Anda di halaman 1dari 17

Hukum di Indonesia masih harus dikaji ulang untuk menciptakan kepercayaan masyarakat dan

dunia Internasional terhadap sistem hukum Indonesia. Masih terdapat banyak kasus
ketidakadilan hukum yang terjadi di negara kita. Keadilan harus diposisikan secara netral, artinya
setiap orang memiliki kedudukan dan perlakuan hukum yang sama tanpa kecuali.

Keadaan yang terjadi di Indonesia adalah sebaliknya. Bagi masyarakat kalangan bawah
perlakuan ketidakadilan sudah biasa terjadi. Namun bagi masyarakat kalangan atas atau pejabat
yang punya kekuasaan sulit rasanya menjerat mereka dengan tuntutan hukum.

Seperti inilah dinamika hukum di Indonesia, yang menang adalah yang mempunyai
kekuasaan,yang mempunyai uang banyak,dan yang mempunyai kekuatan. Mereka pasti aman
dari gangguan hukum walaupun aturan negara dilanggar. Orang biasa seperti Busrin yang hanya
melakukan tindakan pencurian kecil langsung ditangkap dan dijebloskan ke penjara.

Pendapat

Menurut saya kasus yang terjadi pada Busrin ini termasuk kategori Ketidakadilan. Memang
benar Busrin melakukan tidakan yang melanggar hukum, tetapi jangan lupa bahwa hukum juga
mempunyai prinsip kemanusiaan. Busrin yang seorang kuli pasir ini awam dengan kata
konservasi dan ketidaktahuannya mengenai hukum. Hanya karena ia mencuri mangrove ia
mendapat hukuman sampai 2 tahun penjara. Sedangkan para pejabat yang melakukan tindakan
korupsi bisa hidup dengan bebas dan tidak mendapat hukuman maupun denda. Busrin adalah
salah satu contoh ketidakadilan mengenai hukum yang terjadi di Indonesia. Seharusnya hukum
di Indonesia sama rata yaitu tidak membeda-bedakan dan tidak melupakan prinsip kemanusiaan.
Tebang Mangrove untuk Kayu Bakar, Buruh Miskin Ini Dibui 2 Tahun

Jakarta - Seorang buruh miskin di Probolinggo, Jawa Timur, Busrin (48), harus mendekam di
penjara selama 2 tahun dan membayar denda Rp 2 miliar. Penyebabnya ia menebang pohon
mangrove yang sedianya akan digunakan untuk kayu bakar di dapur rumahnya.

Kasus bermula saat Busrin menebang pohon mangrove di kampungnya di Desa Pesisir,
Kecamatan Sumberasih, pada 16 Juli 2014 lalu. Busrin menebang dengan menggunakan sabit
dan mengumpulkan kayu-kayu itu di pinggir parit.

"Kayunya akan dipakai untuk kayu bakar," kata Busrin sebagaimana tertuang dalam putusan
Pengadilan Negeri Probolinggo yang dilansir website Mahkamah Agung (MA), Jumat
(21/11/2014).

Hal itu diketahui anggota Polair Polres Probolinggo yaitu Bambang Budi Antoni dan Avian
Riyadi. Busrin yang tidak lulus SD itu lalu digelandang ke kantor Polres dan diproses secara
hukum. Jaksa kemudian menuntut Busrif selama 2 tahun penjara karena dengan sengaja
menggunakan cara dan metode yang merusak ekosistem. Gayung bersambut. Majelis hakim
Pengadilan Negeri (PN) Probolinggi mengabulkan tuntutan itu.

"Menjatuhkan pidana penjara 2 tahun dan denda Rp 2 miliar subsidair 1 bulan," putus majelis
yang terdiri dari Putu Agus Wiranata, Maria Anita dan Hapsari Retno Widowulan. Majelis
menyatakan hal yang meringankan yaitu Busrin menyesal dan berjanji tidak akan mengulangi
perbuatannya serta mengakui perbuatannya.

"Hal yang memberatkan yaitu perbuatan terdakwa merusak ekosistem mangrove dapat
menimbulkan bencana pada orang lain," ucap majelis pada pada 22 Oktober 2014 lalu.

Si Miskin Pencari Kayu Bakar Dibui 2 Tahun dan Denda Rp 2 M, Ini Kata Polisi

Jakarta - Buruh miskin yang mencari kayu bakar di hutan Mangrove di Probolinggo, Jawa Timur
(Jatim), Busrin (48) dihukum 2 tahun penjara dan denda Rp 2 miliar. Pria yang tidak lulus SD itu
menebang pohon supaya dapurnya tetap ngebul.

