Anda di halaman 1dari 23

Keterampilan Dasar Praktek Klinik 1

Laporan Observasi RSUD Kota Makassar

“HEMIPARESE POST NON HAEMORRAGIC STROKE”

Oleh:
Abruni Bram Emma Janet Pontoan
Alprida Patabang Endang Mien Mas’ud
Andi Astri Gabriela Intan Nggasi
Andi Sarfika Tri Astuti Halidadjiyah
Andika Agus Pratama Hasriani
Anita Harnindah
Asriani

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN MAKASSAR


JURUSAN D. IV FISIOTERAPI
2016

1
KATA PENGANTAR

Segala puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala rahmat,
hidayah dan nikmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul
“Laporan Observasi RSUD Kota Makassar, Hemiparese Post Non Haemmoragic
Stroke”. Makalah ini telah disusun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan dari
berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu penulis
menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang terlah berkontribusi
dalam pembuatan makalah ini. Terlepas dari semua itu, penulis menyadari bahwa
masih ada kekurangan dalam penulisan. Oleh karena itu kritik dan saran sangat penulis
harapkan dari pembaca agar penulis dapat memperbaiki makalah ini. Akhirnya, penulis
berharap bahwa makalah ini dapat memberikan kontribusi dalam mempertajam ilmu
dan pengetahuan para pembaca.

Makassar, November 2016

Penyusun

2
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ....................................................................................................................... 1


KATA PENGANTAR .................................................................................................................... 2
DAFTAR ISI................................................................................................................................... 3
BAB I PENDAHULUAN ............................................................................................................... 4
1.1 Latar Belakang ................................................................................................................... 4
1.2 Rumusan Masalah ............................................................................................................. 4
1.3 Tujuan .................................................................................................................................. 4
1.4 Manfaat ................................................................................................................................ 5
BAB II KAJIAN TEORI ................................................................................................................. 6
2.1 Pengertian ........................................................................................................................... 6
2.2 Anatomi Fisiologi Otak ...................................................................................................... 7
2.3 Patofisiologi....................................................................................................................... 11
2.4 Etiologi ............................................................................................................................... 11
2.5 Manifestasi Klinik ............................................................................................................. 11
2.6 Kajian Ilmiah Penatalaksanaan Fisioterapi .................................................................. 12
BAB III KAJIAN KASUS ............................................................................................................ 17
3.1 Data Medis Rumah Sakit ................................................................................................ 17
3.2 Observasi .......................................................................................................................... 17
3.3 Data Hasil Observasi ....................................................................................................... 17
3.4 Pemeriksaan Fungsi ........................................................................................................ 18
3.5 Diagnosis Fisioterapi ....................................................................................................... 18
3.6 Problematik Fisioterapi .................................................................................................... 19
3.7 Tujuan Fisioterapi............................................................................................................. 19
3.8 Rencana Fisioterapi ......................................................................................................... 19
3.9 Intervensi ........................................................................................................................... 19
3.10 Home Program ............................................................................................................... 20
3.11 Evaluasi ........................................................................................................................... 20
BAB IV PENUTUP...................................................................................................................... 22
4.1 Kesimpulan ....................................................................................................................... 22
4.2 Saran ................................................................................................................................. 22
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................................... 23

3
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Stroke atau disebut juga cerebro vascular accident (CVA) merupakan gangguan
neurologik mendadak yang terjadi akibat pembatasan atau terhentinya aliran darah
melalui sistem suplai arteri otak. Stroke dibagi menjadi dua jenis yaitu stroke
iskemik/stroke non hemoragik (SNH) akibat penyumbatan dan stroke hemoragik akibat
pecah pembuluh di otak (Wilson, 2005). Penyakit ini merupakan salah satu penyakit
yang prevalensinya tinggi di dunia, dimana stroke menempati urutan ketiga penyebab
kematian setelah penyakit jantung koroner dan kanker, bahkan di Indonesia stroke
menempati urutan teratas penyabab kematian di Indonesia diiringi oleh TBC dan
hipertensi (Riset Kesehatan Dasar tahun 2007).
Menurut data riset kesehatan dasar 2013, prevalensi stroke di Indonesia
berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan sebesar 7 per mil dan yang terdiagnosis
tenaga kesehatan atau gejala sebesar 12,1 per mil. Prevalensi Stroke berdasarkan
diagnosis nakes tertinggi di Sulawesi Utara (10,8‰), diikuti DI Yogyakarta (10,3‰),
Bangka Belitung dan DKI Jakarta masing-masing 9,7 per mil. Prevalensi Stroke
berdasarkan terdiagnosis nakes dan gejala tertinggi terdapat di Sulawesi Selatan
(17,9‰), DI Yogyakarta (16,9‰), Sulawesi Tengah (16,6‰), diikuti Jawa Timur sebesar
16 per mil.
Karakteristik dari pasien hemiparese post non hemoragik stroke yang kami
observasi adalah seorang wanita berumur 56 tahun yang datang ke fisioterapi dengan
menggunakan kursi roda di bantu oleh suaminya. Raut wajah pasien tampak sedikit
menahan sakit dan pasien kurang mampu menggerakkan lengan dan tungkainya
secara maksimal. Saat berdiri pasien masih perlu bantuan dan pada saat berjalan
pasien masih perlu di papah hal tersebut si lakukan unutk mengurangi resiko jatuh.

