Anda di halaman 1dari 60

KESESUAIAN LAHAN PERMUKIMAN KABUPATEN PANDEGLANG

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kabupaten Pandeglang merupakan daerah yang sangat potensial baik dari
segi ketersidiaan sumber daya alam (SDA), pariwisata dan budaya. Sehingga
memacu pertumbuhan penduduk yang berangsur semakin padat. Data jumlah
penduduk kabupaten Pandeglang pada tahun 2010 yaitu 1.145.792 jiwa, pada tahun
2014 meningkat menjadi 1.279.569 jiwa menurut badan pusat statistik kabupaten
Pandeglang. Seiring pesatnya pertumbuhan penduduk, hal ini berpengaruh terhadap
ketersediaan tanah sebagai daerah pembangunan permukiman yang menjadi
kebutuhan primer setiap individu. Alih fungsi penggunaan lahan di daerah yang
berkembang dilakukan guna memenuhi kebutuhan akan rumah bagi masyarakat
yang seharusnya memperhatikan aspek lokasi pembangunan yang sesuai dengan
rencana tata ruang, kesesuaian lahan berdasarkan parameter yang ada. Perencanaan
pembangunan kawasan permukiman dapat dilakukan dengan metode analisa sistem
informasi geografis (SIG) untuk menghasilkan lokasi yang sesuai dengan rencana
tata ruang dan kesesuaian lahannya, juga menggunakan metode skoring untuk
mendapatkan prioritas lokasi permukiman. Hasil analisa kesuaian lahan
permukiman dari proses overlay dan skoring antara peta administrasi kabupaten
Pandeglang, peta kemiringan lereng, peta jenis tanah, peta bentuk lahan dan peta
penggunaan lahan adalah peta kesesuaian lahan untuk permukiman

1.2 Rumusan Masalah


Adapun Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:
1. Bagaimana penentuan kelayakan dan kesesuaian pada lokasi yang akan
dilakukan pembangunan permukiman?
2. Parameter apa saja yang digunakan untuk menentukan kelayakan dan
kesesuaian pada lokasi yang akan dilakukan pembangunan permukiman?
3. Berapakah luasan permukiman yang sesuai syarat layak suatu
permukiman?

M FAHRI FATHARANI (1405268) 1


KESESUAIAN LAHAN PERMUKIMAN KABUPATEN PANDEGLANG

1.3 Batasan Masalah


Batasan masalah dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Lokasi penelitian berada di wilayah kabupaten Pandeglang, Banten
2. Penilaian kesesuaian lahan dan daya dukung lingkungan dilakukan dengan
merujuk pada Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup no 17 tahun
2009
3. Data penggunaan lahan yang digunakan untuk penilaian kesesuaian lahan
diperoleh dari instansi penyelenggara kebijakan penataan ruang wilayah
studi.
4. Data yang digunakan yaitu Data Rencana Detail tata Ruang Kota
(RDTRK), data jenis tanah, data kelerengan, data tekstur tanah dan batas
administrasi.
5. Pengolahan data spasial menggunakan metode sistem informasi
geografis (SIG)
6. Metode yang digunakan untuk analisis adalah metode overlay serta
metode scoring.

1.4 Tujuan Penelitian


Tujuan penelitian yang selajan dengan latar belakang, adalah:
1. Mendeskripsikan kondisiwolayah studi dan mendapatkan nilai kesesuaian
lahan dengan melakukan klasifikasi/ penggolongan kemampuan lahan
berdasarkan data fisik
2. Mengetahui penyebaran kesesuaian lahan lokasi permukiman
3. Mengetahui luasan permukiman berdasarkan syarat layak suatau
permukiman

1.5 Manfaat Penelitian


Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat untuk:
1. Sebagai bahan literatur tentang pemetaan volume sampah menggunakan
SIG bagi departemen pendidikan teknik sipil prodi S1 pendidikan teknik
bangunan.
2. Memberikan informasi mengenai ketepatan dalam pemelihan lokasi
untuk permukiman di kabupaten Pandeglang

M FAHRI FATHARANI (1405268) 2


KESESUAIAN LAHAN PERMUKIMAN KABUPATEN PANDEGLANG

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

2.1 Kabupaten Pandeglang


Wilayah Kabupaten Pandeglang berada pada bagian Barat Daya Propinsi
Banten dan secara Geografis terletak antara 6o21’ – 7o10’ Lintang Selatan (LS) dan
104o8’ – 106o11’ Bujur Timur (BT), dengan batas administrasinya adalah:
– Sebelah Utara : Kabupaten Serang
– Sebelah Timur : Kabupaten Lebak
– Sebelah Selatan : Samudera Indonesia
– Sebelah Barat : Selat Sunda
Luas wilayah Kabupaten Pandeglang adalah 274.689,91 Ha atau 2.747 Km2
dan secara wilayah kerja administrasi terbagi atas 35 kecamatan, 326 desa dan 13
kelurahan.
Dataran di Kabupaten Pandeglang sebagian besar merupakan dataran rendah
yakni di daerah bagian tengah dan selatan, dengan variasi ketinggian antara 0 –
1.778 meter di atas permukaan laut (dpl) dengan luas sekitar 85,07% dari luas
wilayah Kabupaten. Secara umum perbedaan ketinggian di Kabupaten Pandeglang
cukup tajam, dengan titik tertinggi 1.778 m diatas permukaan laut (dpl) yang
terdapat di Puncak Gunung Karang pada daerah bagian utara dan titik terendah
terletak didaerah pantai dengan ketinggian 0 m dpl.
Daerah pegunungan pada umumnya mempunyai ketinggian ± 400 m dpl,
dataran rendah bukan pantai pada umumnya memiliki ketinggian rata-rata 30 m dpl
dan daerah dataran rendah pantai pada umumnya mempunyai ketinggian rata-rata
3 m dpl. Kemiringan tanah di Kabupaten Pandeglang bervariasi antara 0 – 45 %;
dengan alokasi 0- 15 % areal pedataran sekitar Pantai Selatan dan pantai Selat
Sunda; alokasi 15 – 25 % areal berbukit lokasi tersebar; dan alokasi 25 – 45 %
areal bergunung pada bagian Tengah dan Utara Di Pandeglang terdapat 6 gunung
yaitu: Gunung Karang (1.778 mdpl), Gunung Pulosari (1.346 mdpl), Gunug
Aseupan (1.174 mdpl), Gunug Payung (480 mdpl), Gunung Honje (620 mdpl) dan
Gunung Tilu (562 mdpl).
Curah hujan di atas 3.000 mm/tahun terjadi di sekitar Stasion Penakar Hujan
yang berada di sekitar Kecamatan Menes, Labuan, Cibaliung, Mandalawangi dan

M FAHRI FATHARANI (1405268) 3


KESESUAIAN LAHAN PERMUKIMAN KABUPATEN PANDEGLANG

Kecamatan Jiput. Puncak hari hujan berada pada bulan November-Pebruari.


Sedangkan bulan kering berada pada bulan Mei-September. Berdasarkan rata-rata
curah hujan per tahun, -menurut klasifikasi Koppen-Kabupaten Pandeglang
termasuk kedalam iklim Af (Iklim Hujan Tropis) sedangkan apabila dilihat
berdasarkan Zone Agroklimat Oldeman termasuk dalam Zone A1.
Kabupaten Pandeglang ditinjau dari segi geologi memiliki beberapa jenis
batuan yang meliputi Alluvium, Undieferentiated (bahan erupsi gunung berapi),
Diocena, Piocena Sedimen, Miocena Lemistone dan Mineral Deposit. Sedangkan
beberapa jenis tanah yang ada di Kabupaten Pandeglang yaitu Aluvial, Grumosol,
Mediteran, dan Latosol.
Keadaan geomorfologi, topografi dan bentuk wilayah secara bersama-sama
akan membentuk pola-pola aliran sungi yang ada. Pola aliran sungai di Wilayah
Kabupaten Pandeglang pada umumnya berbentuk dendritik. Arah aliran sungai-
sungai di Wilayah ini dibedakan menjadi dua, sehingga membentuk dua daerah
aliran sungai yaitu daerah aliran dari arah Timur yang bermuara di Selat Sunda dan
daerah aliran dari arah Utara yang bermuara di Samudera Indonesia.
Wilayah Kabupaten Pandeglang mengalir 14 sungai yang berukuran sedang
sampai besar. Sungai – sungai tersebut adalah Sungai Cidano, Sungai Cibungur,
Sungai Cisanggona, Sungai Ciliman, Sungai Cihonje, Sungai Cipunagara, Sungi
Cisumur, Sungai Ciseureuhan, Sungai Cijaralang, Sungai Cikadongdong, Sungai
Ciseukeut, Sungai Cimara, Sungai Cibaliung, dan Sungai Cicanta. Dari ke-14
sungai tersebut terbagi dalam 6 (enam) Daerah Aliran Sungai (DAS) antara lain:
1. Daerah Aliran Sungai (DAS) Ciujung
2. Daerah Aliran Sungai (DAS) Cidano
3. Daerah Aliran Sungai (DAS) Cibungur
4. Daerah Aliran Sungai (DAS) Ciliman
5. Daerah Aliran Sungai (DAS) Cimandiri
6. Daerah Aliran Sungai (DAS) Cikeruh

2.2 Pengertian Peta


Pengertian peta menurut Badan Informasi Geospasial (BIG, 2005) adalah
wahana bagi penyimpanan dan penyajian data kondisi lingkungan, merupakan

