Anda di halaman 1dari 12

Koperasi merupakan Badan Usaha yang didirikan dengan asas kekeluargaan

dan memiliki tujuan mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan kesejahteraan


anggota pada khususnya. Seiring dengan berdirinya koperasi, memberikan dampak
positif terhadap perekonomian di dunia, termasuk di Indonesia. Bahkan ketika
terjadi krisis ekonomi di Indonesia pada tahun 1998, koperasi ikut mengambil
bagian untuk tetap menjadi Badan Usaha yang mmpertahankan eksistensi tujuannya
bagi masyarakat tanpa tenggelam oleh krisis moneter yang telah melanda
Indonesia.
Sebagai negara berkembang, Indonesia memiliki banyak koperasi yang tersebar
hampir di seluruh bagian Indonesia, yang semuanya tersebar di berbagai daerah.
Karena adanya koperasi yang turut serta menyokong perputaran roda perekonomian
negara tanpa bertujuan menarik keuntungan dari anggotanya maupun masyarakat,
tak heran apabila koperasi inilah yang banyak dipilih dan digunakan oleh
masyarakat untuk mendukung kegiatan ekonomi di Indonesia.
Koperasi memiliki kendala dan resiko yang lebih kecil, dibanding dengan
bentuk badan usaha lainnya yang berkecenderungan untuk mencari laba. Jadi
banyak dikembangkan sebagai kekuatan ekonomi rakyat yang mudah tetapi dapat
menjadi pondasi yang kuat dalam pembangunan. Seiring berjalannya waktu, di era
globalisasi ini persaingan dalam perekonomian makin ketat, sehingga diperlukan
jiwa – jiwa wirausaha dalam pembangunan koperasi agar tetap lestari dan utuh.

9.1 Kebutuhan Akan Wirausaha – Wirausaha Koperasi


Dalam beberapa kebijakan pembangunan selama PJPT 1 secara tegas
dijelaskan bahwa:
a) Pembangunan koperasi diarahkan agar makin memiliki kemampuan menjadi
badan usaha yang makin efisien dan menjadi gerakan ekonomi rakyat yang
tangguh dan berakar pada masyarakat
b) Pelaksanaan fungsi dan peranan koperasi ditingkatkan melalui upaya
peningkatan kebersamaan dan manajemen yang lebih profesional
c) Pemberian kemampuan yang seluas-luasnya di segala sector kegiatan
ekonomi dan penciptaan iklim usaha yang mendukung dengan kemudahan
memperoleh permodalan
d) Kerjasama antar koperasi dan antara koperasi dengan usaha Negara dan
usaha swasta sebagai mitra usaha dikembangkan secara lebih nyata

1
Kondisi tersebut telah memberikan tantangan bagi wirausaha-wirausaha
koperasi (wirakop) dalam mengembangkan potensinya sehingga cita-cita koperasi
dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat dapat segera terealisir. Beberapa
kondisi telah diciptakan pemerintah guna merangsang wirakop-wirakop untuk
menunjukkan pengabdiannya pada bangsa dan Negara tercinta ini seperti pemberian
hak usaha dalam bidang tertentu oleh koperasi tertentu, kemudahan dalam
memperoleh bantuan modal, penciptaan iklim usaha yang lebih menggairahkan, dan
lain-lain.

