Anda di halaman 1dari 12

Naskah Publikasi Karya Tulis Ilmiah 25 Desember 2016

GAMBARAN PENGELOLAAN OBAT NARKOTIKA DAN PSIKOTROPIKA DI


INSTALASI FARMASI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH BANJARBARU
KALIMANTAN SELATAN

DESCRIPTION OF NARCOTIC AND PSYCOTROPIC DRUG MANAGEMENT IN


PHARMACEUTICAL INSTALLATION OF BANJARBARU GENERAL HOSPITAL
SOUTH KALIMANTAN

Farida Elyyani1), M.Thesa Ghozali1)


1)
Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
Faridaelyyani@gmail.com

INTISARI

Pengelolaan obat adalah rangkaian kegiatan dalam manajemen obat yang terdiri :
perencanaan, pengadaan, penyimpanan, pendistribusian, pencatatan atau pelaporan obat.
Tujuan pengelolaan obat adalah agar tersedianya obat dalam jumlah dan waktu yang tepat
dan terjamin keamanan mutunya.
Penelitian ini menggunakan metode non eksperimental deskriptif untuk mengetahui
gambaran pengelolaan obat narkotika dan psikotropika meliputi perencanaan, pengadaan,
penyimpanan, pendistribusian, pencatatan dan pelaporan, serta pengawasan dan pemusnahan
obat di Instalasi Farmasi Rumah Sakit Umum Daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengelolaan obat narkotika dan psikortopika di
Instalasi farmasi RSUD Banjarbaru kalimantan selatan dilihat dari beberapa aspek
pengelolaan sudah baik dan sudah berdasarkan standar yang ditetapkan. Untuk RSUD
Banjarbaru kalimantan selatan agar mempertahankan pengelolaan obat yang sudah baik dan
meningkatkan yang belum sesuai dengan standar yang berlaku.

Kata Kunci : Pengelolaan Obat, Narkotika dan psikotropika.

Farida Elyyani [ Farmasi FKIK UMY] 1


Naskah Publikasi Karya Tulis Ilmiah 25 Desember 2016

ABSTRACT

Drugs management is a series of activities in the management of drugs consisting of:


planning, procurement, storage, distribution, and recording or reporting of medication. The
main aim of drug management is the availability of drugs in quantities and the right time and
security guaranteed quality.
This research is using non-experimental descriptive method to describe the
management of narcotic drugs and psychotropic substances including planning, providing,
storing, distributing to guaranteeing the service quality in the Pharmacy Installation of
Hospital Banjarbau, South Kalimantan.
The results showed that the management of narcotic drugs and psychotropic in
Pharmaceutical Installation of Hospital Banjarbaru, South Kalimantan views of some aspects
of the management is sound and has been based on established standards. For hospitals
Banjarbaru South Kalimantan in order to maintain the management of medication that is
good and increases that have not been in accordance with the applicable standards.

