Anda di halaman 1dari 28

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


HIV berarti virus yang dapat merusak sistem kekebalan tubuh manusia. Ini adalah
retrovirus, yang berarti virus yang mengunakan sel tubuhnya sendiri untuk memproduksi
kembali dirinya. Asal dari HIV tidak jelas, penemuan kasus awal adalah dari sampel darah
yang dikumpulkan tahun 1959 dari seorang laki–laki dari Kinshasa di Republik Demokrat
Congo. Tidak diketahui bagaimana ia terinfeksi.
Saat ini terdapat dua jenis HIV: HIV–1 dan HIV–2. HIV–1 mendominasi seluruh dunia
dan bermutasi dengan sangat mudah. Keturunan yang berbeda–beda dari HIV–1 juga ada,
mereka dapat dikategorikan dalam kelompok dan sub–jenis (clades). Terdapat dua kelompok,
yaitu kelompok M dan O. Dalam kelompok M terdapat sekurang–kurangnya 10 sub–jenis yang
dibedakan secara turun temurun. Ini adalah sub–jenis A–J. Sub–jenis B kebanyakan ditemukan
di America, Japan, Australia, Karibia dan Eropa. Sub–jenis C ditemukan di Afrika Selatan dan
India. HIV–2 teridentifikasi pada tahun 1986 dan semula merata di Afrika Barat. Terdapat
banyak kemiripan diantara HIV–1 dan HIV–2, contohnya adalah bahwa keduanya menular
dengan cara yang sama, keduanya dihubungkan dengan infeksi–infeksi oportunistik dan AIDS
yang serupa. Pada orang yang terinfeksi dengan HIV–2, ketidakmampuan menghasilkan
kekebalan tubuh terlihat berkembang lebih lambat dan lebih halus. Dibandingkan dengan
orang yang terinfeksi dengan HIV–1, maka mereka yang terinfeksi dengan HIV–2 ditulari
lebih awal dalam proses penularannya.
` HIV dapat menular melalui kontak darah, namun disini kami akan mencoba membahas
bagaiamana HIV AIDS yang dialami ibu hamil dan bagaimana melakukan sebuah proses
keperawatan pada ibu hamil dengan HIV AIDS.

1
1.2 Rumusan Masalah

1. Apa pengertian HIV/AIDS?


2. Bagaimana etiologi HIV?
3. Apa saja macam – macam infeksi HIV?
4. Bagaimana patofisiologi HIV?
5. Bagaimana periode penularan HIV pada ibu hamil?
6. Bagaimana gejala HIV?
7. Apa saja pemeriksaan diagnostik HIV?
8. Bagaimana pengobatan HIV?
9. Bagaimana konsep Asuhan Keperawatan pada ibu hamil dengan HIV?

1.3 Tujuan

1. Mengetahui pengertian HIV/AIDS


2. Mengetahui etiologi HIV
3. Mengetahui macam – macam infeksi HIV
4. Mengetahui patofisiologi HIV
5. Mengetahui periode penularan HIV pada ibu hamil
6. Mengetahui gejala HIV
7. Mengetahui pemeriksaan diagnostik HIV
8. Mengetahui pengobatan HIV
9. Mengetahui konsep Asuhan Keperawatan pada ibu hamil dengan HIV

2
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Definisi

HIV ( Human immunodeficiency Virus ) adalah virus pada manusia yang menyerang
system kekebalan tubuh manusia yang dalam jangka waktu yang relatif lama dapat
menyebabkan AIDS, sedangkan AIDS sendiri adalah suatu sindroma penyakit yang muncul
secara kompleks dalam waktu relatif lama karena penurunan sistem kekebalan tubuh yang
disebabkan oleh infeksi HIV.
AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome) adalah sindroma yang menunjukkan
defisiensi imun seluler pada seseorang tanpa adanya penyebab yang diketahui untuk dapat
menerangkan terjadinya defisiensi tersebut sepertii keganasan, obat-obat supresi imun,
penyakit infeksi yang sudah dikenal dan sebagainya ( Rampengan & Laurentz ,1997 : 171).
AIDS adalah penyakit yang disebabkan oleh virus yang merusak sistem kekebalan tubuh
manusia (H. JH. Wartono, 1999 : 09).
AIDS merupakan kumpulan gejala penyakit akibat menurunnya sistem kekebalan tubuh
(dr. JH. Syahlan, SKM. dkk, 1997 : 17).
Infeksi pada kehamilan adalah penyebab morbiditas ibu dan neonatal yang sudah
diketahui. Banyak kasus dapat dicegah, dan dalam makalah ini akan dibahas mengenai
penyakit infeksi yang sering ditemukan yang dapat terjadi dalam kehamilan.
HIV ( Human immunodeficiency Virus ) adalah virus pada manusia yang menyerang
system kekebalan tubuh manusia yang dalam jangka waktu yang relatif lama dapat
menyebabkan AIDS, sedangkan AIDS sendiri adalah suatu sindroma penyakit yang muncul
secara kompleks dalam waktu relatif lama karena penurunan sistem kekebalan tubuh yang
disebabkan oleh infeksi HIV.
AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome) adalah sindroma yang menunjukkan
defisiensi imun seluler pada seseorang tanpa adanya penyebab yang diketahui untuk dapat
menerangkan terjadinya defisiensi tersebut sepertii keganasan, obat-obat supresi imun,
penyakit infeksi yang sudah dikenal dan sebagainya ( Rampengan & Laurentz ,1997 : 171).

3
AIDS adalah penyakit yang disebabkan oleh virus yang merusak sistem kekebalan tubuh
manusia (H. JH. Wartono, 1999 : 09).
AIDS merupakan kumpulan gejala penyakit akibat menurunnya sistem kekebalan tubuh
(dr. JH. Syahlan, SKM. dkk, 1997 : 17).
Infeksi pada kehamilan adalah penyebab morbiditas ibu dan neonatal yang sudah
diketahui. Banyak kasus dapat dicegah, dan dalam makalah ini akan dibahas mengenai
penyakit infeksi yang sering ditemukan yang dapat terjadi dalam kehamilan.