9.2 Pengertian Kewirakoperasian


“Kewirakoperasian adalah suatu sikap mental positif dalam berusaha secara
koperatif, dengan mengambil prakarsa inovatif serta keberanian mengambil resiko
dan berpegang teguh pada prinsip identitas koperasi, dalam mewujudkan
terpenuhinya kebutuhan nyata serta peningkatan kesejahteraan bersama.”
Dari definisi tersebut terkandung beberapa unsur yang patut diperhatikan :
a) Kewirausahaan koperasi merupakan sikap mental positif dalam berusaha
secara koperatif. Ini berarti wirakop (orang yangmelaksanakan
kewirakoperasian) harus mempunyai keinginan untuk memajukan organsasi
koperasi, baik itu usaha koperasi maupun usaha anggotanya. Usaha itu harus
dilakukan secara koperatif dalam arti setiap kegiatan usaha koperasi harus
mementingkan kebutuhan anggotanya.
b) Tugas utama wirakop adalah mengambil prakarsa inovatif, artinya berusaha
mencari, menemukan, dan memanfaatkan peluang yang ada demi
kepentingan bersama (Drucker, 1998, h.30). Bertindak inovatif tidak hanya
dilakukan pada saat memulai usaha tetapi juga pada saat usaha itu berjalan,
bahkan pada saat usaha koperasi berada dalam kemunduran.
c) Wirakop harus mempunyai keberanian mengambil resiko. Karna dunia penuh
dengan ketidakpastian, sehingga hal-hal yang diharapkan kadang-kadang
tidak sesuai dengan kenyataan yang terjadi di lapangan. Oleh karena itu
dalam menghadapi situasi semacam itu diperlukan seorang wirausaha
yangmempunyai kemampuan mengambil resiko. Tentu saja pengambilan
resiko ini dilakukan dengan perhitungan-perhitungan yang cermat.
d) Kegiatan wirakop harus berpegang teguh pada prinsip identitas koperasi,
yaitu anggota sebagai pemilik dan sekaligus sebagai pelanggan. Kepentingan

2
anggota harus diutamakan agar anggota mau berpartisipasi aktif terhadap
koperasi. Karena itu wirakop bertugas meningkatkan pelayanan dengan jalan
menyediakan berbagai kebutuhan anggotanya.
e) Tujuan utama setiap wirakop adalah memenuhi kebutuhan nyata anggota
koperasi dan meningkatkan kesejahteraan bersama. Tugas seorang wirakop
sebenarnya cukup berat karena banyak pihak yang berkepentingan di
lingkungan koperasi, seperti anggota, perusahaan koperasi, karyawan,
masyarakat di sekitarnya, dan lain-lain. Seorang wirakop terkadang
dihadapkan pada masalah konflik kepentingan di antara masing-masing
pihak.
f) Kewirausahaan dalam koperasi dapat dilakukan oleh anggota, menajer,
birokrat yang berperan dalam pembangunan koperasi dan katalis, yaitu orang
yang peduli terhadap pengembangan koperasi. Keempat jenis wirakop ini
tentunya mempunyai kebebasan bertindak dan insentif yang berbeda-beda
yang selanjutnya menentukan tingkat efektivitas yang berbeda-beda pula.

2.3 PENGERTIAN WIRAUSAHA KOPERASI


Wirausaha koperasi adalah orang yang mempunyai kemampuan dan kemauan
dalam inovasi atau mendapatkan strategi bagi pengembangan koperasi. Di atas
pundak wirausaha koperasi diharapkan koperasi akan mempunyai keunggulan
bersaing (competitive advantages) dari badan usaha lain yang menjadi saingannya.
Sebenarnya competitive advatanges dapat diperoleh melalui strategic asset,
reputation dan architecture koperasi, tetapi peranan wirakop dalam menciptakan
inovasi lebih dominan dalam menciptakan competitive advantages.
Strategic asset adalah asset yang diperoleh melalui hak monopoli, lisensi,
paten dan hak penguasaan lainnya yang umumnya diberikan oleh pemerintah.
Perkembangan koperasi di Indonesia (khususnya KUD) pada umumnya diperoleh
karena strategic asset, seperti kebijaksanaan pemerintah yang mengharuskan di
wilayah kecamatan hanya terdapat satu KUD, ketentuan bidang ekonomi yang
hanya boleh diusahakan oleh koperasi untuk tidak diusahakan oleh badan usaha
lainnya, dan masih banyak ketentuan-ketentuan lain yang sebenarnya sangat
menguntungkan bagi koperasi. Tetapi karena badan usaha lainnnya (BUMN dan
Swasta) yang mempunyai modal cukup besar juga diberikan strategic asset maka

3
kita tidak dapat mengharapkan koperasi memperoleh competitive advantages dari
strategic aseet ini.