Keywords: Drug Management Cycle, Narcotic and Psychotropic

Farida Elyyani [ Farmasi FKIK UMY] 2


Naskah Publikasi Karya Tulis Ilmiah 25 Desember 2016

PENDAHULUAN dapat menyebabkan fungsi vital organ


Rumah sakit merupakan salah satu tubuh bekerja secara tidak normal seperti
peranan penting dalam rangka jantung, peredaran darah, pernafasan, dan
meningkatkan derajat kesehatan terutama pada kerja otak (susunan saraf
masyarakat secara paripurna yang pusat). Oleh karena itu pengelolaan obat
menyediakan pelayanan rawat inap, rawat psikotropika sangat memerlukan
jalan, dan gawat darurat menurut Undang- penanganan dan perhatian lebih.
Undang Nomor 44 Tahun 2009 tentang Pada abad ke-20 perhatian khusus
rumah sakit. Tujuan pelayanan farmasi di internasional terhadap masalah narkotika
rumah sakit adalah melangsungkan semakin meningkat salah satu dapat dilihat
pelayanan yang optimal, melaksanakan melalui Single Convention on Narkotic
KIE ( Komunikasi, Informasi, Edukasi). Drugs pada tahun 1961. Dari laporan
Instalasi Farmasi Rumah Sakit perkembangan situasi narkoba dunia tahun
(IFRS) dipimpin oleh apoteker yang 2014, diketahui angka estimasi pengguna
bertanggung jawab dalam pengadaan, narkoba di tahun 2012 adalah antara 162
penyimpanan, distribusi obat serta juta hingga 324 juta orang atau sekitar
memberi informasi dan menjamin kualitas 3,5%-7%. Menurut BNN (2014)
pelayanan di rumah sakit yang terkait diperkirakan jumlah penyalahgunan
dengan penggunaan obat. Instalasi farmasi NAPZA (Narkotika, Psikotropika, dan zat
dirumah sakit sangat penting karena semua adiktif lainnya) sebanyak 3,8 juta sampai
instalasi dirumah sakit berkoordinasi 4,1 juta orang atau sekitar 2,10% sampai
dengan instalasi farmasi guna 2,25% dari total seluruh penduduk
menyediakan kebutuhan obat dan alat Indonesia yang berisiko terpapar NAPZA
kesehatan (Defriyanto, 2014). di tahun 2014.
Pengelolaan sediaan farmasi dan alat Jumlah penyalahgunaan NAPZA di
kesehatan menurut Undang-Undang RI Indonesia kini kian meningkat dari tahun
nomor 36 tahun 2009 tentang kesehatan ketahun, Pada tahun 2011, jumlah
pada pasal 88 dan 104 harus aman, penyalahguna NAPZA di Indonesia
bermanfaat, bermutu dan terjangkau bagi berjumlah 4.071.016 jiwa, kemudian
seluruh masyarakat serta pengamanan meningkat pada tahun 2012 menjadi
sediaan farmasi dan alat kesehatan 4.323.366 jiwa, diikuti oleh kenaikan
diselenggarakan untuk melindungi seluruh kembali pada tahun 2013 sebanyak
masyarakat dari bahaya yang disebabkan 4.583.690 jiwa, tahun 2014 sejumlah
oleh penggunaan sediaan farmasi dan alat 4.851.486 jiwa, tahun 2015 menjadi
kesehatan yang tidak memenuhi 5.126.913 jiwa bahkan tercatat pada 2015
persyaratan mutu dan keamanan. Di rumah sebanyak 5,9 juta orang pemakai NAPZA
sakit pengelolaan obat dilaksanakan oleh (BNN,11/1/2016). Masalah ini penting
Instalasi Farmasi Rumah Sakit (Wahyuni, mengingat bahwa obat-obat narkotika dan
2007). Pengelolaan obat yang baik terlebih psikotropika adalah zat atau bahan yang
khusus yaitu pengelolaan jenis obat yang dapat merusak fisik serta mental yang
bersifat sebagai psikoaktif seperti pada bersangkutan, apabila dipergunakan tanpa
obat – obat golongan narkotika dan resep dokter (Adi, 2009). Berdasarkan
psikotropika. Narkotika dan Psikotropika latar belakang tersebut peneliti ingin
dapat merugikan apabila disalahgunakan mendapatkan gambaran serta
atau digunakan tanpa pengendalian dan mengevaluasi kesesuaian pengelolaan obat
pengawasan yang ketat, jika digunakan narkotika dan psikotropika di instalasi
secara tidak rasional salah satu efek farmasi Rumah Sakit Umum Daerah
samping dari pemakaian obat ini yaitu di Banjarbaru Kalimantan Selatan
mana seseorang dapat mengalami berdasarkan PERMENKES No 3 Tahun
ketergantungan berat terhadap obat dan 2015 dan Pedoman Pengelolaan Obat

Farida Elyyani [ Farmasi FKIK UMY] 3


Naskah Publikasi Karya Tulis Ilmiah 25 Desember 2016

Publik dan Perbekalan Kesehatan di HASIL DAN PEMBAHASAN


Daerah Kepulauan.
1. Standar Prosedur Operasional
METODE PENELITIAN Farmasi di RSUD Banjarbaru
SOP pengelolaan obat narkotika dan
Desain Penelitian psikotropika bertujuan untuk memastikan
Penelitian ini termasuk dalam obat narkotika dan psikotropika dikelola
penelitian non eksperimental bersifat dengan baik dan tidak ada
deskriptif. Pengumpulan data kualitatif dan penyalahgunaan.
kuantitatif diperoleh dari observasi dan 1. Catat obat narkotika dan psikotropika
wawancara. Data kualitatif didapat dari yang sudah diterima dari distributor
wawancara yang dilakukan terhadap pada kartu stok sesuai jenis, jumlah
petugas instalasi farmasi rumah sakit. Data dan nama distributor.
kuantitatif didapat dari analisis dokumen 2. Simpan obat narkotika dan
penggunaan obat narkotika dan psikotropika yang sudah dicatat/
psikotropika, dilakukan di Instalasi dokumentasi.
Farmasi Rumah Sakit Umum Daerah 3. Susun berdasarkan bentuk sediaan,
Banjarbaru dan akan dilaksanakan pada urutan abjad dimulai dari huruf A dan
bulan Juni-Juli 2015. seterusnya dan sistem FIFO (First In
First Out).
Populasi dan Sampel 4. Layani/ambil obat narkotika dan
Populasi : Populasi penelitian ini adalah psikotropika hanya dengan
seluruh obat narkotika dan psikoropika di menggunakan resep dokter dari RSUD
Instalasi Farmasi Rumah Sakit Umum Banjarbaru.
Daerah Banjarbaru Kalimantan Selatan. 5. Catat penggunaan obat narkotika dan
Sampel : berdasarkan PERMENKES No.3 psikotropika meliputi : tanggal
Tahun 2015 dan Pedoman Pengelolaan pengambilan, nama pasien yang
Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan di menggunakan, nama dokter yang
Daerah Kepulauan, pengambilan sampel meresepkan, serta jumlah yang
menggunakan daftar stok obat. digunakan.

