Anda di halaman 1dari 13

REKAYASA IDE

AGAMA KRISTEN PROTESTAN


Meningkatkan minat anak sekolah minggu terhadap firman tuhan

Disusun oleh :

Lismawati pasaribu
4163311035

EKSTENSI-A
PENDIDIKAN MATEMATIKA 2016

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU


PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yesus Kristus yang telah memberikan
rahmat dan kasihNya kepada penulis dalam menyelesaikan tugas Rekayasa Ide sehingga
laporan ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Terimakasih penulis ucapkan kepada
Bapak, selaku dosen pengampu mata kuliah Pendidikan Agama Protestan yang telah
membimbing kami. Dalam laporan ini penulisi membahas mengenai Rekayasa Ide dengan
judul “Meningkatkan Minat Anak Sekolah Minggu Terhadap Firman Tuhan Melalui Metode
Bercerita Dengan Menggunakan Media Boneka Tangan”
Selaku manusia biasa, saya menyadari bahwa dalam hasil laporan ini masih terdapat
kekurangan dan kekeliruan yang tidak disengaja dan jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu
saya sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun. Karena sesungguhnya
kesempurnaan hanya milik Tuhan Yang maha Esa. Saya berharap laporan ini dapat
bermanfaat bagi kita semua.

Medan, Oktober 2017

Penulis
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Apakah tujuan dan maksud Allah terhadap manusia? Melalui Alkitab kita dapat
menemukan jawabannya. Kejadian 1:26 menyuratkan bahwa Allah menciptakan manusia
menurut gambar dan rupa-Nya, Allah menghembuskan naafas-Nya ke dalam manusia, dan
dengan nafas Allah itu manusia menjadi makhluk yang hidup (Kej.2:7). Allah menciptakan
manusia untuk menyembah Allah, bekerja sama dengan Allah dalam memelihara bumi dan
untuk berkomunikasi dengan Allah dan dengan sesamanya.
Namun manusia yang diciptakan dengan tujuan yang begitu tinggi dan dengan kehendak
yang bebas itu lebih memilih mendengarkan suara Iblis, dan jatuh ke dalam dosa. Dosa
adalah sikap yang meragukan maksud baik Allah kepada manusia. Dosa adalah
pemberontakan kepada Allah. Hal ini mengakibatkan gambar Allah dalam diri manusia
menjadi gambar yang samar. Hubungan dengan Allah terputus, hubungan dengan sesama
manusia juga terganggu karena dosa itu. Walaupun demikian, Allah sendiri pada akhirnya
berinisiatif mengulurkan tangan untuk memperbaharui hubungannya dengan manusia.
Gambar Allah yang dirusakan oleh dosa, harus diperbaharui. Ini merupakan tujuan tertinggi
dari Allah. Tercapainya tujuan ini dimungkinkan melalui kedatangan Tuhan Yesus. Dalam
seluruh kehidupan Tuhan Yesus, gambaran Allah dalam manusia dinyatakan dan
dikonkritkan. Tujuan Allah tidak abstrak, melainkan nyata dalam Anak-Nya melalui hidup-
Nya, dan kemudian diwujudkan juga di dalam mereka yang mengikut Dia dan menjadi serupa
dengan Dia. (Roma.8:29)
Firman Tuhan dapat kita ajarkan kepada anak sekolah minggu melalui media boneka tangan.
Media boneka tangan merupakan media yang menarik bagi anak. Selain itu boneka tangan ini
juga digunakan langsung oleh anak. Boneka tangan ini dapat digunakan untuk memerankan
suatu tokoh dalam cerita (Tadzkiroatun Musfiroh, 2005: 147). Pada saat anak menceritakan
kembali cerita yang dibawakan guru, boneka tangan ini dapat merangsang dan dapat
membantu mengingat kembali isi cerita. Maka, penulis mengambil judul “Membangun
Karakter Anak Sekolah Minggu Melalui Metode Bercerita Dengan Menggunakan Media
Boneka Tangan”
1.2 Tujuan
Adapun tujuan dari penulisan rekayasa ide ini adalah untuk memenuhi salah satu tugas mata
kuliah Pendidikan Agama Kristen Protestan. Selain itu rekayasa ide ini bertujuan untuk
mengetahui bagaimana cara meningkatkan minat anak Sekolah Minggu terhadap Firman
Tuhan melalui metode bercerita dengan menggunakan media boneka tangan.