Demikian juga dengan reputation (nama baik), koperasi tidak akan


memperoleh competitive advantages, karena sampai saat ini koperasi masih belum
mempunyai reputasi yang baik di mata masyarakat. Bahkan banyak kritik-kritik
tajam yang ditujukan pada koperasi, terutama karena koperasi yang dijadikan
sebagai alat pembangunan belum mampu mengangkat masyarakat dari kemiskinan.
Di samping itu banyak koperasi yang terpaksa gulung tikar karena tidak mendapat
tanggapan yang positif dari masyarakat.
Competitive advantages juga bisa diperoleh dari arsitektur koperasi.
Arsitektur koperasi didasarkan pada prinsip identitas (identity principles) yang
menyatakan “anggota sebagai pemilik dan sebagai pelanggan”. Berdasarkan prinsip
ini, anggota akan memasuki koperasi jika sesuai dengan kepentingannya. Tetapi
jika tidak sesuai dengan kepentingannya, tidak akan ada artinya seseorang menjadi
anggota koperasi. Kedudukan anggota dalam koperasi menjadi sangat kuat karena
ia adalah sebagai pemilik dan sekaligus sebagai pelanggan.

9.3 Fungsi Kewirakoperasian


a) Kewirakoperasian Rutin
Kewirakoperasian rutin diarahkan pada kegiatan rutin organisasi usaha
(koperasi), seperti produksi, pemasaran, personalia, keuangan, administrasi, dan
lain-lain,. Progam-program telah disusun dan dilaksanakan. Tugas wirakop
hanyalah meluruskan / mengendalikan sesuatu agar berjalan sesuai dengan program
yang telah ditetapkan.
Kewirausahaan rutin merupakan literature manajemen yang berfungsi
sebagai pemecahan masalah. Oleh karena itu para wirausaha rutin dianggap sebagai
seorang manajer yang berfungsi mengambil keputusan mengenai koordinasi alat-
alat yang dimiliki. Manajer akan bertindak berdasarkan peluang yang diketahuinya,
untuk kemudian mengelola faktor-faktor produksi untuk mencapai tujuan yang
telah ditetapkan sebelumnya.
Kewirakoperasian rutin mempunyai karakteristik sebagai berikut :
1) Kegiatan kewirakoperasian berhubungan dengan evaluasi dan koreksi bila
terjadi misalokasi sumber daya. Tindakan ini disebut pemecahan masalah.

4
2) Manajer (wirakop) mempunyai informasi yang banyak tentang sumber daya,
tujuan, dan resiko yang dihadapi. Wirausaha dapat bertindak berdasarkan
informasi yang akurat mengenai sumber-sumber dan hasil akhir (tujuan),
serta setiap keputusan telah mempertimbangkan resiko.
3) Rendahnya tingkat ketidakpastian memungkinkan wirausaha (wirakop)
mampu memaksimumkan tujuan (misalnya memaksimumkan profit atau
pengembangan usaha para anggota koperasi).
b) Kewirakoperasian Arbitrase
Arbitrase di sini dimaksudkan sebagai keputusan yang diambil dari dua
kondisi yang berbeda dan keputusan itu memberikan peluang yang menguntungkan.
Tugas utama dari wirakop dalam hal ini mencari peluang yang menguntungkan dari
dua kondisi yang berbeda. Misalnya ketidak sesuaian permintaan dan penawaran
suatu pasar akan menciptakan peluang bagi seseorang (wirausaha) untuk membeli
dengan murah dan menjual dengan mahal. Oleh karena itu, guna memperoleh
keberhasilan dalam kondisi ini, wirakop harus mempunyai informasi yang banyak
tentang lingkungan dan pasar yang hendak dituju dan memanfaatkan informasi ini
untuk kemajuan koperasi.
c) Kewirakoperasian Inovatif
Inovatif berarti mencari, memanfaatkan dan menemukan sesuatu yang baru.
Wirakop yang inovatif berarti wirakop yang selalu tidak puas dengan kondisi yang
ada. Ia selalu berusaha mencari, menemukan dan memanfaatkan peluang yang
diperoleh. Ia sangat diperlukan terutama pada kondisi di mana perusahaan
(termasuk koperasi) mengalami stagnasi. Ia juga diperlukan oleh perusahaan atau
koperasi yang menghadapi masalah ketidakpastian yang serius dalam lingkungan
yang dinamis.
Kewirakoperasian inovatif biasanya tidak menimbulakan masalah, artinya
meskipun keuntungan yang diperoleh oleh innovator akan dikikis oleh para peniru,
namun pengurangan keuntungan ini akan menyebabkan innovator memperkenalkan
inovasi versi terbaru atau peluan gbaru, jadi kegiatan inovatif akan menghasilkan
dorongan tertentu bagi kegiatan inovatif baru.