2.2 Etiologi

Penyebab infeksi adalah golongan virus retro yang disebut human immunodeficiency virus
(HIV). HIV pertama kali ditemukan pada tahun 1983 sebagai retrovirus dan disebut HIV-1. Pada
tahun 1986 di Afrika ditemukan lagi retrovirus baru yang diberi nama HIV-2. HIV-2 dianggap
sebagai virus kurang pathogen dibandingkaan dengan HIV-1. Maka untuk memudahkan keduanya
disebut HIV.
Transmisi infeksi HIV dan AIDS terdiri dari lima fase yaitu :
1. Periode jendela. Lamanya 4 minggu sampai 6 bulan setelah infeksi. Tidak ada
gejala.
2. Fase infeksi HIV primer akut. Lamanya 1-2 minggu dengan gejala flu likes illness.
3. Infeksi asimtomatik. Lamanya 1-15 atau lebih tahun dengan gejala tidak ada.
4. Supresi imun simtomatik. Diatas 3 tahun dengan gejala demam, keringat malam
hari, B menurun, diare, neuropati, lemah, rash, limfadenopati, lesi mulut.
5. AIDS. Lamanya bervariasi antara 1-5 tahun dari kondisi AIDS pertama kali
ditegakkan. Didapatkan infeksi oportunis berat dan tumor pada berbagai system
tubuh, dan manifestasi neurologist.
Cara penularan HIV:
1) Melakukan penetrasi seks yang tidak aman dengan seseorang yang telah terinfeksi.
Kondom adalah satu–satunya cara dimana penularan HIV dapat dicegah.
2) Melalui darah yang terinfeksi yang diterima selama transfusi darah dimana darah
tersebut belum dideteksi virusnya atau pengunaan jarum suntik yang tidak steril.

4
3) Dengan mengunakan bersama jarum untuk menyuntik obat bius dengan seseorang
yang telah terinfeksi.
4) Wanita hamil dapat juga menularkan virus ke bayi mereka selama masa kehamilan
atau persalinan dan juga melalui menyusui.

Penularan secara perinatal


1) Ibu hamil yang terinfeksi HIV dapat menularkan HIV pada bayi yang
dikandungnya.
2) Penularan dari ibu terjadi terutama pada saat proses melahirkan, karena pada saat
itu terjadi kontak secara lansung antara darah ibu dengan bayi sehingga virus dari
ibu dapat menular pada bayi.
3) Bayi juga dapat tertular virus HIV dari ibu sewktu berada dalam kandungan atau
juga melalui ASI
4) Ibu dengan HIV dianjurkan untuk PASI

Kelompok resiko tinggi:


1) Lelaki homoseksual atau biseks.
2) Orang yang ketagian obat intravena
3) Partner seks dari penderita AIDS
4) Penerima darah atau produk darah (transfusi).
5) Bayi dari ibu/bapak terinfeksi.

2.3 Macam infeksi HIV

Atas dasar interaksi HIV dengan respon imun pejamu, infeksi HIV dibagi menjadi tiga
Tahap :
1. Tahap dini, fase akut, ditandai oleh viremia transien, masuk ke dalam jaringan limfoid,
terjadi penurunan sementara dari CD4+ sel T diikuti serokonversi dan pengaturan
replikasi virus dengan dihasilkannya CD8+ sel T antivirus. Secara klinis merupakan
penyakit akut yang sembuh sendiri dengan nyeri tenggorok, mialgia non-spesifik, dan

5
meningitis aseptik. Keseimbangan klinis dan jumlah CD4+ sel T menjadi normal terjadi
dalam waktu 6-12 minggu.
2. Tahap menengah, fase kronik, berupa keadaan laten secara klinis dengan replikasi. virus
yang rendah khususnya di jaringan limfoid dan hitungan CD4+ secara perlahan
menurun. Penderita dapat mengalami pembesaran kelenjar limfe yang luas tanpa gejala
yang jelas. Tahap ini dapat mencapai beberapa tahun. Pada akhir tahap ini terjadi
demam, kemerahan kulit, kelelahan, dan viremia. Tahap kronik dapat berakhir antara 7-
10 tahun.
3. Tahap akhir, fase krisis, ditandai dengan menurunnya pertahanan tubuh penderita secara
cepat berupa rendahnya jumlah CD4+, penurunan berat badan, diare, infeksi
oportunistik, dan keganasan sekunder. Tahap ini umumnya dikenal sebagai AIDS.
Petunjuk dari CDC di Amerika Serikat menganggap semua orang dengan infeksi HIV
dan jumlah sel T CD4+ kurang dari 200 sel/µl sebagai AIDS, meskipun gambaran klinis
belum terlihat. ( Robbins, dkk, 1998 : 143 )

2.4 Patofisiologi

HIV masuk kedalam darah dan mendekati sel T–helper dengan melekatkan dirinya pada protein
CD4. Sekali ia berada di dalam, materi viral (jumlah virus dalam tubuh penderita) turunan yang
disebut RNA (ribonucleic acid) berubah menjadi viral DNA (deoxyribonucleic acid) dengan
suatu enzim yang disebut reverse transcriptase. Viral DNA tersebut menjadi bagian dari DNA
manusia, yang mana, daripada menghasilkan lebih banyak sel jenisnya, benda tersebut mulai
menghasilkan virus–virus HI.
Enzim lainnya, protease, mengatur viral kimia untuk membentuk virus–virus yang baru. Virus–
virus baru tersebut keluar dari sel tubuh dan bergerak bebas dalam aliran darah, dan berhasil
menulari lebih banyak sel. Ini adalah sebuah proses yang sedikit demi sedikit dimana akhirnya
merusak sistem kekebalan tubuh dan meninggalkan tubuh menjadi mudah diserang oleh infeksi
dan penyakit–penyakit yang lain. Dibutuhkan waktu untuk menularkan virus tersebut dari orang
ke orang.

