam bawah sadar yang
berkembang dari akumulasi persepsi-persepsi dari pengalaman sebelumnya. Alam bawah
sadar ini menghasilkan “benih”. “Benih” ini dimiliki oleh setiap makhluk hidup. Setiap
makhluk hidup memiliki sejumlah persepsi dan makhluk hidup yang sama akan
menghasilkan persepsi yang sama dalam waktu yang sama. Dunia ini tercipta ketika alam
bawah sadar (alaya) ditanami “benih”, yaitu efek dari perbuatan baik dan jahat.
Penjelasan manusia tidak memiliki jiwa (anatman) adalah manusia sebagai makhluk spiritual
yang memiliki pengalaman manusia, bukan manusia yang memiliki pengalaman spiritual.

II.1 Alaya Consciousness – Bukan Benda, Bukan Roh

Filosofi Consciousness Only merupakan suatu roh yang penting dalam ajaran Buddha
yang sangat melekat pada masyarakat Jepang . Kehadiran Buddha membawa perubahan besar
IDEOLOGI ARSITEKTUR KISHO KUROKAWA
Oleh Fattah Jamaluddin (167020016) USU

di India. Konsep samsara, atau reinkarnasi adalah konsep utama dari budaya India.
Reinkarnasi merupakan fenomena dimana kehidupan seseorang akan terus lahir dan mati di
dunia ini dalam waktu yang tidak terbatas. Kemudian konsep keberadaan diri yang absolut,
Atman, dan identitasnya dengan kebenaran tertinggi dalam kosmos atau Brahman.
Atman : filosofi hindu yang berarti kehidupan abadi. Atman ditakdirkan untuk melewati hidup demi hidup, dan
takdirnya ditentukan oleh baik atau jahat diri sendiri.

Gambar 12. Ilustrasi filosofi Konsep Transmigrasi Hindu


Buddha tidak mengakui keberadaan diri yang absolut. Buddha mengajarkan bahwa
tidak ada subjek yang berdiri sendiri, integral, tidak berubah, dan tidak dapat binasa. Semua
adalah rangkaian diri, lahir dan dipadamkan dari waktu ke waktu. Inilah ajaran Buddha
revolusioner anatman yang menyangkal keberadaan samsara sebagai entitas substansial.
Filsafat Consciousness Only mendamaikan gagasan menentang samsara dan
keberadaan diri yang absolut. Menurut folosofi ini, subjek yang migrasi bukan dirinya tetapi
kesadaran (Kesadaran Alaya). Kesadaran Alaya adalah bagian dari alam bawah sadar
manusia, sumber kemungkinan dan potensi yang tak habis-habisnya.
Kesadaran Alaya bukan hanya sumber semua materi tapi sumber dari semua roh.
Berbeda dengan pernyataan Descartes bahwa semua yang ada dapat dibagi menjadi materi
dan roh. Filsafat Consciousness Only mengajarkan bahwa materi dan roh sama sekali tidak
lebih dari manifestasi eksistensi makhluk hidup. Kurokawa melihat Kesadaran Alaya ini
mirip dengan DNA, sebuah kode kehidupan dan energi kehidupan.

II.2 Gook, Evil and the Intermediate, Neutral Zone

Awal mula ajaran Consciousness Only ditelusuri kembali oleh Nagarjuna. Sebelum
Nagarjuna, ada sekolah Buddha yang mendalami Prajnaparamita atau Sutra (Kitab ajaran
Buddha). Mereka sekarang disebut Madhyamikas atau orang-orang dengan pandangan
tengah. Filosofi mereka didasarkan pada konsep kekosongan (sunyata) yang diajarkan dalam
IDEOLOGI ARSITEKTUR KISHO KUROKAWA
Oleh Fattah Jamaluddin (167020016) USU