Analisis Data 2. Pengelolan obat di instalasi farmasi


Data yang akan diperoleh dan RSUD Banjarbaru
dianalisis menggunakan metode deskriptif Untuk penunjang dalam
non eksperimental. Data yang diperoleh melaksanakan tugas dan tanggung jawab
dari hasil observasi dan wawancara ketersediaan sarana dan prasaranan
dianalasis secara kualitatif dan selanjutnya merupakan salah satu hal yang penting dan
dibandingkan kesesuaiannya dengan perlu diperhatikan.
PERMENKES No.3 Tahun 2015 dan Standar pelayanan farmasi di
Pedoman Pengelolaan Obat Publik dan rumah sakit harus sesuai dengan peraturan
Perbekalan Kesehatan Di Daerah yang telah ditetapkan, termasuk standar
Kepulauan untuk menggambarkan peralatan yang harus ada di instalasi
pengelolaan obat narkotika dan farmasi rumah sakit sehingga menjamin
psikotropika di Instalasi Farmasi Rumah terselenggaranya pelayanan farmasi yang
Sakit Umum Daerah Banjarbaru profesional. Standar pelayanan farmasi
Kalimantan Selatan. rumah sakit itu sendiri telah diatur oleh SK
Menkes Nomor 1197/Menkes/SK/X/2004.

Farida Elyyani [ Farmasi FKIK UMY] 4


Naskah Publikasi Karya Tulis Ilmiah 25 Desember 2016

dengan baik. Dengan demikian


perencanaan merupakan suatu pedoman
atau tuntunan terhadap proses kegiatan
ketersediaan
Standar peralatan di untuk mencapai tujuan secara efektif dan
Gudang Rumah Sakit efisien (Muninjaya, 2004).
(SK Menkes Nomor Ada Tidak Metode perencanaan di instalasi
1197/Menkes/SK/X/2004) farmasi RSUD Banjarbaru menggunakan
Peralatan untuk √ - metode konsumsi yaitu dengan melihat
penyimpanan
Peralatan untuk peracikan √ -
jumlah penggunaan obat pada tahun
Peralatan untuk pembuatan √ - sebelumnya atau periode sebelumnya, obat
Obat √ - yang pada periode sebelumnya banyak
Meja √ - digunakan atau fast moving akan diadakan
Kursi √ - kembali, dalam hal ini obat narkotika
Lemari / rak buku √ - diadakan sesuai dengan perencanaan
Filling cabinet √ -
bagian instalasi gawat darurat karena obat
Computer √ -
Alat tulis kantor √ - narkotika banyak digunakan oleh IGD.
Telepon √ - Untuk meminimalisir kejadian kekurangan
Kepustakaan √ - stok obat, metode perencanaan idealnya
Lemari penyimpanan √ - menggunakan metode kombinasi dari
khusus metode konsumsi dan metode morbiditas
Lemari untuk narkotika √ -
(kebutuhan obat berdasarkan pola
Lemari pendingin √ -
AC √ -
penyakit).
Penerangan √ -
Sarana air √ -
2. Pengadaan Obat
Ventilasi - √ Pengadaan dilakukan untuk
Sarana pembuangan √ - merealisasikan kebutuhan perbekalan
limbah farmasi yang telah disahkan oleh
Alarm - √ pemerintah kota Banjarbaru, dilaksanakan
Lemari/rak √ - dengan mengikuti ketentuan Keppres
Pallet - √
No.80 Tahun 2003 tentang pedoman
Kartu arsip √ -
Lemari arsip √ - Pelaksanan Pengadaan barang/jasa
pemerintah. Pengadaan obat di RSUD
Banjarbaru berdasarkan pembelian
1. Perencanaan Obat langsung dari distributor, kelebihan dari
Perencanaan adalah kegiatan pembelian langsung adalah cepat dan
pemilihan obat, jumlah dan harga dalam pembelian barang bisa dalam
perbekalan farmasi yang sesuai dengan jumlah kecil.
kebutuhan dan anggaran, untuk Pengadaan bertujuan untuk
mengindari kekosongan obat dengan menetapkan jumlah obat dan jenis obat
menggunakan metode yang dapat yang sesuai dengan kebutuhan, agar tidak
dipertanggungjawabkan. Dasar-dasar terjadi kekosongan obat atau kelebihan
perencanaan yang telah ditentukan antara obat. Apabila pengadaan tidak dilakukan
lain konsumsi, epidemiologi, kombinasi dengan baik maka akan terjadi kekosongan
metode konsumsi dan epidemiologi obat yang akan mempengaruhi pelayanan
disesuaikan dengan anggaran persediaan juga pendapatan. kelebihan obat dapat
(DEPKES RI, 2004). menyebabkan kerusakan obat maupun obat
perencanaan merupakan landasan ED karena obat terlalu lama di simpan
dasar dari fungsi menajemen secara dalam gudang.
keseluruhan. Tanpa adanya perencanaan, Di Instalasi Farmasi RSUD
pelaksanaan kegiatan tidak akan berjalan Banjarbaru khusus untuk obat narkotika

