Anda di halaman 1dari 32

MATERI PKN 03 HUBUNGAN INTERNASIONAL KELAS XI

I. INDIKATOR :
- Mendeskripsikan pengertian hubungan internasional
- Menguraikan pentingnya hubungan internasional
- Mendeskripsikan perlunya kerja sama internasional
- Menyebutkan tujuan diadakan kerjasama internasional
- Menyebutkan dasar hukum kerjasama internasional
- Menyebutkan azas-azas kerjasama internasional
- Mengidentifikasi sarana-sarana hubungan internasional

Hubungan internasional

A. Makna hubungan Internasional

1. Pengertian hubungan internasional

Pengertian Hubungan internasional menurut buku Rencana Strategi Pelaksanaan


politik Luar Negeri RI (RENSTRA) adalah hubungan antar bangsa dalam segala
aspeknya yang dilakukan oleh suatu negara untuk mencapai kepentingan nasional
negaranya

Pengertian Hubungan internasional yang terdapat dalam Encyclopedia Americana


dilihat sebagai hubungan antarnegara atau antarindividu dari negara yang berbeda-
beda, baik berupa hubungan politis, budaya, ekonomi, ataupun hankam. Konsep ini
berhubungan erat dengan subyek-subyek seperti organisasi internasional, diplomasi,
hukum internasional dan politik internasional.

2. Pentingnya hubungan internasional

Adanya saling ketergantungan antar negara yang ada di dunia, terutama di bidang
ekonomi, sebagai akibat perkembangan ilmu pengetahuan akan mempengaruhi secara
langsung sifat hubungan di masa mendatang, walaupun saling ketergantungan antar
negara sudah merupakan ciri dan diakui oleh semua negara.

Dampak lebih luas yang diharapkan masing-masing bangsa dalam hubungan


internasional adalah saling kenal, saling membantu dan saling ketergantungan antar
sesama negara. Ignas Kleden menyatakan “…. Adalah kebudayaan yang
mengubah suatu chaos menjadi kosmos, suatu kekacauan menjadi keteraturan
“. Issue keterbukaan secara internasional menjadi semakin ramai dibicarakan
terutama setelah Presiden Uni Sovyet, Mikhail Gobachev melakukan serangkaian
gebrakan politik tentang perestroika (restrukturisasi) dan glasnost (keterbukaan) dan
demokratisasi di negaranya. Dari issue keterbukaan inilah setiap pemimpin negara
sadar betapa penting dan perlunya hubungan internasional dalam era globalisasi
disegala aspek kehidupan dewasa ini kalau tidak mau ketinggalan. Makna dan arti
penting dari hubungan internasional antara lain saling kenal, saling membantu dan
saling ketergantungan antar sesama negara, yang akhirnya akan memperbesar rasa
tanggung jawab bersama, untuk itu adanya saling pengertian antar bangsa / negara
sangatlah penting, menginternasionalkan rasa ketergantungan, rasa menghormati
sehingga tercipta kedamaian dan kejahteraan umat manusia di dunia

3. Perlunya kerja sama internasional

Ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan,


perdamaian abadi dan keadilan sosial merupakan tujuan internasional negara
Indonesia seperti yang tercantum dalam Pembukaan UUD 1945. Dari tujuan ini
diharapkan akan terwujud kedamaian dan kesejahteraan hidup yang didambakan oleh
setiap manusia di dunia. Hal tersebut tidak akan dapat dipenuhinya sendiri, sekalipun
negara tersebut sangat maju dan kaya raya, tentu banyak kebutuhan bangsanya yang
tidak dapat dipenuhi sendiri dari dalam negerinya. Begitu pula kemajuan tekhnologi
dan industrinya memerlukan pangsa pasar di negara lain dan untuk dapat memenuhi
bahan mentah atau bahan baku industrinya memerlukan pula dari negara lainnya.
Dengan demikian negara maju, negara berkembang dan negara miskin pada dasarnya
saling membutuhkan. Oleh karena itu, perlu diusahakan adanya hubungan
persahabatan dan kerja sama antar bangsa yang didasari sikap saling menghormati
dan saling menguntungkan.

Perlunya hubungan kerja sama internasional pada dasarnya bertujuan untuk :

1. memacu pertumbuhan ekonomi setiap negara serta menciptakan keadilan dan


kesejahteraan sosial bagi seluruh rakyatnya

2. menciptakan saling pengertian antar bangsa dalam membina dan menegakkan


perdamaian dunia

4. Tujuan Kerjasama Internasional

Ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan,


perdamaian abadi dan keadilan sosial merupakan tujuan internasional negara
Indonesia seperti yang tercantum dalam Pembukaan UUD 1945. Dari tujuan ini
diharapkan akan terwujud kedamaian dan kesejahteraan hidup yang didambakan oleh
setiap manusia di dunia. Hal tersebut tidak akan dapat dipenuhinya sendiri, sekalipun
negara tersebut sangat maju dan kaya raya, tentu banyak kebutuhan bangsanya yang
tidak dapat dipenuhi sendiri dari dalam negerinya. Begitu pula kemajuan tekhnologi
dan industrinya memerlukan pangsa pasar di negara lain dan untuk dapat memenuhi
bahan mentah atau bahan baku industrinya memerlukan pula dari negara lainnya.
Dengan demikian negara maju, negara berkembang dan negara miskin pada dasarnya
saling membutuhkan. Oleh karena itu, perlu diusahakan adanya hubungan
persahabatan dan kerja sama antar bangsa yang didasari sikap saling menghormati
dan saling menguntungkan

Perlunya hubungan kerja sama internasional pada dasarnya bertujuan


untuk :
1. memacu pertumbuhan ekonomi setiap negara serta menciptakan keadilan dan
kesejahteraan sosial bagi seluruh rakyatnya

2. menciptakan saling pengertian antar bangsa dalam membina dan menegakkan


perdamaian dunia

5. Dasar Hukum Kerjasama Internasional

Dasar pemikiran yang dijadikan pertimbangan kerja sama internasional bagi bangsa
Indonesia, sebagai berikut :

1. Pembukaan UUD 1945 alenia empat pada kalimat : ‘ ….. ikut melaksanakan
ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan
sosial …”

2. Piagam PBB pada pasal 1 menyatakan sebagai berikut :

- PBB menciptakan perdamaian dan keamanan internasional serta berusaha


mencegah timbulnya bahaya yang mengancam perdamaian dan keamanan

- PBB mengembangkan persahabatan atar bangsa atas dasar persamaan dan hak
menentukan nasib sendiri dalam rangka perdamaian dunia

- PBB mengembangkan kerja sama internasional dalam rangka memecahkan


persoalan-persoalan ekonomi, sosial-budaya, kemanusiaan serta menghormati hak
azasi manusia tanpa membeda-bedakan suku, jenis kelamin, bahasa, dan agama

- PBB menjadi pusat penyelesaian-penyelesaian pertikaian internasional

3. Perjanjian Internasional (Traktat atau Treaty) merupakan suatu persetujuan yang


dibuat secara formal oleh dua negara atau lebih mengenai penetapan atau ketentuan
tentang hak dan kewajiban masing-masing pihak yang terlibat perjanjian.

