Anda di halaman 1dari 7

Mohammad Hafizh As’ad / 1A D3 / 15

Reaksi Eliminasi
Reaksi eliminasi adalah suatu jenis reaksi organik dimana dua substituen dilepaskan dari
sebuah molekul baik dalam satu atau dua langkah mekanisme. Reksi satu lankah disebut sebagai
reaksi E2 , sedangkan reksi dua langkah disebut sebagai reaksi E1 . harap diingat bahwa symbol
angka pada huruf E (Elimination) tidak melambangakan jumlah langkah pada reaksi melainkan
melambanagkan kinetika reaksi yaitu biomolekuler E2 dan molekuler E1.

Pada sebagian reaksi eliminasi organik , minimal satu atom hidrogen dilepaskan
membentuk ikatan rangkap dua. Dengan kata lain akan terbentuk molekul tak jenuh. Hal tersebut
memungkinkan sebuah molekul melangsungkan reaksi eliminasi reduktif , dimana valensi atom
pada molekul menurun dua. Jenis reaksi yang penting melibatkan alkil halida, dengan gugus pergi
(leaving grup) yang baik, bereaksi dengan basa lewis membentuk alkena.

Jenis-Jenis Reaksi Eliminasi

1. Reaksi Eliminasi E1 (Unimolekuler)


Reaksi eliminasi unimolekuler adalah reaksi eliminasi dimana karbokation
memberikan sebuah proton kepada suatu basa dalam suatu reaksi eliminasi sehingga akan
menghasilkan suatu produk alkena. Dalam reaksi ini hanya satu molekul saja yang
menetukan reaksi.
Mekanisme eliminasi unimolekuler (E1) memberikan arti bahwa keadaan transisi
penentu lajunya melibatkan suatu molekul tunggal. Tahap penentu lajunya sama seperti
tahap pertama pada reaksi SN1, yaitu ionisasi unimolekuler secara spontan dari substrat
halide membentuk suatu intermediet karbokation. Pada tahap kedua kedua yang cepat,
suatu basa menarik proton pada atom karbon yang berdampingan. Elektron yang
sebelumnya untuk ikatan proton-karbon sekarang membentuk ikatan pi diantara kedua
ataom karbon. Mekanisme umum reaksi E1 adalah sebagai berikut :
Tahap 1 : Ionisasi (penentu Laju)
Reaksi E1 berjalan lambat

Tahap 2 : Penarikan proton oleh Basa (cepat)


Reaksi E1 berjalan cepat.

Mekanisme reaksi E1 ini hampir selalu bersama dengan reaksi SN1. Pada saat
karbokation membentuk, ada dua kemungkinan eliminasi atau substitusi, dan campuran
produk akan dihasilkan.
Diagram perubahan energi reaksi E1

2. Reaksi Eliminasi E2 (Bimolekuler)


Reaksi eliminasi bimolekuler adalah suatu reaksi eliminasi dimana terdapat dua molekul
yang menjadi reaktannya, yakni substrat dan basa atau nukleofilnya. Oleh karena itu, mekanisme
reaksi E2 melibatkan dua molekul sehingga tahap penentu laju reaksinya :

Laju = k [R-Br]1[Base]1

H O
H O
H
H CH3 CH3
CH3 H
C C
C C H CH3
H Br
H Br

Selain itu, hanya pada reaksi E2 akan menghasilkan stereospesifik namun tidak untuk reaksi
E1.

Mekanisme tahapan reaksi eliminasi E2

Dalam reaksi E2 yang lebih dominan adalah :


 Substrat yang mengandung gugus pergi yang baik berikatan dengan atom karbon
tetrahedral.
 Basa kuat non-nukleofilik.
 Tidak terjadi pembentukan karbokation
 Pembentukan secara serempak
 Produk Saytzeff umumnya produk utama :

DBU 4

+
Br
1

Reaksi E2 alkil halida cenderung dominan bila digunakan basa kuat seperti –OH dan
–OR, dan temperatur tinggi. Secara khas reaksi E2 dilaksanakan dengan memanaskan alkil
halida dengan nukleofilnya dalam suatu pelarut.