1.2 Rumusan Masalah


a) Apa yang dimaksud dengan hemiparese?
b) Bagaimana proses patologi hemiparese?
c) Apa saja problematik fisioterapi pada hemiparese?
d) Bagaimana planning fisioterapi pada hemiparese?
e) Bagaimana intervensi fisioterapi pada hemiparese?

1.3 Tujuan
a) Untuk mengetahui proses fisioterapi pada hemiparese karena non haemmoragic
stroke.
b) Untuk mengetahui diagnosis fisioterapi pada hemiparese.
c) Untuk mengetahui problematik fisioterapi pada hemiparese.

4
d) Untuk mengetahui planning fisioterapi pada hemiparese.
e) Untuk mengetahui intervensi fisioterapi pada hemiparese.

1.4 Manfaat
Untuk menambah wawasan pembaca tentang penatalaksanaan fisioterapi pada
pasien hemiparese karena non haemmoragic stroke.

5
BAB II
KAJIAN TEORI

2.1 Pengertian
Pada Stroke Non Haemoragik (SNH) adalah stroke yang disebabkan peredaran
darah ke sebagian jaringan otak terhenti karena sumbatan thrombus dan embolus yang
terlepas dari jantung atau arteri ekstrakranial (arteri yang berada di luar tengkorak) yang
menyebabkan sumbatan di satu atau beberapa arteri intracranial (arteri yang berada di
dalam tengkorak). Stadium recovery adalah stadium pada penderita stroke dimana
terjadi reabsorbsi oedema pada otak, sehingga terjadi penurunan proses desak ruang
akut yang ada didalam otak, 3 aktifitas reflek spinal sudah dapat berfungsi tetapi belum
mendapat kontrol dari sistem supraspinal, berlangsung sekitar 6-8 bulan setelah
terjadinya serangan stroke. Apabila fase ini diberikan penanganan yang baik maka
perbaikan kearah impairment masih dapat ditingkatkan. (Kuntono, 2002). Berdasarkan
perjalanan klinisnya, stroke non haemoragik dibagi menjadi 4, yaitu:
- Transient Ischemic Attack (TIA)
Merupakan serangan stroke sementara yang berlangsung kurang dari 24 jam.
- Reversible Ischemic Neurologic Deficit (RIND)
Merupakan gejala neurologis yang akan menghilang antara > 24 jam sampai
dengan 21 hari.
- Progressing stroke atau stroke in evolution
Merupakan kelainan atau defisit neurologis yang berlangsung secara bertahap
dari yang ringan sampai menjadi berat.
- Complete stroke atau stroke komplit
Merupakan kelainan neurologis yang sudah menetap dan tidak berkembang lagi
(Junaidi, 2006)

Hemiparesis berarti kelemahan pada satu sisi tubuh. Contohnya, pasien dapat
mengeluhkan kelemahan pada satu sisi tubuh yang mengarah pada lesi hemisfer
serebri kontralateral. Dalam mendiagnosis, harus dilakukan pertanyaan lebih lanjut dan
mendetil mengenai waktu terjadinya gejala sehingga dapat mengklarifikasikan
perjalanan patologis dari lesi ini. Hubungan antara waktu dengan penyebab
neuropatologis spesifik, dengan mengambil contoh lesi hemisfer serebri dengan gejala
kelemahan tubuh kontralateral:
- Onset yang cepat dan kejadian ikutan yang statis member kesan suatu kejadian
vascular (stroke), yaitu perdarahan atau infark.
- Suatu kejadian dengan progresi lambat lebih mengarah ke lesi berupa massa,
yaitu tumor.
- Kejadian yang berulang dengan pola remisi umumnya mengarah pada proses
inflamasi atau demielinisasi kronik, contohnya: sklerosis multiple.