sutra Prajnaparamita. Semua fenomena tidak lebih dari nama konvensional. Karena nama
tidak memiliki keberadaan substansial, fenomena tersebut juga diidentifikasikan sebagai
substansi yang tidak memiliki eksistensi.
Nagarjuna mengartikulasikan sebuah pencapaian tertinggi dengan menolak
keberadaan dan ketidaksenangan yaitu mencapai Nirwana. Konsep utama filsafat
Consciousness Only, Alaya, dijelaskan dalam Sutra Sandhinimorcana sebagai kesadaran yang
tidak tercemarkan dan tidak berwujud yang mengandung semua benih.
Tidak seperti agama Kristen yang memiliki perbedaan jelas antara yang jahat dan
yang baik. Filsafat Consciousness Only mengakui tiga kategori, yang baik, jahat dan zona
netral (Zona diantara yang baik dan jahat). Kesadaran yang mengandung semua benih adalah
eksistensi seperti DNA, yang mengandung benih dari segala sesuatu.
Dalam ajaran Barat, manusia yakin bahwa kehidupan manusia hanya sekali, dan
merupakan hal yang paling penting di dunia, sesuatu yang bernilai terbesar. Dalam
kepercayaan itu, pandangan hidup dan mati secara dualism dapat dideteksi. Seperti
Modernisme yang telah meningkatkan ketakutan tersebut hingga tingkat tertinggi
Ajaran Buddha tentang ketidakkekalan tidak berarti bahwa semua sia-sia, ini
menunjukkan bahwa karena kesia-siaan itu manusia harus hidup bersimbiosis dalam siklus
kehidupan. Modernisme Barat telah mengajarkan bahwa kematian itu menakutkan dan neraka
menakutkan. Jadi manusia menyangkal kematian dan menjalani hidup dengan segenap
kekuatan kita.
Alaya dianggap sebagai suatu arus kontinuitas, namun dalam filsafat ortodoks Buddha dikatakan “Kosong”
atau tidak memiliki eksistensi substansial. Konsep Alaya adalah pengakuan proses yang terpisah dari substansi.

II.3 Menuju Era Simbiosis

Simbiosis dan metabolisme adalah kata kunci suatu prinsip kehidupan. Kata kunci
suatu ideology melahirkan berbagai macam kata kunci yang digunakan sebagai teknik desain
tertentu. Termasuk juga cluster, kota network, ruang jalan, struktur penghubung, ruang
semipublic, megastruktur, kota ring, dan eco-corridor.
Eco-Corridor : suatu area vegetasi yang digunakan oleh satwa liar dan berpotensi memungkinkan pergerakan
faktor-faktor biologis diantara dua daerah.
Ketika Kurokawa menulis essai “From the Age of the Machine to the Age of Life”,
Kurokawa mencoba untuk memahami perubahan zaman dalam 2 bagian, yaitu :

1. Pergesaran paradigma dalam arsitektur Modern, termasuk aspek sosial ekonomi


IDEOLOGI ARSITEKTUR KISHO KUROKAWA
Oleh Fattah Jamaluddin (167020016) USU

2. Pergeseran paradigma dalam sistem ilmu pengetahuan atau berbagai macam


akademik

Pada saat itu, arsitek-arsitek Modern telah kehabisan ide dan menghadapi masa
stagnan. Walter Gropius, Mies VDR, dan Le Corbusier yang melawan keagungan,
memberontak dari akademisi Beaux-Arts dan arsitektur-arsitektur lain. Dan berusaha untuk
membebaskan arsitektur dari suatu langgam dan dekorasi. Sehingga masyarakat modern
berjuang untuk diindustrialisasikan.
International Style yang mengarah pada universalitas, dan ruang universal Mies yang
akhirnya berakhir dengan industrialisasi karena produksi massal yang luar biasa
dimungkinkan dengan modal industri. Meninggalkan Le Corbusier dan arsitek-arsitek lain
dengan langgam ini tanpa pekerjaan.
International Style terlihat sangat sangat berkuasa pada zaman modern yang berusaha
menyetarakan semua tradisi, budaya dan agama yang berbeda di dunia. Pada International
Style, muncul “Place”. Munculnya identitas “Place” diakui Kurokawa sebagai nilai baru, era
simbiosis “Place” yang akan menggantikan penyetaraan oleh International Style. Kurokawa
menamakan simbiosis ini “International Cultural Style”. Nilai-nilai yang beragam hadir di
berbagai tempat dalam waktu yang sama di dunia, dan berbagai macam hal yang terjadi.
Pada tahun 1979, Kurokawa mengangkat tema utama “Japan and the Japanese” di
Aspen International Design Conference untuk mencari jalur simbiosis antara Amerika dan
Jepang. Konferensi ini tidak hanya pertemuan para arsitek dan desainer, tetapi para filsuf,
pengusaha, pemerintah, dan politikus juga berpartisipasi.
Beberapa subtema yang dipilih oleh Kurokawa yaitu Rice, Decision by Consensus,
Isolationism, The Hedge, The Verandah, The Bullet Train. Meskipun pada akhirnya
Kurokawa menggunakan bahasa Jepang dalam beberapa subjek diskusi seperti Kome, Ringi,
Sakkoku, dan lain-lain.
Kome : Beras; Ringi : Persetujuan; Sakkoku : komposisi
Pada diskusi subtema “Rice”, tercapai sebuah kesimpulan bahwa nasi di California
sudah seenak dengan Koshihikari Jepang. Tetapi juga mendiskusikan bahwa nasi di
California tidak memiliki elemen budaya ketika diproduksi di Jepang (Kerajinan masyarakat,
lagu-lagu rakyat, festival, pembuatan sake dan kehidupan pertanian)
Koshihikari adalah sebuah varietas beras yang terkenal di Jepang dan juga Australia dan Amerika Serikat.
Pada diskusi subtema “Isolationism”, muncul sebuah gagasan yaitu Jepang selama
periode Tokugawa (1600-1868) yang benar-benar terisolasi dari Negara-negara lain di dunia,
IDEOLOGI ARSITEKTUR KISHO KUROKAWA
Oleh Fattah Jamaluddin (167020016) USU