6
Respons tubuh secara alamiah terhadap suatu infeksi adalah untuk melawan sel–sel yang
terinfeksi dan mengantikan sel–sel yang telah hilang. Respons tersebut mendorong virus untuk
menghasilkan kembali dirinya.
Jumlah normal dari sel–sel CD4+T pada seseorang yang sehat adalah 800–1200 sel/ml kubik
darah. Ketika seorang pengidap HIV yang sel–sel CD4+ T–nya terhitung dibawah 200, dia
menjadi semakin mudah diserang oleh infeksi–infeksi oportunistik.
Infeksi–infeksi oportunistik adalah infeksi–infeksi yang timbul ketika sistem kekebalan
tertekan. Pada seseorang dengan sistem kekebalan yang sehat infeksi–infeksi tersebut tidak
biasanya mengancam hidup mereka tetapi bagi seorang pengidap HIV hal tersebut dapat
menjadi fatal.

7
2.5 Pathway

8
2.6 Periode Penularan HIV pada Ibu hamil

Penularan HIV dari ibu ke anak terjadi karena wanita yang menderita HIV/AIDS
sebagian besar masih berusia subur, sehingga terdapat resiko penularan infeksi yang terjadi
pada saat kehamilan (Richard, et al., 1997). Selain itu juga karena terinfeksi dari suami
atau pasangan yang sudah terinfeksi HIV/AIDS karena sering berganti-ganti pasangan dan
gaya hidup. Penularan ini dapat terjadi dalam 3 periode:

1. Periode Prenatal (kehamilan)

Selama kehamilan, kemungkinan bayi tertular HIV sangat kecil. Hal ini disebabkan
karena terdapatnya plasenta yang tidak dapat ditembus oleh virus itu sendiri.
Oksigen, makanan, antibodi dan obat-obatan memang dapat menembus plasenta,
tetapi tidak oleh HIV. Plasenta justru melindungi janin dari infeksi HIV.
Perlindungan menjadi tidak efektif apabila ibu:

1. Mengalami infeksi viral, bakterial, dan parasit (terutama malaria) pada


plasenta selama kehamilan.
2. Terinfeksi HIV selama kehamilan, membuat meningkatnya muatan virus pada
saat itu.
3. Mempunyai daya tahan tubuh yang menurun.
4. Mengalami malnutrisi selama kehamilan yang secara tidak langsung
berkontribusi untuk terjadinya penularan dari ibu ke anak.

2. Periode Intrapartum (persalinan)

Pada periode ini, resiko terjadinya penularan HIV lebih besar jika dibandingkan
periode kehamilan. Penularan terjadi melalui transfusi fetomaternal atau kontak
antara kulit atau membrane mukosa bayi dengan darah atau sekresi maternal saat
melahirkan. Semakin lama proses persalinan, maka semakin besar pula resiko
penularan terjadi. Oleh karena itu, lamanya persalinan dapat dipersingkat dengan
section caesaria.

Faktor yang mempengaruhi tingginya risiko penularan dari ibu ke anak selama
proses persalinan adalah:Lama robeknya membran.

9
1. Chorioamnionitis akut (disebabkan tidak diterapinya IMS atau infeksi lainnya)
2. Teknik invasif saat melahirkan yang meningkatkan kontak bayi dengan darah
ibu misalnya, episiotomi.
3. Anak pertama dalam kelahiran kembar

Perawatan wanita yang sakit saat melahirkan tidak diubah secara substansial
untuk infeksi tanpa gejala dengan HIV (Minkoff,1987). Cara kelahiran didasarkan
hanya pada pertimbangan obstetric karena virus melalui plasenta pada awal
kehamilan. Fokus utama pencegahn penyebaran HIV nosocomial dan perlindungan
terhadap pelaku perawatan. Resiko penularan HIV dianggap rendah selama kelahiran
vaginal.. EPM (Elektrinic Fetal Monitoring) eksternal dilakukan jika EPM diperlukan.
Terdapat kemungkinan inokulasi virus ke dalam neonatus jika dilakukan pengambilan
sempel darah pada bayi dilakukan atau jika elektroda jangat kepala bayi diterapkan.
Disamping itu, seseorang yang melakukan prosedur ini berada pada resiko tertular
virus HIV.

3. Periode Postpartum (melalui ASI)

Cara penularan yang dimaksud disini yaitu penularan melalui ASI. Berdasarkan
data penelitian De Cock, dkk (2000), diketahui bahwa ibu yang menyusui bayinya
mempunyai resiko menularkan HIV sebesar 10- 15% dibandingkan ibu yang tidak
menyusui bayinya. Risiko penularan melalui ASI tergantung dari:

1. Pola pemberian ASI, bayi yang mendapatkan ASI secara eksklusif akan
kurang berisiko dibanding dengan pemberian campuran.
2. Patologi payudara: mastitis, robekan puting susu, perdarahan putting susu
dan infeksi payudara lainnya.
3. Lamanya pemberian ASI, makin lama makin besar kemungkinan infeksi.
4. Status gizi ibu yang buruk

2.7 Gejala HIV AIDS

Manifestasi klinis yang tampak dibagi menjadi 2, yaitu:

10
1. Manifestasi Klinis Mayor
1. Demam berkepanjangan lebih dari 3 bulan
2. Diare kronis lebih dari satu bulan berulang maupun terus-menerus
3. Penurunan berat badan lebih dari 10% dalam 3 tiga bulan
4. TBC
2. Manifestasi Klinis Minor
1. Batuk kronis selama lebih dari satu bulan
2. Infeksi pada mulut dan jamur disebabkan karena jamur Candida Albicans
3. Pembengkakan kelenjar getah bening yang menetap di seluruh tubuh
4. Munculnya Herpes zoster berulang dan bercak-bercak gatal di seluruh tubuh