Farida Elyyani [ Farmasi FKIK UMY] 5


Naskah Publikasi Karya Tulis Ilmiah 25 Desember 2016

dan psikotropika diadakan atas permintaan komputerisasi dengan mencantumkan


IGD, obat banyak digunakan oleh IGD tanggal terima barang, tanggal faktur,
sehingga instaasi farmasi tidak memili nomor faktur, nama supplier, nama
persediaan sendiri. Narkotika hanya dapat barang, jumlah, harga satuan, diskon,
dipesan melalui Pedagang Besar Farmasi ppn, total harga, dama penerima.
(PBF) Kimia Farma, pemesanan Pengecekan dilakukan untuk
Narkotika harus menggunakan surat menghindari penerimaan obat yang
pesanan, pembayaran obat dilakukan pada expired date atau rusak, sehingga sesuai
saat barang datang. Pemesanan obat dengan permintaan dan dapat segera
psikotropika dapat melalui telpon kepada digunakan untuk pelayanan.
petugas medrep tanpa menggunakan surat Di RSUD Banjarbaru seluruh obat di
pesanan, surat pesanan dapat diberikan simpan di instalasi farmasi karena terkait
pada saat obat sampai di instalasi farmasi suhu dan kelembaban obat-obatan yang
dan untuk pembayaran obat psikotropika perlu diperhatikan, sedangkan di gudang
menggunakan sistem jatuh tempo. besar suhu dan kelembabannya kurang
Adapun sumber dana yang baik dan memungkinkan adanya kerusakan
digunakan dalam proses pengadaan obat atau penurunan pada kualitas obat-obatan
berasal dari dana BLUD, alokasi dana itu sendiri.
pengadaan obat di RSUD Banjarbaru pada Sistem penataan obat di instalasi
tahun 2014 untuk BLUD adalah 60% atau farmasi RSUD Banjarbaru disusun
sebesar Rp. 6.027.644,496. Dana tersebut berdasarkan abjad/alfabetis dari A-Z
mencakup dana untuk obat, alat kesehatan dengan menggunakan metode First In
dan perbekalan farmasi. First Out (FIFO) dan berdasarkan bentuk
sediaan. Metode FIFO merupakan metode
3. Penyimpanan Obat penyimpanan obat dimana obat yang lebih
Prosedur penerimaan obat narkotika cepat datang dikeluarkan terlebih dahulu
dan psikotropika adalah sebagai berikut : (Permenkes, 2014).
1. Petugas yang bertanggung jawab atas Menurut Peraturan Pemerintah
pengadaan barang menerima barang Republik Indonesia No 51 Th. 2009
yang dilengkapi dengan faktur. tentang pekerjaan kefarmasian, metode
2. Mencocokkan faktur dengan surat penyimpanan dapat dilakukan berdasarkan
pesanan dengan memperhatikan: kelas terapi, bentuk sediaan, dan jenis
a. Kebenaran identitas produk serta sediaan farmasi yang disusun secara
kesesuaian dengan faktur. alfabetis dengan menerapkan prinsip First
b. Kebenaran jumlah kemasan. Expired First out (FEFO) dan First In
c. Kebenaran kondisi kemasan. First Out (FIFO)
d. Kebenaran jumlah satuan dalam
kemasan. Kesesuain
e. Kebenaran tidak terlihat tanda- Standart Penataan Obat di dengan
Rumah Sakit standar
tanda kerusakan.
3. Bila barang tidak sesuai dengan SP (SK Menkes Nomor
atau mendekati tanggal kadaluarsa, 1197/Menkes/SK/X/2004) Ya Tidak
barang akan ditolak/retur. Metode FIFO √ -
4. Bila sesuai dengan yang diharapkan , Metode FEFO - √
barang diterima, faktur di tandatangan, Penggolongan √ -
berdasarkan jenis sediaan
nama dan tanggal penerimaan, serta Penggolongan √ -
stempel Rs. berdasarkan
5. Masukkan data obat dalam sistem abjad/alfabetis
pencatatan yaitu dengan cara manual Penggolongan √ √
dengan kartu stok dan cara berdasarkan kelas
terapi/khasiat

