Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN TETAP KIMIA ANALITIK INSTRUMEN

KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS

Disusun oleh:

1. Ade kurniadi (061630400289)


2. Amrina Rosyada (061630400291)
3. Berliana sumarni (061630400293)
4. Dewi apryani utari (061630400295
5. Indri Tridias windi p. (061630400297)
6. Kristranti ningrum (061630400299)
7. Muhammad Ichsan Assalam (061630400302)
8. Nabila Ali (061630400304)
9. Nur Haudi (061630400306)
10. Rike Novianti (061630400308)
11. Shinta Permatasari (061630400310)
12. Yessi Tanjung (061630400312)

Kelas : 3KA

Dosen Pembimbing : Ir.M. Taufik , M.Si

POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA


JURUSAN TEKNIK KIMIA
2018
KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS (KLT)

I. TUJUAN PERCOBAAN
Setelah melakukan percobaan ini, mahasiswa diharapkan dapat:
 Melakukan analisa sampel (zat warna) secara kromatografi lapis tipis

II. ALAT DAN BAHAN YANG DIGUNAKAN


a. Alat yang Digunakan
 Pelat TLC
 Chamber Chromatography
b. Bahan yang Digunakan
 Pewarna Sintesis
 Pewarna Kue
 Tinta
 Orange Pasta
 Wantex
 Larutan Methylen Blue
 Ethanol

III. DASAR TEORI

KLT (kromatgrafi Lapis Tipis)/TLC (Thin Layer Chromatography)


merupakan salah satu cara untuk memisahkan dan menganalisa zat dalam
jumlah yang kecil. Pada TLC, adsorben tersebar secara merata dalam
permukaan gelas dan membentuk suatu lapisan tipis, terbentuk pita-pita yang
tidak horizontal, maka sulit untuk mengumpulkan komponen-komponen.
Ujung dari pita kedua akan terbawa sebelum seluruh pita pertama keluar dari
kolom. Ada dua factor penyebab masalah ini yaitu permukaan atas dari
adsorben tidak rata serta kolom tidak benar-benar vertical.

Fenomena lain adalah terbentuknya lengkungan pada salah satu sisi pita.
Hal ini dapat terjadi bila ada ketidakteraturan pada permukaan adsorben atau
terdapat gelembung udara pada kolom.

Pada TLC, cuplikan yang akan dipisahkan atau dianalisa diteteskan


pada pelat dengan menggunakan kapiler. Pemisahan dapat terjadi dengan
memasukkan pelat ke dalam chamber (kamar) yang telah jenuh dengan pelarut.
Pelarut akan naik secara perlahan-lahan sepanjang pelat tersebut. Cuplikan
akan terdistribusi antara fasa diam (adsorben) dan fasa gerak (pelarut). Sebagai
fase gerak umumnya zat yang kurang polar dibandingkan dengan fasa diam
sehingga komponen dalam cuplikan yang kurang polar akan bergerak lebih
cepat dari komponen cuplikan yang lebih polar. Bila larutan hamper mencapai
ujung pelat maka pelat dikeluarkan dari chamber dan dibiarkan hingga pelarut
yang menempel pada pelat menguap. Akan terlihat noda-noda pada pelat yang
menunjukan jumlah komponen yang ada dalam cuplikan. Perbandingan antar
jarak perjalanan komponen dengan jarak perjalanan pelarut disebut Rf. Rf
dinyatakan dengan bilangan dan dapat digambarkan seperti berikut ini.