M FAHRI FATHARANI (1405268) 4


KESESUAIAN LAHAN PERMUKIMAN KABUPATEN PANDEGLANG

sumber informasi bagi para perencana dan pengambilan keputusan pada tahapan
pada tingkatan pembangunan. Unsur-unsur peta disajikan diatas peta dengan cara
pemilihan, seleksi atau generalisasi sesuai dengan maksud dan tujuan dari
pembuatan peta tersebut. Peta dibuat dengan sejumlah informasi dan diharapkan
penyajiannya dapat digunakan dengan baik oelh pemakai peta
Pada umumnya peta yang menyajikan unsur-unsur permukaan bumi,
memiliki beberapa funsi yaitu:
a. Memperlihatkan posisi atau lokasi relatif dari suatu tempat
b. Memperlihatkan ukuran dalam pengertian jarak dan arah
c. Memperlihatkan bentuk atau unsur yang terdapat dipermukaan bumi
d. Menghimpun serta menselektir data dari permukaan bumi
2.2.1 Peta Rupabumi
Peta Rupabumi adalah peta yang menyajikan sebagian unsur-unsur alam
(asli) serta unsur-unsur buatan manusia pada bidang datar dengan Skala dan
proyeksi tertentu (Mastra, 1997)

Gambar 2.1. Contoh Peta Rupabumi

2.2.2 Peta Tematik


Peta Tematik adalah suatu peta yang memperlihatkan informasi kualitatif
dan atau kuantitatif dari suatu tema/maksud/lonsep tertentu, dalam hubungannya
dengan unsur/detail-detail Rupabumi yang spesifik, terutama yang sesuai dengan
tema peta tersebut (Azis,1985)

M FAHRI FATHARANI (1405268) 5


KESESUAIAN LAHAN PERMUKIMAN KABUPATEN PANDEGLANG

Gambar 2.2. Contoh peta tematik

2.3. Desain Peta


Setiap pembuatan suatu peta terlebih dahulu memerlukan desain petanya
karena hal ini akan menyangkut produk yang dihasilkan. Secara garis besar dasar
penyanjian informasi untuk pembuatan peta (Lab. FKI-ITB 1997), meliputi :
2.3.1 Skala peta
Skala adalah perbanfingan antara besaran jarak di bidang proyeksi
dengan jarak di permukaan fisik bumi seluruhnya (Purwihardjo. 2000)

2.3.2 Proyeksi peta


Proyeksi peta menurut Purwihardjo U (2000) bermaksud memindahkan
usur-unsur titik, garis dan sudut dari permukaan bumi (ellipsoida) ke bidang
datar dengan menggunakan cara dan aturan matematis tertentu sehingga
tercapai suatu keadaan yang diinginkan.

2.3.3 Grid dan Gratikul


Pada umumnya pada setiap pta disajikan garis-garis kerangka dalam
bentuk garis grid dan garis gratikul (graticule). Sedangkan pada peta-peta
tematik tertentu hanya menyajikan salah satu garis kerangka tersebut. Pada peta
dinding provinsi Banten skala 1:200.000 hanya menyajikan garis gratikul.
Menurut Sutarga (2000), grid merupakan garis yang terdiri dari garis-
garis tegak dan garis-garis mendatar yang saling tegak lurus membentuk segi

M FAHRI FATHARANI (1405268) 6


KESESUAIAN LAHAN PERMUKIMAN KABUPATEN PANDEGLANG

empat, yang besarnya tergantung dari interval grid (dalam Parsshanti


Wisdiwanti, 2003).
Menurut Sutarga (2000), gratikul adalah garis-garis kerangka peta yang
berupa garis-garis bujur dan lintang (meridian dan Paralel) yang terdapat dalam
peta dengan sistem proyeksi tertentu (dalam Parsshanti Wisdiwanti, 2003).

2.3.4 Legenda
Legenda pada tiap peta adalah hal yang sangat penting, karena legenda
merupakan suatu keharusan agar memudahkan dalam penyajian informasi
mengenai isi peta kepada pemakai peta. Legenda harus jelas menerangkan arti
dari simbol-simbol yang digunakan dalam peta

2.3.5 Simbol Peta


Informasi Permukaan bumi pada peta yang disajikan dalam bentuk
simbol, dapat dibedakan jika ditinjau dari artinya dan bentuknya. Penyajian
simbol peta terdiri atas:
a. Simbol Kualitatif
b. Simbol Kuantitatif

2.3.6 Warna
Warna merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam penyajian
simbol peta. Secara fisik, warna aalah sesuatu yang tidak dapat diraba atau
dirasakan tetapi dapat dilihat dengan mata (Bakosurtanal,1997)

2.4 Sistem Informasi Geografis (SIG)


2.4.1 Pengertian Sistem Informasi Geografis (SIG)
Sistem Informasi Geografis diartikan sebagaisistem informasi yang
digunakan untuk memasukan, menyimpan, memanggil kembali, mengolah,
menganalisis, dan menghasilkan data berreferensi geografis atau data geospasial,
untuk mendukung pengambilan keputusan dalam perencanaan dan penggelolaan
penggunaan lahan, sumber daya alam, lingkungan transportasi, fasilitas kota, dan
pelayanan umum lainnya. (Purwaamijaya, 2008)

M FAHRI FATHARANI (1405268) 7


KESESUAIAN LAHAN PERMUKIMAN KABUPATEN PANDEGLANG

Menurut ESRI (1990), SIG sebagai suatu kumpulan yang terorganisir dari
perangkat keras komputer, perangkat lunak, data geografi, dan personil yang
dirancang secara efisien untuk memperoleh, menyimpan, mengupdate,
memanipulasi, menganalisis, dan menampilkan semua bentuk informasi yang ber-
referensi geografi.
Bagian ini menampilkan informasi geografis menyangkut lingkungan, wilayah
dan isinya, tidak hanya menyangkut potensi dan distribusi sumber dayanya, tetapi
juga menyangkut keruangan dan ekologi dalam konteks suatu wilayah, baik bagian
darat, laut maupun lingkungan kehidupan.

2.4.2 Komponen Sistem informasi Geografis


1. Perangkat Keras Pendukung Sistem GIS, meliputi:
a) Peralatan untuk Pemasukan Data (Input)
b) Peralatan untuk Pemprosesan Data (Process)
c) Peralatan untuk Penyajian Hasil (Output)
d) Peralatan untuk Penyimpanan (Storage)
2. Perangkat lunak
Perangkat lunak mempunyai fungsi: pemasukan data, manipulasi data,
Penyimpanan data, Analisis Data, dan Penayangan Informasi Geografi
3. Data
Data merupakan komponen yang sangat penting dalam Sistem Informasi
Geografis, Keakurasian Data sangat dituntut dalam SIG
4. Sumber Daya Manusia
Teknologi SIG menjadi sangat terbatas kemampuannya jika tidak ada
Sumber Daya Manusia (SDM / para pakar) yang mengelola sistem dan
mengembangkan sistem untuk aplikasi yang sesuai. SDM Pengguna Sistem
dan SDM Pembuat Sistem harus saling bekerjasama untuk mengembangkan
teknologi SIG.
5. Metode
Model dan Teknik Pemrosesan yang perlu dibuat untuk berbagai aplikasi
SIG.

M FAHRI FATHARANI (1405268) 8


KESESUAIAN LAHAN PERMUKIMAN KABUPATEN PANDEGLANG

2.5. Metode Scoring

Metode pembobotan / scoring merupakan metode yang dimana setiap


parameter diperhitungkan dengan pembobotan yang berbeda. Bobot yang
digunakan sangat tergantung dari percobaan atau pengalaman empiris yang

telah dilakukan. Semakin banyak sudah diuji coba, semakin

akuratlah metode scoring yang digunakan. Di dalam melakukan metode scoring,


ada empat tahapan yang perlu dilakukan, yaitu (Bakosurtanal, 2010:27):

1. Pembobotan kesesuaian (Bobkes)

Metode scoring menggunakan pembobotan untuk setiap kesesuaian suatu


parameter. Tujuan dari pembobotan ini adalah untuk membedakan nilai pada
tingkat kesesuaian agar bisa diperhitungkan dalam perhitungan akhir zonasi
dengan menggunakan metode scoring. Pembobotan kesesuaian didefinisikan
sebagai berikut:

a. S1 (sangat sesuai) : apabila pembobotan scoring = 80.


b. S2 (sesuai) : apabila pembobotan scoring = 60.
c. S3 (sesuai bersyarat) : apabila pembobotan scoring = 40.
d. N (tidak sesuai) : apabila pembobotan scoring = 1.

2. Pembobotan parameter (Bobpar)

Metode scoring juga menggunakan pembobotan untuk setiap parameter.


Hal ini dikarenakan setiap parameter memiliki peran yang berbeda dalam
mendukung kehidupan suatu spesies budidaya. Parameter yang paling
berpengaruh mempunyai bobot yang lebih besar dibandingkan dengan
parameter yang kurang berpengaruh. Jumlah total dari semua bobot
parameter adalah 100

3. Kesesuaian scoring

Kesesuaian scoring ditetapkan berdasarkan nilai dari pembobotan


(Bobscore), dengan perhitungan kriteria sebagai berikut:

M FAHRI FATHARANI (1405268) 9


KESESUAIAN LAHAN PERMUKIMAN KABUPATEN PANDEGLANG

a. S1 (sangat sesuai) : apabila pembobotan scoring ≥ 80.


b. S2 (sesuai) : apabila pembobotan scoring antara 60 - 80.
c. S3 (sesuai bersyarat) : apabila pembobotan scoring antara 40 - 60.
d. N (tidak sesuai) : apabila pembobotan scoring ≤ 40.

Berdasarkan pada perhitungan rumus tersebut diatas, maka didapatkan


pembagian kelas kesesuaian lahannya.