4. Perjanjian Internasional, secara khusus terdapat dalam hukum laut internasional,


dimana Indonesia sejak 13 Desember 1957 memperjuangkan Deklarasi Juanda yang di
dalamnya menyatakan Negara Kesatuan Republik Indonesia dibatasi oleh garis lurus
dengan jarak 12 mil daris pangkal lurus yang ditarik dari titik terluar pulau-pulau
terluar sebagai laut terluar. Deklarasi ini diakui oleh PBB pada tanggal 10 Desember
1982 dan disahkan oleh pemerintah Indonesia dengan UU No. 17 Tahun 1985 tentang
hukum laut

6. Azas-Azas Kerjasama Internasional

Dalam hubungan internasional (hubungan antar bangsa) bagi Indonesia ada tiga
azas yang harus ditaati (ditepati) dan dihormati (Pacta Sunt Servada) dijadikan
pedoman yaitu : azas teritorial, azas kebangsaan dan azas kepentingan umum

Azas Teritorial, menurut azas ini berlaku kekuasaan negara atas wilayahnya. Artinya
hukum negara berlaku bagi semua orang dan semua barang yang berada di
wilayahnya, baik warga negara asli maupun warga negara asing. Begitu sebaliknya
bila berada di negara lain akan berlaku hukum di negara tersebut. Contoh tindak
kriminal (kejahatan) seperti penyelundupan barang terlarang

Azas Kebangsaan, menurut azas ini berdasarkan azas kebangsaan atau


kewarganegaraan, kekuasaan negara atas warga negaranya. Berdasarkan azas ini
setiap warga negara dimanapun berada tetap mendapat perlakuan hukum dari
negaranya. Berdasarkan ketentuan ini berlaku azas eksteritorialitet artinya hukum
negara tetap berlaku bagi setiap warga negara walaupun berada di negara lain.
Contohnya. Pelaku korupsi walaupun sudah berada diluar negeri (lari ke negara
lain) tetap bisa tangkap dan diadili di negara asalnya

Azas Kepentingan Umum, berdasarkan azas ini negara tetap berhak melindungi dan
mengatur kepentingan dalam kehidupan warga negaranya. Jadi hukum tidak
terikat pada batas-batas suatu wilayah negara. Contohnya hukum internasional
akibat dari perjanjian internasional antar dua atau lebih negara. Seperti seorang
atau beberapa orang warga negaranya (TKI atau TKW) yang bermasalah di luar
negeri dapat dibantu penyelesaiannya oleh negara Indonesia.
7. Sarana-sarana hubungan internasional

Kerja Sama Bilateral

Kerja sama Bilateral merupakan hubungan kerja sama dua negara yang
memiliki kepentingan sama dalam bidang poleksosbudhankam. Dalam rangka
mengadakan hubungan kerja sama dua negara (bilateral) bagi negara Indonesia
haruslah bersifat demokratis dan terbuka, ini berarti bahwa bila negara kita
mengadakan hubungan kerja sama dengan negara lain terlebih dahulu harus
mendapat persetujuan dari parlemen atau DPR, disamping itu hubungan kerja sama
dengan negara lain juga harus dipublikasikan melalui media massa. Secara
internasional hubungan suatu negara dengan negara lain telah diatur dalam Kovensi
Wina pada tahun 1961 tentang Diplomatik (hubungan bidang politik), dan Konvensi
Wina tahun 1963 tentang Konsuler (hubungan di luar bidang politik) sedangkan
pemerintah Indonesia telah mengeluarkan Keppres No. 51 tahun 1961 tentang
Perwakilan Diplomatik RI.

Kerja Sama Regional

Kerja sama Regional merupakan kerja sama antarnegara yang berada dalam
satu kawasan, seperti negara-negara yang berada di kawasan Asia Tenggara (ASEAN),
di kawasan Eropa ( MEE) dan dikawasan Arab (Liga Arab)

Kerja Sama Multilateral

Kerja sama multilateral merupakan suatu kerja sama yang dikuti oleh lebih dari
dua negara atau banyak negara. Sebenarnya kerja sama Regional juga merupakan kerja
sama multilateral karena anggotanya lebih dari dua negara. Kerja sama yang akan
dibahas merupakan kerja sama yang tidak dalam satu kawasan (Regional) tetapi yang
keanggotaannya mencakup banyak kawasan atau internasional, diantaranya OPEC,
NATO, Negara-Negara Non Blok, CGI, OKI, APEC dan PBB

I. INDIKATOR :
- Mendeskripsikan pengertian perjanjian internasional menurut para akhli
- Menyebutkan azas-azas dalam perjanjian internasional
- Mengidentifikasi istilah-istilah dalam perjanjian internasional
- Mengklasifikasi macam-macam perjanjian internasional
- Menjelaskan tahap-tahap perjanjian internasional
- Menjelaskan jenis-jenis perjanjian internasional
- Menganalisis pelaksanaan perjanjian internasional

B. Perjanjian internasional

1. Pengertian perjanjian internasional

Menurut Prof. Dr. Mochtar Kusumaatmadja, SH. LL.M

Perjanjian Internasional adalah perjanjian yang diadakan antar bangsa yang bertujuan
untuk menciptakan akibat-akibat hukum tertentu

Menurut Oppenheimer dan lauterpacht

Perjanjian internasional adalah persetujuan antar negara yang menimbulkan hak dan
kewajiban di antara yang mengadakan perjanjian

Menurut G. Schwarzenberger

Perjanjian internasional adalah suatu persetujuan antara subyek-subyek hukum


internasional yang menimbulkan kewajiban-kewajiban yang mengikat, baik bilateral
maupun multilateral. Subyek hukum disini bukan saja lembaga-lembaga internasional
tetapi juga negara.

Menurut Konfrensi Wina 1969

Perjanjian Internasional adalah perjanjian yang diadakan oleh dua negara atau lebih,
yang bertujuan unuk mengadakan akibat-akibat hukum tertentu.