Busrin ditangkap anggota polisi dari Polair Polres Probolinggo, Bambang Budiantoni, Avan
Riado dan Syamsul di hutan Mangrove di kampungnya di Desa Pesisir, Kecamatan Sumberasih,
pada 16 Juli 2014 lalu.

"Busrin melakukan penebangan sendirian serta menggunakan alat penebangan dengan sebilah
sabit," kata Bambang dalam kesaksian sebagaimana tertuang dalam putusan Pengadilan Negeri
(PN) Probolinggo yang dikutip detikcom dari website Mahkamah Agung (MA), Minggu
(23/11/2014).

Menurut Bambang, apa yang dilakukan Busrin diduga merusak ekosistem. Bambang dkk juga
menemukan bukti pohon mangrove jenis api-api yang ditumpuk berupa potongan-potongan kayu
berukuran 0,5 meter sebanyak 2 meter kubik.
"Busrin saat dilakukan penangkapan tidak melakukan perlawanan," ujar Bambang.

Keterangan itu tidak dibantah Busrin. Kepada majelis hakim yang terdiri dari Putu Agus
Wiranata, Maria Anita dan Hapsari Retno Widowulan, Busrin mengaku melakukan hal itu
karena akan digunakan untuk kayu bakar kebutuhan rumah tangganya.

"Kayunya akan dipakai untuk kayu bakar," ucap Busrin.

Jaksa kemudian menuntut Busrif selama 2 tahun penjara karena dengan sengaja menggunakan
cara dan metode yang merusak ekosistem. Gayung bersambut. Majelis hakim Pengadilan Negeri
(PN) Probolinggo mengabulkan tuntutan itu.

"Menjatuhkan pidana penjara 2 tahun dan denda Rp 2 miliar subsidair 1 bulan," putus majelis
pada 22 Oktober 2014 lalu.

Busrin (48), seorang kuli pasir asal Desa Pesisir, Kecamatan Sumberasih, Kabupaten
Probolinggo, divonis hukuman dua tahun penjara dan denda Rp 2 miliar oleh Pengadilan Negeri
Kota Probolinggo, Jawa Timur, karena menebang pohon mangrove yang akan digunakan sebagai
kayu bakar untuk memasak di rumahnya.

Vonis itu dijatuhkan dalam sidang yang digelar 22 Oktober 2014 lalu dengan majelis hakim
terdiri atas Putu Agus Wiranata, Maria Anita dan Hapsari Retno Widowulan.

Busrin ditangkap anggota Polair Polres Probolinggo, Bambang Budiantoni dan Avan Riado di
hutan Mangrove di kampung terdakwa di Desa Pesisir pada 16 Juli 2014 lalu. Busrin tak sadar
bahwa menebang pohon mangrove itu adalah perbuatan melawan hukum. Maklum, dia tak lulus
pendidikan SD.

Kasus itu pun menjadi perhatian publik karena dianggap mencederai rasa keadilan terhadap
masyarakat kecil. Apalagi, istri dan anak-anak Busrin merasa terpukul oleh kejadian tersebut
karena terdakwa merupakan tulang punggung keluarga.

Susilowati (58), istri Busrin, kini menggantikan suaminya untuk menghidupi keluarganya
sendiri, sejak Busrin mendekam di sel tahanan Lembaga Pemasyarakatan Kelas II B Kota
Probolinggo. Tak tega melihat Susilowati banting tulang memenuhi kehidupan keluarganya,
kerabat Busrin bergantian membantu kebutuhan sehari-hari.
Ditemui Senin (24/11/2014), Susilowati mengaku sedih dan kecewa atas vonis pengadilan
tersebut. Menurut dia, hukuman 2 tahun penjara dan denda Rp 2 miliar jauh dari rasa keadilan.
Suaminya hanya menebang 3 pohon mangrove.

Sementara itu, Pejabat Humas Pengadilan Negeri Kota Probolinggo, Putu Agus Wiranata,
menilai, hukuman yang dijatuhkan majelis hakim sebenarnya sudah cukup ringan karena
merupakan vonis minimal.

Majelis hakim berpendapat, Busrin telah melanggar Pasal 35 huruf e,f dan g UU Nomor 27
Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pasir dan Pulau-pulau Terluar. Majelis hakim juga
menyatakan tidak ada alasan untuk memaafkan terdakwa, serta tidak ada alasan pembenaran
untuk perbuatan terdakwa.

"Dengan adanya perbuatan terdakwa, yakni menebang pohon mangrove tersebut dapat
menyebabkan perubahan fungsi lingkungan dalam skala yang luas apabila dilakukan secara
terus-menerus dan merusak lingkungan ekologis alam, terjadinya akumulasi pencemaran dan
menurunkan kualitas air," demikian salah satu isi putusan majelis hakim seperti yang dimuat
website Mahkamah Agung.