6
2.2 Anatomi Fisiologi Otak
Otak adalah organ vital yang terdiri dari 100-200 milyar sel aktif yang saling
berhubungan dan bertanggung jawab atas fungsi mental dan intelektual kita. Otak
terdiri dari sel-sel otak yang disebut neuron (Leonard, 1998). Otak merupakan organ
yang sangat mudah beradaptasi meskipun neuron-neuron di otak mati tidak mengalami
regenerasi, kemampuan adaptif atau plastisitas pada otak dalam situasi tertentu
bagian-bagian otak dapat mengambil alih fungsi dari bagian-bagian yang rusak. Otak
sepertinya belajar kemampuan baru. Ini merupakan mekanisme paling penting yang
berperan dalam pemulihan stroke (Feigin, 2006).
Secara garis besar, sistem saraf dibagi menjadi 2, yaitu sistem saraf pusat dan
sistem saraf tepi. Sistem saraf pusat (SSP) terbentuk oleh otak dan medulla spinalis.
Sistem saraf disisi luar SSP disebut sistem saraf tepi (SST). Fungsi dari SST adalah
menghantarkan informasi bolak balik antara SSP dengan bagian tubuh lainnya (Noback
dkk, 2005).
Otak merupakan bagian utama dari sistem saraf, dengan komponen bagiannya
adalah:
1) Cerebrum
Cerebrum merupakan bagian otak yang terbesar yang terdiri dari sepasang
hemisfer kanan dan kiri dan tersusun dari korteks. Korteks ditandai dengan
sulkus (celah) dan girus (Ganong, 2003). Cerebrum dibagi menjadi beberapa
lobus, yaitu:
a. Lobus frontalis
Lobus frontalis berperan sebagai pusat fungsi intelektual yang lebih tinggi,
seperti kemampuan berpikir abstrak dan nalar, bicara (area broca di hemisfer
kiri), pusat penghidu, dan emosi. Bagian ini mengandung pusat pengontrolan
gerakan volunter di gyrus presentralis (area motorik primer) dan terdapat area
asosiasi motorik (area premotor). Pada lobus ini terdapat daerah broca yang
mengatur ekspresi bicara, lobus ini juga mengatur gerakan sadar, perilaku sosial,
berbicara, motivasi dan inisiatif (Purves dkk, 2004)
b. Lobus temporalis
Lobus temporalis temporalis mencakup bagian korteks serebrum yang berjalan
ke bawah dari fisura laterali dan sebelah posterior dari fisura parieto-oksipitalis.
(White, 2008). Lobus ini berfungsi untuk mengatur daya ingat verbal, visual,
pendengaran dan berperan dlm pembentukan dan perkembangan emosi.
c. Lobus parietalis
Lobus Parietalis merupakan daerah pusat kesadaran sensorik di gyrus
postsentralis (area sensorik primer) untuk rasa raba dan pendengaran (White,
2008).
d. Lobus oksipitalis

7
Lobus oksipitalis berfungsi untuk pusat penglihatan dan area asosiasi
penglihatan: menginterpretasi dan memproses rangsang penglihatan dari nervus
optikus dan mengasosiasikan rangsang ini dengan informasi saraf lain & memori
(White, 2008).
e. Lobus Limbik
Lobus limbik berfungsi untuk mengatur emosi manusia, memori emosi dan
bersama hipothalamus menimbulkan perubahan melalui pengendalian atas
susunan endokrin dan susunan otonom (White, 2008)

2) Cerebellum
Cerebellum adalah struktur kompleks yang mengandung lebih banyak neuron
dibandingkan otak secara keseluruhan. Memiliki peran koordinasi yang penting
dalam fungsi motorik yang didasarkan pada informasi somatosensori yang
diterima, inputnya 40 kali lebih banyak dibandingkan output. Cerebellum terdiri
dari tiga bagian fungsional yang berbeda yang menerima dan menyampaikan
informasi ke bagian lain dari sistem saraf pusat. Cerebellum merupakan pusat
koordinasi untuk keseimbangan dan tonus otot. Mengendalikan kontraksi otot-
otot volunter secara optimal. Bagian-bagian dari cerebellum adalah lobus
anterior, lobus medialis dan lobus fluccolonodularis (Purves, 2004).

8
3) Brainstem
Brainstem adalah batang otak, berfungsi untuk mengatur seluruh proses
kehidupan yang mendasar. Berhubungan dengan diensefalon diatasnya dan
medulla spinalis dibawahnya. Struktur-struktur fungsional batang otak yang
penting adalah jaras asenden dan desenden traktus longitudinalis antara medulla
spinalis dan bagian-bagian otak, anyaman sel saraf dan 12 pasang saraf cranial.
Secara garis besar brainstem terdiri dari tiga segmen, yaitu mesensefalon, pons
dan medulla oblongata.

Anatomi Peredaran Darah Otak


Darah mengangkut zat asam, makanan dan substansi lainnya yang diperlukan bagi
fungsi jaringan hidup yang baik. Kebutuhan otak sangat mendesak dan vital, sehingga
aliran darah yang konstan harus terus dipertahankan. Suplai darah arteri ke otak
merupakan suatu jalinan pembuluh-pembuluh darah yang bercabang-cabang,
berhubungan erat satu dengan yang lain sehingga dapat menjamin suplai darah yang
adekuat untuk sel.
1) Peredaran Darah Arteri
Suplai darah ini dijamin oleh dua pasang arteri, yaitu arteri vertebralis dan arteri
karotis interna, yang bercabang dan beranastosmosis membentuk circulus willisi.
Arteri karotis interna dan eksterna bercabang dari arteri karotis komunis yang
berakhir pada arteri serebri anterior dan arteri serebri medial. Di dekat akhir arteri
karotis interna, dari pembuluh darah ini keluar arteri communicans posterioryang
bersatu kearah kaudal dengan arteri serebri posterior. Arteri serebri anterior
saling berhubungan melalui arteri communicans anterior. Arteri vertebralis kiri
dan kanan berasal dari arteria subklavia sisi yang sama. Arteri subklavia kanan
merupakan cabang dari arteria inominata, sedangkan arteri subklavia kiri
merupakan cabang langsung dari aorta. Arteri vertebralis memasuki tengkorak
melalui foramen magnum, setinggi perbatasan pons dan medula oblongata.
Kedua arteri ini bersatu membentuk arteri basilaris.