1.3 Manfaat
Dengan penulisan rekayasa ide ini diharapkan dapat menambah pengetahuan tentang
meningkatkan minat anak Sekolah Minggu terhadap Firman Tuhan melalui metode bercerita
dengan menggunakan media boneka tangan dan dapat menumbuhkan motivasi anak dalam
membangun persaudaraan terhadap sesama dengan karakter yang baik..
BAB II
KAJIAN TEORI

2.1Kerangka Pemikiran
Dalam kitab Amsal 22:6 berkata: “Didiklah orang muda menurut jalan yang patut
baginya, maka pada masa tuanya pun ia tidak akan menyimpang daripada jalan itu.”Dari ayat
ini menegaskan kepada kita betapa Allah sangat menekankan perhatian dan bimbingan
kepada generasi muda, mengingat kelak generasi inilah penerus masa depan gereja.
Peningkatan kerohanian anak tidak terlepas dari konsep Alkitab yang mencatat tentang
penugasan Allah kepada orang tua untuk mengajarkan Firman Tuhan kepada anak-anaknya
dalam kitab Ulangan 6:6-7 yang berbunyi:“apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini
haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkan berulang-ulang kepada anak-
anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang
dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun.”
Metode bercerita memberi kesempatan anak untuk mempunyai banyak bahan sebagai bekal
anak untuk berbicara. Setelah anak mempunyai bahan berupa cerita, anak diminta untuk
menceritakan kembali isi cerita. Hal itu dapat melatih anak dalam menyusun kata-kata
menjadi kalimat dan menyampaikannya dengan segenap kemampuan. Dalam kegiatan
meningkatkan keterampilan bicara dengan metode bercerita saja belum cukup. Diperlukan
suatu media yang dapat menarik perhatian anak pada saat kegiatan bercerita itu berlangsung
serta merangsang dan membantu mengingat kembali isi cerita sebagai bahan untuk berbicara.
Melalui boneka anak tahu tokoh mana yang sedang berbicara, apa isi pembicaraannya, dan
bagaimana pelakunya. Boneka ada bermacam-macam diantaranya adalah media boneka
tangan. Media ini awalnya digunakan oleh guru dan selanjutnya juga digunakan oleh anak.
Jika dibandingkan dengan boneka yang lain boneka tangan dalam penggunaannya lebih
mudah sehingga dapat digunakan oleh anak. Guru bercerita kepada anak dengan media itu.
Anak akan tertarik dengan cerita dan akan mendengarkan cerita guru. Setelah guru selesai
bercerita, guru melakukan tanya jawab tentang cerita tersebut. Setelah itu,anak diminta untuk
menceritakan kembali cerita yang dibawakan guru dengan menggunakan boneka tangan.
Kemampuan anak dalam menceritakan kembali cerita menjadi tolak ukur bagi keterampilan
bicara anak.
Bisa dibayangkan apa yang bakal terjadi jika anak-anak sebagai harapan bagi masa yang
akan datang dan pemuda adalah harapan hari esok tidak didik dengan baik, terlebih iman
mereka kepada Tuhan, belum lagi dengan akhir-akhir ini karakter seorang guru yang mulai
menurun yang sudah tentu mempengaruhi bagi peningkatan kerohanian siswa. Karena itu,
bertitik tolak dari latar belakang masalah di atas maka penulis tertarik menuangkan ide
penulis dalam bentuk tulisan dengan judul meningkatkan minat anak Sekolah Minggu
terhadap Firman Tuhan melalui metode bercerita dengan menggunakan media boneka
tangan.