Tabel 2.1. Pembobotan Parameter Kesesuaian Lahan

No. Parameter Fisik Bobot


1 Sudut Lereng 3
2 Golongan Tanah 2
3 Indek Golongan Tanah 1
4 Daya Dukung Tanah 3
5 Daya hantar Tanah 2
6 Angka pori tanah 2
7 Kadar air tanah 3
8 Indek beban titik batuan 1
9 Indek keausan batuan 1
1 Struktur perlapisan 1
10 Batuan 2
1 Erosi permukaan 2
21 Erosi lembah 2
13 Gerakan massa 3
14 Gerakan air 2
15 Intensitas hujan 2
61 Kerapatan aliran 3
Sumber : Khardiyanto, 7 2005

Analisis pembobotan yang dikembangkan menggunakan teknik Sistem Informasi


Geografis (SIG) untuk mengusulkan lokasi yang cocok tergantung pada jumlah
lapisan tematik, model tersebut digunakan untuk menerapkan skala pengukuran
umum dari nilai-nilai untuk masukan beragam dan berbeda dalam rangka
menciptakan analisis terpadu (Raid, et, 2011). Dalam penetapan kesesuaian lahan,
parameter fisik yang digunakan adalah sebagai berikut:

2.5.1. Kelerengan Tanah

Relief secara umum dapat diartikan sebagai garis-garis ketinggian dari


beberapa bagian permukaan bumi yang berpedoman pada ketinggian maupun
kecuraman lereng. Daerah yang bertopografi datar memiliki relief yang lebih baik
bila dibandingkan dengan daerah berombak hingga

M FAHRI FATHARANI (1405268) 10


KESESUAIAN LAHAN PERMUKIMAN KABUPATEN PANDEGLANG

berbukit, sehingga semakin datar, maka semakin tinggi nilainya (baik) (Zuidam,
1979 dalam Khadiyanto, 2005).

2.5.2. Jenis Tanah

Menurut Khadiyanto (2005), peran tanah dalam keteknikan bangunan cukup


penting yakni sebagai fondasi dasar. Dalam peran itu tanah harus mampu menahan
beban bangunan. Kemampuan tersebut bergantung pada kondisi tanahnya, yang
ditentukan oleh sifat-sifat fisik tanah. Menurut Dudal dan Supraptohardjo (1957),
klasifikasi tanah di Indonesia mempunyai 12 jenis tanah. Perbedaan tanah-tanah
tersebut didasarkan pada unsur-unsur yang mendominasi seperti kandungan bahan
organik, perkembangan horison, bahan induk, warna, regim kelembaban dan sifat-
sifat lainnya. Keduabelas jenis tanah tersebut adalah:

a. Tanah organosol atau tanah gambut

Sebagian besar kandungannya bahan organic (>65%). Ciri-cirinya:


berwarna coklat kelam sampai hitam, kadar air tinggi, pH bekisar 3-5, porositas
makro sangat tinggi, jumlah hara persatuan volume rendah, jika tanah ini
mengalami kekeringan akan sulit mengikat air. Di Indonesia banyak tanah ini
dijumpai di sepanjang pantai selatan Irian Jaya, pantai selatan dan barat pulau
Kalimantan dan pantai timur Sumatera.

b. Litosol

Tanah yang mempunyai solum kurang dari 30 cm, bertekstur kasar, berpasir
dan atau berkerikil, beragamnya warna tanah berkonsitensi, keasaman,
kandungan unsur hara dan sangat peka terhadap erosi.

c. Aluvial

Merupakan tanah muda sebagai hasil sedimentasi bahan mineral yang


dibawa sungai atau air. Ciri-cirinya: bewarna kelabu sampai coklat, bertekstur
liat sampai pasir, konsistensi keras bila kering dan teguh bila lembab. Bahan
organik relatif rendah. Menurut Hardiyanto (1996), tanah ini termasuk
terkonsolidasi normal sehingga kuat gesernya bertambah bila kedalamannya
juga bertambah dan cukup kuat untuk menopang bangunan di atasnya.

M FAHRI FATHARANI (1405268) 11


KESESUAIAN LAHAN PERMUKIMAN KABUPATEN PANDEGLANG

d. Regosol

Merupakan tanah yang belum mengalami perkembangan dan ber-tekstur


pasir. Ciri-ciri: tidak berstruktur, berwarna abu-abu, coklat-keku-ningan
sampai coklat, konsistensi lepas, teguh atau bahkan sangat teguh bila memadat,
ph 5-7, daya ikat air sangat rendah karena pori makro sangat banyak, mudah
tererosi.

e. Latosol

Merupakan tanah dengan kedalaman solum >2 m, berwarna merah


kecoklatan sampai kuning, tekstur liat, berstruktur remah atau gempal,
konsistensi gembur di bagian atas dan teguh atau sangat teguh dibagian bawah,
peka terhadap erosi.

f. Podsol

Merupakan tanah yang berkembang dari batuan sedimen yang mempunyai


butir-butir penyusun kasar, solum 0,4 - 1m, warna coklat keputih-putihan, tak
berstruktur, konsistensi pada bagian bawah teguh dan bagian atas lepas,
permeabilitas sedang sampai cepat dan kemampuan menahan air sangat rendah
sehingga rawan terhadap erosi.

g. Andosol

Merupakan tanah yang berkembang dari abu vulkanik yang banyak


mengandung bahan amorf. Solum 1 - 2 m, warna tanah hitam, kelabu sampai
coklat tua, tekstur tanah lempung berdebu sampai lempung, struktur remah di
bagian atas dan gumpal dibagian bawah. Konsistensi gembur.

h. Grumosol

Merupakan tanah yang berkembang dari sedimen laut yang telah terangkat
atau bahan yang dipengaruhi oleh formasi kapur. Ciri-ciri, solum 1 -2 m, warna
kelabu sampai hitam, tekstur lempung berliat sampai liat, dalam keadaan basah
tanah ini mengembang dan sangat lekat, sedangkan pada saat kering mengkerut
sehingga membentuk rekahan-rekahan yang lebar dan bongkahan yang teguh.

M FAHRI FATHARANI (1405268) 12


KESESUAIAN LAHAN PERMUKIMAN KABUPATEN PANDEGLANG

Permeabilitas tanah sangat rendah, kemampuan menahan air sangat baik, peka
terhadap erosi.

i. Rendzina

Merupakan tanah yang berkembang dari batuan kapur yang belum


berkembang, warna kelabu sampai hitam, tekstur liat sampai kerikil,
konsistensi gembur. Peka terhadap erosi.

j. Mediteran Merah Kuning

Merupakan tanah yang berkembang dari bahan induk kapur tetapi telah
mengalami berkembangan lanjut. Ciri-ciri, solum 1 - 2 m, warna coklat sampai
merah, tekstur lempung sampai berliat, stuktur gumpal, konsistensi gembur
pada bagian atas dan teguh pada bagian bawah. Tingkat kepekaan terhadap
erosi sedang sampai tinggi.

k. Tanah Coklat Non Klasik

Merupakan tanah yang berkembang dari induk batuan kapur. Ciri-ciri,


lapisan atas berwarna coklat atau coklat kemerahan, tekstur lempung sampai
lempung berdebu, konsistensi agak teguh. Lapiasan bawah berwarna lebih
merah, konsistensi teguh dan plastis, tekstur lempung sampai lempung
berdebu.

l. Tanah Hutan Coklat

Merupakan tanah yang berkembang dari batuan yang beraneka, warna


coklat kehitaman sampai kuning, tekstur lempung sampai lempung berdebu
dan stuktur keras.

2.5.3. Tekstur Tanah

Tekstur tanah menunjukkan kasar atau halusnya suatu tanah. Tekstur tanah
merupakan perbandingan relatif pasir, debu, dan liat (< 2mm). tanah dengan
kandungan debu tinggi mempunyai kapasitas tertinggi mengikat air yang tersedia
bagi tanaman (Foth, 1988). Tekstur biasa digunakan sebagai kriteria dalam
klasifikasi tanah maupun kesesuaian lahan. Tanah yang bertekstur kasar dengan 20

M FAHRI FATHARANI (1405268) 13


KESESUAIAN LAHAN PERMUKIMAN KABUPATEN PANDEGLANG

% bahan organic atau lebih dan tanah bertekstur halus dengan 30 % bahan organik
atau lebih berdasarkan robot mempunyai sifat yang didominasi oleh fraksi organik
dan bukanya oleh fraksimineral. Penentuan tekstur tanah sering perlu bila
memeriksa tanah dilapangan, menggunakan metode rasa untuk menentukan tekstur
tanah berbagai horizon, polipedon, dan untuk mengindentifikasi tanah dengan seri
dan tipe dan untuk membedakan antara tanah-tanah yangberbeda langskap (Foth,
1994).

Menurut Ritung (2007), tekstur tanah dikelompokkan menjadi beberapa


kelas diantaranya:

a. Halus : Liat berpasir, liat, liat berdebu.


b. Agak halus : Lempung berliat, lempung liatberpasir, lempung liat berdebu.
c. Sedang : Lempung berpasir sangat halus, lempung, lempung berdebu,
d. Agak kasar : Lempung berpasir.
e. Kasar : Pasir, pasir berlempung.
f. Sangat halus : Liat.

Tabel 2.2. Skor dan Bobot Parameter Permukiman

Variabel Bobot Sub Variabel Keterangan Skor Total


0- 8% Datar 5 15
8 - 15 % Agak Miring 4 12
Kelerengan Tanah 3 15 - 25 % Miring 3 9
25 - 45 % Sangat Miring - Agak Curam 2 6
> 45 % Sangat Curam 1 3
Aluvial, Tanah Glei Planosol Hidromorf Kelabu, Tidak Peka 5 15
Literita Air Tanah
Jenis Tanah 3 Laotosol Agak Peka 4 12
Brown Forest Soil, Non Calsic Brown. Mediterania Kurang Peka 3 9
Andosol, Laterit, Grumosol, Pedsol, Pedsolik Peka 2 6
Regosol, Litosol, Organosol, Renzina Sangat Peka 1 3
Kasar 5 10
Tekstur Tanah 2 Sedang 3 6
Halus 1 2

Sumber : Khadiyanto (2005) dan Chandra (2002)

2.6. Kesesuaian Lahan

Kesesuaian lahan adalah tingkat kecocokan dari sebidang lahan untuk suatu
penggunaan tertentu yang lebih spesifik dari kemampuan lahan. Perbedaan dalam
tingkat kesesuaian ditentukan oleh hubungan antara keuntungan dan masukan yang
diperlukan sehubungan dengan penggunaan lahan tersebut. Dalam bentuknya yang
sangat kuantitatif, kesesuaian lahan dinyatakan dalam istilah ekonomi dari masukan

M FAHRI FATHARANI (1405268) 14


KESESUAIAN LAHAN PERMUKIMAN KABUPATEN PANDEGLANG

dan keluaran atau dalam hasilnya berupa pendapatan bersih atau di daerah-daerah
berkembang berupa tingkatan kehidupan masyarakat taninya. Tujuan daripada
evaluasi kesesuaian lahan adalah untuk memberikan penilaian kesesuaian lahan
untuk tujuan-tujuan yang telah dipertimbangkan. Manfaat evaluasi kesesuaian
lahan adalah memberikan pengertian tentang hubungan-hubungan antara kondisi
lahan dan penggunaannya, serta memberikan kepada perencana berbagai
perbandingan dan alternatif pilihan penggunaan yang dapat diharapkan berhasil.