Farida Elyyani [ Farmasi FKIK UMY] 6


Naskah Publikasi Karya Tulis Ilmiah 25 Desember 2016

Data tabel 2 menunjukan bahwa disalahgunakan oleh oknum yang tidak


60% penataan obat sesuai dengan standar bertanggungjawab. Penyimpanan obat
SK Menkes Nomor 1197 tahun 2004 hal narkotika dan psikotropika harus dibuat
ini karena penataan obat di instalasi seluruhnya dari kayu atau bahan lain yang
farmasi RSUD Banjarbaru belum kuat, mempunyai kunci yang kuat, lemari
menggunakan sistem First Expired First dibagi menjadi dua yakni lemari dalam
Out (FEFO) dan belum berdasarkan atas lemari dan masing-masing dengan kunci
khasiat/terapi yang sama. yang berlainan. Bagian pertama digunakan
Menurut Badan Nasional untuk menyimpan morfin, petidin dan
Penanggulangan Bencana (BNPB) (2013), garam-garamnya, serta persediaan
gudang penyimpanan sediaan farmasi narkotika. Bagian kedua dipergunakan
harus mempunyai letak tata ruang yang untuk menyimpan narkotika lain yang
baik untuk memudahkan penerimaan, digunakan sehari-hari (Permenkes, no.28
penyimpanan, penyusunan, pemeliharaan, th 1978).
pencarian, pendistribusian, serta
pengawasan material dan peralatan. 4. Pendistribusian
Narkotika dan psikotropika disimpan Pendistribusian obat adalah proses
dilemari khusus yang terpisah dengan obat penyampaian atau penyerahan sediaan obat
lain. Lemari penyimpanan terbuat dari yang diminta dokter dari instalasi farmasi
kayu yang terletak disudut ruangan dengan kepada pasien. Menurut Anonim (2010)
posisi dilantai dan menempel kebagian distribusi merupakan kegiatan penyaluran
dinding ruangan. perbekalan farmasi, barang dikeluarkan
Di instalasi farmasi RSUD berdasarkan First In First Out (FIFO) dan
Banjarbaru lemari penyimpanan narkotika First Expired First Out (FEFO).
dan psikotropika tidak dipisahkan dengan a. Sistem distribusi rawat jalan :
obat lainnya. 1 lemari besar dengan 1) Resep masuk kemudian resep
pembagian sebagai berikut : Penyimpanan dicek dan diberi harga oleh
narkotika dan psikotropika diletakkan pada petugas.
bagian bawah sedangkan obat lainnya 2) Pasien dipanggil oleh petugas
diletakkan dibagian atas lemari. Lemari untuk melakukan pembayaran
penyimpanan narkotika dan psikotropika dikasir.
hanya memiliki 1 kunci yang bersamaan. 3) Setelah pembayaran selesai, resep
Dan seringkali lemari tidak dalam keadaan diserahkan kembali kepada
terkunci. Di rumah sakit tersebut tidak ada petugas di instalasi farmasi untuk
lemari khusus untuk penyimpanan kemudian disiapkan oleh petugas.
narkotika dan psikotropika dengan 4) Untuk resep obat golongan
persyaratan yang telah ditentukan seperti : narkotika dan psikotropika
1. Tempat penyimpanan Narkotika diberikan tanda garis berwarna
dilarang digunakan untuk menyimpan merah untuk obat narkotika dan
barang selain Narkotika. biru untuk obat psikotropika.
2. Tempat penyimpanan psikotropika Tujuannya adalah untuk
dilarang digunakan untuk menyimpan membedakan resep narkotika dan
barang selain psikotropika. psikotropika agar mudah dikenali.
3. terbuat dari bahan yang kuat. 5) Instalasi farmasi RSUD
4. tidak mudah dipindahkan dan Banjarbaru hanya menerima resep
mempunyai 2 (dua) buah kunci yang narkotika dan psikotropika
berbeda. berdasarkan resep dokter dari
Penyimpanan obat narkotika dan RSUD Banjarbaru.
psikotropika sangat membutuhkan
pengamanan yang ketat agar tidak