.
distance travelled by distance travelled by

the solvent . the various dyes

Nilai Rf untuk setiap warna dihitung dengan rumus sebagai berikut:


𝑗𝑎𝑟𝑎𝑘 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖𝑡𝑒𝑚𝑝𝑢ℎ 𝑜𝑙𝑒ℎ 𝑘𝑜𝑚𝑝𝑜𝑛𝑒𝑛
Rf= 𝑗𝑎𝑟𝑎𝑘 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖𝑡𝑒𝑚𝑝𝑢ℎ 𝑜𝑙𝑒ℎ 𝑝𝑒𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡

Sebagai contoh, jika komponen berwarna merah bergerak dari 1,7 cm


dari garis awal, sementara pelarut berjarak 5,0 cm sehingga nilai Rf untuk
komponen berwarna merah menjadi:
1,7
Rf =
5,0

= 0,34

Bila kondisi pengerjaan sama, maka niali Rf untuk kompoen tertentu


adalah sama. Nilai Rf dapat digunakan untuk mengidentifikasi komponen.

Istilah kromatografi berasal dari bahasa Latin chroma berarti warna dan
graphien berarti menulis.Kromatografi pertama kali diperkenalkan oleh
Michael Tswest (1903) seorang ahli botani dari Rusia. Michael Tswest dalam
percobaannya ia berhasil memisahkan klorofil dan pigmen-pigmen warna lain
dalam ekstrak tumbuhan dengan menggunakan serbuk kalsium karbonat
(CaCO3) yang diisikan ke dalam kaca dan petroleum eter sebagai pelarut.
Proses pemisahan itu diawali dengan menempatkan larutan cuplikan pada
permukaan atas kalsium karbonat (CaCO3), kemudian dialirkan pelarut
petroleum eter. Hasilnya berupa pita-pita berwarna yang terlihat sepanjang
kolom sebagai hasil pemisahan komponen-komponen dalam ekstrak tumbuhan.
Dalam teknik kromatografi, sampel yang merupakan campuran dari berbagai
macam komponen ditempatkan dalam situasi dinamis dalam sistem yang terdiri
dari fase diam dan fase gerak. Semua pemisahan pada kromatografi tergantung
pada gerakan relatif dari masing-masing komponen diantara kedua fase
tersebut. Senyawa atau komponen yang tertahan lebih lemah oleh fase diam
akan bergerak lebih cepat daripada komponen yang satu dengan lainnya
disebabakan oleh perbedaan dalam adsorbsi, partisi, kelarputan atau penguapan
diantara kedua fase.
Kromatografi lapis tipis mirip dengan kromatogafi lapis tipis (KLT).
Bedanya lapis tipis (KLT) digantikan lembaran kaca atau plastik yang dilapisi
dengan lapisan tipis adsorben seperti alumina, silika gel, selulosa atau materi
lainnya. Kromatografi lapis tipis bersifat boleh ulang (reprodusibel) dari pada
kromatografi lapis tipis (KLT).
Adsorben yang digunakan pada kromatogrfai lapis tipis biasanya terdiri
dari silika gel atau alumina dapat langsung atau dicampur dengan bahan
perekat misalnya kalsium sulfat untuk disalutkan pada pelat. Pada
pemisahannya, fase bergerak akan membawa komponen campuran sepanjang
fase diam pada pelat sehingga terbentuk kromatogram. Pemisahan yang terjadi
berdasarkan adsorbsi dan partisi. Teknik kerja KLT prinsipnya hampir sama
dengan komatografi lapis tipis (KLT).
Penentuan harga Rf pada KLT sama dengan pada kromatografi lapis
tipis (KLT). Harga Rf dapatdigunakan untuk identifikasi kualitatif. Untuk
tujuan penentuan kadar, bercak komponen dapat dikerok lalu dilarutkan dalam
pelarut yang sesuai untuk dianalisa dengan metode lain yang tepat. Aplikasi
KLT sangat luas, termasuk dalam bidang organik dan anorganik. Kebanyakan
senyawa yang dapat dipisahkan bersifat hidrofob seperti lipida dan hidrokarbon
dimana sukar bila dikerjakan dengan kromatografi lapis tipis (KLT). KLT juga
penting untuk pemeriksaan identitas dan kemurnian senyawa obat, kosmetika,
tinta, formulasi pewarna dan bahan makanan.
Kromatografi dapat digolongkan berdasarkan pada jenis fase-fase yang
digunakan.Kromatografi juga dapat digolongkan atas prinsipnya, misalnya
kromatografi partisi (Partition chromatography) dan kromatografi serapan
(Adsorption chromatography).Sedangkan menurut teknik kerja yang
digunakan, misalnya kromatografi kolom, kromatografi lapis tipis (KLT),
kromatografi lapis tipis (KLT) dan kromatografi gas.
Dalam proses kromatografi selalu terdapat kecenderungan yaitu:
a. Kecenderungan molekul-molekul komponen untuk melarut dalam cairan