9
2) Peredaran Darah Vena
Aliran darah vena dari otak terutama ke dalam sinus-sinus duramater, suatu
saluran pembuluh darah yang terdapat di dalam struktur duramater. Sinus-sinus
duramater tidak mempunyai katup dan sebagian besar berbentuk triangular.
Sebagian besar vena cortex superfisial mengalir ke dalam sinus longitudinalis
superior yang berada di medial. Dua buah vena cortex yang utama adalah vena
anastomotica magna yang mengalir ke dalam sinus longitudinalis superior dan
vena anastomotica parva yang mengalir ke dalam sinus transversus. Vena-vena
serebri profunda memperoleh aliran darah dari basal ganglia. (Wilson,et al.,
2002).

10
2.3 Patofisiologi
Otak sangat tergantung suplai darah dari luar, sehingga anatomi pembuluh darah
otak mempunyai struktur yang mendukung tetap tersedianya darah pada otak. Otak
mendapatkan suplai darah dari dua arteri utama yaitu arteri karotis (kanan-kiri),
menyalurkan darah ke otak bagian depan atau disebut sirkulasi arteri serebrum anterior
dan sistem vertebrobasilaris menyalurkan darah ke bagian belakang otak atau di sebut
sirkulasi arteri serebrum posterior (Feigin, 2006). Keempat cabang arteri ini akan
membentuk suatu hubungan yang disebut sirkulus willisi. Apabila terjadi gangguan
peredaran darah ke otak akan menimbulkan gangguan metabolisme sel-sel neuron.
Dimana sel-sel neuron itu tidak mampu untuk menyimpan glikogen. Oleh karena itu, di
susunan saraf pusat untuk keperluan metabolisme sepenuhnya tergantung dari glukosa
dan oksigen yang terdapat di arteri-arteri yang menuju otak. Maka hidup matinya sel-sel
neuron dalam susunan saraf pusat sepenuhnya tergantung dari peredaran darah arteri.

2.4 Etiologi
Stroke Non Haemoragik (SNH), dapat dibedakan menjadi stroke embolik dan
thrombolik. Pada stroke thrombolitik didapati oklusi di lumen arteri serebal oleh
thrombus. Pada stroke embolik penyumbatan disebabkan oleh suatu embolus yang
dapat bersumber pada arteri serebral, karotis interna vertebrobasiler, arkus aorta
asendens ataupun katup serta endokranium jantung. Ateroklerotik dan berulserasi, atau
gumpalan thrombus yang terjadi karena fibrilasi atrium, gumpalan kuman karena
endokarditis bacterial atau gumpalan darah di jaringan karena infrak mural. (Feigin,
2006).

2.5 Manifestasi Klinik


Pada gangguan aliran darah otak (stroke), gejala ditentukan oleh tempat perfusi
yang terganggu, yakni daerah yang disuplai oleh pembuluh darah tersebut.
Penyumbatan pada arteri serebri media yang sering terjadi menyebabkan kelemahan
otot dan spastisitas kontralateral serta defisit sensorik (hemianestesia) akibat kerusakan
girus lateral presentralis dan postsentralis. Akibat selanjutnya adalah deviasi ocular
(“deviation conjugee” akibat kerusakan area motorik penglihatan), hemianopsia (radiasi
optikus), gangguan bicara motorik dan sensorik (area bicara broca dan wernicke dari
hemisfer dominan), gangguan persepsi spasial, apraksia, hemineglect (lobus parietalis).
Penyumbatan arteri serebri anterior menyebabkan hemiparesis dan defisit sensorik
kontralateral (akibat kehilangan girus presentralis dan postsentralis bagian medial),
kesulitan berbicara (akibat kerusakan area motorik tambahan) serta apraksia pada
lengan kiri jika korpus kalosum anterior dan hubungan dari hemisfer dominan ke korteks
motorik kanan terganggu. Penyumbatan bilateral pada arteri serebri anterior
menyebabkan apatis karena kerusakan dari sistem limbic.