Contoh : Konvensi hukum Laut Internasional tahun 1984 di New York telah
menetapkan Landas Kontinental Teritorial laut Indonesia bersyarat sejauh 200 mil, di
luar itu merupakan Laut Bebas. Istilah batas laut bersyarat Indonesia sejauh
200 mil tersebut adalah ZEE (Zone Ekonomi Exlusif), pengertian batas bersyaratnya
adalah batas luar wilayah Indonesia ke laut bebas dihitung dari titik luar kepulauan
Indonesia pada waktu air surut sejauh 200 mil

2. Azas-azas perjanjian internasional

Perjanjian Internasional memiliki 5 azas :

1. Azas Pacta Sunt Servada : azas yang harus ditaati (ditepati) dan dihormati oleh
negara yang mengadakan perjanjian

2. Azas tidak mencampuri urusan dalam negeri negara masing-masing

3. Azas saling menghormati

4. Azas timbal balik

5. Azas saling menguntungkan

3. Istilah-istilah dalam perjanjian internasional

Istilah yang sering dipakai (muncul) dalam perjanjian internasional sebagai berikut :

Traktat (Treaty), artinya perjanjian yang dilakukan oleh dua negara atau lebih yang
sifatnya formal karena mempunyai kekuatan hukum yang lebih mengikat bagi pihak-
pihak yang mengadakan perjanjian. Dengan kata lain, para peserta yang membuat
perjanjian tidak dapat menarik diri dari kewajiban-kewajibannya tanpa persetujuan
dari pihak-pihak yang terlibat. Contoh : negara A dan B melaksanakan ekspor impor.
Mereka menandatangani sebuah traktat. Jika ada negara C yg ikut dalam proses seperti
itu, traktat negara A dan B bisa dijadikan dasar hukum proses tersebut.
Konvensi (Convention) , artinya jenis perjanjian yang digunakan bagi hal-hal yang
lebih khusus dibandingkan dengan traktat, namun bersifat multilateral. Dengan kata
lain, konvensi tidak menyangkut kebijaksanaan tingkat tinggi dan harus
ditandatangani oleh wakil-wakil yang berkuasa penuh

Pakta (Pact), artinya persetujuan yang lebih khusus jika dibandingkan dengan traktat.
Jadi pakta merupakan traktat dalam arti sempit sehingga pakta pun harus mendapat
pengesahan (ratifikasi). (bisa mengatur hub antar individu. Contoh : Pakta Integritas.

Perikatan ( Arrangement), artinya suatu bentuk perjanjian yang tidak seresmi traktat
atau konvensi. Oleh karena itu, perikatan merupakan persetujuan yang biasanya hanya
digunakan bagi transaksi-transaksi yang bersifat sementara

Persetujuan (Agreement), artinya suatu perjanjian yang bersifat teknis/administratif


sehingga persetujuan tidak seresmi traktat atau konvensi cukup ditandatangani oleh
wakil-wakil departemen dan tidak perlu diratifikasi

Deklarasi (Declaration), artinya perjanjian yang digunakan dengan tujuan


menunjukkan suatu perjanjian yang menyatakan hukum yang ada, membentuk
hukum yang baru, atau untuk menguatkan beberapa prinsip kebijaksanaan umum

Piagam (Statute), artinya perjanjian yang menunjukkan himpunan peraturan yang


ditetapkan oleh perjanjian internasional untuk mengatur fungsi lembaga internasional
atau anggaran dasarnya. Seperti piagam mahkamah internasional (statute of the
international court of justice)

Convenant, artinya suatu istilah yang digunakan oleh piagam Liga Bangsa-Bangsa
(LBB) yang disebut dengan The convenant of the league tahun 1920.

Charter , artinya istilah yang dipergunakan dalam perjanjian internasional yang


diadakan oleh PBB dan mempunyai fungsi adminstrasi. Dengan kata lain PBB dalam
membuat anggaran dasarnya berbentuk charter. Misalnya Atlantic Charter 1941, The
Charter of the United Nations 1945
Protokol (Protocol), artinya perjanjian yang sifatnya kurang resmi dibandingkan
dengan traktat atau konvensi. Biasanya protokol digunakan sebagai naskah tambahan
dari konvensi.

Modus Vivendi, artinya perjanjian internasional yang merupakan dokumen untuk


mencatat persetujuan tanpa memerlukan ratifikasi dan bersifat sementara.

Maksud sementara adalah sampai diwujudkan hasil perjanjian yang lebih tetap
(permanen) dan rinci (sistimatis)

Ketentuan Penutup (Final Act), artinya dokumen dalam bentuk catatan ringkasan dari
hasil konfrensi, seperti catatan mengenai negara peserta, para utusan dari negara-
negara yang turut dalam perundingan, dan segala kesimpulan tentang hal-hal yang
disetujui konfrensi. Ketentuan penutup ini tidak memerlukan ratifikasi

Ketentuan Umum (General Act), artinya traktat yang bersifat resmi atau tidak resmi.
Liga Bangsa-Bangsa pernah mempergunakan istilah ini, seperti dalam menyelesaikan
permasalahan secara damai dan pertikaian internasional (arbitrasi) pada tahun 1928

4. Macam-macam perjanjian internasional

Menurut Subyeknya

a. Perjanjian internasional antarnegara yang dilakukan oleh banyak negara yang


merupakan subyek hukum internasional

b. Perjanjian internasional antara negara dan subyek hukum internasional lainnya.


Seperti negara Indonesia dengan MEE

c. Perjanjian internasional antar sesama subyek hukum internasional selain negara.


Seperti antar organisasi internasional ( ASEAN dan MEE)

Menurut Isinya

a. Segi politis, seperti fakta pertahanan dan fakta perdamaan, yaitu NATO, SEATO,
ANZUS
b. Segi ekonomi, seperti bantuan ekonomi dan bantuan keuangan, yaitu CGI, IMF,
Wold Bank, IBRD dan sebagainya

c. Segi Hukum, seperti status kewarganegaraan (Indonesia - RRC)

d. Segi Batas Wilayah, seperti batas kontinental laut dan udara

e. Segi Kesehatan, seperti masalah karantina (penyakit menular), penanggulangan


wabah, penyakit AIDS

Menurut Proses/Tahapan Pembentukannya

a. Perjanjian bersifat penting yang dibuat melalui proses perundingan,


penandatanganan dan ratifikasi

b. Perjanjian bersifat sederhana yang dibuat melalui dua tahap, yaitu perundingan
dan penandatanganan (biasanya dipergunakan istilah persetujuan atau
agreement)

Menurut Fungsinya

a. Perjanjian yang membentuk hukum (Law Making Treaties) yaitu suatu perjanjian
yang meletakkan ketentuan-ketentuan atau kaidah-kaidah hukum bagi
masyarakat internasional secara keseluruhan (bersifat multilateral). Perjanjian ini
bersifat terbuka bagi pihak ke tiga, seperti Konvensi Wina tahun 1958 tentang
hubungan diplomatik

b. Perjanjian yang bersifat khusus (Treaty Contract), yaitu perjanjian yang


menimbulkan hak dan kewajiban bagi negara-negara yang mengadakan perjanjian
saja (perjanjian bilateral), seperti RI – RRC tentang Kewarganegaraan (dwi
kewarganegaraan) tahun 1955

5. Tahap-tahap perjanjian internasional


Dalam Konvensi Wina tahun 1969 tentang Hukum Perjanjian Internasional disebutkan
bahwa dalam pembuatan perjanjian baik bilateral maupun multilateral dapat
dilakukan dalam dua atau tiga tahap atau proses tergantung dari penting tidaknya
perjanjian tersebut.

Tahap Perundingan (Negotiation)

Perundingan merupakan perjanjian tahap pertama atara pihak/negara tentang obyek


tertentu. Penjajakan atau pembicaraan pendahuluan dilakukan oleh masing-masing
pihak yang berkepentingan.