Sedangkan fungsi dari adanya pohon mangrove, masih menurut majelis hakim, adalah untuk
mengurangi risiko bencana sebagai biofilter untuk penetralisir logam berat dan sebagai daerah
pemijahan dan asuhan ikan serta biota lainnya. Selain itu, pohon tersebut juga sebagai penahan
erosi dan abrasi yang sangat berguna bagi kepentingan orang banyak, sehingga dengan
banyaknya fungsi pohon mangrove, pemerintah melarang adanya penebangan terhadap pohon
mangrove.
2.2 Indonesia sebagai Negara Hukum

Negara Hukum Indonesia diilhami oleh ide dasar rechtsstaat dan rule of law. Langkah ini
dilakukan atas dasar pertimbangan bahwa negara hukum Republik Indonesia pada dasarnya
adalah negara hukum, artinya bahwa dalam konsep negara hukum Pancasila pada hakikatnya
juga memiliki elemen yang terkandung dalam konsep rechtsstaat maupun dalam konsep rule of
law.

Yamin menjelaskan pengertian Negara hukum dalam penjelasan UUD 1945, yaitu dalam Negara
dan masyarakat Indonesia, yang berkuasa bukannya manusia lagi seperti berlaku dalam Negara-
negara Indonesia lama atau dalam Negara Asing yang menjalankan kekuasaan penjajahan
sebelum hari proklamasi, melainkan warga Indonesia dalam suasana kemerdekaan yang dikuasai
semata-mata oleh peraturan Negara berupa peraturan perundang-undangan yang dibuatnya
sendiri

Indonesia berdasarkan UUD 1945 berikut perubahan-perubahannya adalah negara hukum artinya
negara yang berdasarkan hukum dan bukan berdasarkan kekuasaan belaka. Negara hukum
didirikan berdasarkan ide kedaulatan hukum sebagai kekuasaan tertinggi
Menurut Prof. Dr. Jimly Asshiddiqie, SH ada dua belas ciri penting dari negara hukum
diantaranya adalah :

1. Supremasi hukum

2. Persamaan dalam hukum

3. Asas legalitas

4. Pembatasan kekuasaan

5. Organ eksekutif yang independent

6. Peradilan bebas dan tidak memihak

7. Peradilan tata usaha negara

8. Peradilan tata negara

9. Perlindungan hak asasi manusia

10. Bersifat demokratis

11. Sarana untuk mewujudkan tujuan negara

12. Transparansi dan kontrol sosial.

Sedangkan menurut Prof. DR. Sudargo Gautama, SH. mengemukakan 3 ciri-ciri atau unsur-
unsur dari negara hukum, yakni:

a. Terdapat pembatasan kekuasaan negara terhadap perorangan

maksudnya negara tidak dapat bertindak sewenang-wenang. Tindakan negara dibatasi oleh
hukum, individual mempunyai hak terhadap negara atau rakyat mempunyai hak terhadap
penguasa.
b. Azas Legalitas

Setiap tindakan negara harus berdasarkan hukum yang telah diadakan terlebih dahulu yang harus
ditaati juga oleh pemerintah atau aparaturnya.

c. Pemisahan Kekuasaan

Agar hak-hak azasi itu betul-betul terlindung adalah dengan pemisahan kekuasaan yaitu badan
yang membuat peraturan perundang-undangan, melaksanakan dan mengadili harus terpisah satu
sama lain tidak berada dalam satu tangan.

Namun apabila dikaji secara mendalam bahwa pendapat yang menyatakan orientasi konsepsi
Negara Hukum Indonesia hanya pada tradisi hukum Eropa Continental ternyata tidak
sepenuhnya benar, sebab apabila disimak Pembukaan UUD 1945 alinea I (satu) yang
menyatakan “Bahwa sesungguhnya kemerdekaan ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu,
maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan
perikeadilan” menunjukkan keteguhan dan kuatnya pendirian bangsa Indonesia menghadapi
masalah kemerdekaan melawan penjajahan. Dengan pernyataan itu bukan saja bangsa Indonesia
bertekad untuk merdeka, tetapi akan tetap berdiri di barisan yang paling depan dalam menentang
dan menghapuskan penjajahan di atas dunia.