Banyak orang yang terinfeksi HIV tidak menunjukkan gejala apapun. mereka merasa sehat dan
juga dari luar Nampak sehat-sehat saja. Namun orang yang terinfeksi HIV akan menjadi
pembawa dan penular HIV kepada orang lain.
Kelompok orang-orang HIV tanpa gejala dapat dibagi menjadi dua kelompok yaitu:
1. Kelompok yang sudah terinfeksi HIV, tetapi tanpa gejala dan tes darahnya negatif.
pada tahap dini ini antibody terhadap HIV belum terbentuk. Waktu antara masuknya
HIV disebut window period yang memerlukan waktu antara 15 hari sampai 3 bulan
setelah terinfeksi HIV.
2. Kelompok yang sudah terinfeksi HIV, tanpa gejala tetapi tes darah positif. Keadaan
tanpa gejala ini dapat berlangsung lama sampai 5 tahun atau lebih.
CDC (Center for Disease Control, USA, 1986) menetapkan klasifikasi infeksi HIV pada orang
dewasa sebagai berikut:
 Kelompok I: infeksi akut
 Kelompok II: infeksi asimptomatik
 Kelompk III: Infeksi Limpadenopati Generalisata Persisten (LGP)
 Kelompok IV: penyakit-penyakit lain.

2.8 Pemeriksaan diagnostik


1. VCT (Voluntary Counseling Testing)

11
VCT adalah suatu pembinaan dua arah atau dialog yang berlangsung tak terputus antara
konselor dan kliennya untuk mencegah penularan HIV, memberikan dukungan moral,
informasi, serta dukungan lainnya kepada ODHA, keluarga , dan lingkungannya. Tujuan
VCT :

1) Upaya pencegahan HIV/AIDS.


2) Upaya untuk mengurangi kegelisahan, meningkatkan persepsi/pengetahuan mereka
tentang faktor-faktor resiko penyebab seseorang terinfeksi HIV.
3) Upaya pengembangan perubahan perilaku, sehingga secara dini mengarahkan
mereka menuju ke program pelayanan dan dukungan termasuk akses terapi
antiretroviral, serta membantu mengurangi stigma dalam masyarakat.

2. Pemerikasaan Laboratorium
 Tes serologis: tes antibodi serum terdiri dari skrining HIV dan ELISA;

3. Tes blot western untuk mendeteksi adanya antibodi terhadap beberapa protein spesifik
HIV.

 Pemeriksaan histologis, sitologis urin ,darah, feces, cairan spina, luka, sputum,
dan sekresi.
 Tes neurologis: EEG, MRI, CT Scan otak, EMG.
 Tes lainnya: sinar X dada menyatakan perkembangan filtrasi interstisial dari
PCV tahap lanjut atau adanya komplikasi lain; tes fungsi pulmonal untuk deteksi
awal pneumonia interstisial; Scan gallium; biopsy; branskokopi.

4. Tes Antibodi

a. Tes ELISA, untuk menunjukkan bahwa seseorang terinfeksi atau pernah


terinfeksi HIV.
b. Western blot asay/ Indirect Fluorescent Antibody (IFA), untuk mengenali
antibodi HIV dan memastikan seropositifitas HIV.
c. Indirect immunoflouresence, sebagai pengganti pemerikasaan western blot
untuk memastikan seropositifitas.
d. Radio immuno precipitation assay, mendeteksi protein pada antibodi.
e. Pendeteksian HIV

12
Dilakukan dengan pemeriksaan P24 antigen capture assay dengan kadar yang sangat
rendah. Bisa juga dengan pemerikasaan kultur HIV atau kultur plasma kuantitatif untuk
mengevaluasi efek anti virus, dan pemeriksaan viremia plasma untuk mengukur beban
virus (viral burden).

2. 9 Pencegahan

Pencegahan penularan HIV dari ibu ke bayi dapat dicegah melalui tiga cara, dan bisa
dilakukan mulai saat masa kehamilan, saat persalinan, dan setelah persalinan. Cara tersebut
yaitu:

1. Penggunaan obat Antiretroviral selama kehamilan, saat persalinan dan untuk bayi yang
baru dilahirkan.

Pemberian antiretroviral bertujuan agar viral load menjadi lebih rendah sehingga
jumlah virus yang ada dalam darah dan cairan tubuh kurang efektif untuk menularkan
HIV. Resiko penularan akan sangat rendah (1-2%) apabila terapi ARV ini dipakai.
Namun jika ibu tidak memakai ARV sebelum dia mulai sakit melahirkan, ada dua cara
yang dapat mengurangi separuh penularan ini. AZT dan 3TC dipakai selama waktu
persalinan, dan untuk ibu dan bayi selama satu minggu setelah lahir. Satu tablet
nevirapine pada waktu mulai sakit melahirkan, kemudian satu tablet lagi diberi pada
bayi 2–3 hari setelah lahir. Menggabungkan nevirapine dan AZT selama persalinan
mengurangi penularan menjadi hanya 2 persen. Namun, resistansi terhadap nevirapine
dapat muncul pada hingga 20 persen perempuan yang memakai satu tablet waktu hamil.
Hal ini mengurangi keberhasilan ART yang dipakai kemudian oleh ibu. Resistansi ini
juga dapat disebarkan pada bayi waktu menyusui. Walaupun begitu, terapi jangka
pendek ini lebih terjangkau di negara berkembang.

2. Penanganan obstetrik selama persalinan

Persalinan sebaiknya dipilih dengan menggunakan metode Sectio caesaria karena


metode ini terbukti mengurangi resiko penularan HIV dari ibu ke bayi sampai 80%.
Apabila pembedahan ini disertai dengan penggunaan terapi antiretroviral, maka resiko
dapat diturunkan sampai 87%. Walaupun demikian, pembedahan ini juga mempunyai
resiko karena kondisi imunitas ibu yang rendah yang bisa memperlambat penyembuhan

13
luka. Oleh karena itu, persalinan per vagina atau sectio caesaria harus dipertimbangkan
sesuai kondisi gizi, keuangan, dan faktor lain.