Perundingan dapat dilakukan oleh Kepala Negara, Kepala Pemerintahan, Menteri


Luar Negeri, Duta Besar atau pejabat yang dapat menunjukkan Surat Kuasa Penuh
(full power) Perundingan yang diadakan dalam rangka perjanjian Bilateral disebut
Talk. Perjanjian Multilateral disebut Diplomatic Conference, sedangkan perundingan
yang tidak resmi disebut Corridor Talk

Isi dari perundingan yang dilakukan biasanya menyangkut beberapa masalah pokok,
antara lain : masalah politik, keamanan, pertikaian, perdagangan, pertikaian dalam
bidang ekonomi, pertikaian dalam bidang sosial budaya, pertikaian dalam bidang
pertahanan serta masalah lainnya yang menyangkut pembentukan dan pelaksanaan
perjanjian internasional

Dalam rangka membentuk perjanjian internasional, tidak semua orang dapat


melakukan perundingan. Menurut ketentuan hukum internasional tentang kuasa
penuh (power full), seseorang baru dianggap mewakili suatu negara dengan sah
apabila ia dapat menunjukkan surat kuasa penuh (power full atau credential). Kecuali
jika dari semula peserta konfrensi sudah menentukan bahwa surat kuasa penuh seperti
yang dijelaskan tidak diperlukan. Keharusan menunjukkan surat kuasa penuh tidak
berlaku bagi kepala negara, kepala pemerintahan (Perdana Menteri), menteri luar
negeri, atau yang karena jabatannya dianggap sudah mewakili negaranya dengan sah
dan dapat melakukan segala tindakan untuk mengikat negaranya pada perjanjian yang
diadakan, termasuk perwakilan diplomatik
Tahap Penandatanganan (Signature)

Setelah perundingan selesai, dilanjutkan dengan pengesahan bunyi naskah yang


merupakan tindakan formal. Bagi perjanjian multilateral (perjanjian yang diadakan
oleh banyak negara). Lazimnya penandatanganan dilakukan oleh para Mentri Luar
Negeri atau Kepala Pemeritahan

Untuk perundingan yang bersifat multilateral penandatanganan teks perjanjian sudah


dianggap sah jika 2/3 suara peserta yang hadir memberikan suara, kecuali ada
ketentuan lain. Walaupun demikian perjanjian belum bisa dilaksanakan sebelum ada
ratifikasi oleh masing-masing negara

Untuk perjanjian bilateral (perjanjian yang dilakukan oleh dua negara) penerimaan
secara bulat dan penuh mutlak diperlukan oleh dua belah pihak yang melakukan
perundingan. Persetujuan dalam bentuk penandatanganan merupakan suatu tindakan
yang sangat penting dalam rangka mengikatkan diri dalam suatu perjanjian
internasional. Perjanjian tersebut dapat saja mulai berlaku sejak penandatanganan
tanpa harus menunggu adanya ratifikasi (pengesahan) apabila perjanjian dapat
menyatakan demikian

Tahap Pengesahan (Ratification)

Suatu negara mengikatkan diri pada suatu perjanjian dengan syarat apabila telah
disahkan oleh badan yang berwenang di negaranya, seperti di Indonesia berdasarkan
pasal 11 ayat 1 UUD 1945 yang menyebutkan Presiden dengan persetujuan DPR
menyatakan perang, perdamaian dan membuat perjanjian dengan negara lain.

Perjanjian yang baru pada tahap penandatanganan, perjanjian tersebut masih bersifat
sementara dan masih harus dikuatkan dengan pengesahan atau penguatan.
Pengesahan ini dinamakan Ratifikasi

6. Jenis-jenis perjanjian internasional

1. Perjanjian Bilateral
Perjanjian Bilateral bersifat khusus (treaty contract) karena hanya mengatur hal-hal
yang menyangkut kepentingan kedua negara saja. Oleh karena itu perjanian bilateral
bersifat “tertutup”. Artinya tertutup kemungkinan bagi negara lain untuk turut serta
dalam perjanjian tersebut

Perjanjian Bilateral adalah suatu perjanjian yang dibuat oleh dua negara

Contoh Perjanjian Bilateral

a. Perjanjian Bilateral Republik Indonesia dengan Republik Rakyat Cina tahun 1955
tentang dwikewarganegaraan

b. Perjanjian antara Indonesia dengan Muangthai tentang Garis Batas Laut


Andaman di sebelah utara Selat Malaka tahun 1971

c. Perjanjian Ekstradisi antara Indonesia dengan Malaysia tahun 1974

d. Perjanjian antara Indonesia dengan Australia 16 Desember 1995 tentang


Pertahanan Keamanan wilayah kedua negara

2. Perjanjian Multilateral

Perjanjian Multilateral adalah suatu perjanjian yang diadakan atau dibuat oleh lebih
dari dua negara atau banyak negara

Perjanjian Multilateral sering disebut sebagai Law Making Treaties karena biasanya
mengatur hal-hal yang menyangkut kepentingan umum dan bersifat terbuka.
Perjanjian Multilateral tidak saja mengatur negara-negara yang mengadakannya,
melainkan juga negara lain yang tidak turut (bukan peserta) dalam mengadakan
perjanjian.
Contoh Perjanjian Multilateral :

1. Konvensi Jenewa tahun 1949 tentang Perlindungan Korban Perang

2. Konvensi Wina tahun 1961 tentang Hubungan Diplomatik

3. Konvensi Hukum Laut Internasional tahun 1982 tentang Laut Teritorial, Zone
Bersebelahan, Zone Ekonomi Ekslusif dan Landas Benua.

7. Pelaksanaan Perjanjian interternasional

1. Ketaatan Terhadap Perjanjian Internasional

a. Perjanjian harus dipatuhi dan dihormati (pacta sunt servada)

Prinsip ini sudah merupakan kebiasaan, karena sudah melalui suatu proses
panjang di dalam pembuatannya (perundingan, penandatangan dan ratifikasi)

b. Kesadaran hukum nasional

Suatu negara akan menyetujui ketentuan-ketentuan perjanjian internasional yang


sesuai dengan hukum nasionalnya (kepentingan nasionalnya). Perjanjian
internasional merupakan bagian dari hukum nasionalnya

2. Penerapan Perjanjian

a. Daya berlaku surut (retroactivity)

Suatu perjanjian mulai berlaku setelah diratifikasi oleh peserta, kecuali


perjanjian menentukan bahwa penerapannya dimulai sebelum ratifikasi yaitu
sesuai tanggal penandatangan perjanjian oleh peserta

b. Wilayah penerapan (territorial scope)


Suatu perjanjian mengikat wilayah negara peserta, kecuali ada ketentuan
lain, misalnya perjanjian bilateral tentang wilayah perbatasan

c. Perjanjian penyusul (successive treaty)

Pada dasarnya suatu perjanjian tidak boleh bertentangan dengan perjanjian


serupa yang mendahuluinya, namun apabila perjanjian yang sudah ada tidak
sesuai lagi maka dapat dibuatkan perjanjian pembaharuan