9.4 Tipe Kewirakoperasian


a) Kewirakoperasian Anggota

5
Anggota sebagai pemilik koperasi dapat menjadi wirakop bila ia mampu
menemukan dan memanfaatkan peluang yang ada untuk pertumbuhan
koperasi. Tetapi kemungkinan ia sangat lemah mengingat kebanyakan
kemampuan anggota dalam inovasi masih sangat rendah, keterbatasan hak
bertindak karena setiap tindakan harus memperhatikan anggota lainnya dan
motivasi yang rendah. Anggota kopersi di Indonesia umumnya mempunyai
tingkat pendidikan yang rendah sehingga tingkat kemampuan dalam
menemukan sesuatu yang baru sangat terbatas. Disamping itu, kendatipun
anggota mempunyai kemampuan yang tinggi tetapi motivasi untuk berprestasi
di bidang koperasi akan menjadi sangat rendah sebab manfaat dari hasil
inovasi anggota yang dinikmati hanya sebagian kecil oleh anggota yang
bersangkutan dan sebagian besar dinikmati oeh anggota lainnya, anggota
potensial atau bahkan para pesaing koperasi. Dalam kondisi seperti
ini, anggota yang rasional akan memanfaatkan peluang tersebut untuk
kepentingan diri sendiri dengan jalan bekerja di luar koperasi.
b) Kewirakoperasian Manajer
Pada koperasi yang mengangkat manajer sebagai pelaksana dan penanggung
jawab kegiatan operasional, koperasi tentu sangat mengharapkan perubahan
yang memberikan keuntungan. Tetapi kendala yang dihadapi oleh manajer
adalah keterbatasan-kebebasan untuk bertindak. Keterbatasan ini karena
manajer disamping dibebani peningkatan pertumbuhan usaha koperasi tetap
juga dibebani peningkatan pelayanan terhadap anggotanya. Kedua hal tersebut
kadang terjadi kontradiksi. Bila manajer menginginkan meningkatkan
pertumbuhan koperasi, maka ia harus berorientasi ke pasar eksternal
(melayani kebutuhan non anggota) dan ini berarti mengurangi nilai pelayanan
terhadap anggotanya. Sebaliknya bila manajer menginginkan peningkatan
pelayanan terhadap anggota (misal dengan memberikan harga pelayanan yan
glebih rendah dibanding dengan harga pasar), maka ia tidak akan dapat
meningkatkan pertumbuhan koperasi. Dalam kondisi seperti ini, kendatipun
manajer mempunyai kemampuan dan motivasi yang tinggi untuk
mengembangkan organisasi koperasi, tetap saja ia menghadapi hambatan yang
besar yang harus dilewatinya.
c) Kewirakoperasian Birokrat