11
Penyumbatan arteri serebri posterior menyebabkan hemianopsia kontralateral
parsial (korteks parsial primer) dan kebutaan pada penyumbatan bilateral. Selain itu,
akan terjadi kehilangan memori (lobus temporalis bagian bawah).
Penyumbatan arteri karotis atau basilaris dapat menyebabkan defisit di daerah yang
disuplai oleh arteri serebri media dan anterior. Jika arteri koroid anterior tersumbat,
ganglia basalis (hipokinesia), kapsula interna (hemiparesis), dan traktus optikus
(hemianopsia) akan terkena.
Penyumbatan pada cabang arteri komunikans posterior di talamus terutama akan
menyebabkan defisit sensorik.
Penyumbatan total arteri basilaris menyebabkan paralisis semua ekstremitas
(tetraplegia) dan otot-otot mata serta koma. Penyumbatan pada cabang arteri basilaris
dapat menyebabkan infark pada serebelum, mesensefalon, pons, dan medula
oblongata. Efek yang ditimbulkan tergantung dari lokasi kerusakan:
- Pusing, nistagmus, hemiataksima (serebelum dan jaras aferennya, saraf
vestibular)
- Penyakit Parkinson (subtansia nigra), hemiplegia kontralateral dan tetraplegia
(traktus pyramidal).
- Hilangnya sensai nyeri dan suhu (hipestesia atau anesthesia) dibagian wajah
ipsilateral dan ektremitas kontralateral (saraf trigeminus [V] dan traktus
spinotalamikus).
- Hipakusis (hipestesia auditorik; saraf koklearis, ageusis (sasraf traktus salivarus),
singulatus (formasio retikularis).
- Ptosis, miosis, dan anhidrosis fasial ipsilateral (sindrom horner, pada kehilangan
persarafan simpatis).
- Paralisis palatum molle dan takikardia (saraf vagus [X]. paralisis otot lidah (saraf
hipoglosus [XII], mulut yang jatuh (saraf fasial [VII]), strabismus (saraf
okulomotorik [III], saraf abdusens [VII]).
- Paralisis pseudobulbar dengan paralisis otot secara menyeluruh (namun
kesadaran tetap di pertahankan).

2.6 Kajian Ilmiah Penatalaksanaan Fisioterapi


Pasien bernama Maria Lande (56 th, Pr) mengalami hemipharese sinistra akibat
stroke NHS yang di alami secara tiba- tiba saat sedang beraktivitas. Beliau sempat di
rawat inap di rumah sakit selama 2 minggu di RSUD KOTA Makassar. Setelah itu
pasien di rujuk ke poli Fisioterapi untuk pengobatan lebih lanjut. Pasien mengalami
kelemahan separuh badan sebelah kiri. Saat pertama kali datang ke Fisioterapi,
terdapat banyak problematik yang dialami pasien yaitu: keseimbangan dan koordinasi
terganggu, reaksi sensorik dan motorik terganggu, reaksi asosiasi terganggu, hilangnya
reflex serta gait analysisnya tidak normal. Hal ini menyebabkan pasien mengalami
kerterbatasan gerak fungsionalnya. Setelah 2 bulan di Fisioterapi, perlahan-lahan

12
problematik pasien berkurang yakni reaksi sensorik mulai membaik, begitupun dengan
reflex. Reaksi motorik juga mengalami sedikit peningkatan. Namun sebulan setelahnya
penyakit pasien kambuh, sehingga problematik kembali seperti awal. Pasien oleh
dokter di berikan obat-obatan. Selanjutnya kembali melakukan terapi.

- Pemeriksaan Fisioterapi
Adapun pemeriksaan- pemeriksaan yang di lakukan yaitu:
 Tes sensorik
- Tes Tajam Tumpul
- Tes Diskriminasi 2 titik
- Tes Rasa Sakit
- Tes Rasa Posisi

 Tes Motorik
- Reaksi Transfer
Pasien dalam posisi tidur terlentang, kedua tungkai pada hip dan knee
difleksikan, kedua tungkai ekstensi, instruksikan pasien untuk melakukan
gerakan miring ke kiri dan ke kanan.
- Reaksi Asosiasi
Pasien tidur terlentang, kemudian instruksikan pasien untuk menahan gerakan
Fisioterapis yakni fisioterapi mendorong shoulder pasien kearah bed. Kemudian
perhatikan pelvic pada sisi yang berlawanan. Jika pelvicnya bereaksi maka
hasilnya baik.
- Reaksi keseimbangan
Pasien dalam posisi tidur terlentang, kedua tungkai pada hip dan knee
diflexikan kemudian instruksikan pasien untuk mengangkat pantatnya.
Pasien diminta untuk berdiri, dan kedua kaki dirapatkan. Jika pasien dapat
mempertahankan posisinya maka hasilnya baik.
Berjalan sepanjang garis tertentu.
Berjalan kesamping, berjalan mundur.
Berjalan pada tumit atau jari- jari (berjinjit)

- Reaksi ADL
Amati pasien saat melakukan gerakan makan, minum, mengancing baju,
berdandan, toileting dan sebagainya.

 Tes Reflex
- Biceps
Fisioterapi memegang lengan pasien yang di semiflexikan sambil
menempatkan ibu jari di atas tendon m. Biceps, lalu ibu jari diketuk.