Farida Elyyani [ Farmasi FKIK UMY] 7


Naskah Publikasi Karya Tulis Ilmiah 25 Desember 2016

6) Setelah selesai, pasien dipanggil narkotika dan ditandatangani oleh


kembali untuk selanjutnya penanggung jawab instalasi farmasi/apotek
diberikan KIE. rumah sakit. Laporan tersebut ditujukan
7) Tempat penyerahan obat pasien kepada Kepala Dinas Kesehatan
bpjs dengan BLUD berbeda. Kabupaten/Kota setempat dengan
b. Sistem distribusi rawat inap : tembusan :
1) Resep masuk kemudian resep a. Dinas Kesehatan Provinsi setempat
dicek dan diberi harga oleh b. Kepala Balai POM setempat
petugas. c. Penanggung jawab narkotika di
2) Pasien dipanggil oleh petugas Rumah Sakit
untuk melakukan pembayaran d. Arsip yg di tanda tangani oleh
dikasir. Apoteker penanggung jawab di sertai
3) Setelah pembayaran selesai, resep nama terang, SIK, dan cap Rumah
diserahkan kembali kepada Sakit/Apotek.
petugas di instalasi farmasi untuk Laporan psikotropika ditujukan kepada
kemudian disiapkan oleh petugas. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota
4) Untuk resep obat golongan setempat dengan tembusan :
narkotika dan psikotropika a. Dinas Kesehatan Provinsi setempat
diberikan tanda garis berwarna b. Kepala Balai POM setempat
merah untuk obat narkotika dan c. Penanggung jawab narkotika di
biru untuk obat psikotropika. Rumah Sakit.
Tujuannya adalah untuk d. Arsip yg di tanda tangani oleh
membedakan resep narkotika dan Apoteker penanggung jawab di sertai
psikotropika agar mudah dikenali. nama terang, SIK, dan cap Rumah
5) Setelah selesai, obaat diserahkan Sakit/Apotek.
kepada pasien. Laporan pemakaian narkotika dan
6) Obat yang telah dibayar psikotropika di instalasi farmasi di RSUD
diserahkan oleh pasien ke ruang Banjarbaru dilakukan 3 bulan sekali,
perawat. pelaporan pertama untuk melaporkan
7) Selanjutnya perawat akan pemakaian obat pada bulan januari – maret
menyiapkan obat yang akan 2014, pelaporan kedua dilakukan pada
dikonsumsi pasien. bulan april – juni 2014, dan pelaporan
Instalasi farmasi hanya boleh ketiga dilakukan pada bulan juli – sep, dan
melayani resep narkotika dan psikotropika pelaporan ke empat pada bulan oktober –
dari resep asli atau salinan resep yang desember 2014.
dibuat oleh instalasi farmasi itu sendiri Alur pelaporan obat narkotika dan
yang belum diambil sama sekali atau yang psikotropika di instalasi farmasi dari
sudah diambil sebagian. Apotek tidak rumah sakit kemudian diberikan kepada
melayani pembelian obat narkotika tanpa kepala dinas kesehatan Banjarbaru dengan
resep atau pengulangan resep yang ditulis format yang berubah – ubah sesuai dengan
oleh apotek lain. Resep narkotika yang dinas kesehatan setempat.
masuk dipisahkan dari resep lainnya dan
diberi garis merah di bawah obat narkotik. 6. Pengawasan dan pemusnahan
Pengawasan obat Narkotika dan
5. Pencatatan dan Pelaporan obat Psikotropika dilakukan untuk melihat
Rumah sakit berkewajiban apakah obat yang tersedia sesuai dengan
menyusun dan mengirimkan laporan obat catatan di kartu stok. pengecekan
Narkotika dan psikotropika secara rutin dilakukan pada saat mengambil obat, dan
setiap 1 bulan. Dalam laporan dijelaskan setiap pergantian shift untuk memastikan
mengenai pemasukan dan pengeluaran bahwa obat yang ada tidak kurang dan

Farida Elyyani [ Farmasi FKIK UMY] 8


Naskah Publikasi Karya Tulis Ilmiah 25 Desember 2016

tidak lebih dari kartu stok. Pemusnahan kelompok C merupakan barang dengan
narkotika di instalasi farmasi dilakukan jumlah fisik yang besar namun nilai
apabila kadaluarsa dan tidak memenuhi investasi yang kecil. Sehingga
syarat untuk digunakan pada pelayanan Pengendalian dan pemantauan kelompok C
kesehatan atau untuk pengembangan ilmu cukup sederhana.
pengetahuan. Berdasarkan analisis ABC, didapatkan
Pemusnahan narkotika dilaksanakan hasil yaitu :
oleh orang atau badan yang bertanggung– 1.) Kelompok A : Fentanyl injeksi,
jawab atas produksi dan peredaran Mellidox tablet, Braxidin, Midazolam,
narkotika yang disaksikan oleh pejabat Codein 10 mg.
yang berwenang dan membuat berita acara 2.) Kelompok B : Stesolid rectal 10 mg,
pemusnahan yang memuat antara lain : Analsik, Stesolid rectal 5 mg,
a. Hari, tanggal, bulan, dan tahun. Proneuron tablet, Phental injeksi,
b. Nama pemegang izin khusus (APA/ Alprazolam 1 mg, Clobazam, dan
Dokter). Zolastin 1 mg.
c. Nama saksi (1 orang dari pemerintah 3.) Kelompok C : Zolastin 0,5 mg,
dan 1 orang dari badan/instansi yang Alprazolam 2 mg, Sanmag tablet,
bersangkutan). Stesolid injeksi, Codein 20 mg, dan
d. Nama dan jumlah narkotika yang Luminal tablet.
dimusnahkan. Data yang digunakan untuk
e. Cara pemusnahan. membuat analisis ABC adalah data
f. Tanda tangan penanggung jawab pemakaian obat periode bulan Januari –
apotik/pemegang izin khusus/dokter Desember 2014, dibagian pelayanan resep
pemilik narkotika dan saksi-saksi. instalasi farmasi. Pengelompokkan obat
Pemusnahan obat Narkotika dan berdasarkan nilai pemakaian obat
Psikotropika di Instalasi farmasi selama ini Narkotika dan Psikotropika dalam analisis
belum pernah dilakukan karena obat yang ABC di Instalasi Farmasi RSUD
diadakan sesuai dengan kebutuhan. Resep Banjarbaru, didapatkan hasil sebagai
Narkotika dan psikotropika dimusnahkan berikut :
setiap 3 tahun sekali, dan tanpa disaksikan 1. Kelompok A : 5 item obat dengan
oleh Dinas. jumlah 71,92 % dari total item obat di
3. Analisis ABC instalasi farmasi dengan jumlah
Salah satu pengendalian persediaan pemakaian 37.647.810 yaitu 26,32 %
adalah dengan metode ABC atau analisis dari jumlah pemakaian seluruhnya.
pareto.Analisis ABC adalah analisis 2. Kelompok B : 6 item obat dengan
konsumsi obat tahunan untuk menentukan jumlah 19,18 % dari total item obat di
item-item obat mana saja yang memiliki instalasi farmasi dengan jumlah
porsi dana terbesar. pemakaian 10.307.970% yaitu 31,58
Menurut Heizer dan Reinder (2010) % dari jumlah pemakaian seluruhnya.
kelompok A merupakan barang dengan 3. Kelompok C : 8 item obat degan
jumlah fisik kecil dengan nilai investasi jumlah 8,90 % dari total item obat di
yang besar, sehingga obat tersebut harus instalasi farmasi dengan jumlah
memiliki kontrol persediaan yang lebih pemakaian 4.660.900yaitu 42,11 %
ketat, pencatatan harus lebih akurat serta dari jumlah pemakaian seluruhnya.
frekuensi pemeriksaan lebih sering.
kelompok B merupakan barang dengan KESIMPULAN DAN SARAN
jumlah fisik dan nilai investasi yang
sedang, sehingga obat yang tergolong Kesimpulan
kelompok B memerlukan perhatian yang Berdasarkan hasil penelitian tentang
cukup penting setelah kelompok A. Dan evaluasi pengelolaan obat Narkotika dan