b. Kecenderungan molekul-molekul komponen untuk melekat pada
permukaan padatan
halus (adsorpsi penyerapan)
c. Kecenderungan komponen-komponen untuk bereaksi secara kimia
(penukar ion)
d. Kecenderungan molekul-molekul terekslusi pada pori-pori fase diam.
Faktor reterdasi (Rf ), merupakan parameter kharakteristik kromatografi lapis
tipis (KLT) dan kromatografi lapis tipis. Harga Rf merupakan ukuran
kecepatan migrasi suatu komponen pada kromatogram dan pada kondisi tetap
merupakan besaran kharakteristik dan reproduksibel. Rf didefenisiskan sebagai
perbandingan jarak yang ditempuh komponen terhadap jarak yang ditempuh
pelarut (fase bergerak).
Hubungan ini berlaku jika Kd dan penampang lintang tidak tetap sepanjang
lintasan zat terlarut.
Pemilihan pelarut tergantung dari campuran sampel yang diteliti. Pelarut yang
cocok untuk pemisahan merupakan campuran dua pelarut, sehingga nilai Rf
senyawa-senyawa dalam campuran sampel tersebar di sepanjang lapis tipis
(KLT). Nilai pH pelarut juga harus diperhatikan, karena banyak pelarut yang
mengandung asam asetat atau ammonia yang menghasilkan lingkungan yang
sangat asam atau sangat basa.
Keuntungan pemisahan dengan metode kromatografi dibandingkan pemisahan
metode lainnya yaitu:
a. Dapat digunakan pada sampel atau konstituen yang sangat kecil (semi mikro
dan
mikro)
b. Cukup selektif terutama untuk senyawa-senyawa organic multi komponen
c. Proses pemisahan dalat dilakukan dalam waktu yang relative singkat
d. Seringkali murah dan sederhana, karena umumnya tidak memerlukan alat
yang mahal
dan rumit.
Untuk tujuan identifikasi, noda-noda sering dikarakterisasikan
berdasarkan nilai Rfnya. Nilai Rf adalah rasio jarak yang dipindahkan oleh
suatu zat terlarut terhadap jarak yang dipindahkan oleh garis depan pelarut
selama waktu yang sama. Nilai Rf yang identik untuk suatu senyawa yang
diketahui dan yang tidak diketahui dengan menggunakan beberapa system
pelarut berbeda memberikan bukti yang kuat bah bahwa nilai untuk kedua
senyawa tersebut adalah identic, terutama jika senyawa tersebut dijalankan
secara berdampingan di sepanjang pita lapis tipis (KLT) yang sama.
Beberapa kelebihan dari KLT yaitu sebagai berikut :
1. Waktu pemisahan lebih cepat
2. Sensitif, artinya meskipun jumlah cuplikan sedikit masih dapat dideteksi.
3. Daya resolusinya tinggi, sehingga pemisahan lebih sempurna.
Pemilihan sistem pelarut dan komposisi lapisan tipis ditentukan oleh prinsip
kromatografi yang akan digunakan. Untuk meneteskan sampel yang akan
dipisahkan digunakan suatu penyuntik berukuran mikro. Sampel harus
nonpolar dan mudah menguap. Kolom-kolom dalam pelat dapat diciptakan
dengan mengorek lapisan vertikal searah gerakan pelarut. Resolusi KLT jauh
lebih tinggi daripada kromatografi lapis tipis (KLT) karena laju difusi yang luar
biasa kecilnya pada lapisan pengadsorbsi. Semua teknik yang dipakai
krometografi lapis tipis (KLT) juga dapat digunakan untuk kromatografi lapis
tipis.
Nilai Rf dipengaruhi oleh ketebalan lapisan, sebagian besar prosedur
pemisahan untuk analisis kualitatif menggunkan ketebalan lapisan 250 µm dan
untuk anlisis preparatif digunakan ketebalan sampai 5 mm. Kadang-kadang
digunakan kalsium sulfat sebagai adsorben untuk mengikat lapisan pada
lempeng. Silika gel adalah bahan yang paling banayak digunakan untuk
pemisahan sejumlah besar senyawa. Hal yang harus diperhatikan adalah
atmosfer ruang pemisahan harus jenuh dengan pelarut, karena menentukan
besar kecilnya nilai Rf. Hal ini dapat dilakukan dengan menggunakan wadah
sekecil mungkin dan menghubungkan dinding dengan lapis tipis (KLT) yang
terendam dalam pelarut.
Teknik pemisahan dalam kromatografi ada dua macam, yaitu :
1. Descending-chromatografy adalah yang berdasarkan cairan pengelusi
yang dibiarkan bergerak menuruni lapis tipis (KLT) akibat gaya
gravitasi.
2. Ascending-chromatografy yaitu pemisahan yang berdasarkan cairan
pengelusi bergerak ke atas dengan gaya kapiler.