Alinea ini mengungkapkan suatu dalil objektif, yaitu bahwa penjajahan tidak sesuai dengan
perikemanusiaan dan perikeadilan dan oleh karenanya harus ditentang dan dihapuskan agar
semua bangsa di dunia ini dapat menjalankan hak atas kemerdekaan sebagai hak asasinya. Di
samping itu dalam Batang Tubuh UUD 1945 naskah asli, terdapat pasal-pasal yang memuat
tentang hak asasi manusia antara lain: Pasal 27, 28, 29, 30, dan 31. Begitu pula dalam UUD 1945
setelah perubahan pasal-pasal yang memuat tentang hak asasi manusia di samping Pasal 27, 28,
29, 30 dan 31 juga dimuat secara khusus tentang hak asasi manusia dalam Bab XA tentang Hak
Asasi Manusia yang terdiri dari Pasal 28A, 28B, 28C, 28D, 28E, 28F, 28G, 28H, 28I dan Pasal
28J. Hal ini menunjukkan bahwa dalam konsep negara hukum Indonesia juga masuk di
dalamnya konsepsi negara hukum Anglo Saxon yang terkenal dengan rule of law.

Dari penjelasan dua konsep tersebut dapat disimpulkan bahwa konsep negara hukum Indonesia
tidak dapat begitu saja dikatakan mengadopsi konsep rechtsstaat maupun konsep the rule of law,
karena latar belakang yang menopang kedua konsep tersebut berbeda dengan latar belakang
negara Republik Indonesia, walaupun kita sadar bahwa kehadiran istilah negara hukum berkat
pengaruh konsep rechtsstaat maupun pengaruh konsep the rule of law.

Selain istilah rechtstaat, sejak tahun 1966 dikenal pula istilah The rule of law yang diartikan
sama dengan negara hukum.

Dari berbagai macam pendapat, nampak bahwa di Indonesia baik the rule of law maupun
rechtsstaat diterjemahkan dengan negara hukum. Hal ini sebenarnya merupakan sesuatu yang
wajar, sebab sejak tahun 1945 The rule of law merupakan suatu topik diskusi internasional,
sejalan dengan gerakan perlindungan terhadap hak-hak asasi manusia. Dengan demikian, sulitlah
untuk saat ini, dalam perkembangan konsep the rule of law dan dalam perkembangan konsep
rechtsstaat untuk mencoba menarik perbedaan yang hakiki antara kedua konsep tersebut, lebih-
lebih lagi dengan mengingat bahwa dalam rangka perlindungan terhadap hak-hak dasar yang
selalu dikaitkan dengan konsep the rule of law, Inggris bersama rekan-rekannya dari Eropa
daratan ikut bersama-sama menandatangani dan melaksanakan The European Convention of
Human Rights.

Dengan demikian, lebih tepat apabila dikatakan bahwa konsep negara hukum Indonesia yang
terdapat dalam UUD 1945 merupakan campuran antara konsep negara hukum tradisi Eropa
Continental yang terkenal dengan rechtsstaat dengan tradisi hukum Anglo Saxon yang terkenal
dengan the rule of law. Hal ini sesuai dengan fungsi negara dalam menciptakan hukum yakni
mentransformasikan nilai-nilai dan kesadaran hukum yang hidup di tengah-tengah
masyarakatnya. Mekanisme ini merupakan penciptaan hukum yang demokratis dan tentu saja
tidak mungkin bagi negara untuk menciptakan hukum yang bertentangan dengan kesadaran
hukum rakyatnya. Oleh karena itu kesadaran hukum rakyat itulah yang diangkat, yang
direfleksikan dan ditransformasikan ke dalam bentuk kaidah-kaidah hukum nasional yang baru.
Apabila dalam Pembukaan dan Batang Tubuh UUD 1945 naskah asli, tidak secara eksplisit
terdapat pernyataan bahwa Indonesia adalah negara hukum, lain halnya dalam Konstitusi
Republik Indonesia Serikat (KRIS). Dalam KRIS dinyatakan secara tegas dalam kalimat terakhir
dari bagian Mukadimah dan juga dalam Pasal 1 ayat (1) bahwa Indonesia adalah negara hukum.