Menurut FAO (1976) struktur klasifikasi kesesuaian lahan dibagi menjadi


empat kategori yaitu:

a. Order kesesuaian : mencerminkan macam kesesuaiannya.


b. Kelas kesesuaian : mencerminkan derajat kesesuaian lahan dalam

order

c. Subkelas kesesuaian :mencerminkan macam hambatan atau macam

perbaikan utama yang dibutuhkan dalam kelas.

d. Unit kesesuaian : mencerminkan perbedaanperbedaan minor yang

Dibutuhkan dalam pengelolaan subkelas.

Order kesesuaian lahan dapat dibagi menjadi dua yaitu: Order sesuai (S) dan
order tidak sesuai (N) bagi penggunaan yang dipertimbangkan. Order sesuai (S)
adalah lahan yang dapat dipergunakan secara berkelangsungan untuk suatu tujuan
yang telah dipertimbangkan. Order tidak sesuai (N) adalah lahan yang apabila
dikelola, mempunyai kesulitan sedemikian rupa sehingga mencegah
penggunaannya untuk suatu tujuan yang telah direncanakan. Order sesuai (S) dapat
dibagi lagi menjadi kelaskelas. Dalam hal ini terdapat tiga kelas dalam order sesuai
yang didefinisikan secara kuantitatif adalah sebagai berikut:

a. Kelas S1 (sangat sesuai) adalah lahan yang tidak mempunyai pembatas


serius dalam menerapkan pengelolaan yang diberikan atau hanya
mempunyai pembatas yang tidak berarti yang tidak secara nyata
berpengaruh terhadap produksinya dan tidak menaikkan masukan melebihi
yang biasa diberikan.

M FAHRI FATHARANI (1405268) 15


KESESUAIAN LAHAN PERMUKIMAN KABUPATEN PANDEGLANG

b. Kelas S2 (cukup sesuai) adalah lahan yang mempunyai pembatas agak berat
untuk suatu penggunaan yang lestari. Pembatas tersebut akan mengurangi
produktivitas dan keuntungan, dan meningkatkan masukan yang diperlukan.

c. Kelas S3 (sesuai marginal) adalah lahan yang mempunyai pembatas yang


sangat berat untuk suatu penggunaan yang lestari. Pembatas akan
mengurangi produktivitas atau keuntungan dan perlu menaikkan masukan
yang diperlukan.

Order N (tidak sesuai) biasanya ada dua kelas yaitu:

a. Kelas N1 (tidak sesuai saat ini) adalah lahan yang mempunyai pembatas
sangat berat, tetapi masih memungkinkan untuk diatasi, hanya tidak dapat
diperbaiki dengan tingkat pengetahuan sekarang ini dengan biaya yang
rasional.
b. Kelas N2 (tidak sesuai untuk selamanya) adalah lahan yang mempunyai
pembatas sangat berat, sehingga tidak mungkin untuk digunakan bagi suatu
penggunaan yang lestari.

Tabel 2.3. Kesesuaian penggunaan Lahan Berdasarkan Kemiringan Lereng

M FAHRI FATHARANI (1405268) 16


KESESUAIAN LAHAN PERMUKIMAN KABUPATEN PANDEGLANG

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1. Lokasi Penelitian

Wilayang penelitian ini berada di Kabupaten Pandeglang, berikut peta


administrasi Kabupaten Pandeglang

Gambar 3.1. Lokasi Penelitian (sumber: dinas tata ruang Kab. Pandeglang)

Wilayah Kabupaten Pandeglang berada pada bagian Barat Daya Propinsi


Banten dan secara Geografis terletak antara 6o21’ – 7o10’ Lintang Selatan (LS) dan
104o8’ – 106o11’ Bujur Timur (BT), dengan batas administrasinya adalah:
– Sebelah Utara : Kabupaten Serang
– Sebelah Timur : Kabupaten Lebak
– Sebelah Selatan : Samudera Indonesia
– Sebelah Barat : Selat Sunda
Luas wilayah Kabupaten Pandeglang adalah 274.689,91 Ha atau 2.747 Km2
dan secara wilayah kerja administrasi terbagi atas 35 kecamatan, 326 desa dan 13
kelurahan.

M FAHRI FATHARANI (1405268) 17


KESESUAIAN LAHAN PERMUKIMAN KABUPATEN PANDEGLANG

3.2. Data dan Peralatan


3.2.1. Data

Data atau bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai
berikut:

a. Data Rencana Detail Tata Ruang Kota (RDTRK) Kab. Pandeglang tahun
2011 bersumber dari Tata Ruang Kabupaten Pandeglang
b. Peta batas Administrasi Kabupaten Pandeglang tahun 2011 bersumber dari
Badan Pertanahan Kabupaten Pandeglang
c. Peta penggunaan lahan Kabupaten Pandeglang tahun 2011 bersumber dari
Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Pandeglang
d. Peta Jenis Tanah Kabupaten Pandeglang tahun 2011 bersumber dari Badan
Pertanahan Kabupaten Pandeglang
e. Peta Geomorfologi Kabupaten Pandeglagn tahun 2011 bersumber dari
Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Pandeglang

3.2.2. Peralatan

Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagain berikut:

a. Perangkat keras
– Laptop
– Printer
b. Perangkat lunak
– Microsoft Office 2016
– ArcGIS 10.3
– ArcVIEW 3.3

3.3. Metodologi Penelitian

3.3.1 Diagram Alir


Secara sistematis langkah-langkah dalam pembuatan karya ilmiah ini
disajikan dalam bentuk diagram alir seperti gambar berikut ini:

M FAHRI FATHARANI (1405268) 18


KESESUAIAN LAHAN PERMUKIMAN KABUPATEN PANDEGLANG

Tahap Persiapan

Mulai Identifikasi awal Studi Literatur

Pengolahan Data Pengumpulan Data

Analisis Data Penyususnan Laporan

Gambar 3.2. Diagram Alir Tahap Pelaksanaan

Gambar 3.3. Diagram Alir Pembuatan Peta Kesesuaian Lahan


Permukiman

M FAHRI FATHARANI (1405268) 19


KESESUAIAN LAHAN PERMUKIMAN KABUPATEN PANDEGLANG

Penjelasan mengenai diagram alir tahap pelaksanaan diatas adalah sebagai berikut:

1. Studi Literatur

Studi literatur dilakukan untuk mempelajari dan mengumpulkan referensi


dalam penelitianini mengenai teori dan prosedur pengolahan data serta
penelitian sebelumnya mengenai identifikasi melalui buku jurnal, dan juga web
site terkait.

2. Tahap Pelaksanaan
Pengolahan Data
Pengolahan data dilakukan untuk melakukan pengolahan data
dengan tujuan mendapatkan peta Keseseuaian Lahan Permukiman yang
selanjutnya akan dilakukan tahap analisa.

3. Tahap Analisa
Analisa Data
Melakukan analisa dari pengolahan data yang telah didapatkan.

4. Tahap Akhir
Penyajian Data
Kegiatan penelitian Tugas Akhir pada tahap akhir adalah melakukan
penyajian data berupa laporan hasil dan peta yang berisikan informasi
ringkas megenai data yang didapatkan.

3.3.2 Studi Literatur


Studi literatur adalah mencari referensi teori yang relefan dengan kasus atau
permasalahan yang ditemukan. Referensi tersebut berisikan tentang:
 Parameter Kesesuaian lahan untuk permukiman
 Rencana detail tata ruang untuk Kabupaten Pandeglang
Referensi ini dapat dicari dari buku, jurnal, artikel laporan penelitian, dan situs-situs
di internet.

M FAHRI FATHARANI (1405268) 20


KESESUAIAN LAHAN PERMUKIMAN KABUPATEN PANDEGLANG

3.3.3 Pengumpulan Data


Data-data yang dipakai dalam analisis kesesuaian lahan permukiman, yaitu:
1. Data rencana detail tata ruang kabupaten Pandeglang tahun 2011
2. Peta administrasi kecamatan tahun 2011 (shp)
3. Peta penggunaan lahan Kabupaten Pandeglang tahun 2011 (shp)
4. Peta jenis tanah Kabupaten Pandeglang tahun 2011 (shp)
5. Peta geomorfologi Kabupaten Pandeglang tahun 2011 (shp)

3.3.4 Pengolahan Data


3.3.4.1 Pembuatan Peta
Pembuatan peta untuk menganalisis kesesuaian lahan permukiman
Kabupaten Pandeglang, salah satunya membuat peta batas administrasi kecamatan
dengan Menggunakan sofware ArcView 3.3 dan bereferensi pada WGS 84 dengan
zona 48 S.
3.3.4.2 Persiapan peta dasar
Salah satu data peta yang digunakan adalah peta wilayah administrasi
Kabupaten Pandeglang yang didapat dari BPN kabupaten Pandeglang.