13
- Triceps
Fisioterapi memegang lengan bawah pasien yang di semiflexikan. Setelah itu,
ketuk pada tendon m. Triceps, yang berada sedikit di atas olekranon.
- APR
Tungkai bawah diflexikan sedikit, kemudian Fisioterapi memegang kaki pada
ujungnya untuk memberikan sikap dorsoflexi ringan pada kaki setelah itu tendon
Achilles di ketok.
- KPR
Tungkai diflexikan dan digantungkan, lalu ketok pada tendon m Quadriceps
Femoris (dibawah patella pada tuberositas tibia).

 Tes Kordinasi
- Finger to Finger
- Finger to nose
- Finger to mouth
- Heel to Knee

 Tes Kognitif
Pasien di tanya mengenai data pribadi.

 VAS
Untuk mengukur derajat nyeri dengan menggunakan skala yang ditulis dari 0
sampai 10 (artinya semakin besar angka, semakin tinggi pula derajat nyerinya)

 MMT
Posisi pasien tidur terlentang. kemudian dilakukan tes MMT pada lengan dan
tungkai.
- Extremitas Atas Kanan
- Extremitas Atas Kiri
- Extremitas Bawah Kanan
- Extremitas Bawah Kiri

- Intervensi Fisioterapi
 PNF ( Proprioceptif Neuromuskular fasilitation)
PNF memiliki pengertian yang mendasar. Dari kata Fasilitation atau fasilitasi dapat
di artikan mempermudah atau membuat mudah. Fasilitasi ditujukan pada reaksi atau
respon neuromuscular dengan jalan memberikan suatu stimulus dari luar/perifer
terhadap saraf aferen khusus yang propriosensor. Dengan demikian arti PNF adalah
fasilitasi respon neuromuskular melalui propriosensor.

14
Tujuan secara umum:
- Sebagai pengantar/pembuka gerakan
- Meningkatkan kekuatan kontraksi
- Menaikkan tingkat rileksasi
- Perbaikan koordinasi
- Menurunkan nyeri
- Meningkatkan lingkup gerak sendi
- Meningkatkan stabilitas sendi
- Menghindari kelelahan
- Belajar suatu gerakan
- Meningkatkan daya tahan

 Infra Red Rays (IRR)


Infra Red (IR) akan memberikan pemanasan superfisial pada daerah kulit yang
diterapi sehingga menimbulkan beberapa efek fisiologis yang diperlukan untuk
penyembuhan. Terapi pemanasan dengan Infra Red ini juga dapat memberikan
perasaan nyaman dan rileks sehingga dapat mengurangi nyeri karena ketegangan
otot-otot terutama otot-otot yang terletak superfisial, meningkatkan daya regang atau
ekstensibilitas jaringan lunak sekitar sendi seperti ligamen dan kapsul sendi
sehingga dapat meningkatkan luas pergerakan sendi terutama sendi-sendi yang
terletak superfisial seperti sendi tangan dan kaki.
Indikasi:
- Nyeri punggung bawah, nyeri leher, nyeri punggung atas, nyeri sendi tangan,
sendi lutut, dsb.
- Kekakuan sendi atau keterbatasan gerak sendi karena berbagai sebab.
- Ketegangan otot atau spasme otot.
- Peradangan kronik yang disertai dengan pembengkakan.
- Penyembuhan luka di kulit.

Kontraindikasi:
- Kelainan perdarahan.
- Kelainan pembuluh darah vena atau peradangan pembuluh darah, seperti
thrombophlebitis.
- Gangguan sensoris berupa rasa raba maupun terhadap suhu.
- Gangguan mental
- Tumor ganas atau kanker.
- Penggunaan Infra Red pada mata.

15
 Stretching
Penguluran adalah penting untuk menjaga luas gerak sendi disekitar persendian.
Jika pasien mempunyai kekakuan pada sendinya, aktivitas normal seperti membuka
botol atau menaiki tangga kadang terganggu. Dengan penguluran yang tepat,
keterbatasan fungsi ini dapat diatasi. Apabila terdapat cidera atau melakukan
operasi,jaringan parut dan kontraksi jaringan lunak adalah hasilnya dan penguluran
penting untuk dilakukan.

 Strengthening
Latihan penguatan dilakukan untuk membantu pasien meningkatkan fungsi dari otot.
Tujuan akhirnya adalah meningkatkan kekuatan, ketahanan dan menjaga
meningkatkan lingkup gerak sendinya.