3. Penafsiran Ketentuan Perjanjian

Penafsiran terhadap ketentuan suatu perjanjian dalam prakteknya dilakukan


dengan menggunakan tiga metode yaitu

a. Metode dari aliran yang berpegang pada kehendak penyusun perjanjian

b. Metode dari aliran yang berpegang pada naskah perjajian, dengan penafsiran
menurut arti yang umum dari kosa katanya

c. Metode dari aliran yang berpegang pada obyek dan tujuan perjanjian

Setelah perjanjian internasional diratifikasi atau disahkan oleh negara-negara yang


mengadakan perjanjian, maka secara otomatis negara yang mengikat perjanjian
tersebut terikat dengan isi perjanjiannya dan selanjutnya perjanjian itu meningkat
statusnya menjadi hukum internasional dan kepada setiap negara yang mengadakan
hukum internasional, menjadikan hukum internasional berlaku di negaranya sehingga
hukum internasional tersebut menjadi hukum nasional, yang harus ditaati oleh
seluruh warga negara dari negara yang bersangkutan.

4. Pembatalan Perjanjian Internasional


Berdasarkan Konvensi Wina tahun 1969, karena berbagai alasan, suatu perjanjian
internasional dapat batal, karena :

a. Negara peserta atau wakil kuasa penuh melanggar ketentuan-ketentuan hukum


nasionalnya
b. Adanya unsur kesalahan (error) pada saat perjanjian itu dibuat
c. Adanya unsur penipuan dari negara peserta terhadap negara peserta lainnya
waktu pembentukan perjanjian
d. Terdapat penyalahgunaan atau kecurangan (corruption) baik melalui kelicikan
atau penyuapan
e. Adanya unsur paksaan terhadap wakil suatu negara peserta. Paksaan dapat
berupa ancaman atau kekerasan
f. Bertentangan dengan kaidah umum hukum internasional

5. Berakhirnya Perjanjian Internasional

Menurut Prof. Dr. Mochtar Kusumaatmadja, SH. LL.M dalam buku Pengantar
Hukum Internasional mengatakan bahwa suatu perjanjian berakhir karena hal-
hal berikut ini :

1. telah tercapai tujuan dari perjanjian itu

2. masa berlakunya sudah habis

3. punahnya obyek perjanjian itu atau negara yang mengadakan perjanjian

4. adanya kesepakan untuk mengakhiri perjanjian

5. adanya perjanjian baru dan meniadakan perjanjian terdahulu

6. syarat-syarat tentang penghakiran perjanjian sudah dipenuhi

7. perjanjian diakhiri oleh salah satu pihak dan diterima pihak lain
I. INDIKATOR :

- Mendeskripsikan pengertian politik luar negeri


- Menyebutkan landasan politik luar negeri
- Mendeskripsikan pedoman politik luar negeri
- Mendeskripsikan prinsip politikLuar negeri RI
- Menguraikan pelaksanaan politik luar negeri
- Menyebutkan tujuan perlunya perwakilan luar negeri di negara lain
- Menganalisis sebab-sebab berakhirnya perwakilan diplomatik
- Menganalisis sahnya perwakilan konsuler
- Membandingkan perwakilan diplomatik dengan konsuler

C. Politik Luar negeri RI

1. Pengertian Politik Luar Negeri

Pada hakekatnya semua negara mempunyai identitas dan cita-cita nasional. Sejauh
mana cita-cita nasional tersebut dapat terpenuhi, merupakan perjuangan
dan tantangan negara dan bangsa yang bersangkutan. Dalam rangka
memenuhi dan mencapai cita-cita tersebut, hubungan dengan negara lain
merupakan salah satu keharusan. Agar cita-cita/ tujuan, identitas serta
kemauan baik negara dapat dimengerti oleh negara lain atau bangsa lain
dibutuhkan kebijakan luar negeri melalui politik luar negeri yang tepat.

Bagaimanapun, pelaksanaan politik luar negeri suatu negara akan tetap


memperhatikan faktor-faktor keamanan, kemerdekaan, ideologi negara,
kesejahteraan masyarakat dan lain-lainnya.

Politik luar negeri merupakan “… suatu kebijaksanaan negara dalam mengendalikan


hubungan-hubungan luar negeri sedemikian rupa, sehingga dapat
mencapai tujuan nasional…”

Pentingnya politik luar negeri suatu negara dalam hubungan internasional


menyangkut :

a. penyambung kehendak nasional ke dalam dunia internasional


b. pembela dan pengabdi kepentingan nasional
c. pemelihara persatuan dan kesatuan bangsa dalam hubungan internasional.

Sifat politik luar negeri :

a. Bebas Aktif, anti imprialisme dan kolonialisme dalam segala bentuk


menifestasinya dan ikut serta melaksanaan ketertiban dunia yang berdasarkan
kemerdekaan perdamaian abadi dan keadilan sosial

b. Mengabdi kepada kepentingan nasional (bangsa) dan amanat penderitaan


rakyat

Di dalam penerapan politik luar negeri, pemerintah berpendapat bahwa, pendirian


yang harus kita ambil adalah pendirian dimana kita bukannya menjadi obyek dalam
pertarungan politik internasional, tetapi harus tetap menjadi subyek yang berhak
menentukan sikap sendiri dan memperjuangkan tujuan sendiri, sesuai dengan yang
terdapat dalam Pembukaan UUD 1945.
Perjuangan kita harus dilaksanakan di atas dasar percaya akan diri sendiri dan
berjuang atas kesanggupan sendiri, dengan semboyan atau dasar ini kita menjalin
hubungan dengan bangsa-bangsa di dunia.

Perjuangan atas dasar percaya dan kesanggupan akan diri sendiri inilah yang
selanjutnya menjadi dasar pertimbangan politik luar negeri negara kita yaitu “ Bebas
Aktif “

Politik Luar Negeri yang Bebas Aktif mengandung pengertian :

Bebas berarti tidak memihak pada kekuatan-kekuatan yang pada dasarnya tidak sesuai
dengan kepribadian bangsa Indonesia

Aktif berarti bahwa di dalam menjalankan kebijaksanaan luar negerinya, Indonesia


ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan atas kemerdekaan, perdamaian abadi
dan keadilan sosial

Dengan politik luar negeri yang bebas aktif, Indonesia mendudukkan dirinya sebagai
subyek dalam hubungan luar negerinya dan tidak sebagai obyek.

2. Landasan politik Luar Negeri

a. Landasan Idiil, Pancasila khususnya sila Kemanusiaan yang adil dan beradab

b. Landasan Konstitusional :

- Pembukaan UUD 1945, Alenia I dan IV

- Pasal 11, 13 dan 27 (1) UUD 1945

c. Landasan Operasional :

- Tap MPRS No. XII/MPRS/1966 tentang pelaksanaan Politik Luar Negeri RI

- Tap MPR RI tentang GBHN 1999 - 2004, bidang Politik Luar Negri RI
3. Tujuan Politik Luar Negeri

Dasar Politik Luar Negeri RI yang bebas aktif yang diletakkan untuk pertamakalinya
oleh Drs. Mochammad Hatta pada tanggal 2 September 1948 di depan sidang Badan
Pekerja Komite Nasional.