Gambar 3.4. Peta Batas Administrasi Kabupaten Pandeglang

M FAHRI FATHARANI (1405268) 21


KESESUAIAN LAHAN PERMUKIMAN KABUPATEN PANDEGLANG

3.3.4.3 Penyiapan peta di aplikasi arcview 3.3


Peta tersebut dimasukan ke dalam aplikasi arcview 3.3 dengan cara:

1. Buka aplikasi arcview 3.3


Klik 2 kali shortcut arcview 3.3 pada desktop

Gambar 3.5. lokasi aplikasi arcview 3.3. pada desktop

Namun letak aplikasi dapat berbeda beda ditiap perangkat keras.


2. Masukan peta dengan cara mengklik “add theme” yang berada pada menu
GUI aplikasi tersebut.

Gambar 3.6 GUI arcview 3.3

3. Mengaktifkan register and transform


Register and transform berguna untuk mendaftarkan koordinat peta agar
koordinat peta yang sudah dimasukan ke dalam aplikasi memiliki koordinat
yang sama dengan koordinat peta asli. proses register and transform, yaitu:

M FAHRI FATHARANI (1405268) 22


KESESUAIAN LAHAN PERMUKIMAN KABUPATEN PANDEGLANG

 Mengaktifkan register and transform tool di: file - extensions - lalu centang
“register and transform tool”

Gambar 3.7. file – extensions

Gambar 3.8. centang “register and transform tool”


4. Proses register and transform
 Klik menu “view”
 Klik “register and transform”
 Lalu akan muncul dialog box seperti berikut

Gambar 3.9. register and transform

M FAHRI FATHARANI (1405268) 23


KESESUAIAN LAHAN PERMUKIMAN KABUPATEN PANDEGLANG

 Klik icon “S” pada dialog box register and transform lalu klik lokasi koordinat
yang ingin disesuaikan dengan koordinat aslinya, setelah itu masukan koordinat
X dan Y asli ke dalam box destination lalu klik Enter.

Gambar 3.10. source point

 Daftarkan 4 point agar koordinat tidak bergeser terlalu jauh dari aslinya.
 Setelah itu klik “World Write File”

3.3.4.3. Digitasi peta


1. Cara membuat theme baru:
 Klik “View”
 lalu pilih “new theme”
 pada feature type terdapat 3 pilihan, yaitu: point, line, dan polygon. Pilih
salah satunya sesuai kebutuhan. Lalu save.

Gambar 3.11. New Theme

M FAHRI FATHARANI (1405268) 24


KESESUAIAN LAHAN PERMUKIMAN KABUPATEN PANDEGLANG

2. cara mengaktifkan theme


 klik “theme”
 lalu klik “start editing”

Gambar 3.12. Cara mengaktifkan theme

Gambar 3.13 Theme Yang Siap Digunakan


3. proses digitasi
 klik “draw polygon” pada icon yang ditunjuki arah panah.

Gambar 3.14 Proses Digitasi

M FAHRI FATHARANI (1405268) 25


KESESUAIAN LAHAN PERMUKIMAN KABUPATEN PANDEGLANG

 digitasipun sudah dapat dilakukan dengan mengklik kiri untuk memulai digitasi
dan klik kanan 2 kali untuk mengakhiri proses digitasi. Berikut contoh hasil
digitasi:

Gambar 3.15. Hasil digitasi


3.3.4.4.Pengisisan atribut
Untuk memberikan informasi pada theme yang dibuat perlu disiapkan tabel yang
akan diisi oleh informasi yang diperlukan. Sebagai contoh untuk theme wilayah
dilengkapi informasi tentang nama kecamatan, jumlah penduduk, serta jumlah
produksi sampah harian dan tahunan. Langkah yang dilakukan adalah:
1. aktifkan theme yang akan dilengkapi dengan tabel.
2. Pilih tool bar open theme tabel hingga muncul

Gambar 3.16. Attributes of kecamatan.shp

M FAHRI FATHARANI (1405268) 26


KESESUAIAN LAHAN PERMUKIMAN KABUPATEN PANDEGLANG

3. tambah kan 3 kolom baru, yaitu: nama kecamatan


4. Klik menu table dan pilih start editing
5. Dari menu edit, pilih add field sehingga muncul kotak dialog

Gambar 3.17. Add field


6. sehingga sekarang tabelnya menjadi seperti berikut:

Gambar 3.18. Hasil penambahan field


7. isi tabel dengan data sebagai berikut:

Gambar 3.19. Hasil pengisian table

M FAHRI FATHARANI (1405268) 27


KESESUAIAN LAHAN PERMUKIMAN KABUPATEN PANDEGLANG

8. dari menu tabel klik stop editing untuk mengakhiri pengisian tabel.

3.3.4.5. Layout Peta


Setalah peta didigitasi dan diisi dengan attribute, maka langkah terakhir yaitu
membuat layout peta. Langkah yang dilakukan adalah:
1. Klik “view” lalu pilih layout, sehingga muncul

Gambar 3.20. Template manager


2. Pilih template yang ingin digunakan lalu klik oke, lalu pilih new layout.
Sehingga muncul

3.21 batas kecamatan

M FAHRI FATHARANI (1405268) 28


KESESUAIAN LAHAN PERMUKIMAN KABUPATEN PANDEGLANG

Setelah selesai, simpan hasil layout tersebut ke bentuk yang diinginkan misal
JPEG.:

Gambar 3.22 Contoh Peta Yang Selesai Dilayout

M FAHRI FATHARANI (1405268) 29


KESESUAIAN LAHAN PERMUKIMAN KABUPATEN PANDEGLANG

3.3.4.6. Proses Overlay (Union)

Buka shortcut ArcMap 10.3 pada desktop

Gambar 3.23 lokasi aplikasi ArcMap 10.3

Tentukan terlebih dahulu sistem koordinat dengan klik kanan layer – properties –
sistem koordinat – pilih Indonesia 1974 UTM Zone 48s

Gambar 3.24 Memilih Sistem Koordinat

M FAHRI FATHARANI (1405268) 30


KESESUAIAN LAHAN PERMUKIMAN KABUPATEN PANDEGLANG

Pilih menu arctoolbox – Analysis Tools – Overlay – Union, untuk langkah awal
mengoverlay

Gambar 3.25 Perintah Overlay Metode Union


Masukan peta yang akan dioverlay dengan syarat sudah dalam format shp dan
memiliki sistem koordinat yang sama. Dan klik OK, maka akan otomatis
mengoverlay peta yang diinput

Gambar 3.26 Input Data Untuk Overlay

M FAHRI FATHARANI (1405268) 31


KESESUAIAN LAHAN PERMUKIMAN KABUPATEN PANDEGLANG

Gambar 3.27 Peta Hasil Overlay

3.3.4.7. Tahapan Scoring


1. Buka tabel pada layer kelerengan dengan klik kanan dan ‘Open Table’
(langkah 1), buat kolom baru untuk menempatkan skor kelas lereng dengan
tool ‘Add Field’ (langkah 2) dan beri nama kolom dengan type Double
(langkah 3).

Gambar 3.28 Pengisian Skor

M FAHRI FATHARANI (1405268) 32


KESESUAIAN LAHAN PERMUKIMAN KABUPATEN PANDEGLANG

2. Tekan tombol ‘Editor’ (langkah 1), masukkan nilai skor pada masing-masing
kelas (langkah 2)

Gambar 3.29 Pengisian Skor

Gambar 3.30 Pengisian Skor

3.Sorot kolom total dan klik kanan, pilih “field calculator”, masukan formula
penjumlahan skor kelerengan + skor jenis tanah + skor tekstur tanah, klik Ok

M FAHRI FATHARANI (1405268) 33


KESESUAIAN LAHAN PERMUKIMAN KABUPATEN PANDEGLANG

Gambar 3.31. Penjumlahan Skor

4. Lakukan “Select BY attribute” dan masukan kriteria skor, klik “Apply” dan diberi
nama “sesuai”, “ kurang sesuai” dan selanjutnya

Gambar 3.32 Kesimpulan Kesesuaian Lahan Permukiman

Atur tampilan file out put jenis kesesuaian lahan dengan klik kanan layer :
Properties – syumbology

M FAHRI FATHARANI (1405268) 34


KESESUAIAN LAHAN PERMUKIMAN KABUPATEN PANDEGLANG

Gambar 3.33. Peta Kesesuaian Lahan Permukiman Kabupaten Pandeglang

3.3.4.8. Layout Peta


Setalah peta didigitasi, diisi dengan attribute, dilakukan overlay dan
skoring, maka langkah terakhir yaitu membuat layout peta. Langkah yang
dilakukan adalah:
1. Pada software arcgis kita dapat mengatur layout dengan menu view ->
layout view.

Gambar 3.34. Mengatur view layout

M FAHRI FATHARANI (1405268) 35


KESESUAIAN LAHAN PERMUKIMAN KABUPATEN PANDEGLANG

2. Kemudian mengatur kertas, dipilih peta berbentuk Potrait.

Gambar 3.35 Menngatur kertas

3. Membuat Map title dapat ditambahkan ke dalam layout dengan


mengklik menu Insertdan memilih Title. Sebuah text box akan muncul
di halaman. Di dalamnya, sebuah default title akan tampil. Kita dapat
menuliskan judulnya dalam text box dan tekan Enter. Setelah itu, kita
dapat mengedit judul dengan melakukan double-klik pada judul dan
mengedit text properties. Font, Ukuran, Bentuk, atau Warna huruf dari
judul dapat diubah menggunakan toolbar Draw.

Gambar 3.36. Membuat Map Tittle

M FAHRI FATHARANI (1405268) 36


KESESUAIAN LAHAN PERMUKIMAN KABUPATEN PANDEGLANG

4. Menambahkan North Arrow dengan mengklik menu Insert dan


memilih tombol pilihan North Arrow. Dalam dialog box North Arrow
Selector yang muncul, kita dapat memilih berbagai macam north arrows
dan mengubah properties arrow yang dipilihnya.