Kromatografi juga bisa digunakan untuk memisahkan substansi campuran


menjadi komponen-komponennya .Dalam kromatografi lapis tipis, fase diam
adalah lapisan tipis jel silika atau alumina pada sebuah lempengan gelas, logam
atau plastik

Gambar 4.Skema alat TLC


Bagian-bagian TLC
 Pelat : berupa kaca yang dilapisi fase diam seperti CaCO3
 Chamber : tempat memasukkan pelarut( fase gerak) dan pelat (fase
diam)
 Fase diam : zat padat inert yang melapisi pelat
 Fase gerak : zat cair (pelarut organik) seperti etanol yg membawa
cuplikan

Prinsip Kerja TLC

Perhitungan dalam TLC


Nilai Rf untuk setiap warna dihitung dengan rumus sebagai berikut:

𝑗𝑎𝑟𝑎𝑘 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖𝑡𝑒𝑚𝑝𝑢ℎ 𝑜𝑙𝑒ℎ 𝑘𝑜𝑚𝑝𝑜𝑛𝑒𝑛


Rf =
𝑗𝑎𝑟𝑎𝑘 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖𝑡𝑒𝑚𝑝𝑢ℎ 𝑜𝑙𝑒ℎ 𝑝𝑒𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡

Faktor-faktor yang mempengaruhi harga Rf pada TLC


 Struktur kimia darei senyawa yang dipisahkan
 Sifat dari penyerap dan derajat aktifasinya
 Tebal dan kerataan dari lapisan penyerap
 Kemurnian pelarut (fase gerak)
 Jumlah cuplikan yang digunakan
 Suhu
 kesetimbangan
IV. PROSEDUR PERCOBAAN
1. Menyediakan plat yang telah dilapisi
2. Meneteskan cuplikan dengan menggunakan pipa kapiler pada permukaan
pelat.
3. Memasukkan pelat ke dalam chamber yang telah dilapisi sikloheksan.
Tetesan yang berada di plat tidak boleh terendam oleh pelarut. Bila perlu
dapat menggunakan camouran toluena sikloheksan (10:90) yang lebih
bersifat polar.
4. Biarkan pelarut naik perlahan-lahan sepanjang pelat hingga hampir dicapai
ujung yang lain dari pelat. Selanjutnya menandai batas perjalanan pelarut.
5. Pelat dibiarkan kering terlebih dahulu dan dibandingkan dengan harga Rf
dari noda noda yang terbentuk.