Diagram perubahan energi reaksi E2


.. d-
H O:

C C

Br
d-

energy

.. __
H O:
.. H
H O
H

C C C C

Br Br-

Reaction coordinate

WWU -- Chemistry

Mekanisme reaksi E2
Dalam mekanisme E2, kedua gugus dilepas secara serentak, dimana proton ditarik
oleh adanya basa. Mekanisme ini berlangsung satu tahap dan secara kinetik adalah orde
kedua, orde satu terhadap subtrat dan orde satu terhadap basa. Reaksi ini analog dengan
mekanisme SN2, gugus perginya dapat positif atau netral dan basanya bermuatan negatif
atau netral.

Mekanisme E2 juga memerlukan basa. Akan tetapi, pergantian posisi basa dan
eliminasi gugus lepas berlangsung secara serentak dan tidak menghasilkan zat antara ionik.
Berbeda dengan eliminasi E1, konfigurasi stereokimia yang berbeda dapat dihasilkan dalam
reaksi yang memiliki mekanisme E2 karena basa akan lebih memfavoritkan eleminasi
proton yang berada pada posisi-anti terhadap gugus lepas. Oleh karena kondisi dan reagen
reaksi yang mirip, eliminasi E2 selalu bersaing dengan substitusi SN2.

Jenis haloalkana yang banyak ditemukan di pasaran adalah jenis haloalkana yang
mengikat atom klorin dan fluorin seperti :

1. Kloroform (CHCl3) untuk pembuatan parfum dan obat bius (anestesi)


2. Iodoform (CHI3) untuk antiseptik
3. Karbon tetraklorida (CCl4) untuk pelarut dan bahan pemadam api
4. Freon (CCl2F2) untuk pelarut lemak, bahan freezer, dan aerosol pada hair spray
5. Fosgen untuk gas beracun pada perang dunia
6. DDT (diklorodifeniltrikloroetana) untuk insektisida

3. Aturan Zaitsev
Aturan Zaitsev merupakan suatu aturan empiris untuk menentukan produk alkena
mana yang lebih disukai dari suatu reaksi eliminasi. Zaitsev mengemukakan bahwa
"Alkena terbentuk dengan jumlah lebih besar pada salah satu yang sesuai dengan
lepasnya hidrogen di β-carbon yang memiliki jumlah substituen hidrogen lebih sedikit"
Apakah anda mengerti?
Maksudnya adalah produk mayor alkena akan berada pada β-carbon yang substituen
hidrogennya lebih sedikit.
Contoh kasus : Misalnya anda mereaksikan 2-bromobutana dengan KOH, maka produk
mayornya adalah 2-butena, sedangkan 1-butena sebagai produk minor.
Lihat gambar berikut :

Penjelasan : Pada gambar tersebut, produk 2-butena lebih banyak. Karena β-carbon
sekunder memiliki jumlah substituen hidrogen lebih sedikit daripada primer.
Aturan Zaitsev umum juga digunakan sebagai prediksi produk dari reaksi eliminasi, mana
produk yang lebih banyak, lebih stabil, atau juga produk mana yang lebih disukai. Aturan
Zaitsev banyak sesuai untuk beberapa reaksi alkena dengan bentuk struktur dasar, namun
tidak dapat digunakan secara umum untuk beberapa bentuk struktur yang lebih rumit dan
memiliki stereokimia tertentu. Dalam beberapa reaksi eliminasi, aturan Zaitsev memiliki
beberapa pengecualian.

4. Reaksi Eliminasi Alkanol


Reaksi eliminasi alkanol dapat juga disebut sebagai reaksi pengambilan air atau
dehidrasi. Reaksi ini dapat terjadi jika pada suasana asam. Alkanol akan mengambil ion
hidrogen dari asam dan membentuk air setelah itu air akan mengambil ion hidrogen dari
alkanol sehingga membentuk asam. Reaksi antara asam dengan alkanol dipengaruhi oleh
suhu. Pada suhu sekitar 800 C asam akan ikut bereaksi, pada suhu 1300 C / 1400 C asam
sebagai katalis sehingga tidak bereaksi. Reaksi pada temperature tersebut akan membentuk
suatu keton. Pada suhu 1800 C akan membentuk suatu alkena dan asam sebagai katalis.

Alkohol/alkanol dapat bereaksi membentuk alkena dengan bantuan katalis H2SO4 pekat
berlebih.

Alkohol/alkanol berlebih dapat bereaksi membentuk eter dengan bantuan katalis


H2SO4 pekat