Gambar 3.37 Menambahkan North Arrow


Begitu arrow sudah dipilih, properties-nya sudah dispesifikan, dan
tombol OK diklik, north arrow akan ditambahkan dalam map layout. Kita dapat
me-resize dengan meng-klik dan men-dragg pada salah satu pojoknya. Selain itu,
kita dapat memindahkan north arrow ke tempat yang diinginkan.

Gambar 3.38. Tampilan Nort Arrow

M FAHRI FATHARANI (1405268) 37


KESESUAIAN LAHAN PERMUKIMAN KABUPATEN PANDEGLANG

5. Scale Bar dapat ditambahkan dengan mengklik menu Insert dan memilih
tombol pilihan Scale Bar. Bentuk scale bar yang diinginkan dapat dipilih dan
properties-nya dapat diedit dalam dialog box Scale Bar Selector.

Gambar 3.39 Menambahkan Scale Bar

Jika tombol OK sudah di-klik, scale bar yang terpilih akan secara otomatis
muncul dalam layout peta. Kita dapat mengklik dan drag scale bar ke lokasi yang
diinginkan.

Gambar 3.40 Tampilan Scale Bar

M FAHRI FATHARANI (1405268) 38


KESESUAIAN LAHAN PERMUKIMAN KABUPATEN PANDEGLANG

6. Legenda dapat ditambahkan dengan mengklik menu Insert menu dan


memilih opsi Legend. Kemudian dialog box Legend Wizard akan muncul.

Gambar 3.41 Menambahkan Legenda


Secara default, legenda mencakup semua layer dalam peta, dan jumlah
kolom legenda menjadi satu. Kita dapat memilih layer mana yang akan
ditampilkan dalam legenda dengan memilih layer dari Map Layer box dan klik

tanda panah kanan ( ). Layer yang terpilih akan ditampilkan dalam


box Legend Items. Jika sudah memilih, tombol Next di-klik. Frame wizard yang
kedua akan muncul.

Gambar 3.42. Tampilan Legend Wizard

M FAHRI FATHARANI (1405268) 39


KESESUAIAN LAHAN PERMUKIMAN KABUPATEN PANDEGLANG

Dalam frame ini, kita memasukan judul legenda, mengatur properties,


dan mengatur title justification. Kemudian tekan tombol Previewuntuk melihat
sampel legenda yang tampil di peta. Kita harus mengklik tombol Previewlagi
sebelum ke frame dialog legend wizardberikutnya. Setelah semua parameter
terpilih, klik tombol Next. Frame berikutnya akan muncul.

Gambar 3.43. Tampilan Legend Wizard


Dalam frame ini, kita dapat memilih Legend Frame border, background
color, dan drop shadow. Jika sudah, tekan Next. Frame berikutnya akan muncul.

Gambar 3.44. Tampilan Legend Wizard

M FAHRI FATHARANI (1405268) 40


KESESUAIAN LAHAN PERMUKIMAN KABUPATEN PANDEGLANG

Dalam frame ini, kita dapat mengubah size dan shape dari patch simbol
yang digunakan untuk menampilkan kembali feature garis dan poligon dalam
legenda. sudah, tekan Next. Frame terakhir akan muncul.

Gambar 3.45. Tampilan Legend Wizard

Dalam frame ini, kita dapat mengubah spasi antara komponen yang
berbeda dari legenda. Kemudian klik tombol Finish. Tampilan layout akan ter
update, dan kita dapat me-resize dan memindah box legenda ke lokasi yang
diinginkan.

M FAHRI FATHARANI (1405268) 41


KESESUAIAN LAHAN PERMUKIMAN KABUPATEN PANDEGLANG

Gambar 3.46. Tampilan hasil Legenda

7. Untuk meberikan informasi mengenai koordinat, maka grid perlu


ditampilkan. Caranya yaitu klik kanan pada “Data frame”, kemudian pilih
properties. Maka akan muncul jendela “Data Frame Properties”, pilih menu
“Grid’, klik pada “New Grid”. Kemudian akan terdapat pilihan-pilihan tipe,
interval, tampilan dari Grid. Sesuaikan dengan apa yang ingin ditampilkan
dalam layout.

M FAHRI FATHARANI (1405268) 42


KESESUAIAN LAHAN PERMUKIMAN KABUPATEN PANDEGLANG

Gambar 3.47 Menambahkan Grid

M FAHRI FATHARANI (1405268) 43


KESESUAIAN LAHAN PERMUKIMAN KABUPATEN PANDEGLANG

Gambar 3.48 Tampilan Menambahkan Grid

M FAHRI FATHARANI (1405268) 44


KESESUAIAN LAHAN PERMUKIMAN KABUPATEN PANDEGLANG

Gambar 3.49 Tampilan Hasil Grid

M FAHRI FATHARANI (1405268) 45


KESESUAIAN LAHAN PERMUKIMAN KABUPATEN PANDEGLANG

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil

4.1.1 Hasil Permodelan Konseptual


Dalam pembuatan peta kesesuaian lahan permukiman kabupaten Pandeglang ini
dibuat permodelan konseptual yang berisi informasi-informasi terkait informasi
spasial yang dikelompokan menjadi :
 Komponen informasi spasial, yang terdiri dari peta batas administrasi
Kabupaten Pandelang, peta kemiringan lereng, peta penggunaan lahan, peta
jenis tanah dan peta geomorfologi.
 Resolusi informasi spasial, yang terdiri dari skala kecil, skala sedang dan
skala besar.
 Pengguna informasi spasial terdiri dari BPN (Badan Pertanahan Nasional),
BAPPEDA (Badan Perencanaan Pembangunan Daerah) dan Dinas Tata
Ruang Kabupaten Pandeglang.

Permodelan konseptual dibuat untuk memperoleh informasi resolusi peta dasar


yang akan digunakan serta lembaga terpilih yang paling mengakomodasi komponen
informasi spasial terbanyak menyajikan informasi keruangan kesesuaian lahan
permukiman. Matrik model konseptual penciptaan informasi kesesuaian lahan
permukiman Kabupaten Pandeglang, disajikan pada tabel 4.1

Tabel 4.1 matriks model konseptual kesesuaian lahan permukiman Kabupaten Pandeglang

Resolusi Pengguna Informasi


Komponen Informasi Spasial Skala Skala BAPPEDA BPN
Skala Kecil
sedang besar Kabupaten Kabupaten
Batas Kecamatan v v - v v
Batas Kabupaten v v - v v
Geomorfologi v v - v -
Bentuk Lahan v v - v -
Kemiringan Lereng v v - v v
Penggunaan Lahan - v v v v
Jumlah 5 6 1 6 4

Kesimpulan: Peta dasar (base map) berskala (resolusi) sedang dan detail
BAPPEDA

M FAHRI FATHARANI (1405268) 46


KESESUAIAN LAHAN PERMUKIMAN KABUPATEN PANDEGLANG

4.1.2 Hasil Permodelan Fungsional


Informasi-informasi yang dimuat dalam matrik model fungsional penciptaan
informasi kesesuaian lahan permukiman dikelompokan menjadi:

 Komponen informasi spasial, yang terdiri dari peta batas administrasi


Kabupaten Pandelang, peta kemiringan lereng, peta penggunaan lahan, peta
jenis tanah dan peta geomorfologi.
 Kesatuan informasi grafis, yang terdiri dari titik (point), garis (line), area
(polygon) dan teks (annotation). Kesatuan informasi grafis diperoleh dari
referensi-referensi tentang GIS (geographic information system) yang
bersumber dari dalam dan luar negeri.

Permodelan konseptual dibuat untuk memperoleh informasi jumlah informasi


grafis titik, garis, area dan teks yang digunakan untuk menyajikan komponen
informasi kesesuaian lahan permukiman. Matrik model fungsional penciptaan
informasi kesesuaian lahan permukiman disajikan pada tabel 4.2

Tabel 4.2 matriks model fungsional Kesesuaian Lahan Permukiman Kabupaten Pandeglang

Kesatuan Informasi Grafis


Komponen Informasi Spasial Garis Area Teks
Titik (point)
(line) Plygon annotation
Batas Kecamatan v v v
Batas Kabupaten v v v
Geologi v v
Bentuk Lahan v v
Kemiringan Lereng v v
Penggunaan Lahan v v v
Jumlah 2 0 6 6

4.1.3 Hasil Pemetaan Kesesuaian Lahan Permukiman Kabupaten Pandeglang


Hasil dari penelitian ini berdasarkan tiga paramater untuk menentukan
kesesuaian lahan permukiman, tiga parameter tersebut adalah jenis tanah,
kemiringan lereng dan tekstur tanah.