mungkin dapat dilihat bahwa Jepang melakukan semi isolasi secara dinamis. Meskipun dalam
perisolasian, Negara mampu secara aktif mengambil apa yang diperlukan dan menolak
sisanya.
Hasil dari Aspen International Design Conference menimbulkan pengaruh terhadap
partisipan Amerika maupun Jepang. Suatu pemahaman bahwa adanya kemungkinan untuk
membangun secara umum dimana budaya yang berbeda bertemu, selama mengenali
perbedaan masing-masing.
Simbiosis dapat dicapai dalam periode waktu tertentu dengan memberikan ruang
pengantara, ruang publik dan zona buffer diantara dua atau lebih elemen yang saling
berlawanan atau kontradiksi satu dengan yang lain.
Ruang pengantara ini telah didesain oleh Kurokawa sejak tahun 1960, yaitu proposal
jalan tradisional Shitamachi di pusat kota Tokyo yang memegang peran penting dari ruang
pengantara. Kemudian jalan yang dibangun didalam Nishijin Labor Center, dan teknik ini
digunakan juga pada Andersen Memorial Hall, gedung Daido Life Insurance Tokyo, dan
gedung Fukuoka Bank Head Office.

Gambar 13. Fukuoka Bank Head Office (1975)


Ruang publik yang besar terdapat dibawah overhang besar yang dimiliki oleh Bank
Fukuoka, tetapi bisa diakses oleh masyarakat. Menciptakan sebuah ruang penghubung
diantara ruang privat dan ruang publik. Ruang penghubung antara eksterior dan interior atau
IDEOLOGI ARSITEKTUR KISHO KUROKAWA
Oleh Fattah Jamaluddin (167020016) USU

antara ruang privat dan ruang luar ini merupakan akar budaya arsitektur tradisional Jepang
yaitu “engawa” (Beranda).
Menurut Kurokawa, aspek baru dalam arsitektur pada Age of Life adalah simbiosis
waktu yang merupakan simbiosis dari masa lalu, masa sekarang, dan masa depan. Konsep
menjelaskan bahwa yang ada sekarang berdasarkan proses perkembangan sejarah dan bahwa
saat ini adalah proses dinamis dimana pembangunan sedang berlangsung untuk menciptakan
masa depan.
Kurokawa banyak membuat sketsa kota-kota masa depan The Age of Life pada tahun
1960. Kota-kota ini di desentralisasi dengan void berupa taman di tengah kota dan kota-kota
ring dengan struktur lingkaran. Contohnya adalah cluster. Daripada memiliki pusat
pemerintahan dan administrasi di tengah kota, setiap cluster memiliki unit sebagai ruang
servis dan ruang public yang membentuk jaringan.
Sketsa-sketsa ini terealisasikan dalam kota baru Hishino dan Fujisawa, serta desain
berbentuk cincin pada Zhengdong New Town di Zhengdong, provinsi Henan, China pada
tahun 2006.