2.3 Implementasi Etika Penegakan Hukum yang Berkeadilan dalam Birokrasi Indonesia

Membahas tentang penegakan hukum di negara kita indonesia sebaiknya terlebih dahulu
kita mengetahui tentang asal dan usul hukum dinegara kita. Hukum adalah suatu kata yang
memiliki makna tentang sekumpulan peraturan yang berisi perintah atau larangan yang dibuat
oleh pihak yang berwenang sehingga dapat dipaksakkan pemberlakuannya berfungsi untuk
mengatur masyarakat demi terciptanya ketertiban disertai dengan sanksi bagi pelanggarnya.
Penegakkan hukum di Indonesia saat ini masih jauh dari harapan. Suatu gambaran diperoleh
dalam penegakkan hukum di Indonesia, yakni hukum akan ditegakkan manakala pihak -pihak yang
terlibat adalah masyarakat lemah. Namun hukum akan kehilangan
fungsinya manakala pihak yang terlibatmenyangkut atau ada sangkut pautnya dengan oknum
aparat penegak hukum, penguasa dan pengusaha (orang kaya).
Memahami penegakan hukum yang terjadi, berbagai media masa memberitakan
bagaimana semakin menjauhnya keadilan dari masyarakat. Berbagai putusan pengadilan belum
memberikan rasa keadilan bagi masyarakat. Pada saat hukum telah menjauh dari rasa keadilan
masyarakat, maka eksistensi dan legitimasi hukum patut dipertanyakan
Berbicara mengenai hukum di Indonesia saat ini, maka hal pertama yang tergambar ialah
ketidakadilan. Sungguh ironis ketika mendengar seorang yang mencuri buah dari kebun
tetangganya karena lapar harus dihukum kurungan penjara, sedangkan para pihak yang jelas-
jelas bersalah seperti koruptor yang merajalela di negara ini justru dengan bebas berlalu lalang di
pemerintahan, bahkan menempati posisi yang berpengaruh terhadap kemajuan dan
perkembangan negara kita ini. jika pun ada yang tertangkap, mereka justru mendapatkan fasilitas
yang tidak seharusnya mereka peroleh.

Contoh lainnyanya, pencuri anak ayam dijebloskan 3 bulan ke dalam tahanan, sedangkan
koruptor miliaran rupiah seperti dalam kasus Bantuan Likuiditas Bank Indonesia dibiarkan
bebas. Malah ada debitor kakap yang diantar dengan sangat bersahabat memasuki istana
kepresidenan oleh pihak berwajib. Jangan heran pula ketika melihat tiga direktur Bank Mandiri,
E.C.W. Neloe, I Wayan Pugeg, dan Tasripan, yang sudah dipenjarakan kemudian dibebaskan.