M FAHRI FATHARANI (1405268) 47


KESESUAIAN LAHAN PERMUKIMAN KABUPATEN PANDEGLANG

Gambar 4.1 Peta Kesesuaian Lahan Permukiman Kabupaten Pandeglang

M FAHRI FATHARANI (1405268) 48


KESESUAIAN LAHAN PERMUKIMAN KABUPATEN PANDEGLANG

4.2 Pembahasan
4.2.1 Luasan Permukiman perkecamatan di Kabupaten Pandeglang

Gambar 4.2. Diagram Luas Permukiman per Kecamatan

Tabel 4.3 Tabel Luas Permukiman Perkecamatan

Kecamatan Luas Permukiman (Ha) Kecamatan Luas Permukiman (Ha)


CIBALIUNG 232,6530797 JIPUT 109,352725
SUMUR 199,7090423 CARITA 283,22153
CIBITUNG 0,277395905 PULOSARI 92,041296
CIKEUSIK 515,9609738 SINDANGRESMI 5,620706
CIBALIUNG 251,9364098 BOJONG 109,6925963
CIMANGGU 543,1172487 CIPEUCANG 45,090238
MUNJUL 16,38254293 SAKETI 240,66096
CIGEULIS 258,1159674 MEKARJAYA 22,30190787
SOBANG 233,0502201 MENES 97,64974805
ANGSANA 200,9807043 BANJAR 17,393297
SUKARESMI 0 KADUHEJO 153,8307152
PANIMBANG 18,309072 CIMANUK 107,086625
PICUNG 309,7388468 MAJASARI 255,75805
PATIA 0 KORONCONG 4,119567
PAGELARAN 114,0663187 MANDALAWANGI 413,3825642
CISATA 153,0484396 PANDEGLANG 308,93551
CIKEDAL 163,581769 KARANGTANJUNG 150,043375
LABUAN 157,6589059 CADASARI 81,725064

M FAHRI FATHARANI (1405268) 49


KESESUAIAN LAHAN PERMUKIMAN KABUPATEN PANDEGLANG

4.2.2. Luas Kesesuaian Lahan Permukiman Kabupaten Pandeglang Tahun


2011

Gambar 4.3. Diagram Luas Kesesuaian Lahan Permukiman Kabupaten


Pandeglang Tahun 2011

a. Lahan Permukiman Sesuai Kriteria

Gambar 4.4. Diagram Luas Permukiman Sesuai Kriteria

M FAHRI FATHARANI (1405268) 50


KESESUAIAN LAHAN PERMUKIMAN KABUPATEN PANDEGLANG

Tabel 4.4 Tabel Luas Permukiman Sesuai Kriteria

Kecamatan sesuai Kecamatan sesuai


CIBALIUNG 10,956096 JIPUT 109,352725
SUMUR 114,392891 CARITA 193,6758
CIBITUNG 0 PULOSARI 90,668396
CIKEUSIK 222,461872 SINDANGRESMI 5,620706
CIBALIUNG 10,956096 BOJONG 94,839416
CIMANGGU 0 CIPEUCANG 45,090238
MUNJUL 0,048006 SAKETI 237,7852
CIGEULIS 72,164786 MEKARJAYA 12,867476
SOBANG 0 MENES 94,729774
ANGSANA 72,915941 BANJAR 17,393297
SUKARESMI 0 KADUHEJO 153,819933
PANIMBANG 18,309072 CIMANUK 107,086625
PICUNG 91,761226 MAJASARI 255,75805
PATIA 0 KORONCONG 4,119567
PAGELARAN 113,901454 MANDALAWANGI 410,952572
CISATA 138,608774 PANDEGLANG 308,93551
CIKEDAL 159,631895 KARANGTANJUNG 150,043375
LABUAN 84,436354 CADASARI 81,725064

b. Lahan Permukiman Sesuai Bersyarat

Gambar 4.5. Diagram Luas Permukiman Sesuai Bersyarat

M FAHRI FATHARANI (1405268) 51


KESESUAIAN LAHAN PERMUKIMAN KABUPATEN PANDEGLANG

Tabel 4.4 Tabel Luas Permukiman Sesuai Bersyarat

Kecamatan sesuai bersyarat Kecamatan sesuai bersyarat


CIBALIUNG 221,697 JIPUT 0,000
SUMUR 79,159 CARITA 0,000
CIBITUNG 0,277 PULOSARI 1,373
CIKEUSIK 293,499 SINDANGRESMI 0,000
CIBALIUNG 240,980 BOJONG 14,853
CIMANGGU 534,941 CIPEUCANG 0,000
MUNJUL 16,335 SAKETI 2,876
CIGEULIS 185,951 MEKARJAYA 9,434
SOBANG 233,050 MENES 2,920
ANGSANA 128,065 BANJAR 0,000
SUKARESMI 0,000 KADUHEJO 0,011
PANIMBANG 0,000 CIMANUK 0,000
PICUNG 217,978 MAJASARI
PATIA 0,000 KORONCONG 0,000
PAGELARAN 0,165 MANDALAWANGI 2,430
CISATA 14,440 PANDEGLANG 0,000
CIKEDAL 3,950 KARANGTANJUNG 0,000
LABUAN 1,532 CADASARI 0

C. Lahan Permukiman Tidak Sesuai Kriteria

Gambar 4.6. Diagram Luas Permukiman Tidak Sesuai Syarat

M FAHRI FATHARANI (1405268) 52


KESESUAIAN LAHAN PERMUKIMAN KABUPATEN PANDEGLANG

Tabel 4.5 Tabel Luas Permukiman Tidak Sesuai Syarat

Kecamatan tidak sesuai Kecamatan tidak sesuai


CIBALIUNG 0 JIPUT 0
SUMUR 6,15752 CARITA 89,54573
CIBITUNG 0 PULOSARI 0
CIKEUSIK 0 SINDANGRESMI 0
CIBALIUNG 0 BOJONG 0
CIMANGGU 8,17607 CIPEUCANG 0
MUNJUL 0 SAKETI 0
CIGEULIS 0 MEKARJAYA 0
SOBANG 0 MENES 0
ANGSANA 0 BANJAR 0
SUKARESMI 0 KADUHEJO 0
PANIMBANG 0 CIMANUK 0
PICUNG 0 MAJASARI 0
PATIA 0 KORONCONG 0
PAGELARAN 0 MANDALAWANGI 0
CISATA 0 PANDEGLANG 0
CIKEDAL 0 KARANGTANJUNG 0
LABUAN 71,69045 CADASARI 0

M FAHRI FATHARANI (1405268) 53


KESESUAIAN LAHAN PERMUKIMAN KABUPATEN PANDEGLANG

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
Penulis menyimpulkan beberapa hal dari hasil pembuatan laporan ini, yaitu:

1. Pada analisis kesesuaian lahan permukiman ini menggunakan analisis


pembobotan yang dikembangkan menggunakan teknik Sistem Informasi
Geografis (SIG) untuk mengetahui lokasi yang cocok tergantung pada
jumlah lapisan tematik, model tersebut digunakan untuk menerapkan skala
pengukuran umum dari nilai-nilai untuk masukan beragam dan berbeda
dalam rangka menciptakan analisis terpadu. Dalam penetapan kesesuaian
lahan, parameter fisik yang digunakan adalah sebagai berikut:
a. Jenis Tanah
b. Kemiringan Lereng
c. Tekstur Tanah

2. Parameter yang digunakan untuk menentukan kesesuaian lahan


permukiman yaitu:
a. Jenis tanah
Menurut Khadiyanto (2005), peran tanah dalam keteknikan bangunan
cukup penting yakni sebagai fondasi dasar. Dalam peran itu tanah
harus mampu menahan beban bangunan. Kemampuan tersebut
bergantung pada kondisi tanahnya, yang ditentukan oleh sifat-sifat
fisik tanah. Menurut Dudal dan Supraptohardjo (1957), klasifikasi
tanah di Indonesia mempunyai 12 jenis tanah. Perbedaan tanah-tanah
tersebut didasarkan pada unsur-unsur yang mendominasi seperti
kandungan bahan organik, perkembangan horison, bahan induk,
warna, regim kelembaban dan sifat-sifat lainnya.
b. Kemiringan Lereng
Relief secara umum dapat diartikan sebagai garis-garis ketinggian dari
beberapa bagian permukaan bumi yang berpedoman pada ketinggian
maupun kecuraman lereng. Daerah yang bertopografi datar memiliki
relief yang lebih baik bila dibandingkan dengan daerah berombak
hingga berbukit, sehingga semakin datar, maka semakin tinggi nilainya
(baik) (Zuidam, 1979 dalam Khadiyanto, 2005).

M FAHRI FATHARANI (1405268) 54


KESESUAIAN LAHAN PERMUKIMAN KABUPATEN PANDEGLANG

c. Tekstur Tanah
Tekstur tanah menunjukkan kasar atau halusnya suatu tanah. Tekstur
tanah merupakan perbandingan relatif pasir, debu, dan liat (< 2mm).
tanah dengan kandungan debu tinggi mempunyai kapasitas tertinggi
mengikat air yang tersedia bagi tanaman (Foth, 1988). Tekstur biasa
digunakan sebagai kriteria dalam klasifikasi tanah maupun kesesuaian
lahan. Tanah yang bertekstur kasar dengan 20 % bahan organic atau
lebih dan tanah bertekstur halus dengan 30 % bahan organik atau lebih
berdasarkan robot mempunyai sifat yang didominasi oleh fraksi
organik dan bukanya oleh fraksimineral
3. Pada data diatas dapat diketahui bahwa kesesuaian lahan permukiman di
Kabupaten Pandeglang sudah banyak yang sesuai dengan kriteria dengan
total luas 3485,008 Hektar atau 69% dari total luas permukiman. Terdapat
kawasan permukiman yang memiliki status bersyarat dengan total luas
2205,915 Hektar atau 28%. Namun, masih terdapat kawasan permukiman
yang belum sesuai dengan parameter yang ada seluas 175,569 Hektar atau
2% dari total luas permukiman di Kabupaten Pandeglang.

5.2 Saran
Dalam penilitian ini harus menggunakan data terbaru sehingga hasil yang
didapatkan sesuai dengan keadaan kawasan permukiman yang terkini dan penilitian
ini juga sangat perlu ditingkatkan guna membentu masyarakat maupun pemerintah
dalam memetakan maupun merencanakan daerah permukiman yang sesuai dengan
parameter kawasan layak permukiman, sehingga lahan yang tersedia bisa
dioptimalkan baik sebagai permukiman, perindustrian maupun yang lainnya sesuai
dengan rencana tata ruang yang ada.

M FAHRI FATHARANI (1405268) 55


KESESUAIAN LAHAN PERMUKIMAN KABUPATEN PANDEGLANG

DAFTAR PUSTAKA

Affan, F. M. (2014). Analisis Perubahan Penggunaan Lahan Untuk Permukiman


Dan Industri Dengan Menggunakan Sistem Informasi Geografis (Sig). ILmiah
Pendidikan Geografi, 2(1), 49–60.