Farida Elyyani [ Farmasi FKIK UMY] 9


Naskah Publikasi Karya Tulis Ilmiah 25 Desember 2016

Psikotropika di instalasi farmasi RSUD dengan UU RI No.3 Tahun 2015,


Banjarbaru, dapat ditarik kesimpulan hal ini dilakukan untuk menjamin
sebagai berikut: data yang dilaporkan.
1. Gambaran pengelolaan obat narkotika 3. Sebaiknya keamanan dalam
dan psikotropika, meliputi : penyimpanan obat Narkotika dan
a. Perencanaan obat menggunakan Psikotropika lebih diperhatikan
metode konsumsi yang dapat dengan cara melakukan penguncian
menyebabkan kekosongan obat. lemari setiap kali pengambilan obat
b. Obat narkotika diadakan sesuai agar terhindar dari kehilangan obat
dengan perencanaan bagian narkotika dan psikotropika serta
instalasi gawat darurat karena obat penyalahgunaan obat narkotika dan
narkotika banyak digunakan oleh psikotropika.
IGD.
c. Penyimpanan obat berdasarkan
sistem FIFO (first in first Out), DAFTAR PUSTAKA
abjad dan bentuk sediaan.
d. Dikarenakan RS tidak memiliki Aziz, S., Herman, M. J., Mun’im, A.,
gudang beukuran besar maka perlu 2005, Kemampuan Petugas
diadakan gudang besar yang sesuai Menggunakan Pedoman Evaluasi
standar. Pengelolaan dan Pembiayaan Obat,
e. Pencatatan dikartu stok dilakukan Majalah Ilmu Kefarmasian, 02
setiap hari dan pelaporan (02), 63-64.
penggunaan narkotika dan Badan Narkotika Nasional. (2014).
psikotropika dilakukan 3 bulan Laporan Akhir Survei Nasional
sekali. Perkembangan Penyalahgunaan
2. Terdapat ketidaksesuaian di Narkoba Tahun Anggaran 2014.
penyimpanan dan di pencatatan Jakarta : Badan Narkotika Nasional
pelaporan, yang meliputi : Republik Indonesia.
a. Penyimpanan obat narkotika dan Defriyanto, Yogi., 2014, Gambaran
psikotropika belum sesuai dengan Penyimpanan Obat Narkotika dan
UU RI No.3 Tahun 2015 terkait Psikotropika di Instalasi farmasi
dengan tidak adanya lemari khusus Rumah Sakit Islam Ibnu Sina
narkotika dan psikotropika serta Bukittinggi dan Putra Specialist
lemari yang tidak selalu terkunci Hospital Melaka Tahun 2014,
setelah digunakan. karya tulis ilmiah, Fakultas
b. Pelaporan belum sesuai dengan UU Kesehatan Dan MIPA Universitas
RI No.3 Tahun 2015 terkait dengan Muhammadiyah, Sumatera Barat.
pelaporan narkotika dan Departemen Kesehatan RI. (2005).
psikotropika di RSUD banjarbaru Undang-undang Kesehatan Jilid I
yang dilakukan 3 bulan sekali. Cetakan Keempat. Jakarta :
Departemen Kesehatan RI Badan
Saran Pengembangan dan pemberdayaan
1. Untuk meminimalisir kekosongan Sumber Daya Manusia Kesehatan
obat, ada baiknya untuk Pusdinakes.
perencanaan menggunakan metode Departemen Kesehatan RI. (2010).
kombinasi yakni metode konsumsi Undang-undang Kesehatan Untuk
dan metode epidemiologi. kelas XI. Jakarta : Departemen
2. Pelaporan Narkotik dan Kesehatan RI Badan
Psikotropika hendakanya dilakukan Pengembangan dan pemberdayaan
setiap 1 bulan sekali agar sesuai