2.2 Kerangka Teoritis


a. Pengertian Minat
Slameto (1995), Minat adalah kecenderungan jiwa yang tetap untuk memperhatikan
dan mengenang beberapa aktivitas atau kegiatan. Seseorang yang berminat terhadap suatu
aktivitas dan memperhatikan itu secara konsisten dengan rasa senang.
Sedangkan menurut Heri (1998) Minat adalah suatu fungsi jiwa untuk dapat mencapai
sesuatu yang merupakan kekuatan di dalam dan tampak di luar sebagai gerak – gerik. Dalam
menjalankan fungsinya minat berhubungan erat dengan pikiran dan perasaan.
Manusia memberi corak dan menentukan sesudah memilih dan mengambil keputusan.
Perubahan minat memilih dan mengambil keputusan disebut keputusan kata hati.
Dari pendapat para ahli diatas dapat disimpulkan bahwa minat adalah kecenderungan untuk
dapat tertarik atau terdorong untuk memperhatikan seseorang sesuatu barang atau kegiatan
dalam bidang-bidang tertentu.
b. Pengertian Sekolah Minggu
Sekolah Minggu merupakan salah satu bentuk pembinaan bagi warga Gereja (PWG)
yang banyaka itu. Sebagian besar Gereja mengadakan pembinaan anak jemaat. Bentuknya,
bermacam-macam. Salah satu yang dikenal di kalangan gereja atau orang-orang percaya
adalah Sekolah Minggu.
c. Tujuan Sekolah Minggu
Menurut Homrighausen, Dalam Buku Pendidikan Agama Kristen, dirumuskan
bahwa tujuan Pendidikan Agama Kristen kepada anak-anak dalam sekolah minggu, antara
lain: Pertama, Supaya mereka mengenal Allah sebagai pencipta dan pemerintah seluruh alam
ini, dan yesus Kristus sebagai Penebus, pemimpin dan penolong mereka. Kedua, Supaya
mereka mengertiakanmkedudukan dan panggilan mereka selalu anggota-anggota Gereja
Tuhan, dan sukaa turut bekerja bagi perkembangan gereja di bumi ini. Ketiga, Supaya meeka
mengasihi sesamanya oleh karena Tuhan telaha mengasihi mereka sendiri. Keempat, supaya
meerka insaf akan dosanya dfan selalu mau bertobat pula, minta ampun dan pembearuan
hidup pada Tuhan. Dan yang kelima, supaya mereka suka belajar terus menerus berita
Alkitab,, suka mengambil bagian dalam kebaktian jemaat, dan suka melayani Tuhan di segala
lapangan hidup.
d. Pengertian Firman
Dalam 2 Timotius 3:16-17 dikatakan “Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang
bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan
untuk mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan
Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik.”
Di dalam bagian ini saya memberikan penekanan khusus pada kata “yang” dan “untuk”, yang
fungsinya, seperti yang kita semua tahu, adalah untuk menerangkan atau menggambarkan
sesuatu. Jadi, menurut ayat di atas, Alkitab atau Firman Allah adalah yang diilhamkan oleh
Allah, atau dalam bahasa Yunaninya, yang dinapaskan oleh Allah. Ini berarti pengarang
Alkitab adalah Allah sendiri yang menghembuskan napas-Nya ke dalamnya. Jadi, Alkitab
adalah Firman Allah. Selain itu, ayat di atas juga menjelaskan bahwa Alkitab itu bermanfaat,
disertai dengan empat sebab mengapa Alkitab itu bermanfaat. Kemudian, ayat tersebut
menjelaskan bahwa Alkitab bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk
memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.
e. Metode Bercerita dengan Media Boneka Tangan
1. Metode Bercerita
a. Pengertian Metode Bercerita
Moeslichatoen R. (2004: 157) menyatakan bahwa metode bercerita merupakan salah
satu pemberian pengalaman belajar bagi anak dengan membawakan cerita kepada anak
secara lisan. Cerita yang dibawakan guru harus menarik dan mengundang perhatian anak dan
tidak lepas dari tujuan pendidikan bagi anak SD. Sanders (dalam Tadzkirotun Musfiroh,
2005: 26) mengemukakan bahwa ada beberapa alasan penting mengapa anak perlu
mendengarkan cerita. Salah satunya karena mendengarkan cerita merupakan sesuatu yang