Mengenai tujuan politik luar negeri RI dapat kita jumpai dalam buku yang berjudul
Dasar Politik Luar Negeri RI oleh Drs. Mochammad Hatta sebagai berikut :.

a. Mempertahankan kemerdekaan bangsa dan menjaga keselamatan Negara

b. Memperoleh barang-barang yang diperlukan dari luar untuk memperbesar


kemakmuran rakyat apabila barang-barang itu tidak atau belum dapat dihasilkan
sendiri

c. Meningkatkan perdamaian internasional, hanya ada dalam keadaan damai,


Indonesia dapat membangun dan memperoleh syarat-syarat yang diperlukan
untuk memperbesar kemakmuran rakyat

d. Meningkatkan persaudaraan segala bangsa sebagai pelaksanaan cita-cita yang


tersimpul di dalam Pancasila, dasar dan filsapat negara kita

4. Pedoman perjuangan Politik Luar Negeri

Pedoman perjuangan politik luar negeri yang bebas aktif berdasarkan faktor-
faktor sebagai berikut

a. Dasa Sila Bandung, yang mencerminkan solidaritas negara-negara Asia – Afrika


dan perjuangan melawan imprialisme dan kolonialisme dalam segala bentuk dan
manifestasinya, serta mengandung sifat non intervensi (tidak turut campur
urusan negara lain)
b. Prinsip bahwa masalah Asia hendaknya dipecahkan oleh bangsa Asia sendiri
dengan kerja sama regional

c. Pemulihan kembali kepercayaan negara-negara/bangsa-bangsa lain terhadap


maksud dan tujuan revolusi Indonesia dengan cara memperbanyak kawan
daripada lawan, menjauhkan kontradiksi dengan mencari keserasian yang sesuai
dengan falsapah Pancasila

d. Pelaksanaan dilakukan dengan keluwesan dengan pendekatan dan penaggapan


sehingga pengarahannya harus dilakukan untuk kepentingan nasional terutama
untuk kepentingan ekonomi rakyat

5. Prinsip Politik Luar Negeri

Ada beberapa prinsip dasar/pokok politik luar negeri yang bebas aktif diantaranya :

a. Negara kita menjalankan politik damai


b. Negara kita bersahabat dengan segala bangsa atas dasar saling menghargai
dengan tidak mencampuri soal susunan dan corak susunan pemerintahan
masing-masing
c. Negara kita memperkuat sendi-sendi hukum internasional dan organisasi
internasional untuk menjamin perdamaian yang kekal
d. Negara kita berusaha mempermudah jalannya pertukaran pembayaran
internasional
e. Negara kita membantu pelaksanaan keadilan sosial internasional dengan
berpedoman pada Piagam PBB
f. Negara kita dalam lingkungan PBB berusaha menyokong perjuangan
kemerdekaan bangsa-bangsa yang masih di jajah sebab tanpa kemerdekaan,
persaudaraan dan perdamaian internasional itu tidak akan tercapai

6. Pelaksanaan Politik Luar Negeri


Pelurusan pelaksanaan politik luar negeri bebas aktif yang pernah disimpangkan
pelaksanaannya pada masa Orde Lama yaitu dengan pelaksanaan politik luar negeri
yang membentuk poros Jakarta – Veking – Pyongyang yang berbau Komunis sangat
menyimpang dari kepribadian bangsa dan falsapah bangsa Indonesia yaitu Pancasila

Dengan dikeluarkannya Ketetapan MPRS No. XII/MPRS/1966 tentang pelaksanaan


Politik Luar Negeri yang Bebas Aktif, selanjutnya dijadikan pedoman bagi pemerintah
di dalam melaksanakan politik luar negerinya, dan selanjutnya sebagai garis kebijakan
pemerintah setiap lima tahunnya MPR dalam Sidang Umum telah menetapkan GBHN
yang di dalamnya memuat bidang Politik luar negeri selalu dijadikan landasan
operasional

D. Perwakilan Negara RI di Luar Negeri

1. Departemen Luar Negeri

Sebagai sarana untuk mengembangkan kerja sama internasional maka dilakukan


perjanjian. Perjanjian yang dilakukan antara dua negara disebut bilateral, sedangkan
perjanjian yang dilakukan oleh lebih dari dua negara disebut multilateral

Kepala Negara atau Menteri Luar Negeri mempunyai kewenangan bertindak atas nama
negara untuk melakukan hubungan atau transaksi antar negara. Hal itu diakui di
dalam hukum internasional. Akan tetapi dalam praktik keduanya tidak mungkin selalu
melaksanakan sendiri kewenangan tersebut. Oleh karena itu, untuk melaksanakan
transaksi internasional, negara perlu membentuk perwakilan luar negeri.

Departemen luar negeri merupakan departemen yang bertanggung jawab atas


hubungan suatu negara dengan negara lain dan Organisasi Internasional. Nama dan
tanggung jawabnya tergantung pada aturan hukum nasional tiap-tiap negara. Pada
kebanyakan negara sebutan Menteri Luar Negeri adalah Minister of Foreign Affairs.

Departemen luar Negeri memiliki fungsi ekskutif untuk mengimplementasikan politik


luar negeri dan mengelola hubungan internasional. Pelaksanaan fungsi ini
diwujudkan dalam hubungannya dengan misinya sendiri (perwakilan diplomatik).
Misalnya, pemberian instruksi permintaan laporan. Selain itu, dalam hubungannya
dengan korp diplomatik untuk membicarakan kepentingan antar dua negara yang
menyangkut saluran antara pemerintahannya dengan wakil negara asing.

2. Perwakilan Diplomatik

Persyaratan yang harus dipenuhi dalam pembukaan atau pertukaran perwakilan


diplomatik (dalam arti politik) maupun konsuler (dalam arti nonpolitik) dengan
negara lain sebagai berikut :

1. Harus ada kesepakatan antara ke dua belah pihak (negara pengirim dan negara
penerima)
2. Harus sesuai dengan prinsip-prinsip hukum internasional yang berlaku

Tujuan diadakannya perwakilan di negara lain :

1. Memelihara kepentingan negaranya di negara penerima, sehingga bila terjadi


sesuatu urusan, perwakilan tersebut dapat mengambil langkah untuk
menyelesaikannya dengan cepat
2. Melindungi warga negara sendiri yang bertempat tinggal di negara penerima
3. Menerima pengaduan-pengaduan untuk diteruskan kepada pemerintah negara
penerima

Dengan telah dibukanya hubungan internasional dengan negara lain melalui


pembukaan Konsuler atau Diplomatik maka barulah ditingkatkan dengan hubungan
kerja sama dengan negara lain baik berupa hubungan Bilateral, Regional dan
Multilateral.