6
Birokrat adalah pihaknya secara tidak langsung berhubungan dengan
pengembangan gerakan koperasi. Setiap kegiatannya memang diharapkan
untuk memacu perkembangan koperasi. Tetapi untuk melaksanakannya, ia
terbelenggu oleh aturan-aturan yang telah ditetapkan dan setiap turut campur,
birokat tersebut dalam organisasi koperasi belum tentu sesuai dengan
keinginan anggota koperasi. Dengan demikian, kendatipun mempunyai
kemampuan dan kemauan yang tinggi dalam mengembangkan koperasi, tetap
saja kewirakoperasiannya terbatas.
d) Kewirakoperasian katalis
Katalis disini diartikan sebagai pihak yang berkompeten terhadap
pengembangan koperasi kendatipun ia tidak mempunyai hubungan langsung
dengan organisasi koperasi. Para katalis ini jelas mempunyai kemampuan yang
tinggi dan motivasi yang tinggi kendatipun insentif yang diterimanya kadang-
kadang kecil. Di samping itu ia juga mempunyai kebebasan bertindak karena
ia berada di luar organisasi koperasi dan tidak terikat oleh aturan-aturan
organisasi tersebut. Seorang katalis biasanya adalah seorang Altruis, yaitu
orang yang mementingkan kebutuhan orang lain. Dalam konteks ini, pada
dasarnya seorang katalislah yang mempunyai kemampuan dalam membantu
pertumbuhan gerakan koperasi.

9.5 Tugas Kewirakopersian


Tugas kewirakoperasian adalah menciptakan keunggulan bersaing koperasi
di banding dengan organisasi usaha pesaingnya. Keunggulan tersebut dapat
diperoleh melalui :
a. Mendudukan Koperasi Sebagai Penguasa yang Kuat di Pasar
Bila para petani membentuk koperasi maka koperasi tersebut mempunyai
kedudukan yang kuat di pasar. Bila masing – masing koperasi primer yang
anggotanya para petani membentuk koperasi ditingkat atasnya (koperasi
sekunder) maka koperasi yang terbentuk akan mempunyai posisi yang kuat
dipasar yang lebih luas. Demikian seterusnya, bila antarkoperasi sekunder
membentuk koperasi tersier dan antarkoperasi tersier embentuk koperasi
ditingkat atasnya lagi, maka koperasi akan mempunyai kedudukan yang kuat
dalam pasar yang sangat luas. Dengan kata lain kekuatan dalam penawaran
dipasar dapat diperoleh melalui investigasi vertikal ke hulu atau ke hilir.

7
Integrasi vertikal ini sangat dimungkinkan bagi koperasi karena para petani
anggota koperasi menguasai input / bahan baku untuk keperluan produksi
ditingkat atasnya.
Tugas kewirakoperasian dalam hal ini adalah meningkatkan efisiensi koperasi
melalui integrasi vertikal tersebut.

b. Kemampuan Dalam Mereduksi Biaya Transaksi


Tugas wirakop yang kedua ini adalah menekan biaya transaksi. Biaya
transaksi adalah biaya di luar biaya produksi yang timbul karena adanya
transaksi - transaksi, seperti biaya pencarian informasi, biaya kontrak, biaya
monitoring kontrak, biaya legal jika kotrak dilanggar, dan biaya resiko yang
mungkin timbul sebagai akibat terjadinya transaksi.
Kemungkinan menekan biaya transaksi pada koperasi dapat dilakukan karena:
1) Informasi yang berguna untuk pengembangan koperasi banyak tersebar
luas diantara para anggotanya,
2) Kontrak antara anggota dengan koperasinya tidak perlu dilakukan karena
anggota adalah pemilik koperasi,
3) Terdapatnya control social dalam koperasi tidak perlu manajemen
mengeluarkan biaya monitoring dalam jumlah yang besar,
4) Resiko ketidakpastian dapat mudah direduksi karena ada pasar internal
koperasi.
c. Pemanfaatan Interlinkage Market
Interlinkage market adalah hubungan transaksi antarpelaku ekonomi dipasar.
Seorang produsen membutuhkan input dari penghasil input (rumah tangga
konsumen) dan membutuhkan modal dari pembeli kredit. Bila produsen
menghasilkan pendapatan itu akan digunakan untuk membeli input, membayar
utang dan mungkin ditabung. Bila penghasil input membentuk koperasi,
misalnya kopersi penjualan, para produsen membentuk koperasi produsen dan
para pemberi kredit mendirikan koperasi simpan pinjam, maka transaksi antar
koperasi penjualan dengan koperasi produsen, koperasi penjualan dengan hasil
simpan pinjam dan koperasi produsen dengan hasil simpan pinjam akan dapat
mengurangi biaya transaksi tersebut karena koperasi akan terhindar dari
sistem ijon dan rentenir. Kemungkinan ini bias diraih mengingat misi koperasi