16
BAB III
KAJIAN KASUS

A. Hasil
3.1 Data Medis Rumah Sakit
- Rekam Medik
- Catatan Klinis
Tanggal masuk RS : 27 Desember 2016
Rawat inap selama 2 minggu
Tanggal rujukan Fisioterapi : 9 Januari 2016

3.2 Observasi
Observasi dilakukan pada hari Rabu, tanggal 23 November 2016, bertempat di
RSUD Kota Makassar pada pukul 08.00-12.00 WITA

3.3 Data Hasil Observasi


No. Keterangan Hasil
1. Anamnesis Umum
Nama : Ny. Maria Lande
Umur : 56 tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Pekerjaan : Ibu rumah tangga
Alamat : BPS 6.g No. 57 Sudiang
Agama : Kristen
2. Anamnesis Khusus
Keluhan Utama : Kelemahan ekstremitas dan nyeri pada shoulder
Letak Keluhan : Lengan dan tungkai kiri
Waktu : 1 tahun yang lalu
RPP : 1 tahun lalu saat melaksanakan kegiatan rumah
tangga, pasien merasa pusing serta tangan dan
kakinya kram yang menyebabkan pasien terjatuh
secara tiba-tiba. Setelah itu pasien beristirahat.
Keesokan harinya saat bangun tidur, pasien
merasakan tangan dan kakinya tidak dapat
digerakkan. Lalu pasien di bawa ke RSUD Kota
Makassar dan dirawat inap selama 2 minggu.
Oleh dokter, pasien dirujuk ke Fisioterapi.
Riwayat Keluarga : -
Riwayat Penyakit lain : Diabetes Melitus tipe 2 dan Hipertensi
Medikamentosa : Aspilet 80 mg (1x1)

17
Neurodex (1x1)
Amlodipin
3. Vital Sign
Tekanan Darah : 120/60 mmHg

3.4 Pemeriksaan Fungsi


No. Jenis Pemeriksaan Hasil
1. Inspeksi
Statis : Pasien memasuki ruang FT dengan menggunakan
kursi roda di bantu oleh suaminya
Raut wajah pasien tampak sedikit menahan sakit.

Dinamis : Pasien kurang mampu menggerakkan lengan dan


tungkainya secara maksimal. Saat berdiri pasien
masih perlu bantuan dan pada saat berjalan pasien
masih perlu di papah hal tersebut di lakukan untuk
mengurangi resiko jatuh.

2. Pemeriksaan Spesifik
 Tes Motorik
- Reaksi Transfer Bisa melakukan
- Reaksi Asosiasi Bisa dilakukan tapi masih lemah
- Reaksi keseimbangan Sedikit bisa melakukan
- Reaksi ADL Sedikit bisa melakukan

 Tes Kognitif
Pasien di Tanya mengenai Pasien dapat menjawab dengan baik
data pribadi
3. VAS

4. MMT
- Extremitas Atas Kanan : 5
- Extremitas Atas Kiri : 5
- Extremitas Bawah Kanan : 4
- Extremitas Bawah Kiri : 4

3.5 Diagnosis Fisioterapi


“Gangguan Fungsional Separuh Badan Akibat Hemiparese Sinistra Post NHS ”

18
3.6 Problematik Fisioterapi
- Kelemahan otot lengan dan tungkai kiri
- Gangguan keseimbangan dan koordinasi
- Nyeri pada bahu kiri
- Gangguan aktivitas fungsional

3.7 Tujuan Fisioterapi


- Jangka Pendek
Meningkatkan kekuatan otot lengan dan tungkai kiri
Meningkatkan keseimbangan dan koordinasi
Menghilangkan nyeri
Mengembalikan aktivitas fungsional (ADL) lengan dan tungkai kiri

- Jangka Panjang
Memaksimalkan kapasitas fisik dan kemampuan fungsional pasien

3.8 Rencana Fisioterapi


- Infra Red Rays
- Propioceptive Neuromuscular Facilitation
- Walking Exercise
- Strenghthening
- Balance exercise

3.9 Intervensi
- PNF (Propsioceptif Neuromuscular Fasilitation)
Posisi Pasien
Pasien tidur terlentang

Dosis
F : sekali pada saat kunjungan
I : 5 kali repetisi
T : PNF lengan

- Infra Red Rays


Posisi Pasien : Tidur terlentang, pakaian di bebaskan dari daerah yang
akan diterapi

Dosis
F : sekali pada saat kunjungan
I : Letak 50 cm

19
T : Luminous
T : 10 menit

- Walking Exercise
Posisi pasien : Berdiri pada Paralel Bar kemudian kedua tangan
memegang palang

Dosis
F : sekali pada saat kunjungan
I : Semampu pasien
T : Latihan berjalan bolak- balik

- Strengthening
F : 8 kali Hitungan
I : Penguatan maksimal
T : kontak langsung
T : 5 kali repetisi

- Balance Exercise
F : sekali pada saat kunjungan
I : Toleransi Pasien
T : kontak langsung
T : 5 kali repetisi

3.10 Home Program


- Pasien dianjurkan untuk latihan mengangkat pantat (Bridging exercise)
- Pasien dianjurkan untuk latihan berjalan
- Pasien dianjurkan untuk latihan ADL

3.11 Evaluasi
- Sesaat
Pasien nampak lelah setelah latihan, kekuatan otot mulai mengalami
peningkatan serta koordinasi dan keseimbangan mengalami sedikit
peningkatan lebih baik. Selain itu nyeri pada shoulder berkurang.