Gambar 14. Zhengdong New Town


Kota baru Zhengdong untuk menampung 1,5 juta orang didesain untuk menciptakan
kota Ring baru, sebuah kota Ring sebagai CBD Zhengdong. Dengan memperhatikan
hubungan eksisting diantara distrik kota Zhengzhou, Kurokawa mendesain multilevel ring
road untuk mengatasi lalu lintas yang padat di tengah. Desain ring road ini berdasarkan tema
metabolisme dan simbiosis dari gerakan metabolisme pada tahun 1960.
Kota Ring adalah sebuah unit cluster tanpa pusat, kota tanpa pusat dan didesain untuk
menyatu dengan zona ring bangunan high-rise. Pusat nya adalah void (taman) dan
dikategorikan menjadi 5 area tergantung pada fungsinya dan membentuk taman kota, hutan
pendidikan, taman tepi sungai, taman bermain, dan taman pusat (pinggir danau). Kurokawa
menanam lebih dari 200 varietas tanaman yang ada di provinsi Henan untuk melestarikan
IDEOLOGI ARSITEKTUR KISHO KUROKAWA
Oleh Fattah Jamaluddin (167020016) USU

pandangan dari bangunan bertingkat tinggi dan kota sekitarnya yang bertujuan untuk
mencapai kota yang bersimbiosis dengan alam.
Kota ini mewakili upaya panjang untuk mewujudkan tujuan dari kota-kota baru pada
Age of Life. Desa-desa eksisting, sungai-sungai, rawa-rawa dan area alami lainnya serta
tonggak historis dilestarikan. Hutan-hutan juga dibuat untuk menciptakan sebuah eco-
corridor dan sungai yang bagus. Kondisi alam yang diciptakan hari ini akan menjadi ruang
luar yang besar di masa depan, dan arsitektur dan kota-kota yang diciptakan akan menjadi
asset historis.
Kurokawa beranggapan sebagai seorang arsitek, ia diberikan tanggung jawab dan
kepercayaan bahwa arsitek harus melindungi bumi melalui proses pelestarian dan penciptaan.

III. Hubungan Simbiosis Kurokawa dengan Arsitektur Bali

Arsitektur Bali didasarkan pada metafisika yang menhadirkan alam semesta sebagai
kesatuan yang utuh, dimana setiap bagian memiliki tempat dalam eksistensi bagian-bagian
lain, dan microcosmos dilihat sebagai refleksi macrocosmos.
Ruang dengan orientasi, digabungkan dengan ideologi ritual suci dan kotor adalah
konsep utamanya, yang menyediakan batasan-batasan kosmologi untuk mempertahankan
harmoni antara manusia dengan alam semesta.
Pembagian kosmos tersebut dibagi menjadi tiga, yaitu Dunia bawah (buhr), dunia
tempat setan dan roh jahat; Dunia manusia (bhuwah); Surga (swah), tempat para dewa dan
nenek moyang
Dalam kehidupan masyarakat Bali, gunung merupakan daerah tersuci di pulau Bali
dimana tempat dilakukan kebanyakan pemujaan. Sedangkan laut digambarkan sebagai daerah
yang tidak suci, rumah bagi setan dan roh jahat. Daerah datar dan kaki gunung, dunia tengah,
merupakan daerah yang tepat untuk manusia.
IDEOLOGI ARSITEKTUR KISHO KUROKAWA
Oleh Fattah Jamaluddin (167020016) USU

Gambar 15. Orientasi masyarakat Bali terhadap Gunung


Arsitektur Bali dimediasi tidak hanya dengan ukuran tetapi dengan berbagai orientasi
spasial. Hal ini memastikan bahwa bangunan dan penghuninya diletakkan pada posisi yang
benar.
Ada 2 arah prinsip pada kosmologi masyarakat Bali, yaitu kaja dan kelod. Kaja
berarti menuju hulu atau menuju gunung, tempat tinggal para dewa. Sebaliknya kelod, berarti
menuju hilir atau menuju laut, yang dianggap tempat tinggal setan dan roh jahat.
Dalam penerapan filosofi Consciousness Only ajaran Buddha, Kurokawa
menciptakan ruang pengantara sebagai ruang yang menghubungkan ruang luar dan ruang
dalam atau ruang privat dan ruang publik. Dimana ruang pengantara ini merupakan ruang
kosong yang digunakan sebagai ruang publik.
Dalam arsitektur Bali, terdapat tiga tempat yaitu tempat suci, tempat roh jahat, dan
tempat manusia di tengahnya. Manusia memiliki tempat di antara dua tempat berlawanan
dalam kosmologi masyarakat Bali. Tipologi pulau Bali memiliki identitas yang sangat cocok
dengan filosofi kosmologi ini, dimana gunung di pulau Bali dianggap sebagai tempat tinggal
para dewa, kaki gunung atau dataran rendah dianggap sebagai tempat tinggal manusia, dan
laut yang dianggap sebagai tempat tinggal roh jahat.