V. GAMBAR ALAT (TERLAMPIR)


VI. DATA PENGAMATAN

6.1 Percobaan 1 (Pelarut : etanol 100%)


Nomor Zat warna Perubahan warna Karak yang ditempuh
oleh subtansi
1 Pink es doger I. Soft pink 7,6 cm
(pewarna makanan) II. Pink tua 7,7 cm
2 Coklat pasta I.Coklat tua 1,4 cm
(pewarna makanan) II. Coklat muda 7,1 cm
III. Biru tua 7,2 cm
3 Merah I.Soft pink 5,6 cm
(tinta printer) II. pink nyala 7,2 cm
III. Ungu tua 6,4 cm
IV. Ungu muda 7,1 cm
4 Kuning I.Kuning kecoklatan 2,9 cm
(tinta printer) tua
II. Kuning 5,1 cm
III. Kuning 7 cm
kecoklatan muda
5 Biru I.Biru tua 1,1 cm
(tinta printer) II.Biru Keputihan 6,1 cm
III. Biru muda 7 cm
Jarak yang ditempuh oleh pelarut adalah 7,8 cm

6.2 Percobaan 2 (Pelarut : etanol 50 %)


Nomor Zat warna Perubahan warna Karak yang ditempuh
oleh subtansi
1 Pink es doger I. Soft pink 7,2 cm
(pewarna makanan) II. Pink tua 7,5 cm
2 Coklat pasta I.Biru muda 7,5 cm
(pewarna makanan) II. Hijau 7,5 cm
III. Coklat tua 7,5 cm
IV. Coklat muda 7,2 cm
3 Merah I.Ungu pudar 6,8 cm
(tinta printer) II. Pink muda 7,1 cm
III. Pink terang 7 cm
IV. Ungu tua 7,5 cm
V. Ungu muda 6,7
4 Kuning I.Kuning tua 5,7 cm
(tinta printer) II. Kuning muda 7,5 cm
5 Biru I.Biru tua 7,5 cm
(tinta printer) II. Biru muda 7,5 cm
Jarak yang ditempuh oleh pelarut adalah 7,5 cm
VII. DATA PERHITUNGAN
𝑗𝑎𝑟𝑎𝑘 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖𝑡𝑒𝑚𝑝𝑢ℎ 𝑜𝑙𝑒ℎ 𝑘𝑜𝑚𝑝𝑜𝑛𝑒𝑛
Rf =
𝑗𝑎𝑟𝑎𝑘 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖𝑡𝑒𝑚𝑝𝑢ℎ 𝑜𝑙𝑒ℎ 𝑝𝑒𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡

a. Percobaan 1
1. Pink es doger (pewarna makanan)
 Soft Pink
7,6 𝑐𝑚
Rf =
7,8 𝑐𝑚
Rf = 0,9743
 Pink tua
7,7 𝑐𝑚
Rf =
7,8 𝑐𝑚
Rf = 0,9871

2. Coklat pasta (pewarna makanan)


 Coklat tua
1,4 𝑐𝑚
Rf =
7,8 𝑐𝑚
Rf = 0,1794
 Coklat muda
7,1 𝑐𝑚
Rf =
7,8 𝑐𝑚
Rf = 0,9102
 Biru tua
7,2 𝑐𝑚
Rf =
7,8 𝑐𝑚
Rf = 0,9230

3. Merah (tinta printer)


 Soft pink
5,6 𝑐𝑚
Rf =
7,8 𝑐𝑚
Rf = 0,7179
 Pink nyala
7,2 𝑐𝑚
Rf =
7,8 𝑐𝑚
Rf = 0,9230
 Ungu tua
6,4 𝑐𝑚
Rf =
7,8 𝑐𝑚
Rf = 0,8205
 Ungu muda
7,1 𝑐𝑚
Rf =
7,8 𝑐𝑚
Rf = 0,9102