Hubungan diplomatik yang paling kuat dan effektif apabila hubungan itu dibentuk
atas dasar kehendak bersama, saling mengirim dan menerima serta dalam derajat yang
sama pula. Hal ini selain menunjukkan erat tidaknya hubungan antar negara, sekaligus
merupakan manifestasi saling menghormati antar negara
Menurut Rglemen Wina, yang ditetapkan dalam Kongres Wina pada tahun1815 dan
Kongres Achen pada tahun 1918, mengatur tentang : CD (Corp Diplomatic) dan CC
(Corp Consuler)

Corp diplomatik (perwakilan bidang politik) berkedudukan di ibu kota negara,


dapat mewilayahi satu atau beberapa negara yang selalu berhubungan dengan
pemerintahan pusat.

Corp diplomatik dibagi dalam 4 kelas atau tingkatan :

- Duta Besar ( Ambassador)

- Duta Besar Luar Biasa Berkuasa Penuh

- Mentri Residen ( Minister Residen) : wilayah

- Kuasa Usaha (Charge d’affaires) : ekonomi

Duta besar yang diangkat menjadi ketua perwakilan asing disebut Doyen dan
seorang corp diplomatik baru dianggap sah apabila telah menyerahkan surat
kepercayaan (letter de creance), Permintaan persetujuan penempatan seorang
calon Corp Diplomatik oleh negara yang akan menempatkannya atau mengirimnya di
tempat negara yang menerimanya disebut dengan Agreement atau demonde
d’agregation (persetujuan). D’agregation (persetujuan) ada dua : negara penerima
tidak keberatan atas calon duta dan negara penerima setuju atas calon duta tersebut.
Begitu pula calon seorang Corp Diplomatik atau seorang diplomatik yang sudah
ditugaskan di negara lain ternyata ditolak atau yang sudah bertugas diusir karena
tidak disenangi disebut dengan Persona Non Grata. Seorang duta dapat bertugas
lebih dari satu negara (tugas rangkap) karena pertimbangan tehnis dan kepentingan.

Berhentinya wakil diplomatik dan konsuler tidak ada hubungannya dengan putusnya
hubungan diplomatik dan konsuler antar dua negara. Berhentinya wakil diplomatik
karena bebera sebab :
1. meninggal dunia

2. ada tugas khusus di negara lain (mutasi atau pindah tugas)

3. habis masa tugasnya

4. ditarik kembali oleh negara pengirim

5. membahayakan keselamatan CD atau CC karena di negara bertugas ada perang

3. Perwakilan Konsuler

Corp Konsuler mengurus bidang ekonomi, sosial dan budaya dalam


melaksanakan tugasnya berkedudukan di ibu kota propinsi dan tidak memiliki hak
kekebalan hukum ( hak immunitet ) berbeda dengan Corp diplomatik

Menurut tingkatannya Consul ada 4 :

1. Konsul Jendera (Konjen)


2. Konsul
3. Wakil Konsul
4. Agen Konsul

Seorang Konsul baru dianggap sah apabila telah menerima dokumen Eskuatur
negara penerima . Jika di negara penerima Konsul tidak mempunyai hubungan
diplomatik, pejabat-pejabat Konsuler dapat melakukan tugas-tugas diplomatik dengan
seijin negara penerima. Berbeda dengan Corps Diplomatique (CD) yang kantor
perwakilannya berada di ibu kota negara, sedangkan Corp Consulair (CC) berada di
daerah ibu kota Provinsi atau negara bagian yang wilayah kekuasaannya sangat
terbatas. Ini berarti Konsul bisa terdapat disetiap ibu kota Provinsi, jika diperlukan.

I. INDIKATOR :

- Menceritakan secara singkat sejarah awal terbentuknya PBB


- Menyebutkan 4 dari 7 azas organisasi PBB
- Menyebutkan tujuan didirikannya organisasi PBB
- Menganalisis lembaga PBB yang bertugas menangani persengketaan antar bangsa
- Mengkaji peranan PBB terhadap perdamaian Indonesia pada masa revolusi fisik
- Mengkaji peranan Indonesia terhadap PBB dalam ikut menegakkan perdamaian
dunia
- Menjelaskan manfaat bagi Indonesia dari kerja sama dan perjanjian internasional
- Menjelaskan manfaat bagi dunia dari kerja sama dan perjanjian internasional

E. Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB)

1. Sejarah Singkat PBB

Perang Dunia I yang berlangsung dari tahun 1914 – 1918 telah memporak porandakan
tatanan kehidupan manusia, dimana nyawa manusia seperti tidak ada harganya sama
sekali. Melihat dari kenyataan inilah atas usul Presiden Amerika Serikat, Woodrow
Wilson, akhirnya pada tanggal 10 Januari 1920 terbentuklah suatu organisasi
internasional yang bernama Liga Bangsa-Bangsa (league of nations)

Tujuan dari Liga Bangsa-Bangsa (LBB) ini adalah mempertahankan perdamaian


internasional dan meningkatkan kerja sama internasional

Tugas dari liga Bangsa – Bangsa adalah menyelesaikan sengketa secara damai,
sehingga peperangan dapat dicegah

Ternyata LBB tidak dapat melaksanakan tugas dan tujuannya, karena tidak mampu
menciptakan perdamaian dunia. Hal ini karena munculnya suatu kekuatan Facis
dipimpin Mussolini, dimana kekuasaan kaum Nazi Jerman di bawah pimpinan
Hittler, dan imprialisme Jepang yang telah merobek-robek dan menghianati isi
perjanjian LBB.

Setelah LBB gagal di dalam mengemban tugasnya maka meletuslah Perang Dunia II
dari tahun 1939 – 1945, ternyata meletusnya Perang Dunia II sangat memperihatinkan
tokoh-tokoh dunia akan keselamatan umat manusia, dari alasan inilah timbul lagi ide
untuk membentuk suatu organisasi dunia yang nantinya bertugas untuk dapat
mengendalikan perdamaian dunia.

Diawali dengan pertemuan Presiden Amerika Serikat Franklin Delano Roosevell


dan Perdana Mentri Inggris, Winston Churchill di atas sebuah kapal perang milik
AS yang bernama Augusta, pada tahun 1941 di laut Atlantik akhirnya menghasilkan
sebuah Piagam Atlantik (Atlantic Charter)

Isi dari Atlantic Charter :

a. Tidak melakukan perluasan wilayah diantara sesamanya


b. Menghormati hak setiap bangsa untuk memilih bentuk pemerintahan dan
nasibnya sendiri
c. Mengakui hak semua negara untuk turut serta dalam perdagangan dunia
d. Mengusahakan terbentuknya perdamaian dunia dimana setiap bangsa berhak
mendapatkan kesempatan untuk hidup bebas dari rasa takut dan kemiskinan
e. Mengusahakan penyelesaian sengketa secara damai

Pokok-pokok Piagam Atlantik itulah akhirnya pada tanggal 14 Agustus 1941 menjadi
dasar konfrensi-konfrensi internasional selanjutnya di dalam menyelesaikan Perang
Dunia II dan menuju pembentukan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Piagam PBB terdiri dari:

I. Mukadimah 4 Alenia

II. Batang Tubuh 19 Bab, dengan 111 pasal

Dalam catatan sejarah Indonesia sebagai anggota PBB, setelah Indonesia merdeka 17
Agustus 1945, usaha untuk menjadi anggota PBB sudah dilakukan, namun baru tanggal
28 September 1950 berhasil, namun pernah ke laur dari PBB pada tanggal 7 Januai 1965
dan masuk lagi pada tanggal 28 September 1966.