menyenangkan bagi anak. Anak dapat lebih bergairah untuk belajar karena pada dasarnya
anak senang mendengarkan cerita.
Berdasarkan definisi di atas dapat disimpulkan bahwa metode bercerita adalah salah satu
pemberian pengalaman belajar bagi anak Taman Kanak-kanak dengan membawakan cerita
kepada anak melalui pendengaran dan kemudian menuturkannya kembali dalam bentuk lisan.
b. Teknik Bercerita
Tadzkirotun Musfiroh (2005: 141-158) membagi teknik bercerita menjadi bercerita
dengan alat perada dan bercerita tanpa alat peraga. Bercerita dengan alat peraga meliputi
bercerita dengan alat peraga buku, bercerita dengan alat peraga gambar, bercerita dengan alat
peraga boneka, dan bercerita dengan media gambar cetak. Alat peraga sangat bermanfaat bagi
guru dalam proses bercerita.
c. Manfaat Metode Bercerita
Tadzkirotun Musfiroh (2005: 95-115), menjabarkan manfaat metode bercerita adalah:
membantu pembentukan pribadi dan moral anak, menyalurkan kebutuhan imajinasi dan
fantasi, memacu kemampuan verbal anak, merangsang minat menulis anak, merangsang
minat baca anak, membuka cakrawala pengetahuan anak.
Macam-macam cerita dalam Alkitab:
Ada beberapa cerita alkitab yaitu, Cerita kisah penciptaan, cerita kejatuhan manusia ke dalam
dosa, cerita kelahiran, cerita pengembaraan (Musa, Abraham dan Lot, dll.), cerita kehidupan
seseorang, cerita perjuangan, cerita kepahlawanan (Daud mengalahkan goliat), Yesus
disalibkan dan masih banyak lagi.
d. Pengertian Boneka
Boneka adalah tiruan anak untuk permainan (Tim Redaksi Kamus Besar Bahasa
Indonesia Edisi Ketiga, 2005: 162). Suhartono (2005: 5-6) menyatakan bahwa boneka adalah
tiruan dari bentuk manusia dan bahkan sekarang termasuk tiruan dari bentuk binatang. Jadi
sebenarnya boneka merupakan salah satu model perbandingan. Boneka dimanfaatkan sebagai
media pembelajaran dengan cara dimainkan dalam sandiwara boneka. Boneka merupakan
model manusia atau yang menyerupai manusia atau hewan.
e. Jenis-jenis Boneka
Suhartono (2005: 6-7) membagi beberapa jenis boneka dilihat dari bentuk dan cara
memainkannya, antara lain:
1. Boneka jari. Boneka ini dibuat dengan alat sederhana seperti tutup botol, bola pingpong,
dan bambu kecil yang dapat dipakai sebagai kepala boneka. Sesuai dengan namanya boneka
ini dimainkan dengan menggunakan jari tangan.
2. Boneka tangan. Boneka tangan mengandalkan keterampilan guru dalam menggerakan
ibu jari dan telunjuk yang berfungsi sebagai tulang tangan. Boneka tangan biasanya kecil dan
dapat digunakan tanpa alat bantu yang lain. Boneka ini dibuat sendiri oleh guru dan dapat
dibeli di toko-toko.
3. Boneka tongkat. Disebut boneka tongkat karena cara memainkannya dengan
menggunakan tongkat. Tongkat-tongkat ini dihubungkan dengan tangan dan tubuh boneka.
4. Boneka tali. Boneka tali mengandalkan keterampilan menggerakan boneka dan benang
yang diikatkan pada materi tertentu seperti kayu, lidi, atau atap panggung boneka.
Dalam rekayasa ide ini penulis memilih boneka tangan sebagai media untuk bercerita dalam
rangka meningkatkan kemampuan bicara anak. Boneka tangan dipilih oleh peneliti karena
menggunakan boneka tangan tidak membutuhkan banyak tempat dan waktu. Boneka tangan
juga mudah didapatkan, bahkan boneka tangan dapat dibuat sendiri oleh penulis. Jika
dibandingkan dengan jenis boneka yang lain, boneka tangan lebih leluasa bergerak sehingga
anak bisa berinteraksi dengan boneka, misalnya anak menyentuh boneka. Selain itu boneka
tangan dipilih karena dirasa lebih mudah dalam memainkannya dan tidak memerlukan alat
bantu yang lain dalam memainkannya. Boneka tangan membantu anakuntuklebih perhatian
terhadap isi cerita.
BAB III
PEMBAHASAN