8
tidak sepenuhnya memperoleh keuntungan yang banyak tetapi juga
mempunyai misi social.
Tugas wirakop dalam hal ini menciptakan kerjasama rentenir. Tugas wirakop
dalam hal ini menciptakan kerjasama rentenir. Tugas wirakop dalam hal ini
menciptakan kerjasama yang saling menguntungkan diantara pelaku dalam
interlinkage market tersebut.

d. Pemanfaatan Trust Capital


Trust capital secara dengan sederhana di artikan sebagai pengumpulan modal.
Hal ini dimungkinkan terjadi pada koperasi karena usaha yang tadinya
dilakukan sendiri-sendiri oleh para anggotanya sekarang di kelola secara
bersama-sama dengan anggota lainnya.semakin banyak anggota semakin besar
modal yang dapat dikumpulkan dan semakin kuat kedudukan modal usaha
koperasi sehingga kemampuan koperasi dalam bersaing dengan pesaingnya
semakin kuat.
Tugas wirakop dengan hal ini adalah mengelola modal tersebut secara efisien
dan meningkatkan peranan anggota dalam meningkatkan partisipasi intensif
dalam pemanfaatan jasa pelayanan koperas dan partisipasi kontributif dalam
pembentukan pemodalan yang baru.
e. Pengendalian Ketidakpastian
Upaya pengendalian ketidakpastian sangat dimungkinkan mengingat adanya
pasar internal pada koperasi. Kalaupun ada kerugian karena muncul resiko
dalam kegiatan operasionalnya, maka resiko ini akan ditanggung bersama-
sama, sehingga biaya resiko peranggota menjadi rendah.
Koperasi adalah milik anggota dan anggota memanfaatkan jasa yang
ditawarkan oleh koperasinya. Oleh karena koperasi milik anggota maka secara
rasional tidak mungkin para anggota akan merugikan koperasinya sendiri
dalam melaksanakan transaksinya. Hanya saja bisa terjadi jika koperasi
memberikan pelayanan yang sesuai dengan kebutuhan anggotanya.
Tugas wirakop dalam hal ini adalah meningkatkan pelayanan terhadap
anggotanya dengan jalan menyediakan barang - barang atau jasa - jasa yang
dibutuhkan oleh anggotanya.
f. Penciptaan Inovasi

9
Inovasi pada koperasi sangat dimungkinkan mengingat banyak yang
berkompeten terhadap pertumbuhan koperasi. Tugas wirakop dalam hal ini
menciptakan inovasi-inovasi baru yang menguntungkan bagi koperasi dan
anggotanya. Inovasi-inovasi yang berasal dari anggota atau manajer sangat
diperlukan oleh koperasi terutama pada saat koperasi mengalami stagnasi.
Untuk membangkitkan kembali koperasi dari kelesuan diperlukan wirakop-
wirakop yang altruistis dan andal. Dikatakan altruistis karena seorang wirakop
harus lebih memilih mementingkan kepentingan orang lain disbanding dirinya.
Sedangkan wirakop yang andal sangat diperlukan karena koperasi mempunyai
dua misi seperti yang dikemukakan di atas.
g. Pengembangan Manfaat Partisipasi
Keunggulan koperasi dapat diperoleh melalui partisipasi baik partisipasi
kontributif dalam penyerahan keuangan dan pengembalian keputusan, maupun
partisipasi intensif dalam hal pemanfaatan pelayanan koperasi. Tentu saja bila
partipasi intensif mengalami peningkatan, partisipasi kontributif dalam hal
penyerahan keuangan juga akan meningkat.
Tugas wirakop dalam hal ini adalah meningkatkan partisipasi intensif para
anggota koperasi dengan jalan menyediakan pelayanan yang dibutuhkan
anggotanya.
h. Menciptakan Economies of Scale
Economies of Scale adalah penghematan pada koperasi yang ditimbulkan oleh
penambahan kapasitas produksi. Penghematan tersebut sangat dimungkinkan
karena penambahan anggota berarti bertambahnya kapasitas produksi di
koperasi, kebutuhan bahan baku bertambah, dan koperasi dapat membeli
bahan dalam jumlah besar. Pembelian dalam jumlah besar akan menurunkan
harga per unit bahan, sehingga biaya per unit output pada akhirnya dapat
ditekan.
Tugas wirakop adalah menciptakan economies of scale dan mengendalikan
produksi pada tingkat produksi yang optimal. Produksi dicapai pada saat
koperasi berproduksi dengan biaya rata-rata jangka panjang yang paling
rendah.