3. Penatalaksanaan selama menyusui

Pemberian susu formula sebagai pengganti ASI sangat dianjurkan untuk bayi dengan
ibu yang positif HIV. Karena sesuai dengan hasil penelitian, didapatkan bahwa ± 14 %
bayi terinfeksi HIV melalui ASI yang terinfeksi.

2.10 Penatalaksanaan

Belum ada penyembuhan untuk AIDS jadi yang dilakukan adalah pencegahan seperti
yang telah dijelaskan sebelumnya. Tapi, apabila terinfeksi Human Immunodeficiency
Virus (HIV) maka terapinya yaitu :

1. Pengendalian infeksi oportunistik

Bertujuan menghilangkan, mengendalikan dan pemulihan infeksi opurtuniti,


nosokomial atau sepsis, tindakan ini harus di pertahankan bagi pasien di lingkungan
perawatan yang kritis.

2. Terapi AZT (Azidotimidin)

Obat ini menghambat replikasi antiviral HIV denngan menghambat enzim pembalik
transcriptase.

3. Terapi antiviral baru

Untuk meningkatkan aktivitas system immune dengan menghambat replikasi virus


atau memutuskan rantai reproduksi virus padan proses nya.obat- obat ini adalah :
didanosina, ribavirin, diedoxycytidine, recombinant CD4 dapat larut.

1. Vaksin dan rekonstruksi virus, vaksin yang digunakan adalah interveron.


2. Menghindari infeksi lain, karena infeksi dapat mengaktifkan sel T dan
mempercepat replikasi HIV.
3. Rehabilitasi
Bertujuan untuk memberi dukungan mantal-psikologis, membantu mengubah

14
perilaku risiko tinggi menjadi perilaku kurang berisiko atau tidak berisiko,
mengingatkan cara hidup sehat dan mempertahankan kondisi tubuh sehat.
4. Pendidikan
Untuk menghindari alkohol dan obat terlarang, makan makanan yang sehat,
hindari stres, gizi yang kurang, obat-obatan yang mengganggu fungsi imunne.
Edukasi ini juga bertujuan untuk mendidik keluarga pasien bagaimana
menghadapi kenyataan ketika anak mengidap AIDS dan kemungkinan isolasi dari
masyarakat.

Pengobatan untuk ibu hamil dengan HIV salah satunya dapat


menggunakan obat anti-HIV dimana menurut penelitian dapat mencegah
terjadinya transmisi virus HIV kepada janin dengan cara penggunaan sebagai
berikut:
 selama kehamilan setelah trimester pertama: dengan memberikan anti-HIV
sedikitnya tiga anti-HIV yang berbeda yang dikombinasikan (atripla).
 selama labor dan persalinan: diberikan AZT (zidovudine) IV, kemudaian
diberikan anti-HIV yang lain melalui mulut.
 setelah melahirkan: diberikan cairan AZT selama 6 minggu.

BAB III

ASUHAN KEPERAWATAN HIV/AIDS PADA IBU HAMIL

15
A. Pengkajian
Anamnesa
1. Identitas Pasien
 Nama
 Umur
 Jenis kelamin
 Pendidikan
 Pekerjaan
 Status perkawinan
 Agama
 Suku
 Alamat
 Tanggal masuk rumah sakit
 Tanggal pengkajian
 Sumber informasi
Identitas Penanggung Jawab
 Nama
 Tempat tanggal lahir
 Umur
 Jenis kelamin
 Agama
 Pendidikan
 Pekerjaan
 Suku bangsa
 Status
 Hubungan dengan klien

2. Riwayat Kesehatan
a. Keluhan utama

16
Keluhan yang paling sering terjadi pada pasien hamil dengan HIV / AIDS
adalah selain keluhan sehubungan dengan kehamilannya ibu juga mengeluh
berbagai masalah sesuai dengan stadium

1) Stadium Klinis 1
a) Asimtomatis
b) Limpa denopati persistent generalisata
c) Penampilan atau aktivitas fisik skala 1: asimtomatis, aktivitas
normal.
2) Stadium Klinis 2
a) Penurunan berat badan 10% dari berat badan sebelumnya
b) Manisfestasi mukokutaneus minor (dermatitis seborhhoic, prurigo,
infeksi jamur pada kuku, ulserasi mukosa oral berulang, cheilitis
agularis ).
c) Herpes zoster, dalam 5 tahun terakhir
d) Infeksi berulang pada saluran pernapasan atas (misalnya sinusitis
bacterial)
3) Stadium klinis 3
a) Penurunan berat badan >10%
b) Diare kronis dengan penyebab tidak jelas >1 bulan
c) Demam dengan sebab yang tidak jelas >1 bulan
d) Kandidiasis oris
e) Oral hairy leukoplakia
f) TB pulmoner dalam 1 tahun terakhir
g) Infeksi bacterial berat misalnya pneumonia, piomiositis.
4) Stadium klinis 4
a) HIV wasting syndrome, sesuai yang di tetapkan CDC
b) PCP (pneumocystis carinii pneumonia)
c) Cryptococcosis ekstrapulmoner
d) Infeksi virus sitomegali
e) Infeksi herper simpleks >1 bulan
f) Berbagai infeksi jamur berat
g) Kandidiasis esophagus, trachea atau bronkus
h) Mikobakteriosis atypical