3.1 Langkah Kegiatan


Agar kegiatan bercerita dapat berjalan dengan baik dan optimal maka kegiatan
bercerita perlu dirancang dengan baik pula. Menurut Moeslichatoen R (2004: 175-180)
rancangan itu meliputi:
1. Rancangan persiapan,
2. Rancangan pelaksanaan
3. Rancangan penilaian

1. Rancangan Persiapan
Secara umum persiapan guru untuk merancang kegiatan bercerita adalah:
a) Menetapkan tujuan dan tema yang dipilih
Tujuan dari pengguanaan metode bercerita terutama dalam rangka memberi
pengalaman belajar melalui cerita guru untuk mencapai tujuan pengajaran. Tujuan pengajaran
melalui bercerita ada dua macam yakni memberi informasi atau menanamkan nilai-nilai
sosial, moral, atau keagamaan. Dalam menentukan tujuan pengajaran harus dikaitkan dengan
tema yang dipilih. Tema harus ada kedekatan hubungan dengan kehidupan anak di dalam
keluarga, sekolah, atau luar sekolah. Tema harus menarik dan memikat perhatian anak dan
menantang anak untuk menanggapi, menggertakan perasaan, serta menyentuh perasaan.
b) Menetapkan bentuk bercerita yang dipilih
Setelah menentukan tujuan dan tema maka langkah selanjutnya guru harus memilih
salah satu bentuk bercerita diantaranya bercerita dengan boneka, bercerita dengan papan
flanel, dan lain-lain.
c) Menetapkan rancangan bahan dan alat yang diperlukan untuk kegiatan bercerita
Sesuai dengan bentuk bercerita yang sudah diplih guru, maka langkah selanjutnya
guru harus menyiapkan bahan dan alat yang akan digunakan. Jika bentuk yang dipilih adalah
bercerita dengan boneka, maka alat dan bahan yang harus dipersiapkan diantaranya boneka
dan panggung boneka.
f. Menetapkan rancangan langkah-langkah kegiatan bercerita
Langkah-langkah yang harus dilalui dalam bercerita diantaranya adalah:
a. Mengkomunikasikan tujuan dan tema dalam kegiatan bercerita kepada anak.
b. Mengatur tempat duduk anak. Apakah sebagian atau seluruhnya yang ikut
mendengarkan dan apakah anak harus duduk di lantai ataudiberi karpet duduk di kursi
serta mengatur alat dan bahan yang digunakan.
c. Merupakan pembukaan kegiatan bercerita. Guru sekolah minggu menggali
pengalaman-pengalaman anak yang berkaitan dengan cerita.
d. Merupakan pengembangan cerita yang dituturkan guru.
e. Guru sekolah minggu menetapkan rancangan cara-cara bertutur yang dapat
menggetarkan perasaan anak.
f. Merupakan langkah penutup kegiatan bercerita.

2. Rancangan Pelaksanaan
Langkah-langkah bercerita dengan menggunakan boneka tangan sebagai berikut:
a. Guru sekolah minggu menyiapkan boneka tangan sesuai dengan karakter yang
dikehendaki. Misalnya guru sekolah minggu akan bercerita tentang kejatuhan
manusia ke dalam dosa, maka guru menyiapkan boneka tangan Yesus, Adam, Hawa
dan Iblis.
b. Guru menggunakan boneka tangan, kemudian menerangkan cara menggunakan
boneka tangan dan contoh cara menggerakkannya sambil berbicara.
c. Kemudian guru memotivasi anak supaya mau mau mencoba memakai boneka tangan,
anak yang paling berani diajak memotivasi teman-teman yang lain.
d. Guru sekolah minggu mulai bercerita dengan boneka tangan tersebut.
e. Guru sekolah minggu guru sekolah minggu melakukan tanya jawab tentang isi cerita
yang baru saja dibawakan.
f. Guru sekolah minggu meminta anak menceritakan kembali cerita yang dibawakan
secara bersama-sama.