4. Kuning (tinta printer)


 Kuning kecoklatan tua
2,9 𝑐𝑚
Rf =
7,8 𝑐𝑚
Rf = 0,3717
 Kuning
5,1 𝑐𝑚
Rf =
7,8 𝑐𝑚
Rf = 0,6539
 Kuning kecoklatan muda
7 𝑐𝑚
Rf =
7,8 𝑐𝑚
Rf = 0,8974

5. Biru (tinta printer)


 Biru tua
1,1 𝑐𝑚
Rf =
7,8 𝑐𝑚
Rf = 0,1410
 Biru keputihan
6,1 𝑐𝑚
Rf =
7,8 𝑐𝑚
Rf = 0,7820
 Biru tua
7 𝑐𝑚
Rf =
7,8 𝑐𝑚
Rf = 0,8974
b. Percobaan 2
1. Pink es doger (pewarna makanan)
 Soft Pink
7,2 𝑐𝑚
Rf =
7,5 𝑐𝑚
Rf = 0,96
 Pink tua
7,5 𝑐𝑚
Rf =
7,5 𝑐𝑚
Rf = 1

2. Coklat pasta (pewarna makanan)


 Biru muda
7,5 𝑐𝑚
Rf =
7,5 𝑐𝑚
Rf = 1
 Hijau
7,5 𝑐𝑚
Rf =
7,5 𝑐𝑚
Rf = 1
 Coklat tua
7,5 𝑐𝑚
Rf =
7,5 𝑐𝑚
Rf = 1
 Coklat muda
7,2 𝑐𝑚
Rf =
7,5 𝑐𝑚
Rf = 0,96

3. Merah (tinta printer)


 Ungu pudar
6,8 𝑐𝑚
Rf =
7,5 𝑐𝑚
Rf = 0,9066
 Pink muda
7,1 𝑐𝑚
Rf =
7,5 𝑐𝑚
Rf = 0,9466
 Pink terang
7 𝑐𝑚
Rf =
7,5 𝑐𝑚
Rf = 0,9333
 Ungu tua
7,5 𝑐𝑚
Rf =
7,5 𝑐𝑚
Rf = 1

4. Kuning (tinta printer)


 Kuning tua
5,7 𝑐𝑚
Rf =
7,5 𝑐𝑚
Rf = 0,76
 Kuning muda
7,5 𝑐𝑚
Rf =
7,5 𝑐𝑚
Rf = 1

5. Biru (tinta printer)


 Biru tua
7,5 𝑐𝑚
Rf =
7,5 𝑐𝑚
Rf = 1
 Biru muda
7,5 𝑐𝑚
Rf =
7,5 𝑐𝑚
Rf = 1
VIII. ANALISA PERCOBAAN

Pada praktikum ini ialah melakukan percobaan pada kromatografi Lapis


Tipis (KLT), KLT merupakan contoh dari kromatografi adsorpsi. Fase gerak
pada KLT ini ialah etanol, dan fase diamnya ialah pelat silica. Etanol akan
bergerak membawa sampel ( zat warna ). Proses pemisahan ini membutuhkan
waktu yang cukup lama yaitu ± 1 jam. Dalam proses pemisahannya akan terjadi
jarak tempuh pelarut dalam membawa sampel.

Untuk proses pemisahannya, sampel yang bersifat polar tidak


meninggalkan bekas/noda, sehingga pada titik kapilaritas tertinggi pelarut, noda
sampel polar baru dapat dilihat. Sedangkan untuk sampel yang bersifat semi-
polar akan meninggalkan jejak noda sampai ke titik akhir kapilaritas pelarutnya,
dan untuk sampel yang bersifat non-polar tidak akan terjadi pemisahan atau
tertahan.