Alqurashi, A. F., & Kumar, L. (2013). Investigating the Use of Remote Sensing and
GIS Techniques to Detect Land Use and Land Cover Change: A Review.
Advances in Remote Sensing, 2(2), 193–204.
https://doi.org/10.4236/ars.2013.22022

Aplikasi sistem informasi geografis untuk zonasi kawasan hutan berdasarkan


kementrian kehutanan dan kemampuan lahan di kabupaten bandung. (n.d.).

Babalola, A., & Busu, I. (2011). Selection of Landfill Sites for Solid Waste
Treatment in Damaturu Town-Using GIS Techniques. Journal of
Environmental Protection, 2(1), 1–10. https://doi.org/10.4236/jep.2011.21001

Bhalla, B., Saini, M. S., & Jha, M. K. (2014). Assessment of Municipal Solid Waste
Landfill Leachate Treatment Efficiency by Leachate Pollution Index.
International Journal of Innovative Research in Science, Engineering and
Technology, 3(1), 8447–8454.

Bhatta, G. D., & Doppler, W. (2010). Socio-Economic and Environmental Aspects


of Farming Practices in the Peri-Urban Hinterlands of Nepal. The Journal of
Agriculture and Environment, 11, 26–39.

Boyes, D. (2012). A GIS - based Methodology for Improved - Access Farmers ’


Market Siting : Hamilton , Ontario Case Study, (April), 48.

Budianta, A. (2006). Analisis perubahan penggunaan lahan dan evaluasi kekritisan


das kawasan das blongkeng jawa tengah tahun 1993 - 2000. Jurnal SMARTek,
Vol. 4, No, 194–210.

M FAHRI FATHARANI (1405268) 56


KESESUAIAN LAHAN PERMUKIMAN KABUPATEN PANDEGLANG

Carr, Margaret H; Zwick, P. (2005). Using GIS suitability analysis to identify


potential future land use conflicts in North Central Florida. Journal of
Conservation Planning, 1, 58–73. Retrieved from
http://www.journalconsplanning.org/2005/volume1/issue1/carr/manuscript.p
df

Cheruto, M. C., Kauti, M. K., Kisangau, P. D., & Kariuki, P. (2016). Journal of
Remote Sensing & GIS Assessment of Land Use and Land Cover Change
Using GIS and Remote Sensing Techniques : A Case Study of Makueni
County , Kenya, 5(3). https://doi.org/10.4175/2469-4134.1000175

Gunawan, B. (2011). Pemanfaatan Sistem Informasi Geografis untuk Analisa


Potensi Sumber Daya Lahan Pertanian di Kabupaten Kudus. Jurnal Sains Dan
Teknologi, 44(2). https://doi.org/10.1017/CBO9781107415324.004

Jawab, P., Bestari, M., Pusat, K., Permukiman, L., Ilmu, L., Husin, A. A., …
Risang, G. (2010). Jurnal Permukiman Volume 5 No . 3 November 2010 ISSN :
1907 – 4352 (Vol. 5).

Meinel, G., & Winkler, M. (2002). Spatial analysis of settlement and open land
trends in urban areas on\nbasis of RS data studies of five European cities over
a 50-year period, 539–546. Retrieved from
http://www2.ioer.de/recherche/pdf/2002_meinel_earsel.pdf

MEMANFAATKAN TEKNIK PENGINDERAAN JAUH DAN SIG ( Studi


Kasus : Kecamatan Umbulharjo , Yogyakarta ) TUGAS AKHIR Oleh : (2008).

Mildawani, Irina. Susilowati, Diana. Schiffer, L. R. (2008). Aplikasi Sistem


Informasi Geografis (Sig) Dalam Analisis Pemanfaatan Dan Pengelolaan
Ruang Terbuka Hijau Kota (Rthk). Aplikasi Sistem Informasi Geografis (Sig)
Dalam Analisis Pemanfaatan Dan Pengelolaan Ruang Terbuka Hijau Kota
(Rthk), 3.

Muhammed, I., Ismaila, A. B., & Bibi, U. M. (2015). An assessment of farmer-


pastoralist conflict in Nigeria using GIS. International Journal of Engineering
Science Invention ISSN (Online, 4(7), 2319–6734.

M FAHRI FATHARANI (1405268) 57


KESESUAIAN LAHAN PERMUKIMAN KABUPATEN PANDEGLANG

Napitupulu, M., Tambunan, M., Daryanto, A., & Oktaviani, R. (2011). Dampak
Infrastruktur Jalan Terhadap Perekonomian Pulau Jawa-Bali dan Sumatera.
PUSJATAN, Ditjen Binamarga, Kementerian PU, IPB., (April).

Nyeko, M. (2012). GIS and Multi-Criteria Decision Analysis for Land Use
Resource Planning. Journal of Geographic Information System, 4(4), 341–
348. https://doi.org/10.4236/jgis.2012.44039

Olajuyigbe, A. E., Popoola, O. O., Adegboyega, S. A.-A., & Obasanmi, T. (2015).


Application of Geographic Information Systems to Assessing the Dynamics
of Slum and Land Use Changes in Urban Core of Akure, Nigeria. Journal of
Sustainable Development, 8(6). https://doi.org/10.5539/jsd.v8n6p311

Purwaamijaya, I. M. (2016). PENCIPTAAN INFORMASI KERUANGAN


WAKTU MUSIM HUJAN DAN KEKERINGAN Spatial Information
Creation of Rainy and Dry Seasons Time to Anticipate Flood and Drought,
60–67.

Rathod, I. M. (2010). Spatial Analysis of Rainfall Variation in Coimbatore District


Tamilnadu using GIS. International Journal of Geomatics and Geosciences,
1(2), 106–118.

Reddy, R. L., Apoorva, B., Snigdha, S., & Spandana, K. (2013). GIS Applications
in Land Use and Land Development of a City. International Journal of
Emerging Technology and Advanced Engineering, 3(5), 3–8.

Rono, F., & Mundia, C. C. (2016). GIS based suitability analysis for coffee farming
in Kenya, 6(3), 1722–1733.

Samanta, S., Pal, D. K., Samanta, S., & Pal, D. K. (1992). Change Detection of
Land Use and Land Cover over a Period of 20 Years in Papua New Guinea.
Natural Science, 8(March), 138–151. https://doi.org/10.4236/ns.2016.83017

Sangeda, A. Z., Kahimba, F. C., Kashaga, R. A. L., Semu, E., Mahonge, C. P., &
Mkanda, F. X. (2014). Testing of Decision Making Tools for Village Land
Use Planning and Natural Resources Management in Kilimanjaro Region,
(December), 446–458.

M FAHRI FATHARANI (1405268) 58


KESESUAIAN LAHAN PERMUKIMAN KABUPATEN PANDEGLANG

Sari, Y. A. (2013). Analisis Kesesuaian Lahan untuk Lokasi Permukiman


Kecamatan Bantul , Kabupaten Bantul.

Singh Tanwar, P., Sharma, A., & Professor, A. (2013). Rainfall Spatial Analysis
using GIS. International Journal of Advanced Research in Computer and
Communication Engineering, 2(5), 2197–2200. Retrieved from
www.ijarcce.com

Sistem, T., & Geografis, I. (2007). KAJIAN EVALUASI KESESUAIAN LAHAN


PERMUKIMAN DENGAN TEKNIK SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS
(SIG) Dewi Liesnoor Setyowati Jurusan Geografi FIS - UNNES, 4(1).

Solutions, G. (2016). Solid waste disposal site selection by data analysis using GIS
and Remote sensing tools : A case study in Thiruvananthapuram corporation
area, 6(4), 1734–1747.

Sood, K., Singh, S., Rana, R., Rana, A., Kalia, V., & Kaushal, A. (2015).
Application of GIS in precision agriculture. Researchgate.Net, (October).
https://doi.org/10.13140/RG.2.1.2221.3368

Sudira, P. (2007). Perubahan Iklim dan Dampaknya Terhadap Sumberdaya Air


Regional, (March), 27.

Tamilenthi, S., Punithavathi, J., Arul, P., & Baskaran, R. (2013). Urban Change
Detection Based on Remote Sensing and Gis Study of Salem Revenue
Division , Salem District , Tamil Nadu , India . European Journal of
Geography, 1(1), 23–27.

Teredesai, P., Zope, U., Savla, D., Virnodkar, S., Engineering, C., Engineering, C.,
& Engineering, C. (2015). Gis for Agricultural Land, 1062–1065.

Trung, N. H., Tri, L. Q., Mensvoort, M. E. F. Van, & Bregt, a K. (2006).


APPLICATION OF GIS IN LAND-USE PLANNING A Case Study in The
Coastal Mekong Delta Of Vietnam. International Symposium on
Geoinformatics for Spatial Infrastructure Development in Earth and Allied
Sciences, (November 2015).

M FAHRI FATHARANI (1405268) 59


KESESUAIAN LAHAN PERMUKIMAN KABUPATEN PANDEGLANG

Volume, G. (2013). Pemenfaatan sistem informasi geografis untuk evaluasi


kemampuan lahan dan arahan penggunaan lahan di kecamatan samigaluh
kabupaten kulon progo, 11(3), 39–48.

Widayanti, R. (n.d.). Formulasi Model Pengaruh Perubahan Tata Guna Lahan


Terhadap Angkutan Kota Di Kota Depok, 1–10.

Wilayah, R., Semarang, K., Genuk, U. K., Gayamsari, D. A. N., Fitriyanto, A. M.,
Tjahjono, H., & Suhandini, P. (2013). Geo Image ( Spatial-Ecological-
Regional ) EVALUASI PENGGUNAAN LAHAN TERHADAP RENCANA
TATA, 2(2), 43–49.

Zamroh, M. R. A. (2014). Kecamatan Kaliwungu Dengan Sistem Informasi


Geografis. Jurnal Ilmiah Pendidikan Geografi, 2(1), 106–115.

M FAHRI FATHARANI (1405268) 60