2. Azas Organisasi PBB


1. Berdasarkan persamaan kedaulatan dari semua anggota

2. Semua anggota harus memenuhi dengan ikhlas kewajiban-kewajiban mereka


sebagaimana tercantum dalam Piagam PBB

3. Semua anggota harus menyelesaikan persengketaan-persengketaan


internasional dengan jalan damai tanpa membahayakan perdamaian, keamanan
dan keadilan

4. Dalam hubungan internasional semua anggota harus menjauhi penggunaan


ancaman atau kekerasan terhadap negara lain

5. Pemberian bantuan yang diperlukan PBB

6. PBB tidak berwenang mencampuri urusan dalam negeri negara anggota

7. Keanggotaan PBB terbuka bagi semua negara yang cinta damai menerima syarat-
syarat piagam PBB

3. Tujuan Organisasi PBB

a. Memelihara perdamaian dan keamanan internasional


b. Mengembangkan hubungan persaudaraan antar bangsa
c. Menciptakan kerja sama dalam memecahkan masalah internasional dalam
bidang ekonomi, Sosial budaya dan hak asasi
d. Menjadikan PBB sebagai pusat mewujudkan tujuan dan cita-cita bersama

4. Struktur Organisasi PBB

a. Majelis Umum (General Assembly)

b. Dewan Keamanan (Scurity Council)

c. Dewan Economi dan Sosial (Economic and Social Council)


d. Dewan Perwalian (Trusteeship Council)

e. Mahkamah Internasional (Internasional Court and justice)

f. Sekretariat

Fungsi dan Peranan PBB

Fungsi PBB
1. Memelihara perdamaian dan keamanan internasional
2. Tempat atau pusat penyelesaian sengketa hukum internasional
3. Memberi sanksi terhadap pelanggar Asas dan Tujuan PBB sesuai Piagam
PBB
Peranan PBB
1. Menciptakan perdamaian dan keamanan internasional
2. Memajukan Persahabatan dengan jalan saling menghormati antar
bangsa atas dasar persamaan derajat (kedaulatan)
3. Memajukan kerja sama antar bangsa dalam bidang ekonomi, sosial,
budaya, pendidikan dan kesehatan
4. Memberikan solusi atas permasalahan dalam negeri negara anggota apabila
diminta
5. Memberi bantuan kepada negara yang memerlukan melalui Badan-badan
PBB

F. Menghargai Kerja Sama dan Perjanjian Internasioal

Negara Indonesia sebagai negara yang merdeka dan berdaulat penuh, berhak
menentukan nasibnya sendiri, begitu pula bebas mengadakan hubungan kerja sama
dengan semua negara yang ada di dunia atas dasar saling menguntungkan yang
berpedoman kepada pelaksanaan Politik Luar Negeri Indonesia dan Piagam PBB.
Kerja sama maupun Hubungan Internasional Indonesia selalu mendapat dukungan
rakyat melalui wakil-wakilnya di DPR secara positif, hal ini terbukti dari banyaknya
kerja sama maupun hubungan internasional yang telah di ratifikasi oleh DPR, seperti
kerja sama atau hubungan internasional yang bersifat bilateral, regional maupun
multilateral, dimana Indonesia ikut sebagai anggotanya

Beberapa contoh hasil positif yang sudah dirasakan dari kerja sama dan hubungan
internasional, seperti pengakuan negara lain baik secara de facto maupun de yure
terhadap kemerdekaan Indonesia, bantuan badan-badan internasional terhadap
masalah dalam negeri Indonesia (CGI, UNICEF, World Bank, dll), stabilitas kawasan
Asia Tenggara dengan adanya ASEAN, stabilitas harga minyak dunia dengan adanya
OPEC, kembalinya Irian Barat melalui Pemerintahan Sementara PBB (UNTEA =
United Nations Temporary Executive Authority ), terbentuknya Pasukan Keamanan
PBB di Irian Barat yaitu UNSF ( United Nations Security Forces), terbentuknya komisi
PBB untuk Indonesia yaitu UNCI (United Nations Commission for Indonesian)
menghasilkan pengakuan Belanda terhadap kemerdekaan Indonesia dan lain-lainnya.

Dalam dunia internasional, peranan Indonesia untuk membina dan mempererat


persahabatan dan kerja sama saling menguntungkan antar bangsa perlu diperluas dan
ditingkatkan.

Berlandaskan pada konsep dasar pelaksanaan politik luar negeri Indonesia yang bebas
aktif, ini berarti negara kita akan selalu aktif dalam kerja sama dan hubungan
internasional baik secara bilateral, regional maupun multilateral dalam bingkai dunia
yang berlandaskan persamaan derajat dan kedaulatan.

Sejak awal kemerdekaan Indonesia telah menggariskan kebijaksanaan luar negerinya


dengan ikut aktif menciptakan perdamaian dunia yang berdasarkan kemerdekaan,
perdamaian abadi dan keadilan sosial, hal ini dapat terwujud melalui kerja sama dan
hubungan internasional yang saling menguntungkan.

Beberapa contoh mengenai peranserta Indonesia dalam kerja sama dan hubungan
internasional yang bermanfaat bagi dunia dan Indonesia:
- Keaktifan Indonesia dalam mengirim pasukan perdamaian (pasukan Garuda) ke
negara-negara Kongo, Timur Tengah, Vietnam, Kamboja, Bosnia, Herzegovina dan
Lebanon
- Melalui Gerakan Non Blok (GNB) telah mampu meredakan ketegangan pada masa
perang dingin blok barat dan blok timur
- Mendukung pembentukan pasar bebas di kawasan ASEAN (AFTA), Asia Fasipik
(APEC) dan zone bebas nuklir di kawasan ASEAN
- Selalu menyerukan dunia bebas nuklir dan menentang kolonialisme, imprialisme
serta terorisme internasional
- Secara aktif memajukan kerja sama ekonomi, sosial, budaya, politik, hukum,
pendidikan melalui kerja sama bilateral, regional dan multilateral

Dari contoh-contoh yang sudah dikemukakan di atas mengenai kerja sama dan
hubungan internasional, maka sudah menjadi kewajiban kita untuk senantiasa
mendukung setiap usaha pemerintah dalam upaya ikut mewujudkan keamanan,
ketertiban, kedamaian dunia serta peningkatan kemakmuran dalam negeri melalui
kerja sama dan hubungan internasional