Kasus yang lain seperti seorang maling ayam yang harus dijatuhi hukuman kurungan
penjara dalam hitungan Tahun. Ini sangat berbeda dengan para pejabat pemerintah atau mereka
yang mempunyai banyak uang yang memang secara hukum terbukti bersalah namun dengan
mudahnya membeli keadilan dan mempermainkan hukum sesuka mereka. Keduanya dalam
kondisi yang sama namun dapat kita lihat bagaimanakah hukum itu berjalan dan dimanakah
hukum itu berlaku.
Seharusnya pemerintah Indonesia dapat bertindak lebih adil dan untuk kalangan atas
lebih memperhatikan lagi dengan segala aspek dalam hukum yang ada dalam negara kita ini.
Bertindaklah seadil-adilnya, agar tidak ada pihak yang dirugikan maupun diuntungkan.
Contoh diatas adalah sebagian kecil dari hal-hal yang terjadi disekitar kita. Namun dari
hal tersebut yang akhirnya membuat orang-orang di negara ini akan mengagmbarakan bahawa
hukum negara kita tidak adil. Begitu banyak penyebab sistem hukum di Indonesia bermasalah
mulai dari sistem peradilannya, perangkat hukumnya, dan masih banyak lagi. Diantara hal-hal
diatas, hal yang terutama sebenranya adalah ketidak konsistenan penegakan hukum. Seperti
contoh kasus diatas. Hal tersebut sangat mengggamabarakan sangat kurangnya konsistensi
penegakan hukum di negara ini, dimana hukum seolah-olah bahkan dapat dikatakan dengan pasti
dapat dibeli.
Faktor penyebab ketidakadilan Hukum di Indonesia, antara lain:
1. Tingkat kekayaan seseorang
Tingakatan kekayaan seseorang itu mempengaruhi berapa lama hukum yang ia terima
2. Tingkat jabatan seseorang
Orang yang memiliki jabatan tinggi apabila mempunyai masalah selalu penyelesaian masalahnya
dilakukan dengan segera agar dapat mencegah tindakan hukum yang mungkin bisa dilakukan.
Tetapi berbeda dengan pegawai rendahan. Pihak kejaksaan pun terkesan mengulur-ulur janji
untuk menyelesaikan kasus tersebut.
3. Nepotisme
Mereka yang melakukan kejahatan namun memiliki kekuasaan atau peranan penting di negara
ini dapat dengan mudahnya keluar dari vonis hukum. Ini sangat berbeda dengan warga
masyarakat biasa yang akan langsung divonis sesuai hukum yang berlaku dan sulit unutk
membela diri atau bahkan mungkin akan dipersulit penyelesaian proses hukumnya.
4. Ketidakpercayaan masyarakat pada hukum
Ketidakpercayaan masyarakat terhadap hukum muncul karena hukum itu lebih banyak
merugikannya. Dilihat dari yang diberitakan ditelevisi pasti masalah itu selalu berhubungan
dengan uang. Seperti faktor yang dijelaskan di atas membuat kepercayaan masyarakat umum
akan penegeakan hukum menurun.
Ketika birokrasi institusi hukum hanya menghasilkan produk-produk ketidakadilan, maka
yang harus ditinjau ulang adalah cara berhukum itu sendiri. Cara berhukum yang benar adalah
dengan menerima bahwa hukum itu juga tumbuh berkembang dalam interaksi masyarakat
dan mengakui bahwa hukum ada tidak semata-mata untuk dirinya sendiri, tetapi untuk tujuan
dan makna sosial yang melampaui logika hukum. Dengan cara berhukum seperti ini maka
kepercayaan masyarakat terhadap hukum akan pulih kembali. Oleh karenanya tugas dari pelaku
hukum dan ahli hukum dalam konteks Indonesia dewasa ini adalah bagaimana mencapai
keadilan hukum, bukan melulu kepastian hukum. Masyarakat sangat menunggu adanya hokum
yang berpihak kepada rakyat.
Hukum serta perasaan keadilan dalam pengertian yang sesungguhnya itu hanya akan
ditemukan di dalam nurani tiap-tiap insan, dan ia akan selalu mendampingi, terutama manakala
mereka akan menetapkan atau mengambil sebuah keputusan termasuk putusan hukum itu sendiri.
Hukum sesungguhnya dibuat dan ditegakkan untuk mewujudkan keadilan. Namun hukum dan
keadilan memang tidak selalu sejalan. Hal itu terjadi karena keadilan sebagai nilai tidak mudah
diwujudkan dalam norma hukum. Nilai keadilan yang abstrak dan tidak selalu bersifat rasional
tidak dapat seluruhnya diwadahi dalam norma hukum yang preskriptif. Hukum dirumuskan
secara umum untuk mewadahi variasi peristiwa hukum serta kemungkinan hukum berkembang
di masa yang akan datang.
Perlu dipertanyakan, apakah negara sudah menyediakan perangkat hukum dan
menegakkan keadilan bagi rakyatnya. Apakah perangkat hukum yang disediakan oleh negara dan
penegakan hukumnya telah mencerminkan keadilan dalam masyarakat. Penegakan hukum
merupakan pusat dari seluruh “aktivitas kehidupan” hukum. Menegakkan keadilan bukanlah
sekadar menjalankan prosedur formal dalam peraturan hukum yang berlaku di suatu masyarakat,
menegakkan nilai-nilai keadilan lebih utama daripada sekadar menjalankan berbagai prosedur
formal perundang-undangan. Rasa keadilan tidak hanya tegak bila penegak hukum hanya
menindak berlandaskan pasal dalam UU secara kaku dan tidak mengenali nilai keadilan yang
substantif (Keadilan dalam hal ini bukan hanya keadilan hukum positif, tetapi juga meliputi nilai
keadilan yang diyakini dan berkembang dalam masyarakat). Dalam pikiran para yuris, proses
peradilan sering hanya diterjemahkan sebagai suatu proses memeriksa dan mengadili secara
penuh dengan berdasarkan hukum positif semata-mata. Pandangan yang formal ini mendominasi
pemikiran para penegak hukum, sehingga apa yang menjadi bunyi undang-undang, itulah yang
akan menjadi hukumnya.
Kelemahan utama pandangan hukum secara formal ini adalah terjadinya penegakan
hukum yang kaku, cenderung mengabaikan rasa keadilan masyarakat karena lebih
mengutamakan kepastian hukum. Proses mengadili dalam kenyataannya bukanlah proses yuridis
semata. Proses peradilan bukan hanya proses menerapkan pasal-pasal dan bunyi undang-undang,
melainkan proses yang melibatkan perilaku-perilaku masyarakat dan berlangsung dalam struktur
sosial tertentu
Pengadilan yang merupakan representasi utama wajah penegakan hukum dituntut untuk
mampu melahirkan tidak hanya kepastian hukum, melainkan pula keadilan, kemanfaatan sosial
dan pemberdayaan sosial melalui putusan-putusan hakimnya. Kegagalan lembaga peradilan
dalam mewujudkan tujuan hukum telah mendorong meningkatnya ketidakpercayaan masyarakat
terhadap pranata hukum dan lembaga-lembaga hukum. Untuk itu, suatu keputusan pengadilan
harus benar-benar dipertimbangkan dari sudut moral, yaitu rasa keadilan masyarakat.
Hakim sebagai pemegang pedang keadilan harus selalu berwawasan luas dalam
menerapkan hukum. Menjamin peraturan perundang-undangan diterapkan secara benar dan adil.
Apabila penerapan peraturan perundang-undangan akan menimbulkan ketidakadilan, hakim
wajib berpihak pada keadilan dan mengesampingkan peraturan perundang-undangan.
Kegiatan reformasi Hukum perlu dilakukan dalam rangka mencapai supremasi hukum
yang berkeadilan. Beberapa konsep yang perlu diwujudkan antara lain:
1. Penggunaan hukum yang berkeadilan sebagai landasan pengambilan keputusan oleh aparatur
negara.
2. Adanya lembaga pengadilan yang independen, bebas dan tidak memihak.
3. Aparatur penegak hukum yang professional
4. Penegakan hukum yang berdasarkan prinsip keadilan
5. Pemajuan dan perlindungan HAM
6. Partisipasi public
7. Mekanisme control yang efektif.
Untuk memperbaiki Penegakkan Hukum di Indonesia maka para aparat hukum haruslah
taat terhadap hukum dan berpegang pada nilai-nilai moral dan etika yang berlaku di masyarakat.
Apabila kedua unsur ini terpenuhi maka diharapkan penegakan hukum secara adil juga dapat
terjadi di Indonesia. Kejadian-kejadian yang selama ini terjadi diharapkan dapat menjadi proses
mawas diri bagi para aparat hukum dalam penegakan hukum di Indonesia. Sikap mawas diri
merupakan sifat terpuji yang dapat dilakukan oleh para aparat penegak hukum disertai upaya
pembenahan dalam system pengakan hukum di Indonesia.
Harapan akan adanya penegakan hukum yang lebih tegas, mencerminkan rasa keadilan
rakyat, perlu segera diwujudkan oleh segenap penegak hukum di Indonesia seperti Pengadilan,
Kejaksaan, Kepolisian, Organisasi Pengacara. Bukankah wewujudkan hukum yang berkeadilan
merupakan amanat UU No. 4 Tahun 2004 dan UU No. 5 Tahun 2004, dan merealisasikan Misi
Mahkamah Agung yang menetapkan yaitu : Mewujudkan rasa keadilan sesuai dengan undang-
undang dan peraturan, serta memenuhi rasa keadilan masyarakat; Mewujudkan Peradilan yang
independen, bebas dari campur tangan pihak lain; Memperbaiki akses pelayanan di bidang
Peradilan kepada masyarakat; Memperbaiki kualitas input internal pada proses Peradilan;
Mewujudkan institusi peradilan yang efektif, efisien, bermartabat, dan dihormati; Melaksanakan
kekuasaan kehakiman yang mandiri, tidak memihak, dan transparan. Semoga.