Farida Elyyani [ Farmasi FKIK UMY] 10


Naskah Publikasi Karya Tulis Ilmiah 25 Desember 2016

Sumber Daya Manusia Kesehatan Kesehatan Republik Indonesia,


Pusdinakes. Jakarta
Dumbi, Yulistiani., 2014, Studi Quick, J.D., Hume, M.L Rankin, J.R.,
Perencanaan dan Penyimpanan O’Cornnor, R.W,. 1997,
Obat di instalasi Farmasi Rumah Managing Drug Supply, 2nd ed,
Sakit Umum Daerah Pohuwato, Revised and Expandet. Kumarin
Tesis, Universitas Negeri Press, Wets Hartford.
Gorontalo. Siregar,C.J.P dan Amalia, L., 2004,
Febriawati., H. 2013. Manajemen Logistik Farmasi Rumah sakit Teori Dan
Farmasi Rumah Sakit, Cetakan I, Penerapan, Penerbit Buku
Gosyen Publishing, Yogyakarta. kedokteran EGC, Jakarta, hlm,
Kementerian Kesehatan RI dan IAI., 2011, 120-138..
Pedoman Apoteker Praktik di Siregar, C.J.P, 2004. Farmasi Rumah Sakit
Sarana Pelayanan Kefarmasian, Teori dan Penerapan, EGC.
Kementerian Kesehatan RI, Jakarta.
Jakarta. Subagya, M.S., 1994, Manajemen
Keputusan Menteri Kesehatan Republik Logistik, Haji Masagung, Jakarta.
Indonesia No. Syamsuni., H. A. 2006. Ilmu Resep, ECG,
1197/Menkes/SK/X/2004 tentang Jakarta.
Standar Pelayanan Farmasi di UNDANG-UNDANG KESEHATAN Jilid I
Rumah Sakit, Departemen Cetakan Keempat. (2005).
Kesehatan RI, Jakarta. Departemen Kesehatan RI Badan
Peraturan Menteri Kesehatan Republik Pengembangan dan Pemberdayaan
Indonesia Sumber Daya Manusia Kesehatan
No.28/MENKES/PER/I/1978 Pusdiknakes.
Tentang Tata Cara penyimpanan UNDANG-UNDANG KESEHATAN Jilid II
Narkotika, Departemen Kesehatan Untuk kelas XI. (2010).
RI, Jakarta. Departemen Kesehatan RI Badan
Peraturan Menteri Kesehatan Republik Pengembangan dan Pemberdayaan
Indonesia Sumber Daya Manusia Kesehatan
No.3/MENKES/PER/2015/ Pusdiknakes.
Tentang Peredaran, Penyimpanan, Undang-Undang Kesehatan. (2006).
Pemusnahan, Dan Pelaporan Cetakan I, Pustaka Pelajar,
Narkotika, Psikotropika, Dan Yogyakarta.
Prekursor Farmasi, Departemen Wahyuni, Y., 2007, Evaluasi Pengelolaan
Kesehatan RI, Jakarta. Obat tahun 2005 di Dinas
Peraturan Menteri Kesehatan Republik Kesehatan Kota Madiun, Skripsi,
Indonesia Nomor Fakultas Farmasi Universitas Gajah
949/Menkes/PerVI/2000 tentang Mada, Yogyakarta.
Registrasi Obat Jadi, Departemen Wasir, Riswandi., 2012, evaluasi proses
Kesehatan Republik Indonesia, pengadaan dan ketersediaan obat di
Jakarta. Rumah Sakit Dr. Wahidin
Peraturan Pemerintahan Republik Sudirohusodo Makassar Pada tahun
Indonesia Nomor 22 Tahun 1997 2010, Tesis, Pascasarjana
tentang Narkotika, Departemen Kesehatan Masyarakat Universitas
Kesehatan Republik Indonesia, Gadjah Mada, Yogyakarta.
Jakarta. Wirawan, Arif Surya., 2015, Evaluasi
Peraturan Pemerintahan Republik Penyimpanan Sediaan Farmasi Di
Indonesia Nomor 5 Tahun 1997 Gudang Farmasi Rumah Sakit
tentang Psikotropika, Departemen Umum Daerah Banyumas, skripsi,

Farida Elyyani [ Farmasi FKIK UMY] 11


Naskah Publikasi Karya Tulis Ilmiah 25 Desember 2016

Fakultas Kedokteran dan Ilmu


Kesehatan Universitas
Muhammadiyah, Yogyakarta.
Zandy, R.F., 2010, Analisis Pengelolaan
Obat Tahap Perencanaan dan
Pengadaan di Dinas Kesehatan
Kabupaten Cilacap Tahun 2008,
skripsi, Fakultas Farmasi
Universitas Gadjah Mada,
Yogyakarta.

Farida Elyyani [ Farmasi FKIK UMY] 12