17
i) Salmonlosis non tifoid disertai setikemia
j) TB, ekstrapulmoner
k) Limfoma maligna
l) Sarcoma kaposis
m) Ensefalopati HIV

b. Riwayat obstreti
1. Riwayat menstruasi
Fluor albus : banyak, gatal, berbau, warna hijau. Pada ibu dengan HIV mudah
terkena infeksi jamur yang bila mengenai organ genetal bisa menyebabkan
keputihan.
2. Riwayat obstetric lalu
Kehamilan yang lalu terinfeksi HIV, ibu dapat bersalin dengan SC
3. Riwayat kehamilan sekarang
Keluhan pada trimester I,II atau III pada ibu hamil dengan HIV seperti keluhan
ibu hamil normal terkadang dijumpai keluhan berdasarkan stadium HIV /
AIDS
Trimester I : chloasma gravidarum, mual dan muntah (akan hilang pada
kehamilan 12-14 minggu ) sering kencing, pusing, ngidam, obstipasi.
Trimester II : body image dan nafsu makan bertambah
Trimester III : sering kencing, obstipasi, sesak nafas (bila tidur terlentang)
sakit punggung, edema, varises
c. Riwayat perkawinan
Hamil dengan HIV biasanya ibu atau suami menikah lebih dari satu kali atau
mempunyai banyak pasangan.
d. Riwayat kesehatan ibu
Pada ibu dengan HIV biasnya penyakit yang diderita beragam, antara lain :
demam, faringitis, limfadenopati, artalgia, myalgia, letargi, malaise, nyeri
kepala, mual, muntah, diare, anoreksia, penurunan berat badan, dapat juga
menimbulkan kelainan saraf seperti meningitis, ensefaliitis neuropati perifer dan
mielopati. Gejala-gejala dermatologi yaitu ruam makropapulereritematosa dan
ulkus makokutan

e. Riwayat kesehatan keluarga

18
Penyakit HIV dapat diturunkan oleh orang tua ataupun ditularkan oleh suami
penderita.

3. Pola Fungsional Kesehatan


a) Aktifitas / Istirahat
Gejala : Mudah lelah,intoleran activity,progresi malaise,perubahan pola
tidur.
Tanda : Kelemahan otot, menurunnya massa otot, respon fisiologi aktifitas
( Perubahan TD, frekuensi Jantun dan pernafasan ).
b) Sirkulasi
Gejala : Penyembuhan yang lambat (anemia), perdarahan lama pada
cedera.
Tanda : Perubahan TD postural,menurunnya volume nadi perifer, pucat /
sianosis, perpanjangan pengisian kapiler.
c) Integritas dan Ego
Gejala : Stress berhubungan dengan kehilangan,mengkuatirkan
penampilan, mengingkari doagnosa, putus asa,dan sebagainya.
Tanda : Mengingkari,cemas,depresi,takut,menarik diri, marah.
d) Eliminasi
Gejala : Diare intermitten, terus menerus, sering dengan atau tanpa kram
abdominal, nyeri panggul, rasa terbakar saat miksi
Tanda : Feces encer dengan atau tanpa mucus atau darah, diare pekat dan
sering, nyeri tekan abdominal, lesi atau abses rectal, perianal, perubahan
e) Makanan / Cairan
Gejala : Anoreksia, mual muntah, disfagia
Tanda : Turgor kulit buruk, lesi rongga mulut, kesehatan gigi dan gusi yang
buruk, edema
f) Hygiene
Gejala : Tidak dapat menyelesaikan AKS
Tanda : Penampilan tidak rapi, kurang perawatan diri.

g) Neurosensoro

19
Gejala : Pusing, sakit kepala, perubahan status mental,kerusakan status
indera,kelemahan otot,tremor,perubahan penglihatan.
Tanda : Perubahan status mental, ide paranoid, ansietas, refleks tidak
normal,tremor,kejang,hemiparesis,kejang.
h) Nyeri / Kenyamanan
Gejala : Nyeri umum / local, rasa terbakar, sakit kepala,nyeri dada pleuritis.
Tanda : Bengkak sendi, nyeri kelenjar,nyeri tekan,penurunan rentan
gerak,pincang.
i) Pernafasan
Gejala : ISK sering atau menetap, napas pendek progresif, batuk, sesak
pada dada.
Tanda : Takipnea, distress pernapasan, perubahan bunyi napas, adanya
sputum.
j) Keamanan
Gejala : Riwayat jatuh, terbakar, pingsan, luka, transfuse darah, penyakit
defisiensi imun, demam berulang,berkeringat malam.
Tanda : Perubahan integritas kulit,luka perianal / abses, timbulnya nodul,
pelebaran kelenjar limfe, menurunya kekuatan umum, tekanan umum.
k) Seksualitas
Gejala : Riwayat berprilaku seks dengan resiko tinggi, menurunnya libido,
penggunaan pil pencegah kehamilan.
Tanda : Kehamilan,herpes genetalia.
l) Interaksi Sosial
Gejala : Masalah yang ditimbulkan oleh diagnosis, isolasi, kesepian,
adanya trauma AIDS.
Tanda : Perubahan interaksi.

B. Pemeriksaan Fisik

1. Breating

20
Kaji pernafasan bumil, apabila ibu telah terinfeksi sistem pernafasan maka
sepanjang jalr pernafasan akan mengalami gangguan. Misal RR meningkat,
kebersihan jalan nafas.

2. Blood

Pemeriksaan darah meliputi pemeriksaan virus HIV/AIDS. Penurunan sel T


limfosit; jumlah sel T4 helper; jumlah sel T8 dengan perbandingan 2:1 dengan
sel T4; peningkatan nilai kuantitatif P24 (protein pembungkus HIV);
peningkatan kadar IgG, Ig M dan Ig A; reaksi rantai polymerase untuk
mendeteksi DNA virus dalam jumlah sedikit pada infeksi sel perifer
monoseluler; serta tes PHS (pembungkus hepatitis B dan antibodi,sifilis, CMV
mungkin positif).

3. Brain

Tingkat kesadaran bumil dengan HIV/AIDS terkadang mengalami penurunan


karena proses penyakit. Hal itu dapat disebabkan oleh gangguan imunitas
pada bumil.

4. Bowel

Keadaan sisitem pencernaan pada bumil akan mengalami gangguan.