3. Rancangan Penilaian
Sesuai dengan tujuan dan tema cerita yang dipilih, maka dapat dirancang penilaian
kegiatan bercerita dengan menggunakan teknik bertanya pada akhir kegiatan bercerita yang
memberi petunjuk seberapa besar perhatian dan tanggapan anak terhadap isi cerita.
BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
Penggunaan media boneka tangan dalam kegiatan bercerita tentang firman Tuhan
pada anak sekolah minggu dapat meningkatkan minat terhadap Alkitab. Karena melalui
penggunaan media boneka tangan, anak tahu tokoh mana yang sedang berbicara, apa isi
pembicaraannya, dan bagaimana pelakunya. Guru sekolah minggu bercerita kepada anak
dengan media itu. Misalnya tentang kejatuhan manusia ke dalam dosa. Anak akan tertarik
dengan cerita dan akan mendengarkan cerita guru. Setelah guru selesai bercerita, guru
melakukan tanya jawab tentang cerita tersebut. Setelah itu,anak diminta untuk menceritakan
kembali cerita yang dibawakan guru dengan menggunakan boneka tangan. Kemampuan anak
dalam menceritakan kembali cerita menjadi tolak ukur bagi minat anak pada Firman Tuhan.
Manfaat metode bercerita adalah membantu pembentukan pribadi dan moral anak,
menyalurkan kebutuhan imajinasi dan fantasi, memacu kemampuan verbal anak, merangsang
minat menulis anak, merangsang minat baca anak, membuka cakrawala pengetahuan anak.

B. Saran
Penulis memberikan saran sebagai berikut:
1. Bagi Guru Sekolah Minggu. Sebaiknya guru sekolah minggu diharapkan menggunakan
metode bercerita dengan media boneka tangan sebagai salah satu cara untuk meningkatkan
minat anak terhadap Firman Tuhan.
2. Bagi Gereja. Sebaiknya Gereja memberikan dan menyediakan fasilitas yang
mendukung kegiatan pembelajaran menggunakan metode bercerita dengan media boneka
tangan. Mendukung upaya guru sekolah minggu dalam menggunakan metode bercerita
dengan media boneka tangan untuk meningkatkan minat anak terhadap Firman Tuhan.
DAFTAR PUSTAKA

Heri, P. (1998). Pengantar Perilaku Manusia. Jakarta : EGC.


Homrighausen, 2005. Pendidikan Agama Kristen. Jakarta: BPK Gunung Mulia.
Kadarmanto, Ruth S. 1995. Tuntunlah ke Jalan yang Benar: Panduan Mengajar Anak di
Jemaat. Jakarta: STTJ.
Lie, Paulus. 2003. Mereformasi Sekolah Minggu. Yogyakarta:Andi Offset.
Lie, Paulus. 2003. Teknik Kreatif dan terpadu dalam mengajar Sekolah Minggu. Yogyakarta:
AndiOffset.
Lie, Paulus. 1997. Mengajar Sekolah Minggu yang Kreatif. Yogyakarta:Andi Offset.
Price, Sue. 100 Ide Kreatif untuk mengajarkan Alkitab kepada Anak-anak. Yogyakartra:
Andi. 2003.
Slameto. 2003. Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Cet. II; Jakarta: Rineka
Cipta. Wijayani, Agustina. 50 Tips Mengajar Sekolah Minggu. Yogyakarta:Kairos.
Tim Redaksi Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga. (2005). Kamus Besar Bahasa
Indonesia Edisi Ketiga. Jakarta: Balai Pustaka.