9.6 Prinsip – Prinsip Inovasi Kewirausahaan koperasi

10
a. Inovasi harus mempunyai tujuan dan sistematis yang dimulai dengan
menganalisis peluang. Semua sumber peluang inovatif harus dianalisis
dan di telaah dengan sistematis,tidak cukup hanya memperhatikan saja.
Pencahariannya harus di organisir dan harus dikerjakan dengan cara-cara
yang lazim dan sistematis.
b. Inovasi bersifat konseptual dan perseptual. Oleh karena itu, inovator harus
pergi keluar untuk melihat-ihat, bertanya dan mendengarkan, misalnya
memperhatikan para pelanggan atau para pemakai dan kemudian
mempelajari harapan mereka, nilai-nilai dan kebutuhannya.
c. Agar efektif, sebuah inovasi harus sederhana dan harus difokuskan. Jika
tidak sederhana inovasi tidak akan berjalan. Segala sesuatu yang baru
akan menyebabkan kesulitan, kalau terlalu rumit maka tidak akan dapat
diatur dan diperbaiki.
d. Inovasi yang efektif harus dimulai dari kecil, tidak perlu muluk-muluk
dan cobalah melakukan sesuatu yang khas.
e. Inovasi yang berhasil harus mengarah pada kepemimpinan, artinya semua
strategi yang mengarah pada pemanfaatan sebuah inovasi, harus
memperoleh kepemimpinan dalam lingkungan tertentu. Jika tidak, maka
semua strategi itu hanya akan menciptakan peluang bagi persaingan
belaka.
f. Jangan berlagak pintar, inovasi harus ditangani oleh manusia
biasa. Bagaimanapun ketidakmampuan merupakan satu-satunya faktor
yang sangat menguntungkan. Sesuatu yang menganggap terlalu pintar,
apakah dalam rancangan atau pelaksanaan, hampir pasti akan menemui
kegagalan.
g. Jangan mencoba mengerjakan terlalu banyak perkerjaan sekaligus. Inovasi
yang menyimpang dari intinya akan cenderung buyar. Ia akan tetap
tinggal gagasan dan tak akan menjadi inovasi.
h. Jangan coba-coba melakukan inovasi bagi masa depan. Lakukan inovasi
masa sekarang sebab dimasa yang akan datang kita akan menemui
peluang-peluang yang baru yang lebih baik dari pada sekarang.
i. Harus diingat bahwa inovasi adalah karya. Inovasi menghendaki
pengetahuan dan kepintaran, bakat, kelihaian, kepekaan, ketekunan, dan
keuletan.
11
j. Agar berhasil, seorang inovator harus membina kekuatannya, inovasi yang
berhasil harus melihat peluang dalan jajaran yang luas. Tetapi dalam
inovasi akan lebih penting membina kekuatan mengingat risiko yang
dihasilkannya adalah untuk kemampuan dan prestasi.
k. Harus diingat, inovasi adalah dampak dalam perkonomian dan
masyarakat. Oleh karena itu, inovasi harus senantiasa dekat dengan pasar,
tertuju kepasar dan harus benar-benar digerakkan oleh pasar.

DAFTAR PUSTAKA

Hendar, dan Kusnadi. 2011. “Ekonomi Koperasi”. Jakarta: Lembaga Penerbit


Fakultas Ekonomi UI.

12

Anda mungkin juga menyukai