Kebanyakan gangguan tersebut adalah diare yang lama. Hal itu disebabkan oleh
penurunan sistem imun yang berada di tubuh sehingga bakteri yang ada di
saluran pencernaan akan mengalami gangguan. Hal itu dapat menyebabkan
infeksi saluran pencernaan.

5. Bladder

Kaji tingkat urin klien apakah ada kondisi patologis seperti perubahan warna
urin, jumlah dan bau. Hal itu dapan mengidentifikasikan bahwa ada gangguan
pada sistem perkemian. Biasanya saat imunitas menurun resiko infeksi pada
uretra klien.

21
6. Bone

Kaji respon klien, apakah mengalami kesulitan bergerak,reflek pergerakan.


pada ibu hamil kebutuhan akan kalsium meningkat,periksa apabila ada resiko
osteoporosis. Hal itu dapat memburuk dengan bumil HIV/AIDS.

C. Pemeriksaan Penunjang
a) Pemeriksaan lab
1. Pemeriksaan HIV

Saat ini ada 2 standar untuk melakukan uji HIV yaitu dengan enzyme-linked
immuosorbent assay (ELISA) dan western blot
Apabila setelah melakukan uji ELISA hasilnya positif maka penderita harus melakukan
uji ELISA lagi, sebelum melakukan western Blod untuk mengonfirmasi status HIV
positif, ELISA awal dapat bereaksi silang untuk memberi hasil positif palsu jika
digunakan tanpa uji konfirmasi,Western Blod akan dibaca positif bila ada antibody dua
atau lebih “pita: protein ditemukan dalam HIV. Adanya pita tunggal tidak dapat
meyakinkan dan mungkin hasil dari pejanan HIV atau sebuah temuan kronis. Diantara
penyebab hasil menetap yang tidak dapat disimpulkan ini adalah sebuah autoimun atau
penyakit vascular kolagen, aloantibodi dari kehamilan atau tranfusi dan infeksi HIV
subtype jarang HIV 2. Hasil positif palsu pada ELISA dan Western Blod kurang dari
0,0001 persen dalam area prevalensi yang rendah.
Selain 2 uji standar tersebut ada banyak uji lain yang digunakan untuk
mengevaluasi kesehatan dan perkembangan penyakit. Beberapa diantaranya penting
bagi perawat untuk mengenalinya dalam rangka meningkatkan status kesehatan wanita.
Penguji ini termasuk pengukuran CD4, limfosit muatan virus plasma perubahan dalam
hitung sel darah lengkap dan panel kimia.
Karena pada saat hamil diharapkan varial load serendah-rendahnya. Selain itu perlu
untuk dilakukan USG untuk melihat pertumbuhan janin pada pasien HIV / AIDS janin
dapat IUGR atau bahkan IUFD)

22
D. Diagnosa Keperawatan
1. Kekurangan volume cairan b.d diare berat
2. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan imunosupresi, malnutrisi dan pola hidup
yang beresiko.

E. Intervensi Keperawatan
Diagnosa Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi

1. Kekurangan volume NOC NIC

cairan b.d diare berat Setelah dilakukan Managemen Diare (0460)


tindakan keperawatan  Tentukan riwayat diare
selama 3x24jam  Ambil tinja untuk
diharapkan klien dapat pemeriksaan kultur dan
mencapai kriteria hasil : sebsitifitas bila diare

Keseimbangan Cairan berlanjut

(0601)  Ajari klien cara


Tekanan darah (5) penggunaan obat anti
Keseimbangan intake dan diare dengan tepat
output dalam 24 jam (5)  Intruksikan klien atau
Berat badan stabil (5) anggota keluarga untuk
Turgor kulit (5) mencatat warna,
Kelembapan membran volume, frekuensi, dan
mukosa (5) konsistensi tinja
Berat jenis urin (5)  Evaluasi kandungan
kehausan(5) nutrisi dari makanan
Hidrasi (0602) yang sudah dikonsumsi
Turgor kulit (5) sebelumnya
Membarn mukosa lembab  Anjurkan klien
(5) menghindari makanan
Intake cairan (5) pedas dan yang
Output urin (5) menimbulkan gas
Kehilangan berat badan dalam perut
(5)
Diare (5)

23
Peningkatan suhu tubuh  Identifikasi faktor yang
(5) bisa menyebabkan
diare
 Monitor tanda dan
gejala diare
 Amati turgor kulit
secara berkala
 Ukur diare/output
keluaran pencernaan
 Timbang klien secara
berkala
Managemen Cairan
(4120)
 Timbang berat badan
setiap hari dan monitor
status klien
 Jaga intake/asupan yang
akurat dan catat output
klien
 Monitor status hidrasi
(misalnya membran
mukosa lembab, denyut
nadi adekuat, dan
tekanan darah ortostatik)
 Monitor tanda-tanda
vital klien
 Monitor perubahan berat
badan klien sebelum dan
sesudah dialisis
 Monitor makanan/cairan
yang dikonsumsi dan
hitung asupan kalori
harian

24
 Beriakn terapi IV seperti
yang ditentukan
 Monitor status gizi
 Berikan cairan dengan
tepat
 Dukung klien dan
keuarga untuk
membantu dalam
pemberian makan
dengan baik

1. 2. Resiko tinggi NOC NIC


infeksi berhubungan Setelah dilakukan Kontrol Infeksi (6540)
dengan imunosupresi, tindakan keperawatan  Bersihkan lingkungan
malnutrisi dan pola selama ...x24jam dengan baik setelah
hidup yang beresiko. diharapkan klien dapat digunakan untuk setiap
mencapai kriteria hasil : klien
Status Imunitas (0702)  Pertahankan teknik
 Infeksi berulang (5) isolasi yang sesuai
 Kehilangan berat  Batasi jumlah
badan (5) pengunjung
Kontrol Risiko (1902)  Anjurkan klien
 Mencari informasi mengenai teknik cuci
tentang risiko tangan dengan tepat
kesehatan (5)  Anjurkan pengunjung
 Mengidentifikasi untuk mencuci tangan
faktor resiko (5) pada saat memasuki dan
 Mengenali faktor meninggalkan ruangan
risiko individu (5) klien
 Memonitor faktor  Cuci tangan sebelum
risiko di lingkungan (5) dan sesudah kegiatan
perawatan klien