Pada percobaan kali ini kami menggunakan pelat TLC yang telah
dilapiskan oleh kapur, tujuan dari kapur ini ialah agar dapat mudah menyerap
komponen warna yang digunakan. Selain pelat TLC, kami juga menggunakan
alat sinar ultraviolet yang berguna untuk membantu peneliti untuk meneliti dan
melihat komponen warna yang terbentuk dari suatu cuplikan zat warna. Selain
dari melihat kompenen dari zat warna yang terbentuk, dengan bantuan alat sinar
uv kita juga dapat melihat jarak komponen yang ditempuh dari suatu pelarut.
Pelarut yang digunakan yaitu ethanol 100% dan ethanol 50% dan jarak yang
ditempuh komponen dari jarak yang dilalui oleh pelarut, maka kita akan
mengetahui nilai Rf yaitu ukuran kecepatan migrasi suatu komponen pada
kromatografi. Semakin besar angka atau nilai Rf maka semakin polar pula suatu
komponen warna. Pada kromatografi lapis tipis terdapat dua fase yaittu fase
gerak dan fase diam. Fase geraknya adalah ethanol dan fase diamnya adalah
pelat silika.

Sampel yang digunakan yaitu sampel warna es doger, coklat pasta, merah
tinta, biru tinta dan kuning tinta printer. Pada cuplikan yang menggunakian
pelarut ethanol 50% hanya warna es doger yang mempunyai komponen warna
lain, sedangkan empat warna lainnya tidak ada, hal ini di sebabkan karena
pelarut yang hanya memiliki konsentrasi 50% sehingga sifat kepolarannya
berbeda dan belum mampu memisahkan komponen warna secara maksimal.

Pada cuplikan yang menggunakan pelarut ethanol 100% hanya pewarna


makanan es doger yang tidak terpisah dengan pelarut, sedangkan empat
komponen lainnya terpisah dengan baik. Nilai Rf terbesar yaitu pada sampel
warna es doger pada komponen warna pink tua yaitu 0,9871.
Sampel akan tertahan apabila sifat dari sampel memiliki kemiripan
dengan fase diamnya, peristiwa ini menunjukkan bahwa sampel tersebut
bersifat non polar. Apabila sampel bersifat polar pelarut akan membawa sampel
hingga titik akhir dari jarak pelarut tanpa meninggalkan noda. Sedangkan
sampel yang bersifat semi polar aka terdapat warna yang tertinggal.

IX. KESIMPULAN
1. Kromatografi lapis tipis merupakan salah satu cara untuk memisahkan
atau menganalisa zat dalam jumlah kecil.
2. Kromatografi lapis tipis dapat digunakan untuk menganalisa/menentukan
komponen zat warna dalam suatu cuplikan berdasarkan tingkat kepolaran
cuplikan itu sendiri
3. Semakin besar jarak komponen maka Rf didapat semakin besar yang
menunjukkan bahwa tingkat kepolaran zat tersebut semakin besar
4. KLT dapat memisahkan komponen warna yang terkandung dalam
berbagai sampel, karena sifat sensitifnya maka dapat menguraikan warna
bermacam-macam dari 1 sampel
5. Pada pecobaan TLC ini fase geraknya adalah ethanol dan fase diamnya
adalah silica.
6. Dalam suatu sampel terdapat lebih dari satu warna/satu komponen warna.
X. DAFTAR PUSTAKA
Polsri, 2017. Penuntun praktikum kimia analitik instrument . Palembang :
jurusan teknik kimia.

Aderana. 2012. Kimia analitik instrument kromatografi . diakses di


http://www.aderana.blogspot.com/2012/06/Kimia-analitik-instrument-
kromatografi.html

Anonim. 2010. Kromatografi lapis tipis. Diakses di


http://www.google.com/TLC-thinlayerchromatography.html
GAMBAR