- Berkala
Setelah beberapa kali terapi pasien mengalami peningkatan otot pada lengan
dan tungkai dan koordinasi cukup membaik.

20
- VAS

0 2 10

B. Pembahasan
Berdasarkan data hasil observasi yang telah kami dapatkan berikut beberapa hal
yang menurut kami yang perlu dilakukan saat assessment dan pemberian intervensi.
1. Pemeriksaan Vital sign
Pada pemeriksaan vital sign yang harus di lakukan tidak hanya pemeriksaan
tekanan darah tetapi juga pemeriksaan pada denyut nadi, pernapasan, dan
temperatur suhu badan pasien.

2. Pemeriksaan Spesifik
Berikut pemeriksaan spesifik yang perlu dilakukan :
a. Palpasi tonus otot ( ashworth scale) : hal ini dilakukan untuk mengetahui
nilai otot pasien . namun Fisioterapis yang menangani pasien tersebut
mengatakan bahwa nilai otot pada pasien tersebut adalah Nol ( 0 ) yakni tidak
terdapat tonus pada otot meskipun pada saat kami observasi hal tersebut
tidak dilakukan.
b. Tes Sensorik : yakni berupa tes tajam- tumpul, tes diskriminasi 2 titik, tes
rasa sakit dan tes rasa posisi. Fisioterapis yang menangani pasien tersebut
mengatakan bahwa pasien sudah membaik untuk sensoriknya namun saat
observasi kami melihat saat tungkai kiri pasien (tungkai yang bermasalah) di
tepuk oleh Fisioterapis sebagai instruksi untuk mengangkat tungkai tersebut,
yang dilakukan pasien malah mengangkat bokongnya. Berkali- kali hal
tersebut dilakukan dan pasien masih melakukan hal yang sama. Sampai
akhirnya pasien menengok ke arah yang di tepuk sehingga dia mengangkat
tungkai kirinya. Jadi menurut kami sensorik si pasien masih belum membaik.
c. Tes Reflex : yakni reflex biceps, reflex triceps, APR, KPR.
d. Tes Koordinasi : yaitu finger to finger, finger to nose, finger to mouth, heel to
knee.

3. Intervensi Fisioterapi
Menurut kami pemberian intervensi oleh fisioterapis sudah tepat karena
intervensi tersebut sudah mencakup semua penanganan terhadap problematik
pasien.

21
BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Hemiparese post NHS adalah kelemahan pada satu sisi tubuh yang mengarah pada
lesi hemisfer serebri kontralateral. Hal ini disebabkan peredaran darah ke sebagian
jaringan otak terhenti karena sumbatan thrombus dan embolus yang terlepas dari
jantung atau arteri ekstrakranial (arteri yang berada di luar tengkorak) yang
menyebabkan sumbatan di satu atau beberapa arteri intracranial (arteri yang berada di
dalam tengkorak).

Berdasarkan hasil observasi kami pada tanggal 23 November 2016 di RSUD KOTA
Makassar menemukan bahwa pasien bernama Maria Lande (56 th, Pr) mengalami
hemipharese sinistra akibat stroke NHS yang di alami secara tiba- tiba saat sedang
beraktivitas. Beliau sempat di rawat inap di rumah sakit selama 2 minggu di RSUD
KOTA Makassar. Setelah itu pasien di rujuk ke poli Fisioterapi untuk pengobatan lebih
lanjut.

Saat pertama kali datang ke Fisioterapi, terdapat banyak problematik yang dialami
pasien yaitu: kelemahan otot, keseimbangan dan koordinasi terganggu, reaksi sensorik
dan motorik terganggu, hilangnya reflex serta gait analysisnya tidak normal. Hal ini
menyebabkan pasien mengalami keterbatasan gerak fungsionalnya (ADL). Setelah
pemberian intervensi secara rutin oleh fisioterapis perlahan-lahan problematik pasien
berkurang sedikit demi sedikit.

Fisioterapis di RSUD KOTA Makassar melayani dengan baik kepada setiap pasien
yang datang ke poli Fisioterapi. Kami mahasiswa yang datang observasi di RSUD
KOTA Makassar khususnya di poli Fisioterapis juga di sambut dengan baik dan kami di
bimbing selama berada di sana.

4.2 Saran
Adapun dalam pembuatan laporan hasil observasi ini, masih banyak kekurangan
sehingga diharapkan kritik dan saran dari pihak pembaca untuk lebih menambah
wawasan penyusun kedepannya.

22
DAFTAR PUSTAKA

Ginsberg, Lionel. Lecture Notes Neurologi. 2007. Jakarta: EMS.


Hasil RISKESDAS 2013
Iain Wilkinson & Graham Lennox. 2005. Essential Neurology. United of Kingdom.
Blackwell Publishing
Rekam Medik Pasien RSUD Kota Makassar
Silbernagl, Stefan dan Florian Lang. Teks & Atlas Berwarna Patofisiologi. 2007. Jakarta:
EGC.

23