Bisnis.com, MEDAN - DPW Serikat Petani Indonesia (SPI) Sumatra Utara mengecam penangkapan yang
dilakukan polisi terhadap Jekson Purba dan Arianto di Desa Pamah, Kecamatan Silindah, Kabupaten Deli
Serdang, pada Kamis (27/10).

Ketua DPW SPI Sumut Zubaedah menganggap penangkapan terhadap Ketua Basis SPI Desa Pamah dan
anggotanya tersebut terlalu berlebihan. Apalagi penangkapan itu terkait dengan tuduhan perusakan
tanaman kacangan milik perusahaan perkebunan PT Cinta Raja.

"Keduanya ditangkap saat mencari nafkah. Jekson ditangkap saat bekerja memecah batu. Arianto
ditangkap saat membawa angkutan umum untuk menghidupi keluarganya," jelasnya di Medan, Senin
(7/11/2016).

Dia menjelaskan, awalnya SPI Basis Desa Pamah melakukan pemugaran makam leluhur diatas lahan
yang di klaim milik perkebunan PT Cinta Raja. Pembersihan pemugaran makam adalah rutinitas warga
Desa Pamah sebagai penghargaan terhadap leluhur.

Makam leluhur itu pun menurut warga Desa Pamah adalah bukti bahwa lahan yang diklaim perusahaan
itu adalah ladang dan persawahan warga. Beberapa anggota SPI pun sudah melaporkan ke Polsek Kota
RIH agar tidak mengizinkan perusahaan menghancurkan makam.

"Namun setelah pemugaran, kenapa anggota kita dituduh merusak tanaman kacangan milik
perusahaan? Dan yang tidak masuk akal, perusahaan merasa dirugikan jutaan rupiah sama perusahaan.
Padahal makam itu hanya berukuran 2x3 meter," cetusnya.