25
 Menjalankan strategi  Lakukan tindakan-
kontrol risiko yang tindakan pencegahan
sudah ditetapkan (5) yang bersifat universal
 Memodifikasi gaya  Pakai sarung tangan
hidup untuk sebagaimana
mengurangi risiko (5) dianjurkan oleh
 Mengenali perubahan kebijakan pencegahan
status kesehatan (5) universal/Universal
Precautions
Konseling Nutrisi (5246)
 Kaji asupan makanan
dan kebiasaan makan
klien
 Guanakan satndar gizi
yang bisa diterima
untuk membantu klien
mengevaluasi intake
diet yang adekuat
 Diskusikan makanan
yang disukai dan tidak
disukai klien
 Bantu klien mencatat
makanan yang
biasanya dimakan
 Kaji ulang pengukuran
intake dan output
cairan klien, nilai Hb,
tekanan darah, atau
penambahan dan
penurunan brat badan
sesuai kebutuhan

26
BAB IV
KESIMPULAN

4.1 Kesimpulan
HIV ( Human immunodeficiency Virus ) adalah virus pada manusia yang
menyerang system kekebalan tubuh manusia yang dalam jangka waktu yang relatif
lama dapat menyebabkan AIDS. Penyebab infeksi adalah golongan virus retro
yang disebut human immunodeficiency virus (HIV). Cara penularan HIV
melakukan penetrasi seks, melalui darah yang terinfeksi, dengan mengunakan
bersama jarum untuk menyuntik obat bius dengan seseorang yang telah terinfeksi,
wanita hamil. Penularan secara perinatal terjadi terutama pada saat proses
melahirkan, karena pada saat itu terjadi kontak secara lansung antara darah ibu
dengan bayi sehingga virus dari ibu dapat menular pada bayi.
Kehamilan merupakan peristiwa alami yang terjadi pada wanita, namun kehamilan
dapat mempengaruhi kondisi kesehatan ibu dan janin terutama pada kehamilan
trimester pertama. Wanita hamil trimester pertama pada umumnya mengalami
mua, muntah, nafsu makan berkurang dan kelelahan. Menurunnya kondisi wanita
hamil cenderung memperberat kondisi klinis wanita dengan penyakit infeksi antara
lain infeksi HIV-AIDS.
HIV/AIDS adalah topic yang sangat sensitive dan lebih banyak sehingga
banyak penelitian melibatka anak-anak yang rentan untuk terjangkit HIV. Setiap
usaha dilakukan untuk memastikan bahwa keluarga akan merasa baik.

4.2 Saran
1. Mahasiswa Mahasiswi
Mahasiswa dan mahasiswi dapat mengerti tentang asuhan keperawatan dengan
gangguan sistem reproduksi infertility HIV /AIDS
2. Institusi
Institusi dapat memfasilitasi dengan fasilitas yang memadai sehingga dapat
mendukung tercapainya makalah yang baik dan benar.

27
DAFTAR PUSTAKA

Bari Saifuddin, Abdul. 2009. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Materal dan
Neonatal. Jakarta : PT Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo
Carpenito, Lynda Juall. 2006. Diagnosis Keperawatan. Jakarta: EGC
Doenges, Marilynn E. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan : pedoman untuk perencanaan dan
pendokumentasian perawatan pasien. Ed. 3. Jakarta : EGC
Nanda, NIC-NOC. 2015 Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosa Medis.
Mediaction
Nursalam dan dwi, Ninuk. 2008. Asuhan keperawatan pada pasien terinfeksi HIV/AIDS.
Jakarta: Salemba medika.
Susanti NN. 2000. Psikologi Kehamilan. Jakarta: EGC.
Carpenito, Lynda Juall. 2006. Diagnosis Keperawatan. Jakarta: EGC
Doengoes, Marilynn, dkk, 2000, Rencana Asuhan Keperawatan ; Pedoman untuk
Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien, edisi 3, alih bahasa : I Made
Kariasa dan Ni Made S, EGC, Jakarta
Yati, Ida. 2010. AIDS pada ibu hamil. http://www.docstoc.com/docs/. 05 Oktober 2013. 15.10
WIB (access online)
Administrator. 2010. Pencegahan dan Penatalaksanaan Infeksi HIV (AIDS) pada kehamilan.
Hartati Nyoman, Suratiah, Mayuni IGA Oka. Ibu Hamil dan HIV-AIDS. Gempar:
Jurnal Ilmiah Keperawatan Vol. 2 No.1 Juni 2009.
Doku Paul Narh. Parental HIV/AIDS status and death, and Children’s Phychological
Wellbeing. International Journal of Mental Health system 2009;3(26):1-8
Siregar FA. Pengenalan dan Pencegahan HIV-AIDS. Medan. Universitas Sumatera Utara,
2004.
Heemanides HS, Lonneke AVV, Ralph V, Fred DM, Aimee D, Gerard VO, et all. Developinh
quality indicators for the care of HIV-infected pregnant women in the Dutch Caribbean.
Aids Research and Therapy 2011; 8(32) : 1-9.
Wamoyi J, Martin M, Janet S, Josephine B, Shabbar J. Changes in sexual desires and
behaviours of people living with HIV after initiation of ART: Implications for HIV
prevention and health promotion. BMC Public Health 2011; 11(633): 1-11.
Bradley-Springer L, Lyn S, Adele W. Every Nurse Is an HIV Nurse. AJN 2010;110(3):33-39.
Bastien S, LJ Kajula, WW Muhwezi. A review of studies of parent-child communication about
sexuality and HIV/AIDS in sub-Saharan Africa. Reproductive Health 2011;8(25):1-17

28