Bahkan dia mengungkapkan, sebelum penangkapan Jekson dan Arianto, pada Sabtu (22/10/2016),
beberapa anggota SPI Basis Pamah juga mendapat tindakan kriminalisasi. Tiga anggota SPI lainnya, yakni
Johan, Agus dan Siswo dikepung dan ditembaki oleh orang tak dikenal yang mengendarai mobil Avanza
Silver dan sepeda motor. Saat itu ketiganya sedang bekerja membangun madrasah.

Zubaidah menuturkan, konflik antara masyarakat dengan PT Cinta Raja ini sudah berlangsung lama dan
hingga kini konflik itu tidak kunjung usai. "Petani selalu jadi korban disana. Bahkan perusahaan pun
menembok batas perkebunan dengan lahan. Ini namanya mengisolasi warga setempat dengan
kehidupan," katanya.

SPI Sumut juga menilai kepolisian tidak pernah adil dengan petani di Desa Pamah. Petani sering kali
dikriminalisasi.

Karena itu, lanjutnya, SPI Sumut menuntut agar kedua anggota mereka bisa dibebaskan. "Kami sudah
membentuk tim hukum untuk mengawal proses yang berjalan. Kami nilai pokisi terlalu overacting.
Karena mereka ditangkap seperti menangkap teroris."

MUDANews.com – Pasal 1 ayat (3) UUD 1945 Perubahan ke-4 disebutkan bahwa : “Negara
Indonesia adalah negara hukum”. Pasal tersebut menegaskan keputusan hukum merupakan
keputusan tertinggi di Negara Indonesia dan institusi Pengadilan serta kepolisian menjadi
eksekutor hukum. Ketokan palu hakim menjadi ukuran keadilan hukum yang didapatkan setiap
masyarakat Indonesia. Tetapi, penegakan hukum di Indonesia saat ini selalu mempertontonkan
sebuah ketidakadilan dimana orang miskin di vonis hukuman berat sedang orang kaya bersalah
dibebaskan.

Keadilan hukum di Negeri ini sangat mudah untuk dibeli oleh pemodal. Petani merupakan salah
salah satu korban yang sering mengalami ketidakadilan hukum. Sepanjang terjadinya kasus
konflik agraria di Indonesia, negara selalu berpihak kepada pemodal, keputusan-keputusan
pengadilan pasti memberikan duka dipihak petani. Menurut data dari Konsorsium Pembaruan
Agaria (KPA) sepanjangan tahun 2014-2015 ketidakadilan dalam kasus konflik agraria menuai
534 orang petani ditahan, 234 dianiaya, 56 tertembak dan 24 orang gugur dalam
mempertahankan hak atas tanah mereka.

Salah satu contoh kasus ketidakadilan hukum di Sumatera Utara diderita dua petani SPI desa
Pamah, Kecamatan Silinda, Serdang Bedagai, Provinsi Sumatera Utara. Dua petani desa Pamah
yaitu Jekson Purba (Ketua Basis SPI Desa Pamah) dan Arianto saat ini mengedap dipenjara
Polres Kabupaten Serdang Bedagai dan dituntut 2 tahun penjara setelah berjuang
mempertahankan lahannya yang dirampas oleh PT Cinta Raja.

Derita ketidakadilan hukum dua petani Pamah ini berawal ketika para petani anggota Serikat
Petani Indonesia (SPI) Desa Pamah membersihkan makam seluas 2m x 3m milik leluhur mereka
di dalam areal lahan perkebunan yang telah diklaim oleh PT Cinta Raja. Proses pembersihan
tersebut dianggap pihak perusahaan sebagai tindakan pengrusakan terhadap tanaman kacangan
seluas 2m x 3m. Kerusakan tanaman kacangan itu diklaim perusahaan bernilai jutaan rupiah.
Pihak perusahaan mengadukan hal tersebut kepada Polres Sergei dan pada hari Kamis, 27
Oktober 2016 pihak kepolisian melakukan penangkapan terhadap Jekson ketika sedang bekerja
memecah batu dan Arianto ditangkap saat menarik sewa angkutan umum jurusan Medan-Silinda.

Sejak penangkapan Oktober 2016 hingga saat ini pihak kepolisian masih menahan dua petani
desa Pamah tersebut dan di pengadilan atas tuduhan pengrusakan tanaman kacangan seluas 2m x
3m itu petani dituntut dua tahun penjara. Bermacam upaya yang dilakukan para petani Pamah
untuk membebaskan dua petani yang sedang ditahan pihak kepolisian hingga saat ini tidak
pernah dikabulkan, bahkan lebih miris pihak perusahaan yang selama ini terbukti merampas
tanah rakyat tidak pernah diproses secara hukum. Artinya, kasus kriminalisasi dua petani
Anggota SPI basis Pamah tersebut membuktikan bahwa penegakan hukum di negara ini akan
selalu memakan korban dipihak petani.